KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas karunia dan rahmatNya serta junjungan besar
Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita menuju zaman yang terang benderang
seperti sekarang ini sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas referat yang telah diberikan
oleh pembimbing. Referat ini dibuat dalam rangka penyelesaian tugas kepaniteraan klinik
bagi Ko-As Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi yang diberikan oleh SMF Bagian Mata
Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat I Raden Said Sukanto.
Referat ini membahas secara menyeluruh tentang Central Retinal Artery Occlusion
(CRAO) atau bisa disebut sebagai Oklusi Arteri Retina Sentral. Bahan untuk referat diambil
dari buku maupun jurnal dan artikel yang didapat dari internet. Penulis berharap bahwa
referat yang dibuat ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Harapan penulis bahwa dengan
hadirnya referat ini dapat membantu memahami secara mendetail mengenai topik yang
dibicarakan.
Terima kasih kepada s emua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian
pembuatan referat ini. Terutama para pembimbing di bagian mata, khususnya dr Mustafa,
Sp.M, dr. Agah Gadjali, Sp.M, dr. Gartati Ismail, Sp.M, dr. Henry A.W, Sp.M, dr.
Hermansyah, Sp.M dan para perawat bagian mata serta semua pihak yang memberi arahan
dan dukungan dalam penyelesaian referat ini.
Penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna dan memiliki banyak
kekurangan. Oleh karena itu, penulis menerima segala kritik dan masukan yang diberikan
agar referat ini menjadi lebih sempurna. Akhir kata, semoga referat ini dapat berguna bagi
penulis dan pembaca. Semoga Allah SWT merahmati dan menyayangi kita semua. Amin.

Jakarta, Desember 2014

Penulis

Daftar Isi
1

Lembar Pengesahan
Kata Pengantar…………...……………………………………………………………………1
Daftar Isi………………………………………………………………………………………2
Bab I Pendahuluan…………………………………………………………………………….3
Bab II………………………………………………………………………………………….5
2.1 Anatomi dan Fisiologi Retina….………..…………………………………………..…….5
2.2 Etiologi dan Patofisiologi...…………...……………………………………………….......8
2.3 Diagnosis..……………..…………………………………………………………………12
2.4 Penatalaksanaan………………………………………………………………………….17
2.5 Komplikasi……………………………………………………………………………….18
2.6 Prognosis……………………………………………………………………………...….18
Bab III Kesimpulan…………………………………………………………………………..19
Kepustakaan...………………………………………………………………………………..20

2

Umumnya insiden pada kelompok usia yang berbeda disebabkan penyebab yang berbeda pula.11 Sebagai suatu keadaan emergensi. pengguna kortikosteroid suntikan. paparan radiasi. memberat. Kebanyakan penderita berusia sekitar 60 tahun. trauma tumpul.000.2.3. tumor. yaitu merupakan proses penurunan penglihatan secara transien yang dapat terjadi selama beberapa detik hingga beberapa menit. namun pada beberapa kasus dijumpai mengenai penderita yang lebih muda hingga usia 30 tahun. Umumnya penglihatan dapat kembali seperti sebelumnya setelah serangan amaurosis fugaks berakhir. tanpa disertai rasa nyeri dan menetap pada salah satu mata.10. penanganan yang segera untuk mengembalikan aliran darah pada retina kemungkinan akan sangat bermanfaat bila dilakukan sedini mungkin. penyakit kardiovaskular.1.5 Keadaan ini berlangsung secara akut dan merupakan emergensi oftamologi biasanya ditandai dengan hilangnya penglihatan yang tiba-tiba (turunnya visus secara mendadak). poliarteritis nodosa. menunjukkan bahwa CRAO ditemukan tiap 1:10. Bahkan pada 1-2% penderita. diabetes.5.6. Pada 90% penderita. dan tanpa nyeri pada salah satu mata serta dapat menyebabkan kebutaan. bahkan kebutaan.2. obesitas. leukemia.BAB I PENDAHULUAN Central Retinal Artery Occlusion (CRAO) merupakan suatu penyumbatan pada pembuluh Arteri retina sentralis biasanya di lamina kribrosa. sifilis.5 Umumnya pasien akan mengeluhkan penurunan penglihatan yang terjadi secara tibatiba. persepsi cahaya. endokarditis bakteri subakut. perokok. tanpa keluhan mata merah. dan pengguna kokain. Umumnya penderita lakilaki lebih tinggi daripada wanita.2 Data pada studi di Amerika.11 Pada beberapa pasien dapat dijumpai amaurosis fugaks. ditemukan ganguan mata bilateral.9. Penanganan awal sebagai tindakan emergensi yang dapat dilakukan adalah: (1) Menurunkan 3 . namun dapat pula bertahan hingga 2 jam.3 Insidensi dijumpai meningkat pada penderita hipertensi.3.8. systemic heart disease. umumnya disebabkan oleh emboli dan kontraksi spasmodik.4. kemampuan visus menurun hingga menghitung jari.

baik menimbulkan obstruksi atau tidak memiliki mortality rate sebesar 56% dalam 9 tahun. harapan hidup pasien adalah sekitar 5. serta (3) Meningkatkan oxygen delivery pada daerah yang hipoksia.4 tahun pada penderita tanpa CRAO pada kelompok usia yang sama. dan 27% pada populasi seusia yang tidak memiliki gambaran emboli pada retinanya. Komplikasi yang dapat terjadi berupa atrofi pada Nervus optikus serta pembentukan neovaskularisasi. \ 4 . (2) Ocular massage.3 Tujuan penulisan referat ini adalah dalam rangka penyelesaian tugas kepaniteraan klinik bagi Ko-As Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi yang diberikan oleh SMF Bagian Ilmu Penyakit Mata Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat I Raden Said Sukanto. dan juga untuk meningkatkan wawasan pengetahuan secara mendetail bagi penulis mengenai topic yang sedang dibicarakan. dibandingkan 15.tekanan intraokular. Dari data didapati bahwa pasien dengan emboli yang terlihat pada retinanya. Dan tujuan dari pengobatan yang diberikan pada kasus CRAO adalah untuk3 : (1) Menurunkan TIO. Serta penulis berharap agar referat ini dapat bermanfaat bagi pembaca.5 tahun. (2) Menambah perfusi pada retina. Sedangkan pada pasien yang menderita CRAO.

sel amakrin dengan sel ganglion. menengah dan tinggi. merupakan lapis aseluler dan merupakan tempat sinapsis sel fotoreseptor dengan sel bipolar dan sel horizontal. Lapis nukleus luar. c. Lapisan fotoreseptor. Sel batang berfungsi untuk penglihatan malam dan sensitif terhadap cahaya namun tidak terhadap panjang gelombang cahaya (tidak membedakan warna). Lapis pleksiform dalam. merupakan lapis terluar retina terdiri atas sel batang yang mempunyai bentuk ramping. e. Ketiga lapis diatas avaskular dan mendapatkan metabolisme dari kapiler koroid. Epitel Pigmen Retina (EPR).1 Anatomi dan Fisiologi Retina Retina merupakan suatu srtuktur yang kompleks dimana terdiri dari sepuluh lapisan yang terpisah yang terdiri dari bagian fotoreseptor. Di dalam lapisan-lapisan ini terletak sebagian besar pembuluh darah retina. Lapis ini mendapatkan metabolisme dari arteri retina sentral.1 Lapisan-lapisan retina tersebut secara berurutan terdiri atas lapisan 1. Sel ini terkonsentrasi di fovea. h. i. merupakan susunan lapis nukleus sel kerucut dan batang. sel horizontal dan sel Muller. Sel batang menyususn sebagian besar fotoreseptor di retina bagian lainnya. Sel kerucut bertanggung jawab untuk penglihatan siang dan sensitif terhadap panjang gelombang pendek. Lapis pleksiform luar. Retina bertanggung jawab dalam proses perubahan cahaya menjadi sinyal listrik dan pengintegrasian awal dari sinyal-sinyal tersebut. merupakan membran hialin antara retina dan badan kaca. merupakan lapis akson sel ganglion menuju ke arah saraf optik. b. Lapis nukleus dalam. dan sel kerucut. Membran limitan interna. merupakan lapis aselular tempat sinaps sel bipolar. Lapis sel ganglion yang merupakan lapis badan sel daripada neuron kedua. 5 . g. j. merupakan bagian perbatasan antara retina dengan koroid.BAB II 2. sel ganglion maupun serabut saraf optik.4 : a. d. Membran limitan eksterna yang merupakan membran ilusi. neuron. f. yang membuatnya dapat membedakan warna. merupakan tubuh sel bipolar. Lapis serabut saraf.

Cabang pertama Arteri oftalmika adalah Arteri retina sentralis sebagai penyuplai darah ke retina. Arteri posterior siliaris yang merupakan cabang dari Arteri oftalmika akan menyuplai darah ke koroid. Lapisan-lapisan retina Arteri oftalmika merupakan cabang pertama dari Arteri karotis interna dan memasuki kavum orbita bersamaan dengan Nervus oftalmikus melalui foramen oftalmikus.Gambar 1.3 6 . Pada sekitar 14% populasi terdapat variasi cabang silioretinal dari arteri siliaris posterior yang akan memberikan tambahan suplai darah pada makula dari sirkulasi koroid.

Arteri retina sentralis terlihat di tengah. Gambar 3. Strukur pembuluh darah yang memperdarahi retina dan percabangannya 2.2 Etiologi dan Patofisiologi 7 . Arteri oftalmika dan cabangnya.Gambar 2.

Digambarkan sebagai sumbatan atau obstruksi komplit c) Kalsifikasi.CRAO (Oklusi Arteri Retina Sentralis) bukanlah suatu penyakit yang berdiri sendiri. Emboli dianggap sebagai penyebab CRAO yang tersering. dari miksoma atrial. infark miokard. penyebab ini lebih berbahaya apabila dibandingkan dengan kolesterol ataupun fibrinoplatelet. Pada penyebab karena penyakit Arteri karotis kejadiannya sebanyak 45%.6 Emboli yang berasal dari arteri karotis atau proses lain di jantung. biasanya asimtomatik b) Fibrinoplatelet. karena dapat menyebabkan oklusi yang bersifat permanen Berikut adalah beberapa hal yang dapat mengakibatkan terjadinya emboli pada jantung. yaitu antara lain : a) Kalsifikasi katup mitral atau katup aorta b) Vegetasi pada penyakit endokarditis bakterialis c) Trombus mural setelah infark miokard dengan prolaps katup mitral d) Miksomatous. Jenis emboli yang dapat menyebabkan obstruksi pada arteri retina adalah7: Jenis Emboli Emboli kalsium Sumber Plak ateromatosa yang berasal dari Arteri Emboli kolesterol karotis ataupun katup jantung Plak ateromatosa yang berasal dari Arteri Emboli trombosit-fibrin karotis Pada atrial fibrilasi. emboli menyebabkan Transient Ischemic Attack (TIA) yang bermanifestasi sebagai amaurosis fugaks dengan kehilangan penglihatan tiba-tiba selama 2 – 10 menit. plak Hollenhorst kuning pada bifurkasio arteriola. Biasanya dikaitkan dengan obstruksi kronik. Penyebab dari CRAO dianggap sebagai proses multifaktorial. CRAO dapat diakibatkan oleh:   Proses aterosklerosis dan trombosis yang terjadi pada lamina kribosa. umumnya pada mata kiri Emboli dapat terbentuk dari bermacam sumber di tubuh.5 Apabila terjadi pada Arteri karotis umumnya disebabkan oleh ulserasi ateroma pada bifurkasio karotis interna maupun eksterna. Emboli bisa terjadi karena: a) Kolesterol. (gray) Emboli mixoma Bacterial ataupun ataupun pada operasi jantung Pada atrialmixoma (umumnya usia muda) Pada endokarditis dan septikemia mikotik emboli (Roth spots) 8 .1. yang disebabkan oleh kelainan-kelainan sistemik yang lain.4.

endokarditis bakteri sub akut. atau timah   hitam. yang bisa tersumbat total karena arterosklerosis. pasca bedah retina. dan kelainan pembekuan darah. serta tanpa anastomosis. infark miokard. seperti trombofilia. merupakan end artery. keracunan alkohol. kina. Berbagai jenis emboli sebagai sumber penyebab oklusi arteri pada retina sentral. Arteri retina sentralis memiliki diameter yang kecil (0. biasanya sebuah diagnosis ekslusi.6.7 Angiospasme merupakan penyebab yang jarang. tekanan bola mata tinggi.6 Migrain retina. edema papil.  Obliterasi arteri retina yang berkaitan dengan peradangan pada arteritis maupun periarteritis. seperti yang terjadi pada glaukoma sudut tertutup akut. terjadi kehilangan penglihatan total pada mata. Arteri ini merupakan pembuluh darah utama pada retina. Jika terjadi pada usia dibawah 30 tahun terkait dengan migrain. keruh dan opak.4. tembakau. partikel seperti bekuan darah. Hal ini disebabkan kurangnya asupan darah pada lapisan retina bagian dalam. penyakit arteri karotis.8 Gangguan hematologi. dimana hal ini berkaitan dengan CRAO yang terjadi pada usia muda. merupakan penyebab yang jarang terjadi. Bisa juga dikarenakan sindroma antifosfolipid.6 Peningkatan tekanan intra okular yang sangat tinggi juga dikaitkan dengan kejadian obstruksi pada arteri retina. neuritis optik. Iskemik yang diikuti nekrosis akan terjadi. Penyebab CRAO ini seringkali dikaitkan dengan usia pasien. Secara akut.1 mm). obstruksi yang diakibatkan emboli misalnya. diabetes mellitus dan sifilis. trauma. Peradangan pada pembuluh darah juga bisa menyebabkan penyumbatan. sehingga retina memberikan gambaran opak dan warna putih kekuningan. Opasitas akan bertambah pada bagian posterior dikarenakan bertambahnya ketebalan lapisannya. dan emboli. Sedangkan pada usia di atas 30 tahun biasanya dikaitkan dengan hipertensi. Pada usian lanjut dapat disebabkan oleh arteritis temporal. Sedangkan 9 . Penyebab terjadinya spasme pada pembuluh antara lain pada migren.Tabel 1.6 Proses inflamasi yang mencetuskan oklusi seperti pada arteritis temporal  merupakan penyebab yang jarang terjadi. dan defisiensi  protein C dan S. retinoblastoma. Seluruh retina (kecuali fovea) akan pucat. akan membuat terjadinya edema lapisan dalam retina dan piknosis sel ganglion nukleus. walaupun fovea tidak terkena.3 Jika Arteri retina sentralis tersumbat.

seperti atrial fibrilasi.5 jam maka penglihatan tidak akan normal. endokarditis. penyakitpenyakit aterosklerosis. 3 Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan yang perlu dilakukan pada penderita yang diduga mengalami CRAO meliputi 3 : 10 . namun dapat pula bertahan hingga 2 jam.11 Amaurosis fugaks merupakan tanda yang paling sering dijumpai pada insufisiensi  arteri karotis atau terdapatnya emboli pada arteri oftalmika retina. keadaan koagulopati ataupun hiperkogulasi. kira-kira 20% dari kejadian. Pada beberapa pasien dapat dijumpai amaurosis fugaks. tanpa disertai rasa nyeri dan menetap pada salah satu mata. walaupun peredaran darah telah normal kembali. anemia. Begitu pula  dengan riwayat pengobatan. migren retina. walaupun sudah terjadi oklusi arteri retina sentral.4 Riwayat hipotensi ortostatik.4. Tanyakan apakah setelahnya penglihatan kembali seperti semula atau tidak. bila gangguan peredaran darah retina telah lebih dari 1.fovea sentralis masih terlihat kemerahan (ini dikarenakan terlihatnya warna koroid). Penting untuk menanyakan riwayat penyakit penderita yang dapat menjadi predisposisi pembentukan trombus. aritmia. termasuk serabut saraf dari fotoreseptor fovea. Umumnya penglihatan dapat kembali setelah serangan amaurosis fugaks berakhir. arteritis dan koagulopati yang merupakan risiko timbulnya monokular amaurosis  fugaks. ada sebuah cabang dari sirkulasi siliaris yang disebut Arteri siliaris retina yang menyuplai retina di antara makula dan Nervus optikus. yaitu merupakan proses penurunan penglihatan secara transien yang dapat terjadi selama beberapa detik  hingga beberapa menit. 2. Pada beberapa kasus. penglihatan sentral akan masih ada. Ini adalah dasar terlihatnya cherry red-spot pada pemeriksaan retina dengan funduskopi pada CRAO.3 Diagnosis Anamnesis  Umumnya pasien akan mengeluhkan penurunan penglihatan yang terjadi secara tiba tiba.3 Tanyakan pada pasien perihal durasi serangan yang terjadi.3. spasme pembuluh darah. Jika arteri ini ada.

5. umumnya menurun hingga menghitung jari.3. Penilaian visus.11 Tanda Boxcar dapat terlihat pada arteri maupun vena. Hal ini muncul setelah terjadi infark pada lapisan retina yang menyebabkan terjadi edema. dapat memberikan gambaran: Seluruh retina menjadi pucat akibat edema dan gangguan nutrisi. ppail optic terlihat pucat dan berbatas kabur. Refraksi. Penampakan ini adalah pigmen koroid dan epitel pigmen koroid yang dilihat melalui retina foveola yang tipis dan kontras dengan retina perifoveola yang lebih tebal dan transluen (dikarenakan terhalang oleh retina yang edema dan buram).  Lakukan pemeriksaan kardiovaskular untuk mendengar adanya murmur jantung ataupun bruit karotis. Pemeriksaan defek pada pembuluh retina dengan funduskopi. bisa terlihat emboli maupun Boxcar sign. menjadi lambat atau menghilang dan dapat anisokor. Arteriol retina sangat tipis.4. Hasil pemeriksaan funduskopi pada CRAO. Akibatnya lapisan retina akan tampak pucat kecuali pada daerah makula yang tetap berwarna merah karena - - lapisannya yang tipis.12 Gambar 4. Terdapat gambaran cherry-red spots pada macula.3. Gambaran cherry-red spot pada makula lutea.3 Pemeriksaan reaksi pupil.6 Palpasi.10. tidak ada kelainan. tidak ditemukan kelainan. lambaian tangan ataupun tanpa persepsi cahaya.3 Emboli dapat terlihat pada 20% kasus. Terjadi perburukan monokuler yang bermakna dari ketajaman     penglihatan sampai kebutaan.7. dimana hal ini menunjukkan adanya obstruksi yang berat. 11 .

Tidak seperti pemeriksaan angiografi yang invasif dikarenakan harus memasukan selang ke dalam tubuh. Tidak terdapat efek samping dari gelombang magnetik yang terpapar kepada tubuh kita. trauma dan penyakit kongenital lain. pemeriksaan ini dilakukan non-invasif. MRA termasuk alat diagnostik yang aman. nyeri tekan pada temporal ataupun adanya arteri yang teraba. jaw claudication. seperti arterosklerosis. Selain itu. pemeriksaan ini juga dapat membantu untuk merencanakan terapi untuk pasien. 13 Gambar 5. Pemeriksaan dengan Magnetic Resonance Angiography (MRA) 12 . karena tanpa mengeluarkan radiasi.5 Pemeriksaan Penunjang  Angiografi Magnetik Fluoresensi (MRA) Ialah alat bantu pemeriksaan untuk membantu melihat keadaan pembuluh darah. Alat ini dapat mendeteksi apabila terdapat kerusakan pada pembuluh darah retina. demam. khususnya pada pembuluh darah retina. untuk menyingkirkan adanya arteritis temporal.3. Pemeriksaan menyeluruh untuk menilai kelemahan otot.

Hasil pemeriksaan pada USG Doppler. sedangkan pada gambar di sebelah kanan dapat terlihat gambaran plak yang terkalsifikasi di dalam pembuluh darah arteri. ekstremitas. khususnya untuk mata yaitu bagian retina. Ultrasonografi Doppler Gambar 6. baik struktur maupun aliran darah. Gambar kiri memperlihatkan penampakan pembuluh darah arteri yang normal. USG dapat mengevaluasi pembuluh darah. USG Doppler merupakan modalitas radiologi yang memanfaatkan gelombang suara untuk menghasilkan gambaran yang dihasilkan sesuai dengan panjang gelombang suara pantulan pada masing-masing organ. Teknik ini dapat digunakan pada pembuluh darah seluruh organ tubuh seperti organ jantung. khususnya pada pembuluh darah retina. Alat ini dapat mendeteksi dengan akurat gangguan pada arteri dan vena pada retina yang dapat mengurangi aliran darah sampai sekurang-kurangnya 50%. Keuntungan pemeriksaan Ultrasonografi Doppler : - Hampir ditemukan resiko pada pasien - Tidak terpapar radiasi - Biaya lebih murah - Tidak membutuhkan persiapan Kerugian pemeriksaan Ultrasonografi Doppler : - Waktu pemeriksaan lebih lama dan sangat tergantung dari keahlian operator 13 . abdomen.

Manfaat penggunaan alat OCT dalam bidang kesehatan tentunya sebagai penunjang atau penegak diagnosa. Alat bantu diagnostik Ocular Coheren Tomograph (OCT) Adalah teknik pencitraan diagnostik medis yang memanfaatkan fotonik dan serat optik untuk mendapatkan gambar dan karakterisasi jaringan mata. sumbatan atau penyempitan pada pembuluh darah retina o Mendeteksi abnormalitas dari aliran Arteri karotis yang berkaitan dengan kondisi seperti stenosis aortik o Mengevaluasi kemungkinan luka pada arteri  Ocular Coheren Tomograph (OCT) Gambar 7.USG Doppler ini dapat dilakukan untuk: o Melihat adanya bekuan. Keunggulan spesifik OCT dibandingkan dengan teknik optik alternatif adalah: 14 . saraf optik dan struktur retinadigambarkan pada tingkat resolusi yang sangat tinggi. OCT merupakan alat diagnostik modern dengan teknik pencahayaan menggunakan resolusi tinggi untuk menvisualisasikan perubahan yang terjadi akibat suatu penyakit pada retina mata. Alat ini tidak kontak langsung dengan bola mata sehingga dapat mengurangi efek samping yang merugikan mata. Namun. Lapisan anatomi retina dapat dibedakan dan ketebalan retina dapat diukur. Pada tomografi baru ini. dalam arti OCT ini tidak dapat berdiri sendiri dalam mempelajari pasien dengan penyakit mata. dokter tidak dapat menegakkan diagnosis kepada pasien dengan penyakit mata hanya dengan menggunakan pemeriksaan penunjang OCT ini.

dijumpai penurunan visus hingga menghitung jari ataupun 15 . Kemudian kembali melalui retina dan mencapai detektor.bebas dan operasi non – invasif 3. Sinar dikombinasikan dalam coupler dengan menggunakan cahaya pantulan (backscattered) dari mata penderita. Setelah itu direfleksikan dari cermin dan ditangkap kembali oleh lensa dengan dikombinasikan dengan sinar sample arm. Teknik kontras terkait didasarkan pada pergeseran frekuensi Doppler. Kedalaman tinggi dan resolusi transversal. dan umumnya unilateral.hal yang harus diperhatikan saat menggunakan alat-alat berbasis OCT pada pemeriksaan penunjang medis meliputi: keamanan bagi lingkungan klinik. Resolusi kedalaman independen dari aperture sampel balok 2.1. Prinsip kerjanya dimulai dengan adanya alat koheren rendah yang berasal dari dioda superluminan (SLD) yang digabungkan dengan interferometer fiber. Kerugian utama dari OCT dibandingkan dengan modalitas pencitraan alternatif dalam pengobatan adalah keterbatasan kedalaman penetrasi di media hamburan. Sinar yang terkirim ke reference arm (mirror) akan dipancarkan sejajar oleh lensa pada keluaran reference arm. Sinyal yang terbentuk diamati jika panjang lintasan optik sesuai dengan panjang koheren dari sumber cahaya foto dioda yang kemudian diproses. polarisasi dan tergantung panjang gelombang – hamburan balik. dan radiasi laser harus tetap dijaga pada level yang aman. yang kemudian dipisahkan oleh serabut splitter pada suatu coupler menjadi ke jalur acuan (reference) dan sampel (measurement). tanpa disertai nyeri. Fungsi kontras gambar dependen. Dari uraian diatas. pemajanan elektromagnetik terhadap alat yang lain harus diperhatikan. Pada pemeriksaan. Kontak . Gerbang koherensi secara substansial dapat meningkatkan kedalaman probing dalam media penghambur Keuntungan dari OCT dibandingkan dengan modalitas pencitraan nonoptiknya yaitu: 1. 2. kualitas daya listik. pada pasien CRAO umumnya pasien datang dengan keluhan utama penurunan penglihatan yang terjadi secara tiba-tiba. Hal. Dari proses tersebut didapatkan diagram sistematik dari sistem OCT interferometer fiber optics.

Pada pasien lanjut. 9 Pemeriksaan EKG dapat dilakukan untuk menilai adanya kemungkan atrial fibrilasi. arteriol menjadi dangkal dan ireguler. serta tanda boxcar pada bagian vena. fovea tidak terlihat edema.11 Non-medikamentosa Ocular massage Dilakukan dengan gerakan berputar selama 10 detik pada bola mata dan dilepas kemudian dilakukan berulang-ulang. Ultrasound pada karotis dapat mendeteksi penyakit aterosklerosis yang lebih sensitif dari pemeriksaan Doppler yang hanya menilai aliran. Saat pemijatan dengan jari. Dan bila ditemukan oklusi arteri retina sentralis diakibatkan oleh giant cell arthritis perlu segera diterapi dengan kortikosteroid sistemik dosis tinggi. Ketika pemijatan dihentikan. cairan akan mengalir dan terjadi penurunan 16 .4 Penatalaksanaan Sebagai suatu keadaan kegawatdaruratan. Pemeriksaan MRA dapat memberikan gambaran yang lebih jelas pada obstruksi yang terjadi. dapat terlihat gambaran cherry-red spot.9 Cara tradisional tersebut bertujuan meningkatkan tekanan introkular di dalam mata akibat tekanan yang terputus dan merangsang mekanisme autoregulator. meninggalkan sebuah diskus optikus yang pucat sebagai temuan utama. giant cell arthritis harus disingkirkan. Pada funduskopi dapat ditemui: gambaran fundus menjadi pucat akibat edema retina.persepsi cahaya maupun kebutaan.3 Proses pencitraan sangat membantu dalam menentukan proses primer yang menyebabkan CRAO. Pasien yang dicurigai aritmia yang tak didapati pada EKG serial dapat dilakukan EKG-holter (monitor 24 jam). Penanganan awal sebagai tindakan emergensi yang dapat dilakukan adalah: Medikamentosa Menurunkan tekanan intraokular Dapat diberikan obat topikal (tetes mata) golongan β-blocker ataupun pemberian acetazolamide secara intavena dapat mennyebabkan penurunan TIO yang segera.3 2.9 Secara klinis.9. tenaga yang diberikan akan membuat retina menganggap adanya hipoksia sehingga terjadi dilatasi vaskular retina sehingga aliran darah meningkat. penanganan yang segera untuk mengembalikan aliran darah pada retina kemungkinan akan sangat bermanfaat bila dilakukan sedini mungkin. kekeruhan retina menghilang dalam 4 – 6 minggu.4.

Kemudian jarum ditarik keluar dan diberikan obat tetes mata berupa antibiotik topikal. 2. Cairan diambil sebanyak 0. Meningkatkan oxygen delivery pada daerah yang hipoksia. Insersi dilakukan pada daerah limbus dengan hati-hati dan menjaga agar jarum tidak merusak lensa. seperti yang dijelaskan di atas.1-0. Menambah perfusi pada retina. Pemberian oksigen dan peningkatan PCO2 umumnya dilakukan dengan pemberian bantuan napas dengan campuran 5% CO2 dan 95% O2 selama 10 menit yang dilakukan setiap 2 jam selama 2 hari. seperti yang diberikan pada penderita glaukoma.3 Tujuan dari pengobatan yang diberikan pada kasus CRAO adalah untuk 3:  Menurunkan TIO. Harapannya adalah terjadi perpindahan emboli menjadi lebih dalam dan menyelamatkan sebagian daerah retina. Pendapat lain mengatakan pemberian aspirin pada fase akut  dapat bermanfaat. simpatomimetik dan timoptik.2 cc. hal ini dapat dicapai dengan pemberian obat-obatan golongan karbonik anhidrase inhibitor.9 Parasintesis dilakukan dengan anastesi lokal dan menggunakan jarum suntik 30G pada spuit 1 cc. dicapai dengan memberikan oksigen konsentrasi tinggi maupun dengan Terapi Oksigen Hiperbarik. diuretik hiperosmolar.3.resistensi dari aliran darah.11 2. atau dengan pemberian agen trombolitik perifer untuk memindahkan trombus. diperoleh melalui pemberian obat vasodilator.6 Prognosis 17 . Penurunan TIO dapat pula dicapai  dengan parasintesis Camera Occuli Anterior (COA).2 Tindakan Invasif Konsultasi urgensi pada opthamologist dengan persiapan untuk dilakukannya tindakan penanganan yang lebih agresif jika diindikasikan. Hal ini hanya dapat bermanfaat bila diberikan dalam 2-12 jam setelah onset. peningkatan PCO2. Dengan tindakan ini diharapkan terjadi penurunan TIO yang akan memicu peningkatan perfusi yang akan mendorong emboli bergerak lebih dalam.5 Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi berupa atrofi pada Nervus optikus serta pembentukan neovaskularisasi. seperti parasintesis Camera Occuli Anterior (COA).

5 tahun. Namun pada 10% pasien dengan variasi pembuluh silioretinal tajam penglihatan meningkat menjadi sekitar 20/50.Umumnya pasien dengan CRAO akan mengalami penurunan tajam penglihatan hingga menghitung jari ataupun lambaian tangan.12 Dari data didapati bahwa pasien dengan emboli yang terlihat pada retinanya.3 18 . baik menimbulkan obstruksi atau tidak memiliki mortality rate sebesar 56% dalam 9 tahun. harapan hidup pasien adalah sekitar 5. Sedangkan pada pasien yang menderita CRAO. dan 27% pada populasi seusia yang tidak memiliki gambaran emboli pada retinanya.3.4 tahun pada penderita tanpa CRAO pada kelompok usia yang sama. dibandingkan 15.

Umumnya CRAO disebabkan oleh emboli dan kontraksi spasmodik. dijumpai penurunan visus hingga menghitung jari ataupun persepsi cahaya maupun kebutaan. 19 . Pada pemeriksaan. Dari funduskopi dapat ditemui gambaran fundus menjadi pucat akibat edema retina. dapat terlihat gambaran cherry-red spot. penanganan yang segera untuk mengembalikan aliran darah pada retina kemungkinan akan sangat bermanfaat bila dilakukan sedini mungkin. serta tanda boxcar pada bagian vena. arteriol menjadi dangkal dan ireguler. dan tanpa nyeri pada salah satu mata. memberat. Sebagai penanganan yang bersifat kegawatdaruratan. fovea tidak terlihat edema. serta dapat menyebabkan kebutaan. tanpa keluhan mata merah.BAB III KESIMPULAN Central Retinal Artery Occlusion (CRAO) merupakan suatu penyumbatan pada pembuluh Arteri retina sentralis. CRAO berlangsung secara akut dan merupakan kegawatdaruratan oftamologi yang ditandai dengan turunnya visus secara mendadak.

Roirdan-Eva. J. 12. Gurwood. B. Medscape Reference.com/professional/sec10/ch116/ch116b.C. Allison DJ.. Jobson Publishing L. Lecture Note Oftamologi. 2010. Jackson J. P. 255-256 7.L.. USA: Blackwell Science Ltd. 2007.html#top [16 Desember 2014] 6.merckmanuals.. 2000. James. Diakses dari: http://www.T. New York: Thieme.B. 2005. In: Grainger RC. India: BMJ Books. Allison D. Adam A. 320-323 8. Graham.A.K. eds. Central Retinal Artery Occlusion.com/article/1223625-overview [16 Desember 2014] 4. 5th ed. Tasman. Central Retinal Artery Occlusion. Lang. S. Vaughan’s & Asbury’s. J. 162-165 10. Central Retinal Artery Occlusion. L. William. 2007. Retinal Artery Occlusion. S. Diakses dari: http://emedicine. & Jaeger. 2. NY: Churchill Livingstone. New York. Knoop. 2002. techniques. Ilyas. 11. Retinal Arterial Occlusion. Jakarta: Balai Penerbit .G. et all. Arterial Obstructive Disease.. Mc Graw-Hill.S. 2009. Khurana. Dalam: Atlas of Clinical Ophthalmology Second Edition.H. Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga.J.R. Paul. Diagnostic Radiology: A Textbook of Medical Imaging.medscape. General Ophthalmology. A. Sowka. G. 2008:chap 6.W. 2204.. Dalam: Handbook of Ocular Disease Management Eleventh Edition. 129-139. Angiography: principles.. 2008. Chew. 7-8.. Dalam: Ophtamology at a Glance.Graw-Hill. Comprehensive Ophthalmology Fourth Edition. dan Kabar.FKUI. & Elkington. 216 13. P. Khaw.P. Garg. A. 2006. ABC of Eyes.J. 2001. A. Sudden Painloss of Vision. 20 . Chris. Shah. and Bron Anthony. Dalam: The Atlas of Emergency Medicine Third Edition.9-10. K. Dalam: Merck Manual for Healthcare Professionals Online. Dixon AK.. Meaney J. and complications. 2009. A. Fourth Ecition.42-44 3.42-43 9.DAFTAR PUSTAKA 1. & Cassidi L. Mc.36-37. & Whitcer. E. Lippincott Williams & Wilkins. Dalam: Ophthalmology a Short Textbook. Olver. R.K. New Delhi: New Age International (P) Limited Publishers.198 5. Stack. J. Jakarta: Erlangga.