Fraktur pada Tulang Femur

Anggraini Hertanti
102012440
Fakultas Kedokteran Umum
Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Terusan Arjuna No.6 Kebon Jeruk, Jakarta Barat
Email: Anggrainy_eny@yahoo.co.id

Pendahuluan
Dengan semakin pesatnya kemajuan lalu lintas di Indonesia baik dari segi jumlah
pemakai jalan, jumlah kendaraan, jumlah pemakai jaga angkutan dan bertambahnya jaringan
jalan dan kecepatan kendaraan maka mayoritas kemungkinan terjadinya fraktur adalah
akibat kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas sering mengakibatkan trauma kecepatan
tinggidan kita harus waspada terhadap kemungkinan polytrauma yang dapat mengakibatkan
trauma organ – organ lain. Trauma– trauma lain adalah jatuh dari ketinggian, kecelakaan
kerja, cedera olah raga.Kita harus dapat membayangkan rekonstruksi terjadinya kecelakaan
agar dapat mendugafraktur yang dapat terjadi. Setiap trauma yang dapat mengakibatkan
fraktur juga dapatsekaligus merusak jaringan lunak disekitar fraktur mulai dari otot, fascia,
kulit, tulang,sampai struktur neurovaskuler atau organ–organ penting lainnya.Trauma dapat
terjadi secara langsung maupun tidak langsung, trauma secara langsung berarti benturan
pada tulang dan mengakibatkan fraktur di tempat itu sedangkan trauma tidak langsung
terjadi bilamana titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan.Fraktur itu sendiri
adalah terputusnya keutuhan tulang, umumnya akibat trauma.Patah tulang tertutup adalah
patah tulang dimana tidak terdapat hubungan antara fragmentulang dengan dunia luar.
Pendapat lain menyatakan bahwa patah tulang tertutup adalah suatu fraktur yang bersih
(karena kulit masih utuh atau tidak robek) tanpa komplikasi. Lalu fraktur femur adalah
terputusnya kontinuitas batang femur yang bisa terjadi akibat trauma langsung(kecelakaan
lalu lintas, jatuh dari ketinggian), dan biasanya lebih banyak dialami oleh laki-laki dewasa.
Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak,mengakibatkan
pendertia jatuh dalam syok. Batang femur juga dapat mengalami fraktur olehkarena trauma
langsung,

puntiran

(twisting ),

atau

pukulan

pada

bagian

depan

lutut

rotasi. Riwayat sosial : bertanya tentang gaya hidup sehari-hari dilingkungan rumah. Riwayat obat : ditanyakan pada pasien obat apa saja yang sudah dikonsumsi. Dimuali dari pemeriksaan tekanan darah. 5. suhu dan tingkat kesadaran. atau sumber lain. Yang perlu dilakukan pada anamnesis adalah sebagai berikut: 1. Keluhan utama : nyeri pada paha kanan setelah mengalami kecelakaan 3.yang berada dalam posisi fleksi pada kecelakaan jalan raya. Riwayat penyakit terdahulu : ditanyakan pada pasien apakah pernah mengalami patah tulang. atau penyakit yang sedang diderita. tidak dapat berdiri dan merasa kesakitan saat berusaha mengangkat pahanya. Riwayat penyakit sekarang : ditanyakan apakah saat ini pasien menderita gangguan lain pada tulangnya. Femur merupakan tulang terbes ar dalam tubuh dan batang femur pada orang dewasa sangat kuat. 4. sekolah atau tempat kerja. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik biasanya dilakukang setelah riwayat kesehatan dikumpulkan. atau gangguan pada tulangnya. memar dan deformitas (penonjolan yang abnormal. tetapi hal yang penting . Dengan demikian. wali. pemendekan) mungkin terlihat jelas. nadi. Termasuk didalam aloanamnesis adalah semua keterangan dokter yangmerujuk. seperti yang dapat dialami pada kecelakaan automobil. 7. 6. Perdarahan interna yang masif dapat menimbulkanrenjatan berat. Keluhan penyerta : mengalami kesakitan pada tungkai bawah kanan diatas sendi lutut. yang disebut autoanamnesis. disebut sebagaialoanamnesis. atau dilakukan terhadaporang tua. traumalangsung yang keras.frekuensi pernapasan.  Look atau yang biasanya disebut inspeksi adalah dengan melakukan pengamatan terhadap lokasi pembengkakan. Riwayat penyakit keluarga : ditanyakan apakah dikeluarga ada yang mengalami patah tulang atau gangguan pada tulang. catatan rekam medik. Anamesis dapat dilakukan langsung kepada pasien. pemeriksaan fisik yang lengkap biasanya dimulai secara berurutan dari kepala sampai jari kaki. 8.angulasi. diperlukanuntuk menimbulkan fraktur batang femur. orang yang dekat dengan pasien. Anamnesis Anamesis adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan wawancara. dan semua keterangan yang diperoleh selain dari pasiennya sendiri. Identitas : Laki-laki berusia 18 tahun 2. tumor.

Cedera pembuluh darah adalah keadaan  darurat yang memerlukan pembedahan. Adakalanya diperlukan proyeksi khusus. Bila kedua proyeksi ini tidak dapat dibuat karena keadaan pasien yang tidak mengizinkan. jenis fraktur dapat dibagi berdasarkan : . deformitas dan metalikment.1 Scan tulang. maka harus dibuat 2 foto tulang yang bersangkutan. letak dari fraktur yang dialaminya. Perlu diingat bahwa bila hanya 1 proyeksi yang dibuat. tetapi perlu juga memeriksa bagian distal darifraktur untuk merasakan nadi dan untuk menguji sensasi. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan radiologis menggunakan foto Roentgen. maka dibuat 2 proyeksi yang saling tegak lurus satu sama lain. Pada penderita fraktur dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan radiologik untuk melihat posisi. scan CT / MRI : memperlihatkan fraktur. bila ada fraktur pada femur proksimal atau humerus proksimal. Agar lebih sistematis. X-Ray dapat dilihat gambaran fraktur. misalnya proyeksi aksial. Feel atau yang sering kita sebut palpasi yaitu pemeriksaan dengan cara perabaan. Enogram/anterogram menggambarkan arus vaskularisasi. Movement :Krepitus dan gerakan abnormal dapat ditemukan. tetapi lebih penting untuk menanyakan apakah pasien dapat menggerakan sendi– sendi dibagian distal cedera. Film foto polos merupakan metode penilaian awal utama pada pasien dengan kecurigaan trauma skeletal. Arteriogram dapat dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.apakah terdapat nyeri tekan setempat. tomogram.cedera terbuka. Setiap tulang dapat mengalami fraktur walaupun beberapa diantaranya sangat rentan.adalahapakah kulit itu utuh. juga dapatdigunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak. ada kemungkinan fraktur tidak dapat dilihat jelas dan pasti. Secara klinis ada atau diduga ada fraktur. kalau kulit robek dan luka memiliki hubungan dengan  fraktur. CT scan untuk mendeteksi struktur fraktur yang kompleks.1 Working Diagnosis Fraktur femur tertutup 1/3 distal dextraFraktur (patah tulang) adalah terputusnya kontinuitas struktur tulang danditentukan sesuai jenis dan luasnya. Sebaiknya dibuat foto anteroposterior (AP) dan lateral.

oblik (miring). maka dinamakan kominutif. biasanya pada distal radius anak-anak. fraktur dimana tulang  mengalami kompresi ( terjadi pada tulang belakang ) disebut kompresi. dan Greenstick fracture. maka dinamakan fraktur dislokasi.epifisis. bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua kortek tulang. metafisis. b. jika satu bagian patahsedangkan sisi lainnya membengkok disebut greenstick. Lokasi Fraktur dapat terjadi pada tulang di mana saja seperti pada diafisis. Konfigurasi Dilihat dari garis frakturnya. bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang. mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang anak. Buckle fracture atau Torus fracture. atau spiral (berpilin/ memuntir seputar batang tulang). misalnya fraktur   patella Fraktur Greenstick pada anak-anak Fraktur epifisis dengan separasi. antara lain a. Fraktur Tidak Komplit. bila terjadi lipatan dari satu kortek dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya.3 1. Jika terdapat lebihdari satu garis fraktur. Jika fraktur didapatkan bersamaan dengan   dislokasisendi. Fraktur dapat dibagi menjadi fraktur terbuka (jika terdapat hubungan antara tulangdengan dunia luar) atau fraktur tertutup (jika tidak terdapat hubungan antara fraktur dengan dunia luar).3 . dapat dibagi menjadi transversal (mendatar). Fraktur Komplit. Luas Terbagi menjadi fraktur lengkap (komplit) dan tidak lengkap (inkomplit). Fraktur tidak lengkap contohnya adalah retak. Hubungan antara fraktur dengan jaringan sekitar. atau intraartikuler. Fractur dengan fragmen patahan terdorong kedalam (sering terjadi padatulang tengkorak dan wajah) disebut depresi. seperti Hairline fracture (patah retak rambut). Beberapa tipe fraktur yang menjelaskan keadaan fraktur.2 Hubungan antar bagian yang fraktur Antar bagian yang fraktur dapat masih berhubungan   (undisplaced) atau terpisah jauh (displaced). Bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma  Garis patah melintang : trauma angulasi atau langsung  Garis patah oblique : trauma angulasi  Garis patah spiral : trauma rotasi  Fraktur kompresi : trauma aksial/ fleksi pada tulang spongiosa atau garis pada vertebra  Fraktur impresi : biasa terjadi pada tengkorak  Fraktur avulsi : trauma tarikan/ traksi otot pada insersinya di tulang.

fraktur cruris. oleh trauma atau akibat pengobatan. otot. fraktur sederhana. Fraktur Terbuka (open/ compound). bila ada harus disebut. dan kontaminasi sedang Derajat III. Komplikasi dapat berupa komplikasi dini atau lambat. misalnya fraktur femur. yaitu : Derajat I. meliputi struktur kulit. laserasi > 1 cm.2. 3. kerusakan jaringan lunak. 4 4. . Fraktur undisplacet (tidak bergeser). ̵ Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau kontaminasi masif. fraktur kominutif sedang. tidak luas. lokal atau sistemik. oblique. ̵ Luka pada pembuluh arteri/ saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa harus melihat kerusakan jaringan lunak. transversal. Fraktur derajat III terbagi atas. b. bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan dikulit yang terbagi atas tiga derajat (menurut R. garis patah komplit tetapi tidak bergeser. Fraktur displacet (bergeser). terbagi :  Dislokasi adlongitudinam cum contrasetionum (pergeseran searah sumbu dan   overlapping). Bergeser/ tidak bergeser a. Dislokasi adaxim (pergeseran yang membentuk sudut). bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan  dunia luar. dan fraktur tulang belakang. dan neurovaskular serta kontaminasi derajat tinggi. kerusakan jaringan lunak sedikit tak ada tanda luka remuk.3  Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat. Komplikasi atau tanpa komplikasi. luka < 1 cm. Dislokasi adLatus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauhi). terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas. Terbuka/ tertutup  Fraktur Tertutup (closed). atau fraktur segmental/ sangat kominutif yang disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa melihat besarnya ukuran luka. atau kominutif ringan. flap/ avulsi. terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang juga disebut lokasi fragmen. periosteumnya masih utuh. dan kontaminasi minimal Derajat II. Jumlah garis patah  Fraktur kominutif : garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan  Fraktur segmental : garis patah lebih dari satu tetapi tidak berhubungan bila dua garis  patah disebut pula fraktur bifokal Fraktur multiple : garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang berlainan tempatnya. meskipun terdapat laserasi luas/ flap/ avulsi. Gustillo).

Setalah terjadi fraktur. Dislokasi dapat disebabkan oleh faktor penyakit atau trauma karena dapatan (acquired) atau karena sejak lahir (kongenital). bagian-bagian yang tidak dapat digunakan dan cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya tetap rigid seperti normalnya. terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat diatas dan bawah tempat fraktur. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk badai alamiah yang dirancang untuk menimbulan gerakan antar fragmen. Fragmen sering saling lingkupi satu sama lain sampai 2. Dislokasi dapat melemahkan sendi sehingga rentan terhadap gangguan lain. keadaan dimana tulangtulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan secara anatomis (tulang lepas dari sendi). pembengkakan lokal.5 Manisfestasi klinis Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri. b.5-5cn. Biasanya terjadi kelainan bentuk dan bengkak di sekitar sendi. a. Obat penghilang rasa sakit dan obat penenang dapat diberikan selama proses ini dilakukan.hilangnya fungsi.5 Dislokasi terasa sangat menyakitkan dan rasa nyeri bertambah jika sendi digerakkan.Differential Diagnosis (DD) Dislokasi adalah keluarnya bongkol sendi dari mangkok sendi. tulang yang bermasalah biasanya digeser kembali ke posisi semula. Apabila tidak terjadi patah. Pada fraktur tulang panjang. Rontgen dapat dilakukan untuk memeriksa tanda-tanda patah tulang. deformitas. dan perubahan warna. Dislokasi terjadi saat ligamen memberikan jalan sedemikian rupa sehingga tulang berpindah dari posisinya yang normnal di dalam sendi. Sendi tersebut kemudian tidak boleh digerakkan selama beberapa minggu dan memerlukan fisioterapi saat mulai menggerakkannya. Kadang-kadang operasi dilakukan untuk membantu menstabilkan sendi. . Nyeri terus menerus dan bertambah berat sampai fragmen tulang imobilisasi. c. pemendekan ekstremitas. krepituis. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabkan deformitas (terlihat maupun teraba) ekstremitas yang bisa diketahui dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pasa integritas tulang tempat melengketnya otot. Patah tulang di dekat sendi atau mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang disertai luksasi sendi yang disebut fraktur dislokasi.

fraktur supracondyler. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan pendarahan yang mengikut fraktur. osteoporosis yang disebut  fraktur patologis Fraktur stress atau fatigue. fraktur subtrochanter femur ini banyak terjadi pada wanita tua dengan usia lebih dari 60 tahun dimana tulang sudah mengalami osteoporotik. fraktur ini sekarang lebih banyak ditemukan pada pasien yang lebih tua. Sedangkan fraktur batang femur pada anak terjadi karena jatuh waktu bermain dirumah atau disekolah. dan oleh sebab itu fraktur femur distal dimasukkan kedalam kategori fraktur osteopenia. fraktur condyler femur banyak terjadi pada penderita laki-laki dewasa karena kecelakaan ataupun jatuh dari ketinggian. Fraktur femur distal relative tidak umum terjadi dan. Deskripsi ketergantungan-usia ini mengindikasikan kesamaan dengan fraktur proksimal humerus. Fraktur terjadi karena penyakit tulang seperti tumor tulang. bersamaan dengan fraktur diafisis femur.d. fraktur fatigue biasanya sebagai akaibat dari penggunaan tulang secara berlebihan yang berulang-ulang. e.6 Etiologi Fraktur femur dapat disebabkan oleh :  Fraktur terjadi ketika tekanan yang menimpa tulang lebih besar dati pada daya tahan  tulang akibat trauma. Tanda ini bisa baru terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cidera. Sedangkan fraktur batang femur.fraktur banyak terjadi akibat kecelakaan sepeda motor dan cedera olahraga.3 Epidemiologi Untuk fraktur femur yang terbagi dalam beberapa klasifikasi misalnya saja pada fraktur collum. trauma yang dialami oleh wanita tua ini biasanya ringan (jatuh terpeleset di kamar mandi) sedangkan pada penderita muda ditemukan riwayat mengalami kecelakaan. dan 50% sisanya terjadi disebabkan karena jatuh. Uji krepitus dapat mengakibatkan kerusakan jairngan lunak yang lebih berat. pada pasien yang lebih muda. 50% insidens terjadi pada usiatua. Namun.7 Patofisiologi . teraba adanya derik tulang dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan yang lainnya. fraktur intercondyler. Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan.

terjadi 6 – 10 hari setelah injuri. misalnya jatuh terpeleset di kamar mandi pada orangtua. yaitu : • Trauma langsung. hematume disekitar  fraktur dan setelah 24 jam suplai darah di sekitar fraktur meningkat. • Trauma tak langsung. dalam waktu lebih 10 minggu yang tepat berbentuk callus terbentuk dengan oksifitas osteoblast dan osteuctas tulang baru akan berubah menjadi tulang lamellar (berlapis-lapis). Sistem itu sekarang cukup kaku untuk memungkinkan . dalam waktu 24 jam timbul perdarahan. Fase consolidasi. bengkak.Penyebab fraktur adalah trauma Fraktur patologis. Pergerakan yang lembut dapat merangsang pembentukan callus pada fraktur tulang panjang. Hematoma yang membeku  perlahan-lahan diabsorbsi dan kapiler baru yang halus berkembang ke dalam daerah itu. kripitasi. Tanda dan Gejala • Nyeri hebat di tempat fraktur • Tak mampu menggerakkan ekstremitas bawah• Rotasi luar dari kaki lebih pendek • Diikuti tanda gejala fraktur secara umum. penuh dengan sel berbentuk kumparan yang aktif. fraktur yang diakibatkan oleh traumaminimal atau tanpa trauma berupa yang disebabkan oleh suatu proses. Granulasi terjadi perubahan berbentuk callus. Fase formasi callus. terdapat reaksi radang akut disertai proliferasi sel di bawah periosteum dan di dalam canalis medullaris yang terkoyak. Fase proliferasi.. callus bervaskular masih lunak. sedangkan tulang kortikal dapat membentuk callus walaupun kedua ujung fragmen tidak berdekatan. Tulang spongiosa membentuk callus bila kedua ujung fragmen berdekatan. seperti : fungsi berubah. yaitu : • Osteoporosis Imperfekta • Osteoporosis • Penyakit metabolik Trauma Dibagi menjadi dua. yang menghubungkan ujung fragmen fraktur. Biasanya penderita terjatuh dengan posisi miring dimana daerah trochanter mayor langsung terbentur dengan benda keras (jalanan).sepsis pada fraktur terbuka. yaitu titik tumpuan benturan dan fraktur berjauhan.7 Proses penyembuhan luka terdiri dari beberapa fase yaitu :  Fase hematum. yaitu benturan pada tulang. edema. Ujung fragmen dikelilingi oleh jaringan yang kaya sel. Callus yang mengalami kalsifikasi ini secara lambat diubah menjadi ‘anyaman tulang’ longgar terbuka yang membuat ujung tulang menjadi melekat dan  mencegah pergerakan ke samping satu sama lain. deformitas.

Morfin sering diperlukan untuk nyeri yang menyertai. dan nyeri akibat trauma misalnya luka bakar. infrak miocard. morfin sebaliknya hanya diberikan pada pasien yang sedang menderita nyeri. 1.dan nyeri pascabedah. Untunglahpada nyeri hebat depresi pernapasan oleh morfin jarang terjadi. pergeseran awal serta askularisasi dari fragmen fraktur. perikarditis akut. Lebih hebat nyerinya makin besar dosis yang perlukan. Nyeri dapat atasi imobilisasi fraktur dan pemberian analgesik.7 Remodelling Selama beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun. Faktor yang penting dalam penyembuhan fraktur yaitu umur penderita. pleuritis dan pneumotoraks spontan. Morfin dan opoid lain terutama diindikasi untuk meredakan atau menghilangkan nyeri heat yang tidak dapat diobati dengan analgesik non-opoid. dinding-dinding yang tidak dikehendaki dibuang. Nyeri bertambah bila ada gerakan pada daerah fraktur disertai spasme otot serta pembengkakan yang progresif dalam ruang yang tertutup. Perlu ditetapkan apakah fraktur ini memerlukan reduksi dan beersifat fraktur tertutup atau terbuka. nyeri timbul karena trauma pada jaringan lunak termasuk periosteum dan endosteum. neoplasma. Lamella yang lebih tebal diletakkan pada tempat yang tekanannya tinggi. pulmonal. analgesik yang digunakan adalah analgesik opoid. Penatalaksanaan Dengan diagnosis yang tepat pada fratur kita dapat menentukan prognosis trauma yang dialami sehingga dapat dipilih metode pengobatan yang tepat.osteoklast menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur dan dekat di belakangnya  osteoblast mengisi celah-celah yang tersisa di antara fragmen dengan tulang yang baru. . lokalisasi dan konfogurasi. Sebagai medikasi preanastetik. pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses reabsorpsi dan pembentukan tulang yang terus menerus. sebab nyeri merupakan antidotum fisiologik bagi depresi napas morfin. rongga sumsum dibentuk akhirnya tulang akan memperoleh bentuk yang mirip dengan bentuk normalnya. Medika mentosa Menghilangkan nyeri. lebih baik digunakan pentobarbital atau diazepham. Bila tidak ada nyeri dan obat peraanastetik hanya dimaksudkan untuk menimbulkan ketenangan atau tidur. oklusio akut pembuluh darah perifer. fraktur. atau koroner. kolik renal atau kolik empedu.

Efek traksi yang dipasang harus dievaluasi dengan sinar-X. dan mungkin diperlukan penyesuaian. Kompikasi Umum Syok hipovolemia (karena perdarahan yang banyak). syok neurogenik (karenanyeri yang hebat). Dengan cara ini. trombosit vena dalam (DVT). Ada beberapa komplikasi yang terjadi yaitu :  Osteomielitis. untuk mengurangi deformitas. . Faktor-faktor yang mengganggu keefektifan tarikan traksi harus dihilangkan. Non-Medika Mentosa Traksi Penyembuhan fraktur bertujuan mengembalikan fungsi tulang yang patahdalam jangka waktu sesingkat mungkin. Bila otot dan jaringan lunak sudah rileks. Resultanta gaya tarikan yang sebenarnya terletak di tempat di antar kedua garis tarikan tersebut. dan setelah beberapa hariatau minggu dapat terjadi gangguan metabolisme yaitu peningkatan katabolisme. Kadang. gangguan fungsi pernafasan. dan mengimubilisasi fraktur. jika komplikasi terjadi setelah satu minggu pasca trauma disebut komplikasi lanjut. untuk mereduksi. berat yang digunakan harus diganti untuk memperoleh gaya tarikan yang diinginkan. gas ganggren. traksi harus dipasang dengan arah yang lebih dari satu untuk mendapatkan garis tarikan yang diinginkan. Traksi adalah tahanan yang dipakai dengan berat atau alat lain untuk menangani kerusakan atau gangguan pada tulang dan otot. Traksi adalah pemasangan gaya tarikan ke bagian tubuh. Traksi digunakan untuk meminimalkan spame otot.emboli lemak. Komplikasi 1.9 2. Garis-garis tarikan tersebut dikenal sebagai vektor gaya. Komplikasi inidapat terjadi dalam waktu 24 jam pertama pasca trauma. dan untuk menambah ruangan di antara kedua permukaan patahan tulang. tetanus. koagulopati diffus. Komplikasi Lokal Jika komplikasi yang terjadi sebelum satu minggu pasca trauma disebut komplikasi dini. mensjajarkan. Traksi harus diberikan dengan arah dan besaran yang diinginkan untuk mendapatkan efek terapeutik. bagian garis tarikan yang pertama berkontraksi terhadap garis tarikan lainnya.2. terutama pada fraktur terbuka atau tindakan operasi pada fraktur tertutup seehingga dapat menimbulakn delayed union sampai non-union.

misalnya traksi terlalu kuat atau fiksasi internal kurang baik ̴ Defisiensi vitamin C dan D ̴ Fraktur patologik ̴ Adanya infeksi  Mal-union. Non-union. pada naviculare manus. tergantung seberapa cepat fraktur tersebut ditangani. tetapi garis patah menetap.  Atrofi Sudeck.dan apakah adanya penyakit sekunder yang mengikuti seperti adanya penyakit penyertalainnya.9 Prognosis Prognosis fraktur femur adalah dubia ad bonam. adanya infeksi atau tidak serta seberapa parah fraktur yang dialami. dan biasanya lebih banyak dialami oleh laki-laki dewasa. adanya infeksia tau tidak serta seberapa parah fraktur yang dialami. timbul deformitas tulang. Kesimpulan Fraktur adalah terputusnya keutuhan tulang. disebabkan oleh reposisi fraktur yang kurang baik.mengakibatkan pendertia jatuh dalam syok. dan apakah adanya penyakit sekunder yang mengikuti seperti adanya penyakit penyerta lainnya. Fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas batang femur yang bisa terjadi akibat trauma langsung(kecelakaan lalu lintas. biasanya karena imobilisasi tidak sempurna. Prognosis fraktur tergantung seberapa cepatfraktur tersebut ditangani. Juga bila ada interposisi jaringan diantara fragmen-fragmen tulang radiologis terlihat adanya sklerosis pada ujungujung fragmen sekitar fraktur dan garis patah menetap. Delay-union. hilangnya/ terputusnya supply darah pada suatu bagian tulang sehingga menyebabkan kematian tulang tersebut. umumnya terjadi pada: ̴ Orang-orang tua karena aktifitas osteoblas menurun ̴ Distraksi fragmen-fragmen tulang karena reposisi kurang baik. umumnya akibat trauma. Pembentukan kalus dapat terjadi  sekitar fraktur. suatu komplikasi yang relatif jarang pada fraktur ekstremitas. jatuh dari ketinggian). dan talus. Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak. yaitu pada fraktur  collum femoris. Daftar Pustaka . Sesuai dengan anatomi vaskular. yaitu adanya disuse osteoporosis yang berat pada tulang distal dari fraktur disertai pembengkakan jaringan lunak dan rasa nyeri. Necrosis avaskular. maka necrosis avaskular pascatrauma sering terjadi pada kaput femoris.

192-4 .h. 2007. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta. Edisi 6. 2005. Subbagian Radiodiagnostik. 175-7 8. Ed 3.h. 2009. Jakarta: EGC. 31-3. Pemeriksaan Fisik dan Anamnesis Klinis.h. Farmako dan Terapi. 9. 2003. Penerbit Erlangga. Mansjoer A. Jakarta : EGC. 657 4. Greenberg. 336-9 7. Jakarta. 2010. 516-7 6.h. Jakarta : EGC. Wardhani WI. Penerbit Erlangga. Suprohaita. Jakarta : Departemen farmakologi dan terapeutik fakultas kedokteran UI.1. Buku Saku Patofisiologi. Bagian Radiologi FKUI. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah.h.h. Edisi 3 jilid 2. Setiowulan W. Schwartz SI. 2008. 537-43 5. Patel PR. 211-2. Reksoprodjo S. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Dr. Lecture Notes : Radiologi.h. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2002. 2007. 354-6 3. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Cipto Mangunkusumo.h.h. Radiologi diagnostik. 46 2. Teks Atlas Kedokteran Kedaruratan. 2009. Corwin EJ. Welsby PD.