Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK UNPAD/RS.

Hasan Sadikin Bandung
Divisi Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial
Sari Pustaka
Oleh
: Aning
Pembimbing : dr. Rodman Tarigan, Sp.A, MKes
Hari/Tanggal : April-Mei 2014
KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK
Pendahuluan
Perilaku kekerasan yang menimpa anak di Indonesia, masih tetap menghantui dari waktu ke
waktu dan terus meningkat. Pada tahun 2011 jumlah pengaduan laporan tersebut meningkat
kembali sebesar 98 persen hingga mencapai 2.386 laporan. Kasus kekerasan seksual juga
meningkat dari 2.413 kasus pada tahun 2010, menjadi 2.508 kasus pada tahun 2011.
Sebanyak 1.020 kasus, setara dengan 62,7 persen terdiri dari kekerasan seksual seperti
sodomi, pemerkosaan dan pencabulan, sisanya sebesar 37,3 persen adalah kekerasan fisik dan
psikis.
Definisi
Kekerasan seksual pada anak (sexual abuse) adalah semua aktivitas seksual yang dilakukan
pada anak tanpa persetujuan mereka dan melanggar hukum. Aktivitas seksual yang termasuk
dalam kekerasan seksual adalah, oro-genital, kontak genital-anal paparan terhadap
pornografi.1
Bentuk indakan yang berkaitan dengan pelecehan seksual
Kontak
1. Sentuhan, memainkan atau kontak oral dengan dada atau genital.
2. Memasukkan jari atau benda ke dalam vulva atau anus
-

Masturbasi oleh orang dewasa didepan anak kecil

-

Ejakulasi kepada anak, baik dari orang dewasa ke anak maupun dari anak ke dewasa

-

Hubungan seks baik vaginal, anal atau oral, dilakukan maupun direncanakan pada

berbagai tingkatan.
1. Pemerkosaan dilakukan dengan penetrasi penis ke dalam vagina
2. Kontak genital lainnya, hubungan seks pada daerah kruris dimana penis diletakkan
diantara kaki. Atau kontak genital dengan bagian tubuh lainnya dari anak seperti penis
digosokkan pada paha.
1

Sampai saat ini belum bisa diprediksi dampak dari berbagai tindakan tersebut terhadap anak. Pasien tidak ingin menghilangkan bekas atau tanda kekerasan seksual dari bagian tubuhnya. penyakit menular seksual. Membakar daerah pantat atau genital anak.3. empati. hadiah. namun adanya kekerasan seksual tidak selalu disertai dengan hubungan seksual. iritasi didaerah perianal atau genitalia. adanya sperma atau cairan seminal. dan terjadinya kehamilan. mendukung. semua perlakuan diatas yang melibatkan pertukaran uang. dan jika memungkinkan pendamping korban tidak berlawan jenis. oral. melindungi terhadap media. scar pada anus. misalnya pengasuh. sering buang air kecil. Yang dikategorikan paling serius adalah hubungan seksual sedangkan eksibisionisme dianggap kurang serius Kapan dicurigai terjadinya kekerasan seksual Tanda-tanda apabila dicurigai adanya kekerasan seksual adalah 1). Prostitusi. aktivitas sadis 7. atau hymen. vagina. 2). komentar seperlunya. 2 . Hati-hati dengan komentar terhadap korban. Penetrasi vaginal. nyeri saat defekasi atau buang air kecil. Pornografi dalam berbagai bentuk : foto hubungan seksual atau foto anatomi tubuh 3. Pendekatan terhadap korban kekerasan seksual sebaiknya bersifat tidak menghakimi. Non-kontak 1. Karena responnya sangat individual. Provider dapat segera melaporkan kejadian ke pihak berwajib. video porno 4. konstipasi. Pelaku umumnya adalah laki-laki sedangkan korban merupakan anak perempuan. pasien menahan buang air kecil. dan infeksi saluran kencing berulang. Adapun tanda spesifik apabila didapatkan adanya trauma akut pada genitalia atau anus. Tidak lupa lingkaran kejadian. film. Memperlihatkan foto. Cerita-cerita erotis 5. anal yang dilakukan atau direncanakan muncul pada 20-49 % kasus non klinis dan pada lebih dari 60 % sampel forensik. Pelaku kekerasan seksual pada anak biasanya dilakukan oleh orang dewasa yang kontak erat dengan korban. anggota keluarga lain. Eksploitasi seksual lainnya 6. Gejala kekerasan seksual secara fisik dapat ditemukan nyeri atau rasa tidak nyaman di genitalia atau anus. bantuan pada anak sewaan. buang air besar dan mandi. Eksibisionisme 2.

Pada pemeriksaan fisik mukosa mulut sering ditemukan laserasi. rambut. knee-chest position. Pemeriksaan knee-chest position perlu dilakukan untuk menghindari abnormalitas posterior aspek dari hymen.Kejadian kejahatan seksual yang lebih dari 72 jam memerlukan pemeriksaan forensik sebagai bukti tambahan. anak mengalami mimpi buruk. Semua pembicaraan hendaknya direkam untuk menjadi bukti di pengadilan selain bukti fisik dari pemeriksaan medis. Pemeriksaan pada posisi yang tepat akan sangat mempengaruhi penemuan bukti kekerasan seksual. Anamnesis anak Kekerasan seksual lebih sulit dibuktikan dibandingkan kejadian kekerasan fisik. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik harus dilakukan secara lembut dan menjelaskan terlebih dahulu pemeriksaan yang akan dilakukan untuk menghindarkan ketakutan pada anak.Kekerasan seksual juga mengakibatkan perubahan perilaku korban. atau regresi. Untuk mendapatkan hasil bermakna pada >72 jam lebih sulit dilakukan. Metode pemeriksaan juga dapat menggunakan kateter Foley. fobia. petekiae. Oleh karena itu pada kasus ini sangat diperlukan anamnesis mendalam terhadap anak “Apakah anak telah merasa disentuh dan diperlakukan yang tidak mereka inginkan” Sangat penting untuk menjaga nada intonasi sat bertanya agar anak tidak merasa ketakutan dan mau menceritakan seluruh kejadian yang menimpanya secara detail. 3 . Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan laboratorium yang bermakna hendaknya dilakukan dalam 72 jam setelah kontak. Anak perempuan prepubertas dan pubertas Pemeriksaan pada anak perempuan prepubertal sebaiknya dilakukan pada posisi frog-leg. sulit konsentrasi. Apabila anak tiba-tiba cemas. Anak perempuan yang sudah pubertas dapat diperiksa dalam posisi litotomi. Kateter dimasukkan ke vagina dan ballon dikembangkan dengan sedikit retraksi sehingga hymen meregang. maka pemeriksaan dapat dilakukan dengan anak duduk di pangkuan pengasuh. Abnormalitas digambarkan dengan posisi uretra pada pukul 12 dan anus pada pukul 6. cairan semen. frog-leg ketika duduk. sperma. kulit. hal ini dapat disebabkan oleh pneterasi yang dipaksakan secara oral. Bukti forensik yang didapatkan antara lain darah.

ekimosis. Evaluasi anus sebaiknya dilakukan pada posisi supine. lateral atau posisi prone dengan sedikit tarikan lemah pada lipatan gluteal.Posisi frog leg dengan anak duduk dipangkuan pengasuh Posisi Posisi frog leg frog leg Posisi Knee chest Pemeriksaan fisik pada anak laki-laki prepubertal dan pubertal Pemeriksaan genital meliputi penis. Evaluasi pemeriksaan anogenital pada anak yang mengalami sexual abuse Pemeriksaan fisik normal Pemeriksaan fisik yang Pemeriksaan fisik dan tidak spesifik mengarah ke sexual abuse diagnostik dengan trauma Hymenal tags penetrasi Notches/clefts pada bagian Lacerasi akut dan ekimosis Hymenal bumps/mounds posterior hymen dikonfirmasi hymen Condylomata acuminata Tidak didapatkan jaringan pada anak 2 tahun atau lebih hymen pada berbagai posisi tanpa riwayat kontak seksual 4 bagian posterior . testis dan perineum hendaknya dilakukan pada posisi duduk untuk melihat ada tidaknya bekas gigitan.

gangguan perilaku. marked dilatasi Perbaikan transeksi hymen anal Clefts/notches pada bagian Anal scarring Laserasi anal setengah depan hymen Vaginal discharge Genital/anal erythema Perianal skin tags Anal fissures Dilatasi anal dilatation Kehamilan tanpa riwayat consensual intercourse dengan adanya feses tertahan di ampulla Faktor psikososial Pemeriksaan pada kasus anak korban kekerasan seksual memerlukan kedekatan emosional antara anak dan orangtua. Kekerasan seksual pada anak merupakan risiko terbesar untuk terjadinya depresi gangguan ansietas. Kekerasan pada anak adopsi ataupun anak tiri juga termasuk dalam lingukup ini.  Kekerasan seksual di luar keluarga (Extrafamilial abuse)  Ritualistic abuse  Institutional abuse Kekerasan seksual dalam keluarga (Intrafamilial abuse) Mencakup kekerasan seksual yang dilakukan dalam keluarga inti atau majemuk. atau kenalan dekat dengan sepengetahuan keluarga. dan dapat melibatkan teman dari anggota keluarga. (childhood sexual abuse) Kekerasan seksual pada anak sering muncul dalam berbagai kondisi dan lingkup sosial. Pelecehan seksual merupakan suatu kegiatan yang disembunyikan oleh pelakunya dan keluarga merupakan tempat yang paling aman untuk menyembunyikan hal ini dari 5 .Adesi labia Immediate. Berdasarkan penelitian metaanalisis anak yang mengalami kekerasan seksual akan memiliki kecenderungan untuk terjadinya percobaan kasus bunuh diri. (childhood sexual abuse) Berbagai bentuk kekerasan seksual  Kekerasan seksual dalam keluarga (Intrafamilial abuse). Hal ini sangat dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan keluarga. peningkatan gangguan seksual dan menimbulkan post-traumatic stress disorder. atau orang yang tinggal bersama dengan keluarga tersebut.

Banyak survei dalam komunitas yang menunjukkan bahwa kontak tubuh pada lingkup pelecehan seksual di luar keluarga lebih sering terjadi daripada di dalam lingkup keluarga. teman orangtua yang tinggal bersama.masyarakat. yang mungkin merasa terancam dengan terungkapnya satu pelecehan seksual pada salah satu anak di dalam keluarga. Kekerasan seksual di luar keluarga (Extrafamilial abuse) Mencakup kekerasan yang dilakukan oleh orang dewasa yang kenal dengan anak tersebut dari berbagai sumber. Para dokter spesialis anak yang bekerja pada area ini harus waspada terhadap adanya siklus pola pelecehan antar generasi. lebih merupakan pola hubungan di mana seluruh anggota keluarga ikut berpartisipasi dan batas-batas antar generasi sudah menjadi tidak ada. sang paman dan bibi. teman. seorang perempuan dapat membesarkan anak dari ayahnya sendiri. namun juga berarti bahwa mungkin sang nenek sedang memikirkan seluruh keluarganya. Pelecehan ini lebih sering ditemukan pada anak laki-laki. bibi. Seorang anak laki-laki 6 . seperti tetangga. paman. namun juga orangtua angkat. maupun kakek. Oliver Whiltshire (1983) melakukan riset yang menunjukkan bahwa pelecehan dan penelantaran anak di dalam keluarga saling berhubungan dan morbiditas serta mortalitas anak ditemukan pada keluarga tersebut. kekasih dari orangtua mereka. dapat bermula segera setelah kelahiran dari sang anak dan berlanjut di masa kecil anak tersebut. dan turut berpartisipasi dalam kelanjutan pelecehan di generasi berikutnya. termasuk dirinya sendiri. Pelecehan seksual dalam keluarga. Ketika seorang nenek menyatakan bahwa anaknya tidak bersalah. suaminya. Batasan antara lingkup intrafamilial dan ekstrafamilial kadang menjadi kabur dan pengenalan dari salah satunya sering mengantar pada yang lainnya. saudara laki-laki dan perempuan. Untuk alasan inilah pelecehan seksual dalam keluarga menjadi lebih sulit untuk diusut dan sering terjadi bahwa penyelidikan kasus pelecehan seksual dalam keluarga berhubungan dengan anggota keluarga lainnya. hal ini mungkin dilakukannya untuk melindungi anaknya. Dikatakan bahwa dua pertiga dari anak-anak yang mengalami pelecehan seksual. Bagi beberapa anak. Ini tidak hanya meliputi orangtua kandung. Pelaku memiliki kesempatan yang besar untuk mengontrol dan memanipulasi sang anak untuk tidak membuka mulut. oleh sebab itu. pelakunya adalah keluarga mereka sendiri. pelecehan ini berlanjut hingga masa dewasa. orangtua dari teman sekolah. keponakan. Pelecehan seksual di dalam keluarga lebih cenderung untuk menjadi kronis. sepupu.

dan secara umum memiliki disfungsional bila dibandingkan dengan keluarga lain yang tidak terdapat pelecehan seksual. perceraian atau orangtua berpisah. ketiadaan orangtua. beberapa orangtua kadang kurang peduli tentang di mana dan dengan siapa anak-anak mereka menghabiskan waktunya. sering dengan memberikan imbalan tertentu yang tidak didapatkan oleh sang anak di rumahnya. Institutional abuse Kekerasan seksual dalam lingkup institusi tertentu seperti sekolah. Keluarga dengan anak yang mengalami pelecehan seksual Beberapa karakteristik dari keluarga dengan anak yang mengalami pelecehan seksual telah digambarkan. 7 . Konteks keluarga yang berhubungan dengan pelecehan seksual ini antara lain adalah dewasa yang juga pernah mengalami kekerasan pada masa kanak-kanaknya. kemudian membujuk sang anak ke dalam situasi dimana pelecehan seksual tersebut dilakukan. termasuk kekerasan dalam rumah tangga dan atau penggunaan alkohol. dan pemindahan hak perawatan anak. seperti kegiatan pramuka. tempat penitipan anak. Keluarga tersebut. yang dapat mengambil kesempatan untuk melakukan hal yang sama padanya jauh dari keluarganya. Dari kesemuanya ini. Sang anak biasanya tetap diam karena bila hal tersebut diketahui mereka takut akan memicu kemarah dari orangtua mereka. kamp berlibur. Anak-anak ini membutuhkan bantuan setelah pelecehan seksual tersebut dideteksi dan dihentikan. memiliki karakteristik yang kohesif.yang mengalami pelecehan seksual di rumah oleh ayahnya. adanya pelecehan seksual pada salah satu anggota keluarga. kekerasan dalam rumah tangga dan penyalahgunaan alkohol adalah yang paling sering dilaporkan. hubungan yang tidak baik dengan orangtua. pelaku biasanya orang dewasa yang dikenal oleh sang anak dan telah membangun relasi dengan anak tersebut. Anak-anak dengan riwayat pelecehan seksual mengalami pengalaman yang buruk dan menderita secara emosional maupun kesulitan tingkah laku. Selain itu. Pada pola pelecehan seksual di luar keluarga. baik pada kasus incest maupun non-incest. kurangnya pengertian dalam keluarga. tidak terorganisir dengan baik. mungkin secara tidak sadar membiarkan dirinya berada dalam situasi yang berbahaya bersama dengan laki-laki lain. Anak-anak yang sering bolos sekolah cenderung rentan untuk mengalami kejadian ini dan harus diwaspadai. dan organisasi lainnya.

yang telah belajar dari konsekuensi bila tidak dapat menyimpan rahasia. Dibandingkan dengan faktor dari sang anak yang mempengaruhi terjadinya suatu pelecehan seksual. sebuah mitos menyebutkan bahwa hanya anak-anak tertentu dengan umur tertentu yang mengalami pelecehan. jumlah anak perempuan yang mengalami pelecehan biasanya melebihi jumlah anak laki-laki. seperti anak yang ditelantarkan. Sebagai contoh. dimana terdapat kemauan untuk mengungkapkan kejadian. dengan puncaknya antara 2-7 tahun. Dihipotesiskan bahwa prilaku anak dan penampilannya dapat memicu ketertarikan dari orang dewasa. dilaporkan ataupun dipercaya. sedangkan dalam suatu studi di Irlandia Utara rasionya adalah 4. termasuk pada bayi yang berumur kurang dari 1 tahun. Usia saat terdiagnosis lebih bergantung pada kemudahan diagnosis. lebih cenderung dapat menutupi kejadian pelecehan tersebut. diperkirakan bahwa jumlah pelecehan seksual pada anak laki-laki dan perempuan sebenarnya mungkin sama. Hobbs dan Wynne menemukan perbandingan rasio antara anak perempuan dan laki-laki adalah 2:1.4: 1. namun rata-rata usia terdiagnosis adalah sekitar 7 tahun. Anak lakilaki lebih cenderung kurang dicurigai. dan lebih memiliki rasa takut terhadap ancaman yang diberikan bahwa mereka akan menderita bila mereka memberitahukan kejadian tersebut. adalah perilaku yang tidak membedakan korban dari si pelaku yang lebih penting. Dalam hal pelecehan seksual. yang menyebabkan kejadian pelecehan seksual menjadi sulit dihindarkan. Baik menurut sample klinik maupun survei komunitas. dan sering ditemukannya temuan fisik yang membantu penegakan diagnosis. Anak-anak yang lebih besar. Anak-anak pada semua umur dapat mengalami pelecehan seksual. Dengan memperhatikan hal ini. Usia pada saat didiagnosis terjadi pelecehan seksual tidak memberikan keterangan tentang onset terjadi pelecehan pertama kali.Anak yang mengalami pelecehan seksual Pandangan tradisional mengenai anak yang biasanya mengalami kekerasan seksual tersebut menunjukkan adanya factor-faktor tertentu yang memberi kontribusi untuk terjadinya pelecehan seksual. Infeksi menular seksual yang mungkin ditularkan melalui kekerasan seksual Gonore 8 . sesuai dengan seksualitas orang dewasa yang “mini”. seorang anak perempuan yang memasuki puber dapat memberi stimulus tertentu pada ayah angkatnya.

proktitis nonspesifik dan Uretritis Non-Gonore (UGN) (Lumintang. Sedangkan dengan tes fermentasi dapat dibedakan N. 2009). sehingga sangat dianjurkan dilakukan terutama pada pasien wanita.  Tes defenitif: dimana pada tes oksidasi akan ditemukan semua Neisseria akan mengoksidasi dan mengubah warna koloni yang semula bening menjadi merah muda hingga merah lembayung.gonorrhoeae yang merupakan bakteri gram negatif dan dapat ditemukan baik di dalam maupun luar sel leukosit. 2010) 1. 2009).  Kultur untuk bakteri N.gonorrhoeae umumnya dilakukan pada media pertumbuhan Thayer-Martin yang mengandung vankomisin untuk menekan pertumbuhan kuman gram positif dan kolimestat untuk menekan pertumbuhan bakteri negatif-gram dan nistatin untuk menekan pertumbuhan jamur.  Tes beta-laktamase: tes ini menggunakan cefinase TM disc dan akan tampak perubahan warna koloni dari kuning menjadi merah.Gonore merupakan semua penyakit yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae yang bersifat purulen dan dapat menyerang permukaan mukosa manapun di tubuh manusia Pemeriksaan  Pemeriksaan Gram dengan menggunakan sediaan langsung dari duh uretra memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi terutama pada duh uretra pria.  Tes Thomson: tes ini dilakukan dengan menampung urine setelah bangun pagi ke dalam 2 gelas dan tidak boleh menahan kencing dari gelas pertama ke gelas kedua. Hasil dinyatakan positif jika gelas pertama tampak keruh sedangkan gelas kedua tampak jernih (Daili.gonorrhoeae yang hanya dapat meragikan glukosa saja. Infeksi Genital Non-Spesifik (IGNS) Definisi IGNS merupakan infeksi traktus genital yang disebabkan oleh penyebab yang nonspesifik yang meliputi beberapa keadaan yaitu Uretritis Non-spesifik (UNS). penyebab psittacosis 9 . Pemeriksaan ini akan menunjukkan N. Chlamydia psittaci. Klamidia yang menyebabkan penyakit pada manusia diklasifikasikan menjadi tiga spesies. Pemeriksaan kultur ini merupakan pemeriksaan dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi. sedangkan duh endoserviks memiliki sensitivitas yang tidak begitu tinggi. yaitu: (Struble.

saluran pencernaan. sistem syaraf pusat dan sistem kardiovaskuler. termasuk serotipe yang menyebabkan trachoma infeksi alat kelamin. Tidak dijumpai diplokokus negatif gram. lesi pada tulang. Pembiakan C.trachomatis yang bersifat obligat intraseluler harus dilakukan pada sel hidup. EIA. Probe DNA. Sel hidup ini dibiakkan dalam gelas kaca yang disebut biakan monolayer seperti Mc Coy dan BHK yang dapat dilihat hasil pertumbuhannya pada hari ketiga. Infeksi ini dapat ditularkan kepada bayi di dalam kandungan (sifilis kongenital) Pemeriksaan Beberapa pemeriksaan terhadap sifilis dapat dilakukan dengan berbagai cara: 10 . C. Pada pemeriksaan mikroskopik sekret serviks dengan pewarnaan Gram didapatkan leukosit lebih dari 30 per lapangan pandang dengan pembesaran 1000 kali. atau dengan kultur sel. Sifilis Definisi Sifilis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Treponema pallidum yang bersifat kronis dan sistemik ditandai dengan lesi primer diikuti dengan erupsi sekunder pada kulit dan selaput lendir kemudian masuk kedalam periode laten tanpa manifestasi lesi di tubuh diikuti dengan lesi pada kulit. penyebab penyakit saluran pernapasan termasuk pneumonia dan merupakan penyebab penyakit arteri koroner. NAAT). trachomatis. Chlamydia conjunctivitis dan pneumonia anak dan serotipe lain yang menyebabkan Lymphogranuloma venereum. 3. tes amplifikasi asam nukleus (Nucleic Acid Amplification Test. NAAT bisa dilakukan dengan menggunakan spesimen urin. Organisme intraseluler sulit sekali dihilangkan dari discharge. Pemeriksaan Diagnosa Uretritis Non Gonokokus (UNG) atau diagnosa servisitis non gonokokus ditegakkan biasanya didasarkan pada kegagalan menemukan Neisseria gonorrhoeae melalui sediaan apus dan kultur. serta pada pemeriksaan sediaan basah tidak didapati parasit Trichomonas vaginalis. Klamidia sebagai penyebab dipastikan dengan pemeriksaan preparat apus yang diambil dari uretra atau endoserviks atau dengan tes IF langsung dengan antibodi monoklonal. Pada pemeriksaan sekret uretra dengan pewarnaan Gram ditemukan leukosit lebih dari 5 pada pemeriksaan mikroskop dengan pembesaran 1000 kali. pneumoniae. C.2.

namun pemeriksaan ini memberikan hasil yang kurang dapat dipercaya sehingga pemeriksaan dark field lebih umum dilaksanakan. tes FTA-ABS. 2009). Serum diperoleh dari bagian dasar atau dalam lesi dengan cara menekan lesi sehingga serum akan keluar. Cara terbaik dalam menegakkan diagnosa adalah dengan melakukan kultur jaringan karena paling sensitif dan spesifik. Pemeriksaan lapangan gelap (dark field) dengan bahan pemeriksaan dari bagian dalam lesi. Tes dengan spesifitas tinggi dan dapat menentukan antibodi spesifik sifilis ini adalah tes TPI. imunoperoksidase maupun ELISA. Ruam sifilis primer dibersihkan dengan larutan NaCl fisiologis. Kemudian serum diperiksa pada lapangan gelap untuk melihat ada tidaknya T. Namun cara ini membutuhkan waktu yang banyak dan mahal. tes TPHA dan tes Elisa (Hutapea. Pemeriksaan laboratorium yang paling sederhana adalah tes Tzank yang diwarnai dengan pengecatan Giemsa atau Wright dimana akan tampak sel raksasa berinti banyak. Tes yang dilakukan sehari-hari dapat menunjukkan reaksi IgM dan juga IgG tetapi tidak dapat menunjukkan antibodi spesifik adalah tes Wasserman. Pemeriksaan Diagnosis secara klinis ditegakkan dengan adanya gejala khas berupa vesikel berkelompok dengan dasar eritema dan bersifat rekuren. Herpes genitalis Definisi Herpes genitalis adalah infeksi pada genital yang disebabkan oleh Herpes Simplex Virus (HSV) dengan gejala khas berupa vesikel yang berkelompok dengan dasar eritema dan bersifat rekurens.  Penentuan antibodi di dalam serum yang timbul akibat infeksi T.pallidum berbentuk ramping.pallidum. tes RPR (Rapid Plasma Reagen) dan tes Automated Reagin. Sedangkan tes RPCF ( Reiter Protein Complement Fixation) merupakan tes yang dapat menunjukkan kelompok antibodi spesifik. 11 . Tes-tes tersebut merupakan tes standar untuk sifilis dan memiliki spesifisitas rendah sebab dapat menunjukkan hasil positif semu. tes Kahn. dengan gerakan lambat dan angulasi. tes VDRL (Veneral Diseases Research Laboratory). Bahan apusan lesi dapat pula diperiksa dengan metode mikroskop fluoresensi. Dapat pula dilakukan tes-tes serologis terhadap antigen HSV baik dengan cara imunoflouresensi.

harus menjalani pemeriksaan Papsmear secara rutin. Pemeriksaan Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. pengasuh di tempat penitipan anak. Pada lesi yang meragukan. Sedangkan pelaporan di Unit Gawat Darurat sebaiknya dilakukan oleh pihak berwajib dan komisi perlindungan anak. dan ahli kesehatan jiwa. Setelah diyakinkan bahwa korban tidak akan dialihkan ke pihak lain. dapat dilakukan pemeriksaan penunjang dengan tes asam asetat. Jika memungkinkan dilakukan dokumentasi gambar dan pola cedera. Individu yang melaporkan kejadian tersebut umumnya mempunyai kontak erat dengan anak. kolposkopi dan pemeriksaan histopatologis. Riwayat terjadinya penyakit atau cedera meliputi tempat. 12 . Wanita yang memiliki kutil di leher rahimnya. Pelaporan prarumah sakit oleh staf fasilitas kesehatan (dokter atau perawat). pihak berwajib. misalnya petugas pelayanan kesehatan. Sebagian besar kasus kekerasan dan penelantaran anak tidak dilaporkan meskipun telah dicurugai oleh petugas kesehatan. dan bagaimana cedera tersebut terjadi. ukuran. Pemeriksaan fisik yang ditemukan pada korban kekerasan meliputi bentuk. dan lokasi cedera. pekerja sosial.Kondiloma Akuminata Definisi Kondiloma akuminata (KA) adalah infeksi menular seksual dengan kelainan berupa fibroepitelioma pada kulit dan mukosa. Kutil yang menetap bisa diangkat melalui pembedahan dan diperiksa dibawah mikroskop untuk meyakinkan bahwa itu bukan merupakan suatu keganasan. kapan terjadinya. karyawan sekolah. Ketentuan Pencatatan dan Pelaporan Setiap orang dapat melaporkan kejadian kekerasan dan penelantaran pada anak. situasi dan budaya setempat. Dokumentasi pelaporan meliputi deskripsi tempat kejadian misalnya rumah.

Evaluating the Child for Sexual Abuse.63:883-92. Cheung K. Girardet R.Sumber : 1. Lahoti SL. Mcneese M. McClain N. 13 . Am Fam Physician 2001.