You are on page 1of 24

KELARUTAN

BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Larutan merupakan suatu campuran homogen antara 2 zat dari molekul,
atom ataupun ion dimana zat yang dimaksud disini adalah zat padat, minyak
larut dalam air.
Kelarutan suatu senyawa bergantung pada sifat fisika dan kimia zat
terlarut dan pelarut, juga bergantung pada faktor temperatur, tekanan, pH
larutan, dan untuk jumlah yang lebih kecil, bergantung pada hal terbaginya zat
terlarut. Adapun kelarutan didefenisikan dalam besaran kuantitatif sebagai
konsentrasi zat terlarut dalam larutan jenuh pada temperatur tertentu, dan
secara kualitatif didefinisikan sebagai interaksi spontan dari dua atau lebih zat
untuk membentuk dispersi molekuler homogen.
Dalam bidang farmasi kelarutan sangat penting, karena dapat mengetahui
dapat membantu dalam memilih medium pelarut yang paling baik untuk obat
atau kombinasi obat, membantu mengatasi kesulitan-kesulitan tertentu yang
timbul pada waktu pembuatan larutan farmasetis (dibidang farmasi) dan
lebih jauh lagi dapat bertindak sebagai standar atau uji kelarutan.

YULI ANDRIYANI
150 2012 0354

BUDI PRASETIA RUMAF

KELARUTAN

II. Tujuan Percobaan


Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan kelarutan suatu zat
secara kuantitatif, menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan
suatu zat, dan menjelaskan usaha-usaha yang digunakan untuk meningkatkan
kelarutan suatu zat aktif dalam air dalam pembuatan sediaan cair.

YULI ANDRIYANI
150 2012 0354

BUDI PRASETIA RUMAF

KELARUTAN

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I. Dasar Teori
Kelarutan

didefinisikan

dalam

besaran

kuantitatif

sebagai

suatu

konsentrasi zat terlarut dalam larutan jenuh pada temperatur tertentu, dan
secara kualitatif didefinisikan sebagai interaksi spontan dari dua atau lebih zat
untuk membentuk dispersi molekuler homogen (Martin, 1990).
Kelarutan diartikan sebagai konsentrasi bahan terlarut dalam suatu larutan
jenuh pada suatu suhu tertentu. Larutan sebagai campuran homogen bahan
yang berlainan. Untuk dibedakan antara larutan dari gas, cairan dan bahan
padat dalam cairan. Disamping itu terdapat larutan dalam keadaan padat
(misalnya gelas, pembentukan kristal campuran) (Voight, 1994).
Kelarutan adalah suatu bentuk kuantitatif sebagai konsentrasi zat terlarut
dalam suatu larutan jenuh pada temperatur tertentu, secara kualitatif,
didefinisikan sebagai interaksi spontan dari dua atau lebih zat untuk
membentuk dispersi molekuler homogen (Sinko, 2005).
Kelarutan adalah suatu bagian dalam suatu pelarut tertentu, menunjukkan
konsentrasi maksimum larutan yang dapat dibuat dari bahan dan pelarut
tersebut (Ansel, 1989).
Dalam istilah farmasi, larutan didefinisikan sebagai sediaan cair yang
mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat larut, biasanya dilarutkan
dalam air, yang karena bahan-bahannya, cara peracikan atau penggunaannya,
tidak dimasukkan kedalam golongan produk lainnya (M. Idris Effendi, 2003).
Pelepasan zat dari bentuk sediaannya sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat
kimia dan fisika zat tersebut serta formulasinya. Pada prinsipnya obat baru
dapat diabsorbsi setelah zat aktifnya terlarut dalam cairan usus, sehingga salah
YULI ANDRIYANI
150 2012 0354

BUDI PRASETIA RUMAF

KELARUTAN

satu usaha untuk mempertinggi efek farmakologi dari sediaan adalah dengan
menaikkan kelarutan zat aktifnya (Anonim, 2008).
Kelarutan suatu bahan dalam suatu pelarut tertentu menunjukkan
konsentrasi maksimum larutan yang dapat dibuat dari bahan dan pelarut
tersebut. Bila suatu pelarut pada suhu tertentu melarutkan semua zat terlarut
sampai batas daya melarutkannya, larutan ini disebut larutan jenuh (M. Idris
Effendi, 2003).
Pernyataan bagian dalam kelarutan berarti bahwa 1 g zat padat atau 1ml
zat cair dalam sejumlah ml pelarut. Jika kelarutan suatu zat tidak diketahui
dengan pasti, kelarutannya dapat ditunjukkan dengan istilah: (Ditjen POM,
1979).

Istilah kelarutan
Sangat mudah larut

Jumlah bagian pelarut diperlukan


untuk melarutkan 1 bagian zat
Kurang dari 1

Mudah larut

1 sampai 10

Larut

10 sampai 30

Agak sukar larut

30 sampai 100

Sukar larut

100 sampai 1000

Sangat sukar larut

1000 sampai10.000

Praktis tidak larut

Lebih dari 10.000

Kelarutan obat dapat dinyatakan dalam beberapa cara. Menurut USP


Pharmacopeia dan NF, definisi kelarutan obat adalah jumlah pelarut dimana
akan larut 1 g zat terlarut. Sebagai contoh, kelarutan asam borat dalam U.S
YULI ANDRIYANI
150 2012 0354

BUDI PRASETIA RUMAF

KELARUTAN

Pharmacopeia dikatakan sebagai 1 gram asam borat larut dalam 18 mL air,


dalam 18 mL alkohol, dan 4 mL gliserin. Kelarutan secara kuantitatif juga
dinyatakan dalam molalitas, molaritas dan persentase (Martin, 1988).
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kelarutan suatu zat adalah:
(Anonim, 2008).
1. pH
2. Temperatur
3. Jenis pelarut
4. Bentuk dan ukuran partikel
5. Konstanta dielektrik pelarut
6. Adanya zat-zat lain, misalnya surfaktan pembentuk kompleks ion sejenis
dan lain-lain.
Kelarutan obat sebagian besar disebabkan oleh polaritas pelarut yaitu oleh
momen dipolnya. Pelarut polar melarutkan zat terlarut ionic dan zat polar
lainnya. Sesuai dengan itu, air bercampur dengan alkohol dalam segala
perbandingan dengan melarutkan gula dan senyawa polihidroksi lain (Voight,
1994).

II. Uraian Bahan

Alkohol (Ditjen POM, 1979:65)

YULI ANDRIYANI
150 2012 0354

BUDI PRASETIA RUMAF

KELARUTAN

Nama resmi

: AETHANOLUM

Nama lain

: Etanol (alkohol)

Rumus Molekul/BM

: C2H6O / 46,07

Bobot jenis

: 0,8119-0,8139 g/ml

Pemerian

: Cairan tak berwarna, jernih, mudah


menguap, dan mudah bergerak, bau khas,
rasa panas, mudah
memberikan

nyala

terbakar dengan
biru

yang

tidak

berasap.
Kegunaan
Penyimpanan

: Sebagai sampel cairan


: Dalam wadah tertutup rapat, terlindung
dari cahaya, di tempat sejuk, jauh dari
nyala api.

Aquadest (Ditjen POM, 1979)


Nama resmi
: AQUA DESTILLATA
Nama lain
: Air Suling
RM / BM
: H2O / 18,02
Bobot jenis
: 0,997
Pemerian
:Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, dan
Kegunaan
Penyimpanan

tidak mempunyai rasa.


: Sebagai Zat pelarut
: Dalam wadah tertutup baik

Asam Salisilat (Ditjen POM, 1979:56)


Nama resmi

: ACIDUM SALICYLICUM

Nama lain

: Asam salisilat

YULI ANDRIYANI
150 2012 0354

BUDI PRASETIA RUMAF

KELARUTAN

RM/BM

: C7H6O3 / 138,12

Pemerian

: Hablur ringan tidak berwarna atau serbuk


berwarna putih, hampir tidak berbau, rasa agak
manis dan tajam.

Kegunaan

: sebagai sampel uji.

Penyimpanan

: dalam wadah tertutup baik.

Propilenglikol (Ditjen POM, 1979:54)


Nama resmi

: PROPYLENGLYCOLUM

Nama lain

: Propilenglikol

RM/BM

: C3H8O2 / 76,10

Pemerian

: Cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak berbau,


rasa agak manis, higroskopik.

Kegunaan

: Sebagai zat tambahan.

Kelarutan

: dapat campur dengan air, dengan etanol (95%) P


dan dengan kloroform P; larut dalam 6 bagian eter
minyak tanah P dan dengan minyak lemak.

Penyimpanan

: dalam wadah tertutup rapat.

Tween-80 (Ditjen POM, 1979:509)


Nama resmi

: POLYSORBATUM-80

Nama lain

: Polisorbat-80

Pemerian

: Cairan kental seperti minyak, jernih dan kuning, bau


asam lemah khas.

YULI ANDRIYANI
150 2012 0354

BUDI PRASETIA RUMAF

KELARUTAN

Kegunaan

: sebagai surfaktan.

Kelarutan

: mudah larut dalam air, dalam etanol (95%) P dalam etil


asetat P dan dalam metanol P, sukar larut dalam parafin
dan minyak biji.

Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik.

III. Prosedur Kerja (Anonim, 2013)


a. Menentukan kelarutan suatu zat secara kuantitatif
- Masukkan 1 g asam salisilat dalam 50 ml air dan kocok selama
1,5

YULI ANDRIYANI
150 2012 0354

jam dengan stirer, jika ada endapan yang larut selama

BUDI PRASETIA RUMAF

KELARUTAN

pengocokan tambahkan lagi sejumlah tertentu asam salisilat sampai


-

diperoleh larutan yang jenuh.


Saring dan tentukan kadar asam salisilat yang terlarut dalam masingmasing larutan.

b. Pengaruh Pelarut campur terhadap kelarutan zat


- Buatlah 100 ml campuran bahan pelarut yang tertera pada tabel
dibawah ini

Pelarut

Ambil

( v/v
)
60
60
60
60
60
60
60
60

A
B
C
D
E
F
G
H
-

Air

50 ml

Alkohol

v/ v )
0
5
10
15
20
30
35
40

Propilen glikol
( v/v )
40
35
30
25
20
10
5
0

campuran pelarut, larutkan asam salisilat sebanyak

1g

ke dalam masing-masing campuran pelarut.


Kocok larutan dengan stirrer selama 1,5 jam. Jika ada endapan yang
larut selama pengocokan tambahkan lagi sejumlah tertentu asam

salisilat sampai diperoleh larutan yang jenuh kembali.


Saring larutan dan tentukan kadar asam salisilat yang larut.
Buatlah kurva antara kelaruran asam salisilat dengan harga konstanta
dielektrik bahan pelarut campur yang ditambahkan.

c. Pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu zat


- Buatlah 50 ml larutan tween 80 dengan konsentrasi 0; 0,1; 0,5; 1,0; 5,0;

10,0; 50,0; dan 100 mg/100 ml


Tambahkan 1 g asam salisilat ke dalam masing-masing larutan

YULI ANDRIYANI
150 2012 0354

BUDI PRASETIA RUMAF

KELARUTAN

Kocok larutan dengan stirrer selama

1,5 jam. Jika ada endapan yang

larut selama pengocokan tambahkan lagi sejumlah tertentu asam


-

salisilat sampai diperoleh larutan yang jenuh kembali.


Saring larutan dan tentukan kadar asam salisilat yang larut.
Buatlah kurva antara kelaruran asam salisilat dengan konsentrasi tween

80 yang digunakan
Tentukan konsentrasi misel kritik (KMK) tween 80.

d. Pengaruh pH terhadap kelarutan suatu zat


- Buat 100 ml larutan dapar fosfat dengan pH 4, 5, 6, 7 dan 8
- Ambil 25 ml masing-masing larutan lalu tambahnkan 0,5 g
diklofenak ke dalamnya
-

Kocok larutan dengan stirrer selama

natrium

1,5 jam. Jika ada endapan yang

larut selama pengocokan tambahkan lagi sejumlah tertentu asam


-

salisilat sampai diperoleh larutan yang jenuh kembali.


Saring larutan dan tentukan kadar natrium diklofenak yang terlarut
dalam masing-masing larutan dapar dengan cara spektrofotometri UV
pada panjang gelombang

274278

nm. Bila konsentrasi larutan

terlalu pekat encerkan dulu dengan larutan dapar yang sesuai


Buatlah kurva hubungan antara konsentrasi zat yang diperoleh dengan
pH larutan.

BAB III
CARA KERJA
I. Alat Dan Bahan
I. Alat Yang Dipakai
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah : Batang pengaduk,
Botol semprot, Cawa porselin, Corong, Erlenmeyer 250 ml, Gegep kayu,

YULI ANDRIYANI
150 2012 0354

BUDI PRASETIA RUMAF

KELARUTAN

Gelas kimia 300 ml, Gelas kimia 600 ml, Gelas ukur 100 ml, Penangas air,
Sendok tanduk, Stopwatch, Termometer, Timbangan analitik.
J. Bahan Yang Digunakan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah : Air suling,
Aluminium foil, Asam benzoat, Kertas label, Kertas saring, Kertas timbang.
II. Langkah Percobaan
A. Menentukan kelarutan suatu zat secara kuantitatif
- Dimasukkan 1 g asam benzoat dalam 50 ml air dan kocok selama
1,5

jam dengan stirer, jika ada endapan yang larut selama

pengocokan tambahkan lagi sejumlah tertentu asam salisilat sampai


-

diperoleh larutan yang jenuh.


Disaring dan ditentukan kadar asam salisilat yang terlarut dalam
masing-masing larutan.

B. Pengaruh Pelarut campur terhadap kelarutan zat


- Dibuat 100 ml campuran bahan pelarut yang tertera pada tabel
dibawah ini.

Pelarut
A
B
C
D
E
F
G
H

YULI ANDRIYANI
150 2012 0354

Air

( v/v
)
60
60
60
60
60
60
60
60

Alkohol

v/ v )
0
5
10
15
20
30
35
40

Propilen glikol
( v/v )
40
35
30
25
20
10
5
0

BUDI PRASETIA RUMAF

KELARUTAN

Diambil

50 ml

campuran pelarut, larutkan asam salisilat sebanyak

1g

ke dalam masing-masing campuran pelarut.


Dikocok larutan dengan stirrer selama 1,5 jam. Jika ada endapan
yang larut selama pengocokan tambahkan lagi sejumlah tertentu asam

salisilat sampai diperoleh larutan yang jenuh kembali.


Disaring larutan dan tentukan kadar asam salisilat yang larut.
Dibuatlah kurva antara kelaruran asam salisilat dengan harga konstanta
dielektrik bahan pelarut campur yang ditambahkan.

C. Pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu zat


- Dibuatl 50 ml larutan Tween 80 dengan konsentrasi 1; 2; 3; 4; 5; 6; 7; 8;

9; dan 1 0 mg/100 ml
Ditambahkan 1 g asam salisilat ke dalam masing-masing larutan

Dikocok larutan dengan stirrer selama

1,5

jam. Jika ada endapan

yang larut selama pengocokan tambahkan lagi sejumlah tertentu asam


-

salisilat sampai diperoleh larutan yang jenuh kembali.


Disaring larutan dan tentukan kadar asam salisilat yang larut.
Dibuatlah kurva antara kelaruran asam salisilat dengan konsentrasi

Tween 80 yang digunakan


Ditentukan konsentrasi misel kritik (KMK) Tween 80.

D. Pengaruh pH terhadap kelarutan suatu zat


- Dibuat 100 ml larutan dapar fosfat dengan pH 4, 5, 6, 7 dan 8
-

Diambil 25 ml masing-masing larutan lalu tambahnkan


natrium diklofenak ke dalamnya

Dikocok larutan dengan stirrer selama

1,5

0,5 g

jam. Jika ada endapan

yang larut selama pengocokan tambahkan lagi sejumlah tertentu asam


-

salisilat sampai diperoleh larutan yang jenuh kembali.


Disaring larutan dan tentukan kadar natrium diklofenak yang terlarut
dalam masing-masing larutan dapar dengan cara spektrofotometri UV

YULI ANDRIYANI
150 2012 0354

BUDI PRASETIA RUMAF

KELARUTAN

274278

pada panjang gelombang


-

nm. Bila konsentrasi larutan

terlalu pekat encerkan dulu dengan larutan dapar yang sesuai.


Dibuatlah kurva hubungan antara konsentrasi zat yang diperoleh dengan
pH larutan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

I. Hasil Percobaan Dan Perhitungan


A. Tabel Pengamatan
a) Menentukan kelarutan suatu zat secara kuantitatif

YULI ANDRIYANI
150 2012 0354

BUDI PRASETIA RUMAF

KELARUTAN

Berat

Berat kertas

Sampel dan

Residu

Sampel

Sampel
1g

saring
0,82 g

kertas saring
1,54 g

sampel
0,72 g

yang larut
0,28 g

b) Pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan zat


Pelaru

Berat

sampel

A
B
C
D
E
F
G
H

1,5 g
2g
1,5 g
2g
2g
2g
2g
2g

Berat

Sampel dan

kertas

kertas

saring
0,81 g
0,81 g
0,81 g
0,81 g
0,81 g
0,81 g
1g
1g

saring
1,6512 g
1,41 g
0,9646 g
0,9620 g
0,9583 g
2,06 g
2,05 g
1,79 g

Residu

Sampel

sampel

yang larut

0,8412 g
0,6 g
0,1646 g
0,152 g
0,1483 g
1,06 g
1,05 g
0,79 g

0,6588 g
1,4 g
1,3354 g
1,848 g
1,8517 g
0,94 g
0,95 g
1,21 g

c) Pengaruh penambahan surfaktan terhadap suatu zat


Berat

Berat

Sampel

% tween

sampe

kertas

dan kertas

Tween 4%

l
1,5 g

saring
0,4340 g

saring
0,8882 g

Residu

Sampel

sampel

yang larut

0,4542 g

1,0458 g

d) Pengaruh pH terhadap kelarutan suatu zat


pH

Berat

larutan

sampel

5
6
7
8

1g
1,5 g
2g
1.5 g

Berat

Sampel

kertas

dan kertas

saring
0,42 g
0,40 g
0,36 g
0,33 g

saring
1,04 g
1,35 g
1,63 g
1,07 g

Residu
sampel
0,62 g
0,95 g
1,27 g
0,74 g

Sampel
yang
larut
0,38 g
0,55 g
0,73 g
0,76 g

B. Perhitungan
a) Kelarutan secara kuantitatif
Residu sampel = sampel dan kertas saring berat kertas saring
Residu sampel = 1,54 - 0,82
YULI ANDRIYANI
150 2012 0354

BUDI PRASETIA RUMAF

KELARUTAN

kelarutan=

50
0,28

= 0,72 g
Sampel yang larut = berat sampel- residu sampel
Sampel yang larut = 1 0,72
= 0,28 g

178,57( sukar larut)

b) Pengaruh Pelarut campur terhadap kelarutan zat


1. Pelarut A
Residu sampel = sampel dan kertas saring berat kertas saring
Residu sampel = 1,6512 - 0,81
= 0,8412 g

Sampel yang larut

= berat sampel- residu sampel

Sampel yang larut

= 1,5 0,8412
= 0,6588 g

kelarutan=

100 ml
0,6588 g
151,79 ml/ gr (sukar larut )

2. Pelarut B
Residu sampel = sampel dan kertas saring berat kertas saring
Residu sampel = 1,41 - 0,81
= 0,6 g

Sampel yang larut

= berat sampel- residu sampel

Sampel yang larut

= 2 0,6
= 1,4 g

kelarutan=

YULI ANDRIYANI
150 2012 0354

100 ml
1,4 gr

BUDI PRASETIA RUMAF

KELARUTAN

71,42ml / gr (agak sukar larut )


3. Pelarut C
Residu sampel = sampel dan kertas saring berat kertas saring
Residu sampel = 10,9646 - 0,80
= 0,1646 g

Sampel yang larut


Sampel yang larut

= berat sampel- residu sampel


= 1,5 0,1646
= 1,3354 g
100 ml
kelarutan=
1,3354 gr
74,88 ml/ gr (agak sukar larut )

4. Pelarut D
Residu sampel = sampel dan kertas saring berat kertas saring
Residu sampel = 10,9620 - 0,81
= 0,152 g
Sampel yang larut
= berat sampel- residu sampel
Sampel yang larut
= 2 0,152
= 1,848 g
kelarutan=

100 ml
1,848 gr
54,11 ml/ gr (agak sukar larut)

5. Pelarut E
Residu sampel = sampel dan kertas saring berat kertas saring
Residu sampel = 0,9583 - 0,81
= 1,483 g
Sampel yang larut
= berat sampel- residu sampel
Sampel yang larut
= 2 0,1483
= 1, 8517 g
kelarutan=

100 ml
1,8517 gr
54,00 ml/ gr (agak sukar larut )

6. Pelarut F
Residu sampel = sampel dan kertas saring berat kertas saring
Residu sampel = 2,06 - 1
YULI ANDRIYANI
150 2012 0354

BUDI PRASETIA RUMAF

KELARUTAN

= 1,06 g
Sampel yang larut
= berat sampel- residu sampel
Sampel yang larut
= 2 1,06
= 0,94 g
kelarutan=

100 ml
0,94 gr
106,38 ml/ gr (sukar larut )

7. Pelarut G
Residu sampel = sampel dan kertas saring berat kertas saring
Residu sampel = 2,05 - 1

= 1,05 g
Sampel yang larut
= berat sampel- residu sampel
Sampel yang larut
= 2 1,05
= 0,95 g
100 ml
kelarutan=
0,95 gr
105,26 ml/ gr ( sukar larut)

8. Pelarut H
Residu sampel = sampel dan kertas saring berat kertas saring
Residu sampel = 1,79 - 1
= 0,79 g
Sampel yang larut
= berat sampel- residu sampel
Sampel yang larut
= 2 0,79
= 1,21 g
100 ml
kelarutan=
1,21 gr
82,64 ml /gr (agak sukar larut )
c) Pengaruh surfaktan terhadap kelarutan suatu zat
1. Tween 4 %
Residu sampel = sampel dan kertas saring berat kertas saring
Residu sampel = 0,88882 0,4340
= 0,4542 g
Sampel yang larut = berat sampel- residu sampel
Sampel yang larut = 1,5 0,4542
YULI ANDRIYANI
150 2012 0354

BUDI PRASETIA RUMAF

KELARUTAN

= 1,0458 g
100 ml
kelarutan=
1,0458 gr
95,62 ml/ gr (agak sukarlarut )

2. Tween 10 %
Residu sampel = sampel dan kertas saring berat kertas saring
Residu sampel = 0,607 0,434
= 0,173 g
Sampel yang larut = berat sampel- residu sampel
Sampel yang larut = 2,5 0,173
= 2,327 g
100 ml
kelarutan=
2,327 gr
42,97 ml /gr (agak sukar larut )

d) Pengaruh pH terhadap kelarutan suatu zat


1. pH 5
Residu sampel = sampel dan kertas saring berat kertas saring
Residu sampel = 1,04 - 0,42
= 0,62 g
Sampel yang larut = 1 0,62
= 0,38 g
50 ml
kelarutan=
0,38 gr
131,57 ml/ gr ( sukar larut)

2. pH 6
Residu sampel = sampel dan kertas saring berat kertas saring
Residu sampel = 1,35 - 0,40
= 0,95 g

Sampel yang larut = berat sampel- residu sampel


Sampel yang larut = 1,5 0,95
= 0,55 g

YULI ANDRIYANI
150 2012 0354

BUDI PRASETIA RUMAF

KELARUTAN

kelarutan=

50 ml
0,55 gr

90,90 ml /gr (agak sukar larut)


3. pH 7
Residu sampel = sampel dan kertas saring berat kertas saring
Residu sampel = 1,63 - 0,36
= 1,27 g
Sampel yang larut = berat sampel- residu sampel
Sampel yang larut = 2 1,27
= 0,73 g
50 ml
kelarut an=
0,73 gr
68,49 ml/ gr (agak sukar larut )

4. pH 8
Residu sampel = sampel dan kertas saring berat kertas saring
Residu sampel = 1,07 - 0,33
= 0,74 g
Sampel yang larut = berat sampel- residu sampel
Sampel yang larut = 1,5 0,74
= 0,76 g
50 ml
kelarutan=
0,76 gr
= 65,78(agak sukar larut)

YULI ANDRIYANI
150 2012 0354

BUDI PRASETIA RUMAF

KELARUTAN

II. Pembahasan
Kelarutan dalam besaran kuantitatif didefinisikan sebagai konsentrasi
zat terlarut dalam larutan jenuh pada temperatur tertentu, sedangkan secara
kualitatif didefinisikan sebagai interaksi spontan dari dua atau lebih zat untuk
membentuk dispersi molekuler homogen. Menurut U.S. Pharmacopeia dan
National Formulary definisi kelarutan obat adalah jumlah ml pelarut di mana
akan larut 1 gram zat terlarut.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan adalah pH, temperatur,
jenis pelarut, bentuk dan ukuran partikel, konstanta dielekrik pelarut, dan
surfaktan, serta efek garam. Semakin tinggi temperatur maka akan
mempercepat kelarutan zat, semakin kecil ukuran partikel zat maka akan
mempercepat kelarutan zat, dan dengan adanya garam akan mengurangi
kelarutan zat.
Pada percobaan ini, kita akan menentukan kelarutan suatu zat secara
kuantitatif, pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan suatu zat, pengaruh
penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu zat, dan pengaruh pH
terhadap kelarutan suatu zat.

YULI ANDRIYANI
150 2012 0354

BUDI PRASETIA RUMAF

KELARUTAN

Dalam percobaan ini alasan zat dilarutkan yaitu untuk melihat tingkat
kelarutan asam salisilat dan tween 80 dalam pelarut aquades sehingga dapat
diketahui kelarutannya. Kelarutan sampel dapat ditingkatkan dengan
mengaduk-aduk larutan tersebut. Setelah itu, pada proses penyaringan
bertujuan untuk menyaring zat yang tidak terlarut dalam pelarut yang
digunakan. Sedangkan pengeringan dilakukan agar zat yang diperoleh lebih
murni, bukan berat dari pelarut yang melekat pada kertas saringnya.
Dari hasil percobaan yang dilakukan, maka diperoleh data untuk
kelarutan tween 4%, berat sampel yang terlarut adalah 0,0458 gr; untuk
kelarutan tween 10% , berat sampel yang terlarut adalah 1,2039 gr. Untuk
kelarutan surfaktan pada pH 5 (50 ml) jumlah sampel yang terlarut adalah
0,38 gr; pada pH 6 (50 ml) jumlah sampel yang terlarut adalah 0,55 gr; pada
pH 7 (50 ml) jumlah sampel yang terlarut adalah 0,73 gr; dan pada pH 8
jumlah sampel yang terlarut adalah 0,76 gr. Untuk pelarut B, jumlah sampel
yang terlarut adalah 1,4 gr; pada pelarut C, jumlah sampel yang terlarut
adalah 1,3354 gr; pada pelarut F, jumlah sampel yang terlarut adalah 0,94 gr;
pada pelarut G, jumlah sampel yang terlarut adalah 0,95 gr; dan pada pelarut
H, jumlah sampel yang terlarut adalah 0,95 gr.

YULI ANDRIYANI
150 2012 0354

BUDI PRASETIA RUMAF

KELARUTAN

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
I. Kesimpulan
Dari percobaan yang dilakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Kelarutan suatu zat secara kuantitatif :
- Berat sampel
= 1 gr
- Berat kertas saring
= 0,82 gr
- Sampel dan kertas saring
= 1,54 gr
- Residu sampel
= 0,72 gr
- Sampel yang larut
= 0,28 gr
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan suatu zat adalah : pH,
temperatur, jenis pelarut, bentuk dan ukuran partikel, konstanta dielekrik
pelarut, dan surfaktan, serta efek garam.

II. Saran
YULI ANDRIYANI
150 2012 0354

BUDI PRASETIA RUMAF

KELARUTAN

Sebaiknya dalam parktikum ini kita juga menggunakan pelarut lain agar
dapat dibandingkan kelarutannya.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. Farmasi Fisika. Universitas Muslim Indonesia. Makassar
Ansel,H.C.,2004.Kalkulus farmasetik.EGC:Jakarta
Dirjen POM. Farmakope Indonesia Edisi III. DepKes : Jakarta, 1979
Dogra, S.K. 1990. Kimia Fisika dan Soal-soal. Universitas Indonesia Press.
Jakarta.
Drs. M. Idris Effendi., (2003), Materi Kuliah Farmasi Fisika, Jurusan farmasi
Universitas Hasanuddin. Makassar.
Martin, A. 1990. Farmasi Fisika. Buku II, UI Press, Jakarta.
Moechtar. 1990. Farmasi Fisika. UGM Press, Yogyakarta.
R. Voight., (1994), Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Edisi Kelima, Penerbit
Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Sinko, P. 2005. Martins Phisical Pharmacy and Pharmaceutical Sience 5th
Edition. Lippincott Williams & Wilkins, Baltimore.
YULI ANDRIYANI
150 2012 0354

BUDI PRASETIA RUMAF

KELARUTAN

Tim asisten, (2008), Penuntun Praktikum Farmasi Fisika, Jurusan Farmasi


UNHAS, Makassar.

YULI ANDRIYANI
150 2012 0354

BUDI PRASETIA RUMAF