Sponge: Biota laut penghasil senyawa bioaktif yang potensial

Ifah Munifah, Thamrin Wikanta dan M. Nursid

Laboratorium Bioteknologi Kelautan Pusat Riset Pengolahan Produk dan Sosial-Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Pendahuluan Sejak konferensi Biochemistry and Pharmacology derived from Marine Organisms pada 1960 maka mengemuka istilah Drugs from The Sea. Sejak saat itu evaluasi farmakologi terhadap metabolit sekunder dari laut telah menjadi objek utama dalam bidang riset produk bahan alam laut (Scheuer, 1990). Produk bahan alam laut dapat digolongkan dalam: (1) sumber biokimia yang mudah didapatkan dalam jumlah besar dan dapat dikonversi menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi; (2) senyawa bioaktif yang meliputi: senyawa anti-mikroba, senyawa aktif fisiologis, senyawa aktif farmakologis, dan senyawa sitotoksik dan antitumor; dan (3) toksin laut (Kobayashi dan Satari, 1999). Prioritas riset dan pengembangan untuk produk bahan alam melibatkan kegiatan: (1) pencarian senyawa aktif yang dapat berguna sebagai anti-kanker, antiviral, anti-degenerasi, anti-mikroba, dan pestisida. Biota yang potensial untuk hal ini adalah sponge, koral lunak, moluska, echinodermata, dll.; (2) teknologi produksi untuk mengembangkan dan memperbaiki produk alam yang sudah dikenal secara komersial, misalnya: polisakarida, skualen, kondroitin, omega-3, dan lain-lain (Nontji, 1999). Anggota dari filum Porifera yang terkenal dengan sebutan sponges sangat beragam dan melimpah di kepulauan Indonesia. Telah banyak dilaporkan bahwa sponges sangat potensial sebagai penghasil produk alami laut dalam bidang farmasi (Mayer ,1999; Munro et al., 1987; Faulkner, 2000). Organisme laut dalam hidupnya sangat tergantung kepada faktor lingkungan yang sering sekali menjadi faktor pembatas kehidupannya, seperti: cahaya, nutrisi, oksigen, dan pesaing (kompetitor). Dalam rangka mempertahankan kehidupannya, organisme ini melakukan serangkaian mekanisme adaptasi secara morfologis, anatomis, fisiologis dan kemis. Senyawa bioaktif yang dihasilkan oleh sponges secara ekologis dapat dipandang sebagai salah

1

satu cara dari organisme ini untuk mempertahankan diri dari predator dan mengurangi resiko akibat ekspose radiasi sinar matahari.

Apakah Sponge? Sponge adalah biota multiseluler primitif yang bersifat filter feeder, menghisap air dan bahan-bahan lain disekelilingnya melalui pori-pori (ostia) kemudian dialirkan ke seluruh bagian tubuhnya melalui saluran (channel) dan dikeluarkan melalui pori-pori yang terbuka (ostula). Sponge termasuk hewan laut dalam filum porifera yang berarti memiliki pori-pori dan saluran. Melalui pori-pori dan saluran-saluran inilah air diserap oleh sel khusus yang dinamakan sel leher, yang dalam banyak hal menyerupai cambuk. Jenis sel ini dinamakan koanosit (choanocyte; yunani=choane: cerobong, kytos=berongga). Filum hewan ini lebih banyak dikenal sebagai sponge, yakni hewan multiseluler (bersel banyak) yang primitif, mungkin berasal dari jaman paleozoik sekitar 1,6 milyar tahun yang lalu (Romimohtarto dan Juwana , 2001; Cetkovic dan Lada, 2003).
Keterangan: A = struktur dinding tubuh sponge B = Koloni Leucosolenia C = Flagella tumbuh dari inti Leucosolenia Complicata D = Flagella bebas dan inti di dasar, pada Clanthrina Coriacea 1. Lapisan dermal 2. Amebosit 3. Epitelium 4. Jeli 5. Spikula 6. Skleroblas 7. Pori 8. Porosit 9. Selapis sel-sel leher 10. Gamul 11. Oskulum

Gambar 1.Bentuk dan struktur dinding tubuh sponge (Romimohtarto & Juwana, 2001) Sebagian besar sponge hidup di laut dan hanya beberapa jenis yang hidup di air tawar. Diperkirakan terdapat sekitar 5000 jenis sponge yang berbeda, dengan sebaran yang sangat luas. Bentuk dan ukuran sponge sangat beragam, beberapa jenis berbentuk cabang-cabang seperti pohon, lainnya dapat berbentuk seperti sarung tinju, cawan, pipa, atau kubah. Ukuran sponge juga beragam mulai dari jenis berukuran kecil yang berdiameter 3 cm sampai yang berukuran 0,9 m dengan ketebalan

2

bervariasi dan bisa mencapai 30,5-50 cm. Jenis sponge tertentu nampak memiliki bulu getar karena spikulanya menyembul keluar dari badannya. Banyak sponge berwarna putih, abu-abu, tetapi lainnya berwarna kuning, orange, merah atau hijau, tergantung pada jenis simbion yang hidup bersamanya. Sponge yang berwarna hijau biasanya disebabkan oleh adanya alga simbiotik yang disebut zoochlorellae yang terdapat di dalamnya (Proksch, 1999).

b c Gambar 2. Contoh beberapa jenis sponge dari Karimun Jawa a. Sponges belum teridentifikasi, b. Callyspongia sp. dan c. Amphimedon sp. Sponge dan makanannya Saluran yang terdapat pada sponge bertindak seperti halnya sistem sirkulasi pada hewan tingkat tinggi yang merupakan pelengkap untuk menarik makanan ke dalam tubuh dan untuk mengangkut zat buangan keluar dari tubuh. Karena hal inilah maka sponge termasuk pada hewan pemakan dengan cara menyaring (filter feeder). Ia memperoleh makanan dalam bentuk partikel organik renik, hidup atau tidak, seperti bakteri dan mikroalga yang masuk melalui pori-pori (Proksch et al,. 2002). Arus air yang masuk melalui sistem saluran dari sponge diakibatkan oleh cambuk koanosit yang bergerak terus menerus. Koanosit juga mencernakan partikel makanan, baik disebelah maupun di dalam sel leher. Sisa makanan yang tidak tercerna dibuang keluar dari dalam sel leher. Makanan itu dipindahkan dari satu sel ke sel lain kemudian diedarkan dalam batas-batas tertentu oleh sel-sel amuba yang berkeliaran di dalam lapisan tengah sponge (McConnaughey, 1970). Penting bagi sponge untuk hidup di dalam air yang bersirkulasi, karenanya sponge ditemukan dalam air yang jernih, bukan yang keruh. Arus air yang lewat melalui sponge membawa serta zat buangan dari tubuh sponge, maka penting agar air yang keluar melalui oskulum dibuang jauh dari badannya, karena air ini sudah tidak

a

3

berisi makanan lagi, tetapi mengandung asam karbon dan sampah nitrogen yang beracun bagi hewan tersebut (Romimohtarto dan Juwana, 2001).

Gambar 3. Salah satu jenis sponge dari Karimun Jawa Sponge dan pertahanan dirinya Sponge tumbuh melekat pada terumbu karang dan dasar laut. Binatang lunak dengan variasi warna, bentuk, dan ukuran ini tidak dapat berpindah seperti halnya ikan dan binatang laut lainnya. Untuk mempertahankan diri dari predator, sponge memiliki senjata perisai berupa senyawa kimia membentuk metabolit sekunder, yang ditakuti dan dihindari predator karena beracun. Sesuai dengan fungsinya untuk melindungi diri dari predator, senyawa ini bersifat toksik dan berkhasiat juga sebagai antikanker (cytotoxic) dan antibiotik (McConnaughey, 1970). Dengan struktur tubuh yang penuh dengan pori dipermukaan dan terhubung dengan kanal-kanal dan rongga ke bagian dalam, sponge menyaring 10.000 galon air laut per jam untuk memasukkan makanan dan oksigen serta mengeluarkan makanan dan CO2. Dalam peyaringan tersebut, ribuan sampai jutaan mikroba terperangkap. Apabila konsentrasi mikroba sangat besar maka sponge akan terkena infeksi dan sakit, oleh karena itu perlu memproduksi senyawa kimia yang mampu melumpuhkan mikroba yang terperangkap. Mikroba yang resisten terhadap senyawa kimia tersebut akan bertahan dan hidup bersimbiosis di dalam tubuh sponge. Senyawa kimia yang merupakan metabolit sekunder tersebut dirancang untuk melawan pertumbuhan sel yang sangat cepat, mirip ciri-ciri pertumbuhan sel kanker (Cetkovic dan Lada, 2003).

Faktor Lingkungan terhadap Senyawa Bioaktif yang Dihasilkan Sponge Kehidupan biota laut tidak terlepas dengan faktor abiotik yang melingkupinya. Bahan metabolit primer maupun sekunder yang dihasilkan oleh

4

sponges merupakan hasil interaksi dengan lingkungan sekitar baik lingkungan biotik maupun abiotik. Sponge mentoleransi mikroorganisme yang masuk ke dalam poriporinya karena mikroorganisme menyediakan sumber makanan atau produk metabolit tertentu yang bermanfaat untuk sponge (Guyot, 2000; Faulkner, 2000). Semua mikroorganisme yang ditemukan berasosiasi dalam sponge host didefinisikan sebagai asosiasi mikroorganisme. Mikroba-mikroba ini dalam waktu yang bersamaan ada didalam sponge yaitu mikroba yang tumbuh secara permanen di dalamnya. Jadi, istilah simbion ini digunakan untuk mikroorganisme yang selalu ditemukan dalam asosiasinya pada hosting spesies yang sama, tetapi tidak berarti bahwa simbion tersebut secara khusus hanya ada dalam sponge tertentu. Hubungan sponge dan simbionnya dapat dikategorikan sebagai obligatory mutualism, yaitu simbion yang berperan penting pada metabolisme inangnya, dan juga dikategorikan sebagai facultative mutualism yaitu simbion yang memberikan manfaat pada inangnya, dan tidak dapat hidup tanpa adanya simbion. Ada juga dikategorikan sebagai commensalism yaitu bahwa kehadiran simbion tersebut tidak memberikan manfaat ataupun kerugian pada inangnya. Dalam beberapa kategori di atas dapat dikatakan pula bahwa sponge memberikan perlindungan (sheltered) pada mikroorganisme tersebut. Adapula simbion dalam katagori epibionts dan

endosymbionts. Epibionts yaitu mikroorganisme yang tinggal di permukaan sponge, sedangkan endosymbionts adalah mikroorganisme baik yang tinggal pada sponge mesohyl ataupun yang berada di dalam sel sponge. Simbion sponge juga mempengaruhi metabolisme nitrogen dan oksigen dalam hosting (sponge). Wilkinson dalam Osinga et al., (2001) menyatakan adanya kehadiran bakteri nitrogen dalam sponge indo-pacific coral reef. Pada saat lingkungan sekitar tempat sponge hidup kurang nitrogen, maka untuk memenuhi kebutuhan nitrogen tersebut dipenuhi melalui fiksasi nitrogen yang esensial agar sponge dapat aktif berfotosintesis untuk menghasilkan karbohidrat. Wilkinson telah mengukur konsumsi oksigen pada 10 jenis sponge The Great Barrier Reef yang diantaranya terdiri dari simbion cyanobacteri. Sejumlah 6 spesies diantaranya memperlihatkan bahwa produksi utama oksigen fotosintesis oleh simbion lebih besar dari total respirasi sponge-simbion. Sponge akan mengkonsumsi sebagian produksi utama ini dan terkadang langsung dicerna oleh simbion dalam bentuk metabolit yang merupakan hasil ekskresi, seperti glikogen atau gliserol. Diperkirakan 80% total

5

energi yang diperlukan sponge Phyllospongia lamellosa diproduksi oleh simbion phototropiknya. Peranan lain dari simbion baik autotropik maupun heterotropik adalah memproduksi senyawa kimia potensial seperti antibiotik, antifungi, antifeedant, dan antifouling. Wilkinson dalam Osinga et al., (2001) juga memberikan contoh dihasilkannya senyawa antimikrobial berupa polybrominasi bifenileter oleh bakteri cyanobacteria Oscillatoria Spongelia yang bersimbion dengan sponge Indopacific jenis Dysidea Herbacea dan diperkirakan bahwa brominasi bifenileter tersebut diproduksi untuk menjaga jaringan sponge bebas dari jenis bakteri lain yang merugikan. Dari beberapa fakta diketahui bahwa sponge terdiri dari endosymbiosis mikroorganisme, dan simbion ini terkontribusi secara total pada biomassa sponge. Hal ini memberikan asumsi bahwa banyak produk sponge mungkin diproduksi oleh mikroorganisme yang berasosiasi dengan sponge, akan tetapi banyak juga literatur lain yang menyatakan bahwa ada beberapa senyawa yang diproduksi oleh sel sponge itu sendiri (Garson, 1992; dalam Osinga, 2001). Adapun asosiasi sponge dengan mikroorganisme, baik mikroorganisme phototropik (alga, cyanobacteria) dan mikroorganisme heterotropik (eubacteria, archea, protista, dan fungi) sering ditemukan pada jaringan dalam sponge (Osinga et al., 2001).

Prospektif Senyawa Bioaktif Sponge Sponge kaya akan senyawa sitotoksik yang melebihi biota laut lainnya

maupun biota darat. Dalam suatu proses skrining masal senyawa sitotoksik dari bahan alam oleh NCI (National Cancer Institute) Amerika, ternyata >10% dari semua jenis sponge yang diobservasi bersifat aktif. Senyawa dari sponge yang aktif terhadap sel kanker manusia secara in vitro tak selalu bersifat aktif secara in vivo terhadap model pada tikus. Bahan alam dari sponge juga penting sebagai struktur induk untuk pengembangan bahan baru obat anti-inflamasi atau dapat juga digunakan sebagai alat untuk analisis mekanisme pengendalian regulasi intra-seluler (Proksch, 1999). Toksisitas merupakan indikator yang sangat berguna dalam kaitannya dengan aktivitas biologi. Toksisitas memberikan arahan yang penting terhadap adanya

6

senyawa aktif secara farmakologi dan senyawa anti-mikroba. Serangkaian zat aktif fisiologi dari binatang laut, khususnya dari invertebrata (binatang yang tak memiliki sistem pertahanan tubuh secara fisik), yang telah melalui pengujian meliputi: antimikroba, anti-viral, anti-tumor, anti-hipertensi, stimulan pertumbuhan, zat

neurotoksik, dan lain-lain (Halevy, 1990). Skrining sitotoksisitas menggunakan hewan atau sel lestari kanker manusia seringkali dilakukan sebagai tahap awal dalam upaya pencarian obat baru anti-tumor. Penggunaan sel lestari seringkali menghadapi kendala bagi laboratorium yang tak memiliki peralatan memadai, maka ada alternatif lain untuk sistem uji sel, yaitu menggunakan embryo bulu babi (sea urchin embryo), seperti sel kanker, tampak memiliki sensitivitas obat yang selektif. Dua metoda pengujian lainnya yang lazim digunakan untuk menskrining bioaktivitas senyawa, yaitu; ”crown-gall potato disc (CGPD)” dan ”brine shrimp lethality test (BSLT)”. Crown-gall adalah penyakit kanker tanaman yang diinduksi oleh bakteri ”Agrobacterium tumefaciens” (Munro et al., 1987). Hasil penggunaan metoda BSLT dibandingkan dengan penggunaan sel lestari menunjukkan bahwa metoda BSLT memberikan hasil yang dapat dipercaya (reliable), cepat, tak mahal, dan baik sebagai metoda umum yang dapat diterapkan di laboratorium (in house) (Meyer et al., 1982). Riset pencarian senyawa bioaktif (bahan obat) dari biota laut sponge telah dilakukan oleh berbagai negara di dunia, dewasa ini berbagai senyawa (isolat) dari sponge telah melalui berbagai fase pengujian menggunakan sel lestari hingga telah dapat diketahui mekanisme kerja dari senyawa tersebut, seperti terlihat pada Tabel 1. Tabel 1. Beberapa senyawa bioaktif dari biota laut sponge yang telah diketahui mekanisme kerjanya (Mayer, 1999).
No. 1. 2. 3. Jenis Senyawa Terpene Peptide Imidazole Nama Senyawa Agosterol A Jasplakinolide Naamidine A Mekanisme Kerja Molekul Multidrug resistence reversal Promosi Polimerisasi Tubulin Inhibisi Epidermal Growth Factor Negara Jepang USA USA

Disamping itu, terdapat beberapa senyawa (isolat) yang telah didapatkan dan telah melalui fase pengujian tetapi belum diketahui tentang mekanisme kerjanya, seperti terlihat pada Tabel 2 berikut ini.

.

7

Tabel 2. Beberapa senyawa bioaktif dari biota laut sponge yang belum diketahui mekanisme kerjanya (Mayer, 1999).
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Jenis Senyawa Alkaloid Terpene Sterol Alkaloid Terpene Terpene Nama Senyawa Agelastatin Bolinaquinone Crellastatin Haliclonacyclamines Scalarane Sesterstatins Jenis Sel Lestari Uji Tak Dilaporkan Manusia Manusia Murine Murine, Manusia Murine Negara USA USA, Philippines Italy, France Australia Japan USA

Pengembangan Riset Senyawa Bioaktif Program pencarian obat telah diarahkan pada pengujian terhadap jaringan secara in vitro atau uji berdasarkan sel untuk menjaring senyawa sintetik atau ekstrak dari produk alam yang bersifat relevan secara farmasetikal. Riset dalam bidang biologi molekuler selama dua dekade terakhir menghasilkan perkembangan yang sangat pesat dalam upaya mengungkap tentang berbagai kasus penyakit pada tingkat molekuler atau gen. Contohnya, dewasa ini telah banyak didokumentasikan tentang adanya perbedaan genetik antara sel kanker dan sel normal (Andersen dan Williams, 2000). Sejalan dengan perkembangan kemajuan teknologi, kini telah dikembangkan teknologi robot yang dirancang untuk skrining senyawa kimia. Gabungan antara teknologi robot dengan skrining obat berdasarkan target molekuler menghasilkan suatu paradigma baru dalam skrining obat yang dikenal dengan istilah highthroughput screening (HTS). HTS adalah suatu proses dimana sangat banyak jenis senyawa dapat diuji secara otomatis aktivitasnya sebagai inhibitor atau aktivator terhadap target molekul tertentu, seperti: reseptor permukaan sel atau enzim metabolik. Uji hayati (bioassay) menggunakan program HTS adalah skrining in vitro terhadap enzim atau reseptor yang telah dimurnikan, atau uji berdasarkan sel menggunakan sel-sel eukariotik atau mikroorganisme yang telah direkayasa. Peranan utama dari HTS adalah mengidentifikasi struktur senyawa induk (lead compound) yang dapat bekerja terhadap target molekuler dari obat tertentu dan memberikan arah untuk optimisasi hubungan struktur dengan aktivitasnya (Andersen dan Williams, 2000).

8

Riset Bioaktif dari Sponge di Perairan Indonesia Biota laut daerah tropis merupakan sumber alam yang kaya akan senyawa bioaktif. Pencarian bahan obat dari laut menghasilkan beberapa temuan baru yang menginspirasikan bahwa laut adalah sumber bahan obat yang potensial. Dikemukakan oleh Jadulco (2002) bahwa sponge dari Indonesia, Jaspis splendens, menghasilkan senyawa-senyawa bioaktif yang memiliki aktifitas antiproliferasi. Disamping itu, para peneliti bioteknologi kelautan Jepang, seperti Namikoshi menyimpulkan bahwa distribusi fungi laut yang hidup bersimbiosis dengan sponge cukup besar, dengan sebaran 82,7% sponge yang hidup di perairan pulau Palau, dan 98% sponge yang hidup di perairan pulau Bunaken (Widjhati et al., 2004). Menurut Lik Tong Ten et al. (2000) simbiosis sponge Sigmadocia symbiotica dengan alga merah Ceratodictyon spongiosum dari perairan pulau Biaro Indonesia, menghasilkan senyawa bioaktif berupa metabolit sekunder siklik heptapeptida yang bersifat toksik terhadap Artemia salina (uji BSLT). Hasil-hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa biota laut sponge memiliki potensi signifikan sebagai sumber senyawa bioaktif yang dapat dikembangkan lebih jauh menjadi komoditi yang bernilai ekonomi tinggi. Kelompok peneliti bioteknologi di Pusat Riset Pengolahan Produk dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, Badan Riset Kelautan dan Perikanan, kini sedang aktif melakukan proses ekstraksi dan isolasi senyawa aktif dari berbagai jenis makroalga dan sponge serta uji-uji bioaktivitasnya sebagai anti-bakteri, anti-oksidan, toksisitas terhadap Artemia salina dan sitotoksisitas sebagai anti-kanker terhadap beberapa jenis sel lestari (cell line). Saat ini koleksi sponge yang telah dimiliki sekitar 60 jenis dari perairan Karimunjawa, 140 jenis dari perairan pulau Bonerate-Sulawesi Selatan, 18 jenis dari perairan Binuangeun-Banten Selatan, dan 2 jenis dari pantai Selatan Yogyakarta. Berikutnya, sekitar 150 jenis sponge didapatkan dari perairan P. Nias dan P. Mentawai. Semua sampel tersebut diambil dari berbagai kondisi lokasi perairan (habitat) dan dari berbagai kedalaman.

Kesimpulan 1. Sponge merupakan hewan invertebrata primitif, merupakan filum porifera yang hidup bersimbion dengan beberapa mikroorganisme, memiliki bentuk, ukuran, dan struktur yang beraneka ragam.

9

2. Metabolit sponge untuk tujuan farmakologi, telah banyak dikaji oleh beberapa peneliti yang kesemuanya telah menyimpulkan bahwa biota laut khususnya sponge memiliki potensi sebagai sumber obat dan beberapa senyawa kimia (isolat) yang diproduksi oleh sponge diketahui memiliki aktifitas sebagai antikanker setelah melalui beberapa fase pengujian sebelum diproduksi secara masal dan dipasarkan kepada masyarakat pengguna. Daftar Pustaka Andersen, R. J. and Williams, D. E. 2000. Pharmaceuticals from the Sea. In: Hester, R. E. and Harrison, R. M. (Eds.). Chemistry in the Marine Environment. Environmental Science and Technology, No. 13. The Royal Society of Chemistry. Cambridge, UK. 25p. Cetkovic, H. and Lada, L.B. 2003. HMGB2 ProteIn from The Marine Sponge Suberites Domuncula, Journal of Food Technol. Biotechnol. 41 (4): 361-365. Faulkner, D.J. 2000. Marine Natural Products. Nat. Prod. Rep. 17:7-55 Guyot, M. 2000. Intricate Aspects of sponge Chemistry. Zoosystema. 22 (2) : 419:431. Halevy, S. 1990. Drug from Sea. In: B. H. Nga and Y. K. Lee (Eds). Microbiology Aplications in Food Biotechnology. Elsevier Sci. Publ. Ltd., London. p. 123134. Jadulco, R. C. 2002, Isolation and Structure Elucidation of Bioactive Secondary Metabolites from Marine Sponges and Sponge-derived Fungi, Dissertation of Doktorgrades, University of Wuerzburg. 176p. Kobayashi, M. And R. R. Satari. 1999. Overview of Marine Natural Product Chemistry. In: S. Soemodihardjo, R. R. Satari, and S. Saono (Eds.). Prosiding Seminar Bioteknologi Kelautan Indonesia I’98. Jakarta 14-15 Oktober 1998. p. 23-32. Lik Tong Ten, Williamson, R. T., and Gerwick, W. H. 2000. Cis, cis- and trans, transCeratospongamide, New Bioactive Cyclic Heptapeptides from the Indonesian Red Alga Ceratodictyon Spongium and Syimbiotic Sponge Sigmadocia Symbiotica, J. Org. Chem, 65 : 419-425. Mayer, A. M. S. 1999. Marine Pharmacology in 1998 : Antitumor and Cytotoxic Compounds. The Pharmacologist. 41 (4): 159-164.
---

McConnaughey, B.H. 1970. Introduction to Marine Biology, C.V. Mosby Company, Tokyo, Japan. p.190-192.

10

Meyer, B. N., Ferrigni, N. R., Putnam, J. E., Jacobsen, L. B., Nichols, D. E., McLaugglin, J. L. 1982. Brine Shrimp: A convenient general bioassay for active plant constituents. Planta Medica 45 : p.31-34. Munro, M. H. G., Luibrand, R. T., and Blunt, J. W. 1987. The Search for Antiviral and Anticancer Compounds from Marine Organisms. In: Scheuer, P. J.. Bioorganic Marine Chemistry. Vol. 1. Springer-Verlag, Berlin. p. 94-165. Nontji, A. 1999. Indonesian Potential in Developing Marine Biotechnology. In: S. Soemodihardjo, R. R. Satari, and S. Saono (Eds.). Prosiding Seminar Bioteknologi Kelautan Indonesia I’98. Jakarta 14-15 Oktober 1998. p. 13-22. Osinga, R., Armstrong Evelyn, Burges J.G., Hoffman, F., Reitner, J., and Kindel, G.S. 2001. Hydrobiologia, 461 : 55-62 Proksch, P. 1999. Pharmacologically Active Natural Product from Marine Invertebrates and Associated Microorganisms. In: S. Soemodihardjo, R. R. Satari, and S. Saono (Eds.). Prosiding Seminar Bioteknologi Kelautan Indonesia I’98. Jakarta 14-15 Oktober 1998. p. 33-40. Proksch, P., Edrada, R., and Ebel, R. 2002. Drugs from the Sea: Current Status and Microbiological Implications, J. Appl. Microbiol. Biotechnol. 59: 125-134 Romimohtarto, K., dan Sri Juwana. 2001. Biota laut: Ilmu Pengetahuan tentang Biota Laut, Djambatan, Jakarta. p. 114-126. Scheuer. 1990. Some Marine Ecological Phenomena: Chemical Basis and Biomedical Potential. Science 248: 173 – 177. Widjhati, R., Supriyono, A., dan Subintoro. 2004. Pengembangan Senyawa Bioaktif dari Biota Laut (Review Kegiatan Penelitian Biota Laut di BPPT). Forum Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Pusat Riset Pengolahan Produk dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan, Jakarta, 25 Maret 2004. 13p.

11

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.