You are on page 1of 14

Remaja dan Narkoba

Ada tiga hal yang harus diperhatikan ketika melakukan program anti narkoba di
sekolah. Yang pertama adalah dengan mengikutsertakan keluarga. Banyak penelitian
telah menunjukkan bahwa sikap orangtua memegang peranan penting dalam
membentuk keyakinan akan penggunaan narkoba pada anak-anak. Strategi untuk
mengubah sikap keluarga terhadap penggunaan narkoba termasuk memperbaiki pola
asuh orangtua dalam rangka menciptakan komunikasi dan lingkungan yang lebih baik
di rumah. Kelompok dukungan dari orangtua merupakan model intervensi yang sering
digunakan.

Apa itu Narkoba
Narkoba adalah singkatan dari Narkotika dan Obat berbahaya. Selain "narkoba",
istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Departemen Kesehatan Republik
Indonesia adalah napza yang merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika
dan Zat Adiktif. Semua istilah ini, baik "narkoba" atau napza, mengacu pada
sekelompok zat yang umumnya mempunyai resiko kecanduan bagi penggunanya.

Menurut pakar kesehatan narkoba sebenarnya adalah psikotropika yang biasa
dipakai untuk membius pasien saat hendak dioperasi atau obat-obatan untuk
penyakit tertentu. Namun kini pemanfaatannya disalah gunakan diantaranya dengan
pemakaian yang telah diluar batas dosis / over dossis.

Narkoba atau NAPZA merupakan bahan/zat yang bila masuk ke dalam tubuh akan
mempengaruhi tubuh terutama susunan syaraf pusat/otak sehingga jika
disalahgunakan akan menyebabkan gangguan fisik, psikis/jiwa dan fungsi sosial.
Karena itu Pemerintah memberlakukan Undang-undang (UU) untuk penyalahgunaan
narkoba yaitu UU No.5 tahun 1997 tentang Psikotropika dan UU No.22 tahun 1997
tentang Narkotika.

Penyebaran Narkoba di Kalangan Anak-anak dan Remaja
Hingga kini penyebaran narkoba sudah hampir tak bisa dicegah. Mengingat hampir
seluruh penduduk dunia dapat dengan mudah mendapat narkoba dari oknum-oknum
yang tidak bertanggung jawab. Misalnya saja dari bandar narkoba yang senang
mencari mangsa didaerah sekolah, diskotik, tempat pelacuran, dan tempat-tempat
perkumpulan genk. Tentu saja hal ini bisa membuat para orang tua,
ormas,pemerintah khawatir akan penyebaran narkoba yang begitu meraja rela.

Upaya pemberantas narkoba pun sudah sering dilakukan namun masih sedikit
kemungkinan untuk menghindarkan narkoba dari kalangan remaja maupun dewasa,
bahkan anak-anak usia SD dan SMP pun banyak yang terjerumus narkoba. Hingga
saat ini upaya yang paling efektif untuk mencegah penyalahgunaan Narkoba pada
anak-anak yaitu dari pendidikan keluarga. Orang tua diharapkan dapat mengawasi
dan mendidik anaknya untuk selalu menjauhi Narkoba.

Menurut kesepakatan Convention on the Rights of the Child (CRC) yang juga
disepakati Indonesia pada tahun 1989, setiap anak berhak mendapatkan informasi
kesehatan reproduksi (termasuk HIV/AIDS dan narkoba) dan dilindungi secara
fisik maupun mental. Namun realita yang terjadi saat ini bertentangan dengan
kesepakatan tersebut, sudah ditemukan anak usia 7 tahun sudah ada yang
mengkonsumsi narkoba jenis inhalan (uap yang dihirup). Anak usia 8 tahun sudah
memakai ganja, lalu di usia 10 tahun, anak-anak menggunakan narkoba dari beragam
jenis, seperti inhalan, ganja, heroin, morfin, ekstasi, dan sebagainya (riset BNN
bekerja sama dengan Universitas Indonesia).

Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), kasus pemakaian narkoba oleh
pelaku dengan tingkat pendidikan SD hingga tahun 2007 berjumlah 12.305. Data ini
begitu mengkhawatirkan karena seiring dengan meningkatnya kasus narkoba
(khususnya di kalangan usia muda dan anak-anak, penyebaran HIV/AIDS semakin
meningkat dan mengancam. Penyebaran narkoba menjadi makin mudah karena anak
SD juga sudah mulai mencoba-coba mengisap rokok. Tidak jarang para pengedar
narkoba menyusup zat-zat adiktif (zat yang menimbulkan efek kecanduan) ke dalam
lintingan tembakaunya.

Hal ini menegaskan bahwa saat ini perlindungan anak dari bahaya narkoba masih
belum cukup efektif. Walaupun pemerintah dalam UU Perlindungan Anak nomor 23
tahun 2002 dalam pasal 20 sudah menyatakan bahwa Negara, pemerintah,
masyarakat, keluarga, dan orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap
penyelenggaraan perlindungan anak (lihat lebih lengkap di UU Perlindungan Anak).
Namun perlindungan anak dari narkoba masih jauh dari harapan.

Narkoba adalah isu yang kritis dan rumit yang tidak bisa diselesaikan oleh hanya
satu pihak saja. Karena narkoba bukan hanya masalah individu namun masalah semua
orang. Mencari solusi yang tepat merupakan sebuah pekerjaan besar yang
melibatkan dan memobilisasi semua pihak baik pemerintah, lembaga swadaya
masyarakat (LSM) dan komunitas lokal. Adalah sangat penting untuk bekerja
bersama dalam rangka melindungi anak dari bahaya narkoba dan memberikan
alternatif aktivitas yang bermanfaat seiring dengan menjelaskan kepada anak-anak
tentang bahaya narkoba dan konsekuensi negatif yang akan mereka terima.

Anak-anak membutuhkan informasi, strategi, dan kemampuan untuk mencegah
mereka dari bahaya narkoba atau juga mengurangi dampak dari bahaya narkoba dari
pemakaian narkoba dari orang lain. Salah satu upaya dalam penanggulangan bahaya
narkoba adalah dengan melakukan program yang menitikberatkan pada anak usia
sekolah (school-going age oriented).

Di Indonesia, perkembangan pencandu narkoba semakin pesat. Para pencandu
narkoba itu pada umumnya berusia antara 11 sampai 24 tahun. Artinya usia tersebut
ialah usia produktif atau usia pelajar. Pada awalnya, pelajar yang mengonsumsi
narkoba biasanya diawali dengan perkenalannya dengan rokok. Karena kebiasaan
merokok ini sepertinya sudah menjadi hal yang wajar di kalangan pelajar saat ini.
Dari kebiasaan inilah, pergaulan terus meningkat, apalagi ketika pelajar tersebut
bergabung ke dalam lingkungan orang-orang yang sudah menjadi pencandu narkoba.
Awalnya mencoba, lalu kemudian mengalami ketergantungan.

Dampak Negatif Penyalahgunaan Narkoba
Dampak negatif penyalahgunaan narkoba terhadap anak atau remaja (pelajar) adalah
sebagai berikut:

• Perubahan dalam sikap, perangai dan kepribadian,
• sering membolos, menurunnya kedisiplinan dan nilai-nilai pelajaran,
• Menjadi mudah tersinggung dan cepat marah,
• Sering menguap, mengantuk, dan malas,
• tidak memedulikan kesehatan diri,
• Suka mencuri untuk membeli narkoba.
• Menyebabkan Kegilaan, Pranoid bahkan Kematian !

Upaya Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba

Upaya pencegahan terhadap penyebaran narkoba di kalangan pelajar, sudah
seyogianya menjadi tanggung jawab kita bersama. Dalam hal ini semua pihak
termasuk orang tua, guru, dan masyarakat harus turut berperan aktif dalam
mewaspadai ancaman narkoba terhadap anak-anak kita.

Ada tiga hal yang harus diperhatikan ketika melakukan program anti narkoba di
sekolah. Yang pertama adalah dengan mengikutsertakan keluarga. Banyak penelitian
telah menunjukkan bahwa sikap orangtua memegang peranan penting dalam
membentuk keyakinan akan penggunaan narkoba pada anak-anak. Strategi untuk
mengubah sikap keluarga terhadap penggunaan narkoba termasuk memperbaiki pola
asuh orangtua dalam rangka menciptakan komunikasi dan lingkungan yang lebih baik
di rumah. Kelompok dukungan dari orangtua merupakan model intervensi yang sering
digunakan.

Kedua, dengan menekankan secara jelas kebijakan tidak pada narkoba. Mengirimkan
pesan yang jelas tidak menggunakan membutuhkan konsistensi sekolah-sekolah
untuk menjelaskan bahwa narkoba itu salah dan mendorong kegiatan-kegiatan anti
narkoba di sekolah. Untuk anak sekolah harus diberikan penjelasan yang terus-
menerus diulang bahwa narkoba tidak hanya membahayakan kesehatan fisik dan
emosi namun juga kesempatan mereka untuk bisa terus belajar, mengoptimalkan
potensi akademik dan kehidupan yang layak.

Terakhir, meningkatkan kepercayaan antara orang dewasa dan anak-anak.
Pendekatan ini mempromosikan kesempatan yang lebih besar bagi interaksi personal
antara orang dewasa dan remaja, dengan demikian mendorong orang dewasa menjadi
model yang lebih berpengaruh.

Oleh sebab itu, mulai saat ini pendidik, pengajar, dan orang tua, harus sigap serta
waspada, akan bahaya narkoba yang sewaktu-waktu dapat menjerat anak-anak
sendiri. Dengan berbagai upaya tersebut di atas, mari kita jaga dan awasi anak didik
dari bahaya narkoba tersebut, sehingga harapan untuk menelurkan generasi yang
cerdas dan tangguh di masa yang akan datang dapat terealisasikan dengan baik.***

Perangi NARKOBA !!!

Saat ini penyalahgunaan narkoba di Indonesia sudah sangat merajalela. Hal ini
terlihat dengan makin banyaknya pengguna narkoba dari semua kalangan dan
peredaran narkoba yang terus meningkat. Namun yang lebih memperihatinkan,
penyalahgunaan narkoba saat ini justru banyak dari kalangan remaja dan anak muda,
yaitu para pelajar dan mahasiswa. Padahal mereka merupakan generasi penerus
bangsa yang nantinya akan menjadi pemimpin-peminpin dinegeri tercinta ini. Apa
jadinya negara ini dimasa yang akan datang, dengan tantangan yang semakin berat
dan persaingan yang begitu ketat, apabila generasi penerusnya saat ini sudah
merusak dirinya sendiri dengan menggunakan narkoba.
Dengan melihat kenyataan yang terjadi dan dampak negatifnya yang sangat besar
dimasa yang akan datang, maka semua elemen bangsa ini, seperti pemerintah, aparat
penegak hukum, institusi pendidikan, masyarakat dan lain sebagainya untuk mulai
dari sekarang melakukan gerakan perangi narkoba secara serius dan terus menerus,
baik dengan pendekatan preventif maupun represif, sehingga upaya pencegahan dan
penanggulangan narkoba ini dapat berjalan dengan efektif.
Institusi pendidikan merupakan salah satu pihak yang berkewajiban dan
bertanggung jawab dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba dikalangan
pelajar dan mahasiswa. Karena pelajar dan mahasiswa merupakan objek yang secara
emosional masih labil, sehingga sangat rentan untuk menggunakan narkoba. Mulai
dari rasa ingin tahu, mau coba-coba, ikut-ikutan teman, rasa solidaritas group yang
kuat dan memilih lingkungan yang salah sampai dengan faktor keluarga yang kurang
perhatian dan lain-lain. Disamping dari objek sasarannya yang labil, sekolah dan
kampus yang menjadi tempat yang rentan untuk peredaran narkoba.
Atas Rasa tanggung jawab dan kewajiban untuk dapat menghasilkan generasi-
generasi penerus bangsa yang berkualitas, maka pada tanggal 19 April yang lalu
Universitas Bangka Belitung (UBB) mengadakan acara seminar tentang narkoba yang
mengambil tema ”Peran Universitas dalam dalam menanggulangi Peredaran
Narkoba di Kalangan Mahasiswa / Pelajar”. Adapun semangat dan pesan yang ingin
disampaikan dalam seminar ini adalah “Bersama Kita Perangi Narkoba di
Lingkungan Kita”. Rektor UBB, Bustami Rahman, menyatakan bahwa sekolah dan
kampus merupakan tempat yang sangat strategis untuk peredaran narkoba. Oleh
karena itu perlu ada sebuah sistem yang dapat bekerja secara efektif untuk
mencegah masuknya narkoba ke dalam sekolah maupun kampus, serta dapat menutup
berbagai celah bagi pengedar narkoba untuk menjadikan sekolah dan kampus
sebagai pasar pendistribusian narkoba dengan pelajar dan mahasiswa sebagai
konsumennya.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan dan merupakan salah satu agenda dari
seminar narkoba tersebut adalah launching Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UBB
yang akan bergerak dan konsen pada upaya pencegahan narkoba dikalangan
mahasiwa UBB pada khususnya dan mahasiswa serta pelajar di Bangka Belitung pada
umumnya. Dengan adanya UKM anti narkoba tersebut menunjukkan bahwa UBB tidak
hanya ingin menunjukkan dirinya sebagai icon kampus bebas narkoba, tetapi juga ada
wujud nyata yang nantinya akan dilakukan berbagai kegiatan oleh UKM anti narkoba
tersebut. UKM ini nantinya akan bersinergi dengan Badan Narkotika Nasional, Badan
Narkotika Propinsi, Badan Narkotika Kabopaten/kota, aparat penegak hukum,
pemerintah, masyarakat dan lain-lain. Harapannya langkah UBB ini dapat diikuti oleh
institusi-institusi pendidikan yang lain sehingga upaya memerangi narkoba akan
semakin efektif dan terus menerus.
Bahaya Narkoba dan Upaya Memeranginya
Secara garis besar, bahaya penyalahgunaan narkoba dapat dibagi dalam 2 kelompok,
yaitu dampak khusus dan dampak umum. Pada dampak khusus, misalnya dampak
dalam penggunaan ganja. Dampak fisik : denyut nadi meningkat, mata merah dan
kering, mengantuk, radang paru-paru, sesak nafas, menimbulkan penyakit kanker.
Dampak psikis : perasaan tertekan, agresif, rasa gembira berlebihan (euphoria),
halusinasi, berkurangnya daya ingat, terjadi gangguan persepsi tentang ruang dan
waktu, menurunnya kemampuan berfikir serta bersosialisasi. Sementara dampak
umumnya adalah terhadap individu, terhadap orang tua dan keluarga dan terhadap
masyarakat dan bangsa.
Dampak terhadap individu dapat menimbulkan gangguan terhadap kesehatan fisik
(keracunan, gejala putus obat/sakauw, kerusakan otak, jantung, paru-paru, hati,
ginjal, organ reproduksi sampai kematian yang sia-sia, menimbulkan gangguan psikis
(gelisah, cemas, takut, curiga dan waspada berlebihan, paranoid, depresi, euphoria,
agresif dan gangguan daya ingat, menimbulkan gangguan bersosialisasi dan tidak
punya semangat belajar/bekerja, menimbulkan gangguan ketenangan dan
ketentraman dalam keluarga dan masyarakat dan penggunaan narkotika dengan
jarum suntik dapat menimbulkan resiko tertular HIV/AIDS, Hepatitis B, C maupun
penyakit infeksi lainnya.
Dampak terhadap orang tua dan keluarga dapat menghancurkan ekonomi orang
tua/keluarga dan menimbulkan beban psikologis/sosial yang sangat berat bagi orang
tua dan keluarga. Dampak terhadap masyarakat dan bangsa dapat menurunkan
kualitas SDM, menambah beban biaya negara dalam rangka untuk membiayai
program penanggulangan bahaya narkotika dan menimbulkan gangguan terhadap
ketertiban maupun keamanan masyarakat dan bangsa.
Dalam kebijakan kriminal (criminal policy), upaya penanggulangan dan pencegahan
kejahatan perlu digunakan pendekatan integral, yaitu perpaduan antara sarana penal
dan non penal. Sarana penal adalah hukum pidana melalui kebijakan hukum pidana.
Sementara non penal adalah sarana non hukum pidana, yang dapat berupa kebijakan
ekonomi, sosial, budaya, agama, pendidikan, teknologi, dan lain-lain.
Upaya penanggulangan dan pencegahan kejahatan narkoba ini memerlukan
pendekatan integral dikarenakan hukum pidana tidak akan mampu menjadi satu-
satunya sarana dalam upaya penanggulangan kejahatan narkoba yang begitu komplek
dan terjadi dimasyarakat. Berbagai upaya preventif dengan pendekatan agama,
pendidikan, sosial budaya dan ekonomi perlu untuk dimaksimalkan dibandingkan
pendekatan hukum, karena lebih bersifat represif.

PENYAKIT MASYARAKAT NARKOBA DAN PEKERJA SEKS KOMERSIAL
Kemajuan zaman sangatlah pesat disemua sektor kehidupan dan ini akan mengalami
kemajuan dan tiada hentinya penemuan dan inovasi kehidupan akan bertambah maju.
Dan ini menjadikan manusia serba bisa melakukan apa saja yang dikehendaki baik
secara hati nurani maupun tidak sehingga kehidupan akan terasa bebas tanpa adanya
factor pertimbangan moral yang biasa dipakai. Semakin kita lengah maka akan
semakin ketinggalan dan apabila kita tidak bisa memfilter semua aktifitas baik yang
positif maupun yang negatif alamat akan menjadi korban dari kemajuan tersebut,
apabila kita tidak bisa mengimbangi kehidupan yang modern ini secara
berkeseimbangan maka alamat kita akan hancur, mungkin ketertinggalan baik dari
segi perekonomian, pendidikan dan sosial budaya lainnya

Oleh karena terlalu bebas sehingga orang tidak mau memakai prinsip dan menempuh
jalur pendidikan secara formal dan informal sehingga akhlak dan moral dari
masyarakat jatuh dan bobrok ke hal yang negative sebagai pelarian dan kesenangan
yang membawa sengsara seperti pemakaian psikotropika, psk dan lain lain.

Dan penyakit ini sudah membudaya dikalangan masyarakt yang tipis imannya
alhasilnya kematianlah yang menjemputnya baru perbuatan tersebut hilang dan
musnah dan penyakitnya adalah penyakit yang paling menakutkan penyakit ini
umumnya dikalangan anak muda. Yang banyak sekali terjakit yaitu dari kalangan
remaja,

PEMBAHASAN

A. Sebab Akibat penyakit masyarakat

Pada zaman yang modern ini yang banyak pengaruh dari luar, budaya dan teknologi
yang datang dari luar serta tradisi yang serba instant sehingga tidak dapat dikonter
dan difilter oleh masyarakat terhadap perubahan kebudayaan yang ada.

Kita sebagai orang timur banyak yang terhanyut oleh tradisi dan kebudayaan yang
tidak sesuai dengan alam, norma-norma yang ada. Macam-macam penyakit
masyarakat adalah sebagai berikut :
1. Pekerja Seks Komersial
2. Penggunaan Psikotropika
3. KKN
4. Perampok
5. Pembunuhan

Disini kita akan membahas masalah Pekerja Sek Komersial ( PSK ) dengan
Penggunaan Psikotropika ( Pecandu Narkoba ). Adapun macam-macam factor
penyebab terjadinya penyakit masyarakat adalah sebagai berikut :
1. Faktor Agama

Faktor agama ini sangat berperan penting dalam pembentukan pribadi seseorang
semakin jauh kehidupan seseorang dari agama maka kehidupannya semakin tidak
terarah dan akan mudah rusak untuk kehidupan yang akan datang. Dan apabila agama
ini tidak diterapkan dalam pribadi seseorang akibatnya akan sangat fatal untuk
kehidupan seorang inilah factor utama penyebab penyakit masyarakat yaitu Pekerja
Sek Komersial dan Pecandu Narkoba, semakin jauh seseorang dari tuhan maka akan
semakin jauh pula cinta dan kasihNya yang biasanya melindungi kita.

2. Faktor Pendidikan
Macam-macam pendidikan yaitu
a. Pendidikan Formal
b. Pendikan Informal
c. Pendidikan Nonformal
Dengan adanya pendidikan seseorang bisa membedakan mana yang baik untuk
dikerjakan dan mana yang buruk dan akan menimbulkan dampak yang negative, maka
pendidikan sangat berperan mulai dari usia dini sehingga kecil kemungkingan
kejahatan akan merusak pribadi seseorang tersebut. Tanpa pendidikan maka akan
mudah jiwa anak yang tidak mempunyai IMTAQ dan IPTEK tergoda akan kehidupan
yang tidak baik dan negative seperti PSK dan Pencandu Narkoba ini karena apa
karena tidak bisa membedakan mana yang harus dijadikan prinsip hidup.

3. Faktor Ekonomi
Peran orang tua sangat penting dalam mengasuh dan mendidik seorang anak sampai
dewasa, orang tua mencukupi kebutuhan anaknya maka anak tersebut akan
mempergunakan hidupnya dengan benar dan sesuai jalur, dan apabila orang tua
terlalu memanjakan anaknya dengan kehidupan yang serba tercukupi tanpa adanya
pengawasan inilah yang dapat menyebab terjadinya penyalahgunaan narkoba, akan
tetapi bagi seorang perempuan apabila kehidupan tidak tercukupi dan tidak
mempunyai pegangan hidup ditambah dengan rapuhnya prinsip hidup beragama maka
akan berakibat perempuan tersebut langsung kepelarian yang sesat yaitu
kebanyakan jadi PSK.

4. Faktor Sosial dan Budaya
Banyak ragam budaya yang masuk kedalam pribadi seseorang akan tetapi tidak
difilter dan dikonsumsi dengan benar, baik cara berpakaian dan budaya lain, factor
budaya berpakaian disini menjadi factor penyebab terjadi tindakan criminal seperti
Pemerkosaan akibat dari cara berpakaian yang tidak sesuai dengan budaya orang
timur dan akhirnya korban pemerkosaan inilah menjadi PSK.

Faktor lain penyebab terjadi penyakit masyarakat tersebut adalah sebagai berikut :
1. Kemajuan IPTEK dan Peradaban
2. Hasrat ingin memperbaiki hidup lebih baik dari hari kemarin
3. Keterbatasan Sumber Daya Alam
4. Pertambahan Jumlah Penduduk yang tidak normal.
Factor ini merupakan penyebab terjadinya
1. Tingkat Pengangguran
2. Tingkat Kemiskinan
3. Tingkat Tindakan Kriminal

B. Apa itu Narkoba dan PSK
Narkoba adalah singkatan dari NARkotika, PsiKOtropika dan BAhan Adiktif lainnya.

Narkotika
Adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintensis
maupun semi sintensis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat
menimbulkan ketergantungan ( candu ).

Psikotropika
Adalah zat atau obat baik alamiah maupun sintesis bukan narkotika yang berkhasiat
psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang dapat
menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku seseorang.

Minuman beralkohol adalah minuman yang mengandung etanol yang diproses dari
bahan hasil pertanian ataupun secara sintensis yang mengandung karbohidrat
dengan dara permentasi dan destilasi maupun yang diproses dengan cara
pengenceran minuman yang mengandung etanol.
Macam-macam Narkoba yaitu sebagai berikut :
1. Heroin
2. Cocain
3. Ganja
4. Ectasy
5. Methamphetamine
6. Obat penenang.

` Sedangkan PSK
Adalah sekumpulan perempuan penghibur yang menghidup pribadinya dengan
menjajakan tumbuhnya dalam rangka untuk mempertahankan hidupnya sehingga
dapat hidup wajar sebagai manusia.

Penyakit yang bisa ditimbulkan PSK adalah sebagai berikut :
1. Penyakit Raja Singa ( Spilis )
2. Penyakit HIV ( Aids )
3. Penyakit menular lainnya.

C. Pandangan Agama dan Masyarakat
1. Pandangan Agama terhadap penyakit masyarakat
Pecandu narkoba agama melarang seseorang untuk mempergunakan dan
mengkonsumsi yang ditegaskan didalam kitab suci dan hadist nabi dilarang
mengkonsumsi hal-hal yang memabukan
Pekerja Sek Komersial agama sangat dan sangat melarang perbuatan yang akan
ditimbulnya yaitu Zina tuhan melarang kita untuk mendekatkan tempat zina apalagi
melakukannya.

2. Pandangan Masyarakat
Pecandu narkoba dianggap masyarakat sebagai sampah dan dianggap orang yang tak
waras karena pas dalam pengaruh narkoba maka sipemakai akan berceloteh yang
buruk.
Pekerja Sek Komersial masyarakat menganggap perempuan yang hina dan sampah
masyarakat.

Dari padangan hukuman pemakai, pengedar narkoba dapat dikenakan sanksi hukum
Undang- Undang dengan pasal yaitu :
1. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1977 tentang Narkotika
Pasal 78 ayat 1 : Barang siapa tanpa hak dan melawan Hukum
Menanam, memelihara, mempunyai dalam persediaan, memiliki atau menguasai
narkotika golongan I dalam bentuk tanaman♣
Memiliki, menyimpan untuk dimiliki atau untuk persediaan, atau menguasai narkotika
golongan I bukan tanaman, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 ( sepuluh )
tahun dan denda paling banyak Rp. 500.000.000,- (Lima ratus juta rupiah)♣
Pasal 81 ayat 2 : barang siapat tanpa hak dan melawan hukum
Membawa , mengirim, mengangkut atau mentransito narkotika dipidana dengan
pidana penjara paling lama 15 ( lima belas ) tahun dan denda paling banyak Rp.
750.000.000 ( tujuh ratus lima puluh juta rupiah );♣
Membawa, mengirim, mengangkut, atau mentransito narkotika golongan II dipidana
dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh ) tahun dan denda paling banyak Rp.
500.000.000 (lima ratus juta rupiah );♣
Mebawa, mengirim, mengangkut atau mentransito narkotika golongan III dipidana
dnegan pidana penjara paling lama 7 ( tujuh ) tahun dan denda paling banyak Rp.
200.000.000 ( dua ratus juta rupiah Pasal 88 ayat 1♣
Pecandu narkotika yang telah cukup umur dan dengan sengaja tidak melapor diri
sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 ayat 2 ( dua ) dipidana dengan pidana
kurungan paling lama 6 (enam ) bulan atau denda paling banyak Rp. 2.000.000,- (dua
juta rupiah )♣

Pasal 88 ayat 2
Keluarga pecandu narkotika sebagaiman dimaksud dalam ayat 1 yang dengan sengaja
tidak melaporkan pecandu narkotika tersebut dipidana dengan pidana kurungan
paling lama 3 ( tiga ) bulan atau denda paling banyak Rp. 1.000.000,- (satu jura
rupiah )♣

2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1977 tentang Psikotropika
Pasal 37 ayat 1
Pengguna psikotropika yang menderita syndroma ketergantungan berkewajiban ikut
serta dalam pengobatan atau perawatan.

Pasal 64 ayat 1
Barang siapa menghalang-halangai penderita syndroma ketergantungan untuk
menjalani pengobatan dan atau perawatan pada fasilitas rehabilitasi sebagaimana
dimaksudkan dalam pasal 37, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 ( satu )
tahun dan atau pidana denda paling banyak 20.000.000,- ( dua puluh juta rupiah).

D. Perbandingan penyakit masyarakat ( Pemakai Narkoba dengan PSK )
Pemakai Narkoba biasanya tumbuh dengan dipengaruhi oleh lingkungan dan Gaya
Hidup yang ingin selalu ceria tidak pernah mau susah, dan ini menjadi permasalahan
Dunia Internasional yang telah dikoordinirkan untuk pemberantasan tindakan
kejahatan dari peredaran narkoba serta negara sudah melakukan kerjasama secara
bilateral dan multilateral untuk pemberantasannya dari pemakai yang diluar kaidah,
dan juga untuk mendapatkan narkoba tersebut sang pemakai akan mencarikan jalan
dengan cara apapun untuk membeli barang tersebut sehingga tindakan criminal lebih
meningkat dan ini mengganggu ketentraman masyarakat pada khususnya dan Negara
pada umumnya, dapat mengakibatkan generasi bangsa yang idiot karena IQ sudah
dipengaruhi oleh obat tersebut sehinggapemakai narkoba biasa akan terkena
penyakit :
1. Candu
2. Over Dosis
3. Kanker Paru-paru
4. dll

Dari Aspek Hukum Pecandu Narkoba dapat dikenakan sanksi-sanksi sebagai
berikut :
1. Hukuman Penjara
Dalam hukuman penjara ini ada yang hukuman kururngan seumur hidup dan ada juga
hukuman sementara.
2. Perampasan hak-hak tertentu oleh aparat Negara terhadap pecandu Narkoba
yang mendapatkan hukuman
3. dll.

Sedangkan Pekerja Sek Komersial ( PSK ) akan mengganggu generasi muda secara
turun temurun, dan akan mengakibatkan pelakunya sendiri akan dikucilkan dari
masyarakat baik hak dan kewajibannya tidak akan diakui ditengah masyarakat yang
bernorma, dan dapat juga pelakunya terkena penyakit yang menular dan tidak ada
obatnya didunia kecuali cara pencegahannya. Tindakan hukum disini tidak dikenakan
tapi hukum agama dikenakan dan dihari pembalasan akan menerimanya. Biasanya
untuk mengentaskannya diadakanlah razia-razia oleh tim terpadu pemerintah
setempat.

E. Cara untuk mengentaskan penyakit masyarakat ( Narkoba dan PSK )
Narkoba dapat dicegah ( Preventif ) dengan cara :
1. Cara Agama
Disinalah peran orang tua menanamkan prinsip islam untuk tidak mempergunakan
hidupnya untuk melakukan perbuatan yang negative dan menamakan prinsip hidup
yang beriman dan bertaqwa.

2. Cara Pendidikan
Peran Sekolah, Guru baik pendidikan formal maupun nonformal dengan menanamkan
jiwa dan pengetahuan yang bermamfaat sehingga hidup dapat terarah kehal yang
positif dan menguntungkan

Dan apabila pecandu narkoba sudah parah dapat dibawa kerumah sakit penyembuhan
kecanduan narkoba, serta tempat konsultan narkoba,stress dan traumatis.

PSK dapat dicegah sedini mungkin dengan menanamkan prinsip agama yang
berorientasi bahagia dunia dan akhirat dan tentu pula harus didukung dengan ilmu
pengetahuan dan teknologi, iman dan taqwa serta ketrampilan yang didapat dari
pendidikan sehingga dapat dipakai didunia yang semakin maju, dengan tercapainya
pekerjaannya sehingga pemenuhan kebutuhannya dapat terpenuhi, dengan tercukupi
kebutuhan tentu orang tersebut akan hidup yang wajar sesuai dengan alur dan
norma yang ada.