BAB I PENDAHULUAN

1.1

Umum Istilah industri kreatif telah mulai banyak dibicarakan oleh kalayak ramai,

tetapi pengertian industri ini masih samar-samar bagi kebanyakan orang. Banyak pertanyaan yang tidak sempat terjawab sebab sudah muncul lagi istilah-istilah lainnya. Pertumbuhan industri kreatif pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari perkembangan peradaban umat manusia sendiri. Pada tahap awal perkembangan peradaban manusia ditandai oleh sektor pertanian, yang kemudian disusul oleh peradaban berbasis industri, teknologi dan kini gagasan (kreatifitas). Dalam bangun ekonomi ini mereka yang memiliki gagasan yang unggul yang akan mampu memperoleh keuntungan ekonomis yang besar. Industri kreatif kerapkali dimaknai sebagai industri yang berfokus pada kreasi dan eksploitasi produk yang memiliki hak kekayaan intelektual. Di samping itu, aktivitas industri kreatif berkisar pada pendesainan, penciptaan dan pemasaran objek atau karya seni di mana nilai dari objek tersebut bersumber pada orisinalitas estetikanya. Definisi industri kreatif yang paling banyak dirujuk, kita tahu, berasal dari Departemen Budaya, Media dan Olah Raga pemerintah Inggris yang berbunyi “industri yang berasal dari pemanfaatan kreatifitas, ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan 1

2 mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut”. Definisi ini memiliki pengaruh yang luas, sehingga sejumlah negara, termasuk Indonesia, mengadopsinya. Setidaknya ada empat belas sektor yang termasuk dalam industri kreatif itu, menurut cetak biru ekonomi kreatif Departemen Perdagangan, antara lain: a. Periklanan Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi dan produksi iklan, diantaranya adalah riset pasar, perencanaan komunikasi iklan, iklan luar ruang, produksi material iklan, promosi, kampanye relasi publik dan tampilan iklan di media cetak dan elektronik. b. Arsitektur Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan cetak biru bangunan dan informasi produksi diantaranya adalah arsitektur taman, perancangan kota, perencanaan biaya konstruksi, konservasi bangunan warisan dan dokumentasi lelang. c. Pasar Seni dan Barang Antik Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi dan perdagangan produk antik dan hiasan melalui lelang, galeri, toko, pasar swalayan dan internet. d. Kerajinan Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan produksi dan distribusi pokok kerajinan, antara lain kerajinan yang terbuat dari besi, tembaga, batu berharga, batu mulia, kayu, porselin, marmer, kain dan kapur.

3 e. Desain Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kegiatan desain grafis, desain interior, desain produk, desain industri, desain pengemasan dan konsultasi identitas perusahaan. f. Fesyen Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi desain pakaian, desain alas kaki, desain asesoris mode, produksi pakaian mode dan asesorisnya, konsultan lini produk fesyen serta distribusi produk fesyen. g. Video, Film dan Fotografi Kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi produksi video, film dan jasa fotografi. Termasuk didalamnya penulisan naskah, alih suara, sinematografi, sinetron dan eksibisi film. h. Permainan Interaktif Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi dan distribusi permainan komputer dan video yang bersifat hiburan, ketangkasan dan edukasi. i. Musik Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi dan ritel rekaman suara, hak cipta rekaman, promosi musik, penulisan lirik, penciptaan lagu dan aransemen musik, pertunjukan musik dan komposisi musik. j. Seni Pertunjukan Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan perkembangan isi pertunjukan seni, produksi pertunjukan, pertunjukan tari, pertunjukan drama, pertunjukan

4 musik, opera, desain dan pembuatan busana pertunjukan, tata panggung dan tata pencahayaan. k. Penerbitan dan Percetakan Kegiatan kreatif yang terkait dengan penulisan dan penerbitan buku, jurnal, koran, majalah, tabloid, konten digital serta kegiatan kantor berita. l. Layanan Komputer dan Piranti Lunak Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan pengembangan teknologi informasi termasuk jasa layanan computer, pengembangan piranti lunak, integrasi sistem, desain dan analisa sistem, desain arsitektur piranti lunak, desain prasarana piranti lunak dan piranti keras serta desain portal. m. Televisi dan Radio Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan usaha kerasi, produksi dan pengemasan, pernyiaran dan transmisi televisi dan radio. n. Riset dan Pengembangan Kegiatan kreatif yang terkait dengan usaha inovatif yang menawarkan penemuan ilmu pengetahuan serta penerapan ilmu pengetahuan tersebut dalam perbaikan produk, kreasi produk baru, proses baru, material baru, alat baru, metode baru, dan teknologi baru yang dapat memenuhi kebutuhan pasar. Pada saat informasi sudah menjadi hal yang paling penting dalam kehidupan sehari-hari dan diikuti dengan perkembangan teknologi yang semakin lama semakin berkembang maka semakin besar pula kebutuhan manusia tehadap informasi yang akurat, cepat dan praktis.

5 Scissors Apparel adalah suatu perusahaan yang termasuk dalam salah satu kategori industri kreatif yaitu, fesyen. Dalam kegiatan penjualannya, Scissors Apparel menggunakan sistem penjualan secara konsinyasi. Sebagai objek penelitian, penulis memilih Scissors Apparel, karena secara umum tempat tersebut masih menggunakan sistem manual dalam proses pengolahan data termasuk dalam sistem penjualan konsinyasi.

1.2

Maksud dan Tujuan Maksud penulis melakukan Kuliah Kerja Praktek (KKP) yaitu:

1.

Sebagai

pengalaman

untuk

menerapkan

dan

memperluas

wawasan

pengetahuan di dalam kegiatan riset, membentuk pola pikir penulis untuk menjadi pribadi yang memiliki wawasan pengetahuan yang konkrit. 2. Mengetahui sistem yang berjalan dalam kegiatan penjualan konsinyasi pada perusahaan Scissors Apparel Sukabumi. Sedangkan tujuan dari penulisan KKP ini adalah sebagai suatu konsekuensi terhedap penerapan kurikulum pada program Diploma Tiga (D.III) jurusan Komputerisasi Akuntansi di Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (AMIK) Bina Sarana Informatika (BSI) Sukabumi yang memiliki bobot 2 (dua) sks.

6 1.3 Metode Penelitian Dalam penulisan laporan Kuliah Kerja Praktek (KKP) ini, penulis melakukan beberapa metode dalam proses pengumpulan data, antara lain : 1. Metode Wawancara Suatu bentuk metode riset dengan mengajukan beberapa pertanyaan terhadap orang yang mempunyai peran penting pada objek penelitian penulis. Penulis melakukan wawancara secara langsung kepada pihak-pihak yang berkaitan dengan sistem penjualan secara konsinyasi di Scissors Apparel. 2. Observasi Proses pengamatan objek penelitian secara langsung di lapangan pada saat melakukan riset. Penulis melakukan pengamatan langsung ke perusahaan tersebut untuk mendapatkan segala sesuatu yang ada kaitannya dengan kegiatan penjualan konsinyasi untuk mengetahui masalah yang terjadi pada sistem berjalan. 3. Studi Pustaka Mencari data dan fakta dengan mengkaji sumber-sumber pustaka yang berhubungan dengan objek penelitian. Dalam hal ini penulis memperoleh buku-buku, dan artikel-artikel di internet .

7 1.4 Ruang Lingkup Penulis disini mengambil judul “ANALISA SISTEM PENJUALAN SECARA KONSINYASI PADA SCISSORS APPAREL SUKABUMI” yaitu untuk mengetahui proses penjualan secara konsinyasi yang meliputi proses persiapan barang, proses pengiriman barang dan proses pembuatan laporan penjualan.

1.5

Sistematika Penulisan Sistematika penulisan merupakan penjabaran dari setiap isi bab yang ditulis

didalam laporan secara global. Sistematika penulisannya sebaagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Bab ini meliputi pembahasan umum, maksud dan tujuan, metode penelitian, ruang lingkup serta sistematika penulisan. BAB II LANDASAN TEORI Bab ini berisikan penjelasan mengenai konsep dasar sistem dan peralatan pendukung yang terdiri dari diagram arus data dan kamus data. BAB III ANALISA SISTEM BERJALAN Bab ini berisikan masalah umum, tinjauan organisasi, struktur organisasi, tugas dan fungsi organisasi, prosedur sistem berjalan, diagram alir data, spesifikasi sistem berjalan, bentuk dokumen masukan dan keluaran, permasalahan pokok serta alternatif pemecahan masalah. BAB IV PENUTUP Bab ini berisikan tentang kesimpulan dan saran.

8

BAB II LANDASAN TEORI

2.1

Konsep Dasar Sistem Sistem menurut Steven A. Moscove yaitu “suatu kesatuan (entity) yang

terdiri dari bagian-bagian (subsistem) yang saling berkaitan, dengan tujuan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu”. Dan menurut Gordon B. Davis sistem adalah “seperangkat unsur-unsur yang terdiri dari manusia, alat-alat, prosedur dan konsep yang dihimpun untuk maksud dan tujuan bersama”. Selain definisi diatas, terdapat dua kelompok pendekatan didalam

mendefinisikan sistem yaitu pendekatan sistem yang berorientasi terhadap prosedur dan pendekatan sistem yang berorientasi pada elemen atau komponennya. Pendekatan sistem yang berorientasi terhadap prosedur merupakan suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling terintegrasi, berkumpul bersamasama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu. Prosedur itu sendiri menurut Mulyadi adalah “suatu urutan kegiatan klerikal, biasanya melibatkan beberapa orang dalam suatu departemen atau lebih, yang dibuat untuk menjamin penanganan secara seragam transaksi perusahaan yang terjadi berulang-ulang”. Jadi sistem adalah serangkaian jaringan prosedur yang dibuat menurut pola yang terpadu dan dikoordinasikan untuk melaksanakan kegiatan pokok perusahaan sehingga tercapai tujuan perusahaan. Sedangkan prosedur adalah suatu urutan kegiatan klerikal yang membentuk sistem. Sedangkan pendekatan sistem yang

9 berorientasi pada elemen atau komponen merupakan kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

2.1.1 a.

Karakteristik Sistem Komponen Sistem ( Components ) Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi, bekerja sama membentuk satu kesatuan. Komponen sistem dapat berupa suatu subsistem atau bagian-bagian dari sistem. Setiap sistem tidak perduli betapapun kecilnya, selalu mengandung komponen-komponen atau subsistemsubsistem. Setiap subsistem mempunyai sifat-sifat dari sistem untuk menjalankan suatu fungsi tertentu dan mempengaruhi proses sistem secara keseluruhan. Suatu sistem dapat mempunyai suatu sistem yang lebih besar yang disebut supra sistem. misalnya suatu perusahaan dapat disebut dengan suatu sistem dan industri yang merupakan sistem yang lebih besar dapat disebut dengan supra sistem. Demikian juga bila perusahaan dipandang sebagai suatu sistem, maka sistem akuntansi adalah subsistemnya.

b.

Batasan Sistem ( Boundary ) Batasan sistem merupakan daerah yang membatasi antara suatu sistem dengan sistem yang lainnya atau dengan lingkungan luarnya. Batas sistem ini memungkinkan suatu sistem dipandang sebagai suatu kesatuan. Batas suatu sistem menunjukkan ruang lingkup dari sistem tersebut.

10 c. Lingkungan Luar Sistem ( Environment ) Lingkungan luar sistem adalah apapun di luar batas dari sistem yang mempengaruhi operasi sistem. Lingkungan luar sistem ini dapat bersifat menguntungkan dan dapat juga bersifat merugikan sistem tersebut. Lingkungan luar yang menguntungkan merupakan energi bagi sistem tersebut, dengan demikian lingkungan luar tersebut harus tetap dijaga dan dipelihara. Sedangkan lingkungan luar yang merugikan harus dikendalikan, kalau tidak maka akan mengganggu kelangsungan hidup dari sistem tersebut. d. Penghubung Sistem ( Interface ) Merupakan media penghubung antara satu subsistem dengan subsistem yang lainnya. Bentuk keluaran dari suatu subsistem akan menjadi masukan untuk subsistem yang lainnya dengan melalui penghubung tersebut. Dengan demikian dapat terjadi suatu integrasi sistem yang membentuk satu kesatuan. e. Masukan Sistem ( Input ) Energi yang dimasukkan kedalam sistem disebut masukan sistem yang dapat berupa pemeliharaan (maintenance input) dan sinyal (signal input). Sebagai contoh didalam suatu unit sistem komputer. Program adalah maintenance input yang digunakan untuk mengoperasikan komputernya dan data adalah signal input untuk diolah menjadi informasi. f. Keluaran Sistem ( Output ) Hasil dari energi yang diolah dan diklasifikasikan menjadi keluaran yang berguna. Keluaran ini merupakan masukan bagi subsistem yang lain. Seperti contoh sistem informasi, keluaran yang dihasilkan adalah informasi yang

11 mana informasi ini dapat digunakan sebagai masukan untuk pengambilan keputusan atau hal-hal lain yang menjadi input bagi subsistem yang lainnya. g. Pengolah Sistem ( Process ) Suatu sistem dapat mempunyai suatu proses yang akan merubah masukan menjadi keluaran, sebagai contoh sistem akuntansi. Sistem ini akan mengolah data transaksi menjadi laporan-laporan yang dibutuhkan oleh pihak manajemen. h. Sasaran Sistem ( Objective ) Yaitu segala sesuatu yang harus dicapai dalam pelaksanaan sebuah sistem. Sasaran sangat menentukan kebutuhan akan masukan dan keluaran yang diharapkan. Suatu sistem memiliki tujuan dan sasaran yang pasti dan bersifat deterministik. Kalau suatu sistem tidak memiliki sasaran, maka operasi sistem tidak ada gunanya. Suatu sistem dikatakan berhasil bila mengenai sasaran atau tujuan yang telah direncanakan.

2.1.2 1.

Klasifikasi Sistem Sistem Abstrak Sistem yang berupa pemikiran atau ide-ide yang tidak tampak secara fisik misalnya sistem teologika (ketuhanan).

2.

Sistem Fisik Merupakan sistem yang ada secara fisik seperti sistem komputer, sistem akuntansi dan sistem produksi.

12 3. Sistem Alamiah Sistem yang terjadi melalui proses alam. Contohnya sistem matahari, sistem luar angkasa dan sistem reproduksi. 4. Sistem Buatan Manusia Sistem yang dirancang oleh manusia. Sistem buatan manusia yang melibatkan interaksi manusia dengan mesin disebut human machine system. Misalnya sistem informasi. 5. Sistem Tertentu (deterministic system) Sistem beroperasi dengan tingkah laku yang sudah dapat diprediksi. Interaksi bagian-bagiannya dapat dideteksi dengan pasti sehingga keluaran dari sistem dapat diramalkan. Contohnya sistem komputer. 6. Sistem Tak Tentu (probabilistic system) Sistem yang kondisi masa depannya tidak dapat diprediksi karena mengandung unsur probabilitas. 7. Sistem Tertutup (close system) Sistem yang tidak berhubungan dan tidak terpengaruh dengan sistem luarnya. Sistem ini bekerja secara otomatis tanpa adanya turut campur tangan dari pihak luarnya. Secara teoritis sistem tersebut ada, tetapi kenyataannya tidak ada sistem yang benar-benar tertutup, yang ada hanyalah relatively closed system (secara relatif tertutup, tidak benar-benar tertutup). 8. Sistem Terbuka (open system) Sistem yang berhubungan dan terpengaruh dengan lingkungan luarnya melalui arus sumber daya.

13 2.1.3 Daur Hidup Sistem Siklus hidup sistem (life cycle of system) adalah proses evolusioner yang diikuti dalam menerapkan sistem atau subsistem informasi berbasis komputer. Siklus hidup sistem terdiri dari serangkaian tugas yang erat mengikuti langkah-langkah pendekatan sistem, karena tugas-tugas tersebut mengikuti pola yang teratur dan dilakukan secara top down. Siklus hidup sistem sering disebut sebagai pendekatan air terjun (waterfall approach) bagi pembangunan dan pengembangan sistem. Pembangunan sistem hanyalah salah satu dari rangkaian daur hidup suatu sistem. Meskipun demikian proses ini merupakan aspek yang sangat penting. Di samping itu terdapat beberapa fase/tahapan dari daur hidup suatu sistem, antara lain : a. Mengenali Adanya Kebutuhan Sebelum segala sesuatunya terjadi, timbul suatu kebutuhan atau problem yang harus dapat dikenali sebagaimana adanya. Kebutuhan dapat terjadi sebagai hasil perkembangan dari organisasi dan volume yang mengikat melebihi kapasitas dari sistem yang ada. b. Pembangunan Sistem Suatu proses atau seperangkat prosedur yang harus diikuti untuk menganalisa kebutuhan yang timbul dan membangun suatu sistem untuk dapat memenuhi kebutuhan tersebut. c. Pemasangan Sistem Pemasangan sistem merupakan tahap yang penting pula dalam daur hidup sistem, dimana peralihan dari tahap pembangunan menuju tahap operasional

14 terjadi pemasangan sistem yang sebenarnya, yang merupakan langkah akhir dari suatu pembangunan sistem. d. Pengoperasian Sistem Program-program komputer dan prosedur-prosedur pengoperasian yang membentuk suatu sistem informasi semuanya bersifat statis, sedangkan organisasi-organisasi yang ditunjang dengan sistem informasi tadi akan selalu mengalami perubahan-perubahan dan itu dapat disebabkan oleh pertumbuhan kegiatan bisnis, perubahan aturan dan kebijaksanaan ataupun kemajuan teknologi. Untuk mengatasi perubahan-perubahan tersebut, maka sistem harus diperbaharui. e. Sistem menjadi usang Kadang-kadang perubahan yang terjadi begitu drastis, sehingga tidak dapat diatasi hanya dengan melakukan perbaikan-perbaikan pada sistem yang berjalan. Tibalah saatnya dimana secara ekonomis dan teknis sistem yang ada sudah tidak layak lagi untuk dioperasikan dan sistem yang baru perlu dibangun untuk menggantikannya.

2.2

Peralatan Pendukung ( Tools System ) Pada penulisan Laporan Kerja Praktek (KKP) ini penulis juga menggunakan

peralatan pendukung dalam mendeskripsikan sistem yang sedang berjalan, yaitu Diagram Arus Data ( DAD ), dan Kamus Data.

15 2.2.1 Diagram Alir Data ( DAD ) Diagram alir data merupakan rangkaian simbol-simbol yang mengatur suatu prosedur yang menunjukkan arus data atau dokumen pada suatu sistem yang telah ada atau sistem baru yang akan dikembangkan secara logika tanpa mempertimbangkan lingkungan fisik dimana data tersebut mengalir atau dimana data tersebut tersimpan. Diagram Alur Data (DAD) mempunyai beberapa tingkatan (levelisasi) yaitu : 1. Diagram Konteks Diagram konteks dibuat untuk menggambarkan sumber serta tujuan data yang akan diproses atau dengan kata lain diagram tersebut menggambarkan sistem secara global dari keseluruhan sistem yang ada. 2. Diagram Nol Diagram nol dibuat untuk menggambarkan tahapan-tahapan proses yang ada didalam diagram konteks yaitu penjabaran secara rinci. 3. Diagram Detail Diagram detail ini dibuat untuk menggambarkan arus data secara lebih detail dan terperinci lagi dari tahapan-tahapan yang ada didalam diagram nol. Dalam membuat Diagram Arus Data terdapat peraturan yang harus diikuti, diantaranya : 1. Setiap external entity tidak boleh dihubungkan secara langsung dengan external entity lainnya. 2. Tidak boleh menghubungkan data storage secara langsung dengan data storage lainnya.

16 3. Dalam Diagram Arus Data tidak boleh menghubungkan data storage dengan external entity secara langsung. 4. Setiap proses harus ada data yang masuk dan keluar. Fungsi dari DAD yaitu : 1. DAD membantu para analis sitem meringkas informasi tentang sistem, mengetahui hubungan antar sub-sub sistem, membantu perkembangan aplikasi secara efektif. 2. sistem. 3. DAD dapat menggambarkan sejumlah batasan otomasi untuk pengembangan alternatif sistem fisik. DAD berfungsi sebagai alat komunikasi yang baik antara pemakai dan analis

2.2.2

Kamus Data ( Data Dictionary ) Kamus data adalah suatu daftar data elemen yang terorganisir dengan definisi

yang tetap dan sesuai dengan sistem, sehingga user dan analis sistem mempunyai pengertian yang sama tentang input, output, dan komponen data store. Kamus data atau data dictionary dapat juga disebut dengan istilah system data dictionary, yaitu suatu data katalog fakta tentang data dan kebutuhan-kebutuhan informasi dari suatu sistem informasi. Kamus data ini sangat membantu analis sistem dalam mendefinisikan data yang mengalir di dalam sistem, sehingga pendefinisian data itu dapat dilakukan dengan lengkap dan terstruktur. Pembentukan kamus data dilaksanakan dalam tahap analisis dan perancangan suatu sistem.

17 Pada tahap analisis, kamus data merupakan alat komunikasi antara user dan analis sistem tentang data yang mengalir di dalam sistem, yaitu tentang data yang masuk ke sistem dan tentang informasi yang dibutuhkan oleh user. Sementara itu, pada tahap perancangan sistem kamus data digunakan untuk merancang input, laporan dan database. Pembentukan kamus data didasarkan atas alur data yang terdapat pada DAD. Alur data pada DAD ini bersifat global, dalam arti hanya menunjukan nama alur datanya tanpa menunjukan struktur dari alur data itu. Untuk menunjukan struktur dari alur data secara terinci maka dibentuklah kamus data yang didasarkan pada alur data di dalam DAD. Kamus data atau data dictionary harus dapat mencerminkan keterangan yang jelas tentang data yang dicatatnya. Untuk maksud keperluan ini, maka kamus data memuat hal-hal sebagai berikut : 1. Arus Data Arus data menunjukkan darimana data mengalir dan kemana data akan menuju. Keterangan arus data ini perlu dicatat di kamus data supaya memudahkan mencari arus data didalam DAD. 2. Nama Arus Data Karena arus data dibuat berdasarkan arus data yang mengalir di DAD, maka nama dari arus data juga harus dicatat di kamus data, sehingga mereka yang membaca DAD dan memerlukan penjelasan lebih lanjut tentang suatu arus data tertentu di DAD dapat langsung mencarinya dengan mudah di kamus data.

18 3. Bentuk Data Telah diketahui bahwa arus data dapat mengalir dari suatu proses ke proses lainnya. Data yang mengalir ini biasanya dalam bentuk laporan serta dokumen hasil cetakan komputer. Dengan demikian bentuk dari data yang mengalir dapat berupa dokumen dasar atau formulir, dokumen hasil cetakan komputer, laporan tercetak, tampilan layar di monitor, variabel, parameter dan field-field. Bentuk data seperti ini perlu dicatat di kamus data. 4. Struktur Data Struktur data menunjukkan arus data yang dicatat pada kamus data yang terdiri dari item-item atau elemen-elemen data. 5. Alias Alias atau nama lain dari data yang harus dituliskan karena data yang sama mempunyai nama yang berbeda untuk orang atau departemen yang satu dengan yang lainnya. 6. Volume Volume yang perlu dicatat di dalam kamus data adalah tentang volume ratarata dan volume puncak dari arus data. Volume rata-rata menunjukkan banyaknya arus data yang mengalir dalam suatu periode tertentu. Sedangkan volume puncak menunjukkan volume terbanyak. 7. Periode Periode perlu dicatat di dalam kamus data, karena menunjukkan kapan terjadinya arus data ini. Periode dapat digunakan untuk mengidentifikasi

19 kapan input data harus dimasukkan ke dalam sistem, kapan proses program harus dilakukan dan kapan laporan-laporan harus dihasilkan. 8. Penjelasan Untuk lebih memperjelas lagi tentang makna dari arus data yang dicatat di kamus data, maka bagian penjelasan dapat diisi keterangan-keterangan tentang arus data tersebut. Di dalam kamus data terdapat beberapa notasi yang dapat digunakan sebagai penjelasan informasi-informasi tambahan yaitu : 1. Notasi Tipe Data Notasi ini digunakan untuk membuat spesifikasi format masukan dan keluaran suatu data Tabel II.1 Notasi Tipe Data
NOTASI X 9 A Z . , ~ / KETERANGAN Setiap karakter Angka numerik Karakter alphabet Angka nol ditampilkan sebagai spasi kosong Titik, sebagai pemisah ribuan Koma, sebagai pemisah pecahan Hypen, sebagai tanda penghubung Slash, sebagai tanda pembagi

20 2. Notasi Struktur Data Notasi ini digunakan untuk membuat spesifikasi elemen data. Tabel II.2 Notasi Struktur Data
NOTASI = + () {} [] * @ KETERANGAN Terdiri dari And (dan) Pilihan (Ya atau Tidak) Iterasi/Pengulangan Proses Pilih salah satu pilihan Pemisah pilihan di dalam tanda [ ] Keterangan atau catatan Petunjuk (Key Field)

21

BAB III ANALISA SISTEM BERJALAN

3.1 Penjualan Konsinyasi Penjualan konsinyasi disebut juga dengan penjualan titipan, pihak yang menyarankan barang (pemilik) disebut konsinyor (consignor) atau pengamanat, sedangkan pihak yang menerima titipan barang tersebut disebut consignee atau komisioner. Adapun pengertian penjualan menurut Hadori Yunus Harnanto adalah “konsinyasi merupakan suatu perjanjian dimana pihak yang memiliki barang menyerahkan sejumlah barang kepada pihak tertentu untuk dijualkan dengan memberikan komisi”. Pada dasarnya semua penjualan konsinyasi tersebut mengandung unsur perjanjian, pemilik barang, pihak yang dititipi barang, barang yang dititipkan, penjualan dan komisi. Mengabaikan salah satu unsur tersebut akan membuat transaksi tidak dapat disebut penjualan konsinyasi, oleh karena itu seluruh unsur tersebut harus ada pada saat penjualan konsinyasi.

3.1.1

Perbedaan Penjualan Reguler dan Penjualan Konsinyasi Pengertian penjualan reguler menurut M. Ichwan dan Arifin adalah

“peningkatan jumlah aktiva atau penurunan jumlah utang suatu badan usaha yang timbul dalam penyerahan barang atau jasa atau aktiva usaha lainnya dalam suatu periode”. Penjualan konsinyasi mempunyai perbedaan yang khusus dengan penjualan

22 reguler. Hadori Yunus Harnanto memberikan kriteria yang merupakan perbedaan perlakuan akuntansi konsinyasi dengan transaksi penjualan reguler. Keempat kriteria itu adalah sebagai berikut: 1. Barang-barang masih menjadi hak milik konsinyor dan harus dilaporkan sebagai persediaan konsinyor boleh mengakui barang-barang konsinyasi sebagai persediaannya. 2. Pendapatan diakui konsinyor pada saat barang-barang konsinyasi dapat dijual pada pihak ketiga. 3. Pihak pengamanat (consignor) sebagai pemilik tetap bertanggung jawab sepenuhnya terhadap semua biaya yang berhubungan dengan barang-barang konsinyasi. Sejak pengiriman barang sampai dengan saat komisioner berhasil menjual barang kepada pihak ketiga. Kecuali jika ditentukan lain dalam perjanjian diantara kedua pihak yang bersangkutan. 4. Komisioner dalam batas kemampuannya mempunyai kewajiban menjaga keamanan dan keselamatan barang-barang yang diterimanya. Oleh karena itu administrasi yang tertib harus diselenggarakan sampai dengan saat ia berhasil menjual barang-barang tersebut kepada pihak ketiga. Jadi perbedaan prinsip antara transaksi penjualan reguler dengan penjualan konsinyasi adalah: 1. Perpindahan hak milik atas barang yang bersangkutan Dalam transaksi penjualan reguler hak milik barang berpindah kepada pembeli pada saat barang diserahkan, kemudian keadaan demikian dipakai sebagai dasar pengakuan terhadap timbulnya pendapatan. Sedangkan

23 penjualan pada penjualan konsinyasi tidak berarti adanya penyerahan hak milik atas barang yang bersangkutan. 2. Pengakuan pendapatan Perbedaan pengakuan pendapatan antara penjualan reguler dan penjualan konsinyasi akan berdampak pada laporan rugi laba. Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia dalam bukunya yang berjudul Standar Akuntansi Keuangan Pengertian pendapatan adalah “arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama periode bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari konstribusi modal”.

Theodoras M. Tuana Kotta menyebutkan kriteria yang lebih tepat bagi pengakuan pendapatan adalah: 1. Adanya bukti yang kuat bahwa pembeli mempunyai maksud membeli dan penjual bermaksud menjual. 2. Penentuan mengenai barang tertentu yang akan dijual dan sudah dalam keadaan siap untuk dijual. 3. Perjanjian antara pembeli dan penjual mengenai barang jual formula untuk mencapai harga jual.

24 3.1.2 Karakteristik Konsinyasi Penjualan konsinyasi memiliki karakteristik-karekteristik tertentu yang membedakan dengan penjualan regular. Karakteristik tersebut adalah : 1. Barang-barang konsinyasi harus dilaporkan sebagai persediaan oleh pengamanat, sedangkan barang-barang konsinyasi tidak boleh

diperhitungkan sebagai persediaan oleh komisioner. 2. Pengiriman barang konsinyasi tidak mengakibatkan timbulnya pendapatan dan tidak boleh dipakai sebagai kriteria untuk mengakui pendapatan, baik bagi pengamanat maupun komisioner, sampai dengan saat barang dapat

dijual kepada pihak ketiga. 3. Pihak pengamanat sebagai pemilik, tetap bertanggung jawab terhadap semua biaya yang berhubungan dgn barang konsinyasi sejak saat pengiriman sampai dengan komisioner berjasil menjual barang tersebut kepada pihak ketiga, kecuali ada perjanjian lain. 4. Komisioner dalam batas kemampuannya mempunyai kewajiban untuk menjaga keamanan keselamatan barang komisi yang diterimanya.

3.1.3 Alasan Pengamanat untuk Mengadakan Perjanjian Konsinyasi Pengamanat mempunyai beberapa alasan untuk melakukan penjualan secara konsinyasi. Alasan tersebut yaitu : 1. Konsinyasi merupakan suatu cara untuk lebih memperluas pasaran yang dijamin oleh seorang produsen, pabrikan atau distributor. 2. Resiko-resiko tertentu dapat dihindarkan oleh pengamanat.

25 3. 4. Pengamanat mungkin ingin mendapatkan penjual khusus. Pengamanat dapat mengontrol harga eceran barang-barang yang bersangkutan.

3.1.4

Alasan Komisioner Menerima Perjanjian Konsinyasi Pihak komisioner menerima perjanjian untuk menerima barang konsinyasi

dengan pertimbangan sebagai berikut : 1. Komisoner dilindungi dari kemungkinan resiko gagal untuk memasarkan barangnya atau keharusan menjual dengan rugi . 2. 3. Menghindarkan resiko kerusakan barang dan adanya fluktuasi harga. Kebutuhan akan modal kerja dapat dikurangi.

3.1.5

Hak dan Kewajiban Komisioner Hak Komisioner antara lain :

1.

Berhak mendapatkan komisi dan penggantian biaya yang dikeluarkan untuk menjual barang titipan tersebut sesuai dengan jumlah yang diatur dlm perjanjian antara ke dua belah pihak.

2.

Diberikan hak untuk memberikan jaminan terhadap kualitas barang yang dijual.

3.

Berhak langganan.

untuk

memberikan

syarat-syarat

pembayaran

kepada

Kewajiban Komisioner antara lain :

26 1. Melindungi keamanan dan keselamatan barang-barang yang diterima dari pihak pengamanat. 2. Mematuhi dan berusaha untuk menjual barang-barang pengamanat sesuai ketentuan yang diatur dalam perjanjian. 3. Mengelola secara terpisah (fisik atau administrasi) terhadap barang milik pengamanat. 4. Membuat laporan secara periodik tentang barang yang diterima, dijual dan barang yang masih dalam persediaan.

3.1.6

Metode Pencatatan Penjualan Konsinyasi

Dalam prinsipnya pendapatan pada konsinyasi diakui saat penjualan terhadap barang-barang konsinyasi dilakukan oleh konsinyi kepada pihak ketiga. Jika konsinyor membutuhkan laporan penjualan atau rugi atas penjualan barang-barang konsinyasi, maka pencatatannya harus diselenggarakan terpisah dari transaksi penjualan reguler. Sedangkan untuk metode administrasi barang dagangan, terdapat dua alternatif, yaitu metode perpektual dan fisik. Apabila transaksi konsinyasi dicatat secara terpisah dari transaksi lain, maka metode apapun yang dipakai, pihak konsinyor harus menyelenggarakan rekening “barang-barang konsinyasi”. Apabila transaksi tidak dicatat secara terpisah dari transaksi lain, maka pengiriman barangbarang konsinyasi dicatat dalam “memorandum”. Untuk setiap perjanjian dalam transaksi konsinyasi rekening barang-barang yang dititipkan pada konsinyi pada dasarnya adalah rekening barang-barang

27 konsinyasi yang merupakan persediaan bagi konsinyor. Rekening tersebut dibuat sebagai rekening kontrol untuk tiap-tiap konsinyi atau satu rekening kontra dibuat untuk transaksi konsinyasi dengan semua konsinyi. Apabila konsinyor memerlukan rekening pembantu maka diselenggarakan rekening pembantu untuk tiap-tiap konsinyi. Apabila pihak konsinyor menghendaki laba atas penjualan konsinyasi harus ditetapkan tersendiri, maka rekening barang-barang konsinyasi untuk masing-masing konsinyi dibebani harga pokok barang yang dikirimkan kepada konsinyi dan semua biaya yang berkaitan dengan konsinyasi. Jika penjualan telah dilakukan oleh konsinyi maka rekening ini dikredit. Laba atau rugi atas penjualan konsinyasi akhirnya dipindah bukukan dari perkiraan laba atau rugi konsinyasi ke perkiraan laba rugi biaya yang mengikhtisarkan hasil netto dari semua aktifitas. Sedangkan apabila pihak konsinyor menghendaki transaksi konsinyasi harus disatukan dengan transaksi biasa lainnya dan laba rugi usaha juga harga dihitung. Maka pendapatan dan biaya penjualan konsinyasi dibukukan dalam perkiraan yang mengikhtisarkan kegiatan usaha bersama.

3.2

Tinjauan Perusahaan Scissors Apparel yang beralamat di Jl.Pelabuan II Km 4.2 No.59, Sindangsari,

Sukabumi, 43167 merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi dan penjualan produk fesyen dan asesorisnya. Target pasar Scissors Apparel adalah tujuh puluh persen laki-laki dan tiga puluh persen perempuan. Kisaran umur segmentasi pasarnya adalah dari umur sepuluh tahun sampai dua puluh lima tahun. Sistem Penjualan yang berlaku di Scissors Apparel adalah sistem penjualan langsung direct

28 selling) dan sistem penjualan konsinyasi yaitu, produk dititip edar ke outlet atau distro (distribution store) tertentu yang nantinya setiap periode akuntansi, perusahan mendapatkan laporan penjualan dari distro yang bersangkutan. Scissors Apparel sendiri memiliki distro bernama “Blackhouse” yang beralamat di Jl. Baldes No.13, Sukabumi, 43111. Selain di Blackhouse, Scissors Apparel melakukan konsinyasi dibeberapa distro di pulau Jawa. Seperti di distro “Mignon” (Cibadak, Sukabumi), “Harmony” (Cianjur), “Premium Nation” (Jakarta) dan “Vocuz Absolute” (Bandung). Sebagai strategi promosi, Scissors Apparel menggunakan artis, dalam hal ini musisi atau band sebagai media promosi, yang dikenal dengan nama Artist Endorsement. Artis yang bersangkutan melakukan perjanjian dengan Scissors Apparel untuk menggunakan produknya dalam suatu acara (event) publik dan dalam sesi foto yang berkaitan dengan media massa.

3.2.1

Sejarah Perusahaan Scissors Apparel berdiri sekitar tahun 2002. Pendirinya yaitu Agus Juan

Irawanda, S.Sn yang menjadi pemilik perusahaan hingga sekarang ini. Perusahaan ini berawal dari sebuah idealisme memperkuat eksistensi sebuah komunitas, yang diturunkan dalam bentuk gaya berpakaian serta meningkatnya kebutuhan manusia akan kebutuhan sandang dan berkembangnya zaman yang selalu ingin tampil trendi menjadikan banyak orang sekarang ingin selalu tampil sesuai tren saat ini, terutama pada kalangan remaja. Dengan berbekal modal seadanya, ditambah dengan hubungan pertemanan dan sedikit kemampuan untuk membuat dan memasarkan produk sendiri,

29 Scissors Apparel menawarkan desain-desain yang menarik dan umumnya tidak memproduksi dalam jumlah massal. Pada awalnya dengan kemampuan distribusi yang masih sedikit, produkproduk yang dihasilkan dan didistibusikanpun masih terbatas dan itupun masih dijual secara perorangan (hand to hand). Lalu seiring dengan berjalannya waktu dan ketekunan sang pemilik akhirnya Scissors Apparel pun mengalami kemajuan dan hingga saat ini Scissors Apparel sudah mempunyai showroom produknya sendiri dan sudah mempunyai beberapa orang karyawan.

3.2.2

Struktur Organisasi dan Fungsi Seperti halnya organisasi yang lain, Scissors Apparel juga mempunyai

struktur organisasi beserta fungsinya, karena pengorganisasian itu sendiri mempunyai arti adanya suatu penetapan struktur peran melalui penentuan aktivitas-aktivitas yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan dan bagian-bagiannya, pendelegasian wewenang untuk menjalankannya, pengkoordinasian hubungan wewenang dan informasi baik horizontal maupun vertikal serta bila ingin peran organisasi itu berarti bagi orang lain, maka harus ada tujuan yang bisa dibuktikan, konsep yang jelas dari batas kewajiban atau aktivitas yang terlibat, batas-batas untuk menentukan kebijaksanaan yang dimengerti atau wewenang, dan harus disediakan informasi serta alat lain sebagai sumber-sumber yang penting bagi hasil kerja dalam suatu peran. Adapun struktur organisasi pada Scissors Apparel adalah sebagai berikut yang akan digambarkan pada halaman berikutnya :

30

OWNER

FINANCE

SUPERVISOR

PRODUCT DESIGNER

QUALITY CONTROL

PRODUCTION

MERCHANDISE INVENTORY

HELPER

Gambar III.1 Struktur Organisasi Scissors Apparel

Sesuai dengan struktur organisasi Scissors Apparel yang disusun, maka setiap bagan mempunyai tugas dan tanggung jawab tersendiri demi lancarnya kinerja di perusahaan tersebut. Tugas-tersebut diantaranya: a. Owner

31 Orang yang memiliki perusahaan Scissors Apparel, secara teknis owner sebagai direktur utama perusahaan tersebut.

b.

Finance Orang yang bertanggung jawab mengenai hal-hal administrasi keuangan yang terjadi di Scissors Apparel, khususnya dalam mengatur keuangan pada kegiatan produksi dan dalam sistem penggajian karyawan.

c.

Supervisor Orang yang bertanggung jawab atas kegiatan perusahaan sehari-hari dan membawahi beberapa posisi yang berkaitan dengan kegiatan produksi, desain produk dan administrasi kantor.

d.

Product Designer Orang yang bertanggung jawab mengenai desain-desain produk yang dibuat di Scissors Apparel, termasuk inovasi-inovasi terbaru mengenai produk tersebut.

e.

Production Orang yang bertanggung jawab mengenai kegiatan produksi yang dihasilkan oleh Scissors Apparel, termasuk mengatur sumber daya yang ada.

f.

Quality Control Orang yang bertanggung jawab terhadap kualitas produk yang dihasilkan Scissors Apparel. Termasuk bertugas dalam proses packaging produk.

g.

Merchandise Inventory Orang yang bertanggung jawab terhadap traffic (lalu lintas) produk Scissors Apparel. Berkaitan dengan pendataan produk masuk dari tempat produksi ke

32 gudang, produk keluar dari gudang ke pihak pembeli atau pihak komisioner dan produk yang digunakan untuk kepentingan promosi perrusahaan.

h.

Helper Orang yang membantu semua kegiatan perusahaan sesuai dengan intruksi yang diberikan dari atasan, atau bisa juga disebut pembantu umum.

3.3

Prosedur Sistem Berjalan Berikut ini penulis jelaskan mengenai prosedur sistem berjalan pada sistem

penjualan secara konsinyasi di Scissors Apparel. Sistem berjalan tersebut terdiri atas : 1. Prosedur Persiapan Barang Pada proses ini produk yang akan dikirimkan ke pihak komisioner disiapkan. Produk dikeluarkan dari gudang dan dibuatkan surat keluar barang (SKB) oleh Merchandise Inventory kepada Helper untuk dicek ulang sebelum dikirim kepada pihak komisioner. 2. Prosedur Pengiriman Barang Di proses ini Merchandise Inventory membuat Faktur Pengiriman Barang yang akan diberikan beserta produk. Untuk distro di luar kota Sukabumi, produk dikirim menggunakan jasa perusahaan pengirimman barang, jadi konfirmasi penerimaan barang ke pihak komisioner dilakukan melalui hubungan komunikasi telepon. Sedangkan untuk distro dalam kota Sukabumi, produk titipan dikirim langsung dan pihak Scissors Apparel menerima tanda terima dari pihak komisioner.

33 3. Prosedur Pembuatan Laporan Setelah produk sampai ke tangan komisioner dan telah menerima konfirmasi atau tanda terima barang dari pihak komisioner, Merchandise Inventory membuat laporan pengiriman barang konsinyasi yang kemudian dilaporkan kepada Supervisor. Setiap awal periode Merchandise Inventory menerima laporan penjualan dari setiap distro. Dari laporan tersebut, Merchandise Inventory membuat laporan penjualan barang konsinyasi untuk diberikan kepada Supervisor.

3.4

Diagram Alir Data ( DAD )

- SKB - FAKTUR_PENGIRIMAN - LAP_PENGIRIMAN - LAP_PENJUALAN_KONSINYASI

MERCHANDISE INVENTORY

TANDA_TERIMA

SISTEM PENJUALAN KONSINYASI

- LAP_PENGIRIMAN - LAP_PENJUALAN_KONSINYASI

SUPERVISOR

TANDA_TERIMA

KOMISIONER
FAKTUR_PENGIRIMAN

Gambar III.2 Diagram Konteks Sistem Berjalan

34

MERCHANDISE INVENTORY

SKB

1.0 PERSIAPAN BARANG

ARSIP SKB SKB FAKTUR_PENGIRIMAN 2.0 PENGIRIMAN BARANG

SKB

FAKTUR_PENGIRIMAN KOMISIONER TANDA_TERIMA

TANDA_TERIMA

R U KT FA EN _P G

ARSIP FAKTUR_PENGIRIMAN

AN IM IR

- LAP_PENJUALAN_KONSINYASI - LAP_PENGIRIMAN 3.0 LAPORAN
N SI N YA

FAKTUR_PENGIRIMAN

LAP_PENJUALAN_KONSINYASI

P_ PE N JU AL AN _K O

SI

- LAP_PENJUALAN_KONSINYASI - LAP_PENGIRIMAN

SUPERVISOR

LA

ARSIP LAP_PENJUALAN_ KONSINYASI

LAP_PENGIRIMAN

ARSIP LAP_PENGIRIMAN

35

Gambar III.3 Diagram Nol Sistem Berjalan

1.1 PENGEMASAN BARANG

SKB

MERCHANDISE INVENTORY

SKB

1.2 VERIVIKASI BARANG

ARSIP SKB

Gambar III.4 Diagram Detail 1.0 Sistem Berjalan

MERCHANDISE INVENTORY

TANDA_TERIMA

SK
2.2 PEMBUATAN TANDA_TERIMA

B

SK

B

2.1 PEMBUATAN FAKTUR

FAKTUR_PENGIRIMAN KOMISIONER

FAKTUR_PENGIRIMAN

ARSIP FAKTUR_PENGIRIMAN

FAKTUR_PENGIRIMAN

SKB

36

Gambar III.5 Diagram Detail 2.0 Sistem Berjalan

LAP_PENJUALAN_KONSINYASI

3.1 LAPORAN PENJUALAN KOMISIONER

LAP_PENJUALAN_KONSINYASI

KOMISIONER

MERCHANDISE INVENTORY

3.2 PEMBUATAN LAPORAN

- LAP_PENJUALAN_KONSINYASI - LAP_PENJUALAN_KONSINYASI

SUPERVISOR

- LAP_PENGIRIMAN - LAP_PENJUALAN_KONSINYASI

FAKTUR_PENGIRIMAN - LAP_PENJUALAN_KONSINYASI ARSIP LAP_PENJUALAN_ KONSINYASI - LAP_PENGIRIMAN

ARSIP FAKTUR_PENGIRIMAN

ARSIP LAP_PENGIRIMAN

Gambar III.6 Diagram Detail 3.0 Sistem Berjalan

3.5

Kamus Data Kamus data adalah suatu aplikasi khusus dari jenis kamus-kamus yang digunakan sebagai referensi kehidupan sehari-hari. Fungsi kamus data sebagai suatu katalog yang menjelaskan lebih detail tentang DFD yang mencakup proses, data flow dan data store. Adapun kamus data sistem berjalan pada sistem penjualan secara konsinyasi Scissors Apparel adalah sebgai berikut : a. Kamus Data Dokumen Masukan 1. Surat Keluar Barang (SKB)

37 Nama Arus Data Alias Bentuk Data Arus Data Penjelasan Periode Volume Struktur Data Header No_SKB Tanggal Isi : Surat Keluar Barang : SKB : Dokumen Manual : Merchandise Inventory – Proses 1.0 – Arsip SKB : Sebagai bukti barang keluar dari gudang : Pada saat barang keluar dari gudang : Rata-rata 10 kali setiap bulan : Header + Isi = No_SKB + Tanggal + Tujuan *Terdiri dari 10 digit* = Tanggal + Bulan + Tahun = No + Item + Code + Qty + Price + Subtotal + Total

b.

Kamus Data Dokumen Keluaran 1. Faktur Pengiriman Nama Arus Data Alias Bentuk Data Arus Data : : : : Faktur Pengiriman Dokumen Manual Arsip SKB – Merchandise Inventory – Proses 2.0 – Arsip Faktur Pengiriman Penjelasan Periode : : Bukti pengiriman barang Terjadi pada saat barang dikirim ke pihak

38 komisioner Volume Struktur Data Header No_Faktur Pengiriman Isi : : Rata-rata 10 kali per bulan Header + Isi

= No_Faktur + Customer + Pengiriman *Terdiri dari 10 digit* = Tanggal + Bulan + Tahun = No + Item + Code + Qty + Price + Subtotal + Total

2. Laporan Pengiriman Konsinyasi Nama Arus Data Alias Bentuk Data Arus Data : : : : Laporan Pengiriman Konsinyasi Dokumen Manual Arsip Faktur Pengiriman – Proses 3.0 – Arsip Laporan Pengiriman Konsinyasi Penjelasan Periode Volume Struktur Data Header Periode Isi No_Faktur Tgl : : : : Laporan pengiriman barang konsinyasi Setiap akhir periode akuntansi 1 kali per bulan Header + Isi

= Periode = Bulan + Tahun = Tgl + No_Faktur + Customer + Sum_Kons + Total *Terdiri dari 10 digit* = Tanggal + Bulan + Tahun

39 3. Laporan Penjualan Konsinyasi Nama Arus Data Alias Bentuk Data : : : Laporan Penjualan Konsinyasi Dokumen Manual

Arus Data

:

Komisioner – Proses 3.0 – Arsip Laporan Penjualan Konsinyasi

Penjelasan Periode Volume Struktur Data Header No_Faktur Periode Isi

: : : : :

Laporan penjualan barang konsinyasi Setiap awal periode akuntansi 1 kali per bulan Header + Isi Customer + Periode

*Terdiri dari 10 digit* = Bulan + Tahun = Item + Kode + In + Harga + Out + Retur + Stock + Sold + Pot_Kons + Net_Sale + Total

3.6

Spesifikasi Sistem Berjalan Spesifikasi sistem berjalan adalah serangkaian dari proses-proses yang akan

digunakan dalam sistem berjalan yang memerlukan dokumen input untuk mendukung terhadap jalannya proses yang akan menghasilkan output. Spesifikasi sistem penjualan secara konsinyasi pada Scissors Apparel yang akan dijelaskan pada halaman-halaman berikutnya adalah :

40

3.6.1

Spesifikasi Dokumen Masukan Dokumen masukan atau dokumen input adalah segala bentuk masukan yang

berupa dokumen dan diolah dalam proses sehingga dapat menghasilkan suatu keluaran. Dokumen masukan dalam sistem penjualan secara konsinyasi pada Scissors Apparel adalah sebagai berikut : 1. Nama Dokumen Fungsi Sumber Tujuan Frekuensi Media Jumlah Format : Surat Keluar Barang : Sebagai bukti barang keluar dari gudang : Merchandise Inventory : Merchandise Inventory dan Helper : Terjadi pada saat barang keluar dari gudang : Kertas : 1 Lembar : Lampiran A-1

3.6.2

Spesifikasi Dokumen Keluaran Dokumen keluaran merupakan dokumen yang dibuat berdasarkan data yang

keluar. Bentuk dokumen keluaran dalam sistem penjualan secara konsinyasi pada Scissors Apparel adalah sebagai berikut : 1. Nama Dokumen Fungsi : Faktur Pengiriman Konsinyasi : Sebagai bukti pengiriman barang

41 Sumber Tujuan Frekuensi Media Jumlah Format 2. Nama Dokumen Fungsi Sumber Tujuan Frekuensi Media Jumlah Format 3. Nama Dokumen Fungsi Sumber Tujuan Frekuensi Media Jumlah Format : Merchandise Inventory : Komisioner : Terjadi pada saat pengiriman barang : Kertas : 1 Lembar : Lampiran B-1 : Laporan Pengiriman Konsinyasi : Sebagai laporan pengiriman barang : Merchandise Inventory : Supervisor : Terjadi pada awal periode akuntansi : Kertas : 1 Lembar : Lampiran B-2 : Laporan Penjualan Konsinyasi : Sebagai laporan penjualan barang konsinyasi : Merchandise Inventory : Supervisor : Terjadi pada awal periode akuntansi : Kertas : 1 Lembar : Lampiran B-3

42

3.7

Permasalahan Pokok Setelah mengamati dan mempelajari sistem berjalan pada Scissors Apparel,

penulis mencoba memberikan analisa terhadap prosedur penjualan barang secara konsinyasi. Dalam hal ini penulis mencoba menguraikan permasalahan yang ada pada Scissors Apparel tentang sistem yang berjalan yang pengelolaan datanya masih dilakukan secara manual, yaitu menggunakan aplikasi Microsoft Office Excell sehingga sering menimbulkan kerumitan dalam proses data entry dan pembuatan laporan karena dokumen input berkaitan dengan semua dokumen output yang berkaitan dengan sistem penjualan secara konsinyasi. Akibatnya, sering terjadi

kesalahan dalam proses data entry seperti human logic error (kesalahan logika)

3.8

Alternatif Pemecahan Masalah Penulis mencoba memberikan alternatif pemecahan masalah yaitu dengan

melakukan komputerisasi dalam sistem penjualan secara konsinyasi pada Scissors Apparel sehingga akan mempercepat dalam proses pengolahan data. Ada beberapa kelebihan dan keuntungan sistem komputerisasi antara lain : 1. Dapat mempercepat dalam pengolahan data sehingga dapat meningkatkan produktifitas dan efektifitas kerja. 2. Dapat menghindari kesalahan-kesalahan kecil pada proses pengolahan data sehingga keakuratan informasi dapat terjaga.

43 3. Dalam pencarian data melalui sistem komputerisasi akan lebih cepat tanpa harus menunggu lama sesuai dengan informasi yang dibutuhkan. 4. Pekerjaan akan menghasilkan laporan yang cepat dan akurat.

BAB IV PENUTUP

8.1

Kesimpulan Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan serta alternatif permasalahan yang telah diuraikan, maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut :

1.

Pada sistem informasi akuntansi pada Scissors Apparel, khususnya dalam sistem penjualan secara konsinyasi pengolahan data masih dilakukan secara manual sehingga memungkinkan terjadinya kesalahan dalam pengolahan data dan terdapat kerangkapan data akibat dari adanya nama field yang sama dalam file-file yang berbeda tetapi tidak mempunyai keterkaitan.

2.

Seringkali terjadi kesalahan logika (logic error) dalam proses masukan data, yaitu dalam menggunakan rumus-rumus dalam aplikasi Microsoft Excell.

3.

Sistem

komputerisasi

yang

diusulkan

diharapkan

dapat

diterapkan

untuk

mendapatkan pengolahan data yang lebih cepat, efisien, dan akurat. 4. Sistem komputerisasi yang diusulkan diharapkan dapat memberikan informasi bagi kepentingan manajemen dalam rangka mengambil keputusan.

44

4.2

Saran Agar sistem pada Scissors Apparel dapat berjalan dengan baik maka penulis

mencoba memberikan saran sebagai berikut : 1. Setiap orang yang terlibat dalam sistem hendaknya memperhatikan sistem yang berjalan sehingga setiap kerusakan pada sistem dapat diketahui secara pasti. 2. Suatu sistem akan berjalan baik jika didukung oleh aspek teknis seperti perangkat lunak, perangkat keras, dan manusia yang mengoperasikannya serta aspek non teknis yaitu dukungan dari luar. 3. Perlunya diadakan peninjauan sistem berjalan pada setiap waktu yang telah ditetapkan. 4. Mengingat pentingnya data-data yang disimpan dalam file, maka diperlukan suatu back up atau file cadangan dalam mengantisipasi apabila ada file yang hilang atau rusak. 5. Perubahan pada sistem hendaknya dilakukan dan bila perlu perbaikan pada sistem berjalan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful