You are on page 1of 9

A.

Standar Operasional Prosedur (SOP)
Standar operasional prosedur tidak saja bersifat internal tetapi juga eksternal, karena SOP
selain digunakan untuk mengukur kinerja organisasi publik yang berkaitan dengan ketepatan
program dan waktu, juga digunakan untuk menilai kinerja organisasi publik di mata masyarakat
berupa responsivitas, responsibilitas, dan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. Hasil kajian
menunjukkan tidak semua satuan unit kerja instansi pemerintah memiliki SOP, karena itu
seharusnyalah setiap satuan unit kerja pelayanan publik instansi pemerintah memiliki standar
operasional prosedur sebagai acuan dalam bertindak, agar akuntabilitas kinerja instansi
pemerintah dapat dievaluasi dan terukur.
1. Pengertian SOP
Suatu standar / pedoman tertulis yang dipergunakan untuk mendorong dan menggerakkan
suatu kelompok untuk mencapai tujuan organisasi. Standar operasional prosedur
merupakan tatacara atau tahapan yang dibakukan dan yang harus dilalui untuk
menyelesaikan suatu proses
kerja tertentu (Perry dan Potter (2005).
2. Tujuan SOP
Tujuan SOP antara lain:
a. Petugas / pegawai menjaga konsistensi dan tingkat kinerja petugas / pegawai atau tim
dalam organisasi atau unit kerja.
b. Mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap posisi dalam organisasi
c. Memperjelas alur tugas, wewenang dan tanggung jawab dari petugas/pegawai terkait.
d. Melindungi organisasi/unit kerja dan petugas/pegawai dari malpraktek atau kesalahan
administrasi lainnya.
e. Untuk menghindari kegagalan/kesalahan, keraguan, duplikasi dan inefisiensi
f. Membantu dalam melakukan evaluasi terhadap setiap proses operasional rumah sakit

3. Fungsi SOP
Fungsi SOP antara lain :
a. Memperlancar tugas petugas/pegawai atau tim/unit kerja.
b. Sebagai dasar hukum bila terjadi penyimpangan.
c. Mengetahui dengan jelas hambatan-hambatannya dan mudah dilacak.

SOP ini dianut oleh perusahaan yang memiliki pekerja tidak terlalu banyak. SOP harus sudah ada sebelum suatu pekerjaan dilakukan b. Keuntungan adanya SOP a. Melakukan analisa terhadap design sop yang sudah dibuat untuk diimplementasikan e. SOP yang baik akan menjadi pedoman bagi pelaksana. Melakukan benchmarking bila diperlukan dengan perusahan sejenis c. ada beberapa bentuk dan criteria dalam pembuatan Standar Operasional Prosedur (SOP). 6. menjadi alat komunikasi dan pengawasan dan menjadikan pekerjaan diselesaikan secara konsisten b. Kapan SOP diperlukan a. Menurut Stup (2001). lakukan revisi jika ada perubahan langkah kerja yang dapat mempengaruhi lingkungan kerja.  HierarchicalSteps . 5. Cara Pembuatan SOP Dalam membuat SOP diperlukan langkah-langkah sebagai berikut: a.d. Mengarahkan petugas/pegawai untuk sama-sama disiplin dalam bekerja. 4. Melakukan observasi atau pemetaan terhadap proses kerja yang sudah berjalan atau akan berjalan b. SOP juga bisa dipergunakan sebagai salah satu alat trainning dan bias digunakan untuk mengukur kinerja pegawai. Melakukan review SOP agar SOP yang sudah dibuat bisa dijalankan tanpa ada hambatan 7. Para pegawai akan lebih memiliki percaya diri dalam bekerja dan tahu apa yang harus dicapai dalam setiap pekerjaan c. SOP digunakan untuk menilai apakah pekerjaan tersebut sudah dilakukan dengan baik atau tidak c. yaitu :  Simple Steps Prosedur yang singkat dan tidak membutuhkan banyak keputusan yang ditulis. Uji SOP sebelum dijalankan. Mendesign SOP sesuai dengan hasil observasi dan hasil referensi untuk menambah ketajaman dari design sop d.

7) Mencegah adanya pemeriksaan yang tidak perlu. dapat ditulis dalam bentuk ini. 14) Menggunakan prinsip pengecualian dengan sebaik-baiknya 7. Ada beberapa symbol-simbol dari flowchart. Pengaruh SOP Rumah Sakit . 9) Pembagian tugas tepat.  Flowchart Prosedur yang memiliki banyak keputusan. 5) Mencegah kekembaran (duplikasi) pekerjaan. terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan yaitu : 1) Prosedur kerja harus sederhana sehingga mengurangi beban pengawasan. 13) Pekerjaan tata usaha harus diselenggarakan sampai yang minimum. karena simbol-simbol ini memiliki arti dan makna yang berbeda. Dalam menyusun suatu prosedur kerja. 12) Tiap pekerjaan yang diselesaikan harus memajukan pekerjaan dengan memperhatikan tujuan. 2) Spesialisasi harus dipergunakan sebaik-baiknya. 8) Prosedur harus fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kondisi yang berubah. 6) Harus ada pengecualian yang seminimun-minimunya terhadap peraturan. diagram untuk mengilustrasikan apa yang menjadi tujuan dari suatu prosedur.Bentuknya cukup panjang lebih dari 10 langkah. 3) Pencegahan penulisan. 10) Memberikan pengawasan yang terus menerus atas pekerjaan yang dilakukan. gerakan dan usaha yang tidak perlu. gambar.  Graphic Format Bentuk ini sama seperti Hierarchical Steps yaitu cukup panjang lebih dari 10 langkah tetapi tidak terlalu banyak keputusan. 6. tetapi tidak terlalu banyak keputusan. Flowchart merupakan grafik sederhana yang menjelaskan langkah-langkah dalam membuat keputusan. Graphic Format berisikan suatu grafik. Hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan Flowchart ini yaitu pemakaian simbol-simbol dalam penjelasanya. Perbedaannya terletak dalam enyampaiannya. 11) Penggunaan urutan pelaksanaan pekerjaaan yang sebaik-baiknya. 4) Berusaha mendapatkan arus pekerjaan yang sebaik-baiknya.

sosialisasi SOP pada seluruh unit pemakai sarana dan alat kesehatan di rumah sakit yang bersangkutan serta tersedianya suku cadang. Salah satu langkah kunci dalam tujuan tersebut adalah mengembangkan sub sistem pemeliharaan dan optimalisasi pemanfaatan sarana dan alat kesehatan. Responsibilitas (responsibility): pelaksanaan kegiatan organisasi publik dilakukansesuai dengan prinsip-prinsip administrasi yang benar atau sesuai . Penilaian responsivitas bersumber pada data organisasi dan masyarakat. pelatihan tehnisi dan operator alat. bahkan pihak rumah sakit 8. data organisasi dipakai untuk mengidentifikasi jenis-jenis kegiatan dan program organisasi. akan mengakibatkan kerugian yang besar pada pasien.Dalam Kepmenkes No. Perencanaan pengadaan sarana dan alat kesehatan yang matang sesuai kebutuhan baik dari sisi provider maupun konsumen akan meningkatkan pemanfaatan secara optimal. 2003). kalibrasi dan pemeliharaan rutin. jika tata laksana rumah sakit tidak sesuai dengan standart yang telah ditetapkan. 2. (Depkes RI. Peningkatan efisiensi dan efektifitas tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain adanya suatu guideline atau Standart Operational Procedure (SOP) misalnya. pengunjung. sedangkan data masyarakat pengguna jasa diperlukan untuk mengidentifikasi demand dan kebutuhan masyarakat. Responsivitas (responsiveness) : menggambarkan kemampuan organisasi public dalam menjalankan misi dan tujuannya terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Lenvine (1996) mengemukakan tiga konsep yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja pelayanan publik. Keberhasilan penyelenggaraan pelayanan kesehatan di rumah sakit atau fasilitas pelayanan dapat tercapai bila tersedia biaya operasional dan pemeliharaan sarana dan alat kesehatan yang memadai dan untuk itu haruslah disusun petunjuk teknis dan standart operational procedure (SOP) tentang pemeliharaan dan optimalisasi pemanfaatan sarana rumah sakit dan alat kesehatan. 004 tahun 2003 tentang kebijakan dan strategi desentralisasi bidang kesehatan disebutkan salah satu tujuan strategis adalah upaya penataan manajemen kesehatan di era desentralisasi. dalam hal pemeliharan dan pemanfaatan sarana kesehatan dan alat kesehatan. Sebaliknya. yakni : 1.

Penyimpangan dan distorsi kebutuhan obat Menurut WHO dalam upaya memperbaiki manajemen obat diperlukan sistem pengelolaan obat yang efektif dan efisien melalui proses : a. 3. cara mengontrol persediaan. Kelebihan Jenis obat tertentu 3. Oleh karena itu manajer rumah sakit selalu berupaya meningkatkan efektifitas dan efisiensi manajemen obat di Rumah Sakit. menyimpannya. para pejabat politis.dengan kebijakan organisasi baik yang implisit atau eksplisit. c. Pengaturan anggaran obat yang tidak proporsional 6. Akuntabilitas (accountability): menunjuk pada seberapa besar kebijakan dan kegiatan organisasi publik tunduk pada para pejabat politik yang dipilih oleh rakyat. . Tidak efektif dan efisiennya manajemen obat dapat dilihat dari gejala sebagai berikut : 1. B. Perencanaan yaitu seleksi obat yang dibutuhkan dan memperkirakan jumlah yang dibutuhkan b. cara penggunaan oleh pasien dan cara menanggapi keluhan pasien.dan mengatur cara pembelian dan cara pembayarannya. seperti penilaian dari wakil rakyat. Perimbangan manfaat biaya ( Cost Effectiveness ) yang tidak baik 5. Cara peresepan yang tidak rasional dan tidak efektif 7. Kekurangan obat yang terlalu sering dan terjadi pada banyak jenis obat 2. Data akuntabilitas dapat diperoleh dari berbagai sumber. Pengadaan yaitu bagaimana cara melakukan seleksi pemasok. Formularium Rumah Sakit Upaya peningkatan mutu pelayan suatu rumah sakit tidak terlepas dari manajemen obat yang merupakan bagian penting dari manajemen rumah sakit. Distribusi yaitu bagaimana cara menerima barang. dan oleh masyarakat. Penyediaan obat tidak merata 4. Penggunaan yaitu bagaimana cara peresepan. pengangkutan dan pencatatan untuk keperluan monitoring dan pengawasan d. Responsibilitas dapat dinilai dari analisis terhadap dokumen dan laporan kegiatan organisasi. Penilaian dilakukan dengan mencocokan pelaksanaan kegiatan dan program organisasi dengan prosedur administrasi dan ketentuan-ketentuan yang ada dalam organisasi.

Melakukan sosialisasi tentang formularium secara berkala pada semua dokter. Keputusan yang diambil PFT harus ditinjau dan disetujui oleh Direktur dan Staf terkait. menentukan jumlah kelas terapi dan jumlah item obat B. PFT membuat format atau bentuk formularium. B. 2. keamanan dan biaya pengobatan. Formularium berlaku selama dua tahun B.3. Memberi nasehat pada staf medis dan administrasi Rumah Sakit untuk seluruh masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat-obatan.1. jenis obat. . B. Mendefinisikan kategori obat-obatan yang digunakan Rumah Sakit dan menentukan kategori spesifik untuk setiap obat. B. Menetapkan obat yang dapat dimasukkan kedalam formularium berdasarkan manfaat. Pemilihan Obat-obatan untuk masuk dalam formularium berdasarkan penilaian obyektif tentang manfaat.menyetujui atau menolak obatobat baru atau obat yang telah diusulkan oleh anggota staf medis untuk dimasukkan dalam formularium atau obat-obatan yang telah diusulkan untuk dihapus dari formularium. kualitas obat. 3.4. Direktur menetapkan pemberlakuan formularium Rumah Sakit berdasarkan Surat Keputusan Direktur. penyusunan formularium menggunakan prosedur sebagai berikut : B.7. Perangkat Manajemen Obat di Rumah Sakit yang bertanggung jawab melakukan seleksi obat adalah Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) . Mengumpulkan kembali formulir usulan obat dan melakukan tabulasi sesuai kelas terapi. Mengusulkan pemberlakuan formularium Rumah Sakit ke Direktur B. termasuk obat yang sedang dalam penelitian.8.Perencanaan Obat khususnya seleksi obat di Rumah Sakit harus baik.5. harga dan usulan tertentu. produk obat yang sama. B. Menurut Direktorat jenderal Pelayanan Medis Departemen Kesehatan RI tugas PFT adalah : 1. Membuat formulir usulan obat dan membagikan kesemua dokter B.9. PFT harus mengevaluasi. Membuat formularium Yang disetujui penggunaannya oleh Rumah Sakit dan mengadakan revisi terus menerus. PFT harus mengurangi seminimal mungkin duplikasi.6. Dalam kurun waktu dua tahun PFT melakukan evaluasi dan revisi formularium.2.

Memberi masukan kepada instalasi farmasi didalam mengembangkan dan meninjau kebijaksanaan. penyebab dan penggolongan farmakologi obat serta bahan pendukung yang diperlukan.obat yang dipilih secara rasional berdasarkan informasi penggunaannya. 5. Penetapan nama obat yang diperlukan dalam tiap golongan farmakologi. tata tertib dan pengaturan penggunaan obat-obatan di Rumah Sakit sesuai dengan peraturan lokal. Beberapa formularium ada yang mencantumkan harga sehingga dapat membantu penulis resep dalam memilih obat. Mengembangkan dan menyebarkan materi dan program pendidikan yang berkaitan dengan obat-obatan kepada staf medis dan keperawatan Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa salah satu tugas PFT adalah membuat formularium Rumah Sakit. ditentukan berdasarkan pengkajian. Pada dasarnya produk obat yang tertera dalam formularium harus relevan dengan pola penyakit di suatu rumah sakit. gejala. Oleh karena itu pembuatan formularium harus berdasarkan pada pengkajian populasi penyakit penderita. dosis. Regional dan Nasional. subkelompok penyakit terhadap penyakit. kontra indikasi efek samping dan informasi penting yang akan diberikan pada pasien. Pengkajian populasi penderita. Yang disusun oleh PFT. dan penyebab dan kemudian ditentukan golongan farmakologi obat yang diperlukan. yaitu 1. Penetapan peringkat penderita dari tiap kelompok penyakit. Formularium mengandung ringkasan informasi obat didalamnya tercantum antara lain nama generik.4. Kemudian nama obat itulah yang dimasukkan ke dalam formularium rumah sakit. Menurut Departemen Kesehatan RI formularium Rumah Sakit adalah Daftar obat yang disepakati beserta informasi yang diterapkan di Rumah Sakit. Penetapan penyakit. Menurut WHO Formularium adalah susunan daftar . Mengumpulkan dan meninjau laporan tentang efek samping obat 7. 5. gejala dan penyebab dan kemudian terakhir berturutturut dari rekam medik yang berisi kelompok penyakit. Untuk itu. indikasi. Pemilihan nama obat untuk tiap golongan farmakologi didasarkan pada kriteria yang telah ditetapkan terlebih dahulu. 3. 2. Meninjau penggunaan obat-obatan di Rumah Sakit dan mendorong pelaksanaan standar terapi secara rasional 6. 4. gejala. Penetapan peringkat penderita dari tiap subkelompok penyakit. Persentase penderita tiap tahun. Sedangkan Keuntungan Formularium Rumah Sakit adalah : .

Tujuan utama pembuatan formularium menurut Direktorat Pelayanan Medik adalah menyediakan bagi para staf di RS sarana : a. Sedangkan kerugian formularium adalah sebagai berikut : a.    2. Globalisasi dan Krisis Nasional.    untuk kelas terapi yang sama. . khususnya pemberi pelayanan kesehatan primer. c. Informasi pengobatan dasar setiap obat yang telah disetujui. Menghilangkan hak prerogratif dokter terhadap penulisan resep b. Formularium sering tidak sesuai dengan diagnose penyakit tertentu. Informasi yang khusus seperti misalnya peraturan tentang dosis obat. Dari uraian tersebut diatas menunjukkan berapa penting dan bermanfaatnya formularium. Dasar untuk menilai dan membandingkan kualitas pelayanan.   Bagi Pejabat Kesehatan : Mengidentifikasi terapi yang murah dan efektif untuk masalah kesehatan umum. obat yang disediakan akan terpakai karena tidak terjadi perubahan pemakaian obat 3. Terapi lebih baik. singkatan – singkatan yang bisa digunakan di RS. Sebagai sarana intergrasi program. Transformasi. Informasi tentang kebijakan dan prosedur RS yang mengatur penggunaan obatobatan d. Pasien mendapat terapi yang lebih murah. b. Kumpulan Tulisan terpilih tentang Rumah Sakit di Indonesia dalam Dinamika Sejarah.1. DAPUS : Jacobalis.. Bagi Manajemen Rumah Sakit : Pemakaian dana untuk obat-obatan akan lebih efektif dan efisien Karena tidak diperlukan penyedian obat yang bermacam-macam untuk satu jenis kelas terapi. Jakarta. Dengan demikian sangat diperlukan kepatuhan penulisan resep dokter sesuai dengan formularium untuk menjamin pelayanan obat yang baik. Yayasan Penerbit IDI. Departemen Kesehatan melalui Komite Akreditasi Rumah Sakit memberi nilai maksimal 5 pada Rumah Sakit gengan kepatuhan penulisan resep dokter terhadap formularium rata-rata lebih dari 90% atau penyimpangan kurang dari 10%. Informasi obat – obatan yang telah disetujui penggunaannya oleh RS dan telah diseleksi oleh para ahli yang terpilin dalam PFT. Bagi Pasien : Mendorong kepatuhan dokter untuk tetap konsisten.

N. Peran Farmasi Rumah Sakit dalam Menunjang Program Jaminan Mutu Pelayanan Kesehatan Pemerintah. Prinsip Manajemen Rumah Sakit. Jakarta. Hilman..2000. 1989. Guidelines or Manual for Good Hospital Pharmacy Practises and Management. 1988 . Thailand. Dalam A Practical Manual. The Asean Technical Cooperation on Pharmaceuticals Under The Specific Activity. Depkes RI. B. World Health Organization. I. Ganewa.. 1989. Dalam Development of Hospital Pharmacy Management. 1989. Jakarta. Bangkok.. Lembaga Pengembangan Manajemen Indonesia. World Health Organization. Estimating Drugs Requirement. Silalahi dan Bennet.