1

STRATEGI PENGEMBANGAN WILAYAH DALAM KERANGKA PEMBANGUNAN EKONOMI NASIONAL YANG LEBIH MERATA DAN LEBIH ADIL
Oleh

MENTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH1)
Abstrak Makalah Makalah ini berisikan uraian upaya percepatan pengembangan wilayah nasional yang relatif masih tertinggal, yaitu Kawasan Timur Indonesia (KTI), Kawasan perbatasan, kawasan tertinggal dan pulau-pulau kecil untuk mewujudkan pembangunan ekonomi nasional yang lebih seimbang dan lebih adil. Upaya yang dilakukan adalah mendorong percepatan pengembangan kawasan andalan nasional terutama sektor-sektor unggulannya dan kawasan tertinggal lainnya seperti kawasan perbatasan yang saling sinergis untuk penguatan struktur ekonomi dan mendorong pemerataan perkembangan wilayah nasional sehingga tercipta keseimbangan perkembangan wilayah yang proporsional. Pembangunan wilayah melalui pendekatan pengembangan kawasan ini, menurut Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional diperkirakan akan berhasil menggeser kontribusi Kawasan Timur Indonesia (KTI) dari hanya 19% tahun 1998 menjadi 32% tahun 2018, share ekonomi perkotaan tetap diantara 60-70%, peningkatan ekspor KTI meningkat dari 25% menjadi 42%. Untuk mewujudkan kebijakan pengembangan ekonomi nasional yang lebih merata dan adil ini ditempu melalui kebijakan pengembangan wilayah nasional dengan menggunakan instrumen penataan ruang. Strategi yang dibutuhkan mewujudkannya adalah melalui upaya membangun komitmen bersama antar sektor dan antar wilayah terhadap pengembangan kawasan (kawasan andalan dan perbatasan), kota-kota (pusat kegiatan nasional dan wilayah) serta sistem prasarana transportasi (arteri dan kolektor primer) dan prasarana sumberdaya air (satuan wilayah sungai).
Makalah ini disampaikan dalam rangka “Konferensi Nasional Ekonomi Indonesia” Putaran ketiga:
1

Mengagas Format Garnd Strategy Ekonomi Indonesia, yang diselenggarakan pada tanggal 9-11 Desember 2003 di Makasar, Sulawesi Selatan.

2

I. PENDAHULUAN 1. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara dengan luas wilayah hampir 2 juta km2 dan berpenduduk lebih 206 juta jiwa pada tahun 2000, memiliki potensi sumberdaya alam baik di laut (marine natural resources) dan di darat (land natural resources) yang sangat besar. Di laut, Indonesia memiliki ± 18.110 pulau dengan garis pantai sepanjang 108.000 km. Berdasarkan Konvensi Hukum Laut (UNCLOS) 1982, Indonesia memiliki kedaulatan atas wilayah perairan seluas 3,2 juta km2 yang terdiri dari perairan kepulauan seluas 2,9 juta km2 dan laut teritorial seluas 0,3 juta km2. Selain itu Indonesia juga mempunyai hak eksklusif untuk memanfaatkan sumber daya kelautan dan berbagai kepentingan terkait seluas 2,7 km2 pada perairan ZEE (sampai dengan 200 mil dari garis pangkal). Di darat, memiliki lahan kehutanan 113 juta ha, lahan sawah produktif 9,9 juta ha, lahan perkebunan produktif 15,5 juta, 60 cekungan prospektif sumber mineral dan migas. 2. Kenyataan bahwa sumberdaya yang berlimpah tersebut tidak merata berada di seluruh daerah. Hal yang sama terjadi dengan sebaran sumberdaya manusia yang merupakan “aktor” pembangunan tersebar juga tidak merata. Implikasi dari ketidak-merataan keberadaan kedua sumberdaya tersebut adalah belum baiknya tingkat pelayanan infrastruktur wilayah melayani kebutuhan wilayah dan masyarakat, terutama daerah-daerah terisolir dan tertinggal. 3. Untuk mengoptimalkan nilai manfaat sumberdaya yang berlimpah tetapi tidak merata tersebut bagi pengembangan wilayah nasional secara berkelanjutan dan menjamin kesejahteraan umum secara luas (public interest), diperlukan intervensi kebijakan dan penanganan khusus oleh Pemerintah untuk

pengelolaan wilayah yang tertinggal. Hal ini seiring dengan agenda Kabinet Gotong Royong untuk menormalisasi kehidupan ekonomi dan memperkuat dasar bagi kehidupan perekonomian rakyat melalui upaya pembangunan yang didasarkan atas sumber daya setempat (resource-based development), dimana baik sumberdaya lautan dan daratan saat ini didorong pemanfaatannya, sebagai salah satu andalan bagi pemulihan perekonomian nasional. II. PENGERTIAN : Pembangunan Ekonomi dan Penataan Ruang 4. Secara sederhana, pembangunan ekonomi dapat dipahami sebagai upaya melakukan perubahan yang lebih baik dari sebelumnya yang ditandai oleh
3

membaiknya faktor-faktor produksi. Faktor-faktor produksi tersebut adalah kesempatan kerja, investasi, dan teknologi yang dipergunakan dalam proses produksi. Lebih lanjut, wujud dari membaiknya ekonomi suatu wilayah diperlihatkan dengan membaiknya tingkat konsumsi masyarakat, investasi swasta, investasi publik, ekspor dan impor yang dihasilkan oleh suatu negara. Secara mudah, perekonomian wilayah yang meningkat dapat diindikasikan dengan meningkatnya pergerakan barang dan masyarakat antar wilayah. 5. Dalam konteks tersebut, pembangunan ekonomi merupakan pembangunan yang a-spasial, yang berarti bahwa pembangunan ekonomi memandang wilayah nasional tersebut sebagai satu “entity”. Meningkatnya kinerja ekonomi nasional sering diterjemahkan dengan meningkatnya kinerja ekonomi seluruh wilayah/daerah. Hal ini memberikan pengertian yang “bias”, karena hanya beberapa wilayah/daerah yang dapat berkembang seperti nasional dan banyak daerah yang tidak dapat berlaku seperti wilayah nasional. Wilayah Indonesia terdirid ari 33 propinsi dengan 400an kabupaten/kota yang secara sosial

ekonomi dan budaya sangat beragam. Keberagaman ini memberikan perbedaan dalam karakteristik faktor-faktor produksi yang dimiliki. Seringkali kebijakan nasional pembangunan ekonomi yang disepakati sulit mencapai tujuan dan sasaran yang diharapkan pada semua daerah-daerah yang memiliki karakteristik sangat berbeda. Contoh, kebijakan nasional untuk industrialisasi, di daerah yang berkarateristik wilayah kepulauan dan laut diantisipasi dengan pembangunan industri perikanan, sedangkan daerah yang berkarakteristik darat dikembangkan melalui pembangunan kawasan industri, serta daerah yang tertinggal merencanakan pembangunan industri tetapi sulit merealisasikannya akibat rendahnya SDM, SDA, dan infrastruktur yang dibutuhkan oleh pengembangan Industri. Pendekatan ini dikenal dengan pembangunan ekonomi wilayah. 6. Pembangunan ekonomi wilayah memberikan perhatian yang luas terhadap keunikan karakteristik wilayah (ruang). Pemahaman terhadap sumberdaya alam, sumberdaya manusia, sumberdaya buatan/infrastruktur dan kondisi kegiatan usaha dari masing-masing daerah di Indonesia serta interaksi antar daerah (termasuk diantara faktor-faktor produksi yang dimiliki) merupakan acuan dasar bagi perumusan upaya pembangunan ekonomi nasional ke depan. 7. UU 24/1992 tentang Penataan Ruang menyebutkan bahwa ruang dipahami sebagai suatu wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan dan ruang
4

udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan mahluk hidup lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya. Dalam konteks ini, sumberdaya alam, sumberdaya manusia, sumberdaya buatan/infrastruktur wilayah dan kegiatan usaha merupakan unsur pembentuk ruang wilayah dan sekaligus unsur bagi pembangunan

ekonomi nasional yang lebih merata dan adil. 8. Penataan ruang tidak terbatas pada proses perencanaan tata ruang saja, namun lebih dari itu termasuk proses pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. • proses perencanaan tata ruang wilayah, yang menghasilkan rencana tata ruang wilayah. Disamping sebagai “guidance of future actions” rencana tata ruang wilayah pada dasarnya merupakan bentuk intervensi yang dilakukan agar interaksi manusia/makhluk hidup dengan lingkungannya dapat berjalan serasi, selaras, seimbang untuk tercapainya kesejahteraan manusia/makhluk hidup serta kelestarian lingkungan dan keberlanjutan pembangunan (development sustainability) • proses pemanfaatan ruang, yang merupakan wujud operasionaliasi rencana tata ruang atau pelaksanaan pembangunan itu sendiri, dan • proses pengendalian pemanfaatan ruang yang terdiri atas mekanisme pengawasan dan penertiban terhadap pelaksanaan pembangunan agar tetap sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan tujuan penataan ruang wilayahnya. Selain merupakan proses untuk mewujudkan tujuan-tujuan pembangunan, penataan ruang sekaligus juga merupakan instrumen yang memiliki landasan hukum untuk mewujudkan tujuan pengembangan wilayah. 9. Sistem perencanaan ruang wilayah secara substansial diselenggarakan secara berhirarkis yakni dalam bentuk RTRW Nasional, RTRW Propinsi dan RTRW Kabupaten/Kota serta rencana-rencana yang sifatnya lebih rinci. RTRWN merupakan perencanaan makro strategis jangka panjang dengan horizon waktu hingga 25 – 50 tahun ke depan dengan menggunakan skala ketelitian 1 : 1.000.000. RTRW Pulau pada dasarnya merupakan instrumen operasionalisasi dari RTRWN. RTRW Propinsi merupakan perencanaan makro strategis jangka menengah dengan horizon waktu 15 tahun pada skala ketelitian 1 : 250.000. Sementara, RTRW Kabupaten dan Kota merupakan perencanaan
5

mikro operasional jangka menengah (5-10 tahun) dengan skala ketelitian 1 : 20.000 hingga 100.000, yang kemudian diikuti dengan rencanarencana rinci yang bersifat mikro-operasional jangka pendek dengan skala ketelitian dibawah 1 : 5.000. III. TANTANGAN PEMBANGUNAN INDONESIA KE DEPAN 10. Tantangan pembangunan Indonesia ke depan sangat berat dan berbeda dengan yang sebelumnya. Paling tidak ada 4 (empat) tantangan yang dihadapi Indonesia, yaitu: (i) otonomi daerah, (ii) pergeseran orientasi pembangunan sebagai negara maritim, (iii) ancaman dan sekaligus peluang globalisasi, serta (iv) kondisi objektif akibat krisis ekonomi. 11. Pertama, Undang-undang No. 22 tahun 1999 secara tegas meletakkan otonomi daerah di daerah kabupaten/kota. Hal ini berarti telah terjadi penguatan yang nyata dan legal terhadap kabupaten/kota dalam menetapkan arah dan target pembangunannya sendiri. Di satu sisi, penguatan ini sangat penting karena secara langsung permasalahaan yang dirasakan masyarakat di kabupaten/kota langsung diupayakan diselesaikan melalui mekanisme yang ada di kabupaten/kota tersebut. Tetapi, di sisi lain, otonomi ini justru menciptakan ego daerah yang lebih besar dan bahkan telah menciptakan konflik antar daerah yang bertetangga dan ancaman terhadap kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. 12. Kedua, reorientasi pembangunan Indonesia ke depan adalah keunggulan sebagai negara maritim. Wilayah kelautan dan pesisir beserta sumberdaya alamnya memiliki makna strategis bagi pembangunan ekonomi Indonesia, karena dapat diandalkan sebagai salah satu pilar ekonomi nasional. 13. Ketiga, ancaman dan peluang dari globalisasi ekonomi terhadap Indonesia yang terutama diindikasikan dengan hilangnya batas-batas negara dalam suatu proses ekonomi global. Proses ekonomi global cenderung melibatkan banyak

negara sesuai dengan keunggulan kompetitifnya seperti sumberdaya manusia, sumberdaya buatan/infrastruktur, penguasaan teknologi, inovasi proses produksi dan produk, kebijakan pemerintah, keamanan, ketersediaan modal, jaringan bisnis global, kemampuan dalam pemasaran dan distribusi global. Ada empat manfaat yang dirasakan dari globalisasi ekonomi, yaitu (i) spesialisasi produk yang didasarkan pada keunggulan absolut atau komparatif, (ii) potensi pasar yang besar bagi produk masal, (iii) kerjasama pemasaran bagi hasil bumi dan tambang untuk memperkuat posisi tawar, dan (iv) adanya pasar bersama
6

untuk produk-produk ekspor yang sama ke pasar Asia Pasifik yang memiliki 70% pasar dunia. Di sisi lain, globalisasi juga memberikan ancaman terhadap ekonomi nasional dan daerah berupa membanjirnya produk-produk asing yang menyerbu pasar-pasar domestik akibat tidak kompetitifnya harga produk lokal. 14. Terakhir, kondisi objektif akibat krisis ekonomi (jatuhnya kinerja makro ekonomi menjadi –13% dan kurs rupiah yang terkontraksi sebesar 5-6 kali lipat) dan multi dimensi yang dialami Indonesia telah menyebabkan tingginya angka penduduk miskin menjadi 49,5 juta atau 24,2% dari total penduduk Indonesia pada tahun 1997/1998 dan mulai membaik pada tahun 1999 menjadi 23,4% atau 47,97 juta jiwa. Di sisi lain, krisis ekonomi ini menjadi pemacu krisis multidimensi, seperti krisis sosial, dan krisis kepercayaan terhadap pemerintah. IV. ISUE PENGEMBANGAN WILAYAH DI INDONESIA 15. Hal yang sering terlupakan dari kebijakan Pembangunan ekonomi nasional sejak mulai tahun 1969 sampai sekarang adalah semakin melebarnya jurang

kesenjangan antar wilayah secara nasional, yaitu antara perkembangan Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang meliputi Pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Bali dan kepulauan Nusa Tenggara, relatif jauh tertinggal dibandingkan dengan perkembangan Kawasan Barat Indonesia (KBI). Faktafakta yang mendasari diperlihatkan sebagai berikut: • Kesenjangan sumberdaya manusia antara KTI dengan KBI yang secara kuantitatif adalah 20% dengan 80% tahun 2002, dan secara kualitatif ditandai oleh Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 62,9 di KTI dan 65,7 di KBI • Kesenjangan ekonomi antara KTI dengan KBI adalah 19% dengan 81% tahun 2002 yang dirinci dalam kinerja sektor-sektor utama, yaitu (i) kontribusi sektor pertanian di KTI dan KBI (22% dan 78%), (ii) sektor industri di KTI dan KBI (10% dan 90%), (iii) investasi asing (PMA) 13,5% dan 86,5%, investasi dalam negeri (PMDN) 19,5% dan 80,5%, dan (iv) ekspor-impor 20% dan 80%. • Kondisi sumberdaya alam di KTI umumnya melimpah dengan sumberdaya lahan (kehutanan dan perkebunan) di Kalimantan, Papua, dan Sulawesi; kelautan di hampir seluruh wilayah KTI dan mineral di Kalimantan, Papua
7

dan Sulawesi serta Nusa Tenggara dan Maluku. Sedangkan di KBI relatif sudah dieksploitasi dengan kegiatan ekonomi perkebunan seperti di Sumatera, kehutanan di Sumatera, industri dan jasa di Jawa dan sebagian Sumatera. • Kondisi sumberdaya buatan/infrastruktur di KTI umumnya masih sangat terbatas dan terkonsentrasi hanya pada wilayah-wilayah tertentu, dan belum berwujud sistem jaringan (networking), dibandingkan dengan di KBI yang sudah berwujud sistem jaringan jalan, rel, listrik, telekomunikasi, sumberdaya air/irigasi, dan sistem kota-kota. 16. Selain kesenjangan KTI dengan KBI, untuk lingkup yang lebih kecil, terjadi kesenjangan perkembangan antar bagian wilayah pulau besar seperti Pantai

Utara dengan Pantai Selatan Pulau Jawa dan Pulau Bali (yaitu 89% berbanding 11% terhadap total PDRB propinsi-propinsi di Jawa dan Bali), Pantai Timur dengan pantai Barat Pulau Sumatera (80% berbanding 20% terhadap total PDRB propinsi-propinsi di Sumatera), Bagian Utara dan Selatan dengan Bagian Tengah dan Tenggara Pulau Sulawesi (masing-masing 78% berbanding 22% terhadap total PDRB propinsi-propinsi di Sulawesi), Bagian pesisir dengan bagian pedalaman Pulau Kalimantan (90% berbanding 10% terhadap total PDRB propinsi-propinsi di Kalimantan). Gambaran kesenjangan ini juga ditandai dengan keberadaan sumberdaya manusia, sumberdaya alam, sumberdaya buatan dan kegiatan usaha yang dalam proporsi yang hampir sama seperti kesenjangan KTI dengan KBI. Kesenjangan antar wilayah juga diindikasikan terjadi antar perkembangan wilayah perkotaan dengan wilayah perdesaan (yaitu: 61,5% berbanding 38,5% terhadap PDB) dan cenderung terus menguntungkan daerah perkotaan dan menguras sumberdaya wilayah perdesaan. Kondisi-kondisi ini menyebabkan terjadinya efek pengeringan di perdesaan yang berakibat rendahnya produktivitas perdesaan dan meningkatkan angka jumlah penduduk miskin. Di sisi lain, melimpahnya sumberdaya di perkotaan tetapi tidak dapat dikelola telah menyebabkan munculnya angka pengangguran yang tinggi dan pekerja di sektor informal yang terus meningkat di perkotaan. Akhirnya menyebabkan rendahnya produktivitas perkotaan. 17. Fakta lain adalah wilayah perbatasan yang umumnya masih sangat rendah perkembangannya, akibat kebijakan masa lalu yang cenderung memarjinalkan wilayah perbatasan dengan hanya berfungsi sebagai jalur pertahanan dan
8

keamanan (Security Belt). Secara umum, kontribusi ekonomi wilayah perbatasan sangat rendah, yaitu kurang dari 0,1% (satu per mil) dari ekonomi

nasional. Hal ini memang menggambarkan belum berkembangnya perekonomian wilayah ini yang secara saling mempengaruhi disebabkan oleh rendahnya tingkat pelayanan transportasi. Padahal wilayah perbatasan ini memiliki potensi yang besar sebagai pintu gerbang negara ke pasar internasional yang besar dan sangat menjanjikan secara ekonomi. Keadaan yang sangat kontras di bagian wilayah negara tetangga yang sangat maju dan berkembang dengan sektor unggulannya sama dengan sektor unggulan wilayah perbatasan Indonesia yang memanfaatkan produk-produk Indonesia seperti kayu dan hasil hutan lainnya, untuk kemudian diekspor lebih lanjut dengan nilai tambah yang jauh lebih besar. 18. Lemahnya interaksi ekonomi antar daerah terutama di KTI. Berdasarkan data survai Asal – Tujuan angkutan barang total ternyata orientasi aliran barang daerah-daerah di KTI yang mencapai lebih dari 90% (sekitar 50 milyar tonase barang dalam setahun) adalah menuju dan berasal dari KBI, terutama kota Jakarta dan Surabaya (dari/ke seluruh daerah-daerah di KTI) dan Semarang (khususnya dari Kalimantan). Dalam konteks ini keterkaitan pengembangan KTI sangat tergantung dengan perkembangan kota-kota di Jawa tersebut. Mayoritas hasil produksi dari seluruh daerah di KTI dibawa menuju ketiga kota yang memiliki industri-industri pengolahan, kemudian diekspor dan atau diantar-pulaukan ke daerah-daerah di KTI berupa barang atau produk konsumsi dan produk jadi. 19. Sistem perdagangan ekspor-impor masih berpihak kepada KBI, terutama pada pelabuhan-pelabuhan di laut kepulauan seperti di Jawa (Tanjung Priok, Tanjung Perak dan Tanjung Emas). Berdasarkan Data Ekspor-Impor antar Pelabuhan di Indonesia pada tahun 2001 sebanyak hampir 40% dari total volume ekspor-impor Indonesia atau US$ 42,5 billion (65,2% dari toal nilai)

dilakukan dari ketiga pelabuhan. Padahal bila dilihat dari komoditi yang diekspor umumnya bahan bakunya berasal daerah KTI dan Sumatera. Hal ini disebabkan belum tersedianya fasilitas ekspor-impor di pelabuhanpelabuhan di KTI yang secara geografis sangat strategis kareana di jalur perdagangan internasional dan akses langsung ke pasar internasional seperti Asia Pasifik, Australia, Timur Tengah dan Afrika serta Eropa. Dalam konteks ini, pengembangan pelabuhan di KTI perlu didorong dengan kualifikasi pelabuhan
9

petikemas sehingga dapat menarik investor untuk mendirikan industri dan bisnis lain dengan dukungan hinterlandnya. 20. Globalisasi ekonomi Untuk itu upaya perlindungan terhadap ancaman yang dilakukan adalah melakukan kerjasama ekonomi yang mendorong kebersamaan negara-negara bertetangga untuk melindungi produkproduk lokal, yaitu melalui kerjasama ASEAN Free Trade (AFTA) yang bahkan akan didorong menjadi integrasi ekonomi ASEAN pada Sidang ASEAN-BIS di Bali, dan kerjasama Asia Pasific Free Trade (APEC). Untuk lebih operasional kerjasama ekonomi multilateral tersebut dijabarkan secara regional. Kerjasama ekonomi sub regional yang terkait dengan Indonesia ada 4, yaitu Indonesia Malaysia Singapura Growth Triangle (IMS-GT), Indonesia Malaysia Thailand Growth Triangle (IMT-GT), Brunei Indonesia Malaysia Philipina Economic Growth (BIMP-EGA), dan Australia Indonesia Development Area (AIDA). 21. Pemanfaatan jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang merupakan jalur pelayaran damai yang menghubungkan dua samudera, yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Keberadaan ALKI yang telah disepakati secara internasional dan kondisi geografis kelautannya sangat mendukung untuk juga dimanfaatkan oleh kepentingan ekonomi. Berdasarkan Unclos tahun 1982,

Indonesia memiliki 3 jalur ALKI, yaitu ALKI I melintasi Laut China Selatan, Natuna, Selat Karimata hingga Selat Sunda, ALKI II Selat Makasar, Laut Flores, hingga Selat Lombok, ALKI III Laut Maluku, Laut Seram, Laut Banda, Selat Ombai, hingga Laut Timor. Pemanfaatan ALKI ini diharapkan daerahdaerah yang dilalui mempunyai akses ke pasar internasonal, terutama Asia Pasifik. 22. Tingginya penduduk miskin yang mencapai 47,97 juta jiwa atau 23,4% total penduduk Indonesia membutuhkan arah kebijakan pembangunan nasional yang lebih memandang pembangunan kualitas pembangunan manusia yang kompetitif sejalan dengan pembangunan ekonomi. Propenas tahun 1999-2004 mengamanatkan perkembangan ekonomi di masa transisi ini adalah tahapan pembangunan untuk pemulihan ekonomi hingga 2004. Pada tahap pemulihan ini, ekonomi nasional akan didorong oleh sektor-sektor yang berperan dalam pemenuhan konsumsi masyarakat, dan sektor yang memiliki nilai tambah lokal yang tinggi dan berorientsi ekspor, serta industri padat karya. 23. Potensi sumberdaya alam Indonesia yang sangat berlimpah sebagai modal bagi pembangunan ekonomi yang lebih merata dan adil, terutama potensi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Potensi tersebut antara lain adalah:
10

• Secara sosial, wilayah pesisir da pulau-pulau kecil dihuni tidak kurang dari 140 juta jiwa atau 60% dari penduduk Indonesia yang bertempat tinggal dalam radius 50 km dari garis pantai.2 Dapat dikatakan bahwa wilayah ini merupakan cikal bakal perkembangan urbanisasi Indonesia pada masa yang akan datang. Secara administratif kurang lebih 42 Kota dan 181 Kabupaten berada di pesisir dan pulau-pulau kecil.

• Secara ekonomi, hasil sumberdaya kelautan telah memberikan kontribusi terhadap pembentukan PDB nasional sebesar 24 % pada tahun 1989. Selain itu, pada wilayah ini juga terdapat berbagai sumber daya masa depan (future resources) dengan memperhatikan berbagai potensinya yang pada saat ini belum dikembangkan secara optimal, yakni (i) potensi perikanan yang saat ini baru sekitar 58,5% dari potensi lestarinya yang termanfaatkan (ii) Besaran nilai investasi baik PMA dan PMDN yang masuk, pada bidang kelautan dan perikanan selama 30 tahun tidak lebih dari 2% dari total investasi di Indonesia. • Selanjutnya, wilayah kelautan juga kaya akan beberapa sumber daya pesisir dan lautan yang potensial dikembangkan lebih lanjut meliputi (a) pertambangan dengan diketahuinya 60 cekungan minyak, (b) perikanan dengan potensi 6,7 juta ton/tahun yang tersebar pada 9 dari 17 titik penangkapan ikan dunia; (c) pariwisata bahari yang diakui dunia dengan keberadaan 21 spot potensial, dan (d) keanekaragaman hayati yang sangat tinggi (natural biodiversity) sebagai daya tarik bagi pengembangan kegiatan “ecotourism” • Secara biofisik, wilayah maritim di Indonesia merupakan pusat biodiversity laut tropis dunia karena hampir 30 % hutan bakau dan terumbu karang dunia terdapat di Indonesia, • Secara politik dan hankam, wilayah maritim merupakan kawasan perbatasan antar-negara maupun antar-daerah yang sensitif dan memiliki implikasi terhadap pertahanan dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 24. Potensi konflik kepentingan (conflict of interest) dan tumpang tindih antar sektor dan stakeholders lainnya dalam pengelolaan dan pemanfaatan
2

Kantor Kementrian Negara Lingkungan Hidup (1998)

11

sumberdaya wilayah. Kondisi ini muncul sebagai konsekuensi beragamnya

sumberdaya yang ada serta karakteristik wilayah yang “open acces” sehingga wilayah tersebut telah menjadi salah satu lokasi utama bagi kegiatankegiatan beberapa sektor pembangunan (multi-use). Dalam hal ini, konflik kepentingan tidak hanya terjadi antar “users” , yakni sektoral dalam pemerintahan dan juga masyarakat setempat dan pihak swasta, namun juga antar penggunaan antara lain (i) kegiatan budidaya dengan pengelolaan lingkungan contoh konflik 150 lokasi pertambangan di kawasan hutan lindung atau kegiatan konservasi laut dan pesisir seperti mangrove, terumbu karang dan biota laut lainnya., (ii) antar kegiatan budidaya seperti pariwisata bahari dan pantai dengan industri maritime seperti perkapalan atau pertambangan dengan 60 cekungan prospektif, seperti minyak, gas, timah dan galian lainnya atau dengan perhubungan laut dan alur pelayaran, alih fungsi hutan 77, 1 juta ha menjadi perkebunan, HTI dan HPH, konversi lahan beririgasi teknis 15.00030.000 ha per tahun menjadi permukiman, dan industri. 25. Potensi konflik kewenangan (jurisdictional conflict) dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya wilayah. Kondisi ini muncul sebagai konsekuensi tidak berhimpitnya pembagian kewenangan yang terbagi menurut administrasi pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dengan kepentingan wilayah tersebut yang seringkali lintas wilayah otonom. Di satu sisi, kejelasan pembagian kewenangan ini diharapkan dapat meningkatkan keberlanjutan dari pemanfaatan sumberdaya wilayah, seiring dengan semakin pendeknya ”span of control” dan semakin jelasnya akuntabilitas dalam pengelolaanya. Di sisi lain, justru hal ini berpotensi menimbulkan persoalan konflik antar wilayah dan potensi disintegrasi ketika kualitas pengelolaan sumberdaya di daerah otonom tersebut sangat dipengaruhi oleh kegiatan yang berada di wilayah kabupaten/kota otonom lainnya yang berada pada bagian atas daratan, hulu atau yang bersebelahan

26. Lemahnya kerangka hukum pengendalian pemanfaatan ruang dalam hal pengaturan sumber daya wilayah serta perangkat hukum untuk penegakannya menyebabkan masih banyaknya pemanfaatan sumberdaya wilayah yang tidak terkendali. Juga tidak adanya kekuatan hukum dan pengakuan terhadap sistem-sistem tradisional dalam pengelolaan sumber daya wilayah. Dalam konteks ini, RTRW dalam berbagai tingkatan yang telah memiliki aspek legal
12

berikut aturan-aturan pelaksanaanya seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai “guidance” dalam pengelolaan sumberdaya wilayah. 27. Walaupun telah menjadi common interests, proses pelibatan masyarakat sebagai subyek utama dalam pengelolaan wilayah pesisir masih belum menemukan bentuk terbaiknya. Persepsi yang berbeda mengenai hak dan kewajiban dari masyarakat seringkali menghadirkan konflik antar kepentingan yang sulit dicarikan solusinya, tingginya transaction cost, dan cenderung merugikan kepentingan publik. Hal lainnya adalah menyangkut tatacara penyampaian aspirasi agar berbagai kepentingan seluruh stakeholders dapat terakomodasi secara adil, efektif, dan seimbang. Pelibatan masyarakat perlu dikembangkan berdasarkan konsensus yang disepakati bersama serta dilakukan dengan memperhatikan karakteristik sosial-budaya setempat (local uniques). V. KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN WILAYAH NASIONAL 28. Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), 1999-2004, mengamanatkan agar pembangunan wilayah Indonesia dapat dilaksanakan secara seimbang dan serasi antara dimensi pertumbuhan dengan dimensi pemerataan, antara pengembangan Kawasan Barat dengan Kawasan Timur Indonesia, serta antara kawasan perkotaan dengan kawasan perdesaan. Hal ini dimaksudkan agar

kesenjangan pembangunan antar wilayah dapat segera teratasi melalui pembangunan yang terencana dengan matang, sistematis, dan bertahap. Dalam kaitan ini, maka pengembangan wilayah merupakan sebuah pendekatan yang digunakan agar tujuan pembangunan nasional sesuai dengan amanat GBHN diatas benar-benar dapat terwujud. 29. Selain itu, pengembangan wilayah menekankan pula keserasian dan keseimbangan antara pembangunan pada kawasan timur Indonesia Timur dengan kawasan Barat Indonesia. wilayah hulu dengan wilayah hilir, antara wilayah daratan (main-land) dengan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil (perairan), serta antara kawasan lindung dan kawasan budidaya. Dengan kata lain, pengembangan wilayah menekankan adanya keserasian dan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dengan kelestarian lingkungan,
13

demi terselenggaranya pembangunan yang berkelanjutan untuk generasi mendatang (sustainable development). 30. Dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional yang terpadu, terarah dan holistik, maka pendekatan pengembangan wilayah untuk pembangunan nasional ditempuh dengan instrumen penataan ruang, yang terdiri dari perencanaan, pembangunan (pemanfaatan ruang) dan pengendalian pemanfaatan ruang. Rencana Tata Ruang merupakan landasan ataupun acuan kebijakan dan strategi pembangunan bagi sektor-sektor maupun wilayahwilayah yang berkepentingan agar terjadi kesatuan penanganan yang sinergis – sekaligus mengurangi potensi konflik lintas wilayah dan lintas sektoral. 31. Dalam upaya memberikan respons terhadap beratnya tantangan yang akan dihadapi pada masa mendatang, serta mendorong percepatan otonomi daerah, maka pada tingkat nasional ditempuh kebijakan pokok revitalisasi penataan ruang yang bertujuan untuk mengfungsikan kembali penataan ruang sejalan

dengan paradigma baru, yakni keterbukaan, akuntabilitas sehingga mampu menjawab berbagai persoalan dan masalah aktual yang ada sekaligus meletakan landasan pembangunan ke depan yang lebih baik. 32. Selain itu, kebijakan penting lainnya yang dikembangkan adalah : (a) penyiapan Norma, Standar, Prosedur dan Manual (NSPM) untuk percepatan desentralisasi bidang pengembangan wilayah melalui penataan ruang ke daerah; (b) peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia serta pemantapan format dan mekanisme kelembagaan pengembangan wilayah dengan penataan ruang, (c) sosialisasi produk-produk penataan ruang kepada masyarakat melalui public campaign dan (d) penyiapan dukungan sistem informasi pengembangan wilayah melalui penataan ruang. 33. Sebagai “penjaga” kepentingan nasional, pemerintah pusat juga mengeluarkan kerangka perencanaan makro dalam wujud RTRWN dan RTR Pulau sebagai operasionalisasinya. Pada tingkatan rencana makro tersebut, yang merupakan fokus penataan adalah bagaimana mewujudkan struktur perwilayahan nasional melalui upaya mensinergikan antar kawasan yang antara lain dicapai dengan pengaturan hirarki fungsional yaitu: sistem kota-kota, sistem jaringan prasarana wilayah, serta fasilitasi kerjasama lintas propinsi, kabupaten, dan kota.
14

34. Strategi pengembangan wilayah nasional diarahkan untuk dapat menyeimbangkan perkembangan Kawasan Timur dengan Kawasan Barat Indonesia dan daerah-daerah tertinggal lainnya, melalui percepatan pembangunan di daerah-daerah tersebut seperti yang diatur dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) 35. RTRWN, yang telah ditetapkan melalui PP No.47/1997 merupakan merupakan acuan spasial perencanaan pembangunan nasional yang bersifat makro dan

dimaksudkan agar pemanfaatan sumber daya alam dalam pembangunan nasional dapat dilakukan secara optimal dan berkelanjutan. RTRWN memuat arahan struktur dan pola pemanfaatan ruang. Struktur ruang wilayah nasional memuat arahan sistem permukiman nasional (perkotaan dan perdesaan) dan prasarana wilayah, sementara itu, pola pemanfaatan ruang nasional memuat arahan pengelolaan kawasan lindung, pengembangan kawasan budidaya prioritas, dan kriteria pengelolaannya. 36. Strategi pengembangan wilayah nasional untuk pembangunan ekonomi yang lebih merata dan adil, antara lain: • Mengembangkan ekonomi daerah dan nasional melalui pengembangan sektor-sektor unggulan pada 112 kawasan andalan yang merupakan ”prime-mover” pengembangan wilayah nasional. Pengembangan kawasan dilakukan pada 57 kawasan andalan dan 23 kawasan andalan laut di KTI dan 55 kawasan andalan dan 14 kawasan andalan laut di KBI. Dengan pengembangan kawasan andalan, paling tidak diperkirakan akan terjadi pergeseran ekonomi nasional secara berarti untuk menjadi lebih merata dan adil, yaitu dari kontribusi ekonomi KTI terhadap nasional 19% tahun 1998 menjadi 35% tahun 2018 dengan laju pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 7,78%, bandingkan dengan laju pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 5,8%. • Mengembangkan kawasan perbatasan sebagai ”beranda depan” negara dan pintu gerbang internasional yang menganut keserasian prinsip-prinsip ekonomi (Prosperity) serta pertahanan dan keamanan (Security). RTRWN menetapkan 9 kawasan perbatasan negara dengan melibatkan 11 propinsi dan 10 negara tetangga. Diharapkan dengan dibukanya akses ke pasar internasional, dan potensi ekonomi daerah terutama potensi sumberdaya alam yang sangat besar seperti ilegal perikanan dan kehutanan yang hilang

15

setiap tahun akibat kegiatan ilegal, yaitu US$ 2 milyar per tahun (kelautan) dan US$ 600 juta per tahun dapat dimanfaatkan dengan pengembangan industri pengolahan perikanan dan kehutanan serta pusat perniagaan terpadu di Perbatasan yang didukung oleh keberadaan fasilitas Keimigrasian, Kepabeanan, Karantina, dan Keamanan. • Mengembangkan simpul-simpul ekonomi daerah dna nasional melalui pengembangan sistem kota-kota yang telah ditetapkan ada 36 kota Pusat Kegiatan Nasional (PKN), 63 kota Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), dan 249 kota Pusat Kegiatan Lokal (PKL) di KTI serta 18 kota PKN, 80 kota PKW, 236 kota PKL di KBI, termasuk 19 kota perbatasan dan 47 kota pantai. Kota-kota ini mempunyai peran dan fungsi sebagai pusat kegiatan ekonomi industri dan jasa nasional dan daerah, yang melayani pasar internasional dan pasar nasional yang diwujudkan dengan keterkaitan antar daerah. Diperkirakan ekonomi perkotaan nasional akan dapat dipertahankan pada 60-70% total ekonomi nasional pada tahun 2018, bandingkan dengan share tahun 1998 sebesar 61%. • Mengembangkan keterkaitan ekonomi antar daerah melalui pengembanagn sistem jaringan transportasi yang mencakup sistem jaringan jalan, rel, pelabuhan laut, dan bandar udara yang melayani pengembangan ekonomi kawasan andalan dan kota-kota, sehingga terwujud struktur ruang wilayah nasional yang utuh dan kuat dalam kerangka negara NKRI. Dukung sistem jaringan transportasi diarahkan untuk ”breakthrough” ketergantungan KTI ke pulau Jawa dan sekaligus membentuk keterkaitan antar daerah yang kuat terutama dengan kota dan outlet berupa pelabuhan laut dan bandar udara. Total ekspor impor KTI yang didukung oleh sistem transportasi ini diperkirakan pada tahun 2018 adalah sebesar 42% dibandingkan tahun 2001 hanya 25%.

• Mengembangkan dukungan sumberdaya air yang mencakup pengelolaan Satuan wilayah Sungai (SWS) dan atau Daerah Pengaliran Sungai (DPS) yang kritis dan strategis (sejumlah 59 SWS) terutama untuk pelayanan terhadap simpul-simpul ekonomi dan kawasan andalan sebagai ”primemover” ekonomi nasional dan daerah. 37. Selanjutnya, untuk dapat mengelola pembangunan ekonomi wilayah secara efisien dan efektif, diperlukan strategi pendayagunaan penataan ruang yang
16

senada dengan semangat otonomi daerah yang disusun dengan memperhatikan faktor-faktor berikut : • Keterpaduan yang bersifat lintas sektoral dan lintas wilayah dalam konteks pengembangan kawasan pesisir sehingga tercipta konsistensi pengelolaan pembangunan sektor dan wilayah terhadap rencana tata ruang kawasan pesisir. • Pendekatan bottom-up atau mengedepankan peran masyarakat (participatory planning process) dalam pelaksanaan pembangunan kawasan pesisir yang transparan dan accountable agar lebih akomodatif terhadap berbagai masukan dan aspirasi seluruh stakeholders dalam pelaksanaan pembangunan. • Kerjasama antar wilayah (antar propinsi, kabupaten maupun kotakota pantai, antara kawasan perkotaan dengan perdesaan, serta antara kawasan hulu dan hilir) sehingga tercipta sinergi pembangunan kawasan pesisir dengan memperhatikan inisiatif, potensi dan keunggulan lokal, sekaligus reduksi potensi konflik lintas wilayah • Penegakan hukum yang konsisten dan konsekuen – baik PP, Keppres, maupun Perda - untuk menghindari kepentingan sepihak dan untuk terlaksananya role sharing yang ‘seimbang’ antar unsur-unsur stakeholders. Dalam hal ini instrument pengaturan bagi wilayah pesisir perlu dirumuskan sebagai turunan dan bagian yang tidak terpisahkan dari UU 24/1992 tentang Penataan Ruang.

38. Sedangkan pada tataran mikro, RTRW Kabupaten, Kota maupun Kawasan merupakan instrument strategi dan landasan implementasi terpadu dalam pengembangan wilayah mulai dari hulu (upstream) hingga hilir (downstream). VI. PENUTUP: Strategi Pengembangan Infrastruktur dalam mewujudkan Pengembangan Wilayah 39. Upaya pembangunan ekonomi wilayah yang mendorong pemerataan dan rasa keadilan memang tidak mudah, tetapi paling tidak dengan adanya strategi pengembangan wilayah ini, arah kebijakan pembangunan ekonomi ke depan akan lebih menjanjikan aspek pemerataan dan keadilan.
17

40. Strategi pengembangan wilayah ini tidak akan dapat efektif dan efisien bila tidak diselenggarakan secara terpadu oleh seluruh sektor (lintas sektor) dan seluruh daerah (lintas wilayah) sebagai bagian komitmen pengembangan wilayah nasional. Kerangka keterpaduan pengembangan wilayah tersebut dapat diselenggarakan dengan memanfaatkan instrument penataan ruang, baik pada tingkat Nasional, Pulau, Propinsi, Kabupaten maupun Kota. 41. Salah satu wujud keterpaduan antar sektor untuk mendukung pembangunan ekonomi yang lebih merata dan adil adalah keterpaduan pembangunan prasarana wilayah, antara lain: _ Pemantapan kehandalan prasarana jalan untuk mendukung kawasan andalan (laut dan darat), termasuk sentra-sentra produksi di wilayah pesisir, melalui: (a) harmonisasi sistim jaringan jalan terhadap tata ruang, (b) pemantapan kinerja pelayanan prasarana jalan terbangun melalui pemeliharaan, rahabilitasi serta pemantapan teknologi terapan, (c) penyelesaian pembangunan ruas jalan untuk memfungsikan sistem jaringan. _ Pemantapan pelayanan sumber daya air, terkait dengan pembangunan wilayah pesisir melalui: (a) Pengelolaan dan konservasi sungai, danau, waduk dan sumber air lainnya untuk menjamin ketersediaan air dan pengamanan pantai untuk melindungi kawasan sentra ekonomi (termasuk

kelautan), pemukiman (perkotaan dan perdesaan) pada wilayah pesisir. (b) Pengembangan pengelolaan sumber daya air yang terkoordinasi secara lintas sektoral dan multi-stakeholders pada tingkat nasional, daerah dan wilayah sungai. _ Pengembangan prasarana dan sarana permukiman, khususnya untuk kotakota pesisir, melalui: (a) peningkatan prasarana dan sarana perkotaan untuk mewujudkan fungsi kota sebagai Pusat Kegiatan Nasional, Wilayah dan Lokal; (b) pengembangan desa pusat pertumbuhan dan prasarana dan sarana antara desa-kota untuk mendukung pengembangan agribisnis dan agropolitan (termasuk sentra-sentra produksi kelautan); (c) mempertahankan tingkat pelayanan dan kualitas jalan kota (arteri dan kolektor primer) bagi kota-kota metro, besar, dan ibukota propinsi.
18

_ Pemenuhan kebutuhan perumahan dan permukiman, yang layak dan terjangkau dengan menitikberatkan pada masyarakat miskin dan berpendapat rendah (seperti pada permukiman nelayan), diantaranya melalui pengembangan sistem pembiayaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. 42. Dukungan penyiapan NSPM untuk penguatan peran pemerintah daerah dan sistem informasi dan sistem peta-peta sebagai instrumen pengendalian pemanfaatan ruang adalah sangat penting. Terlebih bila dikaitkan dengan dinamika otonomi daerah, dimana daerah-daerah diharapkan dapat menyiapkan sejak dini serta dapat merumuskan kebijakan pembangunan wilayah dan nasional secara tepat.
19

DAFTAR PUSTAKA 1. BKTRN, Peraturan Pemerintah NO. 47 Tahun 1997 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, 1997 2. BKTRN, Draf RPP Amandemen PP No. 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, 2003 3. Undang-undang RI No. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) Tahun 2000-2004

4. BPS, Statistik Indonesia Tahun 2001 5. BPS, Batas Miskin, Prosentase dan Jumlah Penduduk Miskin tahun 1976-1999 6. Tambunan, Tulus, “ASEAN-BIS, Adakah Manfaatnya bagi Dunia Usaha”, artikel Media Indonesia tanggal 6 Oktober 2003 7. BPS, Data Ekspor-Impor Pelabuhan di Indonesia tahun 1996-2001, 2001 8. Undang-undang No. 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan Konvensi Perserikatan Bangsa-bangsa tentang Hukum Laut 9. Artikel di Asia Times: Illegal Logging Costing Indonesia Dearly, july 2003 10. Artikel di Detik: Akibat Penangkapan Ikan Liar, Negara dirugikan US$ 1,924 milyar, 16 Januari 2002 11. Kumpulan Profil KSER IMT-GT, IMS-GT, AIDA dan BIMP-EAGA 12. BKTRN, Draf Rancangan Keppres Rencana Tata Ruang Kawasan Perbatasan Kalimantan-Sabah-Sarawak (KASABA), 2003 13. Departemen Perhubungan, Tabel Survai Asal-Tujuan Barang Total tahun 1996

Sejarah perekonomian Indonesia Online Buku Knowledge for a Better Life
• • • •

Home About Contact Us Banner

Flash…

Recent Posts
o o o o o o o o o o o o o o o o

Leonardo da vinci Fidel Castro Kesuksesan Tanadi Santoso TOP 10 Issu Lingkungan Saat ini Ekologi Industri Pada Pengolahan Air Laut Ki Hajar Dewantara Sistem Ekologi Indusri Sebagai Upaya Pelaksanaan Kawasan Industri Bersih Ekologi Industri Pengembangan Kelapa Sawit Mohandas Karamchand Gandhi Mengapa Prestasi Bulutangkis Semakin Menurun? Team Basket Ball Ekologi Industri di Indonesia Kawasan Ekologi Industri Berbasis Industri Pengolahan Tebu Happy New Year! 2010 Indonesia Berduka – Selamat Jalan Gus Dur Boy Macklin on Jokosusilongology

Recent Comments

o o o o o o o o o o o o o o

wawan on Jokosusilongology wahyu on Pengolahan Limbah Plastik Dengan Metode Daur Ulang (Recycle) sumartono on Membuat Real “Green City” sumartono on Membuat Real “Green City” tarkan on Telo (Ubi Jalar) Indonesia diminati Jepang dan Korea Harganya 20 SGD/bungkus Boy Macklin on Selamat Tahun Baru Hijrah 1431H sumartono on Selamat Tahun Baru Hijrah 1431H Danara Tasama Diazt on Limbah Tahu Cair Menjadi Biogas buyung suseno on Limbah Tahu Cair Menjadi Biogas Boy Macklin on Daur Ulang Sampah Plastik Bisnis yang Menjanjikan dan Ramah Lingkungan rinaldi on Pemanfaatan Limbah dari Tanaman Pisang dimas on Daur Ulang Sampah Plastik Bisnis yang Menjanjikan dan Ramah Lingkungan toko buku online on Teori Komunikasi Organisasi #5 husyaini on Daur Ulang Sampah Plastik Bisnis yang Menjanjikan dan Ramah Lingkungan Agro TechnoPark (9) agrobisnis (2) Amdal (4) Analisis Rekayasa Sistem (2) Anda BerOpini & Komentar (1) Bisnis (36) Bisnis Internet (16) Blogging (14) Budaya (5) Creativity (27) Ekologi Industri (34) Ekologi Pekarangan (3) Ekonomi (30) Goggle (4) I Luv U Bandung (1) Islam (11) Kelayakan Bisnis (8) Kompos (3) Komputer dan Internet (19) Kuliner (4) Lingkungan (51) Manajemen (16) Marketing (4) Menulis (13) Moneter (2)

Categories
o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o

o o o o o o o o o o o o o o o o

Motivasi (6) Nasi Goreng (5) OnlineBuku Observation (2) Organisasi SDM (26) Penelitian (3) Perencanaan Bisnis (7) Perkuliahan (7) Pertanian (6) Psikologi Industri (81) safety and health (1) Sistem Bisnis Internasional (9) Supply Chain Management (24) Tek. Pengelolaan Limbah (76) Teknik Industri (12) Tokoh (7) Umum (52) February 2010 January 2010 December 2009 November 2009 October 2009 September 2009 August 2009 July 2009 June 2009 May 2009 April 2009 March 2009 February 2009 January 2009 December 2008 November 2008 October 2008 September 2008 August 2008 July 2008 About
 About OnlineBuku.Com Banner Contact Us

Archives
o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o

Pages
o o o

AdsFav…

Meta
o o o o

Log in Entries RSS Comments RSS WordPress.org

Web Stats
From http://macklin.onbuk.com Creation date; 10:20:00, 12/July/2008. Domain move at www.onlinebuku.com; Creation date: 10:02:32, 1/January/2009. Click this buttom from Histats.com. Google Analytics Creation date; 13:48:00, 22/January/2009

Live Traffic Feed Bandung, Jawa Barat arrived from google.co.id on "Sejarah Perekonomian Indonesia : Online Buku" Jakarta, Jakarta Raya arrived from google.co.id on "Pemanfaatan Limbah Nilam : Online Buku" Semarang, Jawa Tengah arrived from google.co.id on "Mengolah Limbah Sawit menjadi bioetanol dan kompos : Online Buku" Magelang, Jawa Tengah left "Limbah Tahu Cair Menjadi Biogas : Online Buku" via nurullita.wordpress.com Magelang, Jawa Tengah arrived from google.co.id on "Limbah Tahu Cair Menjadi Biogas : Online Buku" Medan, Sumatera Utara arrived from google.co.id on "Pengolahan Limbah Plastik Dengan Metode Daur Ulang (Recycle) : Online Buku" Semarang, Jawa Tengah arrived from google.co.id on "Pengolahan Limbah Plastik Dengan Metode Daur Ulang (Recycle) : Online Buku" Tangerang, Jawa Barat arrived from google.co.id on "Pengolahan Limbah Plastik Dengan Metode Daur Ulang (Recycle) : Online Buku" Jakarta, Jakarta Raya arrived from google.co.id on "Pemahaman Perilaku Kelompok dalam sebuah Kajian Teoritis #3 : Online Buku" Jakarta, Jakarta Raya arrived from google.co.id on "Pengolahan Limbah Plastik Dengan Metode Daur Ulang (Recycle) : Online Buku" Watch in Real-Time
Options>>

Feedjit Live Blog Stats

MiniAds…

Mar
6

Sejarah Perekonomian Indonesia
Filed Under Ekonomi

Indonesia terletak di posisi geografis antara benua Asia dan Eropa serta samudra Pasifik dan Hindia, sebuah posisi yang strategis dalam jalur pelayaran niaga antar benua. Salah satu jalan sutra, yaitu jalur sutra laut, ialah dari Tiongkok dan Indonesia, melalui selat Malaka ke India. Dari sini ada yang ke teluk Persia, melalui Suriah ke laut Tengah, ada yang ke laut Merah melalui Mesir dan sampai juga ke laut Tengah (Van Leur). Perdagangan laut antara India, Tiongkok, dan Indonesia dimulai pada abad pertama sesudah masehi, demikian juga hubungan Indonesia dengan daerahdaerah di Barat (kekaisaran Romawi). Perdagangan di masa kerajaan-kerajaan tradisional disebut oleh Van Leur mempunyai sifat kapitalisme politik, dimana pengaruh raja-raja dalam perdagangan itu sangat besar. Misalnya di masa Sriwijaya, saat perdagangan internasional dari Asia Timur ke Asia Barat dan Eropa, mencapai zaman keemasannya.

Raja-raja dan para bangsawan mendapatkan kekayaannya dari berbagai upeti dan pajak. Tak ada proteksi terhadap jenis produk tertentu, karena mereka justru diuntungkan oleh banyaknya kapal yang “mampir”. Penggunaan uang yang berupa koin emas dan koin perak sudah dikenal di masa itu, namun pemakaian uang baru mulai dikenal di masa kerajaan-kerajaan Islam, misalnya picis yang terbuat dari timah di Cirebon. Namun penggunaan uang masih terbatas, karena perdagangan barter banyak berlangsung dalam sistem perdagangan Internasional. Karenanya, tidak terjadi surplus atau defisit yang harus diimbangi dengan ekspor atau impor logam mulia. Kejayaan suatu negeri dinilai dari luasnya wilayah, penghasilan per tahun, dan ramainya pelabuhan.Hal itu disebabkan, kekuasaan dan kekayaan kerajaan-kerajaan di Sumatera bersumber dari perniagaan, sedangkan di Jawa, kedua hal itu bersumber dari pertanian dan perniagaan. Di masa pra kolonial, pelayaran niaga lah yang cenderung lebih dominan. Namun dapat dikatakan bahwa di Indonesia secara keseluruhan, pertanian dan perniagaan sangat berpengaruh dalam perkembangan perekonomian Indonesia, bahkan hingga saat ini. Seusai masa kerajaan-kerajaan Islam, pembabakan perjalanan perekonomian Indonesia dapat dibagi dalam empat masa, yaitu masa sebelum kemerdekaan, orde lama, orde baru, dan masa reformasi. SEBELUM KEMERDEKAAN

Sebelum merdeka, Indonesia mengalami masa penjajahan yang terbagi dalam beberapa periode. Ada empat negara yang pernah menduduki Indonesia, yaitu Portugis, Belanda,Inggris, dan Jepang. Portugis tidak meninggalkan jejak yang mendalam di Indonesia karena keburu diusir oleh Belanda, tapi Belanda yang kemudian berkuasa selama sekitar 350 tahun, sudah menerapkan berbagai sistem yang masih tersisa hingga kini. Untuk menganalisa sejarah perekonomian Indonesia, rasanya perlu membagi masa pendudukan Belanda menjadi beberapa periode, berdasarkan perubahan-perubahan kebijakan yang mereka berlakukan di Hindia Belanda (sebutan untuk Indonesia saat itu).

Vereenigde

Oost-Indische

Compagnie

(VOC)

Belanda yang saat itu menganut paham Merkantilis benar-benar menancapkan kukunya di Hindia Belanda. Belanda melimpahkan wewenang untuk mengatur Hindia Belanda kepada VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie), sebuah perusahaan yang didirikan dengan tujuan untuk menghindari persaingan antar sesama pedagang Belanda, sekaligus untuk lain 1. 2. 3. 4. 5. b.Hak c.Hak d.Hak e.Hak untuk untuk a.Hak mengangkat menyatakan membuat membuat dan menyaingi perusahaan imperialis meliputi mencetak memberhentikan perang angkatan perjanjian dan bersenjata dengan lain seperti EIC (Inggris). : uang pegawai damai sendiri raja-raja Untuk mempermudah aksinya di Hindia Belanda, VOC diberi hak Octrooi, yang antara

Hak-hak itu seakan melegalkan keberadaan VOC sebagai “penguasa” Hindia Belanda. Namun walau demikian, tidak berarti bahwa seluruh ekonomi Nusantara telah dikuasai VOC. Kenyataannya, sejak tahun 1620, VOC hanya menguasai komoditi-komoditi ekspor sesuai permintaan pasar di Eropa, yaitu rempah-rempah. Kota-kota dagang dan jalur-jalur pelayaran yang dikuasainya adalah untuk menjamin monopoli atas komoditi itu. VOC juga belum membangun sistem pasokan kebutuhan-kebutuhan hidup penduduk pribumi. Peraturan-peraturan yang ditetapkan VOC seperti verplichte leverentie (kewajiban meyerahkan hasil bumi pada VOC ) dan contingenten (pajak hasil bumi) dirancang untuk mendukung monopoli itu. Disamping itu, VOC juga menjaga agar harga rempah-rempah tetap tinggi, antara lain dengan diadakannya pembatasan jumlah tanaman rempah-rempah yang boleh ditanam penduduk, pelayaran Hongi dan hak extirpatie (pemusnahan tanaman yang jumlahnya melebihi peraturan). Semua aturan itu pada umumnya hanya diterapkan di Maluku yang memang sudah diisolasi oleh VOC dari pola pelayaran niaga samudera Hindia. Dengan memonopoli rempah-rempah, diharapkan VOC akan menambah isi kas negri Belanda, dan dengan begitu akan meningkatkan pamor dan kekayaan Belanda. Disamping itu juga diterapkan Preangerstelstel, yaitu kewajiban menanam tanaman kopi

bagi penduduk Priangan. Bahkan ekspor kopi di masa itu mencapai 85.300 metrik ton, melebihi ekspor cengkeh yang Cuma 1.050 metrik ton. Namun, berlawanan dengan kebijakan merkantilisme Perancis yang melarang ekspor logam mulia, Belanda justru mengekspor perak ke Hindia Belanda untuk ditukar dengan hasil bumi. Karena selama belum ada hasil produksi Eropa yang dapat ditawarkan sebagai komoditi imbangan,ekspor perak itu tetap perlu dilakukan. Perak tetap digunakan dalam jumlah besar sebagai alat perimbangan dalam neraca pembayaran sampai tahun 1870-an. Pada tahun 1795, VOC bubar karena dianggap gagal dalam mengeksplorasi kekayaan Hindia Belanda. Kegagalan itu nampak pada defisitnya kas VOC, yang antara lain disebabkan terutama b.Penggunaan c.Korupsi d.Pembagian tentara yang dividen kepada perang sewaan dilakukan para membutuhkan pegawai pemegang saham, biaya VOC walaupun kas oleh : Diponegoro. besar. sendiri. defisit. a.Peperangan yang terus-menerus dilakukan oleh VOC dan memakan biaya besar,

Maka, VOC diambil-alih (digantikan) oleh republik Bataaf (Bataafsche Republiek). Republik Bataaf dihadapkan pada suatu sistem keuangan yang kacau balau. Selain karena peperangan sedang berkecamuk di Eropa (Continental stelstel oleh Napoleon), kebobrokan bidang moneter sudah mencapai puncaknya sebagai akibat ketergantungan akan impor perak dari Belanda di masa VOC yang kini terhambat oleh blokade Inggris di Eropa. Sebelum republik Bataaf mulai berbenah, Inggris mengambil alih pemerintahan di Hindia Belanda. Pendudukan Inggris (1811-1816)

Inggris berusaha merubah pola pajak hasil bumi yang telah hampir dua abad diterapkan oleh Belanda, dengan menerapkan Landrent (pajak tanah). Sistem ini sudah berhasil di India, dan Thomas Stamford Raffles mengira sistem ini akan berhasil juga di Hindia Belanda. Selain itu, dengan landrent, maka penduduk pribumi akan memiliki uang untuk membeli barang produk Inggris atau yang diimpor dari India. Inilah imperialisme modern

yang menjadikan tanah jajahan tidak sekedar untuk dieksplorasi kekayaan alamnya, tapi juga menjadi daerah pemasaran produk dari negara penjajah. Sesuai dengan teori-teori mazhab klasik yang saat itu sedang berkembang di Eropa, antara lain : a.Pendapat Adam Smith bahwa tenaga kerja produktif adalah tenaga kerja yang menghasilkan benda konkrit dan dapat dinilai pasar, sedang tenaga kerja tidak produktif menghasilkan jasa dimana tidak menunjang pencapaian pertumbuhan ekonomi. Dalam hal ini, Inggris menginginkan tanah jajahannya juga meningkat kemakmurannya, agar bisa membeli produk-produk yang di Inggris dan India sudah surplus (melebihi permintaan). b.Pendapat Adam Smith bahwa salah satu peranan ekspor adalah memperluas pasar bagi produk yang dihasilkan (oleh Inggris) dan peranan penduduk dalam menyerap hasil produksi. c.The quantity theory of money bahwa kenaikan maupun penurunan tingkat harga dipengaruhi oleh jumlah uang yang beredar. Akan tetapi, perubahan yang cukup mendasar dalam perekonomian ini sulit dilakukan, dan bahkan mengalami kegagalan di akhir kekuasaan Inggris yang Cuma seumur jagung di apalagi b.Pegawai Hindia untuk pengukur Belanda. menghitung tanah dari Sebab-sebabnya luas Inggris tanah sendiri antara yang jumlahnya lain kena terlalu : pajak. sedikit. a.Masyarakat Hindia Belanda pada umumnya buta huruf dan kurang mengenal uang,

c.Kebijakan ini kurang didukung raja-raja dan para bangsawan, karena Inggris tak mau mengakui suksesi jabatan secara turun-temurun. Cultuurstelstel Cultuurstelstel (sistem tanam paksa) mulai diberlakukan pada tahun 1836 atas inisiatif Van Den Bosch. Tujuannya adalah untuk memproduksi berbagai komoditi yang ada permintaannya di pasaran dunia. Sejak saat itu, diperintahkan pembudidayaan produkproduk selain kopi dan rempah-rempah, yaitu gula, nila, tembakau, teh, kina, karet, kelapa sawit, dll. Sistem ini jelas menekan penduduk pribumi, tapi amat menguntungkan bagi Belanda, apalagi dipadukan dengan sistem konsinyasi (monopoli ekspor). Setelah penerapan kedua sistem ini, seluruh kerugian akibat perang dengan Napoleon di Belanda

langsung

tergantikan

berkali

lipat.

Sistem ini merupakan pengganti sistem landrent dalam rangka memperkenalkan penggunaan uang pada masyarakat pribumi. Masyarakat diwajibkan menanam tanaman komoditas ekspor dan menjual hasilnya ke gudang-gudang pemerintah untuk kemudian dibayar dengan harga yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Cultuurstelstel melibatkan para bangsawan dalam pengumpulannya, antara lain dengan memanfaatkan tatanan politik Mataram–yaitu kewajiban rakyat untuk melakukan berbagai tugas dengan tidak mendapat imbalan–dan memotivasi para pejabat Belanda dengan cultuurprocenten (imbalan yang akan diterima sesuai dengan hasil produksi yang masuk gudang). Bagi masyarakat pribumi, sudah tentu cultuurstelstel amat memeras keringat dan darah mereka, apalagi aturan kerja rodi juga masih diberlakukan. Namun segi positifnya adalah, mereka mulai mengenal tata cara menanam tanaman komoditas ekspor yang pada umumnya bukan tanaman asli Indonesia, dan masuknya ekonomi uang di pedesaan yang memicu meningkatnya taraf hidup mereka. Bagi pemerintah Belanda, ini berarti bahwa masyarakat sudah bisa menyerap barang-barang impor yang mereka datangkan ke Hindia Belanda. Dan ini juga merubah cara hidup masyarakat pedesaan menjadi lebih komersial, tercermin dari meningkatnya jumlah penduduk yang melakukan kegiatan ekonomi nonagraris. Jelasnya, dengan menerapkan cultuurstelstel, pemerintah Belanda membuktikan teori sewa tanah dari mazhab klasik, yaitu bahwa sewa tanah timbul dari keterbatasan kesuburan tanah. Namun disini, pemerintah Belanda hanya menerima sewanya saja, tanpa perlu mengeluarkan biaya untuk menggarap tanah yang kian lama kian besar. Biaya yang kian besar itu meningkatkan penderitaan rakyat, sesuai teori nilai lebih (Karl Marx), bahwa nilai leih ini meningkatkan kesejahteraan Belanda sebagai kapitalis. Sistem Ekonomi Pintu Terbuka (Liberal) Adanya desakan dari kaum Humanis Belanda yang menginginkan perubahan nasib warga pribumi ke arah yang lebih baik, mendorong pemerintah Hindia Belanda untuk mengubah kebijakan ekonominya. Dibuatlah peraturan-peraturan agraria yang baru, yang antara lain mengatur tentang penyewaan tanah pada pihak swasta untuk jangka 75 tahun, dan aturan tentang tanah yang boleh disewakan dan yang tidak boleh. Hal ini nampaknya juga masih

tak

lepas

dari

teori-teori

mazhab

klasik,

antara

lain

terlihat

pada

:

a.Keberadaan pemerintah Hindia Belanda sebagai tuan tanah, pihak swasta yang mengelola perkebunan swasta sebagai golongan kapitalis, dan masyarakat pribumi sebagai buruh penggarap tanah. b.Prinsip keuntungan absolut : Bila di suatu tempat harga barang berada diatas ongkos tenaga kerja yang dibutuhkan, maka pengusaha memperoleh laba yang besar dan mendorong mengalirnya faktor produksi ke tempat tersebut. c.Laissez faire laissez passer, perekonomian diserahkan pada pihak swasta, walau jelas, pemerintah Belanda masih memegang peran yang besar sebagai penjajah yang sesungguhnya. Pada akhirnya, sistem ini bukannya meningkatkan kesejahteraan masyarakat pribumi, tapi malah menambah penderitaan, terutama bagi para kuli kontrak yang pada umumnya tidak Pendudukan diperlakukan Jepang layak. (1942-1945)ÿ

Pemerintah militer Jepang menerapkan suatu kebijakan pengerahan sumber daya ekonomi mendukung gerak maju pasukan Jepang dalam perang Pasifik. Sebagai akibatnya, terjadi perombakan besar-besaran dalam struktur ekonomi masyarakat. Kesejahteraan rakyat merosot tajam dan terjadi bencana kekurangan pangan, karena produksi bahan makanan untuk memasok pasukan militer dan produksi minyak jarak untuk pelumas pesawat tempur menempati prioritas utama. Impor dan ekspor macet, sehingga terjadi kelangkaan tekstil yang sebelumnya didapat dengan jalan impor. Seperti ini lah sistem sosialis ala bala tentara Dai Nippon. Segala hal diatur oleh pusat guna mencapai kesejahteraan bersama yang diharapkan akan tercapai seusai memenangkan perang Pasifik. ORDE LAMA Masa disebabkan Pasca Kemerdekaan oleh (1945-1950) :

Keadaan ekonomi keuangan pada masa awal kemerdekaan amat buruk, antara lain Inflasi yang sangat tinggi, disebabkan karena beredarnya lebih dari satu mata uang secara tidak terkendali. Pada waktu itu, untuk sementara waktu pemerintah RI menyatakan tiga

mata uang yang berlaku di wilayah RI, yaitu mata uang De Javasche Bank, mata uang pemerintah Hindia Belanda, dan mata uang pendudukan Jepang. Kemudian pada tanggal 6 Maret 1946, Panglima AFNEI (Allied Forces for Netherlands East Indies/pasukan sekutu) mengumumkan berlakunya uang NICA di daerah-daerah yang dikuasai sekutu. Pada bulan Oktober 1946, pemerintah RI juga mengeluarkan uang kertas baru, yaitu ORI (Oeang Republik Indonesia) sebagai pengganti uang Jepang. Berdasarkan teori moneter, banyaknya jumlah uang yang beredar mempengaruhi kenaikan tingkat harga. Adanya blokade ekonomi oleh Belanda sejak bulan November 1945 untuk menutup pintu perdagangan Kas luar negara negri RI. kosong.

Eksploitasi besar-besaran di masa penjajahan. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ekonomi, antara lain : Program Pinjaman Nasional dilaksanakan oleh menteri keuangan Ir.Ø Surachman dengan persetujuan BP-KNIP, dilakukan pada bulan Juli 1946. Upaya menembus blokade dengan diplomasi beras ke India, mangadakanØ kontak dengan perusahaan swasta Amerika, dan menembus blokade Belanda di Sumatera dengan tujuan ke Singapura dan Malaysia. Konferensi Ekonomi Februari 1946 dengan tujuan untuk memperolehØ kesepakatan yang bulat dalam menanggulangi masalah-masalah ekonomi yang mendesak, yaitu : masalah produksi dan distribusi makanan, masalah sandang, serta status dan administrasi perkebunan-perkebunan. Pembentukan Planning Board (Badan Perancang Ekonomi) 19 Januari 1947Ø Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan Perang (Rera) 1948Ø >>mengalihkan tenaga bekas petunjuk kekayaan). Masa Demokrasi Liberal (1950-1957) angkatan pelaksanaan yang perang ke bidang-bidang produktif. Kasimo Plan yang intinya mengenai usaha swasembada pangan denganØ beberapa praktis. Dengan swasembada pangan, diharapkan perekonomian akan membaik (Mazhab Fisiokrat : sektor pertanian merupakan sumber

Masa ini disebut masa liberal, karena dalam politik maupun sistem ekonominya menggunakan prinsip-prinsip liberal. Perekonomian diserahkan pada pasar sesuai teoriteori mazhab klasik yang menyatakan laissez faire laissez passer. Padahal pengusaha pribumi masih lemah dan belum bisa bersaing dengan pengusaha nonpribumi, terutama pengusaha Cina. Pada akhirnya sistem ini hanya memperburuk kondisi perekonomian Indonesia yang baru merdeka. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah ekonomi, antara lain : a)Gunting Syarifuddin, yaitu pemotongan nilai uang (sanering) 20 Maret 1950, untuk mengurangi jumlah uang yang beredar agar tingkat harga turun. b)Program Benteng (Kabinet Natsir), yaitu upaya menunbuhkan wiraswastawan pribumi dan mendorong importir nasional agar bisa bersaing dengan perusahaan impor asing dengan membatasi impor barang tertentu dan memberikan lisensi impornya hanya pada importir pribumi serta memberikan kredit pada perusahaan-perusahaan pribumi agar nantinya dapat berpartisipasi dalam perkembangan ekonomi nasional. Namun usaha ini gagal, karena sifat pengusaha pribumi yang cenderung konsumtif dan tak bisa bersaing dengan pengusaha non-pribumi. c)Nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia pada 15 Desember 1951 lewat UU no.24 th 1951 dengan fungsi sebagai bank sentral dan bank sirkulasi. d)Sistem ekonomi Ali-Baba (kabinet Ali Sastroamijoyo I) yang diprakarsai Mr Iskak Cokrohadisuryo, yaitu penggalangan kerjasama antara pengusaha cina dan pengusaha pribumi. Pengusaha non-pribumi diwajibkan memberikan latihan-latihan pada pengusaha pribumi, dan pemerintah menyediakan kredit dan lisensi bagi usaha-usaha swasta nasional. Program ini tidak berjalan dengan baik, karena pengusaha pribumi kurang berpengalaman, sehingga hanya dijadikan alat untuk mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah. e)Pembatalan sepihak atas hasil-hasil KMB, termasuk pembubaran Uni IndonesiaBelanda. Akibatnya banyak pengusaha Belanda yang menjual perusahaannya sedangkan pengusaha-pengusaha pribumi belum bisa mengambil alih perusahaan-perusahaan tersebut.

Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1967) Sebagai akibat dari dekrit presiden 5 Juli 1959, maka Indonesia menjalankan sistem demokrasi terpimpin dan struktur ekonomi Indonesia menjurus pada sistem etatisme (segala-galanya diatur oleh pemerintah). Dengan sistem ini, diharapkan akan membawa pada kemakmuran bersama dan persamaan dalam sosial, politik,dan ekonomi (Mazhab Sosialisme). Akan tetapi, kebijakan-kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah di masa ini belum mampu memperbaiki keadaan ekonomi Indonesia, antara lain : a)Devaluasi yang diumumkan pada 25 Agustus 1959 menurunkan nilai uang sebagai berikut :Uang kertas pecahan Rp 500 menjadi Rp 50, uang kertas pecahan Rp 1000 menjadi Rp 100, dan semua simpanan di bank yang melebihi 25.000 dibekukan. b)Pembentukan Deklarasi Ekonomi (Dekon) untuk mencapai tahap ekonomi sosialis Indonesia dengan cara terpimpin. Dalam pelaksanaannya justru mengakibatkan stagnasi bagi perekonomian Indonesia. Bahkan pada 1961-1962 harga barang-baranga naik 400%. c)Devaluasi yang dilakukan pada 13 Desember 1965 menjadikan uang senilai Rp 1000 menjadi Rp 1. Sehingga uang rupiah baru mestinya dihargai 1000 kali lipat uang rupiah lama, tapi di masyarakat uang rupiah baru hanya dihargai 10 kali lipat lebih tinggi. Maka tindakan pemerintah untuk menekan angka inflasi ini malah meningkatkan angka inflasi. Kegagalan-kegagalan dalam berbagai tindakan moneter itu diperparah karena pemerintah tidak menghemat pengeluaran-pengeluarannya. Pada masa ini banyak proyek-proyek mercusuar yang dilaksanakan pemerintah, dan juga sebagai akibat politik konfrontasi dengan Malaysia dan negara-negara Barat. Sekali lagi, ini juga salahsatu konsekuensi dari pilihan menggunakan sistem demokrasi terpimpin yang bisa diartikan bahwa Indonesia berkiblat ke Timur (sosialis) baik dalam politik, eonomi, maupun bidangbidang lain. ORDE BARU Pada awal orde baru, stabilisasi ekonomi dan stabilisasi politik menjadi prioritas utama. Program pemerintah berorientasi pada usaha pengendalian inflasi, penyelamatan keuangan negara dan pengamanan kebutuhan pokok rakyat. Pengendalian inflasi mutlak dibutuhkan, karena pada awal 1966 tingkat inflasi kurang lebih 650 % per tahun.

Setelah melihat pengalaman masa lalu, dimana dalam sistem ekonomi liberal ternyata pengusaha pribumi kalah bersaing dengan pengusaha nonpribumi dan sistem etatisme tidak memperbaiki keadaan, maka dipilihlah sistem ekonomi campuran dalam kerangka sistem ekonomi demokrasi pancasila. Ini merupakan praktek dari salahsatu teori Keynes tentang campur tangan pemerintah dalam perekonomian secara terbatas. Jadi, dalam kondisi-kondisi dan masalah-masalah tertentu, pasar tidak dibiarkan menentukan sendiri. Misalnya dalam penentuan UMR dan perluasan kesempatan kerja. Ini adalah awal era Keynes di Indonesia. Kebijakan-kebijakan pemerintah mulai berkiblat pada teori-teori Keynesian. Kebijakan ekonominya diarahkan pada pembangunan di segala bidang, tercermin dalam 8 jalur pemerataan : kebutuhan pokok, pendidikan dan kesehatan, pembagian pendapatan, kesempatan kerja, kesempatan berusaha, partisipasi wanita dan generasi muda, penyebaran pembangunan, dan peradilan. Semua itu dilakukan dengan pelaksanaan pola umum pembangunan jangka panjang (25-30 tahun) secara periodik lima tahunan yang disebut Pelita (Pembangunan lima tahun). Hasilnya, pada tahun 1984 Indonesia berhasil swasembada beras, penurunan angka kemiskinan, perbaikan indikator kesejahteraan rakyat seperti angka partisipasi pendidikan dan penurunan angka kematian bayi, dan industrialisasi yang meningkat pesat. Pemerintah juga berhasil menggalakkan preventive checks untuk menekan jumlah kelahiran lewat KB dan pengaturan usia minimum orang yang akan menikah. Namun dampak negatifnya adalah kerusakan serta pencemaran lingkungan hidup dan sumber-sumber daya alam, perbedaan ekonomi antar daerah, antar golongan pekerjaan dan antar kelompok dalam masyarakat terasa semakin tajam, serta penumpukan utang luar negeri. Disamping itu, pembangunan menimbulkan konglomerasi dan bisnis yang sarat korupsi, kolusi dan nepotisme. Pembangunan hanya mengutamakan pertumbuhan ekonomi tanpa diimbangi kehidupan politik, ekonomi, dan sosial yang adil. Sehingga meskipun berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tapi secara fundamental pembangunan nasional sangat rapuh. Akibatnya, ketika terjadi krisis yang merupakan imbas dari ekonomi global, Indonesia merasakan dampak yang paling buruk. Harga-harga meningkat secara drastis, nilai tukar

rupiah melemah dengan cepat, dan menimbulkan berbagai kekacauan di segala bidang, terutama ekonomi. ORDE REFORMASI Pemerintahan presiden BJ.Habibie yang mengawali masa reformasi belum melakukan manuver-manuver yang cukup tajam dalam bidang ekonomi. Kebijakan-kebijakannya diutamakan untuk mengendalikan stabilitas politik. Pada masa kepemimpinan presiden Abdurrahman Wahid pun, belum ada tindakan yang cukup berarti untuk menyelamatkan negara dari keterpurukan. Padahal, ada berbagai persoalan ekonomi yang diwariskan orde baru harus dihadapi, antara lain masalah KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), pemulihan ekonomi, kinerja BUMN, pengendalian inflasi, dan mempertahankan kurs rupiah. Malah presiden terlibat skandal Bruneigate yang menjatuhkan kredibilitasnya di mata masyarakat. Akibatnya, kedudukannya digantikan oleh presiden Megawati. Masa kepemimpinan Megawati Soekarnoputri Masalah-masalah yang mendesak untuk dipecahkan adalah pemulihan ekonomi dan penegakan hukum. Kebijakan-kebijakan yang ditempuh untuk mengatasi persoalanpersoalan ekonomi antara lain : a)Meminta penundaan pembayaran utang sebesar US$ 5,8 milyar pada pertemuan Paris Club ke-3 dan mengalokasikan pembayaran utang luar negeri sebesar Rp 116.3 triliun. b)Kebijakan privatisasi BUMN. Privatisasi adalah menjual perusahaan negara di dalam periode krisis dengan tujuan melindungi perusahaan negara dari intervensi kekuatankekuatan politik dan mengurangi beban negara. Hasil penjualan itu berhasil menaikkan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,1 %. Namun kebijakan ini memicu banyak kontroversi, karena BUMN yang diprivatisasi dijual ke perusahaan asing. Di masa ini juga direalisasikan berdirinya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), tetapi belum ada gebrakan konkrit dalam pemberantasan korupsi. Padahal keberadaan korupsi membuat banyak investor berpikir dua kali untuk menanamkan modal di Indonesia, dan mengganggu jalannya pembangunan nasional. Masa Kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono

Kebijakan kontroversial pertama presiden Yudhoyono adalah mengurangi subsidi BBM, atau dengan kata lain menaikkan harga BBM. Kebijakan ini dilatar belakangi oleh naiknya harga minyak dunia. Anggaran subsidi BBM dialihkan ke subsidi sektor pendidikan dan kesehatan, serta bidang-bidang yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kebijakan kontroversial pertama itu menimbulkan kebijakan kontroversial kedua, yakni Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat miskin. Kebanyakan BLT tidak sampai ke tangan yang berhak, dan pembagiannya menimbulkan berbagai masalah sosial. Kebijakan yang ditempuh untuk meningkatkan pendapatan perkapita adalah mengandalkan pembangunan infrastruktur massal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengundang investor asing dengan janji memperbaiki iklim investasi. Salah satunya adalah diadakannya Indonesian Infrastructure Summit pada bulan November 2006 lalu, yang mempertemukan para investor dengan kepala-kepala daerah. Menurut Keynes, investasi merupakan faktor utama untuk menentukan kesempatan kerja. Mungkin ini mendasari kebijakan pemerintah yang selalu ditujukan untuk memberi kemudahan bagi investor, terutama investor asing, yang salahsatunya adalah revisi undang-undang ketenagakerjaan. Jika semakin banyak investasi asing di Indonesia, diharapkan jumlah kesempatan kerja juga akan bertambah. Pada pertengahan bulan Oktober 2006 , Indonesia melunasi seluruh sisa utang pada IMF sebesar 3,2 miliar dolar AS. Dengan ini, maka diharapkan Indonesia tak lagi mengikuti agenda-agenda IMF dalam menentukan kebijakan dalam negri. Namun wacana untuk berhutang lagi pada luar negri kembali mencuat, setelah keluarnya laporan bahwa kesenjangan ekonomi antara penduduk kaya dan miskin menajam, dan jumlah penduduk miskin meningkat dari 35,10 jiwa di bulan Februari 2005 menjadi 39,05 juta jiwa pada bulan Maret 2006. Hal ini disebabkan karena beberapa hal, antara lain karena pengucuran kredit perbankan ke sector riil masih sangat kurang (perbankan lebih suka menyimpan dana di SBI), sehingga kinerja sector riil kurang dan berimbas pada turunnya investasi. Selain itu, birokrasi pemerintahan terlalu kental, sehingga menyebabkan kecilnya realisasi belanja Negara dan daya serap, karena inefisiensi pengelolaan anggaran. Jadi, di satu sisi pemerintah berupaya mengundang investor dari luar negri, tapi di lain pihak, kondisi dalam negeri masih kurang kondusif.

SUMBER -Buku -Buku Sejarah Perekonomian Indonesia ——————————————– ***** ——————————————– Perekonomian

: Indonesia

Comments
12 Responses to “Sejarah Perekonomian Indonesia” 1. Umar Puja Kesuma, S.Pd. on March 6th, 2009 20:36 Oh.. my God! lengkap sekali Mas Boy! Maaf ya, gak bisa komen panjang nih. Langsung saya save saja untuk dibaca offline. Saya tunggu artikel luar biasa berikutnya, Mas! 2. sumartono on March 6th, 2009 20:52 Ingat waktu masih kuliah nih, tapi saya akui walau posting-postingnya berat tapi sarat edukatif. Maklum dosen ya mas? Btw, saya suka baca onbuknya… tapi belum order. 3. Boy Macklin on March 6th, 2009 22:15 @mas umar.. Boleh mas gpp… @mas sumartono Gpp… baca dulu juga boleh koq mas…

4. fahmi on July 27th, 2009 23:12 thx… brguna bwt adik gw… he… 5. Nicky Carter on August 26th, 2009 08:47 boleh ga ditampilkan tapi hanya yang masa sebelum kemerdekaan??? 6. del on November 1st, 2009 20:05 assalamualaikum wr.wb makasih banyak ya bang,,,,coz dah bantuan ana untuk mata kul sej perekonomian nie dosennya g”da ngasih tw pa buku yang harus kita baca….oy bang boleh g” nanti bagi2 informasi tentang sejarah perekonomian indonesia…..kasih tw juga ya bang judul bukunya pa…. wasallam…….~_~v 7. Boy Macklin on November 1st, 2009 21:30 Okey bang… siap… saya kasi referensi yang top… untuk di baca… Buku terbaru: Lanskap Perekonomian Indonesia Penulis Faisal Basri dan satu lagi Analisis Perekonomian Nasional dan Internasional penulis Dr. Marsuki, DEA. Itu judul yang Top yang bisa dijadikan cerminan ekonomi Indonesia saat ini. Dari Jaman Walanda (Netherland) sebenernya ekonomi Indonesia tidak berubah banyak… Hanya penguasanya saja yang berubah. Semoga Jaman SBY sekarang banyak perubahan total dengan pemikir seperti Boediono. Kalao masalah KPK VS POLRI salah ambil keputusan, kepercayaan publik menurun terhadap pemerintah. Pejabat tinggi bisa di obok2 sama pulisi apalagi rakyat kecil. Kaitannya, kalau urusan yang besar seperti ini tidak selesai, investor semakin ragu saja mau nanam modal di Indonesia. Akhirnya eksploitasi ekonomi lagi… trims bang Del sudah berkunjung di OnlineBuku.com 8. Ade Mukhlis on November 4th, 2009 23:36 Makasih banyak ya bang…… dah dapat bahan kuliah buat perekonomian indonesia, thakns berat… di tunggu ilmu ilmu selanjutnya… 9. Boy Macklin on November 5th, 2009 11:01 sama mas Ade… semoga ada manfaat…. 10. joule_aceh on November 14th, 2009 16:13

wah, mantap bget mas. saya uda nyari yang beginian tuk tugas kuliah tapi gak dapat2, untung da artikel mas, mantap sangat. jangan lupa mas, salam dari kami untuk mas ,,, salam fr aceh. semoga mas jaya selalu, tqyu ya mas, jasa mas slu saya ingat, jasa mas sungguh tiada tara. 11. tina & okem on December 10th, 2009 18:20 isinya top abiezz dah,pas bgd ada tugas makalah… isinya lengkap nih.. thx yahh 12. DICKY on December 14th, 2009 15:53 KURANG DOWOOO . . BAGUS, TINGKATKAN ! Leave a Reply Name (required)
þÿ

Email Address(required)
þÿ

Website
þÿ

þÿ

CAPTCHA Code

Submit Comment

Submit Comment


þÿ
Search

Search for:

Posting Calendar
March 2009 S M T W T F S « Feb Apr » 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

JumboAds

00 Transfer Uang
o o o o o o o o

Transfer Uang Alie Alumni BPI 1 – 92 Arief Maulana Blog Bisnis Muklis Blog Nasi Goreng Opang Blogger Pendukung SBY Buddy Nugraha

Balad Onbuk - Online Buku

o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o

Bugiakso cLuTz – David Panjaitan Dhani Esperanza Didit DR Emmy – Breast Cancer and Treatment Fadly Muin Ferry’s Blog Handoko Tantra Isdaryanto Joko Purnomo Joko Susilo Kang Dadang Firdaos Koleksi Lagu Alone At Last Kualatungkal Boy Lehmann Madhysta Mommy Adit Nita Fitria Rakhmat Junaidi Rizky Ramadhan Rully Nugraha Stop Dreaming Start Action Sugiana, SP. Sumartono Suwandi Takupol Movie Umar Puja Kesuma Yanuar Bataxview Bookstore Clothes Gulaku Manis House of Risoles Ikan Guppy Jangkrik Kita Kerajinan Rajapolah Kompor Batu Bara Kopi Sidikalang Life Style Bandung Talawang Tanah Deli Turismo de Timor-Leste

Embryo - 1st Gen

Internet Banking

o o o o o o o o o o o o o o o o o o

BNI Internet Banking Klik BCA Mandiri Internet Banking Geografi Australia Perencanaan Tata Letak Fasilitas AFI Agen Promo Aura CMS Bandung Blog Action Desain Rumah Tinggal Ebook Bisnis Ebook Karikatur Mizan Amanah Nasi Goreng Opang Top Seratus: 100 Blog Indonesia Terbaik Wisata Bandung WP Indonesia Detik News Google News Biasa Saja Pojok Serba-serbi Indonesia Google MSN Yahoo Institut Teknologi Bandung Universitas Padjadjaran Universitas Pasundan Universitas Pendidikan Indonesia Universitas Widyatama Agro TechnoPark (9) agrobisnis (2) Amdal (4) Analisis Rekayasa Sistem (2) Anda BerOpini & Komentar (1)

Link Download Link Situs

NEWS
o o o o o o o o o o o o o o o o o

Science & Knowledge Submit URL Universitas

Categories

o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o

Bisnis (36) Bisnis Internet (16) Blogging (14) Budaya (5) Creativity (27) Ekologi Industri (34) Ekologi Pekarangan (3) Ekonomi (30) Goggle (4) I Luv U Bandung (1) Islam (11) Kelayakan Bisnis (8) Kompos (3) Komputer dan Internet (19) Kuliner (4) Lingkungan (51) Manajemen (16) Marketing (4) Menulis (13) Moneter (2) Motivasi (6) Nasi Goreng (5) OnlineBuku Observation (2) Organisasi SDM (26) Penelitian (3) Perencanaan Bisnis (7) Perkuliahan (7) Pertanian (6) Psikologi Industri (81) safety and health (1) Sistem Bisnis Internasional (9) Supply Chain Management (24) Tek. Pengelolaan Limbah (76) Teknik Industri (12) Tokoh (7) Umum (52) Leonardo da vinci Fidel Castro Kesuksesan Tanadi Santoso TOP 10 Issu Lingkungan Saat ini Ekologi Industri Pada Pengolahan Air Laut Ki Hajar Dewantara Sistem Ekologi Indusri Sebagai Upaya Pelaksanaan Kawasan Industri Bersih

Recent Posts

o o o o o o o o

Ekologi Industri Pengembangan Kelapa Sawit Mohandas Karamchand Gandhi Mengapa Prestasi Bulutangkis Semakin Menurun? Team Basket Ball Ekologi Industri di Indonesia Kawasan Ekologi Industri Berbasis Industri Pengolahan Tebu Happy New Year! 2010 Indonesia Berduka – Selamat Jalan Gus Dur

AdsInsert…

þÿ

Search

Search and browse article sources updated continuously.

Copyright © 2008 Online Buku • Powered by WordPress • Using Blue Zinfandel theme by Brian Gardner Copyright © 2008 OnlineBuku.Com • Content Management oleh Boy Macklin • Sindikasi Sistem TransferUang.Com dan SegaGoreng.Com

A Beautiful Mind
It is only an unjustified opinion of mind, a simple notion of consciousness

Tuesday, July 21, 2009
Strategi Pembangunan Indonesia
Hingar bingar pemilu presiden (pilpres) telah berangsur senyap. Tanggal 8 Juli 2009 seakan menjadi muara dari perjalanan panjang para calon presiden (capres). Jika tidak ada kejadian yang luar biasa kemungkinan besar kita akan mendapati SBY untuk kembali menjabat menjadi presiden RI. Dalam pilpres kali ini, banyak cerita yang telah bertempat tetapi hanya satu yang pasti terekam benar dalam benak publik yaitu janji-janji kampanye. Dalam setiap kampanyenya, para capres selalu menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai salah satu jualan utamanya. Pertumbuhan ekonomi pun ditarget mulai dari yang sulit hingga berat ditakar nalar. Terlepas dari irasionalitas dalam penentuan target pertumbuhan ekonomi, konsensus para capres untuk menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan utama merupakan sebuah perilaku yang obsolit. Para capres seakan kikir dalam berfikir sehingga khilaf dalam menentukan tujuan dan sarana. Oleh karenanya, menarik untuk dikaji apakah pertumbuhan ekonomi merupakan tujuan atau sarana demi menggapai sesuatu yang sifatnya lebih fundamental. Tujuan dan Sarana Pembangunan Amartya sen, dalam bukunya yang fenomenal berjudul Development as Freedom, dari jauh hari telah mengingatkan para penguasa bahwa pertumbuhan ekonomi tidak bisa semata-mata ditujukan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Lebih lanjut, Sen memberi saran untuk menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai sebuah jalan bagi pemerintah dalam meningkatkan fungsi pelayanan sosial kepada masyarakat. Subsidi pendidikan, kesehatan, dan jaring pengaman sosial sudah semestinya mendapat porsi utama dalam rencana jangka panjang pemerintah sebab dengan fungsi-fungsi inilah pembangunan ekonomi yang sehat dan berkelanjutan dapat dicapai. Dalam hal fungsi pelayanan sosial, khususnya pemenuhan kebutuhan pendidikan dasar, Jepang merupakan sebuah negara yang dapat dijadikan rujukan utama. Sejak zaman restorasi Meiji, rerata melek huruf di Negara ini telah melebihi bangsa-bangsa di Eropa meskipun pada zaman tersebut, Jepang masih tertinggal jauh dari Eropa dalam proses industralisasi. Berbekal pendidikan yang memadai, Jepang dalam waktu yang tidak begitu lama telah mampu mengejar ketertinggalannya dari Eropa. Kualiatas sumber daya manusia ditenggarai sebagai sumber utama yang pada gilirannya mengakselerasi pembangunan ekonomi Jepang. Dalam konteks ini, social opportunities merupakan kunci dari sustainabilitas pertumbuhan ekonomi. Visi jangka panjang dari pembangunan ekonomi Indonesia sudah semestinya berfokus pada perluasan akses dan kesempatan masyarakat terhadap pelbagai fasilitas ekonomi.

Konsensus Washington Tujuan-tujuan ini sebenarnya telah terangkum dalam Konsensus Washington melalui beberapa poinnya. Poin pertama adalah melalui disiplin fiskal dimana hal ini merupakan syarat utama dari sustainabilitas Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN). Sudah merupakan rahasia umum bahwa APBN merupakan alat diskresi pemerintah yang paling ampuh, oleh karenanya dengan sistem money follow function, APBN dapat menopang laju pertumbuhan ekonomi. Celakanya, semangat dari masing-masing departemen adalah menaikkan rencana anggaran pada setiap tahun fiskal, hal ini pada gilirannya membuat APBN tidak prudent dan rentan terhadap shock eksternal. Asumsi disiplin fiskal juga merupakan fondasi demi menjalankan poin kedua dalam Konsensus Washington yaitu memfokuskan belanja pemerintah terhadap sektor-sektor yang dapat meratakan distribusi pendapatan masyarakat seperti penyediaan infrastruktur publik, subsidi kesehatan dan pendidikan. Pemenuhan akses publik ini tentunya dapat meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat secara umum. Poin berikutnya yang tak kalah penting adalah reformasi sistem perpajakan. Undang-undang Ketentuan Umum Perpajakan (KUP) yang baru tampaknya sudah mengakomodir poin ini, dimana satu hal yang paling fenomenal adalah mengenai perluasan basis pajak. Keberhasilan reformasi pajak tentu akan berkontribusi terhadap penerimaan Negara dimana seperti yang sudah kita ketahui bersama, peranan pajak hampir menyentuh 80 persen dari total penerimaan Negara. Hal ini pada gilirannya dapat diredistribusikan kepada sektor-sektor yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat seperti yang telah dijabarkan sebelumnya. Beberapa poin penting lainnya adalah mengenai liberalisasi dan privatisasi. Liberalisasi yang dimaksud mencakup perdagangan, suku bunga dan investasi asing. Dalam formulasi pertumbuhan ekonomi, perdagangan memegang peranan utama. Ekspor dalam hal ini merupakan mesin dari pertumbuhan ekonomi. Ekspor yang berkesinambungan lajunya ternyata tak lepas pula dari sokongan investasi asing. Investasi yang dilakukan oleh perusahaan multinasional merupakan salah satu faktor penggerak ekspor Indonesia (Urata, 2009). Lebih lanjut, kepemilikan asing melalui jalan privatisasi telah mengenyahkan ketidakefisienan kerja dalam perusahaan bentukan pemerintah. Maraknya kepemilikan asing dewasa ini merupakan sebuah hal yang tidak perlu ditakutkan, karena kepemilikan asing bukan berarti asing memiliki seratus persen dari badan-badan usaha milik pemerintah, mayoritas kepemilikan tetap berada di tangan pemerintah. Berkaitan dengan hal ini, UU no 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UU PM) telah menjadi payung hukum yang memadai. Tujuan penanaman modal, seperti yang disebutkan dalam Pasal 3 ayat 2 UU PM, adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pembangunan ekonomi berkelanjutan, meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi nasional, mendorong pembangunan ekonomi kerakyatan, serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat dalam suatu sistem perekonomian yang berdaya saing. Dalam hal mencapai tujuan-tujuan tersebut, UU PM didukung beberapa pasal seperti pada pasal 10 ayat 1 yang mewajibkan para perusahaan penanam modal untuk mengutamakan tenaga kerja yang merupakan warga negara Indonesia atau pada pasal 13 ayat 1 dan 2 mengenai pengembangan penanam modal bagi usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi yang merupakan penyokong utama bagi penciptaan kesejahteraan rakyat serta penopang pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Hal yang setali tiga uang dapat kita lihat pada pasal 18 ayat 3 mengenai fasilitas penanaman modal. Pasal ini mensyaratkan bahwa penanaman modal yang diberikan

fasilitas harus memenuhi beberapa kriteria dimana salah satunya adalah banyak menyerap tenaga kerja. Beberapa syarat dan tantangan Beberapa poin dalam Konsensus Washington tentu tidak akan berjalan tanpa adanya beberapa syarat pendukung yang didaulat Dani Rodrik semisal tata kelola pemerintahan yang baik, kebijakan anti korupsi yang ajeg, bank sentral yang independen, sistem jaring pengaman sosial yang memadai, dan target pengurangan angka kemiskinan yang konkrit. Meskipun demikian, masyarakat tampaknya masih phobia terhadap Konsensus Washington. Stigma buruk sudah terlanjur melekat didalam memori. Para penggiat konsensus Washington seringkali di cap neoliberal dan menjadi target cemoohan masyarakat. Sebuah doktrin keliru telah terjadi, dan celakanya doktrin ini semakin kuat berhembus hingga akhirnya dijadikan para politikus demi menjatuhkan para lawannya. Jika boleh, mari kita berharap pemerintahan mendatang akan berpikir rasional dan jauh dari sikap kerdil. Posted by fithra faisal hastiadi at 8:53 AM Labels: Political Economics 1 comments: Forlan said... bukan rahasia lagi kalau departemen menggenjot anggaran khan di sono banyak oknum-oknum calo July 24, 2009 9:58 AM Post a Comment Links to this post Create a Link Newer Post Older Post Home Subscribe to: Post Comments (Atom)

About Me

Fithra Faisal An ordinary man who believes the sky is attainable View my complete profile

Recent Comments
Forlan commented: bukan rahasia lagi kalau departemen menggenjot anggaran khan... fithra faisal hastiadi commented: Semua itu relatif, tergantung bagaimana cara kita memandang.... fithra faisal hastiadi commented: Ba-Q, gaya banget lo. Makasih ya atas kunjunganya Forlan commented: memang krisis akan menghantam indonesia. tetapi ada segi pos... Akhmad commented: Tulisan Anda sangat dalam. Berisi analisa yg sangat tajam. S... Widget sponsored by:

Labels
• • • • • • • • • • •

Economic Development (3) inflation (3) International (5) International Economics (2) Monetary economics (9) National Budget (3) Perekonomian Indonesia (23) Poets (6) Policy Package (2) Political Economics (4) Public Policy (3)

Trade (1)

Blog Archive

▼ 2009 (4) o ► September (1)  The Indonesian Economic Development Strategy o ► August (1)  Pilihan Kebijakan Ditengah Krisis o ▼ July (1)  Strategi Pembangunan Indonesia o ► March (1)  MENGUAK TABIR KEBIJAKAN OBLIGASI GLOBAL ► 2008 (39) o ► December (2)  Media Published Article  Media Published Article o ► October (1)  DAMPAK KRISIS YANG KINI TERUNGKAP o ► July (1)  Thesis Submitted o ► June (2)  Media Published Article  East Asian Integration o ► May (4)  Optimizing The Trickle Down Effect Policy (2)  Optimizing The Trickle Down Effect Policy (1)  In Memoriam: Reform's Activists  Trade Institutionalization o ► April (6)  Aisha Rihana Hastiadi  Voters Optimalization; A Game Theoritic Approach  Please Welcome: Mr Boediono  Bewildering Projection  Media Published Article  Do Not Cut The BI Rate! o ► March (23)  No country for old men  Governing The Market's Expectation  The anomaly  Maafkan Ana Ukhti  Waktu  Merindu

                

The Shout out Paket Minim Makna Oil Price, Green House Gas and Economic Growth The Need for Debt Cancellation; the Fact of Resour... Telaah RAPBN 2008 Menuju Krisis Ekonomi Jilid II Membenahi Anggaran Pendidikan Tak Sepatutnya Kita Berbangga Pentingnya Menjaga Ekspektasi Pasar Pemerintahan Yang Malas Paradoks Kebijakan Pemerintah SBY, Presiden Republik Mimpi Penghargaan Untuk Menyelamatkan RUU PM: Menyatukan Yang Terserak Kebijakan Yang Aneh Itu Pertumbuhan Ekonomi Untuk Siapa? SBYNOMICS

Abraham Lincoln Quote of the Day Blogroll
• • • • • •

A Journey Exegesis From the Fingertips Indonesian Economics Rajawalimuda Youth Economist

Inspiring Links
• • • • •

cafesalemba Dani Rodrik diskusi ekonomi kafe depok Mankiw

My Affiliations
• • • • •

Faculty of Economics University of Indonesia Keio Indonesian Student Society Keio Initiative Forum for Better Indonesia Keio Shonan Fujisawa Campuss Waseda, Graduate School of Asia-Pacific Studies

Visitors
Live Traffic Feed Bandung, Jawa Barat arrived from google.co.id on "A Beautiful Mind: Strategi Pembangunan Indonesia" Jakarta, Jakarta Raya arrived from facebook.com on "A Beautiful Mind" Jakarta, Jakarta Raya arrived from facebook.com on "A Beautiful Mind" Bandung, Jawa Barat arrived from google.co.id on "A Beautiful Mind: The Indonesian Economic Development Strategy" Jakarta, Jakarta Raya arrived from facebook.com on "A Beautiful Mind" Japan arrived on "A Beautiful Mind" Jakarta, Jakarta Raya arrived from google.co.id on "A Beautiful Mind" Chiba arrived from facebook.com on "A Beautiful Mind" Bangkalan, Jawa Timur arrived from google.co.id on "A Beautiful Mind: SBYNOMICS" Jakarta, Jakarta Raya arrived from hastiadi.blogspot.com on "A Beautiful Mind: The Indonesian Economic Development Strategy" Watch in Real-Time
Options>>

Feedjit Live Blog Stats

Indonesian Economic News
indonesia economy Fitch Raises Indonesia Rating as Economy Improves Wall Street Journal - Jan 25, 2010 - 2 minutes ago Fitch said that Indonesia's relatively shallow capital markets remain vulnerable to capital outflows. But it pointed out that the economy is better placed ... Related Articles » clipped from Google - 1/2002

Indonesia ETF: BRIC Material? ETF Trends (blog) - Jan 31, 2010 - 2 minutes ago Indonesia's economy and related exchange traded fund (ETF) have come a long way, baby. The country's economic resilience during the financial downturn may ... clipped from Google - 1/2002 Widjojo Nitisastro and changes to development paradigms Jakarta Post - Jan 30, 2010 - 2 minutes ago Coupled with the war against the US, the UK and neighboring countries (Malaysia and Singapore), Indonesia's economic situation in the early 1960s was ... clipped from Google - 1/2002 Focus on the Little Guy Could Boost Islamic Banking in Indonesia Voice of America - Jan 31, 2010 - 2 minutes ago Indonesia's central bank has recently embraced new regulations for Islamic banking, which it sees as key to building on last year's strong economic growth. ... clipped from Google - 1/2002 powered by

This Day in History Currency Converter

For those who seek for the truth
The gallery of knowledge

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful