You are on page 1of 7

8.

Pathways

Malformasi Kongenital

Gangguan citra
tubuh

Hipospadia

Grandular

Distal Penile

Penile

Penoskrotal

Skrotal

Perineal

Prosedur operasi

Pembedahan Eksisi chordee


Urethroplasty

Efek Anastesi

Proses
Pembedahan
Kecemasan

Nyeri

Hipersalivasi
Penumpukkan Sekret

Kurang Pengetahuan

Pemasangan Kateter

Obstruksi Jalan Napas

Inefektif Bersihan
Jalan Napas

Pintu masuk
bakteri

Resiko Tinggi
Infeksi

Gangguan
Aktivitas

ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Identitas
Meliputi:
a. Nama : tergantung pada pasien,
b. Umur : biasanya terjadi pada bayi baru lahir,
c. Jenis kelamin : pada umumnya terjadi pada laki-laki,
d. Pendidikan: orang tua yang biasanya rendah,
e. Pekerjaan: pada orang tua yang tergolong berpenghasilan rendah,
f. Diagnosa medis: Hipospadia.
2. Keluhan Utama
Pada umumnya orang tua pasien mengeluh dan ketakutan dengan kondisi anaknya.
Lubang penis tidak pada tempatnya, tidak terdapat di ujung penis, tetapi berada di bawah
atau di dasar penis, penis melengkung kebawah, penis tampak seperti berkerudung
karena adanya kelainan pada kulit dengan penis, jika berkemih anak harus duduk.
3. Riwayat Kesehatan.
a. Riwayat Penyakit Sekarang.
Pada umumnya pasien dengan hipospadia ditemukan adanya lubang kencing yang
tidak pada tempatnya sejak lahir dan tidak diketahui dengan pasti penyebabnya.
b. Riwayat Penyakit Dahulu.
Adanya riwayat ibu pada saat kehamilan, misalnya adanya gangguan atau
ketidakseimbangan hormone dan factor lingkungan. Pada saat kehamilan ibu sering
terpapar dengan zat atau polutan yang bersifat tertogenik yang menyebabkan
terjadinya mutasi gen yang dapat menyebabkan pembentukan penis yang tidak
sempurna. Hipospadia terjadi karena adanya hambatan penutupan uretra penis pada
kehamilan minggu ke-10 sampai minggu ke-14.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga.
Adanya riwayat keturunan atau genetik dari orang tua atau saudara-saudara kandung
dari pasien yang pernah mengalami hipospadia.
4. Pola-pola fungsi kesehatan
a.
Pola nyeri/kenyamanan
Pada umumnya pasien tidak mengalami gangguan kenyamanan dan tidak mengalami
nyeri.
b. Pola nutrisi dan metabolisme
Pada umumnya pasien hipospadia nutrisi cairan dan elektrolit dalam tubuhnya tidak
mengalami gangguan.
Pola aktivitas
Aktifitas pasien hipospadia tidak ada masalah.
d.
Pola eliminasi
Pada saat BAK ibu mengatakan anak harus jongkok karena pancaran kencing pada
c.

saat BAK tidak lurus dan biasanya kearah bawah, menyebar dan mengalir melalui
batang penis.

e.

f.

Pola tidur dan istirahat


Pada umumnya pasien dengan hipospadia tidak mengalami gangguan atau tiaak ada
masalah dalam istirahat dan tidurnya.
Pola sensori dan kognitif
Secara fisik daya penciuman, perasa, peraba dan daya penglihatan pada pasien
hipospadia adalan normal, secara mental kemungkinan tidak ditemukan adanya

gangguan.
g.
Pola persepsi diri
Adanya rasa malu pada orang tua kalau anaknya mempunyai kelainan. Pada pasien
sendiri apabila sudah dewasa juga akan merasa malu dan kurang percaya diri atas
kondisi kelainan yang dialaminya. Pasien sendiri juga akan merasa malu terutama
h.

pada teman sebayanya karena perbedaan posisi kencing yang berbeda dari yang lain.
Pola hubungan dan peran
Adanya kondisi kesehatan mempengaruhi terhadap hubungan interpersonal dan

i.

peraen serta megnalami tmbahan dalam menjalankan perannya selama sakit.


Pola seksual
Adanya kelainan pada alat kelamin terutama pada penis pasien akan membuat pasien
mengalami gangguan pada saat berhubungan seksual karena penis yang tidak bisa

j.

ereksi.
Pola penanggulangan stress
Biasanya orang tua pasien akan mengalami stress pada kondisi anaknya yang

k.

mengalami kelainan.
Pola higiene
Pada umumnya pola hygiene pasien tidak ada masalah.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan malformasi kongenital.
2. Kecemasan berhubungan dengan prosedur pembedahan
3. Nyeri berhubungan dengan luka insisi pembedahan.
4. Kurangnya pengetahuan orang tua berhubungan dengan diagnosa, prosedur
5.

pembedahan dan perawatan setelah operasi.


Risiko infeksi berhubungan dengan pemasangan kateter.

C. RENCANA TINDAKAN
Diagnosa Keperawatan/
Masalah Kolaborasi
Gangguan body image
berhubungan dengan:
Biofisika (penyakit kronis),
kognitif/persepsi (nyeri
kronis), kultural/spiritual,

Rencana Keperawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Hasil
NOC:
NIC :
1.
Body
Body image enhancement
image
1. Kaji secara verbal dan nonverbal
2.
Self
respon klien terhadap tubuhnya
esteem
2. Monitor frekuensi mengkritik

penyakit, krisis situasional,


trauma/injury, pengobatan
(pembedahan, kemoterapi,
radiasi)
DS:
1.
Depersonalisasi bagian
tubuh
2. Perasaan negatif tentang
tubuh
3. Secara verbal menyatakan
perubahan gaya hidup
DO :
1.
P
erubahan aktual struktur
dan fungsi tubuh
2.
K
ehilangan bagian tubuh
3.
B
agian tubuh tidak
berfungsi
Kecemasan berhubungan
dengan
Faktor keturunan, Krisis
situasional, Stress, perubahan
status kesehatan, ancaman
kematian, perubahan konsep
diri, kurang pengetahuan dan
hospitalisasi
DO/DS:
1.
I
nsomnia
2.
K
ontak mata kurang
3.
K
urang istirahat
4.
B
erfokus pada diri sendiri
5.
I
ritabilitas
6.
T
akut
7.
N
yeri perut
8.
P
enurunan TD dan denyut
nadi
9.
D
iare, mual, kelelahan
10.
G
angguan tidur

Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama . gangguan
body image
pasien teratasi dengan
kriteria hasil:
a. Body image positif
b. Mampu
mengidentifikasi
kekuatan personal
c. Mendiskripsikan
secara faktual
perubahan fungsi
tubuh
d. Mempertahankan
interaksi sosial

NOC :
- Kontrol kecemasan
- Koping
Setelah dilakukan
asuhan selama
klien
kecemasan teratasi dgn
kriteria hasil:
a. Klien mampu
mengidentifikasi
dan
mengungkapkan
gejala cemas
b. Mengidentifikasi,
mengungkapkan
dan menunjukkan
tehnik untuk
mengontol cemas
c. Vital sign dalam
batas normal
d. Postur tubuh,
ekspresi wajah,
bahasa tubuh dan
tingkat aktivitas
menunjukkan
berkurangnya
kecemasan

3.
4.
5.
6.

dirinya
Jelaskan tentang pengobatan,
perawatan, kemajuan dan prognosis
penyakit
Dorong klien mengungkapkan
perasaannya
Identifikasi arti pengurangan melalui
pemakaian alat bantu
Fasilitasi kontak dengan individu
lain dalam kelompok kecil

NIC :
Anxiety Reduction (penurunan
kecemasan)
1.
Gunakan pendekatan yang
menenangkan
2.
Nyatakan dengan jelas
harapan terhadap pelaku pasien
3.
Jelaskan semua prosedur
dan apa yang dirasakan selama
prosedur
4.
Temani pasien untuk
memberikan keamanan dan
mengurangi takut
5.
Berikan informasi faktual
mengenai diagnosis, tindakan
prognosis
6.
Libatkan keluarga untuk
mendampingi klien
7.
Instruksikan pada pasien
untuk menggunakan tehnik relaksasi
8.
Dengarkan dengan penuh
perhatian
9.
Identifikasi tingkat
kecemasan
10.
Bantu pasien mengenal
situasi yang menimbulkan kecemasan
11.
Dorong pasien untuk
mengungkapkan perasaan, ketakutan,
persepsi
12.
Kelola pemberian obat anti

11.

cemas:........

emetar
12.

A
noreksia, mulut kering

13.

P
eningkatan TD, denyut
nadi, RR

14.

K
esulitan bernafas

15.

B
ingung

16.

B
loking dalam pembicaraan
17.
S
ulit berkonsentrasi
Nyeri akut berhubungan
dengan:
Agen injuri (biologi, kimia,
fisik, psikologis), kerusakan
jaringan
DS:
1.
Laporan secara verbal
DO:
1.
P
osisi untuk menahan nyeri
2.
T
ingkah laku berhati-hati
3.
G
angguan tidur (mata sayu,
tampak capek, sulit atau
gerakan kacau,
menyeringai)
4.
T
erfokus pada diri sendiri
5.
F
okus menyempit (penurunan
persepsi waktu, kerusakan
proses berpikir, penurunan
interaksi dengan orang dan
lingkungan)
6.
T
ingkah laku distraksi,
contoh: jalan-jalan,
menemui orang lain
dan/atau aktivitas, aktivitas
berulang-ulang)
7.
R
espon autonom (seperti
diaphoresis, perubahan

NOC :
a.
Pain
Level,
b. pain control,
c. comfort level
Setelah dilakukan
tinfakan keperawatan
selama . Pasien tidak
mengalami nyeri,
dengan kriteria hasil:
1.
Mamp
u mengontrol nyeri
(tahu penyebab
nyeri, mampu
menggunakan
tehnik
nonfarmakologi
untuk mengurangi
nyeri, mencari
bantuan)
2.
Melap
orkan bahwa nyeri
berkurang dengan
menggunakan
manajemen nyeri
3.
Mamp
u mengenali nyeri
(skala, intensitas,
frekuensi dan tanda
nyeri)
4.
Menya
takan rasa nyaman
setelah nyeri
berkurang
5.
Tanda

NIC :
1.
Lakukan pengkajian nyeri secara
komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi,
kualitas dan faktor presipitasi
2.
Observasi reaksi nonverbal dari
ketidaknyamanan
3.
Bantu pasien dan keluarga untuk
mencari dan menemukan dukungan
4.
Kontrol lingkungan yang dapat
mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan kebisingan
5.
Kurangi faktor presipitasi nyeri
6.
Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
menentukan intervensi
7.
Ajarkan tentang teknik non
farmakologi: napas dala, relaksasi,
distraksi, kompres hangat/ dingin
8.
Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
9.
Tingkatkan istirahat
10.
Berikan informasi tentang nyeri
seperti penyebab nyeri, berapa lama
nyeri akan berkurang dan antisipasi
ketidaknyamanan dari prosedur
11.
Monitor vital sign sebelum dan
sesudah pemberian analgesik pertama
kali

tekanan darah, perubahan


nafas, nadi dan dilatasi
pupil)

vital dalam rentang


normal
6.
Tidak
8.
P
mengalami
erubahan autonomic dalam
gangguan tidur
tonus otot (mungkin dalam
rentang dari lemah ke kaku)
9.
T
ingkah laku ekspresif
(contoh : gelisah, merintih,
menangis, waspada, iritabel,
nafas panjang/berkeluh
kesah)
10.
P
erubahan dalam nafsu
makan dan minum
Kurang Pengetahuan
NOC:
Berhubungan dengan:
1.
Kowl
keterbatasan kognitif,
wdge : disease
interpretasi terhadap informasi
process
yang salah, kurangnya
2.
Kowle
keinginan untuk mencari
dge : health
informasi, tidak mengetahui
Behavior
sumber-sumber informasi.
Setelah dilakukan
DS: Menyatakan secara verbal tindakan keperawatan
adanya masalah
selama . pasien
DO: ketidakakuratan
menunjukkan
mengikuti instruksi, perilaku
pengetahuan tentang
tidak sesuai
proses penyakit dengan
kriteria hasil:
a. Pasien dan keluarga
menyatakan
pemahaman tentang
penyakit, kondisi,
prognosis dan
program pengobatan
b. Pasien dan keluarga
mampu
melaksanakan
prosedur yang
dijelaskan secara
benar
c. Pasien dan keluarga
mampu menjelaskan
kembali apa yang
dijelaskan
perawat/tim
kesehatan lainnya
Risiko infeksi
NOC :
1.
Immune

NIC :
1.
Kaji tingkat pengetahuan pasien
dan keluarga
2.
Jelaskan patofisiologi dari
penyakit dan bagaimana hal ini
berhubungan dengan anatomi dan
fisiologi
3.
Gambarkan tanda dan gejala yang
biasa muncul pada penyakit
4.
Gambarkan proses penyakit
5.
Identifikasi kemungkinan
penyebab
6.
Sediakan informasi pada pasien
tentang kondisi
7.
Sediakan bagi keluarga informasi
tentang kemajuan pasien
8.
Diskusikan pilihan terapi atau
penanganan
9.
Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau mendapatkan
second opinion dengan cara yang tepat
atau diindikasikan
10.
Eksplorasi kemungkinan sumber
atau dukungan, dengan cara yang tepat

NIC :
1.

Pertahankan teknik aseptif

Faktor-faktor risiko:
1.
P
rosedur Infasif
2.
K
erusakan jaringan dan
peningkatan paparan
lingkungan
3.
M
alnutrisi
4.
P
eningkatan paparan
lingkungan patogen
5.
I
monusupresi
6.
T
idak adekuat pertahanan
sekunder (penurunan Hb,
Leukopenia, penekanan
respon inflamasi)
7.
P
enyakit kronik
8.
I
munosupresi
9.
M
alnutrisi
10.
P
ertahan primer tidak
adekuat (kerusakan kulit,
trauma jaringan, gangguan
peristaltik)

Status
Knowle
dge : Infection
control
3.
Risk
control
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama pasien
tidak mengalami
infeksi dengan kriteria
hasil:
a. Klien bebas dari
tanda dan gejala
infeksi
b. Menunjukkan
kemampuan untuk
mencegah
timbulnya infeksi
c. Jumlah leukosit
dalam batas normal
d. Menunjukkan
perilaku hidup sehat
e. Status imun,
gastrointestinal,
genitourinaria
dalam batas normal

2.

2.

Batasi pengunjung bila


perlu

3.

Cuci tangan setiap


sebelum dan sesudah tindakan
keperawatan
4.
Gunakan baju, sarung
tangan sebagai alat pelindung
5.
Ganti letak IV perifer dan
dressing sesuai dengan petunjuk
umum
6.
Gunakan kateter
intermiten untuk menurunkan infeksi
kandung kencing
7.
Tingkatkan intake nutrisi
8.
Berikan terapi antibiotik
9.
Monitor tanda dan gejala
infeksi sistemik dan lokal
10.
Pertahankan teknik isolasi
k/p
11.
Inspeksi kulit dan
membran mukosa terhadap
kemerahan, panas, drainase
12.
Monitor adanya luka
13.
Dorong masukan cairan
14.
Dorong istirahat
15.
Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan gejala infeksi
16.
Kaji suhu badan pada
pasien neutropenia setiap 4 jam

EVALUASI
S: Respon subjektif yang dirasakan pasien setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan.
O: Data objektif yang diperoleh perawat setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan
A: Hasil analisis perawat terhadap kondisi pasien setelah dilakukan tindakan keperawatan
P: Rencana tindakan keperawatan selanjutnya