You are on page 1of 17

D1CARI: KALIMA T TERJEMAHAN YANG BERKETERBACAAN

TINGGI
Katubi

Sta! Pengajar JunlSall Bahasa /lIggris Sekofah Tinggi Bahasa Asing L1A Jakarta
Abslrak
Kcterbacaan pada sebuah leks harus menjadi pcrhatian karena bcrkaitan langsung
dcngan isi leks tersebut. Fokus harus dibcrikan lcbih kepada kelerbalasan leks. Meskipun
demikian, hal tcrsebut sangat tergantung pada tingka! keterbacaan kalimatnya. Makalah ini
membicarakan faktor-faklOT yang mempcngaruhi keterbacaan kalimal dan implikasinya pada
Icrjemahan. Tanpa kete rbacaan kalimat yang baik leks akan suli! dipahami. Dcmikian pula
yang versi terjemahaann ya.
Kala ku nci: ketcrbacaan, leks
Abstract

Readability needs to be the concern of allY text becallse it has close relationship with the
content of the lext. The focus should be given on the text readability. However, it depends a lot
on the sentence readability level. Th is paper discusses factors that illfluence sentence
readability and its implication to translation. \Vilhollt it, the text won't be easy to comprehend,
let alone the translation wrsion.
Key words: readibility, text

Pendahuluan
Keterbacaan berkaitan dengan hal mudah atau sukarnya teks dipahami
kelompok pembaca tertentu yang menjadi sasaran teks terse but. Semakin tinggi
keterbacaan leks, leks tersebut semakin mudah dipahami pembaca. Namun,
perlu diingat babwa sifat keterbacaan itu melekat pada teks, bukan pada diri
pembaca.
Sejak tahun 1920-an, para penelili kelerbacaan lelah mengembangkan
dua tujuan utama pene1itiannya, yaitu (1) untuk menggunakan pengetahuan
dalam mempengaruhi kesesuaian yang optimal antara pembaca dan leks; (2)
untuk memahami apa yang membuat leks mudah alau sukar dibaca.
Berdasar kedua tujuan itu , akhirnya sampai saat ini para pakar
kelerbacaan telah menemukan sejumlah variabel yang dapat digunakan untuk
136

UNl;UA Vol. 5 No. 2,

2006 1.J.6.-152

studi keterbacaan. Dalam hal ini, Harrison (1984) mengelompokkan adanya
enam variabel yang mempengaruhi keterbacaan leks, yaitu (1) sifa! mudahnya
dibaca (aspek tipografi), (2) ilustrasi dan warna, (3) kosakata, (4) kesulitan
konseptual , (5) sintaksis, dan (6) organisasi leks. Di antara kelima variabel
tersebut, variabel sintaksislah yang akan dibahas dalam tulisan ini se hubungan
dengan faktor keterbacaan.
Barangkali ketika kita mempelajari kaidah tala kalimat, kila tidak
pernah mengelahui tujuan kita mempelajari hal itu sehingga kekakuan lampak
nyata dalam pelajaran tata kalimat. Padahat, pengetahuan kita dalam memiliki
kelerampiJan membuat kalimat sangal diperlukan, tidak hanya kelika kila
membuat komposisi sendiri, tetapi juga ketika kita melakukan tindak
penyuntingan atau kelika kita menerjemahkan tulisan orang lain dari satu
bahasa sumber (selanjutnya disingkat Bsu) ke bahasa sasaran (selanjutnya
disingkat Bsa). Oleh sebab itu, keterampilan tersebul harns dimiliki oteh para
penulis, penyunling, dan penerjernah karena leks yang mereka hasilkan itu
harns dikornunikasikan kepada pembaca dan bukan untuk dinikmati sendiri.
Unluk menghasilkan leks yang berketerbacaan linggi, pemahaman
tenlang kegramatikalan kaJimat saja tidak akan memadai. Karena ilU , perlu ada
terobosan yang memungkinkan pembaca mudah memahami leks dengan tanpa
mengorbankan aspek kegramatikalan dan keefektifan kalimat. Karena ilU , tata
kalimat layak dikaji dengan aspek keterbacaan, terutama dalam penerjt:mahan.

Tata Kalimat, Jumlab Kata, dan Keterbacaan: Temuan dalam Bahasa
Inggris

Tata Kalimat dan Keterbacaan
Berkaitan dengan kajian tata kalimal dan keterbacaan . Robinson (1989)
menyatakan bahwa jika struktur sintaktik dan semantik leks bersesuaian
Dica,,: Kalim.! Terierna""n Vang Scr\eu:rbacaan linggi (Kalubi )

137

dengan penge!ahuan sintaklik dan semantik pembaca, pemahaman pembaca
alas teks tersebul akan tinggi. Akan telapi, jika terdapat rentangan jarak latar
pengalaman, emosional , dan kebahasaan antara penulis leks dan pembaca,
pemahaman pembaca akan rendah dan teks lersebut menjadi sulit. Oleh sebab
ilU, Robinson menyarankan agar kesatuan konsep yang ada di dalam se buah
kalimat jangan membual fru st rasi pembaca. Dengan kata lain, kalimat tidak
boleh berisikan ide yang lerlalu banyak jumlahnya. Selain ilu, tingkat
kekompleksan kalimat juga tidak bol eh terlalu tinggi. Jadi,

penulis teks

seyogyanya tidak menggunakan kalimat-kalimat yang terlalu panjang dan
kompleks jika memang tidak betul-betul diperlukan.
Hal itu sesuai dengan pendapal Harjasujana (1992) yang menyatakan
bahwa tingkat keterpahaman wacana seyogianya disesuaikan dengan tingkat
pengetahuan pemakai bahasa rnengena i berbagai aspek kebahasaan, tennasuk
aspek tata kalimat. Kalimal-kalimal yang lebih sederhana dapal meningkatkan
keterbacaan teks. lsi teks yang sukar pun akan bisa dipahami secara lebih
mudah jika disampaikan dengan kalirnat-kalimat yang tidak terlalu kompleks
susunannya.
Hasi l penelitian yang dilakukan Coleman (1968) dan Dawkins (1975)
memberi simpulan yang sangat relevan atas bahasan ini. Beberapa (emu an
mereka dapa! dikemukakan sebagai berikut.
1. Verba aktif vs verba pasif

Kalimat yang berverba aktif lebih mudah dibaca dan diingat daripada
kalimat berverba pasif. Contohnya ialah

(I)

The cha irs were taken by the boys

(2)

The boys took rhe chairs

Kalimat (1) lebih sulit dipahami daripada bentuk kalimat (2). Selain itu ,
kalimat
138

berverba aktif kemungkinannya lebih kecil un!uk disalahpahami
LINGUA

Vol. 5 No.

2.

2Q()!;

136-152

oleh pembaca daripada pernyataan yang dibuat dalam bentuk pasif.
Contohnya ialah

(3)

The pay-slips were not printed by computer.

Kalimat (3) leb ih su lit dipahami daripada kalimat (4) berikut.

(4)

The computer did nor print the pay-slips.

Sehubungan dengan hal tersebut, Harrison (1984) memberikan alasan
bahwa kita memang lebih sulit menilai secara benar apakah sebuah kalimat
benar atau salah jika disajikan dalam bentuk pasif. Hal itu dapat terjadi karena
secara alam iah kita biasa mengetes ' nilai kebenaran' dari pernyataan berbentuk
aktif dan kemudian tiba-liba kita dihadapkan pada benluk pasif sebelum kita
dapal mengetes ' nilai kebenarannya ' . OaJam proses itu, sanga! besar
kemungkinan terjadinya kesalahan dalam transformasi. Kemungkinan lain
iaJah kita leb ih akrab dengan konstruksi akt if dibanding konstruksi pasif
sehingga kita lebih siap memahami konstruksi yang terbaik menu rut harapan
kita, ya itu konstruksi aktif.

2. Verba aktif vs nominalisasi
Verba aklif leb ih mudah dipahami dan diingat daripada nomina abstrak
yang dibentuk dari verba. Perhalikanlah conloh berikut.

(5) The reduction ill the lenght of the string will produce on increase in
the speed of the pendulum.
Kalimat (5) lebih suli! dipahami daripada kalimat (6) berikut.

(6) If yOll reduce the /eng"t of the string, you will increase the speed of
the pendulum.
Hasil peneliti an menunjukkan bahwa kalimat (6) lebih mudah dipahami
daripada
Dicar;: Kalim.'

kalimat (5) karena keberadaan verba aktifpada kalimat (6).
Yang

Tinggi <"atub;)

139

3. Verba modal
Penggunaan

verba

modal

seperti might,

could, may, dan should

menyebabkan kesulitan pemahaman bagi perubaca yang masih dalam lahap
kurang mahir dan verba modal sepe rti itu juga menyebabkan lebih sulit
diingat bagi pembaca lancar.

4. Jumlah klausa per kalimal
Semakin banyak klausa dalam kalimat, kalimat tersebut semakin sulit
dipahami pembaca.

5. Pemendekan dan substitusi
Panjang kalimat tidak selalu berkorelasi positif dengan tingkat kesulitan
teks. Pemendekan memang mengurangi panjang kalimal , tetapi hal tersebut
dapat menyebabkan pembaca lebih sulit memahami kalimat lersebul.
Contoh nya ialah

(7)

The boat I bOl/gth was greel/.
Kalimat (7) kurangjelas dibanding kalimat (8) berikul.

(8)

The boat which I bought was green.

Hal tersebut sesuai dengan pendapat Klare (dalam Renkema 1993),
yang menyatakan bahwa untuk meningkatkan keterbacaan kalimat lidak cukup
hanya dengan memperpendek kalimat-kalimatnya. Lebih lanjut, Renkema
(1993) rnengulip penelitian yang dilakukan Davison dan Kantor yang
menunjukkan bahwa pemenggalan sebuah kalimat rnajemuk untuk tujuan
penyederhanaan ada kalanya justru membuat kalimat tersebut semakin rumi!.
Perhatikanlah contoh berikut.

140

UNGUA

Vol. 5 No. 2. Ol« obc , 2006 1)6......152

kita, misalnya bagaimana kekaburan makna kalimat dapat diidentifikasi dan
kapan hal itu dapat dihindari jika memungkinkan.

Jumlah Kata dan Keterbacaan
Hasil kajian Col eman ( 1968) dan Dawkins (1 975) di atas menunjukkan
pentingnya para penuli s memperhalikan aspek kalimat

dalam teks, tetapi

belum menyinggung persoalan jumlah kala dalam kalimat. Fl esch (1960),
membe rikan palOkan jumlah kala beserta lafs irannya dalam tingkal kelerbacaan
sebaga i beriku t.

Tabel 1
luml ah Kala dan Kelerbacaan Kalimal
lumJ ah kata per kalimat

Tingkat keterbacaan

26<

sangat sukar

25 --22

Sukar

2 1-- 18

agak sukar

17--15

Standard

14-- 12

agak mudah

11--9

Mudah

8>

sangat mudah

Pe rmasaJahan yang berkaitan dengan jumJ ah kala dal am kalimat itu
adaJah apakah acuan jumlah kala dalam kalimat yang dikemukakan Flesch
dapat berlaku universal ?

142

WJQUA Vol. SNo. 2

!36- I S2

Tata Kalim at, Jumlah Kata, dan Keterbacaan: Beberapa Temuan dalam
Bahasa Indonesia
Jumlah Kata dan Panjang Kalimat
Berdasar hasil peneli tiannya pada siswa S MU, Oamaianti (1995)
menyatakan bahwa siswa lebih mudah memahami wacana ya ng memiliki
kalimat-kalimat dengan kala yang lebih sedikit dibanding kalim at-kalimat yang
mempunya i jumlah

kala

mengemukakan berapa

yang

banyak.

Namun,

dia

memang

tidak

jumlah rala-rala panJ3ng kalimat ya ng mudah

dipahami oleh berbagai kelompok pembaca, misaln ya untuk anak-anak SO,

SMP, dan SMU.

Sehubungan dengan jumlah kata dan panJ ang kalimat, Sakri (1995)
menyatakan bahwa perlu dipahami kalim al yang sekiranya tidak terlal u
pa nj ang tidak pertu dipeca h menj ad i kalim at pendek-pendek. Pemecahan
kalimat lersebut terkadang menjadikan kalimat lebih sulit dipahami pembaca
karena adanya perubahan interpretasi seca ra seman tis. Perhatikanlah contoh
menarik beriku t ini.
(11) Mobil itu menabra k pohon. Mobil itu rusak.
(1 2) Mobil ilu menabrak pohon dan mobil itu rusak.
(13) Mobil ilu menabrak pohon se hingga rusak.

Contoh (11 ) merupakan derelan dua buah kalimat lunggal ya ng pendekpendek. Contoh (12) dan (13) merupakan kalimat majemuk. Namun , info rmasi
yang disampaikan kalimat (13) lebih jelas dan lebih mudah diingat daripada
informasi yang dikandung kalim at (11 ) dan (12). Jadi, kalim at (13) mempunyai
keterbacaan yang tinggi dibanding kalimat (11 ) dan (12) karena pembaca dapat
menginlerpretasikan berbagai makna alas kalimat (11) dan (1 2). Sementara itu ,
D;'M';: Kal;mat T..

Yang

•• n T;nu ; ( K atu bi)

143

pada kaliamat (13) sudah dapat dipastikan adanya hubungan semantis sebab
akibat antarklausa yang membentuknya dan tidak dapat diinlerprelas ikan
dengan makna lain .

Bangun Kalimat
Bangun kalimal diyakini mampu mempenga ruhi kete rbacaan leks.
Sehubungan dengan hal itu, Damaianti (1995) menyarankan bahwa baik leks
ilmiah mau pun saslra hendaknya menggu nakan pol a-pola kalimat bahasa
Indonesia yang iaz im, ya itu A _____ > FB FK (ba ngun dasar) dan A __ A> FB FK
(bangun lurunan). Hal itu dapal dibaca ayat (baca; kalimal) terdiri alas frasa
benda dan frasa kerj a, baik pada ba ngun dasar maupun bangun lurunan dengan
maksud agar seJaras dengan pola kalimat yang dikuasai pembaca. Berdasar
hasil penelitiannya pada siswa SMU itu, dapal dinyalakan bahwa pola kalimat
yang lerdiri alas frasa benda dan frasa kerja, baik bangun dasar maupun
turunan, Icb ih akrab dengan pola sintaklik pembaca berbahasa Indones ia
dibanding poJa sinlaktik lain.

Jenis Kalimat
Jen is kalimat yang dimaksudkan dalam tulisan ini iaJah pembedaan alas
kalimat aktif dan pasif. Damaianti (1995)

menyalakan bahwa siswa lebih

mudah menggunakan kala-kala berawalan meX- (baca ; aktif) dibanding kalakata yang berawalan diX- (baca: pasif). Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa kalimat berbahasa Indonesia pun dalam hal konstruksi aktif pasif ini
memiliki kecenderungan yang sarna dengan po la kalimat berbahasa Inggris
dalam hal kelerpahamannya.
Hal itu menimbulkan pertanyaan: mengapa selama ini lulisan ilmiah
selalu menggunakan kalimat pasif? Sakri (1995) menyatakan bahwa alasan
144

lfNl;IIA VoL 5 No. 2. OkIOOe ' 2ffl6 13li-152

Purwo (1994), kelerbalikan urutan--informasi baru dahulu baru informasi
lama-dapal mengakibatka n kelerkejulan pada diri pembaca leks. Jika
"kejulan" ilu dilakukan berkali-kali, hal lersebul mal ahan akan menyulilkan
pembaca untuk menangkap pesan leks. Hal ya ng akan lerjadi ialah karena
se ringnya pembeca lerkejul, pembaca justru lidak mampu menangkap pesan
yang disampaikan penulis melalui leks. Unluk memperjelas uraian lersebul,
perhalikanlah conloh berikul ini.
(14) Orang ilu suka bergurau.
Pada conlo h (14), frasa orang

illl

yang merupakan subjek kalimat

adalah

infonnasi lama . Si pembaca sudah mengelahui apa yang dimaksudkan penulis
leks dengan frasa orang iw. Adapun suka bergu rau yang merupakan predikal
adalah informasi baru. Si penulis leks bermaksud menyampaikan informasi ini
kepada pembaca leks. Memang lidaklah senanl iasa benar bahwa apa yang di
sebelah paling kiri (yang merupakan informasi lama) adalah subj ek kalimal dan
ya ng di sebelah kanan (yang merupakan informasi baru) adalah predikat.
Perlunya penempalan informasi lama disusul informasi baru

dalam

kalimat dapal dijelaskan dari sudul pemrosesan pemahaman secara psikologis.
Pemahaman leks mencakup kemampuan pembaca unluk menangkap arti
hubungan seliap kala dalam kalimal dan hubungan satu kalimat dengan kalimat
lain sehingga terbentuk suatu representasi mental yang koheren lenlang isi leks.
Dalam pembentukan representasi mental ilU , seliap pengertian yang baru akan
diintegrasikan dengan informasi yang lebih dahulu diproses. Hal ilu berkaitan
denga n ingalan kerja seseorang. Karena illl, sangat wajar jika dalam suatu
kalim at infonnasi lama didahulukan daripada informasi baru.

146

LlN/illA Vol. S No. 2. OklOber 20011 136--- IS2

Penempatan Panjang Ruas
Unluk sampai pada pembahasan ini, marilah kila perhalikan conloh
berikut, yang dikutip dari Tara Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1993).
(15) Manusia yang mampu tinggal dalam kesendirian di tengah
keramaian kota [S] tidak banyak [Pl.
(16) Tidak

ban yak

[P]

manusia

yang

mampu

tinggal

dalam

kesendirian di tengah keramaian kota.
lika dilihal dari sudul kegramalikalannya, tidak ada yang salah pada
kalimat (15) dan (16) di atas. Kalimat (16) merupakan kalimat inversi dari
kalimat (15). Akan tetapi , ditinjau dari sudut keterbacaannya, kalimat (15) dan
(16) memiliki perbedaan. Kalimat (16) mempunyai keterbacaan yang lebih
linggi dibanding kalimal (15) karena penempalan panjang ruasnya.
Dalam hal penempatan panjang ruas ini, ruas yang pendek seharusnya
mendahului ruas yang panjang untuk mempertinggi keterbacaan kalimat. Hal
itu berkaitan dengan ingatan jangka pendek dan kapasitas pemrosesan
informasi. lika ruas yang panjang ditempatkan pada awal kalimat, ingalan
jangka pendek kila tidak mampu menampung semua kata dalam ruas panjang
itu dan akhirnya terhapus begilu saja sebelum isi pesan itu terhubungkan
dengan infonnasi pada ruas lain.

Implikasi Teoretis dalam Penerjemahan·
lika dibandingkan temuan tentang kelerbacaan kalimat dalam bahasa
lnggris dan bahasa Indonesia di atas, sekilas tampak tidak ada perbedaan apa
pun. lika demikian adanya, haruskah aspek keterbacaan, terutama keterbacaan
kalimat diperhatikan dalam proses penerjemahan? lawabannya: ya. Hal itu
berdasar pemahaman yang baik ten tang konsep penerjemahan, yang pada
dasarnya merupakan tindak komunikasi , seperti yang dikemukakan oleh Hatim
Ok"i, Kal imar Te'jr mahlln Yang Be, kere rt>ac,a n Tinggi (""rubi)

147

dan Mason (1997: 1) bahwa penerjemahan sebagai "an act of commllnication

which atlempts to relay, across cultural and linguistic bOllndaries, another act
of communication (which may have been illlended for different purposes and
different readers/hearers".

Jika penerjemahan merupakan sebuah tindak

komunikasi, dalam proses itu ada pesan yang ingin disampaikan ke dalam
bahasa sasaran. Akankah pesan itu

sampai kepada pembaca sasaran jika

disampaikan dalam kalimat yang suli! ditangkap pembaca tersebut? Tentu saja
tidak. Banyak pembaca leks terjemahan yang "pusing" memahami pesan yang
terdapal dalam teks terjemahan karena disampaikan dengan cara yang berbelit·
beliL Hal itu memang tidak semata·mata karena kalimat yang digunakan
penerjemah tidak berketerbacaan linggi. Kadang kala yang terjadi ialah
penerjemah memang tidak menguasai bahasa sasaran dengan baik. Hal itu
dapat diteliti pada teks terjemahan dari bahasa Inggris ke Indonesia.
Penerjemah teks bahasa Inggris ke Indonesia itu pada umumnya kemampuan
bahasa Indonesianya hanya mengandalkan feeling, bukan hasil didikan dari
Program Pelatihan Penerjemahan.
Lalu, apa yang harus dilakukan penerjemah untuk menghasilkan
terjemahan yang berke terbacaan linggi? Hanya satu jawabannya. Di samping
penerjemah menguasai bahasa sumber dan bahasa sasaran dengan baik,
penerjemah juga harus berani mencoba berbagai slrategi untuk mendapalkan
leks yang mudah dibaca oleh pembaca sasaran. Penerjemah diharapkan tidak
terjebak pada padanan formal. Bukankah Nida dan Taber (1974: 173) sudah
mengemukakan pen!ingnya padanan dinamis, yang mengedepankan "makoa"
daripada bentuk? Dleh sebab itu, pertanyaan selanjutnya ial ah beranikah
penerjemah " memecah" kalimat datam leks sumber yang terlalu panjang
menjadi beberapa kalimat dalam bahasa sasaran asalkan "makna" yang
disampaikan letap sepadan? Beranikah penerjemah mengubah struktu r kalimat
148

LINGUA Vol. 5 No.2. Okl00e r 2006 ]36-]S2

yang dal am bahasa sasaran dipastikan akan menyulilkan pembaca? lika semua
ilu dilakukan demi meninggikan keterbacaan kalimat, apalagi keterbacaan teks
terjemahan, penerjemah harus melakukannya.
Se1ain itu, anal isis keterbacaan leks dan juga kalimal seharusnya
menj adi bagian dari

leks dalam lerjemahan. Baik Nord (1 991) maupun

Halim dan Mason (1997; 14--36) sarna sekali tidak menyinggung persoalan
keterbacaan dalam bahasannya tentang anal isis teks yang digunakan sebagai
dasa r dalam menerjemahkan . Meskipun Nord (1991: 118--1 20) membahas
slruktur kalimat dalam faktor anal isis teks sumber yang berbasis intratekstual ,
namun dia tidak menga itkan bahasannya dengan keterbacaan. Sementara itu ,
Hatim dan Mason (1997: 14--36) ketika membahas dasar-dasar untuk model
anal isis leks dalam terjemahan, mereka lebih mendasarkan bahasannya pada
syarat-syarat sebuah teks pada linguislik teks, yakni kohes i, koherensi,
situasionalitas, intensionalitas, intertekstualitas, dan informalivitas.
Keterbacaan kalirnat, baik dalam teks sumber maupun leks sasaran
perlu diperhalikan karena keterbacaan kalimal akan menyumbang pada tinggi
rendahnya keterbacaan leks secara keseluruhan. Semakin banyak kalimat yang
berkete rbacaan rendah, dapat dipastikan teks akan semakin sui it dipahami
pembaca. Pertanyaannya ialah: jika kalimat-kalimat dalam teks sumber
berketerbacaan rendah, haruskah penerjemah menerjemahkan kalimat-kalimat
tcrsebut juga dalam tingkat keterbacaan yang rendah pula"! Jawabannya tidak.
Penerjemah dapat mengubah tingkat keterbacaan kalimat yang rendah dalam
leks sumber menjadi kalimat-kalimat yang berkelerbacaan tinggi dalam leks
sasaran sehingga leks terjemahan yang dihasilkan menjadi mudah dipahami
oleh pembaca dalam bahasa sasaran. Akan telapi, arah pengubahan itu tidak
dapat

dibalik,

misalnya,

kalimat-kalimat

yang

dalam

leks

sumber

berketerbacaan tinggi diterjemahkan menjadi kalimal -kalimat dalam leks
Kolima, Terie mahan Yang B<,kele,bacaa n TlIIggi (Kalubij

149

sasaran yang berkelerbacaan rendah. Jika hal ilu dilakukan , penerjemah juslru
menjadi "penghambal" pesan karena pesan yang henda k disampaikan oleh
penulis dalam leks sumber menjadi lidak mudah dipahami pembaca dalam
bahasa sasaran, bahkan mungkin menj adi lidak dapa! dipabami sarna sekali
oleh pembaca sasaran.

Penutup
Tingkal kelerbacaan leks tidak semala-mata berganlUng pada tingkat
keterbacaan kalimat. Akan tClapi . lidak dapat dipungkiri bahwa kelerbacaan
kalimat mendukung kelerbacaa n leks. Oleh sebab itu, para penerj emah yang
profesional diharapkan memaham i aspek kele rbacaan ini sehi ngga ket ika
mereka menerjemahkan sebuah te ks dapa! menghasilkan teks yang mudah
dipahami oleh pembaca dala m bahasa sasaran lanpa kehilangan pesan aslinya.
Dengan demikian, mereka menjadi seorang komunikator yang ba ik Janga n
mempersu lit pembaca teks dalam bahasa sasaran jika memang dapat
dipermudah dengan eara meninggikan ketcrbaeaan kalimat dalam terjemahan.
Kuncinya, pahami tata kalim al bahasa sasaran dengan baik dan pahami pula
aspek pemrosesan informasi pada diri pembaca leks kelika sedang membaca.
Selain itu , ingat konsep audience design ketika me nerjemahkan karena leks
yang mudah bagi kelompo k pembaca terlenl u belum lentu mudah bagi
kelompok pembaca lain. Kalimat pendek-pendek dalam leks lentu rnemiliki
keterbacaan yang tinggi bagi kelompok pembaca anak-anak. Akan letapi, jika
pembaca sasarannya ialah orang dewasa, leks seperti ilu lenlu akan
membosankan.

150

LINGUA Vol. 5 No.

2, Oklo«r 2006 ! 36-152

DAFfAR PUSTAKA

Coleman, E.B. 1968. "Experimental Studies of Readability" datam Elementary

English 45. 166--178.

Damaianti, Vismaia, Sabariah. 1995. " Kecenderungan

PoJa Sintaktis dan

Semanlis Wacana I1miah dan Wacana Sastra Dilihat dari Segi Tingkat
Keterpahamannya". FPS

nap Bandung. Tidak diterbitkan.

Dardjowidjojo, Soenjono. (Peny.). 1994. Mengiring Rekan Sejali: Festschrift
Bllat Pak TOil. Jakarta: Universitas Katolik Alma Jaya.

Dawkins, 1. 1975. Syntax and Readability. Delaware: International Reading
Association.
Flesch, Rudolf. 1960. HolV to Write, Speak and Think more Effectivelly. New
York: Harper and Brothers.

Harjasudjana, Ahmad Slamet. 1992. "Anal isis Kalimat Bahasa Indonesia dad
Sudul Keterbacaan". Makalah IKIP Bandung. Tidak diterbitkan.
Harrison, Colin. 1984. Readability ill The Classroom. New York: Cambridge
University Press.
Halim, B. dan I. Mason. 1997. Th e Translator as Communicator. London:
Routledge.
Hatim, B. dan I. Mason. 1990. Discourse and The Translator. London:
Longman Group.
Kaswanti Poerwo, Bambang. 1994. " Menata Kata dan Kalimat: Meningkalkan
Keterampilan Menulis" dalam Dardjowidjojo, Soenjono. (Peny.).

Mengiring Rekan Sejati: Festschrift Buat Pak Ton. Jakarta:
Universitas Katolik Atma Jaya.

Dica<i: Kolimat Terjcmahan Vang lIerketerNc.an Tin"i (Kal\lbl)

151

Nord, Christiana. 1991. Text Analysis in Tralls/alion: Theory, Methodology,

and Didactic App/ication of A Model for Trallslation-Oriented Text
Allalysis. Amsterdam: Rodopi.
Nida, E.A. dan Ch. R. Taber. 1974. The Theory and Practice of Translarioll.
Den Haag: Bri ll.
Renkema, Jan.

1993.

Discourse Studies:

All IlIlrodllcrory Textbook.

Amsterdam: John Benjamins Publishing Company.
Rob inson, H. AJan. 1979. Teaching Reading and Study Straregies The COlltellt

Areas. Massachushelts: All yn & Bacon.
Sakri, Adjat. 1995. Bal/gun Kalimar Bahasa Indonesia. Edisi Kedua. Bandung:

ITB.

152

trNGI.1A Vol . S No. 2, O/<{(Jb<, 200Ii 136-1';2