You are on page 1of 8

LAPORAN PRAKTIKUM PROPERTI MATERIAL

ANALISA SPECIFIC GRAVITY DAN ABSOBSI DARI AGREGAT HALUS

Kelompok 15
Ahmad Syihan

(1006659621)

Nani Dwi Larasati

(1006680890)

Riris Kusumaningsih

(1006660964)

Rizaldy Patra
Saiful Amin

(1006773944)

Vitriana

(1006760531)

Tanggal Praktikum : 5 November 2011


Asisten Praktikum : Jauzy Anbiya
Tanggal Disetujui

Nilai

Paraf Asisten

LABORATORIUM STRUKTUR DAN MATERIAL


DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK 2011

Teknik Sipil Universitas Indonesia


ANALISA SPECIFIC GRAVITY DAN ABSOBSI DARI AGREGAT HALUS
A. TUJUAN PERCOBAAN
Menentukan bulk dan apparent specific gravity dan absorbsi dari agregat halus
menurut ASTM C 128, guna menentukan volume agregat dalam beton.
B. PERALATAN
1. Neraca Timbangan dengan kepekaan 0,1 gram dan kapasitas maksimum 1 kg
2. Piknometer kapasitas 500 gram
3. Cetakan Kerucut Pasir
4. Tongkat Pemadat [Tamper] dari logam untuk cetakan kerucut pasir
5. Oven, dengan ukuran yang mencukupi dan dapat mempertahankan suhu [110 5]
o

C. BAHAN
500 gram agregat halus, diperoleh dari alat pemisah contoh atau cara perempat
D. PROSEDUR
1. Agregat halus dibuat jenuh air dengan cara merendam selama 1 hari, kemudian
dikeringkan [kering udara] sampai didapat keadaan kering merata. Agregat halus
disebut kering merata jika telah dapat tercurah [Free Flowing Condition].
2. Pengujiannya dilakukan dengan memasukkan sebagian benda uji pada metal sand
cone mold. Kemudian benda uji dipadatkan dengan tongkat pemadat sampai 25
kali tumbukan. Kondisi SSD [Saturated Surface Dry] diperoleh jika ketika
cetakan diangkat, agregat halus runtuh atau longsor.
3. 500 gram agregat halus dalam kondisi SSD dimasukkan ke dalam piknometer,
kemudian ditambahkan air sampai 90% kapasitas piknometer.
4. Gelembung-gelembung udara dihilangkan dengan cara menggoyang-goyangkan
piknometer.
5. Rendam dalam air dengan temperatur air [73,4 3]o F selama paling sedikit 1
hari. Kemudian tentukan berat piknometer, benda uji dan air.
6. Pisahkan benda uji dari piknometer dan dikeringkan pada temperatur [212 230]o
F selama 1 hari.
7. Tentukan berat piknometer berisi air sesuai kapasitas kalibrasi pada temperatur
[73,4 3]o F dengan ketelitian 0,1 gram.
E. Pengolahan Data Percobaan
1. Data Pengamatan
Berat dari benda uji oven dry = 489 gram
Berat dari piknometer berisi air = 668 gram
Berat dari piknometer dengan benda uji dan air sesuai kapasitas kalibrasi = 933
gram
2. Perhitungan

Teknik Sipil Universitas Indonesia


Berat jenis curah [Bulk Specifik Gravity]

=
=

Berat jenis jenuh kering permukaan [SSD]

=
=

Berat jenis semu [Apparent Specific Gravity]

= 2,13

=
=

Penyerapan [Absorbsi]

= 2,08

=
=

= 2,18
X 100 %
X 100% = 2,25 %

Keterangan :
A = Berat (gram) dari benda uji oven dry
B = Berat (gram) dari piknometer berisi air
C = Berat (gram) dari piknometer dengan benda uji dan air sesuai kapasitas kalibrasi
F. Analisa
1. Analisa Percobaan
Percobaan analisa specific gravity dan absorbsi dari agregat halus bertujuan untuk
menentukan bulk dan apparent specific gravity dan absorbsi dari agregat halus
menurut ASTM C 128, guna menentukan volume agregat dalam beton. Pada
praktikum kali ini peralatan yang digunakan adalah neraca timbangan dengan
kepekaan 0,1 gram dan kapasitas maksimum 1 kg, piknometer dengan kapasitas
500 gram, cetakan kerucut pasir, tongkat pemadat, dan oven. Sedangkan bahan
yang digunakan adalah 500 gram agregat halus.
Sebelum kami memulai percobaan praktikum, hari Sabtu, sehari sebelumnya yaitu
hari Jumat pukul 16.00 WIB, kami melakukan persiapan. Persiapan yang kami
lakukan adalah mengambil agregat halus yang telah lolos pada saringan no 4
sebanyak 1000 gram. Hal tersebut dilakukan karena pada praktikum akan
digunakan sebanyak 500 gram, dan selain itu karena keadaan pasir yang pada saat
itu agak sedikit basah maka berat yang ditimbang merupakan berat pasir dan air.

Teknik Sipil Universitas Indonesia


Kemudian agregat halus dibuat kering merata dengan cara dikeringkan pada suhu
ruangan selama 1 hari hingga terbentuk SSD.
Langkah pertama yang kami lakukan adalah menguji kondisi SSD agregat halus.
Pengujian ini dilakukan dengan cara memasukkan agregat halus ke dalam cetakan
kerucut pasir kemudian ditumbukkan sebanyak 25 kali, setelah itu cetakan pasir
diangkat. Apabila agregat halus runtuh atau longsor, maka telah terbentuk keadaan
SSD. Selanjutnya kami menimbang agregat halus sebanyak 500 gram lalu
memasukkannya ke dalam piknometer dengan menggunakan corong sehingga
tidak ada agregat yang tumpah. Setelah itu kami menambahkan air hingga air
membasahi seluruh pasir (dari lapisan atas sampai lapisan bawah) di dalam
piknometer. Jumlah air yang kami masukkan sebanyak 90% dari kapasitas
piknometer. Kemudian kami menggoyang-goyangkan piknometer selain untuk
menghilangkan gelembung-gelembung udara, selain itu juga agar air meresap ke
dalam seluruh lapisan pasir. Setelah itu agregat halus direndam di dalam
piknometer selama 1 hari dengan temperatur 73,4 3F. Setelah satu hari
direndam, maka agregat telah terkalibrasi dengan baik, selanjutnya kami
mengurangi air dalam piknometer hingga batas yang telah ditentukan. Setelah itu,
piknometer beserta air dan agregat halus ditimbang dan dicatat beratnya. Setelah
melakukan penimbangan, pasir dikeluarkan dari piknometer dan dipindahkan ke
dalam baskom yang telah diketahui massanya. Selanjutnya baskom beserta
agregat halus dimasukkan ke dalam oven selama 1 hari dengan temperature 212230F. Sehari kemudian agregat halus telah berkondisi oven dry, dimana agregat
halus tidak memiliki kandungan air lagi. Selanjutnya dilakukan penimbangan
kembali dan mencatat hasil penimbangannya.
Kondisi SSD sangat diperlukan dalam pembuatan suatu bahan. Kondisi SSD
adalah kondisi dimana ketika suatu agregat memiliki permukaan yang kering
namun masih memiliki kandungan air didalamnya atau bersifat jenuh. Apabila
suatu agregat tidak berada dalam keadaan SSD, maka akan mempengaruhi
kekuatan bahan yang diinginkan seperti, dalam pembutan beton, apabila agregat
memiliki permukaan yang basah, maka agregat akan memberikan kandungan air
di permukaannya kepada pasta, sehingga pasta akan mencair. Sedangkan apabila
keadaan dalam agregat belum jenuh, maka agregat akan menyerap air dari pasta
tersebut, sehingga pasta mengental. Keadaan oven dry adalah keadaan dimana
agregat tidak memiliki kandungan air sama sekali.

Teknik Sipil Universitas Indonesia


Specific gravity adalah perbandingan massa jenis di udara dengan massa jenis di
air pada suhu tertentu. Apparent specific gravity adalah perbandingan massa jenis
rapat (tanpa massa udara) di udara dengan massa jenis rapat di air. Bulk specific
gravity adalah perbandingan massa jenis di udara dengan massa jenis di air.
Sedangkan absorbsi adalah persentase air yang diserap oleh suatu agregat dalam
jumlah tertentu.
2. Analisa Hasil
Dari data pengamatan yang didapat, kami dapat menentukan berat jenis curah
(bulk specific gravity), berat jenis jenuh kering permukaan (SSD), berat jenis
semu (apparent specific gravity), dan penyerapan air (absorbsi). Hasil tersebut
yaitu :
Berat jenis curah [Bulk Specifik Gravity]
= 2,08
Berat jenis jenuh kering permukaan [SSD]
= 2,13
Berat jenis semu [Apparent Specific Gravity] = 2,18
Penyerapan [Absorbsi]
= 2,25 %
Setiap agregat berasal dari keadaan berbeda-beda, maka dari itu berat jenisnya tak
sama.
3. Analisa Kesalahan
1) Kesalahan Alat
Pada praktikum kali ini tidak ada kesalahan alat kerena alat yang digunakan
telah terkalibrasi dengan baik.
2) Kesalahan Paralaks
Kesalahan paralaks pada praktikum kali ini terjadi pada saat praktikan
melakukan pengujian kondisi SSD agregat halus. Yaitu pada saat praktikan
mengangkat cetakan kerucut pasir, pasir yang berada dalam cetakan tidak
runtuh/longsor. Diperkirakan bahwa pasir yang digunakan praktikan belum
dalam keadaan SSD, maka dari itu akhirnya praktikan mencoba melakukan
pengujian dengan pasir dari kelompok lain. Selain itu pada saat melakukan
pembacaan pengukuran. Yaitu ketika untuk mendapatkan banyaknya agregat
sebanyak 500 gram, praktikan tidak tepat mebaca tegak lurus dengan jarum
yang ditunjukkan, sehingga berat agregat melebihi dari yang telah ditentukan
yaitu lebih dari 500 gram.
3) Kesalahan Praktikan
Praktikan kurang berhati-hati saat memasukkan air ke dalam piknometer
sehingga air menjadi tumpah, tetapi cuma sedikit.

Teknik Sipil Universitas Indonesia

Praktikan tidak benar-benar bersih mengeluarkan pasir dari piknometer,


sehingga terdapat agregat yang masih menempel di dalam piknometer.

G. Kesimpulan
Dari percobaan kali ini dapat disimpulkan bahwa agregat halus memiliki
Berat jenis curah [Bulk Specifik Gravity]
= 2,08
Berat jenis jenuh kering permukaan [SSD]
= 2,13
Berat jenis semu [Apparent Specific Gravity] = 2,18
Penyerapan [Absorbsi]
= 2,25 %
H. Referensi
American Society for Testing and Materials. Standards Test Method for Density,
Relative Density (Specific Gravity), and Absorption of Fine Aggregate, No.
ASTM C 128-04a. annual Book of ASTM Standards, Vol 04.02.
Badan Standarisasi Nasional. Metode pengujian berat jenis dan penyerapan air
agregat halus, SNI 03-1970-1990.

Teknik Sipil Universitas Indonesia

I. Lampiran

Memasukkan agregat ke dalam cetakan


kerucut lalu ditumbuk

Agregat runtuh menandakan agregat dalam


kondisi SSD

Menimbang agregat

Menghilangkan gelembung-gelembung
udara dengan cara menggoyang-goyangkan
piknometer

Teknik Sipil Universitas Indonesia

Agregat beserta air didalam piknometer


direndam selama 1 hari

Keadaan pasir dan air saat telah


terkalibrasi

Memindahkan agregat ke baskom untuk


dimasukkan ke dalam oven