You are on page 1of 8

PENUAAN PADA SISTEM

MUSKULOSKELETAL

Disusun oleh :
Dinda Kusumawati (11022)

AKADEMI KEPERAWATAN HANG TUAH JAKARTA


JL. BENDUNGAN HILIR RAYA NO.17 JAKARTA PUSAT
TA. 2013/2014

PENUAAN PADA SISTEM


MUSKULOSKELETAL

A. Anatomi Fisiologi Sistem Muskuloskeletal


1. Pengertian Sistem Muskuloskeletal
Muskulo adalah jaringan otot-otot tubuh, yang dipelajari secara khusus
melalui ilmu Myologi. Sedangkan yang dimaksud dengan skeletal atau
osteo adalah tulang kerangka tubuh, yang dipelajari dalam ilmu Osteologi
(Tarwoto, dkk. Hal. 53. 2009).
Sistem muskuloskeletal terdiri dari tulang, sendi, otot, dan struktur
pendukung lainnya (tendon, ligamen, fasia dan bursae) (Suratun, Hal. 3.
2008).
2. Sistem Skeletal
Tubuh manusia tersusun atas tulang-tulang dengan berbagai bentuk dan
jenisnya yang membentuk suatu rangkaian menjadi rangka.
Fungsi umum rangka/tulang adalah :
a. Memberi bentuk pada tubuh.
b. Melindungi organ atau jaringan vital yang ada di dalamnya.
c. Menyangga berat badan.
d. Tempat melekatnya otot.
e. Membantu pergerakan.
f. Hemopoiesis, misalnya pada sumsum tulang belakang orang dewasa
dapat menghasilkan sel-sel darah putih, sel darah merah dan platelet.
g. Menyimpan mineral, terutama kalsium dan fosfat.
h. Tempat menyimpan energi, yaitu simpanan lemak yang ada di
sumsum kuning.
2.1. Organisasi Sistem Skeletal
Meskipun banyak teori yang menyatakan bahwa jumlah total
tulang manusia adalah sebanyak 206 buah, sebenarnya tiap orang
memiliki jumlah yang berbeda-beda, tergantung dari usia dan
variasi genetiknya. Pada saat lahir, manusia mempunyai sekitar
270 tulang. Jumlah tersebut terus bertambah seiring dengan
pembentukan tulang (Ossifikasi) dan akan cenderung menurun
pada usia dewasa. Pada gambar di bawah ini merupakan sistem
rangka manusia dilihat dari sisi anterior dan posterior.

2.2.

Tulang-tulang pada orang dewasa diklasifikasikan menjadi dua


bagian besar, yaitu :
a. Tulang aksial (80 buah) terdiri dari kerangka tulang kepala dan
leher, tengkorak, kolumna vertebrae, tulang iga, tulang hioid
sternum.
b. Tulang apendikular (126 buah) terdiri dari :
1) Kerangka tulang lengan dan kaki.
2) Ekstremitas atas (skapula, klavikula, humerus, ulna, radial)
dan tangan (karpal, metakarpal, falang).
3) Ekstremitas bawah (tulang pelvix, femur, patella, tibia,

2.3.

fibula) dan kaki (tarsal, metatarsal, falang).


Struktur Tulang
Tulang tersusun oleh jaringan tulang kompakta (kortika) dan
konselus

(trabekular/spongiosa).

Tulang

kompakta

secara

makroskopis terlihat padat. Akan tetapi, jika diperiksa dengan


mikroskop terdiri dari sistem Havers. Sistem Havers terdiri dari
Kanal Havers. Sebuah kanal havers mengandung pembuluh darah,

saraf, dan pembuluh limve, lamela (lempengan tulang yang


mengelilingi kanal sentral), kaluna ( ruang di antara lamela yang
mengandung sel-sel tulang atau osteosit dan saluran limfe), dan
kanalikuli (saluran kecil yang menghubungkan lakuna dan kanal
sentral). Saluran ini mengandung pembuluh limfe yang membawa
nutrien dan oksigen ke osteosit.
Tulang kanselus juga keras seperti tulang kompakta, tetapi secara
makroskopis terlihat berlubang-lubang (spons). Jika dilihat dengan
mikroskop kanal havers, tulang kanselus terlihat lebih besar dan
mengandung lebih sedikit lamela. Sel-sel penyusun tulang terdiri
dari :
a. Osteoblas, berfungsi menghasilkan jaringan osteosit dan
menyekresi sejumlah besar fosfatase alkali yang berperan
penting dalam pengendapan kalsium dan fosfat ke dalam
matriks tulang.
b. Osteosit, adalah sel-sel tulang dewasa yang bertindak sebagai
lintasan untuk pertukaran kimiawi melalui tulang yang padat.
c. Osteoklas, adalah sel-sel berinti banyak yang memungkinkan
mineral dan matriks tulang dapat diabsorbsi. Sel-sel ini
menghasilkan enzim proteolitik yang memecah matriks dan
beberapa asam yang melarutkan mineral tulang, sehingga
kalsium dan fosfat terlepas ke dalam darah.
3. Sendi
Sendi adalah suatu ruangan, tempat satu atau dua tulang berada saling
berdekatan. Fungsi utama sendi adalah memberi pergerakan dan
fleksibilitas dalam tubuh. Bentuk persendian ditetapkan berdasarkan
jumlah dan tipe pergerakannya, sedangkan klasifikasi sendi berdasarkan
pada jumlah pergerakan yang dilakukan.
Menurut klasifikasinya, sendi terdiri dari :
a. Sendi Sinartrosis (sendi tak bergerak sama sekali). Contohnya sutura
tulang tengkorak.
b. Sendi Amfiartrosis (sendi bergerak terbatas). Contohnya pelviks,
simfisis dan tibia.
c. Sendi Diartrosis/Sinovial (sendi bergerak bebas). Contohnya siku,
lutut dan pergelangan tangan.
Berdasarkan strukturnya, sendi dibedakan atas :

a. Fibrosa.
b. Kartilago.
c. Sendi Sinovial.
4. Muskulo/Otot
Otot dibagi dalam tiga kelompok, dengan fungsi utama untuk kontraksi
dan menghasilkan pergerakan sebagian atau seluruh tubuh. Kelompok
otot terdiri dari :
a. Otot rangka (lurik) diliputi oleh kapsul jaringan ikat. Otot rangka
merupakan otot yang mempunyai variasi ukuran dan bentuk dari
panjang, tipis, sampai lebar dan datar.
b. Otot viseral (polos) yang terdapat pada saluran pencernaan, saluran
perkemihan, dan pembuluh darah.
c. Otot jantung ditemukan hanya pada jantung dan kontraksinya di luar
kontrol atau di luar keinginan (pengendalian). Otot berkontraksi jika
ada rangsangan dari adenosin trifosfat (ATP) dan kalsium.
B. Penuaan Normal Sistem Muskuloskeletal
Perubahan normal muskuloskeletal terkait usia pada lansia termasuk
penurunan tinggi badan, redistribusi masa otot dan lemak subkutan,
peningkatan porositas tulang, atrofi otot, pergerakan yang lambat,
pengurangan kekuatan, dan kekuatan sendi-sendi. Perubahan pada tulang otot
dan sendi mengakibatkan terjadinya perubahan penampilan, kelemahan dan
lambatnya pergerakan yang menyertai penuaan.
1. Sistem Skeletal
Penurunan progresif dalam tinggi badan adalah hal yang universal terjadi
di antara semua ras dan pada kedua jenis kelamin terutama ditujukan pada
penyempitan diskus intervertebral dan penekanan pada kolumna spinalis.
Bahu menjadi lebih sempit dan pelvis menjadi lebih lebar, ditunjukkan
oleh peningkatan diameter antero posterior.

Perubahan Normal Terkait Usia


Implikasi Klinis
Penurunan tinggi badan progresif yang Postur
tubuh
disebabkan oleh diskus intervertebra.

bungkuk

penampilan barrel-chest.

Kekakuan rangka tulang dada pada


keadaan mengembang.
Penurunan produksi tulang kortikal dan

Peningkatan resiko jatuh.


Peningkatan resiko fraktur.

dengan

trabekular.
Penurunan masa otot dengan kehilangan Kontur tubuh yang tajam, pengkajian
lemak subkutan.

status hidrasi sulit, penurunan kekuatan

Waktu untuk kontraksi dan relaksasi

otot.
Perlambatan waktu untuk bereaksi.

muskular memanjang.
Kekakuan l3w2igamen dan sendi.

Peningkatan resiko cedera.

Ketika manusia mengalami penuaan, jumlah massa otot tubuh mengalami


penurunan. Hilangnya lemak subkutan perifer cenderung untuk
mempertajam kontur tubuh dan memperdalam cekungan di sekitar
kelopak mata, aksila, bahu, dan tulang rusuk. Tonjolan tulang (vertebra,
krista illiaka, tulang rusuk, skapula menjadi lebih menonjol.
Proses penyerapan kalsium dari tulang untuk mempertahankan kadar
kalsium darah yang stabil dan penyimpanan kembali kalsium untuk
membentuk tulang baru dikenal sebagai Remodeling (pembentukan
tulang kembali). Proses remodeling ini terjadi sepanjang rentang
kehidupan
penambahan

manusia.
usia.

Kecepatan
Kecepatan

absorbsi
formasi

tidak
tulang

berubah
baru

dengan

mengalami

perlambatan seiring dengan penambahan usia, yang menyebabkan


hilangnya massa total tulang pada lansia.
2. Sistem Muskular
Kekuatan muskular mulai merosot sekitar usia 40 tahun, dengan suatu
kemunduran yang dipercepat setelah usia 60 tahun. Perubahan gaya hidup
dan penurunan penggunaan sistem neuromuskular adalah penyebab utama
untuk kehilangan kekuatan otot. Kerusakan otot terjadi karena penurunan
jumlah serabut otot dan atrofi secara umum pada organ dan jaringan
tubuh. Regenerasi jaringan otot melambat dengan penambahan usia, dan
jaringan atrofi digantikan oleh jaringan fibrosa.
Perlambatan, pergerakan yang kurang aktif dihubungkan

dengan

perpanjangan waktu kontraksi otot, periode laten, dan periode relaksasi


dari unit motor dalam jaringan otot. Sendi-sendi seperti pinggul, lutut,
siku, pergelangan tangan, leher, dan vertebra menjadi sedikit fleksi pada
usia lanjut. Peningkatan fleksi disebabkan oleh perubahan dalam kolumna
vertebralis, ankilosis (kekakuan) ligamen dan sendi, penyusutan dan

Penuaan

sklerosis

tendon

dan

otot,

dan

perubahan

degeneratif

sistem

ekstrapiramidal.
3. Sendi
Secara umum, terdapat kemunduran kartilago sendi, sebagian besar
terjadi pada sendi sendi yang menahan berat, dan pembentukan tulang
di permukaan sendi. Komponen komponen kapsul sendi pecah dan
kolagen yang terdapat pada jaringan penyambung meningkat secara
progresif yang jika tidak dipakai lagi, mungkin menyebabkan inflamasi,
nyeri, penurunan mobilitas sendi dan deformitas.

Manusia sehat

Faktor Endogen
Penuaan pada
organ, sel dan
molekuler

Faktor Eksogen
Cara hidup yang merugikan
(merokok, makan berlebihan,
minuman keras, stress dalam
kehidupan, dsb), lingkungan

Penuaan
(Penurunan produksi hormon; atrof
jaringan otot, syaraf dan tulang;

DAFTAR PUSTAKA

Suratun, dkk. 2008. Seri Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem


Muskuloskeletal. Jakarta: EGC.
Tarwoto, dkk. 2009. Anatomi dan Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta:
Trans Info Media