BAB

Sifat Fisik Fluida

2
Pengetahuan tentang sifat fisik fluida reservoir sangatlah dibutuhkan untuk memahami dan
memprediksi kelakuan reservoir minyak dan gas sebagai fungsi tekanan. Dasar pemahaman tentang
sifat fisik fluida reservoir ini akan sangat membantu dalam mengkarakterisasi dan mendeskripsikan
reservoir secara lebih akurat. Setiap reservoir bersifat unik. Dengan pemahaman sifat fluida yang
baik, seorang ahli reservoir mampu melakukan evaluasi dinamik kinerja reservoir dengan akurat. Baik
sifat fisika maupun kimia fluida reservoir sangat mempengaruhi karakteristik interaksi fluida dengan
batuan dan oleh karenanya mempengaruhi proses aliran fluida di dalam reservoir.
Komposisi, tekanan reservoir dan temperatur reservoir menentukan jenis fluida reservoir yang
memiliki karakteristik berbeda-beda. Pemahaman akan kelakuan fasa fluida reservoir baik di reservoir
maupun di permukaan sangat berguna untuk manajemen reservoir. Sebagai contoh, sasaran untuk
mendapatkan minyak atau gas lebih banyak di permukaan dapat didesain terlebih dahulu apabila
mempunyai dan memahami kelakuan fasa yang digambarkan dengan diagram fasa fluida reservoir
minyak dan gas bumi. Sifat fisik fluida reservoir minyak dapat diperoleh dari pengolahan data hasil
percobaan di laboratorium. Metode korelasi matematik dapat digunakan apabila tidak tersedianya sifat
fisik fluida reservoir yang didapatkan dari pengolahan laboratorium.
2.1 Komposisi Fluida Reservoir
Pada prinsipnya fluida reservoir yang mengalir dari reservoir ke permukaan terdiri dari 2 jenis fluida
yaitu minyak dan gas bumi yang disertai dengan air. Minyak Bumi merupakan campuran dari
berbagai macam hidrokarbon. Campuran senyawa hidrokarbon pada minyak bumi sebanyak 50-98%
berat, sisanya terdiri atas zat-zat organik yang mengandung belerang, oksigen, dan nitrogen serta
senyawa-senyawa anorganik seperti vanadium, nikel, natrium, besi, aluminium, kalsium, dan
magnesium. Jenis molekul yang paling sering ditemukan adalah alkana (baik yang rantai lurus
maupun bercabang), sikloalkana, hidrokarbon aromatik, atau senyawa kompleks seperti aspaltena.
Setiap minyak bumi mempunyai keunikan molekulnya masing-masing, yang diketahui dari bentuk
fisik dan ciri-ciri kimia, warna, dan viskositas.
Berdasarkan kandungan senyawanya, minyak bumi dapat dibagi menjadi golongan hidrokarbon dan
non-hidrokarbon serta senyawa-senyawa logam.
 Hidrokarbon
1. Parafin
Parafin adalah kelompok senyawa hidrokarbon tersaturasi dengan rantai lurus atau bercabang
yang molekulnya hanya mengandung unsur karbon dan hidrogen dengan rumus umum
CnH2n+2. Pada umumnya minyak Bumi mengandung 5 sampai 40 atom karbon per
molekulnya, meskipun molekul dengan jumlah karbon lebih sedikit/lebih banyak juga
mungkin ada di dalam campuran tersebut.
Contohnya adalah metana (CH4), etana (C2H6), n-butana (C4H10), isobutana (2-metil propana,
C4H10), isopentana (2-metilbutana, C5H12), dan isooktana (2,2,4-trimetil pentana, C 8H18).
Jumlah senyawa yang tergolong ke dalam senyawa isoparafin jauh lebih banyak daripada
senyawa yang tergolong n-parafin. Tetapi, di dalam minyak bumi mentah, kadar senyawa
isoparafin biasanya lebih kecil daripada n-parafin.
2. Hidrokarbon tak jenuh (Alkena dan Alkuna)
adalah hidrokarbon yang memiliki ikatan ganda atau triple antara atom karbon. Hidrokarbon
ini memiliki potensi untuk menambah lebih banyak hidrogen atau unsur-unsur lain dan karena
itu disebut tak jenuh. Hidrokarbon tak jenuh dikenal dengan olefin yang terdiri dari dua jenis.

II-1

Alkena contohnya etilen CH2 = CH2 yang memiliki ikatan karbon rangkap ganda dan alkuna
contohnya asetilena CH = CH yang memiliki ikatan karbon rangkap tiga.
3. Naftena
Naftena adalah senyawa hidrokarbon jenuh yang membentuk struktur cincin dengan rumus
molekul CnH2n. Senyawa-senyawa kelompok naftena yang banyak ditemukan adalah senyawa
yang struktur cincinnya tersusun dari 5 atau 6 atom karbon. Contohnya adalah siklopentana
(C5H10), metilsiklopentana (C6H12) dan sikloheksana (C6H12). Umumnya, di dalam minyak
bumi mentah, naftena merupakan kelompok senyawa hidrokarbon yang memiliki kadar
terbanyak kedua setelah n-parafin.
4. Aromatik
Aromatik adalah hidrokarbon-hidrokarbon tak jenuh yang berintikan atom-atom karbon yang
membentuk cincin benzen (C6H6). Contohnya benzen (C6H6), metilbenzen (C7H8), dan
naftalena (C10H8). Minyak bumi dari Sumatera dan Kalimantan umumnya memiliki kadar
aromat yang relatif besar.
Non Hidrokarbon
Selain senyawa-senyawa yang tersusun dari atom-atom karbon dan hidrogen, di dalam minyak
bumi ditemukan juga senyawa non hidrokarbon seperti belerang, nitrogen, oksigen, vanadium,
nikel dan natrium yang terikat pada rantai atau cincin hidrokarbon. Unsur-unsur tersebut
umumnya tidak dikehendaki berada di dalam produk-produk pengilangan minyak bumi, sehingga
keberadaannya akan sangat mempengaruhi langkah-langkah pengolahan yang dilakukan terhadap
suatu minyak bumi.
1. Belerang
Belerang terdapat dalam bentuk hidrogen sulfida (H2S), belerang bebas (S), merkaptan (RSH, dengan R=gugus alkil), sulfida (R-S-R’), disulfida (R-S-S-R’) dan tiofen (sulfida siklik).
Senyawa-senyawa belerang tidak dikehendaki karena :
 Menimbulkan bau tidak sedap dan sifat korosif pada produk pengolahan.
 Mengurangi efektivitas zat-zat bubuhan pada produk pengolahan.
 Meracuni katalis-katalis perengkahan.
 Menyebabkan pencemaran udara (pada pembakaran bahan bakar minyak, senyawa
belerang teroksidasi menjadi zat-zat korosif yang membahayakan lingkungan, yaitu SO 2
dan SO3).
2. Nitrogen
Senyawa-senyawa nitrogen dibagi menjadi zat-zat yang bersifat basa seperti 3-metilpiridin
(C6H7N) dan kuinolin (C9H7N) serta zat-zat yang tidak bersifat basa seperti pirol (C 4H5N),
indol (C8H7N) dan karbazol (C12H9N). Senyawa-senyawa nitrogen dapat mengganggu
kelancaran pemrosesan katalitik yang jika sampai terbawa ke dalam produk, berpengaruh
buruk terhadap bau, kestabilan warna, serta sifat penuaan produk tersebut.
3. Oksigen
Oksigen biasanya terikat dalam gugus karboksilat dalam asam-asam naftenat (2,2,6trimetilsikloheksankarboksilat, C10H18O2) dan asam-asam lemak (alkanoat), gugus hidroksi

fenolik dan gugus keton. Senyawa oksigen tidak menyebabkan masalah serius seperti halnya
senyawa belerang dan senyawa nitrogen pada proses-proses katalitik.
Senyawa logam
Minyak bumi biasanya mengandung 0,001-0,05% berat logam. Kandungan logam yang biasanya
paling tinggi adalah vanadium, nikel dan natrium. Logam-logam ini terdapat bentuk garam
terlarut dalam air yang tersuspensi dalam minyak atau dalam bentuk senyawa organometal yang
larut dalam minyak. Vanadium dan nikel merupakan racun bagi katalis-katalis pengolahan minyak
bumi dan dapat menimbulkan masalah jika terbawa ke dalam produk pengolahan.

II-2

Hidrokarbon

Aromatik

Alifatik

Alkana (Paraffin)
Alkena

Alkuna
Silka Alkana (Nathenes)

Gambar 2.1 Diagram klasifikasi hidrokarbon
Tabel 2.1 Rumus Kimia Hidrokarbon

Nama
Senyawa
Alkana
Alkena

Rumus
Kimia
CnH2n+2
CnH2n

Alkuna

CnH2n-2

Sikloalkana

Jenis Ikatan
Ikatan Jenuh
Ikatan tidak
jenuh
Ikatan tidak
jenuh
Ikatan cincin

Komposisi tipikal gas alam pada senyawa hidrokarbon dan non-hidrokarbon ditunjukkan pada Tabel
2.2. Dan komposisi gas yang terakumulasi bersama minyak bumi ditunjukkan pada Tabel 2.3. Tampak
bahwa selain Hidrokarbon juga terdapat komponen lain seperti CO 2, N2 dan H2S yang merupakan
komponen ikutan. Gas alam memiliki komponen ringan lebih banyak dibandingkan dengan gas yang
terakumulasi bersama minyak bumi. Komponen C 7+ untuk gas berjumlah relatif kecil sekali.
Komponen C7+ artinya komponen Heptana dan yang lebih besar digabung menjadi satu. Minyak bumi
lebih banyak mengandung komponen berat yaitu C7+, sedangkan gas bumi lebih banyak mengandung
komponen ringan seperti Metana, Etana, Propana, dan Butana.
Tabel 2.2 Tipikal Gas Alam

Hidrokarbon
Metana
70 - 98%
Etana
1 – 10%
Propana
Kecil sekali – 5%
Butana
Kecil sekali – 2%
Pentana
Kecil sekali – 1%
Hexana
Kecil sekali – ½%
Heptana +
Kecil sekali – ½%
Non-Hidrokarbon
Nitrogen
Kecil sekali – 15%
Karbon dioxida*
Kecil sekali – 5%
Hidrogen sulfida*
Kecil sekali – 3%
Helium
Sampai 5%, biasanya kecil sekali
*kadang-kadang muncul
II-3

Garis dengan cairan nol persen artinya saat mulai terjadi pengembunan atau disebut dengan titik embun (dew point). dan air)  Padatan (scale.Kecil sekali – 6% Helium 0% 2. sedangkan garis dengan gas nol persen adalah saat pertama kali gas keluar dari minyak atau disebut dengan titik gelembung (bubble point). H2S. Tiga parameter yang berpengaruh dalam jenis keadaan (state) fasa adalah:  Tekanan. hidrat. Kelakuan Fasa digambarkan dengan Diagram Fasa yang pada dasarnya adalah diagram untuk mendefinisikan kondisi fasa fluida dalam bentuk plot antara tekanan dan temperatur yang didalamnya terdapat kurva-kurva garis prosentase cairan. hidrokarbon)  Cair ( hidrokarbon. pasir) Namun demikian hanya fasa gas dan cair saja yang dibahas pada bab ini. Atau lebih sering kita kenal dengan sebutan fasa.Tabel 2. dan sebaliknya.2 Kelakuan Fasa Fluida reservoir minyak dan gas merupakan campuran dari sejumlah komponen yang dapat berubah bentuk tergantung pada suhu dan temperatur lingkungannya. Keadaan (state) fasa gas hidrokarbon dapat berpindah menjadi keadaan (state) fasa cair hidrokarbon. II-4 . Kita akan meninjau aspek-aspek kualitatif dari perilaku fluida reservoir ketika mengalami perubahan tekanan dan suhu. Kelakuan fasa merupakan kunci untuk memahami interaksi antara fluida reservoir dengan batuan reservoir dan perubahan dinamik reservoir seiring dengan dilakukannya beberapa aspek proses produksi. Fluida reservoir yang keluar dari wellhead pada umumnya terdiri dari fasa:  Gas (CO2. (psia)  Temperatur ( oF)  Gaya tarik-tolak molekuler Gaya tarik-tolak molekuler berbanding terbalik dengan jari-jari.3 Gas yang terakumulasi bersama minyak bumi Hidrokarbon Metana 45 – 92% Etana 4 – 21% Propana 1 – 15% Butana ½ – 7% Pentana Kecil sekali – 3% Hexana Kecil sekali – 2% Heptana + Kecil sekali – 1½% Non-Hidrokarbon Nitrogen Kecil sekali – up to 10% Karbon dioxida* Kecil sekali – 4% Hidrogen sulfida* 0 .

yaitu:   Diagram Fasa Sistem Satu Komponen Diagram Fasa Sistem Dua Komponen 2. Titik kritis merupakan batas dari garis tekanan uap (Vapour pressure line) yang ditandai dengan temperatur kritis (T c) dan tekanan kritis (Pc) untuk komponen tunggal.2 Diagram Tekanan Temperatur (P-T) untuk sistem komponen tunggal  Garis Tekanan Uap (Vapour Pressure Line) Garis tekanan uap membagi membagi daerah berfasa cair dan daerah berfasa gas.2. Di atas garis tekanan uap mengindikasikan kondisi zat berfasa cair dan dibawah garis tekanan uap mengindikasikan kondisi zat berfasa gas. Bila tepat pada garis tekanan uap mengindikasikan terdapat fasa gas dan fasa cair secara berdampingan.  Titik Kritis (Critical Point) Titik kritis dilambangkan dengan titik C.1 Sistem Komponen Tunggal Diagram Tekanan-Temperatur (P-T) 1 2 Gambar 2.0) r = jarak antar molekul Untuk menggambarkan kelakuan fasa dan karakteristik fluida secara fundamental dapat dijelaskan dengan diagram fasa yang lebih sederhana terlebih dahulu.  Triple Point II-5 . Temperatur kritis (Tc) dan tekanan kritis (Pc) ini menandakan batas cair dan gas yang dapat muncul.Fmolekuler = 1 r (2.

Untuk perpindahan dari titik 1 ke 2 terjadi perubahan fasa. Garis yang memisahkan fasa padat dan cair adalah garis titik lebur/leleh.2 menunjukkan diagram Tekanan-Temperatur (diagram P-T) untuk komponen tunggal. garis yang memisahkan fasa cair dengan fasa gas adalah garis tekanan uap. Dalam dunia perminyakan. Isotermal Isobarik Gas Gas Cair Cair Cair Hg Hg Temperatur Konstan Cair Hg Hg Tekanan Konstan Gambar 2. Proses isobarik ditunjukkan oleh perpindahan kondisi dari titik 3 ke 4 dimana terjadi perubahan fasa dari fasa cair ke uap. Garis titik lebur untuk hidrokarbon memiliki kemiringan garis (slope) yang positif seiring dengan bertambahnya tekanan dan temperatur. Hal ini disebabkan karena II-6 . Gambar 2.Titik tiga (Triple point) mewakili tekanan dan temperatur di mana terdapat 3 fasa secara bersamaan yaitu padat.3 juga mengilustrasikan perubahan fisik di dalam cel apabila terdapat sistem fasa cair kemudian diturunkan tekanannya pada kondisi temperatur konstan. Namun untuk perpindahan dari titik 5 ke 6 tidak terjadi perubahan fasa. dan titik 7 ke 8 yang tidak terjadi perubahan fasa karena di atas titik kritik. aspal (asphaltenes) dan hidrat. Fasa padat hanya ditemukan pada situasi tertentu seperti permasalahan endapan lilin (wax). dari sebelah kiri.3 juga ditunjukkan proses isotermik dan isobarik. dan dari 5 ke 6.3 Proses Isotermik dan Isobarik pada Sistem Komponen Tunggal Diagram Tekanan-Volume Selain dari diagram tekanan temperatur (P-T) sistem komponen tunggal. seorang ahli reservoir lebih sering menidentifkasi hidrokarbon dalam fasa cair dan gas. Pada Gambar 2. sedangkan garis yang memisahkan fasa padat dengan fasa gas adalah garis sublimasi. Seiring dengan terjadinya penurunan tekanan dari titik 1. Titik kritik (titik C) didefinisikan sebagai kondisi dimana di atas titik kritik fasa fluida tidak dapat ditentukan. dari fasa cair ke fasa uap. hal ini disebabkan kedua titik terletak di sebelah kanan titik kritik sistem tersebut. Proses isotermik diilustrasikan oleh perpindahan dari kondisi 1 ke 2. terjadi penurunan tekanan yang cukup besar sejalan dengan perubahan volume yang cukup kecil (gradien penurunan tekanan curam). cair dan uap dalam kondisi kesetimbangan. Terlihat bahwa triple point merupakan titik keberadaan ketiga fasa yaitu. perubahan fasa dapat pula terlihat pada diagram tekanan volume (P-V) untuk sistem komponen tunggal. Gambar 2. padatan.  Garis Tekanan Sublimasi (Sublimitation-Pressure Line) Perpanjangan garis tekanan uap (vapour pressure line) di bawah titik tripel merupakan kondisi yang membagi daerah dalam fasa padat dan daerah dalam fasa uap. cairan dan gas.  Garis Titik Lebur (Melting Point Line) Garis titik lebur membagi daerah dalam fasa padat dan daerah dalam fasa cair.

4. Penurunan tekanan berlanjut hingga semua fasa gas terbentuk (titik 4). Garis yang membelah “envelope” tersebut adalah garis rata-rata harga densitas sistem tersebut. Sistem terus berkembang dan lebih banyak gas yang keluar dari cairan (dari titik 2 ke titik 3) sampai suatu saat akan tercapai titik embun. Cairan yang Tersisa Semua Gas Gas Gelembung Pertama Semua Cairan Gambar 2.5 menunjukkan diagram density-temperatur ( -T) untuk komponen murni. Kondisi dari titik 2 ke titik 3 1 merupakan kondisi dimana terbentuk 2 fasa. Zona dua fasa terletak di dalam “envelope”. Secara sederhana diilustrasikan dalam Gambar 2. Densitas ρ Densitas Rata-rata C II-7 .4 3 2 kompresibilitas cairan yang kecil. sedangkan zona di bawah “envelope” adalah zona fasa uap. Ketika tekanan gelembung tercapai. gas terlarut mulai terbentuk keluar dari cairan (titik 2). Di atas “envelope” adalah zona fasa cair.4 Diagram Tekanan Volume (P-V) untuk sistem komponen tunggal Diagram Density-Temperatur (Diagram  -T) Gambar 2.

terdapat cara sederhana dan cepat. gravity (oAPI). menentukan dalam pengambilan keputusan seperti: sampling dan penghitungan cadangan. Penurunan tekanan hingga ke titik embun menyebabkan gas mengembang sampai maksimum. Garis garis kontur atau sering disebut dengan “quality lines” yang terbentuk menunjukkan perbandingan fasa cair terhadap fasa gas yang terbentuk pada tekanan dan temperature tertentu.6.5 Diagram Densitas-Temperatur Komponen Tunggal 2. dan akan sangat bermanfaat untuk mengetahui kelakuan fluida reservoir selama produksi. Gambar 2. yaitu dengan nilai Rasio Gas-Minyak Awal (GOR i).3 Diagram Fasa Minyak Bumi Diagram fasa minyak bumi adalah multikomponen. II-8 . Gambar dari diagram fasa untuk dua komponen ditunjukkan pada Gambar 2.2.6 Diagram P-T untuk Sistem Dua Komponen 2. Diagram dua fasa di lingkari oleh garis titik gelembung (bubble point line) dan garis titik embun (dew point line). dan warna. Dimulai dari titik 1 dimana fasa yang terbentuk yaitu hanya fasa cair tunggal. fasa cair berkurang dan terbentuk menjadi fasa gas tunggal (titik 2). Dan diantara garis titik gelembung dan garis titik embun terdapat titik kritis yang membagi fasa cair tunggal dan fasa gas tunggal.2 Sistem Dua komponen Dibandingkan dengan diagram fasa komponen tunggal. Diagram fasa minyak/gas bumi hanya dapat ditentukan di laboratorium atau dengan simulasi PVT menggunakan piranti lunak. namun. Penentuan jenis fluida reservoir paling tepat adalah dengan diagram fasa P-T.% cair 100 75 50 0 25 Densitas P Pc Gambar 2. mendefinisikan dan menggambarkan jenis-jenis fluida reservoir karena keperluan rekayasa reservoir dan produksi. seiring dengan terjadinya penurunan tekanan hingga ke titik gelembung maka akan terbentuk gas yang keluar dari fasa cair dan menyebabkan fasa cair berkurang. diagram fasa untuk dua komponen menunjukkan adanya daerah dimana keberadaan dua fasa yang hadir berdampingan. Akan terbentuk fasa cair dan fasa gas pada kondisi tekanan dibawah titik gelembung.

Setelah penurunan tekanan melewati titik 2. Gas mengembang dari minyak dan bergerak dari reservoir ke permukaan. Diagram fasa-nya mencakup rentang temperatur yang luas. Pada kondisi dua fasa. sedikit penurunan tekanan tidak mengakibatkan terlepasnya gas dari cairan (minyak) dalam jumlah yang signifikan. Garis-garis ini disebut iso-vol atau garis kualitas (quality lines).Gambar 2. dipisahkan oleh titik kritis (Critical Point) dan 100% fasa gas berada di sebelah kanan. Penurunan tekanan akan membebaskan sebagian gas terlarut untuk membentuk fasa gas bebas dalam reservoir. Garis vertikal 1-2-3 menunjukkan penurunan tekanan pada temperatur konstan yang terjadi di reservoir selama produksi. Hal ini terlihat dari Gambar 2. berat dan tidak mudah menguap (nonvolatile). Ketika tekanan reservoir berada pada garis 1-2. Tampak bahwa kurva garis pensentase fasa cairan 100% berada di sebelah kiri. diukur sebagai persentase dari volume total. Titik 2 merupakan titik gelumbung (bubble point).8 dimana seiring berkurangnya tekanan. Ciri-ciri fluida reservoir jenis Black Oil adalah sebagai berikut:  Cakupan temperatur yang cukup luas  Initial GOR sekitar 2000 SCF/STB II-9 . maka reservoir berada pada keadaan dua fasa.7 Diagram P-T untuk Sistem Multi Komponen Jenis-jenis fluida reservoir terdiri dari:  Black Oil  Volatile Oil  Retrogade gas (gas kondensat)  Wet gas  Dry gas Black Oil Diagram fasa dari black oil secara umum ditunjukkan pada Gambar 2. iso-vol/garis kualitas memiliki jarak yang seragam pada setiap lengkungan. terjadi pengurangan persentase cairan (% liquid)/penyusutan minyak. minyak dikatakan dalam keadaan tak jenuh (undersaturated) karena gas terlarut didalam minyak. Pada black oil.8. Garis pada lengkungan fasa mewakili presentase volume cairan (% liquid) yang konstan. Black oil terdiri dari variasi rantai hidrokarbon termasuk molekul-molekul yang besar.

Oleh karena itu disebut volatile oil (minyak yang mudah menguap). tetapi cenderung melengkung ke atas di depan garis titik gelembung. Iso-vol dengan persentase cairan jauh lebih kecil melintasi kondisi separator. Setelah penurunan tekanan melewati titik 2. terjadi pengurangan persentase cairan (% liquid)/penyusutan minyak.9 dimana seiring berkurangnya tekanan. bahkan mendekati temperatur reservoir.5 %< C7+ < 30 % mol II-10 . Hal ini terlihat dari Gambar 2. Titik 2 merupakan titik gelumbung (bubble point).  API rendah yaitu < 40 oAPI) Warna coklat/kehitaman Gambar 2. Penurunan tekanan akan membebaskan sebagian gas terlarut untuk membentuk fasa gas bebas dalam reservoir. Diagram fasa dari volatile oil ditunjukkan pada Gambar 2.8 Diagram P-T Jenis Fluida Reservoir Black Oil Volatile Oil Volatile oil mengandung relatif lebih sedikit molekul-molekul berat dan lebih banyak intermediates (Etana sampai Heksana) dibanding black oil. Gas mengembang dari minyak dan bergerak dari reservoir ke permukaan. Rentang harga temperatur yang tercakup lebih kecil daripada black oil. Pada kondisi dua fasa. Suatu volatile oil dapat menjadi gas sebesar 50% di reservoir pada tekanan hanya beberapa ratus psi di bawah tekanan gelembung. Ketika tekanan reservoir berada pada garis 1-2. sedikit penurunan tekanan akan mengakibatkan terlepasnya gas dari liquid (minyak) dalam jumlah yang signifikan. maka reservoir berada pada keadaan dua fasa. minyak dikatakan dalam keadaan tak jenuh (undersaturated) karena gas terlarut didalam minyak. Temperatur kritiknya jauh lebih kecil daripada black oil. Garis vertikal 1-2-3 menunjukkan penurunan tekanan pada temperatur konstan yang terjadi di reservoir selama produksi. Ciri-ciri fluida reservoir jenis Volatile Oil adalah sebagai berikut:  GOR 2000 – 3300 SCF/STB  API sekitar 40 oAPI atau lebih  Warna coklat kehitaman  12. Isovol-nya juga tidak seragam jaraknya.9.

Cairan ini sebagian tidak mengalir dan tidak dapat diproduksi.C4. Penurunan tekanan akan sangat besar pengaruhnya terhadap terlepasnya gas. Ciri-ciri fluida reservoir jenis Retrograde adalah sebagai berikut:  GOR 3300 SCF/STB  API: 40 < oAPI < 60  Persentase komponen intermediet (C3. Dengan menurunnya tekanan. Diagram fasa dari retrograde gas memiliki temperatur kritik lebih kecil dari temperatur reservoir dan cricondentherm lebih besar daripada temperatur reservoir. Seperti terlihat pada Gambar 2. awalnya retrograde gas merupakan fasa gas di reservoir (titik-1). retrograde gas akan mencapai titik embun (titik-2).Gambar 2.C5) sangat besar II-11 . Bersamaan dengan menurunnya tekanan reservoir.10.9 Diagram P-T Jenis Fluida Reservoir Volatile Oil Retrograde Gas Diagram fasa untuk retrograde gas lebih kecil daripada untuk minyak dan titik kritik-nya berada jauh di arah bawah dari lengkungan. Perubahan tersebut merupakan akibat dari kandungan retrograde gas/gas kondensat yang terdiri dari lebih sedikit hidrokarbon berat daripada minyak. cairan mengembun dari gas untuk membentuk cairan bebas di reservoir.

yang mengakibatkan sejumlah cairan terbentuk di permukaan (disebut kondensat). Ciri-ciri fluida reservoir jenis Dry Gas adalah sebagai berikut:  Baik di dalam reservoir maupun di permukaan.10 Diagram P-T Jenis Fluida Reservoir Retrograde Gas Wet Gas Diagram fasa untuk fluida reservoir wet gas ditunjukkan dalam Gambar 2. Ciri-ciri fluida reservoir jenis Wet Gas adalah sebagai berikut:  Di dalam reservoir fluida tidak berupa gas o  API sama dengan retrogade gas. Dimana temperatur reservoir diatas cricondentherm dari campuran hidrokarbon. kondisi separator berada pada lengkungan fasa.11 Diagram P-T Jenis Fluida Reservoir Wet Gas Dry Gas Komponen utama dari dry gas yaitu merupakan metana.11. Walaupun demikian. Kata “wet” (basah) pada wet gas (gas basah) bukan berarti gas tersebut basah oleh air. Karena temperatur reservoir melebihi cricondentherm dari sistem hidrokarbon. Kata dry mengindikasikan bahwa fluida reservoir tidak mengandung komponen hidrokarbon berat yang dapat membentuk cairan pada kondisi permukaan (hanya dalam fasa gas).Gambar 2. Pada dasarnya diagram fasa dari dry gas mirip dengan wet gas. tetapi tidak berubah terhadap waktu  GOR > 50000 SCF/STB Gambar 2. Cricondentherm didefinisikan sebagai diatas temperatur maksimum dimana cairan tidak dapat terbentuk karena kurangnya tekanan. tetapi mengacu pada cairan hidrokarbon yang terkondensasi pada kondisi permukaan. Yang membedakannya yaitu separator berada diatas cricondentherm/ diluar envelope (lengkungan fasa). fluida reservoir akan selalu tetap dalam fase gas seiring dengan penurunan tekanan (Garis 1-2). fluida tidak mengandung fasa cair  Mengandung molekul berat yang sedikit sekali II-12 .

13 Penentuan Jenis Reservoir dari diagram fasa Multi Komponen Penentuan diagram fasa dapat juga dilakukan dengan bantuan perangkat lunak komersial.14 sampai dengan Gambar 2.Gambar 2. II-13 .13. Gambar 2. Gambar 2.12 Diagram P-T Jenis Reservoir Dry Gas Penentuan jenis reservoir secara lengkap dari diagram fasa multi komponen dapat disimpulkan pada Gambar 2.16 merupakan contoh diagram fasa yang dibuat dengan menggunakan perangkat lunak/software komersial.

15 Diagram fasa untuk reservoir volatile oil Gambar 2.16 Diagram fasa untuk reservoir retrograde gas II-14 .Gambar 2.14 Diagram fasa untuk reservoir black oil Gambar 2.

Gambar 2.17 Perubahan bentuk fasa dari fasa minyak hingga ke fasa gas 2.18.4.1) Kelarutan gas mencapai maksimum dan bernilai konstan pada keadaan tak jenuh (undersaturated) karena semua gas terlarut didalam minyak. Setelah penurunan tekanan melewati titik gelembung maka reservoir berada pada keadaan dua fasa.4. Sangat penting bagi kita untuk mengestimasi properti minyak ini dari data parameter produksi yang ada. SCF Volume gas yang masuk tangki pada kondisi standar . Adakalanya kita menghadapi situasi dimana tidak tersedianya data tekanan gelembung dari hasil tes laboratorium. Rso= Volume gas yang diproduksikan pada kondisi standar . perubahan bentuk fasa dari fasa minyak hingga ke fasa gas komponen ringan memiliki kecenderungan bentuk fasa seperti pada Gambar 2.17 berikut: Gambar 2.1 Kelarutan Gas Dalam Minyak (Rso) Kelarutan gas dalam minyak didefinisikan sebagai jumlah kaki kubik standar (SCF) gas yang terlarut di dalam satu barel tangki (STB) minyak pada kondisi tekanan dan temperatur tertentu. Sebagian gas bebas terbentuk dari fasa minyak didalam reservoir. Gas yang keluar dari minyak ini membuat kelarutan gas didalam minyak menjadi berkurang seiring dengan berkurangnya tekanan. Kelarutan gas didalam minyak secara grafik digambarkan dalam Gambar 2.Secara umum. Sifat fisik fluida reservoir minyak dapat diperoleh dengan metode flash liberation atau Differential Liberation di laboratorium. Beberapa grafik dan II-15 . STB (2.18 Kelarutan Gas dalam Minyak sebagai Fungsi Tekanan 2.4 Sifat Fisik Fluida Reservoir 2.2 Tekanan Gelembung/Tekanan Saturasi (Pb) Tekanan gelembung (Pb) didefinisikan sebagai tekanan tertinggi dimana gelembung gas pertama kali dibebaskan dari fasa minyak.

gravitasi gas (γ g). Faktor volume formasi gas ini kemudian digunakan sebagai penghubung perhitungan volume aktual gas di reservoir pada tekanan dan temperatur tertentu. Gambar 2. didapatkan volume minyak di reservoir mengecil dan nilai faktor volume formasi minyak (B o) mengecil pula. Pengembangan minyak maksimum dicapai ketika tekanan sampai ke titik gelembung (Pb) dan menghasilkan faktor volume formasi minyak maksimum. Pb = f (Rs.19 merupakan grafik hubungan faktor volume formasi minyak (B o) terhadap tekanan. bbl Volume minyak yang masuk tangki pada kondisi standar . dan suhu (T).T V sc (2.2) Beberapa cara digunakan untuk menggabungkan beberapa parameter diatas dalam bentuk grafik atau persamaan matematik/korelasi.4) dimana.4.19 Faktor Volume Formasi Minyak sebagai Fungsi Tekanan 2. Korelasi ini didasarkan pada asumsi bahwa tekanan gelembung adalah fungsi dari kelarutan gas (Rs). Terjadinya pengembangan minyak ini menyebabkan faktor volume formasi minyak menjadi membesar. bbl) dibagi dengan volumenya pada kondisi standar (STB). Akibat penurunan tekanan tersebut. Setelah melewati titik gelembung.7 psia. Korelasi matematik untuk menghitung tekanan gelembung akan dibahas kemudian pada sub bab korelasi sifat fisik fluida. 60 °F dan 14. Nilai faktor volume formasi minyak akan bernilai sama dengan satu pada saat diukur pada tekanan atmosfir 14. γg. Untuk kondisi reservoir tak jenuh/undersaturated (P>Pb).7 psia dan temperatur 60 °F.korelasi matematik digunakan untuk menentukan tekanan gelembung. API. bbl) dibagi dengan pada kondisi standar (SCF).4 Faktor Volume Formasi Gas (Bg) Faktor volume formasi gas didefinisikan sebagai volume gas pada kondisi reservoir (res. gravitasi minyak (0API). penurunan tekanan lebih lanjut menyebabkan gas keluar dari minyak yang secara kuantitatif lebih besar dari pengembangan minyak. seiring dengan berkurangnya tekanan maka volume minyak akan bertambah dikarenakan terjadi pengembangan minyak (oil expansion). II-16 . B o= Volume minyak + gas terlarut pada kondisi reservoir .3 Faktor Volume Formasi Minyak (Bo) Faktor volume formasi minyak di definisikan sebagai volume minyak (termasuk gas terlarut) pada kondisi reservoir (res.3) Gambar 2.4. 2. B g= V P . T) (2. STB (2.

Tsc = tekanan dan tempearatur pada kondisi standar Dengan mengasumsikan kondisi standar Psc = 14. Faktor volume formasi total ini mendefinisikan total II-17 . ft3/scf VP.20 Grafik hubungan Bg terhadap tekanan. ft3/scf = faktor kompresibilitas gas = temperatur.Bg = faktor volume formasi gas.8) Gambar 2.005035 zT P (2. oR Didalam unit lapangan. 2. Bg z T = faktor volume formasi gas.T = volume gas pada P dan T tertentu.02827 zT P (2.0 Psc.T V sc (2.5 Faktor Volume Formasi Total (Bt) Untuk menggambarkan hubungan tekanan dan volume pada sistem hidrokarbon dibawah tekanan gelembung (saturated).7) dimana. Zsc = faktor Z pada kondisi standar = 1.7 psia dan Tsc = 520 maka didapatkan hubungan persamaan sebagai berikut: B g=0. ft3 Vsc = volume gas pada kondisi standar.4. ft3 B g= V P . akan lebih mudah apabila kita mengekpresikannya dalam bentuk faktor volume formasi total sebagai fungsi dari tekanan.6) dimana.5) znRT P zT P B g= = sc z sc nR T sc T sc P P sc (2. faktor volume gas dapat dituliskan dalam satuan bbl/SCF: B g=0.

T = faktor volume formasi gas pada P dan T tertentu. T +0 ( V o ) P . tidak terdapat gas bebas. seiring dengan terjadinya penurunan tekanan maka akan terbentuk fasa gas bebas. Persamaan faktor volume formasi total menjadi: B t= ( V o ) P . STB Untuk keadaan reservoir tak jenuh/undersaturated (P>Pb). T ¿ (2. V R (¿ ¿ sb−R s )Bg (¿¿ o)sc =¿ ¿ V (¿¿ g)P . bbl/scf Volume dari minyak yang tersisa pada kondisi reservoir didefinisikan sebagai V (¿¿ o)sc =Bo ¿ (2. bbl/STB ( V o ) P .10) Untuk keadaan reservoir jenuh/saturated (P<Pb). Fasa gas bebas ini apabila diukur pada kondisi standar maka akan terdapat perbedaan kelarutan sebesar (R sb-Rs). Atau dalam grafik akan terlihat garis yang berhimpitan. T + ( V g )P . Dalam hal ini faktor volume formasi total akan sama dengan faktor volume formasi minyak.9) dimana. Faktor volume formasi total (Bt) didefinisikan sebagai rasio total dari campuran hidrokarbon (minyak dan gas) pada tekanan dan suhu tertentu terhadap volume minyak pada kondisi standar (Stock tank oil).T = faktor volume formasi minyak pada P dan T tertentu.volume dari suatu sistem hidrokarbon dengan satu atau dua fasa yang ada pada campuran hidrokarbon tersebut. Bt = faktor volume formasi total. harga faktor folume formasi didalam tangki minyak pada kondisi permukaan merupakan gabungan antara properti faktor volume formasi minyak dan faktor volume formasi gas .12) Faktor volume formasi total secara matematik dituliskan sebagai berikut: II-18 . Apabila kita meninjau pada kondisi tekanan gelembung dan temperature reservoir.T = =B o ( V o ) sc ( V o )sc (2. Secara matematik dapat ditulis sebagai berikut: B t= ( V o ) P . T ( V o )sc (2.11) = Volume gas bebas pada P dan T tertentu Bg = Faktor volume formasi gas. bbl ( V g )P . bbl ( V o ) sc = Faktor volume formasi minyak pada kondisi standar.

Untuk fasa gas. bbl/STB Bg = faktor volume formasi gas.4.21 Hubungan Faktor Volume Formasi Total sebagai Fungsi Tekanan 2.14) c g = kompresibilitas gas isotermal.15) Turunan dari persamaan diatas terhadap tekanan pada temperatur konstan (T) dituliskan sebagai berikut: II-19 . Berdasarkan definisi. faktor kompresibilitas bernilai tidak kecil dan tidak kontan. Faktor kompresibilitas dalam persamaan matematik dapat dituliskan sebagai berikut: cg = −1 ∂V V ∂P ( ) T (2. Rsb = kelarutan gas pada kondisi tekanan gelembung. SCF/STB Bo = faktor volume formasi minyak. Untuk fasa cair. bbl/STB Gambar 2.6 Kompresibilitas (C) Kompresibilitas Gas Kompresibilitas merupakan perubahan volume pada tekanan dan temperatur tertentu dan mempunyai hubungan dengan sifat fisik fluida yang lain.B t=Bo +( Rsb −R s )Bg (2. 1/psi Dari persamaan gas nyata. V= nRT P (2. SCF/STB Rs = kelarutan gas pada tekanan tertentu. kompresibilitas gas isotermal merupakan perubahan volume per satuan volume terhadap perubahan tekanan.13) dimana. Pengetahuan tentang kompresibilitas fluida terhadap temperatur dan tekanan sangat penting dalam perhitungan keteknikan reservoir. faktor kompresibilitas bernilai kecil dan biasanya dianggap konstan.

17) T 1 P (2.1 ∂z z =nRT ( − ( ∂V ) ) [ ∂P P ∂P P ] 2 T (2. Apabila ditulis dalam bentuk pseudo reduced pressure. Gambar 2. didapatkan c g P pc =c pr= 1 −1 ∂ z P pr z ∂ P pr ( ) T pr (2.18) Persamaaan Cg ini berguna untuk menentukan besaran dari kompresibilitas isotermal.19) Dikali dengan Ppc. maka persamaannya menjadi: cg = 1 −1 ∂z P pr P pc z ∂ P pr P pc ( ) T pr (2.16) dengan mensubtitusi didapatkan cg = 1 −1 ∂ z P z ∂P ( ) ( ∂∂Pz )=0 Untuk gas ideal.22 menunjukkan kelakuan kompresibilitas gas terhadap tekanan. II-20 .20) dimana. z = 1 dan cg = (2. c pr =¿ c g =¿ P pc isotermal pseudo-reduced compressibility isotermal kompresibilitas gas = pseudo-reduced pressure Harga dari ( ∂∂Pz ) pr T pr didapatkan dari kemiringan garis Tpr isothermal pada grafik Z-factor korelasi Standing dan Katz.

kompresibilitas minyak didefinisikan sebagai berikut: c o= −1 ∂ Bo B g ∂ R s + B0 ∂ P Bo ∂ P (2. koefisien kompresibilitas isotermal minyak (c o) ditentukan untuk tekanan diatas tekanan gelembung (P>Pb) dituliskan secara matematik sebagai berikut: c o= −1 ∂ V V ∂P ( ) T (2. 1/psi ρo = densitas minyak.24) Bg = faktor volume formasi gas. Koefisien kompresibilitas isotermal dapat menyelesaikan permasalahan aliran fluida transien dan juga dibutuhkan dalam menentukan properti fisik reservoir undersaturated. lb/ft3 B o = faktor volume formasi minyak.Gambar 2. Kompresibilitas isotermal dapat dituliskan dalam persamaan matematik sebagai berikut: c= −1 ∂ V V ∂P ( ) T Untuk suatu sistem reservoir minyak.21) co c o= −1 ∂ Bo B0 ∂ P T c o= −1 ∂ ρo ρ0 ∂ P T ( ) ( ) (2.23) dimana.22 Kompresibilitas Gas sebagai Fungsi Tekanan Kompresibilitas Minyak Koefisien kompresibilitas isotermal dibutuhkan dalam menyelesaikan permasalahan dalam keteknikan reservoir. = kompresibilitas isotermal. bbl/STB Pada kondisi minyak dibawah titik gelembung (P<Pb). bbl/scf II-21 .22) (2.

Gambar 2.23 menunjukkan kelakuan kompresibilitas minyak terhadap tekanan.

Gambar 2.23 Kompresibilitas Minyak sebagai Fungsi Tekanan

2.4.7 Densitas dan Spesifik Gravitasi ( dan )
Densitas dan Spesifik Gravitasi Minyak
Densitas merupakan nilai kerapatan suatu fluida yang merupakan perbandingan antara massa fluida
terhadap volume fluida pada tekanan dan temperatur tertentu.

γ o=

ρo
ρw
(2.25)

γ o=

ρo
62.4

dimana,

γ o=¿

spesifik gravitasi minyak

ρo

= densitas minyak, lb/ft3

ρw

= densitas air, lb/ft3

Selain densitas dan spesifik gravitasi, dalam dunia perminyakan digunakan pula parameter gravitasi
API (API gravity). Berat jenis (oAPI) minyak menunjukkan kualitas fluida hidrokarbon. Apakah
hidrokarbon tersebut termasuk minyak ringan, gas atau minyak berat. Persamaan API gravity
dituliskan sebagai berikut:

API =

141.5
−131.5
γo

(2.26)
Semakin besar harga oAPI maka minyak semakin ringan dan sebaliknya. API gravity dari minyak
biasanya berkisar dari 47o untuk minyak ringan dan 10 o untuk minyak berat. Perkiraan jenis
minyak bumi ditunjukkan sebagai berikut:
Tabel 2.4 Pembagian minyak berdasarkan oAPI gravitasi minyak
Specific gravity (
Jenis minyak bumi
Ringan
Medium ringan
Medium berat
Berat
Sangat berat

γo )

0,830
0,830-0,850
0,850-0,865
0,965-0,905
0,905

oAPI
39
39-35
35-32,1
32,1-24
24,8

II-22

Densitas dan Spesifik Gravitasi Gas
Berdasarkan teori kinetik gas postulat, gas terbentuk dari berbagai banyak macam partikel yang
disebut dengan molekul. Untuk suatu gas ideal, volume molekul jumlahnya hampir sama jika
dibandingkan dengan jumlah gas total. Gas ini juga diasumsikan tidak terdapat gaya tolak
menolak antar molekul dan molekulnya bersifat elastic.
Berdasarkan teori gas kinetik, persamaan matematik yang disebut persamaan keaadan (equation of
state) menggambarkan hubungan antra tekanan, volume, temperatur dan jumlah mol gas (n).
Hubugan dari parameter ini dikenal dengan sebutan hukum gas ideal. Secara matematik dituliskan
sebagai berikut:

PV =¿ n RT

(2.27)

dimana,
P
= tekanan absolute, psia
V
= volume, ft3
T
= temperatur absolute, oR
n
= jumlah mol gas, lb-mol
R
= konstanta gas, 10.73 psia ft3/lb-mol oR
Jumlah dari pound-mol gas didefinisikan sebagai berat gas m dibagi dengan berat molekul M.

n=

m
M

PV =

(2.28)

m
RT
M

(2.29)

Densitas gas merupakan perbandingan antara berat per unit volume gas.

m PM
ρg = =
V RT
(2.30)
dimana,

ρg = densitas gas, lb/ft3

Densitas dari campuran gas ideal didapatkan dengan mengganti berat molekul dengan berat molekul
gas nyata.

ρg =

P Ma
RT

(2.31)

dimana,

ρg = densitas gas, lg/ft3

Ma = berat molekul gas nyata

II-23

Spesifik gravitasi didefinisikan sebagai rasio densitas gas terhadap densitas udara. Kedua densitas
tersebut diukur pada tekanan dan temperatur yang sama. Umumnya, tekanan pada kondisi standar
(Psc) dan temperatur pada kondisi standar (Tsc) digunakan untuk menentukan spesifik gavitasi gas.

v=

V
RT
1
=
=
M P M a ρg

γ g=

(2.32)

ρg
ρudara

(2.33)

Dengan mengasumsi kelakuan campuran gas dan udara digambarkan dengan persamaan gas ideal,
spesifik gravitasi gas dapat dituliskan sebagai berikut:

Psc M a
R T sc
γ g=
ρsc M udara
R T sc
(2.34)

γ g=

Ma
Ma
=
M udara 28.96
(2.35)

dimana,

γg

= spesifik gavitasi gas

ρudara

= densitas udara

M udara

= berat molekul udara = 28.96

Ma

= berat molekul gas

Psc

= tekanan kondisi standar, psia

T sc

= temperatur kondisi standar, oR

2.4.8 Viskositas ()
Viskositas Minyak
Viskositas minyak merupakan sifat fisik fluida yang penting dalam mengatur aliran minyak dalam
media berpori. Viskositas didefinisikan sebagai kekentalan/tahanan dari fluida untuk mengalir.
Viskositas merupakan perbandingan shear stress dan shear rate.
Viskositas dinyatakan dengan persamaan:

F
A
μ=
dv
dy

(2.36)

dimana,

II-24

cm/(sec. II-25 .09 (10-3) lb sec/ft2 Viskositas gas jarang diukur didalam laboratorium karena dapat dihitung dengan presisi dengan korelasi empiris. temperatur. Dari hubungan viskositas Gas Sebagai Fungsi Tekanan juga menunjukkan pengaruh temperatur yang berlawanan antara kondisi tekanan tinggi dan tekanan rendah.cm). Pada fluida minyak mempunyai kelakuan seperti tampak pada Gambar 2.37) Viskositas gas merupakan fungsi dari tekanan. dan komposisi gas. harga viskositas bertambah secara exponensial. penurunan tekanan menyebabkan pengembangan minyak lebih mudah sehingga viskositas turun.24 Di atas p b. Pada saat tekanan diatas p b. Satuan centipoises dapat dikonversi menjadi unit lain diantaranya: 1 poise = 100 centipoise = 106 mikropoise = 6. Dari hubungan viskositas Gas Sebagai Fungsi Tekanan. Sedangkan setelah melewati pb. cm2 dv/dy = gradient kecepatan. Viskositas gas berkurang dengan turunnya tekanan. gr/(cm. viskositas gas turun dengan naiknya temperatur. viskositas minyak menurun terhadap turunnya tekanan secara hampir linier dan tidak tajam. Gambar 2. Viskositas gas dapat dituliskan sebagai berikut: µg = (P. karena molekul-molekulnya makin berjauhan dan bergerak lebih bebas.24 Viskositas Minyak sebagai Fungsi Tekanan Viskositas Gas Viskositas gas adalah ukuran kekentalan/tahanan fluida (gas) terhadap aliran.yi) (2. Viskositas gas didefinisikan sebagai rasio dari gaya geser gas per unit luas terhadap gradien kecepatan aliran gas. Viskositas gas mempunyai satuan centipoise atau gram/100/ detik/1 centimeter.72 (10-2) lb/ft sec = 2. jumlah gas yang berada dalam minyak berkurang terus dengan turunnya tekanan sehingga minyak makin mengental atau makin sulit mengalir.T.sec) F = shear stress A = luas bidang paralel terhadap aliran.μ = viskositas . Sedangkan di bawah pB. Pada tekanan tinggi.

Pada tekanan tinggi. Banyak persamaan keadaan dikembangkan untuk mengkorelasikan tekanan.4. Pada dasarnya. penggunaan persamaan gas ideal dapat menyebabkan error sebesar 500%. z= V aktual V = V ideal (nRT )/ P (2. dan temperatur ini disebut dengan faktor kompresibilitas gas.41) II-26 . volume.40) T pr = T T pc (2. atau z-factor. Persamaan gas ideal dituliskan sebagai berikut: PV =¿ z n RT (2. dibandingkan dengan error 2-3% pada kondisi tekanan atmosfir.38) Faktor z merupakan variabel tidak berdimensi.25 Viskositas Gas Sebagai Fungsi Tekanan 2. Hal ini dikarenakan hukum gas ideal didasarkan pada asumsi bahwa volume molekul tidak signifikan dan tidak terdapat gaya tolak menolak antar molekul.9 Faktor Deviasi Gas (Z) Gas pada keadaan tekanan rendah merupakan suatu alat yang mudah digunakan dalam menganalisa kelakuan gas. Gas nyata memiliki kelakuan yang berbeda dengan gas ideal. Variabel tidak berdimensi dapat dituliskan secara matematik sebagai berikut: P pr= P P pc (2. perbedaan besaran antara gas nyata dari hukum gas ideal sejalan dengan bertambah besarnya tekanan dan temperatur serta keberagaman komposisi dari gas tersebut. dan temperatur (PVT) untuk gas nyata dari data percobaan. Hubungan antara tekanan.39) Studi faktor kompresibilitas gas pada bebagai komposisi gas memberikan informasi bahwa faktor kompresibilitas gas dapat digeneralisasi dengan tingkat keakuratan yang cukup untuk banyak tujuan keteknikan ketika faktor kompresibilitas gas ini diekspresikan dengan property tidak berdimensi (Pseudo-reduced pressure dan Pseudo-reduced temperature). volume.µg P Gambar 2. yang merupakan rasio dari volume gas aktual terhadap volume gas ideal. faktor deviasi gas.

specifik volume yang dinyatakan dalam per satuan massa dan specifik gravitasi yaitu densitas air formasi pada suatu kondisi tertentu yaitu pada tekanan 14.4. Dari harga yang diperoleh. Sering dijumpai dalam produksi suatu sumur minyak justru jumlah produksi air formasi lebih besar dari produksi minyaknya. Gambar 2. Viskositas air formasi (μ w) akan naik terhadap turunnya temperatur dan kenaikan tekanan. oR Tpr = pseudo-reduced temperature Ppc . maka sifat-sifat fisik air formasi meliputi: berat jenis air. faktor volume formasi air. II-27 . temperatur dan tingkat salinitas yang dikandung air formasi tersebut. Kegunaan mengenai perilaku kekentalan air formasi pada kondisi reservoir terutama untuk mengontrol gerakan air formasi di dalam reservoir. kompresibilitas. harga Z faktor dapat dilihat pada grafik korelasi Katz dan Standing.10 Sifat Fisik Air Formasi Air formasi hampir selalu dijumpai bersama-sama dengan endapan minyak.42) (2. dan kelarutan gas dalam gas.26 Faktor Deviasi Gas sebagai Fungsi Tekanan 2. viskositas air. Densitas Air Fomasi (ρw) Densitas air formasi adalah massa air murni pada suatu reservoir dinyatakan dengan massa per satuan volume. Tpc = Pseudo-critical pressure dan temperature P pc =∑ y i Pci i=1 T pc =∑ y i T ci i=1 (2. P = tekanan.7 psi dan temperatur 60 oF. psia Ppr = pseudo-reduced pressure T = temperatur.dimana. Berat jenis formasi (ρw) pada reservoir dapat ditentukan dengan membagi ρ w pada kondisi standar dengan faktor volume formasi (Bw) dan perhitungan itu dapat dilakukan bila air formasi jenuh terhadap gas alam pada kondisi reservoir.43) Untuk mengetahui harga Z diperlukan harga Ppc dan Tpc sehingga diperoleh harga Pr dan Tr. Viskositas Air Formasi (μw) Viskositas air formasi akan tergantung pada tekanan. Seperti pada gas dan minyak.

pengembangan air dengan turunnya tekanan dan penyusutan air dengan turunnya suhu. dengan demikian kelarutan gas dalam air formasi juga dipengaruhi oleh kegaraman air formasi. kelarutan gas dalam air formasi akan naik dengan naiknya tekanan. Kompresibilitas air tergantung pada suhu. ∂ V = perubahan volume air. oF P = sekanan.4 10 x 18. Sedangkan pada tekanan tetap. gravitasi gas (γg).00091 (T-460) (2.0125 API – 0. psia II-28 . dan kelarutan gas dalam air formasi akan berkurang dengan bertambahnya kadar garam. dimana diukur tekanan gelembung pada 22 lapangan minyak. psi-1 V = volume air.45) 0.46) dimana.44) dimana. bbl Kelarutan Gas dalam Air Formasi Kelarutan gas dalam air formasi akan lebih kecil bila dibandingkan dengan kelarutan gas dalam minyak di reservoir pada tekanan dan temperatur yang sama. Kompressibilitas Air Formasi (Cw) Kompressibilitas air formasi didefinisikan sebagai perubahan volume air formasi yang disebabkan oleh adanya perubahan tekanan yang mempengaruhinya. maka harga kelarutan gas dalam air formasi perlu dikoreksi. psi. Secara matematik persamaan Standing dituliskan sebagai berikut: Rs =γ g [( P + 1. T = temperatur. Korelasi ini merupakan fungsi dari tekanan gelembung (Pb).5.Faktor volume formasi air formasi (Bw) Faktor volume formasi air formasi (B w) menunjukkan perubahan volume air formasi dari kondisi permukaan. Faktor volume formasi air formasi ini dipengaruhi oleh pembebasan gas dan air dengan turunnya tekanan.2048 ] (2. Korelasi ini didapatkan berdasarkan 105 eksperimen. Berdasarkan eksperimen ini didapatkan tingkat kesalahan sebesar 4. Pada temperatur tetap.5 Penentuan Sifat Fisik Fluida Reservoir Dengan Korelasi Matematik 2. 2. dan temperature (T).1 Kelarutan Gas (Rs)  Korelasi Standing Pada tahun 1947 Standing mengusulkan suatu korelasi grafis untuk menentukan kelarutan gas untuk suatu sistem minyak. bbl ∂ P = perubahan tekanan. tekanan.2 ) 1.8 %. Cw = kompressibilitas air. dan kelarutan gas dalam air. kelarutan gas dalam air formasi mula-mula menurun sampai harga minimum kemudian naik lagi terhadap naiknya suhu. Kompresibilitas air dinyatakan dalam persamaan berikut yaitu: c w= −1 ∂ V V ∂P ( ) T (2. gravitasi minyak (0API).

tekanan. γ gs = gravitasi gas diukur pada tekanan separator referensi γg = gravitasi gas diukur pada tekanan separator aktual (Pada P sep dan Tsep) PTsep = tekanan separator.48) Tabel 2.724 23. Korelasi ini didapatkan dari analisis regresi dari 5008 pengukuran kelarutan gas dalam minyak.0178 C2 1.49) dimana.1811−3.γg = spesifik gravitasi gas  Korelasi Vasquez dan Beggs Vasquez dan Beggs menemukan suatu korelasi untuk mengestimasi kelarutan gas dalam minyak pada tahun 1980.912( 10−5)( API )(T sep−460)log P ( 114.989 (P ¿b) 0.5.3093 log (P) ] (2. korelasi ini mempredikasi kelarutan gas dengan tingkat kesalahan (error) sebesar 12.7%.28% dengan standar deviasi 6.5 (2.931 [ γ gs =γ g 1+ 5.0362 0.98%. [ ( )] API T Rs =C1 γ gs PC exp C 3 2 (2. Koefisien persamaan yang didapatkan.187 C3 25.7 )] sep (2. data yang diukur dibagi menjadi 2 kelompok. psia Psep = temperatur separator.5 Harga koefisien kelarutan gas korelasi Vasquez dan Beggs Koefisien API ≤ 30 API ≥ 30 C1 0.0937 1.52)  Korelasi Marhoun II-29 .172 ( T −460 ) ) 1. x=2. Persamaan yang diusulkan yaitu sebagai berikut: Rs =γ g [( API 0.50) P¿b=10 x . Korelasi ini dikembangkan berdasarkan studi dari 45 sampel minyak. Koefisien untuk persamaan Vasquez dan Beggs ini dapat dilihat pada Tabel 3. temperatur dan spesifik gravitasi gas. dibagi berdasarkan graviasi minyak kurang dari 30 (API ≤ 30) dan gravitasi minyak lebih dari 30 (API ≥ 30). Glaso menemukan error sebesar 1.8869− [ 14. oR  Korelasi Glaso Glaso (1980) mengusulkan sebuah korelasi untuk mengestimasi kelarutan gas sebagai fungsi dari garvitasi minyak API. Dari evaluasi independen yang dilakukan oleh Farashad dan Sutton (1984).2255 ] (2. Berdasarkan gravitasi minyak.51) 0.

5.Marhoun (1988) mengembangkan sebuah korelasi untuk mengestimasi kelarutan gas dalam suatu hidrokarbon minyak. dan suhu (T). dan temperatur (T). Korelasi ini didasarkan pada asumsi bahwa tekanan gelembung adalah fungsi dari kelarutan gas (Rs). Persamaan matematik korelasi Standing dituliskan sebagai berikut: II-30 . Korelasi ini merupakan fungsi dari kelarutan gas (Rs). oR P = tekanan. Persamaan yang diusulkan yaitu sebagai berikut: Rs =[ a γ bg γ co T d P ] e (2.53) dimana T = temperatur.54) −5 1.8439 10 x g 112.3911 −4.541 ] 1.398441  Korelasi Petrosky dan Farshad Petrosky dan Farshad (1993) menggunakan software regresi (multiple regression) non linier untuk mengembangkan korelasi kelarutan gas. API.1437 = -1. γg. dimana diukur tekanan gelembung pada 22 lapangan minyak.73184 (2. gravitasi gas (γg). Berdasarkan eksperimen ini didapatkan tingkat kesalahan sebesar 4. Beberapa korelasi tersebut diantaranya:  Korelasi Standing Pada tahun 1947 Standing mengusulkan suatu korelasi grafis untuk menentukan tekanan gelembung untuk suatu sistem minyak.55) dimana T = temperatur. Pb = f (Rs.2 Tekanan Gelembung (Pb) Beberapa grafik dan korelasi matematik digunakan untuk menentukan tekanan gelembung. gravitasi gas (γg).87784 = -3. Petrosky dan Farshad mengembangkan persamaan sebagai berikut: [( P Rs = +12. T) (2. gravitasi minyak (0API).34 γ 0.8 %.561(10 )(T −460) (2. Korelasi didapatkan dari 160 data uji eksperimen kelarutan gas. oR γo = spesifik gravitasi minyak γg = spesifik gravitasi gas a-e a b c d e = koefisien = 185.56) Beberapa cara digunakan untuk menggabungkan beberapa parameter diatas dalam bentuk grafik atau persamaan matematik/korelasi. Korelasi ini didapatkan berdasarkan 105 eksperimen.727 ) −4 x=7. psia 2. gravitasi minyak ( 0API). Persamaan ini dikembangkan berdasarkan database PVT dari 81 analisa laboratorium dari sistem hidrokarbon minyak.916(10 ) ( API ) 1.32657 = 1.843208 = 1.

2 [( ) Rs γg 0. oR Tabel 2.84246 10. psia T = temperatur.18 0.00091 ( T −460 )−0. psia PTsep = temperatur separator.914328 11.59) a=−C 3 API T (2.7447 log(¿ P¿b )−0.Pb=18.57) a=0.30218 [ log ⁡( P¿b )] log( ¿¿ b)=¿ ¿ (2.624 0.83 (10)a−1.172 56. Pb = tekanan gelembung.61) γ gs = gravitasi gas diukur pada tekanan separator referensi γg = gravitasi gas diukur pada tekanan separator aktual (Pada P sep dan Tsep) Psep = tekanan separator.393  Korelasi Glaso Glaso (1980) menggunakan 45 sampel minyak dari sistem hidrokarbon untuk mengembangkan korelasi tekanan gelembung (Pb).4 ] (2.58) dimana.0125 ( API ) (2.7 )] sep (2. oR  Korelasi Vasquez dan Beggs Korelasi kelarutan gas Vasquez dan Beggs untuk menghitung tekanan gelembung (P b) dituliskan sebagai berikut: [( ) ] C 1 Rs P b= (10)a γ gs C2 (2.60) [ γ gs =γ g 1+ 5.6 Harga koefisien penentuan tekanan gelembung korelasi Vasquez dan Beggs Koefis ien C1 C2 C3 API ≤ 30 API ≥ 30 27. Persamaan korelasi Glaso dituliskan sebagai berikut: P 2 1.7669+1.62) II-31 .912( 10−5)( API )(T sep−460)log P ( 114.

didapatkan error sebesar 3.87784 = 3.64) dimana.816 = 0. 2. T = temperature.c a b c = spesifik gravitasi gas = koefisien korelasi = 0.66% dibandingkan dengan data percobaan yang digunakan untuk mengembangkan korelasi.051 x=7. dan spesifik gavitasi minyak dan gas. dapat ditentukan tekanan gelembung.38088 (10)-3 = 0.28%. temperatur.5.63) dimana.66) Dari hasil korelasi Petrosky dan Farshad untuk menentukan tekanan gelembung. SCF/STB T = temperatur.  Korelasi Petrosky dan Farshad Dari persamaan korelasi kelarutan gas Petrosky dan Farshad. Persamaan Petrosky dan Farshad dituliskan sebagai berikut: P b= [ 112.172 = -0.3 Faktor Volume Formasi Minyak (Bo)  Korelasi Standing II-32 . oR γg a. Rs = kelarutan gas. Marhoun mengkorelasikan tekanan gelembung dengan kelarutan gas (R s).916(10−4) ( API )1.32657 Dari hasil korelasi didapatkan tingkat kesalahan (error) sebesar 3.8439 (10) x g ] −1391.561(10−5 )(T −460)1.1437 = 1.577421 s γ 0.727 R 0.989  Korelasi Marhoun Marhoun (1988) menggunakan 160 percobaan menentukan tekanan gelembung dari analisa 69 data PVT campuran hidrokarbon untuk mengembangkan korelasi tekanan gelembung (P b). Persamaan korelasi Marhoun dituliskan sebagai berikut: b c d Pb=a R s γ g γ o T e (2.65) (2.3911 (2.a R P ¿ s ( T )b (API )c γg ¿ b ( ) (2.b.541−4.715082 = -1. oR γo = spesifik gravitasi minyak γg = spesifik gravitasi gas a-e a b c d e = koefisien = 5.

Standing menuliskan persamaan matematik untuk faktor volume formasi minyak sebagai berikut: [() γ B o=0.7%.677 x (10-4) 4.69) dimana.1 x (10-5) C3 -1.912( 10−5)( API )(T sep−460)log ( Psep 114.67 x (10-4) C2 1. Korelasi yang diusulkan oleh Vasquez dan Beggs didapatkan dari 6000 pengukuran volume formasi minyak (B o) pada berbagai variasi tekanan. Persamaan korelasi Vasquez dan Beggs dituliskan sebagai berikut: B o=1+C 1 R s+(T −520) API C +C R γ gs [ 2 3 s ] ( ) (2.00012 R s g γo 1.811 x (10-8) 1.2%. T = temperatur.751 x (10-5) 1. oR γo = spesifik gravitasi minyak γg = spesifik gravitasi gas terlarut  Korelasi Vasquez dan Beggs Vasquez dan Beggs (1980) mengembangkan persamaan hubungan untuk menentukan faktor volume formasi minyak (Bo) sebagai fungsi dari kelarutan gas (R s). Rs = kelarutan gas.Standing (1947) membuat sebuah grafik korelasi untuk mengestimasi faktor volume formasi minyak sebagai fungsi dari kelarutan gas.2 0. γ gs = gravitasi gas diukur pada tekanan separator referensi γg = gravitasi gas diukur pada tekanan separator aktual (Pada P sep dan Tsep) Psep Psep = tekanan separator.7 Harga koefisien faktor volume formasi minyak korelasi Vasquez dan Beggs Koefisien API ≤ 30 API ≥ 30 C1 4.68) dimana.9759+ 0. II-33 . Tingkat kesalahan yang didapatkan dari korelasi ini yaitu sebesar 1.5 +1. spesifik gravitasi gas. dan spesifik garvitasi gas ( γ g ¿ dan temperatur (T). spesifik gavitasi minyak ( γ o ¿ . oR [ γ gs =γ g 1+ 5. oR Tabel 2. Grafik korelasi ini didapatkan berdasarkan 105 data percobaaan dari 22 sistem hidrokarbon yang berbeda. Vasquez dan Beggs menemukan persamaan matematik yang mengambarkan faktor volume formasi minyak dari 600 pengukuran tersebut.337 x (10-9) Pada korelasi Vasquez and Beggs ini didapatkan tingkat kesalahan (error) sebesar 4. spesifik gravitasi minyak dan temperatur reservoir.67) dimana.25(T−460) ] (2. psia = temperatur separator.7 )] (2. SCF/STB T = temperatur. Menggunakan teknik analisa regresi.

6265 o 3. Petrosky dan Farshad menggunakan model regresi non linier untuk mencocokan dengan data percobaan yang didapatkan dari sistem hidrokarbon. Korelasi yang diusulkan Petrosky dan Farshad ini dikembangkan dari persamaan yang telah dikembangkan oleh Standing guna meningkatkan tingkat akurasi dari korelasi Standing yang telah ada.58511+ 2. oR γ o = spesifik gravitasi minyak II-34 .72) dimana. Persamaan korelasi Marhoun untuk menghitung faktor volume formasi minyak dituliskan sebagai berikut: B o=0. Korelasi Glaso Glaso (1980) mengusulkan persamaan korelasi faktor volume formasi minyak sebagai berikut: B o=1+10 A (2.91329 log Bob−0.27683(log B ob) B ¿ob=R s γg γo (2. F=Ras γ bg γ co a b c = 0. Korelasi yang diusulkan Petrosky dan Farshad yaitu sbb: 10 [ ( ) 7. T = temperatur.24626(T −460) ] Bo=1. spesifik gravitasi minyak dan temperatur.70) ¿ ¿ 2 A=−6.182594 x 10−2 F+ 0. Percobaan didapatkan dari 69 lapangan minyak. T = temperatur.323294 = -1.2046(¿¿−5) R 0.0113+¿ (2.862963 x 10−3 T +0. oR γo = spesifik gravitasi minyak  Korelasi Marhoun Marhoun (1988) mengembangkan korelasi untuk menentukan faktor volume formasi minyak sebagai fungsi dari kelarutan gas.318099 x 10−5 F 2 (2.2914 g 0.71) 0. spesifik gravitasi minyak.0936 0.74239 = 0.74) dimana.3738 s γ γ 0.5371 +0. Persamaan empiris dikembangkan dengan menggunakan analisis regresi tidak linier (multiple nonlinear regression) dari 160 percobaan.20204  Korelasi Petrosky dan Farshad Petrosky dan Farshad (1993) mengusulkan sebuah korelasi untuk menghitung faktor volume formasi minyak (Bo).73) dengan.526 ( ) + 0.497069+ 0.968(T −460) (2.

dan dituliskan dalam persamaan matematik sebagai berikut: log( Bt )=−5. Parameter tersebut meliputi kelarutan gas pada tekanan yang diinginkan (R s). spesifik gravitasi minyak ¿ γ (¿¿ o) . temperatur dan tekanan.5 (γ o) c 0.22+log ( A ) (2.8 6. Dari korelasi ini didapatkan tingkat kesalahan (error) sebesar 5%.5475 = 0. Glaso memodifikasi parameter A* korelasi standing II-35 .3265 A3 = .1844 = 0. [ z=1+ A1 + ] [ ] [ [ ] 2 ] A 2 A 3 A 4 A5 A A A A ρ + 3 + 4 + 5 ρ pr + A 6 + 7 + 28 ρ2pr− A 9 7 + 28 ρ2pr + A10 [ 1+ A 11 ρ2pr ] 3pr exp ⁡( − T pr T pr T pr T pr T pr T pr T pr T pr T pr dengan konstanta: A1 = 0.1056 A2 A4 A6 A8 A10 = .75) dimana.223− 47.00502 zT res BBL P SCF (2.5.0.77) Whitson dan Brule (2000) mengekspresikan grafik korelasi standing.00027 Rs C=(2.05165 A7 = .0.76) −0.9) 10 (2.01569 = 0. Standing menggunakan kombinasi parameter korelasi yang dituliskan sebagai berikut: [ ¿ log( A )=log R s (T −460)0.3 ( γ g) ] ( − 10.5.1− 96.78)  Korelasi Glaso Data percobaan pada 45 sampel minyak digunakan oleh Glaso (1980) untuk membuat korelasi menghitung faktor volume formasi total (Bt).4 ¿ −12.604+ log( p) ) (2.1. Beberapa parameter yang digunakan untuk menghitung faktor volume formasi dua fasa.5339 A5 = . Dalam ¿ mengembangkan grafik korelasi ini.2.7210 2.5 Faktor Volume Formasi Total (Bt)  Korelasi Standing Standing (1947) menggunakan 387 data percobaan untuk mengembangkan grafik korelasi untuk memprediksi faktor volume formasi 2 fasa.7361 A9 = 0.0.4 Faktor Volume Formasi Gas (Bg)  Korelasi Abu Kasem Dalam satuan lapangan faktor volume formasi gas didapatkan dari korelasi Abu Kassem sebagai berikut: B g=0.6134 A11 = 0.07 = 0. spesifik gravitasi gas γ (¿¿ g) .

Persamaan korelasi Marhoun dituliskan sebagai berikut: −4 −10 B t=0.1089 (2.dan menggunakan model analisis regresi untuk mengembangkan persamaan faktor volume formasi total (Bt).2(T −460)−1180 γ gs + 12. Persamaan tersebut antara lain:  Korelasi Vasquez dan Beggs (undersaturated) Total dari 4036 data percobaan yang digunakan pada model regresi linier.84) dimana.81) Didapatkan standar deviasi sebesar 6.3 (γ g ) ] 2 (2.76191 Didapatkan tingkat kesalahan sebesar 4.47257 log( A )+ 0.54% dari korelasi persamaan faktor volume formasi total Galso ini. Vasquez dan Beggs (1980) mengkorelasikan kompresibilitas minyak isotermal dengna kelarutan gas (R s). oR P = tekanan diatas tekanan gelembung.83) dimana. psia Rsb = kelarutan gas di titik tekanan gelembung II-36 .94% pada korelasi Marhoun ini.11% dengan standar deviasi sebesar 4.00621 e = -0.724874 d = 2. Marhoun (1988) menggunakan model regresi nonlinear untuk mengembangkan korelasi matematik faktor volume formasi total (Bt).644516 b = -1. 2.106253 x 10 F+ 0.80) −0. Persamaan korelasi Glaso dituliskan sebagai berikut: ¿ ¿ log(Bt )=0.17351 [ log( A ) ] ¿ [ A= Rs (T −460)0.00027 Rs C=(2. o API Minyak.61o API 105 P (2. T = temperatur. a = 0. Persamaan korelasi Vasquez dan Beggs ini dituliskan sebagai berikut: c o= −1433+5 R sb +17.6 Kompresibilitas Minyak (co) Terdapat beberapa korelasi yang dikembangkan untuk mengestimasi kompresibilitas minyak pada saat tekanan reservoir diatas tekanan gelembung (undersaturated).  Korelasi Marhoun Berdasarkan 1556 percobaan menentukan faktor volume formasi total.79) P−1. temperatur.82) e (2.07934 c = 0.9) 10 (2.18883 x 10 a b c d F=Rs γ g γ o T P F 2 (2. spesifik gravitasi gas ( γ g ) dan tekanan.5.080135+0.314693+ 0.5 (γ o)C 0.

4 +0. oR Ma = berat molekul gas Dari korelasi Lee.02 M a ) T 15 209+ 19 M a +T X =3.6729 P−0.5. SCF/STB 2.4 Y ( 9. psia PTsep = temperatur separator. [ ( )] μg =10−4 K exp X K= ρg 62.87) (2.5+ 986 + 0.8 Viskositas Minyak (µo) II-37 . dan Eakin didapatkan error dengan standar deviasi 2.7 Viskositas Gas (µg)  Korelasi Lee.69357 γ g0. dan Eakin Lee. γg = gravitasi gas diukur pada tekanan separator aktual (Pada P sep dan Tsep) Psep = tekanan separator.7 )] sep (2.89) (2. oR  Korelasi Petrosky dan Farshad Petrosky dan Farshad (1993) mengusulkan suatu hubungan untuk menentukan kompresibilitas minyak (co) untuk reservoir undersaturated.90) dimana.2 X (2.99%. Gonzalez.3272 (T −460)0. 2.912( 10−5)( API )(T sep−460)log P ( 114.γ gs = gravitasi gas diukur pada tekanan separator referensi [ γ gs =γ g 1+ 5. Korelasi matematik Petrosky dan Farshad dituliskan sebagai berikut: c o=1.4−0.5906 (2. Gonzalez.705 x 10−7 R sb0.1885 API 0.7% dan deviasi maksimum 8. Gonzalez.85) dimana.01 M a T Y =2. T = temperatur.88) (2. dan Eakin (1966) membuat suatu korelasi semi empiris untuk mengkalkulasi viskositas gas.5. T = temperatur reservoir. oR Rsb = kelarutan gas pada titik gelembung. ρg = densitas gas pada temperatur dan tekanan reservoir.86) dimana .

93) (2.02023 API Dari korelasi didapatkan error sebesar -0.141 ( 10 10) ] (T −460)−3. garvitasi minyak.53% dari data yang digunakan. Dead oil viscosity 2.447 a (2. Beal (1946) mengembangkan korelasi untuk menentukan viskositas dead oil sebagai fungsi dari temperatur dan derajat gravitasi API minyak.90) 8. Korelasi Glaso ini dikembangkan berdasarkan pengukuran 26 sampel minyak. Beberapa korelasi empiris diusulkan untuk mengestimasi viskositas dead oil antara lain:  Korelasi Beal  Korelasi Beggs-Robinson  Korelasi Galso  Korelasi Beal Dari total 753 viskositas dead oil diatas 100 oF. Persamaan korelasi dituliskan sebagai berikut: μod =[ 3.0324−0. Korelasi Beggs dan Robinson secara matematik dituliskan sebagai berikut: μod =10x −1 (2.94) II-38 .33 ) API (2. tekanan. Undersaturated oil viscosity 1.91)  Korelasi Beggs dan Robinson Beggs dan Robinson (1975) mengembangkan suatu korelasi empiris untuk menentukan viskositas dead oil. Dead oil viscosity Viskositas Dead oil didefinisikan sebagai viskositas minyak pada tekanan atmosfir (tidak terdapat gas terlarut) dan temperatur sistem.313 [ log ⁡( T −460) ] −36. Korelasi Beggs dan Robinson ini didapatkan dari 460 pengukuran viskositas dead oil.53 T −260 API ( (0. Persamaan korelasi Beal dituliskan dalam persamaan matematik sebagai berikut: 1.444 [ log( API ) ] a=10. Saturated oil viscosity 3.8(107 ) 360 μod = 0.163 Y =10 Z o Z =3.Viskositas minyak merupakan fungsi dari temperatur.  Korelasi Glaso Glaso (1980) mengusulkan persamaan korelasi matematik untuk menghitung viskositas dead oil. viskositas minyak dapat diklasifikasikan menjadi 3 kategori yaitu: 1.43 + a=10 )( a ) (2. dan kelarutan gas. Berdasarkan tekanan.64% dengan standar deviasi 13.92) x=Y (T −460)−1.32+ 4. gravitasi gas.

Saturated oil viscosity (Viskositas minyak jenuh) Beberapa korelasi empiris digunakan untuk mengukur viskositas dalam kondisi reservoir jenuh (saturated).68 0. cp.  Korelasi Chew-Connally  Korelasi Beggs-Robinson  Korelasi Chew-Connally Korelasi Chew-Connally (1959) membuat suatu korelasi untuk menentukan viskositas dead oil berdasarkan kelarutan gas di titik gelembung.74 ( 10−3 ) R s μob = viskositas minyak di titik gelembung.515 II-39 .25 0.1 ( 10−3 ) Rs e=3. Suton dan Farshad (1986) menyimpulkan bahwa korelasi Glaso memberikan akurasi yang paling baik dibandingkan dengan kedua korelasi diatas.715(Rs +100)−0.95) dengan a=Rs [ 2.062 + + 10c 10d 10e c=8. Secara matematik persamaan korelasinya dituliskan sebagai berikut: a b μod =( 10 ) (μod ) (2.Persamaan korelasi diatas dapat digunakan dalam temperatur sistem 50-300 oF dan gravitasi API minyak 20-48o. cp μod = viskositas dead oil pada tekanan 14.377-50 cp  Korelasi Beggs dan Robinson Dari 2073 pengukuran viskositas minyak pada reservoir jenuh (saturated). a=10.2 ( 10−7 ) R s ] −7.96) dimana.7 psia dan temperatur reservoir. 2.4(10−4)¿ b= 0. Persamaan korelasi Beggs dan Robinson secara matematik dituliskan sebagai berikut: μob =a(μod )b (2.62 ( 10−5 ) Rs d=1. Data percobaan yang digunakan Chew dan Connally untuk mengembangkan korelasi ini berdasarkan parameter sebagai berikut: Tekanan : 132-5645 psia Temperatur : 72-292 oF Kelarutan gas : 51-3544 SCF/STB Viskositas Dead oil : 0. Beggs dan Robinson (1975) mengusulkan suatu persamaan empiris untuk mengestimasi viskositas minyak untuk reservoir jenuh (saturated). Korelasi Chew-Connally ini dikembangkan dari 457 sampel minyak.

117-148 cp Gravitasi gas : 0. Korelasi dibutuhkan ketika tidak tersedianya data PVT laboratorium.44( R s +150) Dari korelasi ini didapatkan tingkat kesalahan sebesar -1. Korelasi untuk menghitung densitas minyak ini merupakan fungsi dari spesifik gravitasi gas.3-2199 SCF/STB Viskositas : 0.9 Densitas Minyak (ρo) Densitas merupakan nilai kerapatan suatu fluida yang merupakan perbandingan antara massa fluida terhadap volume fluida pada tekanan dan temperatur tertentu.4 γ o + 0.187 10 a a=−3. γ o= ρo ρw (2.25%. 2.6 P1.100) II-40 .97) dimana.99) Beberapa korelasi dikembangkan untuk menghitung densitas minyak. Vasquez dan Beggs (1980) membuat suatu persamaan korelasi matematik untuk menghitung viskositas minyak untuk reservoir tak jenuh (undersaturated).338 b=5.83% dengan standar deviasi 27.9 ( 10−5 ) P−5 Pengembangan korelasi diatas didasarkan pada data yang digunakan pada rentang sebagai berikut: Tekanan : 141-9151 psia Kelarutan gas : 9. Temperatur : 70-295oF API Gravitasi minyak : 16-58o Kelarutan gas : 20-2070 SCF/STB. 3. Viskositas minyak tak jenuh (Undersaturated oil viscosity)  Korelasi Vasquez dan Beggs Dari total 3593 data. spesifik gravitasi minyak.3-59. m=2.98) γ o= ρo 62.351 API minyak : 15. Persamaan korelasi Vasquez dan Beggs dituliskan sebagai berikut: μo=μ ob P Pb m ( ) (2.5.0136 R s γ g Bo (2.4 (2. Rentang data yang digunakan untuk mengembangkan korelasi Beggs dan Robinson ini yaitu: Tekanan : 132-5265 psia.5o Dari korelasi viskositas ini didapatkan error sebesar -7. ρo= 62.54%.−0.511-1. faktor volume formasi minyak dan kelarutan gas.

Persamaan korelasi Hall dan Yarborough secara matematik dituliskan sebagai berikut: [ Z= ] 0. γo = spesifik gravitasi minyak T = temperatur reservoir. densitas minyak pada tekanan dan temperature tertentu dapat dihitung dengan persamaan matematik berikut.102) Ppr = pseudo-reduced pressure t = Pengulangan temperature pseudo (reciprocal of the pseudo-reduced temperature.5. Sebagai hasilnya. grafik z-factor dari korelasi Standing dan Katz digunakan secara luas untuk menghitung faktor komresibilitas gas. oR 2. Persamaan matematik yang diusulkan didapatkan berdasarkan persamaan keaadaan Starling-Carnahan (Starling-Carnahan equation of state). Koefisien persamaan ditentukan dengan meregresinya dengan data dari grafik z-factor korelasi Standing dan Katz.101) dimana.dimana.06125 P pr t 2 exp ⁡[−1.10 Faktor Kompresibilitas (Z) Selama empat dekade. γo = spesifik gravitasi minyak Rs = kelarutan gas.000147 R s +1.175 ] (2. Terdapat tiga korelasi yang dapat digunakan untuk menghitung z-factor.0136 Rs γ g [() γg 5 0. Tpc/T) Y = Reduced density II-41 . Dengan menggabungkan definisi faktor volume formasi minyak dengan persamaan korelasi matematik Standing. lb/ft3 Standing (1981) mengusulkan sebuah persamaan korelasi untuk menghitung faktor volume formasi minyak sebagai fungsi dari kelarutan gas (R s).  Korelasi Hall-Yarborough  Korelasi Dranchuk-Abu-Kassem  Korelasi Dranchuk-Purvis-Robinson  Korelasi Hall-Yarborough Hall-Yarborough (1973) membuat suatu persamaan matematik untuk menggambarkan grafik zfactor korelasi Standing dan Katz. ρo= 62. beberapa persamaan matematik bermunculan untuk menghitung faktor kompresibilitas (z-factor).2 ( 1−t ) ] Y (2.25(T −460) γo 1. spesifik gravitasi minyak pada tekanan dan temperature tertentu. spesifik gravitasi gas. SCF/STB ρo = densitas minyak.972+0.4 γ o+ 0.

P M a / [zRT ] P/[ zT ] ρ = = ρ c Pc M a /[z c R T c ] P c /[z c T c ] ρr = (2.  Korelasi Dranchuk-Abu-Kassem Dranchuk dan Abu-Kassem (1975) mengembangkan suatu persamaan analitik untuk menghitung reduced gas density yang digunakan menghitung faktor kompresiblitas gas.7 t−242.2 ( 1−t ) ] X2 = (14. ρ R ρ2r −(¿¿ 4) ρ5r +(R 5)(1+ A 11 ρ2r )exp ⁡[− A11 ρ2r ]+1=0 R f (¿¿ r )=( R 1 ) ρ r− 2 +(R3 )¿ ρr ¿ (2. Reduced gas density (ρr) didefinisikan sebagai rasio densitas gas pada tekanan dan temperatur tertentu terhadap densitas gas pada tekanan kritis dan temperatur tertentu.06125 P pr t exp ⁡[ −1.105) Sebelas koefisien konstan didefinisikan untuk menyelesaikan reduced gas density.27.27 P pr T pr ] (2.82 t) 2 3 Persamaan F(Y) merupakan persamaan non linier yang digunakan untuk menentukan reduced density (Y) dengan iterasi Newton-Raphson.4 t ) X4 = (2.2 t + 42.18+2.58 t 3 ) X3 = (90.103) 2 X1 = −0.106) [ R 1 = A 1+ R 2= [ A 2 A 3 A 4 A5 + + + T pr T 3pr T 4pr T 5pr 0. kira-kira 0.104) Faktor kompresibilitas gas kritis (Z c).108) II-42 .107) ] (2.27 P pr z T pr (2. Persamaan reduced gas density dapat disederhanakan menjadi: ρr = 0.76 t−9.76 t 2+ 4.2 F ( Y )= X 1+ 3 4 Y +Y +Y +Y ( − X 2 ) Y 2 + ( X 3 ) Y X 4 =0 3 (1−Y ) (2.

56 A2 = -1.1.[ R 3= A 6 + A7 A 8 + T pr T 2pr ] (2.1844 ρ Persamaan f (¿¿ r ) dapat diselesaikan dengan iterasi Newton Rapshon. dan Robinson (1974) mengembangkan korelasi berdasarkan persamaan keaadaan Benedict-Webb-Rubbin (Benedict-Webb-Rubbin type of equation of state).5339 A7 = -0. Purvis. didapatkan delapan koefisien untuk meghitung faktor kompresibilitas gas.7361 A11 = 0. [ T1= A1+ A 2 A3 + T pr T 3pr ] [ ] [ ] T 2 = A4 + T 3 = A5 T 4= A5 T pr A6 T pr [ ] [ A7 T 3pr T 5 = 0. Dengan mem-fitting 1500 titik data dari grafik z-factor korelasi Standing dan Katz.3265 A5 = -0.109) R4 =A 9 R 5= [ A7 A 8 + T pr T 2pr ] (2. Persamaan korelasi Dranchuk-PurvisRobinson dapat dituliskan sebagai berikut: [ ] 1+T 1 ρr +T 2 ρ 2r +T 3 ρ5r + T 4 ρ2r ( 1+ A 8 ρ 2r ) exp ⁡(− A8 ρ2r ) − T5 =0 ρr (2.27 P pr T pr ] Delapan koefisien konstan didefinisikan untuk menyelesaikan reduced gas density.5475 A10 = 0.721 A4 = 0.112) dengan. II-43 .110) [ ] A10 (2.6134 A3 = -0.111) T 3pr Koefisien konstan A1 sampai dengan A11 A1 = 0.01569 A8 = 0. ¿  Korelasi Dranchuk-Purvis-Robinson Dranchuk.05165 A9 = 0.07` A6 = 0.

429 (10-13) a3 8.35 (10-5) -6 -1.A1 = 0.10488813 A7 = 0.8 (10 ) 1.02 (10-6) -6 -8 -4.77 (10-11) 1.113) dimana koefisien A1-A3 didapatkan dari persamaan berikut: A i=a1+ a2 (T −460)+a 3 (T −460)2 T (2.57 (10-12) -1.5.05 < Tpr < 3 0.9911 6.2 < Ppr < 3 2.228 (10 ) 1.093 (10 ) -3.497 (10-9) -5 (10-11) 6.9947 5.518 ( 10−2 ) +9.114) = temperatur.68446549 Korelasi Dranchuk-Purvis-Robinson valid untuk pseudo-reduced temperature dan Pressure pada rentang sebagai berikut: 1. oR Nilai a1-a3 didefinisikan untuk gas-free water dan gas-saturated water.12 Viskositas Air (µw)  Korelasi Meehan Meehan (1980) mengusulkan korelasi untuk menghitung viskositas air dengan mempertimbangkan efek dari tekanan dan salinitas.93 (10−12)Y 2 II-44 .5 (10-7) 4.11 Faktor Volume Formasi Air (Bw) Faktor volume formasi air dapat dihitung dengan menggunakan persamaan matematik sebagai berikut: B w = A1 + A2 P+ A 3 P 2 (2.61232032 A6 = -0.5(10−2 ) P2 (T −460) ] dengan.285 (10-15) Tabel 2.68157001 A8 = 0.31506237 A2 = -1.114) B T A=4.313 ( 10−7 ) Y −3.43 (10-13) 2.5783272 A4 = 0.5.0467099` A3 = -0.53530771 A5 = -0.8 Koefisien Gas-free water Ai A1 A2 A3 Gas-free water a1 a2 a3 -6 0. μwD = A+ (2.8376 (10 ) -6. Persamaan korelasi Meehan dituliskan sebagai beirkut: μw =μ wD [ 1+3.3855 (10-12) 4. seperti pada tabel berikut: Tabel 2.3 (10-10) -1.saturated water a1 a2 0.9 Koefisien Gas-saturated water Ai A1 A2 A3 Gas.

10−2 T +1.48 (10 ) T C=8. psia = temperatur. oF = salinitas air. μw =¿ μwD P T Y viskositas air.479 ¿ ¿ μ w =exp ¿ μw T (2. Kompresibilitas Air Isotermal (Cw) Brill dan Beggs (1978) mengusulkan persamaan untuk menghitung kompresibilitas air isotermal. Persamaan Brill dan Beggs ini dituliskan sebagai berikut. cp = viskositas air pada P=14. dengan asumsi mengabaikan koreksi dari gas terlarut dan padatan.5.02(10−11 )T 2 T = temperatur.9 ( 10−9 ) T −1.B=10. ppm  Korelasi Brill dan Beggs Brill dan Beggs (1978) membuat korelasi untuk menghitung viskositas air yang hanya dipengaruhi oleh faktor temperatur.117) dimana. oF 2.57 ( 10−7 ) +3.14.59 (10 ) T −5 10 -7 2 B=0.45 ¿ )T -3. 10−3 -5 2 A=2.116) dimana.5.576 ( 10−10 ) Y 2 dimana. C1 =3.982(10−5 T 2 ) 1.0107−5.8546−0. C w =( C 1+ C2 T +C 3 T 2 ) 10−6 (2.26 ¿ )T +1. cp = Temperatur.634+ 9.003−1.7 psia. cp = tekanan. oF 2.13 Kelarutan Gas dalam Air (Rsw) Kelarutan gas dalam air dapat dihitung dengan persamaan matematik sebagai berikut: Rsw = A+ B P+C P2 (2.000134 P II-45 .12+3.115) = Viskositas air.

1 Constant Composition Expansion (CCE) Constant Composition Expansion (CCE) dikenal juga dengan flash liberation atau flash vaporization atau flash expansion atau pressure-volume relation. Tekanan kembali diturunkan. psia T = temperatur.9267 ( 10−5 )−8. Komposisi gas di permukaan mengandung lebih sedikit komponen berat dan menengah dibandingkan dengan komposisi gas di reservoir. oF 2. 4. Vt dicatat. seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2. kemudian diberi tekanan sebesar tekanan awal reservoir. Percobaan Constant Composition Expansion (CCE) dilakukan untuk mengetahui dew point reservoir dimana gas ditempatkan di dalam suatu PVT cell. Liquid dimasukkan ke dalam PVT cell dan tekanan di dalam cell diatur sehingga sama atau lebih besar dari tekanan awal reservoir. Tekanan diturunkan secara bertahap seperti pada No. psi-1 P = tekanan. gas di separator. Tekanan diturunkan sehingga gas mengalami ekspansi.6 Penentuan Sifat Fisik Gas di Laboratorium Sifat fisik gas di permukaan berbeda dengan sifat fisik gas saat berada di reservoir. Di permukaan.77(10 ) P C3 =3. II-46 .8(10−10) P Cw = kompresibilitas air. gas yang keluar dari larutan dalam minyak dibiarkan berada dalam kontak dengan minyak atau dengan kata lain tidak ada gas maupun minyak/kondensat yang dikeluarkan selama proses sehingga fluida tetap dalam keadaan setimbang dan komposisi tidak berubah selama pengujian berlangsung. maka untuk mengetahui komposisi gas di reservoir dapat dilakukan rekombinasi di laboratorium. yaitu Constant Composition Expansion (CCE) atau Flash Liberation dan Constant Volume Depletion (CVD) atau Differential Liberation. Hal ini disebabkan oleh proses kondensasi yang berlangsung saat gas terproduksi dari reservoir ke permukaan. Rekombinasi adalah penggabungan kondensat. Ada dua jenis percobaan untuk mengetahui sifat fisik gas. Pengujian ini dilakukan pada temperatur reservoir. 2. 5.6.27 adalah sebagai berikut: 1. Jika sampel fluida reservoir tidak tersedia. fluida rekombinasi dimasukkan ke dalam sebuah PVT cell dan dikondisikan pada tekanan dan temperatur di reservoir. Bubble point dicatat saat gas mulai terlihat. Volume total (V t) dan tekanan diukur setiap ekspansi dilakukan. Sedangkan Constant Volume Depletion (CVD) dilakukan untuk meniru proses pengurasan gas di dalam reservoir. Setelah dikoreksi terhadap harga z-factor di lapangan. 4. Prosedur pengujian Constant Composition Expansion (CCE). dan gas di dalam stock tank sehingga menghasilkan angka yang sama dengan producing gas oil ratio. Dalam pengujian ini. gas di separator. 2.−7 C2 =−0. aliran gas dari sumur dipisahkan menjadi free water. kondensat. dan gas di stock tank.01052+ 4. 3.

118) Y Function. relative volume dan Y Function dijabarkan sebagai berikut:  Relative Volume. komposisi sistem berubah setiap perubahan tekanan.6. 3. Liquid dimasukkan ke dalam PVT cell dan tekanan di dalam cell diatur pada dew point.119) 2.Gambar 2. yaitu perbandingan (dalam barrel) antara volume total pada tiap tekanan dengan volume total pada dew point. Tekanan diturunkan sampai tekanan tertentu sehingga gas mengalami ekspansi (terlepas dari minyak/kondensat) dan minyak/kondensat terproduksi. II-47 . Tekanan pada tiap ekspansi diukur. P ( |¿| Y= Vt −1 Vb ) Pb−P ¿ (2.2 Constant Volume Depletion (CVD) Constant Volume Depletion (CVD) atau differential liberation atau differential vaporization berbeda dengan Constant Composition Expansion (CCE) karena gas yang keluar dari larutan kemudian dikeluarkan dari PVT cell sehingga tidak berada dalam kontak atau kesetimbangan dengan minyak atau kondensat. Secara rinci. relative volume. [ ] V r=  Vt Vb F (2. Sebagian gas dikeluarkan dengan cara pendesakan konstan sampai volume total fluida di dalam cell sama dengan volume saat dew point (V0). Dengan demikian. Prosedur pengujian Constant Volume Depletion (CVD). Percobaan ini dilakukan pada temperatur reservoir dengan sampel fluida dibawa pada kondisi dew point. seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.28 adalah sebagai berikut: 1. yaitu hubungan antara tekanan relatif dan volume relatif untuk satu harga temperatur reservoir.27 Prosedur pengujian Constant Composition Expansion Hasil pengujian biasanya dilaporkan dalam bentuk tabulasi antara tekanan. 2. dan Y Function.

2 sampai tekanan atmosfir.28 Prosedur pengujian Constant Volume Depletion Data yang dihasilkan adalah volume minyak. Secara rinci. volume minyak/kondensat yang tertinggal di dalam cell juga diukur. solution GOR. Dari data tersebut dapat dihitung solution GOR.122) Gas formation volume factor II-48 .120)  Relative oil volume (ROV) B oD= Vo V o .4. Gambar 2.121)  Total relative volume B tD=BoD + ( R sDb −RsD ) Bg  (2. V o. dan total relative volume dijabarkan sebagai berikut:  Solution GOR Rs = Volume gas yang terproduksi di permukaan pada kondisi standar Volume minyak di dalam stock tank pada kondisi standar (2. T = 60 oF). volume residual minyak yang tersisa pada akhir pengujian (P = 1 atm. dan total relative volume. volume gas yang keluar dari larutan dan dikeluarkan dari tabung. temperatur juga diturunkan hingga kondisi standar 60oF. Tekanan diturunkan kembali seperti No. pada waktu awal dan tiap tekanan berikutnya. relative oil volume (ROV). 6. Liquid yang keluar kemudian diukur volume dan specific gravity-nya. res (2. dan gas formation volume factor untuk tiap tekanan. Liquid kembali dikeluarkan kemudian diukur volume dan specific gravity-nya. relative oil volume. 5.

Bt dan Co sesuai tekanan kondisinya  Pilih kondisi separator dari Separator Test dengan menjumlahkan harga GOR dan pilih harga terkecil II-49 .B g= Vg V g .sc (2. Rs.7 Analisis PVT Lab dan Diagram Fasa Contoh 1: Pengolahan Data (PVT STUDY)  Pilih kondisi separator dari Separator Test dengan menjumlahkan harga GOR dan pilih harga terkecil  Ambil BoSB dan RSSB dari Separator Test  Tentukan Pb dari hasil Flash Liberation  Ambil BoDB.123) Kondisi Separator terpilih 2. RsDB dan Bg dari Differential Liberation  Hitung Bo.

 Ambil BoSB dan RSSB dari Separator Test RsSB BoSB 692 II-50 .

 Tentukan Pb dari hasil Flash Liberation II-51 .

RsDB dan Bg dari Differential Liberation Rsb Bob BtD Pb II-52 . Ambil BoDB.

403 resbbl/STB  RsSb = 692 SCF/STB  BoDb = 1.489 resbbl/STB  RsDb = 794 SCF/STB  Pb = 3512 psig II-53 . Bt dan Co sesuai tekanan kondisinya Contoh perhitungan diambil pada tekanan 3150 psia dan 2800 psia Dari PVT sebelumnya kita dapatkan:  BoSb = 1. Rs. Hitung Bo.

RsD= 707 SCF/STB.502  Hitung Co C o= ∂ Bo 1 ∂ RsD B g− B oD ∂ P ∂ R sD ( )( ) II-54 . @ P = 2800 psig. Bg = 0.489 B o=1.00555 cuft/SCF.413 resbbl/STB BtD = 1.403 1. P < Pb maka :  Hitung Bo B o=BoD B oSb BoDb B o=1.595 resbbl/STB Misalnya P = 2800 psig.403 1.@ P = 3150 psig.403 1. BoD = 1. RsD= 629 SCF/STB.489 B t=1.53  Hitung Bt B t=BtD B oSb BoDb B t=1.331  Hitung Rs Rs =R sSb −(R sDb −RsD ) BoSb BoDb Rs =692−(794−629) 1. Bg = 0.535 resbbl/STB BoD = 1.00623 cuft/SCF.449 resbbl/STB BtD = 1.595 1.413 1.489 Rs =536.

00 0.021 0.088 0.027 II-55 .034 0.087 0.41 6.10 0.037 0.00 22.86 1.000 0.4974* 299 299 64.27 0.4 276 75 ** 75 450 500 Hydrocarbon Analysis of Separator Products And Calculate Well Stream Separator Liquid Separator Gas Well Stream Component % Mol Mol % GPM Mol % GPM Hydrogen Sulfide Carbon Dioxide Nitrogen Methane Ethane Propane Iso-Butane N-Butane Iso-Pentane N-Pentane Hexanes Heptanes Octanes Nonanes Decanes 0.04 0.615 707−629 ) C o=1.413 − )( 0.79 17.055 0.080 0.498 0.15 1.11 0.50 6.27 0.05 0.307 0.00 20.000 0.4 64.86 1.13 0.C o= 1 707−629 1.02 0.85 13.018 0.75 1.0069 299 299 64.00 22.52 1.019 0.85 1.27 0.75 9.09 1.500 0.21 0.00 0.88 2.05 0.085 0.59 67.055 0.07 0.00 4.56 66. 12487 A.12 0.4 300 120 300 120 0 0 Separator Liquid Sampling Conditions Laboratory Opening Conditions 0 psig F psig 0F Liquid Cylinder Number Recovered (cc) 3.035 0.87 1.306 0.05 0.17 5.023 0.449−1.58 0.76 0.00623 5.26 0.4 64.06 0.11 0.015 0.05 0.09 0.413 3150−2800 ( 1.009 0.023 ( 10−4 ) psi−1 Contoh 2 : Pengolahan Data (PVT STUDY) Preliminary Quality Checks Performed on Sample Received in Laboratory Separator Gas Sampling Conditions Laboratory Opening Conditions 0 psig F psig 0F Liquid Cylinder Number Recovered (cc) A.83 0.0013* 3.

0432 0.1017 0.801 0.863 1.09 100.3704 0.800 0.3435 0.4682 0.00 0.7466 0.831 1.96 100.828 0.915 3.898 3.00 100.893 0.808 0.3581 0.8627 0.Undecanes plus Total Pressure (Psig) 6000 5600 5300 5000 4600 4200 3800 3400 3000 2600 2300 2000 1900 1800 1746 1600 1500 1300 1100 947 771 634 539 17.6713 0.1837 0.868 0.9655 0.816 1.812 1.846 0.6602 0.4062 0.878 2.927 II-56 .846 1.3843 0.00 0.4334 0.072 0.5oF) Relative Deviation Volume Liquid Volume.3882 0.912 0.5139 0.805 0.813 0.5754 0.000 1.00 0.0000 0.4666 0. Factor (A) Percent (B) (Z) 0.9713 0.053 1.804 0.6137 0.9107 0.932 0.824 1.280 Pressure-Volume Relations (at 119.

2069 2.9853 2000 0.9718 3500 0.296 2.3791 900 1.73 1.5177 1201 1.78 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 Pre ss ure.00 0.4488 2.4588 1043 1.0819 1.0763 2.98 0.92 0.6686 1.5 0f 1.9763 3000 0.945 0.468 413 376 4.96 0.9678 4000 0.9638 4500 0.94 0.9969 1300 0.82 0.0327 2.0511 600 1.9945 1500 0.1616 2.2477 0.9911 1700 0.8611 333 2.88 0.4355 1.80 0.86 0.7666 5.90 De viation Factor Z 0.1427 636 1.9808 2500 0.2172 750 1.0112 2.0045 2.937 0. psig Jawab: Pressure Volume Relations of Reservoir Fluid @ 208 oF Pressure Relative Volume Y Function (psig) (1) (2) 5000 0.022 502 1.84 0.9992 1235 1 1221 1.7806 II-57 .1887 4.5109 2.8072 300 2.2635 840 1.950 DEVIATION FACTOR Z OF RESERVOIR FLUID DURING PRESSURE VOLUME RELATION AT 199.4971 1142 1.9433 400 2.

1843 1.844 0.6393 1.0198 1.7689 0.208 1.9209 128 1.02829 0.  Psat  P  Y function   Pabs  V / Vsat  1 2 Bubble Point Pressure (Pb) = 1235 psi Data hasil Differential Test Press.3646 0.01838 0.032 0.6642 Gravity of residual oil is 39.7098 Relative volume: V/Vsat is barrels at indicated pressure per barrel at saturation pressure.288 239 212 1 2.8902 187 1.0745 0.1917 1.9961 Gas Formation Volume Factor (4) Incremental Gas Gravity 0.956 0 1. (psig) 1235 900 600 300 0 Differential Vaporization at 299 oF Solution Relative Relative Oil Deviatio Gas/Oil Oil Total Densit n Factor Volume Volume y (Z) Ratio (2) (3) (gm/cc) (1) 342 1.2039 Kondisi maksimum @ P= 100 psig ( Bo dan Rs paling kecil ) Rssb = 231 + 47 = 278 Bosb = 1.9193 1.0194 0.7551 1.05737 - 0.2091 1.989 0.2671 1. Bo dihitung dengan menggunakan rumus: II-58 .0198 1.7199 262 1.499 0.2671 Data hasil separator test Separator Pressure (psi gauge) Separator Temperature oF Gas/Oil Ratio see footnote (1) Gas/Oil Ratio see footnote (2) Oil Density gm/cc Stock Tank Gravity o API@60oF 150 to 0 100 219 226 100 68 69 100 to 0 100 231 238 100 47 48 50 to 0 100 266 274 100 30 31 42 0 100 315 321 40.7666 3.7259 0.7464 1.1 42.7976 1.1779 3.2674 3.5 42.2671 0.2371 1.7407 0.7709 1.2319 1.2067 1.6 oAPI @ 60 oF @ Pb = 1235 Rsdb = 342 Bodb = 1.2039 Perhitungan Bo Karena P < Pb.8154 0.0285 0.732 0.0198 1.0338 0.1698 1.3 Formation Volume Factor see footnote (3) Separator Volume Factor see footnote (4) Specific Gravity of Flash Gas 1.7315 1.9848 1.

..003479 1.2039 =1. Bg = 0. II-59 .2761 × =1.2671 B o=BoD × Perhitungan Rs Untuk P < Pb. Diagram fasa untuk reservoir black oil  Tekanan kritis : 1068. Gambar 2.2039−1.. Bt dihitung dengan menggunakan rumus : Bt =BtD × BoSb BoDb Contoh perhitungan untuk P = 1235 psig →BtD = 1.01838 Co= ( )( ) (342−262) (1.2039 rb /stb BoDb 1..14 menunjukkan fasa .4oF  Tekanan Cricondentherm : 460.. Untuk kondisi pada 1800 psia dan 200 oF.2039 =1.2671 Perhitungan Co Untuk P < Pb.2671 Perhitungan Bt Untuk P < Pb..BoSb BoDb B o=BoD × Contoh perhitungan untuk P = 1235 psig →BoD = 1.2039 rb/ stb BoDb 1.1 psia  Temperatur Cricondentherm : 862.2 oF  Tekanan Cricondenbar : 1511 psia  Temperatur Cricondenbar : 280.6 oF Untuk kondisi pada 200 psia dan 420 oF.175396) 1 0.2671 Bt =BtD × BoSb 1. Bt dihitung dengan menggunakan rumus: Co= 1 ∂ RsD ∂ Bo Bg− BoD ∂ P ∂ RsD ( )( ) Contoh perhitungan untuk P=900.14. Rs dihitung dengan menggunakan rumus: Rs=RsSb−( RsDb−RsD)× BoSb BoDb Contoh perhitungan untuk P = 1235 psig →RsD = 342 Rs=278−( 342−342 ) × 1. Gambar 2.2671 (1235−900) (342−262) Contoh 3: Identifikasi fluida reservoir  Lihat Gambar 2..14 menunjukkan fasa .2761 BoSb 1.2671× =1.9 psia  Temperatur kritis : 451.2039 =286 scf /stb 1..01838− =0.

.5 psia  Temperatur kritis : 308.15 menunjukkan fasa .. Diagram fasa untuk reservoir volatile oil  Tekanan kritis : 2183..4 psia  Temperatur Cricondentherm : 653 oF II-60 .15.9 psia  Temperatur Cricondenbar : 204.16.1 oF Untuk kondisi pada 1000 psia dan 250 oF..3 oF  Tekanan Cricondentherm : 1159. Dua Fasa  Lihat Gambar 2.6 oF  Tekanan Cricondentherm : 1027. Diagram fasa untuk reservoir retrograde gas  Tekanan kritis : 3117.6 psia  Temperatur Cricondentherm : 369.7 psia  Temperatur kritis : 84.Fasa Cair Fasa Gas  Lihat Gambar 2.5 oF  Tekanan Cricondenbar : 2507. Gambar 2.

Setelah diproduksikan oAPI menjadi 63 dan GOR menjadi 29000 SCF/STB  Dari data di atas fluida reservoir tersebut tergolong Volatile Oil . Begitu juga dengan GOR dan kandungan C7+ yang medium menyebabkan warna fluidanya orange.. Gambar 2. Contoh 6: Diketahui data: Fasa gas Fraksi mol II-61 ... (Fasa Gas dan sedikit Fasa cair mulai muncul) Contoh 4: Sebuah sumur selesai dibor (1967) memiliki: GORi = 23000 SCF/STB o API = 54 oAPI liquid Setelah diproduksi (1972) sumur menghasilkan: Liquid = 30 STB/D Gas = 2000 MSCF/D o API = 59 oAPI liquid  GOR = Produksi gas/produksi liquid = 2000x103 SCF/30 STB = 70000 SCF/STB  oAPI = 40 < 59 < 60 Retrogade Gas Contoh 5: Suatu sumur dikembangkan dan menghasilkan GOR i 2000 SCF/STB. Tepat di garis titik Embun.6 psia : 314. 51.  Tekanan Cricondenbar Temperatur Cricondenbar : 4682. karena setelah diproduksikan sampai tekanan di bawah bubble point oAPI-nya meningkat.2 oF Untuk kondisi pada 4500 psia dan 300 oF..2 oAPI dan liquidnya berwarna orange.16 menunjukkan fasa .

6437  Reservoir mengandung : 64.CO2 N2 C1 0. 1110 SCF/STB Pada 3460 psig dan 263 oF Black Oil Undersaturated (Pres > P pengamatan) II-62 .6051 0.0218 0.0167 0.6 res bbl/STB Volatile Oil Contoh 7: Diketahui: Initial condition : 5043 psig dan 263 oF Bubble point condition : 40 oAPI.36% mol fasa gas 35.64% mol fasa liquid  FVF : 2.