Sinusitis

Definisi
Sinusitis adalah peradangan satu atau lebih mukosa sinus paranasal yang dapat
berupa sinusitis maksilaris, sinusitis etmoid, sinusitis frontal, dan sinusitis sfenoid
dengan gejala berupa buntu hidung, nyeri fasial dan pilek purulen (Campbell,
2004). Sinusitis yang terjadi pada lebih dari satu sinus disebut multisinusitis,
sedangkan sinusitis yang terjadi pada semua sinus disebut pansinusitis
(Mangunkusumo & Soetjipto, 2007).
Etiologi
Penyebab utama sinusitis ialah infeksi virus yang kemudian diikuti oleh infeksi
bakteri. Secara epidemiologi yang paling sering terkena adalah sinus etmoid dan
maksila. Yang berbahaya dari sinusitis adalah komplikasinya ke orbita dan
intrakranial. Komplikasi ini terjadi akibat tatalaksana yang inadekuat atau faktor
predisposisi yang tak dapat dihindari (Mangunkusumo & Soetjipto, 2007).
Komplikasi
Komplikasi pada sinusitis biasanya terjadi akibat infeksi akut sinusitis atau
eksaserbasi akut dari sinusitis kronik. Komplikasi dapat dibagi menjadi (Soetjipto,
2003):
1. Komplikasi orbita (selulitis dan abses orbita)
Komplikasi orbita terjadi akibat perjalanan langsung infeksi dari sinus
ethmoid, sinus frontal, dan sinus maksila. Bakteri sampai ke orbita melalui
dinding sinus yang tipis, celah foramen di dinding tersebut, atau aliran
vena.
Chandler membuat klasifikasi komplikasi orbita berdasarkan gradasi beratnya penyakit,
yaitu:
a. Edem palpebra
b. Selulitis orbita
c. Abses subperiosteal

Abses subperiosteal dapat pecah ke dalam orbita menjadi abses orbita. abses orbita. kumpulan pus menekan bola mata kearah lateral bawah. Pemberian segera antibiotika intravena dosis tinggi dan nasal dekongestan dapat mengobati infeksi dan mencegah penjalaran lebih lanjut. Abses orbita e. Trombosis sinus kavernosus Edema palpebra dan selulitis orbita relatif ringan dan dapat sembuh dengan antibiotika. dengan antibiotika akan segera sembuh. dan trombosis sinus kavernosus relatif berat dan dapat fatal sehingga sebaiknya dilakukan operasi segera untuk mengeluarkan pus dari dalam sinus dan orbita. Selanjutnya. Kuman atau materi purulen masuk dan terkumpul dalam rongga subperiosteal yang terletak antara dinding orbita dan periorbita. maka akan terjadi selulitis orbita dimana edem merata seluruh orbita. Gejala awal adalah pembengkakan dan kemerahan kelopak mata disebut edem palpebra. Abses subperiosteral memiliki penyakit yang berbeda. sedangkan abses subperiosteal. Tekanan intrakranial meningkat menyebabkan kerusakan nervus optikus dan organ intra orbita lain. Abses orbita terjadi akibat perluasan pus kedalam orbita atau pecahnya abses subperiosteal. Jika ada gambaran udara. kuman berasal dari sinus etmoid melalui lamina papirasea yang tipis atau dari sinus frontal. Jika penyakit berlanjut. disertai proptosis. dan gangguan visus akibat penekanan langsung pada nervus optikus dan pembuluh darah retina. Umumnya. Abses subperiosteal memberikan gambaran khas pada CT Scan berupa perselubungan homogen yg cembung didaerah antara orbita dan periorbita. maka telah terjadi pembentukan abses. konjungtiva hiperemis (kemosis) dan mulai timbul gangguan visus.d. dan rasa nyeri. gangguan gerak bola mata. Gejala yang timbul . Dibedakan dengan abses orbita dimana pendorongan bola mata kearah anterior. Penderita mengeluh nyeri hebat.

3. drenase bedah sinus frontal. terutama orbita. dan gangguan visus berat bahkan dapat menjadi buta karena regangan nevus optikus atau nekrosis septik. lokasi. 2003). Abses subperiosteal di dahi juga dapat terjadi yang disebut sebagai Pott’s puffy tumor. Gejala utama adalah sakit kepala dan pembengkakan daerah muka. Didapati pembengkakan dahi dan kelopak mata atas disertai rasa nyeri yang tumpul. Osteomielitis (tulang maksila dan frontal) Osteomielitis akibat sinusitis hanya terjadi ditulang diploik. menyebabkan erosi serta medorong organ-organ di sekitarnya. Ini sangat berbahaya dengan kemungkinan komplikasi intrakranial dan dapat fatal. Osteomielitis maksila biasanya didapati di negara dengan keadaan sosial ekonomi yang sangat jelek. Paling sering ditemukan di sinus frontal. meskipun dapat juga terjadi di sinus etmoid. dan perluasannya. Keadaan menjadi lebih hebat jika disertai infeksi menjadi piokel.berupa proptosis. Pada anakanak hanya di sinus maksila. Pemeriksaan CT-scan akan menunjukkan . 2003). maksila dan sfenoid. dan debridement jika sudah terjadi pembentukan pus menjadi (Soetjipto. Mukokel Mukokel terjadi jika saluran keluar sinus tersumbat. Jika mukokel meluas ke orbita. Tindakan operasi yang dipilih adalah etmoidektomi menjadi (Soetjipto. Pengobatan adalah antibiotika intravena dan debridement jika diperlukan. 2. dapat terjadi diplopia dan protopsis. gangguan gerak bola mata. Osteomielitis frontal lebih berbahaya karena biasanya lebih ekstensif. CT Scan mengkonfirmasi adanya pus. Pengobatan harus segera dilaksanakan dengan antibiotika intravena dosis tinggi. sedangkan pada remaja dan dewasa hanya ditulang frontal. Organisme penyebab tersering adalah Staphylcoccus aureus. Gejala berupa pembengkakan pipi dan kelopak mata bawah yang disertai rasa nyeri. Kista yang perlahan-lahan membesar ini dapat mendorong dinding sinus. Pus keluar melalui kelopak mata. Di dalam kista terjadi pengumpulan mukus yang steril yag kemudian menjadi kental.

Pengobatan berupa tindakan bedah mengeluarkan kista dan memulihkan drenase sinus. biasanya dengan cara frontoetmoidektomi eksterna (operasi Howarth) atau osteoplastik menjadi (Soetjipto. pus ini dapat menyebabkan faringitis granuler dengan nodul-nodul yang terjadi akibat jaringan limfatik yang hipertrofi. Gejala berupa demam tinggi. bronkitis. subdural atau serebral). 2003). Di faring. Untuk sinus frontal. disamping menegakkan diagnosis juga untuk mengetahui organisme penyebab. sinus frontal. Post nasal drip ini selanjutnya dapat menyebabkan bronkitis pada anak-anak disertai keluhan batuk kronik. Sinusitis juga dianggap sebagai penyebab dan komplikasi dari tonsilitis dan otitis media. Komplikasi lainnya adalah ensefalitis. 2003). kesadaran menurun dan tanda-tanda iritasi otak . Selanjutnya pita suara dapat terkena menyebabkan laringitis. Komplikasi sinusitis ke intrakranial yang tersering adalah meningitis. trombosis sinus kavernosus) Terhadap fossa kranii anterior. Infeksi terjadi melalui penjalaran langsung materi infeksi melalui dinding tipis tersebut atau tromboplebitis yang retrograd.gambaran sinus yang melebar dengan penipisan dinding. Komplikasi loko-regional (faringitis. Pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada meningitis adalah pungsi lumbal. etmoid. abses intrakranial. abses intrakranial (ekstradural. Trombosis sinus kavernosus merupakan komplikasi yang fatal. 4.otitis media. dan sfenoid hanya dipisahkan oleh dinding tulang tipis. Akhir-akhir ini jelas hubungan sinusitis sebagai pencetus serangan asma menjadi (Soetjipto. 5. Komplikasi intra kranial (meningitis. Materi mukopurulen dari sinus dapat turun sebagai post nasal drip. kecuali jika ada peningkatan tekanan intrakranial yang dapat diketahui dari adaya papil edem. dan trombosis sinus kavernosus. serangan asma) Komplikasi regional terjadi akibat penjalaran infeksi dan peradangan melalui mukosa traktus aerodigestivus.laringitis.

Balai penerbit FKUI. Komplikasi Sinusitis. Dalam: Soepardi. Nurbaiti (editor). . Pegobatan semua komplikasi intrakranial adalah dengan antibiotika dosis tinggi intravena. 2003. Penatalaksanaan penyakit dan kelainan Telinga Hidung Tenggorok. Pathophysiology of Rhinosinusitis. Hadjzt. Sinusitis. Fachri. 7. Jakarta. 2004. Edisi ketiga. Hlm.. 150-3. Daftar Pustaka Campbell. G. Dalam buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala dan leher. Pada intradural atau subdural perlu tindakan drenase oleh ahli bedah otak. para dokter juga harus mempunyai kecurigaan yang tinggi. Pemeriksaan penunjang yang diperlukanadalah CT scan dengan kontras atau MRI. Gejala lokal berupa mata yang proptosis dan kelumpuhan syaraf otak yang melintasi sinus kavernosus yaitu syaraf otak ke III. 2003). D. Pulmonary critical care update (PCCU). D. Dalam (Adult chronic sinusitis and its complication). 142—148. prof. bersamaan dengan drenase terhadap sinus yang sakit oleh ahli bedah THT menjadi (Soetjipto. FKUI.disertai demam tinggi. Soetjipto. IV. Lesson: 20. dr. juga terhadap komplikasi intrakranial lainnya. Abses intrakranial mungkin sulit didiagnosis. Mangunkusumo. Jakarta. dr. Soetjipto. 2007. cabang oftalmik dan maksilaris dari syaraf V dan VI. dr. terutama jika ada pasien sinusitis yang kesadarannya menurun atau timbul gejala-gejala defisit neurologik. E. Hlm. Efiaty Arsyad. D. Iskandar.