You are on page 1of 20

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mayoritas penduduk di Asia tenggara memeluk agama
Islam, contoh negara yang mempunyai populasi terbesar
adalah Indonesia, Malaysia, Brunai, Filipina dan lain-lain. Di
dunia ada beberapa macam agama yang tersebar, misalnya
Islam, Kristen, Budha, Hindu, namun dari berbagai macam
agama tersebut agama Islam adalah agama yang paling
banyak pemeluknya. Islam berkembang pesat bukan melalui
penaklukan militer seperti yang terjadi di Asia selatan,
melainkan melalui perdagangan yang dilakukan oleh para
sufi. Islam tersebar di sebagian besar Asia Tenggara melalui
jalur perdagangan, terbuka dan tidak ada paksaan sehingga
Islam mudah diterima oleh masyarakat.
Pada akhir abad ketujuh belas Islam di Asia tenggara
telah mengalami kebangkitan, hal ini dikarenakan interaksi
antara umat Islam dengan barat, di mana ada perbandingan
yang dirasakan oleh umat Islam, umat Islam merasa jika lebih
buruk dari pada bangsa Arab sehingga umat Islam berfikiran
jika Islam harus lebih maju dari pada bangsa Arab, hal inilah
yang

memotivasi

umat

Islam

di

Asia

tenggara

untuk

mempelajari islam lebih baik lagi. Namun awalnya umat Islam


bangkit

bukan

hanya

karena

bangsa

barat

melainkan

kesadaran para umat Islam Asia tenggara terhadap kemajuan


Islam saat ini. Kebangkitan Islam ini banyak fase yang
dilakukan oleh umat Islam karena banyak hal-hal yang
melatarbelakangi kebangkitan tersebut, dan ada beberapa

faktor yang berkontribusi dalam kebangkitan Islam di Asia


tenggara, baik domestik maupun faktor eksternal.

B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Kebangkitan?
2. Apa Saja Tipe-tipe Kebangkitan dan Sumber Kebangkitan
Islam di Asia Tenggara?
3. Apa Saja Karakteristik dan Fenomena Kebangkitan Islam
di Asia Tenggara?
C. Tujuan
1. Untuk mengerti dan memahami pengertian Kebangkitan.
2. Untuk mengerti dan memahami Tipe-tipe Kebangkitan dan
Sumber Kebangkitan Islam di Asia Tenggara.
3. Untuk mengerti dan memahami Karakteristik
Fenomena Kebangkitan Islam di Asia Tenggara.

dan

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kebangkitan
Kebangkitan Islam adalah sebuah masa dimana umat Islam ingin
menghidupkan kembali martabat, latar belakang budaya serta peradaban yanng
sesuai dengan kriteria Islam, dan menolak setiap penguasa dan pemimpin yang
berusaha merendahkan harkat dan martabat Islam. Atau sebuah tahapan dimana
kaum muslimin memiliki keinginan untuk kembali pada ajaran Islam disetiap
kehidupan sosialnya atau menghilangkan segala bentuk sistem yang diimpor
dari Barat dan Timur, menolak segala bentuk hegemoni politik, ekonomi serta
media informasi dan kembali kepada prinsip dasar Al-Quran yang meneguhkan
bahwa Allah SWT sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang kafir
untuk memusnahkan orang yang beriman.
Kebangkitan Islam adalah kristalisasi kesadaran keimanan dalam
membangun tatanan seluruh aspek kehidupan yang berdasar atau yang sesuai
dengan prinsip Islam. Makna ini mempunyai implikasi kewajiban bagi umat
Islam untuk mewujudkannya melalui gerakan-gerakan, baik di bidang politik,
ekonomi, sosial, dan budaya1.
Kebangkitan Islam merupakan sebuah sejarah yang menumbuhkan
kembali semangat iman, pemikiran, fikih, serta gerakan dan jihad. Kebangkitan
membawa ujian bagi umat Islam sehingga mendorong mereka mencari sebabsebab kejatuhan dan kehinaan yang menimpa pada Islam. Sehingga umat Islam
menemukan kesadaran baru yaitu: menghidupkan iman, mengaktifkan
pemikiran, dan menggairahkan gerakan Islam.
Ash-shahwah atau shaha-yashhu adalah bangun dari tidur. Namun, jika
membicarakan tentang kebangkitan Islam (ash-shahwah al-Islamiyyah) maka
mempunyai arti yang berbeda yaitu umat Islam sedang dalam kondisi terlena
dari agamanya. Maksudnya umat seperti orang yang sedang tidur, yang terlena
1Prof. Drg. Syamsu As., Muhammad., Ulama Pembawa Islam Di Indonesia dan Sekitarnya,
(Jakarta : Lentera, 1999), hal. 13

dari kesadarannya Sehingga dapat disimpulkan kedua pengertian tersebut


memiliki kedekatan makna.
Ada beberapa makna kebangkitan:
1. Menurut kamus Al-muhith yaitu ash-shahwah adalah lenyapnya
mendung, meninggalkan masa kanak-kanak dan kebathilan.
2. Menurut muktar as-shihah, shaha min sukrih shahw adalah dia benarbenar bangkit dari mabuknya dan as-sukran shah adalah oranng yang
mabuk telah sadar atau bangkit.
3. Menurut lisan Al-arab, ash-shahw adalah semakin siang, sembuh dari
kecantikan, tidak terdengar tentangnya kecuali sadar dari ambuk. Dan
lisan al-arab juga mengatakan jika shaha qalbuhu wa shaha as- sukran
min sukrih yashhu shahw wa shuhuw fa huwa shah yang artinya telah
sembuh dari mabuknya sehingga ai menjadi orang yang bangkit.
4. Menurut mujam maqayis al-lughah, ash-shahw yaitu bangkit lawan dari
as-sukr yang artinya mabuk. shaha yashhu as sukran fahuwa shahiyyah
artinya langit telah bangkit maka ia jernih.
5. Menurut Mujam al-Wasih I cetakan II hal 528, shaha an-naim shahw
adalah orang yang tidur itu benar-benar bangun dari tidurnya, shaha assukran wa nahwuh adalah orang yang mabuk dan semisalnya itu telah
sadar, shaha al-qalbu ( hati bangkit ) yaitu bangun dari hawa nafsu atau
keterlenaan.
Ash-shahwah atau kebangkitan adalah kata untuk menyatakan akan
kesadaran pada diri manusia yang di ungkapkan dengan hati atau kesadaran
atau akal2.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan jika ash-shahwah
atau kebangkitan adalah kembalinya kesadaran dan kembalinya kewaspadaan
umat yang sebelumnya telah hilang. Sedangkan menurut istilah kebangkitan

2 Dr. Yusuf al-Qardhawi, Ash-Shahwah al-Islamiyah wa Humum al


Wathan al-Arabi wa al-Islami, (Beirut : Muasasah ar-Risalah, 1988),
hal. 11-12

adalah bangun dari keterpurukan dan keterlenaan serta dari ketiadaan


pemahaman terhadap realita hakiki yang menjadi realita hidup umat.
B. Tipe-tipe dan Sumber Kebangkitan
1. Tipe-tipe Kebangkitan
Kebangkitan Islam di asia tenggara terjadi sekitar abad ke-19 hingga
sekarang, dimana kebangkitan ini merupakan hasil dari interaksi dengan
peradaban yang ada di Barat pada abad ke-18, para umat Islam menyadari
jika ada ketertinggalan peradaban dengan Barat. Interaksi umat Islam
dengan barat ini dimanfaatkan umat islam untuk mempelajari peradaban
yang ada di Barat. Peradaban yang ada di Barat bukanlah hal pokok yang
menjadikan umat Islam bangkit namun ada beberapa gerakan yang
menjadikan umat Islam bermotivasi untuk menjadi lebih maju.
Ada empat tipe gerakan kebangkitan yang dicatat oleh Hans-Dieter
Evers dan Sharon siddiq yaitu :
a. Gerakan

penolakan

atas

rasionalisasi,

yaitu

penolakan

atas

demistifikasi dunia.
b. Gerakan sebagai sebuah usaha untuk mengatasi tekanan-tekanan
modernisasi.
c. Gerakan anti imperialis dan hegemoni.
d. Gerakan pembaruan yang merupakan doktrin agama itu sendiri3.
Kebangkitan Islam yang dilatari oleh faktor pertama hingga ketiga
bisa dikatakan sebagai respon negatif terhadap modernitas Barat.
Kebangkitan Islam dimaknai sebagai resistensi identitas, dimana Barat yang
diasumsikan sebagai pemilik modernitas terlalu mendominasi dan
memonopoli kebenaran. Oleh sebab itu, kebangkitan Islam dalam konteks
semacam ini adalah sikap yang reaktif. Sebab resistensi tersebut dilakukan
dengan menyertakan sentimen identitas, sehingga subjektivitasnya lebih
memainkan peran, ketimbang sebagai sebuah representasi objektif.
3 Prof. Dr. Amir luthfi,elviriadi, Kebangkitan Generasi Baru Asia
Tenggara, (Pekanbaru: Suska Press, 2005), hal. 113

Berbeda dengan ketiga model gerakan yang sudah dijelaskan di awal,


model yang keempat lebih merupakan determinasi doktrinal dan sejarah.
Senada dengan hal ini John L Esposito mencatat, bahwa kebangkitan Islam
di Asia Tenggara dewasa ini bukan sebagai reaksi terhadap modernitas
Barat, melainkan sebagai bagian tak terpisahkan dari proses pembaruan
yang selalu muncul, yang menunjukkan keberlangsungan tradisi Islam
dalam sejarah (1983). Hal itu menjelaskan bahwa kebangkitan Islam adalah
sebuah dorongan dan dinamika internal. Dari kerangka berpikir ini,
kebangkitan Islam di Asia Tenggara dapat dilihat sebagai sebuah wacana
alternatif dunia Islam, ketimbang sebagai ancaman bagi Barat juga bukan
sebagai ancaman bagi umat Islam sendiri, sebab kebangkitan itu berlandas
pada tradisi Islam.
Penjelasan yang senada dengan Esposito disampaikan oleh Azyumardi
Azra, cendekiawan muslim yang banyak diundang ke negara-negara Barat
untuk menjelaskan tentang Islam moderat. Menurut Azyumardi salah satu
sumber optimisme kalangan pengamat luar tentang kebangkitan Islam di
Asia Tenggara pada umumnya didasarkan pada pengamatan mereka tentang
watak atau karakteristik Islam di kawasan ini. Mereka melihat Islam di
Asia Tenggara mempunyai watak atau karakteristik yang khas, yang berbeda
dengan Islam di kawasan lain, khususnya di Timur Tengah. Karakteristik
terpenting Islam di Asia tenggara itu, misalnya, memiliki watak yang lebih
damai, ramah, dan toleran (2000)4.
2. Sumber Kebangkitan
a. Rakyat yang beriman dan bertaqwa
Rakyat yang beriman dan bertaqwa merupakan faktor utama dari
bangkitnya Islam. Seperti firman Allah dalam Al Quran : Barang siapa
yang melahirkan syiar itu dari hati yang bertaqwa. Keinginan akan
Islam datang dari rakyat dengan penuh kesadaran dan penghayatan hasil
4 Ibid

dari dakwah dan tarbiyah yang diperjuangkan dengan lemah lembut,


lunak, berhikmah, serta meyakinkan. Bukan dilobi dengan rasa marah
dan semangat yang tidak menentu.
Kebangkitan rakyat yang menginginkan Islam menyebabkan
seluruh peringkat masyarakat tunduk kepada Islam secara sukarela.
Terbentuklah sistem asuransi, jual beli, perbankan, universitas dan
berbagai institusi pendidikan, ekonomi, budaya, sosial, kesehatan dll
secara islam. Riba, judi, pemameran aurat, pergaulan bebas dan lain-lain
kemungkaran semakin mendapat tantangan dan ditinggalkan.
b. Jamaah Islam yang bercita-cita besar
Di Asia tenggara khususnya Indonesia dan malaysia banyak jamaah
dan kelompok dakwah Islam pimpinan Melayu yang bercita-cita besar,
dan telah memulai kerja-kerja yang bertaraf internasional untuk
merealisasikan cita-cita mereka. Gerakan dakwah yang bersifat universal
dan global mempunyai wawasan yang lebih luas. Tidak seperti partai
politik yang membatasakan perjuangannya hanya untuk menguasai
sebuah negara, kelompok nasionalis yang memperjuangkan kepentingan
suatu bangsa, atau bisnismen yang mencari keuntungan materi. Cita-cita
besar jamaah Islamiah ialah mengislamkan dunia dengan menelusuri
hadist Rasulullah SAW5.
c. Pemimpin Islam yang berwibawa
Pemimpin Islam Melayu yang berwibawa bukan saja diakui dan
disegani di Asia tenggara, namun juga diakui oleh banyak orang di luar
Asia Tenggara. Banyak musuh-musuhnya semakin benci, tetapi
penerimaan dari orang-orang yang cinta kebenaran di seluruh dunia
semakin meningkat. Kewibawaan dan penerimaan ini bukan karena
5

Abdullah, Taufik; Sharron Siddique, Islam and Society in Southeast asia


(Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara), (Jakarta: LP3ES, 1978),
hal. 20

harta, kuasa atau kepentingan duniawi, tetapi karena akhlak, ketabahan,


keberanian, kasih sayang, fikrah dan uslub perjuangannya demikian
menonjol.
Pemimpin islam bukan saja mendapat kepercayaan, keyakinan dan
harapan dari orang Melayu, tetapi juga umat islam di negara-negara
lainnya seperti China, Uzbekistan, Turki, Pakistan, Timur Tengah dan
Eropa. Majelis perbincangan dan mudzakarah dengan para pemimpin dan
tokoh masyarakat setempat telah seringkali dilakukan. Islam akan
bangkit dari tempat kamu.
d. Fikrah (minda) yang global
Fikrah pemimpin Islam Melayu yang mempunyai tafsiran terkini
dalam memahami dan mengamalkan Islam serta menerapkan kaedahkaedah perjuangan sudah diakui dan terbukti keunggulannya. Dahulu
pejuang islam hanya mengambil kaedah Hassan Al banna, Sayyid Qutb,
Maududi dan lain-lain. kini sudah banyak yang mengambil kaedah
perjuangan dan fikrah dari pemimpin Islam Melayu tersebut, baik secara
sadar ataupun tidak disadari. Industri pemikiran Islam pemimpin Islam
Melayu sudah beredar di berbagai belahan dunia, tidak hanya di Asia
Tenggara, tetapi juga mencakup Timur Tengah, Uzbekistan dan Eropa.
Islam yang diperjuangkan oleh bangsa melayu lebih lunak, berhikmah
dan berkesan dari pada yang diperjuangkan oleh pejuang-pejuang Islam
dari Timur Tengah dan belahan bumi lainnya.6
e. Asas peradaban yang kukuh
Jamaah Islamiah pimpinan Melayu juga sudah membangun asas
kemajuan material yang syumul dan mencakup segala spek kehidupan
manusia. Di masa yang akan datang potensi masyarakat untuk hidup
secara Islami sangat cerah. Peradaban yang dibangun di atas
pembangunan insan di tingkat jamaah sudah sangat kukuh dan sistem6 Ibid, hlm. 21-22

sistem hidup Islam yang dibangunkan dalam jamaah tersebut hanya


menunggu waktu saja untuk berkembang ke peringkat daulah (negara).
Bagaikan benih-benih yang subur, suatu model kehidupan yang Islami
dalam segala aspek kehidupan sudah tersedia untuk dicontoh oleh
masyarakat dunia. Sistem kebudayaan, pendidikan, dakwah, ekonomi
Islam dll, yang diperjuangkan oleh jamaah Islam dari melayu (Asia
tenggara) tersebut mendapat tempat di Uzbekistan, negara-negara barat,
Timur Tengah, Turki, Pakistan dll.
Sistem hidup dan uslub membangunkan umat Islam ini sudah
diakui oleh kalangan cendikiawan. Berpuluh-puluh sarjana, magister dan
doktor dari universitas-universitas ternama di Asia tenggara dan Eropa
telah dihasilkan dengan menyiapkan tesis tentang sistem hidup islam dan
uslub perjuangan jamaah ini. Seorang penguji doktor dari Universitas
Oxford, Prof. Kent, ketika menguji sebuah disertasi tentang sistem sosial
ekonomi jamaah tersebut, mengatakan bahwa mereka akan membuat
suatu revolusi sosial tidak lama lagi 7.
f. Pejuang-pejuang Islam yang gigih
Rakyat melayu bukanlah rakyat yang malas seperti yang digembargemborkan oleh barat selama ini. Hal ini sengaja dibuat oleh penjajah
dulu untuk meracun semangat perjuangan dan jihad orang Melayu.
Sejarah telah membuktikan bagaimana rajin dan gagah beraninya
pejuangpejuang melayu dalam menegakkan kebenaran dan mengusir
penjajah. Kalau dulu kegigihan pejuang-pejuang Melayu itu dibentuk
oleh tantangan-tantangan external, sekarang sifat itu disuburkan oleh
faktor internal yaitu pembinaan roh Islamiah.
Ternyata pejuang-pejuang islam Melayu telah dididik dan dilatih
serta dihadapkan dengan berbagai suasana, ujian dan kerja-kerja yang
memerlukan jiwa, ruh dan fisik yang kuat serta gigih. Perjalanan7 Ibid, hlm. 23-24

10

perjalanan dakwah diberbagai negara tersebut telah membuktikan betapa


mubaligh Islam melayu memang kuat dan gigih berhadapan dengan
cuaca, cara hidup, makan minum dan ragam manusia yang berbeda.
Walaupun sekarang ini adalah era perang fikiran bukan perang senjata,
namun sifat kuat dan gigih ini tetap diperlukan untuk menyampaikan
sistem dan cara hidup Islam ke seluruh pelosok dunia.
g. Sumber Alam yang kaya
Negara-negara di Asia Tenggara adalah negara-negara yang kaya
dengan sumber daya alam dan energi, baik yang ada di permukaan bumi
berupa hutan, tanah yang subur, flora dan fauna yang beraneka ragam,
maupun yang berada di dalam bumi yang berupa tambang-tambang
minyak, gas bumi, emas dan berbagai jenis mineral lainnya. Begitu juga
dengan kekayaan lautnya, baik yang berupa potensi perikanan maupun
potensi pertambangan bawah laut. Di natuna misalnya telah ditemukan
cadangan gas bumi terbesar di dunia. Kekayaan alam ini merupakan
modal tambahan untuk memperjuangkan sistem hidup Islam ke seluruh
dunia.
h. Jumlah penduduk yang banyak
Jumlah umat Islam yang ada di Asia tenggara lebih dari 200 juta
orang. Jumlah ini lebih besar dari jumlah gabungan umat islam yang ada
di seluruh negara-negara Arab. Ini merupakan jumlah besar yang mampu
mencipta sejarah, dan sangat dikhawatirkan oleh Barat. Gelombang
kebangkitan Islam alam melayu kalau berhasil digerakkan dengan iman
dan taqwa adalah satu gelombang dahsyat yang Insya Allah tidak akan
mampu dihadapi oleh kekuatan dunia manapun. Baik dari segi pemikiran,
cara hidup maupun kerohanian8.
8 Sejarah Kebangkitan Islam di Asia, http://www.segenggamharapan.com/2012/06/sejarah-kebangkitan-islam-di-asia.html, 18
Oktober 2014, 19:20

11

C. Karakteristik dan Fenomena Kebangkitan Islam


Menurut Azyumardi salah satu sumber optimisme kalangan pengamat luar
tentang Kebangkitan Islam di Asia Tenggara pada umumnya didasarkan pada
pengamatan mereka tentang watak atau karakteristik Islam di kawasan ini.
Mereka melihat Islam di Asia Tenggara mempunyai watak atau karakteristik
yang khas, yang berbeda dengan Islam dikawasan lain, khususnya di Timur
Tengah. Karakteristik terpenting Islam di Asia tenggara itu, misalnya, memiliki
watak yang lebih damai, ramah, dan toleran. Ada beberapa karakteristik Islam
di asia tenggara yaitu:9
1. Damai
Watak Islam seperti itu diakui banyak pengamat, diantaranya Thomas
W Arnold. Dalam bukunya, The Preaching of Islam sebagaimana dikutip
oleh

Azyumardi.

Arnold

menyimpulkan

bahwa

penyebaran

dan

perkembangan historis Islam di Asia Tenggara berlangsung secara damai


(2000). Berbeda halnya dengan penyebaran Islam di sebagian besar wilayah
Timur Tengah, Asia Selatan, dan Afrika yang biasa disebut sebagai fath atau
futuh, yakni pembebasan, yang dalam praktiknya sering melibatkan
kekuatan militer. Meskipun futuh di kawasan-kawasan yang disebutkan tadi
tidak selamanya berupa pemaksaan penduduk setempat untuk memeluk
Islam. Sebaliknya, menurut Azyumardi, penyebaran Islam di Asia Tenggara
tidak pernah disebut sebagai futuh yang disertai kekuatan militer (2000).
2. Toleransi
Sikap toleran telah membuat Islam di Asia Tenggara tidak memusuhi
peradaban Barat. Kolonialisme dan imperialisme Barat terhadap masyarakat
Asia Tenggara tidak membuat umat Islam menutup diri untuk berdialog
dengan peradaban Barat. Imperialisme adalah sisi jahat peradaban Barat
yang tidak bisa ditolerir, sedangkan demokrasi adalah sisi bagus peradaban
Barat yang layak diapresiasi. Islam di Asia Tenggara memang cukup
prospektif dan diperkirakan akan muncul menjadi kawasan alternatif bagi
kebangkitan Islam. Dimana Islam telah diidentikkan dengan radikalisme dan
9Sejarah Kebangkitan Islam di Asia,
https://www.scribd.com/doc/54505932/Kebangkitan-Islam-AsiaTenggara, 18 Oktober 2014. 19:20

12

dianggap tidak cocok dengan demokrasi, Indonesia dan Malaysia telah


mampu menepis stereotip semacam itu. Meskipun penilaian Esposito ini
diungkapkan sebelum munculnya dugaan kuat adanya jaringan Jamaah
Islamiyah (JI) di Indonesia, dan terlepas dari kontrovesi ada tidaknya
Jamaah

Islamiyah,

namun

penilaian

Esposito

ini

mencerminkan

keterpesonaan pengamat Barat terhadap kemampuan umat Islam di Asia


Tenggara dalam mendialogkan doktrin Islam dengan masalah modernitas.10
Pada dasarnya kebangkitan Islam di abad ke-19 hingga 21 adalah
sebuah fenomena global. Seiring dengan adanya interaksi dengan peradaban
Barat di abad ke-18, umat Islam menyadari keterbelakangan peradabannya.
Interaksi tersebut berlanjut menjadi media refleksi dandigunakan sebagai
kesempatan untuk mempelajari peradaban Barat. Kehendak baik itu
tecermindari kemauan mendialogkan doktrin agama dengan modernitas
Barat. Dialog tidak mengandung arti bahwa umat Islam tengah
memaksakan doktrin agamanya untuk menerima modernitas,melainkan
membaca ulang doktrin agama dengan pisau analisa modernitaas. Dengan
begitu

penerimaan

terhadap

demokrasi

atau

modernisasi

politik

umpamanya, bukanlah pemerkosaan semiotik terhadap kitab suci, yang


mementingkan kepentingan pribadi dankelompok yang bersifat pragmatis.
Modernitas diterima sebagai milik sendiri lantaran dalamdoktrin Islam
banyak ayat-ayat al-Quran yang sejalan dan selaras dengan nilai-nilai
modern. Dapat disimpulkan bahwa kebangkitan Islam terkait dengan proses
take and give dengan peradaban Barat.
Sebagaian kalangan membagi karakteristik Kebangkitan Islam di Asia
Tenggara kedalam tiga model, yaitu:
1. Modernisme, kemudian berubah menjadi Neo-Modernisme dengan
tokoh-tokohnya, Jamaluddin al-Afhani, Muhammad Abduh, Rasyid
Ridha dan tokoh-tokoh neo-modernisme, seperti Fazlur Rahman.

10

Muzani, Saiful, Pembangunan dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara,


(Jakarta: Pustaka LP3ES, 1993), hal. 21-22

13

Modernisme lahir karena adanya pertemuan antara nilai-nilai Islam


dan peradaban Barat; pemanfaatan akal dan paham liberalisme pemikiran
yang terus dikembangkan; penelusuran kembali ilmu-ilmu filsafat baik
yang bersumber dari Yunani maupun Islam termasuk berkembangnya
paham muktazilah; pentingnya mengembangkan ijtihad dan menggali
ilmu pengetahuan dan teknologi dari Barat11.
2. Revivalisme, kemudian berubah menjadi Neo-Revivalisme dengan
tokoh-tokohnya: Muhammad bin Abdul Wahab, di Indonesia dilanjutkan
oleh 3 haji di Minangkabau, yaitu ; H. Sumanik, H. Piobang dan Tuanku
Nan Renceh. Generasi baru atau neo-revivalisme dilanjutkan oleh
kelompok salafi.
Revivalisme ini terlahir karena pentingnya mengembangkan ijtihad
agar keluar dari taklid terutama bertumpu pada fiqih; anti pada
perkembangan intelektualisme yang berakar dari Barat dan kalam atau
theologi (ibnu Sina); kembali kepada al-Quran dan Hadis dan kembali
kepada

pemahaman

Islam

zaman

Rasul

dan

Khulafaurrasidin;

mengapresiasi berkembangnya taswuf Suni (Amali) tetapi melarang


berkembangnya tasawuf falsafi atau Syii (Ibnu Arabi).
Lalu kelompok Neo-Modernisme yang dimotori oleh Fazlur
Rahman,

menentang

paham

kelompok

neo-revivalisme

dengan

mengusung model baru, yaitu meneruskan semangat modernisme dengan


gaya baru. Rahman berpendapat bahwa persoalan kontemporer yang
dihadapi umat harus dicari penjelasannya dari tradisi, dari hasil ijtihad
para ulama sebelumnya hingga sunnah, yang merupakan hasil penafsiran
al-Quran. Bila dalam tradisi tidak ditemukan jawabannya sesuai dengan
tuntutan masyarakat kontemporer, maka langkah selanjutnya adalah
menelaah konteks sosio-historis dari ayat al-Quran yang dijadikan
sasaran ijtihad.

11 Ibid, hal 22

14

3. Tradisionalisme, kemudian tahap berikutnya berubah menjadi NeoTradisionalisme dengan tokoh-tokohnya, seperti Sayyid Muhammad
Naquib al-Attas.
Tradisional lahir karena punya pandangan bahwa manusia sekarang
berada diambang kehancuran karena sudah jadi objek materi, karena itu
perlu menanamkan diri dalam spirit pengalaman transendental dalam
praktik

keagamaan

seperti

tasawuf

(estetik)

bahkan

tarekat;

mengapresiasi berkembangnya tasawuf Amali (sunni) dan tasawuf Falsafi


(syii) dan juga tarekat; mentoleransi kesesuaian antara adat istiadat yang
berkembang di masyarakat dengan nilai-nilai Islam yang bersumber dari
Quran; pentingnya mengembangkan ijtihad12.
Selain gagasan tentang karakteristik di atas terdapat fenomena tentang
kebangkitan Islam di Asia Tenggara. Fenomena ini merupakan keadaan
yang sebenarnya dari suatu urusan atau perkara, keadaan atau kondisi
khusus yang berhubungan dengan seseorang atau suatu hal, soal atau
perkara. Untuk fenomena kebangkitan Islam di Asia Tenggara di
antaranya adalah Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei
Darussalam, Thailand. Secara singkat fenomena itu akan disajikan
sebagai berikut:
a. Indonesia
Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk Muslim
terbesar di dunia. Meskipun sebagian besar penduduk Indonesia
adalah Muslim, Indonesia menyatakan dirinya sebagai negara secular
yang berdasarkan Pancasila sebagai ideology nasional. Secara umum
di Jawa kaum Muslim dapat diklasifikasi ke dalam kaum Muslim
nominal dan santri, yaitu mereka yang taat pada ajaran Islam.
misalnya kaum santri bisa dibagi lagi dengan ke dalam pembaharu,
tradisionalis, mistis, dan lainnya. Komunitas muslim juga bisa dibagi
berdasarkan perbadaan latar belakang, misalnya pendidikan, di mana
ada yang mendapat pendidikan sekuler dan yang mendapat pendidikan
12 Ibid, hlm. 23

15

agama, dan lain sebagainya. Semakin secular pendidikan seorang


Muslim, semakin cenderung ia berorientasi keluar dan hidup dengan
gaya Barat. Sering kali mereka juga mempunyai latar belakang kota
dan kosmopolit. Kaum Muslim juga bisa dibagi ke dalam kelompok
elit dan kelompok massa. Mayoritas kaum Muslim, bagaimanapun
juga, cenderung berasal dari daerah pedesaan dan berlatar belakang
petani. Kaum Muslim yang bekerja di perkotaan biasanya terdiri dari
kaum pedagang maupun buruh. Kebangkitan Islam di Indonesia lebih
menaruh perhatian pada masalah kemiskinan, kesenjangan pendapatan
dan eksploitasi ekonomi13.
b. Malaysia
Penduduk Muslim di Malaysia tidak lebih dari 55% dari seluruh
jumlah penduduk. Meskipun tidak semua orang Muslim adalah
Melayu, secara konstitusional, orang Melayu mesti Muslim.
Fenomena kebangkitan Islam di Malaysia terutama pada tahun 1980an, telah merusak. Kini di mana-mana terdapat tanda-tanda
konformitas yang cukup besar terhadap tata cara hidup Islam di
Malaysia. Juga ada kegairahan yang meningkat akan kajian-kajian
Islam di kalangan kaum Muslim. Lembaga-lembaga baru di bidang
perbankan, pendidikan, kesehatan, industri, dan perdagangan yang
merefleksikan visi Islam telah dibangun, bahkan dengan bantuan dari
pemerintah. Perkumpulan dan badan-badan Islam baru yang
mempunyai komitmen untuk mewujudkan cita-cita Islam menjamur di
mana-mana. Aktivitas tabligh dan dakwah dilakukan oleh berbagai
macam kelompok dengan penuh semangat. Yang menarik, lepas dari
perkembangan-perkembangan ini, kaum Muslim Malaysia, dengan
sengaja ataupun tidak tetap memiliki hubungan baik dengan sesama
warga Malaysia yang non-Muslim. Kebangkitan Islam di Malaysia
yang tampaknya lebih terlibat dalam permasalahan identitas dan
13 Prof. Drg. Syamsu As., Muhammad., op. cit., hal. 15

16

simbol-simbol serta ritus-ritus yang membantu mendefinisikan


kebangkitan tersebut14.
c. Singapura
Singapura adalah Negara-kota dengan jumlah penduduk 2,5 juta
jiwa yang multirasial, multilingual dan multi agama. Seluruh
penduduk muslim di Singapura berjumlah 320.000 jiwa. Penduduk
Singapura bersifat heterogen, mayoritas dari mereka adalah orang
Melayu. Masyarakat melayu muslim kebanyakan hidup dengan
standar ekonomi yang lebih rendah di banding dengan saudara mereka
yang non-Melayu, apalagi jika di banding dengan penduduk
Singapura lainnya. Di bawah sistem pendidikan yang maju, kaum
melayu muslim tetap saja tertinggal di bidang pendidikan. Tahun 1980
hanya terdapat 679 orang Melayu yang tamat Universitas.15
d. Filipina
Filipina adalah Negara kepulauan dengan 7.107 buah pulau.
Penduduknya berjumlah 47 juta jiwa. Islam telah mempunya sejarah
panjang di Filipina, sejak zaman pra-kolonial, dan masyarakat muslim
di bagian selatan tercatat sebagai masyarakat yang mampu
mempertahankan diri dari generasi Spanyol selama tiga ratus tahun.
Sejak permulaan abad ke-20 sajalah wilayah kaum muslim di Selatan
mulai disatukan secara administratif dan sistematis ke dalam
masyarakat politik yang lebih luas. Orang-orang Islam di Filipina
menamakan diri mereka Moro. Namun nama ini sebetulnya lebih
bersifat politis, karena dalam kenyataannya Moro terdiri dari banyak
kelompok etnolinguistik. Mayoritas orang-orang Moro adalah nelayan
14 Saifullah, SA, MA, Sejarah dan Kebudayaan Islam di AsiaTenggara,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hal. 31-32

15 Ibid, hlm.33

17

dan petani, namun ada juga orang islam yang bekerja di sektor
pemerintahan

sebagai

guru,

administrator,

personil

angkatan

bersenjata, dll. Kebangkitan Islam di Filipina bagian selatan


cenderung lebih radikal16.
e. Brunei Darussalam
Situasi politik di Negara Brunei Darussalam tampaknya sangat
tenang. Hal ini mungkin karena ukuran Negara ini yang kecil. Brunei
memiliki penduduk hanya 200.000 jiwa dengan kaum Muslim sebagai
mayoritas. Hampir seluruh penduduk Brunei adalah Melayu,
meskipun ada sejumlah kecil kaum Cina pendatang. Sebagai agama
resmi, Islam mendapat lindungan dari Negara. Dominasi keluarga
kerajaan di bidang pemerintahan dan tidak adanya demokrasi politik
memungkinkan pemerintah memberlakukan kebijaksanaan di bidang
agama dan kebijaksanaan umum lainnya tanpa banyak kesulitan. Dan
juga karena Brunei sangat berhati-hati terhadap pengaruh luar.
Tampaknya masyarakat feudal tradisional ini tetap bertahan17.
f. Thailand
Dari jumlah pemeluknya, Islam adalah agama kedua yang cukup
penting di Thailand. Menurut gambaran resmi, masyarakat Muslim
merupakan 4% dari seluruh penduduk Thailand. Ada juga yang
menunjukkan persentase yang lebih besar. Yang perlu dicatat adalah
bahwa kaum Muslim merupakan kelompok minoritas dalam kerajaan.
Meskipun jumlah kaum Muslim yang sangat besar terkonsentrasi di
empat propinsi bagian selatan, yaitu Santun, Narathiwat, Pattani, dan
Yala, di mana mereka merupakan kelompok mayoritas. Mereka juga
16 Taufik Abdullah, (ed), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam , Dinamika Masa Kini,
( Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2003), hal. 27
17 Ibid, hal. 28

18

tersebar di seluruh kerajaan di sekitar tiga puluh propinsi lainnya. Di


Thailand terdapat 2.000 masjid Agung terdaftar dan jumlah masjid di
ibukota Bangkok adalah dua kali lipat dari jumlah seluruh masjid di
Singapura. Masyarakat Muslim bukanlah masyarakat yang homogen.
Istilah Thai-Issalam atau Thai-Muslim digunakan secara resmi untuk
menyebut mereka. Pada beberapa kalangan, kaum Muslim disebut
khaeg, yaitu sebuah julukan yang kedengarannya agak menggelikan
dan berbau penghinaan. Masyarakat Muslim di Thailand sebagian
besar berlatar belakang pedesaan. Kebanyakan dari mereka bekerja
sebagai petani. Di daerah selatan, mereka kebanyakan bekerja sebagai
nelayan. Di Bangkok dan pusat perkotaan lainnya, sebagian besar
Muslim bekerja sebagi pedagang, buruh, tukang, dan pegawai negeri.
Terdapat pula sekelompok kecil kaum Muslim profesional yang
bekerja di bidang industri, perdagangan, perbankan, kesehatan dan
hukum. Ada pula yang bekerja sebagai anggota pasukan kepolisian
ataupun sebagai anggota militer. Secara keseluruhan, profil ekonomi
kaum Muslim tidak jauh berbeda dengan orang Thai lainnya yang
beragama Budha.18

18 Ibid, hlm. 36

19

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kebangkitan Islam merupakan sebuah sejarah yang menumbuhkan
kembali semangat Iman, pemikiran, fikih, serta gerakan dan jihad.
Kebangkitan islam di Asia tenggara terjadi sekitar abad ke-19 hingga 21 di
mana ini bukan hasil militer maupun kekerasan tetapi islam disebarkan secara
damai, terbuka dan tidak ada paksaan. Latar belakang kebangkitan : Paham
tauhid yang dianut kaum muslimin, Sifat Jumud, umat islam selalu berpecah
belah, Hasil kontak antara dunia islam dan barat.
Sedangkan modal utamanya adalah Rakyat yang beriman dan bertaqwa,
Jamaah Islam yang bercita-cita besar, Pemimpin Islam yang berwibawa,
Fikrah (minda) yang global, Asas peradaban yang kukuh, Pejuang-pejuang
Islam yang gigih, Sumber Alam yang kaya, Jumlah penduduk yang banyak.
B. Saran
Dengan selesainya makalah tentang Kebangkitan Islam di Asia
Tenggara ini dapat memenuhi kebutuhan materi bacaan dan pengetahuan,
terutama bagi para mahasiswa Pendidikan Matematika. Kami menyadari
penulisan, pemaparan materi pengkajiannya masih banyak kekurangan dan
kelemahan. Oleh karena itu, apapun kritikan dan saran yang sifatnya
membangun untuk lebih baik lagi sangat diharapkan, terutama untuk dosen
pengampu Yundri Akhyar, MA agar menuntun kami membuat makalah yang
lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

20

Abdullah Taufik, (ed). 2003. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam , Dinamika Masa
Kini. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve
Abdullah, Taufik; Sharron Siddique. 1978. Islam and Society in
Southeast asia (Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia
Tenggara). Jakarta: LP3ES
Dr. Al-Qardhawi Yusu. 1988. Ash-Shahwah al-Islamiyah wa Humum al Wathan
al-Arabi wa al-Islami. Beirut : Muasasah ar-Risalah
Muzani, Saiful. 1993. Pembangunan dan Kebangkitan Islam di
Asia Tenggara. Jakarta: Pustaka LP3ES
Prof. Dr. Elviriadi Amir luthfi. Kebangkitan Generasi Baru Asia Tenggara. 2005.
Pekanbaru: Suska Press
Saifullah, SA, MA. 2011. Sejarah dan Kebudayaan Islam di Asia
Tenggara. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Sejarah

Kebangkitan

Islam

di

Asia.

http://www.segenggam-

harapan.com/2012/06/sejarah-kebangkitan-islam-di-asia.html. 18 Oktober
2014. 19:20
Syamsu As, prof. Drg. Muhammad. 1999. Ulama Pembawa Islam Di Indonesia
dan Sekitarnya. Jakarta : Lentera