You are on page 1of 46

BAB I

PENDAHULUAN

Infeksi Nosokomial merupakan masalah serius bagi semua rumah sakit. Kerugian yang
ditimbulkan sangat membebani rumah sakit maupun pasien. Terjadinya infeksi nosokomial
dipengaruhi oleh beberapa factor, antara lain :
- Banyaknya pasien yang dirawat yang menjadi sumber infeksi bagi lingkungan dan pasien
lainnya.
- Kontak langsung antara pasien yang menjadi sumber infeksi dengan pasien lainnya.
- Kontak langsung antara petugas rumah sakit yang tercemar kuman dengan pasien.
- Penggunaan alat / peralatan medis yang tercemar oleh kuman.
- Kondisi pasien yang lemah akibat penyakit yang dideritanya.
Pengendalian Infeksi Nosokomial merupakan suatu upaya penting dalam meningkatkan mutu
pelayanan medis rumah sakit. Hal ini hanya dapat dicapai dengan keterlibatan secara aktif
semua personil rumah sakit, mulai dari petugas kebersihan sampai dengan dokter dan mulai
dari pekarya sampai dengan jajaran Direksi. Kegiatannya dilakukan secara baik dan benar
di semua sarana rumah sakit. ; peralatan medis dan non medis, ruang perawatan dan
prosedur serta lingkungan.
Mengingat kegiatan yang penting ini melibatkan berbagai disiplin dan tingkatan personil
rumah sakirt. Diperlukan adanya prosedur baku untuk setiap tindakan yang berkaitan
dengan pengendalian infeksi nosokomial. Prosedur baku yang dituangkan dalam tata
laksana pengendalian infeksi nosokomial ini merupakan prosedur maksimal yang harus
diupayakan untuk dilaksanakan seluruhnya sesuai dengan situasi pada saat dan tempat
pelaksanaannya.
Diharapkan dengan adanya tata laksana pengendalian infeksi nosokomial yang merupakan
pelengkap dari pedoman pengendalian infeksi nosokomial ini seluruh personil RS. Islam
Klaten memiliki sikap dan perilaku yang sama dalam mengendalikan infeksi nosokomial.
Hasil akhir yang diharapkan adalah peningkatan mutu pelayanan kesehatan secara
menyeluruh oleh RS. Islam Klaten terhadap pasien.

BAB II
PENCEGAHAN INFEKSI NOSOKOMIAL

Pencegahan terhadap terjadinya infeksi nosokomial di rumah sakit dimaksud untuk

menghindari terjadinya infeksi selama pasien dirawat di rumah sakit. Pelaksanaan upaya
pencegahan infeksi nosokomial terdiri atas :
- Kewaspadaan Universal
- Tindakan Invasif
- Tindakan Non invasive
- Tindakan terhadap anak dan neonatus
- Sterilisasi dan Desinfeksi

KEWASPADAAN
Definisi :
“ Universal Precautions “ atau Kewaspadaan Universal adalah suatu pedoman yang
ditetapkan oleh Centers for Disease Cotrol ( CDC ) ( 1985 ) untuk mencegah penyebaran
dari berbagai penyakit yang ditularkan melalui darah di lingkungan rumah sakit maupun
sarana pelayanan kesehatan lainnya. Adapun konsep yang dianut adalah bahwa semua
darah dan cairan tubuh tertentu harus dikelola sebagai sumber yang dapat menularkan HIV,
HBV dan berbagai penyakit lain yang ditularkan melalui darah.
Pelaksanaan Kewaspadaan Universal.
Secara singkat, kebijaksanaan pelaksanaan “UP” adalah seperti apa yang dikemukakan
dibawah ini :
1. Semua petugas kesehatan harus rutin menggunakan sarana yang dapat mencegah kontak
kulit dan selaput lender dengan darah atau cairan tubuh lainnya dari setiap pasien yang
dilayani.
Dengan demikian setiap petugas kesehatan harus :
 Menggunakan sarung tangan bila :
- Menyentuh darah atau cairan tubuh, selaput lender atau kulit yang tidak utuh.
- Mengelola berbagai peralatan dan sarana kesehatan / kedokteran yang tercemar darah
atau cairan tubuh.
- Mengerjakan fungsi vena atau segala prosedur yang menyangkut pembuluh darah. Sarung
tangan harus selalu diganti setiap selesai kontak dengan seorang pasien.
 Menggunakan masker dan pelindung mata atau pelindung wajah bila mengerjakan
prosedur yang memungkinkan terjadinya cipratan darah atau cairan tubuh guna mencegah
terpaparnya selaput lender pada mulut, hidung dan mata.
 Memakai jubah ( pakaian kerja ) khusus selama melaksanakan tindakan yang mungkin
akan menimbulkan cipratan darah atau cairan tubuh ainnya.
2. Tangan dan bagian tubuhlainnya harus segera dicuci sebersih mungkin bila
terkontaminasi oleh darah dan cairan tubuh lainnya. Setiap saat setelah melepaskan sarung
tangan, tangan harus segera dicuci.
3. Semua petugas harus selalu waspada terhadap kemungkinan tertusuk jarum, pisau dan
benda / alat tajam lainnya selama pelaksanaan tindakan, saat membersihkan / mencuci

peralatan, saat membuang sampah atau ketika membenahi peralatan setelah berlangsungnya
prosedur / tindakan.
Untuk mencapai tujuan ini, maka jangan menutup kembali jarum suntik setelah selesai
dipakai, jangan sengaja membengkokkan atau mematahkan jarum suntik dengan tangan,
jangan melepaskan jarum suntik dari tabungnya atau melakukan apapun pada jarum suntik
dengan menggunakan tangan. Setelah segala benda tajam digunakan, maka harus
ditempatkan di suatu wadah khusus yang tahan / anti tusukan.
Wadah ini harus berada sedekat mungkin atau mudah dicapai disekitar arena tindakan.
Kemudian wadah kumpulan benda tajam tersebut harus menjamin aman untuk transportasi
ke tempat pemrosesan alat ataupun dalam proses pengenyahan.
4. Walaupun air liur belum terbukti menularkan HIV, tindakan resusitasi dengan cara dari
mulut ke mulut harus dihindari. Dengan demikian di setiap tempat yang mungkin akan
kedapatan kasus yang memerlukan resusitasi, perlu disediakan alat resusitasi.
5. Petugas kesehatan yang sedang mengalami perlukaan atau ada lesi yang mengeluarkan
cairan misalnya menderita dermatitis basah harus menghindari tugas – tugas yang bersifat
kontak langsung dengan pasien ataupun kontak langsung dengan peralatan bebas pakai
pasien.
6. Petugas kesehatan yang sedang hamil tidak mempunyai resiko lebih besar untuk tertular
HIV bila dibandingkan dengan petugas kesehatan yang tidak hamil. Namun demikian bila
terjadi infeksi HIV selama kehamilan, janin yang dikandungnya mempunyai resiko untuk
mengalami transmisi perinatal. Oleh karena itu, petugas kesehatan yang sedang hamil harus
lebih memperhatikan pelaksanaan segala prosedur yang dapat menghindari penularan HIV.
Dengan menerapkan KU setiap petugas kesehatan dapat terlindung semaksimal mungkin
dari kemungkinan terpapar oleh infeksi penyakit yang ditularkan melalui darah atau cairan
tubuh baik dari kasus yang terdiagnosis maupun yang tidak terdiagnose. Sebagai keuntungan
tambahan, transmisi dari kebanyakan infeksi yang ditularkan dengan cara lainpun terhadap
petugas kesehatan dan pasiennya akan dikurangi pula.
Beberapa petunjuk khusus dalam pelaksanaan KU
Kita menyadari bahwa diagnosis dini adanya infeksi oleh berbagai mikroorganisme pada
seorang pasien, khususnya infeksi virus seperti HIV, Hepatitis B dll, penting peranannya
dalam manajemen kasus. Akan tetapi atas dasar berbagai pertimbangan sampai saat ini
penapisan ( “ screening “ ) terhadap berbagai infeksi virus tidak mungkin dilakukan secara
rutin. Bahkan pada infeksi oleh HIV terdapat masa jendela yang mana pada masa tersebut
darah atau cairan tubuh penderita, sudah dapat menularkan infeksi akan tetapi HIV belum
dapat terdeteksi melalui pemeriksaan laboratorium. Oleh karena itu prinsip KU dalam upaya
pencegahan infeksi merupakan kunci utama keberhasilan memutuskan rantai transmisi
penyakit yang ditularkan melalui darah maupun cairan lainnya. Di bawah ini disampaikan
langkah – langkah yang perlu diperhatikan sebagai prosedur pencegahan infeksi, khususnya
infeksi HIV. Perlu diingatkan bahwa langkah – langkah di bawah ini tidak mengabaikan
pentingnya pelaksanaan prosedur standar dalam tiap – tiap tindakan pemrosesan alat /
instrument secara tepat, pembuangan sampah / limbah secara aman dan menjamin

kebersihan ruangan tindakan dan lingkungan sekitarnya.
1. Kewaspadaan dalam tindak medik
Sebagai prosedur pembedahan yang membuka jaringan organ, pembuluh darah, pertolongan
persalinan maupun tindakan abortus prosedur hemodialisis dan prosedur operasi gigi mulut
termasuk dalam tindak medik invasive beresiko tinggi untuk menularkan HIV bagi tenaga
dokter atau pelaksana lainnya. Untuk memutuskan rantai penularan diperlukan barier
berupa :
a. Kacamata pelindung untuk menghindari persikan cairan tubuh pada mata.
b. Masker penutup pelindung hidung dan mulut untuk mencegah percikan pada mukosa
hidung dan mulut.
c. Plastik penutup badan ( skort ) untuk mencegah kontak cairan tubuh pasien dengan
penolong.
d. Sarung tangan yang tepat untuk melindungi tangan yang aktif melakukan tindak medik
invasive.
e. Penutup kaki untuk melindungi kaki dari kemungkinan terpapar cairan yang infektis.
2. Kegiatan di Unit Gawat Darurat
Unit Gawat Darurat yang umumnya melayani kasus kecelakaan maupun kasus emergensi
lainnya harus menyediakan segala peralatan yang berkaitan dengan pelaksanaan KU.
Sarana seperti sarung tangan, masker dan gaun khusus harus selalu ada, mudah dicapai dan
mudah dipakai. Alat resusitasi harus tersedia dalam keadaan siap pakai dan ada petugas
yang terlatih untuk menggunakannya. Disetiap tempat tindakan pelayanan emergency harus
tersedia wadah khusus untuk mengelola peralatan tajam.
3. Kegiatan di Kamar Operasi
a. Dalam Prosedur Operasi
Selain oleh darah secara kontak langsung tertusuknya bagian dari tubuh oleh benda – benda
tajam merupakan kecelakaan yang harus dicegah. Oleh karena itu instrument yang tajam
jangan diberikan secara langsung ked an dari operator oleh asisten atau instrumentator.
Untuk memudahkan hal ini dipakai nampan guna menyerahkan instrument tajam tersebut
ataupun mengembalikannya. Operator bertanggung jawab untuk menempatkan benda tajam
secara aman.
b. Pada saat menjahit.
Pada saat menjahit dilakukan prosedur sedemikian rupa sehingga jari / tangan terhindar
dari tusukan.
c. Memisahkan jaringan
Jangan menggunakan tangan untuk memisahkan jaringan karena tindakan ini akan
menambah resiko.
d. Operasi Sulit.
Untuk operasi – operasi yang membutuhkan waktu lebih dari 60 menit dan lapangan
kerjanya sulit ( sempit ) dianjurkan untuk menggunakan sarung tangan ganda.
e. Melepaskan baju operasi dilakukan sebelum membuka sarung tangan agar tidak terpapar
oleh darah / cairan tubuh dari baju operasi tersebut.

Pakailah obat – obatan sedapat – dapatnya untuk dosis dengan 1 kali pemberian. e. Potonglah tali pusat bayi segera setelah lahir. 2. Bila mencuci instrument secara manual. Cara pengisapan lender bayi dengan mulut penolong harus ditinggalkan. Pencucian instrument bekas pakai sebaiknya secara mekanik. e. 1. Lokasi kagiatan lainnya yang memerlukan perhatian adalah di mobil ambulan. 4. b. Kegiatan di Kamar Bersalin yang membutuhkan lengan / tangan untuk manipulasi instrauterin tentunya harus menggunakan skor dan sarung tangan yang mencapai siku. ruang emergency. Prosedur Anesthesi Prosedur Anasthesi merupakan salah satu aktifitas yang dapat memaparkan HIV pada tenaga kesehatan pula. Paparan pada mulut : Keluarkan cairan infektif tersebut dengan cara berludah kemudian kumur – kumur dengan air beberapa kali. perlu diingatkan bahwa : a. . Sangat dianjurkan agar petugas anasthesi melewati uji kelayakan terlebih dahulu untuk meminimalkan resiko terluka oleh jarum suntik dan alat lain yang tercemar darah dan cairan tubuh. petugas harus menggunakan sarung tangan rumah tangga dan instrument tersebut sebelumnya telah mengalami proses dekontaminasi dengan merendam dalam larutan clorin 0. 4. Jarum harus dibuang sesegera mungkin setelah pemakaian ke dalam wadah yang aman. 5. Penolong bayi baru lahir harus menggunakan sarung tangan. 6.f. Seorang dokter yang akan melakukan prosedur pembedahan sebaiknya telah diuji kelayakannya untuk melakukan tindakan tersebut secara khusus sebelumnya. cuci dengan sabun dan air atau dengan air saja sebanyak – banyaknya. Manajemen untuk tenaga kesehatan yang terpapar darah atau cairan tubuh. laboratorium serta kamar jenazah. Paparan pada kulit yang utuh maupun kulit sedang mengalami perlukaan. lecet atau dermatitis : cucilah sebersih mungkin dengan air dan sabun antiseptic. c. Kegiatan di Kamar Bersalin Disamping memperhatikan kebutuhan barier yang telah disebutkan diatas. Perlu disediakan nampan /troli untuk alat – alat yang sudah dipergunakan. b. 3. Paparan pada membrane mukosa melalui cipratan kemata : Cuci mata secara “ gentle “ dengan mata dalam keadaan terbuka menggunakan air cairan NaCL. akan tetapi tidak beresiko untuk tenaga kesehatan.5% selama 10 menit. d. d. c. Menutup spuit adalah prosedur resiko tinggi. hindari terjadinya cipratan darah. g. ASI dari ibu yang terinfeksi HIV mempunyai resiko untuk bayi baru lahir. Paparan secara parenteral melalui tusukan jarum. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah : a. terpotong dan lain – lain : Keluarkan darah sebanyak – banyaknya.

Untuk mencapai tujuan tersebut perlu diselenggarakan langkah – langkah sebagai berikut : 1. Pejamu – pun harus terus dimonitor kemungkinan infeksinya. pleura suprapubik ). diberikan zidovudine ( AZT ) profilaksis 200 mg oral. Tindakan Invasif Operasi Tindakan invasive oeprasi adalah suatu tindakan yang melakukan penyayatan pada tubuh pasien dan dengan demikian memungkinkan mikroorganisme masuk kedalam tubuh dan menyebar. pericardial. menilai fasilitas dan kebiasaan yang berlangsung. 5 kali / hari selama 6 minggu. pipa endotrakeal. 4. Meninjau kembali kebijakan dan prosedur yang telah ada. 3. 7. pemasangan alat ( kontrasepsi. lumbal. 5. tenaga kesehatan yang terpapar tersebut memerlukan konseling mengenai resiko infeksi dan pencegahan transmisi selanjutnya. kateter jantung. Sumber Infeksi pada Tindakan Invasive . angiografi. Dibeberapa Negara seperti Australia.Selanjutnya mereka yang terpapar ini perlu mendapatkan pemantauan pemeriksaan HIV yang adekuat dan kondisi kesehatannya pun harus diperhatikan. bronkoskopi. menjalankan rencana yang telah disusun. pipa nasogastrik. Tindakan Invasif Operasi. 2. Identitas unsure – unsure yang terkait. pungsi ( vena. Contoh : Suntikan. Tindakan Invasif Sederhana Tindakan invasive sederhana adalah suatu tindakan memasukkan alat kesehatan kedalam tubuh pasien sehingga memungkinkan mikroorganisme masuk kedalam tubuh dan menyebar ke jaringan. Tentunya individu tersebut diingatkan untuk tidak menjadi donor darah ataupun jaringan. kateter intravena. Tindakan Invasif Sederhana. melakukan hubungan seksual yang aman dan mencegah kehamilan. TINDAKAN INVASIF A. Membuat perencanaan ( menyusun proposal ). mengadakan pendidikan dan pelatihan. 6. pacu jantung ). Sebagai petugas kesehatan khususnya yang bekerja di lingkungan rumah sakit sudah selayaknya kita menerapkan “UP” dalam melaksanakan tugas kita sehari – hari. B. A. Pemantauan dan supervise pelaksanaan KU secara berkala. B. Upaya untuk melaksanakan KU di lingkungan kita. Selama pemantauan.

Petugas umum adalah semua petugas yang bekerja sekitar ruang tindakan . .Kuku panjang . b. . .Mempunyai penyakit infeksi / menular / karier. . Lingkungan .Mencuci tangan dengan cara yang tidak benar.Penerangan / sinar matahari tidak cukup. Petugas khusus adalah semua petugas yang bekerja didalam kamar tindakan.Persiapan pasien dari ruang rawat tidak baik. d. .Ceroboh dalam bekerja. . .Bekerja tanpa memperhatikan tehnik aseptic dan antiseptic. . . . . .Menghindari serangga. .a. c. .Tidak memperhatikan hygiene perorangan. missal : sakit kulit.Tidak memperhatikan tehnik aseptic / antiseptic.Mencegah air tergenang. Pasien .Tidak menguasai tindakan yang dilakukan.Tidak memperhatikan kebersihan perorangan.Menderita penyakit infeksi / menular / karier. tidak lembab dan berdebu.Tidak mematuhi tata tertib yang berlaku di kamar operasi.Kotor.Tidak mematuhi tata tertib di kamar operasi.Penyimpanan tidak baik.Menderita penyakit kronis. . .Untuk pemakaian berulang tanpa disterilkan lagi. . .Daerah sekitarnya terdapat tanda – tanda infeksi. . dsb. . . .Tidak memahami cara penularan / penyebaran kuman pathogen.Tidak memperhatikan hygiene perorangan.Rusak / karatan.Tidak steril. .Tidak mencuci tangan.Diluar batas waktu yang ditetapkan ( kadaluwarsa ) tanpa disterilkan lagi. Alat . .Dijaga kebersihannya.Tidak memperhatikan tehnik aseptic / antiseptic.Sirkulasi udara harus cukup. . .Keadaan gizi tidak baik.Menderita penyakit menular / infeksi / karier. . . .Sedang menapatkan pengobatan imunosupresif.Higiene pasien tidak baik. .Bekerja ceroboh dan masa bodoh terhadap lingkungan. .

Sudut ruangan tidak tajam. Pasien dengan makanan . . .Dinding kamar operasi harus licin mudah dibersihkan.Tempat sampah selalu dalam keadaan tertutup. Sumber Infeksi pada tindakan non invasif Infeksi pada tindakan non invasive dapat terjadi karena kontak langsung antara : 1.Mengatur system sirkuasi udara dalam kamar operasi.Pasien dapat menularkan kuman penyakit yang dideritanya ke air yang dipergunakan atau sebaliknya. 6. . pengukuran suhu tubuh. . mingguan atau pada kasus infeksi tertentu. . pengukuran nadi.Petugas dapat menjadi perantara penularan penyakit.Ruangan bersih. . Pasien dengan pengunjung . Pasien dengan air. . pasien. 7. .Pasien dapat menularkan kuman penyakit yang diderita ke alat – alat yang telah digunakan atau sebalikya. . pengukuran tekanan darah. Pasien dengan lingkungan. . 1. . TINDAKAN NON INVASIF Tindakan non invasive adalah suatu tindakan medis dengan menggunakan alat kesehatan tanpa memasukkan kedalam tubuh pasien yang memungkinkan mikroorganisme masuk ke dalam jaringan.Tidak ada serangga. Contoh : Tindakan EKG.Pasien dapat menularkan kuman penyakit yang diderita ke makanan atau sebaliknya. . Pasien dengan Alat ..Jumlah petugas yang keluar masuk ke kamar operasi dibatasi.Petugas yang menderita penyakit infeksi / menular / karier dapat menularkan penyakit yang diderita kepada pasien atau sebaliknya. . Pasien dengan petugas.Permukaan lantai harus rata dan tidak berlubang. Pasien yang menderita penyakit infeksi / menular / karier dapat menularkan penyakit yang diderita kepada pasien lain. . 5.Cahaya cukup terang. pemasangan holter dan lain – lain.Ruangan dibersihkan secara rutin. 3. kering dan tidak berbau. USG. .Pasien dapat menularkan kuman penyakit yang dideritanya ke lingkungan sekitarnya atau sebaliknya.Dipisahkan lalu lintas untuk petugas. 2.Pasien dapat menularkan penyakit yang dideritanya kepada pengunjung atau sebaliknya. 4. barang bersih dan kotor. pemeriksaan reflek tonus treadmill tes.

3.Tidak ada serangga didalam kamar pasien. 2. .2.Mencuci tangan lebih dahulu sebelum dan sesudah kontak dengan pasien (lampiran 1 ). tidak berbau.Jumlah air yang tersedia memenuhi kebutuhan pasien. .2. 2.7.1. . Air. Makanan . Petugas . .Yang sudah rusak / terkontaminasi dibuang.Tempat sampah selalu dalam keadaan tertutup. .Selalu dalam keadaan tertutup. 2. Alat .Yang digunakan harus bersih dan kering.Yang sedang menderita sakit tidak diperkenankan mengunjungi pasien.6.Untuk penyakit tertentu ( misalnya gas gangrene ) ruangan dihapus hamakan sebelum dipakai kembali.5.Yang terkontaminasi oleh pasien dengan penyakit tertentu ( misalnya gas gangrene ) dimusnahkan.Menggunakan barrier nursing sewaktu mengunjungi pasien yang berpenyakit infeksi / menular. invasive operasi maupun tindakan non invasive. . . Pengunjung . tidak berwarna. .Kualitas air tersedia memenuhi syarat kesehatan yaitu batas bebas kuman. TINDAKAN TERHADAP ANAK DAN NEONATUS Tindakan terhadap anak / neonatus dapat berupa tindakan invasive.Pemberian dari luar rumah sakit harus dicegah. .Diberikan sesuai dengan diet yang dianjurkan. 2. . Pencegahan infeksi pada tindakan terhadap anak / neonatus meliputi : 1. .Penerangan / sinar matahari dalam kamar harus cukup. . . Pasien . Lingkungan . 2. . . Pencegahan Infeksi pada Tindakan Non Invasif 2.Bak tempat penampungan air dibersihkan secara rutin minimal 2 kali seminggu.Lingkungan pasien / kamar dijaga selalu dalam keadaan bersih dan kering.Isolasi pasien yang diduga menderita penyakit infeksi atau menular. Petugas .4.Air minum harus dimasak sampai mendidih.Dicegah adanya genangan air limbah. .Jumlah dibatasi. .Sirkulasi udara dalam kamar harus lancar. 2. jernih dan bersih.Yang telah terkontaminasi segera dibersihkan dengan bahan desinfektan dan kemudian disterilkan.

Pasien anak / neonatus .Kuku harus pendek. .Pakaian / alas tempt tidur. ganti darah.Bayi / anak masing – masing harus mempunyai perlengkapan sendiri dan sebaliknya dicuci dibangsal bayi. .Susu. .Bahan / zat yang dipakai untuk membersihkan pakaian bayi harus diketahui oleh dokter ruangan bayi / anak untuk mencegah kelainan yang mungkin timbul terhadap bayi.Tidak menderita penyakit menular seperti tuberkulosa.Sebelum masuk ke bangsal neonatus. lumbal pungsi ) harus dibersihkan dulu dengan zat antiseptic. .Kulit tempat tindakan invasive ( pengambilan darah.Kulit harus dalam keadaan bersih dan kering.Harus dalam keadaan steril kalau mungkin alat disterilkan dengan autoklaf atau dapat juga dengan menggunakan desinfektan setelah alat dibersihkan.Bayi / anak hanya boleh disatu tempat tidur selama 1 minggu. .Isolasi / memisahkan bayi yang sehat dari bayi yang diduga ada infeksi. . Alat . memperhatikan kebersihan diri dan lingkungan.Tempat tidur tidak boleh dibersihkan selama anak berada ditempat tidur. inmfus.Khusus bila kontak dengan neonatus tangan harus dicuci sampai ke siku dengan sabun dan air mengalir serta digosok dengan sikat ( pertama kali masuk bangsal ) kemudian dapat dipakai larutan antiseptic. . topi. . . . . . penyakit kulit atau mukokutaneus seperti herpes dan lain – lain.Perlengkapan bayi / anak harus dibawa ketempat perawatan dalam keadaan steril dan tertutup. demikian juga tali pusat. botol susu sebaiknya disetrilkan diautoklaf sub atmospheric pressure ( proses pasteurisasi ) yang khusus dipkai di dapur susu.Semua alat yang dipakai selalu dalam keadaan bersih dan kering. . .Sebelum dan sesudah kontak dengan pasien harus mencuci tangan dengan antiseptic atau sabun serta air mengalir.. kateterisasi umbilical / jantung. selimut bayi / anak sebaiknya disediakan setiap 8 jam untuk sekali pakai. Penyakit gastro intestinal. penyakit saluran nafas lainnya. . dot.Pakaian petugas yang bekerja dibangsal anak / neonatus berlengan pendek agar mudah untuk mencuci tangan. . masker dan sarung tangan hanya dipakai pada waktu melakukan tindakan invasive seperti fungsi lumbal.Pakaian kotor harus dikumpulkan dalam plastic tertutup dan diganti dengan yang bersih setiap 8 jam. Khusus untuk neonatus sebaiknya pakaiannya dipakai yang disposibel.Inkubator / tempat tidur bersih dan kering kalau mungkin disterilkan dengan desinfektan / detergen. 2.Harus dalam keadaan sehat. . 1. . . Tempat tidur / incubator dibersihkan setiap bayi / anak dipulangkan / dipindah / meninggal.

Bagian yang harus dibersihkan adalah sekitar pasien dan lingkungan tempat perawatan. 2. oleh sebab itu perlu : Mencuci tangan sebelum dan sesudah : . pengawasan. . pemberian tanda steril penyusunan dan pengeluaran barang – barang hasil sterilisasi ke unit pemakaian di RS.Kamar / ruang peralatan cukup sinar matahari yang masuk ketempat perawatan sehingga secara tidak langsung bayi yang kuning mendapatkan terapi sinar. . 5. Efisiensi dalam menggunakan peralatan dan sarana. alat serta lingkungan kerja rumah sakit. Menghemat biaya investasi. Instalasi Sterilisasi Sentral mempunyai kegiatan mengelola semua kebutuhan peralatan dan perlengkapan tindakan bedah serta non bedah.Memeriksa pasien. Sebaiknya proses sterilisasi di RS dilaksanakan secara sentralisasi dengan tujuan agar tercapainya : 1. STERILISASI DAN DESINFEKSI STERILISASI 1. dinding dan jendela dibersihkan dengan desinfektan / detergen atau penghisap debu kering yang diikuti dengan wet vaccum pick up machine. pencucian.Menampung / memeriksa urine. Efisiensi tenaga.Pemeriksaan genital. Untuk kerja yang bertanggung jawab terhadap proses sterilisasi di rumah sakit adalah Instalasi Sterilisasi Sentral. . Keberhasilan usaha tersebut akan tercermin pada kualitas dan kuantitas mikroorganisme yang terdapat bahan. . .Penyediaan air bersih untuk keperluan pasien. standarisasi dan peningkatan pengawasan mutu. 3.Kamar / ruang harus ada penerangan / sinar yang diperlukan untuk menghangatkan ruangan.Lantai. Sterilisasi bahan dan alat yang disterilkan dapat dipertanggung jawabkan. .Penyediaan air bersih untuk keperluan pasien. Lingkungan . Pengertian Sterilisasi adalah proses pengolahan suatu alat atau bahan dengan tujuan mematikan semua mikroorganisme termasuk endospora pada suatu alat / bahan.Pemakaian alat prosedur. Proses sterilisasi di rumah sakit sangat penting sekali dalam rangka pengawasan pencegahan infeksi nosokomial. Penyederhanaan dalam pengembangan prosedur kerja. pengadaan.4. 4. . instalasi dan pemeliharaannya. Mulai dari penerimaan. . Urine merupakan sumber infeksi.

Sterilisasi dengan penyinaran. Pengawasan terhadap proses sterilisasi dapat dilakukan dengan cara mentest bahan atau alat yang dianggap masih steril dengan memakai indicator fisika. Pembilasan penyaring. Waktu kadaluwarsa suatu bahan steril sangat tergantung kepada tehnik sterilisasi. 4. Pemilihan tehnik sterilisasi berdasarkan pertimbangan a. Personalia yang di rumah sakit ( kulit. Bahan yang disterilkan tidak boleh mengalami perubahan. 5. Pemanasan basah dengan Autoklaf b. Pasien yang telah terinfeksi.1. c. 1. Sterilisasi dimaksudkan untuk membunuh atau memisahkan semua mikroorganisme ditetntukan oleh daya mikroorganisme terhadap tehnik sterilisasi. c. Air yang tidak disuling dan tidak disterilkan. rambut dan saluran nafas yang terinfeksi ). 3. Pemanasan dengan bactericid. Pemanasan kering dengan pemijatan dan udara panas.3. Pengujian Ada tiga pilihan yang dapat digunakan sebagai tehnik dalam pengujian sterilisasi : a.2. kimia dan biologi tergantung pada tehnik sterilisasi yang digunakan waktu mensterilkan bahan / alat tersebut. 3. 6. 3. Tehnik sterilisasi ada beberapa cara : 1. Sumber kontaminasi dapat berasal dari : 1. Tehnik yang murah. tangan. cepat dan sederhana. hasil pembilasan diinkubasikan setelah ditanam dalam media . Ruang yang tidak dibersihkan dan di desinfektan. 2. b. Kontaminasi terjadi karena adanya perpindahan mikroorganisme yang berasal dari berbagai macam sumber kontaminasi.4. Perlengkapan dan peralatan di rumah sakit. Pemanasan sample langsung pada media pembenihan. Hasil yang diperoleh benar – benar steril. 1. b. 4. Udara yang lembab atau uap air. 1. Sterilisasi dengan pemanasan : a. Sterilisasi dengan menggunakan zat kimia. Tehnik Sterilisasi Sebelum memilih tehnik sterilisasi yang tepat dan efisien diperlukan pemahaman terhadap kemungkinan adanya kontaminasi dari bahan dan alat yang akan disterilkan. Sterilisasi dengan penyaringan.2. Pengawasan Suatu bahan steril yang dihasilkan selama dalam penggunaan harus dapat dijamin kualitas dan kuantitasnya.

pengadaan. g. Desinfektan adalah senyawa atau zat yang bebas dari infeksi yang umumnya berupa zat kimia yang dapat membunuh kuman penyakit atau mikroorganisme yang membahayakan menginaktifkan virus. Jaminan hasil penguian dapat dicapai jika pengawasan dimulai semenjak pemilihan bahan dan alat yang akan disterilkan. dapat mematikan berbagai macam mikroorganisme. penyusunan dan penyaluran desinfektan / antiseptic ke unit pemakai di rumah sakit. Stabil selama dalam penyimpanan. Pengertian Desinfeksi adalah suatu proses baik secara kimia atau secara fisika dimana bahan yang patogenik atau mikroba yang menyebabkan penyakit dihancurkan dengan suatu desinfeksi dan antiseptic. Daya bunuh kuman yang tinggi dengan toksisitas yang rendah. pH dan bentuk formulasinya disamping itu kepekaan mikroorganisme terhadap kerja zat kimia serta lingkungan dimana desinfektan tersebut akan digunakan. Tehnik Desinfeksi Tehnik desinfeksi yang dilakukan tidak mutlak bebas dari mikroorganisme hidup seperti pada sterilisasi karena desinfektan / antiseptic tidak menghasilkan sterilisasi. pembuatan. Spektrum luas. Tehnik sterilisasi yang akan dipakai sampai dengan proses penyimpanan dan pendistribusian bahan / alat yang sudah steril. temperature. c. Faktor yang mempengaruhi pemilihan desinfektan yaitu sifat – sifat zat kimia yang akan digunakan seperti konsentrasi. f. b. DESINFEKSI 1. Tidak merusak bahan yang didesinfeksi. Tidak mengeluarkan bau yang mengganggu. c. Unit kerja yang bertanggung jawab terhadap penyediaan desinfektan dan antiseptic di rumah sakit adalah Instalasi Farmasi. Instalasi Farmasi mempunyai kegiatan mulai dari perencanaan.pembenihan. d. h. Macam macam desinfektan yang dapat dipakai dalam tehnik desinfeksi digolongkan berdasarkan struktur kimia senyawa : . Dalam waktu singkat dapat mendesinfeksi dengan baik. e. 2. Pemilihan desinfetan yang tepat seharusnya memenuhi criteria berikut : a. Biaya murah dan persediaannya tetap ada dipasaran. Antiseptik adalah zat – zat yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan hidup. Desinfektannya sederhana dan tidak sulit pemakaiannya. Penambahan media pembenihan paket ke dalam larutan yang akan diuji kemudian diinkubasi.

Analisa data dan penyebaran data yang teratur merupakan bagian penting dalam prose situ. Surveilans adalah pengamatan yang sistematis aktif dan terus menerus terhadap timbulnya penyebaran penyakit pada suatu populasi serta keadaan atau peristiwa yang menyebabkan meningkat atau menurunnya resiko untuk terjadinya penyebaran penyakit. Kegiatan surveilans eliputi : A. .. pH. namun demikian jumlah kejadian yang lebih sedikit. Ada beberapa rumusan kasus / criteria diagnostic yang akan dibicarakan dibawah ini : 1. aktifitas permukaan. MERUMUSKAN KASUS / KRITERIA DIAGNOSTIK Kasus yang akan disurvei perlu dirumuskan atau dibuat suatu criteria diagnostic yang jelas dan teliti yang perlu ditaati secar konsisten dalam proses pengumpulan data terutama beberapa jenis penyakit infeksi yang sering terjadi di rumah sakit. Pengawasan Desinfeksi Pengawasan desinfeksi dilakukan terhadap penggunaan desinfeksi sangat tergantung kepada pengaruh suhu. Oleh karena itu. atau pada infeksi dapat di kultur kuman yang berasal dari rumah sakit. untuk mengadakan evaluasi terhadap keberhasilan program pengendalian infeksi nosokomial serta upaya penanggulangannya bila terjadi wabah atau kejadian luar biasa. jumlah mikroorganisme dan adanya zat – zat yang mengganggu pada waktu mempergunakan desinfektan. perlu dilaksanakan surveilans infeksi nosokomial di rumah sakit. agaknya infeksi nosokomial di rumah sakit akan tetap terjadi. BAB III SURVEILANS Meskipun berbagai upaya pencegahan infeksi nosokomial di rumah sakit telah dilaksanakan secara optimal.LIHAT LEMBAR DESINFEKSI 2. pencemaran. Infeksi Luka Operasi Infeksi luka operasi nosokomial adalah infeksi yang terjadi pada operasi bersih atau operasi bersih tercemar.

bengkak.Salah satu dari criteria berikut : . subkutan atau otot diatas fasia. bengkak. .Salah satu criteria berikut : .Dan Infeksi terjadi pada luka insisi.Pus dari drain dibawah fasia. . bernanah dan disertai gejala umum : malas minum. Luka operasi profunda . waktu operasi atau secara histopatologis. .Abses atau tanda infeksi lain yang langsung terlibat waktu pemeriksaan.Infeksi luka operasi dibedakan menjadi : 1. . Luka operasi superficial : . internal fixasi pada fraktur – fraktur tertutup. . hipoglikemia.Tanda – tanda infeksi terdapat dipermukaan atau lebih dalam sehingga menimbulkan gejala sepsis.Ahli bedah membuka luka operasi karena ada tanda inflamasi.Luka operasi dihisensi secara spontan atau dibuka oleh ahli bedah sewaktu pasien demam 380C dan atau terdapat nyeri local.Operasi yang tak mengenal daerah dengan tanda infeksi.Operasi pada kasus non trauma.Infeksi ada hubungannya dengan operasi tersebut.Biakan dari nanah didapat Gram positif atau Gram negative. 1.1. . .Infeksi terjadi dalam waktu 30 hari setelah operasi bila tak ada implant / protheses atau infeksi terjadi dalam satu tahun bila dipasang implant. lipoma. hernia. Infeksi luka operasi pada anak .Gejala timbul dalam 1 – 2 minggui berupa tanda – tanda radang ditempat / disekitar luka operasi seperti panas. . 1. Jenis Operasi : a.Umumnya luka operasi ditutup primer dan tak dipasang drain. . hipotermi / hipertermi.Ada tanda radang seperti panas. Mis : FAM.Pus dari luka atau dren diatas fasia. muntah.Biakan kuman : Gram positif atau Gram negative. . .3. . urinarius. . merah. muntah dan sebagainya. Infeksi luka operasi pada neonatus . selulitus atau sepsis pada infeksi yang lebih dalam dengan gejala panas. .Meliputi kulit. tiroid. . anak gelisah..Infeksi terjadi dalam waktu 30 hari setelah operasi. takikardia / apnea. Operasi Bersih : .Biarkan mikroorganisme positif dari cairan luka.Operasi yang tak membuka respiratori.Meliputi jaringan atau rongga dibawah fasia.4. . . merah dan adanya pus ditempat operasi.

2. .Operasi melalui daerah bersih untuk membuka bases.tangan yang tidak dicuci sebelum prosedur. .Operasi membuka respiratorius dengan infeksi respiratoris.Operasi membuka urinarius dengan urine yang terinfeksi. urinarius. .Disuria .b. Dengan salah satu kriteria dibawah ini : * Salah satu gejala ini : .Operasi pada luka karena trauma yang bersih dan kurang dari 6 jam. Endogen : . . respiratosius. section alta. trauma tumpul abdomen dengan perforasi usus. Operasi kotor : .Operasi membuka disgestivus dengan pencemaran nyata. d. Operasi bersih tercemar : . Operasi Tercemar : .Operasi luka trauma dengan ada jaringan yang non vital / benda asing / kontaminasi feces. c. Mis : Kholesistektomi pada empyeme KE.Operasi membuka respiratorius dengan infeksi respiratoris. . pertolongan / operasi dilakukan 6 jam setelah trauma.Operasi membuka biliair dengan empedu yang terinfeksi. Infeksi Saluran Kemih ( ISK ) Infeksi saluran kemih nosokomial ialah infeksi saluran kemih yang pada pasien masuk rumah sakit belum ada atau tidak dalam masa inkubasi dan didapat sewaktu dirawat atau sesudah dirawat. Infeksi Saluran Kemih Simtomatik.Operasi membuka urinarius dengan urine yang terinfeksi.Demam > 380C .Operasi membuka billiard dengan empedu yang terinfeksi.perubahan flora normal. Infeksi saluran kemih dapat disebabkan : a. trauma kotor dengan korpus alineum. b.1. Mis : Traimatic mputasi. 2.Operasi pada luka karena trauma yang bersih dan kurang dari 6 jam.Operasi yang mengenai daerah inflamaasi bakteriel. .prosedur yang tidak bersih / steril . . Eksogen : . kejadian ditempat yang kotor. .Operasi perforasi digestivus. . kholesistektomi. .Operasi membuka getivus dengan pencemaran nyata. Mis : Appendektomi akut dan kronis. operasi membuka kolon dengan pencemaran isi usus luka tusuk tanpa menembus. billair. .

Infeksi Saluran Kemih lain.. Infeksi saluran kemih asimtomatik Dengan salah satu criteria dibawah ini : * memakai kateter dower selama 7 hari sebelum biakan urin dan tak ada gejala : .Biakan urine dua kali dengan hasil kuman uropatogen yang sama dengan jumlah > 100.Demam 380C . .Polakisuria . .Polakisuria .Nyeri Suprapubik 2.Nikuria .3.000 kuman / ml dengan tidak lebih dari dua jenis mikroorganisme : * Dua dari gejala : .Biakan urin dengan hasil satu jenis kuman uropatogen dengan jumlah 100. .Demam 380C .000 kuman/ml urin dengan tak lebih dari dua jenis kuman.Diagnosis oleh dokter.Disuria . .Mikroorganisme positif pada pewarnaan gram pada urine yang tidak disentlifus.Demam 380C .000/ml dengan mikroorganisme yang sama yang tak lebih dari dua jenis dan tak ada gejala : .Pluria ( 10 lekosit/ml atau > 3 lekosit /LPB pada urine yang tidak disentrifus.Nikuria . .Disuria .Nikuria ( urgency ) .Polakisuria .Nyeri suprapubik Biakan urin dengan jumlah > 100.000 kuman/ml dari urin yang diambil secara steril.Dokter memberikan terapi antibiotika yang sesuai.Nyeri Suprapubik * dan salah satu tanda : . .Disuria .Polakisuria . Dan biakan urin > 100.2. . 2.Nikuria .Nyeri Suprapubik.Tes carik celup ( dipstick ) positif untuk leukosit esterase dan atau nitrit.000 kuman/ml dan pasien diberi antibiotic yang sesuai. * tidak memakai kateter dower selama 7 hari sebelum biakan urin dengan dua kali hasil biakan > 100.

. • Dua dari gejala : .Demam 380C .Nyeri tekan pada daerah yang bersangkutan. • Ditemukan abses atau tanda infeksi pada pemeriksaan atau operasi atau secara hispatologis. uretra atau jaringan retroperito neal atau rongga perinefrik ) dengan salah satu criteria dibawah ini : • Biakan positif dari cairan atau jaringan yang diambil dari lokasi yang dicurigai.Laboratorium : pemeriksaan mikroskopik dan biakan urin dari punksi suprapubik.Pada usia prasekolah gejala klinis berupa sakit perut. Makin muda usia anak makin tidak khas. .Diagnosis dokter .Radiologi terdapat tanda infeksi .Gejala : panas. .5.Radiologi terdapat tanda infeksi . muntah. .Drenase purulen dari daerah yang dicurigai.Biakan darah positif . kadang – kadang diare atau kencing yang sangat berbau. . 2.Nyeri local pada daerah yang dicurigai. .000/ml urin. Infeksi Saluran Kemih pada neonatus .Biakan darah positif . gangguan pertumbuhan.Infeksi ini dapat pula disebabkan oleh sepsis. hipertermi/ hipotermi. gagal tumbuh ( gejala sama dengan sepsis ).Apneu . Infeksi Saluran Kemih pada Anak . kuning. Pada anak yang lebih besar gejala spesifik makin jelas seperti ngompol. 2.Diagnosis dokter . sering kencing dan ngompol.4.Dokter memberikan terapi antibiotika yang sesuai.Drenase purulen dari daerah yang dicurigai. kandung kemih. Biakan urin positif kalau ditemukan kuman lebih dari 100. . ureter. nafsu makan berkurang.Letargi .Dokter memberikan terapi antibiotika yang sesuai • Pasien berumur < 12 bulan dengan salah satu gejala : .Bayi tampak tidak sehat. .Hipotermia . muntah.Disuria . panas.( dari ginjal.Muntah • Dan salah satu dari tanda : .Demam 380C . sering kencing. sakit waktu kencing atau nyeri pinggang.Bradikardi . • Dan salah satu dari tanda : .Dapat dengan atau tanpa gejala.

.Diberikan terapi antimikroba sesuai dengan sepsis.Hipotermi < 370C . kateterisasi buli – buli. . 3) Untuk Neonatus Dinyatakan menderita infeksi aliran darah primer apabila terdapat 3 atau lebih diantara enam gejala berikut : . Definisi Infeksi Aliran Darah Primer Infeksi Aliran Darah Primer adalah infeksi aliran darah yang timbul tanpa ada organ atau jaringan lain yang dicurigai sebagai sumber infeksi.Pemeriksaan lainnya : sediment urin terdapat piuria.1. hipotermi (< 370C) hipertermi ( 380C .Suhu > 380C. CATATAN : . .Demam > 380C .Apnea .Bradikardi < 100x/mnt Dan Semua gejala / tanda di bawah ini : .Tidak terdapat tanda – tanda infeksi ditempat lain.Suhu badan diukur secara aksiler selama 5 menit dan diulang setiap 3 jam. 3.Keadaan umum menurun antara lain : malas minum.Diagnosis : Klinik dan laboratorik.Apabila biakan kuman dalam urin pada waktu masuk dan saat diperiksa berbeda. jumlah urin < 0.000 atau lebih/ml urin. . Ditemukan salah satu diantara gejala berikut tanpa penyebab lain : . sistolik < 90 mmHg.1. Infeksi Aliran Darah Primer ( IADP ) 3.Gejala infeksi timbul sesudah dilakukan punksi suprapubik.5 cc/kbBB/jam Dan Semua gejala / tanda yang disebut dibawah ini : .Tidak ada tanda – tanda infeksi di tempat lain. Dan apabila melalui urin pancaran tengah atau kateterisasi kandung kemih maka jumlah kuman dalam urin 100.Apabila pasien menunjukkan gejala. suhu tubuh diukur secara oral atau rectal. bertahan minimal 24 jam dengan atau tanpa pemberian antipiretika. 2).Laboratorik : hasil biakan urin yang diambil melalui suprapubik dikatakan positif apabila jumlah kuman sama atau lebih dari 200/ml urin. . . Ditemukan salah satu gejala / tanda berikut tanpa penyebab lain : .. . Untuk Dewasa dan anak > 12 bulan. Untuk bayi umur 12 bulan.Telah diberikan antimikroba sesuai dengan sepsis. Oliguri. Criteria infeksi aliran darah primer dapat ditetapkan secara klinis dan laboratories dengan gejala / tanda berikut : 3. Klinis 1).1. .Hipotesi.

.Manifestasi hematology antara lain : pucat. 100/mnt dan sirkulasi perifer buruk.Sistem pencernaan antara lain : distensi lambung.Diberikan terapi antimikroba sesuai dengan sepsis. Dan Semua gejala / tanda di bawah ini : . . apnea dan takipnea. sesak. Ditemukan satu diantara gejala klinis berikut : .Sistem kardiovaskuler antara lain : tanda renjatan yaitu takikardi.Bradikardi < 100/mnt Dan Satu diantara tanda berikut : . kejang dan letargi. 160/mnt atau bradikardi.Demam > 380C. .Terdapat kontaminan kulit dari 2 biakan berturut – turut dan kuman tersebut tidak ada hubungannya dengan infeksi ditempat ( organ / jaringan ) lain. ditemukan satu diantara gejalaberikut : . Kuman pathogen dari biakan darah dan kuman tersebut tidak ada hubungannya dengan infeksi ditempat lain.Oliguri Dan Satu diantara tanda berikut : . .Menggigil . .2.Hipotensi .Apnea . mencret. kuning. 2).Demam > 380C .Hipotermi < 370C . Laboratorik Untuk orang dewasa dan anak umur > 12 bulan. . iritabel.Terdapat kontaminan kulit dari biakan darah pasien yang menggunakan alat intravaskuler ( kateter intravena ) dan dokter telah memberikan antimikroba yang sesuai dengan infeksi CATATAN : Untuk neonatus digolongkan infeksi nosokomial apabila : .Terdapat kontaminan kulit dari biakan darah pasien yang menggunakan alat intravascular ( kateter intravena ) dan dokter telah memberikan antimikroba yang sesuai dengan sepsis.Sistem pernafasan antara lain : nafas tak teratur.Terdapat kontaminan kulit dari 2 biakan berturut – turut dan kuman tersebut tidak ada hubungannya dengan infeksi ditempat ( organ / jaringan lain ) . . . muntah dan hepatomegali.Sistem saraf dan pusat antara lain : hipertermi otot.1.Tidak terdapat tanda – tanda infeksi ditempat lain.) dan sklerema. Ditemukan satu diantara 2 kriteria berikut : 1). . splenomegali dan perdarahan. Untuk bayi < 12 bulan.Biakan darah tidak dikerjakan atau dikerjakan tetapi tidak ada pertumbuhan kuman. 3.

Pada partus normal di rumah sakit infeksi terjadi setelah lebih dari 3 hari. Perawat IBS mengisi ” check list monitoring infeksi pasien rawat inap ” terhadap semua pasien yang dilakukan tindakan operasi. Panitia Dalin mengevaluasi dan menganalisa serta membuat laporan kepada Direktur. 5. 6. 2. . tanggal kejadian. B. PENGUMPULAN DATA SURVEILANS INFEKSI NOSOKOMIAL Data minimal yang perlu dikumpulkan antara lain adalah nama pasien. umur. 3. SKF mengarsip laporan tersebut. tanpa didapatkan pintu masuk kuman. Perawat ruangan memonitor tanda – tanda infeksi yang terjadi pada luka operasi bersih selama dirawat di rumah sakit. 7. tembusan kepada ketua PPMK / Bidang Keperawatan dan Panitia Dalin RS. Tiap awal bulan kepala ruang / anggota panitia Dalin yang ditunjuk merekap kejadian infeksi luka infus. Panitia Dalin mengevaluasi dan menganalisa serta membuat laporan kepada Direktur. 4. 2. Pintu masuk kuman jelas misalnya luka infuse. 2. 7. Manajer sistem rawat inap melaporkan kepada Direktur untuk menjadi laporan sasaran mutu. Perawat pelaksana mencatat pasien yang tirah baring pada format “ check list monitoring infeksi pasien rawat inap “. Kepala ruang melaporkan kepada manajer sistem rawat inap. • Pelaksanaan pengumpulan data untuk infeksi luka operasi : 1. • Pelaksanaan pengumpulan data untuk angka kejadian decubitus : 1. nama ruang. Operasi Bersih Terkontaminasi dan operasi kotor. Tiap awal bulan kepala ruang / anggota panitia Dalin yang ditunjuk merekap kejadian decubitus. 2. nomor rekam medik. Perawat IBS / ruangan mempunyai pengetahuan tentang Operasi Bersih. 3. 1. Ketua PPMK / Ka.1. 5. Perawat mencatat kejadian infeksi luka operasi bersih pada format yang tersedia. 3. 6. Tiap awal bulan kepala ruang / anggota panitia Dalin yang ditunjuk merekap kejadian infeksi luka operasi bersih. jenis kelamin. Perawat mencatat kejadian infeksi luka infus pada format yang tersedia. Perawat pelaksana mencatat pasien yang terpasang infus dan setiap mengganti infus pada format ” cek list monitoring infeksi pasien rawat inap ”. 3. Pengumpulan data monitoring pengendalian infeksi nosokomial • Pelaksanaan pengumpulan data untuk infeksi luka infus ( infeksi jarum infus ) : 1. kadang – kadang dicatat juga diagnosis primer invasive yang dilakukan sebelum terjadi infeksi dan antibiotika yang diberikan. Terjadi 3 hari setelah partus patologik. 4. Perawat mencatat kejadian decubitus pada format yang tersedia . Data lain dapat dikumpulkan hanya apabila akan dilakukan analisis. Kepala ruangan melaporkan kepada panitia Dalin.

Panitia Dalin mengevaluasi dan menganalisa serta membuat laporan kepada Direktur. sekretaris dan anggota Panitia Pengendalian Infeksi Nosokomial : a. instalasi terkait dan semua SMF. meneliti. C. d. 3. Mencari penyebab. Ketua. Direktur menerima laporan dari Panitia Pengendalian Infeksi Nosokomial melalui Komite Medis dan menindak lanjuti laporan tersebut. Manajer Sistem Rawat Inap melapokan kepada Direktur untuk menjadi laporan sasaran mutu. Mengevaluasi laporan / data monitoring pengendalian infeksi yang sudah tersedia. 5. b. Membuat laporan rekapitulasi infeksi nosokomial setiap 6 bulan. tembusan kepada ketua PPMK / Bidang Keperawatan dan Panitia Dalin RS. 6. 2. c. menganalisa terjadi infeksi nosokomial bersama – sama dengan perawat dan dokter.4. laporan di sebarluaskan atau di informasikan ke panitia pengendalian infeksi nosokomial. . SKF mengarsip laporan tersebut. Kepala ruang melaporkan kepada manajer sistem rawat inap. 7. Membuat kesimpulan terjadinya infeksi kepada Direktur melalui Komite Medis. Setelah ada tindak lanjut dari Direktur. PENYEBARAN DATA / INFORMASI Data infeksi nosokomial yang sudah tersedia dan di analisa oleh Ketua Panitia Pengendalian Infeksi Nosokomial di lakukan evaluasi setiap bulan dan di analisis dalam 2 tahun sekali. e. Ketua PPMK / Ka. Untuk KLB ( Kejadian Luar Biasa ) dilaporkan setiap saat / setiap kejadian.

pengalaman klinik . Produksi antibiotic yang meningkat menyebabkan banyaknya antibiotic yang beredar dipasaran baik dalam jumlah. oleh akrena itu antibiotic masih tetap diperlukan. atau kurang rasional maka perlu dibuat suatu pedoman pemakai antibiotic.BAB IV PENGGUNAAN ANTIBIOTIK Penyakit infeksi masih merupakan penyakit yang banyak dijumpai di Indonesia sampai saat ini. Untuk mencegah pemakaian antibiotic yang tidak tepat sasaran. Perkembangan yang pesat di bidang Farmasi mengingkatkan produksi obat – obatan baru khususnya antibiotic. Oleh karena penggunaan antibiotic yang tidak rasional akan menyebabkan timbulnya dampak negative seperti terjadinya kekebalan kuman terhadap beberapa antibiotic. sifat – sifat farmakokinetik. keamanan. Atas dasar semuanya ini perlu ada kebijakan rumah sakit tentang pengaturan penggunaan antibiotic agar dapat menekan serendah – rendahnya efek yang merugikan dalam pekamaian / penggunaan antibiotic. meningkatnya kejadian efek samping obat. efektifitas. jenis maupun mutu. PRINSIP PENGGUNAAN ANTIBIOTIK Pemilihan antibiotic hendaknya didasarkan atas pertimbangan berbagai factor yaitu spectrum antibiotic. TUJUAN Untuk membudayakan penggunaan antibiotic secara rasional di rumah sakit sebagai upaya dalam meningkatkan mutu pelayanan sesuai dengan fungsi rumah sakit dengan tidak mengurangi tanggung jawab professional dari dokter dan apoteker dalam pengobatan terhadap pasien. biaya pelayanan kesehatan menjadi tinggi yang pada gilirannya akan merugikan pasien.

Profilaksis • Bedah • Medik 3. harus diberikan dalam jangka waktu yang tepat pada lokasi yang tepat dan konsentrasi yang tepat. Kultur kuman dan uji kepekaan terhadap antibiotic harus dilakukan pada penyakit – penyakit berikut : sepsis. Diagnose penyebab infeksi sedapat mungkin ditegakkan melalui tata laksana pemeriksaan mikrobiologi klinik yang relevan beserta interprestasi antibiogram yang memadai dan informasi klinik / farmasi klinik mengenai jenis – jenis antibiotic yang tersedia. Secara spesifik antibiotic profilaksis bedah adalah untuk mencegah : • Infeksi yang sering terjadi. • Kemungkinan resistensi . ISPA. • Terjadi infeksi local yang berat ( pada protesis sendi. jadi bukan semata – mata atas dasar hasil biakan kuman. peritonitis. Syarat pemberian profilaksis adalah antibiotic yang tepat. Dalam hal uji biakan dan uji kepekaan kuman belum ada hasilnya atau tidak bisa dikerjakan. Idealnya setiap pasien infeksi perlu dilakukan pemeriksaan mikrobiologis yaitu pembuatan sediaan Gram. meningitis. kultur kuman dan uji kepekaannya untuk menunjang diagnose klinis dan pemberian pengobatan yang tepat. Pengambilan spesiman pemeriksaan mikrobiologis dilakukan sebelum pengobatan. pemilihan antibiotika ditentukan berdasarkan penilaian klinik penderita. sigelosis. • Kemungkinan terjadinya infeksi sistemik yang berat pada pasien yang beresiko tinggi. tuberculosis dan kandidiasis. keracunan makanan karena bakteri. • Kemungkinan infeksi fatal ( operasi penggantian katup jantung ). salmonelosis. Antibiotik haus diberikan dengan cara yang tepat tidak boleh mengganggu pasien atau lingkungannya. Dalam memilih antibiotic profilaksis hendaknya diperhatikan hal – hal sebagai berikut : • Spektrum bakterisida. tidak boleh menyebabkan kekebalan dan harganya murah. protesis vaskuler ). Arti penting dari pertimbangan factor – factor ini tergantung dari derajat penyakit dan tujuan pemberian antibiotic apakah untuk profilaksis atau untuk terapi. Terapetik • Secara Empirik ( educated guess ) • Secara definitive ( pasti) Pada antibiotic profilaksis bedah tujuan utama adalah untuk mengurangi terjadinya ILO dengan mengupayakan konsentrasi antibiotic yang mematikan mikroorganisme pada saat sayatan dimulai sampai operasi selesai. kemungkinan terjadinya resistensi kuman. super infeksi dan harga yang terjangkau. PEMBERIAN ANTIBIOTIK 1.sebelumnya.

Dengan memiliki pengetahuan dan sikap yang memadai. Pokja Pengendalian Infeksi rumah sakit KEPUSTAKAAN Ahmad Djojosugito dkk : Buku Manual Pengendalian Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit. • Lama bekerja • Metabolisme • Bukti klinis yang baik • Toksisitas yang rendah • Efek samping • Harga. BAB V PENUTUP Tata laksana yang dicantumkan merupakan prosedur baku maksimal yang harus diupayakan untuk dilaksanakan seluruhnya oleh setiap personil Rumah Sakit yang terlibat dan berlaku sietiap ruang terkait. Disadari bahwa keterbatasan sarana dan prasarana serta sumber daya dan dana masih merupakan kendala di RS.21 Tidak ada komentar: Link ke posting ini . Diposkan oleh isniawahib. • Konsentrasi pada lokasi infeksi. Islam Klaten.blogspot. Jakarta 2000.com di 22. Namun keterbatasan ini tidak dapat dipergunakan sebagai alas an untuk menurunkan baku prosedur pelayanan kesehatan yang harus dberikan kepada pasien. diharapkan semua personil Rumah Sakit akan memeiliki perilaku dan kemampuan yang memadai pula dalam memanfaatkan sarana dan prasarana yang tersedia secara bertepat guna dan berhasil guna dalam pengendalian infeksi nosokomial secara berencana dan terorganisir dengan baik merupakan suatu keharusan bagi setiap rumah sakit.• Cara pemberian dan penyerapannya.

ISLAM K LAT E N PANITIA PENGENDALIAN INFEKSI NOSOKOMIAL RS. 28 Oktober 2009 PEDOMAN PENGENDALIAN INFEKSI NOSOKOMIAL RS. ISLAM KLATEN 2007 DAFTAR ISI Daftar Isi BAB I Batas – Batasan Batasan Umum BAB II Batasan Khusus ILO ( Infeksi Luka Operasi ) PNEUMONIA Infeksi Saluran Kelamin ISK Infeksi Aliran Darah Primer ( IADP ) .Rabu.

Tanda – tanda klinik infeksi tersebut baru timbul sekurang kurangnya setelah 3 x 24 jam sejak mulai perawatan. Pada waktu penderita mulai dirawat di Rumah Sakit tidak di dapatkan tanda – tanda klinik dari infeksi tersebut. 4. Suatu infeksi dikatakan didapat di rumah sakit apabila : 1. 5. dan terbukti infeksi tersebut didapat penderita ketika dirawat di Rumah Sakit yang sama pada waktu yang lalu serta belum pernah dilaporkan sebagai infeksi nosokomial. B. Bila saat mulai di rawat di rumah sakit sudah ada tanda – tanda infeksi. 3. BATASAN KHUSUS . Tidak termasuk infeksi nosokomial ialah : keracunan makanan yang tidak disebabkan oleh produk bakteri.2. baru dapat digolongkan sebagai Infeksi Nosokomial apabila infeksi tersebut dapat dibuktikan berasal dari Rumah sakit. 2. C. Untuk penderita yang setelah keluar Rumah Sakit kemudian timbul tanda – tanda infeksi. CATATAN : A. Infeksi tersebut bukan merupakan sisa ( residual) dari infeksi sebelumnya. Bila tanda – tanda infeksi sudah timbul pada masa kurang dari 3 x 24 jam sejak mulai perawatan tergantung masa inkubasi dari masing – masing jenis infeksi.1. BATASAN UMUM INFEKSI NOSOKOMIAL (Hospital Acquaried Infection / Nosokomial Infection) Adalah infeksi yang di dapat penderita ketika penderita tersebut di rawat di rumah sakit.Surat Keputusan BAB I BATASAN – BATASAN 1. Pada waktu penderita mulai di rawat di Rumah Sakit tidak sedang dalammasa inkubasi dari infeksi tersebut. BAB II 1.

merah. Operasi berencana dengan penutupan kulit primer dengan atau tanpa pemakaian drain tertutup. traktus urogenitalis atau traktus respiratorius yang terinfeksi. • Rekomendasi dokter. 2.2. Pada perforasi traktus digestive. traktus urinarius atau traktus bilier. Operasi tanpa pencemaran nyata ( Gross spilage ) contoh : operasi traktus bilier. 4. orofaring. apendiks. traktus reproduksi kecuali ovarium. LUKA OPERASI BERSIH TERKONTAMINASI 1. 2. • Salah satu dari tanda dibbawah ini nyeri.1. traktus urinarius. Melewati daerah purulen ( inflamasi bacterial ). DEFINISI DAN KLASIFIKASI LUKA OPERASI LUKA OPERASI BERSIH 1. • Terisolasi kuman pada ultur yang diambil dari cairan atau jaringan. . traktus bilier. Disebut ILO DALAM ( PROFUNDA ) apabila didapat : Infeksi terjadi 30 hari pasca bedah bila tanpa “ IMPLANT “ atau “ 1 “ ( satu ) tahun pasca bedah bila ada “ IMPLANT “ dan infeksi ini meliputi jaringan lebih dalam dari fisia. lebih panas dan ahli bedah sengaja membuka luka kecuali apabila kultur tidak menunjukkan adanya pertumbuhan kuman. ILO ( Infeksi Luka Operasi ) Untuk membahas infeksi luka operasi nosokomial perlu diketahui klasifikasi luka operasi sebagai berikut : 1. Operasi membuka traktus digestive. 1. Keluar nanah dari luka operasi. LUKA OPERASI KOTOR / DENGAN INFEKSI 1. Disertai salah satu tersebut dibawah ini : a.1. vagina atau orofaring. DEFINISI INFEKSI LUKA OPERASI Infeksi luka operasi dibedakan menjadi : Disebut Infeksi Luka Operasi ( ILO) Superfisial apabila didapat : Infeksi terjadi dalam 30 hari pasca bedah dan terjadinya pada kulit dan subkutan disertai salah satu tersebut dibawah ini : • Keluar nanah dari luka operasi. Pada luka terbuka lebih dari 6 jam setelah kejadian atau terdapat jaringan non vital yang luas atau yang nyata kotor. 2. traktus espiratorius sampai dengan orofaring. pembengkakan.. Dokter yang melakukan operasi menyatakan sebagai luka operasi / terinfeksi. 3. Operasi dilakukan pada daerah / kulit yang pada kondisi pra bedah tanpa peradangan dan tidak membuka traktus respiratorius. traktus gastro intestinal.

Klasifikasi operasi harus dicatat pada laporan operasi atau pada catatan pasien oleh ahli bedah segera setelah pasien di operasi ( kategori II ). • Devitalisasi jaringan. 5. Tingkat kontaminasi luka. Disebut ILO bersih terkontaminasi apabila infeksi terjadi pada operasi bersih terkontaminasi dan memenuhi criteria ILO dalam.b. Lama perawatan sebelum operasi. Faktor lokasi luka : • Pencukuran daerah operasi ( cara dan waktu pencukuran ). • Benda asing. c. Catatan : • Didalam penggunaan antibiotic yang irasonal jika ditemukan tanda peradangan maka dimasukkan kedalam kemungkinan infeksi. 2. • Lokasi luka yang mudah tercemar ( dekat perineum ) 4. Semua factor resiko harus dicatat dengan lengkap pada catatan pasien oleh dokter. sama untuk semua lokasi . 2. Faktor pejamu : • Usia estrim ( sangat muda / tua ) • Obesitas • Adanya infeksi perioperatif • Pengguna kortikosteroid • Diabetes Mellitus • Malnutrisi Berat 3. d. Operasi terkontaminasi atau operasi kotor dinyatakan infeksi nosokomial apabila dapat dibuktikan bahwa penyebab infeksi adalah kuman yang berasal dari Rumah Sakit atau ditemukan kuman strain lain dari kuman yang ditemukan sebelum masuk Rumah Sakit. • Suplai darah yang buruk ke daerah operasi. Lama operasi.3. Variabel lain seperti : umur. perawat atau tim kesehatan lain yang menangani pasien ( kategori I ). Terjadi dehisensi luka secara spontan atau luka sengaja dibuka oleh dokter apabila disertai dengan salah satu dari gejala panas ( 380C ) atau nyeri local kecuali bila kultur tidak menunjukkan adanya kuman. jenis kelamin. Rekomendasi dokter. Adanya abses atau dibuktikan adanya abses dbawah fascia pada operasi ulang atau pemeriksaan PA atau radiology menunjukkan gambaran infeksi. FAKTOR RESIKO INFEKSI LUKA OPERASI 1. • Abses jahitan yang sembuh 3 hari setelah jahitan diangkat bukan infeksi operasi. Petunjuk surveilans yang dimaksud adalah variable spesifik untuk masing – masing lokasi infeksi. unit / bagian dll. 1. PETUNJUK PENGEMBANGAN SURVEILANS INFEKSI LUKA OPERASI 1.

Antiseptik kulit yang dipakai dianjurkan klorheksidin. 5. PENCEGAHAN INFEKSI LUKA OPERASI Tindakan pencegahan dikelompokkan dalam : KALA SEBELUM MASUK RUMAH SAKIT 1. Pasien dari ruangan ganti baju khusus untuk operasi di ruang ganti baju IBS ( Instalasi Bedah Sentral ). Sistemik harus memenuhi syarat • Tepat dosis • Tepat indikasi ( hanya untuk operasi bersih terkontaminasi. Daerah operasi harus dicuci dengan pemakaian antiseptic kulit dengan tehnik dari sentral kearah luar.infeksi. Pencukuran rambut daerah operasi dilakukan hanya bilamana perlu misalnya daerah operasi dengan rambut yang lebat. melaporkannya pada Pokja Pengendalian Infeksi Rumah Sakit ( kategori I ). Cara pencukuran rambut adalah : • Bila menggunakan pisau cukur biasa maksimal dilakukan 6 jam sebelum operasi.5. 3. 3. maka pasien dapat dirawat lebih awal ( kategori I ) 2. Semua pemeriksaan dan pengobatan untuk persiapan operasi sebisanya dilakukan sebelum rawat inap agar waktu pra bedah menjadi pendek ( kurang 1 hari ) ( kategori II ). pemakaian implant dan protesis . Pelaksana surveilans menghitung rate menurut prosedur spesifik setiap 6 bulan sekali dan melaporkannya pada Pokja pengendalian Infeksi serta para ahli bedah ( kategori II )> 1. • Bila menggunakan pisau cukur listrik dapat dilakukan lebih lama sebelum operasi dari pada pisau cukur biasa. Antibiotika profilaksis diberikan secara : a. Aapbila keadaan yang memperbesar terjadinya ILO tidak dapat dilakukan di luar Rumah Sakit misalnya malnutrisi berat yang memerlukan oral atau parenteral hiperalimentasi. Dikamar operasi pasien ditutup dengan doek steril sehingga hanya daerah operasi yang terbuka ( kategori I ). larutan yodium atau lodofor ( kategori I ). 7. 6. • Setelah dicukur diolesi antiseptic ( kategori III ). Pelaksanaan surveilans harus menghitung rate menurut klasifikasi luka operasi spesifik minimal setiap 6 bulan sekali. Perawatan pra operasi I hari untuk operasi berencana. Perbaikan keadaan yang memperbesar kemungkinan terjadinya ILO antara lain : • Diabetes Melitus • Obesitas • Pemakaian kortikosteroid • Malnutrisi • Infeksi KALA PRA OPERASI 1. 2. 4. mandi dengan antiseptic dilakukan sebelum operasi ( kategori III ) 4.

4. lakukan pewarnaan gram dan biakan ( kategori I ) PENGENDALIAN LINGKUNGAN 1. keringkan dengan handuk steril ( kategori II ) 6. lodofor atau heksaklorofen ( kategori II ). • Memakai tutup kepala yang menutupi semua rambut. INTRA OPERASI 1. Anggota tim bedah sebelum setiap operasi harus mencuci tangan. pemakai drain : pemakaian drain harus dengan system tertutup. Semua pintu kamar operasi harus tertutup dan jumlah personil yang keluar masuk kamar . lama operasi : operasi dilakukan secepat – cepatnya dalam batas yang aman ( kategori I ) 3. Untuk luka kotor atau infeksi. Setiap anggota tim harus memakai sarung tangan steril apabila sarung tersebut kotor.atau operasi dengan resiko tinggi seperti bedah vaskuler atau bedah jantung ). menutupi hidung dan mulut. Setelah cuci tangan. Pemakaian sarung tangan memakai metode tertutup ( kategori I ). 3. untuk operasi tulang atau pemasangan implant memakai 2 lapis sarung tangan steril ( kategori II ). Jika cairan keluar dari luka. Tehnik operasi : harus dilakukan dengan sempurna untuk menghindari kerusakan jaringan lunak yang berlebihan. Setiap orang yang masuk kamar operasi harus : • Memakai masker yang efisien. baik dengan cara penghisapan atau dengan cara memakai gaya tarik bumi ( gravitasi ) dan drain harus melalui luka tusukan di luar luka operasi ( kategori I ). 2. mengurangi perdarahan dan menghindarkan tertinggalnya benda asing yang tidak diperlukan ( kategori I ). 4. petugas harus mencuci tangan dengan standar cuci tangan yang baku sebelum dan sesudah merawat luka. PERSIAPAN TIM PEMBEDAHAN 1. Catatan : Antimikroba yang diberikan pada luka operasi kotor dimasukkan dalam kelompok terapeutik. • Memakai sandal khusus kamar operasi atau memakai pembungkus sepatu ( kategori I ). menghilangkan rongga. 8. Antiseptik yang dianjurkan untuk cuci tangan khlorheksidin. • Tepat cara pemberian ( harus diberikan secara IV 2 jam sebelum incise dilakukan dan dilanjutkan tidak boleh lebih dari 48 jam ). Oral hanya digunakan untuk operasi kolorektal dan diberikan tidak lebih dari 24 jam. 5. kulit tidak ditutup primer ( kategori I ). Petugas tidak boleh menyentuh luka secara langsung dengan tangan kecuali setelah memakai sarung tangan steril ( kategori I ) 3. PERAWATAN PASCA OPERASI 1. Kasa penutup luka diganti apabila basah dan atau menunjukkan tanda – tanda infeksi. harus diganti yang baru. Setiap anggota tim harus memakai jubah steril ( kategori I ) 7. 2. • Tepat jenis ( sesuai dengan mikroorganisme yang sering menjadi penyebab ILO ) ( kategori I) b.

harus dikumpulkan terpisah dan di beri tanda kontaminasi ( kategori I ). Kamar operasi harus dibersihkan : • Antara 2 operasi. 7. jika akan dipakai untuk operasi berikutnya harus dibersihkan secara sempurna ( kategori I ). konsolidasi. untuk operasi pasien infeksi misalnya hepatitis. • Isolasi kuman pathogen positif dari aspirasi trakea. Kriteria II : Foto thorax menunjukkan adanya infiltrate. • Tiap minggu ( 1 hari untuk pembersihan menyeluruh ) ( kategori I ) 4. • Tiap hari walaupun kamar operasi tidak dipakai. 3.1. Kriteria III : Penderita berusia < 12 bulan dengan 2 ( dua ) tanda dari tanda – tanda dibawah ini : • Apnea. efusi pleura baru atau progesif dan salah satu diantara keadaan berikut : • Baru timbulnya sputum purulen atau terjadinya perubahan sifat sputum. 8. 2. • Isolasi kuman positif biakan darah. • Titer IgM atau IgG spesifik meningkat 4x lipat dalam 2 kali pemeriksaan. • Virus dapat diisolasi atau terdapat antigen virus dalam sekresi saluran nafas. Operasi bersih dilakukan sebelum operasi kotr. Kriteria I : Pada pemeriksaan fisik terdapat ronki basah atau pekak ( dullness ) pada perkusi. Biakan udara dan biakan yang diambil dari personil kamar operasi secara rutin. DEFINISI PNEUMONIA Pneumonia suatu infeksi saluran pernafasan bagian bawah ( ISPB ) Seorang pasien dikatakan menderita pneumonia bila ditemukan satu diantara kriteria berikut ini : Untuk dewasa dan anak > 12 bulan. 2. • Isolasi kuman pathogen positif dari aspirasi trakea. Alat – alat operasi setelah dibersihkan dari jaringan. • Isolasi kuman positif dan biakan darah. Barang – barang terkontaminasi seperti pus. tidak diperlukan ( kategori I ) 6. • Bradikardi • Whezing . • Terdapat tanda – tanda pneumonia pada pemeriksaan hispatologi. sikatan / cuci bronkus atau biopsi. PNUEMONIA 2.operasi harus dibatasi ( kategori I ). Pemakaian keset dengan antiseptic pada pintu masuk kamar operasi tidak dianjurkan ( kategori I ) 5. darah atau sekresi harus disterilkan dengan autoklaf. febris > 380C dan salah satu keadaan berikut : • Baru timbulnya sputum purulen atau terjadinya perubahan sifat sputum. usahakan memakai alat sekali pakai dikumpulkan secara khusus dan diberi tanda infeksi ( kategori I ). sikatann / cuci bronkus atau biopsi. kavitasi.

• Kelainan paru. 2. Usia tua. 5. Pengelolaan pra dan pasca bedah meliputi pengobatan dan instruksi medis dan keperawatan.2. drainase postural. PENCEGAHAN PNEUMONIA Pencegahan pneumonia nosokomial dilakukan dengan cara berikut : Pencegahan pneumonia pasca bedah : 1. perawat atau anggota tim kesehatan lainyang menangani pasien ( kategori I ). ventilasi mekanis dan trakeostomi. Instruksi pra bedah meliputi : . Tindakan operasi terutama operasi thorax dan abdomen. obesitas 6. 3. 2. 4. Semua faktor resiko harus dicatat dengan lengkap pada catatan pasien oleh dokter. Instrumentasi system saluran pernafasan misalnya pada pemasangan pipa endotrakea. konsolidasi atau adanya “ pleural effusion “ disertai sesuai dengan salah satu keadaan seperti criteria 3. Intubasi dalam waktu lama. penurunan kesadaran dan disfagia. Kriteria IV: Pada anak berusia < 12 bulan yang pada foto toraknya menunjukkan infiltrasi cara yang progesif. 8. 2. cavitas. Pelaksana surveilans harus menghitung rate menurut faktor resiko spesifik minimal jenis operasi thorax dan abdomen dan ventilator serta melaporkannya kepada Pokja Pengendalian Infeksi rumah sakit minimal 6 bulan sekali. Kondisi yang mudah menyebabkan aspirasi misalnya pada pemasangan pipa lambung ( Nasogastrik tube ). perkusi ). Pencegahan pra dan pasca bedah ditujukan pada : • Pasien yang akan mendapat pembiusan dan menjalani pembedahan thorax dan abdomen. FAKTOR RESIKO PNEUMONIA 1. 3. Pengolahan pra bedah meliputi : • Pengobatan atau resolusi infeksi paru. • Disfungsi paru berat. PETUNJUK PENGEMBANGAN SURVEILANS PENUMONIA 1.3. 2. Tes fungsi paru abnormal (terutama dengan penurunan kecepatan ekspirasi). Penyakit obstruksi paru menahun 7. 9.• Brachipnea • Ronki atau batuk disertai salah satu dari keadaan. 2. • Berhenti merokok ( kategori I ). Gangguan fungsi imunologi. • Mempermudah pengeluaran sekret saluran nafas ( bronkodilator. 2.4.

CAIRAN DAN OBAT 1. 4. • Air yang telah mengembun dalam pipa harus dibuang dan tidak boleh dialirkan balik kedalam penampung ( kategori I ) • Alat nebulisasi dinding dan penampungannya harus segera diganti secara rutin setiap 24 jam dengan yang steril atau sudah di desinfeksi ( kategori I ) • Alat nebulisasi lain dan penampungannya harus diganti dengan yang steril atau di desinfeksi setiap 24 jam ( kategori I ) • Alat pelembab udara ruangan yang dapat menimbulkan tetesan tidak boleh digunakan ( kategori I ) • Alat penampung pelembab udara oksigen dinding yang dapat di pakai ulang harus di bersihkan. nafas dalam dan mobilisasi pasca bedah. di cuci dan di keringkan setiap hari ( kategori II ) • Setiap pipa dan masker yang di gunakan untuk terapi oksigen harus diganti pada setiap pasien ( kategori I ) • Sirkuit alat bantu nafas termasuk pipa dan katub ekshalasi harus secara rutin diganti dengan yang steril atau sudah di desinfeksi setiap 24 jam ( kategori II ) • Bila mesin respirator digunakan untuk beberapa pasien maka pada setiap pergantian pasien semua sirkuit alat bantu nafas harus diganti dengan yang steril atau yang sudah di desinfeksi ( kategori II ) . CUCI TANGAN Cuci tangan dilakukan setiap kali kontak dengan sekret saluran nafas baik dengan atau tanpa sarung tangan. nafas dalam dan ambulasi jika tidak ada kontra indikasi secara medis ( kategori I ). • Pasien memperagakan cara batuk dan nafas dalam pra dan pasca bedah ( kategori III ). 2. Nebulisasi dan humudifikasi hanya boleh menggunakan cairan steril yang diberikan secara aseptic. Sisa cairan dalam botol yang sudah dibuka harus dibuang dalam waktu 24 jam ( kategori II ). Cuci tangan juga dilakukan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien yang mendapat intubasi dan trakeostomi ( kategori I ). Bila flakon multidose digunakan untuk terapi harus disimpan dalam lemari es atau suhu kamar sesuai aturan pakai dan tidak melewati tanggal kadaluwarsa ( kategori II ). Nyeri akibat batuk dan nafas dalam dapat diatasi dengan analgetik dan menopang luka di daerah perut ( misalnya dengan meletakkan bantal kecil dan ringan diatas perut ) serta memberi obat penghambat syaraf local ( kategori I ). Antibiotika sistemik tidak dianjurkan untuk dipakai secara rutin( kategori I ). 7. Pengobatan dan instruksi pasca bedah ditujukan untuk mendorong pasien sering batuk. PEMELIHARAAN ALAT TERAPI PERNAFASAN YANG SEDANG DIPAKAI • Penampungan cairan harus diisi segera sebelum dipakai bila cairan hendak ditambahkan maka sisa cairan harus dibuang terlebih dahulu ( kategori II ).• Diskusi dengan pasien mengenai pentingnya sering batuk. Cairan tersebut tidak boleh igunakan pada alat yang terkontaminasi ( kategori I ). Bila secara konservatif diatas gagal untuk mengeluarkan sekret saluran nafas dapat dikerjakan drainase postural dan perkuasi ( kategori II ) 6. 5.

bila alat tersebut berasal dari pasien dengan jenis isolasi tertentu. Alat terapi pernafasan yang menyentuh selaput lendir harus di sterilkan sebelum dipakai pada pasien lain. secara aseptik kecuali dalam keadaan darurat dapat dilakukan di ruang perawatan ( kategori I ) 2. Jika tidak ada kejadian luar biasa ( KLB ) atau rate endemic infeksi paru nosokornial tidak tinggi maka proses desinfeksi alat terapa pernafasan tidak perlu dipantau dengan biakan sampel dari alat tersebut. ditandai : terkontaminasi ( kategori I ) 2. Setiap peralatan yang akan disterilkan atau di desinfeksi harus dibersihkan dengan seksama untuk mrnghilangkan darah. Jika tidak menggunakan penghubung dan alat pemantau langsung berhubungan dengan alat yang terkontaminasi. tidak boleh langsung menyentuh bagian sirkuit alat bantu nafas. Peralatan harus di dekontaminasi sebelum atau selama proses pembersihan. jaringan. Bagian dalam mesin ventilator dan mesin pernafasantidak perlu di sterilkan atau di desinfeksi secara rutin untuk setiap pemakaian kecuali setelah alat tersebut potensial terkontaminasi dengan mikro organisme berbahaya ( ketegori I ) 6. Bila diperlukan penggantian pipa trakeostomi. atau setiap manipulasi kedua tangan menggunakan sarung tangan steril ( kategori II ) 3. Kantong alat resusitasi manual harus di sterilkan atau di desinfeksi kuat setiap habis dipakai ( kategori I ) PEMANTAUAN MIKROORGANISME 1. Tindakan trakeostomi harus dilakukan dikamar operasi. Respirometer dan alat lain yang digunakan untuk memantau pasien secara bergantian. Interpretasi hasil pemeriksaan mikro biologik sulit dilakukan karena itu sampel mikro biologik rutin alat bantu nafas yang sedang dipakai pasien dianjurkan ( kategori I ) PASIEN DENGAN TRAKEOSTOMI 1. Ruang pendingin pada alat nebulisasi ultrasonik sulit di desinfeksi secara kuat karena itu harus di sterilkan dengan gas ( etilin oksida ) atau di desinfeksi kuat sedikit selama 30 menit ( kategori I ) 5. atau residu lainnya. maka alat pemantau tersebut harus di sterilkan atau di desinfeksi kuat sebelum dipakai pasien lain ( kategori II ) 7. 1. Sewaktu mengganti pipa harus digunakan tehnik aseptik termasuk . Jika hal ini tidak memungkinkan alat tersebut harus di desinfeksi kuat ( high level disinfection ) ( kategori I ) 3. makanan.PERALATAN SEKALI PAKAI Alat terapi pernapasan yang dirancang untuk sekali pakai tidak boleh dipakai ulang ( kategori I) Penanganan peralatan yang dipakai ulang. maka pipa pengganti harus steril atau di desinfeksi ( kategori I ). Sirkuit alat bantu nafas ( termasuk pipa dan katub ekshalasi ) dan semua alat yang berhubungan dengan terapi pernafasan harus di sterilkan atau di desinfeksi kuat ( kategori I ) 4. kedua alat tersebut perlu perlu penghubung dan alat penghubung ini harus diganti pada setiap pemakaian pada pasien lain. Kecuali luka trakeostomi sudah mulai sembuh atau membentuk jaringan granulasi sekitar pipa maka tidak boleh di sentuh dengan tangan langsung. Dengan kata lain sampel rutin tidak perlu dilakukan ( kategori I ) 2.

4. bayi. dan pasien dengan daya tahan tubuh menurun ) ( kategori III ) 3. Bila diperkirakan ada KLB influenza lakukan pencegahan untuk semua pasien dan tugas yang memberi asuhan langsung. karena pengisapan yang terus menerus akan meningkatkan resiko kontaminasi silang dan trauma ( kategori I ) 2. digunakan kateter yang steril atau kalau pemaikaiannya hanya dalam waktu singkat maka kateter dapat dipkai ulang setelah dibilas serta dibersihkan ( kategori I ). maka untuk membilas gunakan cairan steril ( kategori I ) PENGGUNAAN PIPA DAN TABUNG ASAP ADALAH SEBAGAI BERIKUT :  Pemakaian pipa pengisap sampai batas tabung harus diganti untuk setiap pasien ( kategori I )  Tabung pengisap yang digunakan untuk satu pasien tidak perlu diganti atau dikosongkan secara rutin ( kategori III )  Tabung pengisap harus diganti setiap pasien kecuali pada unit perawatan jangka pendek ( tidak lebih dari 24 jam ) ( kategori II )  Pada unit perawatan jangka pendek tabung perlu diganti setiap hari tetapi tidak perlu diganti untuk setiap pasien ( kategori II )  Setiap kali tabung pengisap diganti harus di sterilkan atau di desinfeksi kuat ( kategori II ) PERLINDUNGAN PASIEN DARI PASIEN LAIN DAN PERSONIL 1.penggunaan sarung tangan dan penutup ( duk ) steril ( kategori II ) PENGISAPAN SEKRET SALURAN NAFAS 1. dengan menggunakan teknis isolasi pernafasan 3. pasien dengan obstruksi paru kronis. Pengisapan sekret saluran pernafasan dilakukan hanya bila di perlukan. Pengisapan sekret saluran nafas tidak boleh dilakukan dengan tangan langsung melainkan menggunakan sarung tangan ( kategori II ) 3. Infeksi saluran kemih lainnya ISK SIMPTOMATIK . Setiap kali mengisap sekret saluran nafas. Personil yang terkena infeksi saluran nafas tidak boleh memberi asuhan langsung pada pasien dengan resiko tinggi ( misal : neonatal. INFEKSI SALURAN KEMIH ( ISK ) DEFINISI INFEKSI SALURAN KEMIH Definisi ini meliputi : 1. Bila terdapat sekret yang kental dan kateter penghisap memerlukan bilasan. Bakteriuria asimptomatik 3. Lakukan isolasi pada pasien yang mungkin menyebarkan infeksi saluran nafas. Isolasi sesuai dengan teknik mutakhir 2. Infeksi saluran kemih simptomatik 2.

apabila dijumpai satu kriteria tersebut dibawah ini : Kriteria 1 Ditemukan salah satu dari tanda / gejala :  Demam 380 C rektal  Hipotermi < 370 C rektal  Apnea  Bradikardi < 100 / menit  Disuri  Letargi atau  Muntah – muntah dan hasil biakan urin > 105 kumam / ml urin dengan tidak lebih dari 2 jenis kumam Kriteria 2 Atau ditemukan salah satu dari tanda / gejala :  Demam 380 C rektal  Hipotermi < 370 C rektal  Apnea  Bradikardi < 100 / menit  Disuri  Letargi atau .Seorang pasien dikatakan menderita ISK bila ditemukan satu di antara 3 kriteria berilkut : ( Untuk orang dewasa dan anak > 12 bulan ) Kriteria 1. Didapatkan salah satu dari gejala / keluhan ini :  Demam > 380 C. axilar  Disuri  Polakisuri  Nikuri ( anyang – anyangan )  Nyeri supra pubik dan hasil biakan urin porsi tengah ( midstream ) lebih dari 105 kumam perml urin dengan jenis kumam tidak lebih dari 2 species Kriteria 2 Ditemukan dua diantara gejala / keluhan berikut ::  Demam > 380 C  Disuri  Polakisuri  Nyeri supra pubik dan salah satu dari hal berikut : • Tes carik celup ( diptick ) positif untuk leukosit esterase dan atau nitrit • Piuri terdapat lebih dari 10 lekosit per ml atau terdapat lebih dari 3 lekosit per LPB 45 kali dari urin yang tidak dipusing • Ditemukan kumam dengan pewarnaan gram dari urin yang tidak dipusing ( decentrifuge ) • Biakan urin 2 kali berturut – turut menunjukkan jenis kumam urophatogen yang sama. dengan jumlah labih dari 100 koloni kumam per ml urin yang di ambil dengan kateter • Biakan urin menunjukkan 1 jenis urophatogen dengan jumlah < 105 koloni per ml pada penderita yang telah mendapat pengobatan anti mikroba yang sesuai • Atau di diagnosa ISK oleh dokter yang menangani • Telah mendapat pengobatan antimikroba yang sesuai oleh dokter yang menangani Untuk bayi yang berumur < 12 bulan.

Seorang pasien dikatakan menderita ISK lain bila ditemukan kriteria berikut: Kriteria 1 Ditemukan kumam yang tumbuh dari biakan cairan bukan urin ( jaringan yang diambil dari lokasi yang dicurigai terinfeksi ) Kriteria 2 Adanya abses atau tanda infeksi lain yang dapat dilihat. uretra. kandung kemih. Kriteria 3 Dua dari tanda berikut :  Demam > 380 C  Nyeri local. nikuri. Pemeriksaan radiologis memperlihatkan gambaran terinfeksi • Di diagnosis infeksi oleh dokter yang menangani  Dokter yang menangani memberikan pengobatan antimikroba yang sesuai Untuk bayi berumur < 12 bulan Kriteria 4 Ditemukan salah satu tanda / gejala :  Hipotermi < 370 C rektal  Apnea . disuri. Kriteria 2 Pada pasien tanpa kateter kandung kemih menetap dalam 7 hari sebelum dibiakan pertama dari biakan urin 2 kali berturut – turut ditemukan tidak lebih 2 jenis kumam yang sama dengan jumlah > 105 per cm3. jaringan sekitar retroperitoneal atau rongga perinefrik ). nyeri tekan pada daerah yang di curigai terinfeksi. baik secara pemeriksaan langsung. Pasien pernah memakai kateter kandung kemih dalam waktu 7 hari sebelum biakan urin dan ditemukan biakan urin > 105 kumam per ml urin dengan jenis kumam maksimal 2 species. atau melalui pemeriksaan hispatologi. selama pembedahan. ISK LAIN ( Ginjal. ureter. disuri. Muntah – muntah dan salah satu dari hal berikut • Test carik celup positif untuk lekosit esterase dan atau nitrit • Piuri > 10 kkosit / mm3 atau > 3 kkosit perlapangan pandang besar • Pewarnaan gram urin tanpa dipusing menunjukkan hasil positif • Biakan urin 2 kali berturut – turut dengan jenis kumam yang sama dengan jumlah > 100 kumam per ml urin yang diambil dengan kateter • Pada biakan urin ditemukan satu jenis urophatogen dalam jumlah < 105 koloni kumam per ml pada penderita yang telah di beri anti mikroba • Di diagnosa ISK oleh dokter yang menangani BAKTERIUSASI ASIMPTOMATIK Seorang dikatakan menderita bakteriuri asimptomatik bila di temukan satu diantara kriteria berikut : Kriteria 1. polakisuri. dan nyeri suprapubik. TANPA gejala / keluhan : demam. Dan salah satu dari tanda / gejala berikut : • Keluar pus atau aspirasi purulen dari tempat yang dicurigai terinfeksi • Ditemukan kumam pada biakan darah. polakisuri. TANPA gejala – gejala / keluhan : demam suhu > 380 C. nikuri. nyeri suprapubik.

kateteriasi selang – seling ( intermitten )dapat digunakan sebagai ganti kateteriasi menetap bila memungkinkan . Cara drainase urin yang lain seperti : kateter kondom. Pemasangan kateter hanya di kerjakan oleh tenaga yang betul – betul memahami dan trampil dalam teknik pemasangan kateter secara aseptic dan perawatan kateter ( kategori I ) 2. Debilitas 4. Kateterisasi menetap :  Cara pemasangan kateter  Lama pemasangan  Kualitas perawatan kateter 2. Alas an pemasangan kateter tidak boleh hanya untuk kemudahan personil dalam memberi asuhan pada pasien ( kategori I ) 2. Faktor resiko harus di catat dengan lengkap pada pasien oleh dokter. TENAGA PELAKSANA 1. Personil yang memberikan asuhan pada pasien dengan kateter harus mendapat latihan secara berkala khusus dalam teknik yang benar tentang prosedur pemasangan kateter kandung kemih dan pengetahuan tentang komplikasi potensial yang timbul ( kategori II ) PEMASANGAN KATETER 1. Kerentanan pasien ( umur ) 3. kateter suprapubik. Pelaksanaan surveilans menghitung rate menurut faktor resiko spesifik ( pemasangan kateter ) minimal setiap enam bulan sekali dan melaporkannya pada Pokja pengendalian infeksi rumah sakit dan sekaligus menyebar luaskannya dalam bulletin rumah sakit ( kategori II ) PENCEGAHAN INFEKSI SALURAN KEMIH Untuk mencegah terjadinya infeksi saluran kemih nosokomial perlu di perhatikan beberapa hal yang berkaitan dengan pemasangan kateter urin. Bradikardi < 100 / menit  Letargi  Muntah – muntah dan salah satu diantara keadaan berikut : • Keluar pus dari lokasi yang terinfeksi • Biakan darah positif • Pemeriksaan radiologi memperlihatkan gambaran infeksi • Di diagnosa infeksi oleh dokter yang menangani • Dokter yang menangani memberikan pengobatan antimikroba yang sesuai FAKTOR RESIKO INFEKSI SALURAN KEMIH 1. perawat atau anggota tim kesehatan lain yang menangani pasien ( kategori I ) 2. Pasca persalinan PETUNJUK PENGEMBANGAN SURVEILANS INFEKSI SALURAN KEMIH 1. Pemasangan kateter dilakukan hanya bila perlu saja dan segera di lepas bila tidak diperlukan lagi.

Jika kateter sering tersumbat dan harus sering di irigasi ( jika kateter itu sendiri menimbulkan sumbatan ) maka kateter harus dig anti ( kategori II ) PENGAMBILAN BAHAN URIN 1. Aliran urin harus lancar sampai kantong penampung. Kateter yang sudah terpasang harus di fiksasi secara baik untuk mencegah terikan pada uretra ( kategori I ) SISTEM ALIRAN TERTUTUP 1. Pemasangan secara aseptik dengan menggunakan peralatan steril ( kategori I ) 3. Gunakan yang terkecil tetapi aliran tetap lancar dan tidak menimbulkan kebocoran dari samping kateter ( kategori II ) 2. Cuci tangan : sebelum dan sesudah manipulasi kateter harus cuci tangan ( kategori I ) TEKNIK PEMASANGAN KATETER 1. Aliran harus memakai sistem tertutup ( kategori I ) 2. atau jika lebih baik dari tempat pengambilan bahan yang tersedia. Bila terjadi kesalahan pada teknik aseptic. dengan dan sebab lain dapat digunakan irigasi selang – seling. Irigasi hanya di kerjakan apabila ada sumbatan aliran misalnya karena bekuan darah pada operasi prostate atau kandung kemih. Penghentian aliran secara sementara hanya dengan maksud mengumpulkan bahan pemeriksaan untuk pemeriksaan yang di rencanakan ( kategori I ) 2. dan sebelum urin di aspirasi dengan jarum semprit yang steril tempat pengambilan bahan harus di desinfeksi ( kategori I ) 2. Gunakan peralatan seperti sarung tangan. Untuk menjaga kelancaran aliran perhatikan : . Untuk mencegah hal ini di gunakan irigasi continue secara tertutup. Gunakan semprit besar steril untuk irigasi dan setelah irigasi selesai semprit di buang secara aseptik ( kategori I ) 4. kain kasa dan antiseptic untuk desinfeksi hanya untuk satu kali pemasangan ( kategori I ) 4. Untuk menghilangkan sumbatan akibat bekuan darah. Sambungan kateter dan pipa tidak boleh dilepas kecuali untuk kepentingan irigasi 3. Sambungan kateter harus di desinfeksi sebelum di lepas ( kategori II ) 3. Bahan pemeriksaan urin segar dalam jumlah kecil dapat diambil dari bagian distal kateter. Irigasi dengan antibiotik sebagai tindakan rutin pencegahan infeksi tidak di anjurkan ( kategori II 2. Bila di perlukan bahan dalam jumlah besar maka urin harus di ambil dari kantong penampung secara aseptik ( kategori I ) KELANCARAN ALIRAN URIN 1. sambungan terlepas atau bocor maka sistem penampungan harus diganti dengan teknik aseptik yang benar dan sebelumnya sambungan kateter harus di desinfeksi ( kategori III ) CARA IRIGASI KATETER 1.( kategori III ) 3. kain penutup duk.

 Pipa jangan tertekuk ( kinking )  Kantong penampung harus di kosongkan secara teratur ke wadah penampung urin yang terpisah bagi tiap – tiap pasien. Klinis Untuk dewasa dan anak > 12 bulan. sistolik < 90 mm Hg  Oliguri. di temukan salah satu diantara gejala berikut tanpa penyebab lain :  Suhu > 380 C axilar. Saluran urin dari kantong penampung tidak boleh menyentuh wadah penampung  Kateter yang kurang lancar/ tersumbat harus di irigasi teknik no 5 bila perlu di ganti dengan yang baru  Kantong penampung harus selalu terletak lebih rendah dari kandung kemih ( kategori I ) PERAWATAN MEATUS Dianjurkan membersihkan dan perawatan meatus ( selama kateter di pasang ) dengan larutan povidone Iodine. walaupun tidak mencegah kejadian infeksi saluran kemih ( kategori II ) PENGGANTIAN KATETER Kateter urin menetap tidak harus diganti menurut waktu tertentu / secara rutin ( kategori II ) RUANG PERAWATAN Untuk mencegah terjadinya infeksi silang antara pasien yang memakai kateter menetap maka pasien yang terinfeksi harus di pisahkan dengan tidak terinfeksi ( kategori III ) PEMANTAUAN BAKTERIOLOGIK Pemantauan bakteriologik secara rutin pada pasien yang memakai kateter tidak di anjurkan ( kategori III ) 4. Kriteria infeksi aliran darah primer dapat di tetapkan secara klinis dan laboratorik. jumlah urin < 0. bertahan minimal 24 jam dengan atau tanpa pemberian antipiretika  Hipotensi. INFEKSI ALIRAN DARAH PRIMER ( IADP ) DEFINISI INFEKSI ALIRAN DARAH PRIMER Infeksi aliran darah primer adalah infeksi darah yang timbul tanpa ada organ atau jaringan lain yang di curigai sebagai sumber infeksi. dengan gejala / tanda sebagai berikut : A.5 cc / kg BB / jam Semua tanda / gejala yang disebut :  Tidak ada tanda – tanda infeksi ditempat lain  Telah diberikan antimikroba sesuai dengan sepsis .

kuning.  Sistem pencernaan antara lain : distensi lambung. muntah dan hepatomegali. Pemasangan kateter intra vena ( IV) yang berkaitan dengan :  Jenis kanula  Metoda pemasangan  Lama pemasangan kanula 2. 3. malas minum. Catatan : Untuk neonatus digolongkan infeksi nosokomial apabila : 1.Penderita usia < 12 bulan dengan salah satu tanda di bawah ini :  Panas > 380 C. apnea atau bradikardi < 100 x / menit Untuk neonatus dinyatakan menderita infeksi aliran darah primer apabila terdapat 3 atau lebih diantara 6 gejala berikut :  Keadaan umum menurun. apnea dan takipnea. Pada partus normal di rumah sakit infeksi terjadi setelah lebih dari 3 hari. apintu masuk kumam jelas misalnya luka infuse. yaitu takikardi.  Kultur darah menunjukkan kuman kontaminasi kulit pada 1x pemeriksaan pada penderita dengan infuse dan dokter memberikan terapi antibiotika. hipotermi < 370 C.  Sistem kardiovaskuler antara lain : tanda renjatan. 2.  Manifestasi hematology antara lain : pucat. Terjadi 3 hari setelah partus patologik. tanpa di dapatkan pintu masuk kumam. FAKTOR RESIKO INFEKSI ALIRAN DARAH PRIMER 1. B. Laboratorik  Kultur darah menunjukkan kuman kontaminasi kulit pada 2 x pemeriksaan yang berbeda waktu. • Diberikan terapi anti mikroba sesuai dengan sepsis  Telah memberikan antimikroba yang sesuai dengan infeksi.  Sistem saraf pusat antara lain : hipertomi otot. iritabel kejang dan letargi. splenomegali dan perdarahan. Dan semua tanda / gejala di bawah ini : • Biakan darah tidak dikerjakan atau dikerjakan tetapi tidak ada pertumbuhan kumam. Kerentanan pasien terhadap infeksi PETUNJUK PENGEMBANGAN SURVEILANS INFEKSI ALIRAN DARAH PRIMER . mencret.  Antigen tes darah yang positif dan disertai gejala serta pemeriksaan laboratorium tidak menunjukkan infeksi di tempat lain.  Sistem pernafasan antara lain : nafas tidak teratur. hipertermi ( 380 C ) dan sklerema. menurun antara lain : hipotermi ( 370 C ). • Tidak terdapat tanda – tanda infeksi di tempat lain. 160x / menit atau bradikardi 100x / menit dan sirkulasi perifer buruk. sesak.

 Kanula plastic boleh digunakan untuk I.  Pada umumnya cuci tangan cukup menggunakan sabun dan air mengalir tetapi untuk pemasangan kanula yang central dan untuk pemasangan melalui incise. 4.V hanya dilakukan untuk tindakan pengobatan dan atau untuk kepentingan diagnostic ( kategori I ). Cuci Tangan :  Cuci tangan harus dilakukan sebelum melakukan pemasangan kanula ( kategori I ).  Tempat yang akan ditusuk / dipasang kanula harus terlebih dahulu di desinfeksi dengan antisieptik ( kategori I ). kasus kasus tertentu yang memerlukan fiksasi yang baik harus digunakan kanula plastic ( kategori II ).  Beri salep setelah pada tempat pemasangan terutama pada tehnik insisi ( kategori I ). Semua factor resiko harus dicatat dengan lengkap pada catatan pasien oleh dokter. Persiapan pemasangan I.V. Pemilihan lokasi pemasangan I. 3.  Cantumkan tanggal pemasangan ditempat yang mudah dibaca ( misalnya pada plastic penutup pipa infuse ) serta pada catatan pasien yang bersangkutan tuliskan tanggal dan lokasi pemasangan ( kategori I ). 5. 6.  Kanula logam digunakan bila kanula plastic tidak mungkin diganti secara rutin setiap 48 – 72 jam namun.V.  Jangan menggunakan heksaklorofen atau campuran semacam benzalkonium dalam air untuk desinfeksi tempat tusukan ( kategori I ).V. Pemilihan kanula untuk infuse perifer. Perawatan tempat pemasangan I. Antiseptik harus secukupnya dan ditunggu sampai kering minimal 30 detik sebelum dilakukan pemasangan kanula ( kategori I ). 7.V.  Gunakan tinetur 1 – 2 % atau dapat juga menggunakan klorheksidine. 2. 2.V. perawat atau anggota tim kesehatan lain yang menangani pasien ( kategori I ). bila perlu pemasangan dilakukan didaerah subklavia atau jugular ( kategori I ). Bila ada . Prosedur setelah pemasangan I. cuci tangan harus menggunakan antiseptic ( kategori I ). Pelaksana surveilans menghitung rate menurut factor resiko spesifik ( kateter intravena ) minimal setiap 6 bulan sekali dan melaporkannya pada Pokja Pengendalian Infeksi RS dan juga menyebarluaskannya melalui bulletin rumah sakit ( kategori II ). PENCEGAHAN INFEKSI ALIRAN DARAH PRIMER Pencegahan IADP terutama ditujukan pada pemasangan dan perawatan I. 1. Pemasangan I.  Kanula di fiksasi sebaik – baiknya ( kategori I )  Tutuplah dengan kassa steril ( kategori I ). Indikasi pemasangan I. Iodofor atau Alkohol 70%.V secara rutin pemasangan tidak boleh lebih dari 48 – 72 jam ( kategori II ).V pada orang dewasa pemasangan kanula lebih baik pada tungkai atas daripada tungkai bawah.1.  Tempat tusukan diperiksa setiap hari untuk melihat kemungkinan timbulnya komplikasi tanpa membuka kasa penutup yaitu dengan cara meraba daerah vena tersebut.

V.V.tidak boleh dilakukan kecuali dalam keadaan darurat atau pipa akan segera di lepas ( kategori II ) 11.  Kanula sentral harus segera dilepas bila tidak diperlukan lagi atau diduga menyebabkan sepsis ( kategori I ).  Jika penggantian tidak mengikuti tehnik aseptic yang baik maka harus diganti secepatnya ( kategori I ).  Pada setiap penggantian komponen system I. 9.seperti tromboplebitis purulen. 10. melalui infuse perifer ( baik menggunakan heparin atau yang dipasang melalui insisi ) bila tidak ada komplikasi yang mengharuskan mencabut kanula harus diganti setiap 48 – 72 jam secara asepsis ( kategori I ).  Kanula sentral dipasang melalui vena jugular dan sub klavia kecuali digunakan untuk pemantauan tekanan vena sentral.  Kanula sentral dipasang melalui vena perifer harus diperlakukan seperti kanula perifer tersebut diatas ( kategori I ). Jika dari tempat tusukan keluar pus atau terjadi selulitis atau flebitis tanpa gejala – gejala infeksi pada tempat I. produk – produk darah atau emulsi lemak ( kategori III ). barulah kasa penutup dibuka untuk melihat kemungkinan komplikasi ( kategori I ). Kanula Sentral  Kanula sentral harus dipasang dengan tehnik aseptic ( kategori I ).  Pipa yang digunakan untuk hiperalimentasi harus diganti setiap 24 – 48 jam ( kategori II ). maka di lakukan pemeriksaan biakan ujung kanula Cara pengambilan bahan sebagai berikut : . Pemeliharaan Peralatan  Pipa I.V termasuk kanula piggy back harus diganti setiap 48 jam ( kategori I ). Pemeriksaan untuk infeksi yang dicurigai karena intravena  Bila di curigai terjadi infeksi karena pemasangan I.V. Penggantian komponen sistem intravena dalam keadaan infeksi atau flebitis.  Pengambilan bahan pemeriksaan darah melalui pipa I.V. kasa penutup diperiksa dan diganti setiap 48 – 72 jam ( kategori II ).  Hindarkan pembilasan dan irigasi untuk melancarkan aliran ( kategori I ).  Bila kanula harus dipertahankan untuk waktu lama maka setiap 48 – 72 jam kasa penutup harus diganti  Bila pada waktu pemasangan kanula tempat pemasangan diberi antiseptik maka setiap penggantian kasa penutup.V. Tidak harus diganti secara rutin ( kategori I ). maka semua sistem harus di cabut ( kategori I ) 12. Setiap kali hendak memasukkan obat melalui pipa harus dilakukan desinfeksi sesaat sebelum memasukkan obat tersebut ( kategori I ). 8. Penggantian kanula  Jika pengobatan I. tempat pemasangan diberi antiseptik kembali ( kategori II ). harus dipertahankan tetap tertutup.  Bila kanula dipertahankan lebih lama. bakterimia.atau di duga bakterimia yang berasal dari kanula.demam yang tidak bisa dijelaskan dan ada nyeri tekan pada tempat tusukan.  Pipa yang harus diganti sesudah memanipulasi pemberian darah.

V. dapat dipakai dan praktis untuk semua rumah sakit. keretakan dan partikel tertentu dan tanggal kedaluwarsa.V. maka cairan harus di biakkan dan sisa botol diamankan ( kategori I ) • Jika sistem I. Kendali mutu selama dan sesudah pencampuran cairan parental :  Cairan parentral dan hiperalimentasi harus di campur di bagian farmasi. Praktis tapi tak dapat dilaksanakan oleh semua rumah sakit. Bila di dapatkan keadaan tersebut cairan tidak boleh di gunakan dan harus di kembalikan ke bagian farmasi dan dari bagian farmasi tidak boleh di keluarkan ( kategori I )  Ruangan di bagian farmasi tempat mencampur cairan parentral tersebut harus memiliki pengatur udara laminar ( laminar – flow – hood ) ( kategori II )  Sebaiknya di pakai wadah yang berisi cairan dengan dosis tunggal ( sekali pakai ) Bila di pakai bahan parentral dengan dosis ganda ( untuk beberapa kali pakai ) dan sisanya untuk wadah harus diberi tanda tanggal dan jam dikerjakan  Label wadah harus diperiksa untuk mengetahui apakah perlu dimasukkan ke dalam es atau tidak Keterangan tentang kategori : Kategori I : Keharusan mutlak ( Strongly Recommended for Adoption ) Ditunjang kuat oleh penelitian klinis yang terencana / terkontrol baik atau dipandang berguna oleh pakar.• Kulit tempat tusukan harus di bersihkan dan di desinfeksi dengan alkohol.dihentikan oleh karena kecurigaan bakterimia akibat I. kebocoran. biarkan sampai kering • Kanula di lepas. . pencampuran di lakukan di ruangan pasien ( kategori II )  Tenaga pelaksana harus mencuci tangan sebelum mencampur cairan parenteral ( kategori I)  Sebelum mencampur dan menggunakan cairan parentral semua wadah harus di periksa untuk melihat adanya keruhan.di hentikan oleh karena kecurigaan kontaminasi cairan. ujung kanula di potong kurang dari 1 cm secara aseptik untuk di biakkan dengan teknik semi kuantitatif ( kategori II ) • Jika sistem I. kecuali karena kepentingan klinis.V. Kategori II : Sangat dianjurkan ( Moderatly Recommended for Adoption ) Ditunjang oleh penelitian secara klinis dipandang sangat mungkin dan secara teoritis adalah rasional.cairan harus di biakkan ( kategori II ) • Jika terbukti bahwa cairan terkontaminasi maka sisa botol dan isinya dengan nomor lot yang sama dengan yang terkontaminasi harus di amankan dan nomor lot harus harus di catat ( kategori I ) • Jika kontaminasi di curigai berasal dari pabrik ( intrinsic contamination ) maka secepatnya harus di laporkan kepada Dinas Kesehatan atau Kanwil Depkes setempat untuk di teruskan ke Ditjen PPM dan PLP dan Ditjen POM ( kategori I ) 13.

.Kategori III : Dianjurkan ( Weakly Recommended for Adoption ) Dianjurkan oleh pejabat yang berwenang tapi tidak ditunjang oleh data yang kuat / teori. Dilaksanakan oleh beberapa rumah sakit.