You are on page 1of 48

FRAKTUR MAKSILOFASIAL

Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik
Departemen Ilmu Bedah
Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta
Periode 08 Januari – 27 Februari 2015

Disusun Oleh :
Chaerunisa Utami

1410221070

Pembimbing
dr. Hadi Pranoto, Sp(K)BD

KEPANITERAAN KLINIK
DEPARTEMEN ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN
NASIONAL VETERAN JAKARTA
PERIODE 08 JANUARI – 27 FEBRUARI 2015

LEMBAR PENGESAHAN
FRAKTUR MAKSILOFASIAL
Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik
Departemen Ilmu Bedah
Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta
Periode 08 Januari – 27 Februari 2015

Telah disetujui
Tanggal :
.............................................................

Disusun oleh :
Siti Alfiana C
1220221113

Pembimbing

dr. Hadi Pranoto, Sp(K)BD

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME,
berkat

karunia-Nya

penulis

dapat

menyelesaikan

FRAKTUR

MAKSILOFASIAL yang merupakan salah satu syarat dalam mengikuti
ujian kepaniteraan klinik Pendidikan Profesi Dokter Departemen Ilmu
Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan
Nasional Veteran Jakarta Periode 08 Januari – 27 Februari 2015.
Dalam menyelesaikan studi kasus ini penulis mengucapkan rasa
terima kasih kepada dr. Hadi Pranoto, Sp(K)BD sebagai dokter
pembimbing. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Studi Kasus ini
banyak terdapat kekurangan dan juga masih jauh dari kesempurnaan,
sehingga penulis mengharap kritik dan saran dari pembaca.
Semoga Studi kasus kedokteran keluarga ini dapat bermanfaat bagi
teman-teman pada khususnya dan semua pihak yang berkepentingan bagi
pengembangan ilmu kedokteran pada umumnya. Amin.

Jakarta, Maret 2015

Penulis

iii

DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ......................................................................... ii
KATA PENGANTAR ................................................................................ iii
DAFTAR ISI ............................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................1
I.1.

LATAR BELAKANG .................................................................1

I.2.

TUJUAN

I.3.

MANFAAT ..................................................................................2

2

BAB II FRAKTUR MAKSILOFASIAL ....................................................3
II.1. ANATOMI...................................................................................3
II.2. DEFINISI .....................................................................................5
II.2. EPIDEMIOLOGI .........................................................................6
II.3. ETIOLOGI ...................................................................................6
II.4. KLASIFIKASI .............................................................................6
II.4.1.

Fraktur Nasoorbitoethmoid (NOE) ....................................6

II.4.2.

Fraktur Zygomatikomaksila ...............................................8

II.4.3.

Fraktur Nasal ......................................................................9

II.4.4.

Fraktur Maksila dan LeFort ..............................................12

II.4.5 . Fraktur Mandibula ............................................................14
II.5. PENILAIAN ..............................................................................16
II.5.1.

Primary Survey .................................................................16

II.5.2.

Secondary Survey .............................................................16

a.

Inspeksi .............................................................................16

b.

Palpasi ..............................................................................17

c.

Menilai & mengevaluasi integritas saraf kranial I–VIII ..28

iv

........... Fraktur Komplek Nasal ....................................................................32 II..........33 II........41 v ..6.... Fraktur Mandibulla ........34 II....................................................3................................................................ Fraktur Nasal .....6... Fraktur Maksilla ..1.....6........................................4........6......................................38 BAB III KESIMPULAN .. TATALAKSANA ......................6....32 II......................29 II....................................................35 II..2..............6.... Pemeriksaan Radiologis ...........................5..........................................................................40 DAFTAR PUSTAKA.................d................... Fraktur Komplek Zigoma ..

Ada banyak faktor etiologi yang menyebabkan fraktur maksilofasial itu dapat terjadi. kecelakaan lalulintas merupakan penyebab utama terjadinya trauma. juga menunjukan bahwa diantara beberapa etiologi trauma maksilofacial. kecelakaan sewaktu berolahraga. bila pasien tidak mempunyai gigi pada alveolus atas (Sigh. kecelakaan akibat olah raga. Hal tersebut dapat menjadi acuan 1 . 2012). kecelakaan kerja .BAB I PENDAHULUAN I. seperti kecelakaan lalu lintas. kecelakaan akibat peperangan dan juga sebagai akibat dari tindakan kekerasan. yaitu sepertiga bawah atau mandibula.1. dan juga memakan. sepertiga atas yang dibentuk oleh tulang dahi. Tetapi penyebab terbanyak adalah kecelakaan lalu lintas (Banks. berbicara. kecelakaan sewaktu bekerja atau industri. 2012). 1992). diikuti dengan penyebab lainnya seperti trauma ketika bermain di taman. Fungsifungsi ini sangat terpengaruh pada cedera dan berakibat kepada kualitas hidup yang buruk (Singh. dan lain-lain. Daerah wajah memberikan perlindungan terhadap kepala dan memiliki peran penting dalam penampilan. Daerah maksilofasial berhubungan dengan sejumlah fungsi penting seperti penglihatan. pernafasan. Skeleton fasial secara kasar dapat dibagi menjadi 3 daerah. LATAR BELAKANG Cedera atau fraktur pada daerah wajah memiliki signifikansi yang tinggi karena berbagai alasan. dan sepertiga tengah daerah yang membentang dari tulang dahi menuju kepermukaan gigi geligi atas. Fraktur maksilofasial merupakan salah satu bagian dari bidang ilmu Bedah yang masih perlu mendapatkan perhatian khusus dalam jumlah kasus yang terjadi dan penanganan yang telah dilakukan. penciuman. Penilitian Rabi dan Khateery (2002).

2. MANFAAT Referat ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik bagi penulis maupun untuk para pembaca terutama para mahasiswa fakultas kedokteran agar dapat menambah wawasan dan lebih memahami hal-hal yang berkaitan dengan fraktur maksilofasial. 2 . TUJUAN Mendeteksi dan mendiagnosis dini fraktur maksilofasial. sehingga pengelolaan dapat dilakukan lebih awal dan terencana yang akhirnya angka kesakitan dan kematian. I.3.bagi dokter umum khususnya dalam bidang Bedah agar kedepannya dapat menentukan penatalaksanaan yang lebih baik pada kasus-kasus yang serupa. I.

Tulang – tulang pembentuk wajah atau viscerocranium terdiri atas tulang – tulang yang berbentuk tonjolan dan lengkungan yang sangat rentan untuk terhadap fraktur jika mendapat suatu trauma. 3 . Zygomatikum 6. Os. Parietale 2. Os. Tulang-tulang yang tebal berhubungan dengan tulang. Frontale 1. ANATOMI Secara umum tulang tengkorak / kraniofasial terbagi menjadi dua bagian yaitu Neurocranium adalah tulang-tulang yang membungkus otak dan Viscerocranium adalah tulang-tualang yang membentuk wajah / maksilofasial (James & Leslie. Os. Os. Os. Palatinum 3. Ethmoidalis 6. Nasale 4. Neuroccranium dibentuk oleh : Viscerocranium dibentuk oleh : 1. Os.sutura. Tulang – tulang tersebut dihubungkan oleh sutura – sutura yang juga dapat menjadi garis fraktur. Os. Os. Occipitalis 5. 2010).tulang berdinding tipis. Temporale 3. Os. Os. Sphenoidale 4. Vomer 8.1. Os. Mandibulare Neurocranium terdiri atas tulang-tulang pipih yang berhubungan satu dengan yang lain melalui sutura . Os. Os. Maksilare 2.BAB II FRAKTUR MAKSILOFASIAL II. Lacrimale 5. Concha nasalis inferior 7.

Buttress vertikal dan horizontal (Miloro. 2010) Tulang-tulang kraniofasial terdiri atas tulang yang memiliki ketebalan berbeda.Gambar 1. Tulang dengan struktur yang tebal disebut sebagai 'buttress' yang menopang/penyangga proporsi kraniofasial dalam ukuran tinggi. nasal dan orbital. tulang zigomatikomaksilaris pada lateral dan tulang pterygomaksilaris pada posterior. Tulang – tulang kraniofasial (James & Leslie. 2004) 4 . Ketiga buttress ini menghasilkan suatu sistem penyangga unit-unit fungsi pada oral. lebar dan proyeksi antero-posterior. (Miloro. Buttress pada maksila meliputi tulang nasomaksilaris pada medial. 2004) Gambar 2.

Dan Os Konka nasal (tulang karang hidung). dan rongga hidung (cavum nasi) dan rongga mata (orbita). terdiri dari dua buah tulang kiri dan kanan. 2002). Os Palatum atau tulang langitlangit. 2011). terdiri dari dua bagian yaitu bagian kiri dan kanan yang kemudian bersatu di pertengahan dagu. Fraktur maksilofasial adalah fraktur yang terjadi pada tulang-tulang wajah yaitu tulang frontal. II. letaknya di dalam rongga hidung dan bentuknya berlipat-lipat. Os Zigomaticum. terdiri atas Os Lacrimal (tulang mata) letaknya disebelah kiri/kanan pangkal hidung di sudut mata. 2000).2. 1. 2. Bagian Rahang. tulang pipi yang terdiri dari dua tulang kiri dan kanan. Septum nasi (sekat rongga hidung) adalah sambungan dari tulang tapis yang tegak (Boeis. maksila dan mandibula (Muchlis. Tengkorak wajah dibagi atas dua bagian: (Mansjoer.Maksilofasial tergabung dalam tulang wajah yang tersusun secara baik dalam membentuk wajah manusia. Dibagian depan dari mandibula terdapat processus coracoid tempat melekatnya otot (Boeis. 5 . Os Nasal (tulang hidung) yang membentuk batang hidung sebelah atas. DEFINISI Fraktur adalah hilang atau putusnya kontinuitas jaringan keras tubuh. terdiri atas Os Maksilaris (tulang rahang atas). Bagian Hidung. Didalam tulang wajah terdapat rongga-rongga yang membentuk rongga mulut (cavum oris). Os Mandibularis atau tulang rahang bawah. nasal. 2002). orbitozigomatikus. temporal.

4. Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab tertinggi dari fraktur maksilofasial.2. Di India.1% fraktur maksilofasial disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas dengan penyebab lain yaitu terjatuh dari ketinggian. KLASIFIKASI II.73% (Muchlis.9% di India. mengemudi mobil. 2011) II. Fraktur Nasoorbitoethmoid (NOE) Anatomi kompleks ini yang berliku-liku mengakibatkan fraktur NOE merupakan fraktur yang paling sulit untuk direkonstruksi. kejadian fraktur maksilofasial terus meningkat disebabkan terutama akibat peningkatan kecelakaan lalu lintas dan kekerasan. 2008.4.1. Hasil serupa juga didapatkan dari penelitian di Israel sebanyak 74.3% fraktur maksilofasial disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas (Guruprasad. Hubungan alkohol. tulang temporal. Penelitian lain di India menunjukkan bahwa 74.3. 2013). ETIOLOGI Dalam empat dekade terakhir. dan peningkatan kekerasan merupakan penyebab utama terjadinya fraktur maksilofasial (Ykeda. pasien fraktur maksilofasial dengan jenis kelamin pria mewakili 81. 2012). dan tulang nasal (Tollefson. dan Zargar. Kompleks NOE terdiri dari sinus frontalis. anterior cranial fossa. 2012). sinus ethmoid. Komponen utama dari NOE ini dikelilingi oleh tulang lakrimal di posterior. II. Kedua tungkai dari tendon ini mengelilingi fossa lakrimal. Yoffe. obat-obatan.II. EPIDEMIOLOGI Pasien pria merupakan pasien dengan fraktur maksilofasial tersering yaitu sebanyak 75. 2014. kekerasan. Di Indonesia. dan akibat senjata api (Singh. tulang nasal 6 .2% dan Iran dengan proporsi 4. Usia dekade ketiga mendominasi pasien dengan fraktur maksilokranial (Guruprasad. Medial canthal tendon (MCT) berpisah sebelum masuk ke dalam frontal process dari maksila. 2011). 97. 2004).5 banding 1 untuk pria. orbita.

c. rongga udara ethmoid di tengah. oleh tulang frontal di kranial. Fraktur tipe III merupakan fraktur yang paling jarang dan terjadi pada 1-5% dari seluruh kasus fraktur NOE (Nguyen. Fraktur NOE meliputi 5% dari keseluruhan fraktur maksilafasial pada orang dewasa. maksila di inferior.dan pyriform aperture di anterior. b. 2010) Gambar 1. Klasifikasi Markowitz-Manson terdiri dari tiga tipe yaitu (Aktop. Kebanyakan fraktur NOE merupakan fraktur tipe I. 2013) 7 . Klasifikasi Markowitz-Manson (Aktop. Tipe I MCT menempel pada sebuah fragmen sentral yang besar. Tipe II MCT menempel pada fragmen sentral yang telah pecah namun dapat diatasi atau MCT menempel pada fragmen yang cukup besar untuk memungkinkan osteosynthesis. 2010). 2013) a. Klasifikasi yang digunakan pada fraktur NOE adalah klasifikasi MarkowitzManson. Tipe III MCT menempel pada sentral fragmen yang pecah dan tidak dapat diatasi atau fragmen terlalu kecil untuk memungkinkan terjadinya osteosynthesis atau telah terlepas total. dan orbita di lateral (Nguyen.

2012) 8 . Klasifikasi Markowitz-Manson (Galloway. fungsi. Fraktur ZMC merupakan fraktur kedua tersering pada fraktur fasial setelah fraktur nasal (Meslemani. zygomaticosphenoid. dan zygomaticotemporal. 2013). Fraktur ZMC menunjukkan kerusakan tulang pada empat dinding penopang yaitu zygomaticomaxillary. dan oleh karena itu berpengaruh terhadap proses mengunyah (Tollefson.2.4. Zygoma merupakan letak dari otot maseter.Gambar 2. frontozygomatic (FZ). ZMC memberikan kontur pipi normal dan memisahkan isi orbita dari fossa temporal dan sinus maksilaris. Fraktur Zygomatikomaksila Zygomaticomaxillary complex (ZMC) memainkan peran penting pada struktur.2012) II. dan estetika penampilan dari wajah.

Klasifikasi tersebut dibagi menjadi enam yaitu (Dadas. Kelompok 1 Fraktur tanpa pergeseran signifikan yang dibuktikan secara klinis dan radiologi. Kelompok 2 Fraktur yang hanya melibatkan arkus yang disebabkan oleh gaya langsung yang menekuk malar eminence ke dalam c. b. Kelompok 5 Fraktur yang berotasi ke lateral f. 2007): a. Fraktur tulang nasal telah meningkat baik dalam prevalensi maupun keparahan akibat peningkatan 9 . Kelompok 3 Fraktur yang tidak berotasi d.4. Klasifikasi ini turut mencakup tentang penanganan terhadap fraktur ZMC. Fraktur Nasal Tulang nasal merupakan tulang yang kecil dan tipis dan merupakan lokasi fraktur tulang wajah yang paling sering. Fraktur Zygomatikomaksila II. Kelompok 6 Fraktur kompleks yaitu adanya garis fraktur tambahan sepanjang fragmen utama Gambar 3.Klasifikasi pada fraktur ZMC yang sering digunakan adalah klasifikasi Knight dan North.3. Kelompok 4 Fraktur yang berotasi ke medial e.

2013). 2013). 2009): a. fraktur tulang nasal Tipe I b. Klasifikasi fraktur tulang nasal terbagi menjadi lima yaitu (Ondik.trauma dan kecelakaan lalu lintas (Baek.3% dari seluruh fraktur fasial (Haraldson. fraktur tulang nasal Tipe II c. Tipe II Fraktur unilateral atau bilateral dengan deviasi garis tengah Gambar 5. Fraktur tulang nasal mencakup 51. Tipe III Pecahnya tulang nasal bilateral dan septum yang bengkok dengan penopang septal yang utuh 10 . Tipe I Fraktur unilateral ataupun bilateral tanpa adanya deviasi garis tengah Gambar 4.

Gambar 6 fraktur tulang nasal Tipe III d. dan robeknya jaringan. cedera terbuka. 11 . saddling dari hidung. fraktur tulang nasal Tipe IV e. Gambar 7. sekunder terhadap fraktur septum berat atau dislokasi septum. Tipe IV Fraktur unilateral atau bilateral dengan deviasi berat atau rusaknya garis tengah hidung. Tipe V Cedera berat meliputi laserasi dan trauma dari jaringan lunak.

II. Seluruh arkus dental maksila dapat bergerak atau teriris. 2013).4.4. yaitu Bentuk depresi / depressed. Fraktur pada tulang-tulang ini memiliki potensi yang mengancam nyawa (Moe. Hematoma pada vestibulum atas (Guerin’s sign) dan epistaksis dapat timbul 12 .Gambar 8. dan orbita dan sejumlah struktur yang terkandung di dalamnya dan melekat dengan maksila merupakan struktur yang penting baik secara fungsional maupun kosmetik. Fraktur Maksila dan LeFort Maksila mewakili jembatan antara basal kranial di superior dan lempeng oklusal gigi di inferior. Klasifikasi fraktur maksila yang paling utama dilakukan oleh Rene Le Fort pada tahun 1901 di Prancis. Hubungan yang erat dengan rongga mulut. fraktur tulang nasal Tipe V Fraktur nasal secara klinis terbagi 3 jenis. 2013): a. Angulasi ke lateral dan Kuminutif. Le Fort I Garis fraktur horizontal memisahkan bagian bawah dari maksila. rongga hidung. Klasifikasi Le Fort terbagi menjadi tiga yaitu (Aktop. lempeng horizontal dari tulang palatum. dan sepertiga inferior dari sphenoid pterygoid processes dari dua pertiga superior dari wajah. Fraktura nasal terbanyak pada fraktura tulang wajah (37% dari 1031 kasus) .

b. dinding lateral orbita. Yang pertama adalah trauma tumpul yang terbatas dan sangat terfokus yang menghasilkan segmen fraktur yang kecil dan terisolasi. wajah terpisah sepanjang basal tengkorak akibat gaya yang langsung pada level orbita. Garis fraktur kemudian memanjang melalui sutura zygomaticotemporal dan ke inferior melalui sutura sphenoid dan pterygomaxillary. dinding anterior sinus maksila dan nasomaxillary junction merupakan lokasi yang umum pada cedera ini. Fraktur kemudian berlanjut sepanjang sutura zygomaticomaxillary melalui lempeng pterygoid c. Le Fort II Fraktur dimulai inferior ke sutura nasofrontal dan memanjang melalui tulang nasal dan sepanjang maksila menuju sutura zygomaticomaxillary. melalui sutura frontozygomatic. Le Fort III Pada fraktur Le Fort III. Sering kali. Gambar 9. Yang kedua adalah gaya dari submental yang diarahkan langsung ke superior dapat mengakibatkan beberapa fraktur vertikal melalui beberapa tulang 13 . Alveolar ridge. termasuk sepertiga inferomedial dari orbita. sebuah palu atau instrumen lain sebagai senjata penyebab. Garis fraktur berjalan dari regio nasofrontal sepanjang orbita medial melalui fissura orbita superior dan inferior. Klasifikasi LeFort Dua tipe fraktur maksila non-Le Fort lain relatif umum.

Fraktur mandibula dapat mengakibatkan berbagai variasi dari gangguan jangka pendek maupun panjang yaitu nyeri TMJ. dan subkondilar (Stewart. infraorbital rim. terdapat gigi-geligi bagian bawah dan pembuluh darah. Mandibula terhubung dengan kranium pada persendian temporomandibular (TMJ).pendukung horizontal seperti alveolar ridge. angle. otot. Fraktur mandibula diklasifikasikan sesuai dengan lokasinya dan terdiri dari simfisis. 2008). kondilar. Mandibula merupakan dua buah tulang yang menyatu menjadi satu pada simfisis (Stewart. 2013) II. ramus. gangguan salivasi. 2008). gangguan mengatupkan gigi.5 . Lokasi Fraktur Mandibula 14 . Gambar 10. dan nyeri kronis. Fungsi yang baik dari mandibula menentukan gerakan menutup dari gigi. ketidakmampuan mengunyah. badan.4. serta persarafan. Pada mandibula. dan zygomatic arches (Moe. Fraktur Mandibula Mandibula mengelilingi lidah dan merupakan satu-satunya tulang kranial yang bergerak.

b.Gambar 11. Klasifikasi III . Simple. Klasifikasi I Garis fraktur berada diantara dua fragmen yang bergigi. 2008) Klasifikasi Fraktur Mandibula : a. A. C. B. Klasifikasi II Salah satu fragmen tidak bergigi c. Kedua fragmen tidak bergigi ( Edentolous) Gambar 12. Kompon (Hupp. Komminuted. D. Greenstick. Klasifikasi fraktur mandibula berdasarkan tipe frakturnya. Klasifikasi Fraktur Mandibula : 15 .

Oleh sebab itu tatalaksananya akan dibahas satu per satu pada masing-masing fraktur maksilofasial. PENILAIAN II. maka hal yang harus dilakukan adalah hentikanlah dulu perdarahannya. Perhatikan ekspresi wajah untuk rasa nyeri. serta rasa cemas. Bila pasien mengeluh nyeri maka dapat diberi analgetik untuk membantu menghilangkan rasa nyeri. Cedera kelopak mata. memar. 10. Defisit pendengaran. Battle's sign. epistaksis 9. Tetapi sebelum tatalaksana defenitif dilakukan. Apabila terdapat perdarahan aktif pada pasien. 7. Adanya Maloklusi / trismus. 8.5.1. 4. Deformitas. Secondary Survey a. abrasi. Exposure). laserasi.2.5. Telecanthus. Raccoon's sign. Disability. 5. II. 2011). pertumbuhan gigi yang abnormal. Setelah penanganan kegawatdaruratan tersebut dilaksanakan. apakah terdapat : 1. 2. 3. Primary Survey Tatalaksana pada masing-masing fraktur maksilofasial itu berbeda satu sama lain. Breathing. 16 . luka tembus. Ecchymosis. Inspeksi Secara sistematis bergerak dari atas ke bawah. Circulation.II. maka hal yang pertama sekali dilakukan adalah penanganan kegawatdaruratan yakni berupa pertolongan pertama (bantuan hidup dasar) yang dikenal dengan singkatan ABCDE (Airway. Asimetris atau tidak. maka tatalaksana defenitif dapat dilakukan (Budiharja. Otorrhea / Rhinorrhea 6.5. edema.

terutama di daerah pinggiran supraorbital dan infraorbital. Maxilla. Urutan pemeriksaan : Supra dan lateral orbital. Palpasi untuk cedera tulang. Periksa mata untuk memastikan adanya exophthalmos atau endophthalmos. baik langsung dan konsensual. Periksa gigi untuk mobilitas. lengkungan zygomatic dan pada artikulasi zygoma dengan tulang frontal. Periksa kepala dan wajah untuk melihat adanya lecet. Nasal (bone). Mandibulla. 4. fraktur. batu kerikil. krepitasi dan mati rasa. menonjol lemak dari kelopak mata. bentuk. mengesampingkan adanya aspirasi. ketajaman visual. jarak interpupillary dan ukuran pupil. bengkak. atau maloklusi. luka. kelainan gerakan okular. ecchymosis. Balikkan kelopak mata dan periksa benda asing atau adanya laserasi 17 . dan reaksi terhadap cahaya. Infra orbital rim. Racoon’s Eyes Gambar 14. Tonjolan malar (zygoma). Perhatikan sindrom fisura orbital superior. Jika gigi avulsi. Periksa luka terbuka untuk memastikan adanya benda asing seperti pasir. Arcus zygamoticus. Palpasi Bimanual dengan gerakan. 5. 2. tulang frontal. temporal dan rahang atas.Gambar 13. ophthalmoplegia. 1. dan perdarahan. Battle sign b. 3. 6. jaringan hilang. ptosis dan proptosis.

8.7. Memeriksa ruang anterior untuk mendeteksi adanya perdarahan. seperti hyphema. Palpasi daerah orbital 18 . Kelembutan mungkin menandakan kerusakan pada kompleks nasoethmoidal. Gambar 15. Palpasi daerah orbital medial.

oculi inf. Ini disebut Blow out fracture. Pemeriksaan Zygoma Fraktur Zygoma  Pasien mungkin mengeluhkan rasa sakit di pipi atas pergerakan rahang. M. Gambar 17.A B C Gambar 16.  Parestesi pada lateral hidung dan bibir bagian atas disebakan kelainan pada nervus infraorbital. Diplopia : terjadi akibat adanya fraktur pada dasar orbita shg terjadi “lubang”. 19 . terjebak pd. kehilangan kontur pipi kiri. lubang ini.  Pendarahan subkonjungtiva juga bisa ditemukan. Palpasi eksternal zygoma (B) dan pada vesibula maksila (C) untuk memeriksa ireguleritas osseus.obliq. (A) Pasien dengan depresi fraktur ZMC.rectus oculi inferior. m.  diplopia jika melirik mata ke atas karena keruskan pada muskulus rektus inferior.  tulang pipi yang datar dan nyeri saat palpasi.

bius dan tekan intranasal terhadap lengkung orbital medial. Diplopia diperiksa dgn menggerakkan bola mata keatas/bawah/kiri/kanan  Trismus bisa terjadi tetapi tidak sering akibat daripada kelainan di mandibula. Periksa hidung untuk telecanthus (pelebaran sisi tengah hidung) atau dislokasi. epistaksis dan rhinorrhea cairan cerebrospinal. bisa dicurigai gangguan dari canthus medial. berarti adanya kompleks nasoethmoidal yang retak. 9. Lakukan tes traksi. 12. fraktur atau dislokasi. Jika tulang bergerak. 10.pada zygomaticofrontal .  Ekimosis intraoral atau destruksi pada gusi. Pegang tepi kelopak mata bawah dan tarik terhadap bagian medialnya. Jika "tarikan" tendon terjadi. massa menonjol kebiruan. Periksa septum hidung untuk hematoma. 20 . laserasi pelebaran mukosa.pada rim orbita inferior . Secara bersamaan tekan canthus medial. 11. Lakukan tes palpasi bimanual hidung. Palpasi untuk kelembutan dan krepitasi.  Fraktura zygoma yg ringan.  Bila terjadi depresi zygoma biasanya terjadi fraktur pada 3 tempat : .pd junction antara arcus zygoma dan os.tidak diplaced tidak memerlukan tindakan.temporal.

Pemeriksaan Nasal Gambar 21. Fraktur Nasal disertai Epistaksis Gambar 19.Gambar 18. Pemeriksaan Nasal 21 . Pasien dengan fraktur NOE. terdapat peingkatan jarak interkantal A B C Gambar 20.

 Fraktur NOE dicurigai jika pasien memiliki bukti patah hidung dengan telecanthus. perforasi atau ecchymosis daerah mastoid (Battle sign). Gerakan di sisi hidung menunjukkan fraktur Le Fort II atau III. Pasien mungkin mengalami epistaksis. 15. 17. namun tidak harus selalu bercampur dengan CSF. dan epistaksis atau rhinorrhea CSF. integritas membran timpani. pelebaran jembatan hidung dengan canthus medial terpisah. Lakukan tes gigit pisau. 14. kebocoran cairan serebrospinal. hemotympanum. Tempatkan satu tangan pada gigi anterior rahang atas dan yang lainnya di sisi tengah hidung. atau adanya krepitasi. Memanipulasi setiap gigi individu untuk bergerak. Secara bimanual meraba mandibula dan memeriksa tanda-tanda krepitasi atau mobilitas. Gerakan hanya gigi menunjukkan fraktur le fort I. ecchymosis atau bengkak. Jika rahang retak pasien tidak dapat melakukan ini dan akan mengalami rasa sakit. ginggiva dan pendarahan intraoral. Periksa lidah dan mencari luka intraoral. 22 . air mata. 16.Fraktur Nasal  Patah tulang hidung didiagnosis oleh riwayat trauma dengan bengkak. Periksa untuk laserasi liang telinga. Minta pasien untuk menggigit keras pada pisau. 18.  Fraktur nasal sering menyebabkan deformitas septum nasal karena adanya pergeseran septum dan fraktur septum. kelainan bentuk atau ecchymosis. 13. dan krepitus pada jembatan hidung. rasa sakit. Meraba seluruh bagian mandibula dan sendi temporomandibular untuk memeriksa nyeri.

Rasa sakit atau kurang gerak kondilus menunjukkan fraktur. Pemeriksaan Zygoma. Maxilla 19. Periksa paresthesia atau anestesi saraf. 20.Gambar 22. 23 . Palpasi kondilus mandibula dengan menempatkan satu jari di saluran telinga eksternal sementara pasien membuka dan menutup mulut. Dental.

 Hal ini dievaluasi dengan memegang gigi seri dan palatum durum dan mendorong masuk dan keluar secara lembut. Pemeriksaan wajah bawah Fraktur Le Fort I  Fraktur ini menyebabkan rahang atas mengalami pergerakan yang disebut floating jaw.  Edema pada wajah  hipoestesia nervus infraorbital kemungkinan terjadi akibat dari adanya edema.Gambar 23.  Pergerakan palatum durum dan gigi bagian atas. 24 .

yang terlihat seperti racoon sign. Karena sangat mudah digerakkan maka disebut juga fraktur ini sebagai “floating maxilla (maksila yang melayang) ”. 25 . disertai juga dengan ekimosis.  edema di kedua periorbital. Pemeriksaan wajah tengah Fraktur Le Fort II  Edema pada wajah.  Fraktur pada lamina kribriformis dan atap sel sel etmoid dapat merusak sistem lakrimalis. dapat terjadi karena trauma langsung atau karena laju perkembangan dari edema.  Perdarahan subkonjungtiva dan hipoesthesia di nervus infraorbital.  Maloklusi  Pada fraktur ini kemungkinan terjadinya deformitas pada saat palpasi di area infraorbital dan sutura nasofrontal.Gambar 24.  Keluarnya cairan cerebrospinal dan epistaksis juga dapat ditemukan pada kasus ini.

Pemeriksaan Dental.  Komplikasi yang mungkin terjadi pada fraktur ini yaitu keluarnya cairan otak melalui atap ethmoid dan lamina cribiformis. Mandibula 26 . palatum durum. keluar cairan serebrospinal pada hidung.  ekimosis periorbital.Gambar 25.  remuknya wajah serta adanya mobilitas tulang zygomatikomaksila.  epistaksis. Gambar 26.  pergerakan gigi. Pemeriksaan wajah atas Fraktur Le Fort III  Edema wajah yang masif.

sublingual bengkak. Pemeriksaan Mandibula Gambar 28. robek  Jar.Sakit pada gerakan rahang.clicking noise  Pd subluksasi : Gerakan sangat terbatas Pd dislokasi :Rahang terbuka & terkunci 27 .Gambar 27.  Masalah pada TMJ : Trismus. Palpasi bimanual Mandibula Fraktur Mandibula Gejala :  Maloklusi : sering lateral cross bite  Deviasi gigi kearah lingual  Deformitas : Arcus collaps  Fragmen fraktur mobil  Jaringan gusi .

b) Area zygomatic. menaikkan alis. menarik leher (saraf otot platysma. N. mengerutkan bibir. N. memejamkan mata sampai tertutup rapat. N. bentuk. dahi dikerutkan. N. Menilai dan mengevaluasi integritas saraf kranial II – VIII 1. bibir atas dan dagu di garis tengah. refleks cahaya. ptosis. Jenis Oklusi Mandibula c. Trochlear (IV). e) Area cervical. bidang visual. Facial (VII) a) Area temporal. N.Gambar 29. keseimbangan. ketajaman Visual. Abducens (VI). 4. occulomotorius (III). Opticus (II). mengerutkan hidung. c) Area buccal. 3. Occulomotorius (III). merapatkan gigi dan rahang lalu bergerak ke lateral. ukuran pupil. diplopia. N. namun fungsi ini tidak terlalu penting peranannya dalam kehidupan sehari-hari). reflek motorik tungkai. reflek cahaya langsung dan tak langsung. Trigeminal (V) a) Tes sensorik. "membusungkan" pipi. 5. d) Area marjinal mandibula. 28 . sentuh di dahi. Bandingkan satu sisi ke sisi lain untuk membuktikan adanya defisit sensorik. b) Tes motorik. 2. N.

Occipito Mental Projection 5. Diantara pemeriksaan CT scan. keseimbangan. Kenampakan tersebut diantaranya. Pemeriksaan Radiologis Pemeriksaan radiologi digunakan untuk menunjang diagnosa. d. akan terdengar lebih keras pada sisi yang terkena. Untuk menegakkan diagnosa yang tepat sebaiknya digunakan beberapa posisi pengambilan foto. Zygomaticus 6. opasitas pada sinus maksila. maka ada beberapa kenampakan yang mungkin akan kita dapat dari foto polos. submentovertex. Dari film lateral dapat terlihat fraktur pada lempeng pterigoid. dan daerah nasofrontal. foto yang paling baik untuk menilai fraktur maksila adalah dari potongan aksial. Vestibulocochlearis (VIII). Occlusal view dari maxilla 8. caldwell. N.6. Panoramic 7. Waters position 3. Pemeriksaan Ro Foto untuk fraktur maksilofasial antara lain : 1. gosok jari atau berbisik di samping setiap telinga pasien. Intra oral dental Pemeriksaan radiologi dapat berupa foto polos. Jika terjadi gangguan konduktif. Lateral position 4. sutura zygomaticofrontal. PA position 2. pemisahan pada rima orbita inferior. waters. Teknik yang dipakai pada foto polos diantaranya. Jika terjadi fraktur maksila. dan lateral view. Adanya cairan pada sinus maksila bilateral menimbulkan kecurigaan adanya fraktur maksila. 29 . pendengaran. namun CT scan merupakan pilihan untuk pemeriksaan diagnostik. karena tulang muka kedudukannya sedemikian rupa sehingga tidak memungkinkan kita untuk melihatnya dari satu posisi saja. Namun potongan koronal pun dapat digunakan untuk mengamati fraktur maksila dengan cukup baik.

Perlu dilakukan foto CT scan aksial untuk mengkonfirmasi diagnosis dengan mengamati adanya fraktur pada zygomatic arch dan buttress pterigomaksilari. Untuk memudahkan tugas dalam mengklasifikasikan fraktur maksila. prosesus pterigoid haruslah mengalami disrupsi. untuk mengklasifikasikan fraktur tipe Le Fort. Gambar 7. perhatikan tiga struktur tulang yang unik untuk masing-masing tipe yaitu. Fraktur pada prosesus pterigoid hampir selalu mengindikasikan bahwa fraktur maksila tersebut merupakan salah satu dari tiga fraktur Le Fort. Dimana terjadi fraktur pada buttress maksilari medial dan lateral di superior maupun inferior (perpotongan antara panah hitam dan putih). selalu memperhatikan prosesus pterigoid terutama pada foto CT scan potongan koronal. CT Scan Koronal Banyaknya komponen tulang yang terlibat dalam fraktur maksila.Dibawah ini merupakan foto CT scan koronal yang menunjukkan fraktur Le Fort I. Kedua. terdapat tiga langkah yang bisa diterapkan.II. dan III bilateral. Untuk terjadinya fraktur Le Fort. margin anterolateral nasal fossa untuk 30 . membuat klasifikasi ini cukup sulit untuk diterapkan. Pertama.

Jika salah satu dari tulang ini masih utuh. dan zygomatic arch untuk Le Fort III. maka selanjutnya lakukan konfirmasi dengan cara mengidentifikasi fraktur-fraktur komponen tulang lainnya yang seharusnya juga terjadi pada tipe itu. rima orbita inferior untuk Le Fort II. jika salah satu tipe fraktur sudah dicurigai akibat patahnya komponen unik tipe tersebut. dapat dieksklusi. Ketiga. Gambar 30. maka tipe Le Fort dimana fraktur pada tulang tersebut merupakan ciri khasnya. Pasien menunjukkan deviasi mandibula ke kanan saat membuka mulut (A) pasien ini memiliki fraktur condilar yang terlihat pada pencitraan panoramik (B) 31 .Le Fort I.

32 . TATALAKSANA Tatalaksana pada masing-masing fraktur maksilofasial itu berbeda satu sama lain. Breathing. kateterisasi balon.6. maka hal yang pertama sekali dilakukan adalah penanganan kegawatdaruratan yakni berupa pertolongan pertama (bantuan hidup dasar) yang dikenal dengan singkatan ABC (Airway. penanganan bedah tidak dibutuhkan karena akan sembuh dengan spontan. pasien harus diberi es pada hidungnya  Antibiotik diberikan untuk mengurangi resiko infeksi. atau prosedur lain dibutuhkan tetapi ligasi pembuluh darah jarang dilakukan. maka tatalaksana defenitif dapat dilakukan (Budiharja. Tetapi sebelum tatalaksana defenitif dilakukan.  Jika tidak berhasil bebat kasa tipis.  Pada kasus akut. komplikasi dan kematian. 2011).6. b. Oleh sebab itu tatalaksananya akan dibahas satu per satu pada masing-masing fraktur maksilofasial. Operatif  Untuk fraktur nasal yang tidak disertai dengan perpindahan fragmen tulang. Biasanya diletakkan dihidung selama 25 hari sampai perdarahan berhenti. Apabila terdapat perdarahan aktif pada pasien. dikontrol dengan vasokonstriktor topikal.  Bebat kasa tipis merupakan prosedur untuk mengontrol perdarahan setelah vasokonstriktor topikal. Konservatif  Pasien dengan perdarahan hebat.1. maka hal yang harus dilakukan adalah hentikanlah dulu perdarahannya. Circulation).II. Fraktur Nasal a. II. Bila pasien mengeluh nyeri maka dapat diberi analgetik untuk membantu menghilangkan rasa nyeri.  Analgetik berperan simptomatis untuk mengurangi nyeri dan memberikan rasa nyaman pada pasien. Setelah penanganan kegawatdaruratan tersebut dilaksanakan.

Splint Nasal II. ada dua cara perawatan yang dilakukan yakni reduksi dan fiksasi. Deformitas akibat fraktur nasal sering dijumpai dan membutuhkan reduksi dengan fiksasi adekuat untuk memperbaiki posisi hidung. Fraktur Komplek Nasal Pada fraktur komplek nasal. Tatalaksana Fraktur Nasal Gambar 32. Fraktur kompleks hidung dapat direduksi dibawah 33 .2. Gambar 31.6.

2011): a. Fraktur Komplek Zigoma Perbaikan fraktur komplek zigoma sering dilakukan secara elektif. Fiksasi tidak perlu dilakukan karena fasia temporalis yang melekat sepanjang bagian atas lengkung akan melakukan imobilisasi fragmen-fragmen secara efektif. 34 . cedera pada cabang frontal dari syaraf wajah harus dihindari.6.3. Menempatkan elevator di bawah fasia mendekati lengkungan dari aspek dalam yakni dengan menggeser elevator di bidang dalam untuk fasia. Adapun langkah-langkah teknik Gillies yang meliputi (Budiharja. c. Kadang-kadang bila fraktur tidak begitu parah maka pemasangan splin setelah reduksi tidak perlu (Budiharja. tetapi anestesia umum dengan pipa endotrakeal lewat mulut yang memadai lebih diminati karena mungkin terjadi perdarahan banyak. 4. Berdasarkan klasifikasi Knight dan North. dan 6 membutuhkan fiksasi untuk reduksi yang adekuat (Meslemani. Membuat sayatan dibelakang garis rambut temporal b. 2012). Bila hanya arkus zigoma saja yang terkena fraktur. fragmen-fragmen harus direduksi melalui suatu pendekatan memnurut Gillies. sementara fraktur kelompok 3. II.analgesia lokal. fraktur ZMC kelompok 2 dan 5 hanya membutuhkan reduksi tertutup tanpa fiksasi. Fraktur arkus yang terisolasi bisa diangkat melalui pendekatan Gillies klasik. Sehingga arkus dapat kembali ke posisi anatomis yang lebih normal. Mengidentifikasi fasia temporalis. 2011).

dan suspensi kraniomandibular yang didapatkan dari pengawatan sirkumzigomatik. Hanya perbedaannya adalah perlu dilakukan perawatan fraktur nasal dan dasar orbita juga. atau secara tidak langsung dengan menggunakan tekanan pada splint/arch bar. II.4. Insisi temporal melalui fasia subkutan dan fasia superfisial dibawah fasia temporal bagian dalam. Fraktur Maksilla Pada fraktur Le Fort I dirawat dengan menggunakan arch bar.Gambar 33. Reduksi fraktur dengan elevator. Apabila segmen fraktur mengalami impaksi. 35 . fiksasi maksilomandibular. maka dilakukan pengungkitan dengan menggunakan tang pengungkit. pada fraktur Le Fort III dirawat dengan menggunakan arch bar. Sedangkan perawatan pada fraktur Le Fort II serupa dengan fraktur Le Fort I. atau pemasangan pelat pada sutura zigomatikofrontalis dan suspensi kraniomandibular pada prosessus zigomatikus ossis frontalis. pengawatan langsung bilateral.6. B. Fraktur nasal biasanya direduksi dengan menggunakan molding digital dan splinting Selanjutnya. fiksasi maksilomandibular. A. Pendekatan Gillies untuk mengurangi fraktur arkus zigomatikus.

Pengungkitan Gambar 36. Pemasangan Arch Bars Gambar 35.Gambar 34. Fikasasi maksilomandibular 36 .

Pemasangan Plat medial 37 . Reduksi Maksilla : memastikan kondilus terletak pada fossa glenoid (1) kompleks maksilomandibular dirotasi superior secara maksimum yaitu sampai terdapat kontak antar tulang pada fraktur (2) Gambar 38. Pemasangan Plat Lateral Gambar 39.Gambar 37.

Pada teknik tertutup. Fraktur Mandibulla Ada dua cara penatalaksanaan fraktur mandibula. Fiksasi interna Le Fort III II.6. Fikasasi maksilomandibular dilepas & pemeriksaan oklusi Gambar 41.5. reduksi fraktur dan imobilisasi mandibula dicapai dengan jalan menempatkan peralatan fiksasi maksilomandibular Pada prosedur terbuka . bagian yang 38 . yakni cara tertutup / konservatif dan terbuka / pembedahan.Gambar 40.

Fiksasi Mandibula 39 . tetapi juga dapat dikombinasikan.fraktur dibuka dengan pembedahan dan segmen direduksi dan difiksasi secara langsung dengan menggunakan kawat atau plat. Gambar 42. Terkadang teknik terbuka dan tertutup ini tidaklah selalu dilakukan tersendiri.

5 dan 6. Penilaian primer terdiri atas ABCDE (Airway. Disability. 11. Nasal (bone). 9. evaluasi integritas saraf kranial II – VIII dan pemeriksaan penunjang. 40 . Pada dasarnya tatalaksana fraktur maksilofasialis adalah reduksi-fiksasi yang disesuaikan dengan lokasi fraktur. II. orbitozigomatikus. temporal. yaitu Supra dan lateral orbital. Circulation. Infra orbital rim.BAB III KESIMPULAN 1. 8. maksila dan mandibula 2. Arcus zygamoticus. Fraktur maksilofasial adalah fraktur yang terjadi pada tulang-tulang wajah yaitu tulang frontal. 4. 10.II.dan III. Breathing. dan III 7. II.4.III. Pemeriksaan peunjang yang dilakukan berupa foto polos. palpasi. 3. Pada penilaian sekunder dilakukan inspeksi. Fraktur Mandibula terdiri atas klasifikasi I.IV. Penilaian fraktur terdiri atas primer dan sekunder. nasal.3. Fraktur Maksilla terdiri atas Le Fort I. Fraktur Zygomatikomaksila terdiri atas kelompok 1. Fraktur Nasoorbitoethmoid (NOE) terdiri atas tipe I. Mandibulla. Penilaian sekunder dilakukan berdasarkan urutan dari atas ke bawah.2. namun CT scan merupakan pilihan untuk pemeriksaan diagnostik 12.II dan III 6. dan V 5. Exposure). Tonjolan malar (zygoma). Maxilla. Fraktur Nasal terdiri atas tipe I.

Ke-5. et al. Boies adam.Setiowulan.2002. Tucker MR. Ed. 2013. Rahmat M.Wardhani WI. St. Mansjoer A Suprohaita.. A Textbook of Advanced Oral and Maxillofacial Surgery Baek. Y. Mosby Elsevier. 2011: p. St. ed 4. Buku Ajar Penyakit THT: Edisi 6. Trauma oral dan maksilofasial.33-171. Galloway. Available From: http://emedicine.. Ellis E. 2014.. Identification of Nasal Bone Fractures on Conventional Radiography and Facial CT: Comparison of the Diagnostic Accuracy in Different Imaging Modalities and Analysis of Interobserver Reliability. University of Missouri. Lippincott Williams & Wilkins. Juwono L: Editor.. 2008.J. Oral and Maxillofacial Surgery Volume II. 2010.medscape. Ed. Management of Midfacial Fractures. 2000. Midface Trauma. 2012.DAFTAR PUSTAKA Aktop. S. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. Guruprasad. 4th Edition. Hupp JR. 41 .. 2013. Jakarta: EGC. S. et al. 1992.. Banks P : Fraktur sepertiga tengah skeleton fasial. Braun TW. Ke-2. Journal of National Science Biology and Medicine 5: 47-51 Haraldson. Bangalore. An Assessment of Etiological Spectrum and Injury Characteristics among Maxillofacial Trauma Patients of Government Dental College and Research Institute. 2013. Textbook of Head and Neck Anatomy.. Jakarta: EGC. Nasal Fracture.J. T. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Iran Journal of Radiology 10: 140-147. Gajah Mada University Press Budiharja AS. Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Saunders Elsevier. Louis. Carlson ER. 2009. Louis.& Gartner Leslie P. et al. Marciani RD. H. terjemahan.com/article/84829-overview [Accessed on 26 March 2015] Hiatt James L.

. Archives of Facial Plastic Surgery 14: 62-66 Michael Miloro. Available From: http://emedicine.com/article/1283568- treatment#a1133 [Accessed on 26 March 2015] Muchlis. Hollier.G. Khateery SM. Maxillofacial Trauma in Al Madina Region of Saudi Arabia: A 5-Year Retrospective Study. Koshy. Peterson’s Principles of Oral and Maxillofacial Surgery. The Maxillofacial Injuries. Steward C. R. Gambaran Fraktur Maksilofasial akibat Kecelakaan Lalu Lintas pada Pengendara Sepeda Motor. Departments of Oral and Maxillofacial Surgery. Emergency Medicine Practice.A. Universitas Sumatera Utara Nguyen.medscape. An EvidenceBased approach to Emergency Medicine.com/article/869330-overview [Accessed on 26 March 2015] Ykeda. D.. Lucknow. Pearls of Nasoorbitoethmoid Trauma Management. 2004... Fiechtl JF.medscape.C.Meslemani. 2008. 2012. Moe KS. BC Decker Inc. Epidemiological Profile of 277 Patients with Facial Fractures Treated at the Emergency Room at the EN Department of Hospital do Trabalhador in Curitiba/PR in 2010. dan R. 2011. Singh V. Volume 10. 2013.. K. T. India.T. et al.2. Kellman. Maksilofacial Trauma. Hamilton. J.H. 2012. Num. Wolf SJ. National Journal of Maxillofacial Surgery Vol 3.14:10-14. et al. dan L. Tollefson..: Challenges in ED Diagnosis and Management. J Oral Maxillofac Surg. 2002. Zygomaticomaxillary Complex Fractures. Medical University. Available From: http://emedicine. Seminar in Plastic Surgery 24: 383-388 Rabi AG.. International Archives of Otorhinolaryngology 16 42 . M.M.B. 2012. 2013. Maxillary and Le Fort Fractures Treatment & Management. Nasoorbitoethmoid Fractures. London. 2010. Anaesthesia.

Epidemiology Study of Facial Injuries during a 13 Month of Trauma Registry in Tehran. Motozawa Y. 2004. et al. Zargar.. Etiology of Maxillofacial Trauma: A 10 Year Survey at the Chaim Sheba Medical Center. T.. 64:1731-1735. et al... Harefuah 147: 192-196 Yokoyoma T. J Oral Maxillofac Surg. Hitosugi M. M. Tel-Hashomer. Sasaki T. A Retrospective Análisis of Oral and Maxillofacial Injuries in Motor Vehicle Accidents. 2008. 2006.Yoffe. Indian Journal of Medical Sciences 58: 109-114 43 .