LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM LINGKUNGAN PERCOBAAN IV BESI

OLEH : NAMA NIM ASISTEN : AYU MAULIDA PUTRI : H1E107001 : HJ. NOR LATIFAH

KELOMPOK : 1 (SATU)

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU 2009

LAPORAN PRAKTIKUM PERCOBAAN IV BESI I. TUJUAN PERCOBAAN Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui kandungan besi pada sampel air. II. TINJAUAN PUSTAKA Besi (Fe) hampir semua perairan alami mengandung besi. Unsur logam ini merupakan zat penting dalam pemeliharaan (nutrition) tubuh manusia, tetapi tidak dapat dipergunakan langsung dalam minuman atau makanan (dalam tablet multivitamin). Adanya besi dalam air minum dalam jumlah yang berlebihan akan menyebabkan rasa logam atau besi, selain itu warna air pun menjadi kuning atau cokelat. Air teh yang dibuat dengan air yang mengandung besi, walaupun kelihatan air itu jernih, air teh tersebut akan menjadi berwarna hitam. Selain itu apabila digunakan untuk mencuci pakaian atau kain maka akan meninggalkan warna kuning atau cokelat pada kain tersebut (Karmono, 1978). Besi adalah logam dalam kelompok makromineral di dalam kerak bumi, tetapi termasuk dalam kelompok mikro dalam sistem biologi. Logam ini mungkin logam yang pertama ditemukan dan digunakan oleh manusia sebagai alat pertanian. Pada sistem biologi seperti hewan, manusia dan tanaman, logam ini bersifat esensial, kurang stabil, dan secara pelahan berubah menjadi fero (FeII) atau Feri (FeIII). Kandungan Fe dalam tubuh hewan sangat bervariasi tergantung pada status kesehatan, nutrisi, umur, jenis kelamin dan spesies (Darmono, 2001). Rasa pada air sumur dapat disebabkan oleh derajat keasamanan (ph) yang rendah sehingga dapat melarutkan besi, sedangkan bau disebabkan oleh kadar sulfida yang tinggi. Bau dan warna pada air minum dapat mengurangi selera konsumen, sedangkan warna yang mungkin disebabkan oleh tingginya kadar besi dapat meninggalkan noda pada pakaian, wadah penampung air dan dinding kamar mandi (Sutapa, 2000).

Berdasarkan persyaratan kualitas air minum yang dibuat oleh Permenkes No.416/MENKES/PER/IX/1990, kadar besi maksimum yang diperbolehkan sebesar 1.0 mg/l. Besi dapat larut pada pH rendah dan dapat menyebabkan air yang berwarna kekuningan, menimbulkan noda pada pakaian dan tempat berkembang biaknya bakteri Creonothrinx , oleh sebab itu kadar besi tidak boleh melebihi 1 mg/l, karena dapat mempercepat pertumbuhan bakteri besi tersebut dan dapat menimbulkan rasa serta bau (Sutapa, 2000). Zat besi (Fe) adalah salah satu kandungan mineral yang terdapat dalam air, selain mangaan dan logam berat lainnya. Ada beberapa tehnik / cara untuk menghilangkan / menurunkan kandungan besi ini: 1. Aerasi Merupakan suatu teknik memancarkan air ke udara agar air terkena kontak dengan udara / oksigen. Semakin banyak permukaan air yang terkena oksigen maka semakin baik. Selain dapat menurunkan zat besi, banyak lagi manfaat yang lain jika menggunakan system Aerasi ini. 2. Menggunakan Pasir Mangaan (Manganese Green Sand) Pasir mangaan ini terbukti efektif untuk menurunkan kandungan zat besi (Fe) dalam air. Penggunaanya adalah dengan cara dimasukkan ke dalam tabung filter. 3. Menggunakan bahan kimia. Banyak sekali jenis bahan kimia yang dapat dipergunakan untuk menurunkan zat besi ini. Tergantung dari metode yang digunakan dan takarannya berbeda beda tergantung dari seberapa tingginya Zat Besi Dalam Air tersebut (Yusuf, 2009). Metode AAS berprinsip pada absorbsi cahaya oleh atom. Atom-atom menyerap cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada sifat unsurnya. Dengan absorpsi energi, berarti memperoleh lebih banyak energi, suatu atom pada keadaan dasar dinaikan tingkat energinya ketingkat eksitasi. Keberhasilan analisis ini tergantung pada proses eksitasi dan memperoleh garis resonansi yang tepat (Puspita, 2007). Setiap alat AAS terdiri atas tiga komponen berikut : o Unit atomisasi

o o

Sumber radiasi Sistem pengukur fotometrik Untuk mengubah unsur metalik menjadi uap atau hasil disosiasi diperlukan

energi panas. Temperatur harus benar-benar terkendali dengan sangat hati-hati agar proses atomisasinya sempurna. Biasanya temperatur dinaikkan secara bertahap, untuk menguapkan dan sekaligus mendisosiasikan senyawa yang dianalisis. Bila ditinjau dari sumber radiasi, haruslah bersifat sumber yang kontinyu. Di samping itu sistem dengan penguraian optis yang sempurna diperlukan untuk memperoleh sumber sinar dengan garis absorpsi yang semonokromator mungkin (Puspita, 2007). Seperangkat sumber yang dapat memberikan garis emisi yang tajam dari suatu unsur yang spesifik tertentu dikenal sebagai lampu pijar hallow cathode. Dengan pemberiaan tegangan pada arus tertentu, logam mulai memijar, dan atom-atom logam katodenya akan teruapkan dengan pemercikkan. Atom akan tereksitasi kemudian mengemisikan radiasi pada panjang gelombang tertentu (Puspita, 2007). Teknik AAS menjadi alat yang canggih dalam anlisis. Diantaranya disebabkan oleh kecepatan analisisnya, ketelitiannya sampai tingkat runut, tidak memerlukan pemisahan pendahuluan. Kelebihan kedua adalah kemungkinannya untuk menentukan konsentrasi semua unsur pada konsentrasi runut. Ketiga, sebelum pengukuran tidak selalu memerlukan pemisahan unsur yang ditentukan karena kemungkinan penentuan satu unsur dengan kehadiran unsur lain dapat dilakukan asalkan katoda berongga yang diperlukan tersedia. AAS dapat digunakan sampai 61 logam (Puspita, 2007). Sensitivitas dan batas deteksi merupakan 2 parameter yang sering digunakan dalam AAS. Sensitivitas didefinisikan sebagai konsentrasi suatu unsur dalam larutan air (μg/ ml) yang mengabsorpsi 1 % dari intensitas radiasi yang datang. Sedangkan batasan deteksi adalah konsentrasi suatu unsur dalam larutan yang memberikan sinyal setara dengtan 2 kali deviasi standar dari suatu seri pengukuran standar yang konsentrasinya mendekati blangko atau sinyal latar belakang (Puspita, 2007).

III. A.

ALAT DAN BAHAN Alat Alat yang digunakan meliputi labu erlenmeyer, pipet tetes, pipet volumetrik, gelas beker, propipet, botol film. B. aquadest. Bahan Bahan yang digunakan meliputi larutan besi 10 ppm, sampel air,

IV. A. •

PROSEDUR KERJA Pengenceran Larutan Fe 10 ppm 1. 2. 3. • Pengenceran Fe 2 ppm 1. 2. 3. • Pengenceran Fe 3 ppm 1. 2. 3. • Pengenceran Fe 4 ppm 1. 2. 3. • Pengenceran Fe 5 ppm 1. 2. 3. Mengambil 10 ml larutan Fe 10 ppm Memasukkan ke dalam botol film Memasukkan 10 ml aquadest Mengambil 8 ml larutan Fe 10 ppm Memasukkan ke dalam botol film Memasukkan 12 ml aquadest Mengambil 6 ml larutan Fe 10 ppm Memasukkan ke dalam botol film Memasukkan 14 ml aquadest Mengambil 4 ml larutan Fe 10 ppm Memasukkan ke dalam botol film Memasukkan 16 ml aquadest Mengambil 2 ml larutan Fe 10 ppm Memasukkan ke dalam botol film Memasukkan 18 ml aquadest Pengenceran Fe 1 ppm

B.

Pengukuran Absorbans Larutan Standar

Menyiapkan larutan standar Fe 1, 2, 3, 4, dan 5 ppm Mengukur absorbans masing-masing larutan dengan menggunakan AAS C. 1. Pengukuran Absorbans Sampel Air Menyiapkan sampel air sumur intan sari, air sumur ulin, air sumur loktabat, dan air sumur cempaka Mengukur absorbans masing-masing sampel air dengan AAS V. A. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Tabel 1. Pengukuran Absorbans Larutan Standar Fe No 1 2 3 4 5 Konsentrasi (C) 1 ppm 2 ppm 3 ppm
4 ppm

Absorbansi (A) 0,052 0,096 0,133 0,171 0,204

5 ppm

Tabel 2. Pengukuran Absorbans Sampel Air No 1 2 Sampel Air Sumur Intan Sari Air Sumur Sungai Ulin Air Sumur Loktabat Absorbansi (A) 0,012 0,013

3

0,010

4

Air Sumur Cempaka

0,012

Absorbansi Larutan St andar F e
0,25 Absorbansi (A) 0,2 0,15 0,1 0,05 0 1 2 3 4 5 Konsentrasi (C) y = 0,0379x + 0,0175 R = 0,9976
2

Grafik 1. Absorbansi Larutan Standar Fe Perhitungan kandungan Fe pada sampel air 1. Sampel air sumur Intan Sari Diket : y = 0,037x + 0,017 y = 0,012 Ditanya : x = ...? Jawab : y 0,012 0,037x x = 0,037x + 0,017 = 0,037x + 0,017 = - 0,005 = - 0,135 mg/l

2. Sampel air sumur Sungai Ulin Diket : y = 0,037x + 0,017 y = 0,013 Ditanya : x = ...? Jawab : y 0,013 0,037x x = 0,037x + 0,017 = 0,037x + 0,017 = -0,004 = -0,108 mg/l

3. Sampel air sumur Loktabat Diket : y = 0,037x + 0,017 y = 0,010 Ditanya : x = ...? Jawab : y 0,010 0,037x x = 0,037x + 0,017 = 0,037x + 0,017 = -0,007 = -0,189 mg/l

4. Sampel air sumur Cempaka Diket : y = 0,037x + 0,017 y = 0,012 Ditanya : x = ...? Jawab : y 0,012 0,037x x B. = 0,037x + 0,017 = 0,037x + 0,017 = -0,005 = -0,135 mg/l

Pembahasan Praktikum kali ini dilakukan percobaan untuk mengukur kandungan atau konsentrasi besi yang terdapat pada beberapa sampel air. Sampel air yang digunakan pada percobaan ini ada 4 , yaitu air sumur intan sari, air sumur sungai ulin, air sumur loktabat, dan air sumur cempaka. Digunakannnya berbagai sampel sumur ini untuk mengetahui dan membandingkan kandungan besi yang terdapat pada sumur-sumur tersebut. Pengukuran kandungan besi ini menggunakan larutan induk Fe 10 ppm yang dibuat larutan standar besi (Fe) dengan berbagai konsentrasi yaitu konsentrasi 1, 2, 3, 4, dan 5 ppm dengan teknik pengenceran. Pengenceran larutan induk Fe 10 ppm disesuaikan perbandingan antara volume Fe 10 ppm dan volume aquadest yang digunakan.

Setelah terbentuk larutan standar Fe dengan konsentrasi yang beragam, dilakukan pengukuran absorbansi terhadap larutan standar Fe tersebut. Pengukuran absorbansi menggunakan alat yang disebut dengan AAS (Atomic Adsorption Spectofotometri). Dimana pada prinsipnya penggunaan AAS pada praktikum ini menggunakan nilai panjang gelombang sebesar 560 nm. Selanjutnya elektroda dicelupkan ke dalam larutan, yang mana akan muncul grafik perbandingan antara nilai absorbans dengan konsentrasi larutan standar Fe yang digunakan. Grafik perbandingan antara nilai absorbansi dengan konsentrasi larutan Fe menunjukkan garis yang mendekati lurus. Dimana nilai persamaan dari garis tersebut adalah y = 0,037x + 0,017 dengan nilai R2 = 0,997. Penggunaan AAS ini menunjukkan bahwa untuk larutan standar Fe dengan konesntrasi 1 ppm nilai absorbannya 0,052. Larutan standar Fe dengan konsentrasi 2 ppm nilai absorbansnya 0,096 selanjutnya larutan standar Fe 3 ppm dengan nilai 0,133 larutan standar Fe 4 ppm sebesar 0,171 dan larutan standar Fe 5 ppm sebesar 0,204. Sebelum melakukan perhitungan kandungan besi (Fe) pada sampel air yang digunakan, pertama-tama harus diketahui terlebih dahulu nilai absorbans dari semua sampel air tersebut. Dimana untuk mengetahui nilai absorbannya prinsipnya juga menggunakan alat yang digunakan untuk menghitung nilai absorban pada larutan standar Fe, yaitu penggunaan AAS. Dari hasil pengukuran nilai absorban sampel air dengan menggunakan AAS didapatkan bahwa untuk sampel air sumur intan sari nilai absorbansinya sebesar 0,012 sampel air sumur simpang ulin sebesar 0,013 sampel air sumur loktabat sebesar 0,010 dan sampel air sumur cempaka sebesar 0,012. Dengan mengetahui nilai absorbansi dari sampel air yang digunakan dapat dihitung kandungan Fe dari masing-masing sampel air dengan menggunakan rumus perhitungan yang di dapat dari persamaan grafik absorbansi larutan standar Fe, yaitu y = 0,037x + 0,017. Dari hasil perhitungan di dapatkan bahwa untuk sampel air sumur intan sari kandungan besi (Fe) yang terlarut di dalamnya sebesar -0,135 mg/l. Sampel air sumur sungai ulin, air sumur loktabat, dan air sumur cempaka

kadungan besi (Fe) yang terlarutnya berturut-turut sebesar -0,108 mg/l ; -0,189 mg/l ; -0,135 mg/l. Dilihat dari hasil perhitungan ternyata sampel air sumur loktabat memiliki kandungan Fe yang paling besar dibandingkan dengan sampel air sumur yang lain yaitu -0,189 mg/l. Sedangkan air sumur sungai ulin memiliki kandungan Fe yang paling sedikit yaitu -0,108 mg/l. Terjadinya perbedaan nilai konsentrasi atau kandungan besi (Fe) pada sampel air sumur yang digunakan bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya topografi lahan yang berbeda, jenis sumur (sumur bor atau sumur gali), letak sumur, dan faktor-faktor lainnya. Walaupun memiliki hasil yang berbeda-beda tetapi kandungan besi (Fe) dari sampel air yang digunakan bisa dikatakan masih dalam batas aman, dimana kandungan besi (Fe) dari sampel air tersebut masih di bawah standar kandungan Fe yang diperbolehkan untuk air minum yaitu 0,3 mg/l. Dengan nilai kandungan Fe yang masih di bawah standar maka sampel keempat air sumur tersebut dapat dikatakan layak untuk dijadikan sebagai air minum dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Selain kandungan Fe, apabila air sumur tersebut digunakan untuk air minum perlu diperhatikan dan diteliti tentang parameter-parameter yang lain. Kemudian diukur apakah sesuai dengan standar baku mutu atau tidak. Sehingga apabila tidak sesuai dengan standar baku mutu air minum yang digunakan maka air sumur tersebut tidak layak untuk dikonsumsi sebagai air minum. Percobaan kali ini menghasilkan semua nilai kandungan besi (Fe) dalam sampel air yang digunakan berniai negatif. Padahal seharusnya tidak semua bernilai negatif. Hal ini mungkin saja terjadi kesalahan dalam pengerjaannya, terlebih kemungkinan kesalahan terjadi pada saat melakukan pengenceran larutan standar Fe 10 ppm. Kesalahan yang terjadi bisa akibat kesalahan manusia, atau dari kesalahan alat yang digunakan dalam praktikum ini.

VI. 1. 2.

KESIMPULAN Dari hasil percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut : Pengukuran nilai absorbansi dari larutan standar Fe dan sampel air menggunakan alat yang disebut AAS. Hasil perhitungan nilai absorbansi untuk larutan standar Fe 1 ppm 0,052 larutan standar Fe 2 ppm nilai adsorbansnya 0,096 selanjutnya larutan standar Fe 3 ppm dengan nilai 0,133 larutan standar Fe 4 ppm sebesar 0,171 dan larutan standar Fe 5 ppm sebesar 0,204. 3. Hasil perhitungan nilai absorbansi dari sampel air untuk sampel air sumur intan sari nilai absorbansinya sebesar 0,012 sampel air sumur sungai ulin sebesar 0,013 sampel air sumur loktabat sebesar 0,010 dan sampel air sumur cempaka sebesar 0,012.

4. Hasil perhitungan kandungan besi (Fe) yang terlarut pada sampel air adalah air sumur intan sari kandungan besi (Fe) -0,135 mg/l. Sampel air sumur simpang ulin, air sumur loktabat, dan air sumur cempaka kadungan besi (Fe) berturut-turut sebesar -0,108 mg/l ; -0,189 mg/l ; -0,135 mg/l.

DAFTAR PUSTAKA

Darmono. 2001. lingkungan Hidup dan Pencemaran : Hubungannya dengan toksikologi senyawa logam. Jakarta : Universitas Indonesia (UI-Press) Karmono, dan Cahyono, J. 1978. Pengantar Penentuan Kwalitas Air. Yogyakarta: Laboratorium Hidrologi, Universitas Gadjah Mada. Puspita, Chrisye Dewi. 2007. Spektroskopi Serapan Atom. http://ilmu-kedokteran.blogspot.com/2007/11/spektroskopi-serapan-atomspekroskopi.html. Diakses tanggal 31 Oktober 2009. Sutapa, Ignasius D.A. 2000. Uji Korelasi Pengaruh Limbah Tapioka Terhadap Kualitas Air Sumur. Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan, Vol. 2, No. 1/Feb. 2000; 47-65. Yusuf, M. 2009. Cara Menghilangkan / Menurunkan Zat Besi (Fe) Dalam Air. http://www.airminumisiulang.com/index.php. Diakses tanggal 20 Oktober 2009.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful