You are on page 1of 15

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK
PADA PASIEN DENGAN TYPHOID
A. DEFINISI
Demam tifoid atau Typhoid Fever atau Typhus Abdominalis adalah
penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhii yang merupakan
bakteri gram negatif berbentuk batang yang masuk melalui makanan dan
minuman yang terkontaminasi (Tapan, 2006).
Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi oleh bakteri Salmonella typhii
dan bersifat endemik yang termasuk dalam penyakit menular (Cahyono, 2010).
Demam tifoid adalah infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella
typhii (Elsevier, 2013).
Jadi, demam tifoid merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh
bakteri gram negatif (bakteri Salmonella typhii ) yang menurunkan sistem
pertahanan tubuh dan masuk melalui makanan dan minuman yang
terkontaminasi. Aspek paling penting dari infeksi ini adalah kemungkinan
terjadinya perfusi usus, karena organisme memasuki rongga perut sehingga
menyebabkan timbulnya peritonitis yang mengganas.
B. ETIOLOGI
1. Salmonella typhii
2. S. Paratyphii A, S. Paratyphii B, S. Paratyphii C.
3. S typhii atau S. paratyphii hanya ditemukan pada manusia.
4. Demam bersumber dari makanan-makanan atau air yang dikontaminasi oleh
manusia lainnya.
5. Di USA, kebanyakan kasus demam bersumber baik dari wisatawan
mancanegara atau makanan yang kebanyakan diimpor dari luar.
Salmonella typii, Salmonella paratyphii A, Salmonella Paratyphii B,
Salmonella Paratyphii C merupakan bakteri penyebab demam tifoid yang
mampu menembus dinding usus dan selanjutnya masuk ke dalam saluran
peredaran darah dan menyusup ke dalam sel makrofag manusia. Bakteri ini
masuk melalui air dan makanan yang terkontaminasi dari urin dan feses
yang terinfeksi dengan masa inkubasi 3-25 hari.
Pemulihan mulai terjadi pada minggu ke-empat dalam perjalanan
penyakit. Orang yang pernah menderita demam tifoid akan memperoleh
kekebalan darinya, sekaligus sebagai karier bakteri. Jadi, orang yang pernah

Setelah melalui periode waktu tertentu (periode inkubasi) yang lamanya ditentukan oleh jumlah dan virulensi kuman serta respons imun pejamu maka Salmonella typhi akan keluar dari habitatnya dan melalui duktus torasikus masuk ke dalam sirkulasi sistemik. C. Dengan cara ini organisme dapat mencapai organ manapun. Peran endotoksin dalam patogenesis demam tifoid tidak jelas. Invasi kandung empedu dapat terjadi baik secara langsung dari darah atau penyebaran retrograd dari empedu. mengikuti aliran ke kelenjar limfe mesenterika bahkan ada yang melewati sirkulasi sistemik sampai ke jaringan RES di organ hati dan limpa. Keadaan-keadaan seperti aklorhidiria. hal tersebut terbukti dengan tidak terdeteksinya endotoksindalam sirkulasi penderita melalui pemeriksaan limulus. sel epitel khusus yang melapisi Peyer’s patch. Bakteri mencapai folikel limfe usus halus. akan tetapi tempat yang disukai oeh Salmonella typhi adalah hati. pengobatan dengan antagonis reseptor histamin H2. sistem vaskular . sumsum tulang belakang. kelenjar limfe mesenterika. Produk dari makrofag inilah yang dapat menimbulkan nekrosis sel. Pada saat melewati lambung dengan suasana asam (pH < 2) banyak bakteri yang mati. Bakteri yang masih hidup akan mencapai usus halus. Salmonella typhi mengalami multiplikasi di dalam sel fagosit mononuklear di dalam folikel limfe. limpa. inhibitor pompa proton atau antasida dalam jumlah besar. (Soedarmo. kandung empedu dan Peyer’s patch dari ileum terminal. Ekskresi organisme di empedu dapat menginvasi ulang dinding usus atau dikeluarkan melalui tinja.menderita tipus akan menjadi orang yang menularkan tipus pada yang belum pernah menderita tipus. Diduga endotoksin dari Salmonella typhi menstimulasi makrofag di dalam hati. gastrektomi. limpa. 2012). akan mengurangi dosis infeksi. PATOFISIOLOGI Bakteri Salmonella typhi bersama makanan/minuman masuk kedalam tubuh melalui mulut. folikel limfoma usus halus dan kelenjar limfe mesenterika untuk memproduksi sitokin dan zat-zat lain. Di usus halus. hati dan limfe. tepatnya di ileum dan jejunum. Sel-sel M. bakteri melekat pada sel-sel mukosa dan kemudian menginvasi mukosa dan menembus dinding usus. merupakan tempat internalisasi Salmonella typhi. dkk.

terjadi hiperplasia plaks Peyer. maka dinding usus setempat yang memang sudah tipis. ada kemungkinan dinding usus itu tidak tahan dan pecah (perforasi). 2012). kelenjar-kelenjar mesenterial dan limpa membesar (Suriadi & Rita. Membesarnya plak Peyer membuat jaringan ini menjadi rapuh dan mudah rusak oleh gesekan makanan yang melaluinya. yaitu konsistensi bubur yang melalui liang usus tidak sampai merusak permukaan plak Peyer ini. Komplikasi infeksi dapat terjadi perforasi atau perdarahan. Pada minggu keempat terjadi penyembuhan ulkus yang dapat menimbulkan sikatrik.. makin menipis. Bila tetap rusak. yaitu jaringan atau organ limfoid seperti limpa yang membesar. demam. kelainan pada darah dan juga menstimulasi sistem imunologik (Soedarmo. Pada minggu pertama sakit. sehingga pembuluh darah ikut rusak akibat timbul perdarahan. Ulkus dapat menyebabkan perdarahan. dkk. yang kadang-kadang cukup hebat. Kuman Salmonella typhi terutama menyerang jaringan tertentu. Inilah yang menyebabkan pasien tifus harus diberikan makanan lunak. Bila berlangsung terus. depresi sumsum tulang belakang. bahkan sampai perforasi usus. diikuti peritonitis yang dapat berakhir fatal . 2006). Selain itu hepar. juga jaringan limfoid di usus kecil yaitu plak Peyer terserang dan membesar. Ini terjadi pada kelenjar limfoid usus halus.yang tidak stabil. Minggu kedua terjadi nekrosis dan pada minggu ketiga terjadi ulserasi plaks Peyer.

coated tongue dilambung sebagian basil musnah oleh asam lambun melalui pembuluh limfe halus Sebagian masuk ke usus halus dan basil diserap anoreksia Bakteriemia masuk ke dalam peredaran darah melepaskan endotoksin menstimulasi sintesis Basil menyebar keseluruh tubuh sampai di organ-organ utama (Hati dan Limfa) Terutama kedalam kelenjer limfoid usus halus basil berkembang biak organ-organ membesar disertai nyeri pada perabaan Terjadi pelepasan zat pirogen inflamasi lokal menimbulkan tukak Jaringan meradang Berbentuk lonjong pada mukosa diatas plak Peyeri Nyeri saat makan Nyeri Resti komplikasi (cedera) Histamin Mengakibatkan perdarahan dan perforasi usus hipotalamus Peningkatan panas anoreksia melena gangguan thermoregulasi gangguan pemenuhan Nutrisi intake berkurang malaise resti intoleransi aktivitas .D. POHON MASALAH Makanan tercemar Salmonella typhosa masuk kemulut Ragaden.

40 hari dengan rata-rata 10-14 hari. Kembung 8. Anak Usia Sekolah dan Remaja Gejala awal demam. tetapi dapat berkisar antara 3-30 hari tergantung pada besar inokulum yang tertelan: 1. 4. 2. Konstipasi 11. 2009) Masa inkubasi biasanya 7-14 hari. Batuk 14.E. MANIFESTASI KLINIK Manisfestasi klinis dari demam tifoid adalah: 1. anokreksia. mialgia. Pusing 12. Bradikardi 16. Ruam muncul pada hari ke 7-10 dan bertahan selama 2-3 hari. Mual. 5. tepi dan ujung merah serta tremor) 17. terutama jika terjadi pada minggu kedua atau ketiga. muntah 9. Hepatomegaly 18. kecuali demam tidak tertangani akan menyebabkan shock. Mual dan muntah dapat menjadi tanda komplikasi. (Sudoyo Aru. Meteroismus 20. Gejala pada anak: Inkubasi antara 5. Diare 10. Demam turun pada minggu ke empat. Splenomegaly 19. Gangguan mental berupa somnolen 21. Pada . Lidah yang berselaput (kotor ditengah. malaise. Epistaksis 15. nyeri kepala dan nyeri perut berkembang selama 2-3 hari. Nyeri perut 7. Delirium atau spikosis 22. Demam meninggi sampai akhir minggu pertama 3. Dapat timbul dengan gejala yang tidak tipikal terutama pada bayimuda sebagai penyakit demam akut disertai syok dan hipotermia. Nyeri otot 13. Nyeri kepala 6. stupor dan koma.

F. dan epistaksis. Anak tampak sangat sakit. batuk. Tandatanda fisik berupa bradikardia relatif yang tidak seimbang dengan tingginya demam. dan gejala perut bertambah parah. hepatomegali. terjadi ruam makulaatau makulo popular (bintik merah) yang tampak pada hari ke tujuh sampai ke sepuluh. Demam yang terjadi bisa mencapai 40 derajat celsius dalam satu minggu. Biasanya lesi mempunyai ciri tersendiri. sistem musculoskeletal dan sistem saraf.beberapa anak terjadi kelesuan berat. anoreksia. dan kehilangan berat badan.5 derajat celsius. Hematologi Kadar hemoglobin dapat normal atau menurun bila terjadi penyulit perdarahan usus. sistem kardiovaskuler. Pemeriksaan fisis Pemeriksaan fisis pada penderita demam tipoid dilakukan secara berulang dan regular. Suhu tubuh bervariasi dapat mencapai 40. eritmatosa dengan diameter 1-5 mm. Anak mengalami hepatomegali. dan kembung. ikterus. Begitu juga dilakukan pemeriksaan secara teliti pada kulit. Biakan lesi 60% menghasilkan organisme Salmonella. anoreksia. diare. 2. dasar kuku. Bayi dan balita Pada balita dengan demam tifoid sering dijumpai diare. dada. demam masih tinggi. b. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Perhatian khusus harus diberikan pada pemeriksaan jasmani harian yang kadang-kadang harus dilakukan lebih sering sampai kepastian diagnosis didapat dan respon yang diperkirakan terhadap pengobatan penyakitnya sudah tercapai. Semua tanda-tanda vital merupakan petunjuk yang relevan. Pemeriksaan laboratorium a. 2. Neonatus Demam tifoid dapat meyerang pada neonatus dalam usia tiga hari persalinan. batuk. Pada sekitar 50% penderita demam tifoid dengan demam enterik. Gejalanya berupa muntah. yang dapat menimbulkan diagnosis gastroenteritis akut. mata. splenomegali dan perut kembung dengan nyeri difus. 3. kelenjar limfe. anak merasa kelelahan. Lesi biasanya berkhir dalam waktu 2 atau 3 hari. Kimia darah . Dapat terjadi kejang. abdomen. dan lesu disertai mengigau dan pingsan (stupor). Pada minggu kedua. bingung.

Pemeriksaan kultur darah dan kultur cairan abnormal serta urin diperlukan untuk mengetahui komplikasi yang muncul. Imunorologi Widal : pemeriksaan serologi ini ditujukan untuk mendeteksi adanya antibody di dalam darah terhadap antigen kuman Salmonella typhi. Mobilisasi pasien harus dilakukan secara bertahap. kadar glukosa. Hasil positif dinytakan dengan adanya aglutinasi. serviks dan vagina harus dibuat dalam situasi yang tepat. cairan tubuh lainnya serta jaringan biopsi. Pasien harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih 14 hari. urin. Perawatan Pasien dengan demam tifoid perlu dirawat di rumah sakit untuk isolasi. keadaan umum pasien buruk.Pemeriksaan elektrolit. Urinalis Protein: bervariasi dari negative sampai positif (akibat demam). blood urea nitrogen dan kreatinin harus dilakukan. Hasil negative palsu dapat disebabkan oleh karena antara lain penderita sudah mendapatkan terapi antibiotika. Leukosit dan eritrosit normal : bila meningkat kemungkinan terjadi penyulit e. Specimen yang digunakan dapat berupa darah. f. Pemeriksaan sputum diperlukan untuk pasien yang demam disertai batuk-batuk. d. waktu pengambilan darah kurang dari 1 minggu sakit. sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien. uretra. Mikrobiologi Sediaan apus dan kultur dari tenggorok. observasi dan pengobatan. c. G. dan adanya penyakit imunologik lain. Kelebihan uji ini dapat mendeteksi kuman yang terdapat dalam jumlah sedikit (sensifitas tinggi) serta kekhasan (spesifitas) yang tinggi pula. dilakukan dengan perbanyakan DNA kuman yang kemudian diidentifikasi dengan DNA probe yang spesifik. Radiologi Pembuatan foto toraks biasanya merupakan bagian dari pemeriksaan untuk setiap penyakit demam yang signifikan. Biologi molekuler Dengan PCR (Polymerase Chain Reaction). g. . PENATALAKSANAAN MEDIS Penatalaksanaan pada demam tifoid adalah sebagai berikut: 1. anus.

fotosensitasi dan sindrom Stevens Johnson. 2009. Dapat digunakan untuk melawan infeksi yang disebabkan oleh beberapa bakteri gram posistif dan bakteri gram negatif. posisi tubuhnya harus di ubah – ubah pada waktu tertentu untuk menghindari komplikasi pneumonia hipostatik dan dekubitus.obat antimikroba yang sering dipergunakan ialah: 1) Kloramfenikol Menurut Damin Sumardjo. Defekasi dan buang air kecil perlu di perhatikan 2. Kloramfenikol dapat diberikan secara oral. Dosis pada 3) anak : 20 . (2007.Pasien dengan kesadaran yang menurun. Thiamfenikol (Urfamycin) adalah derivat p-metilsulfonil (SO2CH3) dengan spektrum kerja dan sifat yang mirip kloramfenikol. Kloramfenikol atau kloramisetin adalah antibiotik yang mempunyai spektrum luas. Ko – trimoksazol Adalah suatu kombinasi dari trimetoprim-sulfametoksasol (10 mg TMP dan 50 mg SMX/kg/24 jam). Rektal atau dalam bentuk salep. efek samping lainnya adalah reaksi alergi antara lain urticaria. Trimetoprim memiliki daya kerja antibakteriil yang merupakan sulfonamida dengan menghambat enzim dihidrofolat reduktase. Obat a. hal: 86). 3. karena kadang – kadang terjadi obstipasi dan retensi air kemih. Efek samping penggunaan antibiotik kloramfenikol yang terlalu lama dan dengan dosis yang berlebihan adalah anemia aplastik. 2) Thiamfenikol Menurut Tan Hoan Tjay & Kirana Raharja.30 mg/kg BB/hari. Diet Makanan yang dikonsumsi adalah makanan lunak dan tidak banyak serat. berasal dai jamur Streptomyces venezuelae. Efek samping yang ditimbulkan adalah kerusakan parah pada sel – sel darah antara lain agranulositosis dan anemia hemolitis. tetapi kegiatannya agak lebih ringan.50 mg/kg BB/hari per oral atau 75 mg/kg BB/hari secara intravena dalam empat dosis yang sama. Obat . terutama pada penderita defisiensi glukosa-6-fosfodehidrogenase. sejenis eritema multiform dengan risiko . Dosis pada anak : 25 .

Efek samping. Dosis pada anak yaitu trimetoprim-sulfametoksasol (10 mg TMP dan 50 mg SMX/kg/24 jam. secara oral dalam dua dosis). Terputusnya sulai oksigen ke otak akan berakibat rusaknya sel otak. H. atau mengigau. Bukalah pakaian dan selimut yang berlebihan c. cacat seumur hidup dapat terjadi berupa rusaknya intelektual tertentu. Ampisilin dan Amoksilin Ampisilin : Penbritin. secara oral dalam tiga dosis). atau apakah anak mengalami kejang – kejang. Memperhatikan aliran udara di dalam ruangan . Secara fisik : a. Ampisilin efektif terhadap E. b.Inflienzae. hal:140). Demam yang disertai kejang yang terlalu lama akan berbahaya bagi perkembangan otak. kotrimoksazol tidak boleh diberikan pada bayi di bawah usia 6 bulan. sering terkejut. 2007. Obat – obat simptomatik: 1) Antipiretika (tidak perlu diberikan secara rutin) 2) Kortikosteroid (dengan pengurangan dosis selama 5 hari) 3) Vitamin B komplek dan C sangat di perlukan untuk menjaga kesegaran dan kekutan badan serta berperan dalam kestabilan pembuluh darah kapiler. Perhatikan pula apakah mata anak cenderung melirik keatas. Dosis amoksilin pada anak (100 mg/kg/24 jam. Dosis ampisilin pada anak (200mg/kg/24 jam. Salmonella. Perhatikan apakah anak tidur gelisah. Pengobatan dengan dosis tepat harus dilanjutkan minimal 5-7 hari untuk menghindarkan gagalnya terapi dan cepatnya timbul resistensi. Mengawasi kondisi klien dengan : pengukuran suhu secara berkala setiap 4 – 6 jam. Ultrapen.coli. Dalam kedaan demikian. ampisilin lebih sering menimbulkan gangguan lambung usus yang mungkin ada kaitannya dengan penyerapannya yang kurang baik.ruam) dapat terjadi. Begitu pula reaksi alergi kulit (rash. 4) (Tan Hoan Tjay & Kirana Rahardja. dan beberapa suku Proteus. b. karena oksigen tidak mampu mencapai otak.kematian tinggi terutama pada anak – anak. secara intravena dalam empat sampai enam dosis). Binotal. dibandingkan dengan perivat penisilin lain.

c. b. Tidur yang cukup agar metabolisme berkurang g. air buah atau air teh. ibu klien mengatakan anaknya susah minum b. klien mengatakan anaknya buang air kecil terus Do: a. Kompres dengan air hangat pada dahi. Nafas klien lebih normal { anak-anak (>30x/menit). f. prasekolah (>34x/menit). Tujuannya agar cairan tubuh yang menguap akibat naiknya suhu tubuh memperoleh gantinya. Minuman yang diberikan dapat berupa air putih. bayi (60x/menit)} f. d. c. b. susu (anak diare menyesuaikan). ketiak.50C Kulit terasa hangat Kulit terlihat kemerahan Nadi klien lebih normal {anak. Suhu Tubuh klien lebih dari 36. minum sebanyak – banyaknya. Berikan cairan melalui mulut. d. dibawah 3 tahun (40x/menit). Jalan nafas harus terbuka untuk mencegah terputusnya suplai oksigen ke otak yang akan berakibat rusaknya sel – sel otak.-anak (>120x/menit). bayi (>160x/menit)} e. Kekurangan volume cairan (00027) Ds: a. bibir klien terlihat pecah-pecah mukosa klien kering dan pucat penurunan tugor kulit kulit klien terlihat lembab . H.d. Hipertemia berhubungan (00007) Ds: Ibu klien mengatakan anaknya panas Do: a. ANALISA DATA KEPERAWATAN Diagnosa yang muncul 1. dibawah 3tahun (>150x/menit). Tujuannya untuk menurunkan suhu tubuh di permukaan tubuh anak. prasekolah (>140x/menit). lipat paha. Apakah adanya kejang 2. e.

dan kehilangan panas 2. Adherence behavior 3. Monitor suhu minimal tiap dua jam 2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari tubuh (00002) Ds: a. Klien tampak lemas dan tak memiliki stamina Berat badan klien mengalami penurunan Klien terlihat tidak memilki nafsu makan Membra mukosa klien pucat Adanya sariawan Klien tanpak menghindari makanan I. Tidak ada kejang 9. Tingkatkan intake cairan dan dan kehilangan panas selama 28 hari pertama kehidupan 3. e. Keseimbangan asam basa bayi baru lahir 4. ibu klien mengatakan anaknya susah makan b.e. d. Seimbang antara produksi secara kontinyu 3. nadi dan respiratory rate 4. panas yang diterima. Diskusikan 6. RENCANA KEPERAWATAN No 1. f. b. Hidration 2. peningkatan konsentrasi urin f. klien mengatakan anaknya mengalami muntah Do: a. Keseimbangan regulation antara produksi panas. Monitor tekanan darah. c. Selimuti pasien mencegah untuk hilangnya kehangatan tubuh 8. Monitor tanda-tanda hipertermi dan hipotermi panas. Ajarkan pada orang tua pasien cara mencegah 37. Rencanakan monitoring suhu Kriteria hasil: 1. panas yang diterima. Monitor warna dan suhu kulit 5. Tidak ada perubahan warna keletihan tentang . Risk detection Temperature (pengaturan suhu) 1. klien terlihat lemas 3.5°C akibat panas 5. Temperature stabil : 36. 6.5 – nutrisi 7. Immune status 4. Diagnosa keperawatan Hipertermia b/d NOC: proses infeksi Tujuan Intervensi NIC: 1. Risk control 5.

Pengendalian risiko: proses menular 10. HT normal 2. berat jenis darah urine normal . Kolaborasikan pemberian cairan IV 7. nadi. Dorong keluarga untuk membantu pasien makan 11. Monitor vital sign 5. Pengendalian dan kemungkinan efek negative dari kedinginan 10. tekanan dan berat badan.kulit 7. fluid intake dan output yang akurat dan peningkatan Kriteria hasil: 3.Berikan anti 2. Dorong masukan oral 9. Monitor masukan makanan atau cairan dan hitung intake kalori harian 6. Pengendalian risiko: hipotermia 9. ortostatik) jika diperlukan 4. nadi adekuat. Timbang popok jika perlu 3. elastisitas turgor kulit baik. membran mukosa lembab. Hydration b/d kurangnya 1. Mempertahankan urine (kelembaban membrane output sesuai dengan usia mukosa. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi. Berikan nasogastrik sesuai output 10. Monitor status hidrasi suhu tubuh 1. Tawarkan makanan ringan .Beritahu tentang indikasi terjadinya keletihan dan penanganann emergency yang risiko: paparan sinar matahari diperlukan 11. Pengendalian risiko: pentingnya pengaturan suhu hipertermia 8. Nutritional status: food and 2. tidak ada rasa haus yang berlebihan. Kekurangan piretik yang jika diperlukan NIC NOC volume cairan 1. suhu tubuh dalam batas normal 3. Tekanan darah. Pertahankan catatan intake intake cairan. Ajarkan indikasi dari hipotermia dan penanganan yang diperlukan diperlukan 12. Berikan cairan IV pada suhu ruangan 8. Fluid balance Fluid management 2.

Monitor status cairan termasuk intake dan output 2. Monitor berat badan 7. Nutritional status Weight Management (1260) 2. Jelaskan resiko dari dengan tinggi badan . Weight control pemberian makanan. Kriteria Hasil: penambahan berat badan dan mual. nafsu makan. Dorong pasien atau orang tua pasien untuk menambah intake oral 8. dan 1. cairan Pelihara IV line Monitor tingkat Hb dan Ht Monitor tanda vital Monitor respon pasien terhadap penambahan cairan 6. Adanya peningkatan berat kehilagan berat badan kembung 3. Perubahan nutrisi NOC: NIC kurang 1. Pemberian cairan IV monitor untuk mengindikasi adanya tanda dan gejala kelebihan volume cairan yang diberikan 9. 4. Monitor adanya tanda gagal ginjal 3. Nutritional status: nutrient 2. Berat badan ideal sesuai kondisi berat badan klien 4. Jelaskan kelurga klien tentang badan sesuai dengan tujuan 2. 5. Jelaskan keluarga klien berhubungan intake mengenai pentingnya dengan tidak ada 4.(jus buah. Bina hubungan dengan and fluid intake tubuh keluarga klien 3. Kolaborasi dengan dokter apabila diperlukan transfusi Hypovolemia management 1. buah segar) untuk anak usia bermain sampai remaja/dewasa 12. 3. Nutritional status: Food dari kebutuhan 1.

Menunjukan peningkatan fungsi pengecapan menelan 6. Tidak ada tanda malnutrisi 5. Pantau porsi makan klien 7. Berikan motivasi keluarga klien untuk meningkatkan berat badan klien 6. Tidak terjadi dari penurunan berat badan yang berarti kekurangan berat badan 5.3. Anjurkan klien makan teratur . Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi 4.

Cara Ampuh Cegah Penyakit Infeksi. Jakarta: EGC http://www. et all. Jakarta: EGC Rubenstein. 2006. Kedokteran Klinis.slideshare. 2013. Jakarta: Erlangga Soedarmo. Philadelphia: Elsevier. Inc Tjay. Edisi keempat. Jakarta: EGC Weller. Bencana Alam dan Bencana Anthoropogene. 2006. dkk. Kirana. Flu. 2009. Yogyakarta: Kanisius Damin. Kamus Saku Perawat. Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis. Demam Berdarah. Penggunaan. Ed 6. David. . Jakarta: Pustaka Populer Obor Team Elsevier. Malaria. 2012. 3 maret 2014. Barbara F. 2010. HFMD.DAFTAR PUSTAKA Cahyono. Sumarmo S Poorwo. Tifus. Diare pada Pelancong. Yogyakarta: Kanisius Sidoyo Aru. dan Efek – Efek Sampingnya.B. 2010. dkk. Jakarta: Internal Publishing Tapan. Obat-obat Penting: Kasiat. 2007. 2009. 2009. Suharyo B. 2007. Sumardjo. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 16:05 WIB Diakses pada Muslim.net/septianraha/penatalaksanaan-medik. Tan Hoan dan Raharja. Ferri’s Clinical Advisor 2013: 5 Books in 1. Jakarta: IDAI Sukandarrumidi. J. Vaksinasi. tanggal senin. Patofisiologi untuk Keperawatan. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran dan Program Strata I Fakultas Bioeksata. Jakarta: EGC.. Erik.