PENDAHULUAN

Mual (nausea) dan muntah (vomiting), pusing, perut kembung, dan badan terasa lemah
dapat terjadi hampir pada 50% kasus ibu hamil, dan terbanyak pada usia kehamilan 6-12
minggu.1 Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi pada awal kehamilan sampai umur
kehamilan 20 minggu.2 Keluhan mual muntah tersebut sering terjadi pada waktu pagi sehingga
dikenal juga dengan morning sickness. Keluhan muntah kadang – kadang begitu hebat di mana
segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga dapat mempengaruhi keadaan
umum dan mengganggu pekerjaan sehari – hari, berat badan menurun, dehidrasi, dan terdapat
aseton dalam urin bahkan seperti gejala penyakit apendisitis, pielitis, dan sebagainya. 1
Hiperemesis Gravidarum merupakan komplikasi kehamilan yang berpengaruh terhadap
homeostasis, elektrolit dan fungsi ginjal, serta dapat mempengaruhi kesehatan janin.2
Mual dan muntah mempengaruhi hingga > 50% kehamilan. Kebanyakan perempuan
mampu mempertahankan kebutuhan cairan dan nutrisi dengan diet, dan symptom akan teratasi
hingga akhir trimester pertama. Penyebab penyakit ini masih belum diketahui secara pasti, 1,3
tetapi diperkirakan erat hubungannya dengan endokrin, biokimiawi, dan psikologis. 1 Walaupun
seringkali terjadi, sejauh ini penatalaksanaannya hanya secara simptomatik. Hiperemesis
gravidarum berat dapat mempersulit sekitar 0,3-2 % kehamilan, dengan menyebabkan perubahan
psikologis yang dapat mempengaruhi ibu dan janin. Pada sebagian kasus, mual dan muntah
ringan atau sedang dapat berkembang menjadi hiperemesi gravidarum dengan atau tanpa
penyulit seperti asetonuria, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, dan ensefalopati Wernicke.3
Patogenesis Hiperemesis Gravidarum masih belum dipahami sepenuhnya, namun
kemungkinan berhubungan dengan hormonal, disfungsi gastrointestinal, tirotoksikosis,

1

serotonin, abnormalitas hepatik, disfungsi saraf otonom, defisiensi nutrisi, asma, alergi, infeksi
Helicobacter pylori, atau karena penyebab psikosomatik.2 Mual dan muntah kemungkinan
disebabkan oleh kombinasi hormon estrogen dan progesteron, walaupun hal ini tidak diketahui
dengan pasti dan hormone human chorionic gonadotropin juga berperan dalam menimbulkan
mual dan muntah.1
Penelitian – penelitian sebelumnya menunjukan adanya hubungan mekanisme terjadinya
Hiperemesis Gravidarum dengan faktor genetik. Masih belum jelas apakan faktor gen maternal
atau faktor lingkungan yang merupakan faktor utama penyebab Hiperemesis gravidarum.
Peningkatan kadar human chorionic gonadotropin (hCG), estrogen dan leptin kemungkinan
berhubungan dengan Hiperemesis Gravidarum, seperti halnya dengan peningkatan kadar DNA
fetal dalam darah ibu, yang mengindikasikan adanya kerusakan barrier fetomaternal.4
Hiperemesis Gravidarum mulai terjadi pada trimester pertama. Gejala klinis hiperemesis
gravidarum biasanya tidak spesifik dan penting untuk mengeklusikan penyebab – penyebab mual
dan muntah yang lain.5 Gejala klinik yang sering dijumpai adalah nausea, muntah, penurunan
berat badan, ptialism (salivasi yang berlebihan), tanda – tanda dehidrasi termasuk hipotensi
postural dan takikardi. Pemeriksaan laboratorium dapat dijumpai hiponatremia, hipokalemia, dan
peningkatan hematokrit. Hipertiroid dan LFT yang abnormal juga dapat dijumpai.1
Secara klinis hiperemesis gravidarum dibedakan atas 3 tingkatan, yaitu :1
Tingkat I
Muntah yang terus – menerus, timbul intoleransi terhadap makanan dan minuman, berat badan
menurun, nyeri epigastrium, muntah pertama keluar makanan, lendir, dan sedikit cairan empedu,
dan yang terakhir keluar darah. Nadi meningkat sampai 100 kali per menit dan tekanan darah

2

dan berat badan cepat menurun. nistagmus. Ptyalismus juga merupakan gejala hiperemesis. dan penurunan berat badan lebih dari 5% berat badan. gangguan jantung.6 Dampak Hiperemesis Gravidarum dalam kehidupan ibu cukup luas. nadi cepat dan lebih dari 100-140 kali per menit. ketidakseimbangan elektrolit. yang mulai terjadi adalah gangguan kesadaran (delirium-koma). Selain merasa sakit. lidah kotor.2 Penatalaksanaan hiperemesis gravidarum berupa pemberian makanan ringan. Gejala – gejala tersebut biasanya meningkat pada usia kehamilan 9 minggu dan kira – kira menurun pada usia kehamilan 20 minggu. ketonuria. kadang ikterus. Pada kondisi tersebut dapat terjadi dehidrasi berat. aseton. kelemahan otot. Ondansentron dapat juga diberikan pada kasus ini. Hiperemesis Gravidarum berat sering membutuhkan hospitalisasi. hipokalemia. muntah berkurang atau berhenti. Tingkat III Walaupun kondisi tingkat III sangat jarang. subfebril. Tingkat II Gejala lebih berat. bilirubin dalam urin. ibu dengan kondisi tersebut mengalami distres akibat kehilangan waktu untuk bekerja dan 3 . dan proteinuria. tekanan darah sistolik kurang dari 80 mmHg. segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan. Vitamin B sebaiknya diberikan karena adanya kemungkinan terjadi ensefalopati Wernicke. apatis. dan urin sedikit tetapi masih normal. rehidrasi intravena dan obat antiemesis seperti promethazin dan metoklopramid. Mata cekung dan lidah kering. tetapi dapat terjadi ikterus. kulit pucat.sistolik menurun. turgor kulit berkurang. sianosis. dan kadar urea serum rendah. bilirubin. Sebagian besar pasien juga mengalami hiponatremia. haus hebat.

8% menyatakan kegiatan sehari – harinya terbatas. namun disebabkan pula oleh perasaan sakit selama berminggu – minggu hingga berbulan – bulan.2 Dampak Hiperemesis Gravidarum terhadap janin dapat berupa prematuritas.4 4 . Beberapa pasien menyatakan bahwa terdapat perlakuan yang berbeda secara social di tempat kerja. apgar score 5 menit kurang dari 7 dan kematian perinatal. berat badan lahir rendah. Dalam penelitian terhadap 147 pasien.menurunkan kualitas hidup. 82. Hiperemesis dapat mempersulit keadaan finansial pasien dan mempengaruhi pekerjaan pasien.3. Keterbatasan tersebut tidak hanya karena mual dan muntah berulang. kecil usia kehamilan.

D. K Umur : 36 tahun Pendidikan : Strata-1 Pekerjaan : Guru Alamat : Picuan Suku : Minahasa Bangsa : Indonesia Agama : Kristen Protestan Nama Suami : Tn.LAPORAN KASUS IDENTITAS Nama : Ny. D. M Pekerjaan : Swasta MRS : 30 November 2013 ANAMNESIS Anamnesis utama Anamnesis diberikan oleh penderita Keluhan utama Mual-mual dan muntah 5 .

Jumlah anak sekarang 1 orang Riwayat Keluarga Berencana KB suntik 3 bulan 6 . banyaknya ± 1 gelas aqua. benjolan di perut disangkal. jantung. hati. riwayat keputihan (-). riwayat trauma (-). Riwayat penyakit dahulu Penyakit darah tinggi. kencing manis disangkal ANAMNESIS GINEKOLOGIS Riwayat Kehamilan terdahulu dan Perkawinan Riwayat haid Haid pertama pada usia 12 tahun dengan siklus teratur dan lamanya haid tiap siklus 3-4 hari. Riwayat keluarga Penderita menikah satu kali dengan suami sekarang 15 tahun. Hari pertama haid terakhir (HPHT) 10 Agustus 2013. riwayat terlambat haid (+). Saat ini penderita mengeluh lemas di seluruh anggota tubuh. Riwayat perdarahan dari jalan lahir disangkal.Riwayat penyakit sekarang Mual – mual dan muntah dikeluhkan dari kemarin (29 November 2013). ginjal. paru. riwayat contact bleeding (-). Setiap kali muntah frekuensi lebih dari 3x isi makanan.

perempuan.5° C Berat badan : 57 kg Tinggi badan :154 cm Kepala Kepala berbentuk simetris. Mata agak cowong. kedua konjungtiva tidak anemis. Bibir kering. ditolong bidan. spontan kepala. tidak ada sekret yang keluar dari hidung. sehat 2013. hamil ini PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan Fisik Umum Status presens : Keadaan umum : cukup Kesadaran : compos mentis Tekanan darah : 120/80 mmHg Nadi : 76 x/menit Respirasi : 24 x/menit Suhu badan : 36. pada gigi tidak ditemukan adanya karies dentis. kedua sklera tidak ikterik.Riwayat kehamilan terdahulu 1999. BBL : 2000 gr. Telinga berbentuk normal dan tidak ada sekret yang keluar dari liang telinga. cukup bulan. Hidung berbentuk normal dengan kedua septum intak. 7 . Tonsil T1/T1 tidak hiperemis. faring tidak hiperemis.

Refleks Refleks fisiologis positif normal. Dada Bentuk simetris normal.Leher Tidak ditemukan adanya pembesaran kelenjar getah bening leher. tidak terdapat refleks patologis. Hati dan limpa dalam batas normal. tidak ditemukan adanya ronki dan “wheezing” di kedua lapangan paru.palpasi perut lemas. Varises tidak ada. tidak terdengar bising jantung. Kulit Turgor menurun 8 . membesar TFU ½ pusat – simfisis. Kelamin Tidak ditemukan kelainan Anggota gerak Tidak ditemukan adanya edema pada kedua tungkai. Jantung Bunyi jantung I dan II normal. NT (-). Paru-paru Suara pernapasan vesikuler. Abdomen Pada inspeksi perut datar. Pada auskultasi bising usus (+) normal.

020 Ph :8 Leukosit : (+) Nitrit : neg Protein : (+) Glukosa : norm Keton : ++++ Urobilinogen : + 9 .46 x 106 /µL Hemoglobin : 13. vulva tidak ada kelainan PEMERIKSAAN LABORATORIUM βhcG test : (+) Darah Lengkap : Leukosit : 9600 /µL Eritrosit : 4.STATUS GINEKOLOGI Pemeriksaan luar Inspeksi : fluksus Θ.9% Trombosit : 240. fluor Θ.5 9/dL Hematokrit : 37.000/µL Urinalisis Berat jenis : 1.

Bilirubin : neg Darah / eri : neg USG Janin intra uterin tunggal FM (+) FHM (+) BPD : 2.9 cm.07 cm EFW : ± 75 gr plasenta di fundus Kesan : hamil 13-14 minggu intra uterin DIAGNOSIS KERJA G2P1A0 36 tahun hamil 15-16 minggu dengan hiperemesis gravidarum SIKAP / TERAPI / RENCANA IVFD RL : D5 2:2 20 tpm Drip neurobion 5000 1 x 1 amp dalam 500 cc RL 28 gtt Inj ondancetron 3 x 1 amp Antasida syr 3 x c 1 ac Rawat konservatif 10 . AC : 6. FL : 1.2 cm.

kesadaran : compos mentis T : 110/70 mmHg R : 20x/menit N : 88x/menit S : 36.6°C A : G2P1A0 36 tahun hamil 15-16 minggu dengan hiperemesis gravidarum P : 11 .OBSERVASI 01 Desember 2013 S : mual muntah (+) O : KU cukup.7°C A : G2P1A0 36 tahun hamil 15-16 minggu dengan hiperemesis gravidarum P : IVFD RL : D5 Neurobion drips 2 x 1 Inj ondansetron 3 x 1 amp Antasida syr 3 x 1 Rawat konservatif 02 Desember 2013 S : mual muntah (+) O : KU cukup. kesadaran : compos mentis T : 110/70 mmHg R : 20x/menit N : 88x/menit S : 36.

7°C 12 . kesadaran : compos mentis T : 110/70 mmHg R : 20x/menit N : 88x/menit S : 36.IVFD RL : D5 : NaCl 1 : 1 : 1 Neurobion drips dalam larutan D5% Metoklopramid 3 x 1 Antasida syr 3 x 1 c 03 Desember 2013 S : mual muntah berkurang O : KU cukup. kesadaran : compos mentis T : 110/60 mmHg R : 20x/menit N : 80x/menit S : 36.6°C A : G2P1A0 36 tahun hamil 15-16 minggu dengan hiperemesis gravidarum P : IVFD RL : NaCl 1 : 1 Inj ondansetron 3 x 1 amp Antasida syr 3 x 1 04 Desember 2013 S : mual muntah berkurang O : KU cukup.

7°C A : G2P1A0 36 tahun hamil 15-16 minggu dengan hiperemesis gravidarum P : App IVFD Antasida syr 3 x 1 Vitamin B6 3 x 1 tab 13 .A : G2P1A0 36 tahun hamil 15-16 minggu dengan hiperemesis gravidarum P : IVFD RL : D5 : NaCl 1 : 1 : 1 Neurobion drips 2 x 1 Antasida syr 3 x 1 c 05 Desember 2013 S :- O : KU cukup. kesadaran : compos mentis T : 110/70 mmHg R : 20x/menit N : 84x/menit S : 36.

7°C A : G2P1A0 36 tahun hamil 15-16 minggu dengan hiperemesis gravidarum P : Rawat jalan 14 .06 Desember 2013 S :- O : KU cukup. kesadaran : compos mentis T : 110/80 mmHg R : 20x/menit N : 80x/menit S : 36.

36 tahun. Penderita masuk rumah sakit pada tanggal 30 november 2013 dengan status praesens ditemukan. turgor kulit agak menurun dan tubuh lemas. mata agak cowong.5 0 C.DISKUSI Yang akan dibahas pada diskusi ini adalah: 1. Penanganan 4. 15 . namun berdasarkan HPHT didapatkan perkiraan kehamilan usia 15-16 minggu. Dari hasil keseluruhan keadaan diatas maka penderita didiagnosis dengan G2P1A0. dengan hiperemesis gravidarum tingkat I. kesadaran kompos mentis. bibir kering. Diagnosis 2. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. tekanan darah 120/80 mmHg. Etiologi 3. Komplikasi 5. Saat ini penderita sedang mengandung anak kedua. pernapasan 24 kali permenit dengan suhu badan 36. nadi 76 kali permenit. hamil 15-16 minggu. Pada anamnesis didapatkan keluhan utama yaitu mual dan muntah yang berlangsung sejak 1 hari yang lalu. mual dan muntah terjadi setiap kali makan dan minum. Prognosis Diagnosis Diagnosis hiperemis gravidarum pada kasus ini didasarkan pada anamnesis. Pada pemeriksaan USG kesan hamil 13-14 minggu. Nafsu makan menurun. Pada pemeriksaan urin didapatkan urin aseton ++++. keadaan umum yang cukup.

7 Terdapat komponen fisiologis dan psikologis dalam prosesnya.7 Diagnosis hiperemesis gravidarum sebaiknya ditegakkan setelah mengeksklusikan penyebab mual dan muntah lain. mulai pada usia kehamilan 4-10 minggu. Salah satu teori mengemukakan bahwa mual dan muntah dalam kehamilan berhubungan dengan aktivitas trofoblastik dan produksi gonadotropin. Pasien biasanya menunjukan tanda – tanda dehidrasi.7 Temuan laboratorium pada hiperemesis graviarum berupa peningkatan benda keton. progesteron. 1. Hubungan kadar hCG dengan hiperemesis gravidarum berdasarkan insidensi hiperemesis 16 . pyelonefritis. pada puncaknya pada usia 8-12 minggu.7 Penyebab hiperemesis gravidarum masih belum dimengerti sepenuhnya. hipertiroidisme. Hormon estrogen. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) dilakukan untuk mengidentifikasi adanya kehamilan multipel atau kehamilan mola. obstruksi. ketosis. gejala menetap sampai lebih lanjut.7 Etiologi Faktor risiko hiperemesis gravidarum yaitu peningkatan berat badan. dan nulipara. hiperparatiroidisme atau disfungsi hati.3. koleosistitis. pankreatitis akut. kemungkinan sekunder dari peningkatan kadar hCG serum. seperti gastroenteritis. adrenal dan pituitari telah diajukan sebagai penyebab hiperemesis gravidarum.Diagnosis hiperemesis gravidarum berdasarkan pada observasi gejala dan tanda pasien hamil dengan muntah hebat. kemudian menurun hingga usia 20 minggu. gangguan elektrolit dan asam-basa. Gejala hiperemesis gravidarum biasanya muncul selama trimester pertama kehamilan. riwayat hiperemesis gravidarum pada kehamilan sebelumnya. penyakit trofoblastik. kehamilan ganda. Pada kasus tertentu. Penurunan berat badan lebih dari 5% dapat pula terjadi.

depresi dan cemas.gravidarum yang lebih tinggi pada kehamilan ganda dan kehamilan mola dimana kadar hCG meningkat.7 Penanganan penatalaksanaan hiperemesis gravidarum bersifat multimodal. mulai dari diet. disfungsi tiroid. hingga konseling psikosomatik. Pada kasus ini kemungkinan besar sebagai pencetus adalah hal tersebut diatas. traktus gastrointestinal. Hiperemesis gravidarum berhubungan dengan stress dan ketegangan emosional. histerik.7 Pada kehamilan terdapat villi korealis yang masuk dalam sirkulasi maternal dan terjadinya perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan ini. Penelitian terbaru mengemukakan teori infeksi Helicobacter pylori sebagai kemungkinan penyebab hiperemesis gravidarum. gaya hidup. dan hipofungsi pituitari anterior dan korteks adrenal. dependen. Pemberian antiemesis dapat diperlukan.5 17 . serta lebih sering ditemui pada wanita yang kurang dewasa. dan tempat lainnya.7 Teori penyebab psikosomatik menyatakan bahwa wanita hamil menunjukan tingkat kecemasan yang secara signifikan lebih tinggi daripada wanita yang tidak hamil. Pemberian makanan secara parenteral dan pemasangan selang nasograstrik dapat dilakukan pada hiperemesis yang berat.7 Mekanisme lain yang telah diajukan yaitu perubahan motilitas traktus gastrointestinal. oleh karena itu serotonin kemungkinan berhubungan dengan hiperemesis gravidarum. Serotonin berperan dalam proses emesis pada manusia karena efek fisiologisnya pada sistem saraf pusat. serta penggantian cairan secara intravena.

terdapat data yang menunjukan beberapa obat yang tidak menunjukan sifat teratogenik seperti antagonis dopamin. fenotiazin. 100 mg tiamin dapat dicampur dalam 100 mL normal salin dan diinfus dalam 30 menit hingga satu jam. Rehidrasi disertai penggantian elektrolit sangat penting dalam penatalaksanaan hiperemesis. Sumber kalori tersebut mencegah ketosis. Bila tidak dapat dikonsumsi secara oral. Beberapa obat sebaiknya tidak digunakan sebelum usia kehamilan 12-14 minggu karena kemungkinan dampak yang tidak diinginkan pada janin. Tiamin sebaiknya diberikan sebagai suplemen rutin pada pasien dengan mual dan muntah hebat. dan histamine receptor blocker. Cairan intravena (IV) sebaiknya diberikan untuk mengganti volume intravaskular yang hilang. Normal salin merupakan larutan yang tepat. vitamin larut lemak dan air.Pada kasus.2 Pada kasus diberikan injeksi ondancetron 3 x 1 amp IV untuk mengatasi muntah yang terus menerus. Nutrisi parenteral total merupakan sumber kalori non protein. Meskipun demikian.2 Pada kasus Neurobion drips 1 x 1 dalam larutan RL sebagai roboransia untuk janin dan ibu.5 mg/dl tiamin. Potasium klorida dapat ditambahkan bila dibutuhkan. Sistem saraf pusat 18 . Beberapa obat digunakan sebagai antiemetik untuk mengontrol gejala mual dan muntah selama kehamilan. biasanya glukosa atau emulsi lemak. Nutrisi parenteral total merupakan sumber nutrisi yang digunakan pada ibu hamil dengan hiperemesisi gravidarum berat atau pada keadaan kurangnya penyerapan nutrisi yang adekuat.2 Ondansetron merupakan salah satu obat yang sering digunakan dan hanya memiliki sedikit efek samping. yang berkembang dari metabolisme asam lemak dan dapat menyebabkan efek samping pada janin. pertolongan pertama diberikan IVFD RL : D5 karena pasien dalam keadaan dehidrasi. yang menyediakan nitrogen. Ibu hamil sebaiknya mengkonsumsi sekitar 1. 5 Ondansetron merupakan antagonis 5-HT yang bekerja pada sistem saraf pusat dan perifer. elektrolit.

2 Modifikasi jumlah dan porsi makanan yang dikonsumsi per hari dapat mengurangi gejala hiperemesis gravidarum.5 Pada Pedoman Penatalaksanaan Muntah dalam Kehamilan tahun 2004.merupakan situs utama kerja ondansetron. namun dapat juga meningkatkan proses pengosongan lambung. Salah satu penelitian menunjukan bahwa mual dan muntah berkurang pada semua pasien dalam 3 jam setelah diberikan hidrokortison IV dosis awal. ibu dapat mengunjungi psikolog untuk memperoleh konseling atau intervensi krisis bila dibutuhkan. Bila terdapat makanan atau minuman tertentu yang memicu rasa mual sebaiknya dihindari. Bila dibutuhkan dukungan emosional.2. Makanan kaya protein juga dapat mengurangi gejala hiperemesis gravidarum. Porsi kecil tapi sering dapat mencegah perburukan gejala pada kasus ringan. Makanan yang dikonsumsi sebaiknya mengandung karbohidrat yang lebih tinggi daripada lemak dan asam. dan berat badan kembali seperti sebelum hamil. Dianjurkan untuk mengkonsumsi minuman yang mengandung elektrolit.5 Ibu yang mengalami hiperemesis gravidarum sebaiknya menghindari berbagai macam stres dan beristirahat dengan cukup. Medikasi dengan prometazin 25 mg atau metoklopramid 10 mg setiap 8 jam dalam 24 jam.2 Pilihan obat antiemesis lainnya adalah metoklopramid yang berguna dalam memperbaiki motilitas gastrointestinal. Mekanisme kerja steroid diduga dengan memberikan efek langsung pada pusat muntah di otak. American Congress of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) merekomendasikan medikasi antiemesis lini pertama yaitu dimenhidrinat. metoklopramid. Dosis maintenance berkisar antara 15 dan 45 mg/dl.8 Pada mual dan muntah yang refrakter dapat diberikan steroid. atau prometazin. kemudian pasien dapat makan kembali. 2 Pada kondisi tersebut dapat diberikan informasi dan edukasi tentang kehamilan kepada ibu hamil dengan maksud menghilangkan rasa takut dan menghilangkan faktor psikis. Belum 19 .

perdarahan retina. pertumbuhan janin terhambat. Efektivitas jahe kemungkinan dikarenakan karakteristiknya yang aromatik.2 Gejala gastrointestinal motion sickness dan hiperemesis gravidarum sangat mirip. dan gangguan psikologis. oleh karena itu dilakukan penelitian terhadap akar jahe. tetani. central pontine myelinolisis. Disarankan untuk menggunakan steroid hanya bila semua penyebab mual dan muntah sudah dieksklusikan. dan absorbent. serta sudah dilakukan konseling baik dan buruk dari terapi. abnormalitas elektrokardiogram.9 Pada kasus ini tidak ditemukan komplikasi.2 Komplikasi Terdapat komplikasi ringan dan berat akibat hiperemesis gravidarum.terdapat bukti adanya teratogenitas pada steroid. kelemahan otot. dan sifat absorbentnya dapat menurunkan rangsangan terhadap zona kemoreseptor di medula yang mengirimkan rangsangan pada pusat muntah di batang otak. kerusakan ginjal. Komplikasi yang membahayakan berupa ruptur esofagus akibat mual dan muntah hebat. 20 . dan kematian janin. pneumomediastinum spontan. Ensefalopati Wernicke. Zingiber officinale. penderita dipulangkan dengan kondisi yang cukup baik tanpa adanya keluhan yang berarti. Jahe kemungkinan bekerja pada traktus gastrointestinal untuk meningkatkan motilitas. untuk mengatasi hiperemesis gravidarum. dehidrasi. mual dan muntah berlanjut lebih dari 4 minggu den menyebabkan dehidrasi. Komplikasi ringan hiperemesis gravidarum berupa penurunan berat badan.

Prognosis Pada kasus ini prognosisnya baik karena penanganan yang diberikan belum terlambat dan ibu pulang dalam kondisi yang baik 21 .

vitamin dan obat antiemesis Saran  Pemeriksaan rutin kehamilan sebaiknya dilakukan setiap bulan samapi umur kehamilan 28 minggu. Didapatkan diagnosis : G2P1A0 36 tahun  hamil 15-16 minggu dengan hiperemesis gravidarum Diagnosis kasus Hiperemesis Gravidarum merupakan diagnosis ekslusi. setiap 2 minggu 1 x sampai kehamilan 36 minggu. seperti mual dan muntah dalam kehamilan atau hiperemesis gravidarum DAFTAR PUSTAKA 22 . karena gejala  klinisnya yang kurang spesifik Penanganan pada hiperemesis gravidarum yang diutamakan adalah perbaikan keadaan umum. dan setiap minggu untuk  kehamilan lebih dari 36 minggu Dalam PAN dapat dilakukan edukasi mengenai asupan nutrisi ibu yang tepat dan mengenai masalah – masalah kesehatan selama kehamilan.PENUTUP Kesimpulan  Diagnosis Hiperemesis Gravidarum pada kasus ini berdasarkan pada anamnesis. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. keseimbangan cairan dan nutrisi parenteral.

1. Koyuncu F. Hubungan kejadian hiperemesis gravidarum dengan berat badan bayi lahir pada ibu bersalin di wilayah kerja UPTD puskesmas Jaya Baru Banda Aceh. 4. Ilmu kebidanan.a cohort study.102:46-51. Kelainan gastrointestinal. BMC pregnancy and childbirth. Dewhurt’s textbook of obstetrics and gynecology. Rev Obstet Gynecol. Dalam : Edmonds DK. Postgrad med J. London : Blackwell publishing. 2013. Managing hyperemesis gravidarum : a multimodal challenge. 2010:815-8.63:272-6. 8. Hyperemesis gravidarum : current concepts and management. Siddik O. Kaestner R. 9. 2003. Mylonas I. 2010. Grjibovski AM. Wegrzuniak LJ. Wisconsin medical journal. 2007:286. 2. Jannah R. BMC medicine. 3.78:76-9. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Kuscu NK. McCarthy A. 5. Ural SH. Dalam : Praworihardjo S.13:1-8. Sonkusare MD. 7. Vikanes AV. Jueckstock JK. 2012. Stoer NC. editor. Med J Malaysia. Repke JT. Jakarta: PT. 23 . Miscellaneous medical disorder. Hyperemesis gravidarum and pregnancy outcomes in the Norwegian mother and child cohort. Hyperemesis gravidarum : a review. 6. 2002. Treatment of hyperemesis gravidarum. Philip B.8:1-12. Magus P. Hyperemesis gravidarum : literature review.5:78-84. 2008.