You are on page 1of 32

BAB I

PENDAHULUAN
Luka bakar akibat bahan kimia terjadi apabila kulit terpapar asam,
alkali, atau komponen organik, contohnya hydrofluoric acid (HF), asam
format, dan fenol. Agen kimia spesifik lainnya meliputi fosfor putih, nitrat,
hidrokarbon, dan tar. Kecerobohan merupakan penyebab tersering dari luka
bakar akibat bahan kimia.
Sejak perang dunia kedua, sejumlah besar bahan kimia dikembangkan,
diproduksi, dan digunakan secara luas. Lebih dari 65.000 bahan kimia tersedia
di pasaran, dan 60.000 bahan kimia baru diproduksi setiap tahunnya.
Sayangnya, potensi kerusakan bagi kesehatan manusia masih belum diketahui.
Banyak produk-produk yang umum dijumpai dan biasanya dianggap
tidak bahaya, sekarang dianggap sebagai bahan kimia berbahaya dan dapat
menyebabkan cedera serius, contohnya semen dan minyak tanah. Paparan
terhadap agen-agen kimia berbahaya dapat dikurangi secara signifikan melalui
program edukasi, memberi label tanda bahaya, dan penggunaan alat pelindung
diri.
Gejala pasti dari luka bakar akibat bahan kimia tergantung dari bahan
kimia yang terlibat. Gejala dari trauma bahan kimia bervariasi meliputi gatalgatal, kulit mengelupas atau menghitam, sensasi rasa terbakar, kesulitan
bernafas, hingga nekrosis jaringan.
Luka bakar akibat bahan kimia selalu menjadi dilema kepada klinisi
dalam penanganannya. Penilaian kedalaman luka seringkali sulit dilakukan.
Irigasi yang adekuat merupakan aspek paling penting dalam pencegahan
penyebaran dari luka bakar bahan kimia pada kulit. Sebuah penelitian di pusat
penanganan luka bakar oleh Leonard et.al membuktikan bahwa pasien yang
menerima irigasi dalam 10 menit setelah kejadian memiliki penurunan hingga
5 kali lipat dari kerusakan seluruh lapisan kulit dan menurunkan hingga 2 kali
lipat lama opname di rumah sakit. Kunci dari penanganan luka bakar akibat
bahan kimia dimulai dari unit gawat darurat dengan prioritas utama adalah

menyingkirkan bahan kimia penyebab. Pada referat ini akan dibahas mengenai
luka bakar akibat bahan kimia, mulai dari penyebab hingga penanganannya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fungsi Kulit
2.1.1 Anatomi Kulit

Gambar 1. Anatomi Kulit (1)
Kulit adalah organ terluar tubuh manusia dengan luas 0,025 m2 pada
anak baru lahir sampai 1 m2 dengan berat kira-kira 15% berat badan pada
orang dewasa.(2) Kulit mempunyai variasi mengenai lembut, tipis dan tebalnya.
Kulit yang elastik dan longgar terdapat pada palpebra, bibir dan preputium,
kulit yang tebal dan tegang terdapat di telapak tangan dan kaki dewasa. Lalu
kulit tipis terdapat pada muka, yang lembut pada laher dan badan. (3)
Kulit terbagi atas tiga lapisan utama, yaitu lapisan epidermis, dermis
(korium) dan subkutis (hipodermis).(3)
1.

Lapisan epidermis
Lapisan yang terdiri atas stratum koneum, stratum lusidum, stratum

granulosum, stratum spinosum dan stratum basale.(3) Lapisan ini berfungsi
sebagai pelindung terhadap lingkungan luar.(4) Lapisan epidermis ini
mempunyai tiga jenis sel utama yaitu keratinosit, sel langerhans, dan
melanosit. Keratinosit dimulai dari sel basal yang mengadakan pembelahan, sel
basal yang lain akan berpindah ke atas dan berubah bentuknya menjadi sel

perlindungan lain diprakarsai oleh ujung saraf sensorik di dermis yang mendeteksi sensasi sentuhan.(4) 3. yang normalnya selama kira-kira 14-21 hari. Sel-sel ini membentuk kelompok yang dipisahkan satu dengan yang . Lapisan ini terdiri atas lapisan elastic dan fibrosa padat dengan elemen-elemen selular dan folikel rambut. dingin. Lapisan subkutis Lapisan yang terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya. hormone perangsang melanosit (melanocyte stimulating hormone. Melanin diyakini dapat menyerap cahaya ultraviolet dan dengan demikian akan melindungi seseorang terhadap efek pancaran cahaya ultraviolet dalam sinar matahari yang berbahaya. Kedua adalah pars retikulare yaitu bagian yang menonjol ke arah subkutan. terdapat diseluruh epidermis. dan panas. Melanosit mensintesis dan mengeluarkan melanin sebagai respons terhadap rangsangan hormone hipofisis anterior.(3) 2.spinosum.(3) Sel-sel imun yang disebut sel Langerhans.(3) Lapisan dermis adalah penghalang yang mencegah hilangnya cairan tubuh dan kehilangan panas tubuh berlebih baik melalui mikrosirkulasi dan kelenjar keringat. Sel Langerhans mengenali partikel asing atau mikroorganisme yang masuk ke kulit dan merangsang suatu sistem imun. tekanan. Lapisan dermis Lapisan di bawah epidermis yang jauh lebih tebal daripada epidermis. elastin dan retikulin. nyeri. kulit juga melindungi kita dari infeksi dengan mencegah penetrasi mikroorganisme ke dalam jaringan subdermal.(3) Melanosit (sel pigmen) terdapat dibagian dasar epidermis. berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah. Proses ini berlangsung terus-menerus. Makin lama inti makin menghilang dan keratinosit ini menjadi sel tanduk yang amorf. makin ke atas sel menjadi makin gepeng dan bergranula menjadi sel granulosum. yaitu pars papilare yaitu bagian yang menonjol ke epidermis. Laisan ini dibagi menjadi dua bagian. Melanosit merupakan sel-sel khusus epidermis yang terutama terlibat dalam produksi pigmen melanin yang mewarnai kulit dan rambut. yang terdiri atas serabut-serabut penunjang misalnya serabut kolagen. MSH).

tetapi lebih banyak melalui sel-sel epidermis. Terhadap taktil oleh Meissner di papila dermis. misalnya tekanan.  Fungsi Proteksi Kulit menjaga bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisis atau mekanis. di daerah kelopak mata dan penis sangat sedikit.(3) 2. tarikan. pembentukan pigmen. gangguan infeksi luar terutama kuman. dan amonia. absorpsi. Di abdomen dapat mencapai ketebalan 3 cm. Tebal tipisnya jaringan lemak tidak sama tergantung dengan lokasinya. Lapisan lemak ini juga merupakan bantalan. menembus sel-sel epidermis atau melalui muara saluran kelenjar.  Ekskresi Kelenjar-kelenjar kulit mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna lagi atau sisa metabolisme dalam tubuh berupa NaCl. Saraf-saraf tersebut lebih banyak jumlahnya di daerah erotik. Terhadap rangsangan panas diperankan oleh badan Ruffini di dermis dan subkutis. gangguan kimiawi.lain oleh trabekula yang fibrosa. ekskresi. bakteri maupun jamur.2 Fungsi Kulit (3) Fungsi utama kulit adalah proteksi. dan jenis vehikulum. hidrasi.1. metabolisme. Penyerapan dapat terjadi melalui celah antar sel. gangguan yang bersifat panas. pengaturan suhu tubuh (termoregulasi).  Absorpsi Kemampuan absorpsi kulit dipengaruhi oleh tebal tipisnya kulit. pembuluh darah. pembentukan vitamin D. asam urat.  Pengaturan suhu tubuh . dan keratinisasi. Lapisan sel-sel lemak disebut panikulus adiposa. berfungsi sebagai cadangan makanan. Sedangkan untuk tekanan oleh badan Paccini di epidermis. persepsi. gesekan. misalnya radiasi. sinar ultra violet. kelembaban. urea.  Persepsi Kulit mengandung ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis. Di lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi. Terhadap dingin oleh badan Krausse yang terletak di dermis. dan getah bening.

kebakaran kemah. reduksi Hb. bahan kimia yang bersifat asam atau basa kuat.2 Luka Bakar 2. oksi Hb. Kedalaman dari luka bakar melepuh berhubungan dengan suhu dari cairan.(2) 2. radiasi.  Pembentukan pigmen Sel pembentuk pigmen (melanosit). dan karoten. makin ke atas sel menjadi makin gepeng dan bergranula menjadi sel granulosum. petir. melanosit.2 Etiologi Luka bakar dihasilkan berbagai penyebab. air panas.2. paparan terhadap cairan dan kekentalan dari cairan.2. listrik. sel Langerhans. Penyebab kedua terbanyak dari luka bakar adalah kebakaran rumah. menurut penyebabnya adalah: (5) . Perbandingan jumlah sel basal : melanosit adalah 10 : 1.Kulit melakukan peranan ini dengan cara mengeluarkan keringat dan mengerutkan pembuluh darah kulit. Luka bakar melepuh merupakan penyebab paling banyak di penduduk sipil. Jumlah melanosit dan jumlah serta besarnya butiran pigmen (melanosmoses) menentukan warna kulit ras maupun individu.1 Definisi Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan integritas jaringan kulit yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api. sel basal yang lain akan berpindah ke atas dan berubah menjadi sel spinosum. terletak di lapisan basal dan sel ini berasal dari rigi saraf.  Pembentukan vitamin D Dimungkinkan dengan mengubah 7 dihidroksi kolesterol dengan pertolongan sinar matahari. kebakaran dari daun dan sampah. Klasifikasi luka bakar.  Keratinisasi Lapisan epidermis dewasa mempunyai 3 jenis sel utama yaitu keratinosit. Keratinosit dimulai dari sel basal mengadakan pembelahan. 2. melainkan juga oleh tebal tipisnya kulit. Warna kulit tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh pigmen kulit. selain itu juga disebabkan bahan kimia atau listrik.

Besarnya pengeluaran lebih kurang ½ -1 % blood volume untuk 1% luas luka yang terbakar. juga dapat terjadi karena timbunan hemoglobin akibat pecahnya eritrosit intravascular maupun mioglobin karena kerusakan otot-otot. tetapi anemia tidak timbul pada hari pertama karena kekurangan eritrosit ditutup oleh hemokonsentrasi. Luka bakar karena api dan atau benda panas lainnya Luka bakar karena minyak panas Luka bakar karena air panas (scald) Luka bakar karena bahan kimia yang bersifat asam kuat atau basa kuat (chemical burn) e. Cairan tubuh Karena panas. . Perdarahan ini dapat sedemikian banyaknya sehingga Hb sering sampai serendah 2 g%. Trauma akibat suhu sangat rendah (frost bite) 2. kapiler-kapiler darah berubah menjadi lebih permeable terhadap cairan dan protein. Ulkus ini diduga akibat rangsangan sentral di hipotalamus dan juga karena peningkatan jumlah kortison. Ulkus ini diketahui setelah keluhan nyeri dan perdarahan baik dimuntahkan maupun melena. Pengeluaran cairan ini paling pesatterjadi dalam 6-8 jam pertama setelah trauma. Pada luka bakar sering terjadi ulkus kecil-kecil yang difus di lambung yang disebut Curling ulcer.4 Perubahan akibat Luka Bakar Perubahan yang dapat terjadi akibat luka bakar adalah: (6) a. d. elektrolit dan protein keluar dari intravascular ke jaringan interstitial. air. b. d. b. c. Kortison dikeluarkan banyak dalam darah sebagaimana terjadi pada setiap kejadian stress. Akibatnya baik. Pengobatan curling ulcer terdiri dari transfuse (utama). Mudah dimengerti bahwa pada 20% penderita luka bakar dapat kehilangan blood volume 10-20% sehingga akan mudah jatuh dalam shock. Lambung pada hari-hari pertama dapat mengalami akut dilatasi dan paralisa usus. e. c. Luka bakar karena listrik dan petir (electric burn atau electrocution dan lightning) f.2. Eritrosit Eritrosit dapat pecah karena panas atau menjadi rapuh.a. Ginjal Dapat mengalami kegagalan fungsi (gagal ginjal akut) bila syok yang terjadi tidak segera diatasi. Luka bakar karena radiasi g.

Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama penderita pada fase akut. Luka yang terjadi menyebabkan: . MDF ikut bertanggung jawab terhadap timbulnya syok pada hari pertama dan pada waktu septik syok dimana jumlah cairan intravaskuler cukup. b) Fase sub akut. membuat penderita jarang selamat. Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akibat cedera termal yang berdampak sistemik. antasida dan penenang (diazepam). Respon imunitas penderita luka bakar menurun pada fase akut. breathing (mekanisme bernafas). g.5 Fase Luka Bakar(5. namun masih dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-72 jam pasca trauma. c) Fase lanjut. dan menjadi 2x lipat pada hari ke empat. Penderita sering meninggal akibat transfuse yang terlambat.Proses inflamasi dan infeksi . dan sirkulasi.pemasangan pipa lambung. Masalah yang terjadi adalah kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak dengan sumber panas. . MDF merupakan glikoprotein yang toksis. Level serum IgG dan IgM mencapai terendah pada hari pertama dan akan kembali normal pada minggu kedua. Glikoprotein yang sama juga dihasilkan oleh pankreas yang mengalami hipoksia. yang dihasilkan oleh kulit yang terbakar. Penderita ini mudah mendapat sepsis dan kegagalan mengembalikan titernya. Berlangsung setelah fase syok teratasi. MDF dapat dideteksi pada hari pertama sebesar 26 unit.13) a) Fase akut / fase syok / fase awal Dalam fase awal penderita akan mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas). yang menyebabkan disfungsi jantung.Problem penutupan luka dengan titik perhatian pada luka terbuka atau tidak memiliki epitel dan atau pada struktur atau organ – organ fungsional. 2. Jantung Kini diketahui bahwa pada luka bakar dapat terbentuk zat yang disebut Myocardial Depressant Factor (MDF). f.2. Gangguan jalan nafas tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah terbakar.

Badan depan : 18% .Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi jaringan parut akibat luka dan pemulihan fungsi organ-organ fungsional. 2. keloid.Badan belakang : 18% . Rule of Nine (2) .Tungkai kanan – kiri : 36% .6 Penentuan Luas Luka Bakar a) Luas luka bakar dinyatakan dalam persen terhadap luas seluruh tubuh. deformitas dan kontraktur. Masalah yang muncul pada fase ini adalah penyulit berupa parut yang hipertropik.Lengan kanan – kiri : 18% . Dalam perhitungan digunakan rumus Wallace.Genitalia/perineum : 1% Total = 100% Gambar 2. gangguan pigmentasi. yang membagi tubuh atas bagian 9% atau kelipatan 9 yang terkenal “Rule Of Nine” atau “Rules of Wallace” untuk orang dewasa : (2) .Kepala dan Leher : 9% .2.

dikenal rumus 10 untuk bayi dan rumus 10-15-20 untuk anak.Pada anak dan bayi digunakan rumus lain. karena luas relative permukaan kepala anak lebih besar. Karena perbandingan luas permukaan bagian tubuh anak kecil berbeda.(7) . bila luasnya tidak sampai seluas telapak tangan dilaporkan sebagai luas 1%.(2) Gambar 3. Rumus 10(2) b) Gambar 4. Rumus 10-15-20(2) Palmar surface: perlu diingat bahwa satu telapak tangan penderita adalah 1% dari permukaan tubuhnya.

Palmar suface (7) c) The Lund and Browder Chart : metode yang lebih akurat untuk mengukur luas luka bakar setiap bagian tubuh berdasarkan umur seseorang.(9) .Gambar 5.

.

The Lund and Browder Chart (8) .Gambar 6.

2. The Lund and Browder Chart(9) Klasifikasi Luka Bakar Kedalaman luka bakar diklasifikasikan dengan berhubungan tingkat anatomi dari kulit.Tingkat Nyeri .7 Tabel 2.2.Bula . secara klinis : (10) Derajat Bakar Luka Penyebab Lapisan kulit yang terkena Warna .

sehingga terlihat tulang. dan terkena panas dalam waktu yang singkat) hanya melibatkan Nyeri Tidak ada bula Sangat nyeri Bula (+) Sedikit atau tidak nyeri. rambut mudah dicabut Bula(-) / (+) Tidak ada nyeri Bula (-) . percikan api Kontak dengan cairan panas atau benda padat. api.kemeraha n dan hangus - III (full thickness) Kontak lama dengan api maupun listrik Epidermis.I (Superficial thickness) Sengatan sinar matahari Epidermis Kemerahan - IIA (superficial partial thickness) Kontak dengan cairan panas / benda padat. bahan kimia. otot / tendon Tabel 3. Derajat Luka Bakar Macam-macam derajat luka bakar berdasarkan kedalamannya: (4) i. listrik Epidermis dan papillary dermis Pink - IIB (deep partial thickness) - Epidermis. Klasifikasi Luka Bakar(10) atau - Gambar 7. papillary dan bervariasi derajat pars reticular dermis Campuran putih. Derajat I Luka bakar dangkal (superfisial) (misalnya paparan sinar matahari yang berlebihan. paparan nyala api. lilin. Putih dan penetrasi lebih hitam dalam. dermis.

fungsi proteksi kulit masih intak. Rasa sakit ini terutama disebabkan oleh produksi prostalglandin vasodilator lokal. Epitel yang rusak mengupas dalam waktu 5-10 hari tanpa meninggalkan sisa jaringan parut. Luka Bakar derajat 1(10) ii.lapisan epidermis lebih tipis luar dan ditandai dengan eritema dan perubahan mikroskopik yang minor. yang biasanya sembuh dalam waktu 48-72 jam. Gambar 8. edema pada kulit juga minimal. Gejala utama adalah rasa sakit. Kerusakan jaringan kulitnya minimal. Derajat II .

Superfisial Partial (II A) : mengenai epidermis dan lapisan atas korium atau dermis. Gambar 9. dan folikel rambut masih banyak. penyembuhan lebih lama (biasanya dalam waktu 25-35 hari) dan disertai pembentukan skar yang hipertrofi. Komplikasi dari luka bakar biasanya jarang. bula bisa ada atau tidak ada. Biasanya akan sembuh dalam 10-14 hari. Elemen epithelial yaitu dinding kelenjar keringat. Tampak sisa-sisa epithelial yang rapuh dan tinggal sedikit. Luka Bakar derajat 2A(10) Dalam parsial (II B) : klinis tampak pucat. sensasi nyeri berkurang bahkan menghilang. Adanya pembentukan bula dan terasa nyeri. . hangus. Timbul hyperemia. sehingga penyembuhan akan mudah tanpa atau dengan terbentuknya sikatrik yang minimal. lemak.

hangus. Kadang daerah yang terbakar melepuh dan rambut/bulu di tempat tersebut mudah dicabut dari akarnya.Gambar 10. Luka Bakar derajat 2B(10) iii. seperti lilin dan lembut atau berwarna hitam. tidak timbul rasa nyeri karena ujung saraf pada kulit telah mengalami . jika disentuh. Dari pemeriksaan fisik. Derajat III: Permukaannya bisa berwarna putih. Kerusakan sel darah merah pada daerah yang terbakar bisa menyebabkan luka bakar berwarna merah terang. dan kasar.

kerusakan. Gambar 11. Luka Bakar derajat 3(10) . otot dan tulang. mengenai seluruh tebal kulit atau juga mengenai lapisan dibawah kulit seperti subkutan. kurangnya capillary refill .

Semakin lama waktu kontak. bahan kimia. Terdapat tiga area pada luka yang dapat diuraikan sebagai berikut(5) a. zona nekrosis. air mendidih atau air yang sudah beberapa saat mendidih). Zona koagulasi. Berada tengah. Secara umum. 2. luka bakar listrik dan kimiawi menempati urutan pertama.2. Sangat sering luka bakar yang khas terdiri dari beberapa zona jaringan yang rusak akibat perpindahan panas yang berbeda. kematian kulit yang ireversibel.8 Zona Kerusakan Jaringan akibat Luka Bakar Biasanya luka bakar memiliki kedalaman yang berbeda di berbagai daerah. Berdasarkan urutan beratringannya luka dikaitkan dengan penyebab. Biasanya situs perpindahan panas yang lebih besar. dan yang berbeda pula. lalu air panas (inipun dibedakan lebih lanjut: air panas murni. diikuti api. daerah yang mengalami kontak langsung. Kerusakan jaringan berupa koagulasi . antara lain: (5)  Penyebab (api. radiasi. air panas. minyak panas. Namun kerusakan atau keparahan luka berbeda.Gambar 12.  Lama kontak dengan sumber panas Lama kontak jaringan dengan sumber panas menentukan luas dankedalaman kerusakan jaringan. kerusakan jaringan yang terjadi adalah kerusakan jaringan yang identik. listrik). Derajat Kedalaman Luka Bakar(11) Kedalaman dan kerusakan jaringan ditentukan oleh peran beberapa faktor. semakin luas dan dalam kerusakan jaringan yang terjadi. ledakan.

kontak. Tergantung keadaan umum dan terapi yang diberikan.2.(denaturasi) protein akibat pengaruh trauma termis. thrombosis dan respon inflamasi lokal yang mengakibatkan terjadinya gangguan perfusi. Kerusakan yang terjadi akibat perubahan endotel pembuluh darah. Zona hyperemia. Daerah ini terjadi reaksi berupa vasodilatasi tanpa banyak melibatkan reaksi sel. Daerah di luar zona statis. c. zona ini dapat mengalami penyembuhan spontan.9 Klasifikasi Keparahan Luka Bakar menurut American Burn Association (ABA) (4) Derajat Luka Bakar Anak-anak Dewasa Orang tua . yang mungkin akan berakhir dengan nekrosis jaringan. Proses tersebut biasanya berlangsung dalam dua belas sampai dua puluh empat jam paska trauma. trombosit dan leukosit yang diikuti perubahan permeabilitas kapiler. Gambar 13. Diagram Zona Luka Bakar (14) 2. Daerah di luar atau di sekitar dan langsung berhubungan dengan zona koagulasi. Jaringan ini bersifat non vital dan dapat dipastikan mengalami nekrosis beberapa saat setelah b. Zona stasis.

2. 2. trauma pada anak dan orang yang lebih tua serta ada penyakit komorbid seperti diabetes mellitus. Luka bakar derajat II lebih dari 10% luas permukaan tubuh. tangan. luka pada pada daerah kritikal* daerah daerah kritikal* dan dan luka yang rumit** seluruh lapisan dan >10% kritikal* luka yang lapisan luka yang rumit** rumit** Tabel 4. kaki. luka TBSA. tangan. luka pada TBSA. genitalia atau perineum atau yang mengenai kulit sendi-sendi utama . perineum **Rumit termasuk trauma inhalasi. mata.Ringan < 10% TBSA <15% TBSA <10%TBSA Luka Luka Luka seluruh lapisan seluruh lapisan Sedang Berat <2% lapisan seluruh <2% <2% TBSA TBSA 10-20% TBSA TBSA 15-25% TBSA 10-20% TBSA Luka Luka seluruh Luka seluruh lapisan seluruh lapisan <10% lapisan <10% < 10% TBSA (tidak TBSA (tidak TBSA (tidak termasuk daerah termasuk daerah termasuk daerah kritikal kritikal >20% TBSA kritikal >25% TBSA >20% TBSA Luka Luka seluruh Luka seluruh lapisan >10% >10% TBSA. 2. Klasifikasi Keparahan luka bakar menurut ABA(4) Keterangan: *Daerah kritikal meliputi wajah. Luka bakar yang mengenai wajah. trauma listrik dengan tegangan tinggi.10Kriteria Merujuk Pasien Luka Bakar ke Unit Luka Bakar menurut American Burn Association (12) 1. kaki. telinga.

kerusakan jaringan bawah kulit hebat dan menyebabkan gagal ginjal akut serta komplikasi lain 5. sehingga pada sebagian besar kasus membutuhkan penanganan medik ataupun bedah. Luka bakar derajat III pada semua umur. Luka bakar pada penderita. Anak-anak yang dirawat di rumah sakit tanpa petugas dan peralatan yang memadai. memperpanjang pemulihan atau dapat mengakibatkan kematian. listrik. Denaturasi protein merupakan efek paling umum dari semua tipe luka bakar. 4. 2.3. dan paparan ini masih akan berlanjut di ruangan UGD. Luka bakar akibat bahan kimia Sejumlah besar dari bahan kimia dapat menyebabkan luka bakar pada kulit dan mata. terjadi koagulasi cepat dari protein karena reaksi silang ireversibel. Cedera akibat bahan kimia biasanya membutuhkan waktu paparan yang lebih lama. menyebabkan kerusakan struktur tubuh. Luka bakar dengan cedera penyerta yang menambah resiko morbiditas dan mortalitas.emosional. serta menyebabkan efek sistemik karena absorbsi atau inhalasi. Pada trauma thermal. Luka bakar kimia 6. karena penyakit yang sedang dideritanya dapat mempersulit penanganan. Aplikasi dari panas maupun bahan kimia. Penderita luka bakar yang memiliki penanganan khusus seperti masalah sosial. terutama gangguan pH. sedangkan trauma kimia . atau rehabilitasinya lama. berbeda dengan trauma thermal. Akan tetapi. dan bahan kimia.3. radiasi. Trauma inhalasi 7.3.1 Patofisiologi Tubuh memiliki sistem proteksi dan perbaikan spesifik yang sangat rendah terhadap luka bakar akibat panas. 10. luka bakar akibat bahan kimia memiliki perbedaan jika dibandingkan dengan trauma thermal. Luka bakar listrik (tersambar petir). 8. 2. 9. Sequelae jangka panjang sayangnya sering ditemukan.

dan komponen 3.3. 3. Contoh dari pembentuk ester adalah asam format dan asetat. Contoh agen: sodium 2.3 Tipe dari bahan kimia 1. sedangkan inhibitor meliputi asam oksalat dan 5. . Oksidasi: denaturasi protein disebabkan karena insersi dari oksigen. Asam melepaskan ion hidrogen dan menurunkan pH dari 7 hingga 0. Asam dengan pH kurang dari 2 dapat menyebabkan nekrosis koagulasi ketika kontak dengan kulit. sodium hypochlorite.2 Mekanisme aksi Terdapat enam mekanisme aksi dari agen kimia dalam sistem biologis: 1. Korosi: menyebabkan denaturasi protein karena kontak. potassium permanganate. agen kimia dapat menyebabkan efek sistemik jika komponennya bersirkulasi dalam tubuh penderita. Contoh agen korosif 4. Racun protoplasmik: agen ini menyebabkan pembentukan ester dengan protein atau berikatan atau menghambat kalsium atau ion organik lain yang diperlukan untuk viabilitas dan fungsi jaringan.menyebabkan destruksi protein melalui mekanisme lain. adalah fenol. hypochlorite. atau atom halogen ke protein tubuh yang viabel. Contoh agen ini adalah sulphuric dan muriatic acid. dan chromic acid. nitric acid. Dessicants: agen ini menyebabkan kerusakan dengan menyebabkan dehidrasi jaringan. serta menyebabkan toksisitas. Asam adalah donor proton. hidrofluoride. Vesicants: agen ini memproduksi iskemia dengan nekrosis anoxic pada tempat dengan kontak. 5. dimethyl sulfoxide 6. (DMSO). dan fosfor putih. dan Lewisite. Contoh agen ini adalah mustard gas. sulfur. terutama hidrolisis. Sebagai tambahan. 2. Konsentrasi Kuantitas Durasi kontak Penetrasi Mekanisme aksi 2. Keparahan dari luka bakar akibat bahan kimia ditentukan oleh: 1. alkyl mercury. 4. Reduksi: agen pereduksi bekerja dengan berikatan pada elektron bebas pada protein jaringan. 2.3. Contoh agen: hydrochloric acid. Agen ini memiliki karakteristik dapat memproduksi cutaneous blisters.

5 menyebabkan kerusakan berat dari jaringan melalui nekrosis liquifikasi. Basa adalah akseptor proton. Membersihkan partikel-partikel kimia. Kontak pada mata. 2. biasanya lebih dalam dari apa yang terlihat secara eksternal. ada juga beberapa tindakan pertolongan pertama yang penting pada luka bakar kimia. Namun. Pertolongan pertama untuk luka bakar kimia melibatkan beberapa aspek seperti: 1. d. Untuk maintanance O2 Pertimbangkan intubasi dan Bronkoskopi untuk diagnosis. 2. c. Pemeriksaan tingkat luka bakar. waspada terhadap perubahan metabolik. b. Gunakan informasi dari pusat toksikologi. dan tidak dianjurkan untuk berendam. penilaian primer dan sekunder juga berlaku untuk luka bakar kimia. . Pengobatan toksisitas sistemik jika ada efek samping agen kimia. Karena alasan ini. Melakukan dilusi tingkat tinggi dengan mandi menggunakan air keran (2030 menit). Basa melepas ion hidrogen dari grup protonated amine dan carboxylic. Dukungan dari berbagai pihak. Alkali dengan pH lebih dari 11. Membersihkan atau membuang agen bahan kimia. luka bakar akibat alkali cenderung lebih berbahaya 3. Cedera inhalasi. e. menggosok dengan sikat jika terkena bahan kimia kering. Organic solutions bekerja dengan cara melarutkan lipid dari membran sel dan 4. bilas dengan air secara terus menerus dan konsultasi dengan oftalmologi. mengganggu struktur protein sel. 3. Poin-poin penting dalam pengobatan luka bakar kimia adalah : a. f. Inorganic solutions merusak kulit dengan ikatan langsung dan pembentukan garam.3.4 Prinsip manajemen secara umum Penatalaksanan ABC untuk trauma.2. Dalam produk kimia aerosol. Liquifikasi menyebabkan jaringan mengendur dan agen dapat mempenetrasi semakin dalam. Toksisitas sistemik. daripada karena asam.

secara teoritis . Perawatan luka bakar lokal (jika relevan pada tahap ini. yang bereaksi dengan air membentuk kalsium hidroksida. Luka bakar kimia ditandai dengan kerusakan jaringan selama terpapar agen kimia. Pertimbangan khusus untuk agen tertentu. Irigasi air secara berlebihan telah terbukti mengurangi tingkat keparahan luka bakar dan lama waktu perawatan di rumah sakit. lavage air digunakan untuk hampir semua luka bakar kimia. kapur kering harus dibersihkan dari kulit sebelum lavage. Seluruh riwayat kejadian diperlukan untuk memastikan respon terhadap agen kimia dan pengobatan yang tepat penting untuk meminimalkan kerusakan jaringan.4.3.1 Penghapusan dari bahan kimia Durasi kontak kimia dengan kulit adalah bukan merupakan penentu utama keparahan cedera. contohnya asam fluorhydric). Kapur kering mengandung kalsium oksida. Asam muriatic dan asam sulfat pekat menghasilkan panas yang ekstrim bila dikombinasikan dengan air. pembersihan langsung dari agen kimia sangat penting dengan menggunakan irigasi dengan air. adalah prinsip terapi karena sangat berkhasiat untuk paparan asam dan alkali. fenol larut dalam air dan tindakan pertama untuk membersihkan dari kulit dengan spons yang direndam dalam agen khusus seperti 50% polyethy-lene glycol. Periode dari 30 menit sampai 2 jam lavage mungkin diperlukan untuk menghasilkan pH antara 5 dan 11. bukan netralisasi. Karena itu. Beberapa bahan kimia membuat exothermy signifikan bila dikombinasikan dengan air. Meskipun berlebihan.4.3. dan bahan kimia lainnya yang tidak larut dalam air. Agen kimia harus dinetralisir dengan sabun atau air kapur sebelum lavage. ada beberapa pengecualian. Oleh karena itu. lavage menghilangkan bahan kimia di kontak dengan kulit. dan membantu memperbaiki efek higroskopis agen-agen tertentu terhadap jaringan. 2. Beberapa penulis telah menunjukkan bahwa pengenceran. 2. tergantung pada sifat bahan kimia yang terlibat.4.2 Agen penetral Ini adalah salah satu poin yang paling kontroversial. Namun. 5.

gagal ginjal dan pankreatitis.3. 2. krim atau dressing.menetralkan solusio efektif menghilangkan bahan kimia aktif dari luka dan memberikan manfaat dari cedera yang lebih lanjut. pemantauan output urine untuk penilaian perfusi organ.3. Setelah lavage dan debridement. Penyerapan asam format dapat menyebabkan hemolisis intravaskular. Eksisi awal dan grafting jaringan rusak dianjurkan sesegera mungkin. Masalah terkait dengan penggunaannya termasuk reaksi eksotermik yang dapat menyebabkan kerusakan lebih lanjut dan keterlambatan hidroterapi sementara menetralisir agen kimia. akan tetapi dokter harus selalu menyadari kemungkinan ini. Gas darah dan analisis elektrolit harus dilakukan sampai stabilitas metabolik membaik. luka bakar kimia akan diperlakukan sama dengan prinsip luka bakar.4 Toksisitas sistemik dan cedera inhalasi Dokter harus waspada terhadap toksisitas dari penyerapan agen sistemik. Toksisitas sistemik jarang disebabkan agen lainnya. Dengan cara menjaga ruangan suhu antara 28 dan 31.4. Masalah utama adalah pengendalian kuantitas dari bahan penetral. Setiap pasien yang mendapat lavage berlebihan untuk mencairkan paparan kimia potensi terjadi risiko hipotermia. atau tertelan oleh manusia.4. Kita bisa merawat luka dengan agen kemoterapi. 2.3 Dukungan umum. yang sebagian besar digunakan dalam industri. 8C dan Suhu air yang mendekati dengan suhu tubuh. estimasi dari luka bakar dan lokal perawatan Prinsip-prinsip umum manajemen trauma tetap dilaksanakan (ABC). Namun. terhirup. 2. Formulasi resusitasi baxter digunakan bila diperlukan.3. Hal ini juga penting bahwa agen penetral dapat mengakibatkan keracunan. Toksisitas asam fluorida termasuk hipokalsemia dan fibrilasi ventrikel. praktek saat ini di bagian kegawatdaruratan . Komplikasi utama adalah gangguan pH. yang memiliki potensi untuk menyebabkan kerusakan ketika kontak.5 Manajemen khusus Berikut adalah beberapa agen.

2 Hydrochloric acid / muriatic acid Jenis luka bakar yang lebih jarang daripada asam lainnya seperti luka bakar kimia asam sulfat. luka yang terbakar harus dibersihkan dengan steril air dan diberikan krim antibakteri topikal. Kerusakan kulit akibat semen basah melalui cara: 1. asam klorida mendenaturasi protein ke dalam garam klorida. 3. Calcium oxide merupakan 65% dalam campuran yang paling umum. Di sisi lain. 2. Iritasi dari pasir dan kerikil dalam semen dapat menyebabkan dermatitis. 2. Perawatan umum pertama membersihkan semua bagian yang terkena semen direndam termasuk alas kaki. Lesi dievaluasi secara berkala untuk membuat keputusan apakah eksisi bedah dan pencangkokan kulit diperlukan. Lecet: Sifat partikel kasar dan halus di semen bertanggung jawab untuk lecet. Dalam kontak dengan kulit.3.dan pusat-pusat luka bakar menunjukkan bahwa beberapa bahan beracun dan bahan kimia telah diteliti lebih lanjut untuk menggali potensi dalam menyebabkan luka bakar beserta pengobatan khususnya. Hasil luka dari aksi ion hidroksil. dan sebagai pengering dan alkali. Dermatitis alergi: Hal ini disebabkan oleh reaksi terhadap nya ion heksavalen kromat. 2. Luka bakar kimia: Ini adalah cedera yang paling signifikan terkait dengan semen.1 Semen Ada banyak kandungan zat semen.5. Semen luka bakar dapat merusak jika terkena mata dalam pekerja yang tidak memakai kacamata pelindung. Selanjutnya. Manajemen cepat dan terus menerus .5. berasal ketika kalsium oksida terkena air. Dan ada dua lokasi di mana semen dapat menghasilkan luka parah. debu kalsium oksida dapat menjadi aerosol dan menyebabkan iritasi ke saluran pernapasan. menjadi kalsium hidroksida.3.

Mencuci sangat penting dalam luka akibat Hydrofluoric acid karena sifat asam berasal sebagian dari ion kompleks yang hilang pada konsentrasi di bawah ini 10%. Kerusakan jaringan disebabkan oleh dua mekanisme. 2. ion hidrogen menyebabkan luka bakar. Asam fluorida menyebabkan luka bakar parah dan efek sistemik. Fosfor putih dapat menyebabkan luka bakar. irigasi dengan air merupakan prinsip terapi serta membersihkan kulit pasien yang kontak dengan kulit pasien.menggunakan air irigasi dari kulit yang terkena untuk menghindari kerusakan parah terkait dengan pH rendah yang dapat muncul pada jaringan subkutan. bahkan dalam kasus di mana kerusakan kulit tidak tampak parah.3. fluoride menembus ke jaringan yang lebih dalam.5% menghambat oksidasi dan mengubah partikel hitam. peradangan paru) yang asam klorida dapat menghasilkan jika asap yang dihirup. Komplikasi yang serius dapat terjadi. yang biasanya berkaitan dengan kecelakan industri. Kedua. menyebabkan nekrosis dari jaringan lunak. 2. yaitu.5 Basa kuat . Pemakaian solusi copper sulphate 0.3.4 Fosfor Menurut berbagai literatur. mengubahnya menjadi bentuk kimia yang lebih tidak berbahaya.5. Hal ini juga penting untuk diingat kerusakan paru (saluran napas atas edema.3 Hydrofluoric acid Asam fluorida (HF) adalah zat yang sangat berbahaya. Pertama. Karena itu.3. namun sering digunakan dalam berbagai industri dan rumah tangga. Hal ini harus segera dilaksanakan dengan durasi yang lama untuk efek maksimal.5. sehinga lebih mudah dalam mengidentifikasi dan membersihkan fosfor.5. 2. Tindakan pertama luka bakar kimia harus teliti dan lavage berlebihan untuk membersihkan luka permukaan yang tidak bereaksi bahan kimia. bahan kimia fosfor dapat menyebabkan luka bakar.

untuk meningkatkan . Ion-ion ini menyebabkan reaksi kimia dalam jaringan (liquefaction necrosis). belum ada konsensus yang menentukan berapa lama durasi hidroterapi di lakukan.5. Sebaiknya irigasi dilakukan terus menerus selama 2 jam atau lebih dengan periode istirahat selama 4 jam. sulfur trioksida. Prinsip utama dilakukan irigasi dengan air yang banyak dan eksisi awal luka bakar. 2. yang menyebabkan kerusakan jaringan. Menyebabkan terjadinya coagulation necrotic eschars dengan pembentukan trombus lesi. menyebabkan kerusakan jaringan dan kematian sel. Juga sering tertelan dan di salah gunakan sebagai bahan bunuh diri. yang larut dan mengandung ion hidroksi. Jika tidak. Sampai saat ini. merupakan asam kuat dan menyebabkan kerusakan serta dehidrasi dengan menciptakan panas yang berlebihan dalam jaringan. Basa kuat mempunyai kemampuan penetrasi dalam. natrium hidroksida dan kalium hidroksida merupakan zat yang terkandung dalam cairan pembersih rumah tangga. dan juga kemampuan merusak jaringan sekitarnya sejak awal paparan.3. namun studi lebih lanjut diperlukan penatalaksanaan dini luka bakar karena asam sulfat. Sehingga sat pasien stabil. 2. 3.6 Sulphuric acid Asam Sulfat dan prekursornya. Mekanisme alkali kuat dalam merusak jaringan melalui : 1. Alkalis melarutkan protein dari jaringan untuk membentuk protein basa. harus dilakukan eksisi tangensial luka bakar atau dressing sementara.Kapur. Air tidak bisa menghilangkan agen dari lapisan yang lebih dalam dari luka bakar. Saponifikasi lemak merupakan reaksi eksotermik yang menghasilkan panas. kerusakan jaringan menjadi progresif dan kemungkinan infeksi dapat memperberat luka. Ekstraksi air yang cukup banyak dari sel menyebabkan kerusakan karena sifat higroskopis dari alkali.

antibiotik topikal dan dressing. Untuk luka bakar akibat sulfur mustrad dilakukan debridement.2. suhu lingkungan dan tingkat kelembaban di kulit. . dengan derajat keparahan tergantung dari dosis agen. Namun. Kerusakan kulit akibat sulfur mustard membutuhkan beberapa bulan untuk penyembuhan.5. Korban biasanya mengalami luka bakar. merupakan luka yang membutuhkan perhatian khusus dan manajemen karena dampak sosial dan dampak ekonomi. BAB III KESIMPULAN Luka bakar kimia merupakan sebagian kecil dari semua jenis luka bakar. irigasi.3. digunakan agen klasik Lewisite (L) dan sulfur mustard (SM) yang dapat menyebabkan luka bakar pada kulit dalam.7 Vesicant chemical warfare agents Selama perang perang dunia I.

Standar emas untuk pengobatan masih irigasi berlebihan dengan air. Mentaati peraturan dan memiliki kamar mandi dan perangkat untuk irigasi mata yang wajib oleh standar konsensus. . namun masih membutuhkan uji klinis berkelanjutan. terutama di lingkungan kerja.Hal ini penting untuk menunjukkan pentingnya pencegahan. kecuali di beberapa bahan kimia. Pasien harus dirawat oleh praktisi khusus dan dirujuk ke pusat perawatan luka bakar di rumah sakit sesegera mungkin.