You are on page 1of 11

Sejarah

Sebelum Lahirnya HMI


Sebelum lahirnya Himpunan Mahasiswa Islam, terlebih dulu berdiri organisasi
kemahasiswaan bernama Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY) pada tahun 1946 yang
beranggotakan seluruh mahasiswa dari tiga Perguruan Tinggi di Yogyakarta, yaitu Sekolah
Tinggi Teknik (STT), Sekolah Tinggi Islam (STI) dan Balai Perguruan Tinggi Gajahmada
yang pada waktu itu hanya memiliki Fakultas Hukum dan Fakultas Sastra. Kegiatan yang
diselenggarakan oleh Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta selalu berbau Kolial Belanda.
Sering pesta dengan poloniase, dansa serta minum-minuman keras.
Oleh karena Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta dirasa tidak memperhatikan kepentingan
para mahasiswa yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Tidak tersalurnya aspirasi
keagamaan merupakan alasan kuat bagi para mahasiswa Islam untuk mendirikan organisasi
kemahasiswaan yang berdiri dan terpisah dari Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta.
Pada tahun 1946, suasana politik di Indonesia khususnya di Ibukota Yogyakarta mengalami
polarisasi antara pihak Pemerintah yang dipelopori oleh Partai Sosialis, pimpinan Syahrir Amir Syarifuddin dan pihak oposisi yang dipelopori oleh Masyumi, pimpinan Soekiman Wali Al-Fatah dan PNI, pimpinan Mangunsarkoro - Suyono Hadinoto serta Persatuan
Pernyangannya Tan Malaka. Polarisasi ini bermula pada dua pendirian yang saling bertolak
belakang, pihak Partai Sosialis (Pemerintah) menitik beratkan perjuangan memperoleh
pengakuan Indonesia kepada perjuangan berdiplomasi, pihak oposisi pada perjuangan
bersenjata melawan Belanda.
Polarisasi ini membawa mahasiswa yang juga sebagian besar dari mereka adalah pengurus
Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta berorientasi kepada Partai Sosialis. Melalu mereka
inilah Partai Sosialis mencoba mendominir Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta. Namun
mahasiswa yang masih memiliki idealis tidak dapat membiarkan usaha Partai Sosialis hendak
mendominir Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta. Dengan suasana yang sangat kritis
dikarenakan Belanda semakin memperkuatkan diri dengan terus-menerus mendatangkan bala
bantuan dengan persenjataan modern yang kemudian pada tanggal 21 Juli 1947 terjadilah
yang dinamakan Agresi Militer Belanda I. Dengan situasi yang demikian para mahasiswa
yang berideologi murni tetap bersatu menghadapi Belanda, mencegak setidak-tidaknya
mengurangi efek-efek dari polarisasi politik yang sangat melemahkan potensi Indonesia
menghadapi Belanda. Karenanya mereka menolah keras akan sikap dominasi Partai Sosialis
terhadap mahasiswa yang dinilai akan mengakibatkan dunia mahasiswa terlibat dalam
polarisasi politik.
Berbagai hal ini yang mendorong beberapa orang mahasiswa untuk mendirikan organisasi
baru. Meskipun sebenarnya jauh sebelum adanya keinginan untuk mendirikan organisasi baru
sudah ada cita-cita akan itu, namun selalu ditunda dan dianggap belum tepat. Namun melihat
dari berbagai kondisi yang ada dirasa cita-cita yang sudah lama diharapkan itu perlu
diwujudkan karena bila membiarkan Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta lebih lama
didominasi oleh Partai Sosialis adalah hal yang tidak tepat. Penolakan sikap dominasi Partai
Sosialis terhadap Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta tidak hanya datang dari kalangan

mahasiswa Islam, melainkan juga mahasiswa kristen, mahasiswa katolik, serta berbagai
mahasiswa yang masih menjunjung teguh ideologi keagamaan.

Awal Berdirinya HMI


Himpunan Mahasiswa Islam di prakarsai oleh Lafran Pane, seorang mahasiswa tingkat I
(semester I) Sekolah Tinggi Islam (sekarang Universitas Islam Indonesia (UII)). Ia
mengadakan pembicaraan dengan teman-temannya mengenai gagasan membentuk organisasi
mahasiswa bernafaskan Islam dan setelah mendapatkan cukup dukungan, pada bulan
November 1946, ia mengundang para mahasiswa Islam yang berada di Yogyakarta baik di
Sekolah Tinggi Islam, Balai Perguruan Tinggi Gajah Mada dan Sekolah Teknik Tinggi, untuk
menghadiri rapat, guna membicarakan maksud tersebut. Rapat-rapat ini dihadiri kurang lebih
30 orang mahasiswa yang di antaranya adalah anggota Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta
dan Gerakan Pemuda Islam Indonesia. Rapat-rapat yang digelar tidak menghasilkan
kesepakatan. Namun Lafran Pane mengambil jalan keluar dengan mengadakan rapat tanda
undangan, yaitu dengan mengadakan pertemuan mendadak yang mempergunakan jam kuliah
Tafsir oleh Husein Yahya. Pada tanggal 5 Februari 1947 (bertepatan dengan 14 Rabiulawal
1366 H), di salah satu ruangan kuliah Sekolah Tinggi Islam di Jalan Setyodiningratan 30
(sekarang Jalan Senopati) Yogyakarta, masuklah Lafran Pane yang langsung berdiri di depan
kelas dan memimpin rapat yang dalam prakatanya mengatakan : "Hari ini adalah rapat
pembentukan organisasi Mahasiswa Islam, karena semua persiapan yang diperlukan sudah
beres".
Kemudian ia meminta agar Husein Yahya memberikan sambutan, namun beliau menolak
dikarenakan kurang memahami apa yang disampaikan sehubungan dengan tujuan rapat
tersebut.
Pernyataan yang dilontarkan oleh Lafran Pane dalam rapat tersebut adalah :

Rapat ini merupakan rapat pembentukan organisasi Mahasiswa Islam yang anggaran
dasarnya telah dipersiapkan.

Rapat ini bukan lagi mempersoalkan perlu atau tidaknya ataupun setuju atau
menolaknya untuk mendirikan organisasi Mahasiswa Islam.

Diantara rekan-rekan boleh menyatakan setuju dan boleh tidak. Meskipun demikian
apapun bentuk penolakan tersebut, tidak menggentarkan untuk tetap berdirinya
organisasi Mahasiswa Islam ketika itu, dikarenakan persiapan yang sudah matang.

Setelah dicerca berbagai pertanyaan dan penjelasan, rapat pada hari itu dapat berjalan dengan
lancar dan semua peserta rapat menyatakan sepakat dan berketetapan hati untuk mengambil
keputusan :

Hari Rabu Pon 1878, 15 Rabiulawal 1366 H, tanggal 5 Februari 1947, menetapkan
berdirinya organisasi Himpunan Mahasiswa Islam disingkat HMI yang bertujuan :
o Mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat
Rakyat Indonesia

o Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam

Mengesahkan anggaran dasar Himpunan Mahasiswa Islam. Adapun Anggaran Rumah


Tangga akan dibuat kemudian.

Membentuk Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam.

Adapun peserta rapat yang berhadir adalah Lafran Pane, Karnoto Zarkasyi, Dahlan Husein,
Maisaroh Hilal (cucu pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan), Suwali, Yusdi Ghozali;
tokoh utama pendiri Pelajar Islam Indonesia (PII), Mansyur, Siti Zainah (istri Dahlan
Husein), Muhammad Anwar, Hasan Basri, Zulkarnaen, Tayeb Razak, Toha Mashudi dan
Bidron Hadi.
Selain itu keputusan rapat tersebut memutuskan kepengurusan Himpunan Mahasiswa Islam
sebagai berikut :
Ketua
Wakil Ketua
Penulis I
Penulis II
Bendahara I
Bendahara II
Anggota

Lafran Pane
Asmin Nasution
Anton Timoer Djailani, salah satu pendiri Pelajar Islam Indonesia (PII)
Karnoto Zarkasyi
Dahlan Husein
Maisaroh Hilal
Suwali
Yusdi Gozali, pendiri Pelajar Islam Indonesia (PII)
Mansyur

Perkembangan HMI
Sejalan dengan perkembangan waktu, HMI terbelah menjadi dua pasca diselenggarakannya
Kongres ke-15 HMI di Medan pada tahun 1983. Pada tahun 1986, HMI yang menerima azas
tunggal Pancasila dengan pertimbangan-pertimbangan politis beserta tawaran-tawaran
menarik lainnya, rela melepaskan azas Islam sebagai azas organisasnya. Selanjutnya HMI
pihak ini disebut sebagai HMI DIPO, dikarenakan bersekretariat di Jalan Pangeran
Diponegoro Jakarta. Sedangkan HMI yang tetap mempertahankan azas Islam kemudian
dikenal dengan istilah HMI MPO (Majelis Penyelamat Organisasi).
Karena alasan untuk menyelamatkan HMI dari ancaman pembubaran oleh rezim Orde Baru,
maka melalui Kongres Padang disepakatilah penerimaan asas tunggal Pancasila.Penerimaan
azas Pancasila di Padang sebenarnya bermula dengan telah adanya penafsiran pasal 28 UUD
45 tentang kebebasan berserikat dan berkumpul yang ditafsirkan sebagai undang unadang
keormasan. Masalah mendasar bagi para kader HMI Padang adalah hasil kongres Palembang
10 Oktober 1971 tentang masuknya PancaSila kedalam mukaddimah AD/ART HMI. karena
sudah masuk di mukaddimah, sedangkan mukaddimah harus menjiwai batang tubuh, maka
senior HMI Padang pada waktu itu merasa tidak keberatan kalau PancaSila dimasukan
kedalam batang tubuh sebagai Azaz, dengan persyaratan alenia I pada mukaddimah AD/ART
HMI tidak berobah " bahwa sesungguhnya Allah swt telah menurunkan Islam sebagai ajaran
yang haq ke permukaan bumi" Setelah penerimaan azas tunggal itu, HMI yang bermarkas di
Jalan Diponegoro sebagai satu-satunya HMI yang diakui oleh negara. Namun pada Kongres

Jambi 1999, HMI (DIPO) kembali ke kepada asas Islam. Namun demikian, HMI DIPO dan
HMI MPO tidak bisa disatukan lagi, meski azasnya sudah sama-sama Islam. Perbedaan
karakter dan tradisi keorganisasian yang sangat besar di antara keduanya, membuat kedua
HMI ini sulit disatukan kembali. HMI DIPO nampak lebih berwatak akomodatif dengan
kekuasaan dan cenderung pragmatis, sementara HMI MPO tetap mempertahankan sikap
kritisnya terhadap pemerintah. Sampai saat ini, HMI merupakan salah satu organisasi
mahasiswa terbesar dan tertua di Indonesia.

Pimpinan

HS Mintareja, periode 1947 - 1951

A. Dahlan Ranuwiharja, periode 1951 - 1953

Deliar Noer, periode 1953 - 1955

Amir Rajab Batubara, periode 1955 - 1957

Ismail Hasan Metareum, periode 1957 - 1960

Nursal, periode 1960 - 1963

Sulastomo, periode 1963 - 1966

Nurcholish Madjid, periode 1966 - 1969

Nurcholish Madjid, periode 1969 - 1971

Akbar Tanjung, periode 1971 - 1974

Ridwan Saidi, periode 1974 - 1976

Chumaidy Syarif Romas, periode 1976 - 1979

Abdullah Hehamahua, periode 1979 - 1981

Ahmad Zacky Siradj, periode 1981 - 1983

Harry Azhar Azis, periode 1983 - 1986

M. Saleh Khalid, periode 1986 - 1988

Kongres

Kongres ke-1 di Yogyakarta pada tanggal 30 November 1947, dengan ketua terpilih
HS Mintareja

Kongres ke-2 di Yogyakarta pada tanggal 15 Desember 1951, dengan ketua terpilih A.
Dahlan Ranuwiharja

Kongres ke-3 di Jakarta pada tanggal 4 September 1953 dengan formatur terpilih
Deliar Noer

Kongres ke-4 di Bandung pada tanggal 14 Oktober 1955 dengan formatur terpilih
Amir Rajab Batubara

Kongres ke-5 di Medan pada tanggal 31 Desember 1957 dengan formatur terpilih
Ismail Hasan Metareum

Kongres ke-6 di Makassar (Ujungpandang) pada tanggal 20 Juli 1960 dengan


formatur terpilih Nursal

Kongres ke-7 di Jakarta pada tanggal 14 September 1963 dengan formatur terpilih
Sulastomo

Kongres ke-8 di Solo (Surakarta) pada tanggal 17 September 1966 dengan formatur
terpilih Nurcholish Madjid

Kongres ke-9 di Malang pada tanggal 10 Mei 1969 dengan formatur terpilih
Nurcholish Madjid

Kongres ke-10 di Palembang pada tanggal 10 Oktober 1971 dengan formatur terpilih
Akbar Tanjung

Kongres ke-11 di Bogor pada tanggal 12 Mei 1974 dengan formatur terpilih Ridwan
Saidi

Kongres ke-12 di Semarang pada tanggal 16 Oktober 1976 dengan formatur terpilih
Chumaidy Syarif Romas

Kongres ke-13 di Makassar (Ujungpandang) pada tanggal 12 Februari 1979 dengan


formatur terpilih Abdullah Hehamahua

Kongres ke-14 di Bandung pada tanggal 30 April 1981 dengan formatur terpilih
Ahmad Zacky Siradj

Kongres ke-15 di Medan pada tanggal 26 Mei 1983 dengan formatur terpilih Harry
Azhar Aziz

Kongres ke-16 di Padang pada tahun 1986, dengan formatur terpilih M. Saleh Khalid,
terpecahnya HMI menjadi dua yakni HMI DIPO dan HMI MPO

Kongres HMI DIPO

Kongres ke-17, di Lhokseumawe, Aceh (6 Juli 1988) dengan formatur terpilih


Herman Widyananda

Kongres ke-18, di Jakarta (24 september 1990)dengan formatur terpilih Ferry


Mursyidan Baldan

Kongres ke-19, di Pekan baru (09 Desember 1992)dengan formatur terpilih M. Yahya
Zaini

Kongres ke-20, di Surabaya (29 Januari 1995)dengan formatur terpilih Taufik Hidayat

Kongres ke-21 di Yogyakarta (26 Agustus 1997), dengan formatur terpilih Anas
Urbaningrum

Kongres ke-22 di Jambi (03 Desember 1999), dengan formatur terpilih Fakhruddin

Kongres ke-23 di Balikpapan (30 April 2002), dengan formatur terpilih Cholis Malik

Kongres ke-24 di Jakarta (23 Oktober 2003), dengan formatur terpilih Hasanuddin

Kongres ke-25 di Makassar (20 Februari 2006), dengan formatur Terpilih Fajar R
Zulkarnaen

Kongres ke-26 di Palembang (28 Juli 2008), dengan formatur terpilih Arip Musthopa

Kongres ke-27 Depok pada tanggal 5 - 10 November 2010, dengan formatur terpilih
Noer Fajriansyah

Kongres ke-28 Jakarta pada tanggal 15 Maret - 15 April 2013, dengan formatur
terpilih Arief Rosyid Hasan

Kongres HMI MPO

Kongres ke-16 di Yogyakarta pada tahun 1986, Ketua Umum : Eggy Sudjana

Kongres ke-17 di Yogyakarta pada tanggal 5 Juli 1988, Ketua Umum : Tamsil
Linrung

Kongres ke-18 di Bogor pada tanggal 10 Oktober 1990, Ketua Umum : Masyhudi
Muqarrabin

Kongres ke-19 di Semarang pada tanggal 24 Desember 1992, Ketua Umum :


Agusprie Muhammad

Kongres ke-20 di Purwokerto pada tanggal 27 April 1995, Ketua Umum : Lukman
Hakim Hassan

Kongres ke-21 di Yogyakarta pada tanggal 28 Juli 1997, Ketua Umum : Imron Fadhil
Syam

Kongres ke-22 di Jakarta pada tanggal 26 Agustus 1999, Ketua Umum : Yusuf
Hidayat

Kongres ke-23 di Makassar pada tanggal 25 Juli 2001, Ketua Umum : Morteza
Syafinuddin Al-Mandary

Kongres ke-24 di Semarang pada tanggal 11 September 2003, Ketua Umum : Cahyo
Pamungkas

Kongres ke-25 di Palu pada tanggal 17 Agustus 2005, Ketua Umum : Muzakkir
Djabir

Kongres ke-26 di Jakarta Selatan pada tanggal 16 Agustus 2007, Ketua Umum :
Syahrul Effendi Dasopang

Kongres ke-27 di Yogyakarta pada tanggal 9 Juni 2009, Ketua Umum : [[]]

Kongres ke-28 di Pekanbaru, Riau tanggal 14 - 19 Juni 2011, Ketua Umum : Alto
Makmuralto

Kongres ke-29 di Bogor pada tanggal 27 Juni 2013, Ketua Umum : Puji Hartoyo

Lembaga Kekaryaan
1. Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI), pencetus terbentuknya Lembaga
Dakwah Kampus (LDK)
2. Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI)
3. Lembaga Ekonomi Mahasiswa Islam (LEMI)
4. Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKMI)
5. Lembaga Bantuan Hukum Mahasiswa Islam (LBHMI)
6. Lembaga Seni dan Budaya Mahasiswa Islam (LSBI)
7. Lembaga Penelitian Mahasiswa Islam (LAPENMI)
8. Lembaga Teknologi Mahasiswa Islam (LTMI)

Pranala luar

(Indonesia) Situs PB HMI DIPO

(Indonesia) Situs PB HMI MPO

(Indonesia) Situs HMI MPO Cabang Jakarta

(Indonesia) Situs KOHATI HMI MPO Cabang Jakarta

(Indonesia) Situs HMI MPO Cabang Makassar

(Indonesia) Situs PB HMI MPO

(Indonesia) Situs PB KOHATI HMI]

(Indonesia) Situs Pengurus Besar Blogger HMI]

(Indonesia) Situs Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI)

(Indonesia) Situs HMI Cabang Jakarta Pusat - Utara

Adapun latar belakang pemikirannya dalam pendirian HMI adalah: "Melihat dan
menyadari keadaan kehidupan mahasiswa yang beragama Islam pada waktu itu,
yang pada umumnya belum memahami dan mengamalkan ajaran agamanya.
Keadaan yang demikian adalah akibat dari sitem pendidikan dan kondisi
masyarakat pada waktu itu. Karena itu perlu dibentuk organisasi untuk merubah
keadaan tersebut. Organisasi mahasiswa ini harus mempunyai kemampuan
untuk mengikuti alam pikiran mahasiswa yang selalu menginginkan inovasi atau
pembaharuan dalam segala bidang, termasuk pemahaman dan penghayatan
ajaran agamanya, yaitu agama Islam. Tujuan tersebut tidak akan terlaksana
kalau NKRI tidak merdeka, rakyatnya melarat. Maka organisasi ini harus turut
mempertahankan Negara Republik Indonesia kedalam dan keluar, serta ikut
memperhatikan dan mengusahakan kemakmuran rakyat.

SIFAT INDEPENDEN HMI


Watak independen HMI adalah sifat organisasi secara etis merupakan karakter dan
kepribadian kader HMI. Implementasinya harus terwujud di dalam bentuk pola pikir,
pola pikir dan pola laku setiap kader HMI baik dalam dinamika dirinya sebagai kader
HMI maupun dalam melaksanakan "Hakekat dan Mission" organisasi HMI dalam
kiprah hidup berorganisasi bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Watak
independen HMI yang tercermin secara etis dalam pola pikir pola sikap dan pola
laku setiap kader HMI akan membentuk "Independensi etis HMI", sementara watak
independen HMI yang teraktualisasi secara organisatoris di dalam kiprah organisasi
HMI akan membentuk "Independensi organisatoris HMI".
Independensi etis adalah sifat independensi secara etis yang pada hakekatnya

merupakan sifat yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Fitrah tersebut membuat
manusia berkeinginan suci dan secara kodrati cenderung pada kebenaran (hanief).
Watak dan kepribadian kader sesuai dengan fitrahnya akan membuat kader HMI
selalu setia pada hati nuraninya yang senantiasa memancarkan keinginan pada
kebaikan, kesucian dan kebenaran adalah ALLAH SUBHANAHU WATA'ALA.
Dengan demikian melaksanakan independensi etis bagi setiap kader HMI berarti
pengaktualisasian dinamika berpikir dan bersikap dan berprilaku baik
"habluminallah" maupun dalam "habluminannas" hanya tunduk dan patuh dengan
kebenaran.
Aplikasi dari dinamika berpikir dan berprilaku secara keseluruhan merupakan watak
azasi kader HMI dan teraktualisasi secara riil melalui, watak dan kepribadiaan serta
sikap-sikap yang :
Cenderung kepada kebenaran (hanif)
Bebas terbuka dan merdeka
Obyektif rasional dan kritis
Progresif dan dinamis
Demokratis, jujur, dan adil
Independensi organisatoris adalah watak independensi HMI yang teraktualisasi
secara organisasi di dalam kiprah dinamika HMI, baik dalam kehidupan intern
organisasi maupun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Independensi organisatoris diartikan bahwa dalam keutuhan kehidupan nasional
HMI secara organisatoris senantiasa melakukan partisipasi aktif, kontruktif, korektif,
dan konstitusional agar perjuangan bangsa dan segala usaha pembangunan demi
mencapai cita-cita semakin hari semakin terwujud. Dalam melakukan partisipasi
partisipasi aktif, kontruktif, korektif dan konstitusional tersebut secara organisasi HMI
hanya tunduk serta teguh kepada prinsip-prinsip kebenaran dan objektifitas.
Dalam melaksanakan dinamika organisasi, HMI secara organisatoris tidak pernah
"commited" dengan kepentingan pihak manapun ataupun kelompok dan golongan
maupun, melainkan tunduk dan terikat kepada kepentingan kebenaran, objektivitas,
kejujuran, dan keadilan.
Agar secara organisatoris HMI dapat melakukan dan menjalankan prinsip-prinsip
independensi organisatorisnya, maka HMI dituntut untuk mengembangkan
"kepemimpinan kuantitatif" serta berjiwa independen sehingga perkembangan,
pertumbuhan dan kebijaksanaan organisasi mampu diemban selaras dengan
hakikat independensi HMI. Untuk itu HMI harus mampu menciptakan kondisi yang

baik dan mantap bagi pertumbuhan dan perkembangan kualitas-kualitas kader HMI.
Dalam rangka menjalin tegaknya "prinsip-prinsip independensi HMI" maka
implementasi independensi HMI kepada anggota adalah sebagai berikut :
Anggota-anggota HMI terutama aktifitasnya dalam melaksanakan tugasnya harus
tunduk kepada ketentuan-ketentuan organisasi serta membawa program perjuangan
HMI. Oleh karena itu, tidak diperkenankan anggota HMI melakukan kegiatankegiatan dengan membawa organisasi atas kehendak pihak luar mana pun juga.
Mereka tidak dibenarkan mengadakan komitmen-komitmen dengan bentuk apapun
dengan pihak luar HMI selain segala sesuatu yang telah diputuskan secara
organisatoris.
Alumni HMI senantiasa diharapkan untuk aktif berjuang menruskan dan
mengembangkan watak independensi etis dimanapun mereka berada dan berfungsi
sesuai dengan minat dan potensi dalam rangka membawa hakikat dan mission HMI.
Dan menganjurkan serta mendorong alumni untuk menyalurkan aspirasi kualitatifnya
secara tepat dan melalui semua jalur pembaktian baik jalur organisasi profesional
kewiraswastaan, lembaga-lembaga sosial, wadah aspirasi poilitik lembaga
pemerintahan ataupun jalur-jalur lainnya yang semata-mata hanya karena hak dan
tanggung jawabnya dalam rangka merealisir kehidupan masyarakat adil makmur
yang diridhoi Allah SWT. Dalam menjalankan garis independen HMI dengan
ketentuan-ketentuan tersebut di atas, pertimbangan HMI semata-mata adalah untuk
memelihara mengembangkan anggota serta peranan HMI dalam rangka ikut
bertanggung jawab terhadap negara dan bangsa. Karenanya menjadi dasar dan
kriteria setiap sikap HMI semata-mata adalah kepentingan nasional bukan
kepentingan golongan atau partai dan pihak penguasa sekalipun. Bersikap
independen berarti sanggup berpikir dan berbuat sendiri dengan menempuh resiko.
Ini adalah suatu konsekuensi atau sikap pemuda. Mahasiswa yang kritis terhadap
masa kini dan kemampuan dirinya untuk sanggup mewarisi hari depan bangsa dan
negara.

STATUS DAN FUNGSI HMI


Status HMI sebagai organisasi mahasiswa memberi petunjuk dimana HMI
berspesialisasi. Dan spesialisasi tugas inilah yang disebut fungsi HMI. Kalau tujuan
menujukan dunia cita yang harus diwujudkan maka fungsi sebaliknya menunjukkan
gerak atau kegiatan (aktifitas) dalam mewujudkan (final gool). Dalam melaksanakan
spesialisasi tugas tersebut, karena HMI sebagai organisasi mahasiswa maka sifat
serta watak mahasiswa harus menjiwai dan dijiwai HMI. Mahasiswa sebagai
kelompok elit dalam masyarakat pada hakikatnya memberi arti bahwa ia memikul
tanggung jawab yang benar dalam melaksanakan fungsi generasinya sebagai kaum
muda muda terdidik harus sadar akan kebaikan dan kebahagiaan masyarakat hari
ini dan ke masa depan. Karena itu dengan sifat dan wataknya yang kritis itu
mahasiswa dan masyarakat berperan sebagai "kekuatan moral"atau moral force
yang senantiasa melaksanakan fungsi "sosial control". Untuk itulah maka kelompok

mahasiswa harus merupakan kelompok yang bebas dari kepentingan apapun


kecuali kepentingan kebenaran dan obyektifitas demi kebaikan dan kebahagiaan
masyarakat hari ini dan ke masa depan. Dalam rangka penghikmatan terhadap
spesialisasi kemahasiswaan ini, akan dalam dinamikanya HMI harus menjiwai dan
dijiwai oleh sikap independen.
Mahasiswa, setelah sarjana adalah unsur yang paling sadar dalam masyarakat. Jadi
fungsi lain yang harus diperankan mahasiswa adalah sifat kepeloporan dalam
bentuk dan proses perubahan masyarakat. Karenanya kelompok mahasiswa
berfungsi sebagai duta-duta pembaharuan masyarakat atau "agen of social
change". Kelompok mahasiswa dengan sikap dan watak tersebut di atas adalah
merupakan kelompok elit dalam totalitas generasi muda yang harus mempersiapkan
diri untuk menerima estafet pimpinan bangsa dan generasi sebelumnya pada saat
yang akan datang.

Oleh sebab itu, fungsi kaderisasi mahasiswa sebenarnya merupakan fungsi yang
paling pokok. Sebagai generasi yang harus melaksanakan fungsi kaderisasi demi
perwujudan kebaikan dan kebahagiaan masyarakat, bangsa dan negaranya di masa
depan maka kelompok mahasiswa harus senantiasa memiliki watak yang progresif
dinamis dan tidak statis. Mereka bukan kelompok tradisionalis akan tetapi sebagai
"duta-duta pembaharuan sosial" dalam pengertian harus menghendaki perubahan
yang terus menerus ke arah kemajuan yang dilandasi oleh nilai-nilai kebenaran.
Oleh sebab itu mereka selalu mencari kebenaran dan kebenaran itu senantiasa
menyatakan dirinya serta dikemukakan melalui pembuktian di alam semesta dan
dalam sejarah umat manusia. Karenanya untuk menemukan kebenaran demi
mereka yang beradab bagi kesejahteraan umat manusia maka mahasiswa harus
memiliki ilmu pengetahuan yang dilandasi oleh nilai kebenaran dan berorientasi
pada masa depan dengan bertolak dari kebenaran Illahi. Untuk mendapatkan ilmu
pengetahuan yang dilandasi oleh nilai-nilai kebenaran demi mewujudkan beradaban
bagi kesejahteraan masyarakat bangsa dan negara maka setiap kadernya harus
mampu melakukan fungsionalisasi ajaran Islam.
Watak dan sifat mahasiswa seperti tersebut diatas mewarnai dan memberi ciri HMI
sebagai organisasi mahasiswa yang bersifat independen. Status yang demikian
telah memberi petunjuk akan spesialisasi yang harus dilaksanakan oleh HMI.
Spesialisasi tersebut memberikan ketegasan agar HMI dapat melaksanakan
fungsinya sebagai organisasi kader, melalui aktifitas fungsi kekaderan. Segala
aktifitas HMI harus dapat membentuk kader yang berkualitas dan komit dengan
nilai-nilai kebenaran. HMI hendaknya menjadi wadah organisasi kader yang
mendorong dan memberikan kesempatan berkembang pada anggota-anggotanya
demi memiliki kualitas seperti ini agar dengan kualitas dan karakter pribadi yang
cenderung pada kebenaran (Hanief) maka setiap kader HMI dapat berkiprah secara
tepat dalam melaksanakan pembaktiannya bagi kehidupan bangsa dan negaranya.