PROPOSAL PENELITIAN

DIAJUKAN KEPADA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS GADJAH MADA
MELALUI UNIT PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT
FAKULTAS HUKUM UGM

JUDUL PENELITIAN
PERBANDINGAN STATUS HUKUM PERJANJIAN INTERNASIONAL YANG TELAH
DIRATIFIKASI ANTARA INDONESIA DENGAN AMERIKA SERIKAT

OLEH :
M. AFIFUL KARIM
12/334076/HK/19147

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2014

HALAMAN PENGESAHAN

PROPOSAL PENELITIAN
DIAJUKAN KEPADA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS GADJAH MADA
MELALUI UNIT PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT
FAKULTAS HKUM UNIVERSITAS GADJAH MADA

1. Judul Penelitian

:

PERBANDINGAN STATUS HUKUM PERJANJIAN
INTERNASIONAL YANG TELAH DIRATIFIKASI
ANTARA INDONESIA DENGAN AMERIKASERIKAT

2. Peneliti Utama

:

M. Afiful Karim

3. Jangka waktu kegiatan :

6 (enam) bulan

4. Biaya yang diusulkan

Rp. 16.000.000 (Enam Belas Juta Rupiah)

:

Yogyakarta, Tanggal 9 November 2014
Peneliti

M. Afiful Karim
NIM. 12/334076/HK/19147

Mengetahui,
Dekan Fakultas Hukum UGM

Dr. Paripurna, S.H., M.Hum., LL.M
NIP. 195709211988121001

Apakah peratifikasian yang menempatkan perjanjian internasional dalam lampiran undang-undang ratifikasi tersebut menjadikan perjanjian internasional menjadi hukum positif yang berlaku di Indonesia atau tidak ? Terhadap pertanyaan ini kurang lebih terdapat 2 pendapat yang berbeda. dan 2. Contoh ketidakjelasan tersebut dapat kita lihat dari status perjanjian internasional setelah perjanjian internasional tersebut diaksesi oleh Pemerintah Indonesia. Latar Belakang Pemerintah Indonesia telah berganti era mulai dari era orde lama hingga pasca reformasi. Walaupun praktek tersebut menciptakan ketidakjelasan kedudukan perjanjian internasional yang telah diaksesi oleh Pemerintah Indonesia dalam Sistem Hukum Nasional Indonesia. Pandangan ini cenderung menempatkan perjanjian internasional yang telah diratifikasi/diaksesi sebagai non self executing treaty (Pendukung teori Tranformasi). dimana substansi perjanjian internasional harus dijabarkan ke dalam peraturan hukum nasional Indonesia. Penempatan Perjanjian internasional yang telah diaksesi oleh Pemerintah Indonesia dalam bentuk Undang-Undang maupun Peraturan Presiden merupakan praktek yang telah berlangsung konsisten hingga saat ini. masingmasing didukung dengan argumen hukum dan merujuk pada praktik yang berlaku di Indonesia. Hal ini berarti paska diratifikasi/diaksesinya suatu perjanjian internasional maka secara otomatis sejak saat diundangkannya produk hukum pengesahan tersebut maka seluruh ketentuan perjanjian tersebut dapat langsung diterapkan di Indonesia. Pandangan Kedua ini. Pandangan ini cenderung menempatkan perjanjian internasional yang telah diratifikasi/diaksesi sebagai self executing treaty (Pendukung teori Inkorporasi). Hal ini berarti bahwa dilampirkannya perjanjian internasional dalam UU ratifiasi hanya . menyatakan norma-norma hukum internasional hanya dapat berlaku dan diterapkan di pengadilan nasional setelah melalui proses transformasi. Judul Perbandingan Status Hukum Perjanjian Internasional Yang Telah Diratifikasi Antara Indonesia Dengan Amerika Serikat B. Kedua pendapat tersebut adalah sebagai berikut: 1.A.. Pendapat pertama ini mengatakan produk hukum pengesahan perjanjian internasional sebagai produk yang menjadikan norma-norma hukum dalam perjanjian internasional tersebut menjadi bagian dari hukum nasional Indonesia.24 Tahun 2000. mulai dari rezim Surat Presiden Nomor 2826/HK/1960 sampai rezim UU No.

Satu-satunya ketentuan hukum yang menegaskan keharusan menempatkan perjanjian internasional yang sudah diratifikasi/aksesi oleh Pemerintah Indonesia dalam bentuk Undangundang adalah dalam Pasal 9 (2) UU No. Sejalan dengan UU No. Hal ini karena akan membangun image Pemerintah Indonesia kurang serius dalam pemenuhan kewajiban yang lahir sebagai konsekuensi keterikatan Indonesia atas perjanjian Internasional. Fakta ini jelas akan sangat bertentangan dengan ketentuan yang diatur dalam hukum internasional khususnya Pasal 26. 24 Tahun 2000. Sehingga memberikan . bahwa dalam sistem hierarkhi peraturan perundang undangan di Indonesia yang telah diubah sebanyak 4 kali. dan Pasal 46 Konvensi Wina 1969. juga tidak memberikan tempat tersendiri untuk perjanjian internasional. Persoalan lain yang muncul adalah terkait dengan status perjanjian internasional yang dibungkus dalam bentuk formal UU yang pada akhirnya telah membuka peluang bagi Mahkamah Konstitusi untuk melakukan review termasuk untuk melakukan pembatalan atas klausula-klausula yang diatur dalam Perjanjian Internasional secara internal tanpa meminta persetujuan dari Negara pihak yang lain. membiarkan kondisi diatas tetap berlangsung tentu tidak akan menguntungkan bagi posisi Indonesia dalam hubungan internasional. 24 Tahun 2000 yang mengatakan “Pengesahan perjanjian internasional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan undangundang atau keputusan presiden. 24 Tahun 2000 bahwa perjanjian internasional harus diwadahi baik dalam bentuk Undang-undang ratifikasi atau Peraturan Presiden. Pasal 27. Di Amerika serikat sebagai perbandingannya perjanjian internasional (Federal Treaties) akan ditempatkan sejajar dengan Federal Statutes dan Supreme Court Rules. Sehingga makin menguatkan ketentuan dalam Pasal 9 ayat (2) UU No. Keberadaan pasal meskipun jelas bukan amanat langsung dari konstitusi namun menjadi wajar karena memotret praktik yang puluhan tahun berlangsung di Indonesia sejak berlakunya Surat Presiden Nomor 2826/HK/1960. berbeda dengan beberapa negara lain yang memberikan tempat yang jelas bagi perjanjian internasional dalam hierakhi sistem perundang-undangannya. Pemberian tempat tersendiri bagi perjanjian internasional dalam sistem hukum nasional di Amerika serikat tersebut efektif dalam memberikan status perjanjian internasional dalam negara tersebut.dimaksudkan sebagai pengakuan atas autentifikasi perjanjian internasional terlampir sebagai perjanjian authetik yang diratifikasi.

Apa alasan yuridis Indonesia dan Amerika Serikat dalam perlakuannya terhadap pemberian status hukum Perjanjian Internasional ? 3. yakni sebagai berikut: 1. tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari jawaban atas persoalan hukum sebagaimana yang tertulis dalam rumusan penelitian di atas. C. Tujuan Penelitian Sejalan dengan apa yang peneliti rumuskan dalam rumusan penelitian. ? D. Keaslian Penelitian Penelusuran terhadap penelitian dan karya-karya ilmiah yang relevan dengan permasalahan yang dibahas dalam rencana penelitian ini telah dilakukan. Namun demikian. peneliti tertarik untuk melakukan pengkajian/penelitian lebih lanjut. Untuk mengetahui apa saja Apa alasan yuridis Indonesia dan Amerika Serikat dalam perlakuannya terhadap pemberian status hukum Perjanjian Internasional. dengan rumusan permasalahan sebagai berikut: 1. berdasarkan penelusuran yang dilakukan Peneliti. Penulis tertarik untuk meneliti lebih dalam untuk mencari alasan yuridis dari masing-masing negara memberi perlakuan tersebut.kejelasan status perjanjian internasional baik untuk negaranya sendiri maupun subjek hukum internasional lainnya. dan menggali untuk menemukan mana perlakuan yang paling baik terhadap pemberian status hukum Perjanjian Internasional dalam hukum nasional Indonesia. Rumusan Masalah Berdasarkan pada latar belakang tersebut maka. Apa perbedaan status hukum Perjanjian Internasional yang telah diratifikasi dalam hukum nasional Indonesia dan Amerika Serikat ? 2. E. Melihat dua perlakuan yang berbeda antara Indonesia dengan Amerika Serikat terhadap pemberian Status Hukum Perjanjian Internasional tersebut. Untuk mengetahui perbedaan status hukum Perjanjian Internasional yang telah diratifikasi dalam hukum nasional Indonesia dan Amerika Serikat. Untuk mengetahui mana perlakuan yang paling baik terhadap pemberian status hukum Perjanjian Internasional dalam hukum nasional Indonesia. belum ditemukan permasalahan yang sama dengan penelitian yang sedang direncanakan. 2. 3. Mana perlakuan yang paling baik terhadap pemberian status hukum Perjanjian Internasional dalam hukum nasional Indonesia. Sepanjang pengetahuan penulis beberapa karya ilmiah .

dan mana kombinasi yang paling menguntungkan. Tinjauan Pustaka 1. persamaan. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. G. namun perbedaannya fokus yang dikaji dalam penelitian ini ada pada perbandingan status hukum Perjanjian Internasional yang telah diratifikasi dalam hukum nasional Indonesia dan hukum nasional Amerika Serikat dengan menekankan pada metode komparasi yakni menemukan perbedaan. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan akan membawa manfaat bagi: 1. 2. Pengaturan Hukum Perjanjian Internasional Indonesia Di Indonesia pengaturan mengenai perjanjian internasional terdapat dalam konstitusi negara dan ketentuan-ketentuan pelaksanaannya. ketentuan mengenai perjanjian internasional hanya dimuat dalam satu pasal saja. a. Persamaan dalam penelitian ini adalah sama-sama mempersoalkan bentuk pemberian baju UU terhadap perjanjian internasional yang diaksesi Indonesia. yaitu Pasal 11 yang berbunyi sebagai berikut : “Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan . Berikut adalah ketentuan-ketentuan yang mengatur mengenai perjanjian internasional di Indonesia.tersebut hanya mengandung sebagian dari unsur-unsur dalam penelitian ini dan memiliki perbedaan dalam hal materi dan fokus kajiannya. Salah satu karya ilmiah tersebut adalah Peluang Penempatan Perjanjian Internasional Dalam Hierakhi Peraturan Perundang Undangan Indonesia (2014). F. Pengembangan Ilmu Pengetahuan Penelitian ini diharapkan akan memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu hukum khususnya Hukum Internasional dan Hukum Tata Negara yang terkait dengan Posisi Perjanjian Internasional dalam Sistem Hukum Nasional Indonesia. Dari segi praktis Penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan pemikiran bagi pemerintah khususnya yang membidangi permasalahan yang terkait dengan Perjanjian Internasional dalam mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam rangka mengeluarkan kebijakan mengenai Posisi Perjanjian Internasional dalam Sistem Hukum Nasional Indonesia.

mengingat bahwa dalam pasal tersebut hanya menyebut “perjanjian dengan negara lain”. 2) Presiden dalam membuat perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri Keberadaan UU No. yaitu dengan Keppres. Surat Presiden Nomor : 2826/HK/1960 tertanggal 22 Agustus 1960 Setelah muncul ketentuan dalam konstitusi tentang perjanjian internasional yang hanya diatur dalam satu pasal saja yaitu Pasal 11. 37 Tahun 1999 tersebut sebenarnya tidak secara khusus ditujukan untuk mengatur mengenai Perjanjian Internasional namun lebih pada pengaturan penyelenggaraan hubungan luar negeri yang lebih menyeluruh dan terpadu. c. hanya ada satu bab yang ditujukan untuk mengatur mengenai Perjanjian internasional yakni dalam Bab III tentang pembuatan dan Pengesahan Perjanjian Internasional.Rakyat menyatakan perang. maka terjadi kekaburan mengenai apakah setiap perjanjian atau sebagian perjanjian saja yang harus disahkan Presiden dengan persetujuan DPR terlebih dahulu. (amandemen ketiga tanggal 9 November 2001) b. dan ratifikasi tanpa memerlukan persetujuan DPR. membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain. Dalam Amandemen perubahan ketiga UUD 1945 (1-9 November 2001). (amandemen ketiga tanggal 9 November 2001) 3) Ketentuan lebih lanjut tentang perjanjian internasional diatur dengan undangundang. Bab ini hanya berisi 3 Pasal sebagai berikut: . untuk itu presiden mengirimkan Surat Presiden Nomor : 2826/HK/1960 tertanggal 22 Agustus 1960 kepada DPR tentang pembuatan perjanjian dengan negara lain. ketentuan Pasal 11 ini selanjutnya berbunyi: 1) Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan perang. Dari isi yang terkandung dalam surat presiden tersebut antara lain dapat kita lihat adanya klasifikasi-klasifikasi bentuk perjanjian internasional yang membutuhkan ratifikasi dengan persetujuan DPR terlebih dahulu. membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain”. Oleh karena itu dapat dari 10 Bab yang diatur dalam UU ini. dan/atau mengharuskan per-ubahan atau pembentukan undangundang harus dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.

terlebih dahulu melakukan konsultasi mengenai rencana tersebut dengan Menteri. yang diatur oleh hukum internasional dan dibuat secara tertulis oleh pemerintah Republik Indonesia dengan satu atau lebih negara. Pasal 15 Ketentuan mengenai pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional diatur dengan undang-undang tersendiri. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional Banyak pihak yang berasumsi bahwa kehadiran UU No. baik departemen maupun nondepartemen. namun keberadaan UU ini memiliki arti penting dalam sejarah pengaturan perjanjian internasional di Indonesia karena dalam UU tersebut pertama kali dapat dijumpai definisi dari perjanjian Internasional dalam regulasi nasional di Indonesia sebagai berikut: Perjanjian Internasional adalah perjanjian dalam bentuk dan sebutan apapun. organisasi internasional atau subyek hukum internasional lainnya. Pasal 14 Pejabat lembaga pemerintah. yang Akan menandatangani perjanjian internasional yang dibuat antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah negara lain. Meskipun tidak secara spesifik mengatur mengenai perjanjian internasional. atau subyek hukum internasional lainnya. yang mempunyai rencana untuk membuat perjanjian internasional. bagaimanapun UU ini memang tidak ditujukan untuk mengatur secara spesifik dari perjanjian internasional karena dari Pasal 15 dalam UU tersebut juga mengamanatkan pembentukan UU tersendiri yang secara detail mengatur mengenai perjanjian internasional. harus mendapat Surat kuasa dari Menteri. 24 tahun 2000 tentang perjanjian Internasional merupakan amanat ayat (3) Pasal 11 UUD NRI Tahun 1945 . baik departemen maupun nondepartemen. serta menimbulkan hak dan kewajiban pada Pemerintah Republik Indonesia yang bersifat hukum publik. d. Namun sebagaimana diatur dalam Pasal 15 UU Ini. organisasi internasional.Pasal 13 Lembaga Negara dan lembaga pemerintah.

Departemen Kehakiman dan HAM. Dalam surat tersebut dijelaskan antara lain hal-hal yang mendasari pentingnya pengesahan perjanjian dimaksud bagi Indonesia. Melalui Undang-undang Dalam hal pengesahan perjanjian internasional dilakukan dengan undang-undang maka langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut: 1) Lembaga pemrakarsa (focal point) mengajukan ijin prakarsa kepada Presiden melalui Mentri Luar Negeri RI. 3) Panitia antar-departemen bertugas untuk menyiapkan rancangan undang- undang bagi pengesahan suatu perjanjian internasional. 24 Tahun 2000 merupakan UU pertama yang secara detail mengatur mengenai perjanjian internasional mulai dari ketentuan umum mengenai perjanjian internasional.(Amd III). 24 Tahun 2000 adalah ketentuan mengenai Ratifikasi perjanjian Internasional di Indonenesia. penyimpangan perjanjian internasional. Salah satu poin penting yang diatur dalam UU No. pembuatan perjanjian internasional. namun sebenarnya kehadiran UU tersebut bukanlah merupakan amanat dari Pasal 11 tersebut karena UU No 24 tahun 2000 diundangkan pada tanggal 23 Oktober 2000. dan pengakhiran perjanjian internasional. akan membentuk panitia antar-departemen yang beranggotakan Deplu. sedangkan momentum perubahan ketiga konstitusi adalah tanggal 1-9 November 2001. Dalam dasar mengingat UU ini dapat kita jumpai bahwa pembentukan UU ini merupakan amanat dari Undang-undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 156. Sekretariat Negara serta instansi teknis terkait lainnya. pengesahan perjanjian internasional. UU No. Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 10. Ketentuan-ketentuan dalam undang-undang ini banyak mengacu pada Vienna Convention on the Law of Treaties 1969 meskipun Indonesia tidak secara khusus meratifikasi konvensi tersebut. Apabila panitia antar- . pemberlakuan perjanjian internasional. 2) Lembaga pemrakarsa setelah mendapat ijin prakarsa dari presiden. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3882) khususnya Pasal 15. dengan melampirkan 1 (satu) Naskah Akademik dan 1 (satu) salinan naskah resmi (certified true copy) perjanjian internasional beserta terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Namun sayangnya dalam dalam UU tersebut tidak mengatur secara spesifik mengenai kewajiban pemenuhan perjanjian internasional pasca Pemerintah Indonesia menyatakan komitmennya untuk terikat pada satu perjanjian internasional. ratifikasi di Indonesia dapat dilakukan melalui dua cara yakni: a.

7) Setelah disetujui oleh DPR dalam bentuk undang-undang. 1 naskah penjelasan. Apabila disetujui. Presiden RI akan mengeluarkan amanat presiden yang akan menunjuk mentrimentri/kepala instansi terkait untuk mewakili pemerintah dalam pembahasan RUU pengesahan di DPR. 5) Deplu cq direktorat yang menangani perjanjian internasional. lembaga pemrakarsa menyiapkan salinan naskah perjanjian. Lembaga pemrakarsa menyiapkan 1 RPP. naskah perjanjian beserta terjemahannya. Untuk keperluan pembahasan di DPR. serta dokumen lain yang diperlukan kepada Deplu cq direktorat yang menangani perjanjian internasional. Praktek yang berlaku mengenai penyampaian notifikasi kepada pihak negara counterpart atau kepada Depositary Goverment/ Organization bahwa Indonesia telah memenuhi persyaratan internal bagi berlakunya perjanjian dimaksud. lembaga pemrakarsa akan meminta tanggapan dan persetujuan dari semua instansi terkait. Melalui Peraturan Presiden Dalam hal pengesahan perjanjian internasional dilakukan melalui Peraturan Presiden. harus dilakukan oleh Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Deplu karena notifikasi ini memiliki konsekuensi Yuridis yang menentukan kapan perjanjian tersebut mulai berlaku. dan ditertibkan dalam lembaran negara. 6) Lembaga pemrakarsa mengadakan koordinasi tentang jadwal pembahasan RUU dimaksud dengan pihak sekretariat DPR dan sekretariat komisi yang menangani substansi perjanjian. setelah meneliti kelengkapan dokumen. RUU pengesahan. setelah mendapat tanggapan dan persetujuan dari instansi terkait. 4) Lembaga pemrakarsa menyampaikan 1 RUU. NA dan salinan naskah perjanjian beserta seluruh terjemahannya. serta dokumen lain . naskah akademik dan dokumen lainnya sebanyak yang diperlukan bagi pembahasan RUU dalam sidang di DPR. b. langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut: Lembaga pemrakarsa mengkoordinasikan penyelenggaraan rapat interdep dengan menghadirkan Deplu.departemen telah selesai menyiapkannya. akan menyampaikan surat permohonan amanat presiden bagi pembahasan RUU tentang pengesahan perjanjian internasional. pengikatan diri Republik Indonesia terhadap perjanjian internasional (melalui instrument of ratification/ accession/ approval) disampaikan oleh Mentri Luar Negeri kepada para pihak (bilateral/trilateral) atau Depositary Government/Organization (multilateral). Setkab dan instansi teknis terkait lainnya guna membahas pembahasan persiapan pengesahan perjanjian.

Hierarki Peraturan Perundang-undangan di Indonesia Sejak Indonesia merdeka hingga saat ini (2011). di Indonesia telah mengalami pergantian peraturan (ketentuan hukum) yang mengatur mengenai hierarki/tata urutan dan peristilahan dalam peraturan perundangan-undangan di Indonesia sebanyak 4 kali. Setelah disahkan oleh Presiden dalam bentuk Peraturan Presiden dan diterbitkan dalam lembaran negara. 1 naskah penjelasan. certified true copy dan salinan naskah perjanjian beserta terjemahannya. menyampaikan surat permohonan pengesahan kepada Presiden dengan melampirkan 1 naskah RPP.yang diperlukan. pengikatan diri RI terhadap perjanjian internasional disampaikan oleh mentri luar negeri kepada para pihak (bilateral/multilateral) atau Depositary Government/Organization (multilateral). Praktek yang berlaku mengenai penyampaian notifikasi kepada pihak negara counterpart atau kepada Depositary Goverment/ Organization bahwa Indonesia telah memenuhi persyaratan internal bagi berlakunya perjanjian dimaksud. setelah meneliti kelengkapan dokumen. setelah rapat interdep yang dihadiri oleh departemen terkait menyetujui untuk mengesahkan perjanjian internasional tersebut. Deplu direktorat yang menangani perjanjian internasional. khususnya mengenai Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan Peraturan Perundangan Republik Indonesia. Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Republik Indonesia Nomor XX/MPRS/1966 Tahun 1966 Tentang memorandum DPR-GR Mengenai Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia Dan Tata Urutan Peraturan Perundangan Republik Indonesia Secara garis besar peraturan yang ditetapkan dalam Sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) di Jakarta pada tanggal 5 Juli 1966 berisi tentang penerimaan isi Memorandum DPR-GR tertanggal 9 Juni 1966. harus dilakukan oleh Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Deplu karena notifikasi ini memiliki konsekuensi juridis yang menentukan kapan perjanjian tersebut mulai berlaku 2. . Secara garis besar ke-4 peraturan yang dimaksudkan untuk menjamin kepastian hukum dan keserasian hukum serta kesatuan penafsiran tersebut beserta ringkasan dari materi muatan yang diatur adalah sebagai berikut: a. Dalam lampiran Tap MPRS tersebut disebutkan bahwa tata urutan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia adalah sebagai berikut: 1) Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945. Lembaga pemrakarsa menyampaikan dokumen tersebut kepada Deplu cq direktorat yang menangani perjanjian internasional.

3) Undang-Undang.2) Ketetapan MPR. 5) Keputusan Presiden. MPR akhirnya mengeluarkan TAP MPR No III Tahun 2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan. Dengan keluarnya TAP MPR No III Tahun 2000 berarti bahwa TAP MPRS Nomor XX/MPRS/1966 Tahun 1966 tidk berlaku lagi setelah 34 tahun berlaku mulai dari tanggal 5 Juli 1966 b. . 4) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu). 2) Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. maka setiap peraturan perundangan harus berdasar dan bersumber dengan tegas pada peraturan perundangan yang berlaku. 6) Peraturan-peraturan Pelaksanaan lainnya seperti :  Peraturan Menteri  Instruksi Menteri  dan lain-lainnya Disebutkan pula dalam lampiran tersebut bahwa sesuai dengan prinsip Negara hukum. peraturan yang lebih tinggi tingkatnya merupakan dasar dan sumber bagi semua peraturan-perundangan bawahan dalam Negara. Dalam kurun waktu yang relatif lama perintah penyempurnaan ini baru dapat terealisasi. Secara garis besar materi muatan yang terkait dengan tata urutan peraturan perundang-undangan di Indonesia adalah sebagai berikut: 1) Undang-Undang Dasar 1945. yakni pada tahun 2000 dalam momentum reformasi. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor III/MPR/2000 Tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan PerundangUndangan Peraturan yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 2000 bertepatan dengan momentum reformasi ini dilandasi oleh semangat untuk melakukan pembatasan terhadap kekuasaan Presiden (executive power) yang dinilai berlebihan selama era orde baru dan juga semangat dalam melaksanakan otonomi daerah. Dalam perkembangannya TAP MPRS ini dirasa oleh MPR tidak mampu mewujudkan tujuannya yakni belum mampu menjawab masalah terkait dengan dengan penjenisan dan penjenjangan peraturang perundang-undangan yang mampu dijadikan pijakan dalam membangun tertib hukum maka perlu untuk disempurnakan. 4) Peraturan Pemerintah. 3) Undang-undang Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang.

7) Peraturan Daerah. 6) Keputusan Presiden. penyusunan maupun pemberlakuannya sehingga dapat dihindari terjadinya inkonsistensi peraturan perundangundangan di Indonesia. asas.1 Tahun 2003 tentang Peninjauan terhadap Materi dan Status Hukum Ketetapan MPRS dan MPR RI dari Tahun 1966 sampai dengan 2002. c. ternyata kebijakan pembatas yang dibuat bertentangan dengan Pasal 22 UUD 1945 yang menyatakan bahwa Perpu sejajar dengan Undang-undang. Dalam penjelasan undangundang ini dinyatakan bahwa Pembentukan Peraturan Perundangundangan harus dirintis sejak saat perencanaan sampai dengan pengundangannya. Pembatasan kekuasaan dalam suatu Negara pada prinsipnya merupakan hal yang wajar. tata cara penyiapan dan pembahasan. Kondisi ini wajar mengingat semangat reformasi yang merupakan aspek filosofi pembuatan ketentuan ini menginginkan pembatasan terhadap kekuasaan eksekuti (presiden) khususnya dalam kewenangan untuk membuat ketentuan perpu dengan alasan adanya kondisi darurat yang sangat subjektif. Kondisi ini membuat materi muatan dalam TAP MPR ini harus direview dan akhirnya dinyatakan tidak berlaku dengan dikeluarkannya UU No.5) Peraturan Pemerintah. Dengan demikian maka TAP MPR No. Sejalan dengan tujuannya tersebut maka secara garis besar undangundang ini juga mengatur secara lengkap berbagai hal terkait dengan pembentukan peraturan perundang-undangan hingga pemberlakuannya. namun akan menjadi permasalahan jika ternyata bahwa pembatasan tersebut bertentangan dengan konstitusi Negara. perbedaannya yang paling jelas terlihat pada penempatan perpu yang tidak lagi sebanding (selevel) dengan UU namun berada di bawah UU. teknik. III/MPR/2000 hanya berlaku selama 4 tahun mulai dari 18 Agustus 2000 sampai 1 November 2004. namun demikian dalam sub topik ini yang akan penulis soroti hanya . 10 Tahun 2004 sebagai konsekuensi Pasal 4 Tap MPR No. diperlukan berbagai persyaratan yang berkaitan dengan sistem. Jika dibandingkan dengan peraturan sebelumnya yang mengatur materi yang sama. Demikian pula yang terjadi dalam TAP MPR NO III/2000. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang Undangan Undang-undang yang ditandatangani Presiden Megawati 22 Juni 2004 bisa dikatakan merupakan peraturan/undang-undang pertama yang paling komprehensif mengatur mengenai tertib pembentukan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Untuk membentuk peraturan perundang-undangan yang baik.

Jika dibandingkan materi muatan dalam undang-undang ini dengan ketentuan sebelumnya perbedaan yang paling jelas terletak pada: 1) Dalam undang-undang ini sudah tidak lagi mengakomodasi Ketetapan MPR sebagai bagian dari tertib hukum di Indonesia. pembahasan dan penetapan Rancangan . jenishierarki. 2) Undang Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang. penguraian materi sesuai dengan yang diatur dalam tiap bab sesuai dengan sistematika. 2) Dalam undang-undang ini perpu yang dalam ketentuan sebelumnya ditetapkan di bawah undang-undang kini dikembalikan pada posisinya semula sejajar dengan undang-undang sebagaimana yang diamanatkan dalam konstitusi. 5) Peraturan Daerah yang meliputi Peraturan Daerah Provinsi.10 Tahun 2004 dijelaskan bahwa tata urutan peraturan perundangundangan yang berlaku di Indonesia adalah sebagai berikut: 1) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. d. teknik penyusunan Peraturan Perundang-undangan. Dalam evaluasi pelaksanaan undang-undang ini. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan Undang-undang yang dimaksudkan sebagai penyempurnaan ketentuan UU No 10 Tahun 2004 secara umum mengatur tentang asas pembentukan Peraturan Perundangundangan. Akhirnya pada tanggal 12 Agustus 2011 pemerintah mengundangkan Undang-undang No 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. perencanaan Peraturan Perundang-undangan. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota dan Peraturan Desa/peraturan yang setingkat. teknik penulisan rumusan banyak yang tidak konsisten. Undang-undang ini dinilai banyak memiliki kelemahan antara lain materi dari Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 banyak yang menimbulkan kerancuan atau multitafsir sehingga tidak memberikan suatu kepastian hukum. penyusunan Peraturan Perundang undangan.melihat pada aspek tata urutan peraturan perundang-undangan untuk melihat perbedaannya dengan tata urutan peraturan perundang-udangan sebelumnya. 3) Peraturan Pemerintah. 4) Peraturan Presiden. pembahasan dan pengesahan Rancangan Undang-Undang. Dalam Pasal 7 ayat (1) UU No. kurun waktu 10 tahun sejak diberlakukan 1 November 2004 hingga dicabut 12 Agustus 2011. dan materi muatan Peraturan Perundang-undangan. terdapat materi baru yang perlu diatur sesuai dengan perkembangan atau kebutuhan hukum dalam Pembentukan Peraturan Perundangundangan.

6) Peraturan Daerah Provinsi. . dan 7) Peraturan Daerah Kabupaten/Kota Jika kita bandingkan dengan ketentuan sebelumnya yang mengatur mengenai tata urutan peraturan perundang-undangan perbedaan yang paling jelas dalam ketentuan undang-udang ini terlihat pada: 1) Penambahan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai salah satu jenis Peraturan Perundang-undangan dan hierarkinya ditempatkan setelah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. partisipasi masyarakat dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dan ketentuan lain-lain yang memuat mengenai pembentukan Keputusan Presiden dan lembaga negara serta pemerintah lainnya. penyebarluasan. pengundangan Peraturan Perundang-undangan. Ketentuan ini perlu dibuat mengingat semangat otonomi daerah dalam menerapkan UU No 10 Tahun 2004 cenderung mengarah pada peafsiran kewenangan masing-masing (otonomi) Kabupaten/Kota dalam membuat Perda sehingga dalam praktek sering terjadi pertentangan dengan Perda dalam level Provinsi. Sesuai topik pembahasan dalam sub bab ini maka dari banyaknya materi muatan dalam ketentuan undang-undang ini akan penulis hanya akan focus terkait masalah tata urutan peraturan perundang-undangan yang diatur dalam undangundang ini. Dalam Pasal 7 UU 12 Tahun 2011 diatur tentang jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut: 1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 5) Peraturan Presiden.Peraturan Daerah Provinsi dan Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. 4) Peraturan Pemerintah. 3) Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. 2) Pembuatan hierarkhi atas Peraturan Daerah (perda) dimana Perda Propinsi ditempatkan datas Perda Kabupaten/Kota yang konsekuensinya nanti bahwa pembuatan perda-perda yang di kabupaten/kota harus merujuk/sesuai dengan Perda Propinsi. 2) Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat. Dengan ditandatanganinya Undang-undang No 12 Tahun 2011 pada tanggal 11 Agustus 2011 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan diundangkannya undang-undang tersebut dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82 maka untuk seluruh acuan mengenai jenis dan tata urutan perundang-undangan di Indonesia adalah mengacu pada ketentuan Undang-undang tersebut.

inappropriate. 2. hasil dari penelitian ini diharapkan dapat langsung digunakan sebagai pertimbangan dalam praktek pengambilan kebijakan terkait dengan pemberian status hukum perjanjian internasional dalam hukum nasional Indonesia.H. ? Sementara berdasarkan pada tujuan essensialnya. catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembentukan peraturan perundang-undangan dan putusan hakim. Applied reseach yaitu penelitian yang dilakukan dengan maksud supaya hasilnya secara langsung dapat dijadikan pertimbangan ke dalam praktik atau di dalam proses produksi. Apa perbedaan status hukum Perjanjian Internasional yang telah diratifikasi dalam hukum nasional Indonesia dan Amerika Serikat ? 2. atau konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Dalam konteks penelitian ini. Mana perlakuan yang paling baik terhadap pemberian status hukum Perjanjian Internasional dalam hukum nasional Indonesia. Penelitian hukum dilakukan untuk menghasilkan argumentasi. Jenis Penelitian Berdasarkan bidangnya penelitian ini termasuk dalam kategori Penelitian Hukum. penelitian ini merupakan penelitian terapan (applied research). prinsip-prinsip hukum. maupun doktrin-doktrin hukum yang terkait dengan persoalan : 1. peneliti berusaha menemukan berbagai aturan hukum. appropriate. Dalam konteks penelitian ini. prinsip-prinsip hukum. atau wrong. Metode Penelitian 1. Jawaban yang diharapkan dalam penelitian hukum adalah right. teori. Apa alasan yuridis Indonesia dan Amerika Serikat dalam perlakuannya terhadap pemberian status hukum Perjanjian Internasional ? 3. Bahan Hukum Primer Bahan-bahan hukum primer dapat terdiri dari peraturan perundang-undangan. maka untuk bahan-bahan hukum yang memiliki otoritas yang . Sumber-sumber Penelitian Untuk menjawab isu hukum mengenai apa yang seyogyanya dalam penelitian ini diperlukan sumber-sumber penelitian yang berupa: a. mengingat sifat penelitian hukumnya merupakan penelitian dalam bidang hukum tata negara dan bidang hukum internasional. Dalam konteks penelitian ini. Penelitian Hukum adalah suatu proses untuk menemukan aturan hukum. maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi.

Berikut bahan-bahan hukum primer yang bersifat pokok dan digunakan dalam penelitian ini. d) Vienna Convention on the Law of Treaties between States and International Organizations or between International Organizations. . seminar.antara lain : a) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Di samping buku teks bahan hukum sekunder dapat berupa tulisan-tulisan tentang hukum baik dalam bentuk buku maupun jurnal-jurnal. kesaksian ahli hukum di pengadilan. sepanjang relevan dengan bidang penelitian.digunakan dalam penelitian ini juga mengacu pada sumber hukum yang digunakan dalam kedua ranah bidang hukum tersebut. Bahan-bahan non Hukum Bahan-bahan non hukum adalah bahan di luar bidang hukum atau berasal dari disiplin ilmu lain yang berguna untuk memperluas dan memperkaya wawasan peneliti dalam memahami persoalan hukum yang ada. laporan penelitian non hukum. Dan untuk ranah Hukum Internasional maka bahan hukum primer yang digunakan mengacu pada ketentuan yang diatur dalam Pasal 38 (1) Statuta Mahkamah Internasional. Berikut bahan hukum sekuder yang bersifat pokok dan peneliti gunakan dalam penelitian. 1986. b. bahan hukum primer yang digunakan mengacu pada ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Bahan Hukum Sekunder Bahan Hukum sekunder yang utama adalah buku teks karena dalam buku teks berisi mengenai prinsip-prinsip dasar ilmu hukum dan pandanganpandangan klasik para sarjana hukum yang mempunyai kualifikasi yang tinggi. jurnaljurnal non hukum. Untuk ranah Hukum Tata Negara. Bahan-bahan non hukum ini dapat berupa kamus. ceramah dan kuliah. c) Vienna Convention on the Law of Treaties 1969. hasil dialog. dan wawancara dengan narasumber. b) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. c. antara lain:: a) Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring (Dalam Jaringan/Online) Edisi III b) Kamus Bahasa Inggris : Merriam Webster c) Kamus Hukum dan Ensiklopedi : Black’s Law Dictionary.

Preskipsi tersebut diharapkan akan bermanfaat baik untuk pengembangan ilmu pengetahuan (kepentingan akademik) dan untuk kepentingan praktis khususnya bagi para pengambil kebijakan atas persoalan dalam penelitian. Pada tahap ini peneliti melakukan penelaahan terhadap semua sumbersumber penelitian baik yang berupa bahan hukum primer. Dalam tahapan ini peneliti mengkaji berbagai kemungkinan bahan hukum maupun bahan non hukum yang relevandengan tema penelitian. Menarik kesimpulan dalam bentuk argumentasi yang menjawab isu hukum yang diteliti. serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam mencapai tujuan penelitian adalah sebagai berikut: a. Tahap ini sering juga dikenal dengan tahapan pembahasan hasil penelitian. Mengidentifikasi fakta hukum dan mengeliminir hal-hal yang tidak relevan untuk menetapkan isu hukum yang hendak dipecahkan. 4. Tahap ini merupakan tahap terakhir di mana peneliti mencoba untuk membuat preskripsi sebagai solusi atas persoalan yang menjadi isu dalam penelitian ini. Peneliti mengidentifikasi sebanyak mungkin fakta hukum yang terkait dengan persoalan perjanjian internasional dan kemudian melakukan seleksi atas fakta-fakta hukum yang ada tersebut. b. Penelaahan atas isu yang diajukan berdasarkan bahan-bahan hukum maupun non hukum yang ada. sekunder dan bahan non hukum. Pengumpulan bahan-bahan hukum dan bahan-bahan non hukum yang dianggap perlu. d. e. c. Metode Pendekatan dalam analisis . Jalannya Penelitian Dalam penelitian ini. Mengingat penelitian hukum tidak memiliki hipotesis maka kesimpulan dalam penelitian hukum juga bukan menghasilkan diterima atau ditolaknya sebuah hipotesis. lebih kepada menarik jawaban atas persoalan hukum yang tercantum dalam rumusan masalah. Pengkajian atas bahan-bahan tersebut digunakan untuk menjawab rumusan masalah yang telah ditetapkan di dalam penelitian ini. Tahap ini peneliti lakukan setelah isu hukum yang akan diteliti telah ditetapkan dalam rumusan masalah. Tindakan menarik kesimpulan dalam penelitian ini. spesifik hanya yang terkait dengan persoalan peluang diratifikasi/diaksesi penempatan oleh Pemerintah perjanjian Indonesia internasional dalam yang hierarkhi telah Peraturan Perundangundangan Indonesia. Tahapan ini peneliti lakukan pada tahap awal penelitian. Memberikan preskripsi berdasarkan argumentasi yang telah dibangun di dalam kesimpulan.3.

Pendekatan perbandingan (comparative approach) Pendekatan perbandingan dilakukan dengan membandingkan undang-undang (hukum) dalam satu negara dengan undang-undang (hukum) pada satu atau beberapa negara yang lain mengenai hal yang sama. Pendekatan Undang-undang (statutory approach) Berdasarkan pada pendekatan ini peneliti melakukan kajian terhadap ketentuan perundangan yang relevan dengan tema penelitian yakni UU No. peneliti juga melakukan kajian atas ketentuan hukum lain yang relevan dengan persoalan yang diteliti untuk mendukung analisis atas persoalan hukum yang ada. Hal ini dilakukan untuk melihat seberapa jauh pengaturan mengenai kewajiban pemenuhan perjanjian internasional telah diatur dalam UU tersebut dan mengkaji ketentuan dalam Vienna Convention on the Law of Treaties 1969 untuk melihat berbagai kewajiban umum yang lahir akibat keikutsertaan suatu negara terhadap perjanjian internasional.Untuk kepentingan analisis atas hasil penelitian. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Selain dari kedua ketentuan hukum tersebut. . Dalam penelitian ini metode pendekatan digunakan dalam menganalisis hasil adalah: a. b. Dalam penelitian ini perbandingan dilakukan dengan membandingkan UU Indonesia dan UU Amerika Serikat. Kegunaan pendekatan ini adalah untuk memperoleh persamaan dan perbedaan di antara kedua hukum tersebut. maka peneliti akan menggunakan metode pendekatan yang paling sesuai dengan tema yang diteliti. dan melihat konsistensi antara filosofi dan undang-undang di negara tersebut.

Penelitian Hukum di Indonesia pada akhir abad ke-20. Mohammad.000. DAFTAR PUSTAKA Hartono. Cetakan ke-6. Cetakan ke-2. 1960. Sunaryati. detail anggaran terlampir. Praktek Perjanjian Internasional di Indonesia. Yamin.000. Jakarta. Jadwal Penelitian J. Edisi 1.Bandung : Remadja Karya CV. Penelitian Hukum. Penerbit Kencana Prenada Media Group. 2010. Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945. Peter Mahmud i. Surabaya 25 November 2011. 16. Jakarta. Suryono.I. Pertemuan Kelompok Ahli. 2006. 00 (Lima Belas Juta Rupiah). Marzuki. Penerbit PT Alumni. Anggaran Penelitian Anggaran yang diajukan dalam Penelitian ini adalah sebesar Rp. Jilid Ketiga. Harjono. Sekretariat Negara. . Edy 1984. Perjanjian Internasional dalam Sistem UUD 1945.

Jakarta. entry into force January 27. Hierarchy of Norms in European Union Law (after The Lisbon Treaty). 2012. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 33/PUU-IX/2011 tentang Perkara Permohonan Pengujian Undang-undang Nomor 38 tahun 2008 tentang Pengesahan Charter of the Association of Southeast Asian Nations (Piagam Perhimpunan bangsa-bangsa Asia Tenggara) terhadap Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 Herwig Hoffman. entry into force 24 October 1945. website http://www. Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional. Direktorat Perjanjian Ekonomi dan Sosial Budaya. 1980. Adopted May 22. Departemen Luar Negeri. 1969. Lampiran I Usulan Pendanaan Penelitian . The Vienna Convention on the Law of Treaties.2006.html. Pedoman Teknis dan Referensi tentang Pembuatan Perjanjian Internasional.eu/obj/hierarchy_of_norms_in _european_union_law_after_the_lisbon_treaty-en-1623b797-f93f-42559ad81ceea5e2eb20. Luxembourg : University of Luxembourg.1969. Charter of the United Nations signed at San Francisco on 26 June 1945. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri.cvce.