You are on page 1of 31

LAPORAN AWAL

PRAKTIKUM METODE PEMISAHAN
PEMISAHAN DAN IDENTIFIKASI CURCUMIN

KELOMPOK I
GOLONGAN II
I PUTU WIJAYA KUSUMA

1308505039

I PUTU SURYA TRISNA LOVA

1308505041

I GST. AGUNG GEDE MINANJAYA

1308505043

DYAH ARYANI SARTIKA

1308505044

VEVY AURYN SETIAWAN

1308505045

I MADE ARYA WIRA GUNA

1308505046

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2014
I. TUJUAN
0

Mahasiswa mampu menerapkan prinsip maserasi dan kromatografi kolom.
II. DASAR TEORI
2.1.
Curcumae domesticate Rhizoma
Klasifikasi tanaman kunyit (Curcuma domestica) yaitu:
Kingdom
Divisi
Sub-divisi
Kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies

: Plantae
: Spermatophyta
: Angiospermae
: Monocotyledoneae
: Zingiberales
: Zingiberaceae
: Curcuma
: Curcuma domestica VALET

(Rukmana, 2008).

Rimpang kunyit mengandung senyawa bioaktif yang berkhasiat sebagai obat
yakni senyawa kurkuminoid yang terdiri atas tiga senyawa, yaitu kurkumin,
demetoksikurkumin dan bisdemetoksikurkumin (Oomah, 2000). Kurkumin pada
kondisi asam berwarna kuning menyala dan pada kondisi basa berwarna merah
kecoklat-coklatan. Perbedaan warna ini disebabkan kurkumin mengalami ketoenol tautomerism (Edwards, 2000). Kurkumin merupakan senyawa hidrofob
polifenol dengan sifat sangat tidak larut dalam air, larut dalam methanol, sangat
mudah larut dalam etanol, dimetil sulfoksida, aseton dan kloroform (Edwards,
2000).

Gambar 1 Struktur kimia kurkumin (C21H20O6) (Peret et al, 2005).
Kurkumin merupakan senyawa berbentuk serbuk kristal berwarna kuning
kemerahan dengan titik leleh 183oC, titik didih 176-177oC serta BM 368,37
(Saputra dan Ningrum, 2010). Kurkumin tidak stabil terhadap paparan cahaya
kecuali jika dalam medium yang cukup berembun (Edwards, 2000).
2.2.

Maserasi
Maserasi merupakan cara penyarian yang paling sederhana yang dilakukan

dengan merendam serbuk simpisia dalam cairan penyari selama beberapa hari
pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya, dimana cairan penyari akan

1

masuk kedalam sel melewati dinding sel (Sudjadi, 2008). Keuntungan metode ini
adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah untuk
didapatkan. Adapun kerugian metode ini adalah pengerjaannya yang lama dan
penyariannya yang kurang sempurna (Depkes RI, 1986).
Proses pengerjaannya matriks direndam dengan penyari di dalam wadah.
campuran sesekali diaduk untuk meratakan konsentrasi ke setiap sisi penyari
sehingga dapat memaksimalkan proses penyarian. Umumnya teknis kerja
dilakukan dengan memasukan 10 bagian matriks dengan derajat halus tertentu
kedalam wadah dan dicampurkan dengan 75 bagian penyari lalu dibiarkan 5 hari.
Selama penyimpanan campuran dilindungi dari cahaya sambil sesekali diaduk.
Setalah 5 hari campuran diserkai kemudian ampas diperas lalu ampas ditambah
penyari sampai diperoleh 100 bagian. Campuran didiamkan dua hari sampai
mengendap kemudian endapan dipisahkan (Depkes RI, 1986).
2.3. Kromatografi Kolom
Merupakan metode pemisahan dengan menggunakan berbagai ukuran kolom.
Alat yang digunakan berbentuk pipa kaca vertical (kolom) yang diisi dengan
serbuk alumina aktif dan sejenisnya. Zat yang akan dipisahkan atau dianalisis
dituangkan dari kolom, kemudian secara perlahan diikuti dengan menuangkan
pelarut melalui kolom tersebut (elusi). Kecepatan campuran melewati alumina
bergantung pada daya serap alumina pada campuran itu (Hadiat dkk, 2004).
Pada proses pemisahan dengan menggunakan metode kromatografi kolom,
campuran yang akan dipisahkan diletakkan pada bagian atas kolom absorben yang
berada dalam suatu tabung. Pelarut sebagai fase gerak karena gaya berat atau
didorong dengan tekanan tertentu dibiarkan mengalir melalui kolom membawa
serta pita linarut yang bergerak dengan kecepatan berbeda. Linarut yang telah
memisah dikumpulkan berupa fraksi yang keluar dari bagian bawah kolom. Pada
metode ini interaksi yang terjadi antara larutan senyawa yang dianalisis dengan
fase stasioner dapat terjadi dalam beberapa cara yaitu interaksi langsung antara
senyawa dengan permukaan fase, atau fase stasioner hanya bersifat menyangga
cairan kedua sehingga pemisahan terjadi berdasarkan partisi anatara dua fase
cairan (Kusmardiyani dan Nawawi, 1992).
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu, pemilihan jenis adsorben,
pemilihan pelarut elusi, pembuatan kolom, pengisian cuplikan ke dalam kolom,
2

III. Adsorben tidak boleh bereaksi dengan senyawa yang akan dianalisis. 4.serta pengembangan kromatogram dan penampungan eluat. adsorben-plastik atau adsorben-kertas. Pemilihan pelarut elusi didasarkan pada polaritas dan kelarutan. bersifat stabil selama proses pemisahan. Pengembangan kromatogram dilakukan dengan mengalirkan pelarut dan mengatur kecepatan penetesan larutan yang keluar dari kolom (Kusmardiyani dan Nawawi. 3. Kromatografi Lapis Tipis terdiri atas fase diam dan fase gerak. 2. yakni cara kering dan cara basah. ALAT DAN BAHAN III. Kromatografi Lapis Tipis Metode ini memisahkan senyawa berdasarkan sifat partisi. eter. 2007). 2.4. 5. Parameter pada KLT yang digunakan untuk identifikasi adalah nilai Rf (Gandjar dan Rohman. alkaloid dan terpenoid. 1992). Rf  Jarak yang ditempuh solut Jarak yang ditempuh fase gerak Uji positif kurkumin dengan fase gerak kloroform:benzena:etanol 98% (45:45:10) ditunjukkan dengan hRf 40-45. Pada prinsipnya ada dua cara pembuatan kolom. Pelarut yang umum digunakan diantaranya alkohol. tidak bersifat sebagai katalis. Alat-alat gelas Batang pengaduk Chamber Cawan porselin Sapu lidi 3 . jika dilihat pada UV365 menghasilkan warna merah darah dan pada sinar matahari tampak warna jingga (Stahl. pergantian ion dan absorbsi. Larutan cuplikan ditempatkan ke bagian atas kolom yang telah disiapkan dengan memipet dan memasukkannya melalui pinggiran tabung secara perlahan sehingga tidak merusak kolom. dan benzena. air. Adsorben menentukan kemampuan senyawa untuk dipisahkan misalnya silika gel digunakan untuk memisahkan senyawa golongan asam amino. Alat 1. Fase diam berupa adsorben-kaca. 2000). dan ukuran partikelnya seragam.1. Fase gerak pada KLT sering berupa senyawa cair (Stewart. 1985).

diaduk dan dibiarkan 2 hari kemudian disaring Ekstrak yang diperoleh diuapkan di atas water bath menggunakan cawan porselin (yang telah ditimbang) sampai didapat ekstrak kental. Water bath 12. Toples kaca 10. Pinset 13. Metanol IV.1. Plat KLT 7. Pipet ukur 15. PROSEDUR KERJA SECARA SKEMATIS IV. Etanol 96% 3. Kertas saring 8. Botol vial 7. Ditimbang cawan porselin berisi ekstrak kental.2.2. dan ampas diperas. Ampas ditambahkan 25 mL etanol 96%. Bahan 1. Bulbfiller III. Kolom kromatografi beserta statif 9.6. N-Hexana 5.1. Serbuk kunyit 2. Pembuatan Ekstrak Curcumae domestica rhizome Ditimbang 10 gram serbuk kering Curcumae domestica Rhizoma Dimasukkan serbuk kering Curcumae domestica Rhizoma ke dalam toples yang terlindung dari cahaya Ditambahkan 100 mL etanol 96% Ditutup dan didiamkan selama 5 hari dan diaduk setiap 1 kali hari Setelah 5 hari sari disaring. Pembuatan Kolom Kromatografi Disiapkan Eluen (N-hexana:kloroform:etanol 96%) dengan perbandingan 45:45:10 Silika gel dimasukkan ke dalam kolom setinggi 15 cm dengan diameter 1 cm yang telah dialasi dengan glass wool 4 . dan dihitung jumlah ekstrak kental yang diperoleh 4. Pemisahan dengan Kolom Kromatografi 4. Kloroform 6. Silica gel 4.2. Pipet tetes 14. Spektofotometri UV 11.

4.2.3. kemudian dituangkan kembali ke dalam kolom. Pemisahan Cairan dibiarkan mengalir ke bawah sampai terserap semua Kolom dielusi dengan eluen sampai keluar eluatnya.Ditimbang silika gel dan dimasukkan ke dalam gelas beaker Ditambahkan eluen sambil diaduk sampai terbentuk campuran seperti bubur Bubur silika dimasukkan sedikit demi sedikit dengan pipet ke dalam kolom (hati-hati jangan sampai terbentuk gelembung/rongga) 4.Botol Identifikasi Curcumin dengan KLT vial ditutup dengan kertas saring kemudian disimpan selama 7 hari Ditotolkan semua fraksi yang telah dipekatkan sebanyak 4 µL pada plat KLT GF 254 silika gel yang telah dicuci dengan metanol dan diaktivasi pada suhu 1100 selama 30 menit Plat KLT dimasukkan ke dalam chamber dan elusi sampai jarak pengembangan 1 cm dari tepi atas Diangin-anginkan plat KLT selama 10 menit Plat KLT diamati dibawah sinar UV dengan panjang gelombang 254 nm.2.3. diatur kecepatan elusi kurang lebih 1 mL per 1 menit Eluat ditampung dalam 7 botol vial (yang telah di kalibrasi sebanyak 5 ml) sampai tanda batas 5 mL 4. Pengisian Cuplikan/Sampel ke dalam Kolom Kolom disimpan selama 1-2 hari sebelum siap digunakan Ekstrak kental yang diperoleh ditambahkan 5 mL etanol 96% Dimasukkan ke dalam kolom kromatografi sedikit demi sedikit melalui dinding Dibilas wadah ekstrak dengan sedikit eluen.2. cahaya matahari dan 366 nm 5 .

4. Nama Bahan 1 Serbuk silika gel Jumlah 7.1058 gram V. Lama proses maserasi : 2 hari V.9841 gram 5 Ekstrak kental 1.Ditandai spot dan hitung nilai Rf masing-masing.0112 gram 2 3 5 mL 4 Etanol 96% (untuk melarutkan ekstrak kental) Eluen pembuatan kolom: . Volume etanol 96% yang digunakan untuk remaserasi : 25 mL V. Rf dan warna spot curcumin : (ditabelkan) Tabel 1 Pengamatan Maserasi No.3. Nama Bahan 1 Serbuk kunyit Jumlah 10.6. HASIL PENGAMATAN diduga kurkumin V.1. Bobot serbuk kunyit : 10.Etanol 96% Tinggi kolom 5 Lebar kolom 1 cm 45 mL 45 mL 10 mL 15 cm 6 .1058 gram Tabel 2 Perubahan Warna Selama Maserasi dan Remaserasi Hari ke1 2 3 4 5 Perubahan Warna Jingga kecoklatan Jingga kecoklatan Jingga kecoklatan Jingga kecoklatan Jingga kecoklatan Tabel 3 Data Pengamatan Kolom Kromatografi No.0029 gram 2 Etanol 96% 100 mL 3 3 Etanol 96% (untuk remaserasi) Cawan porselin 25 mL 63. Bobot ekstrak kental : 1. serta ditentukan spot yang V.8783 gram 4 Cawan porselin + ekstrak kental 64.N-heksana .7.0029 g V.2.5.Kloroform . Lama proses maserasi : 6 hari V. Volume etanol 96% yang digunakan untuk maserasi : 100 mL V.

N-heksana .5 mL 4.5 fluoresensi 2 0.Tabel 4 Pengamatan Fraksi No. Nama Bahan 1 Etanol 96% (2 mL @ vial) 2 Jumlah 14 mL Eluen: .5 mL 1 mL Tabel 6 Hasil Pengelusian Fraksi Fraksi I Spot 1 Pengamatan pada Pengamatan pada Pengamatan pada Sinar UV 254 nm Rf hR UV 366 nm Rf hRf Warna Matahari Rf hR 0. 1 2 3 4 5 6 7 Fraksi Fraksi I Fraksi II Fraksi III Fraksi IV Fraksi V Fraksi VI Fraksi VII Warna Kuning kejinggaan Merah bata tua Merah bata Merah kecoklatan Jingga Jingga kekuningan Kuning bening Tabel 5 Data Pengamatan KLT No.64 f 64 Warna Pemadaman 0.Kloroform .51 f 51 Kuning 56 Kuning 0.64 64 Jingga 1 Pemadaman 0.Etanol 96% 4.57 57 Kuning* 0.74 3 - 74 - Warna 51 Kuning 0.5 fluoresensi 6 - - kejinggaan - - Fraksi II Spo Pengamatan pada Pengamatan pada Pengamatan pada Sinar t UV 254 nm Rf hR f UV 366 nm Rf hR Warna f Matahari Rf hR f Warna Warna 7 .

79 79 Jingga* - - - n fluoresensi 3 - - - Fraksi IV Spo t Pengamatan pada UV 254 nm Rf hR Warna f Pengamatan pada UV 366 nm Rf hR Warna f Pengamatan pada Sinar Matahari Rf hR Warna f 1 0.59 59 Pemadama n fluoresensi 0.78 78 Jingga 0.41 41 Pemadama n fluoresensi 0.43 41 Pemadama n fluoresensi 39 Jingga dengan sisi 43 Jingga* 8 .8 80 Jingga 0.43 43 Jingga**** 2 0.41 0.69 69 Jingga 0.48 48 Jingga **** kuning 2 0.46 46 Warna f Pemadama 0.59 59 Jingga** 3 0.48 48 Warna f Jingga n dengan fluoresensi sisi 0.80 80 Pemadama n fluoresensi - - - - - - Fraksi III Spo Pengamatan pada Pengamatan pada Pengamatan pada Sinar t UV 254 nm Rf hR UV 366 nm Rf hR Matahari Rf hR Warna f 1 0.80 80 Pemadama 0.39 0.1 0.45 45 Jingga dengan sisi kuning 0.

49 49 Pemadama n fluoresensi 0.41 41 Jingga* kuning 2 0.8 80 Pemadama n fluoresensi - - - 0.54 54 Jingga*** 4 0.54 54 Jingga* 0.46 46 Jingga* 3 0.kuning 2 0.56 56 Pemadama n fluoresensi 0.46 46 Jingga 0.81 81 Jingga Fraksi V Spo Pengamatan pada Pengamatan pada Pengamatan pada Sinar t UV 254 nm Rf hR UV 366 nm Rf hR Matahari Rf hR Warna f 1 0.46 46 Jingga 0.79 79 Pemadama n flouresensi 9 .54 54 Jingga*** - - - - - - n fluoresensi 3 0.54 54 Jingga* 0.55 55 Pemadama n fluoresensi 4 0.48 48 Jingga* 0.41 41 Warna f Jingga n dengan fluoresensi sisi 0.41 41 Warna f Pemadama 0.48 48 Pemadama 0.

49 49 Jingga* 0.48 48 Pemadama 0.93 93 Pemadama n fluoresensi Fraksi VII Spo Pengamatan pada Pengamatan pada Pengamatan pada Sinar t UV 254 nm Rf hR UV 366 nm Rf hR Matahari Rf hR Warna f 1 0.44 44 Warna f Jingga n dengan fluoresensi sisi 0.43 43 Warna f Jingga n dengan fluoresensi sisi 0.Fraksi VI Spo Pengamatan pada Pengamatan pada Pengamatan pada Sinar t UV 254 nm Rf hR UV 366 nm Rf hR Matahari Rf hR Warna f 1 0.55 55 Jingga*** - - - - - - n fluoresensi 3 0.41 41 Warna f Pemadama 0.51 51 Jingga n fluoresensi 10 .44 44 Jingga* 0.4 40 Warna f Pemadama 0.48 48 Jingga 0.54 54 Pemadama n fluoresensi 4 0.55 55 Jingga* 0.50 50 Jingga* kuning 2 0.43 43 Jingga* kuning 2 0.48 48 Pemadama 0.

8783 gram Bobot cawan porselen + ekstrak kental (B2)= 64.9841 gram .3 0.5 mL .0 mL 100 6.56 56 Jingga*** - - - - - - n fluoresensi 4 0.1058 gram Jadi bobot ekstrak kental yang diperoleh sebanyak 1.2 Perhitungan Eluen Kromatografi Kolom Eluen yang digunakan (N-Heksana:Kloroform:Etanol 96%) = (45 : 45 :10) 45 ×100 mL=45 mL .8783 gram = 1.63.9 90 Pemadama n fluoresensi VI.B1) = 64. PERHITUNGAN 6.? Jawab : Bobot total ekstrak kental = (B2.4 Perhitungan Harga Rf dan HRf Fraksi jarak yang ditempuh analit Rumus Harga Rf = jarak pengembangan(fase gerak ) 11 .N-Heksana = 100 - Kloroform = 45 ×100 mL=45 mL 100 - Etanol 96% = 10 ×100 mL=10 mL 100 6.1058 gram 6.1 Perhitungan Bobot Ekstrak Kental Diketahui : Bobot cawan porselen kosong (B1) = 63.54 54 Pemadama 0.3 Perhitungan Eluen Kromatografi Lapis Tipis Eluen yang digunakan (N-Heksana:Kloroform:Etanol 96%) = (45:45 :10) 45 ×10 mL=4.58 58 Jingga* 0.5 mL 100 - Etanol 96% = 10 ×10 mL=1.9841gram Ditanya : Bobot total ekstrak kental = …….N-Heksana = 100 - Kloroform = 45 ×10 mL=4.

1 =0. - - - HRf = 0.64 Rf = 8 HRf = 0.51 x 100 = 51 Spot 2 Jarak yang ditempuh analit = 4.51 Rf = 8 - c.57 Rf = 8 HRf = 0.1 =0.9 =0.1 cm 5.51 x 100 = 51 Spot 2 Jarak yang ditempuh analit = 4.9 cm 5. UV 366 nm .74 x 100 = 74 b.5 =0.64 x 100 = 64 12 .64 Rf = 8 - HRf = 0.Spot 1 Jarak yang ditempuh analit = 4.56 x 100 = 56 Sinar Matahari Spot 1 Jarak yang ditempuh analit = 4.64 x 100 = 64 Spot 2 Jarak yang ditempuh analit = 5.1 cm 4.51 Rf = 8 HRf = 0.74 Rf = 8 HRf = 0.57 x 100 = 57 Spot 3 Jarak yang ditempuh analit = 5.4 cm 5. UV 254 nm .Spot 1 Jarak yang ditempuh analit = 6.1 =0.1 =0.5 cm 4.1 cm 4.6 cm 4.Rumus HRf = Rf x 100 Diketahui jarak pengembangan (yang ditempuh fase gerak) = 8 cm 1.56 Rf = 8 HRf = 0.6 =0. Fraksi I a.

2 cm 6.59 Rf = 8 HRf = 0.2.45 x 100 = 45 Spot 2 Jarak yang ditempuh analit = 6.41 Rf = 8 - - HRf = 0.43 x 100 = 43 - Spot 2 Jarak yang ditempuh analit = 4.Spot 1 Jarak yang ditempuh analit = 3.6 =0.78 Rf = 8 HRf = 0.43 Rf = 8 HRf = 0.59 Rf = 8 HRf = 0.4 cm 3.4 cm 6.7 cm 4. Sinar Matahari . UV 366 nm .80 Rf = 8 HRf = 0.80 x 100 = 80 b.7 cm 4.4 =0.7 =0.3 cm 3.78 x 100 = 78 c.Spot 1 Jarak yang ditempuh analit = 3.4 =0.45 Rf = 8 - HRf = 0.2 =0.41 x 100 = 41 Spot 2 Jarak yang ditempuh analit = 4.3 =0. Fraksi II a.59 x 100 = 59 13 . UV 254 nm .7 =0.6 cm 3.59 x 100 = 59 Spot 3 Jarak yang ditempuh analit = 6.Spot 1 Jarak yang ditempuh analit = 3.

4 =0.8 Rf = 8 HRf = 0.4 =0.3.69 Rf = 8 HRf = 0.8 =0.48 Rf = 8 - - HRf = 0.7 =0.48 x 100 = 48 Spot 2 Jarak yang ditempuh analit = 6. Sinar Matahari .4 cm 6.79 Rf = 8 HRf = 0.48 x 100 = 48 Spot 2 Jarak yang ditempuh analit = 5.80 x 100 = 80 14 .48 Rf = 8 - HRf = 0. UV 366 nm .69 x 100 = 69 Spot 3 Jarak yang ditempuh analit = 6.46 x 100 = 46 Spot 2 Jarak yang ditempuh analit = 6.46 Rf = 8 - HRf = 0.8 cm 3.Spot 1 Jarak yang ditempuh analit = 3.Spot 1 Jarak yang ditempuh analit = 3.79 x 100 = 79 c.8 =0.80 Rf = 8 HRf = 0.5 =0.8 x 100 = 80 b.7 cm 3.8 cm 3.Spot 1 Jarak yang ditempuh analit = 3. UV 254 nm .5 cm 5. Fraksi III a.3 =0.4 cm 6.3 cm 6.

54 x 100 = 54 c.9 Rf = 8 - - HRf = 0.5 cm 4.Spot 1 Jarak yang ditempuh analit = 3.54 Rf = 8 HRf = 0.80 x 100 = 80 b.4 cm 6.5 =0.49 Rf = 8 HRf = 0.41 Rf = 8 - - - HRf = 0.4.46 Rf = 8 HRf = 0.9 cm 3.1 =0.Spot 1 Jarak yang ditempuh analit = 3.3 =0.3.7 cm 3. UV 254 nm .1 cm 3. Sinar Matahari 15 .49 x 100 = 49 Spot 3 Jarak yang ditempuh analit = 4.3 =0.56 x 100 = 56 Spot 4 Jarak yang ditempuh analit = 6.3 cm 4.3 cm 3.56 Rf = 8 HRf = 0.80 Rf = 8 HRf = 0.7 =0.9 =0. UV 366 nm .4 =0. Fraksi IV a.39 x 100 = 39 Spot 2 Jarak yang ditempuh analit = 3.41 x 100 = 41 Spot 2 Jarak yang ditempuh analit = 3.46 x 100 = 46 Spot 3 Jarak yang ditempuh analit = 4.

4 cm 3.4 =0.54 Rf = 8 HRf = 0.7 cm 3.41 Rf = 8 - - - HRf = 0.46 Rf = 8 HRf = 0.46 x 100 = 46 Spot 3 Jarak yang ditempuh analit = 4.54 x 100 = 54 Spot 4 Jarak yang ditempuh analit = 6.81 Rf = 8 HRf = 0.7 =0.3 cm 16 .4 cm 4.5 cm 6.43 x 100 = 43 Spot 2 Jarak yang ditempuh analit = 3. Fraksi V a.4 =0.Spot 1 Jarak yang ditempuh analit = 3.41 x 100 = 41 Spot 2 Jarak yang ditempuh analit = 3.- - - - Spot 1 Jarak yang ditempuh analit = 3.48 Rf = 8 HRf = 0.8 =0.3 cm 4.3 =0.55 x 100 = 55 Spot 4 Jarak yang ditempuh analit = 6.3 =0.8 cm 3.3 cm 3.81 x 100 = 81 5. UV 254 nm .55 Rf = 8 HRf = 0.5 =0.43 Rf = 8 HRf = 0.48 x 100 = 48 Spot 3 Jarak yang ditempuh analit = 4.

Rf = 6.Spot 1 Jarak yang ditempuh analit = 3.3 cm 17 . Fraksi VI a.46 x 100 = 46 - Spot 3 Jarak yang ditempuh analit = 4.48 Rf = 8 HRf = 0.3 cm 4. UV 254 nm .3 =0. Sinar Matahari .41 Rf = 8 - HRf = 0.3 =0.8 =0.3 =0.Spot 1 Jarak yang ditempuh analit = 3.7 cm 3.Spot 1 Jarak yang ditempuh analit = 3.3 =0.48 x 100 = 48 Spot 3 Jarak yang ditempuh analit = 4.3 cm 3.3 =0.46 Rf = 8 HRf = 0.79 8 HRf = 0.54 Rf = 8 HRf = 0.41 x 100 = 41 Spot 2 Jarak yang ditempuh analit = 3.79 x 100 = 79 b.8 cm 3.3 cm 3.41 Rf = 8 - - HRf = 0.3 cm 4.7 =0. UV 366 nm .54 x 100 = 54 c.41 x 100 = 41 Spot 2 Jarak yang ditempuh analit = 3.54 x 100 = 54 6.54 Rf = 8 HRf = 0.

54 Rf = 8 HRf = 0.4 cm 3.3 cm 4.43 x 100 = 43 18 .4 =0.3 =0.48 x 100 = 48 Spot 3 Jarak yang ditempuh analit = 4.Spot 1 Jarak yang ditempuh analit = 3.8 cm 3.4 =0.8 cm 3.4 cm 7.93 x 100 = 93 b.Rf - - - = 3.48 x 100 = 48 Spot 3 Jarak yang ditempuh analit = 4.4 cm 3.48 Rf = 8 HRf = 0.41 8 HRf = 0.55 x 100 = 55 c. Sinar Matahari .8 =0.54 x 100 = 54 Spot 4 Jarak yang ditempuh analit = 7.Spot 1 Jarak yang ditempuh analit = 3.4 =0.55 Rf = 8 HRf = 0.41 x 100 = 41 Spot 2 Jarak yang ditempuh analit = 3.93 Rf = 8 HRf = 0.4 =0. UV 366 nm .4 cm 4.8 =0.48 Rf = 8 HRf = 0.3 =0.43 x 100 = 43 Spot 2 Jarak yang ditempuh analit = 3.43 Rf = 8 HRf = 0.43 Rf = 8 - - HRf = 0.

55 x 100 = 55 7.90 x 100 = 90 b.5 =0.Spot 1 Jarak yang ditempuh analit = 3.48 x 100 = 48 Spot 3 Jarak yang ditempuh analit = 4.2 cm 7.48 Rf = 8 HRf = 0.2 cm 3.5 cm 3.9 cm 3.8 =0.90 Rf = 8 HRf = 0.40 x 100 = 40 Spot 2 Jarak yang ditempuh analit = 3.49 Rf = 8 HRf = 0.1 cm 19 .2 =0.44 Rf = 8 - HRf = 0.54 x 100 = 54 Spot 4 Jarak yang ditempuh analit = 7.8 cm 3.3 cm 4.9 =0.40 Rf = 8 - - - HRf = 0. UV 254 nm .55 Rf = 8 HRf = 0.2 =0. UV 366 nm . Fraksi VII a.49 x 100 = 49 - Spot 3 Jarak yang ditempuh analit = 4.Spot 1 Jarak yang ditempuh analit = 3.3 =0.4 cm 4.44 x 100 = 44 Spot 2 Jarak yang ditempuh analit = 4.54 Rf = 8 HRf = 0.- Spot 2 Jarak yang ditempuh analit = 3.4 =0.

5 cm 4.5 cm 3.50 Rf = 8 HRf = 0. Sinar Matahari .6 =0.56 Rf = 8 HRf = 0.58 Rf = 8 HRf = 0.44 Rf = 8 - - HRf = 0.50 x 100 = 50 Spot 3 Jarak yang ditempuh analit = 4.6 cm 4.51 8 HRf = 0.58 x 100 = 5 c.56 x 100 = 56 20 .Rf - = 4.51 x 100 = 51 Spot 3 Jarak yang ditempuh analit = 4.1 =0.Spot 1 Jarak yang ditempuh analit = 3.5 =0.44 x 100 = 44 Spot 2 Jarak yang ditempuh analit = 4 cm 4 =0.5 =0.

Hal ini perlu dilakukan agar kurkumin tidak mengalami penguraian akibat kontak dengan cahaya. Proses pertama saat maserasi yaitu serbuk kunyit ditimbang 10 gram lalu ditambahkan etanol 96% sebanyak 100 mL kemudian dimasukkan ke dalam toples kaca yang dibungkus kain hitam agar terlindung dari cahaya. akibatnya akan memperlambat proses penyaringan. analit akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan berisi analit di dalam sel dengan yang diluar sel. Sebelum digunakan kertas saring dibasahi terlebih dahulu dengan etanol 96% yang bertujuan untuk mengkondisikan kertas saring pada corong sehingga mempermudah dan mempercepat proses penyaringan. Proses perendaman ini dilakukan selama 5 hari sambil diaduk berulang setiap satu kali sehari. kromatografi kolom dan kromatografi lapis tipis (KLT). 1986). Peristiwa ini terjadi berulang-ulang hingga terjadi kesetimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel (Depkes RI. Maserasi merupakan proses penyarian yang paling sederhana yang dilakukan dengan merendam serbuk simplisia pada cairan penyari. Setelah 5 hari. Hal ini dilakukan untuk mengkondisikan kertas saring pada corong agar mempermudah dan mempercepat proses penyaringan. Cairan penyari yaitu etanol 96% akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung analit. Metode yang digunakan untuk proses ini yaitu maserasi. Metode maserasi digunakan untuk tahap awal pemisahan senyawa curcumin dari campurannya. PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini dilakukan proses pemisahan dan identifikasi senyawa curcumin dari serbuk simplisia Curcumae domesticae rhizoma. 1986). Jika tidak dilakukan penjenuhan terlebih dahulu. maka larutan yang lebih pekat akan terdesak keluar. 21 . Perendaman dilakukan selama beberapa hari dimaksudkan agar zat pengotor dapat mengendap sedangkan pengadukan dilakukan dengan tujuan untuk meratakan konsentrasi diluar butir-butir serbuk simplisia dan menjaga perbedaan konsentrasi sekecil-kecilnya antara larutan di dalam sel dan di luar sel (Sudjadi. maserat disaring menggunakan corong dan kertas saring. maka larutan simplisia yang akan disaring akan menjenuhkan kertas saring terlebih dahulu.VII.

Linarut yang telah memisah dikumpulkan berupa fraksi yang keluar dari bagian bawah kolom. Fase gerak atau eluen yang digunakan adalah campuran antara N-heksana: kloroform: etanol 96% (45:45:10). 1992). Adsorben yang digunakan praktikum kali ini adalah silika gel. maka saat menguapkan dilakukan pengadukan. Eluen merupakan fase gerak yang bersifat non polar. Di 22 . Perlu dilakukan remaserasi karena kelemahan maserasi adalah tidak dapat mengekstraksi senyawa analit yang diinginkan dengan sempurna sebab hanya mengandalkan proses difusi pada saat perendaman dan pengadukan. cara yang digunakan yaitu cara basah. sehingga metode ini merupakan kromatografi elusi (Kusmardiyani.Selanjutnya ampas sisa penyaringan diremaserasi kembali dengan etanol 96% sebanyak 25 ml kemudian didiamkan terendam selama 2 hari dan disaring lagi. Pada dasar bagian kolom diisi dengan anyaman glass wool agar dapat menahan silika gel yang akan dimasukkan ke dalam kolom. Selanjutnya disiapkan eluen (N-hexana : kloroform : etanol 96% = 45 : 45 : 10). Ekstrak yang diperoleh diuapkan di atas hot plate dengan cawan porselin sampai didapat ekstrak kental. Setelah itu ekstrak kental yang ada dalam cawan porselin ditutup dengan plastik ikan agar tidak terkena kontak dari udara luar sehingga pengotor yang ada di udara tidak mengkontaminasi ekstrak kental. Sementara fase diam atau adsorben yang digunakan adalah serbuk silika gel yang bersifat polar. Kemudian ekstrak kental yang diperoleh dihitung bobotnya. Ada dua cara pembuatan kromatografi kolom. Metode selanjutnya yaitu kromatografi kolom. Untuk mempercepat penguapan pelarut. Dalam praktikum ini. Fase gerak tersebut merupakan pelarut organik yang bersifat nonpolar. yaitu cara basah dan cara kering. Pelarut sebagai fase gerak karena gaya berat atau didorong dengan tekanan tertentu dibiarkan mengalir melalui kolom membawa serta pita linarut yang bergerak dengan kecepatan berbeda. Pembuatan kolom dengan menggunakan cara basah. mula-mula kolom dipasang pada statif agar berdiri tegak lurus. Pada proses pemisahan ini campuran yang akan dipisah diletakkan pada bagian atas kolom adsorben yang berada dalam suatu tabung seperti gelas logam ataupun plastik. Tujuan remaserasi adalah untuk melarutkan analit kurkumin yang tertinggal pada ampas sekaligus mengendapkan zat pengotor pada saat perendaman kembali.

zat akan semakin lama tertahan di fasa diam. Hal inilah yang menyebabkan nantinya terbentuk seperti lapisan-lapisan pada kolom.dalam beker glass silika gel ditambahkan dengan eluen secukupnya sambil diaduk hingga terbentuk campuran seperti bubur. Cairan dibiarkan mengalir ke bawah sampai terserap semua. Sehingga senyawa yang bersifat polar cenderung akan berinteraksi dengan fase diam yang cenderung bersifat polar. Setelah semua silika gel masuk ke dalam kolom. Pendiaman dilakukan untuk mendapatkan kolom yang homogen dan kompak agar hasil pemisahan yang diperoleh lebih baik. zat akan semakin lama tertahan di fasa gerak. kolom kromatografi sudah siap untuk digunakan. maka dapat diatasi dengan memukul-mukul bagian dinding kolom secara perlahan sehingga udara dapat digantikan dengan pelarut. Hal ini bertujuan untuk mencegah adanya udara yang terperangkap di dalam kolom yang nantinya dapat terbentuk gelembung-gelembung udara yang dapat merusak kolom sehingga proses pengelusian tidak akan baik. Prinsip pengelusian yang digunakan pada kromatografi kolom yaitu pada afinitas kepolaran analit dengan fase diam. sedangkan senyawa non polar akan bergerak ke bawah bersama pelarut yang kemudian ditampung sebagai fraksi-fraksi pada dasar kolom. Akan tetapi jika memang terjadi gelembunggelembung. Ekstrak kental yang diperoleh tadi selanjutnya dilarutkan dengan 10 ml etanol 96% dan dimasukkan ke dalam kolom kromatografi sedikit demi sedikit melalui dinding. 1992). Semakin kecil afinitasnya terhadap fasa gerak. bagian atas kolom ditutup rapat dengan plastic ikan untuk mencegah eluen di dalam kolom agar tidak menguap. Setelah didiamkan selama 1 hari. Sisa eluen tadi dimasukkan terlebih dahulu ke dalam kolom dan dilanjutkan dengan memasukkan bubur silika gel ke dalam kolom melalui dinding kolom. 23 . Beberapa silika gel akan menempel pada dinding kolom sehingga perlu dilakukan pembilasan dengan menggunakan eluen untuk mencegah mengerasnya silika gel pada dinding. sedangkan fase gerak selalu memiliki kepolaran yang berbeda dengan fase diam. Semakin besar afinitasnya terhadap fasa gerak. Pengelusian kromatogram dilakukan dengan cara mengalirkan pelarut dan mengatur kecepatan penetesan larutan yang keluar dari dalam kolom (Kusmardiyani.

Plat yang digunakan sebagai fase diam adalah silika gel GF254 yang berukuran (8 x 10) cm. Pengaktivasian plat ini juga bertujuan untuk menjaga kelembaban plat dan menghilangkan sisa methanol dan air pada plat. mungkin terjadi degradasi yang tak bolak-balik pada penjerap dan menyebabkan pemisahan kurang efektif (Gritter. 1991). F yang berarti Flouresence (panjang gelombang). Penotolan harus tegak lurus agar didapat spot atau noda yang baik. Setelah kloroform sudah berada di glass wool dan larutan ekstrak berwarna kuning berada diatas glass wool.Setelah itu. Hal ini dapat mempengaruhi hasil pada plat yang kemungkinan akan terjadi hasil ganda. dan 254 24 . Jika suhu pengaktifan jauh diatas 110°. Karena sifatnya yang semipolar. Pemilihan metanol dibandingkan dengan etanol karena sifat semipolar metanol (CH 3OH) yang mengandung tiga atom H dan satu gugus OH. metanol lebih mampu membersihkan zat-zat pengotor dibandingkan dengan etanol yang bersifat non polar dan metanol juga lebih mudah menguap. Pencucian berfungsi untuk mengeluarkan pengotor yang terdapat pada plat KLT. Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi senyawa curcumin pada sampel. Plat KLT yang akan digunakan dicuci dengan metanol dan diaktivasi pada suhu 110° selama 30 menit. Tiap botol terdapat fraksi yang berbeda-beda. Fase diam silika gel GF254 yang mana G yang berarti Gypsum (pengikat) biasanya pengikat yang digunakan adalah kalsium sulfat. Tahap akhir pada praktikum ini dilakukan dengan metode kromatografi lapis tipis (KLT). Selain itu saat melakukan penotolan pada plat KLT totolan jangan sampai dempet dengan totolan sebelahnya. Semua fraksi yang didapat masing-masing ditotolkan sebanyak 10µL pada plat KLT. Semua fraksi pada botol didiamkan selama beberapa hari. keran kolom dibuka untuk mengeluarkan kloroform sambil menambahkan eluen (N-heksana : kloroform : etanol 96% = 45 :45 :10) sedikit demi sedikit kira-kira berbanding lurus dengan pengeluaran kloroform melalui keran dan diusahakan agar eluen tetap berada diatas silika agar silika tidak kering. segera diambil tetesan fraksi pertama sebanyak 5 mL dengan menggunakan botol vial sebagai wadah yang telah ditera 5 mL. Hasil pengelusian ditampung dalam 7 botol vial yang masing-masing telah ditera sebanyak 5 mL.

25 . sinar UV 254 nm. alat penangkap gelombang elektomagnetik pada panjang gelombang tertentu.yang berarti panjang gelombang yang digunakan yaitu 254nm Sehingga GF 254 adalah penjerap silika gel dengan pengikat kalsium sulfat dengan ditambahkan indikator yang dapat berflouresensi jika dideteksi pada sinar ultraviolet dengan panjang gelombang 254 nm. Pengelusian dilakukan di dalam chamber yang telah diisi dengan fase gerak. Fase gerak yang digunakan untuk mengelusi yaitu N-hexana : kloroform : etanol 96% (45 : 45 : 10). Kromofor berfungsi sebagai antena. Pada plat terdapat 7 buah totolan yang masing-masing mewakili tiap fraksi. Penggunaan N-hexana. Dan selanjutnya dideteksi dan dihitung nilai Rf pada masingmasing noda/spot. dilakukan pengelusian sampai jarak pengembangan 1 cm dari tepi atas. Suatu panjang gelombang tertentu merangsang perubahan struktur molekul kromofor karena molekul tersebut tereksitasi. Setelah penotolan berakhir. yang menyebabkan pelarut harus sesuai dengan sampel yang akan diidentifikasi. 1991). Hanya saja pada sinar UV 254 nm terjadi pemadaman yang disebabkan karena adanya flouresensi. Adanya noda/spot pada plat saat diamati di bawah UV 366 nm karena di dalam senyawa tersebut terdapat gugus kromofor yang akan menyerap panjang gelombang tertentu dan memancarkan sinar tampak. kloroform dan etanol 96% dikarenakan prinsip ”like dissolved like” yaitu senyawa akan cenderung mudah larut pada pelarut yang memilki kepolaran yang relatif sama. Plat kemudian diangin-anginkan dengan tujuan untuk menguapkan sisa-sisa pelarut yang digunakan saat proses pengelusian. Energi atau elektron ini lalu ditangkap oleh sistem pembawa signal yang pada akhirnya noda dapat terlihat. Plat selanjutnya diamati di bawah sinar matahari. Perubahan struktur ini mengakibatkan pelepasan energi / electron. dan 366 nm juga diamati spot/noda yang terbentuk pada plat. Indikator flouresensi adalah senyawa yang memancarkan sinar tampak jika disinari dengan sinar ultraviolet (Gritter.

Komponen hRf Warna dengan UV366 Sinar Matahari Kurkumin 40-45 Merah-darah jingga Desmetoksikurkumin 35-40 Salmon jingga Bis-desmetoksikurkumin 25-35 Merah-jingga muda kuning (Stahl. Sedangkan saat plat KLT diamati pada sinar UV 366 nm hasil fluoresensi 26 . saat plat diamati dibawah sinar UV 254 nm hampir semua fraksi menunjukkan pemadaman fluoresensi. Senyawa Kurkuminoid Berdasarkan harga Rf dan hRf yang diperoleh. 1985) Gambar 1.

sedangkan pada praktikum ini digunakan plat KLT silika gel GF254 yang bersifat sedikit asam sehingga tidak memberi fluoresensi warna merah darah pada waktu pengamatan dengan sinar UV 366 nm. kondisi praktikum yang berbeda (suhu. jingga dan jingga kemerahan. Desmetoksikurumin terdeteksi pada fraksi IV spot 1. fraksi V pada spot 1 dan 2. ketebalan lapisan plat. yaitu berkisar antara warna kuning. fraksi III pada spot 1. fraksi III pada spot 1. kualitas pelarut. senyawa kurkumin diduga terdapat pada fraksi II pada spot 1. 27 . fraksi IV pada spot 2. Berdasarkan warna fluoresensi yang dihasilkan. fraksi IV pada spot 1 dan 2. fraksi VI pada spot 1. Senyawa yang diduga sebagai kurkumin terdeteksi pada fraksi II pada spot 1. diantaranya pemisahan pada kolom kromatografi yang kurang sempurna. Berdasarkan hasil pengamatan di bawah sinar matahari jika ditinjau dari warna spot yang terjadi sesuai dengan pustaka yang digunakan sebagai pembanding. Sedangkan senyawa yang diduga bisdesmetoksikurkumin tidak terdeteksi pada fraksi manapun. Kurkumin akan memberikan warna merah darah pada suasana basa. Pemisahan yang kurang sempurna pada praktikum ini disebabkan oleh beberapa faktor. kualitas fase diam (plat silika gel). kelembaban dan pH). serta fraksi VII pada spot 1.menampakkan banyak spot berwarna kuning terang dan jingga. Senyawa yang diduga desmetoksikurkumin dan bisdemetoksikurkumin tidak terdeteksi. fraksi V pada spot 1 dan 2. serta fraksi VII pada spot 1. kejenuhan chamber dan proses preparasi KLT (waktu aktivasi dan penjenuhan chamber) sehingga hasil yang didapatkan kurang sesuai dengan pustaka. fraksi VI pada spot 1.

7.2 Pada kromatografi kolom. 7.VIII. 28 .5 Fraksi IV spot 2 dan fraksi V spot 2 mengandung kurkumin. KESIMPULAN 7. dan Bisdesmetoksikurkumin yang memiliki nilai HRf yang berbeda-beda. fase diam yang digunakan adalah plat KLT silika gel GF254. dilakukan pemisahan komponen dengan teknik basah dimana silika gel dibuat menjadi bubur dengan penambahan eluen secukupnya.4 Komponen utama Curcuma domestica Val terdiri dari Kurkumin. yaitu Prinsip Maserasi. 7. Desmetoksikurkumin. Sedangkan untuk menentukan secara pasti fraksi yang mengandung desmetoksikurkumin dan bisdemetoksikurkumin sangat sulit karena disebabkan oleh hRf dan warna spot yang tidak sesuai dengan pustaka. sedangkan fase geraknya adalah eluen (n- hexana:kloroform:etanol 96%) 7.1 Proses pemisahan dan identifikasi kurkumin pada Curcuma domestica Val (kunyit) dapat dilakukan dengan 3 prinsip pemisahan.3 Pada pemisahan dengan KLT. Kromatografi Kolom dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT).

Cambridge: The Royal Society of Chemistry Gandjar. Cherubino APF. Kunyit. Sediaan Galenik. 2000. R. K. Siti dan A. The Science of Sugar Confectionery. 2000.. Pengeringan Kunyit Menggunakan Microwave dan Oven (Skripsi). demethoxycurcumin and bisdemethoxycurcumin. Semarang : Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Stahl.D.. 1991.. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Gritter. E. dan Rohman. 2004. Bandung: Penerbit ITB Stewart. Bandung: Penerbit ITB Hadiat. Dufossé L. Botanicals. and Teas. Yogyakarta: UGM Press 29 . A.. 1992. 1985. K. J.. 1986. Jakarta: Kanisius Saputra. Canada: Wiley Interscience Sudjaji. Kimia Farmasi Analisis. A. Glória MBA. Pennsylvania : Technomic Peret-Almeida L. Jakarta: Balai Pustaka Kusmardiyani. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia Edwards... 2005. Alves RJ. Nawawi... 1986. dkk.Separation and determination of the physico-chemical characteristics of curcumin. dan Ningrum. P. Metode Pemisahan. Kamus Sains. 2007.DAFTAR PUSTAKA Depkes RI. 2008. Jakarta: Pusat Antar Universitas Bidang Ilmu Hayati Oomah.G. Herbs. I. Pengantar Kromatografi. B. W. 2000. Chemical Measurement in Biological Chemistry System. 2010. Kimia Bahan Alam. R. Analisis Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopi. Food Research International 38 (8–9): 1039–44 Rukmana.

LAMPIRAN 30 .