You are on page 1of 32

LAPORAN PRAKTIKUM

PERANCANGAN ELEMEN MESIN


(Mesin Pencacah Pakan Hijau)

Oleh:
Nama

: Tirta Kurniawan

NPM

: 240110100059

Co. Ass

: 1. Farid Baraba
2. Raka Sukma Wijaya
3. Abdul Gofur
4. Gardhi D. W

LABORATORIUM ALAT DAN MESIN PERTANIAN


JURUSAN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2012

BAB I
PENDAHULUAN
1

Latar Belakang
Tugas Elemen Mesin merupakan salah satu latihan yang baik bagi mahasiswa

agar dapat mengaplikasikan ilmu yang telah diperolehnya ke dalam bentuk suatu
analisis dari suatu peralatan. Selain untuk menambah wawasan mahasiswa, tugas
ini dapat menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa dalam menguji
keseriusannya dalam menempuh pendidikannya di perguruan tinggi ini.
Analisis merupakan salah satu dari tahapan perancangan. Proses ini berujuan
untuk memperkirakan kondisi suatu alat atau mesin dengan menggunakan
pemikiran yang terstruktur dan perhitungan-perhitungan tertentu. Dengan
menganalisis kita dapat memperkirakan suatu mesin akan berjalan dengan baik
atau tidak. Jika didapat dari proses analisis bahwa suatu mesin tidak akan berjalan
dengan baik maka akan dapat ditentukan cara untuk memperbaiki kesalahan yang
terjadi, baik dengan memperbaiki mesin tersebut atau mengganti bagian yang
akan atau telah rusak, atau cara apapun yang dapat menjadikan mesin tersebut
berjalan sebagaimana mestinya.
Analisis yang dapat digunakan dalam proses perancangan bermacam-macam,
tetapi pada laporan ini akan dibahas dibahas mengenai elemen-elemen apa saja
yang berada di Mesin Pencacah Pakan Hijau, seperti puli, sabuk, gear, spi, rantai,
dan lain-lain.
2

Tujuan Praktikum

Mengenal elemen dari Mesin Pencacah Pakan Hijau.

Mengetahui cara kerja dari Mesin Pencacah Pakan Hijau.

Mengetahui kegunaan dari setiap elemen-elemen yang berada pada Mesin


Pencacah Pakan Hijau.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Poros
Gandar (berputar atau diam) atau poros adalah untuk menopang bagian
mesin yang diam, berayun atau berputar, tetapi tidak menderita momen putar dan
denga demikian tegangan utamanya adalah tekukan (bending). Gandar pendek
juga disebut sebagai baut. Bagian yang berputar dalam bantalan dari gandar (dan
poros) disebut tap.
Poros (keseluruhannya berputar) adalah untuk mendukung suatu momen
putar dan mendapat tegangan puntir dan tekuk. Menurut arah memanjangnya
(longitudinal) maka dibedakan poros yang bengkok (poros engkol) terhadap poros
lurus biasa, sebagai poros pejal atau poros berlubang, keseluruhannya rata atau
dibuat mengecil. Menurut penampang melintangnya disebutkan sebagai poros
bulat dan poros profil (contohnya dengan profil alur banyak dan profil K).
Disamping itu dikenal juga poros engsel, poros teleskop, poros lentur, dan lainlain. Persyaratan khusus terhadap design dan pembuatan adalah sambunagn dari
poros dan naf serta poros dengan poros.
Pembuatan poros sampai diameter 150 mmadalah dari baja bulat (St 42, St
50, St 70 dan baja campuran) yang diputar atau ditarik.Dari lebih tebal ditempa
menjadi jauh lebih kecil. Poros beralur diakhiri dengan penggosokan, dalam hal
dikehendaki bulatan yang tepat. Tempat bantalan dan peralihan menurut
persyaratan diputar halus digosok, dipoles, dicetak dan pada pengaretan tinggi
kemudian dikeraskan.
Pemilihan bahan poros selain diarahkan menurut beban yang dikenakan dan
kekakuan bentuk yang diperlukan juga menurut kondisi pemasangannya,
contohnya pada poros rituel yang bahannya dipilih setelah untuk roda giginya.
Pada bantalan luncur maka keausan dan sifat putaran darurat memegang
perangkat, tetapi pemuaian dan nilai pukulan takikan menurun (kepekaan takikan
lebih tinggi).Design pada poros diarahkan menurut bagian tetap yang mana poros
atau gandar dihubungkan (bantalan, sil dan naf dari piringan atau roda yang
dipasang). Sebagai gambaran maka tempat sambungan yang dibuat dengan benar

yang peralihannya dibuatkan dengan baik, yaitu umumnya pada perlemahan dari
berbagai pengaruh takikan.
Yang perlu diperhatikan dalam perancangan poros ini diantaranya :
1. Gandar diam dapat ditahan jauh lebih ringan daripada poros yang berputar
yang diputar.
2. Poros dari baja kekuatan tinggi tidak sekaku seperti dari St.42 yang
semacam itu (modulus E sama), hanya kekuatan tekuk berubah-ubah atau
kekuatan torsi berubah-ubah yang lebih besar, kalau pengaruh takikan
yang tajam dihindarkan.
3. Poros berlubang denagn d1 = 0,5d beratnya hanya 75%, tetapi tahanan
momennya 94% dari poros pejal.
4. Poros berputar yang kencang berlubang kencang memerlukan kekuatan
yang baik, bantalan yang kaku dan pembentukan yang kaku.
5. Panjang konstruksi dari mesin seringkali sangat tergantung pada panjang
dari tap bantalan, naf dan sil.
Pengamanan Poros dan gandar terhadap peggeseran memanjang diperoleh
melalui peralihan poros pada tempat bantalan atau cincin pengaman. Pengaman
memanjang dari bantalan, naf, dan piringan dapat diperoleh seperti melalui
pemutaran satu sisi, melalui mur poros atau cincin pengaman, kadang-kadang
bentuk sambungan tidak meminta pengamanan memanjang (dudukan pres dan
sebagainya). Dalam penjelasan selanjutnya akan kami jabarkan secara jelas,
diantaranya :

Gambar 1 : Poros

a. Fungsi Poros
Poros dalam sebuah mesin berfungsi untuk meneruskan tenaga
bersama-sama dengan putaran. Setiap elemen mesin yang berputar, seperti
cakara tali, puli sabuk mesin, piringan kabel, tromol kabel, roda jalan dan
roda gigi, dipasang berputar terhadap poros dukung yang tetap atau
dipasang tetap pada poros dukung yang berputar. Contohnya sebuah poros
dukung yang berputar , yaitu poros roda keran berputar gerobak.
Untuk merencanakan sebuah poros, maka perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut.
1. Kekuatan poros
Pada poros transmisi misalnya dapat mengalami beban puntir atau
lentur atau gabungan antara puntir dan lentur. Juga ada poros
yangmendapatkan beban tarik atau tekan, seperti poros baling-baling
kapal atau turbin.
Kelelahan tumbukan atau pengaruh konsentrasi tegangan bila
diameter poros diperkecil (poros bertangga) atau bila poros
mempunyai alur pasak harus diperhatikan. Jadi, sebuah poros harus
direncanakan cukup kuat untuk menahan beban-beban yang terjadi.
2. Kekakuan poros
Walaupun sebuah poros mempunyai kekuatan yang cukup, tetapi
jika lenturan dan defleksi puntirannya terlalu besar, maka hal ini akan
mengakibatkan ketidaktelitian (pada mesin perkakas) atau getaran dan
suara (misalnya pada turbin dan kotak roda gigi).
3. Putaran kritis
Putaran kritis terjadi jika putaran mesin dinaikkan pada suatu harga
putaran tertentu sehingga dapat terjadi getaran yang terlalu besar. Hal
ini dapat mengakibatkan kerusakan pada poros dan bagian-bagian yang
lainnya. Untuk itu, maka poros harus direncanakan sedemikian rupa
sehingga putaran kerjanya lebih rendah dari putaran kritis.
4. Korosi
Bahan-bahan tahan korosi harus dipilih untuk poros propeller dan
pompa bila terjadi kontak dengan fluida yang korosif. Demikian pula

untuk poros-poros yang terancam kavitas dan poros mesin yang sering
berhenti lama.
5. Bahan poros
Bahan untuk poros mesin umum biasanya terbuat dari baja karbon
konstruksi mesin, sedangkan untuk pembuatan poros yang dipakai
untuk meneruskan putaran tinggi dan beban berat umumnya dibuat
dari baja paduan dengan pengerasan kulit yang sangat tahan terhadap
keausan. Beberapa diantaranya adalah baja khrom nikel, baja khrom,
dan baja khrom molybdenum.
b. Macam Macam Poros
Poros

sebagai

penerus

daya

diklasifikasikan

menurut

pembebanannya sebagai berikut:


1. Poros transmisi
Poros transmisi atau poros perpindahan mendapat beban puntir
murni atau puntir dan lentur. Dalam hal ini mendukung elemen mesin
hanya suatu cara, bukan tujuan. Jadi, poros ini berfungsi untuk
memindahkan tenaga mekanik salah satu elemen mesin ke elemen
mesin yang lain.

Dalam hal ini elemen mesin menjadi terpuntir (berputar) dan


dibengkokkan. Daya ditransmisikan kepada poros ini melalui kopling,
roda gigi, puli sabuk atau sproket rantai, dan lain-lain.
2. Spindle
Poros tranmisi yang relatif pendek, seperti poros utama mesin
perkakas, dimana beban utamanya berupa puntiran, disebut spindle.
Syarat yang harus dipenuhi poros ini adalah deformasinya yang harus

kecil, dan bentuk serta ukuranya harus teliti.


3. Gandar
Gandar adalah poros yang tidak mendapatkan beban puntir,bahkan
kadang-kadang tidak boleh berputar. Contohnya seperti yang dipasang
diantara roda-roda kereta barang.
c.

Jenis Jenis Bantalan


Untuk menumpu poros berbeban, maka digunakan bantalan,
sehingga putaran atau gerakan bolak-balik dapat berlangsung secara halus
dan tahan lama. Posisi bantalan harus kuat, hal ini agar elemen mesin dan
poros bekerja dengan baik.
Berdasarkan gerakan bantalan terhadap poros, maka bantalan
dibedakan menjadi dua hal berikut :

1. Bantalan luncur, dimana terjadi gerakan luncur antara poros dan bantalan
karena permukaan poros ditumpu oleh permukaan bantalan dengan lapisan
pelumas.

2. Bantalan gelinding, dimana terjadi gesekan gelinding antara bagian yang


berputar dengan yang diam melalui elemen gelinding seperti rol atau
jarum.
Berdasarkan arah beban terhadap poros, maka bantalan dibedakan
menjadi tiga hal berikut :
1. Bantalan radial, dimana arah beban yang ditumpu bantalan
tegaklurus dengan poros.
2. Bantalan aksial, dimana arah beban bantala ini sejajar dengan
sumbu poros.
3. Bantalan gelinding khusus, dimana bantalan ini menumpu beban
yang arahnya sejajar dan tegak lurus sumbu poros.

Berikut ini akan kami jabarkan dari berbagai jenis bantalan diatas
sebagai berikut :
3. Bantalan Luncur, menurut bentuk dan letak bagian poros yang ditumpu
bantalan. Salah satunya adalah bantalan luncur.
Adapun macam macam bantalan luncur adalah sebagai berikut:
a. Bantalan radial, dapat berbentuk silinder, elips, dan lain-lain.
b. Bantalan aksial, dapat berbentuk engsel kerah Michel, dan lainlain.
c. Bantalan khusus, bantalan ini lebih ke bentuk bola.
Bahan untuk bantalan luncur harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut:
a. Mempunyai kekuatan cukup.
b. Dapat menyesuaikan diri terhadap lenturan poros yang tidak
terlalu besar.
c. Mempunyai sifat anti las.
d. Sangat tahan karat.
e. Dapat membenamkan debu yang terbenam dalam bantalan.
f. Ditinjau dari segi ekonomi.
g. Tidak terlalu terpengaruh oleh temperatur.
d. Bantalan Aksial
4. Bantalan aksial, digunakan untuk menahan gaya aksial. Adapun
macamnya, yaitu bantalan telapak dan bantalan kerah. Pada bantalan
telapak, tekanan yang diberikan oleh bidang telapak poros kepada bidang
bantalan semakin besar untuk titik yang semakin dekat dengan pusat.

5.

Bantalan Gelinding
Keuntungan dari bantalan ini mempunyai gesekan yang sangat kecil
dibandingkan dengan bantalan luncur. Macam macam bantalan gelinding

diantaranya: Pertama. Bantalan bola radial alur dalam baris tunggal.


Kedua, Bantalan bola radial magneto. Ketiga. Bantalan bola kontak sudut
baris tunggal. Keempat. Bantalan bola mapan sendiribaris ganda.

d. Sambungan Poros dan Naf


Penyematan naf sebuah roda gigi, puli-sabuk, kopling, tuas, dan
sebagainya pada poros dapat dilakukan dengan berbagai macam cara,
antara lain dengan menggunakan pasak, pena, bus, cincin jepit, lewat
kerut, pres atau lem.
1. Pasak dan sambungan Pasak
Pasak adalah suatu elemen mesin yang dipakai untuk
menetapkan bagian-bagian mesin, seperti roda gigi, sprocket, puli,
dan kopling pada poros. Momen diteruskan dari poros ke naf atau
naf ke poros.
2. Kerut dan pres
Kedua cara penyambungan mengandung hal yang sama,
yaitu bahwa penjepitan antara bagian yang dikehendaki disambung
terjadi lewat perubahan bentuk elastik bagian itu sendiri. Pada
penyambungan sistem ini, untuk menekan roda pada poros dapat
dilakukan dengan cara memanaskan (dikerutkan) atau dapat juga
menekan roda pada poros tanpa melalui pemanasan, atau dikatakan
roda dipres pada poros.
e. Getaran Pada Poros
Suatu fenomena yang terjadi dengan berputarnya poros pada
kecepatan kecepatan tertentu adalah getaran yang sangat tinggi,
meskipun poros dapat berputar dengan baik pada kecepatan kecepatan
yang lain. Pada kecepatan kecepatan semacam itu dimana getaran

menjadi sangat besar, dapat terjadi kegagalan poros atau bantalan


bantalan. Atau getaran dapat menyebabkan kegagalan karena tidak
bekerjanya komponen komponen sesuai dengan fungsinya, seperti yang
dapat terjadi pada sebuah turbin uap dimana ruang bebas antara rotor dan
rumah adalah kecil. Getaran semacam ini dapat menyebabkan apa yang
disebut olakan poros, atau mungkin menyebabkan suatu osilasi puntir pada
poros, atau suatu kombinasidari keduanya. Meskipun kedua peristiwa itu
berbeda, namun akan ditunjukkan bahwa masing masing dapat ditangani
dengan cara cara yang serupa dengan memperhatikan frequensi pribadi
dari isolasi. Karena poros poros pada dasarnya elastik, dan menunjukkan
karakteristik karakteristik pegas.
Poros ini mengalami suatu momen punter atau momen lentur . Jika
pada poros tersebut terdapat kombinasi antara momen lentur dan momen
puntir maka perancangan poros harus didasarkan pada kedua momen
tersebut. Banyak teori telah diterapkan untuk menghitung elastic failure
dari material ketika dikenai momen lentur dan momen puntir, misalnya :
1. Maximum shear stress theory atau Guests theory
Teori ini digunakan untuk material yang dapat diregangkan
(ductile), misalnya baja lunak (mild steel).
2. Maximum normal stress theory atau Rankines theory
Teori ini digunakan untuk material yang keras dan getas (brittle),
misalnya besi cor (cast iron).
Pada pembahasan selanjutnya, cakupan pembahasan akan lebih terfokus
pada pembahasan baja lunak (mild steel) karena menggunakan material S45C
sebagai material.
Secara analitis getaran yang mengakibatkan tegangan pada poros dapat
dihitung secara terperinci. Misalnya, tegangan geser yang diizinkan untuk
pemakaian umum pada poros dapat diperoleh dari berbagai cara, salah satu cara
diantaranya dengan menggunakan perhitungan berdasarkan kelelahan puntir yang
besarnya diambil 40% dari batas kelelahan tarik yang besarnya kira-kira 45% dari
kekuatan tarik. Jadi batas kelelahan puntir adalah 18% dari kekuatan tarik, sesuai
dengan standar ASME. Untuk harga 18% ini faktor keamanan diambil sebesar .

Harga 5,6 ini diambil untuk bahan SF dengan kekuatan yang dijamin dan 6,0
untuk bahan S-C dengan pengaruh masa dan baja paduan. Faktor ini dinyatakan
dengan . Selanjutnya perlu ditinjau apakah poros tersebut akan diberi alur pasak
atau dibuat bertangga karena pengaruh konsentrasi tegangan cukup besar.
Pengaruh kekasaran permukaan juga harus diperhatikan. Untuk memasukan
pengaruh ini kedalam perhitungan perlu diambil faktor yang dinyatakan dalam
yang besarnya 1,3 sampai 3,0 (Sularso dan Kiyokatsu suga, 1994: 8).
Pada Pembebanan yang berubah ubah (fluctuating loads),Pada berbagai
sumber bacaan tentang poros pembebanan tetap (constant loads) telah banyak
dibahas mengenai yang terjadi pada poros dan ternyata pembebanan semacam ini
divariasikan apapun akan tetap konstan sehingga pembebanan seperti apapun
tidak menjadi masalah, dengan asumsi masih dibawah tegangan luluhnya (yield).
Dan dari segi lain pada kenyataannya bahwa poros akan mengalami pembebanan
puntir dan pembebanan lentur yang berubah-ubah. Dengan mempertimbangkan
jenis beban, sifat beban, dll. yang terjadi pada poros maka ASME (American
Society of Mechanical Engineers) menganjurkan dalam perhitungan untuk
menentukan diameter poros yang dapat diterima (aman) perlu memperhitungkan
pengaruh kelelahan karena beban berulang.
f. Perancangan Bahan Poros
Pada perancangan bahan poros ini terdapat perlakuan panas.
Perlakuan panas adalah proses pada saat bahan dipanaskan hingga suhu
tertentu dan selanjutnya didinginkan dengan cara tertentu pula. Tujuannya
adalah untuk mendapatkan sifat-sifat yang lebih baik dan yang diinginkan
sesuai dengan batas-batas kemampuannya. Sifat yang berhubungan dengan
maksud dan tujuan perlakuan panas tersebut meliputi:
1. Meningkatnya kekuatan dan kekerasannya.
2. Mengurangi tegangan.
3. Melunakkan .
4. Mengembalikan pada kondisi normal akibat pengaruh pengerjaan
sebelumnya.
5. Menghaluskan butir kristal yang akan berpengaruh terhadap keuletan
bahan.

Untuk proses pembuatan poros dengan melakukan hardening permukaan.


Pemanasan poros ini dilakukan di atas suhu transformasi fase dan selanjutnya
didinginkan dengan cepat sekali pada suhu kamar. Sehingga terbentuk suatu fase
yang stabil pada suhu tinggi, pengerasan dengan cara ini mengakibatkan
terbentuknya susunan yang tidak stabil. Tetapi inilah yang membuat elemen poros
ini tidak mudah aus tergerus oleh gesekan yang ada.
Untuk mendapatkan sifat-sifat bahan untuk poros yang lebih baik sesuai
dengan karakter yang diinginkan dapat dilakukan melalui pemanasan dan
pendinginan. Tujuannya adalah mengubah struktur mikro sehingga bahan
dikeraskan, dimudahkan atau dilunakan. Pemanasan bahan dilakukan diatas garis
transformasi kira-kira pada 770 derajat C sehingga perlit yang ada pada bakal
poros itu berubah menjadi austenit yang homogen karena terdapat cukup karbon.
Pada suhu yang lebih tinggi ferrit menjadi austenit karena atom karbon difusi ke
dalam ferrit tersebut. Untuk pengerasan baja, pendinginan dilakukan dengan cepat
melalui pencelupan kedalam air, minyak atau bahan pendingin lainnya sehingga
atom-atom karbon yang telah larut dalam austenit tidak sempat membentuk
sementit dan ferrit akibatnya austenit menjadi sangat keras yang disebut martensit.
Pada baja setelah terjadi austenit dan ferrit kadar karbonya akan menjadi makin
tinggi sesuai dengan penurunan suhu dan akan membentuk hipoeutektoid. Pada
saat pemanasan maupun pendinginan difusi atom karbon memerlukan waktu yang
cukup. Laju difusi pada saat pemanasan ditentukan oleh unsur-unsur paduanya
dan pada saat pendinginan cepat austenit yang berbutir kasar akan mempunyai
banyak martensit. Austenit serta martensit inilah yang nantinya akan menjadi
sumber kekerasan luar dari poros
2.2 Motor Listrik
Motor listrik adalah alat untuk mengubah energi listrik menjadi energi
mekanik. Alat yang berfungsi sebaliknya, mengubah energi mekanik menjadi
energi listrik disebut generator atau dinamo. Motor listrik dapat ditemukan pada
peralatan rumah tangga seperti kipas angin, mesin cuci, pompa air dan penyedot
debu.

Gambar 6. Motor Listrik


Motor listrik yang umum digunakan di dunia Industri adalah motor listrik
asinkron, dengan dua standar global yakni IEC dan NEMA. Motor asinkron IEC
berbasis metrik (milimeter), sedangkan motor listrik NEMA berbasis imperial
(inch), dalam aplikasi ada satuan daya dalam horsepower (hp) maupun kiloWatt
(kW).

Prinsip Kerja Motor Listrik


Pada motor listrik tenaga listrik diubah menjadi tenaga mekanik. Perubahan

ini dilakukan dengan mengubah tenaga listrik menjadi magnet yang disebut
sebagai elektro magnet. Sebagaimana kita ketahui bahwa kutub-kutub dari magnet
yang senama akan tolak-menolak dan kutub-kutub tidak senama, tarik-menarik.
Maka kita dapat memperoleh gerakan jika kita menempatkan sebuah magnet pada
sebuah poros yang dapat berputar, dan magnet yang lain pada suatu kedudukan
yang tetap.
2.3 Bantalan
Bantalan adalah elemen mesin yang menumpu beban poros. Sehingga
putaran bantalan dapat diklasifikasikan sebagai berikut: atau getaran bolak
baliknya dapat berlangsung secara halus. Bantalan harus cukup kokoh untuk
memungkinkan poros serta elemen mesin lainnya bekerja dengan baik. Jika
bantalan tidak berfungsi dengan baik maka prestasi seluruh sistem akan menurun
atau tak dapat bekerja dengan semestinya.

Umur dari suatu bantalan sebelum mencapai keausan yaitu jangka selama
masih berfungsi bantalan tersebut dengan teliti sesuai dengan penggunaannya.
Misalnya kurang atau tidak sesuai sehinga dapat berkarat dan akhirnya bantalan
tersebut longgar. Tetapi bilamana kita dapat menjamin pelumasan itu dengan baik
dan melindungi terhadap kotoran atau debu maka kita dapat memastikan bahwa
service life kita ketahui dari fatique life saja.

Gambar 7 : Bearing
Bantalan dapat diklasifikasikan sebagi berikut:
1. Atas dasar gerakan bantalan terhadap poros
a. Bantalan luncur.
Pada bantalan ini terjadi gesekan luncur antara poros dan bantalan
karena permukaan poros ditumpu oleh permukaan bantalan dengan
perantara lapisan pelumas.
b. Bantalan gelinding.
Pada bantalan ini terjadi gesekan gelinding antara bagian yang
berputar dengan yang diam melalui elemen gelinding seperti bola (peluru),
rol atau rol jarum, dan rol bulat.
2. Atas dasar arah beban terhadap poros
a. Bantalan radial. Arah beban yang ditumpu bantalan ini adalah tegak lurus
sumbu poros.
b. Bantalan aksial. Arah beban bantalan ini sejajar dengan sumbu poros.
c. Bantalan gelinding khusus. Bantalan ini menumpu beban yang arahnya
sejajar dan tegak lurus sumbu poros.
2.4 Puli dan Belt (sabuk)
Puli dan belt merupakan jenis-jenis elemen tranmisi daya fleksibel yang
utama. Berbeda dengan roda gigi, yang relatif memerlukan jarak antara sumbu

yang relatif dekat dan teliti. Puli dan belt dapat meneruskan daya antara poros
terpisah jauh. Jarak antara sumbunya terlebih lagi dapat diatur (adjustable ).
Pada umumnya belt digunakan dimana kecepatan putar / rotasi relatif tiggi.
Seperti pada reduksi kecepatan tingkat pertama dari suatu motor atau mesin
penggerak. Kecepatan linier sabuk biasanya berkisar antara 2500 sampai 7000
rpm (1-20 atau maksimum 25 m/s) dengan daya maksimum sampai 500 kw. Pada
kecepatan rendah tegangan pada sabuk tertentu. Pada kecepatan lebih tinggi, efekefek dinamik seperti gaya-gaya centrifugal. Cambukan belt dan vibrasi
mengurangi efektifitas transmisi dan umur belt. Kecepatan sebesar 400 rpm
umumnya dinyatakan ideal untuk penggunaan belt.
Transmisi dengan belt dapat dikelompokan atas tiga kelompok yaitu belt rata
yang dipasang pada puli silinder dan meneruskan momen puntir (torsi) antara dua
poros yang jarak sumbunya sampai 10 m dengan perbandingan putaran 1/1 6/1.
Yang kedua belt dengan penampang trapesium yang juga disebut dengan sabuk V
yang meneruskan torsi antara dua poros dengan jarak sumbu mencapai 5 m
dengan perbandingan putaran 1/1 7/1 yang ketiga sabuk dengan gigi yang
digerakan dengan sproket pada jarak antara sumbu poros dapat sampai 2 m
dengan penerus putaran secara tepat dengan perbandingan 1/1 6/1. (G. Niemann,
1994).
Simbol / standar puli dan sabuk
a. Industri : Konstruksi berat, A, B, C, D, E, 3V,5V, 8V. Konstruksi
ringan, 2L, 3L, 4L, 5L.
b. Pertanian : HA, HB,HC, HE, HD.
c. Otomotif : 0,38 inchi, 11 / 16 inchi, 1 inchi.
a. Puli
Puli pada mesin berfungsi sebagai penerus putaran dan daya dari
motor melalui sabuk ke poros dan sebagai roda gila untuk menyimpan
tenaga agar poros tetap berputar apabila mendapat beban. Konstruksi puli
terbuat dari besi tuang atau baja dan bisa juga dari kayu, tetapi puli kayu
sudah tidak banyak digunakan lagi karena tidak efektif. Untuk konstruksi
ringan ditetapkan puli dari aluminium.

Gambar 8 : Pulley
Ada beberapa jenis puli diantaranya :
a. Puli datar, puli datar biasanya dibuat dari besi tuang dan ada juga yang
dari baja.
b. Puli Mahkota, puli ini lebih efektif dari pada puli datar, karena
memiliki sudut ketirusan yang bermacam-macam dengan batas
maksimum 1/8 inchi dalam 1 feetnya
c. Puli Alur V, puli jenis alur V ini sering digunakan untuk mesin industri
umum karena murah dan mudah didapat.
b. Belt (sabuk)
Transmisi dengan elemen mesin yang luwes dapat digolongkan
atas transmisi sabuk, transmisi rantai dan transmisi kabel atau puli.

Gambar 9 : Belt
Transmisi sabuk dibagi atas tiga kelompok, yaitu :
a. Sabuk Rata
Sabuk ini dipasang pada puli silinder dan meneruskan momen
antara dua poros. Jaraknya dapat mencapai 10 meter dengan
perbandingan putaran 1:1 sampai 6:1. Sabuk rata biasanya digunakan
untuk mesin-mesin penggilingan padi, mesin press, mesin tempa dan
lain-lain. Bahan yang digunakan pada sabuk ini biasanya terbuat dari
kulit, kain, plastik atau campuran antara plastik dan kain.

b. Sabuk V
Sabuk ini mempunyai penampang trapesium sama kaki. Sabuk V
dipasang pada puli dengan alur dan meneruskan momen antar dua
poros yang jaraknya dapat mencapai 5 meter dengan perbandingan 1:1
sampai 7:1. Sabuk ini biasanya berbahan karet dan permukaannya
diperkuat dengan pintalan kain, sedang dibagian dalam dari sabuk
diberi serat-serat kain.
c. Sabuk Bergigi (Sabuk Gilir)
Sabuk bergigi digerakan dengan sproket pada jarak pusat mencapai
2 meter dan meneruskan putaran secara tepat dengan perbandingan 1:1
sampai 6:1. Sabuk ini digunakan secara luas dalam industri mesin
jahit, komputer, mesin fotokopi dan sebagainya
Sebagian besar transmisi sabuk menggunakan sabuk V karena kemudahan
dalam penanganan dan harganya murah.
Jarak yang jauh antara dua buah poros sering tidak memungkinkan transmisi
langsung dengan roda gigi. Dengan demikian, cara transmisi putaran atau daya
yang lain dapat diterapkan, dimana sebuah sabuk luwes atau rantai dibelitkan
sekeliling puli atau sproket pada poros.
Transmisi sabuk V hanya dapat menghubungkan poros-poros dengan arah
putaran yang sama. Karena sabuk V biasanya dipakai untuk menurunkan putaran.
Dalam pemilihan sabuk V sangat dipengaruhi oleh putaran (n) dan daya (kW)
yang ditransmisikan.
Pada pasangan puli dan sabuk V, terjadi kontak atau persinggungan antara
puli dan sabuk. Persinggungan atau kontak yang terjadi antara puli dan sabuk
membentuk sebuah sudut yang dinamakan sudut kontak .

2.5 Pasak (spie)


Pasak adalah elemen mesin yang dipakai untuk menetapkan bagian bagian
seperti roda gigi, sproket, kopling, puli. Bagian ini biasanya berupa Shaft yang
berfungsi sebagai transfer daya dengan Gear/roda gigi maupun pulley yang
berfungsi untuk mengatur perbandingan putaran.

Dengan pasak inilah akan di peroleh sambungan yang kuat dan


fleksibel/mudah untuk di pasang dan di lepas. (Sularso, Kiyokatsu suga, 1983)
Pasak menurut letaknya dibedakan atas :
1.
2.
3.
4.

pasak plana
pasak rata
pasak benam
pasak singgung

Yang umumnya berpenampang segi empat yang sering dipakai adalah pasak
benam karna dapat meneruskan momen yang besar.

Gambar 10 : Spie, Shaft, dan Gear


Keterangan :
1. Spie
2. Shaft
3. Gear
2.6 Kopling
Kopling adalah alat yang digunakan untuk menghubungkan dua poros pada
kedua ujungnya dengan tujuan untuk mentransmisikan daya mekanis. Kopling
biasanya tidak mengizinkan pemisahan antara dua poros ketika beroperasi, namun
saat ini ada kopling yang memiliki torsi yang dibatasi sehingga dapat slip atau
terputus ketika batas torsi dilewati.
Tujuan utama dari kopling adalah menyatukan dua bagian yang dapat
berputar. Dengan pemilihan, pemasangan, dan perawatan yang teliti, performa
kopling bisa maksimal, kehilangan daya bisa minimum, dan biaya perawatan bisa
diperkecil.

a. Manfaat
Kopling digunakan dalam permesinan untuk berbagai tujuan:
1. Untuk menghubungkan dua unit poros yang dibuat secara terpisah, seperti
poros motor dengan roda atau poros generator dengan mesin. Kopling
mampu memisahkan dan menyambung dua poros untuk kebutuhan
perbaikan dan penggantian komponen.
2. Untuk mendapatkan fleksibilitas mekanis, terutama pada dua poros yang
tidak berada pada satu aksis.
3. Untuk mengurangi shock load dari satu poros ke poros yang lain.
4. Untuk menghindari beban kerja berlebih.
5. Untuk mengurangi karakteristik getaran dari dua poros yang berputar.

b. Prinsip Kerja Kopling


Kopling primer berfungsi untuk melayani start jalan, sedangkan kopling
sekunder berfungsi untuk melayani pengoperan gigi.
Untuk kopling primer terletak pada poros engkol yang terdiri dari:
1. Outer clutch berputar bebas pada poros engkol.
2. Inner clutch berputar mengikuti putaran poros engkol.
3. Drive plate (bandul) berupa kanvas yang terletak pada inner club, yang
berfungsi sebagai pcnghubung putaran dari Inner Club ke Outer Clutch.
4. Drive gear sebagai penghubung cuter clutch dengan kopling sekunder
Cara kerja kopling primer. Pada saat mesin berputar stasioner (lambat),
drive plat (bandul) belum bekerja, sehingga outer clutch praktis belum
berfungsi, baik pada saat memindah gigi perseneling ataupun pada saat
start jalan.
Kopling mekanik ialah apabila mesin dihidupkan dan perseneling masuk,
sedangkan handel kopling tidak ditarik maka kopling bekerja menghubungkan

putaran mesin sampai ke poros primer persneling, putaran poros engkol


diteruskan oleh roda gigi utama (primer) poros engkol ke roda gigi utama (primer)
kopling, sehingga rumah kopling dengan kanvasnya ikut berputar. Karena kanvas
kopling dijepit oleh pelat kopling yang mendapat tekanan dan pegas-pegasnya,
maka putaran kanvas diteruskan ke pelat-pelat tersebut, selanjutnya putaran ini
diteruskan ke poros primer persneling. Apabila pada saat mesin hidup dan
persneling masuk, handel kopling ditarik maka tali kopling menarik tuas dan tuas
mendorong pen pendorong. Pen pendorong menekan tutup pegas sehingga pelat
dasar mundur, dengan demikian pelat-pelat penjepit kanvas kopling merenggang,
yang berarti pula putaran mesin hanya sampai ke kanvas kopling saja, hal inilah
yang disebut kopling memutus hubungan.
Kopling otomatis ialah kopling yang cara bekerjanya diatur oleh
tinggi atau rendahnya putaran mesin itu sendiri, seperti halnya dengan
kopling mekanik, maka kopling otomatis juga ada yang berkedudukan
pada poros engkol dan ada juga yang berkedudukan pada poros primer
persneling.

Mengenai

mekanisme

atau

peralatan

koplingnya

tidak

berbeda dengan peralatan yang terdapat pada kopling mekanik, hanya


tidak

terdapat

perlengkapan

handel

dan

sebagai

penggantinya

pada

kopling atomatis ini terdapat alat khusus yang bekerja secara otomatis
pula, yakni:
1. Otomatis

kopling,

yang

terdapat

pada

kopling

tengah,

untuk

kopling yang berkedudukan pada pores engkol.


2. Rol pemberat yang berguna untuk menekan pelat dasar waktu digas.
3. Pegas kopling yang lemah, berguna pada waktu mesin hidup lambat,
koplingnya dapat netral.
4. Pegas pengembali untuk mengembalikan dengan cepat dari posisi
masuk ke posisi netral, bila mesin hidup dalam putaran tinggi menjadi
rendah.

Kopling ganda terdiri dari kopling primer yang bekerja berdasarkan gaya
sentrifugal dan kopling sekunder yang bekerja secara konvensional atau disebut
juga garpu kopling (shift clutch).

2.7 Roda Gigi


Roda gigi adalah bagian dari mesin yang berputar yang berguna untuk
mentransmisikan daya. Roda gigi memiliki gigi-gigi yang saling bersinggungan
dengan gigi dari roda gigi yang lain. Dua atau lebih roda gigi yang bersinggungan
dan bekerja bersama-sama disebut sebagai transmisi roda gigi, dan bisa
menghasilkan keuntungan mekanis melalui rasio jumlah gigi. Roda gigi mampu
mengubah kecepatan putar, torsi, dan arah daya terhadap sumber daya. Tidak
semua roda gigi berhubungan dengan roda gigi yang lain; salah satu kasusnya
adalah pasangan roda gigi dan pinion yang bersumber dari atau menghasilkan
gaya translasi, bukan gaya rotasi.
Transmisi roda gigi analog dengan transmisi sabuk dan puli. Keuntungan
transmisi roda gigi terhadap sabuk dan puli adalah keberadaan gigi yang mampu
mencegah slip, dan daya yang ditransmisikan lebih besar. Namun, roda gigi tidak
bisa mentransmisikan daya sejauh yang bisa dilakukan sistem transmisi roda dan
puli kecuali ada banyak roda gigi yang terlibat di dalamnya.
Ketika dua roda gigi dengan jumlah gigi yang tidak sama dikombinasikan,
keuntungan mekanis bisa didapatkan, baik itu kecepatan putar maupun torsi, yang
bisa dihitung dengan persamaan yang sederhana. Roda gigi dengan jumlah gigi
yang lebih besar berperan dalam mengurangi kecepatan putar namun
meningkatkan torsi.
Jenis-jenis Roda Gigi
a

Spur
Spur adalah roda gigi yang paling sederhana, yang terdiri dari silinder atau
piringan dengan gigi-gigi yang terbentuk secara radial. Ujung dari gigigiginya lurus dan tersusun paralel terhadap aksis rotasi. Roda gigi ini
hanya bisa dihubungkan secara paralel.

b Roda Gigi Dalam


Roda gigi dalam (atau roda gigi internal, internal gear) adalah roda
gigi yang gigi-giginya terletak di bagian dalam dari silinder roda gigi.
Berbeda dengan roda gigi eksternal yang memiliki gigi-gigi di luar
silindernya. Roda gigi internal tidak mengubah arah putaran.

Roda gigi Heliks


Gigi-gigi yang bersudut menyebabkan pertemuan antara gigi-gigi
menjadi perlahan sehingga pergerakan dari roda gigi menjadi halus dan
minim getaran. Berbeda dengan spur di mana pertemuan gigi-giginya
dilakukan secara langsung memenuhi ruang antara gigi sehingga
menyebabkn tegangan dan getaran. Roda gigi heliks mampu dioperasikan
pada kecepatan tinggi dibandingkan spur karena kecepatan putar yang
tinggi dapat menyebabkan spur mengalami getaran yang tinggi. Spur lebih
baik digunakan pada putaran yang rendah. Kecepatan putar dikatakan
tinggi jika kecepatan linear dari pitch melebihi 25 m/detik
Roda gigi heliks bisa disatukan secara paralel maupun melintang.
Susunan secara paralel umum dilakukan, dan susunan secara melintang
biasanya disebut dengan skew.

d Roda Gigi Bevel


Roda gigi bevel (bevel gear) berbentuk seperti kerucut terpotong
dengan gigi-gigi yang terbentuk di permukaannya. Ketika dua roda gigi
bevel mersinggungan, titik ujung kerucut yang imajiner akan berada pada
satu titik, dan aksis poros akan saling berpotongan. Sudut antara kedua
roda gigi bevel bisa berapa saja kecuali 0 dan 180.
Roda gigi bevel dapat berbentuk lurus seperti spur atau spiral seperti
roda gigi heliks. Keuntungan dan kerugiannya sama seperti perbandingan
antara spur dan roda gigi heliks.

Roda Gigi Hypoid


Roda gigi hypoid mirip dengan roda gigi bevel, namun kedua aksisnya
tidak berpotongan

Roda Gigi Mahkota


Roda gigi mahkota (crown gear) adalah salah satu bentuk roda gigi
bevel yang gigi-giginya sejajar dan tidak bersudut terhadap aksis. Bentuk

gigi-giginya menyerupai mahkota. Roda gigi mahkota hanya bisa


dipasangkan secara akurat dengan roda gigi bevel atau spur.

Roda Gigi Cacing


Roda gigi cacing (worm gear) menyerupai screw berbentuk batang
yang dipasangkan dengan roda gigi biasa atau spur. Roda gigi cacing
merupakan salah satu cara termudah untuk mendapatkan rasio torsi yang
tinggi dan kecepatan putar yang rendah. Biasanya, pasangan roda gigi spur
atau heliks memiliki rasio maksimum 10:1, sedangkan rasio roda gigi
cacing mampu mencapai 500:1. Kerugian dari roda gigi cacing adalah
adanya gesekan yang menjadikan roda gigi cacing memiliki efisiensi yang
rendah sehingga membutuhkan pelumasan.
Roda gigi cacing mirip dengan roda gigi heliks, kecuali pada sudut
gigi-giginya yang mendekati 90 derajat, dan bentuk badannya biasanya
memanjang mengikuti arah aksial. Jika ada setidaknya satu gigi yang
mencapai satu putaran mengelilingi badan roda gigi, maka itu adalah roda
gigi cacing. Jika tidak, maka itu adalah roda gigi heliks. Roda gigi cacing
memiliki setidaknya satu gigi yang mampu mengelilingi badannya
beberapa kali. Jumlah gigi pada roda gigi cacing biasanya disebut dengan
thread.
Dalam

pasangan

roda

gigi

cacing,

batangnya

selalu

bisa

menggerakkan roda gigi spur. Jarang sekali ada spur yang mampu
menggerakkan roda gigi cacing. Sehingga bisa dikatakan bahwa pasangan
roda gigi cacing merupakan transmisi satu arah.

h Roda Gigi Non-Sirkular


Roda gigi non-sirkular dirancang untuk tujuan tertentu. Roda gigi
biasa dirancang untuk mengoptimisasi transmisi daya dengan minim
getaran dan keausan, roda gigi non sirkular dirancang untuk variasi rasio,
osilasi, dan sebagainya.

Roda Gigi Pinion


Pasangan roda gigi pinion terdiri dari roda gigi, yang disebut pinion,
dan batang bergerigi yang disebut sebagai rack. Perpaduan rack dan pinion
menghasilkan

mekanisme

transmisi

torsi

yang

berbeda;

torsi

ditransmisikan dari gaya putar ke gaya translasi atau sebaliknya. Ketika


pinion berputar, rack akan bergerak lurus. Mekanisme ini digunakan pada
beberapa jenis kendaraan untuk mengubah rotasi dari setir kendaraan
menjadi pergerakan ke kanan dan ke kiri dari rack sehingga roda berubah
arah.

Roda Gigi Episiklik


Roda gigi episiklik (planetary gear atau epicyclic gear) adalah
kombinasi roda gigi yang menyerupai pergerakan planet dan matahari.

Roda gigi jenis ini digunakan untuk mengubah rasio putaran poros secara
aksial, bukan paralel. Kombinasi dari beberapa roda gigi episiklik dengan
mekanisme penghentian pergerakan roda gigi internal menghasilkan rasio
yang dapat berubah-ubah. Mekanisme ini digunakan dalam kendaraan
dengan transmisi otomatis.

2.8 Sistem Transmisi


Sistem transmisi adalah sistem yang berfungsi untuk konversi torsi dan
kecepatan (putaran) dari mesin menjadi torsi dan kecepatan yang berbeda-beda
untuk diteruskan ke penggerak akhir. Konversi ini mengubah kecepatan putar
yang tinggi menjadi lebih rendah tetapi lebih bertenaga, atau sebaliknya.
Torsi tertinggi suatu mesin umumnya terjadi pada sekitar pertengahan dari
batas putaran mesin yang diijinkan, sedangkan kendaraan memerlukan torsi
tertinggi pada saat mulai bergerak. Selain itu, kendaraan yang berjalan pada jalan
yang mendaki memerlukan torsi yang lebih tinggi dibandingkan mobil yang
berjalan pada jalan yang mendatar. Kendaraan yang berjalan dengan kecepatan
rendah memerlukan torsi yang lebih tinggi dibandingkan kecepatan tinggi.
Dengan kondisi operasi yang berbeda-beda tersebut maka diperlukan sistem
transmisi agar kebutuhan tenaga dapat dipenuhi oleh mesin.
Transmisi manual adalah sistem transmisi otomotif yang memerlukan
pengemudi sendiri untuk menekan/menarik seperti pada sepeda motor atau
menginjak kopling seperti pada mobil dan menukar gigi percepatan secara
manual. Gigi percepatan dirangkai di dalam kotak gigi/gerbox untuk beberapa
kecepatan, biasanya berkisar antara 3 gigi percepatan maju sampai dengan 6 gigi
percepatan maju ditambah dengan 1 gigi mundur (R). Gigi percepatan yang
digunakan tergantung kepada kecepatan kendaraan pada kecepatan rendah atau
menanjak digunakan gigi percepatan 1 dan seterusnya kalau kecepatan semakin

tinggi, demikian pula sebaliknya kalau mengurangi kecepatan gigi percepatan


diturunkan, pengereman dapat dibantu dengan penurunan gigi percepatan.
Transmisi otomatis adalah transmisi yang melakukan perpindahan gigi
percepatan secara otomatis. Untuk mengubah tingkat kecepatan pada sistem
transmisi otomatis ini digunakan mekanisme gesek dan tekanan minyak transmisi
otomatis. Pada transmisi otomatis roda gigi planetari berfungsi untuk mengubah
tingkat kecepatan dan torsi seperti halnya pada roda gigi pada transmisi manual.
Transmisi

semi-otomatis

merupakan

tranmisi

yang

perpindahan

gigi

percepatannya tanpa menginjak/menekan kopling, sistem ini menggunakan sensor


elektronik, prosesor dan aktuator untuk memindahkan gigi percepatan atas
perintah pengemudi. Sistem ini dikembangkan untuk mengantisipasi kemacetan
lalu lintas didaerah perkotaan. Transmisi semi otomatis juga digunakan pada
mobil-mobil sport mewah seperti digunakan Porsche, Maserati, Ferrari yang
kadang-kadang ditempatkan pada setir untuk mempermudah perpindahan gigi
percepatan.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Pulley Pada Mesin Pencacah


Pakan Hijau

Poros, Spi, dan Bantalan Mesin


Pencacah Pakan Hijau

Rantai, Sprocket, dan Gear Pada

Hopper, Penggiling, dan Pencacah

Mesin Pencacah Pakan Hijau

Pada Mesin Pencacah Pakan Hijau

3.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini yaitu, pengenalan elemen mesin pencacah pakan
hijau. Dimana mesin ini terdiri dari berbagai komponen, diantaranya motor listrik,
puli, gear terdiri dari gear besar dan kecil, bearing, bantalan, pin, poros, sabuk puli
(belt), rantai, sprocket, hopper, pencacah, dan silinder penggiling.
Dari komponen-komponen tersebut memiliki fungsinya masing-masing. Puli
dimesin ini berfungsi sebagai penyalur tenaga agar dapat mencacah dan
menggiling pakan hijau, dua gear yang berbeda memiliki cara kerja yang berbeda
pula yang saling melengkapi yaitu, yang besar berputar dengan lambat tetapi
memiliki beban yang besar sedangkan yang kecil berputar dengan cepat tetapi
memiliki beban yang besar. Gear yang lebih bagus mekanisme kerjanya
dibandingkan dengan gear yang lainnya adalah gear yang jika bergerak pada
kecepatan

tinggi

maupun

kecepatan

rendah

tidak

akan

terjadi

slip.

Bearing berfungsi untuk menjaga kerenggangan dari pada poros, agar pada saat
unit mulai bekerja komponen yang ada di dalam transmisi tidak terjadi kejutan,
sehingga transmisi bisa bekerja dengan halus.
Belt dimesin ini berfungsi untuk mentransmisikan daya dari poros yang satu
keporos yang lainnya melalui puli yang berputar dengan kecepatan sama atau
berbeda. Ada dua silinder yang berputar ke dalam berfungsi untuk menggiling
terlebih dahulu yang masuk dari hopper kemudian pakan hijau tersebut dicacah,
disini desain gear disesuaikan dengan kedua fungsi mesin pencacah pakan hijau
tersebut.
Rantai pada mesin pencacah ini berfungsi sebagai penggerak gear yang
dihubungkan pada alat penggiling dari mesin pencacah tersebut. Pada rantai ini
terdapat sprocket, sprocket ini berfungsi sebagai penggerak dari rantai. Rantai

pada mesin ini dibutuhkan karena rantai merupakan alat yang mengurangi slip
pada saat bergerak dan rantai juga sangat kuat akan kinerja dari silinder
penggiling yang membutuhkan tenaga agar dapat menghancurkan dari pakan
hijau.
Mekanisme dari mesin pakan hijau ini adalah pertama pakan hijau atau
sampah dari tumbuhan dimasukan ke dalam hopper, kemudian diberikan tekanan
sedikit agar pakan hijau masuk kedalam silinder penggiling. Sistem dari
penggiling ini menggunakan pegas, jadi setiap pemasukan pakan hijau silinder ini
mengikuti banyaknya pakan hijau yang masuk sehingga silinder ini berfungsi
sebagai penekan dan menggiling. Setelah masuk dari silinder penggiling, pakan
hijau tersebut masuk kedalam baling-baling. Baling-baling ini berfungsi sebagai
mencacah dari hasil penggilingan, agar hasil dari pakan hijau tersebut tidak padat
dan hasilnya pun bisa digunakan sebagai pupuk organik.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
1. Mesin Pencacah Pakan Hijau bekerja menggunakan motor listrik yang
berfungsi sebagai motor penggerak dari sistem mesin tersebut.
2. Mesin ini terdiri dari berbagai komponen, diantaranya motor listrik, puli,
gear terdiri dari gear besar dan kecil, bearing, bantalan, pin, poros, sabuk
puli (belt), rantai, sprocket, hopper, pencacah, dan silinder penggiling.

3. Mesin ini menghasilkan sampah dari tumbuhan yang bisa dijadikan


sebagai pupuk organik.
4. Mempermudah dalam menghancurkan sampah dari tumbuhan

4.2 Saran
1. Praktikan harus lebih memahami lagi komponen-komponen yang ada di
dalam mesin.
2. Sebaiknya saat praktikum mesin dijalankan agar praktikan lebih
memahami prinsip kerja dari mesin tersebut.
3. Sebelumnya praktikan harus memahami materi agar mudah pada saat
praktikum pengenalan mesin ini berlangsung.

DAFTAR PUSTAKA

Gusmau..2009..Sistem.kopling.cara.kerjanya..http://gusmau.wordpress.com/2009/
12/24/sistem-kopling-cara-kerjanya/ (Diakses pada tanggal 20 September
2012, pukul 20:00 WIB).
Wikipedia. 2012. Kopling. http://id.wikipedia.org/wiki/Kopling (Diakses pada
tanggal 23 September 2012, pukul 20:13 WIB).
Novyanto, Okasatria. 2007. Sabuk Belt dan

Pulley.

Available

at:

http://okasatria.blogspot.com/2007/10/elemen-mesin-bantalanbearings.html (diakses pada tanggal 25 Setember 2012 pukul 12.23 WIB)


Kurniawan, Wahyu. 2010. Mechanical Engineering. Elemen Mesin (Sabuk).
http://ml.scribd.com/doc/47728947/ELEMEN-MESIN-SABUK(Diakses pada
tanggal 23 September 2012, pukul 20:20 WIB).
Luh Sepdyanuri, Indar. 2012. Elemen Mesin I Poros.
http://www.docstoc.com/docs/110033365/Elemen-Mesin-I---Poros (Diakses
pada tanggal 23 September 2012, pukul 20:15 WIB).
Wikipedia. 2012. Roda Gigi. Available at: http://id.wikipedia.org/wiki/Roda_gigi
(diakses pada tanggal 25 September 2012 pukul 12.20 WIB)