You are on page 1of 7

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Kopi adalah sejenis minuman, biasanya dihidangkan panas, dan
diproses dari biji tanaman kopi yang digongsengAli Nurdin Tanaman
kopi bukan tanaman asli Indonesia, melainkan jenis tanaman berasal
dari benua Afrika.Tanaman kopi dibawa ke pulau Jawa pada tahun
1696, tetapi pada waktu itu masih dalam taraf percobaan. Di Jawa,
tanaman kopi ini mendapat perhatian sepenuhnya pada tahun 1699,
karena tanaman tersebut dapat berkembang dan berproduksi baik dan
jenis tanaman kopi yang dibawa adalah kopi arabika.
Keragaman pola tanam dalam satu lahan pertanian telah menjadi
ketertarikan tersendiri di dalam penelitian Antropologi.Salah satu studi
Antropologi yang telah meneliti variasi pola tanam yaitu Purwanto
(1998:69-82) yang melakukan penelitian terhadap variasi pola tanam
pada pertanian padi sawah. Purwanto menjelaskan bahwa terjadinya
variasi pola tanam dalam satu areal lahan disebabkan oleh beberapa
faktor yaitu:- faktor sosial; dimana petani harus menyeragamkan
tanaman

padi

yang

ditanamnya

dengan

yang

ditanam

oleh

kebanyakan petani lainnya, -faktor ekologis; dimana petani harus dapat
memilih tanaman padi apa yang cocok untuk kondisi iklim sekarang,
misalnya untuk jenis padi lokal tidak membutuhkan jumlah air irigasi
terlalu banyak sedangkan untuk padi super membutuhkan jumlah air
yang jauh lebih banyak dibandingkan untuk padi lokal, -faktor
situasional; dimana keadaan petani menjadi penentu ketika mereka
harus menanam padi jenis apa, karena untuk menanam padi jenis
super, petani harus menyediakan pupuk yang cukup banyak agar hasil
produksi

menjadi

maksimal,

sedangkan untuk

padi

lokal,

tidak

membutuhkan pupuk dan rasanya juga lebih enak.
Permasalahan yang muncul pada saat ini menyangkut budidaya
tanaman kopi menarik perhatian banyak pihak.Saat ini permasalahan
mengenai kopi sudah mulai dikaji dengan menggunakan Analisis SWOT.

Keempat aspek dalam Analisis SWOT tersebut sangat penting dikaji.2 Tujuan   Untuk menganalisis SWOT pada komoditas kopi. 1. dimana setiap aspek mempunyai potensi dalam meningkatkan produksi kopi. . khususnya di tanah air.Dimana hal yang paling utama dibahas menyangkut meningkatkan produksi kopi di pasar dunia serta membudidayakan kopi yang berkualitas untuk meningkatkan kesejateraan para petani kopi. Untuk menfidentifikasi kebijakan penganan perkopian.

A. Tersedianya keragaman produk kopi baik dalam bentuk regular coffee atau specialty coffee. Setelah diketahui kekuatan. peluang dan ancaman. Matrik ini menghasilkan empat kemungkinan alternatif strategi yaitu strategi S-O. sekaligus memperkecil atau bahkan mengatasi kelemahan yang dimilinya untuk menghindari ancaman yang ada. 2. Weakness. . Masih terbukanya Peluang pengembangan Product development dalam bentuk kopi setengah jadi (roasted coffee) maupun kopi jadi (soluble dan instant coffee). apakah masih mempunyai peluang dalam pengembangannya atau tidak relevan lagi saat ini. Untuk lebih jelasnya kondisi industri perkopian Indonesia. hendaknya kita menganalisis terlebih dahulu dengan mengunakan analisis SWOT. kelemahan. Opportunities dan Threats). Ketersedian lahan dan agroklimat yang sesuai. 4. strategi S-T dan strategi W-T. strategi W-O. barulah perusahaan tersebut dapat menentukan strategi dengan memanfaatkan kekuatan yang dimilikinya untung mengambil keuntungan dari peluang-peluang yang ada. Analisis SWOT merupakan identifikasi yang bersifat sistematis dari faktor-faktor kekuatan dan kelemahan organisasi serta peluang dan ancaman lingkungan luar dan strategi yang menyajikan kombinasi terbaik dia antara keempatnya. Rendahnya Produktivitas kopi di Indonesia. Kekuatan (Strengths) 1. 3. Matrik SWOT digunakan untuk menyusun strategi organisasi atau perusahaan yang menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman yang dihadapi organisasi/perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan organisasi/perusahaan. peluang dan ancaman (Strength. khususnya pengembangan kopi Arabika. 5.BAB II PEMBAHASAN Analisis SWOT yaitu analisa kekuatan. B. Tersedianya berbagai paket teknologi dari mulai pra panen. panen dan pasca panen yang telah dikembangkan ke masyarakat petani pekebun. Biaya produksi relatif lebih rendah. kelemahan. Kelemahan (Weaknesses) 1. baik kopi Robusta maupun Arabika.

C.69 ha per KK. Terbatas atau lemahnya kelembagaan petani dalam posisi rebut pasar (bergaining position). perkembangan harga rata-rata kopi Arabika selalu lebih tinggi dibandingkan harga kopi Robusta. Sedangkan kopi Arabika dirasakan beberapa tahun terakhir mengalami fluktuasi dan cenderung mengalami penurunan. Menurut ICO. sedangkan permintaan kopi dunia hingga saat ini masih didominasi oleh Arabika dengan pangsa pasar >70 %. Penerapan teknologi (agronomi. meskipun produksi dunia mengalami sedikit peningkatan. 10. 6. namun lebih diakibatkan adanya kecenderungan meningkatnya produksi kopi Robusta di wilayah Asia pasifik. 4. 7. dengan beberapa indikator sebagai berikut. 9. Diasumsikan bahwa. Pemilikan lahan yang rata-rata masih sempit yaitu seluas 0. Dewasa ini kecenderungan budaya minum kopi khususnya di pasar tradisional mengalami perubahan yaitu dari “hot beverages” ke “cold beverages” yaitu peralihan minuman ke soft drink. adanya ancaman dari minuman lain. 8. Terbatasnya ketersediaan lahan yang memadai. yang hanya terdapat pada dataran tinggi di pegunungan. maka dapat diasumsikan bahwa pengembangan agribisnis kopi Arabika memiliki kecenderungan yang lebih prospektif dibandingkan dengan Robusta. 3. 5. Terbatasnya panen kopi. 2. D. Distribusi supply dan demand kopi dunia. Pertanaman kopi Robusta mendominasi dibandingkan dengan kopi arabika. Ditinjau dari aspek hukum belum banyak produk kopi yang tergolong dalam produk specilaty secara legal memiliki hak paten. . Perkembangan harga kopi dunia. Perkembangan konsumsi kopi dunia (terutama negara importir) cukup baik sehingga pasar dan permintaan baru akan terbuka. 11. khususnya untuk kopi Arabika yang menuntut lingkungan dengan suhu rendah. Ancaman (Treaths) 1. Peluang (Opportunities) Peluang pasar kopi Indonesia khususnya dimasa mendatang masih cukup cerah. 3. 1. Kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung industri kopi. Kurang informasi pasar dalam mengefisienkan sistem tataniaga. Rendahnya kualitas/mutu kopi Indonesia.2. Belum proporsionalnya komposisi kopi Arabika dan Robusta. pasca panen dan pengolahan) yang masih amat terbatas.

o Mengisi dan meningkatkan peluang pasar yang tersedia baik domestik maupun internasional serta mempertahankan pasar yang telah ada melalui berbagai upaya promosi baik dalam dan luar negeri termasuik mendukung agrowisata. Strategi S-T  Penajaman wilayah potensial yang berkelayakan teknis dan tanaman dalam upaya meningkatkan produktivitas tanaman dan lahan. 3. o pengembangan iklim usaha yang kondusif untuk investasi dibidang perkopian. Alternatif Strategi 1. hal ini dikarenakan tingkat upah yang diterima masih dirasakan relatif rendah. 4. Strategi W-O    Optimalisasi ketersediaan dan pemanfaatan sarana dan prasarana yang diperlukan dalam mendukung peningkatan kualitas tanaman dan produk yang dihasilkan. Menumbuh kembangkan fungsi kelembagaan dan kemitraan yang berazaskan kebersamaan ekonomi. Strategi S-O o Pengembangan area selain didasarkan pada kesesuaian lahan juga dengan pertimbangan memiliki daya kompetitif dan komparatif secara antar dan intra wilatah serta pertimbangan permintaan pasar/konsumen baik domestik ataupun dunia. Penyimpangan Iklim.2. Optomalisasi usaha tani dalam luasan skala usaha dan ekonomis baik ditingkat petani maupun usaha menengah dan besar . Perkembangan produksi yang besar di negara lain (Vietnam) sangat tinggi menyebabkan persaingan pasar sangat tinggi.  Mendukung pelestarian lingkungan yang berkelanjutan melalui perwujudan usaha perkebunan kopi yang ramah lingkungan (environmental friendly coffee). 3. . Sementara tanaman kopi dalam stadia-stadia tertentu sangat rentan terhadap pengaruh kekurangan dan kelebihan air yang akan berakibat pada penurunan produksi. 5. Perubahan iklim yang akhir-akhir ini sulit diperkirakan akan berdampak terhadap penyimpangan tipe iklim di suatu wilayah. Angkatan kerja di pedesaan kurang berminat bekerja di perkebunan. khususnya berupaya kebijakan yang diterapkan secara konsisten dan berkesinambungan. Kelangkaan tenaga kerja.

dengan mengacu pada “market oriented”. yatu. HACCP) diikuti dengan perbaikan melalui penerapan “reward” dan “punishment” terhadap pembelian produk. perambahan atau aktivita serupa lainnya.  Pengembangan komposisi kopi Robusta ke Arabika melalui upaya konversi lahan Robusta dengan ketinggian tempat di atas 1. serta penanaman tanaman baru pada lahan-lahan yang berkelayakan teknis. Sosialisasi penerapan sistem manajemen mutu (SNI. rehabilitasi. o Peningkatan dan pengembangan SDM yang tangguh dan bermutu serta IPTEK yang tepat sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah. o mempertangguh daya saing komoditas melalui peningkatan mutu hasil dan efisiensi usaha. .Kebijakan Teknis o Kebijakan ini akan menentukan arah pengembangan kopi kedepan. Kebijakan Umum o Membangun perkebunan kopi yang berkelanjutan. ISO.7. 3. 1. meningkatkan jaminan keamanan berusaha terhadap segala bentuk penjarahan.Strategi W-T    Melakukan koordinasi dengan berbagai instansi terkait dalam rangka legalisasi produk-produk kopi spesial (specialty dan bio coffee) untuk mendapatkan nama dagang (trade mark) atau hak paten dari produk-produk yang bersangkutan. peremajaan dan diversifikasi pada areal yang telah ada dan diprioritaskan pada wilayah eks-proyek serta kawasan hutan dan DAS. maka kebijakan pengembangan kopi kedepan khususnya secara teknis dititikberatkan kepada.000 m dpl.  peningkatan produktivitas (tanaman dan lahan) serta mutu hasil melalui upaya intensifikasi. Alternatif Kebijakan Berangkat dari stategi diatas.

000 m dpl. Kelestarian dan pengembangan kopi spesial di lahan subur dengan ketinggian tempat di atas 1.com . http://binaukm.