Latar Belakang

PENDAHULUAN
­­­­­Gangguan   psikosomatis   adalah   faktor   psikologis   yang   merugikan,   mempengaruhi
kondisi medis pasien. Faktor psikologis tersebut dapat berupa gangguan mental, gejala
psikologis, sifat kepribadian atau gaya mengatasi masalah, dan perilaku kesehatan yang
maladaptif.
­­­­Kurang lebih 400 tahun SM ahli filsafat Hipocrates sudah mengutarakan pentingnya
peran faktor psikis pada penyakit. Pada abad pertengahan Paracelcus seorang ahli kimia
menyatakan bahwa kekuatan batin memiliki pengaruh terhadap kekuatan seseorang.
­­­­Menurut  The   National   Academy   Science  tahun   1978   definisi   psikosomatis   adalah
bidang interdisiplin yang memperhatikan perkembangan dan integrasi ilmu pengetahuan
prilaku,   biomedis   dan   teknik   yang   relevan   dengan   kesehatan   dan   penyakit   serta
penerapan pengetahuan, dan teknik­teknik tersebut untuk mencegah, mendiagnosis dan
rehabilitasi.
­­­­Kedokteran psikosomatis menyadari kesatuan dari pikiran dan tubuh serta interaksi
diantara   keduanya,   dimana   faktor   psikologis   penting   dalam   perkembangan   semua
penyakit, namun apakah peranannya dalam memulai, perkembangan, memperberat dan
eksaserbasi   penyakit,   predisposisi   atau   reaksi   terhadap   suatu   penyakit   masih   dalam
perdebatan.   Dengan   demikian   kedokteran   perilaku   adalah   istilah   yang   khusus   untuk
kedokteran psikosomatis.

1

­­­ ­­­­
    TINJAUAN PUSTAKA

Definisi
­­­­­Psikosomatis berasal dari dua kata yaitu psiko yang artinya psikis, dan somatis yang
artinya   tubuh.  Dalam  Diagnostic  And  Statistic  Manual  Of  Mental  Disorders  edisi  ke
empat (DSM IV) istilah psikosomatis telah digantikan dengan kategori diagnostik faktor
psikologis yang mempengaruhi kondisi medis.
­­­­Menurut   Wittkower   psikosomatis   secara   luas   didefinisikan   sebagai   usaha   untuk
mempelajari interelasi aspek­aspek psikologis dan aspek­aspek fisis semua faal jasmani
dalam keadaan normal maupun abnormal. Ilmu ini mencoba mempelajari, menemukan
interelasi dan interaksi antara fenomena kehidupan psikis (jiwa) dan somatis (raga) dalam
keadaan sehat maupun sakit.
Klasifikasi
Kriteria diagnostik DSM-IV-TR untuk faktor psikologis yang memengaruhi
keadaan medis ditunjukkan di dalam Tabel 1. Yang tidak termasuk adalah: (1) gangguan
jiwa klasik yang memiliki gejala fisik sebagai bagian dari gangguan (cth., gangguan
konversi, yaitu gejala fisik ditimbulkan oleh konflik psikologis); (2) gangguan somatisasi,
yaitu gejala fisik tidak didasari oleh patologi organik; (3) hipokondriasis, yaitu pasien
memiliki kepedulian yang berlebihan dengan kesehatan mereka; (4) keluhan fisik yang
sering dikaitkan dengan gangguan jiwa (cth., gangguan distimik yang biasanya memiliki
penyerta somatik, seperti kelemahan otot, astenia, lelah, dan keletihan); serta (5) keluhan
fisik yang dikaitkan dengan gangguan terkait-zat (cth., batuk dikaitkan dengan
ketergantungan nikotin).

2

Tabel 1
Kriteria Diagnostik DSM-IV-TR untuk Faktor Psikologis yang Memengaruhi
Keadaan Medis Umum
A. Terdapat keadaan medis umum (diberi kode pada Aksis III).
B. Faktor psikologis memengaruhi keadaan medis secara berlawanan dalam satu atau
lebih cara
1. Faktor memengaruhi perjalanan keadaan medis umum, seperti yang
ditunjukkan oleh hubungan waktu yang erat antara faktor psikologis dan
timbulnya atau memburuknya, atau tertundanya pemulihan, keadaan medis
umum.
2. Faktor mengganggu terapi keadaan medis umum.
3. Faktor merupakan risiko kesehatan tambahan untuk individu.
4. Respons fisiologis terkait-stres mencetuskan atau rnemperburuk gejala
keadaan medis umum.
Pilih nama berdasarkan sifat faktor psikologis (jika ada lebih darI satu faktor, tunjukkan
yang paling menonjol):
Gangguan mental yang memengaruhi ...[tunjukkan keadaan medis umum]
(cth., gangguan Aksis I seperti gangguan depresif berat menunda pemulihan dari
infark miokardium)
Gejala psikologis yang memengaruhi ...[tunjukkan keadaan medis umum]
(cth.,gejala depresif rnenunda pemulihan setelah pembedahan; asma yang
diperburuk ansietas)
Ciri kepribadian atau gaya koping yang memengaruhi ...[tunjukkan
keadaan medis umum] (cth., penyangkalan patologis kebutuhan operasi pada
pasien kanker; perilaku tertekan dan bermusuhan yang turut menyebabkan
penyakit kardiovaskular)
Perilaku kesehatan maladaptif yang memengaruhi ...[tunjukkan keadaan
medis umum] (cth.,makan berlebihan; tidak ada olah raga; seks yang tidak aman)

3

  Menurut   Thomas   Holmes   dan Richard   Rahe.   Tipe kepribadian   tertentu   yang   pertama   kali   diidentifikasi   berhubungan   dengan kepribadian   koroner   (orang   yang   memiliki   kemauan   keras   dan   agresif   yang 4 .Penelitian   terakhir   telah   menemukan   bahwa orang yang menghadapi stres umum secara optimis bukan secara pesimis adalah orang   yang  cenderung   mengalami   gangguan   psikosomatis..   didalam   skala   urutan   penyesuaian   sosial   (social   read   justment rating   scale)   menuliskan   43   peristiwa   kehidupan   yang   disertai   oleh   jumlah gangguan dan stres pada kehidupan orang rata­rata.Stress Spesifik dan Non Spesifik ­­­­ Stress psikis spesifik dan non spesifik dapat didefinisikan sebagai kepribadian spesifik   atau   konflik   bawah   sadar   yang   menyebabkan   ketidakseimbangan homeostatis   yang   berperan   dalam   perkembangan   gangguan   psikosomatis. atau religius) (Dari American Psychiatric Association.Respons fisiologis Terkait-Stres yang memengaruhi ..   jika   mereka mengalaminya.   perceraian   73   unit. 4th ed. Washington. mereka dengan mudah pulih dari gangguan.Stress Umum ­­­­ Stress  ini dapat berupa suatu peristiwa atau suatu situasi kehidupan dimana individu   tidak   dapat   berespon   secara   adekuat. Etiologi ­­­­Ada beberapa penyebab dari gangguan psikosomatis : 1.[tunjukkan keadaan medis umum] (cth. sebagai contohnya kematian pasangan   100   unit   perubahan   kehidupan. perburukan ulkus karena stres. budaya. 2. hipertensi. faktor interpersonal...  Skala dirancang setelah menanyakan  kepada ratusan orang dengan berbagai latar belakang untuk menyusun derajat relatif penyesuaian yang diperlukan oleh perubahan   lingkungan   kehidupan. copyright 2000).[tunjukkan keadaan medis umum] (cth.   perpisahan perkawinan 65 unit... Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder. dan kematian anggota keluarga dekat 63 unit. atautension headache) Faktor psikologis lain atau tidak terinci yang memengaruhi . Text rev. DC: American Psychiatric Association. aritmia.

Mediator antara stres yang didasari secara kognitif dan penyakit (mungkin disebabkan oleh hormonal) seperti pada sindroma adaptasi umum Hans Selye. Variabel Fisiologis Faktor hormonal dapat menjadi mediator antara stres dan penyakit. Jadi. imunitas dapat mempengaruhi keadaan psikis dan mood. dan variabel lainnya adalah kerja monosit. 3. Harold Wolff (1898-1962) mengamati bahwa fisiologi saluran gastrointestinal tampak berhubungan dengan keadaan emosional yang khusus. Walter Cannon melakukan studi sistematik pertama mengenai hubungan stres dengan penyakit. takikardia. Wolff menganggap reaksi tersebut tidak spesifik. hormon dilepaskan dari hipotalamus dan menuju hipofisis anterior. dimana hidrokortison adalah mediatornya. Hiperfungsi terkait dengan permusuhan. Hal ini berguna pada hewan yang dapat melawan atau lari. hipertensi yang dihasilkan). mediator tersebut mungkin dapat mengubah fungsi sumbu hipofisis anterior hipotalamus adrenal dan penciutan limfoit. stres berikutnya menimbulkan penyakit (cth. Variabel penyebab lainnya mungkin adalah kerja dari monosit.cenderung mengalami oklusi miokardium). tetapi pada orang yang tidak dapat melakukannya karena beradab. dimana hormon tropik tersebut berinteraksi secara langsung atau melepaskan hormon dari kelenjar endokrin lain. mengingat bahwa reaksi pasien ditentukan oleh situasi kehidupan umum dan penilaian persepsi terhadap peristiwa yang menimbulkan stres. Ia menunjukkan bahwa perangsangan sistem saraf otonom memudahkan organisme untuk respons ``fight or flight" yang ditandai dengan hipertensi.. William Beaumont 5 .2 Pada tahun 1950-an. dan meningkatnya curah jantung. dan hipofungsi dengan kesedihan. Monosit berinteraksi dengan neuropeptida otak (yang berperan sebagai pembawa pesan (messager) antara sel-sel otak). Lebih dini lagi. Patofisiologi – Teori Stres Pada tahun 1920. Dalam rantai hormonal.

Bukti terkini mengesankan bahwa meskipun glukokortikoid cenderung meningkatkan fungsi serotonin secara keseluruhan. yang telah dikaitkan di dalam patofisiologi gangguan depresif berat. mukosa dapat menjadi hiperemik atau memucat. Beaumont mencatat bahwa selama keadaan emosional yang sangat hebat.2 Respon Neurotransmiter terhadap Stres Stresor mengaktifkan sistem noreadrenergik di otak (paling jelas di locus ceruleus) dan menyebabkan pelepasan katekolamin dari sistem saraf otonom. idealnya adaptasi dicapai.Martin. yang menjadi terkenal karena luka akibat tembakan senjata yang menyebabkan fistula lambung yang permanen. seperti yang dibuktikan dengan meningkatnya pergantian serotonin. yang dapat memiliki kaitan untuk fungsi serotonergik pada depresi dan penyakit-penyakit terkait. menurut definisi. (2) tahap resistensi. Stresor juga mengaktifkan sistem serotonergik di otak. Contohnya. bukan sebagai pengatur hormonal fungsi aksis 6 . Ia menganggap stres sebagai respons tubuh yang tidak spesifik terhadap tuntutan apapun yang disebabkan baik oleh keadaan menyenangkan atau tidak menyenangkan. Sejumlah studi menunjukkan bahwa corticotropin-releasing factor (CRF) (sebagai neurotransmiter. glukokortikoid dapat meningkatkan kerja serotonin yang diperantarai oleh 5-HT 2. Untuk menerima kedua jenis stres— menyenangkan atau tidak menyenangkan—membutuhkan adaptasi. adaptasi atau resistensi yang didapat bisa hilang. ahli bedah militer Amerika. mungkin terdapat perbedaan pengaturan glukokortikoid dengan subtipe reseptor serotonin. menunjukkan bahwa aliran darah ke lambung dipengaruhi oleh emosi.(1785-1853). sehingga turut menyebabkan penguatan kerja tipe reseptor ini. tidak harus selalu tidak menyenangkan. Ia menyebut stres yang tidak menyenangkan sebagai "penderitaan". Stres juga meningkatkan neurotransmisi dopaminergik pada jaras mesoprefrontal. Neurotransmiter asam amino dan peptidergik juga terlibat di dalam respons stres. Seyle yakin bahwa stres. memiliki pasien yang bernama Alexis St.2 Hans Seyle (1907-1982) mengembangkan suatu model stres yang disebut sindrom adaptasi umum. dan (3) tahap kelelahan. Model ini terdiri atas tiga fase: (1) reaksi alarm.

CRF disekresikan dari hipotalamus ke sistem hipofisial-hipofisis-portal. Yang menarik. Aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal merupakan pelaku pengendali umpan balik negatif yang ketat melalui produk akhirnya sendiri (yaitu. dan imunitas.hipotalamus-hipofisis-adrenal). Setelah dilepaskan. stres dingin lawan hipotensi) memicu pola pelepasan secretagogue yang berbeda. Di samping CRF. Contoh secretagogue termasuk katekolamin. CRF bekerja di hipofisis anterior untuk memicu pelepasan hormon adrenokortikotropin (ACTH). reproduksi. Respon Imun Terhadap Stres 7 . Respon Endokrin Terhadap Stres Sebagai respons terhadap stres. dan regio otak suprahipotalamik seperti hipokampus. ACTH dan kortisol) di berbagai tingkat. glutamat (melalui reseptor N metil-D-aspartat [NMDA]) dan y-aminobutiric acid (GABA) semuanya memainkan peranan penting di dalam menimbulkan respons stres atau mengatur sistem yang berespons terhadap stres lainnya seperti sirkuit otak dopaminergik dan noradrenergik.. hipotalamus. termasuk hipofisis anterior. Glukokortikoid sendiri memiliki jutaan efek di dalam tubuh. berbagai secretagogue (yaitu zat yang merangsang pelepasan ACTH) dikeluarkan dan dapat memintas pelepasan CRF serta bekerja langsung untuk memutar kaskade glukokortikoid. dan menghambat fungsi seperti pertumbuhan. stresor berbeda (cth. juga menunjukkan bahwa gagasan respons stres yang sama terhadap stresor umum adalah terlalu disederhanakan. tetapi kerjanya dapat dirangkum dalam istilah singkat sebagai meningkatkan penggunaan energi. vasopresin. dan oksitosin. meningkatkan aktivitas kardiovaskular dalam respons "fight or flight". ACTH bekerja di korteks adrenal untuk merangsang sintesis dan pelepasan glukokortikoid.

 Kriteria yang positif (yang biasanya jarang ada) 1. yang dinamakan iatrogen. Inhibisi dapat mencerminkan kerja kompensasi aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal untuk mengurangi efek fisiologis stres lainnya. tidak ada distorsi realitas. Di samping itu. stres juga dapat menyebabkan aktivasi imun melalui berbagai jalur. Sebelum timbulnya psikosomatis. Sitokin ini dapat menyebabkan pelepasan CRF lebih lanjut.   tapi   kelainan   ini   tidak   dapat menerangkan   keluhan   yang   ada   pada   pasien   tersebut. Dengan demikian. terdapat hubungan langsung neuron norepinefrin yang bersinaps pada set target imun. Secara   kebetulan   ada   kelainan   organik. dalam jangka waktu yang cukup lama  dapat menimbulkan kelainan­kelainan organik pada alat­alat yang dikeluhkan.Masih mengakui bahwa dia 8 .  Tidak didapatkan kelainan psikiatri. serta meningkatkan pelepasan epinefrin dari medula adrenal.   Hal   ini   membuatnya menjadi takut. yang di dalam teori berfungsi untuk meningkatkan efek glukokortikoid sehingga membatasi sendiri aktivasi imun. juga terdapat aktivasi imun yang dalam termasuk pelepasan faktor imun humoral (sitokin) seperti interleukin-1 (IL-1) dan IL-6. di dalam menghadapi stresor. khawatir dan gelisah.   Tidak   didapatkan   kelainan­kelainan   organik   pada   pemeriksaan   yang   teliti sekalipun. baik sentral maupun perifer. yang mengaktifkan sistem saraf simpatis. sebab :  Bila penyakit psikosomatik tidak diobati. Bila ada kelainan organik belum tentu bukan psikosomatik. Tidak ada gejala­gejala psikotik yakni tidak ada disintegrasi kepribadian. Sebaliknya. CRF sendiri dapat merangsang pelepasan norepinefrin melalui reseptor CRF yang terletak di locus ceruleus. telah ada lebih dahulu kelainan organiknya tetapi tidak disadari oleh pasien. 2 a.Bagian dari respons stres terdiri atas inhibisi fungsi imun oleh glukokortikoid. walaupun mempergunakan alat­alat canggih. Baru disadari setelah diberitahu oleh orang lain atau   kadang­kadang   oleh   dokter   yang   mengobatinya.   yang   dinamakan  koinsidensi. 2.

 Penuh dengan stress sepanjang kehidupan (stress full life situation) yang menjadi sebab konflik mentalnya. Adanya vegetatif imbalance (ketidakseimbangan susunan saraf otonom). Yang membuat   pasien   rentan   terhadap   faktor   presipitasi   itu. Faktor psikologis secara merugikan mempengaruhi kondisi medis umum dengan cara:  Faktor psikologis telah mempengaruhi perjalanan kondisi medis umum seperti yang ditunjukkan   oleh   hubungan   temporal   yang   erat   antara   faktor   psikologis   dan perkembangan   atau   eksaserbasi   dari   atau   keterlambatan   penyembuhan   dari     kondisi medis umum. presumtif. Adanya perasaan yang negatif yang menjadi titik tolak keluhan­keluhannya.­Faktor   predisposisi   dapat berupa faktor fisik / somatik.  4. Adanya faktor pencetus (faktor presipitasi) proksimal dari keluhan­keluhannya. Keluhan­keluhan pasien ada hubungannya dengan emosi tertentu  2. 2b. masih mau aktif berobat. Yang dimaksud dengan faktor psikologis tersebut adalah:­­  Gangguan   mental   mempengaruhi   kondisi   medis   (misalnya   gangguan   depresi 9 . indikatif untuk penyakit psikosomatis.sakit. dapat pula faktor psikis dan sosiokultural.yang dinamakan shifting phenomen atau alternasi.  3. 7. Kriteria positif (yang biasanya ada) 1.  5.­­­­ Manifestasi klinis ­­­­ Beberapa manifestasi klinis dari gangguan psikosomatis antara lain: 1. stigmata neurotik.  6. biologi. Terdapat suatu kondisi medis umum 2. Faktor psikologis mempengaruhi terapi kondisi medis umum  Faktor psikologis berperan dalam resiko kesehatan individu  Respon psikologis yang berhubungan dengan stres mencetuskan atau Mengeksaserbasi gejala kondisi medis umum. Kriteria­kriteria ini tidak perlu semuanya ada tetapi bila ada satu atau lebih.Adanya faktor predisposisi yang dicari dari anamnesis longitudinal.   Keluhan­keluhan   tersebut   berganti­ganti   dari   satu   sistem   ke   sistem   lain.

 seks yang tidak aman. nyeri perikardial. a. Sifat kepribadian atau gaya menghadapi masalah mempengaruhi kondisi medis (misalnya   penyangkalan   patologis   terhadap   kebutuhan   pembedahan   pada seorang pasien dengan kanker. perilaku bermusuhan dan tertekan berperan pada  penyakit kardiovaskuler). Gangguan kesehatan maladaptif mempengaruhi kondisi medis (misalnya tidak  melakukan olahraga. Gangguan   psikologis   mempengaruhi   kondisi   medis   (misalnya   gejala   depresi memperlambat   pemulihan   setelah   pembedahan.Sistem Kardiovaskuler – Mekanisme   yang   terjadi   pada   psikosomatis   dapat   melalui   rasa   takut   atau kecemasan yang akan mempercepat denyutan jantung. Gangguan Spesifik pada Psikosomatis ­­­­Ada beberapa gangguan spesifik yang dapat disebabkan oleh gangguan psikis:  1. palpitasi. sukar tidur. kultural atau religius). daya pompa jantung dan tekanan darah. ­­­­ Gejala­gejala yang sering didapati antara lain: takikardia. meninggikan daya pompa jantung   dan   tekanan   darah.   menimbulkan   kelainan   pada   ritme   dan   EKG. berat memperlambat penyembuhan infark miokard). Gejala­   gejala   seperti   ini   sebagian   besar   merupakan   manifestasi   gangguan kecemasan. lelah. Faktor   psikologi   lain   yang   tidak   ditentukan   mempengaruhi   kondisi   medis (misalnya faktor personal.   aritmia.   hipertensi. Kehilangan semangat dan putus asa mengurangi frekuensi. merasa seperti akan pingsan.   kecemasan   mengeksaserbasi  asma). napas pendek. makan yang berlebihan) Respon fisiologis yang berhubungan dengan stres mempengaruhi kondisi medis (misalnya   eksasebasi   ulkus. Penyakit arteri koroner ­­­ 10 .   atau   nyeri   kepala   yang  berhubungan dengan stres). aritmia.

  kurang   aktif   berjuang   mencapai   tujuannya. Keadaan ini cenderung terjadi pada kepribadian tipe A.Keadaan ini biasanya ditimbulkan oleh penggunaan tenaga dan stres dan dihilangkan oleh istirahat   atau   nitrogliserin   sublingual. yang ditangani secara buruk. dapat terjadi hipertensi. kompulsivitas dan ketegangan.   tidak   sabar. terapi relaksasi) telah dilaporkan berguna dalam pengobatan hipertensi.  berjuang. yaitu bila terjadi stress kronis pada kepribadian kompulsif yang terpresdiposisi secara genetik yang telah merepresi dan menekan kekerasan.   patuh   dan kompulsif   walaupun   kemarahan   mereka   tidak   di   ekspresikan   secara   terbuka. Meyer Fiedman dan Ray Rosenman mendefinisikan kepribadian tipe A tipe B. Kepribadian tipe A adalah berhubungan erat dengan perkembangan penyakit jantung koroner. kurang agresif.  Untuk   menghilangkan ketegangan psikis yang berhubungan dengan penyakit. Psikoterapi suportif dan dan teknik perilaku (  biofeedback. Mereka tampak memiliki presdiposisi untuk hipertensi.  Mereka cenderung santai. contohnya diazepam. Mereka   sering   agresif. mereka memiliki kekerasan yang terhalangi. klinisi menggunakan obat psikotropika.  dan   marah   jika dihalangi. meditasi.Flanders   Dunbar   menggambarkan   pasien dengan   penyakit   jantung   koroner   sebagai   kepribadian   agresif­kompulsif   dengan kecenderungan   bekerja   dengan   waktu   yang   panjang   dan   untuk   meningkatkan kekuasaan. Mereka adalah orang yang berorientasi tindakan berjuang keras untuk   mencapai   tujuan   yang   kurang   jelas   dengan   cara   permusuhan   kompetitif. tekanan pada dada dan jantung episodik.   banyak   bergerak. b. dengan   suatu   penekanan   psikologis   untuk   menghilangkan   stres   psikis. Hipertensi esensial ­­­­ Orang   dengan   hipertensi   tampak   dari   luar   menyenangkan. 11 . Kepribadian tipe B adalah kebalikannya.Penyakit arteri koroner menyebabkan penurunan aliran darah ke jantung yang ditandai oleh rasa tidak nyaman.Terapi medis harus suportif dan menentramkan.

  Reaksi tersebut menyebabkan penurunan pasokan darah ke otak. g. Aritmia jantung  Aritmia yang potensial membahayakan hidup kadang­kadang terjadi dengan luapan emosional dan trauma emosional. sehingga terjadi hipoksia otak dan kehilangan kesadaran. Intinya bahwa psikoterapi suportif adalah penting pada pengobatannya.   sampai   pada   keyakinan 12 . e. dari vasodilatasi pembuluh darah didalam tungkai. f.c. Penyakit Jantung Psikogenik Beberapa pasien adalah bebas dari penyakit jantung tetapi masih mengeluh gejala   yang   mengarah   ke   jantung. Fenomena Raynaud ditandai dengan penyempitan abnormal pembuluh darah lokal.  Rasa khawatir atau takut akut menghambat impuls untuk berkelahi atau melarikan diri. sering kali bermakna  dalam  memulai  atau  eksaserbasi gangguan. perubahan hormonal (hipotiroid) dan trauma (frostbite).   Mereka   seringkali   menunjukkan   keprihatinan morbid   tentang   jantung   mereka   dan   rasa   takut   akan   penyakit   jantung   yang meningkat. Gagal jantung kongestif ­­­­ Faktor psikologis seperti stres. Sinkop vasomotor (vasodepressor) ­­­ Sinkop vasomotor ditandai oleh kehilangan kesadaran secara tiba­tiba yang disebabkan oleh serangan vasovagal.   Rasa   takut   mereka   dapat   terentang   dari   masalah   kecemasan   yang dimanifestasikan   oleh   fobia   atau   hipokondriasis   parah. d. dan konflik emosional non spesifik. dengan demikian menampung darah di anggota gerak bawah. sistemik lupus eritematosus dan skleroderma). Fenomena Raynaud sering juga dikaitkan dengan penyakit autoimun (reumatoid arthritis. Fenomena Raynaud ­­­­ Fenomena   Raynaud   seringkali   disebabkan   oleh   stress   eksternal.

 pseudo asma. Hay fever ­­­­ Faktor   psikologis   yang   kuat   berkombinasi   dengan   elemen   energi   untuk menimbulkan  Hay   Fever.   alergik. Walaupun pasien asma karateristiknya memiliki kebutuhan akan ketergantungan yang berlebihan.  Keluhan umum.  Gejala­gejala sentral seperti gangguan penglihatan berupa mata kabur yang dikenal sebagai Blury eyes.  Obat   antiansietas   dapat   digunakan   pada kecemasan yang berat. 13 . distonia pulmonal (hochrein). Pasien asmatik harus diterapi dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu antara lain menghilangkan stres. seperti kaki dan tangan dingin yang sangat menganggu. Sistem pernafasan a. Gambaran klinis berupa:  Parastesia.   stres   akut   dan   kronis   semuanya   berperan dalam   menimbulkan   penyakit. Penderita juga mengeluh bingung. sakit kepala dan pusing.   dan   alergik   harus dipertimbangkan sebagai terapi hay fever. penyesuaian diri. dan sensitif terhadap cuaca. Sering dijumpai kelainan yang menyerupai angina pektoris dan juga ditemukan pada kelainan fungsional jantungdan sirkulasi.  Stimuli   emosi   bersama   dengan   alergi   penderita menimbulkan konstriksi bronkioli bila sistem saraf vegetatif juga tidak stabil dan mudah terangsang.waham   bahwa   mereka   menderita   penyakit   jantung. lemas.  Pengobatan   psikofarmaka ditujukan   pada   gejala   yang   menonjol. terutama pada ujung tangan dan kaki. tidak ada tipe kepribadian yang spesifik yang telah diindentifikasi.  sesak  dan perasaan tidak dapat bernafas bebas.   medis.  Cepat lelah. b. 2.   infeksi.  Keluhan  pernafasan  seperti   dispneu. menghilangkan alergi serta mengatur kerja sistem saraf vegetatif dengan obat­ obatan.  takipneu. c.  batuk  kering. Sindroma hiperventilasi ­­­­ Sindroma hiperventilasi disebut juga dispneu nerveous (freud). Asma bronkialis ­­­­ Faktor   genetik.  Faktor   psikiatrik. mengantuk.  Keluhan jantung.

 Gastritis ­­­ Kriteria psikologis  diperlukan karena diagnosis dengan penemuan  negatif organis dan keluhan vegetatif tidak mencukupi. Gejala bersifat neurosis  2. Tuberkulosis ­­­ ­Onset   dan   perburukan   tuberkulosis   sering   kali   berhubungan   dengan   stres akut dan kronis. sering datang terlambat ke dokter.d.   selalu   was­was. 14 .   sangat   aktif   dalam   berbagai bidang. sering terlambat makan. Dari evaluasi psikis ditemukan: 1. Faktor psikologis mempengaruhi sistem kekebalan dan mungkin mempengaruhi   daya   tahan   pasien   terhadap   penyakit. Pengenalan terhadap penyakitnya ­­­ ­Tidak menghiraukan penyakitnya. Sifat kepribadian itu antara lain: 1.      5. 2. b. Umur ­­­­ Terbanyak   pada  usia  30­an. merasa sakit ulu hati tapi masih mau bekerja terus.       4. Depresi dan anxietas  3. kesulitan   dalam  bidang ekonomi dan keluarga. Berkeinginan untuk dirawat dan dimanja dan untuk memiliki objek yang diinginkan. Sistem gastrointestinal a.Tingkah laku ­­­­ Orang   tersebut   biasanya   tegang.Ulkus peptikum Sifat kepribadian ulkus menjadi faktor presdiposisi.  Psikoterapi   suportif   adalah berguna karena peranan stres dan situasi psikososial yang rumit.Tidak mudah menerima kenyataan bila dia gagal.Pertanggungjawaban ­­­­ Mempunyai   tanggung   jawab   yang   sangat   besar   bahkan   sampai   memikirkan pekerjaan orang lain. karena   banyak  faktor  stres.Kepandaian ­­­­ Mempunyai kepandaian dalam berbagai bidang yang dikerjakan sekaligus pada waktu yang bersamaan  3. 3.

Penyakit Crohn Penyakit Crohn adalah penyakit peradangan usus yang terutama mengenai usus halus dan kolon.  Pasien   cenderung  suka   kebersihan. c. Faktor sosial ­­­­ Sering   ditemukan   dikota   besar   dan   daerah   industri. Kolitis ulserativa ­­­­ Tipe   kepribadian   dari   pasien   dengan   Kolitis   ulserativa   menunjukkan   sifat kompulsif   yang   menonjol. intelek. famotidine. Stres non spesifik dapat memperberat penyakit ini.   tepat waktu. dan penurunan berat badan. 15 .6.Stres   dan   kecemasan   yang disebabkan   oleh   berbagai   konflik   yang   tidak   spesifik   dapat   menyebabkan hiperasiditas   lambung   dan   hipersekresi   pepsin. d.Kulit hitam lebih jarang dibandingkan kulit putih. malu­malu. dan terinhibisi dalam mengungkapkan kemarahan. Terapi medis terdiri dari tindakan medis nonspesifik. seperti antikolinergik dan anti diare.   tertib.Biofeedback  dan terapi relaksasi mungkin berguna. Jenis kelamin/ bangsa ­­­­ Laki­laki lebih sering dibandingkan wanita. Gejala yang lazim mencakup diare.  Terapi yang dianjurkan pada kolitis ulserativa yang akut adalah psikoterapi yang non konfrontatif dan suportif dengan psikoterapi interpretatif selama periode tenang. nyeri abdomen.   yang   menyebabkan   suatu ulkus. Terapi medis lain yang digunakan adalah cimetidine. 7. Penyakit ini prevalensinya lebih kecil dibandingkan dengan kolitis ulseratif. Satu studi mengenai gejala psikiatrik pada penyakit Crohn sebelum onset gejala fisik menemukan angka yang lebih tinggi (23%) adanya gangguan panik sebelumnya daripada subjek kontrol dan subjek dengan kolitis ulseratif. sering dengan periode remisi yang diikuti periode gejala akut. Perjalanan penyakitnya bersifat kronis.   rapi.Psikoterapi   merupakan   terapi   yang   dapat   dipakai   untuk   konflik ketergantungan pasien.

4. rasa takut yang kuat terhadap kenaikan berat badan.  Mereka   seringkali   memiliki   rasa   marah   yang   terepresi   tentang pembatasan   fungsi   otot­otot   mereka. Teknik behaviour modification bertujuan untuk mengubah kebiasaan makan. Pasien artritis merasa terkekang. Menyediakan nilai untuk pengendalian yang berhasil. Sistem muskuloskletal a. Terapi yang dianjurkan adalah pembatasan diet dan penurunan asupan kalori. 2.Faktor   psikologis adalah penting pada obesitas hipergrafik (makan berlebihan). ­Anoreksia nervosa  Ditandai   oleh   perilaku   yang   diarahkan   untuk   menghilangkan   berat   badan. Obesitas ­­­­ Terdapat   presdiposisi   familial   genetika   pada   obesitas. Deskripsi tingkah laku untuk mengidentifikasi unsur mana dalam tingkah laku itu yang dapat diubah. e. Artritis rematoid ­­­­ Stress  psikologis mungkin mempresdiposisikan pasien pada artritis rematoid dan penyakit autoimun melalui supresi kekebalan.  3.  Karena   banyak  pasien  artritis  memiliki   riwayat   aktivitas   fisik  yang menjadi   terbatas. terikat dan   terbatas.   yang   memperberat   kekakuan   dan   imobilitas mereka.  16 .e. Pengendalian stimuli yang mendahului makan. 4. penurunan berat badan. Memperlambat proses makan. pola aneh dalam menangani makanan. Dukungan emosional dan modifikasi perilaku adalah membantu untuk kecemasan dan depresi yang berhubungan dengan makan berlebihan dan diet.   dan   faktor perkembangan   awal   ditemukan   pada   obesitas   masa   anak­anak. dan gangguan mengenai citra tubuh. salah satu programnya sebagai berikut: 1.

Pasien dengan nyeri punggung bawah sering melaporkan bahwa nyeri dimulai pada waktu trauma psikologis atau stres. takut. Reaksi pasien terhadap nyeri sangat emosional. kebudayaan  b.Kriteria diagnostik untuk rasa sakit psikosomatis adalah :        Saat rasa sakit bersamaan dengan krisis emosional  Kepribadian yang khusus  Perbedaan frekuensi pada pria dan wanita  Hubungan dengan gangguan psikosomatis yang lain  Riwayat keluarga Hilang timbul Hilang pada perubahan lingkungan. Dokter yang memeriksa terutama harus mewaspadai pasien dengan riwayat trauma punggung minor disertai nyeri berat. distribusi nyeri jarang mengikuti distribusi neuroanatomis normal dan lokasi serta intensitasnya dapat bervariasi. Tanda dan gejala bervariasi antarpasien. Gangguan ini sering disertai dengan sciatica. Nyeri punggung bawah Nyeri punggung bawah mengenai hampir 15 juta orang Amerika dan merupakan salah satu alasan utama untuk tidak masuk bekerja dan untuk keluhan cacat yang dibayarkan pada pekerja oleh perusahaan asuransi. 17 . fraktur pada punggung. tetapi yang lainnya (mungkin 50 persen) merasa nyeri secara bertahap dalam periode waktu berbulan-bulan. atau bahkan panik. dan sakroilika. dan kelemahan atau baal. parestesia. defek kongenital spinal bawah. lumbosakral. semuanya dapat disertai oleh ansietas. Daerah yang paling sering terkena adalah regio lumbal bawah. gerakan terbatas. banyak pula penyebab yang bersifat psikosomatik. pergaulan. paling sering terdiri atas nyeri yang menyiksa. Meskipun nyeri punggung bawah dapat disebabkan oleh ruptur diskus intervertebra. dengan ansietas dan depresi berlebihan. Lebih lagi. dengan nyeri yang menjalar ke bawah ke salah satu atau kedua bokong atau mengikuti distribusi nervus iskiadikus. atau ketegangan otot ligamentosa.

 Hipertiroidisme ­­­ Hipertiroidisme   (tirotoksikosis)   adalah   suatu   sindroma   yang   ditandai   oleh perubahan biokimiawi dan psikologis yang terjadi sebagai akibat dari kelebihan hormon tiroid   endogen   atau   eksogen   yang   kronis.Menurut Sarno. dan terapi seperti manipulasi spinal dan sesi terapi fisik yang diperintahkan digunakan minimal. Diabetes melitus ­­­­ Diabetes melitus adalah suatau gangguan metabolisme dan sistem vaskuler yang dimanifestasikan   oleh   gangguan   penanganan   glukosa. takikardi.  b. patofisiologi yang terlibat adalah vasospasme pembuluh darah yang mendarahi otot. yang sangat sensitif terhadap perubahan emosi. eksitabilitas. palpitasi dan   muntah.   iritabilitas.   lemak.   insomnia. Sebuah analogi dapat diberikan pada vasospasme arteria koronaria yang menyebabkan angina. 5.   mengekspresikan   rasa   takut   yang berlebihan terhadap ancaman kematian. Aktivitas fisik harus dilanjutkan sesegera mungkin. Terapi mencakup pemberian edukasi kepada pasien mengenai komponen fisiologis (vasospasme) dan membantu mereka memahami cara kerja pikiran dan konflik yang timbul dari afek yang tidak disadari.   dan   protein   tubuh. Vasospasme diperantarai oleh sistem saraf otonom. diare. saraf. penurunan berat badan. stres emosional kronis.   bicara   tertekan. Gangguan ini terjadi akibat gangguan sekresi atau kerja insulin  Riwayat herediter dan keluarga   sangat   penting   dalam   onset   diabetes.  Onset   yang   mendadak   sering   kali berhubungan   dengan   stres   emosional   yang   mengganggu   keseimbangan   homeostatik pasien   yang   terpredisposisi. khususnya kemarahan. Iskemia dan kurangnya oksigen menyebabkan nyeri di area yang terlibat.   Gejala   dan   keluhan   psikiatrik   yang   muncul   antara   lain   ketegangan. atau tendo yang terlibat.­Gejala   medis   yang   sering   muncul   berupa intoleransi panas. Sistem endokrin a.  Meninger   berpendapat   bahwa   ada   hubungan   antara 18 . Pasien mengerti bahwa pikiran menggantikan nyeri fisik untuk nyeri emosi sehingga pikiran yang disadari tidak harus menghadapi konflik. keringat berlebihan. dan afek yang tidak disadari.

 Depresi b. Banyak gejala psikologis yang dihubungkan dengan menopause. diabetes juga membaik. c. Fatigue (letih) Faktor psikologis yang tampak signifikan adalah yang mencetuskan perasaan frustr asi. Anxietas c.   perubahan   kadar   estrogen. depresi. dan kesedihan. Gejala   biasanya   dimulai   segera   setelah   ovulasi. ketegangan.   dan   psikologis   umum   yang   berhubungan   dengan   siklus   menstruasi.   dan mencapai intensitas maksimum kira­kira lima hari sebelum periode menstruasi dimulai. dan biologis telah terlibat didalam patogenesis gangguan. Gangguan endokrin wanita ­­­­ Premenstrual   syndrome  (PMS). dengan alasan:  Jelas adanya gangguan mental sebelum timbulnya penyakit diabetes   Gangguan mental yang lain dari gejala mental yang timbul pada penyakit     hati atau hipoglikemi  Penyembuhan gangguan mental pararel dengan keadaan kadar gula darah   Gangguan metabolisme karbohidrat dan glukosuria membaik dengan diet   Dengan sembuhnya gangguan mental. mereka sering makan dan minum berlebihan sehingga akan menyebabkan kadar glukosa di atas normal.Tanda   dan   gejala   fisik   adalah   keringat   malam. labilitas emosional. Ketika depresi dan sedih.  Keadaan   ini   kemungkinan   berhubungan dengan sekresi  luteinizing hormone  (LH).   meningkat   secara   bertahap. kelelahan.   dan terdapat   rasa  panas  pada   tubuh  (hot   flush). kesepian.   progesteron.   rasa kesehatan   fisik. dan   insomnia. Secara   khusus. Fungsi yang tergantung pada estrogen hilang 19 . pening. Pasien dengan diabetes harus mempertahankan kendali diet dalam penyakit diabetesnya.   muka   kemerahan.psikoneurotik dengan diabetes. Faktor psikososial. mudah marah (iritabilitas). termasuk kecemasan.   adalah   suatu   keadaan   yang   terjadi setelah   tidak   adanya   periode   menstruasi   selama   satu   tahun   yang   disebut   menopause. Menurut Meninger ada 3 gangguan mental yang dijumpai pada diabetes: a.   ditandai   oleh   perubahan   subjektif   mood.   dan   prolaktin   dihipotesiskan berperan penting sebagai penyebab. ­­­­Penderitaan   menopause   (menopause   distress).

  Pada meningitis. disertai oleh vaginitis. Pada ensefalitis.Penyakit infeksi ­­­­ Penelitian klinis menyatakan bahwa variabel psikologis mempengaruhi kecepatan pemulihan dari mononukleosis infeksius dan influensa. 6.secara   berurutan. jumlah deplesi   hormon.   kemampuan   konstitusional   wanita   untuk   menahan   proses   ketuaan. seperti osteoporosis dan aterosklerosis coroner. kemungkinan rentan terhadap kesulitan selama menopause. dispareunia. pruritus.­­­­ Kesulitan psikiatrik yang bermakna secara klinis dapat berkembang selama siklus kehidupan fase involusional.   dan  wanita   mungkin   mengalami   perubahan  atrofik  pada   permukaan mukosa. b. seperti harga diri yang rendah dan kepuasan hidup yang rendah. dapat timbul gejala halusinansi.   dan perubahan   tersebut   mungkin   disertai   oleh   sejumlah   masalah   medis   yang   terjadi   pada tahun­tahun pasca menopause.Stres dan keadaan psikologis yang buruk   menurunkan   daya   tahan   terhadap   tuberkulosis   dan   mempengaruhi   perjalanan penyakit.Gangguan alergi ­­­­ Bukti   klinis   menyatakan  bahwa  faktor  psikologis  berhubungan   dengan  pencetus alergi.   kemungkinan   sebagai   efek   sekunder   dari   penurunan   kadar   estrogen. 20 . Gangguan kekebalan a. sakit kepala. kesehatan. Wanita   mungkin   juga   mengalami   perubahan   dalam   metabolisme   kalsium   dan lemak.   Asma   bronkial   adalah   contoh   utama   proses   patologis   yang   melibatkan hipersensitifitas segera yang berhubungan dengan proses psikososial. dan tingkat aktivitas mereka.  Dengan demikian  perkembangan penyakit sangat dipengaruhi oleh keadaan psikologis orang. serta arti psikologis ketuaan bagi mereka.Wanita yang sebelumnya mengalami kesulitan psikologis. gangguan memori dan demam dengan kaku kuduk. Keparahan gejala menopause tampaknya berhubungan dengan kecepatan pemutusan hormon. psikosis dan perubahan kepribadian. dapat timbul keadaan konfusi akut. dan stenosis.

c. b. ketidakmampuan.Masalah keluarga ­­­­ Kecemasan   dan   depresi   dalam   anggota   keluarga   memerlukan   intervensi   yang aktif. Kanker a.   kecemasan.   fungsi   peran   dan   finansial. kecemasan dan depresi   mempengaruhi   sistem   kekebalan   yang   berperan   dalam   mekanisme   penolakan transpalantasi organ.Masalah pasien ­­­­ Reaksi psikologis mereka adalah rasa takut akan kematian. Setengah dari pasien kanker menderita gangguan mental berupa gangguan penyesuaian 68%.Pruritus menyeluruh ­­­­ 21 . c.   kemarahan. Gangguan kulit a.Keluarga harus memberikan pelayanan untuk pasien.Transplantasi organ ­­­­ Pengaruh psikososial seperti kehidupan yang penuh dengan stres. gangguan depresi berat 13% dan delirium 8%. 8. cacat.Masalah yang berkaitan dengan pengobatan Terapi radiasi ­­­­ Efek   samping   terapi   radiasi   adalah   ensefalopati   yang   berhubungan   dengan peningkatan tekanan intrakranial. Kemoterapi ­­­­  Efek samping kemoterapi berupa mual dan muntah  Rasa sakit  Pasien kanker dengan rasa sakit memiliki insidensi depresi dan kecemasan yang lebih tinggi dibanding mereka yang tanpa rasa sakit. 7. rasa   takut   diterlantarkan   dan   kehilangan   kemandirian. Pada pasien kanker sering ditemukan pikiran dan keinginan bunuh diri.   dan   rasa   bersalah.   rasa   takut   diputuskan   dari hubungan.

c. 22 . dengan lesi yang ditandai oleh sisik berwarna keperakan dengan eritema homogen yang berkilatan di bawah sisik. Ansietas atau depresi memperburuk dermatitis atopik dengan menimbulkan perilaku menggaruk. Sulit untuk mengendalikan efek merugikan psoriasis pada kualitas hidup. d. anak-anak memiliki gejala yang lebih ringan. karena manusia memiliki 2 mekanisme berkeringat yaitu termal   dan   emosional. dan gejala depresif tampak memperkuat persepsi gatalnya.   Berkeringat   termal   paling   jelas   pada   dahi.Pruritus   psikogenik   menyeluruh   adalah   tidak   ada   penyebab   organik   . b. Pasien dermatitis atopik cenderung lebih cemas dan depresi daripada kelompok kontrol klinis dan bebas-penyakit.   punggung tangan dan lengan bawah.  Berkeringat   emosional   terutama   tampak   pada   telapak   tangan. gatal. telapak   kaki   dan   aksila.kemarahan yang   terekspresi  dan   kecemasan   yang  terekspresi   merupakan   penyebab   paling   sering. karena secara disadari atau tidak mereka menggaruk dirinya sendiri secara kasar. Psoriasis Psoriasis adalah penyakit kulit kronik dan kambuhan. Dermatitis Atopik Dermatitis atopik adalah gangguan kulit kronis yang ditandai dengan pruritus dan peradangan (eksema). Di dalam keluarga yang mendorong kemandirian.   kemarahan   dan   ketegangan   dapat   menyebabkan meningkatnya sekresi keringat. yang sering dimulai sebagai erupsi eritematosa.  Ketakutan. sedangkan sikap terlalu melindungi dari orang tua mendorong perilaku menggaruk.Hiperhidrosis­­­­ Hiperhidrosis   dipandang   sebagai   fenomena   kecemasan   yang   diperantarai   oleh sistem   saraf   otonom. pruritus setempat juga dapat terjadi misalnya pruritus ani dan vulva. Selain pruritus menyeluruh. dan berbentuk makulopapular.   leher. Sejumlah studi pada anak dengan derrhatitis atopik menemukan bahwa mereka dengan masalah perilaku memiliki penyakit yang lebih berat.

bukannya peristiwa kehidupan utama yang menimbulkan stres. dengan atau tanpa gangguan visual dan gastrointestinal (cth. Tension Headache 23 . Stres karena psoriasis dapat lebih berhubungan dengan kesulitan psikososial yang ada di dalam hubungan interpersonal pasien dengan psoriasis daripada dengan keparahan atau kekronisan aktivitas psoriasis. termasuk skizoid. terjadi sampai delapan kali dalam sehari. Tartrate (Cafergot). Psikoterapi bermanfaat untuk menghilangkan efek konflik dan stres. Cluster headache dikaitkan dengan migrain. b. Stres juga merupakan pencetus. Nyeri kepala a. dan fotofobia) terkait. Sakit kepala ini mungkin disebabkan oleh gangguan fungsi sirkulasi kranial. menghindar. muntah. Pasien sering menggambarkan stres oleh karena penyakit akibat kecacatan kosmetik dan stigma sosial pada psoriasis. Mekanisme terjadinya migren psikosomatis berupa:  Vasospasme arteri serebri  Distensi arteri karotis eksterna  Edema dinding arteri ­­­­ Pada periode prodromal migren paling baik diobati dengan Ergotamine. Studi terkontrol menemukan bahwa pasien psoriatis memiliki tingkat depresi dan ansietas yang tinggi dan serta komorbiditas yang signifikan dengan serangkaian gangguan kepribadian. dan tidak dapat mengekspresikan kemarahan.Hal ini dapat menimbulkan stres yang pada gilirannya akan memicu lebih banyak psoriasis. yang dapat menjadi penyebab prevalensi yang tinggi pada perempuan.. dan banyak orang dengan migrain bersifat terlalu terkontrol. Migrain ­­­­ Migrain   adalah   ganguan   paroksismal   yang   ditandai   oleh sakit kepala unilateral berulang. 9. gangguan ini unilateral. Migrain dapat dicetuskan oleh estrogen. dan analgetik. mual. perfeksionis. pasif-agresif. dan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif.

orang tersebut dapat diterapi dengan agen antiansietas. Stress emosional sering kali disertai kontraksi otot kepala dan leher yang lama yang selama beberapa jam dapat menyempitkan pembuluh darah yang menyebabkan iskemia. atau muntah. Psikoterapi merupakan terapi yang efektif bagi orang yang mengalami tension headache kronis. Kulit kepala dapat nyeri bila disentuh.2 Tension headache sering dikaitkan dengan ansietas dan depresi dan dapat terjadi pada kira-kira 80 persen orang selama periode stres emosional. Streckter telah menganalisis gejala yang paling sering didapati yaitu. dan sebaliknya dengan migrain.  89% terlalu memperhatikan gejala­gejala pada badannya dan 45% merasa kecemasan. pada pasien psikosomatis perlu ditanyakan beberapa faktor yaitu: 24 . Pada 239 penderita dengan gangguan psikogenik. Oleh karena itu. Gejala berupa nyeri tumpul. sering dimulai pada suboksipital dan dapat menyebar di seluruh kepala. Belajar menghindari atau menghadapi tegangan dengan lebih baik adalah pendekatan pengelolaan jangka panjang yang paling efektif.   tetapi   tidak didapatkan penyakit atau diagnosis tertentu. Kepribadian yang tegang. Latihan relaksasi dan meditasi juga bermanfaat bagi beberapa pasien. Pada keadaan awal. sakit kepala ini biasanya bilateral dan tidak disertai dengan prodromata. Pemeriksaan ­­­­Biasanya   penderita   datang   kepada   dokter   dengan   keluhan­keluhan. terutama dengan atau tanpa aura. mual. relaksan otot. Kepribadian tipe A yang tegang. antidepresan dapat diresepkan jika ada depresi yang mendasari. kadang-kadang merasa seperti ikatan yang mengencang.Terjadi pada 80% populasi selama periode stress  emosional. namun selalu disertai dengan keluhan dan masalah. berjuang keras dan kompetitif peka terhadap gangguan ini. lekas gugup. Tension headache dapat bersifat episodik atau kronis dan perlu dibedakan dengan sakit kepala migrain. Biofeedback dengan menggunakan feedback elektromiogram (EMG) dari otot frontal ke temporal dapat membantu beberapa pasien. dan kompetitif terutama rentan terhadap gangguan irii. dan pijat atau pemberian panas di kepala dan leher.

 status didalam keluarga dan stres yang timbul. penyakit­penyakit yang menahun. anak­anak yang nakal dan menyusahkan. Faktor sosial dan ekonomi.   stres   psikologik. 2. 2. perceraian dan kekecewaan dalam hubungan seksual. adiksi terhadap obat­obatan. yang terdiri dari pemeriksaan fisik. Lapangan sosial  c. lingkungan. Faktor kesehatan.   Faktor   psikologik. Faktor perkawinan. yaitu: 1. Lapangan psikis  b. mengobati kelainan fisik dengan obat. pernah masuk rumah sakit. ­­­­ Diagnosis ­­­­Pada   umumnya   penderita   dengan   gangguan   psikosomatis   dapat   dibagi   menjadi   3 golongan. hubungan dengan dengan keluarga dan orang lain. 4.Terdapat keluhan tentang fisik. 3. Quirido membagi cara pemeriksaan dalam 3 lapangan:  a. pekerjaan yang terburu­buru. kesukaran ekonomi. minatnya. kurang istirahat. perselisihan. kebiasaan hidup sehat.   Yang ditujukan pada lapangan sosial dan somatik disebut psikoterapi non identik. pernah dioperasi. akan tetapi tidak terdapat penyakit fisik dan kelainan organik yang dapat menyebabkan keluhan tersebut.1. kepuasan dalam pekerjaan. tembakau. Terdapat  kelainan  organik tetapi  yang primer  yang menyebabkannya  adalah faktor psikologis.   keadaan   jiwa   waktu   dioperasi. 3. Faktor psikologis ini mungkin timbul akibat penyakit organik seperti kecemasan. memperbaiki kondisi sosial ekonomi. ­­­­ Lewis   memberikan   beberapa   kriteria   khusus   untuk   diagnosis   gangguan   psikosomatis 25 . Lapangan somatis ­­­­Yang   ditujukan   pada   lapangan   kejiwaan   dinamakan   psikoterapi   indentik.   waktu   penyakit berat. akan tetapi karena faktor psikologis. Terdapat kelainan organik tetapi terdapat juga gejala lain yang timbul bukan sebab penyakit organik itu. pekerjaan yang tidak tentu.

yaitu: 1. Dasar kestabilan emosi (kepribadian premorbid dan predisposisi). rerganisasi kepribadian. yaitu bahwa gejala­gejala itu secara psikosomatik merupakan manifestasi fisik dari konflik atau penyelesaianmasalah yang tidak memuaskan. 2. pemeriksaan   fisik   yang   teliti   dan   tes   laboratorium   bila   perlu. Terjadinya stres harus memiliki korelasi antara waktu dan timbulnya keluhan. adaptasi yang lebih matang. perbaikan penyakit. reorganisasi gangguan. Setelah dibuat diagnosis gangguan psikosomatis. Adanya suatu stres atau konflik yang menyulitkan penderita.  penderita  dan dokter bersama­sama   berusaha   dan   saling   membantu   melalui   anamnesis   yang   baik.  4. manifestasi dan jalannya yang sangat mencurigakan akan adanya gangguan psikosomatik. terdapat 3 fase terapi yaitu: Fase  1  :  ialah  fase pemeriksaan  dan  pemberian  ketenangan. bertambah beratnya penyakit yang ada. 3. Reaksi penderita terhadap stres ini banyak hubungannya dengan gejala­ gejala yang dikeluhkannya. Dengan pemeriksaan fisik dan laboratorium tidak didapatkan penyakit organik yang dapat menyebabkan gejala­gejala. ­­­­ Untuk diagnosis perlu dievaluasi faktor­faktor sebagai berikut:      Komponen organik versus komponen nonorganik. mengurangi secondary gain terhadap kondisi medisnya. Stres yang menimbulkan gejala­gejala. Beratnya gangguan fisik atau psikologik Penatalaksanaan Tujuan terapi adalah kesembuhan. Gejala­gejala yang didapat mempunyai permulaan. Komponen fungsional nonpsikogenik versus psikogenik. akibat. maksudnya adalah resolusi gangguan.   Diusahakan membuktikan bahwa tidak terdapat penyakit organik dan dijelaskan kepada penderita 26 .  5. serta menjadi patuh dengan pengobatan. meningkatkan kapasitas fisik dan okupasi serta proses penyembuhan.

Terapi keluarga memberikan harapan perubahan hubungan antaranggota keluarga yang sering mengalami stres dan bersikap bermusuhan pada anggota keluarga yang sakit. • Bahwa tubuh kita bereaksi terhadap ketegangan yang terlalu berat. godaan dan kecemasan. Terjadi pengakuan. • Bahwa kita semua mengalami ketegangan.Dokter   menjelaskan   saja   agar   pembicaraan berjalan dengan baik. tidak terlalu menyimpang dari pokok pembicaraan. • Bahwa gejala-gejala itu timbul karena ketegangan sehari-hari dan gangguan emosional. • Bahwa ini akan lebih baik bila pasien mengerti akan penyebab gejala. • Bahwa gejala itu tidak akan segera hilang. meyakinkan serta menenangkan pasien.  Psikoterapi Kelompok dan Terapi Keluarga Pendekatan kelompok memberikan kontak interpersonal dengan orang lain yang menderita penyakit yang sama dan memberikan dukungan untuk pasien yang takut akan ancaman isolasi dan pengabaian.Berikan kesempatan kepada penderita untuk bertanya. • Bahwa kita apabila terlalu terburu-buru akan timbul ketegangan jiwa. • Bahwa kelelahan fisik atau jiwa dapat mengurangi daya tahan tubuh sehingga timbul gejala. diperlukan beberapa waktu.   Untuk memberi keterangan tentang keluhan.   fase   ini   dokter   lebih   banyak   bicara. tanpa sering terganggu dan dalam suasana penuh   kepercayaaan   dan   pengertian. kekecewaan.tentang   mekanisme   fisiologik   serta   keterangan   tentang   gejala­gejala. rahasia. Sering gejala merupakan pekerjaan alat tubuh yang bekerja berlebihan. Pada fase ini pasien yang lebih banyak bicara. Fase   2  :   merupakan   fase   pendidikan. • Bahwa gejala-gejalanya sering terdapat juga pada orang lain yang sudah kita obati. katarsis dan wawancara psikiatrik. Fase 3: ialah fase keinsafan intelektual dan emosional. • Bahwa tidak ada kanker atau penyakit berbahaya lain. dapat dikatakan antara lain : • Bahwa gejala-gejalanya benar ada. tetapi akan hilang atau berkurang bila diobati dengan baik. 27 . Hal ini harus berjalan sangat pribadi. dapat dimengerti kalau ia mengeluh dan menderita.

2 Hipnosis Hipnosis efektif untuk menghentikan merokok dan menguatkan perubahan diet. berbagai respons viseral yang diatur oleh sistem saraf otonom involuntar dapat dimodifikasi dengan pencapaian pembelajaran melalui operant conditioning yang dilakukan di laboratorium. Biofeedback dan teknik-teknik terkait telah berguna pada tension headache. Hipnosis digunakan dalam kombinasi dengan perumpamaan yang tidak disukai (cth.Teknik Relaksasi Edmund Jacobson pada tahun 1983 mengembangkan suatu metode yang dinamakan relaksasi otot progresif untuk mengajarkan relaksasi tanpa menggunakan instrumentasi seperti yang digunakan di dalam biofeedback.. Ketika mereka menghadapi dan menyadari situasi yang menyebabkan tegangan pada otot mereka. sakit kepala migrain. dan denyut jantung. yang melaporkan bahwa pada hewan. Metode ini adalah suatu tipe desensitisasi sistematik—suatu tipe terapi perilaku. faktanya. dan penyakit Raynaud.seperti vasokonstriksi pembuluh darah. pasien dilatih untuk relaksasi. Hal ini membuat manusia mampu mempelajari cara mengendalikan respons fisiologis involuntar tertentu (disebut biofeedback). irama jantung. Studi seperti itu. mengonfirmasi bahwa pembelajaran yang disadari dapat mengendalikan denyut jantung dan tekanan sistolik pada manusia. Perubahan fisiologis ini tampak memainkan peranan yang bermakna di dalam perkembangan dan terapi atau penyembuhan gangguan psikosomatik tertentu. rokok terasa menjijikkan). Terapi Spesifik Sistem kardiovaskular 28 . Beberapa pasien menunjukkan angka relaps yang cukup tinggi dan dapat memerlukan pengulangan program terapi hipnotik (biasanya tiga hingga empat sesi). Pasien diajari untuk merelaksasikan kelompok otot seperti yang terlibat di dalam "tension headache". Biofeedback Neal Miller pada tahun 1969 mempublikasikan tulisan pelopornya "Learning of Visceral and Glandular Response".

Derivat benzodiazepin digunakan untuk menimbulkan sedasi.Diazepam berbentuk tablet 2 dan 5 mg. contohnya diazepam. Sistem gastrointestinal Penggunaan obat psikotropika umum dalam pengobatan berbagai gangguan gastrointestinal (GI). Sistem Pernapasan Pasien asma harus diterapi dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu antara lain menghilangkan stres. Obat antiansietas dapat digunakan bila kecemasan yang timbul berat. menghilangkan alergi serta mengatur kerja sistem saraf vegetatif dengan obat-obatan. pemberian suntikan dapat diulang tiap 3-4 jam. Psikoterapi suportif adalah berguna karena peranan stres dan situasi psikososial yang rumit.dan metabolisme berkaitan dengan gangguan GI yang mendasarinya. Efek GI pada obat psikotropika dapat digunakan untuk efek terapi dengan gangguan GI fungsional. klordiazepoksid dapat diberikan secara oral atau bila sangat diperlukan.Sebuah contoh dari efek samping menguntungkan dari penggunaan TCA untuk mengurangi motilitas lambung pada IBS dengan diare. Pada penderita tuberkulosis. penyesuaian diri. Diazepam tersedia sebagai larutan untuk pemberian rektal pada anak dengan kejang demam. Klorazepam diberikan secara oral 30 mg sehari dalam dosis terbagi. Dosis diazepam adalah 2-20 mg sehari. Pengobatan pada pasien dengan penyakit GI dipersulit oleh gangguan motilitas lambung dan penyerapan. Pengobatan psikofarmaka ditujukan bila terdapat gejala yang menonjol pada penyakit jantung psikogenik. klinisi menggunakan obat psikotropika. Klordiazepoksid tersedia sebagai tablet 5 dan 10 mg. faktor psikologis mempengaruhi sistem kekebalan dan mungkin mempengaruhi daya tahan pasien terhadap penyakit. suntikan dapat diulang 2-4 jam dengan dosis 25-100 mg sehari dalam 2 atau 4 pemberian. Terapi yang digunakan untuk membantu melindungi terhadap aritmia akibat emosi adalah psikotropika dan obat penghambat beta seperti propanolol. untuk menghilangkan ketegangan psikis yang berhubungan dengan penyakit. 29 . dan keadaan psikosomatik yang ada hubungan dengan rasa cemas. Sebagai antiansietas. menghilangkan rasa cemas.Pada penyakit arteri koroner.

3.Sistem neurologis Migrain dan cluster headache paling baik diterapi selama periode prodromal dengan ergotamine tartrate (Cafergot) dan analgesik. antidepresan. Psikoterapi dan sosioterapi Pengobatan dengan memperhatikan faktor psikisnya atau kepribadian secara keseluruhan. obat tidur (hipnotik) 2. 2. Psikofarmaka Terapi penyakit psikosomatik pada dasarnya harus dilakukan dengan beberapa cara. Pemberian propranolol atau verapamil (Isoptin) profilaktik berguna jika sakit kepala sering terjadi. Psikofarmakoterapi Pengobatan psikosomatik dengan menggunakan obat-obat psikotrop yang bekerja pada sistem saraf sentral. Psikoterapi untuk menghilangkan efek konflik dan stres serta teknik perilaku tertentu (cth. biofeedback) telah dilaporkan berguna. Selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) juga berguna untuk profilaksis.. Sumatriptan (Imitrex) diindikasikan untuk terapi jangka pendek migrain dan dapat menghentikan serangan. Efek samping yang timbul dari penggunaan obat-obat psikofarmaka: 30 . obat penenang mayor (neuroleptik) 4. Tiga golongan senyawa psikofarmaka: 1. Terapi somatik Hanya bersifat somanya saja dan pengobatan ini bersifat simtomatik. obat penenang minor 3. ialah: 1. Komponen-komponen yang harus dibedakan.

2-4 minggu cukup. b) Depresi atau kehilangan sifat menahan diri dapat terjadi. Pengobatan dengan benzodiazepin hanya diberikan pada ansietas hebat. walaupun sering timbul insomnia pantulan (rebound). Karena berakumulasinya benzodiazepin berkhasiat panjang. spasme otot. Hipnotik sebaiknya diberikan dalam jangka waktu pendek. Obat Penenang Minor Diazepam (valium) digunakan untuk ansietas. Oleh karena itu obat diberikan hanya beberapa malam saja tiap minggu. bila pengobatan dihentikan. Yang dianjurkan senyawasenyawa benzodiazepin berkhasiat pendek. dan maksimal 2 bulan sebelum dicoba dihentikan. dispnea oleh sebab-sebab lain). Mogadon) - Flurazepam (Dalmadorm) - Triazolam (Halcion) Pada insomnia dengan kegelisahan (ansietas). mungkin terjadi ketergantungan obat. emfisema. hingga khasiat obat berkurang. yaitu: - Nitrozepam (Dumolid.a) Mudah terjadi ketergantungan psikologis dan fisis. digunakan senyawa-senyawa fenotiazin. agitasi. c) Semua depresan sistem saraf sentral merupakan kontraindikasi pada payah paru (asma. yang akhirnya dapat menimbulkan kekacauan pikir. kegelisahan dan anksietas sering terjadi bila obat dihentikan. d) Gangguan psikomotorik e) Lekas marah.11 Obat Penenang Mayor 31 . delirium tremens hingga pada epilepsy. yaitu: - Tioridazin (Melleril) - Prometazin (Phenergan).

Haldol). Pada ansietas panik. Golongan benzodiazepin umumnya bermanfaat pada gangguan ansietas. Paroksetin. penderitaan batin. Depresi sering merupakan komplikasi penyakit fisis. Fluoksetin. dan Haloperidol (Serenace. dan sebagainya. dan Maprotilin (Ludiomil). fluvoksamin - Golongan RIMA : moklobemid - Tianeptine Penggunaan psikofarmaka hendaknya bersama-sama dengan psikoterapi yang efektif sehingga hasilnya akan lebih baik. 32 . Obsessive Compulsive Disorder (OCD) ialah varian gangguan cemas namun obat yang efektif untuk gangguan ini adalah golongan antidepresan misalnya Klomipramin maupun golongan SSRI seperti Sertralin. Tioridazin (Melleril). yaitu Amitriptilin (Laroxyl). Imipramin (Tofranil).GAD) obat pilihannya ialah Buspiron. Mianserin (Tolvon). Gangguan campuran ansietas-depresi juga memberikan perbaikan dengan obat-obat antidepresan. keluyuran. Hal ini bisa diatasi dengan menggunakan sedatif walaupun pemberian sedatif tidak dianjurkan karena sering timbul imobilitas. antara lain Klorpromazin (Largactil). 11 Fobia juga varian gangguan cemas dan berespons baik pada pengobatan antidepresan. fluoksetin. Yang paling sering digunakan ialah senyawa fenotiazin dan butirofenon. atau menimbulkan kegelisahan. agresi hingga kekerasan karena halusinasi dan khayalan. kegaduhan. Yang dianjurkan ialah senyawa-senyawa trisiklik dan tetrasiklik. paroksetin.Kegagalan fungsi otak menimbulkan gangguan-gangguan kelakuan berupa rasa takut. yaitu pada ansietas menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder . Misalnya fobia sosial membaik dengan pemberian Moklobemid (golongan RIMA-Reversible Inhibitory Monoamine Oksidase type A). Beberapa obat antidepresan yang baru seperti telah disebut di atas antara lain: - Golongan SSRI : sertralin. obat pilihannya ialah alprazolam namun ada beberapa penelitian anksietas panik dapat diobati dengan antidepresan golongan SSRI (Selective Serotonin Re-uptake Inhibitor). Gejala-gejala psikosomatik sering ditemukan pada depresi.

Sukatman D.h. Jilid II.h. dkk. Maramis WF. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Jakarta: EGC. Kaplan & Sadock: buku ajar psikiatri klinis.814-28. Arsyad Z. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry.591-2. New York: Lippincott Williams & Wilkins. Edisi IV.h. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. 2010. 2006. Sadock VA.h. Edisi IV. Sadock VA.h. 2007.2004.387-97. Kusumawardhani A. 10th ed. 2006.657-8. Edisi 33 . Surabaya: Airlangga University Press. Sadock BJ. Mangindaan L. Syahbuddin S.339-71 Budihalim S. Buju ajar ilmu penyakit dalam: Aspek psikosomatis obesitas.DAFTAR PUSTAKA Sadock BJ. Buku ajar ilmu penyakit dalam : Psikosomatis. Jilid II. Buku ajar psikiatri FKUI. Edisi ke-2.

h.com/article/294131-overview#aw2aab6b3 Htay TT.kedua. 2010. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 14 Maret 2012 Noorhana SW. 169-71.2013. 34 . Diunduh dari http://emedicine. Gan S. Arozal W.h. Mental disorders secondary to general medical conditions. Edisi ke-5.h.medscape. Diunduh dari http://emedicine. 2008. Dalam: Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Badan Penerbit FKUI. Buku ajar psikiatri: Faktor psikologik yang mempengaruhi kondisi medis (d/h gangguan psikosomatik).medscape. Premenstrual dysphoric disorder.com/article/293257-overview#a0101. Psikotropik.287-64..310-16 Chuang L.