You are on page 1of 5

ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR

TUGAS KE-11

MENGENAI

MANUSIA, SAINS, TEKNOLOGI DAN SENI

Oleh :

Wino Oktofand

88596/2007

JURUSAN PENDIDIKAN EKONOMI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2009
Dalam setiap kebudayaan selalu terdapat ilmu pengetahuan atau sains dan
teknologi, yang digunakan sebagai acuan untuk menginterpretasikan dan memahami
lingkungan beserta isinya, serta digunakan sebagai alat untuk mengeksploitasi, mengolah
dan memanfaatkannya untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan manusia. Sains dan
tekhnologi dapat berkembang melalui kreativitas penemuan (discovery), penciptaan
(invention), melalui berbagai bentuk inovasi dan rekayasa. Kegunaan nyata IPTEK bagi
manusia sangat tergantung dari nilai, moral, norma dan hukum yang mendasarinya.
IPTEK tanpa nilai sangat berbahaya dan manusia tanpa IPTEK mencermikan
keterbelakangan.
Menurut Robert B. Sund (1973: 2), sains merupakan suatu tubuh pengetahuan
(body of knowledge) dan proses penemuan pengetahuan. Dengan demikian, pada
hakekatnya sains merupakan suatu produk dan proses. Produk sains meliputi fakta,
konsep, prinsip, teori dan hukum. Proses sains meliputi cara-cara memperoleh,
mengembangkan dan menerapkan pengetahuan yang mencakup cara kerja, cara berfikir,
cara memecahkan masalah, dan cara bersikap. Sains dirumuskan secara sistematis,
terutama didasarkan atas pengamatan eksperimen dan induksi.
Sebagian ahli mengatakan bahwa teknologi dimulai terlebih dahulu daripada
sains, karena manusia sejak awal menggunakan benda sebagai alat. Sebagian ahli yang
lain beranggapan sains tumbuh terlebih dahulu, karena benda sebelum digunakan pasti
perlu diketahi terlebih dahulu. Namun demikian cukup dimengerti jika teknologi
kemudian dirumuskan dengan pengertian yang lebar, yaitu alat atau pengetahuan manusia
untuk melakukan adaptasi terhadap lingkungannya atau keberlangsungan hidupnya.
Secara etimologis, teknologi berasal dari kata techne (Yunani) artinya keahlian
dan logia artinya perkataan. Bell (2001) mendefinisikan teknologi sebagai seperangkat
instrumen yang memungkinkan kekuatan manusia untuk mengubah sumber menjadi
kesejahteraan. Heibish (2001) mendefinisikan teknologi sebagai pengetahuan yang telah
ditransformasikan menjadi produk, proses dan jasa maupun struktur organisasi.
Pengembangan sains tidak selalu dikaitkan dengan aspek kebutuhan masyarakat,
sedangkan teknologi, merupakan aplikasi sains yang terutama untuk kegiatan penemuan,
berupa alat-alat atau barang-barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Jadi
pengembangan teknologi selalu dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan
demikian sains, teknologi dan masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan
(Poedjiadi, 1990 ; Yager, 1992: 4).
Kebutuhan manusia bukan semata melangsungkan hajat hidup, melainkan juga
nilai-nilai etika dan estetika. Dalam konteks ini, seni menjadi kebutuhan dasar manusia
secara kodrati. Seni berpengaruh terhadap kehidupan manusia.
Manusia tidak hanya dapat menggagas, melainkan juga mengekspresikan
gagasannya. Semua bidang kehidupan manusia, baik ekonomi, sosial politik, dan
budaya, memerlukan ekspresi Dengan ekspresi, maka terjadi hubungan antarmanusia.
Dalam ekspresi diri terdapat ekspresi khusus yang disebut kesenian. Dengan
kesenian manusia mengekspresikan gagasan estetik atau pengalaman estetik. Kesenian
merupakan penjelmaan pengalaman estetik untuk mewujudkan manusia dewasa yang
sadar akan arti pentingnya berbudaya agar tidak kehilangan jati diri dan akal sehat.
Pada dasarnya iptek bersifat netral. Yang menjadikannya bermanfaat atau
merusak adalah manusia yang menguasai dan mengendalikannya, yakni para pembuat
keputusan atau pembuat kebijakan, termasuk ke dalamnya ilmuwan, teknolog, politisi,
pengusaha, dan masyarakat umum. Dengan demikian, kunci keberhasilan bagi upaya
pemanfaatan iptek bagi kesejahteraan manusia terletak pada pembinaan faktor manusia
dalam mengembangkan dan menerapkan iptek ataupun mengkonsumsi produk-produk
iptek.
Pada masyarakat Indonesia pada umumnya, budaya terhadap Iptek belum terbukti
telah berkembang secara memadai. Hal ini tercermin dari pola pikir masyarakat yang
belum bisa dianggap mempunyai penalaran objektif, rasional, maju, unggul, dan mandiri.
Pola pikir masyarakat belum mendukung kegiatan berkreasi, mencipta, dan belajar.
Mekanisme yang menjembatani interaksi antara penyedia sains dan teknologi
dengan kebutuhan pengguna juga belum optimal. Hal ini bisa dilihat dari belum
tertatanya lembaga yang mengolah dan menterjemahkan hasil pengembangan sains dan
teknologi menjadi teknologi yang siap pakai untuk difungsikan dalam sistem produksi
masyarakat. Di samping itu kebijakan keuangan juga dirasakan belum mendukung
pengembangan kemampuan sains dan teknologi.
Lembaga penelitian dan pengembangan Iptek masih sering diartikan dengan
institusi yang sulit berkembang. Selain itu, kegiatan penelitian yang dilakukan kurang
didorong oleh kebutuhan penelitian yang jelas dan eksplisit. Ini menyebabkan lembaga-
lembaga litbang tidak memiliki kewibawaan sebagai sebuah instansi yang memberi
pijakan scientifik sehingga berakibat pada inefisiensi kegiatan penelitian. Dampak
lainnya adalah merapuhnya budaya penelitian sebagai pondasi kelembagaan riset dan
teknologi, seperti yang terjadi pada sektor pendidikan. Ini berarti pendidikan di Indonesia
dapat dikatakan belum mampu menanamkan karakter budaya bangsa yang memiliki rasa
ingin tahu, budaya belajar dan apresiasi yang tinggi pada pencapaian ilmiah (Zuhal,
2007). Masalah dan kendala tersebut secara langsung telah menghambat perkembangan
sains dan teknologi di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

http://nimassaad.blogspot.com

http://www.pandawa5.neT

http://yudihartono.wordpress.com