BAB I

LAPORAN KASUS
I.1

I.2

Identitas Pasien
Nama
Umur
Jenis kelamin
Alamat
Tanggal lahir
Tanggal masuk
Bangsal
No.CM
DPJP
Kelompok Pasien

: An. A.S.S
: 0 Tahun 4 Bulan 20 Hari
: Perempuan
: Lanjan 4/1 Sumowono Kab. Semarang
: 14 Juli 2014
: 03 Desember 2014
: Anggrek
: 061948-2014
: dr. Endang Prasetyowati Sp.A
: BPJS Non PBI

Anamnesis
Keluhan Utama :
Suara serak
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien merupakan pasien poli. Pasien datang dengan keluhan adanya suara
serak sejak 1 hari sebelum datang ke poli. Awalnya pasien sedang meminum susu,
kemudian pasien tengkurap, dan muntah 2x melalui mulut dan hidung. Setelah itu
suara pasien terdengar serak dan bila bernapas sesak dan terdengar bunyi kasar.
Keluhan juga disertai batuk, pilek dan demam sejak 1 hari. Pasien minum tidak
sekuat hari-hari biasanya, dan terlihat rewel. BAB dan BAK pasien dalam batas
normal.
Riwayat Penyakit Dahulu
-

Pasien tidak pernah mengalami keluhan yang serupa
Riwayat kejang pada pasien disangkal
Riwayat infeksi saluran napas disangkal
CTEV (+)

Riwayat Penyakit Keluarga
Di keluarga tidak ada yang memiliki keluhan yang serupa
Riwayat Pengobatan
Ibu pasien telah memberikan pasien penurun panas 1 hari sebelum ke poli.

Riwayat Sosial
Ayah pasien merupakan seorang sales. Ibu pasien merupakan seorang ibu
rumah tangga. Gaji ayah dirasakan cukup untuk memunuhi kebutuhan sehari-hari.
Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Selama kehamilan, Ibu pasien rutin memeriksakan kehamilannya dan
melakukan ANC ke bidan. Ibu pasien mengatakan pernah melakukan USG selama
kehamilan sebanyak 3x ke dokter kandungan. Ibu pasien mengaku saat hamil tidak
pernah melakukan imunisasi apapun. Selama kehamilan, Ibu pasien tidak pernah
menderita sakit. Tidak didapati kelainan maupun gangguan selama kehamilan.
Riwayat Kelahiran
Pasien anak merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Pasien lahir
tanggal 14 Juli 2014, dari Ibu G2P2A0 hamil 38 minggu dengan Sectio Caesaria
atas indikasi CPD (cephalopelvic disproportion). Menurut info dari ibu pasien,
saat lahir pasien langsung menangis. Berat badan lahir 2900 gram namun panjang
badan lahir ibu pasien lupa.

Kesan : An AS adalah BBLN, neonatus aterm yang sesuai masa kehamilan
Riwayat Nutrisi
-

Usia 0 – 2 bulan : ASI Eksklusif

-

Usia 2 bulan – sekarang : ASI + PASI (bubur lunak serelac)

Riwayat Imunisasi

Vaksin
Hepatitis B
BCG
Polio
DTP
Campak

Lahir


Usia Pemberian (Bulan)
1
2
3

4



Kesan : Riwayat imunisasi dasar An. A.S.S lengkap sampai usia 4 bulan
`

Genogram

I.3

Pemeriksaan Fisik (dilakukan tanggal 05 Desember 2014, hari ke III
perawatan di bangsal Anggrek)



Keadaan umum
Kesadaran
BB : 5800 gram
LK : 40 cm

: Tenang
: Compos Mentis
PB : 59 cm.

 Data Antoprometri :
BB / U
= Normal
PB / U
= Normal
BB / TB = Normal
 Vital sign
- Nadi : 132 x/menit
- Respirasi
: 40 x/menit
- Suhu : 36,9 0C
 Status generalis
- Kepala
: mesocephal, UUB (+), Caput Succadeneum (-), Cephal
-

Hematom (-). Rambut pasien hitam, terdistribusi merata.
Mata
: pupil bulat isokor, reflex cahaya +/+, CA -/-, SI -/Hidung
: simetris, napas cuping (-), deformitas (-), secret (-)
Telinga
: simetris, bentuk normotia, deformitas (-)
Mulut
: Bibir kering (-), sianosis (-), labioschisis (-) palatoschisis (-)
Leher
: pembesaran limfonodi (-), leher pendek (-)
Thoraks
: bentuk dada pasien normochest
 Cor
 Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
 Palpasi : ictus cordis teraba ICS V linea midclavicula
sinistra, kuat angkat (-)
 Auskultasi: BJ I,II regular, bising (-)
 Pulmo
 Inspeksi : gerak simetris (statis dan dinamis), retraksi

suprasternal (-) subcostal (-)
 Perkusi : sonor seluruh lapang paru
 Auskultasi: vesikuler +/+, rhonchi(-) wheezing (-)
- Abdomen :
 Inspeksi
: datar
 Auskultasi : bising usus (+), normal
 Perkusi
: timpani seluruh lapang abdomen
 Palpasi
: supel, hepar dan lien tidak teraba
- Punggung : spinabifida (-), meningokel (-)
- Genitalia : anus (+)
- Ekstremitas : Sianosis (-), akral hangat (+), CRT < 2 detik
Diagnosis sementara :
-

Laringitis akut

Rencana pemeriksaan :
-

Cek lab : darah rutin

Hasil Pemeriksaan Laboratorium Darah Rutin (03/12/2014)
Pemeriksaan
Hemoglobin
Leukosit
Eritrosit
Hematokrit
MCV
MCH
MCHC
RDW
Trombosit
PDW
MPV
Limfosit
Monosit
Granulosit
Limfosit%
Monosit%
Granulosit%
PCT
Sekresi dan Ekskresi
URIN RUTIN
Warna
Kekeruhan

Hasil
11.1 (L)
6.8 (L)
3.86
33.1 (L)
85.8
28.8
33.5
13.3
372
12.7
6.8
1.8 (L)
0.4
4.6 (H)
26.5
5.9
67.6
0.253

Nilai Rujukan
12.5 – 15.5
6 – 15
3.6 – 5.2
36 – 44
70 – 86
23 – 31
32 – 36
10 – 16
150 – 400
10 – 18
7 – 11
4.0 – 10.5
0 – 0.8
2–4
25 – 40
2–8
50 – 80
0.2 – 0.5

KUNING
JERNIH

1.4.1

Assesment
 Laringitis akut
 Anemia

1.5

Planning
 Farmakologi
 O2 1 lpm
 Infuse KaEN 3B 500cc/24 jam  20 tpm
 Inj Cefotaxime 3 x 200 mg
 Inj Gentamisin 2 x 18 mg
 Inj Dexametason 3 x 1 g
 Ranitidin 2 x 1/5 mg
 Paracetamol 3 x cth ½ (k/p)
 Non Farmakologi

Satuan
g/dl
Ribu
Juta
%
mikro m3
pg
g/dl
%
Ribu
%
mikro m3
103mikro
103mikro
103mikro
%
%
%
%
-

I.6

Diit ASI

Follow Up
Date
03 Desember
2014

O

S

Pasien baru datang KU : rewel
dari poli dengan Kesadaran : CM
keluhan

A
 Laringitis
akut

suara K/L : Mesocephal,

 Cor : S1>S2 Reg,

diatas timbul sejak

bising (-)
 Pulmo : SDV +/+
Stridor (+)

1 hari.
Pasien tidak kuat
minum

seperti

biasanya.

KaEN

3B

- Inj Cefotaxime 3 x

dan Thoraks :

pilek (+), keluhan

- Infuse
tpm

mual (+), muntah cekung (-)
batuk

- O2 1 lpm
500cc/24 jam 20

serak, sesak napas, CA -/- SI -/-, UUB
2x,

P

200 mg
- Inj Gentamisin 2 x 18
mg
- Inj Dexametason 3 x
1g

Abdomen : supel,

- Ranitidin 2 x 1/5 mg

BU (+)

- Paracetamol 3 x cth ½

Ekstremitas : akral

(k/p)

hangat, CRT < 2
detik.

Pemeriksaan

Tanda Vital :

Darah

Rutin

HR : 128 x/menit
RR : 32 x/menit
S : 36.80C
04 Desember
2014

BB : 5800 gram
Sesak (+), suara KU : rewel
grok-grok

(+), Kesadaran : CM

mual (-), muntah
1x,

demam

(-), UUB cekung (-)

batuk pilek (+)
BAB

(+)

warna
ampas (+)

K/L : CA -/- SI -/Thoraks :

cair

kuning,

 Cor : S1>S2 Reg
 Pulmo : SDV +/+
Stridor (+)
Abdomen : supel,
BU (+), turgor baik
Ekstremitas : akral

Laringitis
akut

- Infuse

Anemia

tpm
- Inj Cefotaxime 3 x

KaEN

3B

500cc/24 jam  20

200 mg
- Inj Gentamisin 2 x 18
mg

- Inj Dexametason 3x1
g

- Ranitidin 2 x 1/5 mg

hangat, CRT < 2
detik.
Tanda Vital :
HR : 142 x/menit
RR : 38 x/menit
05 November

S : 36.30C
Sesak (-), suara KU : tenang

2014 (05.00)

grok-grok
sudah

(+) Kesadaran : CM

berkurang, K/L : CA -/- SI -/-

mual (-), muntah
(-),

demam

(-),

batuk dan pilek (+)

Laringitis

Lanjutkan terapi

akut
Anemia

Thoraks :
 Cor : S1>S2 Reg
 Pulmo : SDV +/+
Stridor
(+)
berkurang
Abdomen : supel,
BU (+), turgor baik
Ekstremitas : akral
hangat, CRT < 2
detik.
Tanda Vital :
HR : 140 x/menit
RR : 52 x/menit

06 Desember
2014

S : 36.80C
Sesak (-), suara KU : Tenang
grok-grok

(-), Kesadaran : CM

mual (-), muntah
(-),

demam

pasien

K/L : CA -/- SI -/-

(-), Thoraks :

masih

batuk dan pilek.

 Cor : S1>S2 Reg
 Pulmo : SDV +/+
Abdomen : supel,
BU (+), turgor baik
Ekstremitas : akral
hangat, CRT < 2
detik.
Tanda Vital :
HR : 136 x/menit
RR : 48 x/menit
S : 36,50C

- Laringitis - Infuse
akut
- Anemia

KaEN

3B

500cc/24 jam  20
tpm
- Inj Cefotaxime 3 x
200 mg
- Inj Gentamisin 2 x 18
mg
- Inj Dexametason 3 x 1
g
- Ranitidin 2 x 1/5 mg

07 Desember

Sesak (-), suara KU : tenang

- Laringitis - Lanjutkan terapi

2014

grok-grok

akut
- Anemia

hanya

(+) Kesadaran : CM

terkadang, K/L : CA -/- SI -/-

mual (-), muntah

Thoraks :

batuk dan pilek (+)

 Cor : S1>S2 Reg
 Pulmo : SDV +/+

cairan

Abdomen : supel,

(-),

demam

(-),
putih

BU (+), turgor baik

seperti susu

Ekstremitas : akral
hangat, CRT < 2
detik.
Tanda Vital :
HR : 132 x/menit
08 Desember

RR : 40 x/menit
Sesak (-), napas KU : baik, tenang

2014

grok-grok

(-), Kesadaran : CM

mual (-), muntah
(-),

demam

(-), Thoraks :

batuk jarang, pilek
(+) cairan putih

K/L : CA -/- SI -/ Cor : S1>S2 Reg
 Pulmo : SDV +/+
Abdomen : supel,
BU (+)
Ekstremitas : akral
hangat, CRT < 2
detik.
Tanda Vital :
HR : 130 x/menit
RR : 48 x/menit
S : 37,20C

BAB II

- Laringitis - Pasien Boleh Pulang
akut
- Anemia

TINJAUAN PUSTAKA

II.1

Laringitis Akut

II.1.1 Definisi
Laringitis akut merupakan penyakit yang umum pada anak-anak, mempunyai onset
yang cepat dan biasanya sembuh sendiri. Bila laringitis berlangsung lebih dari 3 minggu
maka disebut laringitis kronik. Laringitis didefinisikan sebagai proses inflamasi yang
melibatkan laring dan dapat disebabkan oleh berbagai proses baik infeksi maupun noninfeksi. Laringitis sering juga disebut juga dengan ‘croup’. Dalam proses peradangannya
laringitis sering melibatkan saluran pernafasan dibawahnya yaitu trakea dan bronkus. Bila
peradangan melibatkan laring dan trakea maka diagnosis spesifiknya

disebut

laringotrakeitis, dan bila peradangan sampai ke bronkus maka diagnosis spesifiknya
disebut laringotrakeobronkitis.1,2,3,4
II.1.2 Epidemiologi
Dari penelitian di Seattle – Amerika (Foy dkk, 1973), didapatkan angka serangan
croup pada bayi usia 0-5 bulan didapatkan 5.2 dari 1000 anak per tahun, pada bayi usia 612 bulan didapatkan 11 dari 1000 anak per tahun, pada anak usia 1 tahun didapatkan 14.9
dari 1000 anak per tahun, pada anak usia 2-3 tahun didapatkan 7.5 dari 1000 anak per
tahun, dan pada anak usia 4-5 tahun didapatkan 3.1 dari 1000 anak per tahun.
Di Tuscon – AZ didapatkan angka serangan croup selama tahun pertama kehidupan
107 kasus dari 961 anak. Laringitis atau croup mempunyai puncak insidensi pada usia 1-2
tahun. Sebelum usia 6 tahun laki-laki lebih mudah terserang dibandingkan perempuan,
dengan perbandingan laki-laki/perempuan 1.43:1 (Denny dkk, 1993). Banyak dari kasuskasus croup timbul pada musim gugur dimana kasus akibat virus parainfluenza lebih
banyak timbul. Pada literatur lain disebutkan croup banyak timbul pada musim dingin,
tetapi dapat timbul sepanjang tahun. Kurang lebih 15% dari para penderita mempunyai
riwayat croup pada keluarganya.2,5,6
Di Alberta, lebih dari 60% anak didiagnosis croup derajat ringan, 4% (satu dari 170
anak memerlukan perawatan di RS) dan 4% (satu dari 4500 anak) harus diintubasi.

II.1.3 Klasifikasi
Secara umum Croup Sindrom diklasifikasikan ke dalam dua kelompok, yaitu2,5:
A. Viral Croup (laringotrakeobronhotis)
Ditandai dengan gejala-gejala prodromal infeksi pernafasan: gejala obstruksi
saluran pernafasan berlangsung selama 3-5 hari. Usia ± 6 tahun. Stridor (+), Batuk
(sepanjang waktu), Demam (+) yang tinggi, durasi 2-7 hari, Keluarga sejarah (+),
kecenderungan oleh asma (-).
B. Spasmodic Croup
Spasmodic croup, batuk hebat, terdapat faktor atopik, tanpa gejala prodromal,
anak tiba-tiba bisa mendapatkan obstruksi saluran pernapasan, biasanya pada malam
hari sebelum menjelang tidur, serangan terjadi sebentar kemudian kembali normal.
Selain klasifikasi secara umum, juga terdapat klasifikasi berdasarkan derajat keparahan
batuk atau derajat kegawatan, dikelompokkan menjadi 4 kategori5:
1.

Ringan: Ditandai dengan batuk menggonggong keras yang kadang-kadang muncul,
Stridor yang tidak dapat terdengar saat pasien istirahat/tidak beraktivitas atau tidak ada

2.

kegiatan dan teradapat retraksi dada ringan.
Moderat/Sedang: Ditandai dengan batuk menggonggong yang sering timbul, Stridor
lebih bisa mendengar ketika pasien beristirahat atau tidak aktivitas, retraksi dinding
dada yang sedikit terlihat, tetapi tanpa gangguan pernapasan yaitu gawat napas

3.

(repiratory distress).
Berat: Ditandai dengan sering batuk menggonggong yang sering timbul, Inspirasi
stridor lebih bisa mendengar saat aktivitas pasien atau kurang istirahat, akan tetapi,
lebih terdengar jelas ketika pasien beristirahat, dan kadang-kadang disertai dengan

4.

stridor ekspirasi, retraksi dinding dada, juga terdapat gangguan pernapasan.
Gagal napas mengancam: Batuk kadang-kadang tidak jelas, stridor positif (kadang
sangat jelas ketika pasien beristirahat), terdapat sedikit gangguan kesadaran (letargi),
dan kelesuan.

II.1.4 Etiologi
Etiologi dari laringitis akut yaitu penggunaan suara berlebihan, gastro esophago
reflux disease (GERD), polusi lingkungan, terpapar dengan bahan berbahaya, atau bahan
infeksius yang membawa kepada infeksi saluran nafas atas. Bahan infeksius tersebut lebih

sering virus tetapi dapat juga bakterial. Jarang ditemukan radang dari laring disebabkan
oleh kondisi autoimun seperti rematoid artritis, polikondritis berulang, granulomatosis
Wagener, atau sarkoidosis.
Virus yang sering menyebabkan laringitis akut antara lain virus parainfluenza tipe 1
sampai 3 (75% dari kasus), virus influenza tipe A dan B, ‘respiratory syncytial virus’
(RSV). Virus yang jarang menyebabkan laringitis akut antara lain adenovirus, rhinovirus,
coxsackievirus, coronavirus, enterovirus, virus herpes simplex, reovirus, virus morbili
(measles), virus mumps.1,2,3,4,5,6
Bakteri walaupun jarang tetapi dapat juga menyebabkan laringitis akut, antara
lain Haemophilus

influenzae type

B, Staphylococcus

aureus, Corynebacterium

diphtheriae, Streptococcus group A, Moraxella chatarralis, Escherichia coli,Klebsiella
sp., Pseudomonas

sp., Chlamydia

trachomatis, Mycoplasma

pneumoniae, Bordatella

pertussis, dan sangat jarang Coccidioides danCryptococcus. C. diphtheriae harus dicurigai
sebagai

kuman

penyebab

terutama

bila

anak belum

diimmunisasi,

karena C.

diphtheriae dapat meyebabkan membranous obstructive laryngitis.1,2,3,4,5,6
Selain virus dan bakteri, laringitis juga dapat disebabkan oleh jamur, antara lain
Candida albicans, Aspergilus sp, Histoplasmosis dan Blasomyces.

Histoplasma dan

Blastomyces dapat menyebabkan laringitis sebagai komplikasi dari infeksi sistemik.
II.1.5 Patofisiologi
Laringitis akut merupakan inflamasi dari mukosa laring dan pita suara yang
berlangsung kurang dari 3 minggu. Parainfluenza virus, yang merupakan penyebab
terbanyak dari laringitis, masuk melalui inhalasi dan menginfeksi sel dari epitelium saluran
nafas lokal yang bersilia, ditandai dengan edema dari lamina propria, submukosa, dan
adventitia, diikuti dengan infitrasi selular dengan histosit, limfosit, sel plasma dan lekosit
polimorfonuklear (PMN). Terjadi pembengkakan dan kemerahan dari saluran nafas yang
terlibat, kebanyakan ditemukan pada dinding lateral dari trakea dibawah pita suara. Hal ini
yang menyebabkan suara pasien menjadi serak. Karena trakea subglotis dikelilingi oleh
kartilago krikoid, maka pembengkakan terjadi pada lumen saluran nafas dalam,
menjadikannya sempit, bahkan sampai hanya sebuah celah. Daerah glotis dan subglotis
pada bayi normalnya sempit, dan pengecilan sedikit saja dari diameternya akan berakibat
peningkatan hambatan saluran nafas yang besar dan penurunan aliran udara. Seiring

dengan membesarnya diameter saluran nafas sesuai dengan pertumbuhan maka akibat dari
penyempitan saluran nafas akan berkurang. Sumbatan aliran udara pada saluran nafas atas
akan berakibat terjadinya stridor dan kesulitan bernafas yang akan menuju pada hipoksia
ketika sumbatan yang terjadi berat. Hipoksia dengan sumbatan yang ringan menandakan
keterlibatan saluran nafas bawah dan ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi akibat
sumbatan dari saluran nafas bawah atau infeksi parenkim paru atau bahkan adanya
cairan.1,4,5
II.1.6 Manifestasi Klinis
Laringitis ditandai dengan suara yang serak, yang disertai dengan puncak suara
(vocal pitch) yang berkurang atau tidak ada suara (aphonia), batuk menggonggong, dan
stridor inspirasi. Dapat terjadi juga demam sampai 39-40, walaupun pada beberapa anak
dapat tidak terjadi. Gejala tersebut ditandai khas dengan perburukan pada malam hari, dan
sering berulang dengan intensitas yang menurun untuk beberapa hari dan sembuh
sepenuhnya dalam seminggu. Gelisah dan menangis sangat memperburuk gejalagejalanya. Anak mungkin memilih untuk duduk atau dipegangi tegak.
Pada anak yang lebih dewasa penyakitnya tidak begitu parah. Pada anggota
keluarga lainnya mungkin didapatkan penyakit saluran pernafasan yang ringan.
Kebanyakan pasien hanya bergejala stridor dan sesak nafas ringan sebelum mulai sembuh.
Gejala tersebut sering disertai dengan gejala-gejala seperti pilek, hidung tersumbat, batuk
dan sakit menelan. Pada kebanyakan pasien gejala tersebut timbul 1 sampai 3 hari sebelum
gejala sumbatan jalan nafas terjadi.3,4,5,6
II.1.7 Diagnosis2,3,5
Diagnosis klinis ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang timbul. Pada
pemeriksaan fisik ditemukan suara serak, hidung berair, peradangan faring, dan frekuensi
napas yang sedikit meningkat. Kondisi pasien bervariasi sesuai dengan derajat stres
pernapasan yang diderita.
Pemeriksaan langsung area laring pada pasien croup tidak terlalu diperlukan. Akan
tetapi, bila diduga terdapat epiglotitis (serangan akut, gawat napas/respiratory distress,
disfagia, drooling), maka pemeriksaan tersebut sangat diperlukan.
Sistem paling sering digunakan untuk mengklasifikasikan croup beratnya adalah
Skor Westley. Hal ini terutama digunakan untuk tujuan penelitian, jarang digunakan dalam

praktek klinis. Ini adalah jumlah poin yang dipaparkan untuk lima faktor: tingkat
kesadaran, cyanosis, stridor, masuknya udara, dan retraksi. Hal-hal yang diberikan untuk
setiap faktor terdaftar dalam tabel ke kanan, dan skor akhir berkisar dari 0 sampai 17 5.

Skor total ≤ 2 menunjukkan batuk ringan. Batuk menggonggong karakteristik dan
suara serak yang mungkin ada, tetapi tidak ada stridor saat istirahat.

Total skor 3-5 diklasifikasikan sebagai croup moderat. Hal ini menyajikan dengan
mendengar stridor mudah, tetapi dengan beberapa tanda-tanda lain.

Hal ini juga menyajikan dengan stridor jelas, tetapi juga fitur ditandai dinding dada
indrawing.

Sebuah nilai total ≥ 12 menunjukkan yang akan adanya kegagalan pernapasan .
Batuk menggonggong dan stridor mungkin tidak lagi menonjol pada tahap ini.
85% dari anak-anak yang datang ke bagian darurat memiliki penyakit ringan, batuk

parah sangat jarang (<1%).
Skor Westley: Klasifikasi keparahan batuk
Jumlah poin yang ditugaskan untuk fitur ini
Ciri
0
1
2
3
Retraksi
Tidak
Dinding
Ringan
Moderat
Parah
ada
dada
Tidak
Dengan
Stridor
Diam
ada
agitasi
Tidak
Sianosis
ada
Tingkat
Normal
kesadaran
Udara
Menurun
Normal
Penurunan
masuk
tajam

4

5

Dengan
agitasi

Diam
Bingung

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium dan radiologis tidak
perlu dilakukan karena diagnosis biasanya dapat ditegakkan hanya dengan anamnesis,
gejala klinis, dan pemeriksaan fisik.

Bila ditemukan peningkatan leukosit >20.000/mm3 yang didominasi PMN,
kemungkinan telah terjadi superinfeksi, misalnya epiglotitis.
Pemeriksaan Radiologi dan CT Scan
Pemeriksaan penunjang lain yang cukup berguna untuk menegakkan diagnosis
croup sindrom ini yaitu bisa dengan pemeriksaan radiologis dan CT-Scan. Pada
pemeriksaan radiologis leher posisi poserior-anterior ditemukan gambaran udara steeple
sign (seperti menara) yang menunjukkan adanya penyempitan kolumna subglotis. Akan
tetapi, gambaran radiologis seperti ini hanya dijumpai pada 50% kasus saja.
Melalui pemeriksaan radiologis, croup dapat dibedakan dengan berbagai
diagnosis bandingnya. Gambaran foto jaringan lunak (intensitas rendah) saluran napas
atas dapat dijumpai sebagai berikut:
1. Pada trakeitis bakterial, tampak gambaran membran trakea yang compang
camping.
2. Pada epiglotitis, tampak gambaran epiglotitis yang menebal.
3. Pada abses retrofaringeal, tampak gambaran posterior faring yang menonjol.
Pada pemeriksaan CT scan dapat lebih jelas menggambarkan penyebab obstruksi
pada pasien dengan keadaan klinis yang lebih berat, seperti adanya stridor sejak usia di
bawah 6 bulan atau stridor pada saat aktivitas. Selain itu, pemeriksaan ini juga dilakukan
bila pada gambaran radiologis dicurigai adanya massa.

II.1.7

Penatalaksanaan

Tatalaksana utama bagi pasien croup adalah mengatasi obstruksi jalan napas.
Sebagian besar pasien croup tidak perlu dirawat RS, melainkan cukup dirawat dirumah.
Pasien dirawat di RS bila dijumpai salah satu dari gejala-gejala berikut: anak berusia di
bawah 6 bulan, terdengar stridor progresif, stridor terdengar ketika sedang beristirahat,
terdapat gejala gawat napas, hipoksemia, gelisah, sianosis, gangguan kesadaran, demam
tinggi, anak tampak toksik, dan tidak ada respons terhadap terapi.
Terapi inhalasi
Sejak abad ke-19, terapi uap telah digunakan untuk mengatasi obstruksi jalan napas
pada sindrom croup. Pemakaian uap dingin lebih baik daripada uap panas, karena kulit
akan melepuh akibat paparan uap panas. Uap dingin akan melembabkan saluran
respiratori, akan inflamasi, mengencerkan lender pada saluran respiratori, sekaligus
memberikan efek yang nyaman dan menenangkan bagi anak.
Meskipun terapi uap ini dapat menjadi pilihan yang praktis pada sindrom croup,
kelembaban yang ditimbulkan oleh terapi uap dapat pula memperberat keadaan pada
dengan bronkospasme yang disertai dengan mengi, seperti laringotrakeobronkitis atau
pneumonia. Saat ini beberapa pusat kesehatan tidak merekomendasikan penggunaan terapi
uap.
Berdasarkan tiga penelitian yang menggunakan air dingin tersaturasi (coldwater
fog) tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa penggunaannya untuk mengobati croup
menguntungkan. Gina dkk.melakukan penelitian RCT dengan memberikan terapi oksigen
lembab (humidifiedoxygen) pada pasien croup derajat sedang di UGD. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan perbaikan klinis antara kelompok yang diberi
terapi oksigen lembab dan yang tidak diberikan.
Epinefrin
Sindrom croup biasanya cukup diatasi dengan terapi uap saja, tetapi kadangkadang membutuhkan farmakoterapi. Nebulisasi epinefrin telah digunakan untuk
mengatasi sindrom croup selama hampir 30 tahun, dan pengobatan dengan epinefrin ini
menyebabkan trakeostomi hampir tidak diperlukan.
Nebulisasi epinefrin sebaiknya juga diberikan kepada anak dengan sindrom croup
sedang-berat yang disertai dengan stridor saat istirahat dan membutuhkan intubasi, serta
pada anak dengan retraksi dan stridor yang tidak mengalami perbaikan setelah diberikan
terapi uap dingin.

Nebulisasi epinefrin akan menurunkan permeabilitas vascular epitel bronkus dan
trakea, memperbaiki edema mukosa laring, dan meningkatkan laju udara pernapasan. Pada
penelitian dengan metode double blind, efek terapi nebulisasi epinefrin ini timbul dalam
waktu 30 menit dan bertahan selama dua jam. Epinefrin yang dapat digunakan antara lain
adalah sebagai berikut:
1.

Racemic epinephrine (campuran 1:1 isomer d dan l epinefrin), dengan dosis 0,5 ml
larutan racemic epinephrine 2,25% yang telah dilarutkan dalam 3 ml salin normal.
Larutan tersebut diberikan melalui nebulizer selama 20 menit.

2.

L-epinephrine 1:1000 sebanyak 5 ml; diberikan melalui nebulizer. Efek terapi terjadi
dalam dua jam

Racemic epinephrine merupakan pilihan utama, efek terapinya lebih besar, dan
mempunyai sedikit efek terhadap kardiovaskular seperti takikardi dan hipertensi.
Nebulisasi epinefrin masih dapat diberikan pada pasien dengan takikardi dan
kelainan jantung seperti Tetralogy Fallot.
Kortikosteroid
Kortikosteroid mengurangi edema pada mukosa laring melalui mekanisme anti
radang. Uji klinik menunjukkan adanya perbaikan pada pasien laringotrakeitis ringansedang yang diobati dengan steroid oral atau parenteral dibandingkan dengan plasebo.
Deksametason
Deksametason diberikan dengan dosis 0,6 mg/kgBB per oral/antimuskular
sebanyak satu kali, dan dapat diulang dalam 6-24 jam. Efek klinis akan tampak 2-3 jam
setelah pengobatan. Tidak ada penelitian yang menyokong keuntungan penambahan dosis.
Keuntungan pemakaian kortikosteroid adalah sebagai berikut:

Mengurangi rata-rata tindakan intubasi

Mengurangi rata-rata lama rawat inap

Menurunkan hari perawatan dan derajat penyakit.

Selain deksametason, dapat juga diberikan prednisone atau prednisolon dengan
dosis 1-2 mg/kgBB (E4). Berdasarkan dua penelitian meta-analisis (24 RCT) tentang
pemakaian kortikosteroid sistemik, dengan pemberian kortikosteroid 6 dan 12 jam, tetapi
tidak sampai 24 jam, disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh dari kortikosteroid sistemik.
Budesonid

Nebulisasi budesonid dipakai sejak tahun 1990. Tingkat efektifitasnya adalah E2
bila dibandingkan dengan plasebo. Larutan 2-4 mg budesonid (2 ml) diberikan melalui
nebulizer dan dapat diulang pada 12 dan 48 jam pertama. Efek terapi nebulisasi budesonid
terjadi dalam 30 menit, sedangkan kortikosteroid sistemik terjadi dalam satu jam.
Pemberian terapi ini mungkin akan lebih bermanfaat pada pasien dengan gejala
muntah dan gawat napas (respiratory distress) yang hebat. Budesonid dan epinefrin dapat
digunakan secara bersamaan. Sebagian besar kasus pemakaian budesonid tidak lebih baik
daripada deksametason oral.
Kortikosteroid tidak diberikan pada anak dengan varisela dan TB (kecuali pada
anak yang sedang mendapat OAT). Pemakaian kortikosteroid dalam jangka waktu lama (1
mg/kgBB/hari selama delapan hari) dapat meningkatkan infeksi Candida albicans.
Intubasi endotrakeal
Intubasi endotrakeal dilakukan pada pasien sindrom croup yang berat, yang tidak
responsive terapi lain. Intubasi endotrakeal rnerupakan terapi alternative selain trakeostomi
untuk mengatasi obstruksi jalan napas. Indikasi melakukan intubasi endotrakeal adalah
adanya hiperkarbia dan ancaman gagal napas. Selain itu, intubasi juga diperlukan bila
terdapat peningkatan stridor, peningkatan frekuensi napas, peningkatan frekuensi nadi,
retraksi dinding dada, sianosis, letargi, atau penurunan kesadaran. Intubasi hanya
dibutuhkan untuk jangka waktu yang singkat, yaitu hingga edema laring hilang/teratasi.2,7
Kombinasi Oksigen-Helium
Kombinasi oksigen dan helium (Heliox) digunakan oleh beberapa sentra untuk
mengatasi sindrom croup. Helium bersifat inert, tidak beracun, serta mempunyai densitas
dan viskositas yang rendah. Hal ini sangat membantu mengurangi obstruksi jalan napas,
yaitu dengan meningkatkan aliran gas dan mengurangi kerja otot-otot respiratorius. Bila
helium dikombinasikan dengan oksigen, maka oksigenasi darah akan meningkat.
Dengan terapi oksigen-helium ini, pasien sindrom croup beratakan merasa nyaman
dan kemungkinan besar tidak memerlukan tindakan intubasi. Efek klinis pemberian
kombinasi oksigen-helium hampir sama dengan pemberian nebulisasi epinefrin.
Antibiotik
Pemberian antibiotik tidak diperlukan pada pasien sindrom croup, kecuali pasien dengan
laringotrakeobronkitis atau laringotrakeopneumonitis yang disertai infeksi bakteri. Pasien
diberikan terapi empiris sambil menunggu hasil kultur. Terapi awal dapat menggunakan

sefalosporin generasi ke-2 atau ke-3. Pemberian sedative dan dekongestan oral tidak
dianjurkan pada pasien sindrom croup.
Dibawah ini merupakan Algoritma penatalaksanaan sindrom Croup, sebagai berikut2:

II.1.8 Komplikasi
Pada 15% kasus dilaporkan terjadi komplikasi, misalnya otitis media, dehidrasi,
dan pneumonia (jarang terjadi). Sebagian kecil pasien memerlukan tindakan intubasi.
Gagal jantung dan gagal napas dapat terjadi pada pasien yang perawatan dan
pengobatannya tidak adekuat2.
II.1.9 Prognosis
Sindrom croup biasanya bersifat self-limited dengan prognosis yang baik2.

BAB III
ANALISA KASUS
S (Subjektif)
Pasien merupakan pasien poli. Pasien datang dengan keluhan adanya suara serak
sejak 1 hari sebelum datang ke poli. Awalnya pasien sedang meminum susu, kemudian
pasien tengkurap, dan muntah 2x melalui mulut dan hidung. Setelah itu suara pasien
terdengar serak dan bila bernapas sesak dan terdengar bunyi kasar. Keluhan juga disertai
batuk, pilek dan demam sejak 1 hari. Pasien minum tidak sekuat hari-hari biasanya, dan
terlihat rewel. BAB dan BAK pasien dalam batas normal.
Pasien anak merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Pasien lahir tanggal 14
Juli 2014, dari Ibu G2P2A0 hamil 38 minggu dengan Sectio Caesaria atas indikasi CPD
(cephalopelvic disproportion). Menurut info dari ibu pasien, saat lahir pasien langsung
menangis. Berat badan lahir 2900 gram namun panjang badan lahir ibu pasien lupa.

Kesan : An AS lahir dengan BBLN dan neonatus aterm, sesuai masa kehamilan
Dari adanya keluhan suara serak dapat kita pikirkan adanya suatu faringitis, atau
laringitis akut yang dapat disebabkan oleh banyak agent. Namun disini saya lebih
mencurigai adanya laringitis akut, hal ini didasarkan pada adanya suara serak, sesak
napas, dan stridor saat menarik napas. Selain itu adanya benda asing pada laring dapat juga

menyebabkan suara serak dan adanya stridor, namun pada kasus ini tidak ditemukan
adanya kesedak atau termasuknya benda asing pada An. AS
O (Objektif)
Keadaan Umum
Kesadaran
Tanda Vital
-

Nadi
Respirasi
Suhu

: Tenang, menangis
: Compos mentis
:
: 132 x/menit
: 40 x/menit
: 36,9 0C

BB = 5800 gram

PB = 59 cm

Data Antoprometri :
BB / U = Normal
PB / U = Normal
BB / TB

= Normal

Status generalis
 Kepala : mesocephal, UUB (+), Caput Succadeneum (-), Cephal Hematom (-).
Rambut pasien hitam, terdistribusi merata.
 Mata : pupil bulat isokor, reflex cahaya +/+, CA -/-, SI -/ Hidung
: simetris, napas cuping (-), deformitas (-), secret (-)
 Thoraks
: bentuk dada pasien normochest
o Cor
: BJ I,II regular, bising (-)
o Pulmo : vesikuler +/+, rhonchi(-) wheezing (-)
 Abdomen
: datar, bising usus (+), normal
 Punggung : spinabifida (-), meningokel (-)
 Genitalia : anus (+)
 Ekstremitas : Sianosis (-), akral hangat (+), CRT < 2 detik
A (Assessment)
-

Laringitis akut

-

Anemia (Hb = 11,1 g/dL)

P (Planning)
-

Farmakologi
 O2 1 lpm
 Infus KaEN 3B 500cc / 24jam  20 tpm

 Phenitoin 2 x 25mg
 Inj Cefotaxime 3 x 200 mg
 Inj Gentamisin 2 x 18 mg
 Inj Dexametason 3 x 1 gr
 Ranitidin 2 x 1/5 mg
 Paracetamol 3 x cth ½ (k/p)
-

Non Farmakologi
 Jaga kehangatan
 Diit : susu/ASI ad libitium 12 x 20 ml
 Motivasi keluarga

DAFTAR PUSTAKA
1. Sindroma Croup, Penyakit Respirologi, Pedoman Diagnosis dan Terapi. Edisi III,
Buku satu, RSUD dr. Soetomo Surabaya: 2008. p 57-61
2. Croup (Laringotrakeobronkitis akut), Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi Pertama.
Badan Penerbit IDAI: 2008. p 320-328
3. Hardiono d. pusponegoro dkk. Standar Pelayanan Medis Anak Edisi I. Ikatan
Dokter Anak Indonesia: 2004.
4. Harjono, Rima M, dr dkk. Kamus Kedokteran Dorland. EGC: 1996

5. Dominic A dan Henry A Kilham Fitzgerald, 2003, Croup: Assesment and
Evidence-Based Management. Medical Journal The Australia. MJA 2003; 179 (7) :
372-377
6. Roosevelt GE. Inflamasi akut obstruksi jalan napas atas (batuk, Epiglottitis,
laringitis, dan trakeitis bakteri). Dalam: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB,
BF Stanton. Nelson Textbook of Pediatrics.18 ed. Philadelphia, Pa: Saunders
Elsevier; 2007: chap 382
7. Croup, Buku saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO, DEPKES
dan IDAI. 2009. p 104-105
8. Satwikaputra, Bagus. 2010. Sindroma Croup. SMF Ilmu Kesehatan Anak di RSUD
dr.Soebandi Jember.
9. Herry Garna, Heda Melinda D. Nataprawira. Pedoman Diagnosis dan Terapi.
Indonesia: Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran. 2005. h 388-392.
10. http://www.visualsunlimited.com