You are on page 1of 11
No : 02-2013 Juni 2013 Buletin Kapasitas Waduk Pluit Menurun Drastis dalam 30 Tahun -
No : 02-2013 Juni 2013 Buletin Kapasitas Waduk Pluit Menurun Drastis dalam 30 Tahun -

No : 02-2013

Juni 2013

Buletin

Buletin
Kapasitas Waduk Pluit Menurun Drastis dalam 30 Tahun
Kapasitas Waduk Pluit Menurun
Drastis dalam 30 Tahun
- Master Plan Tanggul Laut Jakarta Mulai Dikerjakan - Maju Mundur Program JEDI Waduk Pluit
- Master Plan Tanggul
Laut Jakarta Mulai
Dikerjakan
- Maju Mundur
Program JEDI
Waduk Pluit 1981
ILWI (Indonesian Land
reclamation & Water management
Institute), adalah sebuah lembaga kajian
dibidang reklamasi dan pengelolaan air.
Lembaga ini berupaya untuk
menyebarkan informasi dan pengetahuan
di bidang reklamasi & pengelolaan air
kepada masyarakat. Salah satunya
dengan penerbitan buletin.
Buletin ini kami kirimkan
secara gratis. Tulisan, saran dan
pemberitaan media menjadi bagian dari
isi buletin ini.
Alamat :
Jalan Palapa II No 19,
Pasar Minggu,
Jakarta Selatan, 12520
Website : www.pengendalianbanjir.com
Email : landwaterindonesia@gmail.com
PENGANTAR REDAKSI Pembaca yang budiman, tidak main-main dengan rencanananya membebaskan Jakarta dari banjir, Gubernur dan
PENGANTAR REDAKSI
Pembaca yang budiman, tidak main-main dengan rencanananya membebaskan Jakarta dari banjir, Gubernur dan Wakil
Gubernur DKI Jakarta, langsung tancap gas. Meski duet pemimpin Jakarta kompak dalam bertindak, akan tetapi pada
kenyataannya di lapangan mereka tidak gampang melewati tantangan yang ada. Masalah penggusuran warga lagi-lagi menjadi
masalah pelik yang tidak hanya menghabiskan biaya akan tetapi juga membuang banyak waktu. Kasus yang terjadi di waduk
pluit contohnya hingga Mei 2013 masih saja negosiasi berjalan alot. Sekitar 7000 kepala keluarga masih belum mau beranjak dari
tempat itu.
Kasus Waduk Pluit adalah juga potret masalah dibeberapa waduk dan sungai di Jakarta. Dimana karena terjadi
pembiaran secara bertahun-tahun warga berangsur-angsur menempati lahan yang seharusnya bagian dari badan air. Ini
berdampak besar, waduk dan sungai yang seharusnya kapasitasnya semakin diperbesar, baik luas mamupun jumlahnya, justru
berkurang jumlahnya dan ironis luasnya juga semakin menyempit .
Pembaca, berita lain adalah mengenai “maju mundurnya” program pengerukan sungai-sungai di Jakarta atau dikenal
dengan nama Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI). Bank Dunia sebagai pemberi dana mensyaratkan program
dilaksanakan dalam waktu lima tahun dan pemerintah provinsi Jakarta harus membebaskan permukiman liar di tepi sungai
dengan memberi kompensasi pada warga . Syarat yang dianggap pemerintah provinsi cukup berat. Akan tetapi belakangan
Kementerian Pekerjaan Umum menegaskan bahwa program ini tetap jalan dengan bantuan Bank Dunia.
Pembaca, Buletin ILWI nomor 2 tahun 2013, ini akan membahas tentang waduk pluit yang dari tahun ke tahun
kapasitasnya terus berkurang, disamping itu tentu saja kami menggambarkan pula upaya-upaya yang dilakukan pemerintah
provinsi dalam mengembalikan fungsi waduk tersebut. Di bagian lain kami juga membahas tentang permasalahan pengerukan
sungai dan dimulainya pembuatan master plan pembangunan Tanggul Laut. Akhir kata Selamat membaca buletin kali ini.
.
Redaksi

DE FLUIT KEWALAHAN MENAHAN SERANGAN AIR

Kawasan Pluit sudah akrab dengan air sejak jaman Belanda. Sistem polder yang dibangun lebih tiga puluh tahun lalu tak berjalan dengan baik. Kini daerah ini dijejali oleh penduduk dan air sulit sekali bergerak meninggalkan kawasan ini.

dan air sulit sekali bergerak meninggalkan kawasan ini. Sebagian kawasan waduk pluit yang masih bersih 1980

Sebagian kawasan waduk pluit yang masih bersih 1980

Jika kita berjalan-jalan di kawasan Pluit sekarang ini kita tidak pernah menyangka bahwa daerah ini dulunya adalah rawa-rawa yang selalu basah. Jangankan dibangun rumah atau jalan di atasnya, berjalan kaki melewati daerah ini pun orang enggan. Tahun 1960’an hingga tahun tujuh puluh awal hanya beberapa gelintir saja orang yang mau tinggal di daerah ini. Bayang-bayang rumah yang selalu berlumpur dan digenangi air menyebabkan orang ogah bertempat tinggal diwilayah ini. Akan tetapi diakhir era tahun 70’an akselerasi pertambahan penduduk di wilayah ini benar-benar meningkat tajam. Perkembangan industri dan perdagangan di kawasan ini mendorong orang untuk berbondong-bondong ke wilayah yang jaraknya dengan laut ini hanya sepelemparan batu. Kini Kawasan Pluit nyaris tidak menyisakan lahan kosong lagi, tidak hanya daratan yang dirambah, lahan yang seharusnya merupakan bantaran sungai dan waduk pun didirikan lapak-lapak hunian. Konon nama Pluit sendiri berasal berasal dari kata fluitschip dimana berarti kapal layar. Karena

sangat dekat dengan laut, Belanda sempat meletakan kapal yang tidak terpakai di daerah ini. Dalam menghadapi serangan pasukan kerajaan Banten, wilayah ini dijadikan daerah pertahanan, yang oleh VOC dikenal dengan sebutan pasukan De Fluit. Mengambil nama dari fluitschip tadi. Karena penyebutan ini janggal menurut lidah orang melayu, maka orang-orang menyebutnya dengan sebutan Pluit saja. Kata itulah yang dipergunakan hingga sekarang. Sejak jaman Belanda kawasan Utara Jakarta sudah kerap dilanda banjir. Karena itu diawal abad 20 Herman van Breen seorang profesor Belanda, jauh- jauh hari telah merencanakan membangun satu waduk di kawasan ini sekaligus membuatnya dalam satu sistem polder. Akan tetapi pelaksanaanya tidak langsung bisa direalisasikan saat itu, bahkan hingga Belanda angkat kaki dari Indonesia pembangunan sistem polder di pluit belum menjadi kenyataan. Setelah banjir besar di Jakarta tahun 1960, pemerintah lebih serius lagi menangani banjir di ibukota. Pada tahun itu kawasan Pluit dinyatakan sebagai kawasan tertutup dan direncanakan sebagai

sebuah sistem Polder Pluit. Bersamaan dengan proyek sistem polder ini dibuat juga program pengembangan kawasan ini. Di bawah Otorita Pluit direncanakan pengembangan Pluit Baru dimana ada beberapa rencana sekaligus disamping pembangunan waduk, juga ada perumahan dan industri.

pembangunan waduk, juga ada perumahan dan industri. Perencanaan sistem polder pluit 1976 Secara perlahan namun

Perencanaan sistem polder pluit 1976

Secara perlahan namun pasti Pluit terus berkembang, tahun 1971 Proyek Pluit dilanjutkan dan dikembangkan wilayahnya hingga ke Jelambar dan Pejagalan. Dipertengahan tahun tujuh puluhan kawasan Pluit sudah mulai disulap menjadi tempat permukiman orang-orang kaya yang dilengkapi dengan tempat rekreasi. Disamping itu tentu saja daerah ini juga menjelma menjadi kawasan industri.

saja daerah ini juga menjelma menjadi kawasan industri. Pembangunan saluran menuju waduk pluit 1976 Sedangkan

Pembangunan saluran menuju waduk pluit 1976

Sedangkan pembangunan waduk pluit sendiri baru rampung tahun 1981. Saat selesai dibangun itu luasnya mencapai 80 hektar dengan kapasitas awal 2.5 juta meter kubik. Karena merupakan satu sistem polder maka waduk itu dilengkapi pompa untuk mengatur muka air yang ada di waduk. Disaat awal tersedia 4 stasiun pompa. Sistem polder ini sendiri dimaksudkan untuk mengendalikan banjir di wilayah sekitarnya seperti Cideng, Jatibaru, Taman Sari, Mangga Besar dan lain-lain. Jika dilihat pemandangan Waduk Pluit saat itu, masih baik dengan bangunan-bangunan pendukung tertata apik. Apalagi bangunan-bangunan tidak berijin juga belum ada, bantaran waduk masih bersih dari lapak-lapak penghuni liar. Akan tetapi meski ada waduk, banjir sesekali masih juga menyambangi wilayah ini. Bahkan ditahun 1981 itu juga terjadi banjir besar di Pluit, ironisnya pada saat itu pompa yang ada di waduk tersebut tidak bisa digunakan karena terjadi pemadaman listrik akibat banjir. Tak ayal daerah tersebut harus kelelep air dalam beberapa hari. Bisa dibayangkan dengan kapasitas waduk yang sesuai rencana saja banjir masih menjadi momok di wilayah ini apalagi dalam keadaan seperti sekarang ini dimana kapasitas waduk sudah jauh tergerus.

sekarang ini dimana kapasitas waduk sudah jauh tergerus. Pembangunan sipon di area waduk pluit 1979 Kini

Pembangunan sipon di area waduk pluit 1979

Kini daerah Pluit selalu menjadi bulan-bulanan banjir. Penduduk yang padat, kiriman air dari daerah hulu, serta penurunan muka tanah yang semakin dalam, membuat wilayah ini menjadi tempat air, yang tak bisa mengalir hingga ke laut. Sialnya jenis tanah di wilayah ini juga tidak terlalu baik untuk menyerap air. Jenis tanah lempung atau aluvial, dimana tanah seperti ini sulit meresapkan air karena terdiri dari pasir halus. Tanggul yang kokoh dan pompa yang memadai menjadi andalan Pluit untuk mengenyahkan banjir dari wilayah itu.

IKHTIAR MENGEMBALIKAN FUNGSI WADUK PLUIT

Selama 30 tahun Waduk Pluit mengalami penurunan kapasitas secara drastis. Banjir Januari 2013 memaksa pemerintah provinsi untuk mengembalikan fungsi waduk. Meski kompensasinya sudah dianggap memadai masih saja ada warga yang keberatan.

sudah dianggap memadai masih saja ada warga yang keberatan . Penataan lahan sekitar Waduk Pluit Sejak

Penataan lahan sekitar Waduk Pluit

Sejak Januari 2013 entah sudah berapa kali Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama, duet Gubernur dan Wakil Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, mengunjungi kawasan Pluit. Banjir yang terjadi pertengahan Januari 2013, membuat mereka sadar bahwa salah satu persoalan banjir di

kawasan itu adalah akibat Waduk Pluit yang tidak lagi mampu menampung air dalam jumlah besar. Penyebabnya, apalagi kalau bukan masalah banyaknya lahan yang sudah di“tumbuhi” rumah-rumah penduduk. Bayangkan saja lahan waduk yang dulu luasnya mencapai 80 hektar menyusut hingga 60 hektar saja. Belum lagi kedalaman dari waduk tersebut yang semakin lama semakin dangkal. Tak tanggung- tanggung dari kedalaman semula yang mencapai 10 meter kini hanya tinggal 2 sampai 3 meter. Akibatnya ratusan ribu meter kubik air tidak lagi bisa masuk ke kolam raksasa itu. Dampaknya

pastilah air tersebut justru

dimusim hujan

menggenangi daratan yang berada di sekitar kawasan tersebut. Padahal seandainya waduk tersebut bisa

menampung air dengan kapasitas seperti saat pembangunannya, belum tentu banjir tidak menggenangi kawasan itu. Terutama jika curah hujan di hulu dan hilir cukup tinggi. Apalagi jika kapasitas waduk tergurus hanya tinggal tak lebih dari seperempat kemampuannya. Tentu kemungkinan banjir menjadi sangat besar. Pada Januari 2013 lalu, Waduk Pluit tidak hanya tak mampu menampung air dari Kali Opak dan Kali Pakin , luberan air bahkan tertahan beberapa hari karena pompa air tidak cukup memadai untuk mengenyahkan air. Gelontoran air yang cukup besar bahkan merendam beberapa pompa yang ada di waduk itu, akibatnya dari 7 pompa yang ada, hanya tiga yang berfungsi. Tentu saja ini semakin memperparah genangan di kawasan tersebut, karena kapasitas pompa yang 6.000 liter per detik dengan jumlah yang terbatas tidak cukup handal untuk segera memompakan air ke laut.

Masalah keterbatasan jumlah dan kemampuan pompa tentu merupakan masalah teknis yang

kedepannya bisa segara di antisipasi. Akan tetapi masalah banyaknya warga yang bertempat tinggal di seputar waduk lebih memerlukan waktu yang cukup lama untuk memindahkannya. Membebaskan lahan waduk dari rumah-rumah penduduk kelihatannya merupakan ujian berat bagi Pemerintah Provinsi Jakarta.

Meski memberikan tawaran tempat yang lebih layak, kebaikan pemerintah ini tidak lantas disyukuri oleh warga di kawasan waduk. Ada saja warga yang menampik uluran tangan pemerintah. Mereka meminta diganti lahan juga, di wilayah bantaran yang peruntukannya untuk jalur hijau. Warga beralasan mereka telah bertahun-tahun tinggal di tempat, yang sebenarnya tanahnya milik negara, itu. Tentu saja tuntutan warga ini membuat sewot Ahok, demikian wakil gubernur biasa disapa, menurutnya menempatkan warga di rumah susun (rusun) merupakan pilihan terbaik. Seandainya warga mendapatkan lahan sekalipun, dikhawatirkan di kemudian hari warga tidak akan sanggup membayar pajak bumi dan bangunan (PBB). Jika mereka menempati rusun maka mereka tidak harus membayar PBB. “Orang kaya saja, lama-lama tinggal di kota besar tidak akan tahan karena pajaknya akan terus naik,” jelas Ahok. Jokowi, sapaan akrab gubernur, mengatakan akan bertindak tegas karena waktu yang ada sudah sangat terbatas. “Kita kejar-kejaran dengan banjir. Waduk Pluit itu adalah cara utama mengatasi banjir Jakarta,” ujarnya. Karena itu gubernur rela untuk beberapa kali melakukan komunikasi dengan warga untuk mencari titik temu. Dia juga meminta agar semua warga Pluit memahami tujuan normalisasi Waduk Pluit, yakni mencegah banjir. Karena itu relokasi warga di bantaran Waduk Pluit mutlak harus dilakukan. Karena waduk ini merupakan waduk terbesar yang digunakan untuk mengontrol banjir sekaligus menjadi sumber air cadangan. "Relokasi tidak bisa ditawar lagi," tambah Jokowi.

Untuk itu pemerintah provinsi menyediakan bangunan rumah susun di Marunda dan Muara Baru, Jakarta Utara, bagi warga Waduk Pluit yang ingin direlokasi. Meski demikian negosiasi masih saja berjalan alot. Jokowi sendiri dipusingkan dengan adanya satu orang pemilik yang memiliki beberapa bangunan untuk disewakan. Menurutnya ada satu orang yang memiliki 10 sampai 15 bangunan. Ini menjadi sangat tidak masuk akal, karena tanah yang mereka tempati sebenarnya milik negara. Walaupun masalah pemindahan warga belum juga tuntas, tapi “wajah baru” dari Waduk Pluit sudah mulai kelihatan. Bentuk waduknya lebih jelas kelihatan dibandingkan dahulu . Bagi masyarakat yang melewati kawasan Pluit - Muara Baru, sekarang sudah bisa melihat waduk yang semakin bersih. Dulu rumah-

rumah penduduk, sampah dan enceng gondok menjadi pemandangan yang tidak mengenakan, tapi meski masih jauh dari sempurna, perubahan Waduk Pluit, sudah mulai kelihatan.

dari sempurna, perubahan Waduk Pluit, sudah mulai kelihatan. Waduk Pluit di kepung bangunan antara Dahulu sampah

Waduk Pluit di kepung bangunan

antara

Dahulu sampah dan banyaknya tumbuhan ganggang di waduk, memenyebabkan terjadinya

sedimentasi di kolam raksasa ini. Karena tidak langsung dikeruk dan dijaga kondisi permukaan airnya, maka sedimentasi semakin banyak karena masih ditambah material-material lain yang tertahan. Tercatat pengerukan terakhir kali dilakukan tahun 1977, waduk ini sendiri mulai dibangun tahun

1967. Akibat semakin banyaknya material padat di

sekitar waduk memudahkan warga membangun rumah- rumah liar hingga menjorok berbatasan dengan kolam air raksasa itu. Permasalahan semakin rumit ketika pemerintah provinsi tidak langsung melarang bangunan- bangunan yang mereka dirikan. Pemerintah pun terpaksa bekerja ekstra keras untuk melakukan normalisasi terhadap Waduk Pluit. Sejak Februari 2013 lalu bangunan-bangunan yang berada di bantaran Kali Pakin dan Kali Opak mulai ditertibkan. Belajar dai pengalaman untuk menghindari munculnya bangunan liar lagi maka disepanjang lokasi dibangun jalan inspeksi dikedua sisi kali. Kawasan Taman Burung dan beberapa wilayah disekitar waduk yang berdekatan dengan Pluit Village Mall juga telah dibersihkan, beberapa permukiman liar telah diratakan dengan tanah. Sedangkan pengerukannya sendiri memakai dua sistem yaitu sistem eskavator di tengah dan sistem sedot di pinggiran. Menurut gubernur proyek ini natinya bisa menghabiskan dana hingga 1 triliun rupiah. Dijelaskan jika dananya tersedia maka cukup satu tahun untuk menyelesaikan waduk ini. Jika usaha yang dilakukan pemerintah provinsi DKI Jakarta ini berhasil tentu kita berharap waduk ini bisa dikembalikan kepada fungsinya. Bahkan bisa dikembangkan lagi , setidaknya sebagai tempat rekreasi. Sehingga waduk ini tidak hanya menjadi kolam pengaman ketika banjir, akan tetapi juga untuk tempat rekreasi murah yang sekarang ini sangat minim di ibukota.

MAJU MUNDUR PROGRAM JEDI

Wakil Gubernur Jakarta sempat menolak bantuan Bank Dunia untuk program JEDI. Syarat yang dianggap memberatkan pemerintah provinsi menjadi penyebabnya. Kementerian pekerjaan umum menegaskan bahwa pinjaman untuk program ini sudah mulai berjalan.

bahwa pinjaman untuk program ini sudah mulai berjalan. Pengerukan sungai tahun 1976 Awal April 2013 lalu,

Pengerukan sungai tahun 1976

Awal April 2013 lalu, Basuki Tjahaja Purnama, Wakil Gubernur DKI Jakarta, membawa berita mengejutkan. Ahok, demikian dia biasa disebut, menyatakan bahwa DKI Jakarta membatalkan utang 139 juta dollar Amerika Serikat, yang sedianya akan digunakan untuk proyek penanganan banjir, utamanya pengerukan sungai. Program pengerukan saluran, sungai, dan waduk yang dikenal dengan nama Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI) skema pembiayaannya direncanakan dengan menggunakan dana bantuan Bank Dunia. Akan tetapi oleh pemerintah provinsi (pemprov) bantuan itu ditolak. Alasannya syarat yang di minta oleh Bank Dunia cukup memberatkan. Ada dua klausul yang sulit untuk dilaksanakan Pemprov DKI Jakarta, pertama menyangkut waktu penyelesaian pengerukan 13 sungai yang ditetapkan selama lima tahun. Menurut Ahok, penyelesaian pengerukan selama lima tahun terlalu lama, dia menginginkan pengerukannya cukup dua tahun saja. Sedangkan yang kedua mengharuskan Pemprov DKI Jakarta memberi jaminan ganti rugi uang kepada warga di bantaran kali yang akan digusur. Menurut Ahok dia sudah melayangkan surat kepada Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan meminta untuk membatalkan pinjaman itu."Dalam surat itu, kami bilang pinjaman Bank Dunia terlalu susah. Jadi, kita tidak mau terusin," katanya. Pemprov sendiri

lebih memilih untuk tetap melaksanakan proyek tersebut, akan tetapi dananya tidak bergantung dengan Bank Dunia. Sumber dananya kemungkinan akan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta. Seperti sudah diketahui bahwa proyek JEDI ini merupakan rintisan dari Fauzi Bowo, gubernur sebelumnya, untuk mengurangi risiko banjir di Jakarta. Menurut Fauzi, program ini sangat diperlukan sebagai salah satu solusi dalam penanganan banjir di ibukota. Direncanakan dana yang dibutuhkan untuk proyek ini sekitar 190 juta dollar AS, dimana ditanggung melalui pinjaman Bank Dunia dan dana pemerintah. Baik melalui APBN maupun dari APBD DKI Jakarta. Besarnya 139 juta dollar AS dari Bank Dunia dan 51 juta dollar AS dari kocek pemerintah. Sebenarnya Bank Dunia sudah merencanakan bantuan itu sejak tahun 2008 lalu akan tetapi realisasi kerjasamanya hingga saat ini tak kunjung ditandatangani. Ini juga yang membuat wakil gubernur geram. "Bayangin ya 2008 mulai, 2013, sudah lima tahun, belum tandatangan,” katanya kesal. Menurutnya jika keadaan seperti ini terus bisa saja Jakarta jadi terendam lumpur. Anehnya menurut Ahok, saat sudah mau tanda tangan Bank Dunia justru merencanakan butuh lima tahun untuk menyelesaikan proyek ini. Ini dianggap Basuki justru merepotkan karena bisa saja uang Rp 1,2 triliun itu habis begitu saja, karena pengerukannya terlalu lama. Baginya pengerukan ini harus bisa dilakukan dalam waktu dua tahun. Dilain pihak, Kementerian Pekerjaan Umum memastikan bawa proyek JEDI tetap akan menggunakan pinjaman Bank Dunia. Ini karena pihak Bank Dunia mulai melunak dari beberapa persyaratan yang dinilai memberatkan. Menurut Hermanto Dardak, Wakil Menteri Pekerjaan Umum, program JEDI merupakan proyek kesatuan yang terbagi dalam beberapa program Kementerian PU dan Pemprov DKI Jakarta.

Seperti dikutip dari Bisnis.Com, menurut Hermanto, proses pencairan pinjaman sebesar Rp1,2 triliun sudah berjalan. Ini tentu berita gembira, karena bagi warga Jakarta yang penting program ini segera berjalan tidak terkatung-katung, sehingga Jakarta lebih siap menghadapi musim hujan. Mudah-mudahan saja harapan wakil gubernur agar pengerukan ini bisa segera diselesaikan bisa terealisasi.

Masterplan Tanggul Laut

MERANCANG KONDISI IDEAL TELUK JAKARTA

Pemerintah Belanda telah menunjuk konsultan untuk membuat Masterplan dan Programme Management Unit untuk pembangunan Giant Sea Wall (GSW). Peletakan batu pertama rencananya akan dilakukan sebelum pertengahan tahun depan. Perlu pengawasan yang ketat agar nantinya proyek berjalan sesuai rencana.

yang ketat agar nantinya proyek berjalan sesuai rencana . Jakarta segera mempunyai tanggul laut. Sudah dua

Jakarta segera mempunyai tanggul laut.

Sudah dua bulan belakangan ini Kantor Kementerian Pekerjaan Umum (PU), di Jalan Patimura Jakarta, kerap didatangi beberapa orang berkebangsaan Belanda. Sesekali mereka juga melakukan koordinasi dengan beberapa orang staf dari Kantor Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian PU, Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) maupun dari Pemerintahan Provinsi (pemprov) DKI Jakarta. Mereka adalah para konsultan yang ditunjuk oleh Pemerintah Kerajaan Belanda untuk membantu membuat Masterplan dan Programme Management Unit untuk pengembangan kawasan pantai di Teluk Jakarta. Seperti diketahui bahwa Pemerintah Belanda mendukung dan membantu pemerintah Indonesia dalam pengemabnagan kawasan ini. Salah satunya adalah dengan memberikan tenaga ahlinya untuk merencanakan pembangun tanggul di pantai utara Jakarta tersebut. Jika awalnya perencanan strategis dinamakan Jakarta Coastal Defence Strategy (JCDS), kemudian berganti nama menjadi Jakarta Coastal Development Strategy (JCDS), maka untuk program berikutnya ini diberi nama National Capital Integrated Coastal Development (NCICD). NCICD inilah yang kini berkantor di kawasan Kebon Sirih. Rencananya mereka akan bekerja hingga tahun 2014, untuk

Foto:NCICD

merampungkan master plan dan organisasi dan aturan- aturan dalam pelaksanaan pembangunan tanggul laut. Harapan terhadap hasil NCICD menjadi lebih inggi lagi setelah pemerintah merencanakan melakukan peletakan batu pertama (ground breaking) pembangunan tanggul laut pada tahun depan. Padahal sesuai rencana sebelumnya pembangunan tanggul laut ini baru akan dimulai tahun 2020 yang akan datang. Ini berarti segala sesuatunya harus dilakukan ekstra cepat. Tentu saja hal ini bukan perkara mudah karena menurut konsep yang sudah ada, pembangunan tanggul laut harus diikuti perbaikan di daerah hilir. Proyek NCICD sendiri bertugas menyiapkan master plan untuk jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Master plan ini didasarkan pada hasil perumusan yang sudah dilakukan oleh JCDS. Diperkirakan Mega Proyek ini akan memakan dana hampir Rp. 300 triliun. Meski demikian mengingat wilayah Teluk Jakarta ini mempunyai nilai bisnis yang tinggi. Kemungkinan besar dana yang dikeluarkan tidak perlu terlalu banyak merogoh kocek pemerintah. Dipastikan banyak kalangan swasta yang ingin menanamkan modalnya disini. Karena itu perlu pengawalan yang cukup ketat agar proses pembangunannya berlangsung sesuai dengan rencana. Jangan sampai hasil pembangunan tanggul laut ini tidak optimal, hanya gara-gara kontrol yang terlalu lemah.

BRIBIN MENGHAPUS DAHAGA PANJANG Gunung Kidul memiliki bendungan bawah tanah yang pertama di dunia. Pegunungan
BRIBIN MENGHAPUS DAHAGA PANJANG
Gunung Kidul memiliki bendungan bawah tanah yang pertama di dunia. Pegunungan kapur yang
banyak terdapat di sana ternyata banyak dialiri sungai bawah tanah. Bertahun-tahun kesulitan
mendapatkan air bersih di musim kemarau, kini sebagian masyarakat tak lagi kesusahan mendapatkanya.

Bendungan bawah tanah Bribin

Air yang keluar dari kran berukuran 0,5 inch mengucur deras ke dalam ember hitam milik Sumiyanto, 44 tahun, warga Kanigoro, Dadapayu, Semanu, Gunung Kidul. Rencananya air tersebut akan digunakan untuk memasak oleh istrinya. Bagi Yanto, demikian dia biasa dipanggil, sudah dua tahun belakangan ini dia bisa memanfaatkan air bersih yang berasal dari aliran sungai bawah tanah Bribin. Ini sangat memudahkan baginya, karena beberapa tahun lalu dia selalu kesulitan untuk memenuhi kebutuhan air bersih, terutama dikala musim kemarau. Jika diwilayahnya tidak ada air, Sumiyanto harus rela membawa jerigen berpuluh-puluh kilometer. Jika tidak, mereka harus patungan untuk mendatangkan mobil tangki pembawa air bersih. Sekali diantar mereka harus menebus air itu sekitar Rp. 100 ribu. Jumlah yang cukup menguras kocek laki-laki yang sehari-hari bermata pencaharian sebagai petani ini. Bagi masyarakat Kabupaten Gunung Kidul, terutama yang berada di bagian selatan, setiap musim kemarau hampir tidak pernah memimpikan

foto-foto :batan

mendapatkan air bersih. Sudah puluhan tahun kabupaten yang paling luas wilayahnya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini selalu identik dengan kekeringan di kala musim kemarau. Wilayah ini nyaris tak menyediakan setitik air pun dikala musim panas tiba, air melimpah hanya bisa didapat dimusim hujan saja. Sekitar sebulan setelah memasuki musim kemarau biasanya masyarakat masih bisa memanfaatkan sekitar 260 telaga yang ada di wilayah itu, akan tetapi selepas itu warga harus berjibaku untuk mencari air. Upaya untuk selalu menyediakan air tidak hanya dilakukan oleh warga setempat, akan tetapi juga dilakukan oleh pemerintah. Kondisi wilayah yang cukup tinggi menyebabkan kesulitan untuk mengalirkan air dari daerah lain. Sangat tidak mungkin mensuplai air ledeng dari wilayah sekitar, karena daerah-daerah tersebut relatif jauh lebih rendah dari Gunung Kidul. Pemerintah perlu memutar otak untuk menyari sumber air lain. Diawal tahun 80’an mulailah dicari sumber air bawah tanah. Saat itu mulai dipertimbangkan potensi sungai bawah tanah di Bribin,

sungai yang bermuara di Pantai Baron ini, sangat dimungkinkan untuk dimanfaatkan. Bribin sendiri merupakan sungai d bawah tanah di kawasan karst Gunung Sewu yang membujur dari Gunung Kidul, Wonogiri, hingga Pacitan (Jawa Timur).

dari Gunung Kidul, Wonogiri, hingga Pacitan (Jawa Timur). Pekerja berada di sungai bawah tanah Sekitar tahun

Pekerja berada di sungai bawah tanah

Sekitar tahun 2000 Institut fur Waser und Gewasserentwicklung dari Universitat Karlsruhe, Jerman, Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) ,dan Pemerintah Provinsi DIY dengan bantuan pemerintah Jerman, mulai melakukan riset terhadap sumber air Bribin. Mulai dipikirkan bagaimana membuat bendungan dan mengangkat air ke atas. Diharapkan ada sistem baru yang memungkinkan menaikan air dengan kapasitas besar tanpa terlalu banyak mengeluarkan biaya operasional. Pemanfaatan Bribin secara “masal” juga pernah dilakukan dalam kurun waktu 1992 – 1996 dimana sekitar 75.000 jiwa, pengadaan air bersihnya disuplai melalui sumber ini. Sistim penyediaan air baku pedesaan semacam ini tidak efisien karena menggunakan pompa beberapa kali. Dengan menggunakan generator solar, setiap jamnya menghabiskan 200 liter solar. Sedangkan jika menggunakan pompa listrik setahunnya menghabiskan dana hingga Rp 265 juta. Akibatnya tentu saja biaya produksi menjadi sangat mahal. Program ini masuk dalam proyek Bribin I yang perencanaannya sudah dilakukan sejak 1984. Untuk itu perlu dipikirkan bagaimana membawa air dalam jumlah banyak keluar sehingga bisa dikonsumsi oleh lebih banyak orang. Tercetuslah ide untuk membendung sungai bawah tanah ini, dimana air itu akan dipompakan dalam jumlah besar ke atas permukaan tanah. Ide cemerlang lainnya adalah memanfaatkan aliran sungai tersebut untuk menggerakan turbin, dimana energinya nanti dipakai untuk mengangkat air ke permukaan tanah. Sumber energi mikro hidro ini memungkinkan penyediaan air dilakukan dengan biaya operasional yang minim. Bendungan sendiri berada tepat dititik dimana air akan dipompakan ke atas. Bukan masalah mudah untuk menembus bagian atap sungai hingga seratus

meter ke atasnya di mana permukaan tanah baru bisa didapatkan. Pengeboran yang dilakukan dengan menggunakan peralatan yang dibawa dari Jerman ini, terkadang mengalami beberapa kendala. Maklum pengeboran semacam ini baru pertama kali dilakukan di Indonesia. Proyek Bribin II ini dimulai tahun 2004 dan rampung tahun 2010, ditandai dengan peresmian yang dilakukan oleh Djoko Kirmanto, Menteri Pekerjaan Umum. Untuk pembiayaan pembangunannya sendiri sebanyak Rp. 35 miliar berasal dari pemerintah Indonesia dan 3,2 juta euro yang berasal dari pemerintah Jerman. Secara spesifik prinsip kerja Proyek Bribin II adalah air dipompa melewati pipa setinggi 104 meter dengan rata-rata berkapasitas 80 – 100 liter/detik. Seperti di terangkan di atas pompanya digerakkan dengan turbin l mikrohidro, yang mempunyai daya listrik sebesar 200 kilowatt. Daya listrik sebanyak itu selain digunakan untuk pompa juga untuk penerangan bawah tanah dan kantor.

untuk pompa juga untuk penerangan bawah tanah dan kantor. Ilustrasi proyek Bribin II Sesampainya di permukaan

Ilustrasi proyek Bribin II

Sesampainya di permukaan tanah, air dialirkan melalui pipa berdiameter 20 sentimeter sejauh tiga kilometer menuju tandon air yang memiliki kapasitas 1.000 meter kubik. Letak tandon air ini sendiri di atas bukit yang tingginya mencapai 144 meter. Sehingga memudahkan air untuk didistribusikan ke jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), tampungan air dialirkan melalui pipa ke rumah-rumah penduduk hingga jangkauan 30 kilometer. Setidaknya lebih dari 70 % penduduk Kecamatan Semanu memanfaatkan air ini. Dengan teknologi semacam ini pemompaan bisa dilakukan secara terus menerus 24 jam tanpa harus mengeluarkan biaya energi. Tak hanya Semanu empat kecamatan lain juga memanfaatkan air ini. Air dari Bribin ini hanya 10 % yang didistribusikan menggunakan pipa, sisanya dialirkan begitu saja untuk memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat terutama pertanian.

PembangunanPembangunanPembangunanPembangunan TanggulTanggulTanggulTanggul LautLautLautLaut JakartaJakartaJakartaJakarta AkanAkanAkanAkan DimulaiDimulaiDimulaiDimulai TahunTahunTahunTahun 2014201420142014

Bagaimana Tanggul Laut Bisa Merubah Ibu Kota ?

Baca analisanya di buku :

Memasuki Era Tanggul Laut Harapan Baru di Teluk Jakarta

Membahas mengenai permasalahan Jakarta, kerawanan daerah delta, kecenderungan semakin tenggelamnya sebagian wilayah ibukota, isu-isu strategis dan potensi Teluk Jakarta, analisis keselamatan tanggul laut hingga pengembangan Jakarta menuju kota modern untuk bersaing dengan kota-kota terkemuka di dunia.

Bagaimana potensi Jakarta kedepan setelah adanya pembangunan tanggul laut, apa-apa saja perubahan yang mungkin terjadi, semuanya akan mengubah wajah ibukota. Disamping itu juga dipaparkan perubahan-perubahan apa yang harus dilakukan di daerah hulu Jakarta agar pembangunan tanggul laut ini optimal.

hulu Jakarta agar pembangunan tanggul laut ini optimal. Pemesanan bisa melalui email ke:

Pemesanan bisa melalui email ke:

landwaterindonesia@gmail.com atau di toko buku Gramedia di seluruh Indonesia

email ke: landwaterindonesia@gmail.com atau di toko buku Gramedia di seluruh Indonesia ILWI Buletin No 02-2013 11