You are on page 1of 20

ANALISA GAS DARAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kegawatdaruratan 2


Dosen Pengampu : Faridah Aini, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.KMB

Disusun Oleh :
Octavia Nur Aini Wahyudi
(010112a076)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NGUDI WALUYO
UNGARAN
2015

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Paru mempunyai fungsi utama untuk melakukan pertukaran gas, yaitu mengambil
O2 dari udara luar dan mengeluarkan CO2 dari badan ke udara luar. Bilamana paru
berfungsi secara normal, tekanan parsial O2 dan CO2 di dalam darah akan

dipertahankan seimbang, sesuai dengan kebutuhan tubuh. Pemeriksaan analisis gas


darah merupakan pemeriksaan laboratorium yang penting sekali di dalam
penatalaksanaan penderita akut maupun kronis, terutama penderita penyakit paru.
Pemeriksaan analisis gas darah penting baik untuk menegakkan diagnosis,
menentukan terapi, maupun untuk mengikuti perjalanan penyakit setelah mendapat
terapi. Sama halnya dengan pemeriksaan EKG pada penderita jantung dan
pemeriksaan gula darah penderita diabetes millitus. Dengan majunya ilmu
pengetahuan, terutama setelah ditemukan alat astrup, tekanan parsial O2 dan CO2 serta
pH darah dapat diukur dengan mudah.
Pemeriksaan gas darah dan pH digunakan sebagai pegangan dalam penanganan
pasien-pasian penyakit berat dan menahun. Pemeriksaan analisa gas darah dikenal
juga pemeriksaan ASTRUP yaitu suatu pemeriksaan gas darah yang dilakukan
melalui darah arteri. Gas darah arteri memungkinkan untuk pengukuran pH (dan juga
keseimbagan asam basa), oksigenasi, kadar karbondioksida, kadar biokarbonat,
saturasi oksigen, dan kelebihan atau kekurangan basa. Pemeriksaan gas darah arteri
dan pH sudah secara luas digunakan sebagai pegangan dalam penatalaksanaan pasienpasien penyakit berat yang akut dan menahun. Pemeriksaan gas darah juga dapat
menggambarkan hasil berbagai tindakan penunjang yang dilakukan, tetapi kita tidak
dapat menegakkan suatu diagnosa hanya dari penelitian analisa gas darah dan
keseimbangan asam-basa saja, kita harus menghubungkan dengan riwayat penyakit,
pemeriksaan fisik, dan data-data laboratorium lainnya.
Hematokrit (HT) sangat diperlukan untuk menilai atau memberikan gambran
tentang kekentalan darah. Dimana semakin rendah nilai HT yang normalnya 45%
maka akan terjadi semakin haemodilusi (pengenceran), dan jika HT semakin tinggi
maka darah semakin meningkat visikositasnya (mengental).Pemantauan pertukaran
gas dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
1. Pemantauan invasive (kateter arteri,punksi arteri,punksi vena,dan punksi
kapiler).
2. Pemantauan non invasive (pulse oximetry,monitor transkutaneus,monitor
karbondioksida end-tidal).
Gas darah memberikan informasi tentang oksigenasi,homeostasis CO 2,dan
keseimbangan asam basa,dank arena itu merupakan alat terpenting yang digunakan
dalam mengevaluasi adekuasi fungsi paru.

Meskipun tekanan parsial O2 arteri (PaO2) merupakan pengukuran standar


oksigenasi darah,saturasi O2 dengan pulse oxmetry (SapO2) merupakan penilaian non
invasive oksigen darah yang dapat mendeteksi hipoksemia.Pemantauan pulse
oximetri yang kontinyu dapat membantu mengobservasi keadaan kritis ataupun
stabilitas penderita setiap saat.
A. Rumusan masalah:
Rumusan masalah dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan analisa gas darah?
2. Apa tujuan dan manfaat dari pemeriksaan analalisa gas darah?
B. Tujuan
1. Mengetahui maksud dari pemeriksaan analisa gas darah.
2. Mengetahui maksud dan tujuan analisa gas darah.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Analisa gas darah adalah salah tindakan pemeriksaan laboratorium yang
ditujukan

ketika

dibutuhkan

informasi

yang

berhubungan

dengan

keseimbangan asam basa pasien (Wilson, 1999).


Analisa gas darah adalah pengambilan darah arteri melalui fungsi untuk
memeriksa gas-gas dalam darah yang berhubungan dengan fungsi respirasi
dan metabolisma. Pemeriksaan gas darah dan PH digunakan sebagai
pegangan dalam penanganan pasien-pasien penyakit berat yang akut dan
menahun.

Pemeriksaan gas darah dan PH digunakan sebagai pegangan dalam penanganan


pasien-pasien penyakit berat yang akut dan menahun. Pemeriksaan gas darah dipakai
untuk menilai: keseimbangan asam basa dalam tubuh, Kadar oksigenasi dalam darah,
Kadar karbondioksida dalam darah.
Ukuran-ukuran dalam analisa gas darah:
1.

PH normal 7,35-7,45

2.

Pa CO2 normal 35-45 mmHg

3.

Pa O2 normal 80-100 mmHg

4.

Total CO2 dalam plasma normal 24-31 mEq/l

5.

HCO3 normal 21-30 mEq/l

6.

Base Ekses normal -2,4 s.d +2,3

7.

Saturasi O2 lebih dari 90%.


Pemeriksaan analisa gas darah dikenal juga dengan nama pemeriksaan

ASTRUP, yaitu suatu pemeriksaan gas darah yang dilakukan melalui darah arteri.
Lokasi pengambilan darah yaitu: Arteri radialis, A. brachialis, A. Femoralis
Tempat-tempat pengambilan darah untuk AGD

1. Arteri Radialis, merupakan pilihan pertama yang paling aman dipakai untuk
fungsi arteri kecuali terdapat banyak bekas tusukan atau haematoem juga
apabila Allen test negatif.
2. Arteri Dorsalis Pedis, merupakan pilihan kedua.
3. Arteri Brachialis, merupakan pilihan ketiga karena lebih banyak resikonya
bila terjadi obstruksi pembuluh darah.
4. Arteri Femoralis, merupakan pilihan terakhir apabila pada semua arteri diatas
tidak dapat diambil. Bila terdapat obstruksi pembuluh darah akan
menghambat aliran darah ke seluruh tubuh / tungkai bawah dan bila yang
dapat mengakibatkan berlangsung lama dapat menyebabkan kematian
jaringan. Arteri femoralis berdekatan dengan vena besar, sehingga dapat
terjadi percampuran antara darah vena dan arteri.

B. Kontrak dan Indikasi

1. Denyut arteri tidak terasa, pada pasien yang mengalami koma (Irwin
& Hippe, 2010).
2. Modifikasi Allen tes negatif , apabila test Allen negative tetapi tetap
dipaksa untuk dilakukan pengambilan darah arteri lewat arteri
radialis, maka akan terjadi thrombosis dan beresiko mengganggu
viabilitas tangan.
3. Selulitis atau adanya infeksi terbuka atau penyakit pembuluh darah
perifer pada tempat yang akan diperiksa
4. Adanya koagulopati (gangguang pembekuan) atau
dengan antikoagulan dosis sedang dan tinggi
kontraindikasi relatif.

pengobatan
merupakan

Indikasi dilakukannya pemeriksaan Analisa Gas Darah (AGD) yaitu :


1. Pasien dengan penyakit obstruksi paru kronik
Penyakit paru obstruktif kronis yang ditandai dengan adanya
hambatan aliran udara pada saluran napas yang bersifat progresif
non reversible ataupun reversible parsial. Terdiri dari 2 macam jenis
yaitu bronchitis kronis dan emfisema, tetapi bisa juga gabungan antar
keduanya.
2. Pasien dengan edema pulmo
Pulmonary edema terjadi ketika alveoli dipenuhi dengan kelebihan
cairan yang merembes keluar dari pembuluh-pembuluh darah dalam
paru sebagai gantinya udara. Ini dapat menyebabkan persoalanpersoalan dengan pertukaran gas (oksigen dan karbon dioksida),
berakibat pada kesulitan bernapas dan pengoksigenan darah yang
buruk. Adakalanya, ini dapat dirujuk sebagai "air dalam paru-paru"
ketika menggambarkan kondisi ini pada pasien-pasien.
Pulmonary edema dapat disebabkan oleh banyak faktor-faktor
yang berbeda. Ia dapat dihubungkan pada gagal jantung, disebut
cardiogenic pulmonary edema, atau dihubungkan pada sebab-sebab
lain, dirujuk sebagai non-cardiogenic pulmonary edema.
3. Pasien akut respiratori distress sindrom (ARDS)
ARDS terjadi sebagai akibat cedera atau trauma pada membran
alveolar kapiler yang mengakibatkan kebocoran cairan kedalam ruang

interstisiel alveolar dan perubahan dalarn jaring- jaring kapiler ,


terdapat ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi yang jelas akibatakibat kerusakan pertukaran gas dan pengalihan ekstansif darah
dalam
paru-.paru.
ARDS
menyebabkan
penurunan
dalam
pembentukan surfaktan , yang mengarah pada kolaps alveolar .
Komplians paru menjadi sangat menurun atau paru- paru menjadi
kaku akibatnya adalah penurunan karakteristik dalam kapasitas
residual fungsional, hipoksia berat dan hipokapnia ( Brunner &
Suddart 616).
4. Infark miokard
Infark miokard adalah perkembangan cepat dari nekrosis otot
jantung yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen (Fenton, 2009). Klinis sangat mencemaskan
karena sering berupa serangan mendadak umumya pada pria 35-55
tahun, tanpa gejala pendahuluan (Santoso, 2005).
5. Pneumonia
Pneumonia merupakan penyakit dari paru-paru dan sistem
dimana alveoli(mikroskopik udara mengisi kantong dari paru yang
bertanggung jawab untuk menyerap oksigen dari atmosfer) menjadi
radang dan dengan penimbunan cairan.Pneumonia disebabkan oleh
berbagai macam sebab,meliputi infeksi karena bakteri,virus,jamur
atau parasit. Pneumonia juga dapat terjadi karena bahan kimia atau
kerusakan fisik dari paru-paru, atau secara tak langsung dari penyakit
lain seperti kanker paru atau penggunaan alkohol.

6. Pasien syok
Syok merupakan suatu sindrom klinik yang terjadi jika sirkulasi darah arteri
tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan. Perfusi
jaringan yang adekuat tergantung pada 3 faktor utama, yaitu curah jantung,
volume darah, dan pembuluh darah. Jika salah satu dari ketiga faktor
penentu ini kacau dan faktor lain tidak dapat melakukan kompensasi maka
akan terjadi syok. Pada syok juga terjadi hipoperfusi jaringan yang

menyebabkan gangguan nutrisi dan metabolism sel sehingga seringkali


menyebabkan kematian pada pasien.
7. Post pembedahan coronary arteri baypass
Coronary Artery Bypass Graft adalah terjadinya suatu respon
inflamasi sistemik pada derajat tertentu dimana hal tersebut ditandai
dengan hipotensi yang menetap, demam yang bukan disebabkan
karena infeksi, DIC, oedem jaringan yang luas, dan kegagalan
beberapa organ tubuh. Penyebab inflamasi sistemik ini dapat
disebabkan oleh suatu respon banyak hal, antara lain oleh karena
penggunaan Cardiopulmonary Bypass (Surahman, 2010).
8. Resusitasi cardiac arrest
Penyebab utama dari cardiac arrest adalah aritmia, yang
dicetuskan oleh beberapa faktor,diantaranya penyakit jantung
koroner,
stress
fisik
(perdarahan
yang
banyak,
sengatan
listrik,kekurangan oksigen akibat tersedak, tenggelam ataupun
serangan asma yang berat), kelainan bawaan, perubahan struktur
jantung (akibat penyakit katup atau otot jantung) dan obatobatan.Penyebab lain cardiac arrest adalah tamponade jantung dan
tension pneumothorax. Sebagai akibat dari henti jantung, peredaran
darah akan berhenti. Berhentinya peredaran darahmencegah aliran
oksigen untuk semua organ tubuh. Organ-organ tubuh akan mulai
berhenti berfungsi akibat tidak adanya suplai oksigen, termasuk otak.
Hypoxia cerebral atau ketiadaan oksigen ke otak, menyebabkan
korban
kehilangan
kesadaran
dan
berhenti
bernapas
normal.Kerusakan otak mungkin terjadi jika cardiac arrest tidak
ditangani dalam 5 menit dan selanjutnyaakan terjadi kematian dalam
10 menit. Jika cardiac arrest dapat dideteksi dan ditangani
dengansegera, kerusakan organ yang serius seperti kerusakan otak,
ataupun kematian mungkin bisa dicegah.

C. Tujuan
Analisa gas darah memiliki tujuan sebagai berikut (McCann, 2004):
1.

Mengetahui keseimbangan asam dan basa dalam tubuh.

2.

Mengevaluasi ventilasi melalui pengukuran pH, tekanan parsial oksigen arteri

3.

(PaO2), dan tekanan parsial karbon dioksida (PaCO2).


Mengetahui jumlah oksigen yang diedarkan oleh paru-paru melalui darah yang

4.

ditunjukkan melalui PaO2.


Mengetahui kapasitas paru-paru dalam mengeliminasikan karbon dioksida yang

5.

ditunjukkan oleh PaCO2.


Menganalisa isi oksigen dan pemenuhannya, serta untuk mengetahui jumlah
bikarbonat.

D. Sistem Buffer
Untuk mencegah terjadinya fluktuasi dari [H +], tubuh kita memiliki 3 sistem utama
yang akan mengatur konsentrasi H+ dalam cairan tubuh yaitu :
1. Sistem buffer asam-basa kimiawi dalam cairan tubuh yang akan segera
bergabung dengan asam dan basa untuk mencegah perubahan konsentrasi H+
yang berlebihan
2. Pusat pernapasan yang mengatur pembuangan CO2 dari cairan ekstrasel
3. Ginjal yang dapat mengeksresikan urine asam ataupun basa sehingga
menyesuaikan kembali konsentrasi H+ cairan ekstrasel menuju normal
selama asidosis atau alkalosis
Sistem buffer merupakan garis pertama pertahanan tubuh dalam menghadapi
perubahan konsentrasi H+. Jika terjadi perubahan dalam konsentrasi H+, dalam
sepersekian detik sistem buffer cairan tubuh akan bekerja untuk memperkecil perubahan
ini. Sistem ini tidak mengeluarkan H+ dari tubuh ataupun menambahkan H+ ke dalam
tubuh namun hanya menjaga agar ion H+ tetap terikat sampai keseimbangan tercapai
kembali.
Garis pertahanan kedua adalah sistem pernapasan yang juga bekerja dengan cukup
cepat. Sistem penapasan akan bekerja dalam beberapa menit untuk mngeluarkan
karbondioksida (CO2) dari dalam tubuh yang berarti mengeluarkan H2CO3 dari tubuh.
Kedua garis pertahanan tadi bekerja menjaga konsentrasi H + dari perubahan yang
terlalu banyak sampai garis pertahanan ketiga yang bekerja lebih lambat yaitu ginjal
mengeluarkan kelebihan asam atau basa dari dalam tubuh. Walaupun ginjal memberikan
respons yang relatif lambat dibandingkan garis pertahanan lainnya, beberapa jam sampai
beberapa hari, ginjal merupakan sistem pengatur asam-basa yang paling kuat dalam
tubuh.
Sistem Buffer Ion Hidrogen dalam Cairan Tubuh

Sistem Buffer adalah campuran dua zat kimia dalam larutan yang dapat
meminimalisasi perubahan pH saat asam atau basa ditambahkan atau dikeluarkan dari
larutan tersebut. Sistem buffer ini terdiri dari pasangan substansi yang bekerja dalam
reaksi reversibel. Substansi pertama dapat melepaskan H+ bebas saat [H+] menurun dan
substansi lainnya dapat mengikat H+ saat [H+] meningkat. Tubuh kita memiliki 4 sistem
buffer yaitu :
a. Sistem buffer bikarbonat
b. Sistem buffer fosfat
c. Sistem buffer protein
1.

Sistem buffer bikarbonat


Sistem buffer bikarbonat merupakan sistem buffer yang paling penting pada cairan
eksraseluler yang terdiri dari larutan air yang mengandung dua unsur yaitu asam lemah
H2CO3 dan garam bikarbonat seperti NaHCO3.
H2CO3 dibentuk dari
reaksi CO2 dengan H2O
dengan bantuan enzim karbonik anhidrase. Enzim ini sangat banyak terutama di dinding
alveoli paru tempat CO2 dilepaskan. Karbonik anhidrase juga terdapat di sel epitel
tubulus ginjal tempat CO2 bereaksi dengan H2O untuk membentuk H2CO3.
Garam bikarbonat terdapat secara dominan sebagai natrium bikarbonat (NaHCO3)
dalam cairan ekstrasel. NaHCO3 berionisasi hampir secara lengkap membentuk ion
bikarbonat dan ion natrium dengan reaksi :
Jika
dimasukkan
bersama sama akan didapatkan reaksi:
Bila asam
kuat
seperti
HCl
ditambahkan ke dalam larutan penyangga bikarbonat, peningkatan ion hidrogen yang
dilepaskan oleh asam akan disangga oleh HCO3Sebagai
hasilnya lebih banyak H2CO3 yang terbentuk menyebabkan peningkatan produksi CO2
dan H2O. CO2 yang berlebihan akan merangsang pernapasan yang akhirnya
mengeluarkan CO2 dai cairan ekstrasel.
Reaksi berlawanan terjadi jika suatu basa kuat seperti natrium hidroksida (NaOH)
ditambahkan ke larutan buffer bikarbonat.

Dalam reaksi ini OH- dari NaOH bergabung dengan H2CO3 membentuk HCO3tambahan. Jadi basa lemah NaHCO3 menggantikan basa kuat NaOH. Pada waktu yang
sama konsentrasi H2CO3 turun menyebabkan lebih banyak CO2 bergabung dengan H2O
untuk menggantikan H2CO3.
Hasil
akhirnya
adalah
kecenderungan penurunan kadar CO2 dalam darah tetapi penurunan CO2 dalam darah
menghambat pernapasan dan menurunkan laju eksiprasi CO2. Peningkatan HCO3- yang
terjadi dalam darah dikompensasi dengan peningkatan eksresi HCO3- oleh ginjal.
2.

Sistem buffer fosfat


Sistem buffer fosfat berperan penting pada cairan tubulus ginjal dan cairan intrasel.
Elemen utama dari sistem buffer fosfat adalah H 2PO4- dan HPO4-. Bila asam kuat seperti
HCl ditambahkan dalam campuran kedua zat ini maka hidrogen akan diterima oleh
HPO42- dan diubah menjadi H2PO4-.
Hasil
dari
reaksi ini adalah HCl digantikan asam lemah NaH2PO4 sehingga penurunan pH minimal.
Bila suatu basa kuat seperti NaOH yang ditambahkan ke dalam sistem buffer, OH - akan
disangga oleh H2PO4- untuk membentuk HPO42- dengan air.
Dalam
keadaan ini basa kuat NaOH ditukar dengan suatu basa lemah Na 2HPO4 sehingga pH
hanya meningkat sedikit.
3.

Sistem buffer protein


Sistem buffer protein merupakan salah satu sistem buffer paling kuat dalam tubuh
karena konsentrasinya yang tinggi terutama dalam sel. pH sel memiliki perubahan yang
kira-kira sebanding dengan pH cairan ekstrasel meskipun pH sel sedikit lebih rendah dari
cairan ekstrasel. Terdapat sedikit H+ dan HCO3- yang berdifusi melalui membran sel
walaupun ion-ion ini membutuhkan waktu beberapa jam untuk menjadi seimbang dengan
cairan ekstrasel. Akan tetapi CO2 dapat dengan cepat berdifusi melalui semua membran
sel.
Difusi elemen sistem buffer bikarbonat ini menyebabkan pH dalam cairan intrasel
berubah ketika terjadi perubahan pH cairan ekstrasel. Karena alasan ini sistem buffer
intrasel akan membantu mencegah perubahan pH cairan ekstrasel namun dibutuhkan
waktu beberapa jam untuk menjadi efektif secara maksimal.
Mekanisme kerja buffer protein :

a.
b.

1.

Bila terjadi peningkatan pH, COOH akan berdisosiasi menjadi asam lemah
sebagai donor H+
Bila terjadi penurunan pH, NH2 (gugus amino) bertindak sebagai basa lemah
akseptor H+ NH3+ (ion amino)

Pengaturan Pernapasan Terhadap Keseimbangan Asam-Basa

Garis pertahanan kedua terhadap gangguan asam-basa adalah pengaturan konsentrasi


CO2 ekstrasel oleh paru. Berdasarkan persamaan Henderson-Hasselbach, pembentukan
CO2 berbanding terbalik dengan pH akibatnya jika CO2 meningkat akan menurunkan pH.
Jika pembentukan CO2 metabolik (asidosis metabolik) meningkat, paru paru akan
mengimbanginya dengan meningkatkan ventilasi alveolus yang akan mempercepat
pengeluaran CO2 dari tubuh. Peningkatan ventilasi akan mengeluarkan CO 2 dari cairan
ekstrasel yang melalui kerja secara besar-besaran akan mengurangi konsentrasi H +. Dan
sebaliknya jika pembentukan CO2 metabolik menurun akan menurunkan ventilasi
alveolus. Penurunan ventilasi akan meningkatkan CO2 yang berefek pada peningkatan
konsentrasi H+ dalam cairan ekstrasel.
2.

Pengaturan Keseimbangan Asam-Basa oleh Ginjal


Ginjal mengatur keseimbangan asam basa dengan mengekskresikan urine yang asam
atau basa. Mekanisme ekskresi urine asam atau basa oleh ginjal adalah sebagai berikut :
a. Sejumlah besar HCO3- difiltrasi secara terus menerus ke dalam tubulus. Bila
HCO3- ini diekskresikan ke dalam urine, keadaan ini menghilangkan basa dari
dalam darah
b. Sejumlah besar H+ juga disekresikan ke dalam lumen tubulus oleh sel epitel
tubulus sehingga menghilangkan asam dari darah.
Bila lebih banyak H+ yang disekresikan daripada HCO3- yang difiltrasi, akan terjadi
kehilangan asam dari cairan ekstrasel, sedangkan bila lebih banyak HCO3- yang difiltrasi
daripada H+ yang disekresikan, akan terjadi kehilangan basa.
Bila terjadi pengurangan konsentrasi H+ cairan ekstrasel (alkalosis), ginjal gagal
mengabsorbsi semua bikarbonat yang difiltrasi sehingga meningkatkan ekskresi
bikarbonat. Karena HCO3- ini normalnya menyangga hidrogen dalam cairan ekstrasel,
kehilangan bikarbonat ini sama dengan penambahan satu H+ ke dalam cairan ekstrasel.

Pada asidosis, ginjal tidak mengekskresikan bikarbonat ke dalam urine tetapi


mereabsorbsi semua bikarbonat yang difiltrasi dan menghasilkan bikarbonat baru yang
kemudian ditambahkan ke cairan ekstrasel. Hal ini mengurangi konsentrasi H+ cairan
ekstrasel kembali menuju normal.
Sehingga disimpulkan ginjal mengatur konsentrasi H+ dengan 3 mekanisme dasar
yaitu :
1. Sekresi ion H+
2. Reabsorbsi HCO33. Produksi HCO3- baru
E. Hasil Analisa Gas Drah
1. Interpretasi Hasil Pemeriksaan pH
Serum pH menggambarkan keseimbangan asam basa dalam tubuh. Sumber ion
hidrogen dalam tubuh meliputi asam volatil dan campuran asam (seperti asam laktat
dan asam keto).
Nilai normal pH serum :

Nilai normal

: 7.35 - 7.45

Nilai kritis

: < 7.25 - 7.55

Implikasi Klinik
1. Umumnya nilai pH akan menurun dalam keadaan asidemia (peningkatan
pembentukan asam)
2. Umumnya nilai pH meningkat dalam keadaan alkalemia (kehilangan asam)
3. Bila melakukan evaluasi nilai pH, sebaiknya PaCO2 dan HCO3 diketahui
juga untuk memperkirakan komponen pernafasan atau metabolik yang
mempengaruhi status asam basa
2. Interpretasi Hasil Tekanan Parsial Karbon Dioksida (PaCO2 )
PaCO2 menggambarkan tekanan yang dihasilkan oleh CO2 kyang terlarut dalam
plasma. Dapat digunakan untuk menetukan efektifitas ventilasi dan keadaan asam
basa dalam darah.
Nilai Normal : 35 - 45 mmHg

SI

: 4.7 - 6.0 kPa

Implikasi Klinik :
1. Penurunan nilai PaCO2 dapat terjadi pada hipoksia, anxiety/ nervousness dan
emboli paru. Nilai kurang dari 20 mmHg perlu mendapatkan perhatiaan
khusus.
2. Peningkatan nilai PaCO2 dapat terjadi pada gangguan paru atau penurunan
fungsi pusat pernafasan. Nilai PaCO2 > 60 mmHg perlu mendapat perhatian
khusus.
3. Umumnya peningkatan PaCO2 dapat terjadi pada hipoventilasi sedangkan
penurunan nilai menunjukkan hiperventilasi.
4. Biasanya penurunan 1 mEq HCO3 akan menurunkan tekanan PaCO2 sebesar
1.3 mmHg.
3. Interpretasi Hasil Tekanan Parsial Oksigen (PaO2 )
PaO2 adalah ukuran tekanan parsial yang dihasilkan oleh sejumlah oksigen yang
terlarut dalam plasma. Nilai ini menunjukkan kemampuan paru-paru dalam
menyediakan oksigen bagi darah.

Nilai Normal (suhu kamar, tergantung umur) ; 75 - 100 mmHg SI : 10 - 13.3 kPa

Implikasi Klinik
1. Penurunan nilai PaO2 dapat terjadi pada penyakit paru obstruksi
kronik (PPOK), penyakit obstruksi paru, anemia, hipoventilasi akibat
gangguan fisik atau neoromuskular dan gangguan fungsi jantung.
Nilai PaO2 kurang dari 40 mmHg perlu mendapatkan perhatian
khusus.
2. Peningkatan

nilai

PaO2

dapat

terjadi

pada

peningkatan

penghantaran O2 oleh alat bantu (contoh; nasal prongs, alat


ventilasi mekanik) hiperventilasi dan polisitemia (peningkatan sel
darah merah dan daya angkut oksigen)

4. Interpretasi Hasil Saturasi Oksigen (SaO2)


Jumlah oksigen yang diangkut oleh hemoglobin , ditulis sebagai persentasi
total oksigen yang terikat pada hemoglobin.
Nilai Normal : 95 - 99 % O2
Implikasi Klinik
1. Saturasi oksigen digunakan untuk mengevaluasi kadar oksigenasi hemoglobin
dan kecakupan oksigen pada jaringan
2. tekanan parsial oksigen yang terlarut di plasma menggambarkan jumlah
oksigen yang terikat pada hemoglobin sebagai ion bikarbonat
5. Interpretasi Hasil Pemeriksaan Karbon Dioksida (CO2)
Dalam plasma normal, 95% dari total CO2 terdapat sebagai ion bikarbonat, 5%
sebagai larutan gas CO2 terlarut dan asam karbonat. Kandungan CO2 plasma
terutama adalah bikarbonat, suatu larutan yang bersifat basa dan diatur oleh ginjal.
Gas CO2 yang larut ini terutama bersifat asam dan diatur oleh paru-paru. Oleh
karena itu nilai CO2 plasma menunjukkan konsentrasi bikarbonat.

Nilai Normal Karbon Dioksida (CO2) : 22 - 32 mEq/L SI

: 22 - 32 mmol/L

Kandungan CO2 plasma terutama adalah bikarbonat, suatu larutan yang bersifat
basa dan diatur oleh ginjal. Gas CO2 yang larut ini terutama yang bersifat asam dan
diatur oleh paru-paru. oleh karena itu nilai CO2 plasma menunjukkan konsentrasi
bikarbonat.
Implikasi Klinik :
1. Peningkatan kadar CO2 dapat terjadi pada muntah yang parah, emfisema, dan
aldosteronisme
2. Penurunan kadar CO2 dapat terjadi pada gagal ginjal akut, diabetik asidosis
dan hiperventilasi
3. Peningkatan dan penurunan dapat terjadi pada penggunaan nitrofurantoin

6. Anion Gap (AG)


Anion gap digunakan untuk mendiagnosis asidosis metabolik. Perhitungan
menggunakan elektrolit yang tersedia dapat membantu perhitungan kation dan anion
yang tidak terukur. Kation dan anion yang tidak terukur termasuk Ca+ dan Mg2+.
Anion yang tidak terukur meliputi protein, posfat sulfat dan asam organik. Anion gap
dapat dihitung menggunakan dua pendekatan yang berbeda.
Na+ - (Cl-

+ HCO3) atau Na + K - (Cl + HCO3) = AG

Nilai Normal Pemeriksaan Anion Gap : 13 - 17 mEq/L


Implikasi Klinik :
1. Nilai anion gap yang tinggi (dengan pH tinggi) menunjukkan penciutan
volume ekstraseluler atau pada pemberian penisilin dosis besar.
2. Anion gap yang tinggi dengan pH rendah merupakan manifestasi dari
keadaan yang sering dinyatakan dengan singkatan "MULEPAK" yaitu akibat

asupan metanoll, uremia, asidosis laktat, etilen glikol, paraldehid, intoksikasi


aspirin dan ketoasidosis.
3. Anion

gap

rendah

dapat

terjadi

pada

hipoalbuminemia,

dilution,

hipernatremia, hiperkalsemia yang terlihat atau toksisitas litium.


4. Anion gap yang normal dapat terjadi pada metabolik asidosis akibat diare,
asidoses tubular ginjal atau hiperkalsemia.

F. Cara Pemeriksaan Analisa Gas Darah


1. Arteri Radialis dan Arteri Ulnaris (sebelumnya dilakukan allens test)
Test Allens merupakan uji penilaian terhadap sirkulasi darah di
tangan, hal ini dilakukan dengan cara yaitu: pasien diminta untuk
mengepalkan tangannya, kemudian berikan tekanan pada arteri radialis
dan arteri ulnaris selama beberapa menit, setelah itu minta pasien unutk
membuka tangannya, lepaskan tekanan pada arteri, observasi warna jarijari, ibu jari dan tangan. Jari-jari dan tangan harus memerah dalam 15
detik, warnamerah menunjukkan test allens positif. Apabila tekanan
dilepas, tangan tetap pucat, menunjukkan test allens negatif. Jika
pemeriksaan negative, hindarkan tangan tersebut dan periksa tangan
yang lain.
2. Arteri Dorsalis pedis
Merupakan arteri pilihan ketiga jika arteri radialis dan ulnaris tidak
bisa digunakan.
3. Arteri Brakialis
Merupakan arteri pilihan keempat karena lebih banyak resikonya bila
terjadi obstruksi pembuluh darah. Selain itu arteri femoralis terletak
sangat dalam dan merupakan salah satu pembuluh utama yang
memperdarahi ekstremitas bawah.
4. Arteri Femoralis

Merupakan pilihan terakhir apabila pada semua arteri diatas tidak


dapat diambil. Bila terdapat obstruksi pembuluh darah akan menghambat
aliran darah ke seluruh tubuh / tungkai bawah dan bila yang dapat
mengakibatkan berlangsung lama dapat menyebabkan kematian
jaringan. Arteri femoralis berdekatan dengan vena besar, sehingga dapat
terjadi percampuran antara darah vena dan arteri.
Selain itu arteri femoralis terletak sangat dalam dan merupakan salah
satu pembuluh utama yang memperdarahi ekstremitas bawah.
Arteri Femoralis atau Brakialis sebaiknya jangan digunakan jika masih
ada alternative lain karena tidak memiliki sirkulasi kolateral yang cukup
untuk mengatasi bila terjadi spasme atau thrombosis. Sedangkan arteri
temporalis atau axillaris sebaiknya tidak digunakan karena adanya resiko
emboli ke otak.

Prosedur pada tindakan analisa gas darah ini adalah sebagai berikut (McCann, 2004):
1.

Siapkan peralatan dan bahan yang dibutuhkan sebelum memasuki

2.
3.

ruangan pasien.
Cuci tangan dengan menggunakan tujuh langkah benar.
Bila menggunakan peralatan AGD yang sudah siap, buka peralatan

4.

tersebut serta pindahkan label contoh dan tas plastik (plastic bag).
Catat label nama pasien, nomor ruangan, temperatur suhu pasien,
tanggal dan waktu pengambilan, metode pemberian oksigen, dan nama

5.

perawat yang bertugas pada tindakan tersebut.


Beritahu pasien alasan dalam melakukan tindakan tersebut dan jelaskan
prosedur ke pasien untuk membantu mengurangi kecemasan dan

6.
7.

meningkatkan kooperatif pasien dalam melancarkan tindakan tersebut.


Cuci tangan dan setelah itu gunakan sarung tangan.
Lakukan pengkajian melalui metode tes Allen.Cara allens tes. Minta
klien untuk mengepalkan tangan dengan kuat, berikan tekanan langsung
pada arteri radialis dan ulnaris, minta klien untuk membuka tangannya,
lepaskan tekanan pada arteri, observasi warna jari-jari, ibu jari dan
tangan. Jari-jari dan tangan harus memerah dalam 15 detik, warna
merah menunjukkan test allens positif. Apabila tekanan dilepas, tangan

tetap pucat, menunjukkan test allens negatif. Jika pemeriksaan negatif,


8.

hindarkan tangan tersebut dan periksa tangan yang lain.


Bersihkan daerah yang akan di injeksi dengan alkohol atau

9.

povidoneiodine pad.
Gunakan gerakan memutar (circular) dalam membersihkan area injeksi,

dimulai dengan bagian tengah lalu ke bagian luar.


10. Palpasi arterti dengan jari telunjuk dan tengah satu tangan ketika tangan
satunya lagi memegang syringe.
11. Pegang alat pengukur sudut jarum hingga menunjukkan 30-45 derajat.
Ketika area injeksi arteri brankhial, posisikan jarum 60 derajat.
12. Injeksi kulit dan dinding arterial dalam satu kali langkah.
13. Perhatikan untuk blood backflow di syringe.
14. Setelah mengambil contoh, tekan gauze pad pada area injeksi hingga
pedarahan berhenti yaitu sekitar 5 menit.
15. Periksa syringe dari gelembung udara. Jika muncul gelembung udara,
pindahkan gelembung tersebut dengan memegang syringe ke atas dan
secara perlahan mengeluarkan beberapa darah ke gauze pad.
16. Masukan jarum ke dalam penutup jarum atau pindahkan jarum dan
tempatkan tutup jarum pada jarum yang telah digunakan tersebut.
17. Letakkan label pada sampel yang diambil yang sudah diletakkan pada
ice-filled plastic bag.
18. Ketika pedarahan berhenti, area yang di injeksi diberikan balutan kecil
dan direkatkan.
19. Pantau tanda vital pasien, dan observasi tanda dari sirkulasi. Pantau atau
perhatikan risiko adanya pedarahan di area injeksi.

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Berdasarkan tujuan yang ada dapat disimpilkan bahwa, Pemeriksaan Analisa
Gas Darah (Astrup) adalah salah satu tindakan pemeriksaan laboratorium yang ditujukan
ketika dibutuhkan informasi yang berhubungan dengan keseimbangan asam basa (Ph),
jumlah oksigen, dan karbondioksida dalam darah pasien. Pemeriksaan ini digunakan
untuk menilai fungsi kerja paru-paru dalam menghantarkan oksigen kedalam sirkulasi
darah dan mengambil karbondioksida dalam darah. Analisa gas darah meliputi PO 2, Ph,
HCO3, dan seturasi O2. Analisa Gas Darah ( AGD ) atau sering disebut Blood Gas Analisa
(BGA) merupakan pemeriksaan penting untuk penderita sakit kritis yang bertujuan untuk
mengetahui atau mengevaluasi pertukaran Oksigen (O2),Karbondiosida ( CO2) dan status
asam-basa dalam darah arteri.

B.

Saran
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan menambah wawasan
ilmu pengetahuan tentang analisa gas darah.

DAFTAR PUSTAKA

Guyton AC, Hall JE. (2006). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran edisi 11. Jakarta : EGC
McCann, J. A. S. (2004). Nursing Procedures.4th Ed. Philadelphia: Lippincott
Williams & Wilkins.
Potter,P.A. & Perry, A.G.(1997). Fundamental of Nursing : Concept, Process and
Practice.4th Ed. St. Louise, MI: Elsevier Mosby,Inc
Wilson.D.D.(1997). Understanding Laboratory and Diagnostik Tests. Philadelphia:
Lippincolt.