You are on page 1of 72

ANAK TERLAMBAT BERJALAN-LBM 3

Step 1
1. Head lag : semacam deteksi untuk mengetahui apakah seorang
anak bs mengangkat kepala atau tidak dengan cara menarik tangan
anak lalu dilihat apakah kepalanya ekstensi atau sudah mampu
mengangkat kepalanya
2. Milestone : suatu tingkatan perkembangan yang harus dicapai pada
anak umur tertentu meliputi motorik kasar, motorik halus, bahasa,
dan prilaku sosial
3. Developmental delay : tertundanya perkembangan yang lebih
lambat dari teman sebayanya.jika keterlambatan >1 disebut global
developmental delay
Step 2
1. Bagaimana tahap perkembangan dan pertumbuhan normal sesuai
usia bayi dan balita ?
2. Bagaimana ciri ciri anak bisa dikatakan berkembang dan tumbuh
dengan baik sesuai usianya ? dari usia 0-36bulan
3. Mengapa ditemukan mikrosefali, tonus ekstremitas hipotoni, dan
head lag (+) ?
4. Apa yang mengarahkan dokter curiga developmnetal delay pada
skenario tsb ?
5. Apa hubungan usia ibu dengan gangguan perkembangan anaknya ?
6. Apa
saja
faktor
yang
memengaruhi
pertumbuhan
dan
perkembangan?
7. apa pemeriksaan penunjang yang digunakan untuk mengetahui
kelainan organ-organ yang terkait dengan skenario tsb ?
8. DD ? (down syndrome, cerebral palsy)
9. Jelaskan penatalaksanaan dari skenario!
10.
Mengapa ibu mnegeluh anak belum bisa jalan dan bicara
padahal umur anak sudah 18 bulan ?
11.
Apa perbedaan pertumbhan dan perkembangan? dan jelaskan
ciri ciri masing masing!
12.
Apa rehabilitasi medik yang dilakukan? dan interpretasi
keterlambatan tahapan 4 domain milestone!
13.
Apa uji deteksi dini untuk mengetahui adanya developmental
delay ?
Step 3
1. Apa perbedaan pertumbhan dan perkembangan? dan jelaskan ciri
ciri masing masing!
Definisi pertumbuhan dan perkembangan

Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam


besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun
individu, yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, pound,
kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur tulang dan
keseimbangan metabolic (retensi kalsium dan nitrogen tubuh).
Pertumbuhan berdampak pada aspek fisik.

Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan


(skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola
yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses
pematangan. Disini menyangkut adanya proses deferensiasi dari selsel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan system organ yang
berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat
memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual
dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya.
Perkembangan berkaitan dengan pematangan fungsi organ/individu.
(Soetjiningsih, Tumbuh Kembang Anak)

Ciri-ciripertumbuhandanperkembangan
a. Perkembangan melibatkan perubahan
Karena perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan
setiap pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi.
Contohnya perkembangan reproduksi.
b. Perkembangan
awal
menentukan
pertumbuhan
selanjutnya
Anak tidak akan bisa berjalan sebelum bisa berdiri
c. Perkembangan mempunyai pola yang tetap
Perkembangan fungsi organ tubuh mempunyai 2 hukum yang
tetap:
- Perkembangan terlebih dahulu pada bagian kepala, kemudian
ke kaudal. sefalokaudal
- Perkembangan terlebih dahulu pada proksimal lalu ke disatal,
proksimodistal
d. Perkembangan mempunyai tahap yang berurutan
Contohnya : anak bisa menggambar lingkaran sebelum
mengambar kotak, berdiri sebelum berjalan
e. Perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda
Kaki dan tangan berkembang pesat awal masa remaja, bagian
tubuh yang lain mungkin berkembang pesat pada masa lain.
f. Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan
Peningkatan mental, ingatan, daya nalar, asosiasi dan lain-lain
Buku Ajar I. Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Ed.1
ciri pertumbuhan
secara garis besar terdapat 4 kategori perubahan sebagai cirri
pertumbuhan yaitu:

1. tumbuh kembang adalah proses yang kontinu sejak dari


konsepsi sampai maturitas/ dewasa, yang dipengaruhi oleh
faktor bawaan dan lingkungan. Ini berarti bahwa tumbuh
kembang sudah terjadi sejak di dalam kandungan dan setelah
kelahiran merupakan suatu masa dimana mulai saat itu tumbuh
kembang anak dapat dengan mudah diamati.
2. dalam periode tertentu terdapat adanya masa percepatan atau
masa perlambatan, serta laju tumbuh kembang yang berlainan
diantara organ-organ. Terdapat 3 periode pertumbuhan cepat
adalah pad masa janin, masa bayi 0-1 tahun dan masa
pubertas.
Sedangkan
pertumbuhan
organ-organ
tubuh
mengikuti 4 pola yaitu pola umum, limfoid, neural dan
reproduksi.
3. pola perkembangan anak adalah sama pad semua anak, tetapi
kecepatannya berbeda antara anak satu dengan yang lainnya.
4. perkembangan erat hubungannya dengan maturasi sistem
susunan saraf.
Contoh : tidak ada latihan yang dapat menybabkan anak dapat
berjalan sampai sistem saraf siap untuk itu, tetapi tidak adanya
kesempatan praktik akan menghambat kemampuan ini.

5. aktivitas seluruh tubuh diganti respons individu yang khas.


Contoh : bayi akan menggerakkan seluruh tubuhnya, tangan
dan kakinya kalau melihat sesuatu yang menarik tetapi pada
anak yang lebih besar reaksinya hanya tertawa atau meraih
benda tersebut.

6. arah perkembangan anak adalah sefalokaudal.


Langkah pertama sebelum berjalan adalah perkembangan
menegakkan kepala.

7. refleks primitif seperti refleks memegang dan berjalan akan


menghilang sebelum gerakan volunter tercapai.
(buku tumbuh kembang anak, dr. Soetjiningsih, DSAK)

Ciri perkembangan
a.

perkembangan melibatkan perubahan

karena perkembangan terjadi bersama-sama dengan


pertumbuhan, maka setiap pertumbuhan disertai dengan
perubahan fungsi. Perkembangan sistem reproduksi misalnya,
disertai perubahan pada organ kelamin, perkembangan
intelegensi menyertai pertumbuhan otak dan serabut saraf.
Perubahan2 ini meliputi perubahan ukuran tubuh secara
umum, perubahan proporsi tubuh, berubahnya cirri-ciri lama,
dan timbulnya cirri-ciri baru sebagai tanda kematangan suatu
organ tubuh tertentu.
b.

perkembangan awal menentukan pertumbuhan


selanjutnya
seseorang tidak akan bisa melewati suatu tahap
perkembangan sebelum ia melewati tahapan sebelumnya.
Sebagai contoh, seorang anak tidak akan bisa berjalan
sebelum ia bisa berdiri. Karena itu perkembangan awal ini
merupakan masa kritis karena akan menentukan
perkembangan selanjutnya.

c.

perkembangan mempunyai pola tetap


perkembangan fungsi organ tubuh terjadi menurut 2 hukum
yang tetap yaitu:

perkembangan terjadi dahulu di daerah kepala,


kemudian menuju kea rah kaudal. Pola ini disebut
pola sefalokaudal.
Perkembangan terjadi terlebih dahulu di daerah
proksimal (gerakan kasar) lalu berkembang ke bagian
distal seperti jari-jari mempunyai kemampuan dalam
gerakan halus. Pola ini disebut pola proksimodistal.
d.
perkembangan memiliki tahap yang berurutan
tahap ini dilalui seorang anak mengikuti poala yang teratur
dan beburutan, tahap-tahap tersebut tidak bisa terjadi
terbalik, misalnya anak terlebih dahulu mampu membuat
lingkaran sebelum mampu membuat gambar kotak, berdiri
sebelum berjlan dan sebagainya.

e.

perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda


seperti halnya pertumbuhan, perkembangan berlangsung
dalam kecapatan yang berbeda-beda. Kaki dan tangan
berkembang pesat pada awal masa remaja, sedangkan bagian
tubuh yang lain mungkin berkembang pesat pada masa
lainnya.

f.

perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan


pada saat pertumbuhan berlangsung cepat, perkembangan
pun demikian, terjadi peningkatan mental, ingatan, daya
nalar, asosiasi dan lain-lain.

Sumber : buku ajar tumbuh kembang anak dan remaja,


jilid I, edisi pertama tahun 2005, IDAI 2005, sagung
seto.

2. Bagaimana tahap perkembangan dan pertumbuhan normal sesuai


usia bayi dan balita ?
1) Masa prenatal atau masa intra uterin
Masa ini dibagai menjadi 3 periode, yaitu :
Masa zigot/mudigah, sejak saat konsepsi sampai umur
kehamilan 2 minggu
Masa embrio, sejak umur kehamilan 2 minggu sampai 8/12
minggu.
Ovum yang telah dibuahi dengan cepat akan
menjadi
suatu
organisme,
terjadi
diferensiasi
yang
berlangsung dengan cepat, terbentuk sistem organ dalam
tubuh.
- Masa janin/fetus, sejak umur kehamilan 9/12 minggu
sampai akhir kehamilan.
Masa ini terdiri dari 2 periode yaitu :
Masa fetus dini yaitu sejak umur kehamilan 9 minggu
sampai trimester ke 2 kehidupan intra uterin. Pada
masa ini terjadi percepatan pertumbuhan, pembentukan
jasad manusia sempurna. Alat tubuh telah terbentuk
serta mulai berfungsi.
Masa fetus lanjut yaitu trimester akhir kehamilan.
Pada masa ini pertumbuhan berlangsung pesat disertai
perkembangan
fungsi-fungsi.
Terjadi
transfer
Imunoglobulin G (lg G) dari darah ibu melalui plasenta.
Akumulasi asam lemak esensial seri Omega 3 (docosa
hexaniz acid) dan Omega 6 (arachidonik acid) pada otak
dan retina.
2)
Masa bayi (infancy) umur 0 sampai 11 bulan.
Masa ini dibagi dalam 2 periode:

Masa neonatal
Pada masa ini terjadi adaptasi terhadap lingkungan dan terjadi
perubahan sirkulasi darah serta mulainya berfungsi organ-organ,
masa ini dibagi menjadi 2 yaitu:
Masa neonatal dini umur 0-7 hari
Masa neonatal lanjut , umur 8 28 hari
Masa post natal , umur 29 hari 11 bulan.

Pada masa ini terjadi pertumbuhan yang pesat dan proses


pematangannya berlangsung secara terus menerus terutama
meningkatnya fungsi sistem syaraf.
Seorang bayi sangat tergantung pada orang tua dan keluarganya
sebagai unit pertama yang dikenalnya. Masa ini adalah masa
dimana kontak erat antara ibu dan anak terjalin sehingga dalam
masa ini pengaruh ibu dalam mendidik anak sangat besar.
Kebutuhan ASUH sangat penting untuk diperhatikan.
3) Masa anak di bawah lima tahun ( balita , umur 12-59
bulan)
Setelah lahir terutama 3 tahun pertama kehidupan, pertumbuhan
dan perkembangan sel-sel otak masih berlangsung dan
terjadi pertumbuhan serabut-serabut syaraf dan cabangcabangnya, sehingga terbentuk jaringan syaraf dan otak yang
kompleks. Jumlah dan pengaturan hubungan antar sel syaraf ini
akan sangat mempengaruhi segala kinerja otak, mulai dari
kemampuan belajar berjalan, mengenal huruf, intelegensia
hingga bersosialisasi.
4) Masa anak prasekolah (umur 60-72 bulan)

Pada masa ini pertumbuhan berlangsung dengan stabil. Terjadi


perkembangan dengan aktivitas jasmani yang bertambah dan
meningkatnya ketrampilan dan proses dalam berfikir.
Pada masa ini anak dipersiapkan untuk sekolah untuk itu panca
indra dan sistem reseptor penerima rangsangan serta proses
memori harus sudah siap sehingga anak mampu belajar dengan
baik. Perlu diperhatikan bahwa proses belajar pada masa ini adalah
dengan cara bermain.
Pada masa ini anak mulai senang bermain di lingkungan luar rumah,
anak mulai menunjukkan keinginannya
USIA 4 BULAN

USIA 8 BULAN

USIA 12 BULAN

USIA 18 BULAN

USIA 24 BULAN

Penilaian Domain ( DDST : denvere developmental screaning test)

Motorik kasar : pergerakan atau siakp tubuh (ex: berjalan, berlari,

kemantapan kepala saat duduk)


Motorik halus : aspek yang

mengamati sesuatu , dilakukan otot2 kecil


Berbahasa : respon terhadap suara , mengikuti perintah , berbicara

spontan
Perilaku sosial : aspek yang berhubungan dengan kemampuan diri

berhubungn

dengan

kemapuan

dan sosialiasai dengan lingkungan


a. personal social (kepribadian/tingkah laku sosial)
aspek
yang
berhubungan
dengan
kemampuan
bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.

mandiri,

b. fine motor adaptive (gerakan motorik halus)


aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk
mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagianbagian tubuh tetentu saja dan dilakukan otot-otot kecil, tetapi
memerlukan koordinasi yang cermat. Misalnya kemampuan untuk
menggambar, memegang suatu benda dll.
c. Language (bahasa)
Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, mengikuti
perintah dan berbicara spontan.
d. gross motor (perkembangan motorikkasar)
aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.
(buku tumbuh kembang anak, dr. Soetjiningsih, DSAK)
Milestone
a. Motorik kasar
- Kemantapan kepala saat duduk : 2 bulan
- Menarik untuk duduk, kepala tidak tertinggal : 3 bulan
- Tangan bersamaan dalam gariss tengah : 3 bulan
- Refleks tonus leher berjalan asimetris : 4 bulan
- Duduk tanpa bantuan : 6 bulan
- Menggulingkan punggung ke perut (tengkurap) : 6,5 bulan
- Berjalan sendiri : 12 bulan
- Lari : 16 bulan
b. Motorik halus
- Memegang mainan : 3,5 bulan
- Mencapai objek : 4 bulan
- Berjalan menggenggam tangan : 4 bulan
- Pemindahan objek dari tangan ke tangan : 5,5 bulan
- Memegang ibu jari : 8 bulan
- Membuka lembaran buku : 12 bulan

- Mencoret-coret : 13 bulan
- Membangun menara dua kubus : 15 bulan
- Menyusun menara enam kubus : 22 bulan
c. Komunikasi dan bahasa
- Tersenyum dalam respons terhadap muka, suara 1,5 bulan
- Mengoceh satu suku kata : 6 bulan
- Mencegah pada tidak : 7 bulan
- Mengikuti perintah satu, tindakan dengan gerakan : 7 bulan
- Mengikuti satu tindakan tanpa gerakan (misal, berikan itu
padaku) : 10 bulan
- Berbicara kata yang sesungguhnya pertama kali : 12 bulan
- Bicara 4-6 kata : 15 bulan
- Berbicara 10-15 kata : 18 bulan
- Berbicara kalimat dua kata (contoh, sepatu mama) : 19 bulan
d. Kognitif
- Menatap sebentar pada titik kemana objek menghilang : 2
-

bulan
Menatap pada tangannya sendiri : 4 bulan
Membanting dua kubus : 8 bulan
Menemukan mainan : 8 bulan
Berpura-pura bermain egosentris (minum dengan cangkir) :

12 bulan
- Menggunakan batang untuk meraih mainan : 17 bulan
- Berpura-pura bermain dengan boneka : 17 bulan
Sumber : Ilmu Kesehatan Anak. Nelson. Vol.1. ed.15. EGC

3. Mengapa ibu mengeluh anak belum bisa jalan dan bicara padahal
umur anak sudah 18 bulan ?
Belum bisa berjalan
Orang tua harus mulai khawatir ketika anak tidak bisa berjalan ketika
usianya sudah mencapai 18 bulan. Memang, bisa berjalan saat usia 15-18
bulan adalah masih dalam batas normal, tetapi biasanya anak seperti ini
mempunyai gangguan motorik kasar dan gangguan keseimbangan yang
ringan yang akan lebih baik diberikan intervensi dan stimulasi sejak dini.
Umur 9-12 bulan
-

Mengankat badannya ke posisi berdiri

Belajar berdiri selama 30 detik/ berpegangan di kursi

Dapat berjalan dengan dituntun

Umur 12-18 bulan

Berdiri sendiri tanpa berpegangan

Berjalan dengan merambat ke perabotan di rumah, Berjalan 2 atau


3 langkah tanpa bantuan, Berjalan 10-20 menit tanpa bantuan.

Umur 18-24 bulan


-

Berjalan tanpa kesulitan, Menarik mainan


Membawa mainan besar sambil berjalan,

sambil

berjalan,

Naik/turun bangku tanpa bantuan, Menemukan cara sendiri untuk


berjalan mundur, Bisa naik/turun tangga dengan bantuan.

Umur 24-36 bulan


-

Umumnya mampu memanjat dengan baik, berjalan naik/turun


tangga dengan menggunakan satu kaki per anak tangga, Berjalan
jinjit.

Penyebab tersering anak terlambat berjalan


Ketidakmatangan Persyarafan Kemampuan anak melakukan
gerakan motorik sangat ditentukan oleh kematangan syaraf yang
mengatur gerakan tersebut.

Pada

waktu

anak

dilahirkan,

syaraf-syaraf yang ada di pusat susunan syarat belum


berkembang dan berfungsi sesuai dengan fungsinya, yaitu
mengontrol gerakan-gerakan motorik. Pada usia 5 tahun,
syaraf-syaraf

ini

sudah

mencapai

kematangan,

dan

menstimulasi berbagai kegiatan motorik. Otot-otot besar yang


mengontrol

gerakan

motorik

kasar,

seperti

berjalan,berlari,

melompat dan berlutut, berkembang lebih cepat bila dibandingkan


dengan otot-otot halus yang mengontrol kegiatan motorik halus,
seperti menggunakan jari-jari tangan untuk menyusun puzzle ,
memegang pensil atau gunting membentuk dengan plastisin atau
tanah liat, dan sebagainya.
Gangguan vestibularis atau keseimbangan Pada anak yang
mengalami

dysfunction

of

sensory

integration

(DSI)

sering

mengalami gangguan keseimbangan. Gangguan keseimbangan


yang terjadi ini seringkali dianggap anak kurang percaya diri.
Gangguan keseimbangan ini biasanya ditandai dengan anak takut

saat berenang, menaiki mainan yang bergerak dan bergoyang


seperti ayunan, mainan kuda-kudaan listrik dengan koin, naik lift
atau eskalator. Anak tidak suka naik umumnya di dalam mobil. Anak
mungkin tidak kooperatif sebagai upaya menghindari sensasi yang
membuat anak terganggu. Anak yang underreactive untuk input
vestibular tampaknya tidak pusing bahkan setelah berputar untuk
waktu yang lama, dan tampaknya menikmati gerakan cepat seperti
berayun. Bila berjalan terburu-buru, gerakannya canggung, mudah
tersandung atau jatuh. Dia mungkin tidak membuat upaya untuk
menangkap dirinya sendiri ketika dia jatuh. Anak tampak kesulitan
memegang kepalanya sambil duduk. Anak tidak cenderung untuk
melakukannya

dengan

baik

dalam

olahraga.

Dia

mungkin

memiliki gaya canggung, atau gerakan yang tidak biasa


ketika bergerak lengan atau kepala. Biasanya juga disertai
keterlambatan membaca, menulis, berbicara, dan persepsi
visual-spasial yang khas.
Keterlambatan

ringan

perkembangan

motorik

kasar

Seorang anak yang terlambat berjalan, kemungkinan juga


terlambat dalam duduk dan merangkak. Namun sayangnya,
keterlambatan ini bukanlah hal pertama yang mungkin disadari oleh
para orangtua. Jika ini penyebabnya, maka dokter akan melihat
jalan anak dalam konteks yang berbeda dan mencari tahu berada
dimana ia dalam rangkaian perkembangan motoriknya. Biasanya
juga disertai keterlambatan membaca, menulis, berbicara, dan
persepsi visual-spasial yang khas.
Gangguan

sensoris

Pada

kasus

tertentu,

anak

sering

mengalami sensitif pada telapak tangan dan kaki. Sehingga hal ini
mengakibatkan anak sering jinjit. Selama ini, jalan jinjit atau Tip Toe
masih belum diketahui penyebabnya. Meskipun bukan karena
kelainan anatomis. Selama ini, orangtua menganggap hal itu adalah
memang perilaku anak. Pada anak dengan gangguan sensoris raba
biasanya disetai gangguan sensoris suara dan cahaya. Gangguan

sensoris suara biasanya anak takut dan tidak nyaman ketika


mendengar suara dengan frekuensi tertentu seperti suara blender,
suara bayi menangis, suara gergaji listrik. Gangguan sensoris
cahaya biasanya anak sangat sensitif terhadap cahaya terang dan
sinar matahari.
Faktor Predisposisi
Keterlambatan berjalan biasanya sering terjadi pada kelompok anak
tertentu seperti :
Bayi prematur
Obesitas atau kegemukan
Bayi lahir dengan berat bada rendah atau kurang dari 2.500 gram
Anak dengan gangguan hipersensitif saluraan cerna seperti
Gastropoesepageal refluks, sering muntah, mual atau sering sulit
buang air besar. Keadaan ini sering terjadi pada anak alergi atau
hipersensitif saluran cerna
Sangat jarang pada anak menderita tumor otak, Retardasi mental
dan cerebral palsy
Kriteria
penggolongan
intervensinya

keterlambatan

berjalan

disertai

Bisa berjalan usia 8 bulan-12 bulan : Kemampuan berjalan


sangat baik dan sangat cepat, biasanya anak demikian motorik
kasar

dan

kemampuan

keseimbangannya

sangat

baik.

Pada

kelompok ini mungkin tidak perlu intervensi atau stimulasi karena


anak akan belajar berjalan sendiri dengan baik tanpa bantuan.
Bisa berjalan usia 12 bulan-15 bulan : Kemampuan berjalan
biasa dan rata-rata anak seusia. Biasanya anak demikian motorik
kasar dan kemampuan keseimbangannya normal. Pada kelompok ini
mungkin intervensi atau stimulasi ringan akan lebih baik.
Bisa berjalan usia 15 bulan-18 bulan : Kemampuan berjalan
normal tetapi kurang optimal. Biasanya anak demikian kemampuan
motorik kasar dan kemampuan keseimbangannya kurang begitu

baik. Pada kelompok ini perlu intervensi atau stimulasi ringan agar
perkembangan motorik dan vestibularis lebih baik
Bisa berjalan usia 18 bulan-24 bulan : Kemampuan berjalan
terlambat ringan. Biasanya anak demikian kemampuan motorik
kasar dan kemampuan keseimbangannya tidak baik. Pada kelompok
ini

harus

dilakukan

intervensi

atau

stimulasi

ringan

agar

perkembangan motorik dan vestibularis menjadi optimal. Sebaiknya


dilakukan oleh arahan tenaga profesional seperti Dokter Spesialis
Fisik dan Rehabilitasi
Bisa berjalan usia 24 bulan-32 bulan : Kemampuan berjalan
terlambat berat . Biasanya anak demikian kemampuan motorik
kasar dan kemampuan keseimbangannya buruk. Dalam keadaan
seperti ini, biasanya disertai gangguan neurologis atau susunan
saraf pusat. Pada kelompok ini harus dilakukan intervensi atau
stimulasi ringan agar perkembangan motorik dan vestibularis
menjadi optimal. Stimulasi seperti tersebut harus dilakukan oleh
arahan tenaga profesional seperti Dokter Spesialis Fisik dan
Rehabilitasi
Belum bisa berjalan sampai usia 32 bulan : Kemampuan
berjalan

terlambat

sangat

berat

Biasanya

anak

demikian

kemampuan motorik kasar dan kemampuan keseimbangannya


sangat

buruk.

Dalam

keadaan

seperti

ini,

biasanya

disertai

gangguan neurologis atau susunan saraf pusat yang sangat berat


seperti penderita Cerebral palsy. Pada kelompok ini harus dilakukan
intervensi atau stimulasi ringan agar perkembangan motorik dan
vestibularis menjadi optimal. Stimulasi seperti tersebut harus
dilakukan oleh arahan tenaga profesional seperti Dokter Spesialis
Fisik dan Rehabilitasi.
Belum bisa berbicara
Struktur Otak yang paling penting untuk bahasa
a. Lobus frontalis : Area Broca

b. Lobus oksipitalis : Visual


c. Lobus temporalis : Area Wernicke
d. Korpus kalosum : Transfer informasi dari kanan ke kiri
Girus dan sulkus hemisfer kanan berkembang lebih awal shg bahasa yg
pertama muncul yaitu bahasa nonverbal.
Karena adanya kematian sel dan retraksi aksonal pd hemisfer kanan
shg hemisfer kiri lebih berkembang (lateralisasi) fungsi hemisfer
kanan dan kiri berbeda.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

TAHAPAN
Penerimaan (reseption)
Penanggapan (perseption)
Penguraian (decoding)
Penyadian (encoding)
Perencanaan motorik
pengeluaran kata

Gangguan bicara
Perkembangan bahasa yang lambat dapat bersifat familial. Oleh karena
itu harus dicari dalarn keluarganya apakah ada yang mengalami
keterlambatan bicara juga. Disamping itu kelainan bicara juga lebih

banyak pada anak laki-laki daripada perempuan. Hal ini karena


pada perempuan, maturasi dan perkembangan fungsi verbal
hernisfer kiri lebih bak Sedangkan pada laki-laki perkembangan
hemisfer kanan yang lebih baik, yaitu untuk tugas yang abstrak
dan memerlukan keterampilan.
Sedangkan Aram DM (1987), mengatakan bahwa gangguan bicara
pada anak dapat disebabkan oleh kelainan dibawah ini:
1.

Lingkungan sosial anak.


Interaksi antar personal merupakan dasar dari semua komunikasi
dan perkembangan bahasa. Lingkungan yang tidak mendukung
akan menyebabkan gangguan bicara dan bahasa pada anak.

2.

Sistem masukan/input.
Adalah sistern pendengaran, penglihatan dan integritas taktilkinestetik dari anak. Pendengaran merupakan alat yang penting
dalam perkembangan bicara. Anak dg otitis media kronis dg
penurunan daya pendengaran akan mengalami keterlambatan
kemampuan menerima ataupun mengungkapkan bahasa. Gangguan
bicara juga terdapat pada tuli oleh karena kelainan genetik dan
metabolik (tuli primer), tuli neurosensorial (infeksi intra uterin: sifilis,
rubella, toksoplasmosis. sitomegalovirus), tuli konduksi seperti
akibat malformasi telinga luar, tuli sentral (sama sekali tidak dapat
mendengar), tuli persepsi/afasia sensotik (terjadi kegagalan
integrasi arti bicara yang didengar menjadi suatu pengertian yang
menyeluruh), dan tuli psikis seperti pada skizofrenia, autisme
infantil, keadaan cemas dan reaksi psikologis lainnya.

1.

Sistem pusat bicara


Kelainan SSP akan mempengaruhi pemahaman, interpretasi,
formulasi dan perencanaan bahasa. Gangguan komunikasi biasanya
merupakan bagian dari RM, misalnya pada sdr down.

2.

Sistem produksi
Laring, faringm hidung, struktur mulut, susunan neuromuskular yang
berpengaruh terhadap pengaturan nafas untuk bicara.
Gangguan bicara kongenital
a. Retardasi mental
b. Ketulian (akibat rubela, kern ikterus, sindrom Turner, osteogenesis
imperfecta), Rehabilitasi harus sedini mungkin dg alat pendengar dan
slb agar anak dapat mengenal bunyi2an sebelum belajar bicara.

c. Cerebral palsy, Gangguan bicara pada anak ini mungkin disebabkan


oleh retardasi mental atau disrtria akibat spastisitas, atetosis, ataksia,
korea dsb. Pertolongan dg speech therapy sering dapat menolong bila
gangguan intelegensi tidak terlampau berat.
d. Anomali alat bicara perifer (palatum, bibir, gigi, lidah), Gangguan
bicara berupa disartria terutama pada labioskizis, palatoskizis dan
kelainan bentuk rahang yang hebat. Pada palatoskizis pertolongan dg
speech theraphy sebaiknya dilakukan sedini mungkin sebelum
dilakukan pembedahan plastik, agar anak tidak membiasakan diri
berbicara melalui hidung atau menutup lubang palatum dg menekan
pangkal lidah ke atas, yang akan sukar dikoreksi kemudian, terutama
jika sudah berlangsung lama. Koreksi bicara sesudah pembedahan
harus dilakukan secepatnya.
Gangguan bicara didapat
a. Afasia akibat penyakit yang disertai kejang, pascaensefalitis,
pascatrauma, neoplasma, gangguan vaskuler otak, penyakit
degeneratif
b. Disartria pada bells palsy (kelumpuhan N. VII perifer), polio mielitis,
tumor batang otak, miastenia gravis, penyakit degeneratif
c. Psikogenik
d. Sosiokultural
(Buku kuliah Ilmu Kesehatan
Kesehatan Anak FKUI)

Anak,

staf

pengajar

Ilmu

Perkembangan kemampuan berbicara dan berbahasa pada anak


normal

4. Bagaimana ciri ciri anak bisa dikatakan berkembang dan tumbuh


dengan baik sesuai usianya ? dari usia 0-36bulan
Sesuai milestone, ditambahkan yg sesudah 18 bulan
18 b
18 bulan :eksplorasi rumah, berjalan, menyusun 2-3 kotak,
mengatakan 5-10 kata, menggeleng dan menganggukan kepala,
menggunakan sendok utk makan,
18-24 bln : menyusun 6 kotak, mnunjuk mata dan hidung,
menyusun 2 kata, belajar makan sndiri, menggambar garis di
kertas, sdh bs menendang bola, menunjuk sesuatu yg sdh
dimengerti namanya (mis.nunjuk hidung, nunjuk kertas).18 bln sdh
tau keluarganya
2-3 tahun : bs belajar melompat dg 1 kaki, menyusun kalimat,
mempergunakan kata kata saya, bs bertanya, mengerti kata kata
yg ditunjukan pd dirinya, bs menggambar lingkaran, bermain
bersama anak yg lain, menyadari lingkungan lain di luar
keluarganya,
mampu
meniru
kegiatan
orang
dewasa

sekitarnya.umur 3 th sudah bs mengikuti perintah dg langkah


langkah
5. Apa hubungan usia ibu dengan gangguan perkembangan anaknya ?
Pada umur ibu >35 tahun terjadi perubahan hormonal yg
memengaruhi non disjunction kromosom nya, pada saat
pembelahan kl terjadi gangguan non disjunction nya akan terjadi
pemisahan yg tdk baik.kemungkinan pd kromosom 21 tdk
membelah dg baik shg menjadi trisomi 21
etiologi
- Non disjunction osteogenesis : di kromosom 21 atau 15
trisomi
- Translokasi kromosom 21 dan 15 : lokasinya kebalik
- Mozaism atau post zigotik : salah 1 kromosom berjumlah
45 atau 47.yg kromosom 45 akan mati saat pembelahan
Fr.down syndrome : kelainan saat kehamilan yg memengaruhi
genetik ibu, kelainan infertilitas relatif, kelainan pada tiroid
Curiga down syndrome krn wajahnya.faktor resiko : ibu usia >35 th
Kelainan di lokus 11(di bahasa memngaruhi area wernick)
atau 16(memengaruhi area brocca) yg memengaruhi
kemampuan berbahasa
6. Mengapa ditemukan mikrosefali, tonus ekstremitas hipotoni, dan
head lag (+) ?
Head Lag(+)
Sikap kepala bayi sewaktu badannya diangkat dapat memberikan
informasi perkembangan motorik. Sebelum usia 5 bulan kepala
jatuh lunglai bila badan diangkat dari posisi berbaring dengan cara
menarik kedua tangan ke atas. Setelah usia 5 bulan bayi dapat
menegakkan kepalanya baik sewaktu badannya hendak didudukkan
dengan

mengangkat

didudukkan

sambil

kedua

lengannya,

dipegang.

Bayi

maupun
dengan

pada

waktu

hipotonia

memperlihatkan leher yang lemas (head lag) yang mencirikan


perkembangan motorik yang terbelakang atau keadaan patologis
oleh berbagai abnormalitas SSP dan kelainan motor neuron.
Sidharta, P., Pemeriksaan Neurologik Pada Bayi dalam

Tata

Pemeriksaan Klinis Dalam Neurologi, Cetakan keempat, Dian Rakyat,


Jakarta, 1999.

Ekstremitas hipertoni
Hipertonia kelompok otot yang memperlihatkan peningkatan
tahanan terhadappergerakan.

Arti penting hipertonia dapat merupakan tanda cerebral palsy.


Walaupun begitu, banyak anak dengan peningkatan tonus otot
setempat pada usia tahun pertama tidak akan menderita cerebral
palsy.
(Pedoman Klinis Pediatri, William schwartz, EGC, 2005)

Mikrosefali: lingkar kepala pd waktu lahir rata-rata 34cm dan


besarnya LK lebih besar dari LD. Umur 1th 47cm. Pertumbuhan
tulang kepala mengikuti pertumbuhan otak. Pertumbuhan otak yg
tercepat terjadi pada trimester 3 kehamilan sampai 5-6 bulan
pertma setelah lahir, pd saat ini terjadi pembelahan sel-sel otak yg
sangat pesat, seelah itu pembelahan sel-sel otak melambat dan
terjadi pembesaran otak saja, pada waktu lahir berat otak berat
otak dewasa, jumlah selnya 2/3 jml sel otak dewasa.
Lk jg mencerminkan vol intrakranial, digunakan untuk menaksir
pertumbuhan otak. Apabila otak tdk tumbuh normal maka kepala
akan kecil (mikrosefali). Biasanya menunjukan adanya retardassi
mental.
Tumbuh kembang anak, dr. Soetjiningsih,sp. A K
Sikap kepala bayi sewaktu badannya diangkat dapat memberikan
informasi perkembangan motorik. Sebelum usia 5 bulan kepala jatuh
lunglai bila badan diangkat dari posisi berbaring dengan cara menarik
kedua tangan ke atas. Setelah usia 5 bulan bayi dapat menegakkan
kepalanya baik sewaktu badannya hendak didudukkan dengan
mengangkat kedua lengannya, maupun pada waktu didudukkan sambil
dipegang. Bayi dengan hipotonia memperlihatkan leher yang lemas (head
lag) yang mencirikan perkembangan motorik yang terbelakang atau
keadaan patologis oleh berbagai abnormalitas SSP dan kelainan motor
neuron.
Sidharta, P., Pemeriksaan Neurologik Pada Bayi dalam Tata Pemeriksaan
Klinis Dalam Neurologi, Cetakan keempat, Dian Rakyat, Jakarta, 1999.
Mikrosefali
Mikrosefali adalah lingkar kepala yang lebih kecil dari normal karena
otak tidak berkembang dengan baik atau telah berhenti tumbuh; paling
sering disebabkan oleh kelainan genetik.
http://kamuskesehatan.com/arti/mikrosefali/
Patogenesis mikrosefali

mikrosefali diklasifikasikan kedalam tiga kelompok, sesuai penyebabnya:


Mikrosefali primer jinak berkaitan dengan faktor ge- netik.
Mikrosefali genetik ini termasuk mikrosefali fa- milial dan mikrosefali
akibat aberasi khromosom.
Mikrosefali akibat penutupan sutura prematur (kraniosinostosis). Jenis mikrosefali ini berakibat bentuk kepala
abnormal, namun pada kebanyakan kasus tak ada a- nomali
serebral yang jelas.
Mikrosefali sekunder terhadap atrofi serebral. Mik- rosefali
sekunder dapat disebabkan oleh infeksi intra- uterin seperti
penyakit inklusi sitomegalik, rubella, sifilis, toksoplasmosis, dan
herpes simpleks; radiasi, hipotensi sistemik maternal, insufisiensi
plasental; a- noksia; penyakit sistemik maternal seperti diabetes
me- llitus, penyakit renal kronis, fenilketonuria; dan ke- lainan
perinatal serta pascanatal seperti asfiksia, in- feksi, trauma,
kelainan jantung kronik, serta kelainan paru-paru dan ginjal. Jenis
mikrosefali ini berhubungan dengan retardasi mental dalam
berbagai tingkat.
Sumber : Dr. Syaiful Saanin, Neurosurgeon.

7. Apa yang mengarahkan dokter curiga developmnetal delay pada


skenario tsb ?
Udah, dari ciri ciri yg disebut diatas menunjukkan developmental
delay
Headlag harusnya (-) pada >3bln
8. Apa
saja
faktor
yang
memengaruhi
pertumbuhan
dan
perkembangan?
actor-faktor yang mempengaruhi :
1. Faktor genetik
Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil
akhir proses tumbuh kembang anak. Melalui instruksi genetik
yang terkandung di dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat
ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan.
Ditandai dengan intensitas dan kecepatan pembelahan,
derajat sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur
pubertas dan berhentinya pertumbuhan tulang. Termasuk
faktor genetik antara lain adalah berbagai faktor bawaan yang
normal dan patologik, jenis kelarnin, suku bangsa atau
bangsa.
Potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi
dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil
akhir yang optimal.

2. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan ini secara garis besar dibagi menjadi:
a. Faktor lingkungan yang mempengaruhi anak pada waktu
masih di dalam kandungan (Faktor pranatal).
b. Faktor lingkungan yang mernpengaruhi tutnbuh kembang
anak setelah lahir (Faktor postnatal).
a) FAKTOR LiNGKUNGAN PRANATAL
Faktor lingkungan pranatal yang berpengaruh terhadap
tumbuh kembang janin mulai dari konsepsi sampai lahir,
antara lain adalah:
1. Gizi ibu pada waktu hamil.
Gizi ibu yang jelek sebelum terjadinya keharnilan
maupun pada waktu sedang hamil, lebih sering
menghasilkan bayi BBLR (berat badan lahir rendah)
atau lahir mati dan jarang rnenyebabkan cacat bawaan.
Disamping itu dapat pula menyebabkan hambatan
perturnbuhan otak janin, anemia pada bayi baru
lahir, bayi baru lahir rnudah terkena infeksi,
abortus, dan sebagainya.
Contohnya : Anak perempuan yang lahir dari ibu yang
gizinya kurang + hidup di lingkungan miskin
mengalami kurang gizi + mudah terkena infeksi akan
menghasilkan wanita dewasa yang berat dan tinggi
badannya kurang dst.. Keadaan ini merupakan
lingkaran setan yang akan berulang dari generasi ke
generasi
selama
kemiskinan
tersebut
tidak
ditanggulangi.
2. Mekanis.
Trauma dan cairan ketuban yang kurang dapat
menyebabkan kelainan bawaan pada bayi yang
dllahirkan. Demikian pula dengan posisi janin pada
uterus dapat mengakibatkan talipes, dislokasi panggul,
tortikolis kongenital, palsi fasialis, atau kranio tabes.
3. Toksin/zat kimia.
Masa organogenesis adalah masa yang sangat peka
terhadap zat-zat teratogen. Misalnya obat-obatanseperti thalidomide, phenitoin, methadion, obatobat anti kanker, dan lain sebagainya dapat
menyebabkan kelainan bawaan.
Ibu hamil yang perokok berat/peminum alkohol
kronis sering melahirkan bayi berat badan lahir rendah,

lahir mati, cacat, atau retardasi mental.


Keracunaan logam berat pada ibu hamil, misalnya
karena makan ikan yang terkontaminasi mer,kuri dapat
menyebabkan mikrosefali dan palsi serebralis, seperti di
Jepang yang dikenal dengan penyakit Minamata.
4. Endokrin.
Somatotropin (growth hormone) disekresi oleh
kelenjar hipofisis 'janin sekitar minggu ke-9. Produksinya
terus meningkat sampai minggu ke-20, selanjutnya
menetap sampai lahir. Perannya belum jelas pada
pertumbuhan janin.
Hormon plasenta (human placental lactogen =
hormon chorionic somatromammotropic ), disekresi
oleh plasenta di pihak ibu dan tidak dapat masuk ke
janin. Kegunaannya mungkin dalam fungsi nutrisi
plasenta.
Hormon-hormon tiroid seperti TRH (Thyroid Releasing
Hormon), TSH (Thyroid Stimulating Hormon), T3
dan T4 sudah diproduksi oleh janin sejak minggu ke-12.
Pengaturan oleh hipofisis 'sudah terjadi pada minggu ke13. Kadar hormon ini makin meningkat sampai minggu
ke-24, lalu konstan. Perannya belum jelas. tetapi jika
terdapat defisiensi hormon tersebut, dapat terjadi
gangguan pada pertumbuhan susunan saraf pusat yang
dapat mengakibatkan retardasi mental.
Insulin mulai diproduksi oleh janin pada minggu ke-ll,
lalu meningkat sampai bulan ke-6 dan kemudian
konstan. Berfungsi untuk pertumbuhan janin melalui
pengaturan keseimbangan glukosa darah, sintesis
protein janin, dan pengaruhnya pada pembesaran sel
sesudah minggu ke-30. Sedangkan fungsi IGFs pada
janin belum diketahui dengan jelas.
Cacat bawaan sering terjadi pada ibu diabetes yang
hamil dan tidak mendapat pengobatan pada trimester I
kehamilan, umur ibu kurang dari 18 tahun/lebih dari 35
tahun, defisiensi yodium pada waktu hamil, PKU
(phenylketonuria), dll .
5. Radiasi.
Radiasi pada janin sebelum umur kehamilan 18
minggu dapat menyebabkan kematian janin, kerusakan
otak, mikrosefali, atau cacat bawaan lainnya..
Sedangkan efek radiasi pada orang laki-Iaki, dapat

6.

7.

8.

9.

mengakibatkan cacat bawaan pada anaknya.


Infeksi
Infeksi intrauterin yang sering menyebabkan cacat
bawaan adalah TORCH (Toxoplasmosis, Rubella,
Cytomegalovirus, Herpes Simplex).
Sedangkan
infeksi
lainnya
yang
juga
dapat
menyebabkan penyakit pada janin adalah varisela,
Coxsackie, Echovirus, malaria, lues, HIV, polio, campak,
listeriosis, leptospira, mikoplasma, virus influensa, dan
virus hepatitis. Diduga setiap hiperpireksia pada
ibu hamil dapat merusak janin.
Stres
Stres yang dialami ibu pada waktu hamil dapat
mempengaruhi tumbuh kembang janin, antara lain
cacat bawaan, kelainan kejiwaan, dan lain-lain.
Imunitas
Rhesus
atau
ABO
inkomtabilitas
sering
menyebabkan abortus. hidrops fetalis, kern ikterus.
atau lahir mati.
Anoksia embrio
Menurunnya oksigenasi janin melalui gangguan pada
plasenta atau tali pusat, menyebabkan berat badan
lahir rendah.

b) FAKTOR LINGKUNGAN POST-NATAL


Lingkungan post-natal yang rnernpengaruhi tumbuh kembang
anak secara urnum dapat digolongkan menjadi:
1. Lingkungan biologis :
a. Ras/suku bangsa
Perturnbuhan somatik juga dipengaruhi oleh ras suku
bangsa. Bangsa kulit putih/ras Eropa mernpunyai
pertumbuhan somatik lebih tinggi daripada bangsa Asia.
b. ]enis kelamin
Dikatakan anak laki-laki lebih sering sakit dibandingkan
anak perernpuan, tetapi belum diketahui secara pasti
mengapa demikian.
c. Umur
Umur yang paling rawan adalah masa balita, ialah
karena pada masa itu anak mudah sakit dan mudah
terjadi kurang gizi. Disamping itu rnasa balita
rnerupakan dasar pembentukan kepribadian anak.
Sehingga diperlukan perhatian khusus.

d. Gizi
Makanan memegang peranan penting dalam turnbuh
kernbang anak, dimana kebutuhan anak berbeda
dengan orang dewasa, karena makanan bagi anak
dibutuhkan juga untuk perturnbuhan.
e. Perawatan kesehatan
Perawatan kesehatan yang teratur, tidak saja kaIau
anak sakit, tetapi pemeriksaan kesehatan dan
menimbang anak secara rutin setiap bulan, akan
menunjang pada tumbuh kembang anak. Oleh karena
itu
pemanfaatan
fasilitas
pelayanan
kesehatan
dianjurkan untuk, dilakukan secara komprehensif, yang
mencakup aspek-aspek promotif, preventif, kuratif dan
rehabiltatif.
f. Kepekaan terhadap penyakit
Dengan memberikan imunisasi, maka diharapkan anak
terhindar
dari
penyakit-penyakit
yang
sering
menyebabkan cacat atau kematian. Dianjurkan sebelum
anak berumur satu tahun sudah mendapat imunisasi
BCG, Polio 3 kaIi, DPT 3 kaIi, Hepatitis-B 3 kaIi, dan
campak.
Disamping imunisasi, gizi juga memegang peranan
penting dalam kepekaan terhadap penyakit.
g. Penyakit kronis
Anak yang menderita penyakit menahun akan
terganggu tumbuh kembangnya dan pendidikannya,
disamping itu anak juga mengalami stres yang
berkepanjangan akibat dari penyakitnya.
h. Fungsi metabolisme
Khusus pada anak, karena adanya perbedaan yang
mendasar dalam proses metabolisme pada berbagai
umur, maka kebutuhan akan berbagai nutrien harus didasarkan atas perhitungan yang tepat atau setidaktidaknya memadai.
i. Hormon
Hormon-hormon yang berpengaruh terhadap tumbuh
kembang antara lain adalah: "growth hormon", tiroid,
hormon seks, insulin, IGFs (Insulin-like growth factors),
dan hormon yang dihasilkan kelenjar adrenal.
Somatotropin atau "growth hormon" (GH =
harmon pertumbuhan)
'.- Merupakan pengatur utama pada pertumbuhan
somatus
terutama
pertumbuhan
kerangka.

Pertambahan tinggi badan sangat dipengaruhi


hormon
ini.
GH
merangsang
terbentuknya
somatomedin yang kemudian berefek pada tulang
rawan. GH mempunyai "circadian variation" dimana
aktivitasnya meningkat pada malam hari pada waktu
tidur, sesudah makan, sesudah latihan fisik, perubahan kadar gula darah dan sebagainya.
Hormon tiroid
Hormon ini mutlak diperlukan pada tumbuh kembang
anak, karena mempunyai fungsi pada metabolisme
protein, karbohidrat dan lemak. Maturasi tulang juga
dibawah pengaruh hormon ini. Demikian pula dengan
pertumbuhan dan fungsi otak sangat tergantung
pada tersedianya harmon tiroid dalam kadar yang
cukup. Defisiensi hormon tiroid mengakibatkan
retardasi fisik dan mental yang kalau berlangsung
terlalu lama, dapat menjadi permanen. Sebaliknya
pada hipertiroidisme dapat mengakibatkan gangguan
pada
kardiovaskular,metabolisme,
otak,
mata,
seksual, dll. Hormon ini mempunyai interaksi dengan
hormon-hormon lain seperti somatotropin.
Glukokortikoid
Mempunyai fungsi yang bertentangan dengan
somatotropin, tiroksin serta androgen, karena
kortison mempunyai efek anti-anabolik. Kalau
kortison
berlebihan
akan
mengakibatkan
pertumbuhan terhambat terhenti dan terjadinya
osteoporosis.
Hormon-hormon seks
Terutama mempunyai peranan dalam fertilitas dan
reproduksi. Pada permulaan pubertas, hormon seks
memacu pertumbuhan badan, tetapi sesudah beberapa lama justru menghambat pertumbuhan.
Androgen
disekresi
kelenjar
adrenal
(dehidroandrosteron)
dan
testis
(testosteron),
sedangkan estrogen terutama diproduksi oleh
ovarium.
Insulin like growth factors (IGFs)
Merupakan somatomedin yang kerjanya sebagai
mediator GH dan kerjanya mirip dengan insulin.
Fungsinya selain sebagai growth pronwting factor
yang berperan pada pertumbuhan, sebagai mediator
GH, aktifitasnya mirip insulin, efek mitogenik

terhadap kondrosit, osteoblas dan jaringan lainnya.


IGFs diproduksi oleh berbagai jaringan tubuh, tetapi
IGFs yang beredar dalam sirkulasi terutama
diproduksi di hepar.
2. Faktor fisik :
a. Cuaca, musim, keadaan geografis suatu daerah.
Musim kemarau yang panjang/adanya bencana alam
lainnya, dapat berdampak pada tumbuh kembang anak
antara lain sebagai akibat gagalnya panen, sehingga
banyak anak yang kurang gizi. Demikian pula gondok
endemik banyak ditemukan pada daerah pegunungan,
dimana air tanahnya kurang mengandung yodium.
b. Sanitasi
Sanitasi lingkungan memiliki peran yang cukup dominan
dalam penyediaan lingkungan yang mendukung
kesehatan anak dan tumbuh kembangnya.
Kebersihan, baik kebersihan perorangan maupun
lingkungan
memegang
peranan
penting
dalam
timbulnya penyakit.
c. Keadaan rumah: struktur bangunan, ventilasi, cahaya
dan kepadatan hunian.
Keadaan perumahan yang layak dengan konstruksi
bangunan yang tidak membahayakan penghuninya,
serta tidak penuh sesak akan menjamin kesehatan
penghuninya.
d. Radiasi
Tumbuh kembang anak dapat terganggu akibat adanya
radiasi yang tinggi.
3. Faktor psikososial :
a. Stimulasi
Stimulasi merupakan hal yang penting dalam tunbuh
kernbang anak. Anak yang mendapat stimulasi yang
terarah dan teratur akan lebih cepat berkembang dibandingkan dengan anak yang kurang/tidak mendapat
stimulasi.
b. Motivasi belajar
Motivasi belajar dapat ditimbulkan sejak dini, dengan
memberikan lingkungan yang kondusif untuk belajar,
misalnya adanya sekolah yang tidak terlalu jauh, bukubuku, suasana yang tenang serta sarana lainnya.
c. Ganjaran ataupun hukuman yang wajar
Kalau anak berbuat benar, maka wajib kita memberi
ganjaran, misalnya pujian, ciuman, belaian, tepuk

d.

e.

f.

g.

h.

tangan dan sebagainya. Ganjaran tersebut akan menimbulkan motivasi yang kuat bagi anak untuk mengulangi
tingkah lakunya. Sedangkan menghukum dengan caracara yang wajar kalau anak berbuat salah, masih
dibenarkan. Sehingga anak tabu mana yang baik dan
yang tidak baik, akibatnya akan menimbulkan rasa
percaya: diri pada anak yang penting untuk
perkembangan kepribadian anak kelak kemudian hari.
Kelompok sebaya
Untuk proses sosialisasi dengan lingkungannya anak
memerlukan ternan sebaya. Tetapi perhatian dari orang
tua tetap dibutuhkan untuk memantau dengan siapa
anak tersebut bergaul. Khususnya bagi remaja, aspek
lingkungan ternan sebaya menjadi sangat penting
dengan makin meningkatnya kasus-kasus penyalahgunaan obat-obat dan narkotika.
Stres
Stres pada anak juga berpengaruh terhadap tumbuh
kembangnya, misalnya anak akan menarik diri, rendah
diri, terlambat bicara, nafsu makan menurun, dan
sebagainya.
Sekolah
Dengan adanya wajib belajar 9 tahun sekarang ini,
diharapkan setiap anak mendapat kesempatan duduk di
bangku sekolah minimal 9 tahun. Sehingga dengan
mendapat pendidikan yang baik, maka diharapkan
dapat meningkatkan taraf hidup anak-anak tersebut.
Cinta dan kasih sayang
Salah satu hak anak adalah hak untuk dicintai dan
dilindungi. Anak memerlukan kasih sayang dan
perlakuan yang adil dari orang tuanya. Agar kelak
kemudian hari menjadi anak yang tidak sombong
dan bisa memberikan kasih sayangnya pula kepada
sesamanya.
Sebaliknya kasih sayang yang diberikan secara
berlebihan yang menjurus kearah memanjakan, akan
menghambat bahkan mematikan perkembangan
kepribadian anak. Akibatnya anak akan menjadi
manja, kurang mandiri, pemboros, sombong dan
kurang bisa menerima kenyataan.
Kualitas interaksi anak-orang tua
lnteraksi timbal balik antara anak dan orang tua, akan
menimbulkan keakraban dalam keluarga. Anak akan

terbuka kepada orang tuanya, sehingga komunikasi bisa


dua arah dan segala permasalahan dapat dipeeahkan
bersama karena adanya keterdekatan dan kepereayaan
antara orang tua dan anak. lnteraksi tidak ditentukan
oleh seberapa lama kita bersama anak. Tetapi lebih
ditentukan oleh kualitas dari interaksi tersebut yaitu
pemahaman terhadap kebutuhan masingmasing dan
upaya optimal untuk memenuhi kebutuhan tersebut
yang dilandasi oleh rasa saling menyayangi.
4. Faktor keluarga dan adat istiadat :
a. Pekerjaan/pendapatan keluarga
Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang
tumbuh kembang anak, karena orang tua dapat
menyediakan semua kebutuhan anak baik yang primer
maupun yang sekunder.
b. Pendidikan ayah/ibu
Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang
penting dalam tumbuh kembang anak. Karena dengan
pendidikan yang baik, maka orang tua dapat menerima
segala informasi dari luar terutama tentang cara
pengasuhan anak yang baik, bagaimana menjaga
kesehatan anaknya, pendidikannya dan sebagainya.
c. Jumlah saudara
Jumlah anak yang banyak pada keluarga yang keadaan
sosial
ekonominya
cukup,
akan
mengakibatkan
berkurangnya perhatian dan kasih sayang yang diterima
anak. Oleh karena itu Keluarga Berencana tetap
diperltikan.
d. Jenis kelamin dalain keluarga
Pada masyarakat tradisional, wanita mempunyai status
yang lebih rendah dibandingkan laki-laki, sehingga
angka kematian bayi dan malnutrisi masib tinggi pada
wanita. Demikian pula dengan pendidikan, masih
banyak ditemukan wanita yang buta huruf.
e. Stabilitas rumah tangga
Stabilitas
dan
keharmonisan
rumah
tangga
mempengaruhi tumbuh kembang anak. Tumbuh
kembang anak akan berbeda pada keluarga yang
harmonis, dibandingkan denganmereka yang kurang
harmonis.
f. Kepribadian ayahlibu
Kepribadian ayah .dan ibu yang terbuka tentu
pengaruhnya berbeda terhadap tumbuh kembang anak,

bila dibandingkan dengan mereka yang kepribadiannya


tertutup.
g. Adat-istiadat, norma-norma, tabu-tabu
Adat-istiadat yang berlaku di tiap daerah akan
berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.
Misalnya di Bali karena seringnya upacara agama yang
diadakan oleh suatu keluarga, dirnana harus disediakan
berbagai makanan dan buah-buahan, maka sangat
jarang terdapat anak yang gizi buruk karena makanan
mau pun buah-buahan tersebut akan dimakan bersama
setelah selesai upacara.
Demikian pula dengan norma-norma maupun tabu-tabu
yang berlaku di masyarakat, berpengaruh pula terhadap
tumbuh kembang anak.
h. Agama
Pengajaran agama harus sudah ditanamkan pada anakanak sedini mungkin, karena dengan memahami agama
akan menuntun umatnya untuk berbuat kebaikan dan
kebajikan.
i. Urbanisasi
Salah satu darnpak dari urbanisasi adalah kemiskinan
dengan segala perrnasalahannya
J. Kehidupan
politik
dalam
masyarakat
yang
mempengaruhi
prioritas
kepentingan
anak,
anggaran, dan lain-lain.
Tumbuh Kembang Anak. Dr. soetjiningsih

a. Faktor internal (dalam)


Perbedaan ras/etnik atau bangsa
Bila seseorang dilahirkan sebagai ras orang Eropa maka tidak
mungkin ia memiliki faktor herediter ras orang Indonesia atau
sebaliknya. Tinggi badan tiap bangsa berlainan, pada
umumnya ras orang kulit putih mempunyai ukuran tungkai
yang lebih panjang dari pada ras orang Mongol.
Keluarga
Ada kecenderungan keluarga yang tinggi-tinggi dan ada
keluarga yang gemuk-gemuk.
Umur
Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa
prenatal, tahun pertama kehidupan dan masa remaja.
Jenis kelamin

Wanita lebih cepat dewasa dibanding anak laki-laki. Pada


masa pubertas wanita umumnya tumbuh lebih cepat dari
pada laki-laki dan kemudian setelah melewati masa pubertas
laki-laki akan lebih cepat.
Kelainan genetik
Sebagai salah satu contoh : Achondroplasia yang
menyebabkan dwarfisme, sedangkan sindroma Marfan
terdapat pertumbuhan tinggi badan yang berlebihan.
Kelainan kromosom
Kelainan kromosom umumnya disertai dengan kegagalan
pertumbuhan seperti pada sindroma Downs dan sindroma
Turners.
b. Faktor eksternal/lingkungan
Faktor pranatal
Gizi
Nutrisi ibu hamil terutama dalam trimester akhir kehamilan
akan mempengaruhi pertumbuhan janin.
Mekanis
Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kelainan
kongenital seperti club foot.
Toksin/zat kimia
Aminopterin dan obat kontrasepsi dapat menyebabkan
kelainan kongenital seperti palatoskisis.
Endokrin
Diabetes melitus dapat menyebabkan makrosomia,
kardiomegali, hiperplasia adrenal.
Radiasi
Paparan radium dan sinar rontgen dapat mengakibatkan
kelainan pada janin seperti mikrosefali, spina bifida,
retardasi mental dan deformitas anggota gerak, kelainan
kongenital mata, kelainan jantung.
Infeksi
Infeksi pada trimester pertama dan kedua oleh TORCH
(toksoplasma, rubella, sitomegalo virus, herpes simpleks),
PMS (Penyakit Menular Seksual) serta penyakit virus
lainnya dapat mengakibatkan kelainan pada janin seperti
katarak, bisu, tuli, mikrosefali, retardasi mental, dan
kelainan jantung kongenital.
Kelainan imunologi
Eritroblastosis fetalis timbul atas dasar perbedaan
golongan darah antara janin dan ibu sehingga ibu
membentuk antibodi terhadap sel darah merah janin,

kemudian melalui plasenta masuk ke dalam peredaran


darah janin dan akan menyebabkan hemolisis yang
selanjutnya mengakibatkan hiperbilirubinemia dan kern
ikterus yang akan menyebabkan kerusakan jaringan otak.
Anoksia embrio
Anoksia embrio yang disebabkan oleh gangguan fungsi
plasenta menyebabkan pertumbuhan terganggu.
Psikologis ibu
Kehamilan
yang
tidak
diinginkan,
perlakuan
salah/kekerasan mental pada ibu hamil dan lain-lain.
Faktor persalinan
Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala dan
asfiksia dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan otak.
Pasca natal
Gizi
Untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan
yang adekuat.
Penyakit kronis/kelainan kongenital
Tuberkulosis,
anemia,
kelainan
jantung
bawaan
mengakibatkan retardasi pertumbuhan jasmani.
Lingkungan fisis dan kimia
Sanitasi lingkungan yang kurang baik, kurangnya sinar
matahari, paparan sinar radioaktif, zat kimia tertentu (Pb,
Merkuri, rokok, dan lain-lain) mempunyai dampak yang
negatif terhadap pertumbuhan anak.
Psikologis
Hubungan anak dengan orang sekitarnya. Seorang anak
yang tidak dikehendaki oleh orang tuanya atau anak yang
selalu merasa tertekan akan mengalami hambatan di
dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
Endokrin
Gangguan hormon misalnya pada penyakit hipotiroid akan
menyebabkan anak mengalami hambatan pertumbuhan.
Defisiensi hormon pertumbuhan akan menyebabkan anak
menjadi kerdil.
Sosio-ekonomi
Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan,
kesehatan lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan, akan
menghambat pertumbuhan anak.
Lingkungan pengasuhan
Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu-anak sangat
mempengaruhi tumbuh kembang anak.

Stimulasi
Perkembangan memerlukan rangsangan atau stimulasi
khususnya dalam keluarga, misalnya penyediaan alat
mainan, sosialisasi anak, keterlibatan ibu dan anggota
keluarga lain terhadap kegiatan anak, perlakuan ibu
terhadap perilaku anak.
Obat-obatan
Pemakainan kortikosteroid jangka lama akan menghambat
pertumbuhan, demikian halnya dengan pemakainan obat
perangsang
terhadap
susunan
saraf
pusat
yang
menyebabkan
terhambatnya
produksi
hormon
pertumbuhan.
Buku Ajar I. Tumbuh Kembang Anak dan Remaja.
Digolongkan menjadi 3 kebutuhan dasar :

1. Kebutuhan Fisik-Biomedis (ASUH)


Meliputi :
Pangan/gizi merupakan kebutuhan terpenting.
Perawatan kesehatan dasar, antara lain imunisasi,
pemberian ASI, penimbangan bayi/anak yang teratur,
pengobatan kalau sakit, dll.
- Papan/pemukiman yang layak.
- Higiene perorangan, sanitasi lingkungan.
- Sandang.
- Kesegaran jasmani , rekreasi
- Dll.
2. Kebutuhan Emosi/Kasih-Sayang (ASIH)
Pada tahun-tahun pertama kehidupan, hubungan yang
erat, mesra dan selaras antara ibu / pengganti ibu dengan
anak merupakan syarat mutlak untuk menjamin tumbuh
kembang yang selaras baik fisik, mental mapun psikososial.
Berperannya dan kehadiran ibu / penggantinya sedini dan
selanggeng mungkin, akan menjalin rasa aman pada bayinya.
Ini diwujudkan dengan kontak fisik (kulit/mata) dan psikis
sedini mungkin, misalnya dengan menyusui bayi secepat
mungkin segera setelah lahir.
-

Kekurangan kasih sayang ibu pada tahun-tahun pertama


kehidupan mempunyai dampak negatif pada tumbuh
kembang anak baik fisik,mental maupun sosial emosi, yang
disebut Sindrom Deprivasi Maternal.
Kasih sayang dari orang tuanya (ayah-ibu) akan
menciptakan ikatan yang erat (bonding) dan kepercayaan
dasar (basic trust).

3. Kebutuhan akan Stimulasi Mental (ASAH)


Stimulasi mental merupakan cikal bakal dalam proses belajar
(pendidikan dan pelatihan) pada anak. Stimulasi mental
(ASAH)
ini
mengembangkan
perkembangan
mental
psikososial: kecerdasan, ketrampilan, kemadirian, kreativitas,
agama, kepribadian, moral-etika, produktivitas, dsb.
Soetjiningsih.1995.TUMBUH KEMBANG ANAK. Penerbit Buku Kedokteran
EGC.

9. DD ? (down syndrome, cerebral palsy)


a. Down syndrome
b. Cerebral palsy
c. Edward syndrome

MASALAH TUMBUH KEMBANG


1. Develomnet Delay
I. Development Delay
1. Cara penilaian dalam perkembangan dalam assesment
development delay
abnormal
o bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan, pada 2 sektor atau
lebih.
o Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih
keterlambata PLUS 1 sektor atau lebih dgn 1 keterlambatan dan
pada sektor yg sama tersebut tidak ada yg lulus pd kotak yg
berpotongan dgn garis vertikal usia.
Meragukan
o Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih
o Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan
pada sektor yg sama tidak ada yg lulus pd kotak yg perpotongan
dgn garis vertikal usia.
tidak dapat dites
o apabila terjadi penolakan yg menyebabkan hasil tes menjadi
abnormal atau meragukan
normal

semua yg tidak tercantum dalam kriteria tersebut diatas.


Tumbuh Kembang Anak Dr Soetjiningsih,SpAK

a) Fungsi Denver
Skrinning terhadap adanya gangguan pada
anak dari lahir sampai usia 6 tahun

perkembangan

b) Alat yang digunakan


a. Alat peraga : benang wool merah, kismis/manik-manik,
kubus warna merah-kuning-hijau-biru, permaianan anak,
botol Cecil, bola tenis, bel Cecil, yertas dan pensil.
b. Lembar formulir DDST
c. Buku petunjuk sebagai refernesi yang menjelaskan caracara melakukan tes dan cara penilaiannya
Sumber : Soetjiningsih, Ranuh. Tumbuh Kembang Anak.
Penerbit Buku Kedokteran EGC,estacan 2, 1998. Halaman 72.

c) Prosedur DDST
terdiri 2 tahap :
tahap pertama :secara periodik dilakukan pada semua anak yg
berusia :
- 3-6 bulan
- 9-12 bulan
- 18-24 tahun
- 3 tahun
- 4 tahun
- 5 tahun
tahap kedua : dilakukan pd mereka yg dicurigai adanya hambatan
perkembangan pd tahap pertama. Kemudian dilanjtkan dgn evaluasi
diagnostik yg lengkap.
Tumbuh Kembang Anak Dr Soetjiningsih,SpAK
2. Gangguan Bahasa dan bicara
1. perkembangan berbicara normal (jalan impuls)
Hemisfer kiri merupakan pusat kemampuan berbahasa pada
94% orang dewasa kinan dan lebih dari 75% pada orang dewasa
kidal. Pengkhususan hemisfer untuk fungsi bahasa sudah dimulai
sejak didalam kandungan, tetapi berfungsi secara sempurna setelah
beberapa tahun kemudian. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa
anak denga kerusakan otak unilateral sebelum maupun sesudah
lahir, diperkirakan fungsi berbahasa dapat diprogram oleh hemisfer
lainnya, walaupun kelainan yang khusus masih dapat diketemukan
dengan tes yang teliti. Kelenturan perkernbangan otak seperti ini

menyebabkan macam perkembangan bahasa pada anak sukar


ditentukan.
Seperti pada orang dewasa terdapat 3 area utama pada
hemisfer kiri anak khusus untuk berbahasa, yaitu dibagian anterior
(area Broca dan korteks motorik) dan di bagian posterior (area
Wernicke). Informasi yang berasal dari korteks pendengaran primer
dan sekunder, diteruskan ke bagian korteks temporoparietal
posterior (area Wernicke), yang dibandingkan dengan ingatan yang
sudah disimpan. Kemudian jawaban diformulasikan dan disalurkan
oleh fasciculus arcuata ke bagian anterior otak dimana jawaban
motorik dikoordinasi. Apabila terjadi kelainan pada salah satu dari
jalannya impuls ini, maka akan terjadi kelainan bicara. Kerusakan
pada bagian posterior akan mengakibatkan kelainan bahasa
reseptif, sedangkan kerusakan dibagian anterior akan menyebabkan
kelainan bahasa ekspresif.

Tabel :
Perkembangan kemampuan berbicara dan berbahasa pada
anak normal (Towne,
1983)
1. Perkembangan bahasa normal
umur
(bula
n)
1
2

bahas
pasif

reseptif

(bahasa bahasa
aktif)

ekspresif

(bahasa

vokalisasi
yang
masih
kegiatan
anak
terhenti sembarang, terutama huruf
akibat suara
hidup
tampak
mendengarakan tanda-tanda
vokal
yang
ucapan pembicara, dapet menunjukkan
perasaan
tersenyum pada pembicara senang, senyum sosial

3
4
5
6
7
8
9
10
11

12

15

18

21
24

melihat ke arah pembicara


memberi tanggapan yang
berbeda terhadap suara
bernada marah/senang
bereaksi
terhadap
panggilan namanya
mulai mengenal kata-kata
"da da, papa, mama"
bereaksi terhadap katakata naik, kemari, dada
menhentikan aktivitas bila
namanya dipanggil
menghentikan
kegiatan
apabila dilarang
secara tepat menirukan
variasi suara tinggi
reaksi
atas
pertanyaan
sederhana dengan melihat
atau menoleh

tersenyum sebagai jawaban


atas pembicaraan
jawaban
vokal
rangsang sosial

terhadap

mulai meniru suara


protes
vokal,
berteriak
karena kegirangan
mulai menggunakan suara
mirip kata-kata kacau
menirukan rangkaian suara
menirukan rangkaian suara
kata-kata
muncul

pertama

mulai

kata-kata kacau mulai dapat


dimengerti dengan baik
mengungkapkan kesadarm
rekasi dengan melakukan
tentang obyek yang telah
gerakan terhadap berbagai
akrab
dan
menyebut
pertanyaan verbal
namanya
kata-kata
yang
benar
mengetahui dan mengenalli terdengar diantara kata-kata
nama-nama bagian tubuh
yang kacau, sering dengan
disertai gerakan tubuhnya
dapat
mengetahui
dan
lebih banyak menggunakan
mengenali gambar-gambar
kata-kata daripada gerakan,
obyek yang sudah akrab
untuk
mengungkapkan
denganny,
jika
obyek
keinginannya
tersebut disebut namanya
akan mengikuti petunjuk
mulai
mengkombinasikan
yang
berurutan
(ambil
kata-kata
(mobil
papa,
topimu dan letakkan di atas
mama berdiri)
meja)
mengetahui lebih banyak
menyebut nama sendiri
kalimat yang lebih rumit

(Soetjiningsih, Tumbuh Kembang Anak, Jakarta : EGC, 1995)

Periode kritis bagi perkembangan kernampuan berbicara, dan


bahasa adalah periode antara 9-24 bulan awal kehidupan.
Pengamatan langsung terhadap perilaku komunikasi selama
pemeriksaan rutin dapat diambil dari laporan orang tua. Anak yang

sedang belajar berbicara, akan mengamati dengan seksama wajah


lawan bicaranya dan gerakan- gerakan yang dilakukannya sampai
pada saat dimana petunjuk visual menjadi tidak penting, yang
menandakan
peningkatan
dalam
memahami
sinyal
lisan
pendengaran.
Dengan
berkembangnya
ketrampilan
ekspresif
anak,
kemampuan yang meningkat dalam berbicara dan berbahasa
menjadi lebih mudah,diamati. Periode 2-4 tahun pertama
menunjukkan peningkatan yang cepat dalam jumlah dan
kompleksitas perkembangn berbicara, kekayaan perbendaharaan
kata dan kontrol neuromotorik. Modulasi suara mungkin masih
berlebihan, pengendalian intensitas suara masih terbatas, demikian
pula dengan pengendalian artikulasi dan ritme berbicara. Selama
periode inilah gangguan dalam kelancaran berbicara dapat lebih
kelihatan, seperti gagap atau cara bicara seperti bayi. Pengetahuan
bahwa ketidak lancaran adalah merupakan bagian dari
perkembangan normal atas pengendalian berbicara, akan
meredakan kecemasan orang tua.
Keterampilan mengartikulasikan suara juga mengikuti pola
tertentu. Yang pertama muncul adalah suara yang paling mudah
dan paling gampang, yaitu suara bibir (dinyatakan dalarn huruf m,
p, b, f, v, o). Berikutnya yang terdengar adalah suara sederhana
yang dihasilkan oleh lidah dan gusi (d, n, t). Ketika anak mulai
menguasai kontak lidah-palatum (g, k, ng), sering mereka bingung
antara d dan g serta t dan k terutama bila keduanya muncul dalam
satu kata (misalnya dagu diucapkan dadu atau gagu). Jenis duplikasi
fonetik ini sering terjadi pada umur 2 tahun, dan dapat pada umur 3
tahun. Ketika anak belajar membuat pembedaan suara, mereka juga
belajar mengendalikan motorik untuk pola bicara yang lebih
kompleks dan dapat mengucapkan huruf f, v, s dan z. Karena suarasuara itu mirip, anak umur 3 tahun dapat keliru menyebut f untuk s
atau v untuk z.
Pengendalian dari berbagai bunyi ucapan biasanya dikuasai
lebih dulu pada awal kata-kata. Anak umur 2 tahun mungkin
menghilangkan suara pada akhir kata; anak umur 3 tahun dapat
terpeleset pada bunyi ditengah kata, dan anak umur 4-5 tahun
dapat mengalami kesulitan dengan kata yang lebih kompleks.
Kesalahan artikulasi dapat terjadi sampai batas umur 7 tahun. Anak
umur 4 tahun adalah penerima bahasa ibu yang baik. Dapat saja
terjadi kesalahan artikulasi, tetapi ucapannya cukup dapat
dimengerti dan telah menguasai dasar sintaks, fonetik dan
semantik.
(Tumbuh Kembang Anak, dr. Soetjiningsih, SpAK)

2. etiology

Penyebab kelainan berbahasa bermacam-macam yang


melibatkan berbagai faktor yang dapat saling mempengaruhi,
antara lain kemampuan lingkungan, pendengaran, kognitif, fungsi
saraf, emosi psikologis dan lain sebagainya. Seorang anak mungkin
kehilangan pendengaran sensoneural dari sedang sampai berat.
Sedangkan yang lain mungkin kehilangan pendengaran konduksi
berulang, sehingga kemampuan bicara keseluruhannya menurun.
Demikian pula suatu gangguan bicara (disfasia) dapat terjadi tanpa
adanya cedera otak atau keadaan lainnya. Blager BF (1981)
membagi penyebab gangguan bicara dan bahasa, adalah sebagai
berikut (Tabel 18.2):
2.
Penyebab
1. lingkungan
a. sosial ekonomi kurang
b. tekanan keluarga
c. keluarga bisu
d. dirumah menggunakan
bahasa bilingual
2. emosi
a. ibu yang tertekan
b. gangguan serius pada
orang tua
c. gangguan serius pada anak
3. masalah pendengaran
a. congenital

efek pada perkembangan bicara


a. terlambat
b. gagap
c. terlambat pemerolehan bahasa
d. terlambat pemerolehan struktur
bahasa
a. terlambat pemerolehan bahasa
b.
terlambat
atau
gangguan
perkembangan bahasa
c.
terlambat
atau
gangguan
perkembangan bahasa
a.
terlambat/gangguan
permanen
b.
terlambat
/gangguan
permanen

bicara

bicara
b. didapat
4. perkembangan terlambat
a. perkembangan lambat
a. terlambat bicara
b. perkembangan lambat,
tetapi masih dalam batas ratarata
b. terlambat bicara
c. retardasi mental
c. pasti terlambat bicara
5. cacat bawaan
a.
terlambat
dan
terganggu
a. palatoschiziz
kemampuan bicaranya
b.
kemampuan
bicaranya
lebih
b. sindrom down
rendah
6. kerusakan otak
a.
mempengaruhi
kemampuan
mengisap, menelan, mengunyah, dan
a. kelainan neuromuskular
akhirnya timbul gangguan bicara dan
artikulasi seperti disartria

b. kelainan sensorimotor

c. palsi serebral

d. kelainan persepsi

b.
mempengaruhi
kemampuan
mengisap dan menelan, akhirnya
menimbulkan gangguan artikulasi,
seperti dispraksia
c. berpengaruh pada pernapasan,
makan dan timbul juga masalah
artikulasi yang dapat mengakibatkan
disartria dan dispraksia
d. kesulitan membedakan suara,
mengerti
bahasa,
simbolisasi,
mengenal
konsep,
akhirnya
menimbulkan kesuilitan belajar di
sekolah

(Soetjiningsih, Tumbuh Kembang Anak, Jakarta : EGC, 1995)

Tabel 18.2: Penyebab, gangguan bicara dan bahasa pada anak.


Perkembangan bahasa yang lambat dapat bersifat familial. Oleh
karena itu harus dicari dalarn keluarganya apakah ada yang mengalami
keterlambatan bicara juga. Disamping itu kelainan bicara juga lebih
banyak pada anak laki-laki daripada perempuan. Hal ini karena pada
perempuan, maturasi dan perkembangan fungsi verbal hernisfer kiri lebih
bak Sedangkan pada laki-laki perkembangan hemisfer kanan yang lebih
baik, yaitu untuk tugas yang abstrak dan memerlukan keterampilan.
Sedangkan Aram DM (1987), mengatakan bahwa
gangguan bicara pada anak dapat disebabkan oleh kelainan
dibawah ini:
1. Lingkungan sosial anak.
Interaksi antar personal merupakan dasar dari semua
komunikasi dan perkembangan bahasa. Lingkungan yang
tidak mendukung akan menyebabkan gangguan bicara dan
bahasa pada anak.
2. Sistem masukan/input.
Adalah sistern pendengaran, penglihatan dan integritas taktilkinestetik dari anak. Pendengaran merupakan alat yang
penting dalam perkembangan bicara. Anak dengan otitis
media kronis dengan penurunan daya pendengaran akan
mengalami keterlambatan kemampuan menerima ataupun
mengungkapkan bahasa. Gangguan bicara juga terdapat pada
tuli oleh karena kelainan genetik dan metabolik (tuli primer),
tuli neurosensorial (infeksi intra uterin: sifilis, rubella,
toksoplasmosis. sitomegalovirus), tuli konduksi seperti akibat
malformasi telinga luar, tuli sentral (sama sekali tidak dapat
mendengar), tuli persepsi/afasia sensotik (terjadi kegagalan
integrasi arti bicara yang didengar menjadi suatu pengertian

yang menyeluruh), dan tuli psikis seperti pada skizofrenia,


autisme infantil, keadaan cemas dan reaksi psikologis lainnya.
Pola bahasa juga akan terpengaruh pada anak dengan
gangguan penglihatan yang berat, demikian pula dengan
anak dengan defisit taktil-kinestetik akan terjadi gangguan
artikulasi.
3. Sistem pusat bicara dan bahasa.
Kelainan
susunan
saraf
pusat
akan
mempengaruhi
pemahaman, interpretasi, formulasi dan perencanaan bahasa,
juga pada aktifitas dan kemampuan intelektual dari anak.
Gangguan komunikasi biasanya merupakan
retardasi mental, misalnya pada sindrom Down.

bagian

dari

4. Sistem produksi.
Sistem produksi suara seperti faring, faring, hidung, struktur
mulut, dan mekanisme neuromuskular yang berpengaruh
terhadap pengaturan nafas untuk berbicara, bunyi faring,
pembentukan bunyi untuk artikulasi bicara melalui aliran
udara lewat faring, faring, dan rongga mulut.
(Tumbuh Kembang Anak, dr. Soetjiningsih, SpAK)
3. klasifikasi
Terdapat bermacam- macam klasifikasi disfasia, tergantung
dari cara mereka memandang. Kebanyakan sistem klasifikasi
berdasarkan
atas
model
input-output.
Beberapa
telah
didefinisikan,dengan menggunakan tes yang telah distandarisasi.
Ada yang menggunakan model yang didasari pendengaran dan ada
pula yang berdasarkan patofisiologi terjadinya disfasia.
Klasifikasi kelainan bahasa pada anak menurut Rutter (dikutip dari
Toback C), berdasarkan atas berat ringannya kelainan bahasa
sebagai berikut:

Tabel : Klasifikasi kelainan bahasa menurut Rutter.


Ringan
dislalia

keterlambatan akuisisi dari bunyi katakata, bahasa normal

Sedang
keterlambatan lebih berat dari akuisisi budisfasia ekspresif
nyi kata-kata dan perkembangan bahasa
terlambat
Berat

keterlambatan lebih berat dari akuisisi dan

disfasia reseptif &


bahasa, gangguan pemahamain bahasa

tuli

persepsi
Sangat berat
persepsi & tuli

gangguan pada seluruh kemampuan

Bahasa

tuli
sentral

Sedangkan Rapin dan Allen (dikutip dari Klein, 1991)


berdasar
patofisiologi, membagi kelainan bahasa pada anak menjadi 6
subtipe, yaitu:
1. 2 primer ekspresif:
- disfraksia verbal
- gangguan defisit produksi fonologi
2. 2 defisit represif dan ekspresif:
- gangguan campuran ekspresif-represif
- disfasia verbal auditon agnosia
3. 2 defisit bahasa yang lebib berat:
- gangguan leksikal-sintaksis
- gangguan semantik-pragmatik
Anak dengan disfraksi verbal (afraksia verbal atau
gangguan perkembangan bicara ekspresif) mengerti segala sesuatu
yang dikatakan padanya, mereka lebih sering menunjuk daripada
bicara. Banyak yang mempunyai riwayat prematur, beherapa
menderita disfraksia oromotor (anak ini mengeluarkan air flur dan
mempunyai kesulitan mengikuti gerakan mulut). Jika mereka bicara,
lebih banyak menggunakan suara vokal dengan gangguan
pengucapan konsonan. Anak-anak ini setelah dewasa menjadi
afemia. Anak-anak
dengan disfraksia verbal kadang-kadang
disertai dengan gangguan tingkah laku (autisme). Rehabilitasi pada
anak ini lebih memerlukan terapi wicara yang intensif.
Beberapa anak bicara dengan kata-kata dan frase yang sulit
dimengerti, bahkan pada orang-orang yang selalu kontak
dengannya. Sehingga mereka sering marah dan frustrasi karena
merasa bahwa kata-katanya sulit dimengerti oleb sekitarnya.

Mereka ini tidak ada gangguan dalam pengertian, tetapi terdapat


gangguan defisit produksi fonologi.
Anak yang bicaranya sulit dipahami yang juga menunjukkan
adanya gangguan pemahaman terhadap apa yang dikatakan
kepadanya, menunjukkan gangguan campuran ekspresifreseptif. Mereka bicara dalam kalimat yang pendek dan banyak
dari mereka yang autistik. Setelah dewasa mereka menjadi afasia
(afasia broca), hanya sedikit yang diketahui bagaimana hal ini bisa
terjadi.
Beberapa anak mengerti sedikit pada apa yang dikatakan
kepadanya,
walaupun
kadang2
mereka
mengikuti
suatu
pembicaraan dengan cara lain, misalnya dengan memperhatikan
apa yang dilihatnya. Mereka sangat miskin dalam artikulasi kata2.
mereka ini dinamakan disfasia verbal auditori agnosia. Mereka
ini termasuk afasia yang didapat, dimana mereka sebelumnya
sering kejang dan kehilangan kemampuan berbicara setelah periode
perkembangan bahasa yang normal (sindrom Landau Kleffner). Pada
EEG anak dengan sindrom ini, akan tampak bitemporal spike. Anak
dengan disfasia jenis ini, memproses suara yang didengarkan di
pusat dengar berbeda dengan anak normal. Stimulasi bahasa akan
memperbaiki keadaan, walaupun hasil akhirnya masih belum pasti.
Anak dengan gangguan leksikal-sintaksis mempunyai
kesulitan dalam menemukan kata2 yang tepat khususnya saat
bercakap2. mereka tidak gagap dan tidak menghindar untuk
berbicara. Gejalanya seperti orang dewasa dengan afasia konduksi,
dimana mereka akan berhenti bicara sebentar untuk menemukan
kata2 yang tepat. Biasanya orang tuanya akan membantu untuk
menemukan kata2 yang tepat. Anak ini biasanya bicara dengan
menggunakan kalimat2 yang pendek untuk umurnya. Terapi bicara
akan membantu melatih anak mencari kata2 yang tepat pada saat
bicara, tetapi prognosis selanjutnya masih belum banyak diketahui.
Beberapa anak ada yang bicaranya lancar dan dapat
menggunakan kata2 yang tepat, tetapi mereka bicara tanpa henti
mengenai satu topik. Mereka tidak mengerti tata bahasa. Gejalanya
mirip gangguan bicara pada anak dengan hidrosefalus dan oleh
Rapin dan Allen disebut gangguan semantik pragmatik. Anak ini
pada umumnya menderita gangguan hubungan sosial dan
didiagnosis sebagai gangguan perkembangan pervasif. Mereka
punya sedikit teman sebaya dan tidak pernah mau belajar aturan
permainan dan bicara dari teman sebayanya. Ada baiknya anak ini
diajar ketrampilan berbicara, bahkan diperlukan psikolog dan ahli
terapi tingkah laku.
(Tumbuh Kembang Anak, dr. Soetjiningsih, SpAK)

Aram DM (1987) dan Towne (1983), mengatakan bahwa


dicurigai adanya gangguan perkembangan kemampuan bahasa
pada anak, kalau diketemukan gejala-gejala sebagai berikut:
1. Pada usia 6 bulan anak tidak mampu memalingkan mata serta
kepalanya terhadap suara yang datang dari belakang atau
camping
2. Pada usia 10 bulan anak tidak memberi reaksi terhadap
panggilan namanya sendiri
3. Pada umur 15 bulan tidak mengerti dan memberi reaksi terhadap
kata2 jangan, da-da, dan sebagainya
4. Pada usia 18 bulan tidak dapat menyebut sepuluh kata tunggal
5. Pada usia 21 bulan tidak memberi reaksi terhadap perintah
(misalnya duduk, kemari, berbiri)
6. pada usia 24 bulan tidak bisa menyebut bagian2 tubuh
7. pada usia 24 bulan belum mampu mengetengahkan ungkapan
yang terdiri dari 2 buah kata
8. setelah usia 24 bulan hanya mempunyai perbendaharaan kata
yang sangat sedikit/tidak mempunyai kata2 huruf z pada frase
9. pada usia 30 bulan ucapannya tidak dapat dimengerti oleh
anggota keluarga
10. pada usia 36 bulan belum dapat mempergunakan kalimat2
sederhana
11. pada usia 36 bulan tidak bisa bertanya dengan menggunakan
kalimat tanya yang sederhana
12. pada usia 36 bulan ucapannya tidak dimengerti oleh orang
diluar keluarganya
13. pada usia 3,5 tahun selalu gagal untuk menyebutkan kata
akhir (ca untuk cat, ba untuk ban, dan lain2)
14. setelah berusia 4 tahun tidak lancar berbicara/gagap
15. setelah usia 7 tahun masih ada kesalahan ucapan
16. pada usia berapa saja terdapat hipernasalitas atau
hiponasalitas yang nyata atau mempunyai suara yang monoton
tanpa berhenti, sangat keras dan tidak dapat di dengar serta
terus menerus memperdengarkan suara yang serak
(Tumbuh Kembang Anak, dr. Soetjiningsih, SpAK)
Gangguan bicara anak dapat dibagi menjadi

Gangguan bicara kongenital


1. Retradasi mental
Pada umumnya seorang anak dengn gangguan inteligensi.
Tetapi harus disingkirkan kemungkinan lain spt.gangguan
pendengaran dsb.
2. Ketulian (akibat rubela, kern icterus,sindrom
osteogenesis,imperfecta)
3. Cerebral palsy
4. Anomali alat bicara perifer (palatum, bibir, gigi,lidah)

turner,

5. Gangguan perkembangan bicara (development speech


disorder)
Gangguan bicara di dapat
1. Afasia akibat penyakit yang disertai kejang, pascaensefalitis,
pascatrauma, neoplasma, gangguan vaskuler otak, penyakit
degeneratif.
2. Disartria pada bells palsy (kelumpuhan N.VII perifer), polio
melitis, tumor batang otak, miastenia gravis, penyakit
degeneratif
3. Psikogenetik
4. sosiokultural
(Buku Kuliah IKA. FKUI)
4. diagnosis
a. Anamnesis
Pengambilan anamnesis harus mencakup uraian mengenai
perkembangan bahasa anak. Autisme setelah berumur 18
bulan dan bicara yang sulit dimengerti setelah berumur 3
tahun, paling sering ditemukan. Dokter anak hartis curiga bila
orang tua melaporkan bahwa anaknya tidak dapat
menggunakan kata-kata yang berarti pada umur 18 bulan
atau belum mengucapkan frase pada umur 2 tahun. Atau
anak memakai bahasa yang singkat untuk menyampaikan
maksudnya.
Kecurigaan adanya gangguan tingkah laku perlu
dipertimbangkan kalau dijumpai gangguan bicara dan tingkah
laku yang bersamaan. Kesulitan tidur dan makan sering
dikeluhkan orang tua pada awal gangguan autisme.
Pertanyaan bagaimana anak bermain dengan temannya dapat
membantu mengungkap tabir tingkah laku. Anak dengan
autisme lebih senang bermain dengan huruf balok atau
magnetik dalam waktu yang lama. Mereka dapat saja bermain
dengan anak sebaya, tetapi dalam waktu singkat menarik diri.
b. Instrumen penyaring.
Selain anamnesis yang teliti, disarankan digunakan instrumen
penyaring untuk menilai gangguan perkembangan bahasa.
Misalnya Early Language Milestone Scale (Coplan dan
Gleason), atau DDST (pada Denver 11 penilaian pada sektor
bahasa lebilh banyak daripada DDST yang lama) atau
Reseptive-Expresive
Emergent
language
Scale.
Early
Language Milestone Scale cukup sensitif dan spesiflk untuk
mengidentifikasi gangguan bicara pada anak kurang dari 3
tahun.
c. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dapat digunakan untuk mengungkapkan
penyebab lain dari gangguan bahasa. Apakah ada mikrosefali,
anomali telinga luar, otitis media yang berulang, sindrom

William (fasies Elfin, perawakan pendek, kelainan jantung,


langkah yang tidak mantap), celah palatum, dan lain-lain.
Gangguan oromotor dapat diperiksa dengan menyuruh
anak menirukan gerakan mengunyah, menjulurkan lidah dan
mengulang suku kata PA, TA, PA-TA, PA-TA-KA. Gangguan
kernamptian oromotor terdapat pada verbal apraksia.
d. Pengamatan saat bermain.
Mengamati saat anak bermain dengan alat permainan yang
sesuai
dengan
umurnya,
sangat
membantu
dalam
mengidentifikasi gangguan tingkah laku. Idealnya peme
riksa juga bermain dengan anak tersebut dan kemudian
mengamati orang tuanya saat bermain dengan anaknya.
Tetapi ini tidak praktis dilakukan pada ruangan yang ramai.
Pengamatan anak saat bermain sendiri, selama pengambilan
anamnesis dengan orang tuanya, lebih mudah dilaksanakan.
Anak yang memperlakukan mainannya sebagai obyek saja
atau hanya sebagai satu titik pusat perhatian saja, dapat
merupakan petunjuk adanya kelainan tingkah laku.
e. Pemeriksaan laboratorium.
Semua anak dengan gangguan bahasa harus dilakukan tes
pendengaran. Jika anak tidak kooperatif terhadap audiogram
atau
hasilnya
mencurigakan,
maka
perlu
dilakukan
pemeriksaan "auditory brainstern responses".
Pemeriksaan laboratorium lainnya dimaksudkan untuk
membuat diagnosis banding. Bila terdapat gangguan
pertumbuhan, mikrosefali, makrosefali, terdapat gejala-gejala
dari suatu sindrom perlu dilakukan CT-scan atau MR1, untuk
mengetahui adanya malformasi. Pada anak laki-laki dengan
autisme dan perkembangan yang sangat lambat, skrining
kromosom untuk fragil-X mungkin diperlukan. Skrining
terhadap penyakit-penyakit- metabolik baru dilakukan kalau
terdapat kecurigaan ke arah itu, karena pemeriksaan ini
sangat mahal.
f. Konsultasi
Pemeriksaan dari psikolog/neuropsikiater anak diperlukan jika
ada gangguan bahasa dan tingkah laku. Perneriksaan ini
meliputi riwayat dan tes bahasa, kemampuan kognitif dan
tingkah laku. Tes intelegensia dapat dipakai sebagai
perbandingan fungsi kognitif anak tersebut. Masalah tingkah
laku dapat diperiksa lebih lanjut dengan menggunakan
instrumen seperti Vineland Social Adaptive Scale Revised,
Child Behavior Checklist, atau Childhood Autism Rating Scale.
Konsultasi ke psikiater anak dilakukan bila ada gangguan
tingkah laku yang berat.

Ahli patologi wicara akan mengevaluasi cara pengobatan anak


dengan gangguan bicara. Anak akan diperiksa apakah ada
masalah anatomi yang mempengaruhi produksi suara.
(Tumbuh Kembang Anak, dr. Soetjiningsih, SpAK)

Gangguan bicara yang menyebabkan anak dibawa ke dokter dapat


berupa:

Perkembangan bicara yang terlambat


Gangguan dalam pengucapan kata (pronounciation)
Kesukaran membaca atau menulis
Seorang anak mulai ucapkan kata2 tunggal antara umum 10-12
bulan, mulai mengucapkan kalimat pendek pada umurr 18 bulan
dan kalimat sempurna kira2 pada umur 30 bulan

Pemeriksaan yang harus dilakukan pada anak dengan gangguan


bicara ialah pemeriksaan
Pediatric dan neurologis lengkap
Inteligensi
Pengdengaran dan penglihatan
(Buku Kuliah IKA. FKUI)
5. penatalaksanaan
Deteksi dan penanganan dini pada problem bicara dan bahasa
pada anak, akan membantu anak-anak dan orang tua untuk
menghindari atau memperkecil kelainan pada masa sekolah (lihat
Tabel 18.4).
Tabel 18.4: Penatalaksanaan kelainan bicara dan bahasa (Blager
13F, 198 1)
Masalah

Penatalaksanaan

Rujukan

1. Lingkungan
a. Sos.ek. rendah

b. Tekanan
keluarga
c. Keluarga bisu
d. Bahasa bilingual

a.

Meningkatkan a. Kelompok
BKB
stimulasi
(Bina Keluarga dan
Balita)
atau
kelompok bermain
b. Konseling keluarga
c. Kelompok
BKB/bermain.
b. Mengurangi tekanan
d. Ahli terapi wicara
c.
Meningkatkan

stimulasi
d.

Menyederhanakan
masukan bahasa

2. Emosi
a. lbu
yang
tertekan
b. Gangguan
serius
pada
keluarga
c. Gangguan
serius

a. Meningkatkan
stimulasi
b. Menstabilkan
lingkungan emosi

a.

Konseling,
kelompok
BKBI
bermain

b. Psikoterapi

c. Meningkatkan
status emosi anak
c. Psikoterapi

3.
Masalah
pendengaran
a. Kongenital
b. Didapat

a. Monitor dan obati


kalau
memungkinkan
b. Monitor dan obati
kalau
memungkinkan

a.
THT

Audiologist/ahli

b.
THT

Audiologist/ahli

a. Tingkatkan
stimulasi

a. Ahli terapi wicara

b. Tingkatkan
stimulasi

b. Ahli terapi wicara

4.
Perkembangan
lambat
a. Dibawah ratarata
b. Perkembanga
n terlambat
c. Retardasi
mental

c. Maksimalkan
potensi

c. Program khusus

5. Cacat bawaan
a. Palatum
sumbing
b. Sindrom
Down

a. Monitor dan dioperasi a. Ahli terapi setelah


operasi
b. Monitor dan stimulasi
b. Rujuk ke ahli terapi
wicara,
SLB-C,
monitor
pendengarannya.

6. Kerusakan otak
a. Kerusakan
neuromuskula
r

b. Sensorimotor

c. Palsi
serebralis

d. Masalah
persepsi

a. Mengatasi
masalah
makan
dan
meningkatkan
kemampuan
bicara anak
b. Mengatasi
masalah
makan
dan
meningkatkan
kemampuan
bicaraanak
c. Mengoptimalkan
kemampuan fisik
kognitif,
dan
bicara anak
d. Mengatasi
masalah
keterlambatan
bicara

a. Rujuk ke ahli terapi


keda, ahli gizi, ahli
patologi wicara.

b. Rujuk ke ahli
terapi kerja, ahli
gizi,
ahli
terapi
wicara.

c. Rujuk ke
rehabilitasi,
terapi wicara.

ahli
ahli

d. Rujuk ke ahli
patologi
wicara,
kelompok BKB.

(Tumbuh Kembang Anak, dr. Soetjiningsih, SpAK)

6. prognosis
Prognosis gangguan bicara pada anak tergantung pada
penyebabnya. Dengan perbaikan masalah medis seperti tuli

konduksi dapat menghasilkan perkembangan bahasa yang normal


pada anak yang tidak retardasi mental. Sedangkan perkembangan
bahasa dan kognitif pada anak dengan gangguan pendengaran
sensoris bervariasi. Dikatakan bahwa anak dengan gangguan
fonologi biasanya prognosisnya lebih baik. Sedangkan gangguan
bicara pada anak yang intelegensinya normal perkembangan
bahasanya lebih baik daripada anak yang retardasi mental. Tetapi
pada anak dengan gangguan yang multipel, terutama dengan
gangguan
pemahaman,
gangguan
bicara
ekspresif,
atau
kemampuan naratif yang tidak berkembang pada usia 4 tahun,
mempunyai gangguan bahasa yang menetap pada umur 5,5 tahun.
(Tumbuh Kembang Anak, dr. Soetjiningsih, SpAK)

DARTO SAHARSO, AHMAD Y.H., ERNY. 2005. PEMERIKSAAN NEUROLOGIS


PADA BAYI DAN ANAK
GANGGUAN MOTORIK (PALSI SEREBRALIS)
1. Definisi
Suatu kelainan gerakan dan postur yg tidak progresif oleh karena
suatu kerusakan / gangguan pada sel2 motorik pada SSP yg sedang
tumbuh / belum selesai pertumbuhannya
(Buku Tumbuh Kembang Anak, dr. Soetjiningsih)
2. Etiologi
a) Pranatal
Infeksi intrauterine: TORCH, sifilis
Radiasi
Asfiksia intrauterine (abrupsio plasenta, plasenta previa,
anoksia maternal, kelainan umbilicus, perdarahan plasenta,
ibu hipertensi)
Toksemia gravidarum
DIC oleh karna kematian prenatal pada salah satu bayi
kembar
b) Perinatal

Anoksia / hipoksia
Perdarahan otak
Prematuritas
Postmaturitas
Hiperbilirubinemia
Bayi kembar
c) Postnatal
Trauma kepala
Meningitis / ensefalitis yg terjadi 6 bulan pertama kehidupan
Racun: logam berat, CO
(Buku Tumbuh Kembang Anak, dr. Soetjiningsih)

GANGGUAN MOTORIK (PALSI SEREBRALIS)


3. Definisi
Suatu kelainan gerakan dan postur yg tidak progresif oleh karena
suatu kerusakan / gangguan pada sel2 motorik pada SSP yg sedang
tumbuh / belum selesai pertumbuhannya
(Buku Tumbuh Kembang Anak, dr. Soetjiningsih)
4. Etiologi
d) Pranatal
Infeksi intrauterine: TORCH, sifilis
Radiasi
Asfiksia intrauterine (abrupsio plasenta, plasenta previa,
anoksia maternal, kelainan umbilicus, perdarahan plasenta,
ibu hipertensi)
Toksemia gravidarum
DIC oleh karna kematian prenatal pada salah satu bayi
kembar
e) Perinatal
Anoksia / hipoksia
Perdarahan otak
Prematuritas
Postmaturitas
Hiperbilirubinemia

Bayi kembar
f) Postnatal
Trauma kepala
Meningitis / ensefalitis yg terjadi 6 bulan pertama kehidupan
Racun: logam berat, CO
(Buku Tumbuh Kembang Anak, dr. Soetjiningsih)
5. Klasifikasi
Berdasarkan derajat kemampuan fungsional:
Golongan ringan
Penderita masih dapat mengerjakan pekerjaan / aktivitas
keseharian sehingga sama sekali atu sedikit membutuhkan
bantuan
Golongan sedang
Aktivitas
sangat
terbatas
sekali.Penderita
memerlukan
bantuan / pendidikan khusus agar dapat mengurus dirinya
sendiri, bergerak atau berbicara
Golongan berat
Sama sekali tidak dapat melakukan aktivitas sendiri dan tidak
mungkin dapat hidup tanpa pertolongan orang lain
Berdasarkan Gejala Klinis :
Tipe Spastik :
1. Monoparesis
2. Hemiparesis : Kongenital, di dapat
3. Diplegia (paraparesis)
4. Triplegia
5. Kuadriplegia (tetraplegia)
Athetoid( diskinetik, distonik)
Rigid
Ataksia
Tremor
Atonik/ hipotonik
Campuran :
1. Spastik- athetoid
2. Rigid- spastic
3. Spastik- ataksik
(Buku Tumbuh Kembang Anak, dr. Soetjiningsih)
6. Diagnosis
Kriteria diagnostic (dikutip dari Thamrinsyam)adl sbb:
a) Masa neonatal
Depresi / asimetri dari refleks primitive
Reaksi yang berlebihan terhadap stimulus
Kejang-kejang
Gejala neurologic fokal

b) Masa kurang dari 2 tahun


Keterlambatan perkembangan motorik, seperti duduk atau
berjalan
Terdapat paralisis spastic
Terdapat gerakan2 involunter
Menetapnya refleks primitive
Keterlambatan timbulnya refleks2 yg lebih tinggi seperti
reflek Landau sesudah umur 10 bulan, refleks parasut
setelah umur 1 tahun
c) Anak yang lebih besar
Keterlambatan millestone perkembangan
Disfungsi dari tangan
Gangguan dari cara berjalan
Terdapat spastisitas
Terdapat gerakan2 involunter
Retardasi mental
Kejang2
Gangguan bicara, penglihatan, dan pendengaran
Levine membagi kelainan motorik palsi serebralis menjadi 6
kelompok yi:
a)
b)
c)
d)
e)

Pola gerak dan postur (postures and movement pattern)


Pola gerak oral (oral motor pattern)
Strabismus
Tonus otot (tone of muscles)
Evolusi reaksi postural dan kelainan lainnya yg mudah dikenal
(evolution of postural reaction and landmarks)
f) Refleks tendon, primitive, dan plantar
Dimana diagnosis dapt ditegakkan apabila min terdapat 4 kelainan
pada 6 kategori motorik disertai dgn proses penyakit yg tidak
progresif
Menurut Illingworth mendiagnosis palsi serebralis dapat dibagi
menjadi:
1. Tipe spastic
a) Umur 3 bulan pertama
Pada masa neonatal liat gerakan bayi.Bila spastic
gerakan terbatas, kuadriplegi anggota gerak bawah akan
ekstensi, lengan terlihat kaku dekat badan ; hemiplegic
satu tangannya terletak erat dekat badan dan terdapat
gerakan asimetris

b)

c)

2.

3.

4.

Amati bentuk kepala, ekspresi, perhatian terhadap


sekelilingnya.bila kepala kecil curiga retardasi mental
Angkat anak posisi tengkurap dan pegang bagian lengan
tampak ekstensi kedua kaki, gerakan asimetris, kedua kaki
saling bersilangan
Angkat anak posisi terlentang kepala akan terkulai, kaki
dan tangan tergantung bebas tanpa adanya fleksi pada
siku atau lutut
Rubah posisi anak dengan posisi duduk maka akan nampak
leher terkulai.Gerakkan kekanan dan kiri liat kemampuan
control kepala.Condongkan kedepan maka anak akan jatuh
kebelakang
Periksa refleks primitif
Usia 4-8 bulan
Amati kualitas dan simetris gerakan anak
Berikan anak mainan, lalu amati kekakuan dalam meraih
mainan
Angkat anak dgn memegang setinggi dada dibawah lengan
maka kaki akan tampak ekstensi
Letakkan anak dlm posisi terlentang, lakukan tes knee jerk,
abduksi paha, dorsofleksi sendi kaki, periksa klonus, tes
Oppenheim dan Gordon
Hemiplegic anggota gerak nampak lebih pendek dan lebih
dingin pada perabaan
Perhatikan apakah ada tanda2 retardasi mental
Ukur lingkar kepala
Tes pendengaran
Umur 9 bulan keatas
Perhatikan gejala2 tersebut diatas
Berikan anak mainan kubus, minta anak menyusun menjadi
menara.Liat apakah nampak adanya tremor atau ataksia
Bila anak sedang berdiri atau berjalan, amati nampak
adanya kelainan dalam cara berjalan
Berdirikan anak dgn 1 kaki, bila ada hemiplegic maka akan
nampak
Perhatikan adanya retardasi mental
Tipe athetoid
Bentuk kelainan ekstensi pada siku dan pronasi pada
pergelangan tangan,
Tipe rigid
Rigiditas pada semua anggota gerak tidak ditemukan tanda2
kelainan pada traktus piramidalis.Kelainan biasanya disertai
dgn retardasi mental
Tipe ataksia

Tidak ada koordinasi pada waktu meraih benda, duduk, berjalan


5. Tipe hipotonik
Lingkar kepala kecil, terdapat gerakan2 yg meningkat
PP :
Pemeriksaan mata dan pendengaran
Pemeriksaan CSS
Pemeriksaan serum antibody terhadap TORCH
Foto kepala
CT SCAN atau MRI
EEG, EMG,
Analisa kromosom
Penilaian psikologik
(Buku Tumbuh Kembang Anak, dr. Soetjiningsih)
7. DD
Mental subnormal
Retardasi motorik terbatas
Tahanan volunter terhadap gerakan pasif
Kelainan persendian
Cara berjalan yang belum stabil
Gerakan normal
Berjalan berjinjit
Pemendekan congenital pada gluteus maksimus, gastroknemius
atau hamstring
Kelemahan otot2 pada miopati, hipotoni
Penyakit degenerative pada susunan saraf
Kelainan pada medulla spinalis
(Buku Tumbuh Kembang Anak, dr. Soetjiningsih)
8. Penatalaksanaan
a) Aspek Medis :
1. Aspek medis umum :
Gizi yg baik
Imunisasi, perawatan kesehatan
2. Terapi dg obat-obatan
Diberikan sesuai dg kebutuhan anak, seperti obata-obatan
untuk relaksasi otot, anti kejang, untuk athetois, ataksia,
psikotropik
3. Terapi melalui pembedahan ortopedi
Tujuan tindakan ini adalah untuk stabilitas, melemahkan otot
yg terlalu kuat atau untuk transfer dari fungsi
4. Fisioterapi
Teknik tradisional : latihan luas gerak sendi,
Stertching, latihan penguatan dan peningkatan daya
tahan otot, latihan duduk, latihan berdiri, latihan
pindah, latihan jalan. Contoh : Teknik Deaver

Motor function training dg menggunakan system


khusus
yg
umumnya
dikelompokkan
sbg
neuromuscular
facilitation
exercises.
Dimana
digunakan
pengetahuan
neurofisiologi
dan
neuropatologi dr reflex di dlm latihan, untuk mencapai
suatu postur dan gerak yg dikehendaki. Contoh : Teknik
dr Phel[s, Fay- Doman, Bobath, Brunnstrom, KabatKnott-Vos
5. Terapi Okupasi
Terutama untuk latihan melakukan aktifitas sehari-hari,
evaluasi penggunaan alat-alat bantu, latihan ketrampilan
tangan dan aktifitas bimanual
6. Ortotik
7. Terapi Wicara
b) Aspek Non Medis :
1. Pendidikan
2. Pekerjaan
3. Problem social
Bila trdpt problem social, diperlukan pekerja social untuk
membantu menyelesaikan
4. Lain2
Seperti
rekreasi,
olahraga,
kesenian,
dan
aktifitas
kemasyarakatan
(Buku Tumbuh Kembang Anak, dr. Soetjiningsih)
9. Prognosis
Kesembuhan dlm arti regenerasi dr otak yg sesungguhnya tdk
pernah terjadi pd palsi serebralis. Tetapi akan terjadi perbaikan
sesuai dgn tingkat maturitas otak yg sehat sbg kompensasinya.
Angka kematian penyakit ini adalah 53% pd tahun pertama dan
11% meninggal pd umur 7 tahun.
(Buku Tumbuh Kembang Anak, dr. Soetjiningsih)

PALSI SEREBRALIS
1. Definisi
Suatu kelainan gerakan dan postur yang tidak progesif oleh karena
suatu kerusakan atau gangguan pada sel-sel motorik pada susunan

saraf pusat yang


pertumbuhannya.

sedang

tumbuh

atau

belum

selesai

2. Etiologi

Prenatal
-

Infeksi intra uterine : TORCH, dan sifilis

Radiasi

Asfiksia intra uterine (abrupsio plasenta, plasenta


previa, anoksia maternal, kelainan umbilicus,
perdarahan plasenta, ibu hipertensi)

Toksemia gravidarum

DIC oleh karena kematian prenatal pada salah satu


bayi kembar.

Perinatal
-

Anoksia/hipoksia

Perdarahan otak

Prematuritas

Posmaturitas

Hipebilirubinemia

Bayi kembar

Postnatal
-

Trauma kepala

Meningitis/ensefalitis

Racun : logam berat, C0.

3. Klasifikasi
Berdasarkan gejala klinis
a. Tipe spastic (monoparesis, hemiparesis, diplegia, triplegia,
kuadriplegia)
b. Athetoid (diskinetik, distonik)

c. Rigid
d. Ataksia
e. Tremor
f. Atonik.hipotonik
g. Campuran (spastic-athetoid, rigit-spastik, spastic-ataksid)
Berdasarkan derajat kemampuan fungsional
a. Golongan ringan
Dapat melakukan pekerjaan sehari2
b. Golongan sedang
Aktivitasnya terbatas, membutuhkan bantuan dalam bergerak
dan berbicara
c. Golongan berat
Tidak dapat melakukan aktivitas fisik dan tidak mungkin dapat
hidup tanpa pertolongan orang lain.
4. Diagnosis dan gejala klinis
a. Masa neonatal
- Depresi/asimetris dari reflek primitive(reflek moro,
rooting, sucking, tonik neck, palmar, stepping)
- Reaksi yang berlebihan terhadap stimulus
- Kejang2
- Gejala neurologic local
b. Masa umur kurang dari 2 tahun
- Keterlambatan perkembangan motorik seperti duduk
atau jalan
- Terdapat paralisis spastic
- Terdapat gerakan2 involunter
- Menetapnya reflek primitive
- Tidak/keterlambatan timbulnya reflek2 yang lebih
tinggi seperti reflex landau sesudah umur 10 bulan,
reflek parasut setelah umur 1 tahun
c. Anak yang lebih besar
- Keterlambatan milestone perkembangan
- Disfungsi dari tangan
- Gangguan dari cara berjalan
- Terdapat spastisitas
- Terdapat gerakan2 involunter
- Retardasi mental
- Kejang2
- Gangguan bicara, pendengaran, penglihatan

5. Diagnosis banding
a. mental subnormal
b. retardasi motorik terbatas
c. tahanan volunteer terhadap gerakan pasif
d. kelainan persendian
e. cara berjalan yang belum stabil
f. gerakan normal
g. berjalan berjinjit
h. pemendekan congenital pada gluteus maksimus, gastroknemeus,
atau hamstring
i. kelemhan otot pada miopati, hipotoni, atau palsi Erbs
j. lain penyebab dari gerakan involunter
k. penyakit-penyakit degenerative pada susunan saraf
l. kelainan pada medulla spinalis
m. sindrom lain
(Soetjiningsih, Tumbuh Kembang Anak, Jakarta : EGC, 1995)
6. Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan bukan membuat anak menjadi seperti anak
normal lainnya, tetapi mengembangkan sisa kemampuan yang ada
pada anak tersebut seoptimal mungkin sehingga diharapkan anak
dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa bantuan atau dengan
sedikit bantuan.
Secara garis besarnya, penatalaksanaan anak dengan palsi
serebralis adalah sebagai berikut:
1) ASPEK MEDIS
a. Aspek medis umum
Gizi
Gizi yang baik perlu bagi setiap anak, khususnya bagi
penderita ini. Karena sering terdapat kelainan gigi,
kesulitan menelan, sukar untuk menyatakan keinginan
untuk makan. Pencacatan rutin perkembangan berat
badan anak perlu dilaksanakan.
Hal-hal lain yang sewajarnya perlu dilaksanakan, seperti
imunisasi, perawatan kesehatan, dll

b. Terapi dengan obat-obatan


Diberikan obatobatan sesuai kebutuhan anak, seperti obatobatan untuk relaksasi otot, anti kejang, untuk athetosis,
ataksia, psikotropik, dll
c. Terapi melalui pembedahan ortopedi
Tujuan dari tidakan bedah adalah untuk satbilitas,
melemahkan otot yang terlalu kuat atau untuk transfer dari
fungsi.
d. Fisioterapi
Teknik tradisional
Latihan las gerak sendi, stretching, latihan penguatan
dan peningkatan daya tahan otot, latihan duduk, latihan
berdiri, latihan pindah, latihan jalan.
motor function training
Dengan menggunakan system khusus yang umumnya
dikelompokkan sebagai neuromuscular facilitation
exercises.
Dimana
digunakan
pengetahuan
neurofisiologi dan neuropatologi deri reflex di dalam
latihan, untuk mencapai suatu postur dan gerak yang
dikehendaki.
Secara umum konsep latihan ini berdasarkan prinsip
bahwa dengan beberapa bentuk stimulasi akan
ditimbulkan rekasi otot yang dikehendaki, yang
kemudian bila ini dilakukan berulang-ulang akan
berintegrasi ke dalam pola gerak motorik yang
bersangkutan.
e. Terapi okupasi
Terutama untuk latihan melakukan aktivitas seharhari, evalusi
pengguanaan alat-alat bantu, latihan ketrampilan tangan dan
aktivitas bimanual. Latihan bimanual ini dimaksudkan agar
mengahsilkan pola dominan apad salah satu sis hemisfer otak.
f. Ortotik
Denagn menggunakan brace dan bidai, tongkat ketiak,
tripod, walker, kursi roda, dan lain-lain.
Secara umum program bracing ini bertujuan:
Untuk stabilitas, terutama bracing untuk tungkai dan
tubuh
Mencegah kontraktur
Mencegah kembalinya deformitas setelah operasi

Agar tangan lebih berfungsi


g. Terapi wicara
Terapi wicara dilakukan leh ahli terapi wicara
2) ASPEK NON MEDIS
a. Pendidikan
Mangingat selain kecacatan motorik, juga sring disertai
kecacatn mental, maka pada umumnya pendidikannya
memerlukan pendidikan khusus (SLB)
b. Pekerjaan
Tujuan yang ideal dari rehabilitasi adalah agar penderita dapat
bekerja secara produktif, sehingga dapat berpenghasilan
untuk membiayai hidupnya.
c. Problem social
Bila terdapat masalah social diperlukan pekerja social untuk
membantu menyelesaikannya.
d. Lain-lain
Seperti rekreasi, olahraga, kesenian, dan aktivitas-aktivitas
kemasyarakatan perlu dilaksanakan oleh penderita ini.
(Soetjiningsih, Tumbuh Kembang Anak, Jakarta : EGC, 1995)
7. Prognosis
Kesembuhan dalam arti regenerasi dari otak yang
sesungguhnya, tidak pernah terjadi pada palsi serebralis. Tetapi
akan terjadi perbaikan sesuai dengan tingkat maturitas otak yang
sehat sebagai kompensasinya. Pengamatan jangka panjang yang
dilakukan oleh Cooper dkk (dikutip dari Oka Adyana) menunjukkan
adanya tendensi perbaikan fungsi koordinasi dan fungsi motorik
dengan bertambahnya umur anak yang mendapat stimulasi yang
baik.
Di Inggris dan Skandinavia sebanyak 20-30% dari penderita
dengan kelainan ini mampu sebagai buruh penuh. Sedangkan 3035% penderita yang disertai dengan retardasi mental, memerlukan
peraatan khusus. Prognosis paling baik pada derajat fungsional
ringan. Prognosis bertambah berat apabila disertai retardasi mental,
bangkitan kejang, gangguan penglihatan dan pendengaran.
Angka kematian penyakit ini adalah 53% pada tahun pertama
dan 11% meninggal pada umur 7 tahun.
(Soetjiningsih, Tumbuh Kembang Anak, Jakarta : EGC, 1995)

Cerebral palsy
DEFINISI
Cerebral Palsy (CP, Kelumpuhan Otak Besar) adalah suatu keadaan yang
ditandai dengan buruknya pengendalian otot, kekakuan, kelumpuhan dan
gangguan
fungsi
saraf
lainnya.
CP bukan merupakan penyakit dan tidak bersifat progresif (semakin
memburuk).
Pada bayi dan bayi prematur, bagian otak yang mengendalikan
pergerakan
otot
sangat
rentan
terhadap
cedera
CP terjadi pada 1-2 dari 1.000 bayi, tetapi 10 kali lebih sering ditemukan
pada bayi prematur dan lebih sering ditemukan pada bayi yang sangat
kecil.
PENYEBAB
CP bisa disebabkan oleh cedera otak yang terjadi pada saat:
bayi
masih
berada
dalam
kandungan
proses
persalinan
berlangsung
bayi
baru
lahir
anak
berumur
kurang
dari
5
tahun.
Tetapi
kebanyakkan
penyebabnya
tidak
diketahui.
10-15% kasus terjadi akibat cedera lahir dan berkurangnya aliran darah
ke otak sebelum, selama dan segera setelah bayi lahir.
Bayi prematur sangat rentan terhadap CP, kemungkinan karena pembuluh
darah ke otak belum berkembang secara sempurna dan mudah
mengalami perdarahan atau karena tidak dapat mengalirkan oksigen
dalam
jumlah
yang
memadai
ke
otak.
Cedera otak bisa disebabkan oleh:
Kadar bilirubin yang tinggi di dalam darah (sering ditemukan pada bayi
baru lahir), bisa menyebabkan kernikterus dan kerusakan otak

Penyakit berat pada tahun pertama kehidupan bayi (misalnya


ensefalitis, meningitis, sepsis, trauma dan dehidrasi berat)
Cedera kepala karena hematom subdural

Cedera
pembuluh
darah.
GEJALA
Gejala biasanya timbul sebelum anak berumur 2 tahun dan pada kasus
yang berat, bisa muncul pada saat anak berumur 3 bulan.
Gejalanya bervariasi, mulai dari kejanggalan yang tidak tampak nyata
sampai kekakuan yang berat, yang menyebabkan perubahan bentuk
lengan dan tungkai sehingga anak harus memakai kursi roda.
CP dibagi menjadi 4 kelompok:

1 Tipe Spastik (50% dari semua kasus CP), otot-otot menjadi kaku dan
lemah.
Kekakuan
yang
terjadi
bisa
berupa:
Kuadriplegia
(kedua
lengan
dan
kedua
tungkai)
Diplegia
(kedua
tungkai)
- Hemiplegia (lengan dan tungkai pada satu sisi tubuh)
2 Tipe Diskinetik (Koreoatetoid, 20% dari semua kasus CP), otot
lengan, tungkai dan badan secara spontan bergerak perlahan,
menggeliat dan tak terkendali; tetapi bisa juga timbul gerakan yang
kasar dan mengejang. Luapan emosi menyebabkan keadaan
semakin memburuk, gerakan akan menghilang jika anak tidur
3 Tipe Ataksik, (10% dari semua kasus CP), terdiri dari tremor,
langkah yang goyah dengan kedua tungkai terpisah jauh, gangguan
koordinasi dan gerakan abnormal.
4 Tipe Campuran (20% dari semua kasus CP), merupakan gabungan
dari 2 jenis diatas, yang sering ditemukan adalah gabungan dari
tipe spastik dan koreoatetoid.
Gejala
lain
yang
juga
bisa
ditemukan
pada
CP:
Kecerdasan
di
bawah
normal
Keterbelakangan
mental
Kejang/epilepsi
(terutama
pada
tipe
spastik)
Gangguan
menghisap
atau
makan
Pernafasan
yang
tidak
teratur
- Gangguan perkembangan kemampuan motorik (misalnya menggapai
sesuatu,
duduk,
berguling,
merangkak,
berjalan)
Gangguan
berbicara
(disartria)
Gangguan
penglihatan
Gangguan
pendengaran
Kontraktur
persendian
Gerakan
menjadi
terbatas.
DIAGNOSA
Pada pemeriksaan akan ditemukan tertundanya perkembangan
kemampuan
motorik.
Refleks infantil (misalnya menghisap dan terkejut) tetap ada meskipun
seharusnya
sudah
menghilang.
Tremor otot atau kekakuan tampak dengan jelas, dan anak cenderung
melipat lengannya ke arah samping, tungkainya bergerak seperti gunting
atau
gerakan
abnormal
lainnya.
Berbagai pemeriksaan laboratorium bisa dilakukan untuk menyingkirkan
penyebab lainnya:
MRI kepala menunjukkan adanya kelainan struktur maupun kelainan
bawaan

CT scan kepala menunjukkan adanya kelainan struktur maupun kelainan


bawaan

Pemeriksaan pendengaran (untuk menentukan status fungsi


pendengaran)

Pemeriksaan penglihatan (untuk menentukan status fungsi


penglihatan)
EEG
Biopsi
otot.
PENGOBATAN
CP tidak dapat disembuhkan dan merupakan kelainan yang berlangsung
seumur hidup. Tetapi banyak hal yang dapat dilakukan agar anak bisa
hidup
semandiri
mungkin.
Pengobatan yang dilakukan biasanya tergantung kepada gejala dan bisa
berupa:
terapi
fisik
braces
(penyangga)
kaca
mata
alat
bantu
dengar
pendidikan
dan
sekolah
khusus
obat
anti-kejang
- obat pengendur otot (untuk mengurangi tremor dan kekakuan)
terapi
okupasional
bedah
ortopedik
- terapi wicara bisa memperjelas pembicaraan anak dan membantu
mengatasi
masalah
makan
perawatan
(untuk
kasus
yang
berat).
Jika tidak terdapat gangguan fisik dan kecerdasan yang berat, banyak
anak dengan CP yang tumbuh secara normal dan masuk ke sekolah biasa.
Anak lainnya memerlukan terapi fisik yang luas, pendidikan khusus dan
selalu memerlukan bantuan dalam menjalani aktivitasnya sehari-hari.
Pada beberapa kasus, untuk membebaskan kontraktur persendian yang
semakin memburuk akibat kekakuan otot, mungkin perlu dilakukan
pembedahan.
Pembedahan juga perlu dilakukan untuk memasang selang makanan dan
untuk
mengendalikan
refluks
gastroesofageal.
PROGNOSIS
Prognosis biasanya tergantung kepada jenis dan beratnya CP.
Lebih dari 90% anak dengan CP bisa bertahan hidup sampai dewasa.
PENCEGAHAN
Sebagian besar kasus cerebral palsy tidak dapat dicegah, meskipun

dengan upaya terbaik orangtua dan dokter. Tapi, jika Anda hamil, Anda
dapat mengambil langkah-langkah ini untuk tetap sehat dan
meminimalkan kemungkinan komplikasi kehamilan:
1 Pastikan Anda diimunisasi. Imunisasi terhadap penyakit-penyakit
seperti rubella dapat mencegah infeksi yang dapat menyebabkan
kerusakan otak janin.
2 Jaga dirimu. Semakin sehat Anda menuju kehamilan, semakin kecil
kemungkinan Anda akan mengalami infeksi yang dapat
mengakibatkan cerebral palsy.
3 Carilah perawatan awal dan berkesinambungan pralahir. Rutin
melakukan kunjungan ke dokter Anda selama kehamilan adalah cara
yang baik untuk mengurangi risiko kesehatan untuk Anda dan bayi
yang belum lahir. Periksa ke dokter Anda secara teratur dapat
membantu mencegah kelahiran prematur, berat lahir rendah dan
infeksi.

10.
apa pemeriksaan penunjang yang digunakan untuk
mengetahui kelainan organ-organ yang terkait dengan skenario
tsb ?

11.
Apa rehabilitasi medik yang dilakukan? dan interpretasi
keterlambatan tahapan 4 domain milestone!
12.
Apa uji deteksi dini untuk mengetahui adanya developmental
delay ?

Deteksi Dini Penyimpangan PERTUMBUHAN :

Berat badan (BB) terhadap umur

Tinggi badan (TB) terhadap umur

Lingkar kepala (LK) terhadap umur

Lihat arah garis pertumbuhan

Tentukan status gizi

Deteksi Dini Penyimpangan PERKEMBANGAN

Tanyakan perkembangan anak dengan KPSP (Kuesioner


Pra Skrining Perkembangan)

Tanyakan daya pendengarannya dengan TDD (Tes Daya


Dengar), penglihatannya dengan TDL (Tes Daya Lihat),

Tanyakan masalah perilaku dgn kuesioner MME, autis dengan


CHAT, gangguan pemusatan perhatian dgn kuesioner Conners

13.

Jelaskan penatalaksanaan dari skenario!