REFERAT

Terapi Profilaksis Pada Pasien Tension-Type Headache

Oleh :
Johanes Putra (2013-061-106)
Pembimbing :
dr. Budi Riyanto Wreksoatmodjo, Sp.S
Kepaniteraan Klinik SMF Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atma Jaya

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klafisikiasi Nyeri Kepala
Klasifikasi dari nyeri kepala dibagi berdasarkan dari penyebab nyeri
kepala   itu   sendiri.     Secara   garis   besar   berdasarkan   The   International
Classification   of   Headche   Disorders   3rd  edition   pada   tahun   2013   dibagi
menjadi 3 kategori, yaitu8
            2.1.1  Nyeri kepala primer8
Nyeri   kepala   primer   lebih  sering   terjadi  dibandingkan  dengan   nyeri
kepala sekunder. Nyeri kepala primer adalah nyeri kepala yang timbul tanpa
sebab yang jelas, tidak berhubungan dengan suatu penyakit (idiopatik). Nyeri
kepala   primer   timbul   karena   adanya   interaksi   yang   kompleks   dari   genetik,
perkembangan dan keadaan lingkungan.  Karena nyeri kepala primer bersifat
idiopatik   sehingga   pemeriksaan   neurologis   dan   pemeriksaan   radiologis
menghasilkan   hasil   yang   normal.9  Jenis   nyeri   kepala   primer   antara   lain
migraine, tension­type headache, trigeminal autonomic cephalalgias, dan jenis
lain dari primary headache disorders.8 
2.1.2 Nyeri kepala sekunder8
Nyeri kepala sekunder adalah nyeri kepala yang timbul karena adanya
penyakit dan kondisi lain seperti tumor, aneurisma, inflamasi dan lain­lain.
Walaupun   nyeri   kepala   sekunder   lebih   jarang   terjadi,   penegakan   diagnosis
penting   untuk   dilakukan   karena   sering   kali   penyakit   yang   mendasari   sakit
kepala   mengancam   keselamatan.     Nyeri   kepala   sekunder   dapat   membaik
apabila   penyebab   yang   mendasarinya   diterapi   secara   baik.  9  Nyeri   kepala
sekunder antara lain nyeri kepala yang berikaitan dengan trauma pada kepala
dan atau leher, gangguan pembuluh darah pada kepala dan leher, gangguan
intracranial yang tidak disebabkan pembuluh darah, zat­zat tertentu, infeksi,
gangguan homeostasis, gangguan pada cranium, leher, mata, telinga, hidung,
muka dan stuktur kranial, dan gangguan psikiatrik.8
 Nyeri kepala sekunder harus diwasapadai ketika ditemukan onset baru
dari nyeri kepala dan terdapat perbedaan karakteristik dari nyeri kepala yang
biasa   dialami.   Berikut   adalah   tanda­tanda   yang   harus   diwaspadai   dalam
munculnya nyeri kepala sekunder

Onset   dan   karakteristik   baru   dari   nyeri   kepala   pada   pasien

diatas usia 50 tahun
Peningkatan intensitas dari nyeri kepala secara cepat (beberapa

detik samapai 5 menit)
Terdapat   gangguan   neurologis   fokal   (contoh:   kelemahan


tungkai, aura<5 menit atau >1 jam)
Gangguan nurologis non fokal (gangguan kognitif)
Perubahan dari frekuensi, karakteristik, dan gejala penyerta dari



nyeri kepala
Terdapat hasil yang patologis dari pemeriksaan neurologis
Nyeri kepala yang muncul dengan perubahan posisi
Nyeri kepala yang dapat membangunkan pasien yang sedang

tertidur
Nyeri kepala yang muncul saat pemakaian tenaga dan manuver




valsava (batuk, tertawa, mengejan)
Pasien dengan faktor risiko cerebral venous sinus thrombosis
Kaku kuduk
Demam
Onset baru dari nyeri kepala dengan riwayat penyakit infeksi

HIV 
Onset baru dari nyeri kepala dengan riwayat penyakit kanker.

2.1.3 Nyeri pada cranial neuropati, muka, dan nyeri kepala tipe lainya8
Klasifikasi   terakhir   adalah   nyeri   kepala   yang   disebabkan   oleh
gangguan saraf kranial dan nyeri pada daerah muka. Penyakit yang termasuk
dalam   kelompok   ini   antara   lain   trigeminal   neuralgia,   glossopharyngeal
neuralgia, nervus intermedius neuralgia, dan lain­lain. 8

2.2 Tension Type Headache
2.2.1 Definisi
TTH adalah nyeri kepala bilateral yang menekan (pressing/squeezing),
mengikat,   tidak   berdenyut,   tidak   dipengaruhi   dan   tidak   diperburuk   oleh
aktivitas   fisik,   bersifat   ringan   hingga   sedang,   tidak   disertai   mual   dan   atau
muntah,  serta disertai fotofobia atau fonofobia. 8
2.2.2 Epidemiologi

Sekitar  93%  laki­laki  dan  99%  perempuan  pernah   mengalami   nyeri
kepala.   TTH   merupakan   nyeri   kepala   primer   yang   paling   sering   terjadi.
Sekitar 78% orang dewasa pernah mengalami TTH setidaknya sekali dalam
hidupnya.   TTH   episodic   merupakan   jenis   TTH   yang   paling   sering   terjadi
dengan prevalensi 38­74%. 10
TTH  dapat menyerang  segala usia. Usia dengan prevalensi tertinggi
adalah pada usia 25­30 tahun. Sekitar 40% penderita TTH memiliki riwayat
keluarga  dengan TTH. Prevalensi  seumur hidup pada perempuan  mencapai
88%, sedangkan lai­laki hanya 69%.  Rasio prempuan:laki­laki adalah 5:4.10 
2.2.3  Etiologi
Penyebab dari TTH belum begitu jelas. Selama ini penyebab dari TTH
sering   dihubungkan   dengan   peningkatan   kontraksi   otot   pada   daerah   bahu,
leher, kulit kepala, dan rahang saat pada kondisi stres. Namun menurut teori
terbaru   TTH   terjadi   karena   adanya   perubahan   neurotransmitter   (serotonin)
yang terjadi juga pada nyeri kepala tipe migraine. Pencetus terjadinya TTH
antara lain:11 

Stress

Depresi

Cemas

Menahan kepala pada satu posisi

Kelelahan

Terlambat makan

2.2.4 Patofisiologi
Setelah penelitian beberapa tahun belakangan ini, asal nyeri dari TTH
masih   belum   diketahui   secara   pasti.   Faktor   perifer   (perasaan   nyeri   dari
jaringan pericranial myofascial) dan sentral ( peningkatan eksitasi dari CNS)
memiliki peranan penting pada patofisiologi dari TTH. Asal nyeri dari TTH
sering   dihubungkan   dengan   kontraksi   otot   yang   berlebihan,   iskemik   dan

inflamasi   dari   otot   kepala   dan   leher.   Namun   pada     pemeriksaan
electromyography tidak ditemukan adanya peningkatan yang signifikan pada
TTH.5
Batas ambang rangsang toleransi nyeri  terhadap mekanik, suhu,  dan
stimulus   elektrik   menurun   pada   pasien   dengan   chronic   TTH.   Berdasarkan
studi   yang   telah   dilakukan   diduga   bahwa   nyeri   kronik     pada   kronik   TTH
timbul karena sensitasi sentral di tingkat posterior horn dari medulla spinalis
atau   nucleus   trigeminal   atau   keduanya.   Sensitasi   ini   terjadi   karena   adanya
stimulus nosiseptif yang kontinu pada otot pericranial dan jaringan myofasial.
Diduga   sensitasi   sentral   terjadi   karena   aktivasi   dari   Nitric   oxide   synthase
(NOS) .5
Mekanisme   lain   terjadinya   TTH   karena   adanya   defisiensi   dari
antinociceptif   dari   stuktur   supraspinal   di   CNS.   Penurunan   fungsi   inhibisi
nosiseptif ditemukan pada pemeriksaan electoenccephalogram sehingga terjadi
peningkatan sensitifitas nyeri pada pasien dengan chronic TTH.
Faktor lingkungan dan psikologis berperan penting pada patofisiologi
dari TTH. Stress dan tekanan mental sering menjadi faktor pencetus dalam
terjadinya TTH. Stress juga mencetuskan rasa nyeri yang berlebih pada pasien
dengan kronik TTH. 5
2.2.5. Kriteria Diagnosis
Penegakan   diagnosis   pada   TTH   didapatkan   terutama   dari   deskripsi
penyakit   oleh   pasien   (kriteria   diagnosis).   Tidak   ada   uji   spesifik   untuk
menegakan diagnosis TTH. Pemeriksaan lain yang dilakukan hanya berguna
untuk   menyingkirkan   nyeri   kepala   akibat   sebab   lainnya.   Saat   dilakukan
pemeriksaan neurologis tidak ditemukan adanya kelainan apapun.12  Berikut
merupakan   kriteria   diagnosis   dari   TTH   menurut  The   International
Classification of Headche Disorders 3rd edition pada tahun 2013.8
1. Infrequent episodic tension-type headache8
A. Minimal 10 episode nyeri kepala yang terjadi <1 hari pada tiap bulan (<12
hari dalam setahun) dan memenuhi kriteria B-D
B. Dapat berlangsung selama 30 menit hingga 7 hari

C. Memenuhi 2 dari 4 kriteria berikut:
o Bilateral
o Terasa seperti ditekan/ diikat (non-pulsating)
o Intensitas ringan atau sedang
o Tidak diperberat oleh aktivitas fisik sehari-hari (seperti berjalan
atau naik tangga)
D. Tidak disertai mual maupun muntah, dapat disertai

salah satu dari

fotofobia atau fonofobia
1.1

Infrequent episodic tension-type headache associated with pericranial
tenderness8
A. Memenuhi kriteria infrequent episodic tension-type headache
B. Nyeri perikranium meningkat pada saat dilakukan palpasi

1.2

Infrequent episodic tension-type headache not associated with pericranial
tenderness8
A. Memenuhi kriteria infrequent episodic tension-type headache
B. Nyeri pada perikranium tidak meningkat
2. Frequent episodic tension-type headache8
A. Minimal 10 episode nyeri kepala yang terjadi 1-14 hari pada tiap bulan
selama >3 bulan ( ≥12 dan <180 hari tiap tahun) dan memenuhi kriteria
B-D
B. Dapat berlangsung selama 30 menit hingga 7 hari
C. Memenuhi 2 dari 4 kriteria berikut:
o Bilateral
o Terasa seperti ditekan/ diikat (non-pulsating)
o Intensitas ringan atau sedang
o Tidak diperberat oleh aktivitas fisik sehari-hari (seperti berjalan atau
naik tangga)
D.Tidak disertai mual maupun muntah dan dapat disertai minimal satu
dari fotofobia atau fonofobia
2.1 Frequent episodic tension-type headache associated with

pericranial

tenderness8
A. Memenuhi kriteria frequent episodic tension-type headache
B. Nyeri perikranium meningkat pada saat dipalpasi
2.2 Frequent episodic tension-type headache not associated with pericranial
tenderness8
A. Memenuhi kriteria frequent episodic tension-type headache

B. Nyeri perikranium tidak meningkat saat di palpasi
3. Chronic tension-type headache8
A. Nyeri kepala berlangsung ≥ 15 hari pada tiap bulan, selama > 3 bulan
( ≥180 hari tiap tahun), memenuhi kriteria B-D
B. Berlangsung beberapa jam hingga beberapa hari, atau konstan
C. Memenuhi 2 dari 4 kriteria berikut:
o Bilateral
o Terasa seperti ditekan/ diikat (non-pulsating)
o Intensitas ringan atau sedang
o Tidak diperberat oleh aktivitas fisik sehari-hari (seperti berjalan atau
naik tangga)
D. Dapat disertai salah satu dari: fotofobia, fonofobia, atau mual ringan. Tidak
disertai mual dengan intensitas sedang atau berat, maupun muntah
3.1 Chronic tension-type headache associated with pericranial tenderness8
A. Memenuhi kriteria chronic tension-type headache
B. Nyeri perikranium meningkat saat di palpasi

3.2 Chronic tension-type headache not associated with pericranial tenderness8
A. Memenuhi kriteria chronic tension-type headache
B. Nyeri perikranium tidak meningkat saat di palpasi
4. Probable tension-type headache8
Mirip dengan TTH tetapi tidak dapat digolongkan dalam subtipe TTH
yang disebutkan di atas, dan tidak memenuhi kriteria dari gangguan nyeri
kepala lain.
4.1 Probable infrequent episodic tension-type headache8
a. 1 atau lebih episode nyeri kepala, yang memenuhi seluruh kriteria kecuali 1
kriteria dari infrequent episodic tension-type headache
b.Tidak memenuhi kriteria ICHD-3 untuk gangguan nyeri kepala lainnya
4.2 Probable frequent episodic tension-type headache8

a.Episode nyeri kepala memenuhi seluruh kriteria kecuali 1 kriteria dari
frequent episodic tension-type headache
b.Tidak memenuhi kriteria ICHD-3 untuk gangguan nyeri kepala lainnya
4.3 Probable chronic tension-type headache8
a.Episode nyeri kepala memenuhi seluruh kriteria kecuali 1 kriteria dari
chronic episodic tension-type headache
b.Tidak memenuhi kriteria ICHD-3 untuk gangguan nyeri kepala lainnya
2.3 Tatalaksana
Secara umum terapi dari  tension­type headache  dibagi menjadi dua,
yaitu terapi akut dan terapi profilaksis. Terapi akut dimana memiliki tujuan
untuk   menghentikan   atau   mengurangi   intersitas   serangan   pada   TTH.   Pada
terapi akut analgesik dan NSAIDs tetap menjadi pilihan pertama. Sedangkan
terapi   profilaksis   memiliki   tujuan   untuk   mecegah   timbulnya   TTH   yang
berulang. Terapi profilaksis dibagi menjadi dua, yaitu terapi farmakologis dan
terapi non farmakologis.12

2.3.1 Terapi farmakologis profilaksis pada TTH
 Profilaksis farmakoterapi  harus dipertimbangkan pada pasien dengan
TTH kronik dan  frequent episodic TTH.  Tricyclic antidepresan amitriptyline
telah   menjadi   pilihan   pengobatan   setelah   sekian   lama.   Sekarang   obat­obat
seperti   jenis   muscle   relaxants,   anticovulsan,   dan   botulinum   toxin   telah
digunakan pada chronic TTH.7
Cyclobenzaprine adalah suatu  muscle relaxant  yang stukturnya mirip
dengan   amitriptyline.     Menurut   penelitian   10   dari   20   pasien   TTH   yang
menerima   Cyclobenzaprine   menunjukan   perbaikan.   Dosis   yang   digunakan
dalam mengobati TTH adalah 10 mg saat malam hari. Selain Cyclobenzaprine,
tizanidine juga dilaporkan efektif dalam mengobati chronic TTH.  Dosis yang
digunakan dititrasi dari 2 mg sampai 20 mg perhari. Efek sedasi merupakan
efek samping dari pengobatan ini.13

Valaproat (gamma­aminobutryric acid) merupakan salah satu jenis dari
anticonvulsan   yang   cukup   sering   digunakan   pada   sakit   kepala.     Terdapat
penelitian yang menguji efektivitas dari Valproat. Ditemukan dosis efektif dari
valproat ini adalah 1000­2000 mg per hari dimana menunjukan perbaikan pada
chronic   TTH   setelah   3   bulan   pengobatan.   Efek   samping   yang   sering
dilaporkan adalah peningkatan berat badan, tremor, rambut rontok, dan mual.13
Injeksi   Botulinum   Toxin   sering   dikaitkan   dengan   pengobatan   pada
pasien   dengan   nyeri   kepala   kronis.   Namun   literatur   yang   mebahas   tentang
efektifitas   dari   injeksi   Botulinum   Toxin   masih   sangat   bervariasi.   Menurut
meta­analysis   yang   dilakukan   oleh   American   Medical   Association,   injeksi
botulinum toxin tidak memiliki manfaat dalam terapi profilaksis pada episodic
migraine  dan  chronic   TTH.   Namun   Botulinum   toxin   masih   memberikan
manfaat pada penyakit chronic migraine headache.14
Tricyclic   antidepresan   amitriptyline   tetap   merupakan   obat   pilihan
pertama pada chronic TTH. Menurut peneilitian 40­70% pasien TTH dengan
pengobatan Trcyclic antidepresan menunjukan perkembangan yang signifikan
dimana   teradapat   50%   perbaikan   gejala   pada   nyeri   kepala   dan   terjadi
pengurangan   penggunaan   obat   analgesik.   Namun,   efek   dari   terapi   ini   baru
terlihat   setelah   6   bulan   dari   pemakaian   pertama. 7  Tricyclic   lebh   efektif
dibandingkan   dengan  Selective   Serotonin   Reuptake   Inhibitor  dengan
mengurangi 50% timbulnya nyeri kepala yang berulang.15,16
 

Pengobatan amitriptyline dimulai dengan dosis rendah (10­25mg/hari)

dan dilakukan titrasi sebesar 10­25 mg setiap minggu sampai mencapai hasil
terapi yang memuaskan. Dosis pemeliharaan yang paling sering dipakai adalah
30­75 mg per hari yang diminum 1­2 jam sebelum waktu tidur. Efek terapi
dari amitriptyline harus diobservasi dalam seminggu pertama sejak memulai
dosis terapi.   Jika pasien tidak berespon pada setelah 4 minggu pada dosis
pemeliharaan, pengobatan profilaksis dapa diganti menggunakan pilihan lain. 7

            
2.3.2 Terapi non-farmakologis pada TTH
Penelitian lebih lanjut tentang terapi non-farmakologis masih terus
dilakukan. Pada kondisi-kondisi tertentu seperti kehamilan, toleransi yang
buruk terhadap pengobatan farmakologis, riwayat pengobatan jangka panjang
dengan pengobatan analgesik dan lain-lain membuat terapi non farmakologis
dapat menjadi pilihan alternatif dalam pengobatan TTH.17
Identifikasi faktor pencetus sangatlah penting untuk dilakukan.
Pencetus TTH yang paling sering dialami pasien adalah stress (secara mental
atau fisik), makan yang tidak teratur, konsumsi kafein yang berlebih,
dehidrasi, gangguan tidur, tidur yang terlalu banyak atau sedikit, aktivitas fisik
yang minim, serta siklus menstrual dan faktor hormonal pada wanita.7
2.3.2.1 Psycho-behavioural treatments
Terapi ini banyak digunakan dalam menangani TTH kronik. Psychobehavioural treatment yang

paling

umum

digunakan

adalah

EMG

biofeedback, cognitive behavioural therapy, dan terapi relaksasi. Selain itu,
hipnoterapi juga dilaporkan efektif dalam menangani TTH kronik, namun
belum terbukti kebenarannya. 7
A. EMG biofeedback
Biofeedback adalah suatu teknik yang bertujuan melatih pasien untuk
meningkatkan kesehatannya dengan mengendalikan keadaan tubuh tertentu
yang involunter seperti detak jantung, tekanan darah, ketegangan otot, dan
suhu kulit. Padap kulit pasien ditempelkan elektroda dan dihubungkan ke
monitor untuk membantu biofeedback terapis memantau perubahan yang

terjadi pada tubuh pasien. Terdapat berbagai macam terapi dari biofeedback
antara lain dengan menggunakan EMG biofeedback yang berguna untuk
mengukur ketegangan otot, thermal biofeedback untuk mengukur suhu kulit,
dan neurofeedback atau EEG biofeedback untuk mengukur aktivitas
gelombang otak.18,19
Pada TTH digunakan jenis EMG biofeedback. Tujuan dari EMG
biofeedback adalah untuk membantu pasien mengenali dan mengendalikan
ketegangan otot dengan cara memberikan feedback secara terus menerus
terhadap aktivitas otot.7 Pada umumnya EMG biofeedback ini digunakan
untuk mengatasi stress yang menyebabkan timbulnya suatu penyakit,, salah
satunya pasien dengan TTH. Dengan bimbingan dari terapis biofeedback,
pasien akan dibimbing untuk mengatasi gejala klinis yang timbul karena stress
dengan menggunakan metode relaksasi dan latihan mental. 18
Setiap sesi berlangsung selama satu jam. Sesi terdiri dari adaptation
phase, baseline phase, training phase dimana feedback diberikan, dan self
control phase dimana pasien berlatih mengendalikan ketegangan otot tanpa
adanya feedback.

Jumlah sesi yang dibutuhkan disesuaikan dengan jenis

penyakit yang diderita oleh pasien. Pada pasien dengan TTH dibutuhkan sesi
selama 10 minggu dan sesi follow up. 18
Dari   5   studi   yang   dianalisis,   terapi   EMG   biofeedback   memberikan
40%   perbaikan   pada   penilaian   headache   index.   Headache   index   menilai
frekuensi, tingkat keparahan, dan durasi dari nyeri kepala.17

B. Terapi perilaku kognitif
Terapi perilaku kognitif (CBT) adalah terapi psikologis yang berfokus
pada kognitif dan perilaku. Terapi perilaku kognitif bertujuan mengajarkan
pasien untuk mengidentifikasi pemikiran dan keyakinan yang dapat
menimbulkan stres dan kemudian mencetuskan nyeri kepala. CBT berfokus
pada hubungan antara kognitif, perilaku, dan perasaan terhadap gejala klinis,
fungsi, dan kualitas hidup dari seseorang. Diharapkan dengan CBT seseorang
dapat mengubah cara untuk berpikir, bertindak, dan merasakan dari kesulitan
yang mereka hadapi.19,20
Berbagai penelitian menunjukan bahwa CBT efektif dalam mengobati
penyakit-penyakit yang dipengaruhi oleh gangguan psikologis antara lain
panic disorder, depresi, gangguan anxietas menyeluruh. Selain itu, CBT juga
memiliki fungsi dalam mengatasi Chronic TTH. 20
CBT pada umumnya terdiri dari 6 sampai 20 sesi dan memiliki target
pencapaian yang sudah ditentukan. Relasi antara pasien dengan terapis
mempengaruhi hasil akhir dari CBT. Diharapkan dengan relasi yang baik,
pasien dan terapis dapat menemukan pemikiran dan perilaku yang
menyimpang dan menghasilkan suatupandagan baru yang lebih baik. Hasil ini
dapat dicapai dengan melakukan beberapa teknik seperti melalukan
introspeksi diri, membuka diri, edukasi, simulasi kasus dalam menghadapi
masalah, dan manajemen stress. 20 Dari 7 percobaan yang dilakukan CBT ratarata memberikan 49% perbaikan pada headache index. 17
C. Terapi relaksasi
Tujuan dari terapi relaksasi adalah untuk membantu pasien mengenali
dan mengendalikan tekanan yang cenderung meningkat dari aktivitas seharihari. Untuk melaksanakan terapi ini dibutuhkan waktu selama 10 menit setiap
pagi dan malam. Terapi relaksasi membutuhkan tempat yang tenang dan
kondisi pikiran pasien yang tenang pula. Pertama pasien diminta untuk
berbaring ditempat yang nyaman, sangat penting diperhatikan agar pasien
telah masuk kedalam kondisi yang sangat tenang. Terapis memeriksa otot-otot
tungkai, lengan, leher, kepala, mata, dan rahang untuk memastikan tidak ada

otot yang tegang. Ketika telah mencapai relaksasi tubuh secara keseluruhan,
pasien diminta untuk memikirkan sesuatu yang dapat membawa ketenangan
kepada dirinya selama 5 menit.19,21
Diharapkan dengan latihan ini, pasien dapat membawa suasana yang
tenang dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga diharapkan tingkat stress dalam
menghadapi kehidupan sehari-hari dapat berkurang. 21 Dari 10 penelitian yang
ada, terapi relaksi rata-rata memberikan 32% perbaikan pada headache index.17
2.3.2.2 Non-invasive physical therapy
Terapi fisik seperti perbaikan postur, pemijatan, manipulasi spinal,
terapi oromandibular, program olahraga, ultrasound, dan stimulasi elektrik
digunakan dalam terapi TTH. Namun kebanyakan dari terapi ini belum dapat
dibuktikan secara pasti melalui bukti-bukti penelitian dan medis. Sehingga
efektifitas dari terapi tersebut belum diketahui secara pasti.7
2.3.2.3 Accupunture and nerve block
Efek profilaksis dari akupuntur telah diteliti dari beberapa percobaan
pada pasien dengan frequent episodic atau chronic TTH. Dari beberapa
penelitian dan analisis, belum ditemukan bukti yang mendukung tentang
efektifitas dari terapi ini. 7

2.3.2.4 Kesimpulan Terapi Non Farmakologi
EMG biofeedback memiliki hasil yang paling efektif untuk pengobatan
TTH. Sedangkan cognitive-behavioural therapy, relaxation training, non
invasive physical therapy, dan acupuncture and nerve block mungkin memiliki
efek terhadap TTH, namun sampai saat ini belum ada bukti yang cukup untuk
mendukung terapi ini.

2.4 Prognosis
TTH memiliki intensitas nyeri kepala dari ringan sampai sedang oleh
karena itu jarang membuat seseorang menderita dan membutuhkan terapi
darurat. Namun walaupun tidak berbahaya, kronik TTH seringkali
memberikan efek negatif terhadap kualitas hidup, keluarga, dan produktivitas
dari pekerjaan. Beberapa penelitian melaporkan bahwa ditemukan penurunan
kualitas hidup dari seseorang yang menderita kronik TTH dibandingkan orang
yang tidak memiliki penyakit tersebut. Banyak orang yang menderita kronik
TTH juga mengalami depresi dan cemas.11
TTH dapat diobati dan dicegah dengan tatalaksana yang baik. Episode
dari TTH dapat berkurang dengan berjalannya waktu. Dari suatu studi
dilaporkan bahwa hampir dari setengah pasien dari kronik TTH tidak
mengalami nyeri kepala setelah diperiksa 3 tahun setelah kontrol terakhir. 11

BAB III
KESIMPULAN
Nyeri kepala memiliki etiologi yang sangat banyak, oleh karena itu klasifikasi
nyeri kepala sangatlah dibutuhkan dalam menentukan jenis dari nyeri kepala.  Tension
type­headache termasuk sebagai nyeri kepala primer yang paling sering terjadi. TTH

memiliki   karakteristik   seperti   nyeri   kepala   bilateral   yang   menekan
(pressing/squeezing),   mengikat,   tidak   berdenyut,   tidak   dipengaruhi   dan   tidak
diperburuk oleh aktivitas fisik, bersifat ringan hingga sedang, tidak disertai mual dan
atau muntah,  serta disertai fotofobia atau fonofobia
Terapi dari TTH secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu terapi akut dan
terapi   profilaksis.   Pada   terapi   akut   analgesik   dan   NSAIDs   tetap   menjadi   pilihan
pertama.  Terapi profilaksis terdiri dari dua bagian yaitu, terapi farmakologis dan
terapi non farmakologis. Pada terapi profilaksis farmakologis tricyclic antidepresan
amitriptyline tetap merupakan obat pilihan pertama pada chronic TTH. Pengobatan
amitriptyline   dimulai   dengan   dosis   rendah   (10­25mg/hari)   dan   dilakukan   titrasi
sebesar   10­25   mg   setiap   minggu   sampai   mencapai   hasil   terapi   yang   memuaskan.
Dosis   pemeliharaan   yang   paling   sering   dipakai   adalah   30­75   mg   per   hari   yang
diminum   1­2   jam   sebelum   waktu   tidur.     Pada   terapi   non   farmakologis   EMG
biofeedback merupakan terapi yang paling efektif dalam profilaksis dari kronik TTH
karena memiliki bukti ilmiah yang kuat.

DAFTAR PUSTAKA
1. Clinch CR. Evaluation of Acute Headaches in Adult. American
Family Physician. 2001 Feb;63(4):685-692
2. Headache disorders[Internet]. [Place
unknown]:WHO;2012[updated 2012 October 14; cited 2014
April 8] Available from: http://www.who.int/mediacentre/en/
3. Chai NC, Jason D, Peterlin BL. The Epidemiology and
Comorbidities of Migraine and Tension-Type Headache. 2012
Jan:16(1):4-13

4. Blanda M. Tension Headache [Internet].[Place unknown]:
Medscape;2012 [updated 2012 May 17; cited 2014 April 8].
Avaible from: http://emedicine.medscape.com/article/792384workup
5. Ashina S, Bendtsen L. Pathophysiology of Migraine and
Tension-Type Headache. ELSEVIER. 2012 Jan: 16(1):14-18
6. Migraine and Tension Headache Diagnosis and Treatment
Guideline. [Internet]. [Place
unknown]:GroupHealth;2011[updated 2011 Juni 14; cited
2014 April 8] Available from: http://www.ghc.org/allsites/guidelines/headache.pdf
7. L.Bendtsen, S.Evers, et al. EFNS guideline on the treatment of tension­
type headache. European Journal of Neurology.2010 Feb;17:1318­1325
8. Olesen J, Kunkel Robert, Lance JW, Napii G, et al. The
International Classification of Headache Disorders, 3rd Edition.
International Headache Society.2013 Maret; 33(9):629-808.
9. Primary and Secondary Headaches[Internet]. [Place
unknown]:Johns Hopskin Medicine;2010[updated 2011 Juni 13;
cited 2014 April 8] Available from:
http://www.hopkinsmedicine.org/neurology_neurosurgery/spec
ialty_areas/headache/conditions/primary_vs_secondary_heada
ches.html
10. Nugroho D. Tension Type Headache. Brain and Circulation
Institute of Indonesia. 2014 Apr:41(3):186-191
11. Tension Headache[Internet]. [Place unknown]:University of
Maryland Medical Center;2013[updated 2013 May 7; cited
2014 April 8] Available from:
http://umm.edu/health/medical/altmed/condition/tensionheadache
12. Dewanto G, Suwono WJ, Riyanto B, Taruna Y. Diagnosa dan
Tatalaksama Penyakit Saraf. Jakarta:ECG,2009.
13. Solomon GD. Chronic tension­type headache:Advice for the viselike­
headache patient.Cleveland Clinic Journal of Medicine.2002 Feb;69(2);167­
172
14. Jackson JL, Kuriyama A, Hasashino. Botulinum Toxin A for 
Prophylactic Treatment of Migraine and Tension Headaches in Adults A 
Meta­analysis.JAMA.2012 Apr;307(16):1736­45
15. Jackson JL, Shimeall W, Sessums L, et al. Tricyclic antidepressants 
and headaches: systematic review and meta­analysis. BMJ.2010 Apr;341:1­13
16. Howe L. Treatments for Tension Headache and Chronic Daily 
Headache.ACPE.2012 Mar;756:1­30
17. Cambhell MD. Evidenced-Based For Migraine Headache:
Behavioral and Physical Treatments. American Academy of
Neurology. 1999 Apr;1:1-29
18. Biofeedback [Internet]. [Place unknown]:University of
Maryland Medical Center;2013[updated 2013 May 7; cited
2014 April 8] Available from:
http://umm.edu/health/medical/altmed/treatment/biofeedback

 

 

19. Penzien DB, Andrasik F, Freidenberg, et al. Guidelines for Trials of 
Behavioral Treatments for Recurrent Headache, First Edition: American 
Headache Society Behavioral Clinical Trials Workgroup. Headache.2005 
June;45[2]:110­132
20. What is Cognitive Behavioral Therapy? [Internet]. [Place
unknown]:UNC School of Medicine;2010[updated 2011 May 8;
cited 2014 April 8] Available from:
http://www.med.unc.edu/ibs/files/educational-gihandouts/Cognitive%20Behavioral%20Therapy.pdf
21. Relaxation Exercises for People with Headache. [Internet].
[Place unknown]:London Headache Center;2010[updated
2010; cited 2014 April 8] Available from:
http://www.londonheadachecentre.co.uk/LHC-relaxationexercises-for-headache.pdf