You are on page 1of 8

PERATURAN TUBRUKAN KAPAL DI PERAIRAN PEDALAMAN

(Reglement ter voorkoming van aanvaring of aandrijving op de rivieren en
binnenwateren in Indonesië).
S.1914-226.

BAB I. KETENTUAN-KETENTUAN UMUM.

Pas. 1. Dalam peraturan ini yang diartikan dengan:
"kapal uap": tiap kendaraan air yang digerakkan dengan tenaga uap (tenaga
mekanik);
"kapal layar": tiap kendaraan air yang menggunakan layar dan tidak
sekaligus digerakkan dengan tenaga mekanik;
"kendaraan air": tiap kapal, kendaraan air, dok, tongkang dan alat
pengangngkutan air demikian;
"jalur pelayaran sempit": tiap jalur pelayaran, yang lebarnya dapat
dilayari kurang dari 125 m;
"bunyi lanjut": tiap isyarat bunyi kuat yang lamanya sedikit-dikitnya 5
detik;
"bunyi pendek": tiap isyarat bunyi kuat yang lamanya setinggi-tingginya 2
detik;
"perairan pedalaman": danau-danau, terusan-terusan dan pelabuhan-
pelabuhan buatan;
"siang hari": waktu antara matahari terbit dan matahari terbenam;
"malam hari": waktu antara matahari terbenam dan matahari terbit.

Pasal 2.
(1) Peraturan ini berlaku bagi semua sungai dan perairan pedalaman di
Indonesia, termasuk gerbang-gerbang dari laut di mana diletakkan anak
pelampung atau rambu.
(2) Gerbang-gerbang dari laut di mana tidak diletakkan anak pelampung
atau rambu termasuk daerah laut; berlaku di daerah itu. ketentuan-
ketentuan Peraturan Tubrukan di Laut
(3) Ketentuan-ketentuan peraturan ini tidak berlaku bagi sungai-sungai
atau perairan-perairan pedalaman tertentu, atau bagiannya, yang
ditunjuk oleh Menteri.

Pasal 3.
(1) Di mana saja, jika dalam peraturan ini kepada kendaraan air dikenakan
kewajiban-kewajiban, maka nakhoda atau yang menggantinya bertanggung
jawab atas pelaksanaan kewajiban itu.
(2) Pada waktu melaksanakan peraturan ini nakhoda-nakhoda harus
memperlihatkan syarat-syarat kecakapan pelaut yang baik, bila dalam
keadaan-keadaan yang khusus, melakukan tindakan-tindakan yang
menyimpang dari ketetapanketetapan yang tercantum di dalamnya.

Pasal 4.
Kecuali pejabat-pejabat, yang berdasarkan ketetapan-ketetapan undang-
undang berwenang untuk itu, maka dengan pengusutan pelanggaran-
pelanggaran peraturan ini ditugaskan perwira-perwira Angkatan Laut,
nakhoda-nakhoda kapal-kapal Direktorat Jenderal Perhubungan laut,
Syahbandar-syahbandar ahli dan pandu-pandu.

BAB II. KETENTUAN-KETENTUAN TENTANG PEMASANGAN LAMPU LAMPU DAN SEBAGAINYA.

Pasal 5.
Ketentuan-ketentuan tentang pemasangan lampu-lampu dan sebagainya yang
tercantum dalam Peraturan Tubrukan di Laut, kecuali
penyimpanganpenyimpangan yang disebut di dalam pasal-pasal 6-9 di bawah
ini berlaku juga terhadap sungai-sungai dan perairan-perairan pedalaman
yang dimaksud dalam peraturan ini.

Pasal 6.
3
(1) Kapal-kapal uap, yang isi kotomya kurang dari 113,2 M , jika sedang
berlayar, tidak perlu memasang lampu-lampu, seperti yang ditetapkan
bagi kapal-kapal berukuran sama yang digunakan dalam pelayaran di
laut. Tetapi jika tidak memasang lampu-lampu itu, kapal-kapal itu
harus memasang lampu-lampu berikut:
a. lampu puncak putih di atas tajuk sekoci, setidak-tidaknya berada
di atas lampu-lampu samping yang berwarna hijau dan merah atau di
atas lentera kombinasi sebagai gantinya; dan
b. jika melakukan pekerjaan tunda, lampu puncak putih kedua pada
jarak tidak kurang dari 0,5 m dan tidak lebih dari 1 m bersusun
vertikal satu sama lain di atas lampu puncak tersebut pada a.
(2) Kendaraan-kendaraan air yang lain dari kapal-kapal uap dan isi
3
kotornya berukuran kurang dari 56,6 m , bila ini mengenai tongkang
yang panjangnya kurang dari 30 m, jika sedang berlayar, harus
memperlihatkan lentera yang memanearkan cahaya putih yang terang dari
tempat yang mudah kelihatan dari tempat sekitamya.
(3) Kapal-kapal nelayan yang sedang menangkap ikan, harus memasang lampu
putih yang dimaksud dalam ayat di atas.
(4) Sekoci-sekoci dayung tidak perlu memasang lampu putih tersebut dalam
ayat (2), tetapi diwajibkan menyediakan lentera yang siap untuk
dipakai, yang memancarkan cahaya putih terang yang sudah menyala di
bawah di dalam sekoci atau di selubungi, yang pada saat didekati oleh
kapal lain, harus diperlihatkan pada waktunya dan di tempat yang
mudah kelihatan.

Pasal 7.
(1) Kendaraan-kendaraan air yang bersandar, harus memasang lampu putih,
dengan kekuatan nyala dan cara penempatan yang sama seperti
diharuskan bagi kapal-kapal berlabuh yang panjangnya kurang dari 45
m.
(2) Menyimpang dari ketentuan dalam ayat tersebut di atas, kendaraan-
kendaraan air yang ada di tempat sandar, tempat bongkar muat atau di
jalur pelayaran, di mana pelayarannya dirintangi, yang diberi
penerangan baik, tidak diharus kan memasang lampu-tampu.

Pasal 8.
(1) Kendaraan-kendaraan air yang kandas di jalur pelayaran atau yang
tidak dapat bergerak dengan sempurna, sejauh mengenai kapal-kapal
uap, harus memasang sebagai pengganti lampu puncak putih, dua lampt:
merah yang bersusun vertikal satu sama lain, yang mudah kelihatan
daii tempat sekitamya. Pada siang hari harus diperbhatkan dua
bulatan berwama hitam atau tanda-tanda yang bersusun vertikal satu
sama lain.
(2) Kendaraan-kendaraan air yang lain dari kapal-kapal uap yang isi
kotornya berukuran kurang dari 56,6 m3, kalau hal ini mengenai
tongkang, jika panjangnya kurang dari 30 m, dalam keadaan-keadaan
yang disebut dalam ayat di atas, pada malam hari harus memperlihatkan
lampu putih seperti dimaksud dalam pasal 7 ayat (1) dan pada siang
hari harus memberikan tanda dengan bendera putih.
Pasal 9.
(1) Tongkang yang panjangnya 30 m atau lebih, dan lebarnya kurang dari 6
m, yang sedang berlayar atau berhenti, kecuali jika teriadi keadaan
seperti dimaksud dalam pasal 7 ayat (2), harus memasang lampu putih
yang terang pada malam hari yang kelihatan ke daerah sekitarnya pada
0
jarak sedikit-dikitnya 1 mil laut (dari 60 dalam l ), ditempatkan di
ujung depan dan ujung belakang, pada ketinggian yang sama.
Tongkang yang sama panjangnya seperti disebut di atas, tetapi
lebarnya 6 m atau lebih, dalam keadaan seperti disebut di atas, harus
memasang lampu putih yang terang pada sisi kiri dan kanan dari ujung
depan dan belakang, dengan demikian terdapat seluruhnya empat lampu
putih yang ditempatkan pada ketinggian yang sama.
(2) Kapal-kapal pengisap lumpur, kapal-kapal keruk dan kapal-kapal kerja,
jika sedang bekerja di atau dekat jalur pelayaran, harus memasang
isyarat-isyarat seperti berikut:
a. jika jalur pelayaran hanya bebas pada satu sisi, maka pada sisi
yang bebas itu, sejauh mungkin di luar bagian tengah kapal, pada
siang hari dua bulatan hitam dengan garis-tengah sekurang-
kurangnya 0,5 dan sebesar-besarnya 0,80 m, bersusun vertikal satu
sama lain dengan jarak antara sekurang-kurangnya 0,50 dan
sebesar-besarnya I m, bulatan terendah sedikit-dikitnya 3 m di
atas badan kapal dan pada malam hari lampu merah dan kira-kira 1
m di bawahnya lampu putih, serendah-rendahnya 3 m dan setinggi-
tingginya 6 m di atas badan kapal dan kecuali itu pada sisi jalur
pelayaran yang tidak bebas sejauh mungkin di luar bagian tengah
kapal, pada siang hari satu bulatan hitam dengan ukuran dan pada
ketinggian yang sama dengan bulatan hitam teratas pada sisi lain
itu, dan pada malam hari lampu merah pada ketinggian yang sama
dengaii lampu merah pada sisi lain itu;
b. jika jalur pelayaran bebas pada dua sisi, maka pada tiap sisi,
sejauh mungkin di luar bagian tengah kapal, pada siang hari dua
butatan hitam dan pada malam hari lampu merah dengan di bawahnya
lampu putih, segala sesuatu seperti diterangkan pada a;
c. jika jalur pelayaran tidak bebas pada dua sisi, maka pada siang
hari pada tiap sisi satu bulatan hitam dan pada malam hari lampu
merah pada ketinggian yang sama dengan bulatan hitam dan lampu
merah teratas seperti disebut pada a.
Kecuali itu kapal-kapal tersebut, baik yang sedang berlayar,
maupun yang sedang berhenti, harus memasang isyarat-isyarat yarkg
ditentukan dalam peraturan ini bagi kapal-kapal yang ukuran dan
jenisnya sama (S. 1940-129.)
(3) Kapal-kapal keruk, kapal-kapal kerja dan kapal-kapal demikian harus
menandai semua jangkar, yang dilabuhkan di atau dekat jalur pelayaran
dengan tong biru atau pelampung, pada malam hari dengan lampu yang
menyala terang. Kewajiban ini, sejauh mengenai jangkar-jangkar sisi,
dikenakan kepada semua kendaraan air yang melabuhkan jangkar-jangkar
demikian di atau dekat jalur pelayaran (S. 1940-129.)
(4) Kerangka-kerangka kapal yang dapat menimbulkan bahaya bagi pelayaran,
selekas mungkin oleh nakhodanya atau jika ia melalaikan hal ini, oleh
Pemerintah atas biaya nakhoda tersebut, diberi tanda, dengan
menempatkan rambu di atasnya yang selalu ada di atas permukaan air di
atas atau dekat kerangka itu, pada siang hari bendera putih dan pada
malam hari lentera bercahaya putih yang terang (Peraturan Tubrukan
Kapal di Perairan Pedalaman pasal 20; Peraturan Bandar S. 1924-500
pasal 17).
BAB III. KETENTUAN KETENTUAN TENTANG KECEPATAN, MENYIMPANG, ISYARAT-ISYARAT
BERLABUH DAN SEBAGAINYA.

Pasal 10.
Tiap kendaraan air selama berlayar diwajibkan mengadakan pengintaian
jarak jauh, jika mungkin dari puncak tiang.

Pasal 11.
Jika disebabkan oleh kabut, hujan, tumbuh-tumbuhan tepi yang tinggi atau
sebab-sebab lain sehingga penglihatan baik terhalang, maka kendaraan air
itu menurut keadaan harus mengurangi keeepatannya atau berhenti.
Jika sedang berlayar, kapal harus memberikan isyarat-isyarat bunyi
berikut:
a. kapal uap membunyikan satu bunyi lanjut dengan selang waktu tidak
melebihi 2 menit, dan jika menunda kendaraan air atau tidak dapat
bergerak dengan baik, membunyikan satu bunyi lanjut dengan selang
waktu tidak melebihi 2 menit diikuti oleh dua bunyi pendek;
3
b. kapal layar yang isi kotornya berukuran 56,6 M atau lebih,
membunyikan dengan selompret-kabut bunyi-bunyi pendek dengan selang
waktu pendek atau memberitahukan kedatangannya dengan pemukulan gong;
3
c. kapal layar yang isi kotomya berukuran kurang dari 56,6 M dan
tongkang, memukul gong atau membuat gaduh dengan cara lain.
(2) Pada waktu cuaca berkabut tebal, kapal-kapal layar dan tongkang
dilarang berlayar, dan kapal-kapal uap tidak boleh berlayar melebihi
kecepatan yang diperlukan untuk mengemudikan kapal.
(3) Kapal-kapal uap yang,berlabuh atau bersandar, kapal-kapal layar yang
isi kotomya berukuran 56,6 M3 atau lebih dan tongkang yang panjangnya
30 m atau lebih, pada waktu cuaca berkabut tebal, baik pada siang
hari maupun pada malam hari dan selanjutnya jika mendengar isyarat-
isyarat bunyi dari kendaraan air lain yang mendekatinya, harus
sedikit-dikitnya tiap menit membunyikan lonceng atau memukul gong
atau membunyikan isyarat bunyi demikian. Bagi kendaraan lainnya
dalam keadaan itu cukup dengan membuat gaduh, untuk menyatakan
tentang kehadirannya.

Pasal 12.
(1) Di bagian-bagian yang lurus dari jalur pelayaran, jika hal ini dapat
dilaksanakan dan dilakukan dengan aman, tiap kapal harus berlayar
pada sisi jalur pelayaran yang ada di sisi kanannya.
Kapal uap di jalur pelayaran sempit boleh berlayar dengan kecepatan
maksimum 7 mil laut, yang pada waktu terdapat arus dengan kekuatan
luar biasa, harus dikurangi sampai 5 mil laut.
(2) Kendaraan air yang sedang bertayar, jika satu sama lain bertemu
dengan haluan yang berlawanan, hingga akan terjadi bahaya tubrukan,
maka untuk mencegah bahaya tersebut, kedua kapal harus menyimpang ke
kanan dan melewati satu sama lain pada sisi kiri. Tetapi jika
kendaraan air yang ditunda dari darat, bertemu dengan kendaraan air
lain, yang tidak ditunda demikian dengan haluan yang berlawanan, maka
kendaraan air yang ditunda berlayar di sebelah dalam dari kendaraan
air yang tidak ditunda.
(3) Jika haluan-haluan dua kapal uap satu sama lain memotong sedemikian,
sehinggajika bertahan tetap pada haluan-haluan itu dapat menimbulkan
bahaya tubrukan, maka kapal uap yang melihat kapal uap lainnya di
sisi kanannya, harus menyimpang.
(4) Jika kapal uap dan kapal layar mendekat satu sama lain dalam
keadaarkkeadaan seperti dimaksud dalam ayat terdahulu, maka kapal uap
harus tnenyimpang untuk kapallayar.
(5) Jika dua kapal layar mendekat satu sama lain dalam keadaan seperti
dimaksud dalam ayat (3), maka kapal-kapal tersebut harus menaati
aturan-aturan berikut:
a. kapal, yang berlayar dengan kekuatan penuh angin harus menyimpang
untuk kapal layar yang berlayar dengan hanya sebagian dari
kekuatan angin;
b. kapal layar yang mendapat angin dari sisi depan (haluan) harus
menyimpang untuk kapal layar yang mendapat angin dari sisi
belakang (buritan);
c. jika kedua kapal layar berlayar dengan kekuatan angin penuh,
tetapi angin masuk dari sisi yang berlainan, maka kapal yang
mendapat angin dari sisi kiri harus menyimpang untuk kapal yang
mendapat angin dari sisi kanan;
d. jika kedua kapal layar berlayar dengan kekuatan angin penuh dan
angin masuk dari sisi yang sama maka kapal layar yang berlayar
dengan dorongan angin harus menyimpang untuk kapal yang berlayar
melawan angin;
e. kapal layar yang berlayar dengan kekuatan angin dari belakang,
harus menyimpang untuk tiap kapal layar lain.

Pasal 13.
(1) Kapal-kapal uap yang mendekati tikungan, harus membunyikan satu bunyi
lanjut dengan selang waktu pendek, sedangkan kapal-kapal layar dan
tongkang memberitahukan tentang kedatangannya dengan membunyikan
lonceng kapat terus-menerus atau memukul gong atau membuat gaduh
dengan cara lain.
(2) Kapal uap yang berlayar berlawanan dengan arah arus, pada waktu
mendengar isyarat bunyi seperti dimaksud dalam ayat tersebut di atas,
yang dibunyikan oleh kapal uap yang berlayar menurut arah arus, jika
ada di dekat tikungan, sedapat mungkin harus tetap berlayar di
sebelah hilir tikungan itu dan jika perlu mengurangi kecepatan atau
berhenti, agar belokan yang besar bebas bagi kapal yang berlayar
mengikuti arah arus.
Dalam keadaan ini kapal-kapal uap tersebut harus masing-masing
membunyikan isyarat suling untuk memberitahukan sisi mana dari jalur
pelayaran yang akan mereka gunakan, sampai kapal-kapal tersebut
berpapasan satu sama lain dengan aman.
(3) Kapal uap yang berlayar menurut arah arus, pada waktu mengambil
tikungan harus berlayar dengan kecepatan yang tidak melebihi yang
diperlukan untuk mengemudikan kapal dengan baik, dan senantiasa harus
berlayar dengan kecepatan yang tidak melebihi yang diperlukan untuk
mengemudikan kapal dengan baik, dan senantiasa harus
menyediakanjangkar-cemat yang siap untuk diturunkan di buritan.
Jika ada bahaya akan mengakibatkan kerusakan, kapal harus segera
berhenti, jika perlu bergerak mundur dan harus beriabuh dengan
jangkar-cemat, sampai kapal dapat berlayar terus dengan aman.
3
(4) Kapal-kapal uap yang isi kotomya berukuran kurang dari 30 m dan
kapal-kapal uap yang menunda satu kendaraan air atau lebih,
dibebaskan dari ketentuan dalam ayat tersebut di atas; tetapi
kendaraan air yang ditunda harus menyediakanjangkar-cemat, untuk
mencegah tubrukan dengan kapal yang menunda, jika kapal ini
sekonyong-konyong terpaksa berhenti atau kandas.
(5) Kendaraan air yang lain dari kapal-kapal uap, jika ada di dekat
tikungan, pada waktu didekati oleh kapal uap dari jurusan yang
berlawanan, sebanyak diperlukan dan secepat-cepatnya mendekati
daratan di sekitar tikungan itu, dan selama tidak ditambat pada
daratan, pada malam hari harus memperlihatkan obor yang menyala
terang pada sisi belokan jalur pelayaran.
(6) Jika dua kendaraan air yang lain dari kapal-kapal uap mendekat satu
sama lain di dekat tikungan dari jurusan yang berlawanan, maka
kendaraan air yang berlayar berlawanan dengan arus, harus bertindak
menurut cara yang ditentukan dalam ayat tersebut di atas.
(7) Jika tidak ada arus atau hampir tidak ada arus, dalam penerapan pasal
ini, kendaraan air yang menghilir dianggap sebagai berlayar mengikuti
arah arus.

Pasal 14.
(1) Tiap kendaraan air yang menyusul kendaraan air lain, harus menyimpang
untuk yang disusul.
(2) Jika dua kendaraan air berlayar dengan arah yang sama maka kendaraan
air yang satu hanya boleh melalui yang lain, jika pada bagian yang
lurus dari jalur pelayaran hal demikian dapat dilakukan tanpa adanya
kemungkinan akan terjadi kerusakan dan kendaraan air yang datang dari
arah yang berlawanan, tidak akan mendapat rintangan karenanya.
(3) Kendaraan air yang menyusul kendaraan air lain dan hendak melaluinya,
pada jarak sedikit-dikitnya 200 m memberitahukan maksudnya dengan
tandatanda, panggilan atau dengan bunyi lanjut. Jika perlu isyarat
ini diulangi.
(4) Untuk melalui kendaraan air, kapal-kapal uap senantiasa harus
menunggu, sampai kendaraan air yang disebut terdahulu telah memberi
ruang cukup, untuk melaluinya tanpa kemungkinan terjadi kerusakan.
(5) Pada waktu melalui kendaraan air yang lambung-timbulnya rendah atau
rumah-rumah kampung yang letaknya di luar garis tepi, kapal uap
sebanyak mungkin mengurangi kecepatannya, sampai kendaraan air atau
rumah-rumah dimaksud telah dapat dilewati.
(6) Kapal uap harus melalui kapal uap atau kapal layar pada sisi kirinya.
(7) Kapal layar harus melalui kendaraan air, yang dilalui pada sisi
dorongan angin.
(8) Jika kendaraan air yang disusul dan yang harus dilalui ditunda dari
darat, maka kendaraan air yang ditunda berlayar di sebelah dalam dari
kendaraan air yang melalui.
(9) Pada waktu menyusul dan akan melalui kendaraan air yang ditunda dari
darat oleh kendaraan air lain yang demikian juga, maka kendaraan air
yang akan melalui, berlayar di sebelah dalam dan kendaraan air yang
dilalui harus mengendurkan talinya pada waktu yang tepat.
(10) Kendaraan air yang disusul diwajibkan memberi ruang cukup pada
kendaraan air yang menyusul dan jika menggunakan layar, menurut
keadaan mengurangi kecepatannya.

Pasal 15.
(1) Dilarang menghanyutkan kendaraan air dengan arus, jika kendaraan air
itu pada tiap saat yang dikehendaki tidak dapat dikemudikan,
(2) Di jalur pelayaran, di mana ada kabel telegram atau kabel telepon,
maka pada waktu arus kuat atau banjir, kendaraan air yang isi
3
kotornya berukuran lebih dari 11,32 M yang hanyut dengan arus, harus
menggunakan jangkar garuk.

Pasal 15a.
Dicabut dg. S. 1939-544.

Pasal 16.
(1) Tiap kendaraan air, yang diwajibkan menyimpang untuk kendaraan air
lain, jika keadaan mengizinkan, harus menghindari berlayar memotong
haluan dekat kendaraan air lain itu.
(2) Tiap kapal uap yang menurut ketentuan-ketentuaii peraturan ini
diwajibkan menyimpang untuk kendaraan air lain, bila mendekatinya,
jika perlu, harus mengurangi kecepatan, berhenti atau mundur.
(3) Ketentuan yang ditetapkan dalam ayat tersebut di alas tidak berlaku
bagi kendaraan air yang menunda.

Pasal 17.
(1) Kapal-kapal uap yang melihat pada saat saling mendekat satu sama lain
kemungkinan bahaya tubrukan, dapat menunjukkan tempat kapal itu sedang
bergerak dengan isyarat-isyarat berikut:
satu bunyi pendek berarti: "saya menyimpang ke kanan".
dua bunyi pendek berarti: "saya menyimpang ke kiri".
tiga bunyi pendek berarti: "saya mundur dengan daya penuh".

Pasal 18.
(1) Kapal-kapal uap yang menunda satu atau beberapa kendaraan air harus
menggunakan tah penarik yang pendek, danjika kapal-kapal itu datang
dari laut, kabel-kabel penariknya harus dipendekkan.
(2) Tiap kendaraan air yang ditunda, diharuskan dengan hati-hati
mengemudikan kapal itu untuk dapat menghindari penyimpangan dari arah
yang ditentukan.
(3) Menunda kendaraan air di samping hanya dibolehkan dalam jalur
pelayaran yang sempit, bila keadaan memang mengizinkan; pada tiap
sisi hanya boleh ditarik satu kendaraan air. Untuk hal ini harus
diusahakan, agar lampu-lampu kapal yang menunda jelas kelihatan.
Bila hal itu tidak mungkin, dapat digunakan lentera-lentera dari dari
kapal-kapal yang ditunda.
(4) Kapal uap harus mematikan mesinnya pada waktu masuk dari pinggiran
atau menghindari kapal-kapal lain masuk ke laut.

Pasal 19.
(1) Dilarang menempatkan sauh di tengah jalur pelayaran pada tikungan
atau jalur pelayaran yang sempit, kecuali dalam hal seperti
disebutkan dalam pasal 13 ayat (3).
(2) Kendaraan air yang terpaksa menempatkan sauhnya pada tikungan atau
jalur pelayaran yang sempit, harus menjaga supaya tidak membuang
barang muatan atau menggunakan kabel-kabel untuk menghindari gerakan
yang bolakbalik, dan sedapat mungkin memberikan tempat dijalur
pelayaran bagi kendaraan air yang akan berlalu.
(3) Dalam hal tidak menaati ketentuan dalam ayat (1), harus dibuktikan
perlunya berlabuh di tempat-tempat yang dilarang, untuk dapat
dibebaskan dari tuntutan hukum.

Pasal 20.
Kendaraan air yang tenggelam dan benda-benda pada umumnya, yang
ditempatkan di jalur pelayaran, yang menghalang-halangi lalu-lintas
pelayaran, jika tidak diangkat oleh mereka dalam batas-batas waktu yang
telah ditentukan oleh Pemerintah, diangkat atau disingkirkan oleh
Pemeiintah atas biaya pemilik-pemilik. (Peraturan Tubrukan Kapal di
Perairan Pedalaman pasal 9; Peraturan Bandar S. 1924-500 pasal 17.)

Pasal 21.
(1) Sejauh mengenai hal ini tidak ada ketentuan-ketentuan lain yang
berlaku, maka di tiap kendaraan air yang berlabuh atau ditambat pada
pelampung-pelampung, sedikit-dikitnya setengah dari awak kapal harus
ada dan di tiap kendaraan air yang dikeringkan atau seluruhnya
ditambat di daratan, sedikit-dikitnya satu pelayar atau nakhoda harus
ada di kendaraan air untuk menjaganya. (S. 1924-501.)
(2) Ketentuan ini tidak berlaku bagi kendaraan air yang isi kotornya
3
berukuran kurang dari 2,83 m dan bagi kendaraan air yang ditambat
pada atau yang dikeringkan di tempat sendiri yang dijaga.

Pasal 22.
Dilarang membunyikan isyarat-isyarat bunyi dalain keadaan-keadaan lain
dari yang ditentukan atau diizinkan menurut undang-undang.

BAB IV. KETENTUAN-KETENTUAN HUKUMAN.

Pasal 23.
Ayat (1), (2), (3) tidak berlaku lagi.

Pasal 24.
(1) Nakhoda atau orang yang menggantinya tidak dapat dihukum jika
ternyata, bahwa ia telah melakukan semua yang mungkin, baik untuk
menaati ketentuan-ketentuan peraturan ini, maupun untuk mencegah
akibat-akibat pelanggaran ketentuan-ketentuan itu.
(2) Tidak berlaku dengan dihapuskannya pasal 23.

KETENTUAN-KETENTUAN PENUTUP.

Pasal 25.
Isi peraturan ini tidak menghalang-halangi pelaksanaan dari ketentuan-
ketentuan khusus, sehubungan dengan pelayaran di pelabuhan-pelabuhan,
sungai-sungai dan perairan-perairan pedalaiman atau bagian-bagiannya,
yang diboat atau akan dibuat oleh pejabat-pejabat setempat yang berkuasa
(Peraturan Tubrukan di Laut pasal 31).

Pasal 26.
Peraturan ini disebut dengan nama "Peraturan Tubrukan Kapal di Perairan
Pedalaman".
Ditetapkan pada tanggal 22 Februari 1914.