You are on page 1of 28

MAKALAH UAS MANAJEMEN ASET:

STUDI KASUS PENGADAAN BARANG/JASA : PEMBANGUNAN


GEDUNG KANWIL DJBC JATIM I

Disusun oleh:
WING HARTOPO
AKP 13-2P/ 1306498986

0 | Page

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN..
BAB II TINJAUAN REFERENSI YANG TERKAIT...
BAB III PERMASALAHAN..
BAB IV ANALISIS PERMASALAHAN..
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA..

2
4
17
20
26
28

BAB I
PENDAHULUAN

1 | Page

A. LATAR BELAKANG
Media online tempo.com tanggal 4 Maret 2013 memberitakan perihal Kejaksaan Tinggi
(Kejati) Jawa Timur menahan dua orang tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan gedung
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Mereka adalah Pejabat Pembuat Komitmen
(PPK) Agus Kuncoro dan Direktur Utama PT Bintang Timur Nangndi, Nanang N selaku
kontraktor proyek. Berita tersebut merupakan sebagian dari kasus pengadaan barang/jasa yang
mencuat diberbagai media diantara kasus-kasus lain seperti proyek hambalang, pengadaan PON
Palembang, simulator SIM, alat kesehatan Propinsi Banten, dan lain-lain.
Pengadaan merupakan bagian dari siklus hidup (life cycle) aset yang terdiri atas
perencanaan (plan), pengadaan (acquire), penempatan (deploy), pengelolaan (manage), dan
penghapusan (retire). Dalam setiap tahapan siklus tersebut terdapat potensi adanya tuntutan
hukum tindak pidana korupsi seperti pengelembungan anggaran (perencanaan), mark up
(pengadaan), pemanfaatan aset negara untuk keuntungan pribadi (pengelolaan) atau korporasi
dan penghilangan aset negara (penghapusan). Pengadaan merupakan tahapan yang paling rawan
terjadi tindak pidana korupsi. Dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 junto UndangUndang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberatasan Korupsi, korupsi merupakan tindakan
melawan hukum, menyalahgunakan kewenangan, dan memperkaya yang menimbulkan kerugian
keuangan dan perekonomian negara.

B. MASALAH DAN TUJUAN


Dalam makalah ini, penulis ingin mengetahui masalah dalam kasus pengadaan
pembangunan gedung Kanwil DJBC Jatim I yaitu:
1. Apa hal-hal yang menjadi masalah dalam pengadaan Gedung Kanwil DJBC Jawa Timur I?
2. Apa faktor utama yang menyebabkan timbulnya masalah-masalah tersebut?
3. Apa yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi timbulnya permasalahan tersebut?
Adapun tujuan makalah ini adalah pertama untuk mengidentifikasi masalah utama dan
penyebabnya

dalam pengadaan pembangunan gedung kanwil DJBC Jatim I yang menjadi

tuntutan hukum tindak pidana korupsi. Kedua, untuk memberikan saran rekomendasi khususnya

2 | Page

kepada para Pejabat yang terlibat dalam pengadaan agar kejadian serupa tidak terulang pada
masa mendatang.

C. METODE PENULISAN
Dalam makalah ini, penulis menggunakan metode studi kasus yaitu dengan melakukan
studi literatur dan referensi yang terkait, mendapatkan gambaran kasus, melakukan analisis, dan
memberikan saran serta kesimpulan.

BAB II
TINJAUAN REFERENSI YANG TERKAIT
3 | Page

A. MANAJEMEN PROYEK
Dalam pelaksanaan proyek terdapat risiko-risiko seperti lelang gagal, pekerjaan molor,
kualitas output tidak sesuai, atau pelanggaran kontrak yang sangat tidak diinginkan oleh semua
project manager dalam hal pengadaan sektor Pemerintahan adalah Pejabat Pembuat Komitmen.
Semakin besar dan rumit sebuah proyek maka risiko yang dihadapi juga semakin besar. Agar
proyek mendapatkan hasil yang diinginkan, apapun jenis dan seberapapun besar skala
kerumitannya, sangat tergantung pengelolaan proyek yang disebut dengan project management.
Sesuai Project Manager Book of Knowledge (PMBOK) yang merupakan panduan umum yang
digunakan dalam manajemen proyek, project management adalah bentuk aplikasi dari dari
pengetahuan, keterampilan, peralatan serta teknik melaksanakan kegiatan proyek untuk
memenuhi tujuan proyek tersebut yang meliputi:
1.
2.
3.
4.

pengelolaan seperti perencanaan;


pengorganisir;
pengawasan, serta
pengendalian.

Dalam project management, project manager harus:


1. memastikan bahwa segala sesuatu berjalan sesuai dengan kontrak, dan output pekerjaan
2.

sesuai dengan yang diharapkan oleh pihak yang memberinya pekerjaan


mengerti dan memahami jiwa dari proyek tersebut, mengapa proyek itu ada, bagaimana
proyek itu akan dikerjakan, kapan proyek itu harus selesai, dan apa yang harus dicapai atau

dihasilkan dari kegiatan tersebut.


3. memahami setiap proses kegiatan, mulai dari perencanaan, pembuatan kontrak, penetapan
scope

proyek,

negosiasi,

pelaksanaan,

pengawasan

hingga

saat

penyelesaian

proyek/pekerjaan.

4 | Page

Sebuah studi yang dilakukan oleh Project Management Solution, sebuah lembaga yang bergerak
di bidang pelatihan dan pengembangan project management pada tahun 2011 lalu menguraikan,
ada lima sumber masalah yang dapat menyebabkan proyek gagal, antara lain:
1. ketidakjelasan kesepakatan dan prioritas, kurangnya sumber daya;
2. jadwal terlalu ketat dan target yang tidak realistis;
3. kurangnya perencanaan dan data pendukung, serta tidak terdeteksinya risiko yang mungkin
terjadi.
Project management merupakan suatu induk kegiatan yang terintegrasi yang terdiri dari
beberapa elemen penting yakni manajemen scope, manajemen waktu, manajemen biaya,
manajemen kualitas, manajemen risiko, manajemen SDM, manajemen pengadaan, manajemen
komunikasi, dan lain sebagainya. Jika salah satu dari elemen tidak berjalan semestinya,maka
mengakibatkan ketimpangan yang berdampak buruk bagi proyek. Tim Field dalam artikelnya
berjudul When bad things happen to good projects (1997) menyebutkan, kebanyakan proyek
gagal karena scope pekerjaantidak dipahami atau tidak dilaksanakan denganbenar. Sebuah hal
yang mungkin sederhana, namun bisa membawa dampak besar bagi sebuah proyek Project
manager memainkan peran penting dalam menganalisa dan mendeteksi adanya risiko maupun
gangguan dan segera memperbaikinya. Semakin dini gangguan atau risiko itu ditemukan dan
diperbaiki,maka semakin besar kemungkinan proyek
tersebut akan berhasil. Robert Frese dan Dr. Vicki Sauter dalam salah satu artikelnya berjudul
Project Success And Failure:What Is Success, What Is Failure, And How Can You Improve
Your Odds For Success? menekankan komunikasi sebagai salah satu instrumen yang krusial
dalam sebuah menjalankan sebuah proyek.

B. UNSUR KERUGIAN NEGARA


5 | Page

Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah
sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa
depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur
dalam satuan uang, termasuk sumber daya nonkeuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa
bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan
budaya. Salah satu unsur dalam tindak pidana korupsi ialah adanya kerugian keuangan Negara.
Terhadap kerugian keuangan negara ini membuat Undang-Undang korupsi, baik yang lama yaitu
UU No.3 Tahun 1971 maupun yang baru yaitu UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No.20 Tahun 2001,
menetapkan kebijakan bahwa kerugian keuangan negara itu harus dikembalikan atau diganti oleh
pelaku korupsi.Menurut UU korupsi tersebut, pengembalian kerugian keuangan negara dapat
dilakukan

melalui

dua

instrumen

hukum,

yaitu

instrumen

pidana

dan

instrumen

perdata.Instrumen pidana dilakukan oleh penyidik dengan menyita harta benda milik pelaku dan
selanjutnya oleh penuntut umum dituntut agar dirampas oleh Hakim.Instrument perdata
dilakukan oleh Jaksa Pengacara Negara (JPN) atau instansi yang dirugikan terhadap pelaku
korupsi (tersangka, terdakwa, terpidana atau ahli warisnya bila terpidana meninggal dunia).
Instrumen pidana lebih lazim dilakukan karena proses hukumnya lebih sederhana dan mudah.
1. Pengertian Kerugian Negara
Undang-Undang Tipikor 1999, kerugian keuangan negara merupakan akibat dari
perbuatan yang bersifat melawan hukum (unsur pertama) dan terdakwa, orang lain atau korporasi
telah turut menikmati keuntungan dari perbuatan melawan hukum sehingga negara dirugikan.
Intinya adalah kerugian keuangan negara tidak mutatis mutandis telah terbukti tindak pidana
korupsi jika tidak terbukti unsur melawan hukum apalagi unsur menguntungkan diri sendiri atau
orang lain atau korporasi, apalagi tidak terbukti pula unsur menyalahgunakan kewenangan,
kesempatan, atau sarana yang ada pada terdakwa karena jabatan atau kedudukannya.
Kerugian Negara menurut pasal 1 angka 1 UUPN adalah berkurangnya uang, surat
berharga, dan barang yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum
baik sengaja ataupun lalai. Pengertian ini menunjukkan bahwa kerugian Negara mengandung arti
yang luas sehingga mudah dipahami dan ditegakkan bila terjadi pelanggaran dalam pengelolaan
keuangan Negara.
Kemudian adapun pendapat menurut Djoko Sumaryanto (2009;29) bukanlah kerugian
Negara dalam pengertian di dunia perusahaan/perniagaan, melainkan suatu kerugian yang terjadi
6 | Page

karena perbuatan ( perbuatan melawan hukum ). Dalam kaitan ini, faktor faktor lain yang
menyebabkan kerugian Negara adalah penerapan kebijakan yang tidak benar, memperkaya diri
sendiri, orang lain, atau korporasi. Sebenarnya pengelola keuangan Negara melupakan
identitasnya pada saat diserahi tugas untuk mengurusi keuangan Negara sehingga Negara
mengalami kerugian. Kerugian keuangan Negara adalah kekurangan uang, surat berharga, dan
barang yag nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik yang
disengaja ataupun kelalaian.
2. Faktor Faktor atau Sumber Penyebab Timbulnya Kerugian Negara
Terkaitnya hukum pidana dalam masalah kerugian Negara karena perbuatan itu dilakukan
untuk memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi sehingga menimbulkan kerugian
keuangan Negara atau bahkan perekonomian Negara.Hal ini didasarkan bahwa kerugian
keuangan Negara atau perekonomian Negara merupakan salah satu unsur dalam tindak pidana
korupsi sebagaimana dimaksud dalam UUPTPK.
Kemudian timbulnya kerugian Negara menurut Yuhus Husein sangat terkait dengan berbagai
transaksi, seperti transaksi barang dan jasa, transaksi yang terkait dengan utang piutang, dan
transaksi yang terkait dengan biaya dan pendapatan.Tiga kemungkinan terjadinya kerugian
negara tersebut menimbulkan beberapa kemungkinan peristiwa yang dapat merugikan keuangan
negara atau perekonomian negara.
Dalam hal ini, Djoko Sumaryanto mengemukakan bahwa tiga kemungkinan terjadinya
kerugian Negara tersebut menimbulkan beberapa kemungkinan peristiwa yang dapat merugikan
keuangan Negara, sebagai berikut :
Pertama, terdapat pengadaan barang dengan harga yang tidak wajar karena jauh di atas harga
pasar, sehingga dapat merugikan keuangan negara sebesar selisih harga pembelian dengan harga
pasar atau harga yang wajar. Korupsi di dalam proses pengadaan barang dan jasa inilah yang
paling banyak terjadi di Indonesia. Sering kali proses pengadaan barang dan jasa diikuti dengan
adanya suap atau kickback dari peserta tender kepada pejabat Negara (termasuk contoh kasus
kerugian Negara dari sisi expenditure).
Kedua, harga pengadaan barang dan jasa wajar.Wajar tetapi tidak sesuai dengan spesifikasi
barang dan jasa yang dipersyaratkan.Kalau harga barang dan jasa murah, tetapi kualitas barang
dan jasa itu kurang baik, maka dapat dikatakan juga merugikan keuangan Negara (termasuk
7 | Page

contoh kasus kerugian Negara dari sisi Aset).


Ketiga, terdapat transaksi yang memperbesar utang negara secara tidak wajar, sehingga dapat
dikatakan merugikan keuangan negara karena kewajiban negara untuk membayar hutang
semakin besar. Misalnya pada waktu yang lalu pernah terjadi sebuah bank swasta yang saham
mayoritasnya Bank Indonesia menjamin surat-surat berharga dalam jumlah miliaran rupiah yang
diterbitkan grup bank tersebut (termasuk contoh kasus kerugian Negara dari sisi Liabilities).
Ketika surat berharga jatuh waktu, penerbit surat berharga tidak mampu membayar, sehingga
bank sebagai penjamin harus membayar. Akibatnya, jumlah utang bank tersebut semakin besar
dan menjadi beban bagi pemiliknya untuk membantu penyelesaiannya.
Keempat, piutang negara berkurang secara tidak wajar dapat juga dikatakan merugikan
keuangan negara.
Kelima, kerugian negara dapat terjadi kalau aset negara berkurang karena dijual dengan harga
yang murah atau dihibahkan kepada pihak lain atau ditukar dengan pihak swasta atau perorangan
(ruilslag). Dapat juga terjadi aset negara yang tidak boleh dijual, tetapi kemudian dijual setelah
mengubah kelas aset negara yang akan dijual tersebut menjadi kelas yang lebih rendah, seperti
yang pernah terjadi pada salah satu instansi pemerintah beberapa waktu yang lalu (termasuk
contoh kasus kerugian Negara dari sisi Aset).
Modus keenam untuk merugikan negara adalah dengan memperbesar biaya instansi atau
perusahaan. Hal ini dapat terjadi baik karena pemborosan maupun dengan cara lain, seperti
membuat biaya fiktif. Dengan biaya yang diperbesar, keuntungan perusahaan yang menjadi
objek pajak semakin kecil, sehingga negara tidak menerima pemasukan pajak atau menerima
pemasukan yang lebih kecil dari yang seharusnya.
Di samping itu, kerugian negara dapat juga timbul dengan caraketujuh, yaitu hasil
penjualan suatu perusahaan dilaporkan lebih kecil dari penjualan sebenarnya, sehingga
mengurangi penerimaan resmi perusahaan tersebut. Misalnya dengan melakukan transfer picing,
di mana perusahaan menjual barang secara murah kepada perusahaan lain di luar negeri yang
masih ada kaitan dengan perusahaan penjual. Akibatnya, penerimaan perusahaan lebih kecil dari
seharusnya, sehingga objek pajaknya tidak ada sama sekali atau semakin kecil.(termasuk
contoh kasus kerugian Negara dari sisi Revenue).
Theodorus M. Tuanakotta dengan tegas membagi atas lima sumber kerugian keuangan Negara
sebagai berikut :
8 | Page

1. Pengadaan Barang dan Jasa


Bentuk kerugian ini dapat berupa hal hal sebagai berikut :
a. Mark up untuk barang yang spesifikasinya sudah sesuai dengan dokumen tender.
Kualitas dan kuantitas barang sudah benar tetapi harganya lebih mahal (contoh kasus
keugian perekonomian Negara atas expenditure).
b. Harga yang lebih mahal dikarenakan kualitas barang dipasok dibawah persyaratan
(contoh kasus perekonomian Negara atas expenditure).
c. Syarat penyerahan barang lebih istimewa. Oleh karena syarat pembayaran tetap, maka
ada kerugian bunga (contoh kasus perekonomian Negara atas expenditure).
d. Syarat pembayaran yang lebih baik, tetapi syarat lainnya seperti kuantitas, kualitas dan
syarat penyerahan barang tetap (contoh kasusperekonomian Negara atas Aset).
e. Kombinasi dari kerugian yang disebutkan diatas, seperti mark up dan adanya kerugian
bunga(contoh kasus perekonomian Negara atas expenditure).
2. Pelepasan Aset
Adapun bentuk pelepasan asset dan kerugian yang dapat ditimbulkannya, sebagai berikut :
a. Penjualan asset yang dilakukan berdasarkan nilai buku sebagai patokan (contoh
kasusperekonomian Negara atas Aset dan Revenue)
b. Penjualan tanah dan bangunan diatur melalui nilai jual objek pajak hasil kolusi dengan
pejabat terkait (contoh kasusperekonomian Negara atas Aset dan Revenue).
c. Tukar guling tanah dan bangunan yang dikuasai Negara dengan tanah, bangunan, atau
asset lain. Oleh karena asset ditukar dengan asset , maka nilai pertukarannya lebih sulit
ditentukan(contoh kasusperekonomian Negara atas Aset).
d. Pelepasan hak Negara untuk menagih. Hak Negara dapat timbul karena perikatan dan
putusan pengadilan.
3. Pemanfaatan asset
Bentuk bentuk kerugian Negara dari pemanfaatan asset antara lain :
a. Negara tidak memperoleh imbalan yang layak menurut harga pasar (contoh
kasusperekonomian Negara atas Aset dan Revenue)
b. Negara ikut menanggung kerugian dalam kerja sama operasional yang melibatkan asset
Negara yang dikaryakan kepada mitra usaha. (contoh kasusperekonomian Negara atas
Asetdan Revenue)
c. Negara sebagai asset yang dijadikan jaminan kepada pihak ketiga, dalam rangka kerja
sama

operasional

atau

kerja

sama

lainnya

atau

perbuatan

lainnyacontoh

kasusperekonomian Negara atas Aset.


4. Penempatan Aset
Adapun bentuk bentuk kerugian Negara yang terkait dengan penempatan asset Negara,
mencakup hal hal sebagai berikut :

9 | Page

a. Imbalan yang tidak sesuai dengan risiko. Kerugiannya adalah sebesar selisih Bungan
ditambah premi untuk faktor tambahan risiko dengan imbalan yang diterima selama
periode sejak dilakukannya penempatan asset sampai pengembaliannya.
b. Jumlah pokok yang ditanamkan dan yang hilang. Kerugiaannya addalah sebear jumlah
pokok dan bunga.
c. Kalau ada dana pihak ketiga yang ikut hilang dan ditalang oleh Negara, kerugiannya
adalah sebesar jumlah pokok dari danan talangan beserta bunganya.
5. Kredit Macet (L)
Pemberian kredit dengan cara ini merupakan kejahatan kerah putih, dilakukan dalam bentuk
kolusi antara pejabat bank dan sarat dengan benturan kepentingan. Tindak pidana yang
terkandung dalam transaksi ini membedakan transaksi kredit macet ini darinkredit macet
yang merupakan bagian dari suatu bank BUMN. Kalau resiko ini murni risiko bisnis, wajar
jika bank memberikan haircut dalam prose restrukturisasi.
C. HAL-HAL DALAM PERATURAN 70 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN
KEDUA PERATURAN

PRESIDEN

NOMOR

54

TAHUN

2010

TENTANG

PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH


1. Jenis Kontrak
Dalam Perpres 70 Tahun 2012 jenis-jenis kontrak atau perikatan diklasifikasi berdasarkan
cara pembayaran, pembebanan tahun anggaran, jenis pekerjaan, dan sumber pendanaan.
Berdasarkan cara pembayaran dibagi menjadi:
a. Lump sum yaitu kontrak yang mengikat nilai secara keseluruhan sesuai yang yang tertulis
dalam kontrak.
b. Harga satuan yaitu kontrak yang hanya mengikat harga per satuan barang sedangkan
kuantitasnya disesuaikan dengan realisasi.
c. Gabungan lump sum dan harga satuan yaitu kombinasi antara kontrak lump sum dan
harga satuan.
d. Terima jadi (turnkey) yaitu kontrak yang pembayarannya dilakukan setelah barang/jasa
tersedia.
e. Persentase
Berdasarkan pembebanan Tahun Anggaran dibagi menjadi:
a. Tahun tunggal yaitu kontrak yang jangka waktunya tidak melebihi satu tahun anggaran.
b. Tahun jamak yaitu kontrak yang jangka waktunya melebihi satu tahun anggaran.
Berdasarkan jenis pekerjaan dibagi menjadi:
10 | P a g e

a. Pekerjaan tunggal
b. Pekerjaan terintegrasi
Berdasarkan sumber pendanaan dibagi menjadi:
a. Kontrak pengadaan tunggal
b. Kontrak pengadaan bersama
c. Kontrak payung

2. Perubahan dan Pemutusan Kontrak


Perubahan kontrak dapat dilakukan dalam hal terdapat Dilakukan dalam hal terdapat perbedaan
antara kondisi lapangan pada saat pelaksanaan, dengan gambar dan/atau spesifikasi teknis yang
ditentukan dalam dokumen kontrak terhadap:
a. Pekerjaan yang menggunakan kontrak harga satuan
b. Bagian pekerjaan yang menggunakan harga satuan pada kontrak gabungan lumpsum dan
harga satuan.
Perubahan tersebut dilakukan dengan ketentuan:
a. Tidak melebihi 10% (sepuluh perseratus) dari nilai kontrak awal
b. Tersedia anggaran apabila ada penambahan nilai kontrak
Pemutusan kontrak secara sepihak dilakukan apabila:
a. Keterlambatan pekerjaan yang hasilnya tidak dapat ditunda;
b. Penyedia diyakini tidak akan mampu menyelesaikan pekerjaan dalam waktu 50 hari setelah
berakhirnya waktu pelaksanaan;
c. Penyedia tidak mampu menyelesaikan pekerjaan dalam waktu 50 hari setelah berakhirnya
waktu pelaksanaan;
d. Cidera janji dan tidak melakukan perbaikan dalam waktu yang ditetapkan;
e. Penyedia melakukan KKN, kecurangan, pemalsuan, kesalahan prosedur, pelanggaran
persaingan sehat dan telah dinyatakan oleh instansi berwenang.
Penyedia barang/jasa yang mendapatkan perpanjangan selama 50 hari sejak jangka waktu
berakhir dikenakan denda, tapi tidak terkena sanksi Black List sepanjang pekerjaan yang
terlambat tersebut selesai.

3. Pengendalian dan Pengawasan


11 | P a g e

Tugas dan kewenangan Para Pihak dalam pengendalian dan pengawasan pengadaan barang/jasa
adalah sebagai berikut :
a. Pimpinan K/L/D/I
1) Memberikan laporan secara berkala tentang realisasi pengadaan barang/jasa kepada
LKPP
2) Melakukan pengawasan terhadap PPK/ULP/Pejabat Pengadaan/Pejabat Penerima Hasil
Pekerjaan
3) Menugaskan Aparat Pengawas Intern untuk melakukan audit
4) Membuat daftar hitam bagi penyedia jasa/barang sesuai dengan ketentuan.
5) Memberikan sanksi kepada penyedia barang/jasa setelah mendapat masukan dari
PPK/ULP/PP sesuai dengan ketentuan
b. PPK/ULP/Pejabat Pengadaan
1) Memberikan sanksi administrasi kepada penyedia barang/jasa sesuai dengan ketentuan
2) Mengusulkan sangsi pencantuman dalam daftar hitam kepada PA/KPA atas pelanggaran
penyedia barang/jasa sesuai dengan ketentuan.
c. APIP K/L/D/I
1) Menindaklanjuti pengaduan penyedia barang/jasa dan/atau masyarakat yang dianggap
beralasan dan mempunyai bukti sesuai dengan kewenangannya.
2) Hasil tindak lanjut pengaduan dilaporkan kepada Menteri/Pimpinan Lembaga/Kepala
Daerah/Pimpinan institusi,
3) Dari hasil tindak lanjut bila diyakini terdapat indikasi KKN yang akan merugikan
keuangan negara, dapat dilaporkan kepada instansi yang berwenang dengan persetujuan
Menteri/Pimpinan
4) Lembaga/Kepala Daerah/Pimpinan Institusi, dengan tembusan kepada LKPP dan BPKP.
d.

LKPP
1) Melakukan evaluasi atas laporan berkala yang dibuat K/L/D/I tentang pelaksanaan
pengadaan barang/jasa.
2) Menindak lanjuti pengaduan yang didukung bukti sesuai dengan kewenangan yang
dimiliki
3) Mengumumkan secara nasional daftar hitam yang dibuat K/L/D/I.

e. Penyedia Barang/Jasa dan Masyarakat

12 | P a g e

1) Bila menemukan indikasi penyimpangan prosedur, KKN dalam pelaksanaan pengadaan


Barang/Jasa dan/atau pelanggaran persaingan yang sehat dapat mengajukan pengaduan
atas proses pemilihan Penyedia Barang/Jasa.
2) Pengaduan tersebut, ditujukan kepada APIP K/L/D/I yang bersangkutan dan/atau LKPP,
disertai bukti-bukti kuat yang terkait langsung dengan materi pengaduan

4. SANKSI
Apabila terjadi pelanggaran, sesuai dengan kewenangannya, pimpinan K/L/D/I dapat
memberikan sangsi baik kepada penyedia maupun kepada PPK/ULP/Pejabat Pengadaan. Sanksi
yang dapat diberikan kepada penyedia karena pelanggaran tersebut berupa:
a.
b.
c.
d.

sanksi administratif;
sanksi pencantuman dalam Daftar Hitam;
gugatan secara perdata; dan/atau
pelaporan secara pidana kepada pihak berwenang.

Sedangkan sanksi yang dapat diberikan kepada ULP/Pejabat pengadaan yang melakukan
kecurangan:
a. dikenakan sanksi administrasi;
b. dituntut ganti rugi; dan/atau
c. dilaporkan secara pidana.
Berikut matrik tindakan beserta sanksi yang dapat dikenakan terhadap pihak-pihak yang terkait
dengan pengadaan barang/jasa.

13 | P a g e

Bagi Penyedia

Bagi Pejabat Pengadaan/ULP

Bagi PPK

D. Jaminan Pembayaran
Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan mengamanatkan tahun
anggaran berakhir pada tanggal 31 Desember. Ketentuan dalam UU Perbendaharaan mengatur
14 | P a g e

bahwa pembayaran tidak boleh dilakukan sebelum barang/ jasa diterima Jaminan Pembayaran
Sebagaimana yang berlaku sampai dengan tahun anggaran 2011, untuk kepentingan tertib
administrasi pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan, batas akhir pembayaran dengan metode
LS (pekerjaan kontraktual) ditetapkan pada pertengahan bulan Desember,meskipun batas akhir
pekerjaan menjelang atau pada tanggal 31 Desember. Pelaksanaan pembayaran ini pada dasarnya
tidak memenuhi ketentuan pembayaran dapat dilakukan setelah barang/jasa diterima. Untuk
melindungi hak negara dari kemungkinan pekerjaan tidak dapat diselesaikan pada akhir tahun,
telah digunakan mekanisme jaminan pembayaran yang berlaku sampai dengan tanggal 31
Desember. Penggunaan jaminan pembayaran telah cukup melindungi hak keuangan negara
apabila ternyata penyedia tidak dapat menyelesaikan pekerjaan atau dilakukan pemutusan
kontrak. Dengan jaminan pembayaran, maka pembayaran yang sudah dilakukan dapat disetorkan
kembali ke Kas Negara sebagai pengembalian belanja. Dengan pemakaian sistem jaminan
pembayaran maka terbuka ruang untuk pembayaran denda keterlambatan.
Jaminan Pembayaran harus disesuaikan masa berlakunya sampai dengan batas akhir
keterlambatan. Bersamaan dengan penyerahan jaminan pembayaran, maka jaminan pelaksanaan
atas kontrak yang bersangkutan juga diperpanjang sampai dengan batas akhir keterlambatan.
Dengan memperhatikan ketentuan dalam Perpres 70/2012, maka masa berlaku jaminan
pelaksanaan dan jaminan pembayaran ditentukan sekurang-kurangnya berlaku sampai dengan
akhir kontrak ditambah 50 (lima puluh) hari kalender.

15 | P a g e

BAB III
GAMBARAN KASUS

Pengadaan pembangunan gedung Kanwil DJBC Jatim I dilaksanakan oleh PPK


berdasarkan alokasi yang disediakan oleh Pengguna Anggaran yang direncanakan 4 lantai
dengan luas lantai sekitar 8000 m2 di atas lahan seluar sekitar 10000 m2 dengan penganggaran
tahunan tanpa penganggaran tahun jamak (multi years) pada Tahun 2012. Dalam penyidikan
kasus korupsi penyimpangan pembanguna gedung kanwil bea cukai itu, Jaksa penuntut
menemukan beberapa bukti yang menguatkan adanya dugaan penyimpangan pembangunan pada
tahap II yaitu pada akhir tahun 2012 seharusnya sudah pembangunan selesai, namun ternyata
gedung masih mangkrak hingga akhir tahun.
Pembangunan gedung Kanwil Bea dan Cukai Jatim ini dibangun secara bertahap. Tahap
pertama yang terdiri dari dua lantai, yakni lantai 1 dan 2, diselesaikan pada tahun 2011 lalu
dengan anggaran APBN sebesar Rp 30 miliar. Untuk tahap dua, pembangunan difokuskan untuk
mengerjakan gedung lantai 2 dan 3 dengan anggaran Rp 6,5 miliar. Pada tahun 2012, Kantor
Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Kanwil DJBC) Jatim I mendapatkan alokasi
anggaran untuk melanjutkan proyek pembangunan gedung yang berada di Jalan Raya Juanda Km
3-4 Desa Semambung, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur dari APBN yakni
DIPA TA 2012 sebesar Rp 7.750.000.000. Untuk pelaksanaan proyek tersebut, terdakwa Agus
Kuncoro sebagai PPK berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor : KEP229/WBC.10/2012, tanggal 18 Juli 2012. Kemudian PPk membentuk panitia lelang yang
terdirdiri dari, Niken Lestri P (Ketua Panitia Lelang), Kokoh Agus Setyo (wakil Ketua), Proyogo
Andon Yuwono (Sekretaris) dan masing-masing anggota yakni, Suratin Puji Astuti dan Diah Meg
Susanti. Berdasarkan berita acara No. BA-10/WBC.10/PBJ/KP/Gedung/2012, tanggal 31 Juli
2012, menetapkan PT Bintang Timur Nangendi selaku pemenang lelang dengan nilai kontrak
sebesar Rp 6.657.000.000.

16 | P a g e

Terdakwa Agus Kuncoro selaku PPK bersama Nanang Kuswandi, selaku Direktut PT
Bintang Timur Nangendi menandatangani surat kontrak No. SP-46/WBC.10/PBJ/PPk.02/2012,
tanggal 15 Agustus 2012 untuk pembangunan gedung utama berupa struktur, arsitektur, elektrikal
lantai basemen sampai dengan top floor sebesar Rp 2.289.000.000, untuk pembangunan gedung
utama berupa fasada lantai basemen samapai dengan lantai IV sebesar Rp 234.000.000,
pembangunan gedung utama berupa sanitrei mekanikal elektronika, enterior dan furniture sampai
dengan lantai 3 dan 4 sebesar Rp 1.344.000.000, pembuatan pos dan papan nama sebesar Rp 88
juta, saluran Rp 1.801 milliar, pembuatan paving sebesar Rp 558 juta dan penyambungan PLN
dan PDAM sebesar Rp 253 juta.
Sesuai surat perjanjian No. SP-46/WBC.10/PBJ/PPk.02/2012, tanggal 15 Agustus 2012,
cara pembayaran paket pekerjaan yaitu termin pertama 25% dari nilai kontrak setelah hasil
presentase fisik pekerjaan 30%, termin ke 2, 25% dari nilai kontrak setelah hasil presentase fisik
pekerjaan 55%, termin ke 3, 25% dari nilai kontrak setelah hasil presentase fisik pekerjaan 80%,
termin ke 4, 20% dari nilai kontrak setelah hasil presentase fisik pekerjaan 100% dan termin ke 5
sebesar 5% setelah serah terima kedua (berita acara pemeliharaan). Ternyata, pembayaran tidak
dapat dilaksanakan sesuai surat perjanjian. Dan atas inisiatif terdakwa selaku PPk melakukan
adendum terhadap termin pembayaran yakni, termin pertama 30% dari nilai kontrak setelah hasil
presentase fisik pekerjaan 35%, termin ke 2, 10% dari nilai kontrak setelah hasil presentase fisik
pekerjaan 45%, termin ke 3, 55% dari nilai kontrak setelah hasil presentase fisik pekerjaan 100%
dan termin ke 4 sebesar 5% setelah serah terima kedua (berita acara pemeliharaan).
Kenyataannya,

hingga

tanggal

27

Desember

2012,

Nanang

Kuswandi

baru

menyelesaikan pekerjaan 35% namun Agus Kuncoro melakukan pembayaran termin pertama
sebesar 35% dari nilai kontrak sebesar Rp 1. 997.388.000 dengan melampirkan laporan kegiatan
pekerjaan sebesar 35% sesuai dengan SPM No. 00152 tanggal 16 Desember 2012. Walaupun
pekerjaan belum selesai 100%, atas inisiatif Agus Kuncoro meminta kepada Nanang Kuswandi
selaku rekanan untuk mengajukan pembaran dengan mengajukan Bank garnsi.
Selanjutnya, Nanang mengajukan permohonan Bank garansi kepada Bank Jatim. Dan Bank
Jatim mengeluarkan Bank garansi antara lain, Bank garansi darai cabang utama Bank Jatim No

17 | P a g e

0378/004 050/7037/4806, tanggal 26 Desember 2012 dan No 0377/004 050/7037/5246, tanggal


26 Desember 2012 dan No 0379/004 050/7036/4664, tanggal 26 Desember 2012.
Selanjutnya Agus melampirkan Bank gransi tersebut dalam persyaratan pencairan termin ke 2
sampai termin ke 4 ke KPKN Surabaya I, sehingga dapat dicairkan dana proyek pembangunan
gedung Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Kanwil DJBC) Jatim I Surabaya ke
rekening PT Bintang Timur Nangendi pada hal pekerjaan belum selesai hinnga awal Maret 2013
lalu. Dari hasil audit BPK Provinsi Jawa Timur, ditemukan adanya kerugian negera sebesar Rp
1,9 miliiar. Atas perbuatannya, kedua terdakwa diancam pidana dalam pasal 2 ayat (1) dan pasal
3 jo pasal 18 ayat (1) huruf b (2), (3) Undang-undang Korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke-1KUHP
dengan ancaman penjara paling lama 20 tahun

18 | P a g e

BAB IV
ANALISIS
A. IDENTIFIKASI MASALAH DAN FAKTOR PENYEBAB DALAM PENGADAAN
PEMBANGUNAN GEDUNG KANWIL DJBC JAWA TIMUR I
Berdasarkan gambaran kasus pada bab III, masalah dan penyebabnya dapat didentifikasi
sebagai berikut:
1. Masalah Perencanaan
Pembangunan gedung Kanwil Bea dan Cukai Jatim ini yang direncanakan 4 lantai
dengan luas lantai sekitar 8000 m2 di atas lahan seluar sekitar 10000 m2dibangun secara
bertahap. Tahap pertama yang terdiri dari dua lantai, yakni lantai 1 dan 2, diselesaikan
pada tahun 2011 lalu dengan anggaran APBN sebesar Rp 30 miliar. Untuk tahap dua,
pembangunan difokuskan untuk mengerjakan gedung lantai 2 dan 3 dengan anggaran Rp
6,5 miliar. Dalam pembangunan gedung tersebut tidak menggunakan kontrak jamak
sehingga memiliki konsekuensi yaitu:
1.
Anggaran harus diajukan dan disetujui untuk dialokasikan setiap tahun anggaran
sampai dengan seluruh pembangunan gedung tersebut selesai.
Proses penganggaran tahun 2012 harus sudah diusulkan pada tahun 2011, sehingga
PA/KPA harus mengetahui pekerjaan apa yang dilakukan dan berapa biaya yang
dibutuhkan untuk diusulkan Menteri Keuangan. Hal tersebut menyulitkan KPA
karena hanya mengandalkan dari rencana proyek sedangkan pada tahun 2011 proyek
baru berjalan sehingga ada kemungkinan terjadi perbedaan antara realisasi dengan
rencana yang dapat menyebabkan anggaran yang telah diusulkan kurang sesuai
dengan kebutuhan.
19 | P a g e

2.

Setiap tahun selama pembangunan gedung, Pemilihan penyedia baru harus

dilakukan setiap tahunnya.


Proses pemilihan penyedia terdiri atas undangan/pengumuman Dokumen Pemilihan,
Pendaftaran dan pengambilan Dokumen Pemilihan, Penjelasan Dokumen Pemilihan
Pemasukan dan pembukaan Dokumen Penawaran, Evaluasi Dokumen Penawaran
Penetapan dan pengumuman hasil pemilihan, Sanggah dan Sanggah Banding. Proses
tersebut membutuhkan waktu kurang lebih dua bulan. Hal ini juga berpotensi
keterlambatan pekerjaan yang akan dilakukan. Selain itu, jika setiap tahun penyedia yang
terpilih berbeda dengan tahun sebelumnya maka dimungkinkan adanya penambahan
pekerjaan karena penyedia yang baru tidak cocok dengan pekerjaan yang telah dilakukan
penyedia lama. Dalam kasus ini, penyedia baru terpilih dan ditunjuk pada tanggal 15
Agustus 2012 sesuai surat kontrak No. SP-46/WBC.10/PBJ/PPk.02/2012 sehingga
penyedia hanya memiliki waktu 4,5 bulan untuk menyelesaikannya. Hal ini sangat
berpotensi keterlambatan pekerjaan dan kualitas bangunan yang rendah karena kontraktor
mengejar waktu.
2. Proses pengawasan.
Pekerjaan pembangunan gedung Kanwil DJBC Jatim 1 yang dilaksanakan tahun 2012 tidak
selesai sesuai jangka waktu kontrak dan melewati batas waktu anggaran 31 Desember 2012.
Sesuai Perpres 70 Tahun 2010, PPK dapat melakukan pemutusan kontak penyedia diyakini
tidak akan mampu menyelesaikan pekerjaan dalam waktu 50 hari setelah berakhirnya waktu
pelaksanaan. Jika penyedia mampu menyelesaiakan dalam waste 50 Hari maka dikenakan
denda Keterlambatan sebesar 1/1000 per hari dari harga kontrak atau bagian kontrak,
maksimal sebesar Jaminan Pelaksanaan.
Untuk dapat mengambil tindakan pemutusan kontrak atau memberi kesempatan 50 hari
kepada Penyedia untuk menyelesaiakan pekerjaan, PPK perlu mengetahui tingkat realisasi
pelaksaan proyek dengan rencana proyek sehingga dapat diestimasi secara handal apakah
waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek kurang atau lebih dari 50 hari. Disini
peran Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan, KPA, dan aparat pengawas Intern juga harus terlibat
dalam memberikan masukan kepada PPK dalam mengambil keputusan. Monitoring terhadap
pelaksanaan proyek seharusnya dilakukan secara periodik sejak proyek dimulai sehingga
dapat berjalan efektif. Dalam kasus ini, PPK berpendapat lebih baik mengejar output
sehingga lebih memilih memberikan jangka waktu tambahan 50 hari dengan pengenaan
20 | P a g e

denda dan pemblokiran pembayaran daripada harus mengajukan anggaran untuk tahun
berikutnya yang belum tentu disetujui walaupun pada riilnya pekerjaan tersebut diselesaikan
lebih dari 50 hari.
3. Proses pembayaran
Berdasarkan gambaran kasus ini, PPK melakukan perubahan kontrak dengan penyedia terkait
pembayaran yaitu:
Termin

I
II
III
IV
V

Kontrak Awal
Pekerjaan yang
Nilai bayar
diselesaikan
30%
25%
55%
25%
80%
25%
100%
20%
Masa jaminan 5%
Pemeliharaan
selesai
Total
100%

Kontrak Revisi
Pekerjaan yang
Nilai bayar
diselesaikan
35%
30%
45%
10%
100%
55%
Masa
jaminan 5%
Pemeliharaan selesai
Total
100%

Atas dasar kontrak tersebut, PPK melakukan pembayaran kepada penyedia sebagai berikut:
Tanggal
Pengajuan
Pembayaran
16-12-2012
16-12-2012

Uraian

Termin I
Termin II

1.999.388.000
665.796.000

16-12-2012

Termin III

3.661.878.000

16-12-2012

Termin IV

332.898.000

Total

Nilai

Keterangan

Prestasi Pekerjaan
Dengan
jaminan
pembayaran
Dengan
jaminan
pembayaran
Dengan jaminan
pembayaran

6.659.960.000
Berdasarkan gambaran kasus diatas, pekerjaan belum selesai sampai dengan awal
Maret Tahun 2013 yang artinya lebih dari 50 hari. Hal inilah yang dijadikan tuntutan oleh
Jaksa Umum yang menyatakan bahwa PPK telah melakukan tindak pidana korupsi dengan
menyalahgunakan kewenangan, memperkaya seseorang dalam hal ini penyedia, dan
merugikan keuangan negara.

21 | P a g e

Sesuai Perpres 70 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Peraturan Presiden Nomor
54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Perubahan kontrak dapat
dilakukan pada Pekerjaan yang menggunakan kontrak harga satuan dan bagian pekerjaan
yang menggunakan harga satuan pada kontrak gabungan lumpsum dan harga satuan. Dengan
demikian perubahan termin pembayaran yang dilakukan PPK tersebut tidak sesuai dengan
ketentuan.
Terkait penggunaan jaminan pembayaran yang merupakan syarat agar pembayaran
dapat dilakukan walaupun pekerjaan secara fisik belum diselesaikan memang diatur sesuai
ketentuan sepanjang pekerjaan dapat diselesaikan sesuai jangka waktu yang ditentukan.
Dalam hal ini tindakan PPK terlalu berani yaitu dengan capaian pekerjaan baru mencapai
35%, yang bersangkutan mengajukan pembayaran 100% dengan menggunakan jaminan
pembayaran padahal penyedia tidak mampu untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai jangka
waktu ditambah perpanjangan 50 hari.

B. UPAYA UNTUK MENGANTISIPASI TIMBULNYA PERMASALAHAN TERSEBUT


Kasus pengadaan pembangunan Gedung Kanwil DJBC Jawa Timur I tersebut banyak
memberikan pelajaran khususnya bagi para Pejabat yang terkait dengan pengadaan barang/jasa
dan pengelola keuangan negara.
1. Bagi PA/KPA
Dalam perencanaan penganggaran harus dipetakan proyek-proyek yang dapat
diselesaikan dengan anggaran tahunan atau tahun jamak (multi years). PA/KPA harus menilai
risiko, upaya memitigasi risiko, dan benefit yang diperoleh. Kasus pembangunan gedung Kanwil
DJBC Jatim I secara teknis dibutuhkan waktu paling sedikit 1,5 Tahun untuk membangun,
namun karena pertimbangan sulitnya untuk mendapatkan alokasi anggaran dan rumitnya
prosedur pengajuan tahun jamak maka dipilihlah penganggaran tahunan dengan segala risiko
bawaan yaitu:
1.
2.

Anggaran harus diajukan dan disetujui untuk dialokasikan setiap tahun anggaran;
Pemilihan penyedia baru harus dilakukan setiap tahunnya.
Keberadaan gedung baru Kanwil DJBC Jatim I memang dibutuhkan namun menurut saya

tidak perlu terburu-buru dalam pelaksanaannya dengan mengambil segala risiko yang ada
22 | P a g e

mengingat fungsi pelayanan dan pengawasan Kanwil DJBC Jatim I tidak terlalu terganggu
dengan belum selesainya pembangunan gedung tersebut.
PA/KPA harus mengoptimalkan perannya dalam koordinasi dan pengendalian proyek
seperti dengan PPK, Pejabat Penerima hasil pekerjaan, dan Aparat pengendalian internal. Hal ini
dilakukan agar ada ketidakmampuan Penyedia dapat dideteksi sejak dini untuk ditindaklanjuti
agar pekerjaan atau output yang dihasilkan tidak terhambat.

2. PPK
PPK seperti halnya seorang manajer proyek harus mengidentifikasi masalah seperti
ketidakjelasan kesepakatan dan prioritas, kurangnya sumber daya, jadwal terlalu ketat dan target
yang tidak realistis, kurangnya perencanaan dan data pendukung, serta tidak terdeteksinya risiko
yang mungkin terjadi. Seorang PPK menurut saya harus memberikan masukan kepada PA/KPA
jika suatu proyek harus diselesaikan menurut ukuran standar yang layak sehingga jika tidak
memungkinkan dilaksanakan dengan mekanisme anggaran tahunan maka perlu dipertimbangkan
opsi multi years walaupun rumit dalam pengurusannya.
PPK harus mengoptimalkan fungsi pengawasan dengan berkoordinasi dengan APIP,
Pejabat penerima Hasil pekerjaan dan PA/KPA untuk mendeteksi kemungkinan ketidakmampuan
Penyedia dalam menyelesaikan pekerjaan sejak dini.
Dalam hal pekerjaan tidak dapat diselesaikan sesuai jangka waktu yang diselesaikan,
PPK dalam mengambil keputusan untuk memutuskan kontrak atau memperpanjang waktu
sebaiknya berkoordinasi dengan PA/KPA, APIP, dan Pejabat penerima Hasil pekerjaan sehingga
mendapatkan pertimbangan yang lebih komprehensif.
Penggunaan jaminan pembayaran dalam hal pekerjaan fisik belum selesai jangan
dipandang sebagai solusi bahwa penyelesaian pekerjaan boleh terlambat namun penggunaan
jaminan tersebut digunakan karena batas waktu pengajuan pembayaran pada akhir tahun

23 | P a g e

biasanya ditetapkan tanggal 20 Desember sedangkan dimungkinkan ada pekerjaan yang baru
selesai setelah tanggal 20 Desember sampai dengan 31 Desember.
PPK juga harus memperhatikan jaminan pelaksanaan pekerjaan dan jaminan
pemeliharaan sebagai bagian pengendalian pekerjaan. PPK tidak perlu ragu dalam mengeksekusi
jaminan tersebut dalam terjadi wan prestasi. Jangka waktu jaminan juga harus diperhatikan
seperti jangka waktu pelaksanaan harus disesuaikan dalam hal terdapat perpanjangan jangka
waktu penyelesaian. Jangka waktu jaminan pemeliharaan yang diatur dalam ketentuan minimal
enam bulan setelah penyerahan barang/jasa, untuk itu PPK dapat menegosiasikan jangka waktu
pemeliharaan tersebut dengan penyedia agar sesuai dengan standar kelayakan barang dan untuk
mengantisipasi kerusakan yang mungkin timbul setelah enam bulan.

24 | P a g e

KESIMPULAN

A. Kasus pengadaan pembangunan gedung Kanwil DJBC Jatim I disebabkan karena:


1. pembangunan gedung tersebut tidak menggunakan kontrak jamak sehingga memiliki
konsekuensi yaitu:
a) Anggaran harus diajukan dan disetujui untuk dialokasikan setiap tahun anggaran
sampai dengan seluruh pembangunan gedung tersebut selesai.
b) Setiap tahun selama pembangunan gedung, Pemilihan penyedia baru harus dilakukan
setiap tahunnya.
2. PPK berpendapat lebih baik mengejar output sehingga lebih memilih memberikan jangka
waktu tambahan 50 hari dengan pengenaan denda dan pemblokiran pembayaran daripada
harus mengajukan anggaran untuk tahun berikutnya yang belum tentu disetujui walaupun
pada riilnya pekerjaan tersebut diselesaikan lebih dari 50 hari.
3. Perubahan termin pembayaran yang dilakukan PPK dalam kontrak tidak sesuai dengan
ketentuan.
4. PPK terlalu berani dengan mengajukan pembayaran 100% walaupun capaian pekerjaan
baru mencapai 35% dan penyedia tidak mampu untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai
jangka waktu ditambah perpanjangan 50 hari.
B. Agar kejadian serupa tidak berulang maka:
1. Bagi PA/KPA
a) memetakan proyek-proyek yang dapat diselesaikan dengan anggaran tahunan atau
tahun jamak (multi years);
b) mengoptimalkan fungsi pengawasan dengan berkoordinasi dengan APIP, Pejabat
penerima

Hasil

pekerjaan

dan

PA/KPA

untuk

mendeteksi

kemungkinan

ketidakmampuan Penyedia dalam menyelesaikan pekerjaan sejak dini.


2. Bagi PPK
a) mengidentifikasi masalah seperti ketidakjelasan kesepakatan dan prioritas, kurangnya
sumber daya, jadwal terlalu ketat dan target yang tidak realistis, kurangnya
perencanaan dan data pendukung, serta tidak terdeteksinya risiko yang mungkin
terjadi;

25 | P a g e

b) dalam mengambil keputusan untuk memutuskan kontrak atau memperpanjang waktu


sebaiknya berkoordinasi dengan PA/KPA, APIP, dan Pejabat penerima Hasil
pekerjaan sehingga mendapatkan pertimbangan yang lebih komprehensif
c) Penggunaan jaminan pembayaran dalam hal pekerjaan fisik belum selesai jangan
dipandang sebagai solusi bahwa penyelesaian pekerjaan boleh terlambat;
d) memperhatikan jaminan pelaksanaan pekerjaan dan jaminan pemeliharaan sebagai
bagian pengendalian pekerjaan

DAFTAR PUSTAKA:

26 | P a g e

Perpres 70 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010
tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Philips, Yohana SP (2012, Juli). Membentuk Karakter Seorang Project Manager . Majalah
Kredibel Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP). edisi 03/JuliOktober 2012.
http://www.kabarjagad.com/hukum/2063-19-miliar-korupsi-proyek-pembangunan-kantor-beacukai-jatim-siapa-yang-siap-menyusulhttp://politik.tempo.co/read/news/2014/03/04/063559440/Kejati-Jawa-Timur-Tahan-DuaTersangka-Proyek-Bea-Cukai

27 | P a g e