BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif yang digunakan untuk mesin
diesel. Biodiesel terbuat dari sumber yang dapat terbaharui seperti minyak sayur
atau lemak hewan. Biodiesel juga merupakan solusi yang paling tepat untuk
menggantikan bahan bakar fosil sebagai sumber energi transportasi utama dunia.
Biodiesel bersifat biodegradable, hampir tidak mengandung sulfur, dan bahan
merupakan bakar terbarukan, meskipun masih diproduksi dengan jalan yang tidak
ramah lingkungan. Bahan bakar biodiesel, terdiri dari metil atau etil ester yang
merupakan hasil transesterifikasi baik dari trialkil gliserida atau esterifikasi dari
asam lemak bebas. Biodiesel merupakan salah satu jenis biofuel (bahan bakar cair
dari pengolahan tumbuhan) selain bioetanol. Biodiesel dapat diproduksi melalui
proses alkoholisis (transesterifikasi) antara trigliserida dengan metanol atau etanol
dengan bantuan katalis basa menjadi alkil ester dan gliserol. Biodiesel juga dapat
diproduksi melalui esterifikasi asam-asam lemak (bebas) dengan metanol atau
etanol dengan bantuan katalis basa menjadi senyawa alkil ester dan air.
Bahan bakar biodiesel memiliki sifat fisika dan kimia serta nilai energi yang
hampir setara dengan bahan bakar diesel konvensional. Bahan bakar biodiesel
dapat digunakan tanpa melakukan modifikasi pada mesin diesel. Keunggulan lain
dari bahan bakar ini adalah dalam melakukan kendali kontrol polusi, dimana
biodisel lebih mudah dikontrol dari pada bahan bakar diesel fosil karena tidak
mengandung sulfur bebas dan memiliki gas buangan dengan kadar pengotor yang
rendah dan dapat didegredasi. Di samping itu, biodiesel tidak mengandung sulfur
dan senyawa benzen yang karsinogenik, sehingga tidak menyebabkan dampak
negatif bagi manusia dan lingkungan.
Metil ester merupakan ester asam lemak yang dibuat melalui proses
esterifikasi dari asam lemak dengan metanol. Pembuatan metil ester ada empat
macam cara, yaitu pencampuran dan penggunaan langsung, mikroemulsi, pirolisis
(thermal cracking), dan transesterifikasi. Namun, yang sering digunakan untuk

4. 1. Minyak jelatah dapat digunakan sebagai bahan baku karena mempunyai kandungan asam lemak bebas yang tinggi dan harganya murah. sedangkan gliserol dapat digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai aplikasi industri seperti kosmetika. permasalahan yang sering dihadapi adalah mahalnya harga minyak nabati yang digunakan dalam pembuatan biodiesel. sabun. 3) Bagaimana pengaruh dari waktu reaksi terhadap pembentukan metil ester.3. dan farmasi. Tujuan 1) Untuk mengetahui pengaruh rasio reaktan terhadap konversi minyak menjadi metil ester 2) Untuk mengetahui pengaruh dari temperatur reaksi terhadap pembuatan metil ester 3) Untuk mengetahui pengaruh dari waktu reaksi terhadap pembentukan metil ester 4) Untuk mengetahui prinsip dan cara kerja proses pembuatan metil ester 1. diharapkan produksi biodiesel menjadi murah dan dapat dijadikan sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan. 4) Bagaimana prinsip dan cara kerja proses pembuatan metil ester. 1. 2) Bagaimana pengaruh dari temperatur reaksi terhadap pembuatan metil ester. Biodiesel dapat dibuat dengan proses esterifikasi dari minyak nabati yang mengandung asam lemak bebas tinggi. Gliserol yang diperoleh sebagai hasil samping pengolahan minyak nabati ini bukanlah gliserol murni. Metil ester merupakan bahan baku dalam pembuatan biodiesel atau dalam produk kosmetika.pembuatan metil ester adalah transesterifikasi yang merupakan reaksi antara trigliserida (lemak atau minyak) dengan metanol untuk menghasilkan metil ester dan gliserol. Alternatif bahan baku pembuatan biodiesel salah satunya adalah minyak jelantah. Permasalahan 1) Bagaimana pengaruh rasio reaktan terhadap konversi minyak menjadi metil ester. Dengan mengembangkan metode yang tersebut. melainkan gliserol mentah (crude glycerol). Manfaat .2. biasanya memiliki kemurnian kurang lebih 95%. Namun.

perbandingan jumlah katalis baik H2SO4 maupun KOH dalam proses esterifikasi dan transesterifikasi untuk menghasilkan metil ester. 3) Untuk meningkatkan nilai ekonomis dari PFAD.1) Sebagai referensi informasi kondisi operasi yang optimal seperti perbandingan rasio reaktan. 2) Sebagai bahan pertimbangan untuk penggunaan minyak PFAD sebagai bahan baku biodiesel. BAB II TINJAUAN PUSTAKA .

papaya dan banyak lagi melalui proses transesterifikasi sederhana.2. Asam lemak dari minyak lemak nabati direaksikan dengan alkohol menghasilkan ester dan produk samping berupa gliserin yang juga bernilai ekonomis. Minyak nabati yang dapat digunakan sebagai bahan baku biodiesel dapat berasal dari kacang kedelai. Biodiesel merupakan nama untuk jenis fatty ester.5 unit energi dalam biodiesel. Biodiesel mempunyai rasio keseimbangan energi yang baik. jarak. Artinya. jagung. pemurnian.4%-5% biodiesel dicampur dengan bahan bakar diesel minyak bumi. sedangkan petroleum diesel terdiri dari hidrokarbon. umumnya merupakan monoalkyl ester. tidak beracun. untuk setiap satu unit energi yang digunakan pada pupuk.5. proses. limbahnya bersifat ramah lingkungan (biodegradable). Biodiesel Biodiesel adalah bahan bakar mesin diesel yang terbuat dari sumber daya hayati yang berupa minyak lemak nabati atau lemak hewani. minimum terdapat 2. Biodiesel mempunyai sifat kimia dan fisika yang serupa dengan petroleum diesel sehingga dapat digunakan langsung untuk mesin diesel atau dicampur dengan petroleum diesel. maka akan meningkatkan daya lumas bahan bakar. Biodiesel terdiri dari metil ester asam lemak nabati. Rasio keseimbangan energi biodiesel minimum 1-2. Biodiesel mempunyai beberapa keunggulan diantaranya adalah mudah digunakan. Biodiesel dicampur dengan bahan bahar diesel minyak bumi dalam berbagai rasio. kelapa sawit. bahan bakar. bebas dari logam berat sulfur dan senyawa aromatik serta mempunyai nilai flash point (titik nyala) yang lebih tinggi dari petroleum diesel sehingga lebih aman jika . Biodiesel telah banyak digunakan sebagai bahan bakar pengganti solar. padi. pestisida. dan transportasi. Adanya oksigen pada biodiesel membedakannya dengan petroleum diesel (solar) yang komponen utamanya hanya terdiri dari hidrokarbon. Biodiesel mempunyai rantai karbon antara 12 sampai 20 serta mengandung oksigen.1. Jika 0. kelapa. Biodiesel dapat dibuat dari transesterifikasi asam lemak. Pencampuran 20% biodiesel ke dalam petroleum diesel menghasilkan produk bahan bakar tanpa mengubah sifat fisik secara nyata.

diantaranya : 1) Merupakan bahan bakar yang ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang jauh lebih baik (free sulphur.2. pertanian yang terbuat dari logam. Biodiesel memiliki beberapa kelebihan dibanding minyak diesel atau solar. Untuk keperluan lampu petromax dengan terang yang sama. smoke number rendah).disimpan dan digunakan. Biodiesel tidak dapat menggantikan minyak tanah untuk keperluan kompor dan lampu minyak karena tidak bisa merambat keatas. Penamaan ester hampir menyerupai . sesuai dengan isu-isu global 2) Cetane number lebih tinggi sehingga pembakaran lebih sempurna 3) Memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin 4) Biodegradable (dapat terurai dengan cepat) 5) Merupakan renewable energy karena terbuat dari bahan alam yang dapat diperbarui 6) Bahan bakunya tersedia di daerah 7) Biodiesel dapat dipergunakan keperluan lain seperti pelindung kayu termasuk interior rumah yang terbuat dari kayu. biodiesel dapat dipergunakan hingga 8 jam dan kurang memerlukan pemompaan. Secara teknis biodiesel yang berasal dari minyak nabati dikenal sebagai VOME (Vegetable Oil Metyl Ester) dan merupakan sumberdaya yang dapat diperbaharui karena umumnya dapat diekstrak dari berbagai hasil produk pertanian seperti minyak kacang kedelai. Esterifikasi Reaksi esterifikasi adalah suatu reaksi antara asam karboksilat dan alkohol membentuk ester. Ester asam karboksilat ialah suatu senyawa yang mengandung gugus -CO2-R dengan R dapat berupa alkil maupun aril. Biodiesel juga dipergunakan untuk membersihkan noda crayon pada baju dengan lebih baik dibanding deterjen. Sebagai pelumas dan pelindung korosi pada peralatan rumah tangga. 2. Biodiesel dapat pula dicampur dengan bensin untuk mesin 2 langkah sebagai bahan bakar dan pelumasan. Turunan asam karboksilat membentuk ester asam karboksilat. minyak kelapa. minyak bunga matahari maupun minyak sawit.

Tahap esterifikasi biasa diikuti dengan tahap transesterfikasi. Melalui kombinasi-kombinasi yang tepat dari kondisi reaksi dan metode penghilangan air. Esterifikasi dapat dikatalis oleh kehadiran ion H+. Suatu reaksi pemadatan untuk membentuk ester disebut esterifikasi. Namun sebelum produk esterifikasi diumpankan ke tahap transesterifikasi. dalam hal ini dua gugus OH. asam sulfonat organik atau resin penukar kation asam kuat yang merupakan katalis-katalis yang biasa digunakan dalam skala industri. Esterifikasi mereaksikan minyak lemak dengan alkohol. Pada tahap ini. Pemadatan adalah suatu jenis reaksi kimia di mana dua molekul bekerja sama dan menghilangkan suatu molekul yang kecil. reaktan metanol harus ditambahkan dalam jumlah yang sangat banyak (biasanya 10 kali lebih besar dari jumlah reaktan yang seharusnya) dan air produk samping reaksi harus disingkirkan dari fasa reaksi (fasa minyak).yang merupakan hasil eliminasi suatu molekul air. asam lemak bebas akan dikonversikan menjadi metil ester. namun memiliki kemiripan dalam sifat lebih elektropositif dan keelektronegatifan. Esterifikasi adalah tahap konversi dari asam lemak bebas menjadi ester. walaupun tidak benar-benar mempunyai kation dan anion. Jika bahan baku yang digunakan adalah minyak mentah yang memiliki . seperti asam sulfat. Katalis-katalis yang dapat digunakan adalah zat berkarakter asam kuat. air dan bagian terbesar katalis asam yang dikandungnya harus disingkirkan terlebih dahulu. konversi sempurna asam-asam lemak ke ester metil dapat berlangsung dalam waktu 1 sampai beberapa jam. Untuk mendorong agar reaksi bisa berlangsung ke konversi yang sempurna pada temperatur rendah (misalnya paling tinggi 120°C). Suatu ester dapat dibuat sebagai produk dari suatu reaksi pemadatan pada suatu asam (pada umumnya suatu asam organik) dan suatu alkohol (atau campuran zat asam karbol). Asam belerang sering digunakan sebagai katalisator untuk reaksi ini. Reaksi esterifikasi dari asam lemak menjadi metil ester adalah : R-COOH Asam Lemak + CH3OH R-COOH3 Metanol Metil Ester + H2O Air Esterifikasi biasa dilakukan untuk membuat biodiesel dari minyak berkadar asam lemak bebas tinggi.dengan penamaan basa.

dan biasanya campuran reaksi yang terbentuk perlu dipanaskan. perlu diolah melalui proses pra esterifikasi untuk menurunkan kadar FFA hingga di bawah 5%. Katalis ini biasanya adalah asam sulfat pekat. 2. Bahan-bahan tersebut. kemudian minyak ini dipisahkan. 3) Pembuatan ester dari alkohol dan anhidrida asam Reaksi-reaksi dengan anhidrida asam berlangsung lebih lambat dibanding reaksi-reaksi dengan asil klorida. seperti minyak jelantah. proses esterifikasi menggunakan katalis asam. Reaksi ini berlangsung lambat pada suhu kamar (atau lebih cepat pada pemanasan). Sebagai contoh. jika kita menambahkan etanol klorida kedalam etanol.2. . Pada proses ini digunakan sodium hidroksida 1% dan alkohol (umumnya metanol) 10%. Umumnya. Proses esterifikasi dilanjutkan dengan proses esterifikasi alkalin (transesterifikasi) terhadap produk tahap pertama di atas dengan menggunakan katalis alkalin. etanol yang bereaksi dengan anhidrida etanoat. Terkadang juga digunakan gas hidrogen klorida kering. Pembuatan Ester 1) Pembuatan Ester dari Asam Kaboksilat dan Alkohol Ester dihasilkan apabila asam karboksilat dipanaskan bersama alkohol dengan bantuan katalis asam. Kedua proses esterifikasi ini dilakukan pada temperatur 70oC. PFAD. Asam-asam pekat seperti asam sulfat (sulphuric acid) dan asam klorida (cloride acid) merupakan jenis asam yang sekarang banyak digunakan sebagai katalis.kadar FFA tinggi (> 5%). dan minyak jarak. Pada tahap ini akan diperoleh banyak minyak dengan campuran metil ester kasar dan metanol. Sebagai contoh. maka akan terbentuk banyak hidrogen klorida bersama dengan ester cair etil etanoat. tetapi katalis-katalis ini cenderung melibatkan ester-ester aromatik. 2) Pembuatan Ester alkohol dan asil klorida (klorida asam) Jika sebuah asil klorida dicampurkan ke dalam sebuah alkohol. proses transesterifikasi yang dilakukan untuk mengkonversi minyak menjadi biodiesel tidak akan efisien. maka reaksi yang terjadi cukup progresif (bahkan berlangsung hebat). Pada suhu kamar menghasilkan sebuah ester dan menimbulkan gas hidrogen klorida yang asam dan beruap.1. CPO low grade.

molekul yang memiliki rantai lurus. Transesterifikasi Transesterifikasi adalah proses transformasi kimia molekul trigliserida yang besar dan bercabang dari minyak nabati atau lemak menjadi molekul yang lebih kecil.10% dari berat campuran. Sehingga dalam hal ini pengadukan sangat penting mengingat larutan minyak dengan katalis metanol merupakan larutan yang immiscible.2. hal ini sesuai dengan persamaan Archenius. biasanya menggunakan konsentrasi katalis antara 1-4% . Bila suhu naik maka harga k makin besar sehingga reaksi berjalan cepat dan hasil konversi makin besar. Tidak seperti esterifikasi yang mengkonversi asam lemak bebas menjadi ester. Pada reaksi esterifikasi yang sudah dilakukan. 2) Pengadukan Pengadukan akan menambah frekuensi tumbukan antara molekul zat pereaksi dengan zat yang bereaksi sehingga mempercepat reaksi dan reaksi terjadi sempurna.2. dan hampir sama dengan molekul dalam bahan bakar diesel. pada . Faktor-faktor yang Mempengaruhi Reaksi Esterifikasi 1) Waktu Reaksi Semakin lama waktu reaksi maka kemungkinan kontak antar zat semakin besar sehingga akan menghasilkan konversi yang besar. 3) Katalisator Katalisator berfungsi untuk mengurangi tenaga aktivasi pada suatu reaksi sehingga pada suhu tertentu harga konstanta kecepatan reaksi semakin besar. 2. Jika kesetimbangan reaksi sudah tercapai maka dengan bertambahnya waktu reaksi tidak akan menguntungkan karena tidak memperbesar hasil.2. metil ester). Semakin besar tumbukan maka semakin besar pula harga konstanta kecepatan reaksi. Minyak nabati atau lemak hewani bereaksi dengan alkohol (biasanya metanol) dengan bantuan katalis (biasanya basa) yang menghasilkan alkil ester (atau untuk metanol.3. 4) Suhu Reaksi Semakin tinggi suhu yang dioperasikan maka semakin banyak konversi yang dihasilkan.

bagaimanapun hanya dikatalisis oleh asam.transesterifikasi yang terjadi adalah mengubah trigliserida menjadi ester. sedangkan esterifikasi. Spesies reaktif dalam transesterifikasi menggunakan katalis basa homogen alkoksida yang terbentuk ketika alkohol dan katalis bereaksi. Alkohol yang paling umum digunakan adalah metanol dan etanol. Dengan menaikkan lagi dari suhu tersebut. Laju reaksi transesterifikasi sangat dipengaruhi oleh suhu reaksi. sehingga akan bisa berlangsung lebih cepat. Proses kontinu dilaksanakan dalam reaktor CSTR dengan alat pencampur yang berupa pengaduk atau gas inert. dimana pada proses batch menggunakan labu leher tiga atau autoclave. Perbedaan antara transesterifikasi dan esterifikasi menjadi sangat penting ketika memilih bahan baku dan katalis. Dengan minyak berbasis bio (minyak nabati) maka hubungan stoikiometrinya memerlukan 3 mol alkohol per mol TAG (3:1). Transesterifikasi trigliserida dengan katalis basa homogen merupakan aspek kimia biodiesel yang paling penting. Alkoksida yang sangat reaktif kemudian terlibat dalam serangan nukleofilik pada gugus karbonil dari asam lemak sehingga memungkinkan serangan nukleofilik oleh alkohol melalui oksigen yang bersifat elektronegatif. tetapi reaksi biasanya membutuhkan alkohol berlebih berkisar 6:1 hingga 20:1. Selain itu dalam autoclave proses dapat berjalan pada suhu tinggi dalam fase cair. Transesterifikasi dikatalisis oleh asam atau basa. Produk yang dihasilkan (jika menggunakan metanol) lebih sering disebut sebagai metil ester asam lemak (fatty acid methyl ester/FAME) daripada biodiesel. tergantung pada reaksi kimia untuk transesterifikasi katalis basa dan 50:1 untuk transesterifikasi katalis asam. maka akan lebih banyak lagi metanol yang hilang atau menguap. Proses transesterifikasi ini dapat dijalankan secara batch maupun kontinu. Proses ini . terutama metanol. Pada transesterifikasi. karena harganya murah dan reaktifitasnya paling tinggi (sehingga reaksinya disebut metanolisis). Umumnya reaksi dilakukan pada suhu yang dekat dengan titik didih metanol (60oC-70oC) pada tekanan atmosfer. reaksi saponifikasi yang tidak diinginkan bisa terjadi jika bahan baku mengandung asam lemak bebas yang mengakibatkan terbentuknya sabun. maka akan diperoleh campuran etil ester asam lemak. sedangkan jika etanol yang digunakan sebagai reaktan.

lebih sulit dikarenakan perlu bahan baku yang lebih banyak dan waktu yang lebih panjang. air lebih dari 80%. oleh karena itu proses pembuatan metil ester menggunakan peralatan yang terbuat dari carbon steel. diantaranya yaitu : 1) Pemakaian energi sedikit karena membutuhkan suhu dan tekanan lebih rendah dibandingkan dengan asam lemak. Mekanisme reaksi transesterifikasi minyak nabati dengan metanol atau disebut juga dengan metanolisis yang terlihat di bawah ini : CH2COOR1 CHCOOR2 NaOH CH2OH + 3 CH3OH 3 RCOOCH3 CH2COOR3 + CHOH CH2OH Trygliseride Methanol Methyl Ester Glycerol Produk yang diinginkan dari reaksi transesterifikasi adalah ester metil asam lemak. yaitu : a) Menambahkan metanol berlebih ke dalam reaksi b) Memisahkan gliserol c) Menurunkan temperatur dari reaksi (transesterifikasi merupakan reaksi yang bersifat eksoterm) Metil ester mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan asam lemak. sedangkan asam lemak bersifat korosif sehingga membutuhkan peralatan stainless steel yang kuat. 3) Lebih banyak menghasilkan hasil samping gliserin yaitu konsentrat gliserin melalui reaksi transesterifikasi kering sehingga menghasilkan konsentrat gliserin. Untuk menggeser reaksi ke kanan biasanya menggunakan metanol berlebihan terhadap gliserida. Metil ester bersifat tidak korosif dan metil ester dihasilkan pada suhu dan tekanan lebih rendah. proses pemecahan lemak menghasilkan gliserin yang masih mengandung membutuhkan energi yang lebih banyak. sehingga . maka reaksi yang terjadi bisa dianggap reaksi searah. 2) Peralatan yang digunakan murah. Metanolisis merupakan reaksi pembentukan metal ester dengan menggunakan metanol dimana reaksinya seimbang dan kalor reaksinya kecil. sedangkan asam lemak. Terdapat beberapa cara agar kesetimbangan lebih ke arah produk.

campuran didiamkan dan perbedaan densitas senyawa di dalam campuran akan mengakibatkan separasi antara metil ester dan gliserol. Metil ester dipisahkan dari gliserol dengan teknik separasi gravitasi. 3) Setelah reaksi metanolisis berhenti. 5) Dalam memproduksi alkanolamida. dimana air berposisi di bagian bawah sedangkan metil ester di bagian atas. Tahapan Reaksi Transesterifikasi 1) Pencampuran katalis alkalin (umumnya sodium hydroxide atau potassium hydroxide) dengan alkohol (umumnya metanol). Keberadaan pengaduk sangat penting untuk memastikan terjadinya reaksi metanolisis secara menyeluruh di dalam campuran. 2) Pencampuran alkohol dan alkalin dengan minyak di dalam wadah yang dijaga pada temperatur tertentu (sekitar 40oC-60oC) dan dilengkapi dengan pengaduk (baik magnetik ataupun motor elektrik) dengan kecepatan konstan (umumnya pada 600 rpm). dan sabun-sabun (soaps). Konsentrasi alkalin yang digunakan bervariasi antara 0. Lebih tingginya densitas air dibandingkan dengan metil ester menyebabkan prinsip separasi gravitasi berlaku. Metil ester dihasilkan melalui reaksi kimia esterifikasi dan transesterifikasi. Sedangkan alkohol diatur pada rasio molar antara alkohol terhadap minyak sebesar 9:1. . Reaksi metanolisis ini dilakukan sekitar 1-2 jam. gliserol. sisa katalis alkalin. ester dapat menghasilkan superamida dengan kemurnian lebih dari 90% dibandingkan dengan asam lemak yang menghasilkan amida dengan kemurnian hanya 65%-70% 6) Metil ester mudah dipindahkan dibandingkan asam lemak karena sifat kimianya lebih stabil dan tidak korosif.3.1. 2. 4) Metil ester yang merupakan biodiesel tersebut kemudian dibersihkan menggunakan air distilat untuk memisahkan zat-zat pengotor seperti metanol.5%-1% berat terhadap massa minyak.4) Metil ester lebih mudah didistilasi karena titik didihnya lebih rendah dan lebih stabil terhadap panas.

komponen gliserol dari minyak nabati digantikan oleh alkohol. Metanol Untuk membuat biodesel. gas alam. dan memerlukan kewaspadaan yang tinggi dalam penanganannya. karena harganya lebih murah dan daya reaksinya lebih tinggi dibandingkan dengan alkohol rantai panjang. Ester tersebut merupakan bahan dasar penyusun biodiesel. sedangkan jika tertelan akan mengakibatkan kematian. Jika menghirup uapnya cukup lama atau jika kena mata dapat menyebabkan kebutaan. Untuk itu. tidak berwarna. metanol tersedia dalam bentuk absolut yang mudah diperoleh. Etanol merupakan alkohol yang terbuat dari padipadian. Selama proses transesterifikasi. sehingga membiarkan bahan bakar diesel fosil bertahan sendiri. dan merupakan cairan yang mudah terbakar.042. seperti minyak jelantah dapat digunakan untuk menyeimbangi penggunaan alkohol. sehingga hidrolisa dan pembentukansabun akibat air yang terdapat dalam alkohol dapat diminimalkan. Rumus kimianya adalah CH3OH. Metanol disebut juga metil alkohol merupakan senyawa paling sederhana dari gugus alkohol. Biaya untuk memproduksi etanol absolut cukup tinggi. Katalis Natrium Hidroksida (NaOH) . juga digunakan sebagai pelarut. 2. sehingga metanol ini mampu memproduksi biodiesel yang lebih stabil. Memiliki berat molekul 32. ester dalam minyak nabati perlu dipisahkan dari gliserol. Disamping itu. Berbeda dengan etanol.4. bahan baku altrnatif lain. Metanol merupakan alkohol yang agresif sehingga bisa berakibat fatal bila terminum. Alkohol yang paling umum digunakan untuk transesterifikasi adalah metanol. Metanol dapat dibuat dengan mereaksikan hidrogen dengan karbon monoksida atau karbon dioksida.5.2. Metanol merupakan cairan yang jernih. titik leleh -98oC dan titik didih 64oC. Sebagian besar produksi metanol diubah menjadi formaldehid yang pada akhirnya digunakan untuk membuat polimer. atau kayu. harga alkohol yang cukup tinggi menjadikan penggunaannya dalam produksi biodiesel skala industri menjadi sedikit (jarang digunakan). bahan bakar diesel berbasis etanol tidak berdaya saing secara ekonomis dengan metil ester asam lemak. Akibatnya. Metanol adalah alkohol yang dapat dibuat dari batubara. baik etanol maupun metanol.

menurunkan yield ester dan mempersulit pemisahan ester dan glycerol yang mungkin terbentuk. Katalis adalah suatu bahan yang digunakan untuk memulai reaksi dengan bahan lain. Rekasi penyabunan merupakan reaksi samping yang tidak dikehendaki. Kandungan lemak bebas yang tinggi (lebih dari 0. dan harga pasar yang rendah. waktu reaksi yang lama. Karena itu. karena asam lemak ini akan membentuk ester atau biodiesel itu sendiri. Kehadiran asam lemak bebas dalam minyak juga akan mengkonsumsi katalis sehingga menurunkan efisiensi katalis. NaOH berperan sebagai katalis.3% dan kadar FFA kurang dari 0.5% .sehingga kadar air kurang dari 0.5%. terlibat dalam reakso tetapi tidak ikut terkonsumsi menjadi produk. Sedangkan pada katalisator asam tidak menyebabkan reaksi penyabunan seperti halnya pada katalisator yang biasa. Dari aspek ekonomi. proses transesterifikasi tanpa katalis tampaknya sangat sulit karena ester yang akan dibakar dalam mesin diesel memerlukan input energi yang tinggi. sehingga membentuk emulsi dengan metanol dan minyak. produksi biodiesel secara umum perlu menggunakan katalis. Dalam pembuatan pulp dan kertas berguna sebagai penetralisir sifat keasaman.Dalam sebuah industri. Pemilihan katalis ini sangat bergantung pada jenis asam lemak yang terkandung dalam minyak tersebut. Karena itu agar hasil esternya memuaskan. Hal ini terlihat pada ekstraksi adanya gumpalan-gumpalan putih yang melekat pada dinding corong pemisah akibat proses ekstraksi menjadi sulit dan memerlukan ekstraksi yang berulang-ulang. Jenis asam lemak dalam minyak sangat berpengaruh terhadap karakteristik fisik dan kimia biodiesel. Katalis dimanfaatkan untuk mempercepat suatu reaksi.1%). khususnya industri kimia kaustik soda atau NaOH memiliki peranan yang sangat penting dalam proses produksi. dan kandungan air (moisture) dalam reaktan (minyak nabati) akan menyebabkan terbentuknya sabun. Sedangkan dalam proses pembuatan biodiesel. Terbentuknya emulsi ini mengakibatkan reaksi metanolisis tidak dapat terjadi. BAB III . Dengan adanya reaksi samping yang berupa penyabunan inilah konversi minyak menjadi ester (biodiesel) menjadi kecil. reaksi transesterifikasi dengan katalisator KOH dan NaOH disarankan untuk minyak nabati yang melewati tahapan deasifikasi.

2. Kemudian dipanaskan sampai suhu mencapai 70◦C. 4) Reaksikan campuran tersebut selama 1 jam. kemudian dilanjutkan dengan reaksi transesterifikasi yaitu : 1) Minyak yang telah terbentuk pada reaksi esterifikasi dipanaskan kembali pada suhu 70◦C.2. . 3) Campurkan metanol dan katalis dalam jumlah tertentu kedalam minyak yang telah dipanaskan tersebut. 2) Setelah mencapai temperatur 70◦C. Reaksi Esterifikasi 1) Cairkan bahan baku terlebih dahulu bila bahan baku berwujud padat hingga mencapai ukuran 100 ml. Reaksi Transesterifikasi Setelah minyak didinginkan dan dihilangkan alkoholnya.1. dan kondensor. 3) Metanol 4) Katalis NaOH 3.2. Prosedur Percobaan 3. Reaksi ini berlangsung secara batch. minyak CPO. masukkan minyak ke dalam labu leher tiga yang telah dilengkapi dengan thermometer.1. Bahan 1) Minyak 2) Minyak yang digunakan dapat berupa minyak goreng.1. 2) Setelah minyak berbentuk liquid.1. Alat dan Bahan 3. pemanas. Alat 1) Heating mantle 2) Magnetic stirrer 3) Labu leher tiga 4) Thermometer 5) Condenser 6) Pipet hisap 7) Pompa 8) Ember 3.2. minyak tersebut ditambahkan dengan campuran methanol dan katalis KOH dalam jumlah tertentu. minyak jelantah. 3.1.2.METODOLOGI PERCOBAAN 3. 5) Setelah 1 jam minyak tersebut diangkat dan didinginkan.

3) Reaksikan campuran minyak. 9) Lakukan percobaan yang sama untuk variasi minyak dan metanol (1:1.5. kemudian kedua lapisan tersebut dipisahkan dengan corong pemisah. 1:1. alkohol dan KOH tersebut selama 1 jam. 7) Diamkan sampai terbentuk dua lapisan. perbandingan katalis H2SO4 (1%. 2%. 1:2). 2%. dan 3%) serta perbandingan katalis KOH (1%. 4) Setelah 1 jam minyak tersebut diangkat dan didinginkan. serta dihilangkan alkoholnya. 8) Terakhir lakukan pemanasan pada metal ester (biodiesel) sampai suhu 100◦C untuk menghilangkan kadar alkohol yang masih ada pada biodiesel. kemudian dua lapisan tersebut dipisahkan dengan corong pemisah. 5) Diamkan selama 24 jam agar terlihat dua lapisan yaitu lapisan atas metal ester dan lapisan bawah berupa gliserol. reaksi ini berlangsung pada kondisi batch. 6) Metil ester yang telah terpisah kemudian dicuci dengan cara mencampurkan air yang telah dipanaskan pada suhu 50◦C. Lakukan hal ini beberapa kali hingga hasil cucian terakhir terlihat bersih. dan 3%) 10)Metil Ester (biodiesel) dapat dianalisa. .