Komplikasi Odontektomi

Komplikasi Pre-operatif:

Infeksi  Infeksi perikoronal, abses alveolar akut atau kronis, osteitis supuratif
kronis, nekrosis dan osteomielitis.
Nyeri  Nyeri tidak hanya berkaitan dengan area distribusi saraf yang berkaitan
dnegan gigi impaksi, namun juga bisa terasa di telinga. Nyeri dapat terjadi secara
ringan dan terbatas pada daerah sekitar gigi impaksi, severe, ataupun menyiksa:
yang melibatkan semua gigi RA dan RB pada sisi rongga mulut yang mengalami
impaksi, daerah telinga, postauricular, bahkan bagian yang disuplai saraf
trigeminal. Hal ini termasuk nyeri temporal. Nyeri dapat terjadi secara intermiten,
konstan atau periodik.
Fraktur  Gigi impaksi merupakan faktor yang memperlemah tulang di daerah
yang ditempatinya akibat bone displacement sehingga lebih rentan terjadi fraktur
tulang.
Komplikasi Lain  Komplikasi lain yang jarang terjadi dibandingkan komplikasi di
atas:
1

Bunyi atau dengungan di telinga (tinnitus aurium)

2

Otitis (inflamasi telinga)

3

Efek pada mata:
a

Kaburnya pandangan

b

Kebutaan

c

Iritis

d

Nyeri yang mirip glaucoma

Komplikasi Perioperatif:
Saat insisI
1Cedera a. Fascialis
2Cedera n. Lingualis bisa menyebabkan kesemutan/parastesia pada lidah , sulit
berbicara , lidahnya mati rasa
3Perdarahan

Cedera bundel n. Kerusakan restorasi gigi sekitar 3.  Nyeri dan Pembengkakan Pembengkakan pasca operasi pada umumnya merupakan keadaan yang normal karena hal ini merupakan reaksi tubuh terhadap adanya luka di tulang dan jaringan lunak.Terdorongnya gigi/akar gigi ke submandibular space/kanalis mandibula Komplikasi Post-operatif: Infeksi dapat terjadi infeksi pasca bedah oleh karena operasi dilakukan pada saat di daerah gigi molar ke-3 tersebut masih dalam keadaan infeksi. mengeces. Pada keadaan infeksi kejadian bengkak dapat menjadi tidak normal karena pembengkakan ini dapat merupakan pembengkakan oleh karena abses. Umumnya tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi pembengkakkan adalah dengan kompres es dan pemberian preparat steroid yang mempunyai efek anti inflamasi kuat seperti betametason dan eksametason pra bedah. sehingga tindakan operasi tersebut semakin menyebarkan infeksi. Tindakan lain adalah dengan melakukan irigasi cairan fisiologis yang adekuat selama operasi dan menggunakan anestesi lokal long acting seperti bupivacain.Luksasi gigi sekitar 2.Cedera jaringan lunak 4. sulit berbicara 5.Dislokasi TMJ 7.Saat pengambilan tulang 1. Luka bakar ekstra oral/mukosa 4.Kerusakan pada M2 2.  Operasi dilakukan dengan cara asepsis .Emfisema subkutan jika pengeburan dilakukan dengan bur high speed Saat pengambilan gigi 1.Fraktur mandibula 6. alveolaris inferior bisa menyebabkan kesemutan pada bibir dagu dan gusi . Trauma jaringan lunak 3.

pemberian anti perdarahan kapiler seperti asam trasexamik. intermediat atau sekunder atau perdarahan arteri. Semakin dalam gigi tertanam.  Pasien dengan hipertensi Memiliki resiko terjadi perdarahan pada saat operasi atau pasca operasi.  Komplikasi pada sendi temporomandibula  Hematoma Perdarahan kapiler yang terlalu lama yang kemudian darah terakumulasi dalam jaringan. pasian dengan gangguan jantung.Alat dan perlakukan tidak steril sering sebagai penyebab utama terjadinya infeksi sampai terbebtuknya abses  Gigi M3 dapat tertanam di rahang atas dan bawah dengan derajat kedalaman yang sangat bervariasi Pada rahang bawah kedalaman gigi yang tertanam akan berkaitan dengan tingkat kesulitan dan resiko operasinya. tanpa adanya jalan keluar dari luka yang tertutup atau penjahitan flap yang terlalu kencang. surgicel dan penjahitan. Terapinya adalah aplikasi tampon adrenalin. hemostatik lokal seperti spongostan. maka akan semakin dekat letak gigi tersebut terhadap jaringan saraf yang ada di dalam rahang (saraf tersebut di sebut dengan nervus Alveolaris Inferior dengan fungsi sensorik yang lebigh dominan). vena dan kapiler. dsb-nya). Pada tindakan pencabutan gigi molar tiga pada pasien tanpa kelainan darah. Perdarahan sekunder disebabkan oleh oral fibrinolisis akibat terlalu banyak kumur. tetapi dapat merupakan proses keganasan.  Perdarahan pasca operasi Perdarahan yang terjadi dapat dibagi menjadi perdarahan primer. . pasien dengan tekanan darah tinggi beresiko perdarahan.  Pada pasien dalam perawatan seorang dokter spesialis penyakit dalam atau spesialis jantung Hendaknya mewaspadai adanya: diabetes millitus karena resiko infeksi. pasien dengan konsumsi antikoagulan (plafix. Tindakan operasi akan dapat menyebabkan semakin memburuknya proses keganasan tersebut.  Mewaspadai adanya luka berbentuk ulkus Ulkus (borok) di daerah gigi M3 tersebut bukan sekedar luka infeksi. umumnya disebabkan oleh perdarahan kapiler. infeksi lokal atau trauma pencabutan yang terlalu besar.

Perawatan: o Soket diirigasi dengan larutan salin hangat . Perawatan dengan debridement alveolus dan menghilangkan penyebabnya. Terjadi perlambatan penyembuhan dan nekrosis tulang di permukaan socket karena dihancurkannya blood clot. Perawatan: o Edema berukuran kecil tidak perlu penanganan khusus o Edema parah à fibrinolytic medication Pencegahan: o Kompres dingin segera setelah operasi o 10-15 menit setiap setengah jam selama 4-6 jam  Granuloma pasca ekstraksi Muncul 4-5 hari setelah operasi. Hasil ekstravasasi cairan oleh jaringan trauma karena kerusakan atau terhalangnya pembuluh getah bening yang terakumulasi dalam jaringan.Perawatan: Menempatkan cold pack ekstra oral selama 24 jam pertama. Perawatan: o Menghaluskan tepi tulang yang tajam o Analgetik dan pemberian eugenol di tepi tulang selama 36-48 jam  Dry socket Timbul 2-3 hari setelah operasi. Diakibatkan oleh masuknya benda asing ke alveolus. dan terapi panas untuk menghilangkan komplikasi ini: o Antibiotik à menghindari supurasi o Analgesik à menghilangkan rasa nyeri  Edema Merupakan komplikasi sekunder terhadap trauma jaringan lunak.  Nyeri pada soket Biasanya muncul setelah efek anastesi hilang.

dan obat relaksan otot o Fisioterapi selama 3-5 menit setiap 3-4 jam. yang bertujuan untuk memperbesar jarak membuka mulut o Penggunaan obat sedatif (bromazepam (Lexotanil): 1.o Menutup socket dengan kasa yang diresapi dengan eugenol. . sampai sakit reda  Gangguan penyembuhan luka Faktor umum: kelainan darah (agranulositosis. meningkatnya kerentanan kapiler. Osteoporosis. berupa gerakan membuka dan menutup mulut. diganti setiap 24 jam. 2 kali sehari)  Ecchymosis Adalah rembesan darah submukosal dan subkutan yang muncul seperti lebam pada jaringan oral dan/atau wajah. Otot yang paling sering terkena adalah pterygoid medial yang terkena jarum anestesi lokal selama injeksi blok nervus alveolaris inferior. Onset ecchymosis 2-4 hari setelah bedah dan hilang dalam 7-10 hari. Inflammatory hyperplastic granuloma. Faktor lokal: infeksi luka. Perawatan: o Penggunaan obat kumur hangat dan antibiotik o Terapi panas. obat anti-inflamasi. Pasien sebaiknya diberitahu jika ecchymosis bisa terjadi dan tidak perlu cemas.  Trismus Akibat dari banyak injeksi anestesi lokal. Ecchymosis tidak berbahaya dan tidak meningkatkan nyeri atau infeksi. Paget’s disease. kompres hangat diletakkan pada ekstra oral kira-kira 20 menit setiap jam sampai gejala mereda o Pijatan lembut pada daerah sendi temporomandibular o Penggunaan obat-obatan analgesik. leukimia). osteopetrosis. neoplasma. luka jaringan karena instrumen. khususnya jika injeksi mengenai otot.5-3 mg. dry socket. Ecchymosis umumnya terlihat pada pasien tua karena penurunan tonus jaringan. dan lemahnya perlekatan interseluler. dengan gerakan lateral. diabetes melitus.