BAB I

STATUS PASIEN THT
IDENTITAS PASIEN:
Nama

: Ny. S

Pekerjaan

: Karyawati

Umur

: 29 tahun

Alamat

: Pulo jahe

Jenis Kelamin

: Perempuan

Tgl. Datang poli: 24 Januari 2014

Agama

: Islam

No. RM

: ...

ANAMNESIS
Autoanamnesa
1. Keluhan Utama
Mimisan sejak 2 bulan yang lalu
2. Keluhan Tambahan
Pilek hilang timbul, hidung tersumbat.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Mimisan paling banyak setengah tutup botol, seminggu 2x – 3x, kadang sakit kepala
dan leher sebelum mimisan sejak 2 bulan yang lalu. Pilek hilang timbul dan hidung
tersumbat sejak 2 bulan lalu. Bersin ketika bertemu debu. Demam (-), nyeri didaerah
wajah (-), trauma di wajah (-), batuk(-), sakit kepala(-), pusing(-), gatal dihidung(-),
nyeri tenggorokan (-), napas berbau (-), nyeri saat menelan (-), sakit gigi (-), gigi
berlubang (-), tidur mendengkur (-), keluar cairan dari telinga (-), gangguan
pendengaran (-), telinga berdenging (-), sesak napas (-).
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Keluhan ini pertama kali dirasakan. Tidak ada riwayat Hipertensi, Diabetes Melitus,
Asma, ataupun operasi
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Keluhan ini tidak di rasakan dalam keluarga
6. Riwayat Pengobatan
Jika pilek beli obat di warung
7. Riwayat Alergi
Alergi, makanan, cuaca, dan obat-obatan disangkal.
8. Riwayat Psikososial

Punya kebiasaan ngorek-ngorek hidung. Riwayat merokok dan minum alkohol
disangkal
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
Kesadaran
Tanda-tanda Vital

: Tampak sakit sedang
: Compos mentis

Tekanan Darah

: Tidak diperiksa

Nadi

: Tidak diperiksa

Frekuensi Napas

: Tidak diperiksa

Suhu

: Tidak diperiksa

A. Status Generalis
Kepala

: Normochepal

Mata

: Tidak diperiksa

Mulut

: Bibir kering (-), sianosis (-), pucat (-)

Thorax

: Tidak diperiksa

Abdomen

: Tidak diperiksa

Ekstremitas

: Tidak diperiksa

Kulit

: Tidak diperiksa

B. Status Pemeriksaan Lokalis THT
Telinga
Bagian

Kelainan
Preaurikula
kongenital

Kelainan
Aurikula
kongenital

Auris

Retroaurikula

Canalis

Kelainan kongenital

-

-

Acustikus

Kulit

Tenang

Tenang

Externa

Sekret

-

-

Serumen

-

-

Edema

-

-

Jaringan granulasi

-

-

Massa

-

-

Cholesteatoma

-

-

Membrana

Intak

+

+

Timpani

Reflek cahaya

+

+

Perforasi

-

-

Gambar

Tes Penala
Tes Rhinne
Tes Weber

Interpretasi pada Auris
Dextra
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Sinistra
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Tes Schwabach
Hidung

Tidak dilakukan

Pemeriksaan

Dextra

Keadaan Luar

Dalam batas

Dalam batas

ukuran

normal

normal

Hiperemis

Hiperemis

+

+

Eutrofi

Eutrofi

Sekret
Concha inferior
Rhinoskopi
Septum

Hiperemis

+ Hiperemis,
Polip/tumor
Pasase udara

Kelainan

-

Permukaan licin
+

Tenggorok
Bagian

Sinistra

Warna, bentuk dan

Mukosa

anterior

Tidak dilakukan

Keterangan

+

Mukosa mulut

Lembab

Lidah

Bersih

Palatum molle

Tenang

Gigi geligi

Caries (-)

Uvula

Simetris

Halitosis

-

Mukosa

Hiperemis (-)

Besar

T2-T3

Kripta

Tidak melebar

Detritus

-/-

Mukosa

Hiperemis (-)

Granula

-

Post nasal drip

-

Mulut

Tonsil

Faring

Epiglotis
Glotis
Laring

Hiperemis (-)
Hiperemis (-)

Aritenoid
Hiperemis (-)
Pita suara
Hiperemis (-)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
CT Scan Nasofaring potongan aksial dan koronal tanpa media kontras dengan jarak
irisan 5mm dan tebal irisan 2mm. Hasil sbb :
 Lesi soft tissue hipoechoic di cavum nasi dextra region infero-anterior










Diameter lesi 12s11 mm, os nasal dan maksila tidak terlihat destruksi
Septum nasi tidak deviasi
Mukosa cavum nasi di region tidak menebal
Tak tampak pneumatisasi conchae bilateral
Processus uncinatus kanan dan kiri baik
Tak tampak sel haller
Osteo meatal complex kanan dan kiri terbuka
Sinus paranasal bilateral serasi normal
Adenoid tidak hipertrofi
Rongga nasofaring simetris

Kesan : Massa soft tissue homogeny di infero-anterior cavum nasi dextra
Curiga polip aspek benign

Tes Laboratorium
Test
Hematologi

Hasil

Unit

Nilai Rujukan

Hb

13.7

mg/dl

12.5-15.5

MCV

 78

fl

82-98

MCH

 26

pg

27-33

MCHC

34

g/dl

31-37

Eritrosit

5.2

10^6/ul

4.5-5.8

Hematokrit

41

%

37-47

Leukosit

 12.9

10^3/ul

5.0-10.0

Trombosit

 418

10^3/ul

150-400

LED
Hitung Jenis

17

Mm

0-20

Basofil

0.3

%

0.0-1.0

Eosinofil

1.1

%

1.0-3.0

Netrofil

58.1

%

37.0-72.0

Darah Lengkap

Limfosit

33.4

%

20.0-40.0

Monosit
Hemostasis

7.1

%

2.0-8.0

Bleeding Time

3.00

Menit

1.00-3.00

Cloating Time

6.00

Menit

3.00-6.00

Pemeriksaan Patologi Anatomi
Makroskopik : Jaringan ukuran 1,5x1x0,5cm warna coklat
Mikroskopik : Sediaan berasal dari kavum nasi menunjukkan jaringan ikat sembab
berbentuk polipoid mengandung pembuluh-pembuluh darah yang
sebagian terbentuk seperti tanduk rusa. Stroma berserbukan ringan. Sel
radang menahun.
Kesimpulan

: Gambaran histologik mengarah pada angiofibroma. Tidak tampak
tanda ganas

RESUME
Anamnesis
Ny. S mimisan sejak 2 bulan yang lalu. Mimisan paling banyak setengah tutup
botol, seminggu 2x – 3x, kadang sakit kepala dan leher sebelum mimisan sejak 2
bulan yang lalu. Pilek hilang timbul dan hidung tersumbat sejak 2 bulan lalu. Bersin
ketika bertemu debu. Punya kebiasaan ngorek-ngorek hidung.
Pemeriksaan Fisik
Rinoskopi anterior : Mucosa : Livid. Septum : Hiperemis. Polip/Tumor dextra,
hiperemis, dan permukaan licin.
Pemeriksaan Penunjang
CT Scan
: Ditemukan Lesi soft tissue hipoechoic di cavum nasi dextra
region infero-anterior
Pemeriksaan Lab

: MCV  78 fl, MCH  26 pg, Leukosit  12.9 10^3/ul,
Trombosit  418 10^3/ul

Pemeriksaan Patologi Anatomi : Gambaran histologik mengarah pada angiofibroma.

DIAGNOSIS

Angifibroma dekstra
PENATALAKSANAAN
Non-medikamentosa
-

Edukasi ke pasien, untuk menggunakan masker saat bekerja ataupun saat bepergian.

-

Jika menggunakan AC atau kipas angin jangan langsung mengenai wajah pasien.
Medikamentosa

-

Dekongestan : Efedrin 1% (lokal), atau Pseudoefedrin 3x60mg
Prednisolon oral 2 sampai 3 mg/kgBB/hari selama 4 sampai 6 minggu

PROGNOSIS

Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad fungsionam

: ad bonam

Quo ad sanactionam

: ad bonam

BAB II
Tinjauan Pustaka
A. Anatomi Hidung
Untuk mengetahui penyakit dan kelainan hidung, misalnya sumbatan hidung
perlu diketahui dulu tentang anatomi hidung. Hidung terdiri dari hidung bagian luar
atau piramid hidung dan rongga hidung dengan pendarahan serta persarafannya, serta
fisiologi hidung. Untuk mendiagnosis penyakit yang terdapat di dalam hidung perlu
diketahui dan dipelajari pula cara pemeriksaan hidung.
Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah :
1) pangkal hidung (bridge)
2) dorsum nasi
3) puncak hidung
4) ala nasi
5) kolumela
6) lubang hidung (nares anterior).
Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit,
jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau
menyempitkan lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari :
1) tulang hidung (os nasalis)
2) prosesus frontalis os maksila
3) prosesus nasalis os frontal

Sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan
yang terletak di bagian bawah hidung, yaitu :
1) sepasang kartilago nasalis lateralis superior,
2) sepasang kartilago nasalis lateralis inferior yang disebut juga sebagai kartilago
alar mayor,
3) beberapa pasang kartilago alar minor dan
4) tepi anterior kartilago septum.

Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke
belakang, dipisahkan oleh septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi
kanan dan kiri. Pintu atau lubang masuk kavum nasi bagian depan disebut nares
anterior dan lubang belakang disebut nares posterior (koana) yang menghubungkan
kavum nasi dengan nasofaring.
Bagian dari kavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepat dibelakang
nares anterior, disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang mempunyai
banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut vibrise.
Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding, yaitu dinding medial, lateral, inferior
dan superior.
Dinding medial hidung ialah septum nasi. Septum dibentuk oleh tulang dan
tulang rawan. Bagian tulang adalah lamina perpendikularis os etmoid, vomer, krista
nasalis os maksila dan krista nasalis os palatina. Bagian tulang rawan adalah kartilago
septum (lamina kuadrangularis) dan kolumela.
Septum dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan periostium
pada bagian tulang, sedangkan diluarnya dilapisi pula oleh mukosa hidung. Bagian

depan dinding lateral hidung licin, yang disebut ager nasi dan dibelakangnya terdapat
konka-konka yang mengisi sebagian besar dinding lateral hidung.
Pada dinding lateral terdapat 4 buah konka. Yang terbesar dan letaknya paling
bawah ialah konka inferior, kemudian yang lebih kecil adalah konka media, lebih
kecil lagi ialah konka superior, sedangkan yang terkecil disebut konka suprema.
Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan
labirin etmoid, sedangkan konka media, superior dan suprema merupakan bagian dari
labirin etmoid.
Di antara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang
disebut meatus. Tergantung dari letak meatus, ada tiga meatus yaitu meatus inferior,
medius dan superior. Meatus inferior terletak di antara konka inferior dengan dasar
hidung dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus inferior terdapat muara
(ostium) duktus nasolakrimalis.
Meatus medius terletak di antara konka media dan dinding lateral rongga
hidung. Pada meatus medius terdapat bula etmoid, prosesus unsinatus, hiatus
semilunaris dan infundibulum etmoid. Hiatus semilunaris merupakan suatu celah
sempit melengkung dimana terdapat muara sinus frontal, sinus maksila dan sinus
etmoid anterior. Pada meatus superior yang merupakan ruang di antara konka superior
dan konka media terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid.
Dinding inferior merupakan dasar rongga hidung dan dibentuk oleh os maksila
dan os palatum. Dinding superior atau atap hidung sangat sempit dan dibentuk oleh
lamina kribriformis, yang memisahkan rongga tengkorak dari rongga hidung dan
merupakan lempeng tulang yang berasal dari os etmoid, tulang ini berlubang-lubang
(kribrosa = saringan) tempat masuknya serabut-serabut saraf olfaktorius. Di bagian
posterior, atap rongga hidung dibentuk oleh os sfenoid.

Kompleks Ostiomeatal (KOM)
KOM merupakan celah pada dinding lateral hidung yang dibatasi oleh konka
media dan lamina papirasea. Struktur anatomi penting yang membentuk KOM adalah
prosesus unsinatus, infundibulum etmoid, hiatus semilunaris, bula etmoid, agger nasi,
dan resesus frontal. KOM merupakan unit fungsional yang merupakan tempat ventilasi
dan drenase dari sinus-sinus yang letaknya di anterior yaitu sinus maksila, etmoid
anterior dan frontal.

 Infundibulum ethmoid
Perkembangan infundibulum mendahului sinus. Dibentuk oleh struktur yang
kompleks. Dinding anterior dibentuk oleh processus uncinatus, dinding medial dibentuk
oleh processus frontalis os maxila dan lamina papyracea. Infundibulum etmoid adalah
terowongan tiga dimensi yang menghubungkan ostium natural sinus maksilaris dengan
meatus medius melalui hiatus semilunaris.




Batas-batas infundibulum etmoid
Batas medial : prosesus unsinatus dan hiatus semilunaris
Batas lateral : lamina papirasea
Batas anterior : pertemuan antara prosesus unsinatus dengan lamina papiracea
Batas posterior: permukaan anterior bulla etmoid
Batas superior : bervariasi tergantung dari perlekatan prosesus unsinatus

 Prosesus uncinatus
Merupakan sebuah lamina yang melengkung pada os etmoid, yang menjorok
kebawah dan kebelakang dan dibentuk oleh bagian kecil dari dinding medial sinus
maxilaris, dan dihubungkan dengan processus etmoid dari konka nasal inferior.

 Resesus frontalis
Merupakan ruang antara sinus frontalis dan hiatus semilunaris yang menuju ke
aliran sinus. Bagian anterior dibatasi oleh sel ager nasi, superior oleh sinus frontalis,
medial oleh konka medial dan bagian lateral oleh lamina papyracea.
 Bula ethmoid

`

Terletak diatas infundibulum dan permukaan lateral/ inferiornya, dan tepi

superior procesus uncinatus membentuk hiatus semilunaris. Ini merupakan sel etmoid
anterior terbesar. Arteri etmoid anterior menyilang terhadap atap sel ini. Bulla etmoid
merupakan salah satu sel etmoid anterior yang paling konstan dan paling besar. Di
superior, dinding anterior bulla etmoid dapat meluas sampai ke basis kranii dan
membentuk batas posterior dari resesus frontalis. Bila bulla etmoid tidak mencapai
basis kranii, maka akan terbentuk resesus suprabullar antara basis kranii dengan
permukaan superior dari bulla. Di posterior, bulla bertautan langsung dengan lamina
basalis atau terdapat ruang antara bulla dan lamina basalis yang disebut resesus
retrobullar.
 Sel-sel ethmoid anterior
Sel dibagian anterior menuju lamella basal. Pengalirannya ke meatus medial
melalui infundibulum etmoid. Termasuk sel ager nasi, bulla etmoid dan sel-sel
anterior lainnya.
 Hiatus semilunaris
Hiatus semilunaris adalah celah berbentuk bulan sabit terletak antara posterior
tepi bebas prosesus unsinatus dengan dinding anterior bulla etmoid.
 Ostium sinus maksilaris
Ostium naturalis sinus maksilaris mengalirkan sekretnya ke dalam
infundibulum. Ostium ini terletak di dinding medial sinus maksilaris sedikit ditepi
bawah lantai orbita. Van Alyea melaporkan bahwa 10% ostium maksilaris berada di
1/3 superior, 25% berada di 1/3 tengah dan 65% berada di 1/3 bawah dari
infundibulum. Ostium aksesoris sinus maksilaris ditemukan pada 20% - 25% kasus.
Ostium naturalis sinus maksilaris berbentuk bulat sedangkan ostium aksesoris
biasanya berbentuk elips dan berada di posterior ostium naturalis.
 Sel agger nasi
Sel ager nasi merupakan sel ekstramural paling anterior dari sel etmoid
anterior. Terletak agak ke anterior dari perlekatan anterosuperior konka media dan
anterior dari resesus frontal. Sel ager nasi yang membesar dapat meluas ke sinus




frontal dan menyebabkan penyempitan resesus frontal.
Batas-batas sel agger nasi
Batas anterior : prosesus frontal os maksila
Batas superior : resesus frontalis
Batas anteroleteral : os nasalis
Batas inferomedial : prosesus uncinatus

Batas inferolateral : os lakrimalis
Kompleks ostiomeatal merupakan istilah yang digunakan oleh ahli bedah
kepala leher untuk menunjukkan daerah yang dibatasi oleh turbinate tengah pada
bagian medial, lamina papyracea pada bagian lateral, dan lamella basalis pada bagian
superior dan posterior. Batas inferior dan anterior dari kompleks osteomeatal ini
terbuka.
Isi dari ruang ini adalah sel agger nasi, resesus nasofrontal (reses frontal),
infundibulum, bula ethmoidalis dan kelompok anterior sel udara ethmoidal.
Kompleks ini terdiri dari area anatomi yang sempit, yaitu:
1. Beberapa struktur tulang (turbinate tengah, prosessus uncinatus, bulla
ethmoidalis)
2. Ruang udara (resessus frontal, infundibulum ethmoidal, meatus media)
3. Ostium dari sinus ethmoidal, maksila dan frontal anterior.
Pada area ini, permukaan mukosanya sangat dekat, kadang-kadang bahkan dapat
terjadi kontak antar mukosa yang menyebabkan penumpukan sekresi. Silia dengan
gerakan menyapunya dapat mendorong sekret hidung. Jika mukosa yang melapisi
daerah ini menjadi meradang dan bengkak, pembersihan mukosiliar dapat terhambat,
yang akhirnya menghalangi sinus-sinus di kepala.
Beberapa penulis membagi kompleks osteomeatal menjadi bagian anterior dan
posterior. Kompleks osteomeatal klasik digambarkan sebagai kompleks osteomeatal
anterior, sedangkan ruang di belakang lamella basalis yang mengandung sel-sel
ethmoidal posterior disebut sebagai kompleks ethmoidal posterior, sehingga mengakui
pentingnya lamella basalis sebagai landasan anatomi pada sistem ethmoidal posterior.
Oleh karena itu kompleks osteomeatal anterior dan posterior memiliki sistem drainase
yang terpisah. Jadi, ketika penyakit ini terbatas pada kompartemen anterior dari
kompleks osteomeatal, sel-sel ethmoid dapat dibuka dan jaringan yang sakit dapat
dibuang sejauh lamella basalis, meninggalkan lamella basalis tanpa gangguan serta
meminimalkan risiko selama operasi.
Selaput sinus menghasilkan cairan bening berupa lendir yang berguna
membersihkan KOM dari bahan yang tidak diinginkan. Cairan ini melewati saluran
drainase ke bagian belakang hidung dan tenggorokan. Ini terjadi terus-menerus,
meskipun kita biasanya tidak menyadarinya. Ketika kelebihan cairan yang dihasilkan

itu sering dikenal sebagai dahak yang dapat menghasilkan iritasi yang kronis di
tenggorokan dikenal dengan nama post-nasal drip.
Pada sepertiga tengah dinding lateral hidung yaitu di meatus medius, ada muara
saluran dari sinus maksilaris, sinus frontal, sinus sphenoid dan sinus etmoid. Daerah
ini rumit dan sempit, dinamakan kompleks osteomeatal (KOM), terdiri dari
infundibulum etmoid yang terdapat di belakang prosesus unsinatus, resesus frontalis,
bula etmoid, sel-sel etmoid anterior dengan ostiumnya dan ostium sinus maksilaris.
Selaput sinus menghasilkan cairan bening berupa lendir yang berguna
membersihkan KOM dari bahan yang tidak diinginkan. Cairan ini melewati saluran
drainase ke bagian belakang hidung dan tenggorokan. Ini terjadi terus-menerus,
meskipun kita biasanya tidak menyadarinya. Ketika kelebihan cairan yang dihasilkan
itu sering dikenal sebagai dahak yang dapat menghasilkan iritasi yang kronis di
tenggorokan dikenal dengan nama post-nasal drip.
Pendarahan Hidung
Bagian atas rongga hidung mendapat pendarahan dari a.etmoid anterior dan
posterior yang merupakan cabang dari a.oftalmika, sedangkan a.oftalmika berasal dari
a.karotis interna.
Bagian bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang a.maksilaris
interna, di antaranya ialah ujung a.palatina mayor dan a.sfenopalatina yang keluar dari
foramen sfenopalatina bersama n.sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di
belakang ujung posterior konka media. Bagian depan hidung mendapat pendarahan
dari cabang-cabang a.fasialis.
Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang
a.sfenopalatina, a.etmoid anterior, a.labialis superior dan a.palatina mayor, yang
disebut pleksus Kiesselbach. Pleksus Kiesselbach letaknya superfisial dan mudah
cidera oleh trauma, sehingga sering menjadi sumber epistaksis terutama pada anak.
Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan
dengan arterinya. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke
v.oftalmika yang berhubungan dengan sinus kavernosus. Vena-vena di hidung tidak
memiliki katup, sehingga merupakan faktor predisposisi untuk mudahnya penyebaran
infeksi sampai ke intrakranial.

Persarafan Hidung
Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari
n.etmoidalis anterior, yang merupakan cabang dari n.nasosiliaris, yang berasal dari
n.oftalmikus. Rongga hidung lainnya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris
dari n.maksila melalui ganglion sfenopalatinum.
Ganglion sfenopalatinum, selain memberikan persarafan sensoris, juga
memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. Ganglion ini
menerima serabut-serabut sensoris dari n.maksila, serabut parasimpatis dari n.petrosus
superfisialis mayor dan serabut-serabut simpatis dari n.petrosus profundus. Ganglion
sfenopalatinum terletak di belakang dan sedikit di atas ujung posterior konka media.

Fungsi penghidu berasal dari nervus olfaktorius. Saraf ini turun melalui lamina
kribosa dari permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel

reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung




n.olfaktoirus.
Hanya 5 % yang digunakan untuk menghidu
Mebrana olfaktoria terletak pd celah sempit pada bagian superior rongga hidung
Luas permukaan membran 10 cm² ~ panjang 170 cm²
Celah olfaktorius perempuan > laki-laki, berhubungan dengan pigmentasi
Membran olfaktoria terdiri dari 3 lapis : lapisan penunjang, lapisan sel-sel reseptor,
dan lapisan sel basal

Sinus Paranasal



Sinus maksila kanan dan kiri
Sinus frontal kanan dan kiri,
Sinus ethmoid kanan dan kiri
Sinus
sfenoid
Maxila
sinuskanan dan kiri
B. Fisiologi Hidung
1. Sebagai Jalan Nafas
Pada inspirasi, udara masuk melalui nares anterior, lalu naik ke atas setinggi
konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring, sehingga aliran
udara ini berbentuk lengkungan atau arkus. Pada ekspirasi, udara masuk melalui
koana dan kemudian mengikuti jalan yang sama seperti udara inspirasi. Akan
tetapi di bagian depan aliran udara memecah, sebagian lain kembali ke belakang
membentuk pusaran dan bergabung dengan aliran dari nasofaring.
2. Pengatur Kondisi Udara (Air Conditioning)
Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk mempersiapkan udara
yang akan masuk ke dalam alveolus. Fungsi ini dilakukan dengan cara :
a. Mengatur kelembaban udara. Fungsi ini dilakukan oleh palut lendir. Pada musim
panas, udara hampir jenuh oleh uap air, penguapan dari lapisan ini sedikit,
sedangkan pada musim dingin akan terjadi sebaliknya.
b. Mengatur suhu. Fungsi ini dimungkinkan karena banyaknya pembuluh darah di
bawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas, sehingga radiasi
dapat berlangsung secara optimal. Dengan demikian suhu udara setelah melalui
hidung kurang lebih 37o C.
3. Sebagai Penyaring Dan Pelindung
Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan bakteri dan
dilakukan oleh :
a. Rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi
b. Silia

c. Palut lendir (mucous blanket). Debu dan bakteri akan melekat pada palut
lendir dan partikel-partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks bersin.
Palut lendir ini akan dialirkan ke nasofaring oleh gerakan silia.
d. Enzim yang dapat menghancurkan beberapa jenis bakteri, disebut lysozime.
4. Indra Penghirup
Hidung juga bekerja sebagai indra penghirup dengan adanya mukosa olfaktorius
pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum.
Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau
bila menarik nafas dengan kuat.
• Kecepatan aliran udara pada saat inspirasi  250 ml/sec
• Inspirasi dalam  molekul udara lebih banyak menyentuh mukosa olfaktorius

 sensasi bau tercium
zat-zat yang ikut dalam udara inspirasi akan larut dalam lapisan mukus yang
berada pada permukaan membrane.

5. Resonansi Suara
Penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. Sumbatan hidung
akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang, sehingga terdengar suara
sengau.
6. Proses Bicara
Membantu proses pembentukan kata dengan konsonan nasal (m,n,ng) dimana
rongga mulut tertutup dan rongga hidung terbuka, palatum molle turun untuk
aliran udara.
7.

Refleks Nasal
Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran
cerna, kardiovaskuler dan pernafasan. Contoh : iritasi mukosa hidung
menyebabkan refleks bersin dan nafas terhenti. Rangsang bau tertentu
menyebabkan sekresi kelenjar liur, lambung dan pancreas.

Fungsi Sinus Paranasal

Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning)
Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan mengatur
kelembaban udara inspirasi. Keberatan terhadap teori ini ialah ternyata tidak didapati
pertukaran udara yang definitif antara sinus dan rongga hidung. Volume pertukaran
udara dalam ventilasi sinus kurang lebih 1/1000 volume sinus pada tiap kali bernafas,
sehingga dibutuhkan beberapa jam untuk pertukaran udara total dalam sinus. Lagipula
mukosa sinus tidak mempunyai vaskularisasi dan kelenjar yang sebanyak mukosa
hidung.
Sebagai penahan suhu (termal insulators)
Sinus paranasal berfungsi sebagai buffer (penahan) panas, melindungi orbita
dan fosa serebri dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah. Akan tetapi
kenyataannya, sinus-sinus yang besar tidak terletak di antara hidung dan organ-organ
yang dilindungi.
Membantu keseimbangan kepala
Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang muka.
Akan tetapi bila udara dalam sinus diganti dengan tulang hanya akan memberikan
pertambahan berat sebesar 1% dari berat kepala, sehingga teori ini dianggap tidak
bermakna.
Membantu resonansi suara
Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara dan
mempengaruhi kualitas suara. Akan tetapi ada yang berpendapat, posisi sinus dan
ostiumnya tidak memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonator yang efektif. Tidak
ada korelasi antara resonansi suara dan besarnya sinus pada hewan-hewan tingkat
rendah.
Sebagai peredam perubahan tekanan udara
Fungsi ini berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak,
misalnya pada waktu bersin atau membuang ingus.
Membantu produksi mucus
Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya kecil
dibandingkan dengan mukus dari rongga hidung, namun efektif untuk membersihkan
partikel yang turut masuk dengan udara inspirasi karena mukus ini keluar dari meatus
medius, tempat yang paling strategis.
C. Tumor Hidung dan Sinonasal
Definisi

Tumor hidung dan sinus paranasal adalah tumor ganas yang dimulai dari dalam
rongga hidung atau sinus paranasal disekitar hidung. Tumor hidung dan sinus
paranasal pada umumnya jarang ditemukan, baik yang jinak maupun yang ganas. Di
Indonesia dan di luar, kekerapan jenis yang ganas hanya sekitar 1% dari keganasan
seluruh tubuh atau 3% dari seluruh keganasan di kepala dan leher.
Hidung dan sinus paranasal atau disebut juga sinonasal merupakan rongga yang
dibatasi oleh tulang-tulang wajah yang merupakan daerah yang terlindung sehingga
tumor yang timbul didaerah ini sulit diketahui secara dini. Asal tumor primer juga
sulit ditentukan, apakah dari hidung atau sinus karena biasanya pasien berobat dalam
keadaan penyakit telah lanjut dan tumor sudah memenuhi rongga hidung dan seluruh
sinus.
Epidemiologi dan Etiologi
Insiden tertinggi keganasan sinonasal ditemukan di Jepang, yaitu 2 sampai 3,6 per
100.000 penduduk pertahun. Di Department THT FKUI RS Cipto Mangunkusumo,
keganasan ini ditemukan pada 10-15% dari seluruh tumor ganas THT. Laki-laki
ditemukan lebih banyak dengan rasio laki-laki banding wanita sebesar 2:1.
Etiologi tumor ganas sinonasal belum diketahui, tetapi diduga beberapa zat kimia
atau bahan industry merupakan penyebab antara lain nikel, debu, kayu, kulit,
formaldehid, kromium, minyak isopropil, dan lain-lain. Pekerja di bidang ini
mendapat kemungkinan terjadi keganasan sinonasal lebih besar. Banyak laporan
mengenai kasus adeno-karsinoma sinus etmoid pada pekerja-pekerja industry
penggergajian kayu dan pembuatan mebel, alcohol, asap rokok, makanan yang diasin
atau diasap diduga meningkatkan kemungkinan terjadinya keganasan, sebaliknya
buah dan sayuran mengurangi kemungkinan terjadi keganasan.
Jenis Histopatologi
Hampir seluruh jenis histopatologi tumor jinak dan ganas dapat tumbuh di daerah
sinonasal. Termasuk tumor jinak epitelial, yaitu adenoma dan papilloma, yang nonepitelial yaitu fibroma, angiofibroma, hemangioma, neurilemomma, osteoma, diplasia
fibrosa,

dan

lain-lain.

Disamping

itu,

ada

tumor

odontogenik,

misalnya

ameloblastoma atau adamantinoma, kista tulang dan lain-lain.
Tumor ganas epitelial adalah karsinoma sel skuamosa, kanker kelenjar liur, adenokarsinoma, karsinoma tanpa diferensiasi, dan lain-lain. Jenis non-epitelial ganas

adalah hemangioperisitoma, bermacam-macam sarkoma termasuk rabdomiosarkoma
dan ostogenik sarkoma ataupun keganasan limfoproliferatif seperti limfoma
malignum, plasmasitoma, ataupun polimorfik retikulosis sering juga ditemukan
didaerah ini.
Beberapa jenis tumor jinak ada yang mudah kambuh atau secara klinis bersifat
ganas karena tumbuh agresif mendestruksi tulang, misal papilloma inverted, displasia
fibrosa, ataupun ameioblastoma. Pada jenis-jenis ini tindakan operasi harus radikal.
Gejala dan Tanda
Gejala tergantung dari asal primer tumor serta arah dan perluasannya. Tumor di
dalam sinus maksila biasanya tanpa gejala. Gejala timbul setelah tumor besar,
mendorong atau menembus dinding tulang meluas ke rongga hidung, rongga mulut,
pipi, atau orbita.
Tergantung dari perluasan tumor, gejala dapat dikategorikan sebagai berikut:
1. Gejala nasal. Gejala nasal berupa obstruksi hidung unilateral dan rinorea. Sekretnya
sering bercampur darah atau terjadi epistaksis. Tumor yang besar dapat mendesak
tulang hidung sehingga terjadi deformitas hidung. Khas pada tumor ganas ingusnya
berbau karena mengandung jaringan nekrotik.
2. Gejala orbital. Perluasan tumor kearah orbita menimbulkan gejala diplopia, proptosis
atau penonjolan bola mata, oftalmoplegia, gangguan visus dan epifora.
3. Gejala oral. Perluasan tumor ke rongga mulut menyebabkan penonjolan di palatum
atau di prosesus alveolaris. Pasien mengeluh gigi palsunya tidak pas lagi atau gigi
geligi goyah. Seringkali pasien datang ke dokter gigi karena nyeri di gigi, tetapi tidak
sembuh meskipun gigi yang sakit telah dicabut.
4. Gejala fasial. Perluasan tumor ke depan akan menyebabkan penonjolan pipi, disertai
nyeri, anesthesia, atau parasetesia muka jika mengenai n. trigeminus.
5. Gejala intrakranial. Perluasan tumor ke intracranial menyebabkan sakit kepala
hebat, oftalmoplegia, dan gangguan visus. Dapat disertai likuorea, yaitu cairan otak
yang keluar melalui hidung. Jika perluasan sampai ke fossa kranii media, maka sarafsaraf kranial lainnya juga terkena. Jika tumor meluas ke belakang, terjadi trismus
akibat terkenanya muskulus pterigoideus disertai anesthesia dan parestesi daerah yang
dipersarafi n. maksilaris dan mandibularis.
saat pasien berobat biasanya tumor sudah dalam fase lanjut. Hal lain yang juga
menyebabkan diagnosis terlambat adalah karena gejala klinisnya mirip dengan rhinitis
atau sinusitis kronis sehingga sering diabaikan oleh pasien maupun dokter.

Pemeriksaan
Saat memeriksa pasien, pertama-tama perhatikan wajah pasien apakah ada asimetri
atau distrosi. Jika ada proptosis, perhatikan arah pendorongan bola mata. Jika mata
terdorong ke atas berarti tumor berasal dari sinus maksila, jika ke bawah dan lateral
berarti tumor berasal dari sinus frontal atau etmoid.
Selanjutnya periksa dengan seksama kavum nasi dan nasofaring melalui rinoskopi
anterior dan posterior. Deskripsi massa sebaik mungkin, apakah permukaannya licin,
merupakan pertanda tumor jinak, atau permukaan berbenjol-benjol, rapuh, dan mudah
berdarah, merupakan pertanda tumor ganas. Jika dinding lateral kavum nasi terdorong
ke medial berarti tumor berada di sinus maksila. Untuk memeriksa rongga oral,
disamping inspeksi lakukanlah palpasi dengan menggunakan sarung tangan, palpasi
gusi rahang atas dan palatum, apakah ada nyeri tekan, penonjolan, atau gigi goyah.
Pemeriksaan naso-endoskopi dan sinus-kopi dapat membantu menemukan tumor
dini. Adanya pembesaran kelenjar di leher juga perlu dicari meskipun tumor ini jarang
bermetastasis ke kelenjar leher.
Pemeriksaan Penunjang
Foto polos sinus paranasal kurang berfungsi dalam mendiagnosis dan menentukan
perluasan tumor kecuali pada tumor tulang seperti osteoma. Tetapi foto polos tetap
berfungsi sebagai diagnosis awal, terutama jika ada erosi tulang dan perselubungan
padat unilateral, harus dicurigai keganasan, dan buatlah tomogram atau CT scan. CT
scan merupakan sarana terbaik karena lebih jelas memperlihatkan perluasan tumor
dan destruksi tulang. MRI atau Magnetic Resonance Imaging dapat membedakan
jaringan tumor dari jaringan normal tetapi kurang begitu baik dalam memperlihatkan
destruksi tulang. Foto polos paru diperlukan untuk melihat adanya metastase tumor di
paru.
Diagnosis
Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan pemeriksaan histopatologi. Jika tumor
tampak di rongga hidung atau rongga mulut, maka biopsi mudah dan harus segera
dilakukan. Biopsi tumor sinus maksila, dapat dilakukan melalui tindakan sinoskopi
atau melalui operasi Caldwell-Luc yang insisinya melalui sulkus ginggivo-bukal.

Jika dicurigai tumor vaskuler, misalnya hemangioma atau angiofibroma, jangan
lakukan biopsi karena akan sangat sulit menghentikan perdarahan yang terjadi.
Diagnosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan angiografi.
Tumor Jinak
Tumor jinak tersering adalah papilloma skuamosa. Secara makroskopis mirip
dengan polip, tetapi lebih vascular, padat dan tidak mengkilat. Ada 2 jenis papilloma,
pertama eksofitik atau fungiform dan yang kedua endofitik disebut papilloma
inverted. Papilloma inverted ino bersifat sangat invasive, dapat merusak jaringan
disekitarnya. Tumor ini sangat cenderung untuk residif dan dapat berubah menjadi
ganas. Lebih sering dijumpai pada laki-laki usia tua. Terapi adalah bedah radikal
misalnya rinotomi lateral atau maksilektomi medial.
Tumor jinak angiofibroma nasofaring sering bermanifestasi sebagai massa yang
mengisi rongga hidung, bahkan juga mengisi seluruh rongga sinus paranasal dan
mendorong bola mata ke anterior.
Tumor Ganas
Tumor ganas tersering adalah karsinoma sel skuamosa (70%), disusul oleh
karsinoma tanpa diferensiasi dan tumor asal kelenjar. Sinus maksila adalah yang
tersering terkena (50-60%), disusul sinus etmoid (15-25%), hidung sendiri (24%),
sedangkan sinus sfenoid dan frontal jarang terkena. Metastasis jauh juga jarang
ditemukan (<10%) dan organ yang sering terkena metastasis jauh adalah hati dan
paru.
Stadium tumor ganas sinonasal
Bermacam-macam klasifikasi untuk menentukan stadium yang digunakan di
Indonesia adalah klasifikasi UICC dan AJCC yang hanya berlaku untuk karsinoma di
sinus maksila, etmoid, dan rongga hidung, sedangkan untuk sinus sfenoid dan frontal
tidak termasuk dalam klasifikasi ini karena sangat jarang ditemukan. Keganasan yang
tumbuh seperti basalioma dan melanoma malignum di kulit sekitar hidung dan sinus
paranasal tidak termasuk dalam klasifikasi tumor hidung dan sinus paranasal.
Perluasan tumor primer dikategorikan dalam T1, T2, T3, dan T4. Paling ringan T1,
tumor terbatas di mukosa sinus, paling berat T4, tumor sudah meluas ke orbita, sinus
sfenoid dan frontal, dan / atau rongga intracranial.

Metastasis ke kelenjar limfa leher regional dikategorikan dengan N0 (tidak
ditemukan metastasis ke kelenjar limfa leher regional), N1 (metastasis ke kelenjar
limfa leher dengan ukuran diameter terbesar ≤ 3 cm), N2 (diameter terbesar > 3 cm
dan < 6 cm), N3 (diameter terbesar > 6 cm). Metastasis jauh dikategorikan sebagai
M0 (tidak ada metastasis) dan M1 (ada metastasis).
Berdasarkan TNM ini, dapat ditentukan stadium, yaitu stadium dini (stadium I dan
II), stadium lanjut (stadium III dan IV). Lebih dari 90% pasien datang dalam stadium
lanjut dan sulit menentukan asal tumor primernya karena sudah hampir seluruh
hidung dan sinus paranasal sudah terkena tumor.
Penatalaksaan
Pembedahan atau lebih sering bersama dengan modalitas terapi lainnya seperti
radiasi dan kemoterapi sebagai ajuvan sampai saat ini masih merupakan pengobatan
utama untuk keganasan di hidung dan sinus paranasal. Pembedahan masih
diindikasikan walaupun menyebabkan morbiditas yang tinggi bila terbukti dapat
mengangkat tumor secara lengkap. Pembedahan dikontraindikasikan pada kasus yang
telah bermetastasis jauh, sudah meluas ke sinus kavernous bilateral atau tumor sudah
mengenai kedua orbita.
Kemoterapi bermanfaat pada tumor ganas dengan metastasis atau residif atau jenis
yang sangat baik dengan kemoterapi, misalnya limfoma malignum.
Pada tumor jinak dilakukan ekstirpasi tumor sebersih mungkin. Bila perlu
dilakukan dengan cara pendekatan rinotomi lateral atau degloving (peningkapan).
Untuk tumor ganas, tindakan operasi harus seradikal mungkin. Biasanya dilakukan
maksilektomi medial, total atau radikal. Maksilektomi radikal dilakukan misalnya
pada tumor yang sudah mengenai seluruh dinding sinus maksila dan sering juga
masuk ke rongga orbita, sehingga pengangkatan maksila dilakukan secara en bioc
disertai eksenterasi orbita. Jika tumor sudah masuk ke rongga intracranial dilakukan
reseksi kraniofasial atau jika perlu kraniotomi, tindakan dilakukan dalam tim bersama
dokter bedah saraf.

Rekonstruksi dan Rehabilitasi
Sesudah maksilektomi total, harus dipasang prostesis maksila sebagai tindakan
rekonstruksi dan rehabilitasi, supaya pasien tetap dapat fungsi menelan dan berbicara

dengan baik, disamping perbaikan kosmetis melalui operasi bedah plastic. Dengan
tindakan-tindakan ini, pasien dapat bersosialisasi kembali dalam keluarga dan
masyarakat.
Prognosis
Pada umumnya, prognosis kurang baik. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi
prognosis keganasan hidung dan sinus paranasal, cara tepat dan akurat. Faktor-faktor
tersebut seperti, perbedaan diagnosis histologi, asal tumor primer, perluasan tumor,
pengobatan yang diberikan sebelumnya, status imunologi, terapi ajuvan yang
diberikan, status batas sayatan, lamanya follow up, dan banyak lagi faktor lainnya
yang dapat berpengaruh terhadap agresifitas penyakit dan hasil pengobatan yang
tentunya berpengaruh terhadap prognosis penyakit ini. Walaupun demikian,
pengobatan yang agresif secara multimodalitas akan memberikan hasil yang terbaik
dalam mengontrol tumor primer dan akan meningkatkan angka bertahan hidup selama
5 tahun sebesar 75% untuk seluruh stadium tumor.

D. Hemangioma
Definisi
Haemangiomas adalah tumor jinak pembuluh darah, yang berasal dari kulit,
mukosa dan struktur dalam seperti tulang, otot dan kelenjar. terdiri dari dua jenis
utama, kapiler dan kavernosa. Ketika neoplasma ini jarang muncul dalam rongga
hidung, mereka sebagian besar adalah tipe kapiler dan ditemukan melekat pada
septum hidung. Haemangiomas tipe kavernosa, lebih mungkin ditemukan pada
dinding lateral rongga hidung
Etiologi
Etiologi hemangioma belum diketahui pasti, namun proliferasi pembuluh
darah lokal dan peningkatan tekanan hidrostatik yang disebabkan oleh stimulasi lokal
berulang diketahui mempengaruhi terjadinya hemangioma. Ini biasanya terjadi pada
septum hidung anterior di Pleksus Kiesselbach karena daerah ini memiliki distribusi
pembuluh darah yang banyak dan sebagian besar terkena trauma berulang.

Patofisiologi
Fase proliferasi
Pertumbuhan hemangioma infantil terdiri dari sel lemak dan laju pemisahan
yang cepat dari sel endotel dan sel perisit sehingga membentuk kanal sinusodial yang
padat. Marker immunohistokimia seluler menjelaskan fase klinis dari siklus hidup
hemangioma. Bahkan pada tahap awal, sel-sel endotel mengekspresikan marker
fenotip dari kematangan dan molekul adhesi sel spesifik. Regulasi angiogenesis
didokumentasikan oleh ekspresi dari proses proliferasi antigen sel nuklear, dimediasi
dan dibagi oleh dua peptida angiogenik, vascular endothelial growth factor (VEGF)
dan basic fibroblast growth factor (bFGF). Enzim terlibat dalam proses remodeling
dari matriks ekstraselular yang juga ada, yang menunjukkan bahwa kerusakan kolagen
diperlukan untuk memberi ruang untuk proses pertumbuhan pembuluh kapiler. Tipe
eritrosit protein transporter glukosa-1 (GLUT1) adalah imunopositif disepanjang
siklus hidup dan negatif disebagian besar tumor pembuluh darah dan malformasi
vaskular.
Fase involunting
Regresi ini ditandai dengan semakin berkurangnya aktivitas endotel dan
pembesaran luminal. Degenarasi sel endotel, apoptosis dimulai sebelum 1 tahun dan
spesimen mencapai puncak dalam 2 tahun. Terdapat deposisi progresif dan dari
perivaskular dan jaringan fibrosa interlocular/interlobular, masuknya sebuah sel
stroma (termasuk sel mast, fibroblas, dan makrofag), dan munculnya inhibitor
jaringan metalloproteinase (TIMP)-1, penekanan pembentukan pembuluh darah baru.
Meskipun sel mast muncul dalam fase proliferasi akhir, mereka lebih jelas terlihat
selama fase involusi, berinteraksi dengan makrofag, fibroblas, dan jenis sel lainnya.
Sel mast dapat mensekresikan modulator yang menurunkan omset regulasi endotel.
Pada akhir hidup hemangioma, semua yang tersisa adalah beberapa kapiler seperti
pembuluh darah dan vena yang kosong atau kering. Berbagai macam dan lapisan yang
berlapis dari membran dasar, sebuah ciri ultrastruktural dari fase proliferasi, bertahan
pada daerah sekitar pembuluh kecil. Sekali peninggian parenkim selular digantikan
oleh jaringan longgar fibro-fatty yang bercampur dengan kolagen padat dan serat
retikuler.
Diagnosis
Gejala mungkin termasuk perdarahan hidung unilateral dan sumbatan hidung
bertahap selama periode enam bulan. Ukuran hemangioma yang terbatas pada rongga

hidung dalam berkisar dari beberapa mm lebih dari 2 cm, dapat terlihat dengan
rhinoskopi anterior. Dengan melakukan CT, ukuran tumor dan ada atau tidaknya
metastasis kedaerah sekitar dapat terlihat. Angiografi, sangat membantu dalam
membedakan hemangioma dari angiofibroma nasofaring dalam kasus-kasus
metastasis kedaerah sekitar.
Penatalaksanaan
Pengobatan dengan antibiotik topikal setiap hari atau balutan hidrokoloid.
Lidokain kental (2,5%) membantu untuk mengontrol rasa sakit. Apabila lesi masih
berukuran kecil, eksisi bedah sangat dianjurkan.
Pengobatan lini pertama untuk hemangioam adalah terapi kortikosteroid dapat
diberikan per oral maupan intralesi, yang sangat efektif (tingkat respon mencapai
85%). Prednisolon oral 2 sampai 3 mg/kgBB/hari selama 4 sampai 6 minggu.
Rekombinan interferon (IFN) α-2α atau 2b adalah sebuah agen lini kedua
untuk

hemangioma

penggunaannya

yang

adalah

(a)

membahayakan
kegagalan

dan

untuk

mengancam
merespon

jiwa.

Indikasi

kortikosteroid,

(b)

kontraindikasi kortikosteroid parenteral yang berkepanjangan, (d) penolakan orang
tua terhadap terapi kortikosteroid. Kortikosteroid dan IFN tidak boleh dipakai
bersamaan dalam dosis terapi. Dosis empiris adalah 2 sampai 3 Mu/m2, disuntikkan
subkutan setiap hari
Komplikasi
Sekitar

10%

dari

hemangioma

menimbulkan

komplikasi

seperti

ulserasi/kerusakan besar, distorsi jaringan yang terlibat, dan obstruksi dari struktur
vital. Ulserasi spontan kulit yang terlibat dapat meluas ke jaringan yang lebih dalam,
menyebabkan hilangnya sebagian struktur, seperti hidung, kelopak mata, bibir, atau
daun telinga. Mungkin 1% dari semua hemangioma menyebabkan komplikasi yang
mengancam jiwa, seperti pengalihan aliran darah yang cukup untuk menghasilkan
gagal jantung.

Prognosis
Pada umumnya, prognosis kurang baik. Banyak sekali faktor yang
mempengaruhi prognosis keganasan hidung dan sinus paranasal, cara tepat dan akurat.

Faktor-faktor tersebut seperti, perbedaan diagnosis histologi, asal tumor primer,
perluasan tumor, pengobatan yang diberikan sebelumnya, status imunologi, terapi
ajuvan yang diberikan, status batas sayatan, lamanya follow up, dan banyak lagi
faktor lainnya yang dapat berpengaruh terhadap agresifitas penyakit dan hasil
pengobatan yang tentunya berpengaruh terhadap prognosis penyakit ini. Walaupun
demikian, pengobatan yang agresif secara multimodalitas akan memberikan hasil
yang terbaik dalam mengontrol tumor primer dan akan meningkatkan angka bertahan
hidup selama 5 tahun sebesar 75% untuk seluruh stadium tumor.

E. Polip Nasi
Definisi
Polip hidung adalah massa lunak yang mengandung banyak cairan di dalam
rongga hidung, berwarna putih keabu-abuan, yang terjadi akibat inlamasi mukosa.
Etiologi
Dulu diduga predisposisi timbulnya polip nasi adalah rinitis alergi atau
penyakit atopi, tetapi makin banyak penelitian yang mengemukakan teori dan para
ahli sampai saat ini menyatakan bahwa etiologi polip nasi belum di ketahui dengan
pasti
Epidemiologi
Dalam populasi umum, prevalensi polip nasi sekitar 4%. Mereka terutama
mempengaruhi orang dewasa dan biasanya hadir pada pasien yang lebih tua dari 20
tahun. Di sebuah rumah sakit distrik Nigeria, dilaporkan bahwa tingkat presentasi
maksimum berusia antara 31 dan 40 tahun. Di Perancis, kejadian diperkirakan
meningkat dengan usia, mencapai puncaknya pada kelompok usia 50 sampai 59
tahun. Polip nasi jarang pada anak di bawah 10 dan mungkin terdapat cystic fibrosis.
Dengan rasio polip nasi 2:1 pada laki-laki dibanding perempuan.
Patofisiologi
Pembentukan polip sering diasosiasikan dengan inflamasi kronik, disfungsi
saraf otonom serta predisposisi genetic.

Menurut teori Bernstein, terjadi perubahan mukosa hidung terjadi akibat
peradangan atau aliran udara yang berturbulensi, terutama di daerah sempit di
kompleks osteomeatal. Terjadi prolaps submukosa yang diikuti oleh reepitelisasi dan
pembentukan kelenjar baru. Juga terjadi peningkatan penyerapan natrium oleh
permukaan sel epitel yang berakibat retensi air sehingga terbentuk polip
Teori lain mengatakan karena ketidakseimbangan saraf vasomotor terjadi
peningkatan permeabilitas kapiler dan gangguan regulasi vaskular yang berakibat
dilepasnya sitokin-sitokin dari sel mast, yang akan menyebabkan edema dan lamakelamaan menyebabkan polip.
Diagnosis
Anamnesis
Keluhan utama penderita polip nasi adalah hidung rasa tersumbat dari yang
ringan sampai berat, rinore dari yang jernih sampai yang purulen, hiposmia atau
anosmia. Mungkin disertai bersin-bersin, rasa nyeri pada hidung disertai nyeri kepala
didaerah frontal. Bila disertai infeksi sekunder mungkin didapati post nasal drip dan
rinore purulen. Gejala sekunder yang dapat timbul adalah bernafas melalui mulut,
suara sengau, halitosis, gangguan tidur, dan penurunan kualitas hidup.
Pemerikssaan fisik
Polip nasi yang masif dapat menyebabkan deformitas hidung luar sehingga
hidung tampak mekar karena pelebaran batang hidung. Pada pemeriksaan rinoskopi
anterior terlihat sebaga masssa yang berwarna pucat yang berasal dari meatus medius
dan mudah digerakkan.
Pembagian stadium polip menurut Mackay dan Lund (1997), stadium 1 :
Polip masih terbatas dimeatus medius. Stadium 2 : polip sudah keluar dari meatus
medius, tampak di rongga hidung tapi belum memenuhi rongga hidung. Stadium 3 :
polip yang masif

Naso-endoskopi

Adanya fasilitas endoskopi akan sangat membantu diagnosis kasus polip yang
baru. Polip stadium 1 dan 2 kadang-kadang tidak terlihat pada pemeriksaan rinoskopi
anterior tetapi tampak dengan pemeriksaan naso-endoskopi.
Pada kasus polip koanal juga dapat sering dilihat tangkai polip yang berasal
dari ostium asesorius sinus maksila.
Pemeriksaan Radiologi
Foto sinus paranasal (posisi waters, AP, dan lateral) dapat memperlihatkan
penebalas mukosa dan adanya batas udara-cairan dalam sinus, tetapu kurang
bermanfaat pada kasus polip.
Pemeriksaan tomografi komputer (Tk, CT scan) sangat bermanfaat untuk
melihat dengan jelas keadaan di hidung dan sinus paranasal apakah ada proses radang,
kelainan anatomi, polip atau sumbatan pada kompleks osteomeatal. Tk teruatama
diindikasikan pada kasus polip yang gagal diobati dengan terapi medikamentosa, jika
ada komplikasi dari sinusitis dan pada perencanaan tindakan bedah terutama bedah
endoskopi.
Penatalaksanaan
Tujuan utama pengobatan pada kasus polip nasi ialah menghilangkan keluhankeluhan, mencegah komplikasi dan mencegah rekurensi polip.
Pemberian kortikosteroid untuk menghilangkan polip nasi disebut polipektomi
medikamentosa. Dapat diberikan topikal atau sistemik. Polip tipe eosinofilik
memberikan respons yang lebih baik terhadap pengobatan kortikosteroid intranasal
dibandingkan polip tipe neutrofilik.
Kasus polip yang tidak membaik dengan terapu medikamentosa atau polip
masif disarankan untuk terapi bedah. Dapat dilakukan ekstraksi polip (polipektomi)
menggunakan senar polip atau cunam dengan analgesi lokal, etmodektomi intranasal
atau etmoidektomi ekstranasal untuk polip etmoid. Yang terbaik ialah bila tersedia
fasilitas endoskop maka dapat dilakukan tindakan BSEF (Bedah Sinus Endoskopi
Fungsional)

Komplikasi

Komplikasi parah jarang terjadi. Komplikasi meliputi:
1. Akut sinusitis bakteri - dengan potensi komplikasi infeksi intrakranial (misalnya
meningitis);. Trombosis sinus kavernosus, komplikasi orbital (periorbital dan
selulitis orbital, abses orbital), dan abses subperiosteal.
2. Tidur gangguan.
3. Dapat berkontribusi untuk gejala asma.
4. Jarang, polip besar (seperti yang terjadi di cystic fibrosis atau dengan sinusitis
jamur alergi) dapat menyebabkan kelainan struktur kraniofasial dengan hasil
proptosis, hypertelorism (peningkatan jarak interorbital) dan diplopia.
Prognosis
Tidak ada pengobatan kuratif tunggal dan kekambuhan adalah hal umum, termasuk
setelah operasi.

F. Angiofibroma
Definisi dan Epidemiologi

Angiofibroma merupakan tumor yang bersifat jinak secara histopatologis
tetapi secara klinis bersifat destruktif.
Angiofibroma berasal terutama di nasofaring dan terbatas pada laki-laki
remaja atau anak usia dini. Sedangkan angiofibroma dari rongga hidung sangat langka
dan telah dilaporkan terjadi pada septum, konka inferior, medial, dan superior. Pada
septum hidung adalah yang sangat langka dengan hanya 5 kasus yang dilaporkan
dalam literature inggris. Rasio perempuan dan laki-laki adalah 2:1 dengan usia
berkisar 8-50 tahun.
Etiologi
Penyebab dari angiofibroma belum dapat diketahui secara pasti. Beberapa teori telah
diajukan oleh para ahli untuk mendapatkan jawaban yang pasti. Pada dasarnya teoriteori tersebut dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu teori jaringan asal dan teori
ketidakseimbangan hormonal.

Patofisiologi
Pada teori jaringan asal, dinyatakan bahwa angiofibroma nasofaring terjadi
karena pertumbuhan abnormal jaringan fibrokartilago embrional atau periosteum di
daerah oksipitalis os sfenoidalis. Diperkirakan bahwa kartilago atau periosteum
tersebut merupakan matriks dari angiofibroma. Pada akhirnya didapatkan gambaran
lapisan sel epitelial yang mendasari ruang vaskular pada fasia basalis dan
dikemukakan bahwa angiofibroma berasal dari jaringan tersebut. Sehingga dikatakan
bahwa tempat perlekatan spesifik angiofibroma adalah di dinding posterolateral atap
rongga hidung
Sedangkan teori ketidakseimbangan hormonal menyatakan bahwa terjadinya
angiofibroma diduga karena adanya perubahan aktivitas pituitari. Hal ini
menyebabkan ketidakseimbangan hormonal yaitu adanya kekurangan hormon
androgen dan atau kelebihan hormon estrogen. Teori ini didasarkan adanya hubungan
erat antara tumor dengan jenis kelamin dan usia penderita serta adanya hambatan
pertumbuhan pada semua penderita angiofibroma. Diduga tumor berasal dari
periosteum

nasofaring

dikarenakan

tidak

adanya

kesamaan

pertumbuhan

pembentukkan tulang dasar tengkorak menyebabkan terjadinya hipertropi di bawah
periosteum sebagai reaksi terhadap hormonal

Diagnosis
Diagnosis angiofibroma nasofaring ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan radiologis. Diagnosis pasti ditegakkan
berdasarkan pemeriksaan histopatologis jaringan tumor pasca operasi. Tindakan
biopsi sebaiknya dihindari atau dilakukan dalam kamar operasi dengan peralatan
operasi yang telah dipersiapkan, mengingat bahaya perdarahan yang biasanya sukar
dikontrol.
Anamnesis
Gejala klinis yang tampak pada penderita angiofibroma sangat bervariasi
tergantung dari lokasi tumor serta perluasannya.
1. Pada permulaan penyakit gejala yang paling sering ditemukan (> 80%)
adalah hidung tersumbat yang progresif dilanjutkan dengan adanya
epistaksis masif yang berulang.
2. Adanya obstruksi hidung memudahkan terjadinya penimbunan sekret,
sehingga timbul rinorea kronis yang diikuti oleh gangguan penciuman.
3. Sefalgia hebat yang menunjukkan bahwa tumor sudah meluas ke
intrakranial,

Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik secara rinoskopi akan terlihat massa tumor yang
konsistensinya kenyal, warnanya bervariasi dari abu-abu sampai merah muda, dengan
konsistensi kenyal dan permukaan licin.
Pemeriksaan Penunjang
Pada CT scan dengan zat kontras akan tampak secara tepat perluasan massa
tumor serta destruksi tulang ke jaringan sekitarnya
Pemeriksaan magnetic resonansi imaging (MRI) dilakukan untuk batas tumor
terutama yang telah meluas ke intrakranial
Pemeriksaan angiografi (arteriografi) bertujuan melihat pembuluh darah
pemasok utama (feeding vessel) untuk tumor serta mengevaluasi besar dan perluasan

tumor. Pada pemeriksaan arteriografi arteri karotis interna, akan terlihat vaskularisasi
tumor yang biasanya berasal dari cabang arteri maksilaris interna homolateral.
Penatalaksanaan
Pengobatan angiofibroma adalah bedah reseksi. Pendekatan bedah ditentukan
oleh ukuran, lokasi dan suplai darah tumor. berbeda inovasi telah dijelaskan untuk
eksisi lengkap mulai dari pendekatan endoskopi untuk alotomy dan sebelah lateral
rhinotomy untuk eksposur yang lebih baik. Kelangkaan angiofibroma septal dan
kurangnya sistem pementasan membuat sulit untuk menetapkan pedoman standar
untuk terapi.

Komplikasi
Komplikasi meliputi: perdarahan yang banyak (excessive bleeding).
Transformasi keganasan (malignant transformation).
Prognosis
Prognosis angiofibroma pada penderita dimana angka kekambuhan setelah terapi
dilaporkan bervariasi antara 6 % hingga 57%.Salah satu penelitian menyebutkan
angka rekuren 2,5% dari 19-40 penderita yang dirawat, dan satu dari penderita yang
ada mengalami kekambuhan sampai 12 kali. Angka mortalitas penyakit ini sekitar
3%.

Daftar Pustaka

Adam, Boies, Higler, Boies Buku Ajar Penyakit THT edisi 6, EGC, Jakarta, 1997
Archontaki, M dkk, Cavernous haemangioma of the left nasal cavity. ACTA
Otorhinolharingologica Italica, 2008
Guyton, AC, Hall, JE, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, 1997, editor: irawati setiawan, ed. 9,
1997, Jakarta: EGC
Kim, Seon Tae dkk, Three Cases of Hemangioma in Nasal Septum. 2000
Latif Hamdan, Abdul dkk, Angiofibroma of the Nasal Septum. Middle East Journal of
Anesthesiology. 2012
Meymane Jahromi, Ahmad dkk, The Epidemiological and Clinical Aspects
of

Nasal

Polyps

that

Require

Surgery.

National

Center

for

Biotechnology Information (NCBI), 2012
Mulliken, Jhon B. VascularAnomaliesIn : Grabb and Smith’s PlasticSurgery. 6th edition.
Philadelphia .2007
Soepardi, Efiaty Arsyad dkk, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala
Leher edisi 7, FK UI, 2012.
Snell, Richard S., Anatomi klinik edisi 6, EGC, 2006
Rahman, Sukri dkk, Angiofibroma Nasofaring Pada Dewasa. Telinga Hidung Tenggorok
Bedah Kepala Leher (THT-KL) Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang
Ray Newton, Jonathan dkk, A review of nasal polyposis, National Center
for Biotechnology Information (NCBI), 2008
www.patient.co.uk/doctor/nasal-polyps-pro