You are on page 1of 19

BAB I

LAPORAN KASUS
I.

IDENTITAS
Nama
Umur
Jenis kelamin
Bangsa
Agama
Pekerjaan
Alamat

II.

: Tn. S
: 45 tahun
: Laki-laki
: Indonesia
: Islam
: Buruh
: Teluk Betung

ANAMNESIS
Keluhan utama : Pasien mengeluh penglihatan mata kanan dan kiri buram sejak 4
hari lalu.
Keluhan tambahan : Pasien juga mengeluh kedua mata merah, nyeri sekitar mata
dan sakit kepala.
Riwayat penyakit sekarang
Sejak 4 hari lalu, pasien mengeluh penglihatan pada mata kanan dan kiri buram. Buram pada
kedua mata munculnya tiba-tiba. Pasien mengeluh hanya bisa melihat bayangan
samar-samar. Pasien juga mengeluh kedua mata merah, sedikit berair namun
menyangkal terdapatnya gatal, belekan dan silau. Pasien juga mengeluh terdapat
nyeri pada kedua mata. Nyeri dirasakan terus menerus dan menghilang setelah tidur
sebentar. Pasien juga mengeluh sakit kepala terus-menerus. Keluhan mual dan
muntah disangkal. Riwayat trauma dan penggunaan obat-obatan tetes mata yang lama
sebelumnya disangkal.
Riwayat penyakit dahulu :
Riwayat sakit mata sebelumnya disangkal pasien. Tidak ada riwayat hipertensi dan
diabetes mellitus pada pasien. Riwayat memakai kaca mata juga disangkal.
Riwayat penyakit keluarga :
Tidak ada anggota keluarga serumah yang mengalami keluhan yang sama dengan
pasien.
1

Trikiasis (-). Status Oftalmologis Occuli Dekstra (OD) Occuli Sinistra (OS) 3/60 Visus 3/60 Ortoforia Kedudukan bola mata Ortoforia Bola mata bergerak ke Pergerakan bola mata Bola mata bergerak ke segala arah Oedema (-).6oC Pernafasan : 20x/ menit B. Ekteropion (-). Distikiasis (-) (-) 2 . Ekteropion Enteropion (-). Enteropion (-). Status generalis Keadaan umum : Tampak sakit ringan Kesadaran : Compos mentis Tekanan darah : 120/80 mmHg Frekuensi nadi : 84x/ menit Suhu : 36. Distikiasis (-). Hiperemis (-). Ekteropion (-). PEMERIKSAAN FISIK A. Ekteropion Enteropion (-). Trikiasis (-). Hiperemis (-). Trikiasis (-). Distikiasis (-) (-) Oedema (-). Hiperemis (-). Hiperemis (-). segala arah Palpebra superior Oedema (-). Palpebra inferior Oedema (-). Distikiasis (-). Enteropion (-). Trikiasis (-).III.

arteri : vena = 2:3. tepi regular. Pterigium (-) Pterigium (-) Occuli Dekstra (OD) Occuli Sinistra (OS) Jernih Kornea Jernih Dalam COA Dalam Warna coklat. tepi regular. konjungtiva (+). Nyeri dirasakan 3 . batas tegas. Konjungtiva Tarsal Inferior Hiperemis (-). Injeksi konjungtiva (+). Litiasis (-) TIO 30. Sekret (-) Konjungtiva Bulbi Injeksi silier (+). 0.3. Litiasis (-. Litiasis (-) Hiperemis (-). papil bulat. RCL/RCTL (+) RCL/RCTL (+) Jernih Lensa Jernih Jernih Vitreous humor Jernih Refleks fundus (+). kripti baik Iris Warna coklat. Kedua mata merah. Buram pada kedua mata munculnya tiba-tiba dan hanya bisa melihat bayangan samar-samar. refleks macula (+) refleks macula (+) 25. (-) Injeksi silier (-). CD ratio 0. batas tegas. arteri : vena = 2:3. Pinguekula (-). Sekret Konjungtiva Tarsal Konjungtiva Superior Hiperemis (-). sedikit berair dan nyeri.4 RESUME Tn.8 IV. CD ratio bulat. Pinguekula (-). Folikel (-). papil Funduskopi Refleks fundus (+). Papil (-). (-). Litiasis (-). Folikel (-). Folikel (-).Hiperemis (-).3. kripti baik Bulat. Injeksi Papil (-). Papil (-). Pupil Bulat. Papil (-). S usia 45 tahun datang dengan keluhan penglihatan pada mata kanan dan kiri buram sejak 4 hari lalu. Folikel (-). Subkonjungtival bleeding Subkonjungtival bleeding (-).

4) V. VI. Pada konjungtiva bulbi terdapat injeksi konjungtiva.8) dan mata kiri (30.5% eye drop 2 dd gtt I ODS  Polynel eye drop 6 dd gtt I ODS  Glaucon tab 2 dd I  KCL tab 2 dd I VII.terus menerus dan menghilang setelah tidur sebentar. didapatkan visus occuli dextra (OD) dan sinistra (OS) adalah 3/60. Pasien juga mengeluh sakit kepala terus-menerus. Berdasarkan pemeriksaan oftalmologis. PROGNOSIS  Ad vitam : Ad bonam  Ad fungsionam : Ad bonam  Ad sanationam : Ad bonam 4 . DIAGNOSIS Glaukoma akut ODS PENATALAKSANAAN Medikamentosa  Timolol 0. Pada pemeriksaan tekanan bola mata didapatkan TIO mata kanan (25.

Sedangkan berdasarkan mekanisme peningkatan tekanan intraokular. sekunder. COA (seperti hifema.  Mata kanan dan kiri merah.BAB II ANALISA KASUS Pada kasus ini. Glaukoma kongenital adalah glaukoma yang dibawa sejak lahir. pasien didiagnosis glaukoma akut pada mata kanan dan kiri berdasarkan anamnesis. iris/pupil (sinekia posterior. Sedangkan dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pada mata kanan didapatkan :  Konjungtiva bulbi : hiperemis dengan injeksi konjungtiva.  Nyeri kepala.4 Berdasarkan etiologinya glaukoma terdiri dari glaukoma primer. dan lain-lain.  Visus mata kanan dan kiri menurun (3/60) Pemeriksaan TIO dengan tonometri :  OD: 25. hipopion). glaukoma kongenital. Gejala dan tanda pada glaukoma akut 5 . tumor iris). Glaukoma primer adalah glaukoma yang tidak diketahui penyebabnya. Hasil anamnesis yang mendukung glaukoma akut pada mata kanan dan kiri yaitu :  Mata kanan dan kiri mendadak buram sejak 4 hari lalu.8  OS:30. glaukoma terbagi dalam glaukoma sudut terbuka dan glaukoma sudut tertutup. Pasien dalam kasus ini tergolong dalam glaukoma primer sudut tertutup. pemeriksaan fisik. dan pemeriksaan penunjang. Glaukoma sekunder adalah glaukoma yang disebabkan oleh kelainan penyakit di dalam mata tersebut seperti kelainan pada kornea (seperti lekoma adherens).  Nyeri pada mata kanan dan kiri yang timbul mendadak.

dan kekaburan penglihatan. Sehingga daerah sekitar mata yang juga dipersarafi oleh nervus trigeminus ikut terasa nyeri. terjadi sumbatan sudut kamera anterior oleh iris perifer. Ketika terjadi serangan glaukoma akut primer. Tujuan pengobatan pada 6 . tekanan okular sangat meningkat. kemerahan. Pada Glaukoma akut. pupil melebar dengan reaksi terhadap sinar yang lambat. Mata menunjukkan tanda-tanda peradangan dengan kelopak mata bengkak. Hal ini menyumbat aliran humor akuos dan tekanan intraokular meningkat dengan cepat. hal ini menyebabkan penghilatan pasien sangat kabur secara tiba-tiba dan visus menjadi menurun. melihat halo di sekitar lampu yang dilihat. kornea suram dan edem. ditemukan mata merah dengan penglihatan turun mendadak. Hal ini biasanya terjadi pada malam hari saat tingkat pencahayaan berkurang. Kadang-kadang riwayat mata sakit disertai penglihatan yang menurun mendadak sudah dapat dicurigai telah terjadinya serangan glaucoma akut seperti gejala dan tanda yang ditunjukkan pasien. papil saraf optik hiperemis. pupil berdilatasi sedang. Gejala spesifik seperti di atas tidak selalu terjadi pada mata dengan glaucoma akut. Rasa nyeri hebat pada mata yang menjalar sampai kepala merupakan tanda khas glaukoma akut. menimbulkan nyeri hebat.tertutup. Glaukoma akut merupakan salah satus kasus kegawatdaruratan pada penyakit mata sehingga penatalaksanaan harus dilakukan segera di rumah sakit. Serangan akut biasanya terjadi pada pasien berusia tua seiring dengan pembesaran lensa kristalina yang berkaitan dengan penuaan. tekanan intraokuler meningkat mendadak. sehingga terjadi kerusakan iskemik pada iris yang disertai edem kornea. nyeri yang hebat. disertai sumbatan pupil. iris sembab meradang. terdapat gejala gastrointestinal berupa mual dan muntah. Hal ini terjadi karena meningkatnya tekanan intraokular sehingga menekan simpul-simpul saraf di daerah kornea yang merupakan cabang dari nervus trigeminus. Pada glaukoma akut.

7 . parastesi. Pemberian obat ini memberikan efek samping hilangnya kalium tubuh. Timolol termasuk beta bloker non selektif sehingga perlu diperhatikan pemberiannya pada pasien dengan asma. pasien diberikan obat topikal tetes mata Timolol 0. Pada pasien dengan glaukoma akut yang disertai mual muntah dapat diberikan Asetazolamid 500 mg IV. Pengobatan pada glaukoma akut harus segera berupa kombinasi pengobatan sistemik dan topikal. anoreksia. dan penyakit jantung. Penggunan beta bloker non selektif sebagai inisiasi terapi dapat diberikan 2 kali dengan interval setiap 20 menit dan dapat diulang dalam 4. Untuk mencegah efek samping tersebut. yang disusul dengan 250 mg tablet setiap 4 jam sesudah keluhan mual hilang. pada pasien ini diberikan pemberian KCL tablet. batu ginjal dan miopia sementara. Glaucon mengandung asetazolamid yang termasuk dalam golongan karbonik anhidrase inhibitor. dan 12 jam kemudian. PPOK. Obat ini dapat diberikan secara oral dengan dosis 250-1000 mg per hari. hipokalemia. Efeknya dapat menurunkan tekanan dengan menghambat produksi humor akuos sehingga sangat berguna untuk menurunkan tekanan intraokular secara cepat. Timolol merupakan beta bloker non selektif dengan aktivitas dan konsentrasi tertinggi pada camera occuli posterior (COP) yang dicapai dalam waktu 30-60 menit setelah pemberian topikal. 8.5% 2x1 tetes (ODS) dan Polynel 6x1 tetes (ODS) sedangkan untuk pengobatan sistemik diberikan Glaucon (asetazolamid) tablet 2x500 mg dan KCL tablet 2x1. Pada kasus ini. Beta bloker dapat menurunkan tekanan intraokular dengan cara mengurangi produksi humor aquos. diarea. Pemberian Timolol 0.5% 2x1 tetes (ODS) sudah tepat.glaukoma akut adalah untuk menurunkan tekanan bola mata secepatnya kemudian apabila tekanan bola mata normal dan mata tenang maka dapat dilakukan pembedahan.

BAB III 8 .Polynel tetes mata steril ini mengandung Fluoromethasone 1 mg dan Neomycin Sulfate diberi untuk mengurangi reaksi peradangan yang terjadi akibat proses akut.

sehingga menyumbat aliran humor akueus dan menyebabkan tekanan intra okular meningkat dengan cepat sehingga menimbulkan nyeri hebat. DEFINISI Glaukoma sudut tertutup primer terjadi apabila terbentuk iris bombe yang menyebabkan sumbatan sudut kamera anterior oleh iris perifer. Glaukoma sudut terbuka 9 . Pasien dengan glaukoma sudut tertutup kemungkinan besar rabun dekat karena mata rabun dekat berukuran kecil dan struktur bilik mata anterior lebih padat. sehingga menyumbat aliran humor akueus dan tekanan intraokular meningkat dengan cepat sehingga menimbulkan nyeri hebat. kemerahan dan kekaburan penglihatan.GLAUKOMA AKUT I. karena dapat terjadi bilateral dan dapat menyebabkan kebutaan bila tidak segera ditangani dalam 24 – 48 jam. Klasifikasi glaukoma berdasarkan etiologi A. Glaukoma Akut merupakan kedaruratan okuler sehingga harus diwaspadai. EPIDEMIOLOGI Glaukoma akut terjadi pada 1 dari 1000 orang yang berusia di atas 40 tahun dengan angka kejadian yang bertambah sesuai usia. II. III. Perbandingan wanita dan pria pada penyakit ini adalah 4:1. Glaukoma Primer 1. ETIOLOGI DAN KLASIFIKASI Glaukoma akut terjadi karena peningkatan tekanan intraokuler secara mendadak yang dapat disebabkan oleh sumbatan di daerah kamera okuli anterior oleh iris perifer.

Dislokasi b. Glaukoma Sekunder 1. Glaukoma sudut terbuka primer (glaucoma sudut terbuka kronik. Sindrom-sindrom pembelahan bilik mata depan Sindrom Axenfeld Sindrom Reiger Sindrom Peter b. Neurofibromatosis 1 d. Sinekia posterior (seklusio pupilae) c. Subakut c. Sindrome Lowe e. Glaukoma yang berkaitan dengan kelainan perkembangan mata lain a. Akibat kelainan traktus uvea a. Sindrom Sturge-weber b. Glaukoma tekanan normal (glaucoma tekanan rendah) 2. glaucoma simpleks kronik) b. Fakolitik 4.a. Sinekia anterior perifer 10 . SIndrom Marfan c. Iris plateau B. Rubela Kongenital C. Aniridia 3. Trauma a. Hifema b. Kontusia/ resesi sudut c. Glaukoma Pigmentasi 2. Glaukoma yang berkaitan dengan kelainan perkembangan ekstraokular a. Uveitis b. Akibat kelainan lensa (fakogenik) a. Glaukoma sudut tertutup a. Glaukoma congenital primer 2. Intumesensi c. Kronik d. Akut b. Sindom iridokorneoendotelial (ICE) 6. Glaukoma Kongenital 1. Sindrom Eksfoliasi 3. Tumor d. Edema corpus ciliare 5.

Jika tidak diobati. Peningkatan tekanan intraokuler akan mendorong perbatasan antara saraf optikus dan retina di bagian belakang mata. lalu diikuti oleh lapang pandang sentral. Karena saraf optikus mengalami kemunduran. 11 . Sinekia anterior perifer c. menempel ke jaringan trabekular dan menghambat humor akueus mengalir ke saluran schlemm. Akibat steroid D. Glaukoma Neovaskular a. Glaukoma sumbatan siliarin (glaucoma maligna) b. Pertumbuhan epitel ke bawah d. IV. tidak dapat melihat. Fistula karotis-kavernosa b. Pascabedah ablation retinae 8. Yang pertama terkena adalah lapang pandang tepi.7. Tumor intraocular 9. Pascabedah tandur kornea e. Pasca operasi a. penambahan cairan di ruang posterior atau lensa yang mengeras karena usia tua. maka akan terbentuk bintik buta pada lapang pandang mata. glaukoma pada akhirnya bisa menyebabkan kebutaan. Glaukoma Absolut: hasil akhir semua glaucoma yang tidak terkontrol adalah mata yang keras. Oklusi vena centralis retinae c. PATOFISIOLOGI Glaukoma sudut tertutup primer terjadi karena ruang anterior secara anatomis menyempit sehingga iris terdorong ke depan. Diabetes mellitus b. Sindom Sturge-Weber 10. dan sering nyeri. Akibatnya pasokan darah ke saraf optikus berkurang sehingga sel-sel sarafnya mati. Peningkatan tekanan vena episklera a. Pergerakan iris ke depan dapat karena peningkatan tekanan vitreus.

bilik mata depan dangkal dan pupil lebar dan tidak bereaksi terhadap sinar. DIAGNOSIS Berdasarkan penjelasan di atas. maka diagnosis dapat ditegakan dari anamnesis. pemeriksaan status umum dan oftalmologis. nyeri hebat periorbita. mata berair. tekanan intra okuler meningkat hingga terjadi kerusakan iskemik pada iris yang disertai edema kornea. 12 . VI. serta penunjang. pusing. melihat halo (pelangi di sekitar objek). diskus optikus terlihat merah dan bengkak. bengkak. bahkan mual-muntah. kornea suram karena edema. dibuktikan dengan tonometri schiotz ataupun teknik palpasi (tidak dianjurkan karena terlalu subjektif).V. GEJALA DAN TANDA Tajam penglihatan kurang (kabur mendadak). mata merah.

yang di antaranya terdapat anyaman-anyaman trabekular. pasien akan mengeluhkan pandangan kabur. mata merah. COA dangkal. Tonometer-tonometer aplanasi lainnya. injeksi pericorneal. keduanya portable. Konfigurasi sudut ini – yakni lebar (terbuka). tekanan intra okular meningkat. yaitu tonometer Perkins dan Tonopen. yang korneanya tipis. pneumatotonometer. dapat juga dilakukan pemeriksa penunjang. Selain itu. sakit kepala. b. menilai CDR dengan oftalmoskop. Tonometri Tonometri adalah pengukur tekanan intraokular. akan ditaksir terlalu tinggi. iris oedem dan berwarna abu – abu. Pada pemeriksaan akan ditemukan tanda-tanda. Gonioskopi Sudut bilik mata depan dibentuk oleh pertemuan kornea perifer dengan iris. Tekanan intraokular mata yang korneanya tebal. pemeriksaan tekanan intra okular dengan menggunakan tonometri. Lebar sudut bilik mata depan dapat diperkirakan dengan pencahayaan oblik bilik 13 . rerata tekanan intraokularnya lebih tinggi sehingga batas atasnya adalah 24 mmHg. pemeriksaan lapang pandang dengan perimeter. Kesulitan ini dapat dapat diatasi dengan tonometer kontur dinamik Pascal. tonometer ini mengukur indentasi kornea yang ditimbulkan oleh beban yang diketahui sebelumnya. antara lain : visus sangat menurun. yang dapat digunakan walaupun terdapat lensa kontak lunak di permukaan kornea yang irregular. melihat sudut COA dengan Gonioskopi. yang dilekatkan ke slitlamp dan mengukur gaya yang diperlukan untuk meratakan daerah kornea tertentu. ditaksir terlalu rendah. Tonometer Schiotz adalah tonometer portable. pupil sedikit melebar dan tidak bereaksi terhadap sinar. sempit. Ketebalan kornea berpengaruh terhadap keakuratan pengukuran. Pada usia lanju.Berdasarkan ananmnesis. Instrumen yang paling luas digunakan adalah tonometri aplanasi Goldmann. muntah – muntah. sakit bola mata. pada kedua matanya. a. Rentang tekanan intraokular normal adalah 10-21 mmHg. atau tertutup – memberi dampak penting pada aliran keluar aqueous humor. melihat pelangi atau cahaya di pinggir objek yang sedang dilihat (halo). serta diskus optikus terlihat merah dan bengkak. kornea oedem. diantaranya.

Bentuk-bentuk lain atrofi optikus menyebabkan pemucatan luas tanpa peningkatan pencekungan diskus optikus. mungkin terdapat pembesaran konsentrik cawan optic atau pencekungan (cupping) superior dan inferior dan disertai pembentukan takik (notching) fokal di tepi diskus optikus. Apabila keseluruhan anyaman trabekular. pada mata myopia hal sebaliknya terjadi. Apabila hanya garis Schwalbe atau sebagian kecil dari anyaman trabekular yang dapat terlihat. Apabila garis Schwalbe tidak terlihat. Penilaian Diskus Optikus Diskus optikus normal memiliki cekungan di bagian tengahnya (depresi sentral) – cawan fisiologik – yang ukurannya tergantung pada jumlah relative serat penyusun nervus optikus terhadap ukuran lubang sclera yang harus dilewati oleh serat-serat tersebut. lubang skleranya kecil sehingga cawan optic juga kecil. sudut dinyatakan terbuka. dan processus iris dapat terlihat. Akan tetapi. Atrofi optikus akibat glaukoma menimbulkan kelainan-kelianan diskus khas yang terutama ditandai oleh berkurangnya substansi diskus – yang terdeteksi sebagai pembesaran cawan diskus optikus – disertai dengan pemucatan diskus di daerah cawan. yang memungkinkan visualisasi langsung struktur-struktur sudut. taji sclera. pembuluh retina di diskus tergeser kearah hidung. yang tidak memperlihatkan jaringan saraf di bagian tepinya. Pada glaukoma. Seiring dengan pembentukan cekungan. sudut bilik mata depan sebaiknya ditentukan dengan gonioskopi. sudut dinyatakan sempit. c. menggunakan sebuah senter atau dengan pengamatan kedalam bilik mata perifer menggunakan slitlamp. Hasil akhir proses pencekungan pada glaukoma adalah apa yang disebut cekungan “bean-pot” (periuk). dan mata hiperopia kecil memiliki sudut sempit. 14 .mata depan. Mata myopia yang besar memiliki sudut lebar. Kedalaman cawan optic juga meningkat karena lamina kribosa tergeser ke belakang. sudut dinyatakan tertutup. Pembesaran lensa seiring dengan usia mempersempit sudut ini dan berperan pada beberapa kasus gkaukoma sudut tertutup. Pada mata hipeopia.

Subakut Glaukoma dengan gejala klinis nyeri unilateral berulang dan mata tampak kemerahan 15 . atau Henson).1 dan cawan besar 0. rasio cawan-diskus lebih dari 0. Besaran tersebut adalah perbandingan antara ukuran cawan optic terhadap diameter diskus. mungkin terdapat hubungan ke defek arkuata. ketajaman penglihatan sentral mungkin normal tetapi hanya 5 derajat lapangan pandang di tiap-tiap mata. Selanjutnya. Defek lapangan pandang tidak terdeteksi sampai kira-kira terdapat kerusakan ganglion retina sebanyak 40%. Berbagai cara untuk memeriksa lapangan pandang pada glaukoma adalah automated perimeter (misalnya Humphrey. perimeter Goldmann. menimbulkan breakthrough perifer. Pada glaukoma lanjut.“Rasio cawan-diskus” adalah cara yang berguna untuk mencatat ukuran diskus optikus pada pasien glaukoma. KLASIFIKASI Glaukoma sudut tertutup primer dapat dibagi menjadi : a. d. Octopus. Lapangan pandang perifer temporal dan 5-10 derajat sentral baru terpengaruh pada stadium lanjut penyakit. Pengecilan lapangan pandang perifer cenderung berawal di perifer nasal sebagai konstriksi isopter. b. Perubahan paling dini adalah semakin nyatanya bintik buta. Ketajaman penglihatan sentral bukan Merupakan petunjuk perkembangan penyakit yang dapat diandalkan. cawan kecil rasionya 0. dan layar tangent. Akut Glaukoma ini terjadi apabila terbentuk iris bombe yang menyebabkan sumbatan sudut kamera anterior oleh iris perifer dan akibat pergeseran diafragma lensa-iris ke anterior disertai perubahan volume di segmen posterior mata. Friedmann field analyzer. pasien mungkin memiliki ketajaman penglihatan 20/20 tetapi secara legal buta. VII.5 atau terdapat asometri yang bermakna antar kedua mata sangat diindikasinyan adanya atrofi glaukomatosa. Pemeriksaan lapangan pandang Pemeriksaan lapangan pandang secara teratur berperan penting dalam diagnosis dan tindak lanjut glaukoma.9. Pada stadium akhir penyakit. Apabila terdapat kehilangan lapangan pandang atau peningkatanan tekanan intraokular. misalnya. Gangguan lapangan pandang akibat glaukoma terutama mengenai 30 derajat lapangan pandang bagian sentral.

dan scleral buckling untuk pelepasan retina. Respon pupil dan tekanan intraokular normal. dan terdapat injeksi siliaris dalam. dan kornea biasanya tidak edematosa. sehingga menimbulkan sumbatan ireversibel sudut kamera anterior yang memerlukan tindakan bedah untuk memperbaikinya. Tetes mata 16 . Gambaran klinis biasanya mempermudah diagnosis. Kerusakan saraf optikus sering terjadi. dan kornea jernih. sinekia anterior perifer meluas d. Glaukoma sudut tertutup akut sekunder dapat terjadi akibat pergeseran diafragma lensa-iris ke anterior disertai perubahan volume di segmen posterior mata. Terdapat tahi mata dan konjungtiva yang meradang hebat tetapi tidak terdapat injeksi siliaris. Di kamera anterior tampak jelas sel – sel. Iris plateau Iris plateau adalah suatu kelainan yang jarang dijumpai kedalaman kamera anterior sentral normal tetapi sudut kamera anterior sangat sempit karena insersi iris secara kongenital terlalu tinggi. menimbulkan fotofobia lebih besar daripada glaukoma. KOMPLIKASI Apabila terapi tertunda. VIII. Konjungtivitis akut. Tekanan intraokular biasanya tidak meningkat. pupil konstriksi. iris perifer dapat melekat ke jalinan trabekular (sinekia anterior). krioterapi retina. Kronik Glaukoma dengan gejala klinis terdapat peningkatan tekanan intraokular. X. pada skleritis posterior dan setelah tindakan – tindakan terapeutik misalnya fotokoagulasi panretina. DIAGNOSIS BANDING Iritis akut. Tujuannya adalah menurunkan tekanan intraokular. dapat dilakukan dengan minum larutan gliserin dan air bisa mengurangi tekanan dan menghentikan serangan glaukoma. Hal ini dapat dijumpai pada sumbatan vena retina sentralis. Bisa juga diberikan inhibitor karbonik anhidrase (misalnya asetazolamid  500 mg iv dilanjutkan dgn oral 500 mg/1000mg oral). PENATALAKSANAAN Glaukoma hanya bisa diterapi secara efektif jika diagnose ditegakkan sebelum serabut saraf benar-benar rusak. IX.c. nyerinya ringan atau tidak ada dan tidak terdapat gangguan penglihatan.

5%. epinefrin dan dipiferon juga memiliki efek yang serupa. Dapat digunakan tersendiri atau dikombinasi dengan obat lain. • Fasilitasi aliran keluar humor akueous Obat parasimpatomimetik meningkatkan aliran keluar humor akueous dengan bekerja pada jalinan trabekuler melalui kontraksi otot siliaris.5%. untuk mengurangi tekanan biasanya diberikan manitol intravena (melalui pembuluh darah).5% atau betaxolol 0. Pada kasus yang berat.5%. Prinsip dari pengobatan glaukoma akut yaitu untuk mengurangi produksi humor akueus dan meningkatkan sekresi dari humor akueus sehingga dapat menurunkan tekanan intra okuler sesegera mungkin. yaitu : • Menghambat pembentukan humor akueus Penghambat beta andrenergik adalah obat yang paling luas digunakan. Inhibitor karbonat anhidrase sistemik asetazolamid digunakan apabila terapi topikal tidak memberi hasil memuaskan dan pada glaukoma akut dimana tekanan intraokuler sangat tinggi dan perlu segera dikontrol. Preparat yang tersedia antara lain Timolol maleat 0. betaksolol 0. • Penurunan volume korpus vitreum 17 .3%. Obat pilihan adalah pilokarpin. larutan 0. Semua obat parasimpatomimetik menimbulkan miosis disertai meredupnya penglihatan. dan metipranolol 0.25% dan 0.25% dan 0.5-6% yang diteteskan beberapa kali sehari atau gel 4% yang dioleskan sebelum tidur. Apraklonidin adalah suatu agonis alfa adrenergik yang baru yang berfungsi menurunkan produksi humor akueous tanpa efek pada aliran keluar. Obat – obat yang dapat digunakan.pilokarpin menyebabkan pupil mengecil sehingga iris tertarik dan membuka saluran yang tersumbat. pemberian pilokarpin dan beta bloker serta inhibitor karbonik anhidrase biasanya terus dilanjutkan. dan spasme akomodatif yang mungkin mengganggu bagi pasien muda. Setelah suatu serangan.25% dan 0. Obat ini mampu menekan pembentukan humor akueous sebesar 40-60%. 2x1 tetes/hari) dan kortikosteroid topikal dengan atau tanpa antibiotik untuk mengurangi inflamasi dan kerusakan saraf optik. Untuk mengontrol tekanan intraokuler bisa diberikan tetes mata beta bloker (Timolol 0. terutama pada pasien dengan katarak.5%. levobunolol 0.

Dilatasi pupil penting dalam penutupan sudut akibat iris bombe karena sinekia posterior. bila terdapat riwayat adanya glaukoma pada keluarga maka lakukan pemeriksaan setiap tahun.  Trabekulotomi (Bedah drainase) Dilakukan jika sudut yang tertutup lebih dari 50% atau gagal dengan iridektomi.Obat-obat hiperosmotik menyebabkan darah menjadi hipertonik sehingga air tertarik keluar dari korpus vitreum dan terjadi penciutan korpus vitreum. Hal ini dapat dicapai dengan laser neonidium: YAG atau aragon atau dengan tindakan bedah iridektomi perifer. atropine atau siklopentolat bisa digunakan untuk melemaskan otot siliaris sehingga mengencangkan apparatus zonularis. • Miotik. XI. Secara teratur perlu dilakukan pemeriksaan lapang pandangan dan tekanan mata pada orang yang dicurigai akan timbulnya glaukoma. Gliserin 1ml/kgBB dalam suatu larutan 50% dingin dicampur dengan sari lemon. Sebaiknya diperiksakan tekanan 18 . Midriatik Konstriksi pupil sangat penting dalam penalaksanaan glaukoma sudut tertutup akut primer dan pendesakan sudut pada iris plateau. Bila tidak dapat diobati dengan obat – obatan. PENCEGAHAN Pencegahan terhadap glaukoma akut dapat dilakukan Pada orang yang telah berusia 20 tahun sebaiknya dilakukan pemeriksaan tekanan bola mata berkala secara teratur setiap 3 tahun. Apabila penutupan sudut diakibatkan oleh pergeseran lensa ke anterior. Penurunan volume korpus vitreum bermanfaat dalam pengobatan glaukoma akut sudut tertutup. adalah obat yang paling sering digunakan. Pilihan lain adalah isosorbin oral atau manitol intravena. tetapi pemakaian pada pasien diabetes harus berhati-hati. maka dapat dilakukan tindakan :  Iridektomi dan iridotomi perifer Sumbatan pupil paling baik diatasi dengan membentuk komunikasi langsung antara kamera anterior dan posterior sehingga beda tekanan diantara keduanya menghilang. tetapi dapat dilakukan bila sudut yang tertutup sebesar 50%.

Chew C. Olver. Hutauruk. Jakarta: 2010. Eva PR. 2010 19 . Cassidy L. GK. Sp. PROGNOSIS Glaukoma akut merupakan kegawat daruratan mata.M. James B. 2005 Lang. Dr. Fakultas Kedokteran 4. Lecture Notes Oftalmologi. Harper RA. Artini. yang harus segera ditangani dalam 24 – 48 jam. Ilyas.M. DAFTAR PUSTAKA 1. Kedaruratan dalam lmu Penyakit Mata. Eva PR. Ilyas. 3. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. S. Universitas Indonesia.mata. Tetapi bila terlambat ditangani dapat mengakibatkan buta permanen. 2005 Shock JP. Prof. S. Bron A. Australia. 5. 2000. bila mata menjadi merah dengan sakit kepala yang berat. 7.M(K). Dr.M(K). editors. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Sp. Sp. Jika tekanan intraokular tetap terkontrol setelah terapi akut glaukoma sudut tertutup. Jakarta: 2009. Prof. Glaukoma. Jakarta. Ed 9. XII. 2. Dr. EMS: Jakarta. Vaughan D. Johan A. J. 6. 17 ed. maka kecil kemungkinannya terjadi kerusakan penglihatan progresif. Lensa. Pemeriksaan Dasar Mata. Yudisianil. Widya. In: Vaughan DG. Blackweel Science. Prof. Jakarta: 2011. Dr. Asbury T. Ilmu Penyakit Mata.M(K). Ophthalmology. Sp. Oftalmologi umum. Ophthalmolohy at A Glance. serta keluarga yang pernah mengidap glaukoma. Dr. EGC. Sp. Germany.