You are on page 1of 4

KESEJAHTERAAN SOSIAL

Vol. VII, No. 04/II/P3DI/Februari 2015

Kajian Singkat terhadap Isu Aktual dan Strategis

AKURASI DATA DAN KRITERIA KEMISKINAN
DALAM UPAYA PENANGGULANGANNYA
Mohammad Mulyadi*)

Abstrak
Salah satu masalah dalam penanggulangan kemiskinan bermuara pada rendahnya
validitas data dan kurang jelasnya kriteria masyarakat miskin. Padahal untuk
menghasilkan perencanaan penanggulangan kemiskinan yang baik, terukur, dan
terencana memerlukan kualitas data yang baik. Rendahnya validitas data berpengaruh
terhadap ketepatan program pemberantasan kemiskinan. Untuk itu, pemerintah perlu
melakukan kajian dan mengevaluasi kriteria itu serta memperbarui jumlah angka
kemiskinan sehingga upaya penanggulangan kemiskinan dapat lebih mudah dipetakan.

Pendahuluan

solusinya. Ini bukan saja karena masalah
kemiskinan telah ada sejak lama dan
menjadi persoalan masyarakat, hal ini juga
karena gejala kemiskinan semakin sulit
ditanggulangi.
Salah
satu
penyebab
sulitnya
penanganan masalah kemiskinan adalah
data yang dimiliki oleh institusi yang
diberi kewenangan oleh negara untuk
berkonsentrasi
menangani
masalah
kemiskinan ini tidak valid atau akurat.
Padahal untuk menghasilkan perencanaan
penanggulangan kemiskinan yang baik,
terukur,
dan
terencana
diperlukan
kualitas
data
yang
baik.
Dengan
demikian, keakuratan dan kevalidan data
sangat penting sebagai dasar kegiatan
penanggulangan kemiskinan.

Bangsa yang rakyatnya makmur tentu
memiliki martabat dan konsekuensinya akan
disegani oleh bangsa-bangsa lain. Singapura
misalnya, dari sisi geografis dan demografis
bukanlah negara besar, tetapi karena
kehidupan rakyatnya sejahtera, negara ini
disegani dan diperhitungkan dalam kancah
internasional. Sebaliknya, negara kita yang
secara geografis maupun demografis sebagai
negara besar, karena banyaknya jumlah
penduduk miskin seperti ditunjukkan
dengan rendahnya pendapatan per kapita
mereka, Indonesia menjadi negara yang
mudah dilecehkan dan didikte oleh negara
lain.
Masalah kemiskinan di Indonesia
merupakan masalah sosial yang relevan
untuk
dikaji
terus-menerus
berikut

*) Peneliti Madya Sosiologi pada Bidang Kesejahteraan Sosial, Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Sekretariat
Jenderal DPR RI, Email: mohammadmulyadi@yahoo.co.id
Info Singkat
© 2009, Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI)
Sekretariat Jenderal DPR RI
www.dpr.go.id
ISSN 2088-2351

-9-

Urgensi Validitas Angka
Kemiskinan

dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) yang
dilakukan oleh pemerintahan Presiden Joko
Widodo. Ketiga kartu yang tergabung dalam
program Government to Person (G2P)
tersebut adalah bantuan yang ditujukan
kepada keluarga kurang mampu, sama
halnya dengan Program Keluarga Harapan
(PKH) atau Bantuan Langsung Sementara
Masyarakat (BLSM) yang pernah diberikan
melalui kantor pos pada masa pemerintahan
sebelumnya.
Dari ketiga program jaminan sosial
yang baru diluncurkan tersebut, KKS yang
bersifat langsung nontunai dan diberikan
dalam bentuk rekening simpanan melalui
layanan keuangan digital merupakan sebuah
terobosan baru. Selain mempermudah
masyarakat
kurang
mampu
dalam
mendapatkan bantuan, cara tersebut
dinilai dapat membuka akses mereka
terhadap sistem perbankan sehingga dapat
mendorong masyarakat miskin untuk
menabung, sekaligus membuka akses
mendapatkan pinjaman dari bank yang bisa
digunakan untuk kegiatan produktif.
Di Brasil, program sejenis dengan
nama Bolsa Familia (tabungan keluarga)
terbukti ampuh dalam mereduksi tingkat
kesenjangan hingga 17% dalam lima tahun
dan dapat menekan angka kemiskinan dari
42,7% menjadi 28,8% (Kompas, 5/11/2014).
Salah satu penentu keberhasilan program
Bolsa Familia adalah dukungan keakurasian
data yang tentu saja merupakan output
dari sistem pendataan yang dilakukan
secara teliti. Dalam soal ini, pemerintah
terkesan terburu-buru. Meskipun sulit dan
membutuhkan waktu, data rumah tangga
sasaran semestinya dimutakhirkan dan
diverifikasi terlebih dulu.
Bagaimana pun, Indonesia kiranya
masih
menghadapi
kesulitan
untuk
mencapai prestasi Brasil tersebut. Sedikitnya
ada dua kendala yang kemungkinan
besar akan terjadi di lapangan. Pertama,
program berpeluang tidak tepat sasaran.
Hal itu terjadi ketika program menyasar
rumah tangga yang seharusnya tidak
menerima bantuan (inclusion error) dan/
atau mengabaikan rumah tangga kurang
mampu (exclusion error). Saat ini, data
yang dijadikan acuan penerima manfaat
program adalah data lama, yakni hasil

Ada
ungkapan
terkenal
yang
menyatakan: “there are three kinds of lies:
lies, damned lies, and statistics”. Ungkapan
ini mungkin saja menemukan kebenarannya
di Indonesia, jika kita menghubungkannya
dengan praktek yang dilakukan Badan
Pusat Statistik (BPS) dalam menyajikan
angka statistik, terutama dalam beberapa
tahun terakhir ini. Salah satu yang paling
kontroversial adalah angka kemiskinan yang
realitas sosialnya tidak sesuai dengan data
sebagaimana ditampilkan.
Kalau
angka
kemiskinan
tidak
jujur, maka segala bentuk program
penanggulangan kemiskinan niscaya akan
menemui kegagalan. Namun demikian, kita
harus mengakui bahwa di mata pemerintah,
angka kemiskinan yang tinggi perlu
“disembunyikan” karena dapat melahirkan
penilaian negatif dari publik. Akibatnya,
pemerintah sering mempergunakan angka
statistik sebagai pencitraan belaka.
Di sinilah letak masalahnya. Angka
kemiskinan versi BPS bertentangan dengan
realitas di lapangan. Ketika krisis ekonomi
terbukti telah mendorong lonjakan PHK,
data BPS tentang Jumlah Penduduk Miskin,
Persentase Penduduk Miskin, dan Garis
Kemiskinan pada rentang waktu 19702013 malah menyatakan bahwa kemiskinan
telah menurun secara drastis. Oleh karena
itu, tidak salah jika sebagian ekonom yang
tergabung dalam Tim Indonesia Bangkit,
antara lain Hendri Saparini, Fadhil Hasan,
Ichsanuddin Noorsy, dan Iman Sugema,
mengatakan angka statistik BPS dijuluki
sebagai statistik akrobatik.
Untuk
diketahui,
data
statistik
sangatlah penting bagi pembangunan
nasional. Tanpa memegang data statistik
yang benar, sebuah bangsa mustahil untuk
mencapai
kemajuan.
Pertanyaannya
sederhana.
Bukankah
“penghilangan
sebagian orang miskin” dalam data
statistik akan berdampak pada strategi
penanggulangan kemiskinan yang meleset?
Keakurasian angka kemiskinan di
tanah air menjadi salah satu masalah dalam
implementasi pengentasan kemiskinan,
misalnya terkait program Kartu Indonesia
Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP),

- 10 -

Pendataan Program Perlindungan Sosial
(PPLS) 2011 yang dilaksanakan BPS. Data
inilah yang menjadi basis data Tim Nasional
Percepatan Penanggulangan Kemiskinan
(TNP2K). Persoalannya, kondisi kemiskinan
sangatlah dinamis karena status kemiskinan
rumah tangga bisa berubah dalam rentang
waktu yang sangat pendek, taruhlah
dalam hitungan enam bulan. Kedua, ada
kemungkinan timbulnya konflik sosial akibat
program yang tidak tepat sasaran. Konflik
bisa terjadi antara penerima dan yang
tidak, serta antara masyarakat dan aparat
pemerintah yang dianggap bertanggung
jawab
terhadap
penetapan
penerima
manfaat program.
Oleh karena itu, data dan informasi
kemiskinan yang akurat dan tepat sasaran
sangat diperlukan. Data yang akurat
dan tepat tersebut secara periodik harus
dimutakhirkan
mengikuti
perubahan
penduduk yang dinamis. Hal ini dilakukan
untuk memastikan keberhasilan pelaksanaan
serta pencapaian tujuan atau sasaran dari
kebijakan dan program penanggulangan
kemiskinan, baik di tingkat nasional,
provinsi, kabupaten/kota, maupun di tingkat
komunitas.

mengembangkan kegiatan perekonomian
dalam
upaya
meningkatkan
taraf
kehidupannya (Soetrisno, 2001: 78) .
Kuncoro (2004: 5) menyebutkan
konsep kemiskinan sebagai perkiraan tingkat
pendapatan dan kebutuhan. Perkiraan
kebutuhan hanya dibatasi pada kebutuhan
pokok atau kebutuhan dasar minimum yang
memungkinkan seseorang untuk dapat
hidup secara layak. Bila pendapatan tidak
dapat memenuhi kebutuhan minimum,
maka orang dapat dikatakan miskin.
Sementara itu, kemiskinan menurut BPS
adalah kondisi seseorang yang hanya dapat
memenuhi kebutuhan makan kurang dari
2100 kalori per kapita per hari. Selain itu,
Bank Dunia (World Bank) mengartikan
kemiskinan sebagai kondisi di mana tidak
tercapainya kehidupan yang layak dengan
penghasilan US$ 1 per hari.
Dengan
demikian,
pemerintah
sebaiknya mengevaluasi dan mengkaji
kembali apa saja yang menjadi kriteria
seseorang
digolongkan
miskin.
Pada
prakteknya banyak warga miskin yang
belum mendapatkan kartu-kartu tersebut.
Kriteria miskin tentunya berkembang
sehingga
pemerintah
perlu
mengkaji
dan
mengevaluasi
kriteria
itu
dan
memperbaharui jumlah angka kemiskinan.
Misalnya saja, hingga saat ini BPS
membuat kriteria seseorang miskin jika
tempat tinggalnya menggunakan lantai
tanah, dinding bilik dan beratap rumbia,
hanya membeli satu stel pakaian dalam
setahun, hanya makan sekali dalam sehari,
dan lain sebagainya. Persoalannya ketika
di sebuah desa ada warga dengan kriteria
rumah seperti itu namun memiliki tanah
luas dan banyak ternak. Selain itu, terdapat
beberapa kriteria yang sudah tidak relevan
lagi, yakni menggunakan kayu bakar/arang/
minyak tanah sebagai bahan bakar untuk
memasak sehari-hari, sementara harga
minyak tanah sekarang jauh lebih mahal
daripada harga LPG.
Sampai bulan September 2014,
jumlah penduduk miskin (penduduk dengan
pengeluaran per kapita per bulan di bawah
Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai
27,73 juta orang (10,96 persen), berkurang
sebesar 0,55 juta orang dibandingkan
dengan penduduk miskin pada Maret 2014

Urgensi Kriteria Masyarakat Miskin
Kriteria
masyarakat
miskin
sangat beragam, mulai dari sekedar
ketidakmampuan memenuhi kebutuhan
konsumsi dasar dan memperbaiki keadaan,
kurangnya
kesempatan
memperoleh
pekerjaan, hingga pengertian yang lebih luas
yang memasukkan aspek sosial dan moral.
Di mata sebagian ahli, terutama para
ekonom, kemiskinan sering didefinisikan
semata-mata sebagai fenomena ekonomi,
dalam arti rendahnya penghasilan atau tidak
dimilikinya mata pencaharian yang cukup
untuk tempat bergantung hidup. Sebagian
pendapat ini mungkin benar, tetapi kurang
mencerminkan kondisi riil yang sebenarnya
dihadapi masyarakat miskin. Kemiskinan
sesungguhnya
bukan
semata-mata
kurangnya pendapatan untuk memenuhi
kebutuhan hidup pokok atau standar hidup
yang layak. Yang lebih esensial, kemiskinan
juga menyangkut kemungkinan orang atau
keluarga miskin untuk melangsungkan dan

- 11 -

yang sebesar 28,28 juta orang (11,25 persen),
dan berkurang sebesar 0,87 juta orang
dibandingkan dengan penduduk miskin
pada September 2013 yang sebesar 28,60
juta orang atau 11,46 persen (Berita Resmi
Statistik BPS, 2/1/2015).

menjadi dasar tunggal dalam menghitung
angka kemiskinan di Indonesia.

Referensi

Kuncoro, Mudrajad. 2004. Otonomi dan
Pembangunan Daerah, Reformasi,
Perencanaan, Strategi dan Peluang.
Jakarta : Erlangga.
Mulyadi, Mohammad. 2014. Kemiskinan.
Identifikasi
Penyebab
dan
Penanggulangannya. Jakarta: P3DI
Setjen DPR RI bekerjasama dengan
Publica Press.
Sriharini. 2007. Strategi Pemberdayaan
Masyarakat Miskin. Yogyakarta : PT.
LkiS Pelangi Aksara.
Supriatna,
Tjahya.
1997.
Birokrasi,
Pemberdayaan
dan
Pengentasan
Kemiskinan. Bandung : Humaniora
Utama Press.
Sutrisno,
R.
2001.
Pemberdayaan
Masyarakat dan Upaya Pembebasan
Kemiskinan. Yogyakarta: Philosophy
Press bekerja sama Fakultas filsafat
UGM.
http://www.bps.go.id/menutab.
php?tabel=1&kat=1&id_subyek=23,
diakses tanggal 18 Februari 2015
http://www.tnp2k.go.id/id/data-indikator/
mengenai-data-indikator/,
diakses
tanggal 20 Februari 2015

Penutup
Sebagai lembaga yang melakukan
pengawasan terhadap kinerja Pemerintah,
DPR RI setidaknya dapat mempertanyakan
kinerja BPS dalam menyediakan data
statistik kemiskinan selama ini. Kebutuhan
akan data yang akurat dan valid bukan
hanya berkaitan dengan isu pengentasan
kemiskinan saja, tetapi juga bidang-bidang
lain, seperti ekonomi, perdagangan, atau
industri. Untuk itu, BPS dituntut agar dapat
mewujudkan organisasi yang profesional dan
independen.
Beberapa
arahan
yang
dapat
dilayangkan kepada BPS, antara lain
pertama, BPS harus dilepaskan dari
naungan
pemerintah
dan
diletakkan
sebagai lembaga independen yang dikontrol
rakyat. Kedua, BPS harus selalu mengupdate perkembangan statisitik terkini,
terutama dalam hal metodologi. Ketiga,
BPS harus melepaskan kegiatan sensusnya
dari lembaga-lembaga pemerintah seperti
kelurahan,
RT/RW,
dan
sebagainya,
karena sangat rawan akan manipulasi
data.
Dan
keempat,
dalam
rangka
mewujudkan organisasi yang profesional
BPS harus dikelola secara profesional pula,
menggunakan sumber daya manusia yang
handal, serta melakukan proses pembinaan
dan rekruitmen yang bersih dan transparan.
Berkaitan dengan evaluasi kriteria
miskin,
kementerian
dan
lembaga
pemerintah
perlu
bersinergi
dalam
memformulasikan
kembali
kriteria
seseorang
yang
digolongkan
miskin.
Simpang siur kriteria miskin harus sesegera
mungkin diselesaikan. Kriteria tersebut
harus mampu mengakomodasi perubahan
terkini, tidak hanya mempertimbangkan
aspek kebutuhan fisik saja, namun juga
mempertimbangkan
aspek
kebutuhan
lain yang relevan sehingga tidak terjadi
kesalahan dalam penetapannya. Ke depan,
kriteria yang ditetapkan tersebut haruslah

- 12 -