You are on page 1of 12

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN ANEMIA

A. Pengkajian
Pengkajian pasien dengan anemia (Doenges, 1999) meliputi :
1) Aktivitas / istirahat
a. Gejala : keletihan, kelemahan, malaise umum.
b. Kehilangan produktivitas ; penurunan semangat untuk bekerja.
c. Toleransi terhadap latihan rendah.
d. Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak.
e. Tanda : takikardia/ takipnae ; dispnea pada waktu bekerja atau
istirahat.
f. Letargi, menarik

diri,

apatis,

lesu,

dan

kurang

tertarik

pada

sekitarnya.
g. Kelemahan otot, dan penurunan kekuatan.
h. Ataksia, tubuh tidak tegak.
i. Bahu menurun, postur lunglai, berjalan lambat.
2) Sirkulasi
 Gejala : riwayat kehilangan darah kronik, misalnya perdarahan GI
kronis,

menstruasi berat (DB), angina, CHF (akibat kerja jantung

berlebihan). Riwayat endokarditis infektif kronis.
 Palpitasi (takikardia kompensasi).
 Tanda : TD : peningkatan sistolik dengan diastolik stabil dan tekanan
nadi melebar, hipotensi postural.
 Disritmia : abnormalitas EKG, depresi segmen ST dan pendataran
atau depresi gelombang T; takikardia.
 Bunyi jantung : murmur sistolik (DB).
 Ekstremitas (warna) : pucat pada kulit dan membrane mukosa
(konjuntiva, mulut, faring, bibir) dan dasar kuku.
 Catatan: pada pasien kulit hitam, pucat dapat tampak sebagai keabuabuan).
 Kulit seperti berlilin, pucat (aplastik, AP) atau kuning lemon terang
(AP).
 Sklera : biru atau putih seperti mutiara (DB).
 Pengisian kapiler melambat (penurunan aliran darah ke kapiler dan
vasokontriksi kompensasi) kuku : mudah patah, berbentuk seperti
sendok (koilonikia) (DB).
 Rambut : kering, mudah putus, menipis, tumbuh uban secara
premature (AP).

3) Integritas ego

paralysis (AP). 4) Eleminasi Gejala : riwayat pielonefritis.  Gangguan koordinasi. depresi cenderung tidur. tanda Romberg positif.  Nyeri mulut atau lidah. Flatulen. kering. gagal ginjal. 8) Keamanan . tinnitus. feses dengan darah segar. apatis. Diare atau konstipasi. Membrane mukosa kering.  Epitaksis : perdarahan dari lubang-lubang (aplastik). Penurunan haluaran urine. tepung jagung. berdenyut. kotoran.  Tanda : peka rangsang.  Tanda : takipnea. defisiensi asam folat dan vitamin B12).  Mental : tak mampu berespons. tampak kisut/hilang elastisitas (DB). kesulitan menelan (ulkus pada faring). melena. klaudikasi. misalnya penolakan transfusi darah. parestesia tangan/kaki (AP) .  Tanda : lidah tampak merah daging/halus (AP. Sensasi manjadi dingin. dan dispnea. . dan posisi. penurunan rasa getar.Gejala : keyakinanan agama/budaya mempengaruhi pilihan pengobatan. AP). Oftalmik : hemoragis retina (aplastik. Hematemesis. keseimbangan buruk. dyspepsia.  Napas pendek pada istirahat dan aktivitas.  Tidak pernah puas mengunyah atau peka terhadap es.  Adanya penurunan berat badan.. vertigo. Makanan/cairan  Gejala : penurunan masukan diet. lambat dan dangkal. 6) Nyeri/kenyamanan Gejala : nyeri abdomen samara : sakit kepala (DB) 7) Pernapasan  Gejala : riwayat TB. kaki goyah . ataksia. 5) Neurosensori  Gejala : sakit kepala. Tanda : distensi abdomen.  Turgor kulit : buruk. cat. penurunan penglihatan. tanah liat. ketidak mampuan berkonsentrasi. pucat. dan sebagainya (DB). abses paru.  Gejala : riwayat pekerjaan terpajan terhadap bahan kimia.  Kelemahan.  Bibir : selitis. ortopnea. Tanda : depresi. dan bayangan pada mata. misalnya inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah (DB). Stomatitis dan glositis (status defisiensi). Mual/muntah. anoreksia. Insomnia. gelisah. pusing. sindrom malabsorpsi (DB). masukan diet protein hewani rendah/masukan produk sereal tinggi (DB).

4. menggigil. Gangguan penglihatan. atau penurunan granulosit (respons inflamasi tertekan). Konstipasi atau Diare berhubungan dengan penurunan masukan diet. 9) Seksualitas  Gejala : perubahan aliran menstruasi. baik terhadap pengobatan atau      kecelekaan. Transfusi darah sebelumnya. Imppoten. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan sekunder (penurunan hemoglobin leucopenia.  Ptekie dan ekimosis (aplastik). B. . penyembuhan luka buruk. 3. efek samping terapi obat. Riwayat kanker. perubahan proses pencernaan. limfadenopati umum.  Hilang libido (pria dan wanita). 5. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan sirkulasi dan neurologist. Tidak toleran terhadap dingin dan panas. Diagnosa 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah. Riwayat terpajan pada radiasi. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan. sering infeksi.  Tanda : serviks dan dinding vagina pucat. terapi kanker. 2. Tanda : demam rendah. 6. misalnya menoragia atau amenore (DB). Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel. berkeringat malam.

5.7. 3. Rasional : menurunkan risiko kolonisasi/infeksi bakteri. Intervensi : 1. Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurang terpajan/mengingat . dan demam. C. Rasional : meningkatkan ventilasi semua segmen paru dan membantu memobilisasi sekresi untuk mencegah pneumonia. Rasional : menurunkan risiko kerusakan kulit/jaringan dan infeksi. tidak mengenal sumber informasi. Tingkatkan cuci tangan yang baik . Kriteria hasil : . bebas drainase purulen atau eritema. Tingkatkan masukkan cairan adekuat. Pertahankan teknik aseptic ketat pada prosedur/perawatan luka. 2. salah interpretasi informasi . Intervensi/Implementasi keperawatan Intervensi dan implementasi keperawatan pasien dengan anemia (Doenges.meningkatkan penyembuhan luka. . atau penurunan granulosit (respons inflamasi tertekan). latihan batuk dan napas dalam. Berikan perawatan kulit.mengidentifikasi perilaku untuk mencegah/menurunkan risiko infeksi. 1999) adalah : 1) Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan sekunder (penurunan hemoglobin leucopenia. perianal dan oral dengan cermat. . 4. oleh pemberi perawatan dan pasien. Motivasi perubahan posisi/ambulasi yang sering. Rasional : membantu dalam pengenceran secret pernapasan untuk mempermudah pengeluaran dan mencegah stasis cairan tubuh misalnya pernapasan dan ginjal. Tujuan : Infeksi tidak terjadi. Rasional : mencegah kontaminasi silang/kolonisasi bacterial.

Catat adanya menggigil dan takikardia dengan atau tanpa demam. Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria hasil :  menunujukkan peningkatan/mempertahankan berat badan dengan   nilai laboratorium normal. intervensi : 1. Rasional : membatasi pemajanan pada bakteri/infeksi. 10. tidak mengalami tanda mal nutrisi. 9. Berikan antiseptic topical . Berikan makan sedikit dengan frekuensi sering dan atau makan diantara waktu makan. 3. antibiotic sistemik (kolaborasi). Ambil specimen untuk kultur/sensitivitas sesuai indikasi (kolaborasi) Rasional : membedakan adanya infeksi. Kaji riwayat nutrisi. Rasional : mengawasi penurunan berat badan atau efektivitas intervensi nutrisi. Timbang berat badan setiap hari. termasuk makan yang disukai. Rasional : adanya proses inflamasi/infeksi membutuhkanevaluasi/pengobatan 8. Perlindungan isolasi dibutuhkan pada anemia aplastik. Rasional : mungkin digunakan secara propilaktik untuk menurunkan kolonisasi atau untuk pengobatan proses infeksi local. Rasional : indikator infeksi lokal. Rasional : mengidentifikasi defisiensi. perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan atau mempertahankan berat badan yang sesuai. 2. Pantau/batasi pengunjung. Observasi dan catat masukkan makanan pasien. mengidentifikasi pathogen khusus dan mempengaruhi pilihan pengobatan. bila respons imun sangat terganggu. . 7. 4. Catatan : pembentukan pus mungkin tidak ada bila granulosit tertekan. Amati eritema/cairan luka. Pantau suhu tubuh.6. Menununjukkan perilaku. 2) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah. memudahkan intervensi. Rasional : mengawasi masukkan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan. Berikan isolasi bila memungkinkan.

gaya jalan dan kelemahan Rasional: B12 mempengaruhi keamanan pasien/risiko cedera. Kaji kehilangan atau gangguan keseimbangan. Teknik perawatan mulut khusus mungkin diperlukan bila jaringan rapuh/luka/perdarahan dan nyeri berat. 6. flatus dan dan gejala lain yang berhubungan. Kaji kemampuan ADL pasien. Rasional : gejala GI dapat menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ. Rasional : kebutuhan penggantian tergantung pada tipe anemia dan atau adanyan masukkan oral yang buruk dan defisiensi yang diidentifikasi. 9. Kolaborasi . 8. Rasional : meningkatakan efektivitas program pengobatan. . meningkatkan pemasukkan dan mencegah distensi gaster 5. Berikan pencuci mulut yang di encerkan bila mukosa oral luka. Rasional : mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan. Intervensi dan Implementasi: 1.Rasional : menurunkan kelemahan. Observasi dan catat kejadian mual/muntah. pantau hasil pemeriksaan laboraturium. misalnya nadi. 2. meminimalkan oral. Tujuan : dapat mempertahankan/meningkatkan ambulasi/aktivitas.melaporkan peningkatan toleransi aktivitas (termasuk aktivitas sehari-hari) menunjukkan penurunan tanda intolerasi fisiologis. Berikan dan Bantu hygiene mulut yang baik . kemungkinan infeksi. Kolaborasi . 3. otot. gunakan sikat gigi halus untuk penyikatan yang lembut. termasuk sumber diet nutrisi yang dibutuhkan. 3) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan. 7. Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah aktivitas. sebelum dan sesudah makan. Rasional : meningkatkan nafsu makan dan pemasukkan Menurunkan pertumbuhan bakteri. Kolaborasi pada ahli gizi untuk rencana diet. Kriteria hasil : . pernapasan. Rasional : membantu dalam rencana diet untuk memenuhi kebutuhan individual. berikan obat sesuai indikasi. dan tekanan darah masih dalam rentang normal.

Rasional : meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh dan menurunkan regangan jantung dan paru. Gunakan teknik menghemat energi. 2. 3. 5. Catatan : kontraindikasi bila ada hipotensi. batasi pengunjung. auskultasi bunyi napas perhatikan bunyi adventisius. warna kulit/membrane mukosa. dasar kuku. pertahankan tirah baring bila di indikasikan. Awasi tanda vital kaji pengisian kapiler. Rasional : memberikan informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menetukan kebutuhan intervensi.menunjukkan perfusi adekuat. . dan kurangi suara bising. Rasional : meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan seluler. dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel. Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi. 4) Perubahan perfusi jaringan berhubungan tanpa kelemahan. Rasional : meningkatkan aktivitas secara bertahap sampai normal dan memperbaiki tonus otot/stamina Meingkatkan harga diri dan rasa terkontrol. Tujuan : peningkatan perfusi jaringan Kriteria hasil : . Selidiki keluhan nyeri dada/palpitasi. intervensi dan Implementasi: 1. anjurkan pasien melakukan aktivitas semampunya (tanpa memaksakan diri). misalnya tanda vital stabil. Hindari penggunaan botol penghangat atau botol air panas. Berikan lingkungan tenang. anjurkan pasien istirahat bila terjadi kelelahan dan kelemahan.Rasional : manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan. 4. Awasi upaya pernapasan . Ukur suhu air mandi dengan thermometer. Rasional : iskemia seluler mempengaruhi jaringan miokardial/ potensial risiko infark. 4. Rasional : dispnea. 5. gemericik menununjukkan gangguan jajntung karena regangan jantung lama/peningkatan kompensasi curah jantung.

Batasi penggunaan sabun. misalnya kulit domba. 7. intervensi dan implementasi: 1) Kaji integritas kulit. Anjurkan pemukaan kulit kering dan bersih. catat perubahan pada turgor. Rasional : meningkatkan sirkulasi kesemua kulit. gangguan warna. kasur tekanan udara/air. Berikan sel darah merah lengkap/packed produk darah sesuai indikasi. ekskoriasi. Rasional : meningkatkan sirkulasi jaringan.Rasional : termoreseptor jaringan dermal dangkal karena gangguan oksigen. Pelindung tumit/siku dan bantal sesuai indikasi. terkontaminasi. 5) Konstipasi atau Diare berhubungan dengan penurunan masukan diet. efek samping terapi obat. Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi. . perubahan proses pencernaan. mencegah stasis. Reposisi secara periodic dan pijat permukaan tulang apabila pasien tidak bergerak atau ditempat tidur.mengidentifikasi factor risiko/perilaku individu untuk mencegah cedera dermal. Rasional : area lembab. Rasional : mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan /respons terhadap terapi. Rasional : kondisi kulit dipengaruhi oleh sirkulasi. membatasi iskemia 3) jaringan/mempengaruhi hipoksia seluler. Kolaborasi pengawasan hasil pemeriksaan laboraturium. 4) Bantu untuk latihan rentang gerak. Rasional : memaksimalkan transport oksigen ke jaringan. 6. Sabun dapat mengeringkan kulit secara berlebihan. Tujuan : membuat/kembali pola normal dari fungsi usus. Kriteria hasil : . Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan sirkulasi dan neurologist. Gunakan alat pelindung. hangat local. (kolaborasi) Rasional : menghindari kerusakan kulit dengan mencegah /menurunkan tekanan terhadap permukaan kulit. nutrisi dan imobilisasi 2) Jaringan dapat menjadi rapuh dan cenderung untuk infeksi dan rusak. eritema. keranjang. memberikan media yang sangat baik untuk pertumbuhan organisme patogenik.

Rasional : menurunkan distress gastric dan distensi abdomen 6) Kaji kondisi kulit perianal dengan sering. 3) Awasi intake dan output (makanan dan cairan). Rasional : bunyi usus secara umum meningkat pada diare dan menurun pada konstipasi. Rasional : menurunkan motilitas usus bila diare terjadi. 5) Hindari makanan yang membentuk gas. misalnya Metamucil. 7) Kolaborasi ahli gizi untuk diet siembang dengan tinggi serat dan bulk. kehilangan berlebihan atau alat dalam mengidentifikasi defisiensi diet. factor pemberat. Rasional : membantu mengidentifikasi penyebab /factor pemberat dan intervensi yang tepat. stimulant ringan. 8) Berikan pelembek feses. Akan membantu memperthankan status hidrasi pada diare. Rasional : serat menahan enzim pencernaan dan mengabsorpsi air dalam alirannya sepanjang traktus intestinal dan dengan demikian menghasilkan bulk. Pantau keefektifan. misalnya Defenoxilat Hidroklorida dengan atropine (Lomotil) dan obat mengabsorpsi air. yang diperlukan sebagai penyebab. 2) Auskultasi bunyi usus.Kriteria hasil : . Rasional : dapat mengidentifikasi dehidrasi.menunjukkan perubahan perilaku/pola hidup. catat perubahan kondisi kulit atau mulai kerusakan. (kolaborasi). Lakukan perawatan perianal setiap defekasi bila terjadi diare. 9) Berikan obat antidiare. 4) Dorong masukkan cairan 2500-3000 ml/hari dalam toleransi jantung. konsistensi. yang bekerja sebagai perangsang untuk defekasi. . (kolaborasi) Rasional : mempermudah defekasi bila konstipasi terjadi. laksatif pembentuk bulk atau enema sesuai indikasi. Intervensi & Implementasi 1) Observasi warna feses. Rasional : membantu dalam memperbaiki konsistensi feses bila konstipasi. Rasional : mencegah ekskoriasi kulit dan kerusakan. frekuensi dan jumlah.

Menurunkan ansietas dan dapat meningkatkan kerjasama dalam program terapi. salah interpretasi informasi .  Melakukan tiindakan yang perlu/perubahan pola hidup . 6) Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan. Rasional : mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan . 5) Anjurkan klien dan keluarga makanan untuk memperhatikan diet nya. dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang. Pengetahuan menurunkan ansietas. 2) Tinjau tujuan dan persiapan untuk pemeriksaan diagnostic. Rasional : diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan.10) Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurang terpajan/mengingat . 3) Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya. Kriteria hasil : . prosedur diagnostic dan rencana pengobatan.  mengidentifikasi factor penyebab. tidak mengenal sumber informasi. Tujuan : pasien mengerti dan memahami tentang penyakit. klien dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas. selanjutnya meningkatkan beban jantung. Diskusikan kenyataan bahwa terapi tergantung pada tipe dan beratnya anemia. Rasional : megetahui seberapa kondisinya Rasional : sekarang. Rasional : ansietas/ketakutan tentang ketidaktahuan meningkatkan stress. Rasional : memberikan dasar pengetahuan sehingga pasien dapat membuat pilihan yang tepat. 4) Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan penyakitnya. Intervensi & Implementasi 1) Berikan informasi tentang anemia spesifik.pasien menyatakan pemahamannya proses penyakit dan penatalaksanaan penyakit.

dilakukan dengan cara berkesinambungan. prosedur diagnostic dan rencana pengobatan. . 1999:28) Evaluasi pada pasien dengan anemia adalah : 1) Infeksi tidak terjadi. 2) Kebutuhan nutrisi terpenuhi. keluarga dan tenaga kesehatan lainnya. 4) Peningkatan perfusi jaringan. D. 6) Membuat/kembali pola normal dari fungsi usus. 7) Pasien mengerti dan memahami tentang penyakit. 3) Pasien dapat mempertahankan/meningkatkan ambulasi/aktivitas.keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan. dengan melibatkan pasien. (Lynda Juall Capenito. Evaluasi Evaluasi adalah perbandingan yang sistemik atau terencana tentang kesehatan pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan. 5) Dapat mempertahankan integritas kulit.