BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Seorang manusia dalam menjalani kehidupannya sejak kecil, remaja,
dewasa hingga lanjut usia memiliki kecenderungan yang relatif serupa dalam
menghadapi suatu masalah. Apabila diperhatikan, cara atau metode penyelesaian yang
dilakukan seseorang memiliki pola tertentu dan dapat digunakan sebagai ciri atau
tanda untuk mengenal orang tersebut. Hal ini dikenal sebagai karakter atau
kepribadian.1
Gangguan kepribadian adalah istilah yang telah mengalami beberapa
perubahan dalam beberapa dekade terakhir, dan terus berubah. Gangguan kepribadian
adalah ciri kepribadian yang bersifat tidak fleksibel dan maladaptif yang
menyebabkan disfungsi yang bermakna dan penderitaan subjektif.1
Orang dengan gangguan kepribadian memiliki respons yang benar-benar
kaku terhadap situasi pribadi, hubungan dengan orang lain ataupun lingkungan
sekitarnya. Kekakuan tersebut menghalangi mereka untuk menyesuaikan diri terhadap
tuntutan eksternal, sehingga akhirnya pola tersebut bersifat self-defeating. Sikap
kepribadian yang terganggu itu akan semakin nyata pada saat remaja awal masa
dewasa dan terus berlanjut di sepanjang kehidupan dewasa, semakin lama semakin
mendalam dan mengakar sehingga semakin sulit diubah.1
Ganggguan kepribadian ambang pertama kali diperkenalkan oleh Kernberg
pada tahun 1975 sebagai suatu diagnosis pada sekelompok pasien dengan mekanisme
pertahanan yang primitif dan objek relasi internal yang patologis. Pada banyak
kepustakaan, gangguan kepribadian ambang dahulu sering dianggap sebagai batasan
antara psikosis dan neurosis.2
Gangguan ini terjadi antara 2-3% dari populasi umum, terutama ditemukan
dalam pusat-pusat kesehatan klinis. Di Amerika sendiri dikatakan sekitar 1%
penduduknya mengalami gangguan kepribadian ambang. Gangguan kepribadian jenis
ini lebih sering terjadi pada wanita daripada pria: wanita mempunyai kecenderungan 3
kali lebih rentan dibandingkan pria. Sampai saat ini belum ada pasti di Indonesia,
namun diperkirakan kejadian gangguan kepribadian ambang cukup tinggi karena
biasanya gangguan kepribadian ini ditandai oleh perilaku agresif dan impulsif, yang
biasanya banyak terdapat pada individu dengan perilaku kekerasan.2
1

Gangguan kepribadian berbeda dari perubahan kepribadian dalam waktu dan cara terjadinya: gangguan kepribadian adalah suatu proses perkembangan.1 2 . maladaptif. biasanya pada usia dewasa. serta berakar mendalam. deprivasi lingkungan yang ekstrem. gangguan jiwa yang parah atau penyakit/cedera otak. setelah stress berat atau berkepanjangan. Sebaliknya. perubahan kepribadian adalah suatu proses yang didapat. Gangguan kepribadian bukan keadaan sekunder dari gangguan jiwa lain atau penyakit otak. meskipun dapat didahului dan timbul bersamaan dengan gangguan lain. yang muncul ketika masa kanakkanak atau remaja dan berlanjut sampai dewasa.Dapat disimpulkan bahwa seseorang dengan gangguan kepribadian akan menunjukkan pola relasi dan persepsi terhadap lingkungan dan dirinya sendiri yang bersifat tidak fleksibel.

serta impulsivitas yang nyata. 2) Pola hubungan interpersonal yang tidak stabil dan intens ditandai dengan perubahan antara idealisasi dan devaluasi yang ekstrem. seperti kepribadian (suatu istilah yang diajukan oleh Helene Deutsch). seperti yang ditunjukkan oleh lima (atau lebih) hal berikut: 1) Upaya “gila” untuk menghindari pengabaian khayalan ataupun sebenarnya. dan afek. tetapi gangguan kepribadian ambang dianggap ada pada kira-kira 1-2 persen populasi dan dua kali lebih banyak pada perempuan dibanding laki-laki. mood. dan citra-diri yang sangat tidak stabil. hubungan objek.1 Definisi3 Pasien dengan gangguan kepribadian ambang berdiri pada batas antara neurosis dan psikosis serta ditandai dengan afek.3 Diagnosis Menurut DSM-IV-TR. Kriteria Diagnostik DSM-IV-TR Gangguan Kepribadian Ambang Pola pervasif ketidakstabilan hubungan interpersonal. dan penyalahgunaan zat yang meningkat ditemukan pada kerabat derajat pertama penderita gangguan kepribadian ambang. gangguan pengguaan alkohol. Gangguan ini juga disebut sebagai skizofrenia ambulatorik. 4 Tabel 1. citra-diri. 2. skizofrenia pseudoneurotik (digambarkan oleh Paul Hoch dan Philip Politan) dan gangguan ciri psikotik (digambarkan oleh John Frosch). yang dimulai saat masa dewasa awal dan ada dalam berbagai konteks.BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. perilaku. 2.2 Epidemiologi3 Tidak ada studi prevalensi definitif yang tersedia. 3) Gangguan identitas . Prevalensi gangguan depresif berat. Catatan : tidak mencakup perilaku bunuh diri atau mutilasi diri yang dimaksud didalam kriteria 5. citra-diri atau rasa diri yang secara menetap dan nyata 3 . diagnosis gangguan kepribadian ambang dapat dibuat pada masa dewasa awal ketika pasien menunjukkan sedikitnya lima dari kriteria yang tersusun pada Tabel 1.

6) Ketidakstabilan afektif akibat reaktivitas mood yang nyata (contoh : disforia episodik yang intens.tidak stabil. beberapa pasien dengan gangguan kepribadian ambang menunjukkan latensi REM yag memendek dan gangguan keberlangsungan tidur. Meskipun demikian. hasil DST abnormal. seks. cepat atau meragukan. dan kemudian mengeluh tidak ada perasaan. dan hasil uji thyrotropin-releasing hormone (TRH) abnormal. dan gejala-gejala psikotik pasien ini hampir selalu berputar-putar. menyetir dengan ceroboh. makan berlebih-lebihan). dan prestasi mereka jarang mencapai tingkat kemampuan mereka. Mood swing lazim ditemukan. Pasien mungkin memiliki episode psikotik yang berlangsung singkat (disebut episode mirkopsikotik) bukannya ledakan psikotik full-blown. perkelahian fisik berulang) 9) Gagasan paranoid terkait stres yang terjadi sementara atau gejala disosiatif berat. Pasien seperti ini dapat mengiris pergelangan tangannya dan melakukan mutilasi diri lainnya 4 . Catatan : tidak mencakup perilaku bunuh diri atau mutilasidiri yang dimaksud di dalam kriteria 5. terus-menerus marah.3 2.4 Gambaran klinis3 Penderita gangguan kepribadian ambang hampir selalu tampak berada di dalam keadaan krisis. 5) Perilaku sikap atau ancaman bunuh diri berulang. perubahan ini juga terlihat pada beberapa kasus gangguan depresif. Sifat menyakitkan dari kehidupan mereka dicerminkan dalam bentuk tindakan merusak diri berulang. Perilaku pasien dengan gangguan kepribadian ambang sangat tidak dapat diduga. 4) Impulsivitas pada sedikitnya dua area yang berpotensi merusak diri (contoh: berbelanja. atau perilaku mutilasi-diri. 7) Perasaan kosong yang kronis 8) Kemarahan intens yang tidak sesuai atau kesulitan untuk mengendalikan kemarahan (contoh: sering menunjukkan kemarahan. Studi biologis dapat membantu diagnosis . penyalahgunaan zat. Pasien dapat bersifat argumentatif pada suatu saat. atau ansietas biasanya berlangsung beberapa jam dan jarang lebih dari beberapa hari). iritabilitas. depresi pada saat lainnya.

Mereka sering mengeluh mengenai rasa kosong dan bosan yang kronis serta tidak adanya rasa identitas yang konsisten (difusi identitas) jika ditekan. panambivalensi. Pergeseran kesetiaan dari satu orang atau kelompok ke yang lainnya sering terjadi. Pasien dengan gangguan kepribadian ambang tidak dapat menoleransi keadaan sendiri dan mereka lebih memilih pencarian “gila-gilaan” untuk mendapatkan teman. Pasien melihat orang baik sebagai figur pelekatan yang bersifat mengasuh atau figur kebencian dan sadis yang mengurangi kebutuhan rasa aman mereka dan mengancam mereka dengan pengabaian saat mereka merasa bergantung. Otto Kernberg menemukan bahwa mekanisme pertahanan proyeksi terdapat pada pasien dengan gangguan kepribadian ambang. panansietas. Sejumlah klinisi menggunakan konsep panfobia. dan seksualitas yang kacau untuk menandai ciri pasien ini. pasien dengan gangguan kepribadian ambang merusak hubungan mereka dengan menganggap semua orang baik atau semua orang jahat. seperti Wechsler Adult Intelegence Scale. tidak peduli betapapun tidak memuaskannya bagi mereka sendiri. seperti pada uji Rorschach. Untuk meredakan kesepian. 5 . mereka dapat mengekspresikan kemarahan pada teman dekatnya. atau untuk membuat mereka mati rasa dari afek melimpah. Karena mereka merasa bergantung sekaligus bermusuhan. Sebagian besar terapis setuju kalau pasien ini menunjukkan kemampuan memberikan alasan yang biasa pada uji terstruktur. orang yang baik diidealisasikan dan orang yang buruk didevaluasikan. Terapis harus menyadari proses ini sehingga mereka dapat bersikap netral pada pasien tersebut. mereka menerima orang asing sebagai teman atau bersikap tidak setia. untuk mengekspresikan kemarahan. jika hanya untuk waktu singkat. orang dengan gangguan ini memiliki hubungan interpersonalyang penuh huru-hara. mereka sering mengeluh tentang seberapa depresi yang mereka rasakan tanpa memusingkan aspek lainnya. Sebagai akibat dari pemisahan ini.untuk mendapatkan bantuan dari orang lain. dan menunjukkan proses penyimpangan hanya pada uji proyektif yang tidak terstruktur. Mereka dapat bergantung kepada orang lain yang mereka rasa dekat dan jika frustasi. Secara fungsional.

dan pilihan lain serta tidak mampu menghadapi tahap normal siklus kehidupan. mereka dapat melakukan mutilasi diri mereka sendiri dan membuat percoban bunuh diri manipulatif.2. Untuk hasil terbaik. dan menunjukkan transference positif atau negatif terfiksasi atau labil. Identifikasi proyektif juga dapat menyebabkan masalah countertransference yaitu ketika terapis tidak menyadari bahwa pasien secara tidak sadar mencoba memaksanya untuk melakukan perilaku tertentu. Pasien mudah mengalami regresi. mereka bertindak impulsif dan menuntut hubungan yang luar biasa. farmakoterapi telah ditambahkan di dalam regimen terapi. dan tanda skizofrenik klasik lainnya. gangguan pikir. Penderita gangguan kepribadian paranoid memiliki ciri kecurigaan yang ekstrem.6 Perjalanan Gangguan Dan Prognosis3 Gangguan ini cukup stabil. tetapi pasien memiliki insiden yang tinggi untuk episode gangguan depresif berat. Pasien dengan gangguan kepribadian skizotipal menunjukkan keanehan berpikir yang nyata. 2.7 Terapi3 Psikoterapi Psikoterapi untuk pasien dengan gangguan kepribadian ambang adalah sedang diteliti secara intensif dan telah menjadi terapi pilihan. perkawinan. Psikoterapi sama sulitnya bagi pasien maupun terapis. 2. ketika pasien mencoba membuat pilihan pekerjaan. mengeluarkan impulsnya.5 Diagnosis Banding3 Gangguan ini dibedakan dengan skizofrenia berdasarkan tidak adanya episode psikotik yang lama. Diagnosis ini biasanya ditegakkan sebelum usia 40 tahun. yang sulit dianalisis. Pasien dengan gangguan kepribadian ambang umumnya memiliki rasa kosong yang kronis serta episode psikotik yang berlangsung singkat. 6 . gagasan asing. Pendekatan berorientasi realitas lebih efektif daripada interprestasi mendalam mengenai ketidaksadaran. pasien sedikit berubah dari waktu ke waktu. serta ide referensi berulang. Studi longitudinal menunjukkan tidak adanya peningkatan ke arah skizofrenia. Pemisahan sebagai mekanisme defensi membuat pasien berselang-seling mencintai dan membenci terapis serta orang lain di dalam lingkungan tersebut.

serta kejuruan. merusak diri. Dalam keadaan ideal. rekreasi. Penelitian dengan menggunakan PET memperlihatkan bahwa psikoterapi dapat meningkatkan metabolisme sistem serotonergik pada pasien dengan gangguan kepribadian ambang. Di dalam lingkungan rumah sakit yang terlindungi. terutama dengan memutar rekaman video kilas balik. pada beberapa kasus sampai 1 tahun. dan rumah singgah (halfway house). Suatu bentuk psikoterapi tertentu yang disebut dialectical behavioral therapy (DBT) telah digunakan untuk pasien ambang. Psikoterapi dengan menggunakan SSRI dapat membantu menfasilitasi perubahan di otak. pasien tetap di rumah sakit sampai mereka menunjukkan perbaikan yang nyata. Program seperti ini terutama membantu jika lingkungan rumah mengganggu rehabilitasi pasien. sehingga memperbaiki perilaku interpersonal mereka. bukan sebagai tokoh yang menuntut dan penuh dengki. Pasien kemudian dapat dipulangkan untuk menjalani sistem dukungan khusus seperti rumah sakit seharian. atau memutilasi diri dapat diberikan batasan. Splitting juga dapat berkurang karena kecemasan yang lebih ringan mengurangi keperluan membuat pertahanan. Pasien dengan gangguan kepribadian ambang sering membaik di dalam lingkungan rumah sakit tempat mereka mendapatkan psikoterapi intensif baik secara individual maupun kelompok. rumah sakit malam hari. bermanfaat untuk memungkinkan pasien terlihat bagaimana tindakan mereka memengaruhi orang lain.5 7 . Di rumah sakit mereka juga dapat berinteraksi dengan petugas yang telah terlatih dari berbagai disiplin dan dapat memperoleh terapi pekerjaan. terutama mereka yang memiliki perilaku parasuicide seperti sering memotong-motong. Kemampuan pasien melihat terapis sebagai seseorang yang membantu dan memberi perhatian.Terapis menggunakan terapi perilaku untuk mengendalikan impuls dan ledakan kemarahan pasien serta untuk mengurangi sensitivitas mereka terhadap kritik dan penolakan. seperti adanya konflik di dalam keluarga atau stres lain seperti penganiayaann oleh orang tua. Pelatihan keterampilan sosial. pasien yang sangat impulsif. akan membantu membangun jaringan neuron yang baru dan akan melemahkan yang lama. dan tindakan mereka dapat diamati.

dan episode psikotik singkat. Antidepresan memperbaiki mood depresi yang lazim ada pada pasien dengan gangguan kepribadian ambang. tetapi pasien lain menunjukkan disinhibisi dengan golongan obat ini. Antikonvulsan seperti carbamazepine (Tegretol) dapat memperbaiki fungsi global untuk beberapa pasien.Farmakoterapi Farmakoterapi berguna untuk menghadapi ciri kepribadian khusus yang mengganggu fungsi keseluruhan pasien. Benzodiazepine. 8 . terutama alprazolam (Xanax). Inhibitor MAO efektif di dalam mengubah perilaku impulsif pada beberapa pasien. permusuhan. Agen serotonergik seperti fluoxetine (Prozac) berguna pada sejumlah kasus. membantu ansietas dan depresi. Antipsikotik telah digunakan untuk mengendalikan kemarahan.

Pada banyak kepustakaan. Penderita gangguan kepribadian ambang hampir selalu tampak berada di dalam keadaan krisis. dan episode psikotik singkat. Terapi yang diberikan pada pasien dengan gangguan kepribadian ambang berupa psikoterapi dan farmakoterapi. diagnosis gangguan kepribadian ambang dapat dibuat pada masa dewasa awal ketika pasien menunjukkan sedikitnya lima dari kriteria yang tersusun pada Tabel 1. dan kemudian mengeluh tidak ada perasaan. dan citra-diri yang sangat tidak stabil. gangguan kepribadian ambang dahulu sering dianggap sebagai batasan antara psikosis dan neurosis. seperti kepribadian (suatu istilah yang diajukan oleh Helene Deutsch). Mood swing lazim ditemukan. Gangguan ini juga disebut sebagai skizofrenia ambulatorik. hubungan objek. depresi pada saat lainnya. Menurut DSM-IV-TR. skizofrenia pseudoneurotik (digambarkan oleh Paul Hoch dan Philip Politan) dan gangguan ciri psikotik (digambarkan oleh John Frosch). mood.BAB 3 KESIMPULAN Ganggguan kepribadian ambang pertama kali diperkenalkan oleh Kernberg pada tahun 1975 sebagai suatu diagnosis pada sekelompok pasien dengan mekanisme pertahanan yang primitif dan objek relasi internal yang patologis. Antipsikotik telah digunakan untuk mengendalikan kemarahan. perilaku. Antidepresan memperbaiki mood depresi yang lazim ada pada pasien dengan gangguan kepribadian ambang. Pasien dengan gangguan kepribadian ambang ditandai dengan afek. Pasien dapat bersifat argumentatif pada suatu saat. 9 . Farmakoterapi berguna untuk menghadapi ciri kepribadian khusus yang mengganggu fungsi keseluruhan pasien. permusuhan.

DC: American Psychiatric Association. 2000. Mind. 375-377. Washington. p. In Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis. Personality disorders. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder. 10 . 2012. Borderline Personality Disorder. 193-205.narsad. Sadock VA. Diunduh dari http:/ www. brain.chiatry 2005.162:648-55. Am J Psy. Jacob C. 4th ed.org. 2010. Association AP. and personality disorders.: Elsevier. Sadock BJ. In Core Psychiatric.DAFTAR PUSTAKA Adshead G.pression. The National Alliance for Research on Schizophrenia and De. p. Gabbard GO. Gangguan Kepribadian. Jakarta: ECG.