PANDUAN BAGI PRAKTISI;

MENGELOLA HUTAN BERNILAI KONSERVASI TINGGI DI INDONESIA
studi kasus di Kalimantan Timur

Bekantan

The Nature Conservancy (TNC) adalah organisasi internasional non pemerintah yang bekerjasama dengan masyarakat umum, kalangan bisnis dan orang-orang seperti anda sejak tahun 1951 untuk melindungi hampir 117 juta are kawasan (setara dengan 476.420 juta m2) di seluruh dunia. TNC mempunyai misi melindungi tumbuhan, hewan dan komunitas alami yang mewakili kekayaan hidup di muka Bumi melalui perlindungan tanah dan air yang diperlukan agar dapat bertahan hidup. Sejak tahun 1991, TNC telah bermitra dengan pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk melindungi kekayaan alam negeri ini yang tak bisa digantikan. Di Kalimantan Timur, fokus kegiatan TNC adalah pada luar kawasan yang telah dilindungi secara formal. Sebab terdapat kekayaan biologi dalam jumlah besar di kawasan tersebut, namun masih sedikit mendapat perlindungan oleh perundangan Indonesia dan keberadaannya pun sangat terancam. TNC bersama para mitranya melakukan pendekatan konservasi komprehensif dari pegunungan sampai terumbu karang. Mengingat ketergantungan Indonesia terhadap sumberdaya alam bagi perkembangan ekonomi dan desentralisasi pemerintahan saat ini, TNC percaya bahwa perlindungan habitat yang penting melalui pembentukan taman nasional atau cagar alam baru bukan pilihan yang memungkinkan dalam waktu dekat ini. Sebagai gantinya, TNC menggunakan pendekatan target untuk mengkonservasi daerah-daerah penting yang diidentifikasi melalui pengkajian ekoregional. Salah satu fokus upaya konservasi TNC di Kalimantan Timur adalah menjaga keberlangsungan habitat hutan. Para ahli percaya bahwa Daerah Aliran Sungai Kelay di propinsi ini adalah rumah bagi lebih dari 10 persen populasi orangutan yang tersisa di dunia. Karena ketergantungannya terhadap tiga tipe hutan, orangutan diidentifikasikan sebagai “spesies unggulan” (flagship species). Keberhasilan perlindungan habitat orangutan akan menjadi ukuran keberhasilan konservasi daerah tersebut dalam skala luas.
Didanai oleh USFS TA, Forestry Alliance.
Rekomendasi untuk sitasi :

Meijaard, E., Stanley, S.A., Pollard E. H. B., A. Gouyon, and G. Paoli (2006). Panduan bagi Praktisi; Mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia, Studi kasus di Kalimantan Timur.The Nature Conservancy, Samarinda, Indonesia.

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

PANDUAN BAGI PRAKTISI;

MENGELOLA HUTAN BERNILAI KONSERVASI TINGGI DI INDONESIA
studi kasus di Kalimantan Timur

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

i

ii

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

daftar isi
daftar singkatan & kosakata ucapan terima kasih pengantar executive summary & recommendations
bagian 1:

2 5 7 9 13
13 14 14 15

pendahuluan
Apa tujuan panduan ini? Kenapa panduan ini diperlukan? Untuk siapa panduan ini? Bagaimana menggunakan panduan ini?

bagian 2:

apakah Hutan Bernilai Konservasi Tinggi (HCVF) itu?
Sertifikasi Hutan Prinsip Sembilan Forest Stewardship Council (FSC) Apakah anda memiliki Hutan Bernilai Konservasi Tinggi?

17
17 18 19

bagian 3: bagian 4:

bagaimana anda mengidentifikasi HCVF? bagaimana anda mengelola HCVF?
Mengembangkan strategi-strategi pengelolaan HCVF Mengidentifikasi yang terjadi di dalam suatu nilai Mengidentifikasi hal-hal yang menyebabkan perubahan terhadap nilai Mengembangkan strategi-strategi bagi HCV sosial Pengelolaan HCV

25 29
30 33 35 36 37

bagian 5:

apakah strategi pengelolaan yang sekarang berhasil?
Apa itu pemantauan? Mengapa memantau? Apa yang dipantau? Data-dasar (Baselines) Bagaimana memantau HCVF Rencana Pemantauan Partisipatif Bagaimana menggunakan hasil-hasil pemantauan

47
47 48 48 50 50 56 57

kesimpulan
lampiran 1: contoh-contoh beberapa masalah dan sumber masalah untuk nilai konservasi penting

59
61 66 68 71

di Kalimantan Timur
lampiran 2: ringkasan potensi ancaman terhadap nilai-nilai lampiran 3: potensi strategi pengelolaan yang direkomendasikan lampiran 4: daftar jenis vertebrata rawan, terancam dan endemik yang dapat ditemukan di

Kalimantan Timur

daftar pustaka dan rekomendasi bahan bacaan
Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

75
1

daftar singkatan & kosakata
BAPPEDA Birdlife Int. BRLKT CBD CIFOR CITES DAS Dephut EBA ENSO ERP FSC FMU HCV HCVF HL HPH HTI IBA ITTO IUCN KPA KSA LATIN LEI LLFO LSM NASA PCP(PKP) PDB Badan Perencanaan Pembangunan Daerah aliansi global organisasi konservasi burung Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Convention on Biodiversity (Konvesi Keanekaragaman Hayati) Center for International Forestry Research (Pusat Penelitian Kehutanan Internasional) Convention on International Trade of Endangered Species Daerah Aliran Sungai Departemen Kehutanan R.I. Endemic Bird Area (Kawasan Burung Endemik) El Nino and Southern Oscillation (perubahan iklim karena pengaruh el nino dan la nina) Eco Regional Planning (Perencanaan Ekoregional) Forest Stewardship Council (Lembaga sertifikasi internasional) Forest Management Unit (Unit Manajemen Hutan) High Conservation Value (Nilai Konservasi Tinggi) High Conservation Value Forest (Hutan Bernilai Konservasi Tinggi) hutan lindung Hak Pengusahaan Hutan Hutan Tanaman Industri Important Bird Area (Kawasan Penting bagi Burung) International Tropical Timber Organization The World Conservation Union Kawasan Pelestarian Alam Kawasan Suaka Alam Lembaga Alam Tropika Indonesia Lembaga Ekolabel Indonesia Lore Lindu Field Office (Kantor Lapangan Lore Lindu) Lembaga Swadaya Masyarakat National Aeronautics and Space Administration Participatory Conservation Planning (Perencanaan Konservasi Partisipatif) Pendapatan Domestik Bruto

2

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

ProForest PSP PT RIL RSPO SFO SIG Skyline SLJ Smartwood SOP Stepwise Approach TNC USAID USFS WWF

Perusahaan independen untuk pengelolaan sumberdaya alam khususnya melalui pendekatan praktis untuk kelestarian Permanent Sample Plot (Sampel Plot Permanen) Perseroan Terbatas Reduced Impact Logging (Pemanenan Ramah Lingkungan) Roundtable on Sustainable Oil Palm (Inisiatif multistakhoder global untuk kelestarian minyak sawit) Samarinda Field Office (Kantor Lapangan Samarinda) Sistem Informasi Geografis Tehnik penyaradan kayu dengan prinsip kerja katrol dan tiang pancang Sumalindo Lestari Jaya Lembaga independen dunia untuk sertifikasi hutan Standard Operation Procedure (Prosedur Operasional Standar) Pendekatan bertahap menuju sertifikasi The Nature Conservancy United States Agency for International Development United States Forest Services World Wide Fund for Nature

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

3

4

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Orang Dayak

ucapan terima kasih
Penelitian ini merupakan bagian dari kegiatan the Global Development Alliance project, kolaborasi antara The Nature Conservancy dan the World Wide Fund for Nature (WWF), yang didanai oleh the United States Agency for International Development (USAID) dan the United States Forest Service Technical Assistance (USFS TA). Kami mengucapkan terima kasih kepada para ahli yang telah terlibat dan bekerjasama dengan kami, yaitu: Dr. Mark Leighton (Harvard University), Dr. Jim Jarvie (konsultan independen), Ms. Daryatun (TNC), dan Mr. Agus Salim (TNC). Kami juga berterima kasih kepada para staf dari PT Sumalindo Lestari Jaya, PT Daisy Timber, dan PT Intraca yang telah mendukung, memberi masukan dan berkomitmen untuk bekerja dengan konsep Hutan Bernilai Konservasi Tinggi. Teks oleh Erik Meijaard, Scott Alexander Stanley, Edward H. Pollard, Anne Gouyon, dan Gary Paoli. Lay out dan ilustrasi oleh Donald Bason. Juni 2006.

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

5

6

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Rangkong papan

pengantar

Hutan Bernilai Konservasi Tinggi atau HCVF merupakan hal yang baru bagi pemerintah maupun kalangan industri sehingga menimbulkan bermacam pertanyaan mengenai apa itu HCVF, bagaimana mengidentifikasi dan pengelolaannya. Forest Stewardship Council (FSC) – Lembaga sertifikasi internasional mengembangkan konsep HCVF pada tahun 1999 dan memasukkannya dalam prinsip dan kriteria sertifikasi hutan. Sebelumnya digunakan pengertian hutan yang telah berusia tua, namun kemudian banyak praktisi merasa bahwa pengertian tersebut tidak tepat karena tidak mencakup kepentingan hutan secara ekologi dan situasi sosial juga keadaan iklim tropis. Demi membantu para pengelola hutan di Indonesia untuk mengidentifikasi HCVF, pada tahun 2004, Proforest dan Smartwood mengembangkan perangkat HCVF khusus Indonesia. Tujuan dari panduan ini adalah untuk mengembangkan perangkat HCVF, khususnya dengan pemaparan berbagai contoh tentang bagaimana mengelola HCVF dan ide-ide bagaimana memantau tentang kesehatan kawasan yang telah dilindungi. Sejak tahun 2002, The Nature Conservancy (TNC) telah menginisiasi peran terkait dalam upaya identifikasi dan penawaran rekomendasi untuk pengelolaan kawasan bernilai konservasi tinggi. Saat ini TNC bekerjasama dengan tiga perusahaan pemegang konsesi hutan telah mengidentifikasi 185.000 ha hutan bernilai konservasi tinggi di Kalimantan Timur. Rencananya luasan tersebut menjadi dua kali lipat pada tahun 2007. TNC sangat tertarik pada konsep ini karena memahami bahwa pelayanan ekosistem dan fungsi proses ekologis pada skala besar atau lansekap ekstrem dan pada sebagian besar kawasan dilindungi tidak mampu mencukupi untuk menjamin berlangsungnya proses ini. Karena itu kawasan konservasi tinggi yang secara efektif dikelola dapat meningkatkan dan menguatkan sistem nasional pada kawasan yang dilindungi. Lebih jauh lagi, area HCVF dikelola dan dibiayai oleh sektor swasta sehingga tidak bergantung dan menjadi beban anggaran pemerintah pusat. Pertanyaan penting selanjutnya adalah mengapa kalangan industri dan pemerintah harus tertarik pada HCVF ini? Permintaan sertifikasi hutan saat ini semakin meningkat oleh para pembeli dari Eropa maupun Amerika Utara, dan kompleksitas sertifikasi menjadikan banyak
Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia 7

perusahaan mengambil kebijakan step-wise approach untuk dapat memenuhi keseluruhan prinsip dan kriteria HCVF. Prinsip sembilan pada HCVF sangat unik dengan mengkombinasikan komponen ekologi maupun sosial yang bekerja pada dua skala yang berbeda. Bilamana dibandingkan luasan seluruh propinsi, maka luas hutan yang masih baik dan belum terjamah masuk dalam kawasan bernilai konservasi tinggi. Dan, pada tingkatan unit pengelolaan hutan, suatu upaya dibuat untuk mengkonfirmasi apakah terdapat kumpulan spesies langka, genting dan terancam serta dalam kondisi lingkungan yang seperti apa komunitas itu bergantung pada hutan alam yang ada. Berdasar pada kombinasi faktor-faktor tersebut, banyak HPH yang berharap mampu menunjukkan komitmen terhadap pengelolaan hutan yang berkelanjutan dengan menjadikan pengkajian HCVF sebagai langkah awalnya. Lebih jauh lagi konsep HCVF telah masuk dalam konteks FSC dan saat ini telah digunakan dalam sektor pengelolaan kelapa sawit dan tambang. The Roundtable on Sustainable Palm Oil telah membuat kesepakatan untuk secara khusus mengurangi dampak ekologi dan sosial pada kawasan perkebunan kelapa sawit. Mereka telah memiliki rancangan yang sesuai dengan seperangkat prinsip bahwa tidak ada konversi pada area HCVF. Pengkajian HCVF pada skala lansekap berguna sebagai informasi bagi BAPPEDA tingkat propinsi dan kabupaten. Pada kebanyakan kawasan hutan yang teridentifikasi sebagai HCVF terletak pada kawasan hulu daerah aliran sungai yang merupakan pusat keanekaragaman hayati sekaligus yang melindungi kawasan hilir dari bahaya banjir serta sebagai sumber air bersih. Karena begitu maka BAPPEDA harus menjamin bahwa area HCVF tidak termasuk dalam kawasan konversi, dan keberadaan area konservasi tinggi yang sebelumnya termasuk dalam kawasan konversi perlu dikaji kembali. Peran penting lain pemerintah adalah harus memberikan insentif bagi upaya sertifikasi, terutama kepada area yang dinyatakan sebagai HCVF. Antara lain berupa penghapusan pajak area HCVF dan mengeluarkannya dari dari kawasan target produksi. Hal ini akan cukup memberikan manfaat yang tak terhitung banyaknya untuk kawasan hilir. Konsep HCVF sendiri telah mendapat dukungan dari sektor perbankan internasional. Saat ini, HSBC dan Rabobank telah menyatakan bahwa mereka tidak akan mendanai konversi pada kawasan yang telah dinyatakan sebagai area HCVF. Sementara laju deforestasi di Indonesia terus berlangsung dan semakin cepat terjadi pada hutan-hutan di Kalimantan dan Sumatera. Konsep Hutan Bernilai Konservasi Tinggi merupakan perangkat yang sangat berguna untuk melindungi area tersisa yang kritis secara ekologi dan sosial. Salah satu tujuan dari TNC adalah menyediakan informasi penting dan praktis untuk para pengelola hutan guna mengurangi dampak yang ditimbulkan. Dan, panduan ini diharapkan dapat menjadi jawaban tujuan tersebut.

Scott Alexander Stanley
Senior Advisor

8

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Macan Dahan

ringkasan eksekutif dan rekomendasi
Konteks politik untuk analisa HCVF
Di Asia Tenggara, Konsep Hutan Bernilai Konservasi Tinggi - High Conservation Value Forest (HCVF) menjadi perangkat yang sangat penting dalam mendesain kawasan yang mempunyai kepentingan perlindungan khusus di luar jaringan kawasan lindung formal. Sejauh ini pengkajian HCVF telah dilaksanakan di Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Papua New Guinea. Pengkajian HCVF yang dilaksanakan fokus pada hutan produksi dan kawasan perkebunan kehutanan, yang juga tertarik akan konsep HCVF adalah perkebunan kelapa sawit dan industri pertambangan. Namun sejalan dengan peningkatan kebutuhan akan penerapan konsep HVCF, masih banyak orang-orang kunci dalam pemerintahan, industri dan LSM, yang belum mengetahui secara benar tentang HCVF. Panduan ini merupakan tahapan selangkah lebih maju dalam upaya meningkatkan pertukaran informasi, outreach dan pelatihan tentang (a) pelaksanaan pengkajian HCVF, (b) mengelola HCVF dan (c) pemanfaatan HCVF sebagai alat perencanaan dan advokasi.
Secara ideal, pembuatan panduan HCVF, praktek dan penerapannya dalam suatu wilayah harus dipimpin oleh kelompok kerja multi-stakeholder. Kelompok kerja FSC nasional dapat menjalankan peran ini, dan stakeholder tambahan yang dibutuhkan dapat dilibatkan berdasar berbagai kasus yang timbul dalam mengkaji dan mengelola HCVF, tidak dalam rangka memperoleh sertifikasi hutan (misal; ketika identifikasi HCVF terkait dengan perencanaan tata ruang pemerintah atau HCVF dilaksanakan oleh industri yang tidak mengkhususkan pada sertifikasi hutan seperti perkebunan kelapa sawit dan sektor tambang). Di Negara-negara seperti Indonesia, dimana perangkat dikembangkan oleh para ahli yang tidak termasuk kelompok formal (pemerintah), para praktisi harus berusaha menggali banyak masukan dari stakeholder lain dan memperbaiki perangkat yang ada, sesuai dengan kepentingan stakeholder dan pembelajaran dari pengalaman pengkajian sebelumnya.

isu cakupan dan skala: apa yang dapat dan tidak dapat dipetakan
HCVF bekerja pada level yang berbeda: lansekap dan unit manajemen hutan - forest management unit (FMU). HCVF lansekap dapat secara mudah dikenali karena dapat diidentifikasikan hanya dengan menggunakan citra satelit sedangkan ketergantungan desa sekitar pada sumberdaya hutan yang ada hanya 9

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

dapat didentifikasikan melalui kegiatan konsultasi. Laporan ini membahas skala lansekap berikut skala FMU sekaligus juga melihat hubungan spasial antara keduanya yakni hubungan HCVF berbasis FMU dengan keseluruhan lansekap. Nilai Konservasi Tinggi ~ High Conservation Values (HCV) adalah statis, sedangkan nilai yang lain yakni ekologi dan sosial dapat berubah sejalan dengan waktu. Tantangannya adalah menyediakan batas HCVF yang terdeliniasikan dalam peta, sehingga perusahaan hutan dapat mengintegrasikannya dalam perencanaan jangka panjang sekaligus mempertimbangkan perubahan dinamis alam baik secara spasial dan temporal pada HCV. Pertanyaan tambahan mengenai kajian ini adalah apakah dapat benar-benar mencakup semua nilai-nilai sosial melalui proses konsultasi masyarakat dan apakah masyarakat yang telah dilakukan konsultasi juga akan sadar dengan konsekuensi dari proses konsultasi ini. Perlu ekstra kehati-hatian dalam menggambarkan batas HCV berdasarkan nilai ekonomi dan sosial, khususnya dalam perkebunan kelapa sawit dan pulp plantations yang terletak di luar kawasan HCVF yang hutannya akan menjadi terbuka karena penebangan/dipanen. Pada beberapa kawasan khusus, pengkaji bisa jadi tidak dapat meletakan batas-batas kecuali telah melalui proses konsultasi yang mendalam. Menggunakan HCVF sebagai perangkat yang dinamis memungkinkan perbaikan reguler berbasis pengalaman lapangan dan perubahan kondisi sosial-ekonomi sembari menyisakannya untuk kepentingan HCV.

untuk menjamin partisipasi masyarakat yang cukup dalam prosesnya berikut dengan melibatkan staf dari perusahaan hutan, sehingga mereka memahami hasil dan respon yang diperoleh. Lebih lanjut terdapat kebutuhan untuk memperbaiki pendekatan berdasar ekspose masyarakat pada pengaruh pembangunan dari luar, misalnya seringkali dikunjungi oleh orang luar atau tidak. Terdapat kebutuhan untuk meningkatkan masukan dari sisi sosial. Saat ini kajian secara sosial tidak memberikan hasil identifikasi HCV yang realistik ketika perubahan ekonomi besar akan terjadi nantinya. Lebih jauh lagi masukan harus diatur secara berbeda terkait dengan apakah FMU melakukan penebangan selektif di hutan alam atau melakukan konversi lahan. Sehingga masukan akan menjadi sangat krusial. Akan susah mendapatkan masukan namun hal ini sangatlah penting. Di sisi lain hal ini memunculkan pertanyaan akan transparansi yang menjadi dasar penentuan keputusan HCV dan menjadi tantangan saat ini. Kemungkinan perubahan masukan atau penyusunan masukan yang adaptif dapat menjadi solusi.

mengelola & monitoring HCVF
Mengelola HCVF tidak secara otomatis akan menutup rapat hutan atau tidak dapat melakukan penebangan selektif. Pada beberapa kasus, manfaat dari penebangan selektif dapat secara aktual membantu untuk melindungi kawasan dari kerusakan hutan, bilamana manfaat juga dirasakan oleh masyarakat sekitar. Terdapat beberapa pilihan yang juga dapat melindungi HCVF dengan memperbolehkan beberapa pengambilan sumberdaya yang ramah lingkungan dan berkelanjutan di kawasan HCVF. Bilamana terdapat spesies payung yang terancam punah (seperti harimau atau badak), memelihara populasi yang tersisa dapat dipertimbangkan sebagai dasar penentuan HCVF juga. Mengkaji kapasitas HCVF akan sulit secara statistik khususnya karena kurangnya data di Asia Tenggara. Kurangnya data dapat dikarenakan karena sedikitnya/tidak adanya survey terhadap spesies kunci. Juga beberapa penyusunan prioritas yang relevan dan analisa skala yang tepat seperti yang dilakukan oleh BirdLife’s Important Bird Areas menyediakan/mengindikasikan kawasan sebagai pilihan atau pertimbangan untuk kawasan konsentrasi keanekaragaman hayati. Penggunaan kategori spesies oleh IUCN sebagai dasar untuk pengkajian HCV perlu dipertimbangkan. Pengkaji perlu menjustifikasi apakah kriteria IUCN dimasukkan atau tidak.

kebingungan dalam metoda – teknik identifikasi HCV sosial
Panduan ini menyediakan secara detil pembahasan pada pengkajian dan pengelolaan nilai-nilai sosial. Banyak pertanyaan mengenai hal ini yakni bagaimana cara pengkajiannya? Salah satu pertanyaan yang lain adalah apakah prosedur HCVF mempunyai waktu yang cukup untuk mengkaji nilai-nilai sosial yang ada? Seorang antropologis yang mengerjakan pengkajian selama 3 bulan masih merasa belum puas dengan hasil yang ada, padahal pengkajian HCVF di lapangan seringkali kurang dari satu minggu. Kami menekankan bahwa prosedur HCVF merupakan proses yang masih terus berlanjut yang bilamana terdapat informasi sosial yang baru, perencanaan yang sudah ada kemungkinan perlu diadaptasikan kembali. Menindaklanjuti pertemuan stakeholder oleh perusahaan hutan akan menjadi penting bagi kesuksesan HCVF. Sebelum memulai pengkajian HCVF dengan menggunakan metoda standar, sangat penting

10

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

HCVF – apakah ada kehidupan di luar FSC?
Beberapa pengkajian HCVF terkini di Indonesia telah menunjukkan bagaimana HCVF dapat diterapkan di luar konteks sertifikasi hutan, misalnya dalam perkebunan sawit dimana sertifikasi hutan tidaklah menjadi goal perusahaan. Dari pengkajian HCVF dan komitmen perusahaan terkait untuk melindungi kawasan ini, hal ini jelas menunjukkan bahwa HCVF merupakan perangkat konservasi yang kuat yang dapat memperkuat jaringan kawasan lindung Negara yang tidak harus dikaitkan langsung dengan sertifikasi.

bahwa HCVF yang dikelola dengan baik adalah kawasan yang kaya akan spesies. dan 2. Pemerintah secara legal mengakui HCVF sebagai bagian dari jaringan kawasan konservasi. Hal ini akan membantu pemerintah memenuhi kesepakatan internasional untuk menyelamatkan dan mengelola secara efektif persentase dari luasan kawasan hutan nasional.

Ular hijau(Ahaulla prasina)

peran pemerintah
HCVF menjadi perangkat yang sangat kuat guna upaya advokasi pemeliharan blok hutan yang utuh dan kawasan penting yang sangat bernilai dan tersisa dalam skala lansekap besar. Namun dalam penerapannya sebagai alat advokasi dan perencanaan yang efektif pada level lansekap, proponen HCVF harus terintegrasi dengan proses perencanaan tata ruang pemerintah Hal ini akan mengijinkan adanya mosaik yang saling berkesinambungan (misal; hubungan antara HCVF berbasis FMU dengan kawasan lindung yang ada). Pemerintah harus terlibat dalam pengkajian HCVF pada level lansekap. Pada level FMU, pemerintah harus terlibat dalam pemberian insentif (misal pengurangan pajak, investasi perlindungan). Banyak perusahaan di Indonesia hanya mempunyai investasi perlindungan yang sedikit sehingga hal ini kemungkinan dapat menjadi hal yang menarik bagi mereka. Dengan memberikan insentif finansial, penerimaan dan penggunaan HCVF di antara perusahaan kehutanan akan meningkat secara signifikan. Hal ini penting untuk memfasilitasi dan mendorong komunikasi langsung antara pemerintah dan perusahaan. Pemerintah mendapat manfaat secara internasional dengan mengakui HCVF sebagai alat yang penting untuk melindungi keanekaragamanhayati yang mencakup 1. Secara internasional diterima

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

11

12

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Orangutan

pendahuluan

bagian 1

Apa tujuan panduan ini?
Penebangan selektif menimbulkan dampak negatif langsung yang lebih kecil bagi kebanyakan jenis hidupan liar daripada dugaan pada umumnya (Meijaard dkk. 2005), sementara para ahli konservasi menekankan betapa penting peranan pengelolaan hutan berkelanjutan untuk konservasi jangka panjang hutan dan hidupan liar. Pembentukan Hutan Bernilai Konservasi Tinggi (High Conservation Value Forest-HCVF) yang merupakan pengelolaan konservasi dalam zone pemanfaatan hutan akan menjadi alat untuk mempertahankan integritas alami dan budaya dari daerah hutan produksi.
Satu tantangan bersama dari pengelola hutan di Indonesia adalah identifikasi dan pengelolaan HCVF ini. Identifikasi dan pengelolaan HCVF adalah bagian penting dari prinsip-prinsip serta kriteria untuk sertifikasi Forest Stewardship Council (FSC). Sertifikasi itu juga bermanfaat sebagai jaminan pengelolaan hutan berkelanjutan secara umum dan pemeliharaan ekosistem fungsional.

Definisi dan penjelasan Hutan Bernilai Konservasi Tinggi terdapat dalam bab 2 dan 3 The Forest Stewardship Council (FSC) adalah organisasi nirlaba internasional yang dibentuk tahun 1993 untuk mendukung pengelolaan hutan dunia yang tepat secara lingkungan, menguntungkan secara sosial dan memungkinkan secara ekonomi. Organisasi ini merupakan asosiasi dari berbagai anggota yang terdiri dari beragam kelompok yang merupakan perwakilan dari kelompok lingkungan dan sosial, kelompok profesi pedagang kayu dan kehutanan, organisasi masyarakat asli, kelompok masyarakat kehutanan dan organisasi sertifikasi hasil hutan dari seluruh dunia. Keanggotaan organisasi ini terbuka untuk semua kelompok yang bergerak di bidang kehutanan atau hasil hutan yang bersedia berbagi arah serta tujuan mereka (www.fsc.org)
Pemeliharaan HCVF dalam Unit Manajemen Hutan (forest management unit - FMU) memerlukan identifikasi dan pengelolaan dalam skala lansekap. Panduan praktis untuk identifikasi HCVF di Indonesia telah terbit (Proforest / SmartWood 2003); Panduan ini fokus pada sebagian dari permasalahan yang ada — yaitu, bagaimana mengelola HCVF di Indonesia. Panduan ini dibuat berdasarkan studi kasus di Kalimantan Timur. Walaupun beberapa isu biologis, sosial dan budaya yang difokuskan spesifik Kalimantan Timur, namun metoda dan rekomendasi yang dipaparkan relevan dan dapat digunakan di tempat lain di Indonesia. 13

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Kenapa panduan ini diperlukan?
Kurang lebih 30 tahun lalu, hutan-hutan perawan yang luas menutupi jutaan hektar permukaan Pulau Kalimantan, utamanya di propinsi-propinsi Kalimantan, Indonesia. Namun sejak tahun 1970-an, sebagian besar dari daerah ini telah rusak dan hancur oleh konversi hutan, kebakaran dan pola pembalakan yang merusak. Kehilangan hutan terbesar terdapat di dataran rendah. Bilamana kecenderungan ini terus berlanjut maka diperkirakan hampir seluruh hutan dataran rendah tersebut akan hancur pada tahun 2010 (Holmes 2002; Curran dkk. 2004). Hutan dataran rendah di Kalimantan adalah salah satu ekosistem daratan yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Hutan-hutan itu adalah pusat keanekaragaman bagi berbagai jenis rotan, mangga, tanaman kantong semar, pohon-pohon berkanopi Dipterocarpacea, dan juga rumah bagi berbagai jenis hewan seperti orangutan, badak dan burung rangkong. Walaupun terdapat kebutuhan mendesak untuk mengelola hutan hujan tropis di Asia Tenggara atas nama kepentingan konservasi keanekaragaman hayati dalam segala bentuknya, namun negara-negara berkembang seperti Indonesia ternyata tidak memiliki kemampuan untuk menyisihkan semua hutannya yang tersisa untuk tujuan non-produksi. Penghasilan yang diperoleh dari pemanenan dan pemrosesan kayu adalah bagian penting bagi perekonomian. Bagi Indonesia, sektor ekonomi hasil hutan menyumbang sekitar 9% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2003. Oleh karenanya di tahun-tahun terakhir ini dilakukan berbagai upaya untuk mencapai titik temu antara kebutuhan akan konservasi dan pembangunan ekonomi melalui promosi pengelolaan hutan berkelanjutan. Salah satu upaya tersebut adalah sistem sertifikasi dari FSC. Sistem ini terdiri dari sembilan prinsip yang menyediakan kerangka kerja bagi pengelolaan hutan alam, mulai dari formulasi rencana pengelolaan sistematik sampai dengan pelaksanaan rencana aksi konservasi. Beberapa HPH di propinsi Kalimantan Timur, saat ini berusaha untuk mendapatkan sertifikasi FSC. Salah satu hambatan yang kerap dijumpai untuk memperoleh sertifikasi FSC ini adalah identifikasi dan pengelolaan Hutan Bernilai Konservasi Tinggi (HCVF), seperti yang disyaratkan dalam Prinsip 9 dalam sistem FSC. Para pemegang konsensi HPH menyatakan kesulitannya dalam memahami konsep HCVF dalam konteks Indonesia sehingga sulit untuk memenuhi kriteria yang sesuai untuk mendapatkan sertifikasi. Seringkali HPH-HPH kekurangan sumberdaya manusia sebagai pelaksana untuk mengidentifikasi dan mengelola HCVF. The Nature Conservancy, dengan pengalaman lebih dari 50 tahun mengelola kawasan konservasi di seluruh dunia, telah memberi prioritas utama kepada Program Kalimantan Timur agar HPH-HPH memiliki keahlian yang diperlukan untuk meningkatkan aspek konservasi dari pengelolaan mereka sejalan dengan prinsip-prinsip FSC. Tujuan keseluruhan dari program ini adalah untuk melakukan konservasi pada daerah hutan yang kaya secara biologis dalam area konsesi hutan menggunakan sertifikasi sebagai salah satu strategi utama.

The Nature Conservancy adalah organisasi konservasi internasional yang misinya adalah “melindungi tumbuhan, hewan dan komunitas alami yang mewakili kekayaan hidup di muka Bumi melalui perlindungan tanah dan air yang diperlukan agar dapat bertahan hidup”

Untuk siapa panduan ini?
Panduan ini terutama didesain untuk digunakan oleh para pengelola hutan dalam pengelolaan hutan konsesi yang masih aktif. Termasuk didalamnya para personil senior pada perusahaan yang memiliki konsesi pemanenan sampai pengelola operasional di lapangan yang bertanggungjawab terhadap implementasi dari praktek-praktek pengelolaan FMU. Oleh karenanya, dokumen ini dapat menjadi panduan untuk keseluruhan kebijakan pengelolaan yang dijalankan oleh sebuah perusahaan kehutanan, sekaligus mempengaruhi praktek-praktek spesifik dalam pengelolaan hutan.

14

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Bagaimana menggunakan panduan ini?
Panduan ini didesain untuk membantu pengguna melalui proses mengidentifikasi, mengelola dan monitoring HCVF dalam lingkup terbatas. Dalam panduan ini banyak digunakan istilah-istilah baru, tidak umum dan spesifik. Setiap kali istilah ini diperkenalkan maka akan ditonjolkan dalam tulisan yang dipertebal dan sebuah kotak sisi akan diberikan untuk menjelaskan definisi singkat atau penjelasan konsep. Panduan ini sedapat mungkin ditulis secara jelas dan instruktif. Walaupun demikian tidaklah mungkin dapat menjelaskan setiap skenario atau pemecahan masalah yang mungkin terjadi. Untuk menjelaskan berbagai situasi banyak contoh-contoh dikemukakan dalam panduan ini. Perla ditekankan bahwa panduan ini tidak menyediakan semua jawaban namun diharapkan dapat membantu pengelola untuk berpikir secara logis dan sistematis tentang pengelolaan HCVF sebab setiap FMU memiliki keunikan tersendiri dan berbeda dengan yang lain.

Sebuah Unit Manajemen Hutan (FMU)) adalah sebuah area hutan yang dikelola untuk produksi kayu atau hasil nonkayu. Di Indonesia, hal ini dimungkinkan meliputi lisensi ekploitasi komersial berskala besar yang dikeluarkan bagi perusahaan swasta atau hutan yang dikelola masyarakat berskala kecil. FMU tidak termasuk kawasan Taman Nasional atau kawasan perlindungan tangkapan air yang dikelola untuk konservasi keanekaragaman hayati atau perlindungan sumberi air.

Struktur dari Panduan ini adalah sebagai berikut:

Bagian 2: Apakah Hutan Bernilai Konservasi Tinggi (HCVF)?
Bagian 2 memperkenalkan konsep HCVF dan pentingnya hutan di Kalimantan Timur secara umum. Bagian ini secara singkat menjelaskan sertifikasi hutan dan bagaimana HCVF didefinisikan oleh FSC sekaligus mengulas perangkat yang dikembangkan oleh Proforest/SmartWood (2003) untuk mengidentifikasi HCVF di Indonesia. Bagian ini juga mendefinisikan keragaman dari Nilai Konservasi Tinggi (HCV) yang terdapat dalam hutan Indonesia dan menjelaskan contoh-contoh dari nilai-nilai ini di Kalimantan Timur.

Bagian 3: Bagaimana anda dapat mengidentifikasi HCVF?
Bagian 3 secara ringkas mendiskusikan metoda-metoda untuk mengidentifikasi HCVF.

Bagian 4: Bagaimana anda mengelola HCVF?
Bagian 4 adalah bagian utama dari panduan ini dan terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama, mendeskripsikan suatu proses mengidentifikasi ancaman-ancaman terkini dan yang akan datang terhadap nilai konservasi tertentu dalam sebuah FMU. Bagian kedua memberikan saran atas strategi pengelolaan yang dapat mengurangi atau menghilangkan ancaman-ancaman dalam rangka mempertahankan nilai-nilai tersebut di bawah pengelolaan. Bagian ketiga, akan diberikan deskripsi detil untuk beberapa strategi kunci yang penting bagi pengelolaan HCVF.

Bagian 5: Apakah strategi pengelolaan yang sekarang berhasil?
Bagian 5 memperkenalkan konsep pemantauan dan manajemen adaptif. Bagian ini memberikan saran-saran bagaimana praktek pengelolaan HCVF dapat dipantau, dan menjelaskan kenapa informasi tersebut penting digunakan dalam membuat keputusan pengelolaan di masa yang akan datang.

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

15

Dengan mengikuti panduanini serta melaksanakan praktek-praktek pengelolaan baru, pengelola hutan akan membuat kemajuan penting menuju pengelolan hutan berkelanjutan dan memenuhi kriteria prinsip 9 FSC. Bila telah melaksanakan seluruh strategi pengelolaan ini, maka akan terpenuhi pula aspek sosial dan ekologis FSC. Sepanjang pelaksanaan, sangatlah penting adanya dokumentasi penuh dari semua pertimbangan, keputusan dan langkahlangkah saat pengelola mengembangkan dan melaksanakan strategi pengelolaan hutan. Jika sebuah tim pengelolaan tidak dapat menjelaskan kenapa mereka melakukan apa dan bagaimana tindakan itu dapat mempertahankan nilai, maka sangatlah tidak mungkin strategi itu bisa dilakukan secara efektif.

16

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Sertifikasi Hutan

apakah Hutan Bernilai Konservasi Tinggi (HCVF) itu?

bagian 2

Sertifikasi hutan adalah sebuah istilah mengenai berbagai standar berbeda yang dirancang untuk mendukung pengelolaan hutan yang berkelanjutan, atau secara sederhana bisa disebut sebagai pengelolaan hutan yang baik. Pada sepuluh tahun terakhir, permintaan konsumen akan produk kayu asal hutan yang dikelola secara berkelanjutan dengan dampak terbatas terhadap keanekaragaman hayati dan masyarakat asli yang hidup di dalam dan di sekitar hutan telah meningkat. Sertifikasi adalah suatu sistem dimana konsesi hutan dapat disetujui, atau diberi ‘sertifikat’, jika mereka mampu memenuhi berbagai standar yang mendefinisikan proses sertifikasi. Standar tersebut seringkali dikenal sebagai prinsip-prinsip dan kriteria.
Walaupun sertifikasi tidak selalu menjawab semua kebutuhan akan pertanggungjawaban konservasi dan sosial, namun demikian hal ini adalah salah satu cara terbaik untuk mempromosikan isu-isu tersebut dalam kondisi saat ini. Saat ini terdapat dua sistem sertifikasi yang dianut di Indonesia yaitu: FSC (The Forest Stewardship Council) dan Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI). Keduanya telah mengembangkan Prinsip-prinsip dan Kriteria dalam pengelolaan hutan. Panduan ini

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

17

fokus pada aspek-aspek yang berhubungan dengan sertifikasi FSC. FSC telah mendefinisikan pengelolaan hutan alam yang bertanggungjawab berdasarkan 9 prinsip (Lampiran 1), yang kesemuanya harus dipenuhi untuk mendapatkan sertifikasi. Sertifikat diberikan berdasarkan hasil pengkajian pihak ketiga yang independen.

Informasi lebih banyak tentang sertifikasi LEI dapat diperoleh dari http://www.lei.or.id/

Prinsip Sembilan Forest Stewardship Council (FSC)
Prinsip Sembilan dari FSC dan kriteria yang terkait digunakan untuk memberikan pengenalan khusus terhadap hutan-hutan bernilai konservasi tinggi (HCVF) dan memerlukan perlindungan khusus karena adanya satu atau lebih kehidupan yang berhubungan dengan sifat-sifat ekosistem, jasa lingkungan dan nilai sosial. Secara khusus Prinsip 9 menyatakan (FSC 2000): PENGELOLAAN HUTAN BERNILAI KONSERVASI TINGGI Kegiatan pengelolaan dalam Hutan Bernilai Konservasi Tinggi harus menjaga atau meningkatkan sifatsifat yang mendefinisikan hutan tersebut. Keputusan mengenai Hutan Bernilai Konservasi Tinggi harus selalu dipertimbangkan dalam konteks pendekatan kehati-hatian. 9.1 9.2 9.3 Pengkajian untuk menentukan keberadaan dari sifat-sifat yang konsisten dengan Hutan Bernilai Konservasi Tinggi akan dilengkapi, sesuai dengan skala dan intensitas dari pengelolaan hutan. Bagian konsultatif dari proses sertifikasi harus menekankan pada sifat-sifat konservasi yang telah diidentifikasi, dan pilihan-pilihan untuk pemeliharaan selanjutnya. Rencana pengelolaan hendaknya meliputi dan mengimplementasikan tindakan-tindakan spesifik untuk menjamin pemeliharaan dan/atau peningkatan sifat-sifat konservasi yang dapat diterapkan konsisten dengan pendekatan kehati-hatian. Tindakan-tindakan ini hendaknya secara spesifik dimasukkan dalam ringkasan rencana pengelolaan yang tersedia bagi publik. Pemantauan tahunan akan dilakukan untuk menilai efektivitas langkah-langkah yang diterapkan untuk memelihara atau meningkatkan sifat-sifat konservasi yang dapat diterapkan.

9.4

Prinsip ini relatif baru dikembangkan untuk menggantikan konsep lama dari hutan yang sudah tumbuh lama atau hutan perawan: Kelompok kerja pertama yang mempertimbangkan teks dari Prinsip 9 yang diciptakan oleh FSC pada tahun 1998 (FSC, 2001). FSC mendefinisikan Hutan Bernilai Konservasi Tinggi sebagai: Hutan-hutan yang memiliki satu atau lebih dari sifat-sifat di bawah ini: HCV1 Kawasan hutan yang secara global, regional atau nasional memiliki konsentrasi nilai keanekaragamanan hayati yang signifikan (misalnya endemisme, spesies yang genting, tempat perlindungan). Kawasan hutan yang secara global, regional atau nasional mempunyai luasan lansekap hutan yang signifikan, yang termasuk dalam, atau memiliki unit pengelolaan, dimana penyebaran dan kelimpahan populasi yang ada dari hampir semua atau semua jenis alami didalamnya ditemui dalam pola alami. Kawasan hutan yang berada dalam atau memiliki ekosistem langka, terancam atau genting. Kawasan hutan yang memberikan jasa-jasa dasar alami dalam situasi kritis (misalnya perlindungan daerah tangkapan air, pengontrol erosi).

HCV2

HCV3 HCV4

18

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

HCV5 HCV6

Kawasan hutan yang penting untuk memenuhi kebutuhan dasar dari masyarakat lokal (misalnya sumber penghidupan, kesehatan). Kawasan hutan yang penting bagi identitas budaya masyarakat lokal (daerah yang memiliki kepentingan budaya, ekologis, ekonomis atau keagamaan yang ditentukan bersama-sama dengan masyarakat lokal yang ada).

Kunci dari prinsip ini adalah konsep nilai-nilai. Prinsip 9 tidak menekankan pada konservasi satu spesies langka atau hak-hak masyarakat. Hal tersebut telah diatur di bidang lain. Prinsip 9 lebih bersifat umum dan konsekuensinya lebih sulit didefinisikan. Nilai-nilai tersebut lebih berhubungan dengan fungsi sebuah hutan pada skala lokal, regional atau global. Fungsi-fungsi tersebut dapat didefinisikan dengan jelas dan memiliki keterkaitan ekonomis yang langsung, seperti perlindungan daerah tangkapan air atau pemeliharaan sumber makanan bagi masyarakat lokal. Sebaliknya, fungsi tersebut juga termasuk nilai-nilai dasar, seperti konservasi dari spesies endemik di dalam suatu hutan, yang mungkin tidak memiliki nilai ekonomis yang jelas namun penting untuk mempertahankan keanekaragaman hayati.

Spesies endemik adalah spesies unik yang hanya ditemukan pada satu wilayah geografis tertentu dan tidak ada di tempat lain. Dalam konteks Indonesia, endemisme seringkali didasarkan pada penyebaran dalam pulau. Sebagai contoh lutung merah (Presbytis rubicunda) adalah endemik Borneo karena hanya ditemukan pada pulau itu saja. Lutung merah
Menurut Prinsip 9, Pengelolaan HCVF harus mempertahankan atau meningkatkan nilai-nilai dari kepentingan yang ada. Namun demikian, hal ini tidak berarti meniadakan aktivitas pembalakan dalam hutan. Sebagai contoh, pemanenan kayu mungkin diperbolehkan pada daerah tangkapan air yang kritis sepanjang metode pembalakan yang dilakukan tidak mempengaruhi kualitas air dan fungsifungsi hidrologis. Hal serupa adalah kegiatan bisa dilakukan di daerah-daerah yang memiliki nilai sosial tinggi namun pengelolaan harus tidak berdampak negatif bagi nilai-nilai yang dianggap mendasar bagi masyarakat lokal. Jadi, menurut Prinsip 9, sejumlah besar aktifitas pengelolaan dan produksi masih dapat dilakukan di dalam sebuah HCVF sepanjang kegiatan tersebut tidak merusak nilai-nilai dari hutan. Prinsip 9 sangat relevan bagi Indonesia, di mana terdapat konteks ekologis, lingkungan dan sosial yang unik yang membuat hampir semua pengelola dari hutan alam bekerja dalam sebuah HCVF. Oleh karenanya, untuk mengenali hal ini, para pemegang konsesi hutan di Indonesia yang berminat untuk mendapatkan sertifikasi dari FSC harus mempelajari, bagaimana mengintepretasikan kriteria yang berhubungan dengan Prinsip 9, dan bagaimana memenuhi kriteria tersebut.

Apakah Anda Memiliki Hutan Bernilai Konservasi Tinggi?
Sebagai usaha untuk mengatasi permasalahan dalam mengidentifikasi, memantau dan mengelola HCVF, organisasi ProForest telah mengembangkan satu panduan dengan pedoman umum yang dapat diterapkan secara luas di seluruh dunia. Panduan ini disebut sebagai Perangkat untuk mengidentifikasi dan mengelola HCVF (Toolkit for identifying and managing HCVF) (Jennings dkk. 2003). Panduan yang dikenal sebagai ‘Perangkat ProForest’ terdiri dari dua tahap proses untuk mengidentifikasi HCVF: pertama, sebuah pengkajian 19

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

awal untuk menentukan apakah benar terdapat nilai-nilai konservasi tinggi (HCV) dalam sebuah unit pengelolaan, dan kedua, pengkajian penuh

untuk menentukan dengan tepat nilai-nilai tersebut (Gambar 1).

Pengkajian Awal
Identifikasi ada atau tidaknya potensial HCV
bagian 2

HCV tidak ada

Potensi HCV ada

Dokumentasikan kenapa setiap nilai tertentu tidak ada. Beri alasan bagi setiap keputusan. Setiap nilai yang diidentifikasi harus kelola secara benar. Untuk FSC harus dilakukan sebagai bagian dari persyaratan untuk Prinsip 1 -8.

Pengkajian Penuh
Identifikasi ada atau tidaknya HCV secara aktual
bagian 2 FSC kriteria 9.1

HCV tidak ada

HCV ada

Pengelolaan
Pengelolaan HCVF untuk menjamin bahwa HCV teleh dipertahankan atau ditingkatkan
bagian 3 FSC kriteria 9.3

Adaptasi pengelolaan berdasarkan hasil monitoring

Monitoring
Monitoring HCV untuk mengkonfirmasi bahwa HCV teleh dipertahankan atau ditingkatkan
bagian 4 FSC kriteria 9.4

Gambar 1: Pendekatan perangkat ProForest untuk mengidentifikasi, mengelola dan memantau HCVF (sumber Jennings, Nussbaum dan Synnott 2002)

Panduan umum dari ProForest selanjutnya diadaptasi untuk menghasilkan perangkat bagi Indonesia. Para pengelola hutan sebaiknya menggunakan panduan yang berjudul “Mengidentifikasi, Mengelola, dan Memantau Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia: Sebuah Perangkat bagi para Pengelola Hutan dan Pemangku Kepentingan” (ProForest/SmartWood 2003) untuk menentukan keberadaan dan nilainilai yang terdapat dalam FMU. Bagian-bagian dari panduan tersebut dikutip dibawah ini.

Perangkat tersebut mencakup rincian perbab untuk tiap jenis dari enam jenis Nilai Konservasi Tinggi (HCV), dan sebuah daftar komponen HCV untuk Indonesia. Setiap komponen didiskusikan tersendiri dan termasuk didalamnya alasan penggunaan dan pedoman bagi pengguna untuk (i) bagaimana menentukan keberadaan nilai tersebut, (ii) bagaimana mengelola hal tersebut, dan (iii) bagaimana melakukan pemantauan untuk memastikan terjaganya nilai-nilai tersebut. Ketiga bagian ini menjadi inti dari perangkat HCVF untuk konteks Indonesia,dan akan didiskusikan lebih lanjut pada Bagian 2, Bagian 3 dan Bagian 4.

20

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Pengkajian awal adalah suatu metode sederhana untuk memastikan ada tidaknya HCV. Penilaian ini berfungsi sebagai saringan kasar, untuk mengeluarkan semua hutan yang secara pasti tidak mengandung HCV, dan untuk mengidentifikasi hutan-hutan yang berpotensi memiliki HCV tertentu. Pengkajian awal haruslah cukup singkat dan mudah sehingga dapat dilakukan oleh kebanyakan orang termasuk pengelola hutan dan pembeli kayu. Pengkajian awal biasanya dalam bentuk sebuah pertanyaan “ya atau tidak” mengenai keberadaan suatu nilai tertentu. Sebagai contoh, sebuah pengkajian awal mungkin dapat ditanyakan kepada pengguna untuk mengidentifikasikan apakah terdapat masyarakat atau kawasan lindung terdapat di sekitar FMU yang sedang dikaji. Jika jawaban dari pengkajian awal tersebut adalah ya, maka pengguna perangkat perlu melakukan pengkajian lebih lengkap atau pengkajian penuh terhadap nilai tersebut. Jika pengguna perangkat menetapkan bahwa sebuah kawasan hutan tidak memiliki karakteristik seperti itu maka tidak perlu diadakan pengkaian lebih lanjut dari HCV.

Pengkajian penuh merupakan metodologi yang memakan waktu lebih lama untuk mengidentifikasi potensi HCV secara detil atau untuk mengklarifikasi bahwa tidak ada HCV. Pengkajian yang lebih rinci dari berbagai karakteristik sebuah kawasan atau pemanfaatan hutan dan memerlukan lebih banyak informasi dan keahlian. Dalam sebuah pengkajian penuh pengguna perangkat biasanya perlu melakukan hubungan dengan para ahli dan pihak terkait yang relevan dan/atau mengadakan penelitian dan konsultasi khusus. Di bawah ini adalah definisi Perangkat dari komponenkomponen Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia. Untuk setiap HCV, kami membuat daftar komponen-komponen yang relevan, memberikan definisi setiap konsep kunci, dan memberikan contoh dengan referensi khusus Kalimantan Timur

HCV1. Kawasan hutan yang secara global, regional atau nasional memiliki konsentrasi nilai keanekaragamanan hayati yang signifikan
(misalnya endemisme, spesies yang genting, refugia/tempat perlindungan).
HCV berkenaan dengan FMU dan semua dampak dari kegiatan yang ada, yang berpengaruh pada hutan, pesisir, laut lepas dan lansekap lainnya, baik dilindungi maupun tidak. Dalam konteks Indonesia perangkat ini mengidentifikasi komponen-komponen di bawah ini: 1.1 1.2 1.3 1.4 Kawasan dilindungi Spesies-spesies yang hampir punah. Konsentrasi spesies hampir punah, terancam atau endemik. Konsentrasi temporal yang kritis.

Kupu-kupu Monarch Refugia adalah area dalam kawasan hutan yang memiliki ketangguhan terhadap perubahan yang disebabkan oleh faktor luar, misalnya cuaca. Sebagai contoh, sebuah refugia hutan bisa saja berupa sebuah area dalam hutan yang memiliki karakteristik geografis atau geologis lokal yang menyediakan peredam atas kejadian-kejadian cuaca ekstrim, misalnya musim kering berkepanjangan karena faktor ENSO. Sementara hutan lainnya mungkin rentan terhadap api dan terbakar, namun refugia hutan ini tidak. Sebuah contoh dari konsentrasi temporal suatu spesies yang kritis, adalah sebuah daerah bergunung yang relatif kecil di Meksiko yang menjadi tempat berkumpul yang sangat penting bagi sebagian besar populasi kupu-kupu Monarch (Danaus plexippus) di Amerika Serikat di saat bulan-bulan musim dingin.

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

21

HCV1 di Kalimantan Timur Sebuah peta dari kawasan dilindungi dan daerah hutan lindung di Kalimantan Timur bisa dilihat pada Lampiran (Peta 1). Sebuah daftar dari jenis-jenis genting, terancam dan endemik yang dapat ditemukan di Kalimantan Timur terdapat pada Lampiran 2.

HCV2. Kawasan hutan yang secara global, regional atau nasional mempunyai luasan lansekap hutan yang signifikan, yang termasuk dalam, atau memiliki unit pengelolaan, dimana penyebaran dan kelimpahan populasi yang ada dari hampir semua atau semua jenis alami di dalamnya ditemui dalam pola alami.
Dalam konteks Indonesia perangkat ini telah mengidentifikasi komponen-komponen berikut: 2.1 2.2 2.3 FMU adalah lansekap hutan yang luas FMU adalah bagian penting dari suatu lansekap hutan yang lebih luas FMU menjaga keberadaan populasi yang dapat hidup dari spesies yang ada secara alami
HCV2 di Kalimantan Timur TNC telah melaksanakan analisis kondisi hutan di seluruh Kalimantan Timur. Kegiatan ini menggunakan citra satelit dan kondisi yang dikaji berdasarkan pada ada atau tidak adanya jalan raya, tipe vegetasi dan derajat gangguan (sebagai contoh lihat Peta 6, yang menunjukkan analisa untuk Kabupaten Berau). Peta-peta seperti ini dapat digunakan untuk membantu mengkaji apakah FMU di Kalimantan Timur adalah bagian dari tingkatan hutan pada lansekap yang luas (seperti didefinisikan dalam perangkat).

Hampir sama sekali tidak diketahui apakah yang menentukan keberadaan populasi berbagai spesies di Kalimantan Timur. Hanya sedikit spesies yang dipahami secara ekologi dari keseluruhan spesies yang terdapat di Kalimantan, sampai hal ini benarbenar dapat dibuktikan. Di lain pihak para pengelola hutan harus berasumsi bahwa jika FMU besar, dengan hutan yang relatif utuh, maka kemungkinan semua spesies yang seharusnya ada akan ditemukan. Ini yang disebut sebagai prinsip kehati-hatian; saat raguragu, lebih baik salah karena waspada. Kucing Tandang

HCV3. Kawasan hutan yang berada dalam atau memiliki ekosistem langka, terancam atau hampir punah.
HCV3 fokus pada ekosistem, artinya pengelola hutan harus menginterpretasikan berbagai tipe hutan yang luas. Beberapa tipe hutan yang luas secara alami jarang ditemukan di wilayah lain atau pulau-pulau tertentu di Indonesia. Hutan kerangas, contohnya, secara luasan terbatas karena hanya ditemukan di daerah yang sangat miskin hara dan tanah berpasir yang memiliki penyebaran geografis terbatas. Hal serupa juga mengenai hutan gamping yang hanya terdapat pada daerah dengan deposit batuan gamping, yang penyebaran geografisnya juga sangat terlokalisasi.

22

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Tipe hutan luas lainnya kini menjadi langka karena banyaknya ancaman yang akhir-akhir ini lebih dikarenakan kegiatan manusia, seperti pembalakan, kebakaran dan konversi menjadi lahan pertanian. HCV ini didesain untuk memastikan konservasi tipe hutan yang terancam atau hampir punah. Penekanan khusus diberikan kepada hutan-hutan yang dulunya tersebar luas dan kini menjadi langka karena penyebaran terbatas dari kondisi lingkungan dimana mereka hidup, misalnya hutan kerangas, gamping atau hutan rawa air tawar. Perangkat ini tidak komponen dari HCV3. membedakan komponen-

HCV3 di Kalimantan Timur Beberapa kelompok telah mencoba memetakan tipe-tipe hutan di Kalimantan Timur. Peta-peta tersebut dapat digunakan sebagai data dasar bagi pengkajian keberadaan tipe hutan dalam sebuah FMU. Namun, perlu ditekankan bahwa peta-peta tersebut menggunakan skala kasar dan dengan demikian tidak mungkin untuk digunakan sebagai alat penentuan akhir apakah suatu jenis hutan ada dalam suatu FMU. Untuk mengetahui dengan jelas jenis-jenis hutan yang ada, diperlukan petapeta yang lebih akurat yang disiapkan untuk FMU tertentu berdasarkan pekerjaan di lapangan dan peta-peta geologis dan tanah lokal yang detil.

HCV4. Kawasan hutan yang memberikan jasa-jasa dasar alami dalam situasi kritis (misalnya perlindungan daerah tangkapan air, pengontrol erosi).
HCV ini berkenaan dengan jasa-jasa ekologis penting yang diberikan oleh ekosistem hutan. Komponen HCV yang teridentifikasi antara lain: 4.1 4.2 4.3 4.4 Sumber air minum penting Hutan-hutan yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air atau pengontrol erosi Hutan-hutan yang menyediakan pembatas bagi penyebaran api Hutan-hutan dengan dampak yang kritis terhadap kegiatan pertanian dan budidaya air
HCV4 di Kalimantan Timur Berbagai peta dari daerah tangkapan air yang diketahui atau diprediksi dibuat berdasarkan analisis peta topografis propinsi secara keseluruhan dengan skala yang kasar. Peta daerah tangkapan air yang lebih akurat dalam sebuah FMU harus dibuat berdasarkan peta berskala lebih kecil dan penelusuran di lapangan. Peta seperti ini menentukan daerah tangkapan air penting di bagian hulu yang dianggap memberikan pasokan air yang besar terhadap sungai-sungai terkait. Daerah aliran sungai inilah yang merupakan daerah tangkapan air kritis.

HCV5. Daerah hutan yang penting untuk memenuhi kebutuhan dasar dari masyarakat lokal (misalnya
nafkah, kesehatan).
Tidak ada komponen terpisah dari Nilai ini. Perangkat menyediakan instruksi detil tentang bagaimana mengidentifikasikan hutan-hutan yang penting untuk memenuhi kebutuhan dasar dari masyarakat lokal.

HCV6. Daerah hutan yang penting bagi identitas budaya masyarakat lokal (daerah yang memiliki kepentingan

budaya, ekologis, ekonomis atau keagamaan yang ditentukan bersama-sama dengan masyarakat lokal yang ada).
Tidak ada komponen terpisah dari HCV6. Perangkat ini menyediakan instruksi detil tentang bagaimana mengidentifikasikan hutan-hutan yang kritis bagi indentitas budaya tradisional masyarakat lokal.

Kepala Suku Dayak
23

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

24

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Rhaphidophora dursiva

bagaimana anda mengidentifikasi HCVF?

bagian 3

Sejak tahun 2004, TNC telah melakukan berbagai pengkajian HCVF di Kalimantan Timur, termasuk kawasan HPH dan HTI. Pada setiap kasus, TNC membentuk sebuah tim multi-disiplin yang terdiri dari para ahli di bidang sosial dan ekologi untuk melakukan pengkajian. Keahlian yang digunakan termasuk pengkajian habitat dan ekologi di hutan tropis, sosial ekonomi dari masyarakat pedesaan, Sistem Informasi Geografis (SIG), dan aplikasi metode sertifikasi hutan yang independen.
TNC telah menggunakan metode yang dikembangkan oleh ProForest dan Smartwood dalam Perangkat HCVF yang spesifik Indonesia. Fokus dari metode ini adalah satu set pertanyaan untuk setiap HCV, seperti yang dicontohkan pada Tabel untuk HCV1.1.

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

25

Tabel 1. Contoh pertanyaan yang perlu dijawab untuk menentukan apakah suatu daerah tertentu adalah HCVF.

Pertanyaan
1.1.1 :

Jawaban Ya

Panduan Jika anda melakukan analisis lansekap, semua kawasan lindung nasional atau propinsi yang aktual atau yang diusulkan adalah HCVF. Kawasan lindung mencakup semua hutan khusus yang didesain untuk berbagai alasan biologis/ekologis*. Jika tidak lanjutkan ke pertanyaan 1.1.2 Lanjut ke pertanyaan 1.1.3. Perhatikan bahwa kawasan lindung juga ada di negara-negara tetangga. Lokasi bersebelahan atau dekat Kawasan Lindung di negara lain perlu dievaluasi. Elemen ini tidak ada Sebagai contoh, apakah hutan memiliki jenis hutan yang sama, dalam kondisi hampir alami, dalam lansekap yang sama, dengan ukuran yang cukup wajar (> 350 Ha). Lanjut ke pertanyaan 1.1.4 Elemen ini tidak ada Hutan itu adalah HCVF Elemen ini tidak ada, lanjutkan pe pertanyaan 1.1.5

Apakah daerah hutan tersebut adalah kawasan lindung?

Tidak
1.1.2 : Apakah

hutan terletak dekat sebuah kawasan lindung?

Ya

Tidak
1.1.3 :

Apakah hutan memiliki karakter yang sama dengan Kawasan Lindung

Ya

Tidak
1.1.4 :

Apakah daerah hutan berbatasan dengan sebuah Kawasan Lindung atau terletak dalam zone buffer ? Apakah hutan membentuk sebagian atau keseluruhan koridor hutan alami antara dua Kawasan Lindung?

Ya Tidak

1.1.5 :

Ya Tidak

Hutan itu adalah HCVF Elemen ini tidak ada

1

Hal dalam HCV5 atau HCV6.

Dengan secara sistematis menjawab semua pertanyaan dalam perangkat menggunakan survey lapangan dan perencanaan partisipatif dan teknik appraisal, daerah hutan dapat dideliniasikan dalam peta. Boks 1 merupakan contoh daerah HCVF yang diidentifikasi di area Sumalindo Lestari Jaya Unit II,

Long Bagun, berdasarkan penilaian nilai-nilai HCV. TNC saat ini sedang mengembangkan beberapa teknik pengkajian singkat (rapid assesment), khususnya menentukan kemelimpahan hidupan liar dalam konsesi kayu dan tekanan perburuan lokal.

Anak Dayak
26 Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Boks 1. Berdasarkan evaluasi HCV di Sumalindo Jaya Lestari Unit II (SLJ II), Long Bagun, Kalimantan Timur, beberapa

daerah dalam konsesi kayu ini disisihkan sebagai HCVF.

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

27

Boks 2. Zone Konservasi yang diusulkan dalam Sumalindo Lestari Jaya unit II

Daerah yang diusulkan

Dasar Pemikiran Daerah ini terletak di utara dari Desa Long Lebusan dan Mahak Baru. Merupakan daerah tangkapan air yang menyediakan sumber air kritis bagi desa-desa. Kemungkinan juga daerah sumber pemenuhan kebutuhan bagi masyarakat lokal (walaupun perlu dikonfirmasi). Daerah ini memiliki bagian bawah lembah yang relatif datar (600m) dengan hutan Dipterocarpaceae dataran rendah. Namun kemungkinan daerah ini digunakan untuk berburu. Kemelimpahan dari beberapa jenis mamalia dan burung akan rendah dan daerah ini yang kemungkinan tidak mewakili konsentrasi keragaman fauna. Daerah ini memiliki gradien formasi hutan yang lengkap, mulai dari hutan di sepanjang sungai Boh, lalu hutan dataran rendah lembah Boh pada sekitar 300 m/dpl sampai hutan pegunungan bagian bawah dengan ketinggian diatas 1,000m dpl. Merupakan perbatasan menuju sebuah daerah hutan lindung yang secara efektif meningkatkan luasan daerah konservasi dan membantu upaya perlindungannya. Daerah ini terpencil dan sulit untuk diakses sehingga membatasi jumlah perburuan di daerah ini. Termasuk di dalamnya daerah terjal yang sangat rawan terhadap erosi dan longsoran jika terjadi pembukaan hutan. Daerah terjal dibawah 600m dapat berarti bahwa tempat ini bukan hutan dataran rendah yang paling beragam. Namun demikian lokasi terpencil dan ukuran besar dari daerah ini akan mendukung konservasi keanekaragaman hayati. Daerah ini termasuk sejumlah daerah hutan dataran rendah di bawah 400m yang luas dan belum dibuka dan diambil kayunya. Kebanyakan dari daerah dataran rendah ini relatif datar. Termasuk dalam Daerah Burung Penting (Important Bird Areas/IBA) yang ditetapkan oleh Birdlife International. Termasuk di dalamnya sejumlah formasi hutan dalam berbagai ketinggian serta sebuah daerah hutan lindung. Hutan ini memiliki fungsi penting untuk mengatur aliran air dari lereng dan tebingtebing terjal dalam daerah hutan lindung.

HCV yang dikonservasi  1 (tumbuhan)  2 (bagian dari blok hutan yang luas)  3 (hutan dataran rendah)  4 (daerah tangkapan air kritis bagi 2 masyarakat)  5 (pengumpulan sumberdaya TBC)  6 (tanah ulen TBC)

Luas (Ha) 7,366

A (utara)

B (tengah, Timur dari Boh)

 1 (konsentrasi dari keanekaragaman dataran rendah dan pegunungan)  2 (bagian dari blok hutan luas dan perbatasan dari sebuah daerah hutan lindung)  3 (hutan dataran rendah dan pegunungan bagian bawah)  4 (daerah tangkapan air Boh dan terutama kelerengan terjal)

13,458

C (selatan)

 1 (konsentrasi dari keanekaragaman dataran rendah dan pegunungan)  2 (bagian dari blok hutan luas dan perbatasan dari sebuah daerah hutan lindung)  3 (hutan dataran rendah dan pegunungan bagian bawah)  4 (daerah tangkapan air Boh dan suplai air basecamp)

11,372

28

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

bagaimana anda mengelola HCVF?
Setelah ditetapkan bahwa ada suatu bentuk HCVF di dalam sebuah FMU, langkah berikutnya adalah menentukan bagaimana hutan tersebut harus dikelola. Kunci dalam mengelola HCVF menurut Prinsip 9 FSC adalah bahwa strategi-strategi harus dirancang untuk memelihara atau meningkatkan nilainya. Hal ini berarti bahwa berbagai strategi pengelolaan mungkin cocok untuk diterapkan pada suatu FMU tertentu, tergantung pada nilai yang dipertimbangkan dan ancaman terhadap nilai tersebut. Menjadi catatan bahwa HCVF harus dikelola untuk meningkatkan atau memelihara nilai yang tercantum dalam Kriteria 9.3, dan hal ini merupakan aspek yang paling penting dari Prinsip 9:
9.3 Rencana pengelolaan hendaknya meliputi dan mengimplementasikan tindakan-tindakan spesifik untuk menjamin pemeliharaan dan/atau peningkatan sifat-sifat konservasi yang dapat diterapkan secara konsisten dengan pendekatan kehati-hatian. Tindakan-tindakan ini hendaknya secara spesifik dimasukkan dalam ringkasan rencana pengelolaan yang tersedia bagi publik. Penting untuk ditekankan bahwa adanya HCVF dalam suatu FMU seharusnya tidak dipandang oleh para pengelola sebagai sesuatu yang buruk. Keberadaan HCVF dalam suatu FMU tidak selalu mengurangi potensi pendapatan (revenue) yang dapat dihasilkan, dan tidak juga berarti bahwa FMU harus menjadi hutan lindung yang dikeluarkan dari produksi. HCVF semata-mata merupakan indikasi bahwa ada sesuatu yang khusus mengenai kawasan tersebut yang mungkin memerlukan suatu bentuk pengelolaan yang terencana dengan khusus dan hati-hati. Kehadiran HCVF adalah sesuatu yang merupakan kebanggaan, bukan ketakutan, mengingat bahwa para pengelola dan staf memiliki peluang unntuk mengelola suatu sumberdaya alam yang merupakan kepentingan nasional atau bahkan kepentingan global. Di bawah ini kami akan mendiskusikan beberapa aspek pengelolaan HCVF. Kami akan memberikan contoh-contoh berdasarkan atas penilaian sebuah HCVF di Kalimantan Timur (Daryatun dkk. 2002).

bagian 4

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

29

Mengembangkan strategistrategi pengelolaan HCVF
Untuk memutuskan strategi pengelolaan mana yang sesuai, penting bagi para pengelola hutan untuk mengidentifikasi status nilainya saat ini (Lihat Boks 1). Apakah nilai saat ini tinggi? Apakah ada ancaman terhadap nilai yang mungkin dapat mengakibatkan penurunannya, dan jika ada, apakah ancamanancaman tersebut? Tanpa pemahaman yang jelas mengenai ancaman terhadap suatu nilai, pengelola hutan mungkin menerapkan cara-cara pengelolaan yang tidak akan memberi dampak atau bahkan menurunkan nilainya. Ketika status nilai serta ancaman terhadap nilai telah diidentifikasi, maka dapat diikuti dengan pengelolaan yang sesuai. Cara paling sederhana dalam melaksanakan analisis ancaman adalah dengan mendaftar semua kemungkinan ancaman yang mempengaruhi nilai. Walaupun demikian, sekedar mengidentifikasi suatu ancaman tidak memberikan informasi tentang mengapa hal tersebut merupakan ancaman dan bagaimana dampaknya terhadap nilai konservasi. Pendekatan sederhana ini karenanya merupakan alat terbatas untuk mengembangkan suatu strategi pengelolaan. Untuk memfasilitasi perencanaan yang lebih efektif, The Nature Conservancy meneliti ancaman-ancaman secara lebih dekat, lalu memecahnya ke dalam dua komponen: - tekanan (stresses) dan - sumber (sources) (TNC 2000; Margules dan Pressey 2000; Groves dkk.2002). Di bawah ini kami menggambarkan secara ringkas bagaimana metode ini digunakan untuk memandu pengembangan kebijakan-kebijakan pengelolaan. Tekanan (Stresses) mengacu pada perubahanperubahan spesifik dalam suatu nilai (atau target konservasi). Sebagai contoh, jika nilainya adalah konsentrasi keanekaragaman hayati, maka tekanan dapat berupa kepunahan spesies atau perubahan dalam kemelimpahan relatif dari suatu spesies. Sumber (Sources) mengacu pada proses-proses yang menyebabkan terjadinya tekanan. Sebagai contoh, jika tekanannya adalah kepunahan spesies, maka sumbernya mungkin berupa hilangnya habitat akibat pembalakan atau pemanenan yang berlebihan.

30

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Boks 3. Contoh-contoh pengkajian HCV 1, 4, dan 5 dari Sumalindo Lestari Jaya Unit II (SLJ II)

1.2

Unit Pengelolaan Hutan memuat (atau mungkin memuat) spesies langka, terancam atau hampir punah. (a) Terdaftar oleh otoritas internasional? YA (b) Digolongkan sebagai langka, terancam atau hampir punah menurut peraturan nasional, regional atau propinsi? YA

Meskipun daftar lengkap spesies yang dijumpai di konsesi SLJ II tidak ada, telah tersedia cukup informasi untuk memenuhi kriteria ini. Konsesi terdiri dari hampir 270 000 ha hutan bukit dipterocarpace dan hutan pegunungan rendah. Sebagian besar hutan ini belum dieksploitasi secara komersil untuk kayu dan masih dalam kondisi asli. Staf TNC dan SLJ berasumsi bahwa semua spesies yang diharapkan terdapat di hutan bukit dipterocarp di Kalimantan Tengah masih terdapat di areal konsesi. Di bawah berikut beberapa contoh dari spesies yang diketahui dan diduga ada di dalam kawasan Sumalindo Lestari Jaya Unit II (E. Pollard pers obs and SLJ staff pers com). Nama Latin Hylobates muelleri Nama Inggris Bornean Gibbon Status Perlindungan • Mendekati terancam punah menurut IUCN (near threatened), direkomendasikan ‘rentan’ (‘vulnerable’) (Nijman 2001). • CITES appendix 1 • Dilindungi oleh UU RI • CITES appendix 1 • Dilindungi oleh UU RI • Rentan (IUCN). • CITES appendix 1 • Dilindungi oleh UU RI • Rentan (IUCN) • Dilindungi oleh UU RI • Dilindungi oleh UU RI • Dilindungi oleh UU RI • Langka (IUCN) • Dilindungi oleh UU RI • Kritis (IUCN) • Dilindungi oleh UU Keberadaan di SLJ II Diketahui ada

Ursus malayanus Neofelis nebulosa

Malayan Sun Bear Clouded Leopard

Diketahui ada Diketahui ada

Spizaetus nanus Cervus unicolor Buceros rhinoceros Cynogale bennettii Pseudibis davisoni

Wallace’s Hawk-eagle Sambar Deer Rhinoceros Hornbill Sunda Otter Civet White-shouldered Ibis

Diketahui ada Diketahui ada Diketahui ada Kawasan mengandung habitat potensial Kawasan mengandung habitat potensial

4.1

FMU secara penting menyediakan suplai air minum. YA

SLJ II merupakan sumber keseluruhan suplai air bagi 3 desa di dalam konsesi. Jumlahnya meliputi hampir 1000 orang. 500 orang lainnya yang bekerja bagi SLJ di dalam kawasan juga tergantung pada suplai air dari konsesi. Pengkajian yang dilakukan untuk mengidentifikasi sungai dan Tanah ulen sebagai dua sistem. Keduanya digunakan sebagai sumber air. Para penduduk desa yang berpartisipasi dalam penilaian ini juga menetapkan urutan “sangat penting” bagi air minum dari hutan. 5.1 Masyarakat lokal memanfaatkan FMU untuk kebutuhan dasar atau mata pencaharian. YA

Ada 3 desa dalam SLJ II dan sedikitnya 2 desa yang secara langsung berbatasan dengan FMU. Seluruh masyarakat ini memanfaatkan sumberdaya dari kawasan SLJ II. PKP mengungkapkan 4 sistem yang merupakan sumberdaya hutan: kayu bangunan, obat-obatan, buah-buahan hutan dan hasil hutan non-kayu (meliputi gaharu, rotan, damar, dan satwa buru). Urutan kepentingan dari sumberdaya ini memperlihatkan bahwa sumberdaya tersebut jelas sangat penting untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat lokal (Lihat Tabel di bawah)
Sumber: Daryatun et al. (2002)

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

31

Tabel 2. Kepentingan berbagai sumberdaya hutan bagi masyarakat lokal

Urutan Kepentingan1 Kebutuhan Masyarakat Dari Hutan Dari areal Pertanian (swidden + fallows) Sumber lain (pasar, pemerintah, perusahaan, dll.) Catatan

Pangan: - energi (karbohidrat) - protein (daging, dedaunan, kacangkacangan) - vitamin/mineral (buah-buahan, sayuran) Bahan bangunan dan kerajinan Kebutuhan lain: - Bahan bakar - Makanan Ternak - Obat-obatan - Transportasi Pendapatan berupa uang

3 5 5

5 4 4

1 1 1

Buah dapat berasal baik dari hutan atau lahan budidaya, tergantung musim. Binatang peliharaan (babi) paling banyak digunakan dalam kasus-kasus darurat (ritual, perayaan), biasanya satwa buru yang lebih banyak digunakan sebagai bahan pangan.

5

0

0
Perusahaan menyediakan bahan bakar untuk generator listrik, tidak semua penduduk memiliki akses. Transportasi di luar desa melalui jalan raya dan pesawat terbang Mengingat biaya transportasi, hanya barang-barang dengan nilai tinggi per satuan berat yang dapat dijual di luar, dan semuanya berupa hasil hutan.

4? 0 5 4 5

5? 5 0 0 ?

2 0 4 5

Urutan sebagai berikut: 5 (Sangat penting) berarti bahwa lebih dari 50% penduduk bergantung pada sumber ini untuk 50% cakupan kebutuhannya di dalam pertanyaan. Hal ini berarti bahwa segala sesuatu yang memengaruhi kualitas sumberdaya ini cenderung mengakibatkan krisis besar pada sebagian besar mata pencaharian penduduk. 4 (Penting) berarti bahwa lebih dari 50% penduduk bergantung pada sumberdaya ini untuk memenuhi lebih dari 15% kebutuhannya. Hal ini berarti segala sesuatu yang memengaruhi kualitas sumberdaya akan mengakibatkan penyesuaian yang signifikan terhadap kebutuhan sebagian besar penduduk. 3 (Sangat penting bagi sebagian masyarakat) berarti bahwa paling sedikit 15% (tetapi kurang dari 50%) dari penduduk bergantung pada sumberdaya ini untuk memenuhi lebih dari separuh kebutuhan tertertentu. Hal ini berarti bahwa segala sesuatu yang terjadi terhadap sumberdaya ini akan mengakibatkan krisis bagi sebagian masyarakat. 2 (Penting bagi sebagian dari masyarakat) berarti bahwa paling sedikit 15% penduduk memenuhi antara 15 sampai 49% kebutuhan tertentu dari sumberdaya ini. Segala sesuatu yang memengaruhi sumberdaya ini akan mengakibatkan penyesuaian kebutuhan yang signikan terhadap sebagian masyarakat. 1 (Marjinal) berarti bahwa kurang dari 15% penduduk memanfaatkan sumberdaya ini, atau hal tersebut mencakup kurang dari 15% kebutuhan setiap orang. Hal ini berarti bahwa setiap perubahan yang mengaruhi sumberdaya ini harus disertai dengan penyesuaian minor dalam kebutuhan. Walaupun demikian, tetap harus diperiksa siapa orang yang bergantung pada sumberdaya ini dan bagaimana mekanisme untuk mengatasi masalah ini.

32

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Melihat pada kedua komponen ini secara terpisah, dan membandingkan kepentingan relatif dari berbagai sumber yang mempengaruhi suatu tekanan tertentu akan memandu kepada pengembangan strategistrategi yang sesuai. Istilah-istilah ini mungkin membingungkan. Untuk mudahnya dapat digunakan analogi seseorang yang terserang sakit kepala. Tekanan atau stress adalah gejala sedangkan sumber atau source adalah penyebabnya. Jadi sakit kepala adalah tekanan, dan sumber-nya mungkin karena terlalu lama memandang layar komputer atau merupakan pertanda awal sakit. Seseorang harus mengetahui kedua sisi penyakit (tekanan dan sumber) sebelum suatu cara pengobatan yang tepat, atau strategi dapat dilakukan. Jika sakit kepala tersebut disebabkan oleh komputer, maka pengobatan jangka pendek mungkin berupa aspirin, dan jangka panjang adalah mengurangi waktu di depan komputer. Jika sakit kepala disebabkan oleh malaria, maka pengobatan jangka pendek mungkin berupa kina, dan jangka panjang adalah menghindari nyamuk. Analogi merupakan ilustrasi bahwa pengobatan, atau strategi pengelolaan, dapat terdiri atas dua macam: strategi yang menyelesaikan permasalahan dalam jangka pendek, seperti aspirin atau kina, dan strategi yang mencegah agar permasalahan tidak muncul kembali di masa yang akan datang. Para pengelola hutan harus melakukan “diagnosis” yang semacam ini untuk semua nilai konservasi tinggi yang telah diidentifikasi dalam suatu FMU. Disini, kami menyediakan rekomendasi mengenai bagaimana melakukan diagnosis tersebut. TNC telah mengembangkan suatu alat yang disebut Perencanaan Konservasi Partisipatif (PKP) -

Participatory Conservation Planning (PCP) - (TNCLLFO 2002) untuk memfasilitasi proses ini. Alat ini pada awalnya dirancang untuk konsultasi dengan masyarakat, dan hal tersebut penting bagi identifikasi HCV 4-6 yang diuraikan di atas. Elemen-elemen alat ini juga telah diadaptasi untuk digunakan oleh para pengelola hutan dalam mengembangkan strategistrategi pengelolaan nilai-nilai lingkungan yang termasuk dalam HCV 1-4. Untuk menjamin bahwa diagnosis dilakukan secara sistematis, disarankan bahwa satu orang, atau dua orang, yang dipekerjakan oleh pengusaha kehutanan diberi tanggung jawab untuk melaksanakandan mendokumentasikan proses ini. Mereka harus memiliki tanggung jawab untuk mengumpulkan tim dan data yang diperlukan. Mendokumentasikan semua proses merupakan suatu hal yang sangat penting. Alasan-alasan yang melatarbelakangi suatu keputusan harus dicatat dengan jelas, karena informasi ini nantinya akan dapat digunakan untuk membantu memberi justifikasi suatu strategi pengelolaan. Para koordinator ini juga harus menjadi orang-orang yang memfasilitasi proses tersebut. Mereka harus membiasakan diri dengan proses tersebut, dan jika mungkin mengujinya dengan orang lain, sebelum melaksanakan konsultasi penuh dengan keseluruhan perusahaan. Untuk melengkapi proses ini, sebuah tim dari staf FMU yang memiliki pengetahuan tentang ekologi hutan, masyarakat lokal, dan pengelolaan hutan harus dibentuk. Pakar dari luar di bidang ekologi hutan atau masyarakat yang bergantung pada hutan mungkin diperlukan juga. Tidak diperlukan peralatan yang canggih dalam proses ini, hanya pena, spidol, kertas, dan papan tulis (whiteboard).

Mengidentifikasi yang terjadi di dalam suatu nilai
TNC menyebut apa yang terjadi terhadap suatu target konservasi, atau nilai, sebagai tekanan. Tekanan adalah perubahan-perubahan negatif dalam ciri-ciri nilai tersebut. Tekanan bukanlah hal yang mendorong terjadinya perubahan, tetapi sekedar apa yang yang ada pada suatu nilai. Untuk membantu mengidentifikasi tekanan, akan membantu apabila tim memutuskan apa yang telah terjadi terhadap nilai tersebut sejak FMU memulai kegiatannya. Apakah kondisi dari nilai tersebut mengalami penurunan? Tim juga harus meramalkan apa yang akan terjadi terhadap nilai tersebut jika kondisi sekarang tetap berlangsung. Bagaimana kondisi nilai tersebut 10 tahun dari sekarang? Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia 33

Kondisi nilai dapat dipandang dalam berbagai cara. Kondisi dapat berupa ukuran kuantitas (misalnya jumlah spesies per total wilayah) atau kualitas (misalnya jumlah fragmentasi, komposisi jenis, ukuran panen atau kejernihan air). Idealnya, baik aspek kuantitatif dan kualitatif harus dipertimbangkan. Catatan yang baik harus dilakukan mengenai bagaimana tim menentukan “kondisi”.

Lingsang Linsang (Prionodon linsang)

Proses langkah-demi-langkah:
1. Untuk setiap nilai, secara bergantian, mintalah para partisipan menilai kondisinya dengan menggunakan diagram yang telah dibuat sebelumnya. Diagram tersebut memiliki empat zona berwarna: merah=kurang; kuning=sedang; hijau muda=baik; hijau tua=sangat baik (lihat Gambar 3). Untuk setiap nilai harus digunakan diagram terpisah. 2. Tim mengurutkan semua kondisi dari nilai. Mulai dengan kondisi saat ini; yaitu mewakili status nilai hari ini, atau saat waktu = T. Kemudian prakirakan kondisi nilai tersebut saat pengelolaan hutan dimulai; apakah saat itu lebih tinggi atau lebih rendah? Hal ini mengacu pada kondisi nilai pada saat =T dimulai. Kemudian mulailah suatu diskusi mengenai kondisi yang kira-kira akan terjadi di masa datang; misalnya ketika T=T+10 tahun. Skor bagi setiap nilai kemudian diplotkan dan diberi label pada diagram. 3. Harus dibuat catatan mengenai apa yang dipikirkan tim tentang apa yang tengah terjadi terhadap nilai. 4. Sebuah garis kemudian ditarik untuk menghubungkan titik-titik bagi setiap nilai. Dengan tiga titik acuan sekaligus akan memeperlihatkan suatu kecenderungan (tren) mengenai kondisi nilai yang dianggap oleh tim. Hasilnya didiskusikan untuk disetujui bagi setiap sistem. Pengecekan ulang yang lebih rinci dapat dibuat dengan menggunakan peta kawasan, foto-foto, citra satelit dan tinjauan lapangan.
Gambar 2 : Contoh Diagram Waktu dari Kondisi

Sangat baik Baik Sedang Kurang T - 10 Saat ini Waktu T + 10

Kondisi sebelumnya Sangat baik (hijau tua) Kondisi saat ini Baik (hijau muda) tetapi Menurun secara cepat sejalan dengan waktu

Sampai disini, disarankan untuk membagi tim ke dalam dua kelompok. Satu kelompok harus memfokuskan pada menentukan tekanan-tekanan terhadap nilai-nilai ekologi, HCV 1 sampai 4. Kelompok ini harus terdiri atas orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang hutan dan ekologinya. Kelompok lain harus dibentuk untuk berkonsentrasi pada tekanan-tekanan terhadap nilai-nilai sosial-budaya, HCV 4 sampai 6. Kelompok ini harus terdiri atas orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang masyarakat lokal.

34

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Proses langkah-demi-langkah:
1. Setiap nilai harus ditulis di tengah-tengah sehelai kertas yang besar. 2. Kelompok harus mengklarifikasi apakah ancaman-ancaman yang tengah memengaruhi kondisi nilai. Seluruh kemungkinan tekanan harus didaftar. 3. Setiap tekanan harus diberi tanda yang berhubungan dengan nilai pada sehelai kertas besar 4. Apabila proses ini telah lengkap untuk setiap nilai, tekanan-tekanan ini dapat dimasukkan ke dalam matriks yang disediakan pada Lampiran 7 5. Selain itu, kelompok mungkin juga mau memasukkan sebuah catatan ke dalam matriks yang menyatakan bagi setiap tekanan apakah dianggap memiliki dampak tinggi, sedang atau rendah terhadap nilai. Sebuah daftar berbagai tekanan yang mungkin bagi setiap Nilai Konservasi Tinggi diberikan pada Lampiran 4. Penting dicatat bahwa daftar ini tidak lengkap. Contoh-contoh tekanan ini mungkin sekali terdapat di kebanyakan hutan di seluruh Kalimantan Timur, tetapi beberapa dari tekanan yang didaftar mungkin tidak relevan bagi FMU tertentu, dan beberapa tekanan yang penting mungkin tidak ada dalam daftar. Para pengelola harus mengidentifikasi tekanan-tekanan mana yang terjadi dan mana yang tidak dalam FMU mereka. PKP adalah suatu alat yang sangat bermanfaat untuk mengumpulkan informasi dari masyarakat lokal. PKP harus digunakan dengan konsultasi bersama desa-desa di sekeliling FMU, dan suatu panduan penggunaannya disediakan dalam Lampiran 3. Informasi yang dikumpulkan melalui proses ini harus digunakan untuk mengembangkan strategi-strategi bagi HCV 1-6. PKP membantu untuk mengidentifikasi tidak hanya nilai-nilai yang penting bagi masyarakat lokal, tetapi juga tekanan-tekanan terhadap nilai-nilai tersebut. Lebih jauh lagi, PKP memberikan ide-ide bagi kemungkinan strategi-strategi pengelolaan yang dikembangkan oleh masyarakat sendiri, sehingga meningkatkan peluang keberhasilan bahwa suatu usulan kegiatan pengelolaan akan diterima oleh para anggota masyarakat.

Mengidentifikasi hal-hal yang menyebabkan perubahan terhadap nilai
Di dalam kerangka kerja TNC proses-proses yang mendorong terjadinya atau menyebabkan tekanan terhadap sebuah nilai disebut sumber. Hal ini serupa dengan apa yang mungkin disebut ancaman, tetapi khusus mengenai suatu tekanan tertentu. Mengidentifikasi tekanan-tekanan akan membantu dalam mengembangkan strategi yang lebih spesifik untuk memelihara atau mengembangkan suatu nilai. Proses Di dalam kelompok yang sama yang telah mendefinisikan tekanan terhadap setiap nilai, sekarang definisikan sumber-sumber yang bekerja terhadap setiap tekanan. 1. Sumber-sumber harus ditulis pada lembaranlembaran kartu berwarna dan ditempatkan pada diagram yang telah dihasilkan di atas, yang menggambarkan nilai-nilai dan tekanan-tekanan; hubungan-hubungan harus dibuat dari setiap sumber kepada tekanan (atau tekanan-tekanan) yang dipengaruhi. 2. Suatu sumber tertentu harus disambungkan kepada beberapa tekanan yang berbeda pada satu atau lebih nilai. 3. Diagram yang lengkap dikenal sebagai diagram situasi (Gambar 3); semua informasi ini harus dicatat di dalam matriks diagnosis (Lampiran 6). 4. Untuk membantu melihat sumber-sumber yang tengah memiliki dampak terhadap nilai-nilai informasi dari matriks pertama dapat disusun ulang. (Lampiran 5).

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

35

Gambar 3. Contoh diagram situasi

Sumber 1.1

Tekanan 1

NILAI X.X

Tekanan 2

Sumber 2.1

Sumber 1.2

Mengembangkan strategi-strategi bagi HCV sosial
Pengembangan strategi-strategi bagi HCV sosial harus menggunakan konsultasi-konsultasi PKP. Suatu panduan terhadap alat ini disediakan pada Lampiran 3. Prosesnya harus mencakup langkah-langkah berikut: • • • • Mengidentifikasi kontak-kontak kunci, dengan konsultasi bersama tokoh masyarakat, memilih anggota masyarakat yang diterima bersama sebagai kontak utama. Di dalam setiap desa, perkenalkan kontak perusahaan kepada anggota masyarakat; kontak adalah perwakilan perusahaan yang dapat dihubungi untuk ditanya dan berdiskusi. Lakukan pertemuan-pertemuan awal untuk menginformasikan kepada tokoh masyarakat tentang rencanarencana yang akan datang. Lakukan pemetaan sosial desa untuk mendokumentasikan pemisahan sosial yang ada di dalam masyarakat sebagai suatu dasar untuk menjamin bahwa para anggota seluruh kelompok sosial diundang untuk dan berpartisipasi dalam konsultasi-konsultasi di masa yang akan datang. Pilih waktu untuk konsultasi PKP yang memaksimalkan partisipasi masyarakat. Latih fasilitator-fasilitator tingkat desa Siapkan konsultasi PKP. Laksanakan suatu konsultasi PKP, pastikan bahwa partisipasi mewakili seluruh kategori sosial di dalam desa. Jika perlu, lakukan beberapa konsultasi independen dengan kelompok yang berbeda. Lakukan penilaian terhadap hasil PKP dan identifikasi kemungkinan-kemungkinan ketidak pastian yang mungkin menuntut perusahaan untuk melaksanakan survei tambahan atau wawancara-wawancara untuk mengecek-silang hasil-hasil yang mencurigakan atau mengklarifikasi unsur-unsur tertentu.

• • • • •

36

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Pengelolaan HCV
Lampiran 5 memberi ilustrasi bahwa kebanyakan ancaman memberi dampak terhadap beberapa nilai. Juga ditunjukkan bahwa beberapa sumber mempengaruhi banyak tekanan. Dengan demikian dimungkinkan bahwa beberapa strategi pengelolaan mungkin membantu dalam mengembangkan atau memelihara lebih dari satu nilai dengan mengurangi atau mencegah suatu ancaman spesifik. Lampiran 6 mendaftar beberapa strategi yang direkomendasikan untuk menangani tekanan-tekanan spesifik dan nilainilai yang terpengaruh. Sebagaimana terlihat dalam Lampiran 6, banyak kemungkinan strategi pengelolaan yang dapat dilaksanakan untuk memelihara atau meningkatkan HCV. Di antara banyak strategi ini, secara khusus lima diantaranya dapat berlangsung sangat lama untuk menyelamatkan nilai-nilai ekologi dan sosial: penyisihan untuk konservasi, pengurangan dampak pembalakan, pengawasan perburuan, pengelolaan kolaboratif dengan masyarakat lokal dan kemitraan dengan pemerintah lokal. Di bawah ini, masingmasing dari 5 strategi dibahas secara rinci.

Implementasi StrategiStrategi Pengelolaan
Pemanenan Ramah Lingkungan
(Reduced Impact Logging /RIL)
Teknik-teknik bagi Pemanenan Ramah Lingkungan (selanjutnya disebut sebagai RIL) secara substansial dapat menurunkan dampak negatif dari pemanenan terhadap lingkungan, dan telah disarankan secara luas untuk digunakan di hutan-hutan tropis (Fimbel, Grajal dan Robinson 2001, Mason dan Putz 2001, Sist, Dykstra dan Fimbel 1998; Meijaard dkk.2005). Uraian resep rinci teknik-teknik RIL di luar ruang lingkup dari dokumen ini, tetapi Sist dkk.(1998) dan Meijaard dkk.(2005) telah menulis panduan terhadap penggunaan RIL pada hutan-hutan dipterocarpacea dataran rendah dan perbukitan di Indonesia. Para pengelola harus mengacu panduan-panduan ini untuk informasi lanjut; salinan Sist dkk.(1998) dapat diperoleh secara cuma-cuma dari CIFOR melalui situs web http://www.cifor.cgiar.org/. RIL membantu dalam pemeliharaan HCV 1-4 melalui cara-cara sebagai berikut : Pertama, RIL meningkatkan konservasi keanekaragaman mamalia, burung, serangga dan reptilia (lihat makalah-makalah dalam Fimbel, Grajal dan Robinson 2001). RIL juga membantu memelihara keanekaragaman tumbuhan

konsentrasi tinggi, terutama melalui pengurangan kerusakan yang tak disengaja terhadap pohon-pohon yang tidak dipanen (Bertault dan Sist 1997). Kedua, RIL membantu meminimalkan pembangunan jalan, yang pada gilirannya mengurangi fragmentasi hutan dan memelihara kesinambungan spasial dari hutanhutan dalam skala lansekap yang luas. Ketiga, sistem jaringan jalan yang direncanakan terlebih dahulu sesuai dengan prinsip-prinsip RIL dapat dirancang untuk menghindari atau meminimalkan kerusakan terhadap ekosistem-ekosistem yang langka dan terancam punah. Keempat, pemanfaatan RIL memiliki dampak utama positif terhadap pemeliharaan aliranaliran air, sehingga mengawetkan aliran dan kualitas air alam. Sebagai contoh, studi-studi di Semenanjung Malaysia (Kasran 1988, dikutip dalam Pringle dan Bernstead 2001) memperlihatkan bahwa dalam satu tahun pertama setelah pembalakan komersial dari suatu hutan di daerah tangkapan air, endapan sungai yang tertahan sebanyak 12 kali lebih tinggi daripada di suatu DAS yang tidak dibalak; tingkat yang tinggi ini bertahan selama 5 tahun. Hal ini berbeda dengan wilayah tangkapan air yang berdekatan dimana teknik RIL diterapkan, dan dimana sedimen yang tertahan hanya 2 x lebih tinggi dari wilayah kontrol yang tidak dibalak, dan kembali ke tingkat normal setelah 2 tahun kemudian. Peningkatan sedimentasi disebabkan oleh erosi tanah dimana pembalakan terjadi, dan memiliki dampak negatif pada lokasi karena erosi tanah lapisan atas dan hilangnya kesuburan tanah, dan juga di luar lokasi di hilir dimana fauna dan flora perairan serta populasi manusia menderita karena menurunnya kualitas air (Gambar 5). Kekuatan utama dari pendekatan RIL adalah untuk mengurangi dampak pembalakan terhadap lingkungan dengan cara meningkatkan kualitas pembangunan jalan dan metode-metode yang digunakan untuk menebang dan mengeluarkan (mengambil) kayu (dari dalam hutan). Meijaard dkk. (2005) dan Pringle dan Bernstead (2001) meringkas kegiatan-kegiatan yang seharusnya merupakan bagian dari program pengurangan dampak pembalakan pada masingmasing bidang. Untuk pembangunan jalan, kegiatankegiatan tersebut meliputi : • Perencanaan pengeluaran kayu (dari dalam hutan) yang tepat untuk menghindari periode basah dan kawasan-kawasan hutan yang khususnya peka terhadap gangguan (lihat di bawah). Perencanaan jalan dan pengumpulan log (kayu bulat) yang hati-hati termasuk pembuatan jalanjalan di sepanjang puncak tebing (ridge crest) dan membatasi gradien (kemiringan) jalan maksimum, menyediakan pembuangan air yang cukup dan mencegah erosi tanah dan aliran permukaan agar tidak mencapai aliran-aliran sungai. 37

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Meminimumkan penyeberangan sungai dan aliran air dan pembangunan jembatan, apabila secara teknis dan ekonomis dimungkinkan. Menggunakan kendaraan dengan tekanan ban yang dikurangi untuk mengurangi pemampatan dan gangguan tanah. Pengeluaran log (kayu bulat) ke arah bukit. Penggunaan sistem skyline atau katrol apabila mungkin (lihat di bawah). Pemberian mulsa dan (penyebaran biji) pada jalan-jalan angkut dan jalan sarad sesegera mungkin setelah pembalakan selesai. Pemeliharaan jalur-jalur penyangga tepi sungai di sepanjang sungai-sungai tetap (aliran-aliran air).

Teknik-teknik RIL bertujuan untuk meningkatkan metode-metode penebangan dan penyaradan melalui berbagai cara. Mason dan Putz (2001) meringkas teknik-teknik yang paling penting sebagai berikut : • Penebangan terarah. Pohon direbahkan sedemikian rupa untuk meminimumkan gangguan pada vegetasi sekitarnya. Idealnya pohon harus direbahkan pada 30 derajat terhadap jalan sarad dan tidak boleh direbahkan ke bawah lereng atau ke daerah penyangga-penyangga tepi sungai. Penyaradan terencana. Jalur-jalur sarad harus direncanakan di depan dan ditandai di lapangan sependek mungkin. Penyaradan juga harus menghindari penyangga-penyangga tepi sungai, dan gunakan katrol sebanyak mungkin.

• • •

Pemanfaatan tumbuhan penutup dan jenis-jenis pohon asli yang cepat tumbuh untuk menghutankan kembali jalan-jalan dan jalur-jalur sarad yang ditinggalkan akan menstabilkan tanah setelah pemanena. Hal ini akan mengurangi erosi dan mengurangi beban sedimen yang tertahan di sungaisungai. Selain itu, stabilisasi tanah akan memfasilitasi regenerasi hutan alam. Bukaan hutan akan tertutup lebih cepat, dan DAS serta nilai-nilai lansekap akan terpelihara.

Penggunaan sistem kabel skyline juga dapat digunakan untuk mengurangi dampak pembalakan terhadap hutan dibanding dengan metodemetode sarad tradisional.

Dalam konteks pengelolaan hutan alam di Kalimantan Timur istilah asli berarti setiap spesies pohon yang secara alami ditemukan di Pulau Kalimantan (Borneo). Jenis-jenis yang cepat tumbuh yang cocok termasuk Anthocephalus chinensis (jabon) dan Pernema canescens (sungkai).

Anthocephalus chinensis
Karena jalan-jalan sarad tidak dibangun, hal ini mengurangi dampak terhadap struktur hutan, keanekaragaman hayati, serta struktur dan kesuburan tanah. Erosi dikurangi dan regenerasi hutan lebih cepat. Pengeluaran kayu dengan skyline juga direkomendasikan sebagai suatu alat konservasi. Penggunaannya lebih disukai pada kawasankawasan dengan nilai konservasi yang tinggi, misalnya hutan-hutan di kawasan DAS dan hutanhutan yang digunakan oleh masyarakat lokal juga disarankan penggunaan skyline pada hutan dipterocarpacea dataran rendah pada tanah-tanah datar, yang seringkali merupakan tanah alluvial. Formasi hutan ini memiliki keanekaragaman hayati tertinggi dari seluruh tipe di Kalimantan Timur dan

Pembangunan jalan tidak boleh ada di kawasankawasan hutan pegunungan, kerangas dan gambut. Jika peta-peta tipe hutan yang akurat tidak ada, hutan pegunungan harus dianggap sebagai setiap hutan yang berada pada ketinggian lebih dari 1000 m dpl. Hutan pegunungan jarang terdapat di FMU Kalimantan Timur, tetapi hutan ini sangat peka terhadap gangguan, sehingga pengecualiannya dari pembangunan jalan akan memberikan manfaat konservasi substansial dengan biaya ekonomi yang kecil. Hutan-hutan kerangas dan gambut harus dikecualikan, karena regenerasi hutan pada habitathabitat tersebut lambat, memerlukan waktu yang lama untuk kembali ke asalnya (recover) setelah mengalami gangguan. 38

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

termasuk daerah yang kritis baik pada skala global, regional maupun nasional. Identifikasi secara tepat tentang wilayah-wilayah ini memerlukan penataan rinci dan inventarisasi. Tetapi secara umum dapat dikategorikan sebagai kawasan-kawasan di bawah 500 m dpl dengan kelerengan kurang dari 15%. Intensitas pemanenan yang tinggi (pohon yang ditebang per ha) memiliki dampak besar terhadap keanekaragaman hayati. Pada beberapa kawasan kunci, disarankan bahwa intensitas pemanenan tidak melebihi 4 pohon per ha. Kawasan-kawasan kunci ini adalah hutan-hutan dipterocarpaceae dataran rendah pada lereng-lereng landai di bawah 500 m. Sist (2001) dan Sist dkk.(2003) lebih jauh merekomendasikan untuk memastikan jarak minimum antar pohon yang dipanen sejauh 35 m dan untuk menetapkan batas diameter tebang maksimum dan tidak memanen pohon-pohon dengan diameter dbh >100 cm. Aturanaturan ini bertujuan untuk mengurangi intensitas tebangan dan aturan gap/bukaan, dan untuk memelihara potensi reproduktif tegakan sisa. Dengan meninggalkan pohon-pohon besar tetap masih bisa mendapatkan hasil panen yang tinggi, sebab potensi hutan-hutan dipterocarpaceae di Asia Tenggara ratarata 10-11 batang/ha dengan diameter (dbh) 60-100 cm (Sist dkk.2003).

dirancang dengan baik akan dapat membantu memelihara HCV 1-4. Disarankan bahwa kawasan konservasi yang disisihkan minimum 10.000 ha di dalam suatu wilayah yang cukup besar untuk memelihara kebanyakan spesies burung hutan (Zakaria dan Francis 2001), tetapi penilaian ini mungkin terlalu optimis (lihat Lambert dan Collar 2002). Penyisihan kawasan juga akan membantu melestarikan konsentrasi keanekaragaman serangga, amfibia, reptilia dan mamalia (Bab 4, 5, 9, 11 dan 12 dalam Fimbel, Grajal dan Robinson 2001). Pelarangan konstruksi jalan dan pengembangan infrastruktur lainnya di dalam kawasan yang disisihkan untuk konservasi mengurangi fragmentasi hutan-hutan skala lansekap luas (landscape level forest) dan ekosistem-ekosistem langka terlindungi secara lebih baik. Wilayah-wilayah daerah aliran sungai yang penting terlindungi dari gangguan dan perangkat pengontrol aliran air terpelihara. Penempatan yang hati-hati dari kawasan yang disisihkan juga dapat merupakan strategi efektif untuk memelihara atau meningkatkan nilai-nilai sosialbudaya (HCV 5 dan 6) (Marcot dkk.2001). Kawasan yang disisihkan dapat tumpang tindih dengan wilayah-wilayah yang penting bagi budaya atau spiritual (HCV 6) atau wilayah-wilayah pengumpulan SDA yang penting (lihat Wadley dan Colfer 2004). Merupakan suatu hal yang vital bahwa perusahaan pembalakan dan penduduk desa sama-sama setuju terhadap aturan-aturan tentang pengambilan SDA dari wilayah-wilayah ini. Pengambilan sumberdaya yang tidak terkontrol khususnya perburuan akan membatasi kapasitas dari kawasan yang disisihkan dalam melestarikan nilai-nilai lingkungan, misalnya seperti konsentrasi-konsentrasi keanekaragaman hayati. Beberapa faktor harus dipertimbangkan dalam rancangan kawasan-kawasan konservasi (Marcot dkk.2001). 1. Ukuran: Secara umum, semakin luas suatu zona konservasi, semakin baik. Kawasan yang luas mendukung lebih banyak jenis dan populasi suatu jenis yang lebih besar. 2. Bentuk: Zona-zona konservasi yang cenderung berbentuk lingkaran lebih baik daripada yang panjang dan sempit. Efek tepian diminimalkan dalam kawasan-kawasan konservasi yang berbentuk melingkar (sirkular). 3. Gradien ekosistem: Jika mungkin gradien ekosistem harus dicakup dalam zona konservasi. Keberadaan beberapa spesies tergantung pada berbagai tipe hutan pada berbagai ketinggian atau tipe tanah. Memelihara kelengkapan gradien dari suatu 39

Menyisihkan Kawasan untuk Konservasi
Sebagai bagian dari suatu rencana konservasi yang menyeluruh FMU harus mengembangkan suatu sistem zona-zona konservasi di dalam konsesinya. Tujuan dari zona-zona ini adalah untuk menjamin perlindungan habitat yang memungkinkan bagi jenis-jenis langka, terancam punah dan jenis-jenis endemik, mewakili seluruh tipe habitat yang ada dalam konsesi; dan membantu melindungi nilai konservasi tinggi yang sudah teridentifikasi (Fimbel, Grajal dan Robinson 2001). Tidak ada pembangunan infrastruktur, penebangan atau pembangunan jalan yang boleh diijinkan di dalam zona konservasi. Disarankan kurang lebih 10% dari suatu konsesi sebaiknya disisihkan bagi tujuan-tujuan konservasi (Blockhus dkk.1992, Mason dan Putz 2001). Kawasan 10% ini harus merupakan tambahan dari setiap kawasan yang telah disisihkan menurut hukum Indonesia (Bennet dan Gumal 2001), atau kawasan yang disisihkan akibat rendahnya potensi kayu atau aksesibilitas rendah seperti kawasan yang termasuk dalam lereng E, dengan kemiringan >40%, dan hutan-hutan penyangga tepian sungai tidak boleh dimasukkan dalam ke- 10% kawasan konservasi yang disisihkan. Jaringan zona konservasi yang

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

sungai sampai puncak gunung, sebagai contoh akan membantu keterkaitan/kesinambungan habitat bagi jenis-jenis nomadik. 4. Tata guna lahan yang berbatasan dengan kawasan konservasi: Untuk meningkatkan efektivitas suatu zona konservasi, lebih baik jika zona tersebut berbatasan dengan hutan-hutan yang dilindungi lainnya atau kawasan-kawasan dimana penutupan hutan akan dijaga (misal kawasan-kawasan yang dilindungi – KPA, KSA, atau hutan tangkapan air - HL). Pembukaan atau konversi hutan di sekitar kawasan konservasi akan memiliki dampak di dalam kawasan konservasi. 5. Koridor: Apabila mungkin, disarankan untuk menghubungkan zona-zona konservasi dengan koridor-koridor hutan-hutan yang tidak terganggu

yang lebarnya 200-400 m (Fimbel, Grajal dan Robinson 2001). Hal ini akan memfasilitasi pergerakan dan dispersal (pemencaran) jenisjenis ke seluruh wilayah konsesi (Davies dkk.2001, Fimbel, Bennett dan Kremen 2001). Dalam banyak kasus, kawasan-kawasan zona penyangga tepi sungai dapat membentuk koridor-koridor yang sesuai; tetapi jika sungai jarang ditemukan pada FMU, atau jika tidak terhubung dengan kawasan yang disisihkan untuk konservasi; maka koridorkoridor tambahan harus ditetapkan. 6. Perwakilan ekosistem: Semua formasi hutan yang ada di dalam konsesi harus diwakili dalam zonazona konservasi termasuk kawasan yang biasanya ditebang.

Pengaruh atau efek tepi mengacu pada dampak suatu tepi hutan terhadap suatu kawasan hutan. Dampak gangguan dapat memasuki hutan jauh melalui batas resmi dari suatu kawasan konservasi. Sebagai contoh, perubahan intensitas cahaya dan perubahan iklim mikro dapat terjadi 10-100 m dari tepi jalan. Pengurangan terhadap rasio tepi terhadap luasan dari suatu kawasan yang disisihkan untuk konservasi akan mengurangi kawasan yang terkena dampak dari efek tepi. Anrek hutan

Pengendalian Perburuan dan Penangkapan Ikan
Perburuan satwaliar yang berlebihan oleh penduduk desa setempat, orang luar dan staf perusahaan dapat memiliki dampak yang sangat negatif terhadap keanekaragaman binatang/satwa (Bennet dan Robinson 2000; Bennet dan Gumal 2001). Mengendalikan perburuan secara langsung meningkatkan pemeliharaan konsentrasi-konsentrasi keanekaragaman hayati yang dinyatakan dalam HCV 1. Secara tidak langsung juga meningkatkan pemeliharaan nilai-nilai lain, seperti perlindungan interaksi-interaksi ekologi seperti penyebaran biji, penyerbukan, hubungan predator mangsa dan herbivor. Dengan demikian memelihara populasi jenis-jenis satwa akan membantu memelihara jenisjenis tumbuhan lain. Pada gilirannya hal ini akan membantu memelihara hutan-hutan skala lansekap luas dan proses-proses ekologi di dalamnya (HCV 2), sebagaimana juga integritas (kesatuan) dari ekosistem-ekosistem yang langka dan terancam punah (HCV 3). Selain itu, perburuan yang berlebihan dapat mengakibatkan kepunahan lokal dari beberapa jenis, dapat memberi dampak terhadap penduduk lokal 40

yang bergantung pada daging dari satwaliar sebagai sumber proteinnya. Mengendalikan perburuan pada tingkat yang lestari dengan demikian mungkin perlu untuk pemeliharaan HCV 5. Bennet dan Gumal (2001) membuat saran-saran berikut untuk mengendalikan perburuan dalam FMU. • Pengawasan akses. Menutup jalan-jalan dengan parit atau penghalang alam (earth blocade) akan membatasi akses terhadap hutan oleh orang luar yang menggunakan kendaraan. Selain itu hal ini akan membantu mengendalikan pengambilan kayu secara ilegal. Pengawasan metode. Pelarangan pemilikan senjata api bagi staf perusahaan akan secara drastis mengurangi laju potensi panen maksimum per pemburu. Sumber protein alternatif. Menyediakan sumber-sumber protein alternatif bagi para pekerja perusahaan penebangan dapat secara jelas mengurangi tekanan perburuan satwaliar. Terutama penting untuk menghentikan perburuan

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

oleh tim cruising. Kelompok-kelompok ini berada di dalam hutan sebelum pembalakan, dan perburuan oleh mereka akan mengurangi populasi satwa sebelum pembalakan. Beberapa satwa, seperti kijang kuning (Muntiacus atherodes) dan kancil (Tragulus spp) merupakan spesiesspesies yang sangat terkena dampak kegiatan pembalakan (Davies dkk.2001; Heydon and Bulloh 1997). Penurunan populasi akibat perburuan sebelum pembalakan akan dapat memiliki dampak kombinasi yang menghancurkan setelah pembalakan. • Peningkatan pendidikan konservasi. Pendidikan yang ditujukan pada baik staf maupun masyarakat lokal mengenai pentingnya satwaliar akan memfasilitasi upaya-upaya untuk melakukan perburuan secara berkelanjutan.

kewenangan masyarakat terhadap sumberdaya hutan (yang diajukan) oleh sebuah desa Dayak yang besar mungkin mencakup luasan sampai 1000 km2. Peta-peta sumberdaya masyarakat harus menunjukkan kawasan-kawasan kunci yang diperlukan untuk menyediakan akses atau untuk melestarikan sumber-sumber daya hutan yang kritis. • Melaksanakan konsultasi-konsultasi dengan staf operasional hutan, anggota masyarakat atau lembaga-lembaga lain yang relevan (misalnya lembaga akademik, badan-badan pemerintah, LSM) untuk mengevaluasi potensi dampak yang merusak dari kegiatan operasional hutan terhadap sumberdaya yang ada. Sepakat dengan masyarakat tentang kawasankawasan yang harus dikeluarkan dari kegiatan pembalakan, karena mengandung sumberdaya yang tinggi bagi masyarakat. Strategi-strategi untuk mengontrol akses harus semaksimum mungkin konsisten dengan aturan-aturan dan kelembagaan adat. Contoh di Kalimantan Timur, aturan Tanah Ulen (kawasan konservasi tradisional yang disisihkan untuk memanen pohon-pohon yang bermanfaat atau melindungi aliran suatu hutan DAS yang kritis) dapat digunakan untuk mendefinisikan secara bersama daerah konservasi di hutan yang berfungsi sebagai tangkapan air penting. Jika memungkinkan, pemerintah lokal (daerah) harus diyakinkan untuk menyetujui penetapan-penetapan semacam itu sebagai suatu dukungan pemerintah dalam perlindungan kawasan-kawasan tersebut terhadap ancamanancaman lain. Mengembangkan suatu paket prosedur operasional standar (SOP – Standard Operational Procedure) untuk memastikan bahwa staf yang bertanggungjawab dalam operasional hutan sadar akan keputusan-keputusan secara prosedur dan tahu apa yang harus dilakukan untuk menerapkannya. Mengembangkan suatu prosedur untuk memantau ekaligus mengevaluasi implementasi SOP-SOP ini.

Selain itu penangkapan ikan yang berlebihan pada sungai-sungai pada sebuah FMU akan memiliki dampak negatif terhadap keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem perairan tawar atau laut. Metode-metode penangkapan ikan yang merusak, seperti bom dan racun, harus dilarang dan diawasi secara ketat. Perlu dicatat bahwa pada saat ini masih belum jelas bagaimana para pengelola konsesi harus menangani perburuan oleh masyarakat yang tinggal di dalam atau bersebelahan dengan konsesi. Prinsip 3 FSC menyatakan bahwa hak-hak hukum dan adat masyarakat asli untuk memiliki, menggunakan dan mengelola lahan, teritori dan sumberdaya mereka harus diakui dan dihargai. Di sisi lain, konsesi semestinya mengontrol perburuan, penangkapan ikan, penjeratan dan pengumpulan yang tidak sesuai. Karena itu diperlukan klarifikasi tentang kepastian tanggung jawab para pengelola konsesi dalam kaitan dengan perburuan oleh masyarakat lokal.

Pengelolaan Secara Kolaborasi
Berdasarkan atas hasil PKP yang diuraikan di atas, perusahaan perlu mengkonsep suatu strategi bagi konservasi dari ciri HCV sosial. Hal tersebut harus mencakup langkah-langkah berikut : • Dengan konsultasi bersama penduduk lokal, mengembangkan peta-peta yang menunjukkan sumberdaya hutan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Petapeta ini harus dibuat sebelum ada kegiatan produksi di dalam suatu konsesi hutan. Penting disadari bahwa kawasan hutan yang diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan jauh lebih besar dari kawasan enklave mereka. Abdoeallah dkk. (1993) menerangkan bahwa klaim untuk •

Babi berjanut (Sus barbatus)
41

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Boks 4. Contoh-contoh kawasan HCVF yang didelineasi untuk konservasi tanah dan air pada HPH PT Hutansanggam

Labanan Lestari (82,340 ha) di Kabupaten Berau, Kalimantan (menurut Sulistioadi 2004)

HCVF 4.1.

Kawasan-kawasan hutan yang berfungsi sebagai sumber –sumber air minum yang khas. Berdasarkan pembagian daerah tangkapan air yang sudah didelineasi dan informasi mengenai sumber air minum bagi masyarakat (pemanfaatan sungai atau sumur-sumur) di dalam kawasan pemilihan dilakukan untuk menentukan daerah tangkapan mana yang berfungsi sebagai sumber-sumber air minum yang khas. Penilaian menunjukkan kawasan-kawasan yang mengandung unsur-unsur HCV 4.1. yang luasnya berjumlah 17.542 ha. HCVF 4.2. Kawasan-kawasan hutan sebagai bagian daerah tangkapan air utama yang kritis/ penting Berdasarkan atas definisi untuk DAS UTAMA yang kritis (critical Major Catchments) oleh Depart-emen Kehutanan (Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah BRLKT 2003) dan perhitungan sejauh mana daerah tangkapan yang diteliti menyumbang terhadap daerah tangkapan utama (DAS utama), ditemukan bahwa kawasan yang diteliti menyumbang <10% terhadap DAS-DAS utama dan kawasan tidak mengandung unsur-unsur HCV 4.2. HCVF 4.3. Kawasan-kawasan hutan yang kritis untuk pengendalian erosi Kehilangan tanah tahunan diduga menggunakan peta raster dari erosivitas curah hujan, erodivitas tanah, panjang lereng dan kecuraman, serta penutupan getasi dan pengelolaan. Menggunakan batasan bagi laju kehilangan tanah 11 ton/ha/tahun distribusi awasan hutan dengan resiko erosi tinggi dihitung dan berjumlah 7.934 ha. Peta hasil identifikasi HCVF diperlihatkan di bawah.

42

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Kebutuhan dasar adalah persyaratan bagi suatu individu atau kelompok untuk bertahan secara ekonomi atau biopsikologi.*

Rencana pengelolaan untuk komponen sosial dari HCVF juga harus mencakup mekanisme penyelesaian konflik, antara lain kasus-kasus dimana beberapa anggota masyarakat percaya bahwa sumberdaya hutannya telah dirusak, dan untuk kasus-kasus dimana kawasan konservasi atau aturan-aturan yang disepakati bersama telah dilanggar. Hal ini harus mencakup : • Kesepakatan tentang perwakilan dari masyarakat dan perusahaan yang akan bertanggungjawab untuk menyelesaikan kasus konflik. Kesepakatan tentang prosedur kompensasi standar dan jumlah uang untuk tipe-tipe kerusakan yang mungkin terjadi (misalnya kerusakan pohon buah-buahan, pohon penghasil madu dan lainlain). Kesepakatan tentang mekanisme dan kewenangan arbitrase. Kesepakatan ini harus didokumentasikan secara tertulis oleh perwakilan dari kedua belah pihak. Perusahaan harus menyimpan catatan tertulis dari semua konflik dan langkah-langkah yang telah diambil untuk menyelesaikannya.

• •

*(FSC, 2001) Orang Dayak
Ancaman-ancaman terhadap sumberdaya hutan bagi masyarakat lokal mungkin bukan hanya berasal dari perusahaan penebangan, tetapi juga dari dalam masyarakat itu sendiri atau dari pemangku kepentingan lain. Akan sia-sia merancang suatu rencana konservasi dan pengelolaan tanpa memaduserasikan sudut pandang lainnya ini. Dengan demikian langkah-langkah berikut harus diambil : • Mengidentifikasi ancaman-ancaman lain terhadap sumberdaya hutan yang fundamental bagi penduduk, menggunakan hasil PKP. Bersama masyarakat melakukan konsultasi, mengidentifikasi para pemangku kepentingan yang terlibat secara langsung (mereka yang melakukan aktivitas yang mengancam) dan yang terlibat secara tidak langsung (mereka yang mengatur, mendanai atau mempengaruhi kegiatan-kegiatan tersebut). Hal ini dapat dilakukan segera setelah PKP sebagai suatu kelanjutan dari proses ini. Merancang strategi-strategi untuk mendekati para pemangku kepentingan ini dan mencapai kesepakatan yang mengarahkan pada pengurangan ancaman yang signifikan terhadap sumberdaya hutan. Memasukkan penilaian lanjutan terhadap kegiatan-kegiatan para pemangku kepentingan ini di dalam rencana pemantauan.

Aspek penting lain dari suatu rencana pengelolaan kolaborasi adalah mengidentifikasi kemungkinan konflik-konflik antara aspek ekologi dan sosial pada HCVF dengan cara mendiskusikannya dengan masyarakat. Jika perlu perusahaan dan masyarakat harus mengembangkan suatu strategi untuk menjamin partisipasi masyarakat di dalam konservasi aspek-aspek ekologi HCVF. Situasinya akan sulit jika nilai-nilai ekologi dan sosial secara langsung berlawanan, misal menyangkut perburuan satwa langka. Dalam kasus-kasus semacam itu, perusahaan harus memulai suatu program pendidikan lingkungan dan sosialisasi sebelum menegosiasikan suatu kesepakatan dengan masyarakat untuk memodifikasi kebiasaan-kebiasaannya. Bantuan dari luar, misalnya dari badan-badan penegak hukum, LSM atau institusi akademik mungkin diperlukan.

Dukungan Pemerintah Daerah
Tidaklah mungkin bagi suatu perusahaan pengusahaan hutan untuk mengelola seluruh HCVF di dalam suatu FMU tanpa dukungan dari Pemerintah Daerah. Peranan pemerintah daerah menjadi penting, antara lain untuk misal pemeliharaan hutan-hutan skala lansekap luas (HCV.2) dapat menjangkau jauh ke luar batasan wilayah yang dikelola oleh suatu perusahaan. Hal tersebut berarti bahwa strategi-strategi pengelolaan HCVF oleh perusahaan mungkin tidak dapat dilaksanakan tanpa dukungan

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

43

dari pejabat-pejabat yang mengelola hutan-hutan di sekitarnya. Pada kondisi seperti ini, suatu perusahaan HPH akan memerlukan dukungan dari pemerintah daerah dan/atau pemerintah pusat. Satu ciri menonjol dalam era transisi dan demokrasi di Indonesia saat ini adalah desentralisasi kewenangan pengelolaan lahan dari badan-badan pemerintahan pusat kepada pemerintah daerah atau propinsi. Sebagai hasil dari proses otonomi daerah atau otonomi regional banyak aspek dari undang-undang dan kebijakan kehutanan menjadi tidak jelas. Di dalam iklim ini, tidaklah mungkin membuat rekomendasi yang pasti tentang bagaimana para pengusaha pembalakan dapat bekerja secara kooperatif dengan pemerintah untuk mengelola HCVF, tetapi banyak terdapat pendekatan potensial. Di sini kami menyarankan beberapa contoh dan bagaimana suatu perusahaan dapat bekerjasama dengan pemerintah untuk mengelola HCVF dan/atau untuk menciptakan insentif-insentif finansial dan legal bagi perusahaan untuk melaksanakan praktek-praktek ini sendiri : • Negosiasi untuk mengurangi pajak atas penggunaan lahan. FMU di negara-negara lain (misalnya Bolivia) telah diberi pengecualian pembayaran pajak lahan bagi lahan-lahan yang disisihkan untuk konservasi. Ini mengurangi biaya ekonomi dari penyisihan untuk konservasi bagi suatu perusahaan, sehingga mendorong pembentukannya (Mason dan Putz 2001). Negosiasi tentang perpanjangan atau pembaruan sewa. FMU dengan suatu komitmen terhadap praktek-praktek kehutanan dan konservasi yang baik seharusnya berada pada posisi kuat untuk berargumentasi bagi perpanjangan hak pembalakan. Pengelolaan jangka panjang dan komitmen dari suatu perusahaan pengusahaan hutan diperlukan untuk menjamin keberhasilan strategi-strategi pengelolaan HCVF (Fimbel, Grajal dan Robinson 2001). Pemeliharaan kesatuan (integritas) FMU. Untuk konservasi banyak nilai (khususnya hutan skala lansekap, ekosistem langka dan pengawetan fungsi-fungsi ekosistem) akan penting bagi FMU untuk tetap menjadi blok-blok hutan yang utuh dan berkesinambungan. Memecah FMU ke dalam unit-unit yang lebih kecil yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan lain, atau pengeluaran beberapa bagian dan FMU untuk penggunaan lain (misalnya konversi rawa mangrove pesisir menjadi tambak-tambak atau pemberian ijin pembukaan hutan yang dikenal sebagai IPPK) akan memberi dampak negatif pada pengelolaan HCVF. Perusahaan pembalakan harus bernegosiasi untuk menjamin bahwa FMU tidak dipecah atau

dikurangi. Sebaliknya, perluasan FMU akan membantu dalam pengelolaan sebagian besar nilai-nilai konservasi. • Pendekatan (lobi) untuk memelihara penutupan lahan di sekitar FMU. Semaksimal mungkin, perencanaan penatagunaan regional dan propinsi harus dilakukan untuk meningkatkan pemeliharaan hutan utuh yang tersisa di sekitar FMU yang memiliki HCVF. Konversi kepada penggunaan lahan lain dari hutan-hutan yang berdekatan dengan FMU cenderung akan mengurangi HCVF di dalam suatu FMU karena kombinasi berbagai faktor, termasuk efek tepi, pengurangan pergerakan satwa akibat fragmentasi hutan dan peningkatan resiko kebakaran dan perburuan. HCV yang berasosiasi dengan hutan-hutan skala lansekap luas di dalam dan di luar suatu FMU secara khusus akan rentan. Perusahaanperusahaan pengusahaan hutan yang ingin memelihara nilai ini di dalam areal konsesinya harus mendorong kebijakan-kebijakan yang meningkatkan pemeliharaan penutupan hutan. Kontrol terhadap pembangunan infrastruktur dan migrasi penduduk ke dalam kawasan. Pembuatan jalan-jalan baru atau desa-desa di dalam suatu FMU akan meningkatkan laju perpindahan ke dalam kawasan dan dengan demikian meningkatkan tekanan terhadap hutan dan sumberdayanya. Peningkatan jumlah populasi akan mengakibatkan meningkat laju konversi hutan untuk pertanian, pengambilan kayu secara ilegal dan mungkin pertambangan, yang berdampak negatif pada HCV 1 sampai 6 . Dengan demikian perusahaan harus bernegosiasi dengan pemerintah daerah untuk membatasi pembangunan jalan-jalan baru di dalam FMU apabila jalan-jalan tersebut akan memberikan dampak negatif kepada HCV. Kebijakan-kebijakan yang mendukung migrasi ke dalam kawasan harus ditentang.

44

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Kotak 5. Ancaman dan strategi konservasi bagi HCV yang diidentifikasi di SLJ II

Nilai
HCV1 Konsentrasi keanekaragaman hayati

Ancaman
• Perburuan • Penangkapan ikan yang merusak • Pembangunan jalan • Penebangan and penyaradan

Tujuan Konservasi
• Melestarikan populasi jenisjenis yang langka, terancam punah, genting dan endemik. • Melestarikan keseluruhan keanekaragaman hayati tingkattingkat tinggi

Metode Konservasi
• Larang perburuan jenis spesifik • Larang pengambilan ikan yang merusak • RIL • Zona konservasi

Strategi Potensial
• Menegakkan larangan semua perburuan oleh staf SLJ. • Pendidikan lingkungan untuk mendorong masyarakat lokal tidak berburu jenis dilindungi. • Perbaikan teknik-teknik RIL dan penggunaan skyline untuk meminimumkan dampak lingkungan • Zona-zona konservasi representatif mencakup contoh-contoh dari semua ekosistem • Zona-zona konservasi yang dirancang dengan baik di sekeliling area-area hutan lindung. • Bekerja dengan mitra-mitra untuk menghasilkan rencana pengelolaan pada tingkat lanskap di hulu DAS Mahakam. Suatu rencana yang menjamin terjaganya penutupan alami hutan.

HCV2 Hutan skala Lansekap

• Deforestasi • Fragmentasi

• Melestarikan blok-blok skala besar hutan dipterocarpace dataran rendah (>50,000 ha) • Memelihara kebersambungan blok hutan SLJ dengan blok hutan besar lainnya

• Pembuatan jalan yang dikurangi • RIL • Zona konservasi • Melobi pemerintah untuk mencegah konversi hutan di sekitar konsesi • Mempertahankan konsesi sebagai sebuah FMU tunggal • RIL • Zona-zona konservasi • Melobi pemerintah untuk mencegah konversi hutan di sekitar konsesi

HCV3 ekosistem langka, terancam punah dan genting

• Deforestasi • Fragmentasi • Kegiatan pembalakan

• Melestarikan hutan dipterocarp dataran rendah • Melestarikan hutan dataran rendah.

• Perbaikan teknik RIL dan penggunaan skyline untuk meminimumkan dampak lingkungan • Zona-zona konservasi representatif mencakup contoh-contoh semua ekosistem

HCV4 Layanan dasar

• Pembuatan jalan • Deforestasi • Pembukaan lahan pertanian

• Mempertahankan nilai-nilai perlindungan DAS Boh

• RIL • Zona-zona konservasi

• Perbaikan teknik RIL dan penggunaan skyline untuk meminimumkan dampak lingkungan • Zona-zona konservasi yang baik di sekeliling area-area hutan lindung. • Terus berkonsultasi dengan desa • Pemetaan partisipatif pemanfaatan sumberdaya alam oleh masyarakat lokal • Penetapan zona-zona dan aturanaturan pemanfaatan sumberdaya alam secara partisipatif • Resolusi konflik

HCV5 Kebutuhan dasar masyarakat

• Eksploitasi berlebih • Deforestasi • Pengrusakan pohon-pohon kunci untuk buah-buahan dan madu

• Pasokan kebutuhan dasar yang berkelanjutan • Pasokan pendapatan yang berkelanjutan

• Zona-zona pemanfaatan desa • Pengakuan atas tanah ulen • Larang penebangan pohon-pohon buah-buahan, madu dan pohon penting lainnya • Zona-zona pemanfaatan desa • Pengakuan atas tanah ulen

HCV6 Identitas kebudayaan

• Eksploitasi berlebih • Deforestasi

• Terjaganya nilainilai budaya.

• Terus berkonsultasi dengan desa • Pemetaan partisipatif pemanfaatan sumberdaya alam oleh masyarakat lokal • Penetapan zona-zona dan aturanaturan pemanfaatan sumberdaya alam secara partisipatif.

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

45

46

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

apakah strategi pengelolaan yang sekarang berhasil?
Bagi para pengelola hutan yang ingin menilai apakah strategi pengelolaannya berhasil baik—atau, secara lebih spesifik, apakah nilai-nilai konservasi terpelihara atau meniingkat —dibutuhkan pelaksanaan suatu sistem pemantauan. Pemantauan atau monitoring adalah sebuah bagian kunci dari prinsip 9 FSC, sebagaimana dikodifikasi dalam Kriteria 9.4:
9.4 Pemantauan tahunan akan dilakukan untuk menilai efektivitas langkah-langkah yang diterapkan untuk memelihara atau meningkatkan sifat-sifat konservasi yang dapat diterapkan.

bagian 5

Apa itu pemantauan?
Semua rencana pengelolaan selalu memiliki sebuah program pemantauan. Pemantauan adalah sesuatu yang sering dibahas, tetapi secara umum pemantauan dilaksanakan secara buruk dan hasil-hasilnya jarang diintegrasikan ke dalam rencana masa depan (Kremen dkk. 1994). Dua penjelasan untuk hal ini adalah (i) suatu pemahaman yang dangkal tentang pentingannya pemantauan bagi pengelolaan hutan, dan (ii) kebingungan yang sesungguhnya tentang arti istilah ‘pemantauan’. Pemantauan mempunyai dua arti yang terpisah tetapi kompatibel: Pertama, pemantauan merujuk kepada pengamatan dan pendokumentasian kegiatan-kegiatan proyek: Apakah kegiatan-kegiatan yang dinyatakan dalam rencana kerja telah diselesaikan? Kedua, pemantauan merujuk kepada penilaian dampak dari kegiatankegiatan pengelolaan. Dengan menggabungkan kedua arti tersebut, pemantauan dapat dimengerti sebagai “Pengumpulan dan evaluasi data periodik relatif terhadap tujuan, sasaran dan kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan” (Margoluis dan Salafsky 1998). Pemantauan adalah sebuah kegiatan menyelidiki bagaimana keadaan-keadaan berubah dalam perjalanan waktu. Keadaan-keadaan dapat diramalkan berubah oleh sebab-sebab alamiah atau antropogenik (seperti suatu intervensi pengelolaan), atau keadaan-keadaan itu dapat diramalkan tetap stabil. Perbedaan kunci antara pemantauan dan sebuah survei adalah pemantauan dilakukan sejalan dengan waktu dan survey dilakukan sekali waktu. Jadi pemantauan memungkinkan kita untuk melihat watak perubahan temporal dari keadaan-keadaan, sementara sebuah survei sekedar menyediakan suatu potret-cepat dari keadaan-keadaan pada waktu tertentu.

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

47

Pemantauan seharusnya dilakukan untuk dua maksud utama; Pertama, untuk memperoleh lebih banyak informasi tentang keanekaragaman hayati yang ada dan kepentingannya bagi masyarakat sekitar. Kedua, untuk mengevaluasi efektivitas dari upaya-upaya konservasi perusahaan dalam mengidentifikasi daerah-daerah HCV. Tidaklah cukup pengelolaan hanya ditekankan pada pengkajian awal yang hanya menyediakan data awal yang digunakan tim untuk menentukan ada tidaknya HCV, dan kemudian secara kasar diestimasikan batas-batas dari daerah-daerah ini, yang kebanyakan didasarkan atas citra overflight digital 2004. Setelah selesainya survei yang lebih ekstensif, daerah-daerah HCV dapat dihilangkan atau ditambah, tetapi perusahaan tersebut harus memiliki alasan yang benar untuk keputusan-keputusannya. Dalam rangka mendemonstrasikan suatu transparansi tingkat tinggi, direkomendasikan bahwa sebuah pihak ketiga terlibat memantau keutuhan daerahdaerah HCV yang teridentifikasi. Paling tidak, staf konsesi harus memperlihatkan bahwa mereka melaksanakan suatu proses pemantauan tahunan yang sistematik. Proses pemantauan seharusnya terfokus pada keutuhan seluruh area hutan, dan paling baik dipantau melalui pengindraan jarak jauh, dan HCVHCV yang teridentifikasi. Dalam hampir semua kasus, pemantauan kemelimpahan jenis tidak disarankan karena sampling error hampir selalu besar, sebab membuat deteksi penurunan suatu populasi sangat sulit dilakukan dalam waktu pendek. Seringkali, lebih efektif memantau tingkat ancaman, seperti tingkat perburuan daripada spesies target yang sebenarnya dengan menggunakan asumsi bahwa jika tingkat ancaman dikurangi dan habitat tetap utuh, spesies yang diminati akan pulih.

Mengapa memantau?
Pemantauan adalah vital untuk menilai keberhasilan kegiatan pengelolaan. Tanpa pemantauan, tidak mungkin mengetahui apakah kegiatan-kegiatan memiliki hasil yang diinginkan. Pemantauan dapat menolong memperlihatkan kegiatan mana yang berhasil dan yang tidak (Kremen dkk. 1994). Pemantauan adalah suatu bagian integral dari daur program yang klasik dan esensial untuk pengelolaan adaptif. Pemantauan juga dapat memandu prioritas-prioritas penelitian. Misal. jika ada suatu pola yang menarik selama pemantauan, seperti suatu penurunan populasi yang mencolok dari satwa tertentu maka suatu penelitian dapat digagas untuk mencari tahu penyebabnya.

Apa yang dipantau?
Berikut ini beberapa faktor penting untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan suatu program pemantauan. Program-program pemantauan seharusnya: • • • • • Memiliki sasaran-sasaran yang jelas. Direncanakan sebelumnya dan melekat kepada rencana-rencana ini. Mengikuti metode-metode baku selama dan setiap periode pemantauan. Dilaksanakan secara teratur sesuai dengan jadwal yang tetap. Mencakup rencana rinci untuk analisis, interpretasi dan terintegrasi dalam kegiatankegiatan pengelolaan masa depan.

Pengelolaan adaptif adalah suatu proses sistematik untuk secara terus menerus meningkatkan praktek-prakeik pengelolaan lewat belajar terus menerus dari hasil kegiatan-kegiatan terdahulu, dan kemudian untuk memperbaiki praktekpraktek untuk masa depan. Pemantauan adalah suatu komponen sangat penting dari pengelolaan adaptif, karena pemantauan menyediakan suatu landasan untuk mengevaluasi hasil dari suatu praktek pengelolaan dan mengidentifikasi perubahanperubahan yang diperlukan untuk mencapai peningkatan masa depan. Bentuk pengelolaan yang paling efektif – yang diketahui sebagai pengelolaan adaptif “aktif ” – yaitu menyiapkan program-program kegiatan dan pemantauan sesuai dengan suatu rancangan eksperimen bagi pengelola untuk belajar lebih banyak tentang sistem yang dikelola dan untuk mengevaluasi praktek pengelolaan mana yang paling efektif. Pemantauan kekayaan, kesehatan dan faktor-faktor sosial-ekonomis lainnya dibutuhkan untuk menentukan keberhasilan dari penyuluhan pertanian dan pembangunan ekonomi dan program-program sosial. Pemantauan ekologis diperlukan untuk melacak keadaan ekosistem-ekosistem Orang Dayak

48

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Untuk membantu meningkatkan pelaksanaan program-program pemantauan, program-program tersebut seharusnya: • • • Sederhana tetapi tegas. Memberikan aturan yang jelas untuk menetapkan kapan harus berhenti. Efektif biaya.

• • • •

Mudah untuk diidentifikasi dan dicatat oleh semua pengamat. Mudah untuk diambil sampelnya secara kuantitatif atau kualitatif oleh semua pengamat. Tersebar luas di seluruh daerah yang dipantau. Rendah dalam keragaman temporal dan spasial yang disebabkan oleh faktor-faktor selain dari yang diperhatikan oleh kegiatan pengelolaan. Menarik. Pemantauan adalah pekerjaan berat; indikator yang menarik akan membantu memelihara minat pada pengumpul data.

Untuk mencapai tujuan-tujuan ini, kebanyakan program pemantauan bergantung kepada indikatorindikator yang mampu mewakili keadaan-keadaan yang dipantau yang seringkali kompleks. Indikator yang ideal seharusnya:

Tabel 3 menampilkan suatu tinjauan atas HCV yang membutuhkan pemantauan.

Tabel 3. Apa yang dipantau dalam sebuah konsesi pembalakan

HCV Kawasan yang dilindungi

Pemantauan yang disarankan Setiap kawasan lindung atau hutan lindung baru di dalam atau di luar daerah konsesi harus didaftarkan sebagai HCVF. Perusahaan harus menggunakan teknik-teknik penginderaan jauh untuk memantau setiap pembalakan liar dari daerah-daerah ini. Data spesies harus dipegang dengan tujuan spesifik untuk mendata spesies-spesies yang terancam, langka, endemik dan spesies payung. Kehadiran spesies tersebut di daerah tertentu seharusnya membuat daerah tersebut dikelompokkan menjadi HCV. Juga dampak dari kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pembalakan terhadap populasi satwaliar seharusnya dipantau, termasuk dampak perburuan. Informasi tentang perubahan-perubahan temporal dan spasial dari populasi satwaliar harus dikumpulkan, secara spesifik untuk memantau dampak pemanfaatan hutan atau untuk mendeteksi pemanfaatan temporal yang kritis. Pemantauan berskala besar sangat penting dilakukan atas posisi fungsional dari sebuah konsesi tertentu dalam hubungan dengan wilayah-wilayah hutan lainnya. Contohnya, sebuah konsesi mungkin menyediakan suatu koridor antara dua lanskap hutan yang lebih besar. Pemutakhiran data tahunan dibutuhkan untuk memantau dampak pemanfaatan hutan terhadap keadaan hutan keseluruhan. Pemantauan perubahan kebutuhan-kebutuhan masyarakat akan air. Semua titik-panas kebakaran seharusnya didata, dan jika memungkinkan juga penyebab langsung kebakaran (pembakaran pertanian, pembersihan lahan dengan api dari daerah-daerah tetangga dsb.) Survei-survei sosial yang teratur harus menentukan apakah terjadi perubahan ketergantungan masyarakat akan hutan.

Spesies

Penggunaan temporal yang kritis

Hutan level lanskap dan koridor hutan

Keadaan hutan Pemanfaatan air Kebakaran

Basic needs of communities

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

49

Data-dasar (Baselines)
Pemantauan memiliki sesuatu yang khas yaitu bahwa catatan hasil pemantauan untuk diperbandingkan dengan suatu set data dasar. Data dasar adalah suatu “potret sesaat sebuah lokasi sebelum atau pada tahap awal dari sebuah kegiatan” (Russel dan Hasselbarger 1998). Banyak metode dipakai untuk mengumpulkan data dasar. Tidak perlu menggunakan metodemetode pengumpulan data yang sama untuk data dasar dan pemantauan. Biasanya jauh lebih banyak data dikumpulkan pada data dasar dibandingkan dengan yang kemudian dipakai dalam pemantauan. Kunci untuk pemantauan adalah memastikan bahwa protokol pemantauan adalah kompatibel dengan data dasar agar dapat diperbandingkan. Contoh-contoh alat yang digunakan dalam data dasar untuk isu-isu sosial ekonomi adalah RRA (Rapid Rural Appraisal), PRA (Participatory Rural Appraisal) dan kuesioner formal. Dalam pemantauan ekologis, data dasar dapat ditentukan dari, antara lain, survei populasi, penginderaan jauh dan plot permanen.

(i) Penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis
Penginderaan jauh menggunakan citra satelit atau foto udara untuk memeriksa perubahan-perubahan vegetasi dan penutupan lahan. Ada beberapa jenis citra satelit, tetapi mungkin yang paling berguna dalam pemantauan hutan adalah citra LandSat 7. Citra ini mudah diperoleh dan relatif tidak mahal. Beberapa citra (disebut sebagai scenes) dari suatu daerah tersedia setiap tahun dan dapat dibeli dari situs web NASA (http://geo.arc.nasa.gov/sge/landsat/landsat. html). Citra-citra satelit secara khusus meliputi suatu wilayah yang luas—contohnya, sebuah citra LandSat 7 yang baku menampilkan 3.536.235 ha. Ini membuat citra LandSat 7 sangat berguna untuk pemantauan pada skala spasial yang luas, seperti seluruh wilayah sebuah FMU dan lansekap di sekelilingnya, tetapi terbatas untuk digunakan dalam memeriksa perubahan-perubahan pada suatu skala lokal, misalnya 10100 ha. Jadi, analisis citra LandSat 7dapat menjadi alat yang berguna untuk pemantauan HCV 2 dan 3—Hutan-hutan pada tingkat lansekap dan keadaan ekosistem-ekosistem yang langka atau terancam. Alat-alat esensial yang dibutuhkan untuk melakukan jenis analisis ini adalah suatu program komputer SIG, dan seorang operator yang trampil. Dari berbagai program SIG mungkin yang paling berguna dan banyak digunakan adalah program-program ARCVIEW dan ARCGIS produksi ESRI. Program-program ini dapat digunakan untuk melihat citra-citra satelit dan melakukan jenis-jenis analisis seperti di bahas di bawah ini. Sebuah program pemantauan yang ideal seharusnya menyediakan citra-citra LandSat 7 tahunan yang meliputi seluruh wilayah FMU dan sekitarnya. Citra-citra dapat diperbandingkan untuk memeriksa: • • • Apakah ada pembukaan hutan di sekeliling FMU yang mungkin memengaruhi HCV2. Apakah jalan-jalan dan jalan sarad dibangun dalam konsesi sesuai dengan rencana. Apakah ada pembukaan hutan oleh masyarakat lokal atau pendatang di luar daerah-daerah yang sudah disepakati sebelumnya. Jarak kebakaran-kebakaran yang tak terkendali (wildfires) dari FMU untuk menentukan risiko kebakaran pada masa depan. Apakah aturan-aturan pembatasan pembangunan infrastruktur di wilayah konservasi yang telah disisihkan telah dipatuhi.

Bagaimana memantau HCVF
Pemantauan dampak kegiatan pengelolaan terhadap HCVF (Gambar 6) merupakan bidang yang belum teruji. Sampai saat ini, belum ada standar untuk tingkat-tingkat gangguan yang dapat diterima atau indikator-indikator yang cocok untuk berbagai keadaan ekologis yang menarik. Sejak 1980-an, telah cukup banyak penelitian tentang dampak pembalakan terhadap satwaliar (Fimbel, Grajal dan Robinson eds. 2001; untuk tinjauan keadaan di Borneo, lihat Meijaard dkk. 2005), tetapi dalam kebanyakan kasus hasil-hasilnya tidak konklusif atau tidak mencukupi untuk memandu perancangan program-program pemantauan. Dengan tidak adanya informasi yang tepat, hanya panduan kasar yang dapat diberikan untuk tipe-tipe kegiatan pemantauan yang seharusnya digunakan.

Pemantauan Ekologis
Metode-metode yang disarankan untuk pengumpulan data, dan jenis data yang dapat dikumpulkan, untuk melaksanakan pemantauan ekologis mencakup: (i) penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG); (ii) plot vegetasi permanen; (iii) transek satwaliar; (iv) spesies indikator; dan (v) erosi tanah dan kualitas air.

50

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Situs-situs http://www.crisp.nus.edu.sq/ dan http:// www.haze-online.or.id/ menyediakan informasi dan peta-peta mutakhir tentang titik-titik panas kebakaran di Indonesia. Selama musim kemarau, terutama selama kemarau panjang yang berkaitan dengan kejadian-kejadian ENSO, situs ini seharusnya dikonsultasikan untuk menetapkan apakah kebakaran terjadi dalam atau dekat dengan (kurang dari 10 km) dari FMU. Selain untuk analisis citra satelit, SIG dapat digunakan pada skala yang lebih lokal untuk mendukung program-program monitoring. Dengan perluasan-perluasan seperti ‘analisis jaringan’ dan ‘analisis spasial’, ARCVIEW dapat digunakan untuk menduga pengubah-pengubah seperti intensitas pemanenan (jumlah pohon yang ditebang per hektar) dan kerapatan jalan. Pada gilirannya, informasi ini dapat digunakan dalam kombinasi dengan data dari plot sampel permanen dan transek-transek satwaliar (lihat di bawah) untuk menyelidiki kaitan-kaitan antara intensitas pemanenan dan temuan satwa liar, atau regenerasi hutan.

(ii) Plot Vegetasi Permanen
Tantangan utama untuk memantau perubahan-perubahan keanekaragaman hayati dalam ekosistem hutan di seluruh dunia adalah sangat lambatnya dinamika populasi tumbuhan. Masalah ini selanjutnya semakin rumit di Kalimantan, di mana reproduksi banyak jenis pohon terkait dengan kejadian ENSO yang terjadi pada daur supra-tahunan 3-7 tahun. Terkait dengan kenyataan ini, maka untuk memperoleh data untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tertentu tentang konservasi keanekaragaman hayati tumbuhan, seperti apakah populasi jenis tertentu sedang menurun, membutuhkan pemantauan selama puluhan tahun. Meski demikian, untuk menjawab pertanyaan lain, seperti bagaimana pembalakan mempengaruhi regenerasi benih dari spesies target, mungkin membutuhkan periode pemantauan yang lebih pendek apabila rancangan samplingnya kuat. Karena itu, para pengelola harus berpikir dengan hati-hati tentang (i) pertanyaan-pertanyaan mana yang paling penting untuk dijawab; (ii) apakah pertanyaan-pertanyaan ini akan membutuhkan sampling berjangka waktu pendek, menengah atau panjang sebelum dapat dijawab; dan (iii) menyusun sebuah sistem pemantauan yang efisien, kuat secara ilmiah dan menyediakan data yang memadai untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Plot sampel permanen (PSP) untuk memantau pertumbuhan dan kematian pohon terdapat di semua FMU di Kalimantan Timur sebagaimana disyaratkan oleh hukum kehutanan Indonesia. Meskipun demiki-

an, plot-plot ini jarang dimanfaatkan potensinya secara penuh, walaupun demikian merupakan titik awal yang bagus untuk membangun suatu sistem pemantauan vegetasi yang komprehensif. Jaringan antar PSP yang dirancang dan dipantau dengan baik dapat memberikan informasi yang sangat berharga tentang dampak berbagai strategi pengelolaan. PSP dapat memberikan informasi pada level-level keanekaragaman (HCV1) dan data tentang regenerasi hutan sesudah pembalakan (HCV 1-4). PSP tidak perlu mahal dalam pembangunannya atau membuang banyak waktu dalam pemantauannya. Dalam kenyataannya, untuk beberapa maksud, seperti pemantauan perubahan dalam kekayaan jenis pohon berkanopi besar, tidak perlu mengukur-kembali plot-plot setiap tahun. Meskipun demikian, yang penting adalah bahwa (i) plot-plot dibangun secara hati-hati dan mencakup jumlah plot kontrol yang memadai; (ii) lokasi dan jumlah plot memungkinkan pengelola menarik kesimpulan-kesimpulan yang kokoh yang dapat digeneralisasikan kepada keseluruhan FMU; dan (iii) data dianalisa secara benar dan berguna sehingga hasilhasilnya dapat diterapkan pada pengelolaan. Dewasa ini, sedikit perusahaan yang memiliki staf yang mampu menciptakan dan menganalisa PSP dengan baik. Jadi, mungkin perlu menggunakan tenaga ahli luar dari LSM atau universitas untuk menolong menyiapkan plot-plot awal dan melatih staf perusahaan. Jenis-jenis pemantauan yang dapat dilaksanakan dengan menggunakan PSP: • Plot-plot dalam kawasan-kawasan yang disisihkan untuk konservasi dan koridor-koridor konservasi yang diukur-kembali setiap 2-4 tahun dapat digunakan untuk menetapkan apakah daerah konservasi tersebut betul-betul memelihara keanekaragaman tumbuhan dan mengkonservasi ekosistem (HCV1 dan 3). Di area produksi, plot-plot yang dibangun sebelum pembalakan dapat digunakan untuk membandingkan keanekaragaman dan tingkat-tingkat kerusakan cabang yang disebabkan oleh penebangan sebelum dan sesudah pembalakan. Pengukuran berulang pada plot-plot setelah pemanenan (yaitu 1, 3, dan 5 tahun dan selanjutnya selang 5 tahunan), dapat memperlihatkan laju regenerasi hutan, pertumbuhan pohon dan apakah keanekaragaman terpelihara di area produksi. Suatu seri plot dalam berbagai rezim pengelolaan atau tipe hutan dapat digunakan untuk memperlihatkan dampak kegiatan ini terhadap keanekaragaman dan regenerasi. Sebagai contoh, plot-plot seharusnya diciptakan pada semua tipe hutan yang diambil kayunya dengan menggunak-

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

51

an berbagai metode (contohnya penebangan dan ekstraksi konvensional, ekstraksi ‘skyline’, teknik RIL) untuk membandingkan pengaruh-pengaruh dari berbagai metode tersebut terhadap keanekaragaman dan gangguan kepada struktur hutan. Tujuan-tujuan lain dari pemantauan keanekaragaman hayati tumbuhan mungkin tidak dapat sepenuhnya dilayani oleh suatu jaringan besar PSP, bagaimana pun bagusnya rancangan jaringan tersebut, dan karena itu membutuhkan metode-metode alternatif. Sebagai contoh, misalnya satu jenis tumbuhan langka dan terancam teridentifikasi dalam FMU (Misalnya Aquilaria malaccensis) dan pengelolaannya menjadi suatu tujuan dari pengelolaan HCVF. Jenis langka, menurut definisinya, terdapat dalam kerapatan rendah dan karenanya, kemungkinan besar hanya terdapat beberapa individual dalam PSP. Pengelolaan dan pemantauan populasi jenis seperti ini dapat dicapai lebih baik melalui kombinasi pemantauan (i) reproduksi pohon-pohon dewasa yang ditandai secara permanen yang ditemukan lewat survei transek; (ii) Pola pertumbuhan dan ketahanan hidup dari kekuatan regenerasi saat ini; (iii) studi-studi ekologis yang bertujuan pada penetapan syarat-syarat regenerasi jenis tersebut dan kontrol-kontrol lain pada ukuran populasinya. Sebagaimana disebutkan di atas, informasi yang diperoleh dari PSP-PSP atau plot-plot vegetasi lain dapat digabung dengan data SIG lain, seperti intensitas panen, untuk menyelidiki dampak-dampak pembalakan yang lebih luas.

Transek-transek pada kawasan-kawasan yang disisihkan untuk konservasi dan koridor-koridor yang disurvei setiap 3-5 tahun sekali dapat digunakan untuk menemukan apakah areaarea tersebut dalam kenyataannya efektif dalam memelihara keanekaragaman hayati dan mengkonservasi ekosistem-ekosistem langka (HCV1 dan 3). Survei harus dilakukan pada musim yang sama ketika setiap kali survei diulangi. Musimmusim yang berbeda dapat menghasilkan dampak yang besar terhadap populasi beberapa jenis satwa. Survei pada musim kering akan lebih nyaman bagi pengamat dan satwa-satwa cenderung akan lebih aktif pada musim kering (Fimbel, Bennet dan Kremen 2001). Di Kalimantan, di mana keragaman dalam—dan terutama antar—tahun dalam ketersediaan buah tinggi, sangatlah penting untuk mempertimbangkan “faktor waktu” ketika melaksanakan dan menafsirkan data transek hidupan liar. Transek-transek yang dibuat sebelum pembalakan dapat digunakan sebagai tolak ukur keragaman satwa sebelum pembalakan. Transek-transek yang disurvei ulang segera sesudah pembalakan memperlihatkan tingkat penurunan jangka pendek dan memungkinkan penilaian apakah penurunan ini dalam batas-batas yang dapat diterima. Survei-kembali transek-transek sesudah pembalakan secara sering (misalnya sesudah 1, 3, 5 tahun dan setiap 5 tahun sesudahnya), dapat memperlihatkan apakah satwa-satwa kembali ke hutan yang sudah ditebang, dan apakah keanekaragaman atau hutan-hutan berlevel lansekap terpelihara. Suatu seri transek di hutan-hutan yang berbeda dengan berbagai rezim pengelolaan atau tipe hutan dapat digunakan untuk memperlihatkan dampak kegiatan-kegiatan ini terhadap keanekaragaman. Sebagai contoh, transek-transek harus dibuat di semua tipe hutan yang diambil kayunya dan di daerah-daerah di mana metode-metode ‘skyline’ atau RIL digunakan. Transek-transek yang dekat dan jauh dari desadesa dapat menolong keberhasilan setiap program untuk mengendalikan perburuan satwa liar. Penggunaan temporal bagian-bagian tertentu dari konsesi harus dipantau. Jenis-jenis tertentu mengumpul di daerah tertentu untuk mencari makan dan berbiak. Sebagai contoh, seluruh populasi kupu-kupu monarch (Danaus plexippus) di AS melewati musim dingin hanya pada areal seluas 1.000 ha di Meksiko. Jika daerah seperti itu ditemukan dalam sebuah konsesi adalah penting

(iii) Transek hidupan liar
Transek hidupan liar adalah jalur-jalur panjang dalam hutan yang disurvei dengan cara yang baku untuk mengamati hidupan liar atau bukti keberadaan hidupan liar (seperti jejak, kotoran, sarang, suara dan sebagainya). Terdapat berbagai metode transek, dan banyak data dapat diperoleh dari metode-metode ini, tetapi harus ditekankan bahwa kecil kemungkinannya untuk membuat dugaan populasi absolut dengan ketepatan tingkat tinggi. Dalam hal PSP, pembuatan dan analisis transek hidupan liar adalah relatif kompleks (Rabinowitz 1992), sehingga bantuan dari luar mungkin dibutuhkan juga pada tahap awal pelaksanaan dan analisis dari kegiatan pemantauan. Jenis pemantauan yang dapat dilakukan dengan menggunakan metode-metode transek, dan pertanyaan-pertanyaan yang dapat dihadapi, mencakup: •

jejak Kucing Batu
52

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

untuk memantau jumlah satwa dan menyelidiki pengaruh-pengaruh potensial dari pemanfaatan hutan terhadap keberlangsungan hidup jenis tersebut. Ini juga dapat mencakup jenis seperti Babi Berjanggut (Sus barbatus) yang menggunakan area tertentu selama bermigrasi.

(iv) Road counts (survey temuan)
Survei temuan di konsesi pembalakan dapat menetapkan tingkat perjumpaan relatif dari suatu spesies di bagian-bagian tertentu konsesi. Jika dilakukan secara konsisten dan sistematis survei-survei tersebut juga dapat memberikan petunjuk mengenai perubahan-perubahan temporal populasi satwa. Sebagai contoh, survei-survei tersebut dapat memberikan petunjuk bahwa jenis tertentu menjadi langka di area-area yang sedang dibalak, tetapi kembali sesudah pembalakan. Juga, survei-survei tersebut secara potensial dapat mendeteksi perubahan-perubahan besar dalam tingkat perjumpaan untuk jenis tertentu, sebagai contoh, jika tekanan perburuan terhadap jenis tersebut telah meningkat dengan nyata. Road counts seperti itu tidaklah cocok untuk menetapkan kerapatan jenis absolut. TNC telah mengembangkan sebuah metodologi ‘road count’ yang sederhana untuk mamalia di mana para supir konsesi mencatat semua jenis mamalia yang mudah diidentifikasi pada perjalanan seminggu sekali melintasi konsesi. Dengan menggunakan gambar-gambar dari jenis-jenis yang paling banyak dijumpai, para supir dapat mencatat di mana dan kapan jenis-jenis tersebut terlihat, berapa banyak, dan apakah satwa tersebut muda. Selanjutnya, data ini dimasukkan ke suatu SIG untuk analisis spasial dan temporal.

itu bergantung kepada suatu aspek ekologis tertentu dari hutan. Jadi suatu perubahan kerapatan untuk spesies indikator ini secara tak langsung berarti suatu perubahan dalam sebuah pengubah ekologis tertentu, yang mungkin sedikit relevansinya dengan aspek-aspek lain dari ekologi hutan. Kemungkinannya adalah ‘indikator-indikator’ ini tidak dapat memprediksikan kesehatan hutan dengan baik. Perusahaan-perusahaan pengusahaan hutan, akademisi dan peneliti perlu bekerja sama untuk menguji lebih lanjut asumsi-asumsi tentang indikator-indikator potensial ini. Di bawah adalah beberapa spesies vertebrata yang peka terhadap pengaruh-pengaruh pemanenan kayu dan mungkin berpotensi untuk digunakan sebagai indikator kesehatan hutan (untuk informasi lanjut mengenai spesies indikator lihat Meijaard dkk. 2005). • Burung-burung frugivora dan insektivora terestrial. Beberapa survei telah menyarankan bahwa burung-burung yang hidup di tanah yang memakan biji-bijian, buah dan/atau serangga memperlihatkan penurunan yang jelas sesudah pembalakan (survei-survei dikutip dalam Zakaria dan Francis 2001). Penurunan-penurunan itu bisa sangat kuat bagi spesies khusus pemakan

(v) Spesies indikator potensial
Indikator-indikator seringkali merupakan bagian penting dari program-program pemantauan (Kremen 1992, tetapi lihat Meijaard dkk. 2005). Tetapi penggunaannya dalam pemantauan dampak kegiatan-kegiatan pembalakan di Kalimantan Timur belum teruji. Beberapa spesies, atau kelompok spesies telah disarankan sebagai indikator-indikator yang mungkin, tetapi masih banyak pertimbangan harus dilakukan untuk menilai apakah spesies-spesies tersebut cocok sebagai indikator-indikator ekologis. Salah satu masalah potensial yang berkaitan dengan pertimbangan tentang spesies indikator adalah bahwa spesiesspesies ini dipilih karena mereka memiliki kepekaan yang tinggi terhadap proses-proses dalam pemanenan kayu. Penelitian yang dilakukan oleh Meijaard dkk. (2005) menunjukkan bahwa spesies-spesies ini cenderung bersifat spesialis ekologis dan karena

Pelatuk Tundang (Reinwardtipicus validus)

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

53

tipe-tipe makanan tersebut. Di Kalimantan Timur, contoh-contoh dari burung seperti itu mencakup kelompok kuau dan merak, puyuh-puyuhan, beberapa burung pelanduk (babblers) dan berencet (wren-babblers). Suatu kelemahan potensial dalam penggunaan spesies-spesies tersebut sebagai indikator adalah tingginya ketrampilan yang dibutuhkan oleh pengamat untuk mencari dan mengidentifikasi spesies yang relevan, dan untuk menetapkan kerapatan spesies-spesies tersebut secara terpercaya. • Burung-burung yang mencari makan di kulit batang pohon (Bark gleaning). Burung-burung ini mencari dan memakan serangga yang hidup dalam atau di balik kulit batang pohon. Di Kalimantan Timur, pelatuk adalah contoh utama dari kelompok burung ini. Banyak survei telah memperlihatkan bahwa kelompok burung ini menurun kemelimpahan relatifnya sesudah pembalakan, walaupun beberapa spesies memperlihatkan adanya keuntungan dari pembalakan (lihat Lammertink 2004; Styring dan Hussin 2004). Walaupun hanya ada informasi terbatas tentang keberlanjutan spesies pelatuk sebagai indikator di Kalimantan Timur, namun terdapat dua spesies calon untuk indikator yaitu Reinwardtipicus validus dan Mulleripicus pulverulentus, karena kedua jenis ini tampaknya peka terhadap pembalakan dan relatif mudah dilihat dan diidentifikasi. Owa. Di Kalimantan Timur terdapat satu jenis owa, yakni Owa Kalawat (Hylobates muelleri). Owa ini terkenal dan memiliki suara yang akrab yang mudah diidentifikasi dan mudah disurvei. Ada teknik baku yang relatif sederhana untuk menentukan kerapatan populasi owa di area hutan. Semua faktor ini menunjukkan bahwa owa mungkin dapat berfungsi sebagai indikator yang baik dari gangguan terhadap hutan. Meski demikian, hanya terdapat sedikit kesinambungan di antara survei-survei yang meneliti dampak pembalakan terhadap populasi owa (Plumptre dan Grieser Johns 2001; Meijaard dkk. 2005). Owa dapat bertahan dalam hutan yang terganggu berat (walaupun pada kerapatan yang berkurang) di mana banyak spesies lain telah punah, oleh karena itu owa mungkin tidak cocok sebagai indikator dari keanekaragaman hayati keseluruhan. Serangga. Beberapa kelompok serangga, terutama kupu-kupu (Polard 1977), telah dimungkinkan untuk diusulkan sebagai indikator. Kelompok ini mudah dilihat dan relatif mudah untuk dipantau bagi pengamat tanpa ketrampilan. Di Kalimantan Timur beberapa studi telah dilakukan untuk menguji apakah serangga dapat dipakai sebagai

indikator keanekaragaman hayati dan/atau mutu ekosistem (Cleary 2003; 2004; Cleary dan Genner 2004; Cleary dan Mooers 2004).

(vi) Pengkajian berbasis jalan atas tekanan perburuan dan kerapatan hidupan liar umum
Di banyak tempat di tropika basah, perburuan memberikan ancaman yang lebih besar terhadap fauna hutan besar daripada pemanenan kayu (contohnya, Wilkie & Carpenter 1999; Auzel & Wilkie 2000; Robinson & Bennet 2000; Bennet dkk. 2002; Mathews & Mathews 2002; Linkie dkk. 2003; Walsh dkk. 2003). Kadang-kadang perburuan, walautidak selalu, merupakan suatu ancaman yang lebih besar terhadap hidupan liar daripada hilangnya habitat (Bennet dkk. 2002, untuk area yang kurang terpengaruh lihat Robertson & van Schaik 2001; Kinnaird dkk. 2003: Hedges dkk. dalam tinjauan). Banyak vertebrata yang lebih besar di Kalimantan dan beberapa spesies target spesifik seperti penyu, buaya, dan burung tertentu telah diburu sampai sudah bisa dianggap punah (Bennet dkk. 1997, 1999; Robinson dkk. 1999; Bennet & Robinson 2000). Perburuan yang berlebihan menyebabkan perubahan-perubahan dalam kerapatan populasi, distribusi, dan demografi hidupan liar yang kemudian dapat menyebabkan perubahan-perubahan dalam penyebaran biji, pencarian makan, kompetisi, predasi, dan dinamika-dinamika lain pada tingkat komunitas. TNC sedang mengembangkan teknik penilaian yang sederhana untuk menetapkan kerapatan hidupan liar umum di konsesi kayu, yang akan memberikan beberapa indikasi mengenai tekanan perburuan di bagian-bagian tertentu konsesi.

(vii) Erosi dan mutu air
Salah satu tujuan terpenting dari pemantauan lingkungan dalam HCVF adalah menghitung -kuantitas tingkat erosi tanah dan perubahan-perubahan mutu air yang dihasilkan dari berbagai kegiatan pengelolaan hutan. Metoda-metoda baku dan sederhana telah dikembangkan untuk mengukur erosi dan mutu dan kuantitas air (Hartanto dkk. 2003; Douglas dkk. 1992; Chunkao 1978). Metode-metode yang digunakan oleh perusahaan pengusahaan hutan di Kalimantan Timur mencakup pengukuran level air pada titiktitik sampling permanen di sepanjang sungai untuk menghitung debit air, area tangkapan endapan, dan pengumpulan contoh air untuk mengukur beban dan kimia sedimen. Salah satu kunci untuk pengumpulan dan penggunaan informasi ini, terutama dalam kaitan dengan pemeliharaan HCV4, adalah bahwa koleksi sampel haruslah dibakukan dan analisis sampel harus diselesaikan sesuai dengan waktunya (lihat di

54

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Ecological monitoring
Kotak 5. Contoh lembar identifikasi spesies yang digunakan oleh para supir dalam SLJ II

(dari Payne dkk. 1985; diadaptasi oleh Graham Usher; dengan ijin dari Karen Phillips).

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

55

bawah). Mengumpulkan data tanpa menggunakannya hanyalah memboroskan waktu dan uang, tidak memberikan manfaat kepada pengelola hutan dan akhirnya menghancurkan moral staf yang bertugas dalam pemantauan. Kunci kedua, yang jarang diperhatikan, untuk pemantauan air dan erosi adalah penyusunan spasial, replikasi dan penetapan waktu pengumpulan sampel harus memadai untuk menilai apakah kegiatan pengelolaan, dalam kenyataannya, memberikan dampak terhadap parameter-parameter ini. Pemantauan mutu air sungai yang tidak terjadi pembalakan di hulunya tidak memberikan suatu jawaban kepada pertanyaan bagaimana kegiatan pem-

balakan mempengaruhi sedimentasi di hilir. Demikian pula, pemantauan erosi tanah pada lereng yang landai, sementara pembalakan terjadi di lereng-lereng yang lebih curam, akan memberikan hasil besaran erosi yang disebabkan oleh pembalakan yang lebih rendah dari sebenarnya. Untuk itu, mungkin perlu bagi pengelola untuk memanggil bantuan dari luar untuk menyiapkan dan melaksanakan program-program pemantauan air dan erosi yang memiliki efektivitas biaya tinggi dan memberikan informasi yang dapat secara nyata, digunakan untuk menginformasikan perubahan-perubahan pengelolaan.

Rencana Pemantauan Partisipatif
Perusahaan harus mengembangkan dan melaksanakan suatu rencana pemantauan partisipatif untuk melayani HCV 5 dan 6. Pengelola-pengelola hutan seharusnya juga mempertimbangkan pemantauan berbasis wawancara atas HCV 1-3, untuk mengumpulkan persepsi lokal terhadap perubahan-perubahan ekologis. Rencana ini harus mencakup langkahlangkah berikut: • Definisi dari parameter-parameter yang dipantau untuk setiap sistem dan indikator-indikatornya. Ini harus dilaksanakan berdasarkan atas hasil-hasil PKP. Konsultasi-konsultasi tambahan dengan anggota masyarakat, akademisi atau LSM relevan dapat menolong perusahaan menetapkan indikator-indikator yang diterima. Setiap indikator harus terpercaya dan sederhana untuk diukur oleh anggota masyarakat. Untuk setiap indikator, dikembangkan protokol sederhana untuk pengukuran pada selang waktu yang ditentukan dan periode waktu yang memadai bagi indikator yang bersangkutan, dengan mempertimbangkan variasi musim alamiah. Metode tersebut harus sederhana, mudah dilaksanakan dan secara konsisten diterapkan oleh semua pengamat. Bahas metode pengumpulan data yang diusulkan dengan para anggota ,masyarakat untuk mengesahkan kelayakannya. Dalam berkonsultasi dengan masyarakat, pilih seseorang atau satu kelompok kecil untuk memimpin kegiatan pemantauan. Pemimpin-pemimpin kelompok pemuda sering merupakan calon yang baik. Pemantauan bahkan dapat menjadi bagian dari sebuah program sekolah. Tindak-lanjuti survei-survei awal pada selang yang teratur dan memadai. Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia • Putuskan sebuah metode untuk menjamin umpan-balik dari hasil-hasil kepada masyarakat. Suatu pertemuan tahunan adalah gagasan yang baik. Tulis laporan dan sampaikan hasil-hasil ini kepada pengelola perusahaan.

Komponen terakhir dari suatu program pemantauan sosial adalah mengembangkan metode-metode untuk menggunakan informasi untuk menyesuaikan strategi-strategi masa depan. Pertemuan-pertemuan konsultatif seharusnya dilakukan sekali dalam setahun dengan masyarakat untuk: • • • • Mempresentasikan dan mendiskusikan hasil-hasil pemantauan partisipatif (lihat di atas) Mengevaluasi pelaksanaan strategi-strategi konservasi Mengevaluasi mekanisme-mekanisme resolusi konflik Memutuskan perubahan-perubahan yang mungkin dibutuhkan.

• •

56

Bagaimana menggunakan hasil-hasil pemantauan
Melaksanakan pemantauan ekologis atau sosial tanpa menganalisa atau menggunakan data merupakan pemborosan waktu, uang dan tenaga. Sebaliknya, menggunakan hasil-hasil pemantauan untuk menetapkan keefektifan strategi pengelolaan dapat meningkatkan efisiensi dan kinerja. Menggunakan hasil-hasil pemantauan untuk mengubah strategistrategi pengelolaan yang memiliki kelemahan, atau untuk meneruskan yang berhasil adalah inti dari pengelolaan adaptif (Salafsky, Margoluis dan Redford 2001). Pengelolaan adaptif mengikuti suatu daur mengembangkan strategi, melaksanakannya, memantau hasil-hasilnya dan kemudian mengubah strategi-strategi pengelolaan untuk meningkatkan efektifitas (Gambar 4).
Gambar 4. Skema pengelolaan adaptif

Contoh-contoh di mana hasil-hasil pemantauan dapat digunakan untuk mengubah pengelolaan dapat mencakup: • Pencitraan satelit yang memperlihatkan bahwa kawasan-kawasan di sekitar dan di dalam FMU sedang dibuka. Perusahaan mungkin harus mengubah strategi hubungan dengan pemerintah agar dapat memberikan pengaruh yang lebih besar pada rancangan tata guna lahan di luar FMU. Data plot permanen dengan informasi panenan memperlihatkan bahwa regenerasi berjalan lebih lambat daripada batas-batas yang dapat diterima dalam intensitas pemanenan yang sedang berlangsung. Untuk mendorong keberlanjutan, maka intensitas pemanenan yang sedang berlangsung itu harus dikurangi. Transek-transek hidupan liar di sebuah koridor menunjukkan bahwa koridor tersebut tidak digunakan oleh mamalia besar. Mungkin dibutuhkan sebuah koridor baru, atau gangguan manusia di koridor itu harus dikurangi. Ketika endapan yang tertahan di sungai-sungai diperbandingkan dengan kerapatan jalan, ditemukan bahwa di atas kerapatan jalan tertentu, beban endapan menjadi terlalu tinggi. Karena itu, dalam perencanaan jalan, kerapatan jalan dan jalur sarad harus dikurangi.

Kumpulkan informasi

Adaptasi

Kembangkan strategi

Pantau hasil-hasil

Laksanakan strategi

Sebuah perusahaan pengusahaan hutan seharusnya menyiapkan sebuah tim untuk secara spesifik melaksanakan pemantauan. Tugas-tugas tim ini harus mencakup merancang program-program pemantauan yang memadai, melaksanakannya dan menganalisanya. Tim ini seharusnya menilai efektivitas program pemantauan setiap tahun dan lebih penting lagi efektivitas strategi-strategi pengelolaan. Tim pemantau seharusnya melapor ke pengelola sesuai dengan indikasi-indikasi tentang suatu strategi yang gagal, dan bilamana memungkinkan memberikan masukan tentang bagaimana memodifikasi strategi untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

57

58

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Macan Dahan

kesimpulan

Identifikasi, pengelolaan dan pemantauan HCVF dapat menjadi suatu tugas yang relatif panjang dan kompleks. Walaupun demikian perlu disadari bahwa pengelolaan HCVF diperlukan tidak hanya untuk mendapatkan sertifikasi, tetapi juga untuk mencapai pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan bertanggungjawab. Pemeliharaan HCVF penting bagi kesehatan ekosistem-ekosistem hutan. Strategi-strategi seperti kawasan yang disisihkan untuk konservasi yang membentuk reservoir untuk polen, biji dan penyebar biji penting bagi regenerasi hutan dimasa yang akan datang. Pengakuan akan nilai-nilai budaya sebagai hubungan antara para pengelola dengan masyarakat lokal, dan memenuhi tanggungjawab etika dari para pengelola untuk mengakui budaya dan nilai-nilai dari masyarakat dimana mereka tinggal bersama.. Bahkan tanpa sertifikasi hutan, suatu komitmen terhadap pengelolaan hutan berkelanjutan berarti suatu komitmen terhadap pengelolaan HCV-HCV.
Panduan ini semata-mata merupakan panduan bagi pengelolaan HCVF. Panduan ini memberikan latar belakang dan bantuan kepada pengelola, tetapi tidak menyediakan jawaban terhadap semua pertanyaan yang akan muncul sehubungan dengan pengelolaan HCVF. Jika HCVF terdapat dalam sebuah FMU, maka hutan harus dikelola untuk memelihara nilai-nilai yang ada. Prosedur standa operasional untuk bekerja dalam kawasan HCVF harus ditulis dan keseluruhan rencana pengelolaan bagi FMU harus memasukkan secara eksplisit acuan terhadap pengelolaan HCV. Implementasi di lapangan harus memenuhi standar yang sangat tinggi. Hal ini mungkin mensyaratkan modifikasi berbagai aspek pengelolaan hutan, tetapi perubahaan semacam itu diperlukan dalam rangka meningkatkan operasional pengelolaan secara keseluruhan dan untuk mencapai pengelolaan hutan secara berkelanjutan.

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

59

60

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Lampiran 1

contoh-contoh beberapa masalah dan sumber masalah untuk nilai konservasi penting di Kalimantan Timur
HCV1. Kawasan hutan yang secara global, regional atau nasional memiliki konsentrasi nilai keanekaragamanan hayati yang signifikan (misalnya endemisme, spesies genting, tempat perlindungan)
Apa yang terjadi / tekanan Hilangnya jenis/ kepunahan
Potensi dampak pada nilai

Penyebab/Sumber (yang mungkin menyumbang kepada tekanan) • • • • Perburuan & Perikanan (tinggi) Perebahan (tinggi) Penyaradan (medium) Pembuatan jalan dan tempat pengumpulan kayu (medium) • Pembukaan Hutan/Pertanian (rendah) • Pembukaan hutan/penggunaan lahan lainnya (medium) • • • • Perburuan & Perikanan (tinggi) Perebahan (sangat tinggi) Penyaradan (tinggi) Pembuatan jalan dan tempat pengumpulan kayu (tinggi) • Pembukaan Hutan/Pertanian (tinggi) • Pembukaan hutan/penggunaan lahan lainnya (sangat tinggi)

Catatan/Contoh

Sangat tinggi

Badak bercula dua kemungkinan kini telah punah di Kalimantan Timur. Tekanan perburuan yang tinggi merupakan faktor penyumbang (Rabinowitz 1995; Meijaard 1996)

Perubahan komposisi jenis

Tinggi

Kegiatan pembalakan mengakibatkan peningkatan persentase jenis tumbuhan pionir (Fimbel et al 2001). Beberapa jenis burung sangat terkena dampak pembalakan dan populasinya menurun (Zakaria & Francis 2001). Setelah pembalakan populasi Rusa Muntjak (Muntiacus muntjak) meningkat dan populasi Rusa kuning (M. atherodes) menurun. Ukuran luas jelajah owa meningkat setelah pembalakan dan mereka menjadi kurang bersuara. Kemungkinan disebabkan oleh berkurangnya persediaan pakan (Johns 1986)

Perubahan perilaku

Rendah

• Perebahan (tinggi) • Pembuatan jalan dan tempat pengumpulan kayu (tinggi)

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

61

HCV2. Kawasan hutan yang secara global, regional atau nasional mempunyai luasan lansekap hutan yang signifikan ,yang termasuk dalam, atau memiliki unit pengelolaan, dimana penyebaran dan kelimpahan populasi yang ada dari hampir semua atau semua jenis alami di dalamnya ditemui dalam pola alami.
Apa yang terjadi / tekanan Fragmentasi
Potensi dampak pada nilai

Penyebab/Sumber (yang mungkin menyumbang kepada tekanan) • Pembuatan jalan dan tempat pengumpulan kayu (sangat tinggi) • Desa dan pertanian (tinggi) • Perebahan dan penyaradan (rendah)

Catatan/Contoh

Tinggi

Jalanan memecah hutan dan membentuk pembatas bagi banyak hewan (terutama serangga). Curren dkk (1999) membuat hipotesis bahwa fragmentasi menyebabkan berkurangnya tiang dan sangat berkurangnya rekruitmen dari anakan dipterocarp Laju deforestasi di Kalimantan Timur sangat tinggi pada 20 tahun terakhir ini (Holmes 2002), 5,2 juta Ha hutan di Kalimantan Timur terbakar pada tahun 1997 dan 1998 (Siebert dkk 2001)

Deforestasi

Sangat Tinggi

• Kebakaran tak terkendali (sangat tinggi) • Tebang habis / hutan tanaman (Sangat tinggi) • Desa dan pertanian (tinggi) • Pembuatan jalan dan tempat pengumpulan kayu (medium) • Pembuatan jalan dan tempat pengumpulan kayu (tinggi) • Perebahan (rendah) • Pembukaan hutan (tinggi)

Dampak tepi

Medium

62

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

HCV3. Kawasan hutan yang berada dalam atau memiliki ekosistem langka, terancam atau genting
Apa yang terjadi / tekanan Fragmentasi
Potensi dampak pada nilai

Penyebab/Sumber (yang mungkin menyumbang kepada tekanan) • Pembuatan jalan dan tempat pengumpulan kayu (sangat tinggi) • Desa dan pertanian (tinggi) • Perebahan dan penyaradan(rendah) • Tebang habis / hutan tanaman (tinggi) • Kebakaran tak terkendali (sangat tinggi) • Tebang habis / hutan tanaman (sangat tinggi) • Desa dan pertanian (tinggi) • Pembuatan jalan dan tempat pengumpulan kayu (medium)

Catatan/Contoh

Tinggi

Curren dkk (1999) membuat hipotesis bahwa fragmentasi menyebabkan berkurangnya tiang dan sangat berkurangnya rekruitmen dari anakan dipterocarp

Deforestasi

Sangat tinggi

Para ahli memperkirakan hutan dipterocarp dataran rendah akan hilang sama sekali dari Kalimantan pada tahun (Holmes 2002). Hutan-hutan paling beragam di tanah alluvial datar akan menjadi yang terparah dengan hanya 23 % tersisa di Borneo. Mangrove telah diubah menjadi tambak udang dalam skala luas, kurang dari 20% delta Mahakam tersisa tanpa gangguan (A Salim/TNC pers com) (Pinard dan Putz 1996)

Berkurangnya luas basal Perubahan komposisi jenis

Rendah

• Perebahan dan Penyaradan

Medium

• Perburuan & Penangkapan ikan (tinggi) • Perebahan (sangat tinggi) • Penyaradan (tinggi) • Pembuatan jalan dan tempat pengumpulan kayu (tinggi) • Pembukaan hutan/Pertanian (tinggi) • Pembukaan hutan/penggunaan lahan lainnya (sangat tinggi) • Perburuan & Penangkapan ikan (tinggi) • Perebahan (sangat tinggi) • Penyaradan (tinggi) • Pembuatan jalan dan tempat pengumpulan kayu (tinggi) • Pembukaan hutan/Pertanian (tinggi) • Pembukaan hutan/penggunaan lahan lainnya (sangat tinggi) Hutan-hutan Pegunungan bagian atas di Borneo umumnya terbatas pada puncakpuncak gunung di atas 1800m dpl. Kekayaan jenis relatif rendah namun endemisme tinggi, sebagai contoh 75% dari burung endemik Borneo adalah jenis pegunungan (MacKinnon dkk 1996). Gangguan pada hutan pegunungan dapat menyebabkan kepunahan lokal jenis-jenis endemik dan mempengaruhi dinamika hutan

Hilangnya jenis/kepunahan

Medium

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

63

HCV4. Kawasan hutan yang memberikan jasa-jasa dasar alami dalam situasi kritis (misalnya perlindungan daerah tangkapan air, pengontrol erosi).
Apa yang terjadi / tekanan Pemampatan tanah
Potensi dampak pada nilai

Penyebab/Sumber (yang mungkin menyumbang kepada tekanan) • Pembuatan jalan dan tempat pengumpulan kayu (sangat tinggi) • Penyaradan • Pembuatan jalan dan tempat pengumpulan kayu (sangat tinggi) • Penyaradan • Pembukaan hutan/Pertanian (tinggi) • Pembukaan hutan/penggunaan lahan lainnya (sangat tinggi)

Catatan/Contoh

Medium

Jalanan dan jalan sarad memampatkan tanah, mengurangi porositas. (referensi dalam Pringle dan Benstead 2001) Berkurangnya kanopi dan serasah daun meningkatkan erosi dari percikan hujan. Tanah telanjang pada jalanan dan jalan sarad (skid trails) tererosi oleh limpasan air. Berpotensi meningkatkan erosi tepian sungai dari peningkatan aliran air dan sampah-sampah saat hujan deras (referensi dalam Pringle dan Benstead 2001) Pembalakan di sebuah hutan di Malaysia meningkatkan masukan sedimen dari 100 Kg/ha menjadi 277 Kg/ha dalam satu tahun, dan sampai 397 Kg/ha dalam tahun kedua setelah pembalakan (referensi dalam Pringle dan Benstead 2001) Penurunan dalam evapotranspirasi dan peningkatan pengeluaran serta limpasan air setelah hujan deras meningkatkan aliran dan fluktuasi sungai setelah pembalakan dan pembersihan (referensi dalam Pringle dan Benstead 2001) Kebakaran di Kalimantan Timur pada tahun 1997 dan 1998 sangat erat berhubungan dengan daerah-daerah pembalakan hebat dan berulang (Siebert dkk 2001)

Peningkatan erosi

Tinggi

Peningkatan masukan sedimen tersuspensi

Tinggi

• Pembuatan jalan dan tempat pengumpulan kayu (sangat tinggi) • Penyaradan • Pembukaan hutan/Pertanian (tinggi) • Pembukaan hutan/penggunaan lahan lainnya (sangat tinggi) • Pembuatan jalan dan tempat pengumpulan kayu (sangat tinggi) • Penyaradan • Pembukaan hutan/Pertanian (tinggi) • Pembukaan hutan/ penggunaan lahan lainnya (sangat tinggi) • Perebahan dan penyaradan(medium) • Pembuatan jalan dan tempat pengumpulan kayu • Pembukaan hutan/Pertanian (tinggi) • Pembukaan hutan/ penggunaan lahan lainnya (sangat tinggi) • Pembukaan hutan/Pertanian (tinggi) • Pembukaan hutan/ penggunaan lahan lainnya (sangat tinggi)

Peningkatan debit air

Sangat tinggi

Peningkatan resiko kebakaran

Tinggi

Penurunan kontrol hama

Medium

Hilangnya hutan dilaporkan meningkatkan hama serangga, burung dan mamalia yang menyerang tanah pertaniah (E Pollard pengamatan pribadi)

Berkurangnya kemampuan pertanian untuk pulih

Medium

• Pembukaan hutan/Pertanian (tinggi) • Pembukaan hutan/ penggunaan lahan lainnya (sangat tinggi)

64

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

HCV5. Kawasan hutan yang penting untuk memenuhi kebutuhan dasar dari masyarakat lokal (misalnya nafkah, kesehatan).
Apa yang terjadi / tekanan Berkurangnya ikan dan buruan
Potensi dampak pada nilai

Penyebab/Sumber (yang mungkin menyumbang kepada tekanan) • Pemanenan berlebih (Sangat tinggi) • Gangguan dari kegiatan pembalakan (Tinggi) • Hilangnya habitat hutan (Tinggi) • Pencemaran Sungai (Medium) • Pemanenan berlebih (medium) • Gangguan dari kegiatan pembalakan (Tinggi) • Hilangnya habitat hutan (Tinggi) • Pemanenan berlebih (Tinggi) • Gangguan dari kegiatan pembalakan (Tinggi) • Hilangnya habitat hutan (Tinggi) • Pemanenan berlebih (Medium) • Gangguan dari kegiatan pembalakan (Tinggi) • Hilangnya habitat hutan (Tinggi)

Catatan/Contoh

Sangat tinggi

Suku Punan di Lembah Kelai, Kabupaten Berau tergantung pada buruan alam dan ikan untuk lebih dari 90% protein mereka (E. Pollard pengamatan pribadi)

Berkurangnya jumlah/ kualitas dari buahbuah dan sayur-sayuran hutan Berkurangnya jumlah/ kualitas dari hasil hutan non kayu lainnya

Sangat tinggi

Lebih dari 50% masyarakat dari desa Mahak Baru memperoleh lebih dari 50% buah dan sayuran dari sumber daya di alam (TNC-SFO 2002)

Tinggi

Berkurangnya jumlah/ kualitas bahan bangunan kayu

Medium

Kayu dari hutan adalah satu-satunya bahan bangunan untuk kebanyakan masyarakat hutan yang terisolasi.

HCV6. Kawasan hutan yang penting bagi identitas budaya masyarakat lokal (daerah yang memiliki kepentingan budaya, ekologis, ekonomis atau keagamaan yang ditentukan bersama-sama dengan masyarakat lokal yang ada).
Apa yang terjadi / tekanan
Potensi dampak pada nilai

Penyebab/Sumber (yang mungkin menyumbang kepada tekanan) • Kegiatan pembalakan • Tebang habis / hutan tanaman • Migrasi- masuk • Migrasi-keluar

Catatan/Contoh

Gangguan terhadap/kehilangan akan lokasi spiritual misalnya tempat pemakaman Berkurangnya pengenalan terhadap adat yang terkait dengan hutan

Tinggi

Medium

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

65

Lampiran 2

ringkasan potensi ancaman terhadap nilai-nilai
Penyebab / sumber Perburuan dan Perikanan Dampak/Tekanan • Hilangnya jenis/kepunahan • Perubahan komposisi jenis • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Hilangnya jenis/kepunahan Perubahan komposisi jenis Perubahan perilaku Fragmentasi Dampak tepi Turunnya luas basal Peningkatan resiko kebakaran Hilangnya jenis/kepunahan Perubahan komposisi jenis Fragmentasi Pemampatan tanah Peningkatan erosi Peningkatan masukan sedimen tersuspensi Peningkatan debit air Peningkatan resiko kebakaran Hilangnya jenis/kepunahan Perubahan komposisi jenis Perubahan perilaku Fragmentasi Deforestasi Dampak tepi Pemampatan tanah Peningkatan erosi Peningkatan masukan sedimen tersuspensi Peningkatan debit air Peningkatan resiko kebakaran Hilangnya jenis/kepunahan Perubahan komposisi jenis Fragmentasi Deforestasi Dampak tepi Peningkatan erosi Peningkatan masukan sedimen tersuspensi Peningkatan debit air Peningkatan resiko kebakaran Turunnya kontrol hama Turunnya kapasitas pertanian untuk pulih Hilangnya jenis/kepunahan Perubahan komposisi jenis Fragmentasi Deforestasi Dampak tepi Peningkatan erosi Peningkatan masukan sedimen tersuspensi Peningkatan debit air Peningkatan resiko kebakaran Turunnya kontrol hama Nilai yang terancam 1, 3

Perebahan

1, 2, 3

Penyaradan

1, 2, 3, 4

Pembuatan jalan dan tempat pengumpulan kayu

1, 2, 3, 4

Pembukaan hutan / pertanian

1, 2, 3, 4

Pembukaan hutan / penggunaan lahan lainnya

1, 2, 3, 4

66

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Penyebab / sumber Pembukaan hutan / penggunaan lahan lainnya Daerah pedesaan

Dampak/Tekanan • Turunnya kapasitas pertanian untuk pulih • Gangguan akan/kehilangan tempat spiritual • Fragmentasi • Deforestasi • Deforestasi

Nilai yang terancam

2, 3

Kebakaran tak dapat dikendalikan Pemanenan berlebih

2,3

• • • • • • • • • • • •

Berkurangnya ikan dan buruan Berkurangnya buah dan sayur-sayuran Berkurangnya Hasil Hutan non Kayu lainnya Kurangnya bahan bangunan Berkurangnya ikan dan buruan Berkurangnya buah dan sayur-sayuran Berkurangnya Hasil Hutan non Kayu lainnya Kurangnya bahan bangunan Berkurangnya ikan dan buruan Berkurangnya buah dan sayur-sayuran Berkurangnya Hasil Hutan non Kayu lainnya Kurangnya bahan bangunan

5

Gangguan dari pembalakan

5

Habitat berkurang

5

Pencemaran sungai Kegiatan pembalakan umum Migrasi- masuk

• Berkurangnya ikan dan buruan • Gangguan akan/kehilangan tempat spiritual • Berkurangnya pengenalan terhadap adat yang terkait dengan hutan • Berkurangnya pengenalan terhadap adat yang terkait dengan hutan

5 6 6

Migrasi-keluar

6

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

67

Lampiran 3

potensi strategi pengelolaan yang direkomendasikan
Strategi Tekanan yang bisa dikurangi Pemangku kepentingan Perusahaan HPH Nilai-nilai yang bisa dilindungi 1, 2, 3, 4 Sistem jalan yang terencana dan lebih sempit Hilangnya jenis/kepunahan Perubahan komposisi jenis Perubahan perilaku Fragmentasi Deforestasi Dampak tepi Pemampatan tanah Peningkatan erosi Peningkatan masukan sedimen tersuspensi Peningkatan debit air Peningkatan resiko kebakaran Peningkatan Penyebaran flora dan fauna eksotis Peningkatan akses pemburu

Perencanaan dan mengurangi Hilangnya jenis/kepunahan dampak Penyaradan Perubahan komposisi jenis Fragmentasi Pemampatan tanah Peningkatan erosi Peningkatan masukan sedimen tersuspensi Peningkatan debit air Peningkatan resiko kebakaran Perebahan searah Hilangnya jenis/kepunahan Perubahan komposisi jenis Perubahan perilaku Fragmentasi Dampak tepi Turunnya Luas basal Peningkatan resiko kebakaran Hilangnya jenis/kepunahan Perubahan komposisi jenis Perubahan perilaku Hilangnya jenis/kepunahan Perubahan komposisi jenis Perubahan perilaku Dampak tepi Hilangnya jenis/kepunahan Perubahan komposisi jenis Perubahan perilaku Turunnya Luas basal Hilangnya jenis Perubahan komposisi jenis

Perusahaan HPH

1, 2, 3, 4

Perusahaan HPH

1, 3, 4

Menyimpan kayu mati

Perusahaan HPH

1, 2

Mengurangi pemotongan tanaman rambat dan vegetasi bawah

Perusahaan HPH

1, 2

Menetapkan maksimum dbh untuk penebangan

Perusahaan HPH Pemerintah daerah dan nasional

1, 2

Mencegah penghancuran jenis-jenis kunci (keystone species)

Perusahaan HPH

1, 3

68

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Strategi

Tekanan yang bisa dikurangi

Pemangku kepentingan Perusahaan HPH, Pemerintah daerah, LSM, Masyarakat lokal Badan perencana pembangunan daerah

Nilai-nilai yang bisa dilindungi 1, 2, 3, 4, 5, 6

Menyisihkan daerah konservasi

Hilangnya jenis/kepunahan Perubahan komposisi jenis Perubahan perilaku Fragmentasi Deforestasi Dampak tepi Pemampatan tanah Peningkatan erosi Peningkatan masukan sedimen tersuspensi Peningkatan debit air Peningkatan resiko kebakaran Berkurangnya ikan dan buruan Berkurangnya buah dan sayur-sayuran Berkurangnya Hasil Hutan non Kayu lainnya Kurangnya bahan bangunan Konektivitas berkurang Fragmentasi Dampak tepi Peningkatan erosi Peningkatan masukan sedimen terlarut Peningkatan debit air Peningkatan resiko kebakaran Berkurangnya ikan dan buruan Berkurangnya buah dan sayur-sayuran Berkurangnya Hasil Hutan non Kayu lainnya Kurangnya bahan bangunan Hilangnya jenis/kepunahan Perubahan komposisi jenis Perubahan perilaku Turunnya buruan Pengurangan kemandirian masyarakat Hilangnya jenis/kepunahan Perubahan komposisi jenis Berkurangnya ikan Berkurangnya ikan dan buruan Berkurangnya buah dan sayur-sayuran Berkurangnya Hasil Hutan non Kayu lainnya Kurangnya bahan bangunan Gangguan akan/kehilangan tempat spiritual Fragmentasi Deforestasi Dampak tepi Berkurangnya ikan dan buruan Berkurangnya buah dan sayur-sayuran Berkurangnya Hasil Hutan non Kayu lainnya Kurangnya bahan bangunan Gangguan akan/kehilangan tempat spiritual

Membuat buffer di sekitar sungai

Perusahaan HPH

1, 3, 4, 5

Kontrol perburuan

Perusahaan HPH, Masyarakat lokal Pemerintah

1, 3, 5

Kontrol perikanan yang merusak

Perusahaan HPH, Masyarakat lokal

1,3,5

Pemetaan desa

Perusahaan HPH, Pemerintah daerah, LSM, Masyarakat lokal

4, 5, 6

Konsultasi desa

Perusahaan HPH, Pemerintah daerah, Masyarakat lokal

2, 3 ,5, 6

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

69

Strategi

Tekanan yang bisa dikurangi

Pemangku kepentingan Perusahaan HPH, Pemerintah daerah, LSM, Masyarakat lokal

Nilai-nilai yang bisa dilindungi 2, 3, 5, 6

Resolusi Konflik

Fragmentasi Deforestasi Dampak Tepi Berkurangnya ikan dan buruan Berkurangnya buah dan sayur-sayuran Berkurangnya Hasil Hutan non Kayu lainnya Berkurangnya bahan bangunan Berkurangnya pengenalan terhadap adat yang terkait dengan hutan Peningkatan resiko kebakaran Hilangnya jenis/kepunahan Perubahan komposisi jenis Fragmentasi Deforestasi Dampak Tepi Berkurangnya ikan dan buruan Berkurangnya buah dan sayur-sayuran Berkurangnya Hasil Hutan non Kayu lainnya Berkurangnya bahan bangunan Hilangnya jenis/kepunahan Perubahan komposisi jenis Fragmentasi Deforestasi Dampak Tepi Berkurangnya ikan dan buruan Berkurangnya buah dan sayur-sayuran Berkurangnya Hasil Hutan non Kayu lainnya Berkurangnya bahan bangunan Berkurangnya pengenalan terhadap adat yang terkait dengan hutan Fragmentasi Deforestasi Berkurangnya pengenalan terhadap adat yang terkait dengan hutan

Pendidikan Lingkungan

Perusahaan HPH, Pemerintah daerah, LSM, Masyarakat lokal

1, 5, 6,

Adat atau hukum tradisional

Perusahaan HPH, Pemerintah daerah, LSM, Masyarakat lokal

1, 5, 6

Lobbying

Perusahaan HPH, Pemerintah daerah, LSM, Masyarakat lokal

1, 2, 3, 4, 5, 6

70

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Lampiran 4

daftar jenis vertebrata rawan, terancam dan endemik yang dapat ditemukan di Kalimantan Timur
Nama ilmiah Pseudibis davisoni Batagur baska Callagur borneoensis Chitra chitra Crocodylus siamensis Ciconia stormi Polyplectron schleiermacheri Bos javanicus Catopuma badia Cynogale bennettii Elephas maximus Hesperoptenus doriae ? Nasalis larvatus Pongo pygmaeus Heosemys spinosa Manouria emys Orlitia borneensis Tomistoma schlegelii Caprimulgus concretus Centropus rectunguis Ducula pickeringii Egretta eulophotes Leptoptilos javanicus Lophura bulweri Lophura erythrophthalma Malacocincla perspicillata ? Pitta baudii Pitta nympha Ptilocichla leucogrammica Pycnonotus zeylanicus Rhinomyias brunneata Setornis criniger Spilornis kinabaluensis Spizaetus nanus Treron capellei Dendrogale melanura Diplogale hosei ? Hipposideros coxi Hystrix brachyura Lariscus hosei Lutrogale perspicillata Nama Indonesia/Melayu IBIS KARAU BIUKU MUDA BELUKU LABI-LABI BINTANG BUAYA BADAG HITAM BANGAU STORM KUAU-KERDIL KALIMANTAN (E) BANTENG KUCING MERAH (E) MUSANG AIR GAJAH ASIA BANGKALIT SEDANG (E) ? BEKANTAN (E) ORANG-UTAN KALIMANTAN (E) KURA-KURA DURI BANING COKLAT BAJUKU (E) SENYULONG CABAK KOLONG (E) BUBUT TERAGOP PERGAM KELABU KUNTUL CINA BANGAU TONGTONG SEMPIDAN KALIMANTAN (E) SEMPIDAN MERAH PELANDUK KALIMANTAN (E) PAOK KEPALA-BIRU (E) PAOK BIDADARI BERENCET KALIMANTAN (E) CUCAK RAWA SIKATAN-RIMBA COKLAT EMPULOH PARUH-KAIT (E) ELANG-ULAR KINABALU (E) ELANG WALLACE PUNAI BESAR TUPAI EKOR-KECIL MUSANG GUNUNG (E)? BARONG SARAWAK LANDAK RAYA BAJINGTANAH BERGARIS EMPAT BERANG-BERANG WREGUL IUCN CR CR CR CR CR EN EN EN EN EN EN EN EN EN EN EN EN EN VU VU VU VU VU VU VU VU VU VU VU VU VU VU VU VU VU VU VU VU VU VU VU Ordo burung reptilia reptilia reptilia reptilia burung burung mamalia mamalia mamalia mamalia mamalia mamalia mamalia reptilia reptilia reptilia reptilia burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung mamalia mamalia mamalia mamalia mamalia mamalia

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

71

Nama ilmiah Macaca nemestrina Neofelis nebulosa Pardofelis marmorata Prionailurus planiceps Sundasciurus jentinki Amyda cartilaginea Cuora amboinensis Notochelys platynota Helarctos malayanus Hipposideros doriae Lutra sumatrana Presbytis frontata Presbytis hosei Aceros comatus Aegithina viridissima Anhinga melanogaster Batrachostomus mixtus Buceros rhinoceros Buceros vigil Carpococcyx radiatus Iole olivacea Limnodromus semipalmatus Malacocincla malaccensis Malacopteron affine Meiglyptes tukki Pycnonotus cyaniventris Pycnonotus eutilotus Cyclemys dentata Batrachostomus auritus Batrachostomus harterti ? Batrachostomus stellatus Calyptomena hosii Calyptomena viridis Eupetes macrocerus Harpactes duvaucelii Harpactes kasumba Harpactes orrhophaeus Harpactes whiteheadi ? Ichthyophaga humilis Indicator archipelagicus Ixos malaccensis Kenopia striata Lophura ignita Macronous ptilosus Malacopteron albogulare Megalaima henricii

Nama Indonesia/Melayu MONYET BERUK MACAN DAHAN KUCING BATU KUCING TANDANG BAJING JENTINK (E) BULUS KUYA BATOK BEIYOGO BERUANG MADU BARONG --- (E) BERANG-BERANG SUMATRA LUTUNG DAHI PUTIH (E) LUTUNG BANGGAT(E) ENGGANG JAMBUL CIPOH JANTUNG PECUK-ULAR ASIA PARUH-KODOK BESAR (E) RANGKONG BADAK RANGKONG GADING TOKHTOR SUNDA (E) BRINJI MATA-PUTIH TRINIL-LUMPUR ASIA PELANDUK EKOR-PENDEK ASI TOPI-JELAGA CALADI BADOK CUCAK KELABU CUCAK RUMBAI-TUNGGING KURA-KURA BERGIGI PARUH-KODOK BESAR PARUH-KODOK DULIT PARUH-KODOK BINTANG MADI-HIJAU PERUT-BIRU (E) MADI-HIJAU KECIL SIPINJUR MELAYU LUNTUR PUTRI LUNTUR KASUMBA LUNTUR TUNGGING-COKLAT LUNTUR KALIMANTAN (E)? ELANG-IKAN KECIL PEMANDU-LEBAH ASIA BRINJI BERGARIS BERENCET LORENG SEMPIDAN BIRU CIUNG-AIR PONGPONG ASI DADA-KELABU TAKUR TOPI-EMAS

IUCN VU VU VU VU VU VU VU VU DD DD DD DD DD LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt

Ordo mamalia mamalia mamalia mamalia mamalia reptilia reptilia reptilia mamalia mamalia mamalia mamalia mamalia burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung reptilia burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung

72

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Nama ilmiah Microhierax latifrons ? Prionochilus thoracicus Ptilinopus jambu Pycnonotus squamatus Rhinomyias umbratilis Stachyris leucotis Stachyris maculata Trichastoma rostratum Anthracoceros malayanus Argusianus argus Batrachostomus poliolophus Chloropsis cyanopogon Esacus magnirostris Harpactes diardii Ichthyophaga ichthyaetus Malacopteron magnum Megalaima rafflesii Napothera atrigularis Phaenicophaeus diardi Philentoma velatum Psittacula longicauda Psittinus cyanurus Pycnonotus melanoleucos Stachyris nigricollis Tanygnathus lucionensis Megalaima mystacophanos Pericrocotus igneus Phaenicophaeus sumatranus Rollulus rouloul Charadrius peronii Cuculus vagans Cyornis turcosus Dicaeum everetti ? Dinopium rafflesii Enicurus ruficapillus Numenius madagascariensis Oriolus hosii ? Oriolus xanthonotus Pitta caerulea Pitta granatina Pityriasis gymnocephala Platylophus galericulatus Threskiornis melanocephalus Treron fulvicollis Trichixos pyrropyga Zoothera everetti ?

Nama Indonesia/Melayu ALAP-ALAP DAHI-PUTIH (E)? PENTIS KUMBANG WALIK JAMBU CUCAK BERSISIK SIKATAN-RIMBA DADA-KELABU TEPUS TELINGA-PUTIH TEPUS TUNGGIR-MERAH PELANDUK DADA-PUTIH KANGKARENG HITAM KUAU RAJA PAH-KODOK KEPALA PUCAT CICA-DAUN KECIL WILI-WILI BESAR LUNTUR DIARD ELANG-IKAN KEPALA-KELABU ASI BESAR TAKUR TUTUT BERENCET LEHER-HITAM KADALAN BERUANG PHILENTOMA KERUDUNG BETET EKOR-PANJANG NURI TANAU CUCAK SAKIT-TUBUH TEPUS KABAN BETET-KELAPA FILIPINA TAKUR WARNA-WARNI (E) SEPAH TULIN KADALAN SAWAH PUYUH SENGAYAN CEREK MELAYU KANGKOK KUMIS SIKATAN MELAYU CABAI TUNGGIR-COKLAT ? PELATUK RAFFLES MENINTING CEGAR GAJAHAN TIMUR KEPUDANG HITAM (E)? KEPUDANG KERUDUNG HITAM PAOK SINTAU PAOK DELIMA TIONG-BATU KALIMANTAN (E) TANGKAR ONGKLET IBIS CUCUK-BESI? PUNAI BAKAU KUCICA EKOR-KUNING ANIS KINABALU (E)?

IUCN LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt

Ordo burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung burung

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

73

Nama ilmiah Zosterops flavus ? Hylobates muelleri Kerivoula intermedia ? Kerivoula minuta ? Macaca fascicularis Manis javanica Murina aenea Murina rozendaali Myotis montivagus Myotis ridleyi Pipistrellus kitcheneri Rhinolophus creaghi Rhinolophus philippinensis Sundasciurus brookei

Nama Indonesia/Melayu KACAMATA JAWA (E)? OWA KALAWAT (E) LENAWAI SABAH? LENAWAI KECIL? MONYET KERA TRENGGILING PEUSING RIPO PERUNGGU RIPO ROZENDAL LASIWEN KAKI-KECIL-COKLAT LASIWEN RIDLEY NIGHI KALIMANTAN KELELAWAR-LADAM CREAGH KELELAWAR-LADAM FILIPINA BAJING BROOKE (E)

IUCN LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt LR/nt

Ordo burung mamalia mamalia mamalia mamalia mamalia mamalia mamalia mamalia mamalia mamalia mamalia mamalia mamalia

Sumber: The 2004 IUCN Red List of Threatened Species. <www.redlist.org>. Download pada tanggal 28 Januari 2005. Tanda “?” menunjukkan bahwa jenis ini terdapat di Kalimantan tetapi keberadaannya di Kalimantan Timur perlu dikonfirmasikan. “(E)” menunjukkan bahwa jenis ini endemik Kalimantan. Kode di kolom ketiga dijelaskan di bawah.
KRITIS ( CRITICALLY ENDANGERED, CR )

Sebuah taksa Kritis apabila bukti terbaik yang tersedia menunjukkan bahwa keadaannya memenuhi kriteria A sampai E untuk Kritis, dan karena itu dianggap menghadapi risiko kepunahan yang sangat tinggi di alam.
GENTING ( ENDANGERED, EN )

Sebuah taksa Genting apabila bukti terbaik yang tersedia menunjukkan bahwa keadaannya memenuhi kriteria A sampai E untuk Genting, dan karena itu dianggap menghadapi risiko kepunahan yang sangat tinggi di alam.
RENTAN ( VULNERABLE, VU )

Sebuah taksa Rentan apabila bukti terbaik yang tersedia menunjukkan bahwa keadaannya memenuhi kriteria A sampai E untuk Rentan, dan karena itu dianggap menghadapi risiko kepunahan yang sangat tinggi di alam.
MENDEKATI TERANCAM PUNAH ( NEAR THREATENED, NT )

Sebuah taksa Mendekati Terancam Punah apabila taksa tersebut telah dievaluasi berdasarkan atas kriteria-kriteria tersebut di atas tetapi tidak memenuhi syarat untuk Kritis, Genting atau Rentan saat ini, tetapi hampir memenuhi, atau dalam waktu dekat berpeluang besar memenuhi, kategori terancam.
TIDAK MENGKHAWATIRKAN ( LEAST CONCERN, LC )

Sebuah taksa Tidak Mengkhawatirkan apabila taksa tersebut telah dievaluasi berdasarkan atas kriteria-kriteria di atas tetapi tidak memenuhi syarat untuk Kritis, Genting, Rentan atau Mendekati Terancam Punah. Taksa yang tersebar luas dan berlimpah termasuk dalam kategori ini.
KURANG DATA ( DATA DEFICIENT, DD )

Sebuah taksa Kurang Data apabila tidak cukup informasi untuk membuat suatu penilaian, langsung atau tidak langsung, atas risiko kepunahan yang didasarkan atas status distribusi dan/atau populasinya. Sebuah taksa dalam kategori ini mungkin telah diteliti dengan baik, dan segi biologinya banyak diketahui, tetapi data yang memadai tentang kelimpahan dan/atau distribusinya tidak tersedia. Karena itu Kurang Data bukan suatu kategori keterancaman. Mendaftarkan sebuah taksa dalam kategori ini menunjukkan bahwa lebih banyak informasi dibutuhkan dan mengakui kemungkinan bahwa penelitian-penelitian masa depan akan memperlihatkan bahwa klasifikasi keterancaman adalah memadai. Penggunaan yang positif dari berbagai macam data yang tersedia adalah penting. Dalam banyak kasus pemilihan antara status DD dan status keterancaman harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Jika ruang hidup sebuah taksa dicurigai relatif terbatas, dan telah terlewati periode waktu yang dianggap lama sejak catatan terakhir taksa tersebut dibuat, maka mungkin beralasan untuk memberikan status keterancaman.

74

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

daftar pustaka dan rekomendasi bahan bacaan
Abdullah, O., Lahjie, A.B., and S.S. Wangsadidiaja (1993). Communities and Forest Management in East Kalimantan : Pathway to Environmental Stability. Research Network Report No. 3. Center for Southeast Asia Studies, University of California, Berkeley. Auzel, P., and D. S. Wilkie. 2000. Wildlife use in Northern Congo: Hunting in a commercial logging concession. Pages 413426 in J. G. Robinson, and E. L. Bennett, editors. Hunting for sustainability in tropical forests. Columbia University Press, New York. Bahuchet, S. (ed.) (1995). The situation of indigenous peoples in tropical forests. Research for the DG XI, European Community Commission. Université Libre de Bruxelles. Bennett, E. L., A. J. Nyaoi, and J. Sompud. 1997. Hornbills Buceros spp. and culture in Northern Borneo: Can they continue to coexist? Biological Conservation 82:41-46. Bennett, E. L., A. J. Nyaoi, and J. Sompud. 2000. Saving Borneo’s bacon: The sustainability of hunting in Sarawak and Sabah. Pages 305-324 in J. G. Robinson, and E. L. Bennett, editors. Hunting for sustainability in tropical forests. Columbia University Press, New York. Bennett, E. L., and J. G. Robinson. (2000) Hunting of wildlife in tropical forests. Implications for biodiversity and forest peoples. The World Bank, Washington, D.C. Bennett, E. L., and M T. Gumal (2001) The interrelationships of commercial logging, hunting and wildlife in Sarawak : recommendations for forest management pp 359-374 in The Cutting Edge. Conserving wildlife in logged tropical forest. R A Fimbel, A Grajal & J Robinson (eds). Columbia University Press, New York, USA. Bennett, E. L., E. J. Milner-Gulland, M. Bakarr, H. E. Eves, J. G. Robinson, and D. S. Wilkie. 2002. Hunting the world’s wildlife to extinction. Oryx 36:328-329. Benoît, D. & Levang, P. (1990) Farming systems and demographic breakpoints. An Indonesian example: the province of Lampung. Regional Conference on Asian Pacific Countries, International Geographical Union, August 13-20, Beijing. Bertault, J. G. and P. Sist (1997) An experimental comparison of different harvesting intensities with reduced-impact and conventional logging in East Kalimantan, Indonesia. Forest Ecology and Management 94: 209-218. Birdlife International (2001) Threatened Birds of Asia: the Birdlife International Red Data Book. Cambridge, UK. Birdlife International (2004) Important Bird Areas in Asia: Key Sites for Conservation. Cambridge, UK. Blokhus, J. M., M. Dillenbeck, J Sayer and P. Wegge (1992) Conserving Biological Diversity in managed tropical forest. IUCN, Gland. Borrini-Feyerabend, G., Farvar, M. T., Nguinguiri, J. C. and V.A. Ndangang (2000) Co-management of Natural Resources: Organising, Negotiating and Learning-by-Doing. GTZ and IUCN, Kasparek Verlag, Heidelberg (Germany). BRLKT (2003) List of major water catchment priorities in East Kalimantan. Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah - Land Rehabilitation and Soil Conservation Agency, Mahakam-Berau, Samarinda, East Kalimantan. Brown, M. and B. Wyckoff-Baird (1991) Integrated Conservation and Development Projects: Lessons learned and Implications for Design. Natural Resource Management Project and World Wildlife Fund. Cannon, C. H., D. Peart, and M. Leighton (1998) Tree species diversity in commercially logged Bornean Rainforest. Science 281:1366-1368. Cannon, C. H., D. Peart, M. Leighton, and K. Kartawinata (1994) The structure of Lowland rainforest after selective logging in West Kalimantan, Indonesia. Forest Ecology and Management 67: 49-68. Chamberts, R. (2002) Participatory Workshops, a Sourcebook of 21 Sets of Ideas and Activities. Earthscan Publications, London. Chin, S. (1985) Agriculture and resource utilization in a lowland rainforest Kenyah community. Sarawak Museum Journal 35(56), Special monograph 4, Sarawak Museum. Chindley, C. (2002) Forests, People and Rights. A Special Report by Down to Earth International Campaign for Ecological Justice in Indonesia. Chunkao, K. (1978) The effects of logging on soil erosion. Pages 65-72 in R. S. Suparto, I. Soerianegara, Z. Hamzah, H. J. Haeruman, S. Hadi, S. Manan, H. Basjarudin, and W. Sukotjo, editors. Proceeding of the symposium on the long-term effects of logging in Southeast Asia. BIOTROP, Bogor.

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

75

Cleary, D. F. R. (2003) An examination of scale of assessment, logging and ENSO-induced fires on butterfly diversity in Borneo. Oecologia 135: 313-321. Cleary, D. F. R. (2004) Assessing the use of butterflies as indicators of logging in Borneo at three taxonomic levels. Journal of Economic Entomology 97: 429-435. Cleary, D. F. R. and A. O. Mooers (2004) Butterfly species richness and community composition in forests affected by ensoinduced burning and habitat isolation in Borneo. Journal of Tropical Ecology 20: 359-367. Cleary, D. F. R. and M. J. Genner (2004) Changes in rain forest butterfly diversity following major ENSO-induced fires in Borneo. Global Ecology & Biogeography 13:129-140. Colchester, M. (2000) Towards A Socially Appropriate Notion Of ‘High Conservation Value Forests’ 2nd Input To Safeguards And Definitions Focus Group Of The Technical Advisory Group. Forest Peoples Programme, UK. Curran, L, M and M. Leighton (2000) Vertebrate responses to spatiotemporal variation in seed production of mast-fruiting Dipterocarpaceae. Ecological Monographs 70: 101-128. Curran, L. I. Caniago, G. Paoli, D. Astianti, M. Kusmeti, M. Leighton, C. Nirarita, and H. Haeruman (1999) Impact of El Nino and logging on canopy tree recruitment in Borneo. Science 286: 2033-2220. Curran, L. M., S. N. Trigg, A. K. McDonald, D. Astiani, Y. M. Hardiono, P. Siregar, I. Caniago, and E. Kasischke. (2004) Lowland forest loss in protected areas of Indonesian Borneo. Science 303:1000-1003. Daryatun, A. Gouyon, M. Hiller, E. Pollard, and S. Stanley (2002) Preliminary High Conservation Value Forest assessment for PT Sumalindo Lestari Jaya HPH Unit II. The Nature Conservancy, Samarinda, Indonesia. Davies, G. M Haydon, N Leader-Williams, J. MacKinnon, and H Newing (2001) The effects of logging on tropical forest ungulates pp 93-124 in The Cutting Edge. Conserving wildlife in logged tropical forest. R A Fimbel, A Grajal & J Robinson (eds). Columbia University Press, New York, USA. Douglas, I., T. Spencer, T. Greer, K. Bidin, and W. Sinun. (1992) The impact of selective commercial logging on stream hydrology, chemistry and sediment loads in the Ulu Segama Rain Forest, Sabah, Malaysia. Philosophical Transaction of the Royal Society of London. Series B. Biological Sciences 235: 397-406. EIA/Telepak (1999) The Final Cut: ‘Illegal logging’ in Indonesia’s orangutan parks. EIA & Telepak, London/Jakarta. Fay, C. and H. de Foresta (1998) Progress Towards Increasing the Role Local People in Forest Lands Management in Indonesia. Prepared for the Workshop on Participatory Natural Resource Management in Developing Countries, Mansfield College, Oxford, April 6 –7, 1998. Fimbel, R. A, E. L. Bennett, and C. Kremen (2001) Programs to assess the impacts of timber harvesting on tropical forest wildlife and their habitat pp 423-445 in The Cutting Edge. Conserving wildlife in logged tropical forest. R A Fimbel, A Grajal & J Robinson (eds). Columbia University Press, New York, USA. Fimbel, R. A., A. Grajal, and J. G. Robinson (2001) Logging and wildlife in the tropics : Impacts and the options for conservation pp 667-695 in The Cutting Edge. Conserving wildlife in logged tropical forest. R A Fimbel, A Grajal & J Robinson (eds). Columbia University Press, New York, USA. FSC (2000) FSC Principles and Criteria. Document 1.2. Forest Stewardship Council. Bonn, Germany. FSC (2001) Principle 9 Advisory Panel Recommendation Report, Version 1.1. Forest Stewardship Council, Oaxaca, Mexico. Fuller, D. O., T. C. Jessup, and A. Salim (2003) Loss of forest cover in Kalimantan, Indonesia, since the 1997-1998 El Niño. Conservation Biology 18:249-254. FWI/GFW (2002) The state of the forest : Indonesia. Bogor Indonesia : Forest Watch Indonesia, and Washington DC : Global Forest Watch Ghazoul, J. and J. Hill (2001) The effects of selective logging on tropical forest invertebrates pp 261-288 in The Cutting Edge. Conserving wildlife in logged tropical forest. R. A. Fimbel, A. Grajal & J. Robinson (eds). Columbia University Press, New York, USA. Goldsmith, F. B. (1991) Monitoring for conservation and ecology. Chapman and Hall. London Gonner, C. (2002) A Forest Tribe of Borneo. Man and Forest Series 3. D.K. Printworld (P) Ltd. New Delhi. Gouyon, A. (2002) Rewarding The Upland Poor For Environmental Services: A Review Of Initiatives From Developed Countries. International Center for Research on Agroforestry (ICRAF), Bogor. Grieser Johns, A. (1997) Timber Production and Biodiversity Conservation in Tropical Rain Forests. United Kingdom: Cambridge University Press.

76

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Grieser Johns, A. and B. Grieser Johns (1995) Tropical forest primates and logging: long term coexistence? Oryx 29: 205211. Grossmann, C.M. (1997) Significance and Development Potential of Non-Wood Forest Products in Central East Kalimantan: A Case Study From PT. Limbang Gane ca, Long Lalang and Ritan Baru. Indonesian – German Technical Cooperation: Ministry of Forest in Cooperation with Deutsche Gesellschaft fur Technische Zusammenarbeit (GTZ): Promotion of Sustainable Forest Management Systems (SFMP) in East Kalimantan, Samarinda. Groves, C, Jenson D, Valutis L, Redford K, Shaffer, M. Scott, J. M. Baumgartner, J. Higgins, J. Beck, M. and M Anderson (2002). Planning for Biodiversity conservation : putting the conservation science into practice. Bioscience 52:499-512. Groves, C. P. (2001) Primate Taxonomy. Smithsonian Institution Press, Washington DC, United States of America. Hartanto, H., R. Prabhu, A. S. E. Widayat, and C. Asdak. (2003). Factors affecting runoff and soil erosion: plot-level soil loss monitoring for assessing sustainability of forest management. Forest Ecology & Management 180:361-374. Hedges, S., M. J. Tyson, A. F. Sitompul, M. F. Kinnaird, D. Gunaryadi, and A. Baco. in review. Distribution, status, and conservation needs of Asian elephants (Elephas maximus) in Lampung Province, Sumatra, Indonesia. Biological Conservation. Helming, S. and M. Gobel (1997) ZOPP, Objectives-Oriented Project Planning: a Planning Guide for New and Ongoing Projects and Programmes. Deutsche Gesellschaft fur Zusammenarbeit (GTZ), Eschborn, Germany. Heydon, M. J. and P. Bulloh (1997) Mousedeer densities in a tropical rainforest : the impact of selective logging. Journal of Applied Ecology 34: 484-496. Holmes, D. (1998) Rainfall and Droughts in Indonesia. A Study for the World Bank. Holmes, D. (2002). Indonesia, Where have all the forests gone? Environment and Social Development East Asia and Pacific Region Discussion Paper, World Bank. Holmes, D. W. Rombang, and D. Octaviani (2000) Daerah Penting bagi burung Kalimantan. Birdlife International Indonesia Program. Jacoby, K. (2001) Crimes against Nature: Squatters, Poachers, Thieves, and the Hidden History of American Conservation. University of California Press. Jarvie, J. Hiller, M., and A. Salim (2002) HCVF Guidelines for Forest Managers in Indonesia. Sponsored by The Nature Conservancy and The United States Forest Service. Jennings, S and J. Jarvie (2004) A Sourcebook for Landscape Analysis of High Conservation Value Forests. ProForest. Oxford. UK. Jennings, S. Nussbaum, R., and T. Sysnnott (2002) A Toolkit for identifying and managing High Conservation Value Forests: Review Draft 1. Prepared by ProForest. Oxford. UK Jennings, S. (2004). HCVF for Conservation Practitioners. ProForest. Oxford. UK Jennings, S. Nussbaum, R. Judd, N. and T Evans. (2003) The High Conservation Value Forest Toolkit (Parts 1 – 3). ProForest. Oxford. Jepson, P. Jarvie J. K, MacKinnon, and K. A Monk (2001) The end for Indonesia’s lowland forests? Science 292: 859. Johns, A. D (1986) Effects of selective logging on the behavioral ecology of West Malaysian promates. Ecology 67: 684-694. Johns, A. D. (1988) Effects of ‘selective’ timber extraction on rain forest structure and composition and some consequences for frugivores and foliovores. Biotropica 20:31-37. Kinnaird, M. F., E. W. Sanderson, T. G. O’Brien, H. T. Wibisono, and G. Woolmer. 2003. Deforestation trends in a tropical landscape and implications for endangered large mammals. Conservation Biology 17:245-257. Kremen, C. (1992). Assessing the indicator properties of species assemblages for natural areas monitoring. Ecological Applications 2: 203-217. Kremen, C. I. Raymond, and K. Lance (1998). An interdisciplinary tool for monitoring conservation impacts in Madagascar. Conservation Biology 12: 549-563. Kremen, C., A. Merenlender, and D. Murphy (1994). Ecological Monitoring: a vital need for integrated conservation and development programs in the tropics. Conservation Biology 8: 388-397. Lammertink, M. (2004). A multiple-site comparison of woodpecker communities in bornean lowland and hill forests. Conservation Biology 18:746-757.

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

77

Levang, P. (1991) Jachère arborée et culture sur brûlis dans les îles extérieures de l’archipel Indonésien. In Atelier International La jachère en Afrique de l’Ouest, Montpellier (FRA), 1991/12/35, ORSTOM. Linkie, M., D. J. Martyr, J. Holden, A. Yanuar, A. T. Hartana, J. Sugardjito, and N. Leader-Williams. 2003. Habitat destruction and poaching threaten the Sumatran tiger in Kerinci Seblat National Park, Sumatra. Oryx 37:41-48. MacKinnon, K. G Hatta, G. Halim, A. Mangalik (1996). Ecology of Kalimantan. Periplus, Singapore. Marcot, B. G., R. E. Gullison and J. R. Barborak (2001). Protecting habitat elements and natural areas in the managed forest matrix pp 523-558 in The Cutting Edge. Conserving wildlife in logged tropical forest. R A Fimbel, A Grajal & J Robinson (eds). Columbia University Press, New York, USA. Margoluis, R and N. Salafsky (1998). Measures of Success: Designing, Managing and Monitoring Conservation and Development Projects. Island Press. Margules, C. R. and R. L. Pressey (2000) Systematic conservation planning. Nature 405: 243-253. Marshall, A. (2002). Orangutan population survey of Gunung Gajah in Berau district, East Kalimantan. Report to TNC. Mason, D. J. and F. E. Putz (2001). Reducing the impacts of tropical forestry on wildlife. pp 473 – 510 in The Cutting Edge. Conserving wildlife in logged tropical forest. R A Fimbel, A Grajal & J Robinson (eds). Columbia University Press, New York, USA. Mathews, A., and A. Matthews. 2002. Distribution, population density, and status of sympatric cercopithecids in the CampoMa’an area, Southwestern Cameroon. Primates 43:155-168. Mayers, J. and S. Vermeulen (2002) Company-community forestry partnerships: From raw deals to mutual gains? Instruments for sustainable private sector forestry series. International Institutes for Environment and Development (IIED), London. Meijaard, E. (1996) The Sumatran rhinoceros (Dicerorhinus sumatrensis) in Kalimantan, Indonesia: its possible distribution and conservation prospects. Pachyderm 21:17-23. Meijaard, E. (2003a) Solving mammalian riddles. A reconstruction of the Tertiary and Quaternary distribution of mammals and their palaeoenvironments in island South-East Asia. Department of Anthropology and Archaeology. Australian National University, Canberra, Australia. Meijaard, E. (2003b) Forest, pigs and people. A plan for the sustainable management of Bearded Pig populations in and around the Kayan Mentarang National Park, East Kalimantan, Indonesia. Unpubl. Report for WWF-Indonesia. WWFIndonesia, Jakarta, Indonesia. Meijaard, E., D. Sheil, R. Nasi, D. Augeri, B. Rosenbaum, D. Iskandar, T. Setyawati, M. J. Lammertink, I. Rachmatika, A. Wong, T. Soehartono, S. Stanley, and T. O’Brien. (2005.) Life after logging: Reconciling wildlife conservation and production forestry in Indonesian Borneo. CIFOR, WCS and UNESCO, Bogor, Indonesia. Myers, N., R. Mittermeier, C. Mittermeier, G. da Fonseca and J. Kentet (2000) Biodiversity hotspots for conservation priorities. Nature 403: 853-858. Nabasa, J., G. Rutwara, F. Walker, and C. Were (1994) Participatory Rural Appraisal. Practical Experiences. Natural Resources Institute, Overseas Development Administration, UK. Noss, R. F. (1999) Assessing and monitoring forest biodiversity : A suggested framework and indicators. Forest Ecology and Management 115: 135-146. Olsen, D. M. and E. Dinerstein (1998) The Global 200: a representation approach to conserving the Earth’s most biologically valuable ecoregions. Conservation Biology 12: 502-515. Payne, J., C. M. Francis, and K. Phillipps (1985) A field guide to the mammals of Borneo. The Sabah Society, Kota Kinabalu. Peters, C (1994) Sustainable Harvest of non-timber plant resources in tropical moist forest : an ecological primer. Biodiversity Support Program. Washington DC. Plumptre A. J. and A Grieser Johns (2001) Changes in primate communities following logging disturbance. pp 71-92 in The Cutting Edge. Conserving wildlife in logged tropical forest. R A Fimbel, A Grajal & J Robinson (eds). Columbia University Press, New York, USA. Pollard, E. (1977) A method for assessing changes in abundance of butterflies. Biological Conservation 12: 115-131. Pringle, C. M. and J.P Benstead (2001) The effects of logging on tropical river ecosystems. pp 305-325 in The Cutting Edge. Conserving wildlife in logged tropical forest. R A Fimbel, A Grajal & J Robinson (eds). Columbia University Press, New York, USA.

78

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

Proforest/SmartWood (2003) Identifying, Managing and Monitoring High Conservation Value Forests in Indonesia: A Toolkit for Forest Managers and other Stakeholders. SmartWood Asia Pacific Program. Putz, F. E, K. H Redford, J. G. Robinson, R. Fimbel, and G. M. Blate (2000) Biodiversity conservation in the context of tropical forest management. Environment department papers, Biodiversity series - Impact studies. The World Bank Rabinowitz, A. (1993) Wildlife Field Research and Conservation training manual. Wildlife Conservation Society. New York. Rabinowitz, A. (1995) Helping a species go extinct: The Sumatran rhino in Borneo. Conservation Biology 9: 482-488. RECOFTC (2000) Tools for Negotiating and Recognizing Local Forest Management Agreements. Experiences from Cambodia, India, Indonesia, Lao PDR, Thailand. Asia-Pacific Community Forestry Newsletter 13(2). Regional Community Forestry Training Center for Asia and the Pacific (RECOFTC), Bangkok. Redford, K. and A. Taber (2000) Writing the Wrongs : Developing a Safe-fail culture in Conservation. Conservation Biology 14:1567-1568. Republik Indonesia (1999) Undang-undang Republik Indonesia: Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. Robertson, J. M. Y., and C. P. van Schaik. 2001. Causal factors underlying the dramatic decline of the Sumatran orang-utan. Oryx 35:26-38. Robinson, J. G., K. H. Redford, and E. L. Bennett. 1999. Wildlife harvest in logged tropical forests. Science 284:595-596. Russell, D. and C. Hasselberger (1998) Studying the social dimensions of Community-based conservation. Unpublished report from the Biodiversity Conservation Network. Salafsky, N., B. L. Dugelby, and J. W. Terborgh (1993) Can extractive reserves save the rain forest? An ecological and socio-economic comparison of nontimber forest product extraction systems in Peten, Guatemala and West Kalimantan, Indonesia. Conservation Biology 7: 39-52. Salafsky, N., R. Margoluis, and K. Redford (2001) Adaptive Management : A tool for conservation practitioners. Biodiversity Support Program. Washington DC Saterson, K., R. Margoluis, and N. Salafsky (1999) Measuring conservation impact : An interdisciplinary approach to project monitoring and evaluation. BSP, Washington DC. Sheil, D. (2001) Conservation and biodiversity monitoring in the tropics: Realities, priorities, and distractions. Conservation Biology 15:1179-1182. Sheil, D., R. Nasi, and B. Johnson (2004) Ecological criteria and indicators for tropical forest-landscapes: Challenges in the search for progress. Ecology and Society 9:article 7. http://www.ecologyandsociety.org/vol9/iss1/art7. Siegert, F. G., Ruecker, A. Hinrichs and A. A. Hoffmanss (2001) Increased damage from fires in logged forests during droughts caused by El Nino. Nature 414: 437-440 Sist, P. (2001) Why RIL won’t work by minimum-diameter cutting alone. ITTO Newsletter 11. Sist, P. D. Dykstra and R. A. Fimbel (1998) Reduced impact logging guidelines for hill dipterocarp forests in Indonesia. CIFOR, Occasional Paper 15. Bogor, Indonesia. Sist, P., R. Fimbel, D. Sheil, R. Nasi, and M. H. Chevallier (2003) Towards sustainable management of mixed dipterocarp forests of South-east Asia: moving beyond minimum diameter cutting limits. Environmental Conservation 30:364-374. Sist, P., T. Nolan, J-G. Bertault and D. Dykstra (1998) Harvesting intensity versus sustainability in Indonesia. Forest Ecology and Management 108: 251-260 Slik, J.W.F., A.D. Poulsen, P.S. Ashton, C.H. Cannon, K.A.O. Eichhorn, K. Kartawinata, I. Lanniari, H. Nagamasu, M. Nakagawa, M.G.L. van Nieuwstadt, J. Payne, Purwaningsih, A. Saridan, K. Sidiyasa, R.W. Verburg, C.O. Webb and P. Wilkie (2003) A floristic analysis of the lowland dipterocarp forest of Borneo. Journal of Biogeography 30:1517-1531. SmartWood (2003) Identifying, Managing and Monitoring High Conservation Value Forests in Indonesia: A Toolkit for Forest Managers and other Stakeholders. SmartWood Asia Pacific Program. Stattersfield, A. M. Crosby, A. Long, and D. Wege (1998): Endemic Bird Areas of the World: Priorities for Biodiversity Conservation. Cambridge: BirdLife International. Styring, A. R. and M. Z. Hussin (2004) Effects of logging on woodpeckers in a Malaysian rainforest: the relationship between resource availability and woodpecker abundance. Journal of Tropical Ecology 20: 495-504. Sulistioadi, Y. B. (2004) Identification of High Conservation Value Forest (HCVF) related to soil and water conservation. The use of remote sensing and GIS to support forest certification in Indonesia. MSc Thesis. International Institute for geoinformation science and earth observation, Enschede, the Netherlands.

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

79

TNC – Berau FO (2002) Baseline socio-economic survey in Kecematan Kelai, East Kalimantan. Report prepared by The Nature Conservancy Berau Field Office, Tanjung Redeb, Indonesia TNC – Berau FO (2003) Participatory conservation planning in Kelai. Report prepared by The Nature Conservancy Berau Field Office, Tanjung Redeb, Indonesia TNC - LLFO. (2002). Participatory Conservation Planning: A methodology for Community consultation. The Nature Conservancy. Palu, Indonesia. TNC (2000) The Five-S framework for site conservation : a practitioners handbook of Site Conservation Planning and measuring conservation success. The Nature Conservancy, Arlington VA, USA TNC-SFO (2002) Preliminary High Conservation Value Forest assessment for Sumalindo Lestari Jaya unit II. Report prepared by The Nature Conservancy Samarinda field office, Samarinda, Indonesia Van Nieuwstadt, M. G. L., D. Sheil, and K Kartawinata (2001) The ecological consequences of logging in burned forests of East Kalimantan, Indonesia. Conservation Biology 15: 1183-1186. Wadley, R. L., and C. J. P. Colfer (2004) Sacred forest, hunting, and conservation in West Kalimantan, Indonesia. Human Ecology 32: 313-338. Walsh, P. D., K. A. Abernethy, M. Bermejo, R. Beyersk, P. De Wachter, M. E. Akou, B. Huljbregis, D. I. Mambounga, A. K. Toham, A. M. Kilbourn, S. A. Lahm, S. Latour, F. Maisels, C. Mbina, Y. Mihindou, S. N. Obiang, E. N. Effa, M. P. Starkey, P. Telfer, M. Thibault, C. E. G. Tutin, L. J. T. White, and D. S. Wilkie. 2003. Catastrophic ape decline in western equatorial Africa. Nature 422:611-614. Webb, C and M. Yani (1999). Methods for monitoring forest quality and floristics to be implemented by local personnel at Lore Lindu National Park, Central Sulawesi, Indonesia. Report to TNC and Balai Taman Nasional Lore Lindu. Whitten. T, D. Holmes and K. MacKinnon (2001) Conservation biology: a displacement behaviour for academia. Conservation Biology 15: 1-3 Wikramanayake E, E. Dinerstein, J. L Loucks, D. M. Olsen, J Morrison, J Lamoreux, M. McKight and Prashant Hedao (2002) Terrestrial Ecoregions pf the Indo-Pacific. A conservation assessment. Island Press. Washington. Wilkie, D. S., and J. F. Carpenter. 1999. Bushmeat hunting in the Congo Basin: an assessment of impacts and options for mitigation. Biodiversity & Conservation 8:927-955. World Bank (1996) The World Bank Participation Sourcebook. Environmentally Sustainable Development Publications. Washington. Wulffraat, S. (2000) An overview of the biodiversity of Kayan Mentarang National Park. WWF Indonesia Program. WWF and IUCN (1995) Centres of Plant Diversity: A guide and strategy for their conservation. Vol 2. Asia, Australia and the Pacific. Cambridge. UK Zakaria, M and C. M. Francis (2001) The effects of logging on birds in tropical forests of Indo-Australia pp 193-221 in The Cutting Edge. Conserving wildlife in logged tropical forest. R A Fimbel, A Grajal & J Robinson (eds). Columbia University Press, New York.

80

Panduan bagi praktisi; mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia

The Nature Conservancy in Indonesia
e-mail: tncindonesia@cbn.net.id
Tel. +62 21 724 7152 Fax. +62 21 724 7162
Palu Field Office: Jl. Rajawali No. 9, Palu, 94112 Tel. +62 451 456876 Fax. + 62 451 423544 East Kalimantan Portfolio Office: Jl. Gamelan No. 4. Komp. Prefab, Samarinda 75123 Tel. +62 541 744 069/070/071 Fax. + 62 541 738 127 e-mail: tnc@samarinda.org Berau Field Office: Jl. Pemuda No. 92, Tanjung Redeb, Berau, Kalimantan Timur Tel. +62 554 23627 Fax. + 62 544 21293

nature.org

Departemen Kehutanan
Republik Indonesia