Buletin

No : 01 – 2014
April 2014

Saemangeum Seawall :

Tanggul Raksasa
Membelah Laut Kuning

earth.esa.int

1

• Saemangeum dan
keyakinan pemerintah
Korea Selatan
• Normalisasi Sungai Ala

PENGANTAR REDAKSI
Pembaca yang budiman, ada banyak pengalaman dan pelajaran yang bisa kita
ambil dari perkembangan teknologi yang terjadi di banyak negara di belahan dunia ini.
Termasuk perkembangan dalam teknologi reklamasi maupun penanganan banjir. Korea
Selatan misalnya, salah satu negara maju di Asia ini, ternyata memiliki tanggul laut
yang terpanjang di dunia. Beberapa tahun lalu tanggul itu selesai dibangun.
Pengalaman ini baik utuk Jakarta dan Semarang yang sangat memerlukan tanggul
semacam ini.
Pembaca, dalam Buletin ILWI kali ini kami membahas mengenai
pembangunan tanggul laut dan reklamasi yang terjadi di Saemangeum, Korea Selatan.
Bagaiamana pemerintah di sana begitu yakin dengan kemajuan yang akan dicapai
dengan selesainya pembangunan tanggul laut ini, padahal pihak-pihak penentang juga
melakukan protes dengan cukup keras pula.
Kegigihan negara ini dalam
mempertahankan visi yang mereka miliki juga terlihat saat mereka merestorasi sungaisungai yang sudah terkontaminasi. Meski banyak yang mencurigai program ini, namun
akhirnya proyek restorasi sungai berhasil dilakukan dengan hasil yang cukup
memuaskan.
Disamping bahasan mengenai Korea Selatan, buletin kali ini juga mengupas
tentang banjir yang terjadi di Jakarta awal tahun ini. Perkembangan Pembangunan
Tanggul Laut dan Pulau Garuda, juga kami khabarkan, terutama berkaitan dengan
kedatangan Melanie Schultz van Haegen, Menteri Infrastruktur dan Lingkungan
Belanda, dimana awal April 2012, ia meyerahkan draft masterplan kepada pemerintah
Indonesia.
Pembaca, semoga apa yang kami angkat dalam buletin kali ini bisa menambah
pengetahaun dan wawasan, baik dalam bidang reklamasi maupun pengelolaan air.
Selamat menikmati Buletin ILWI Edisi 01-2014 ini.
Redaksi

Negeri Ginseng
• Pulau Garuda Menuju
Implementasi
• Banjir Jakarta & masalah
sodetan
ILWI (Indonesian Land
reclamation
&
Water
management Institute), adalah
sebuah lembaga kajian dibidang
reklamasi dan pengelolaan air.
Lembaga ini berupaya untuk
menyebarkan
informasi
dan
pengetahuan di bidang reklamasi
& pengelolaan air kepada
masyarakat. Salah satunya dengan
penerbitan buletin.
Buletin ini kami kirimkan
secara gratis. Tulisan, saran dan
pemberitaan
media
menjadi
bagian dari isi buletin ini.
Alamat :
Jl. Timoho II no 7A
Yogyakarta
55165
Website :
www.pengendalianbanjir.com
Email :
landwaterindonesia@gmail.com

2

Tanggul Laut Saemangeum
Terpanjang di Dunia

Setelah puluhan tahun adu ngotot antara
pemerintah
dengan sekelompok aktivis pro
lingkungan dan orang-orang yang berpandangan sinis
terhadap reklamasi, akhirnya 27 April 2010, Lee
Myung Bak, Presiden Korea Selatan saat itu,
meresmikan Tanggul Laut (seawall) Saemangeum.
Sebuah tanggul raksasa yang memotong Laut Kuning,
plus lahan reklamasi multiguna yang menjadi kawasan
baru. Lee, mengatakan bahwa daerah ini akan
menjadi pantai untuk kawasan industri dengan
memberi perhatian pada pengurangan karbon dan
mendorong pertumbuhan hijau.
Dalam peresmian yang dihadiri oleh kalangan
pemerintah, pengusaha, politisi dan delegasi dari luar
negeri, Lee cukup bangga dengan tanggul yang
mereka miliki. Betapa tidak tanggul sepanjang 33,9
kilometer ini tercatat sebagai tanggul terpanjang di
dunia. Keberadaan tanggul ini langsung menekuk
tanggul Afsluitdijk di IJsselmeer , di Belanda yang
sebelumnya menjadi tanggul buatan manusia
terpanjang di dunia.
Sebagai presiden, Lee tahu betul bagaimana
kontroversi pembangunan tanggul ini dari sejak ide

hingga tanggul itu mau diresmikan. Perwujudan
tanggul ini benar-benar menunjukkan betapa kuatnya
visi pemerintah dalam membangun kawasan yang
diyakini akan mendorong perekonomian negara
tersebut.
Beragam penolakan dari kalangan aktivis
lingkungan disuarakan. Sebagai negara yang sangat
demokratis tentu saja tak ada halangan untuk beda
pendapat di negara ini. Dalam berbagai kesempatan
warga yang kontra terhadap pembangunan tanggul
ini, selalu saja melakukan protes terhadap
pemerintah.
Meski demikian pemerintah kukuh dengan
pendiriannya,
bertahun-tahun “penolakan” dari
sebagian masyarakat dijawab para pejabat
berwenang dengan alasan yang argumentif. Mereka
menyatakan bahwa pembangunan ini tidak sematamata urusan ekonomi, akan tetapi juga ada usahausaha untuk memperbaiki kondisi lingkungan.
Pemerintah Korea Selatan terus berupaya
mengembangkan daerah Saemangeum, sebagai
kompleks industri multifungsi, antara lain, industri
pertanian, zona manufaktur, perumahan, dan industri
3

pariwisata, seperti halnya Dubai di Uni Emirat Arab.
Mereka sangat berambisi wilayah ini menjadi pusat
kegiatan terkemuka di Asia Timur.

triliun, dimana separuh ditanggung pemerintah dan
separuhnya lagi dari kocek swasta. Masih ada dana
lain yang dianggarkan yaitu sebanyak Rp. 100 triliun
untuk peningkatan kualitas dan pengendalian air.
Seperangkat kebijakan pun dikeluarkan oleh
pemerintah untuk mendorong industri di tempat ini.
Dalam zona industri sewa tanah gratis diberikan
selama 100 tahun untuk industri-industri pilihan,
sementara itu dalam zona ekonomi bebas diberikan
keringanan pajak untuk menarik investor asing.
Mereka bisa menetap di kawasan yang memang
sudah dirancang khusus untuk itu.

Tanggul yang memisahkan laut kuning dan muara Sungai Geum

“Ini akan membantu pembangunan daerah
dan merangsang ekonomi berbasis ekspor,” ujar Lee
Myung-bak meyakinkan bahwa Saemangeum akan
mengubah
perekonomian
negaranya.
Oleh
pemerintah kawasan reklamasi dan Kota Pelabuhan
Gunsan disulap menjadi kawasan bisnis internasional
yang mereka sebut Zona Ekonomi Bebas
Saemangeum-Gunsan 2020. Untuk itu pemerintah
membentuk
Korea Agency for Development &
Investment Saemangeum (Kasdi) dan Korea Rural
Company (KRC).

Pengembangan kawasan pertanian tak lagi menjadi yang utama

Beleid khusus dibuat pemerintah nasional
untuk mendirikan Kasdi.
Kasdi memiliki 12
departemen dengan tugas pengembangan dan
investasi,
khusus untuk sektor non pertanian.
Sedangkan untuk sektor pertanian ditangani oleh KRC.
Keseluruhan
program
diatur
oleh
Komite
Saemangeum yang berada dibawah perdana menteri.
Dalam Master Plan Saemangeum disiapkan
rencana penggunaan lahan untuk 8 zona ekonomi
yang berbeda , dengan total 400 kilometer persegi.
Anggarannya tak tanggung-tanggung sekitar Rp. 220

Mendorong industri agar berkembang di kawasan ini

Menilik sejarahnya adu argumen dan
perubahan visi yang fundamental mewarnai
“keras”nya upaya pemerintah untuk membangun
wilayah ini. Wacana tentang pembangunan proyek
ini telah dimulai sejak era tahun 70’an. Kala itu
pemerintah berencana ingin menggunakan lahan
reklamasi untuk lahan pertanian. Untuk mendukung
produksi beras agar bisa mencukupi kebutuhan
rakyat Korea Selatan.
Dalam pemilihan presiden tahun 1987. Isu
pembangunan tanggul laut ini menjadi primadona.
Termasuk oleh Roh Tae Woo, presiden terpilih kala
itu. Begitu Roh terpilih dia pun mematangkan rencana
ini.
Meski demikian, kalau sebelumnya proyek ini
direncanakan untuk mendukung peningkatan
produksi beras, pada kenyataannya konsumsi beras
warga Korea Selatan terus berkurang.
Warga
setempat mulai memilih makanan alternatif. Karena
itu pemerintah mulai berpikir untuk menggunakan
lahan ini untuk membangun kawasan industri dan
tentu saja juga sebagai reservoir.
Tahun
1991
pemerintah
resmi
mengumumkan pembangunan
tanggul
yang
menghubungkan dua tanjung di selatan negara itu
dan memisahkan antara Laut Kuning dan muara
4

Sungai Geum. Setelah beberapa tahun sebelumnya
melakukan sosialisasi dengan pihak-pihak terkait,
pembuatan analisa dampak lingkungan, perijinan
penimbunan dan prosedur perijinan lain untuk
memulai proyek. Pembangunan tanggul sepanjang
33,9 kilometer ini menutup 100 kilometer garis
pantai yang ada sebelumnya.

kompleks industri multifungsi dan ramah lingkungan
menjadi komitmen yang dijanjikan pemerintah.

Pertengahan 90’an sempat terhenti pembangunannya

Dengan keseriusannya pemerintah Korea
Selatan yakin bahwa reklamasi dan pembangunan
tanggul laut di Saemangeum akan mampu mengubah
perekonomian negara itu, dan tentu saja semakin
mensejahterakan warganya.
Juga diperlukan sebagai reservoir untuk kebutuhan air warga

Meski
sudah
disosialisaikan,
rencana
pembangunan tanggul yang terletak 270 kilometer
barat daya Seoul ini, masih menyentak untuk sebagian
warga Korea Selatan. Kesan pemerintah terlalu
ambisius cukup dirasakan. Betapa tidak, tambahan
lahan sekitar empat ratus kilometer persegi ini sama
saja dengan dua pertiga luas Seoul, ibukota Korea
Selatan, sekaligus menjadi proyek reklamasi tanah
terbesar dalam sejarah dunia.
Sempat terhenti, konstruksi berjalan lagi di
tahun
1999,
setelah
Mahkamah
Agung
memperbolehkan
pelaksanaan
reklamasi
ini
dilanjutkan. Tahun 2006 konstruksi tanggul laut
sudah terbentuk.
Seolah-olah
tidak
mau
kehilangan
momentum, pemerintah Korea Selatan langsung
tancap gas,
zona reklamasi di sekitar tanggul
langsung dibangun tahun 2007. Rasio penggunaan
lahan pun diubah, lahan pertanian yang semula 70
persen dipangkas menjadi 30 persen saja, dan
kawasan reklamasi lebih dirancang secara multiguna
bukan hanya pertanian melainkan juga industri,
tempat tinggal, lingkungan hidup dan pariwisata.
Kabar ini langsung disambut antusias oleh
warga yang optimis akan adanya perubahan dengan
adanya proyek ini. Mereka yakin reklamasi ini akan
membawa perkembangan industri di Cholla Utara,
sebuah provinsi yang secara tradisional menjadi
lumbung pertanian negara tetapi tidak memiliki
industnri modern. Rencana pengembangan sebagai

Hebatnya, meski pemerintahan bergantiganti dan dengan kepentingan politik yang berbedabeda, tapi pemimpin tetap tak mundur dengan
rencana ini. Untuk satu keyakinan memperbaiki
perekonomian masyarakat,
pemerintah
yang
berkuasa berani mengambil tindakan yang secara
politis tidak populer.
Proyek tersebut mengubah lumpur padat
kawasan tersebut menjadi lingkungan rendah karbon,
mendorong pertumbuhan industri yang
ramah
lingkungan, tempat peristirahatan yang nyaman,
penyimpanan air yang melimpah, dan mendukung
program pertanian. Lee Myung Bak mengatakan
proyek itu akan menjadi cara cepat meningkatkan
perekonomian Korea Selatan untuk melampaui
negara-negara di belahan dunia Asia Timur Laut.

Keberadaannya diyakini mendorong ekonomi Korea Selatan

5

Restorasi Sungai di Korea Selatan :

Normalisasi Tak Setengah Hati
Geum river panoramio.com

Indahnya Sungai Cheonggyecheon yang
mengaliri Seoul, Ibukota Korea Selatan, sering
menjadi berita dibeberapa media di Indonesia. Jika
dibandingkan dengan kondisi sungai di Jakarta, bisa
dikatakan ibarat bumi dengan langit. Warga Seoul
seringkali melepas lelah di bantaran sungai ini,
memandang dan menikmati gemercik air dengan
duduk-duduk di tepi kali ini. Tapi, cobalah hal yang
sama dilakukan di Ciliwung, tentu saja kita harus
berpikir seribu kali untuk melakukannya.
Hanya butuh dua tahun, dimulai tahun 2003
dan rampung tahun 2005, untuk memperbaiki sungai
ini. Tantangannya ? Jauh lebih rumit dibandingkan
Sungai Ciliwung di Jakarta. Lihat saja bagaimana
ketika pemerintah daerah setempat harus
membongkar jalan “tua” yang berada tepat di atas
jalur sungai tersebut. Infrastruktur yang berharga
miliaran rupiah “dibuang” begitu saja karena
dianggap mengganggu
upaya normalisasi dan
mengurangi keindahan sungai.
Perbaikan sungai memberi pengaruh yang
besar terhadap lingkungan di perkotaan Seoul.
Termasuk menurunkan suhu udara di kota tersebut
hingga dua derajat Celcius. Lee Myung Bak, yang di
era itu menjadi Walikota Seoul, benar-benar mampu
merubah kota kebanggaan warga Korea Selatan itu .

Semangatnya untuk menata sungai, juga
diperlihatkan Lee ketika dia menjadi presiden di
negara itu. Proyek revitalisasi empat sungai utama
dicanangkannya. Keempat sungai itu adalah Geum ,
Nakdong, Yeongsan dan Han. Pembersihan sungai
ini masuk kedalam program “Green Growth” yang
diluncurkankan Presiden Lee pada tahun 2008.
Dimana dalam program itu pemerintah
menekan kepada tiga aspek. Pertama mengurangi
penggunaan energi dan sumber daya lainnya dalam
aktivitas ekonomi. Kedua, mengurangi tekanan
terhadap lingkungan dalam setiap penggunaan energi.
Dan yang ketiga, menjadikan investasi lingkungan
sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi.
Khusus proyek revitalisasi ini dimasukkan
sebagai bagian dari kebijakan "Green New Deal" dan
dimulai Januari 2009. Secara keseluruhan proyek
revitalisasi sungai ini dibagi menjadi tiga kelompok
proyek : revitalisasi empat sungai , penataan 14 anak
sungai, dan perbaikan sungai- sungai kecil lainnya .
Secara garis besar tujuan utama proyek ini
adalah
mengamankan sumber daya air yang
melimpah untuk mengatasi kelangkaan air,
menerapkan langkah-langkah pengendalian banjir
secara komprehensif, meningkatkan kualitas air dan
memulihkan ekosistem sungai, menciptakan ruang
6

serbaguna bagi warga setempat, serta pembangunan
daerah berpusat pada sungai .
Melihat item yang dikerjakan serta tujuannya,
tentu saja proyek ini tidak sederhana. Anggaran yang
diperlukan juga cukup mengejutkan, lebih dari Rp.
180 triliun. Seperti umumnya proyek besar, tentu saja
program ini langsung menimbulkan kecurigaaan. Para
aktivis mengkhawatirkan proyek revitalisasi ini
merupakan awal dari ambisi pribadi Lee Myung Bak,
yang
ujung-ujungnya akan dilanjutkan dengan
membuat terusan yang menghubungkan Sungai Han
di Seoul dan Sungai Nakdong di Busan.
Rencana terusan ini adalah bagian dari janji
kampanyenya. Akan tetapi Lee berhasil meyakinkan
bahwa dia tidak akan membangun terusan itu, dan
menekankan bahwa revitalisasi ini semata-mata
untuk memperbaiki kualitas air dan menjamin
ketersediaannya.
Rencana restorasi
sungai pun bergulir.
Pemerintah sadar bahwa , masyarakat adalah yang
paling utama dalam menjaga aliran air agar tetap
bersih. Sosialisasi dilakukan segera dengan berbagai
cara termasuk kepada anak-anak. Salah satu cara yang
dilakukan adalah dengan membuat film kartun yang
gampang dimengerti oleh anak-anak.
Secara khusus proyek ini dirancang untuk
mengatasi tantangan lingkungan yang dihadapi oleh
Han, Nakdong, Geum dan Yeongsan. Banjir dan
kekeringan kerap terjadi pada sungai-sungai tersebut,
terutama jika terjadi cuaca ekstrim.
Ekosistem dan habitat sungai juga terganggu
karena manusia semakin banyak campur tangan
untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan prinsip
pelestarian lingkungan. Kontaminasi gas beracun dari
pembuangan limbah pabrik dan domestik, juga sudah
pada tingkat yang parah, terutama di Sungai
Yeongsan. Bahkan airnya untuk menyiram lahan
pertanian saja tidak bisa dipakai.
Harapannya
sungai-sungai
ini
bisa
dikembalikan fungsinya sebagai sumber air baku,
pengendalian banjir dan pengembalian ekosistem
sungai sebagaimana layaknya. Untuk mendukung
program ini agar berjalan dengan baik beberapa
kementerian dan departemen melakukan kerjasama
dan membagi tugas untuk mendukung program
restorasi sungai.
Kementerian Pertanahan, Transportasi dan
Kelautan berkutat pada bidang pemulihan dari empat
sungai dan sungai lokal. Untuk Departemen
Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata urusan "Rivers
of Culture". Kementerian Pengetahuan Ekonomi &
Korea Communications Commission dibidang produksi
energi dan informasi baru dan teknologi terbarukan.

Masih ada lagi Kementerian Pangan, Pertanian,
Kehutanan dan Perikanan mereka berurusan dengan
proyek The "City of Beautiful Scenery" , yang dikenal
di Korea sebagai "Geum-Su-Gang-Chon," serta
pemeliharaan hutan di daerah aliran sungai, di hulu
empat sungai tersebut. Sedangkan Kementerian
Administrasi Publik dan Keamanan menyelesaikan
permasalahan pemulihan sungai cabang kecil yang
mengalir ke empat sungai.

koreaittimes.com

Sungai Nakdong

Sejak dari perencanaan dan selama proyek
berlangsung pemerintah menunjuk para ahli, baik
dari kalangan profesional maupun dari kalangan
akademisi, untuk mengawal proyek agar tetap jalan
sesuai dengan target yang dituju. Target yang ingin
dicapai antara lain ; pembangunan 16 Bendung untuk
mengamankan 800 juta meter kubik air, perluasan
pintu-pintu air untuk anak-anak sungai sehingga bisa
mengurangi debit air dengan cepat,
memperluas
fasilitas pengolahan limbah dan membangun fasilitas
pengurangan ganggang hijau, penciptaan ruangruang rekreasi, dan pengembangan kegiatan yang
beorientasi sungai.
Pelaksanaan proyek ini dibagi atas tiga tahapan.
Tahap satu, pengerukan sungai dan waduk,
pembangunan waduk dan bendungan. Tahap dua,
peningkatan aliran air dan sistem pembuangan anak
sungai. Sedangkan tahap ketiga memulihkan sungai
lokal dan kecil sekaligus mengembangkan budaya dan
pariwisata.
Kini sungai-sungai yang direvitalisasi itu sudah
benar-benar bersih dan menarik. Saat intensitas
hujan tinggi, sungai tidak lagi kewalahan menerima
gempuran air. Tinggi muka air relatif jauh lebih
rendah dibanding ketika sungai-sungai belum di
revitalisasi. Cadangan air bersih juga cukup melimpah
karena potensi pencemaran air bersih sudah sangat
jauh berkurang. Disamping itu, yang tidak kalah
pentingnya sungai menjadi magnet bagi wisatawan
untuk melihat
pemandangan yang indah dan
menyegarkan.
7

Pulau Garuda Menuju Implementasi
NCICD

Melanie Schultz van Haegen, Menteri
Infrastruktur dan Lingkungan Belanda mengadakan
kunjungan ke Indonesia dari tanggal 30 Maret sampai
4 april 2014. Dalam kunjungannya Schulz membawa
delapan belas pemimpin perusahaan dan organisasi
yang bergerak dalam sektor perairan dan pelabuhan.
Mereka berkeinginan untuk terlibat dalam hidrolik
rekayasa dan pembangunan proyek pelabuhan baru
di Indonesia.
Sepekan sebelumnya, 23 Maret 2014, Schultz
juga sempat bertemu Boediono, Wakil Presiden
Republik Indonesia. Pertemuan yang berlangsung di
Rotterdam, Belanda, ini bertujuan untuk mempererat
kerjasama antara Indonesia – Belanda dalam
mengatasi banjir.
Sebagai negara yang 55 %
wilayahnya berada di bawah permukaan laut, tentu
saja negeri Kincir Angin ini banyak
memiliki
pengalaman dalam mengelola air.
Dalam kesempatan itu, Boediono meminta
agar penanganan banjir Jakarta harus dimulai dengan
pengorganisasian yang baik. Untuk hal-hal lainnya
seperti teknis dan finansial terkait implementasinya
dilakukan setelah pengorganisasiannya beres.
Kerjasama Indonesia dan Belanda dalam masalah
pengelolaan air, ini dilanjutkan oleh Schultz, dalam

kunjunganya ke Indonesia sepekan setelah pertemuan
dengan Boediono itu.
Dalam kunjungan ke Indonesia, Schultz
mempresentasikan
tentang
kerjasama yang
dilakukan Belanda dan Indonesia dalam hal rencana
pembangunan tanggul laut NCICD
dan pembangunan Pulau
Garuda. Bertempat di Hotel Borobudur, Jakarta,
rencana induk disertai kajian pendukung setebal
1400 halaman, diserahkan Schultz kepada Djoko
Kirmanto,
Menteri Pekerjaan Umum Republik
Indonesia.
Dokumen yang diberikan itu berisi berbagai
pertimbangan dan penilaian terhadap kelayakan
finansial, teknis, sosial dan ekonomi. Kajian ini
mencakup pembangunan tanggul laut yang
dikombinasikan dengan reklamasi lahan
untuk
pengembangan kawasan, perkantoran, perdagangan
dan perumahan baru.
Ditempat yang sama pula, sebelum
penyerahan rencana induk tersebut, National Capital
Integrated
Coastal
Development
(NCICD),
menyelenggarakan satu seminar internasional, yang
berjudul “From Master Planning to Implementation” .
Seminar tersebut menampilkan pembicara para ahli
Belanda yang terlibat dalam perencanaan tanggul laut
8

dan Pulau Garuda, serta
pihak swasta.

pejabat pemerintah dan

Seminar tersebut diselenggarakan selama dua
hari. Tampil sebagai pembicara pada hari pertama
adalah Alex Hekman (water and waste water), Victor
Koenen (infrastructure), Louis Bram (governance and
finance) dan Sawarendro
(engineering and
technology). Sedangkan pada hari kedua paparan
disampaikan oleh Basuki Hadimulyono, Direktur
Jenderal Tata Ruang Departemen Pekerjaan Umum;
Dedi Priatna, Deputi Ketua Bappenas Bidang
Infrastruktur; Sarwo Handayani, Deputi Gubernur DKI
Jakarta bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup;
dan Frans Sunito dari kalangan swasta.

Paparan yang disampaikan salah seorang pembicara

Seminar ini mengundang para akademisi dari
berbagai perguruan tinggi besar di Indonesia, praktisi,
dan instansi pemerintah yang berkaitan dalam
pembangunan tanggul laut dan reklamasi Pulau
Garuda ini. Dalam seminar itu secara gamblang
dibahas mengenai latar belakang dan prospek yang
bisa dilakukan dengan adanya reklamasi ini.
Jika kita melihat laporan terbaru yang
dikeluarkan oleh NCICD ini, maka ada beberapa
perkembangan,
dibandingkan dengan rencana
sebelumnya, yang pernah dibahas di Buletin ILWI
edisi 3 tahun 2013 lalu. Seperti rancangan Pulau
Garuda yang sebelumnya diperkirakan 4.000 hektar,
untuk ekonomisnya bisa dibangun 1.250 hektar saja
dengan potensi bisa dikembangkan hingga 3.000
sampai 4.000 hektar.
Untuk reklamasi yang berukuran 1.250 hektar
ini, timbunan pasir yang diperlukan setara dengan
Pulau Palm Jumeirah di Dubai, Uni Emirat Arab, atau
Pulau Maasvlakte 2 di Negeri Belanda. Dengan luas
lahan sebanyak itu diperkirakan bisa untuk tempat
tinggal 650.000 orang dan tempat bekerja 350.000
orang.

Beragam tanggapan disampaikan peserta seminar

Prioritas diberikan untuk penciptaan fasilitas
yang berkelanjutan
bagi
nelayan yang akan
direlokasi dari garis pantai saat ini. Dimana nantinya,
pelabuhan nelayan baru akan ditempatkan di ujung
sayap Garuda , dekat dengan daerah penangkapan
ikan saat ini.
Beberapa fasilitas umum akan dibuat
terintegrasi dengan dataran Jakarta yang saat ini
juga terus melakukan pembangunan. Dimana wilayah
baru ini akan mempunyai sambungan MRT ke pusat
kota dengan panjang jalur 11,2 kilometer. Disamping
itu jalan bebas hambatan Tangerang – Bekasi dengan
panjang menyeluruh 43 kilometer, lebih mudah
pembangunannya
dengan
membentangi Teluk
Jakarta melewati Pulau Garuda ini.
Di bawah pusat-pusat bisnis akan dibangun
jalan bawah tanah dengan panjang 2 kilometer. Jalan
bebas hambatan ini akan melewati jalur laut ke arah
Tanjung Priok dengan jembatan berbentuk ikon yang
megah dengan jarak bebas 70 meter. Melihat paparan
dan laporan rencana induk yang dibuat, tampaknya
pembangunan tanggul laut dan Pulau Garuda ini,
cukup prospektif dan dapat mengubah wajah Jakarta
secara keseluruhan.

Penanggap dari kalangan universitas

9

Banjir Jakarta dan Masalah Sodetan
Tidak seperti biasa Haris Maulana, 35 tahun,
belum tidur, meski tengah malam itu hari telah
berganti. Ketika rasa kantuknya sudah tidak tertahan
lagi, bapak tiga orang anak, ini merebahkan diri di
kasur sederhana milik keluarganya. Belum sampai
matanyanya terpejam, istirahatnya terusik dengan
bunyi pesan pendek yang masuk ke telfon
genggamnya. Sigap dilihatnya pesan yang masuk.
21.10 Katulampa 125 hujan, masyarakat
disepanjang aliran Sungai Ciliwung agar waspada, 9
jam kemudian air sampai di Jakarta……….. Pesan itu
dikirim dengan identitas BPBD Jakarta. Haris tak
paham apa itu BPBD, setelah mencari tahu bahwa itu
adalah singkatan Badan Penanggulangan Bencana
Daerah, Haris pun mahfum maksudnya. “Jadi bakalan
banjir lagi nih,” gumannya.
Laki-laki yang sehari-hari menjadi tukang ojek
itu pun, memberitahu istrinya agar tak lengah. Benar
saja , sekitar pukul 06.00 pagi, tanggal 3 Maret 2013,
rumahnya yang berdekatan dengan Kali Ciliwung,
mulai dibanjiri air sungai yang meluap. Apa boleh
buat rumah Haris yang berada di Kampung Pulo,
Jatinegara, Jakarta Timur, ini untuk kesekian kalinya
dalam tahun ini harus terendam air. “Sampai bosan
angkati barang terus,” ujarnya.
Dengan pasrah dia , istri, anak dan beberapa
tetangganya mengangkuti barang-barang agar tak

diterjang banjir.
Banjir yang disebabkan akibat
guyuran hujan di wilayah Bogor ini, cukup membuat
warga disekitar bantaran Kali Ciliwung resah,
terjangan banjir seperti biasa akan merambah hingga
lima belas meter dari bantaran kali. Di Wilayah
Kampung Pulo saja tinggi banjir saat itu bisa mencapai
0,5 sampai 2 meter.
Meski bukan banjir besar, akan tetapi bagi
warga daerah yang dekat dengan bantaran kali,
kerap diganggu, di masa musim penghujan ini. “Baru
saja selesai membersihkan rumah akibat banjir yang
kemarin, sekarang sudah diglontor lagi,” kata salah
seorang warga yang tinggal tak jauh dari kali.
Di Jakarta, banjir tahun ini, memang tidak
sebesar tahun kemarin, apalagi jika dibandingkan
dengan banjir tahun 2002 dan 2007 lalu. Akan tetapi
ada fenomena lain dibeberapa wilayah di Jakarta,
meski banjirnya tergolong tidak terlalu besar tapi
sering kali terjadi di satu wilayah tertentu. Seperti di
Kampung Pulo ini, genangan air seolah-olah enggan
untuk menjauh dari wilayah ini selama bulan Januari
dan Februari tahun ini.
Lihat saja tanggal 12 Januari lalu, warga
terpaksa harus pontang-panting menyelamatkan
barang-barang miliknya karena banjir mulai
menggenangi
rumah mereka. Mereka harus
mengungsi di posko-posko terdekat, karena
10

ketinggian air sudah tidak bisa kompromi lagi.
Beruntung malam itu sekitar pukul 12.00 malam,
kehadiran
Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta,
sedikit menghibur mereka.
Jokowi, demikian
gubernur biasa disapa, datang dengan membawa
beberapa karung beras.

Metropolitan, banjir yang hanya terjadi di beberapa
tempat saja, bisa mengacaukan sistem lalu lintas
secara masal di Jakarta. Di banyak tempat dan ruasruas jalan akan mengalami kemacetatan total. Tentu
saja macet yang disebabkan oleh banjir ini lebih parah
jika dibandingkan dengan kemacetan yang sehari hari
jadi santapan warga ibukota. Kegiatan ekonomi warga
akan sangat terganggu.
Bagi warga Kampung Pulo berharap Jakarta
terbebas dari banjir tentu akan membutuhkan waktu.
Mereka berharap jika sodetan Sungai Ciliwung ke
Kanal Banjir Timur (KBT) bisa segera direalisasikan,
ancaman banjir di daerahnya bisa berkurang.
Pembangunan sodetan ini tampaknya akan terealisasi
dalam tahun ini

Banjir semakin sering terjadi di Jakarta

Beberapa hari kemudian berangsur-angsur air
mulai surut, baru mulai membersihkan rumahnya,
banjir datang lagi. Tanggal 18 Januari , lagi-lagi
daerah ini tenggelam, dengan sabar warga kembali ke
posko pengungsian. Ironisnya alih-alih menunggu air
surut, banjir yang lebih besar justru terjadi pada
tanggal 22 Januari 2014. Apa mau dikata, praktis
warga Kampung Pulo lebih banyak melihat genangan
air di rumahnya dalam bulan itu.
Di bulan Februari, banjir juga belum mau jauh
dari warga Kampung Pulo. Nyatanya 22 Februari, lagilagi banjir menerabas rumah-rumah penduduk di
sana. Bahkan di bulan Maret pun rumah mereka
masih saja kerap tergenang, seperti yang terjadi pada
hari Minggu, tanggal 2 Maret 2014. Banyak warga
yang masih harus mengungsi, padahal jika menilik
beberapa pengalaman sebelumnya banjir lebih sering
terjadi pada bulan Januari dan Februari. Di bulan
basah itu biasanya warga Jakarta di buat waswas
setiap kali hujan mengguyur Jakarta atau daerahdaerah hulu sungainya.
Fenomena di Kampung Pulo ini, menunjukan
bahwa air semakin sering menggenangi rumah-rumah
mereka, yang memang jaraknya hanya sepelemparan
batu dari
Kali Ciliwung.
Ini tentu semakin
meresahkan warga Jakarta, karena ini berarti warga
ibukota akan semakin sering terganggu oleh air.
Bagi warga yang mungkin beruntung
rumahnya tidak kebanjiran, bukan berarti dia tidak
mengalami kerugian. Karena realitanya, di kota

Rencananya sodetan ini akan menerobos
lahan di Kelurahan Bidara Cina, Kelurahan Cipinang
Cempedak, dan Kelurahan Cipinang Besar Selatan,
Jakarta Timur ini, jika tidak ada aral melintang maka
Februari tahun depan sodetan ini sudah bisa
digunakan. Pengerjaan fisik sodetan Sungai Ciliwung
ke KBT sendiri, akan dibagi menjadi dua tahapan
pengerjaan. Tahap pertama, meliputi pembangunan
terowongan air sepanjang 1,27 kilometer dan tahap
kedua pembangunan inlet, outlet dan normalisasi Kali
Cipinang. Proyek ini sendiri akan menghabiskan dana
sebanyak Rp1,18 triliun.
Sodetan Kali Ciliwung dengan KBT ini
rencananya menggunakan siphon, ini berarti air akan
dialirkan melalui bawah tanah. Pipa-pipa saluran air
ini berdiameter 8 meter. Untuk menerobos tanah
dibawah bangunan akan menggunakan bor yang
rencananya akan didatangkan dari Jepang.
Sebagai tahap awal, saluran air bawah tanah
akan ditanam di kawasan Bidara Cina melintas di
bawah Jalan Otista III, yang menghubungkan ke Kali
Cipinang untuk dialirkan ke KBT.
Masih di seputaran Sungai Ciliwung, sodetan
yang rencananya juga akan dibangun di daerah hulu,
yang menghubungkan antara Ciliwung dan Cisadane
ternyata tidak berjalan mulus. Warga Tangerang
resah jika limpasan Sungai Ciliwung di alirkan ke
Cisadane. Mereka yakin sodetan itu kelak membuat
mereka dapat tambahan “bagian banjir” jika musim
penghujan datang lagi.
Rano Karno, Wakil Gubernur, Banten, juga
mengungkapkan kekhawatirannya. Jika keberadaan
sodetan ini justru membuat warganya mendapat
ancaman banjir yang lebih besar lagi. "Kalau nantinya
malah merugikan, ya buat apa? Jelas kami akan tolak
dengan tegas kalau solusi Jakarta menghilangkan
11

banjir adalah dengan
Tangerang," kata Rano.

memindahkan

air

ke

Dalam realitanya memang jika hujan di
daerah hulu, hampir merata sungai-sungai di wilayah
atas akan terisi oleh air, demikian juga Cisadane.
Seperti yang terjadi pada pertengahan Januari 2014
lalu.
Ini artinya kondisi sungai Cisadane pun
melimpah air ketika hujan di saat yang sama. Jika ada
sodetan, maka Cisadane juga harus menanggung
sebagian beban Ciliwung. Mampu atau tidak
Cisadane menampungnya memang tergantung
kondisi Sungai Cisadane sendiri.

dengan sodetan Cilwung dengan KBT. Bagaimanapun
juga upaya membebaskan Jakarta dari banjir memang
harus terus menerus diperjuangkan.

Hal ini diakui oleh Djoko Kirmanto, Menteri
Pekerjaan Umum, menurutnya
pembangunan
sodetan Ciliwung-Cisadane masih menjadi alternatif
untuk mengatasi banjir di Jakarta. Meski demikian,
proyek itu baru bisa terlaksana jika Cisadane
dinormalisasi terlebih dahulu. "Sodetan itu masih
jadi alternatif yang baik, tapi baru akan kami lakukan
setelah normalisasi Kali Cisadane sudah selesai," kata
Djoko, 12 Februari 2014.
Ini artinya sodetan Ciliwung-Cisadane belum
bisa terealisasi dalam waktu yang dekat ini. Berbeda

Warga Jakarta masih harus berjuang menghadapi banjir

12