You are on page 1of 14

Pada praktikum Farmasetika II ini dibuat sediaan suppositoria.

Menurut farmakope edisi III, suppositoria adalah sediaan padat yang digunakan
melalui dubur, umumnya berbentuk torpedo, dapat melarut, melunak atau meleleh pada
suhu tubuh. Menurut farmakope edisi IV, suppositoria adalah sediaan padat dalam
berbagai bobotdan bentuk yang diberikan melalui rektal, vagina atau uretra. Menurut
Formularium Nasional, suppositoria adalah sediaan padat, melunak, melumer dan larut
pada suhu tubuh, digunakan dengan cara menyisipkan ke dalam rektum, berbentuk sesuai
dengan maksud penggunaan umumnya berbentuk torpedo.
Untuk vagina disebut pessarium, untuk disaluran urine disebut bougie. Bahan
dasar yang digunakan harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh. Bahan
dasar yang sering digunakan adalah lemak coklat (Oleum Cacao),Polietlenglikol, atau
lemak tengkawang (Oleum Shoreae) atau gelatin. Bobot suppositoria kalau tidak
dinyatakan lain adalah 3 g untuk orang dewasa dan 2 g untuk anak. Supositoria supaya
disimpan dalam wadah tertutup baik dan ditempat yang sejuk. Keuntungan bentuk
torpedo adalah bila bagian yang besar masuk melalui otot penutup dubur, maka
suppositoria akan tertarik masuk dengan sendiri.
B. Keuntungan

Dapat menghindari terjadinya iritasi obat pada lambung.

Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzim pencernaan.

Obat dapat masuk langsung dalam saluran darahdan berakibat obat dapat memberi
efek lebih cepat daripada penggunaan obat peroral.

Baik, bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar

Obat ditujukan untuk efek lokal

Menghindari biotransformasi hati/ sirkulasi portal

C. Kerugian:

Cara pakainya tidak menyenangkan

analgesik. iritasi. iritasi. d) Daya serap terhadap cairan lipofil dan hidrofi . rasa gatal dan radang sehubungan dengan wasir dan kondisi anarektal lainnya. b) Pembebasan dan responsi obat yang baik. penegerasan. c) Daya tahan dan daya penyimpanan yang baik (tanpa ketengikan. bisakodil suppo). tidak seperti yang diabsorbsi setelah pemberian secara oral. antihaemoroid. Pembuluh hemoroid bagian bawah yang mengelilingi kolon menerima obat yang diabsorbsi lalu mulai mengedarkannya ke seluruh tubuh tanpa melalui hati. mengobati gatal. melunak atau melarut menyebabkan zat aktif yang dibawanya ke jaringan-jaringan di daerah tertentu. Absorbsi obat sering kali tidak teratur/ sukar diramalkan  Tidak dapat disimpan pada suhu ruangan  Tidak semua obat dibuat suppositoria D.  Obat dimasukkan untuk ditahan dalam ruang tersebut untuk efek lokal atau juga bisa diabsorbsi untuk mendapat efek sistemik.  Suppositoria rektal dimaksudkan untuk kerja lokal dan paling sering digunakan untuk menghilangkan konstipasi (sembelit) dan rasa sakit. Tujuan penggunaan: 1. tidak melalui siklus portal sewaktu perjalanan pertamanya dalam sirkulasi yang lazim. dan inflamasi karena hemoroid (antibakteri basilla bentuk uretral). vasokontriktor adstringen. dengan cara demikian obat dimungkinkan untuk tidak dihancurkan dalam hati memperoleh efek sistemik. pewarnaan. daya patah yang baik. dan stabilitas yang memadai dari bahan obat). lokal: untuk memudahkan defekasi (gliserin suppositoria. Persyaratan Suppositoria Sediaan supositoria memiliki persyaratan sebagai berikut: a) Suppositoria sebaiknya melebur dalam beberapa menit pada suhu tubuh atau melarut (persyara tan kerja obat). 3. emolien. mengandung anestesi lokal. Obat yang diabsorbsi melalui rektum.  Begitu dimasukkan basis suppositoria harus meleleh. kem antapan bentuk.

parasetamol bekerja dengan meningkatkan ambang rangsang rasa sakit. parasetamol diduga bekerja . Efek interaksi obat ini misalnya penggeseran obat warfarin dan oral hipoglikemik hampir tidak ada. maka suppositoria akan tertarik masuk dengan sendirinya. Merupakan cara yang efektif dalam perawatan pasien yang suka muntah (Ansel. Pada praktikum kali ini akan dibuat suppositoria paracetamol dengan bentuk peluru. Selain itu kelebihan lain suppositoria daripada pemakaian secara oral yaitu obat yang dirusak atau dibuat tidak aktif oleh pH atau aktifitas enzim dari lambung atau usus tidak perlu dibawa atau masuk ke dalam lingkungan yang merusak ini. Waktu paruh dalam plasma sekitar 2 jam. Indikasi parasetamol ummnya digunakan sebagai analgetik dan antipiretik. Obat yang merangsang lambung dapat diberikan tanpa menimbulkan rangsangan. harus dapat bertahan untuk suatu waktu tertentu. tetapi tidak antiradang. Derivat asam propionat dapat mengurangi efek diuresis dan nartiuresis furosemid dan tiazid. prazosin dan kaptopril. dapat tidak melewati hati setelah absorpsi pada rektum. Zat aktif paracetamol yang dibuat dalam bentuk suppositoria memiliki beberapa keuntungan seperti langsung dapat masuk ke sistem sirkulasi sehingga efek yang ditimbulkan lebih cepat dan lebih mudah digunakan pada pasien anak-anak yang umumnya sulit menelan dan untuk pasien yang tidak sadar ataupun yang sedang muntah (Anief. bentuk ini memiliki kelebihan yaitu bila bagian yang besar masuk melalui otot penutup dubur. Bentuk ini melebihi kelebihan yaitu bila bagian yang besar masuk melalui otot penutup dubur. maka supositoria akan tertarik masuk dengan sendirinya. tetap harus waspada karena adanya gangguan fungsi trombosit yang memperpanjang masa perdarahan. Paracetamol bersifat analgesik dengan daya anti inflamasi yang tidak terlalu kuat. Zat aktif yang digunakan pada pembuatan suppositoria ini adalah Paracetamol. Obat yang dirusak dalam sirkulasi portal. Absorbsi Paracetamol cepat melalui lambung dan kadar maksimum dalam plasma dicapai setelah 1-2 jam. Sebagai antipiretik. 2005). 2006). Umumnya dianggap sebagai antinyeri yang paling aman untuk swamedikasi (pengobatan mandiri). juga mengurangi efek antihipertensi obat beta bloker.Suppositoria yang dibuat dalam praktikum ini adalah berupa suppositoria yang dimasukkan ke dalam rektum dan memiliki bentuk seperti torpedo sedemikian rupasehingga dapat dengan mudah dimasukkan dalam lubang atau celah yang diinginkan tanpa menimbulkan kejanggalan dan penggelembungan bagitu masuk. Tetapi pada pemberian bersama dengan warfarin. Cara ini lebih sesuai digunakan oleh pasien dewasa dan anak-anak yang tidak dapat atau tidak mau menelan obat. Sebagai analgesik.

Efek samping lainnya yang jarang ialah eritema kulit. dan untuk supositoria efek sistemik. serta untuk efek lokal harus dapat membebaskan obatnya dengan cepat dan sebanyak mungkin untuk keperluan absorpsi obat. Selain zat aktif Parasetamol digunakan pula beberapa zat tambahan yaitu oleum cacao. karena minyak ini tidak berbahaya. inert. melebur. stabil dalam penyimpanan. Sedangkan untuk anak-anak biasanya digunakan dosis 125 mg untuk setiap kandungan suppositoria dengan berat 2 gram. formulasi yang dipersiapkan adalah formulasi untuk masing-masing suppositoria telah dilebihkan 10 % dari bobot yang sebenarnya. tidak toksik atau mengiritasi. Oleum cacao berfungsi sebagai basis suppositoria dan merupakan basis berlemak. serta meleleh pada temperatur tubuh (30o-36oC) tapi tetap dapat bertahan sebagai bentuk padat pada suhu kamar . Ibuprofen tidak dianjurkan diminum oleh wanita hamil dan menyusui. ambliopia toksik yang reversibel. basis harus dapat membebaskan obatnya secara lambat agar dapat memberikan efek dalam jangka waktu yang panjang. dapat bercampur dengan bahan obat. Dosis parasetamol pada umumnya sebesar 500 mg untuk dewasa namun pada sediaan suppositoria efek yang dikeluarkan atau dihasilkan lebih cepat daripada sediaan oral karena langsung terserap oleh pembuluh darah di sekitar rektum sehingga pemakaian dosis 250 mg sudah cukup mengeluarkan efek. cera flava dan paraffin liquidum. dan tidak reaktif. namun untuk menghindari adanya volume sediaan yang berkurang akibat peracikan. dan untuk kandungan zat aktif dilebihkan 5 % untuk masing-masing suppositoria. 218) Formulasi ini direncanakan akan menghasilkan 10 supositoria. Basis supositoria yang ideal adalah basis yang memiliki sifat yaitu padat pada suhu ruangan tetapi akan melunak. (Farmakologi dan Terapi. Pada praktikum kali ini dipilih oleum cacao sebagai basis karena beberapa alasan berikut. Sebagian besar sifat oleum cacao memenuhi syarat basis ideal. indometasin atau naproksen. Dosis yang dipakai dalam dalam suppositoria parasetamol ini ialah 250 mg dan diperuntukkan sebagai dosis dewasa sehingga berat suppositoria yang dibuat sebesar 3 gram. oleum cacao dalam tubuh akan meleleh dan melepaskan zat aktif sehingga terdispersi pada cairan rektum. atau melarut dengan mudah pada suhu tubuh.langsung pada pusat pengatur panas di hipotalamus. sakit kepala. Efek samping terhadap saluran cerna lebih ringan dibandingkan dengan aspirin. pada pembuatannya dengan metode pelelehan ataupun cetak tekan dapat menghasilkan bentuk yang baik dan tidak menempel pada dinding cetakan. lunak. trombositopenia.

Yang perlu diperhatikan dalam penambahan cetaceum adalah tidak boleh lebih dari 6% karena akan menaikkan titik lebur lemak coklat diatas 37 oC dan jangan kurang dari 4% karena akan memperoleh titik lebur lebih rendah dari titik lebur oleum cacao (33oC). dan dapat melepaskan obat secara cepat dengan cara meleleh.biasa. mempunyai karakter pelelehan yang baik dan dapat membebaskan dengan mudah zat aktif di dalam rectum. Penambahan cera tidak boleh lebih dari 6% karena akan memperoleh campuran dengan titik leleh lebih dari 37 oC dan tidak boleh kurang dari 4% karena akan memeperoleh campuran dengan titik lebur kurang dari titik lebur lemak coklat (33oC). lalu segera didinginkan maka hasilnya berbentuk kristal metastabil (suatu bentuk kristal) dengan titik lebur yang lebih rendah dari titik lebur oleum cacao asalnya. Agar suppositoria dengan basis lemak coklat dapat meleleh pada suhu tubuh maka ditambahkan cera atau cetaceum untuk meninggikan titik lebur lemak coklat. Adanya tirgliserida juga menyebabkan oleum cacao memiliki kemampuan menyerap air yang rendah. Selain itu cera juga dapat meningkatkan daya adsorben lemak coklat terhadap air. Untuk memperbaiki penyerapan iar maka ditambahkan dengan sejumlah tertentu cerataceum. tidak mengiritasi dan dapat dipakai untuk pengobatan iritasi lokal misalnya antihemoroid. Selain itu karena kandungan trigliseridanya oleum cacao menunjukkan sifat polimorfisme atau keberadaan zat tersebut dalam berbagai bentuk kristal. Sedangkan paraffin liquid berfungsi sebagai lubricant atau pelumas agar suppositoria mudah dilepaskan dari cetakan. Pemanasan lemak coklat tidak boleh terlalu tinggi karena akan mencair sempurna dan kehilangan semua inti kristal yang stabil yang berguna untuk memadat. Oleh karena itu. Titik leleh lemak coklat adalah sekitar 33oC sedangkan suhu tubuh adalah 37oC. . Bila didinginkan di bawah 15oC kristal akan membentuk kristal metastabil. hal ini dikarenakan pengkerutan selama pemadatan kecil. apabila oleum cacao tergesa – gesa atau tidak hati – hati dicairkan pada suhu yang melebihi suhu minimumnya. Selain itu oleum cacao juga memiliki beberapa kekurangan sebagai basis sopositoria yaitu tidak dapat bercampur dengan cairan tubuh sehingga pelepasan obat yang bersifat lipofilik menjadi terhambat. Maka pemanasan lemak coklat sebaiknya dilakukan sampai cukup meleleh yang dapat dituang dan tetap mengandung inti kristal dari bentuk stabil.

Untuk menghindari masa yang hilang maka selalu dibuat berlebih dan untuk menghindari masa yang melekat pada cetakan maka cetaan sebelumnya dibasahi dengan parafin. Untuk mencetak basila dapat digunakan tube gelas atau gulungan kertas. 7. spritus saponatus (soft soap liniment). Bila obatnya sukar larut dalam bahan dasar maka harus diserbuk halus. Untuk suppositoria dengan bahan dasar PEG dan tween tidak perlu bahan pelicin karena pada pendinginan mudah lepas dari cetakan karena mengkerut. 5. 4. 3. Obatnya supaya larut dalam bahan dasar apabila perlu dipanaskan.E. berat jenis obat dapat dihitung dan dibuat seragam. Pembuatan suppositoria Pembuatan suppositoria secara umum dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: Bahan dasar yang digunakan supaya meleleh pada suhu tubuh atau larut dalam cairan yang ada dalam rectum. tetapi pada suhu dibawah 30º merupakan masa semi padat. Setelah campuran obat dan bahan dasar meleleh dan mencair. mencampur obat tersebut dengan sedikit bahan dasar yang telah dilelehkan. ada juga yang dibuat dari plastik. berwarna kekuningan. mengandung banyak kristal dari trigliserida padat dan merupakan bagian nyata dari cairan. bau yang khas. Jika dipanasi sekitar 30º mulai mencair dan biasanya meleleh sekitar 34º. Dan yang cair diikat . berat suppositoria dikurangi berat obatnya marupakan berat bahan dasr yang harus ditambahkan. dituangkan dalam cetakan suppositoria dan didinginkan. setelah dingin suppositoria dikeluarkan dari cetakan dan ditimbang. memasukkan campuran tersebut dalam cetakan. 1. karena akan beraksi dengan sabunnya dan sebagai pengganti dapat digunakan larutanoleum ricini dalam etanol. Suppositoria dengan bahan dasar lemak coklat Lemak coklat merupalkan trigliserida. Cetakan tersebut dibuat dari besi dan dilapisi nikel atau dari logam lain. Yang terakhir jangan digunakan untuk suppositoria yang mengandung garam logam. minyak lemak. 6.35º C. Isi berat suppositoria dapat ditentukan dengan percobaan seperti berikut: 1. menambah bahan dasar yang telah dilelehkan sampai jenuh. menimbang obat untuk sebuah suppositoria 2. mendinginkan cetakan yang bersi campuran tersebut. Cetakan ini mudah dibuka secara longitudional untuk mengeluarkan supositoria.

aksi kerja awal lebih cepat. Sering dilupakan dalam melelehkan lemak coklat terdapat kondisi pemanasan. baru setelah dingin kelebihannya dipotong. maka pada pengisian cetakan harus diisi lebih. Pada pengisiaan masa supositoria ke dalam cetakan. Oleum cacao 90 % dan . Jika pemanasannya tinggi. Penambahan cera flava dapar menaikkan daya serap lemak coklat terhadap air. kemudian dilakukan penimbangan bahan Paracetamol sebanyak 1 g. Percobaan hassler dan sperandio dengan bermacam macam garam barbital yang larut dalam air menunjukkan dengan bahan dasar lemak coklat. Kentungan dari bahan dasar mudah larut dalam cairan alam rektum. Ini disebabkan bahwa coklat adalah cepat meleleh dan obat akan terlepas dan dapat diabsorbsi sedangkan dengan PEG basis harus larut baru obatnya dapat diabsorpsi. lemak coklat akan mencair sempurna seperti minyak dan kehilangan semua inti krital yang stabil yang berguna untuk memadat.dengan tenaga tegangan muka. Pertama yaitu menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. karena akan memperoleh hasil yang kurang menyenangkan dengan adanya modifikasi sifat fisika yang karakteristik dari asam coklat. Bila didinginkan dibawah 15º C akan mengkristal dalam bentuk kristal metastabil Untuk meninggikan titik lebur lemak coklat digunakan tambahan cera atau cetaceum. dan oleum cacao 10 g. sedangkan dengan bahan dasar PEG menunjukan aksi lama kerja lebih lama. Pembuatan suppoitoria ini dilakukan dengan beberapa tahapan. Pembuatan supositoria dengan PEG dilakukan dengan melelehkan bahan dasar lalu dituangkan dalam cetakan seperti pada pembuatan supositoria dengan bahan dasar lemak coklat. 2. kemak coklat cepat membeku dan pada pendinginan terjadi susut volume hingga terjadi lubang di atas masa. dan tidak ada modifikasi titik lebur yang berarti tidak mudah meleleh pada penyimpanan suhu kamar. Suppositoria dengan bahan dasar PEG PEG adalah polyaethylenglikolum merupakan polimerisasi etilenglikol dengan berat molekul antara 300 sampai 6000 PEG dibawah 1000 adalah cair sedangkan diatas 1000 adalah padat lunak seperti malam. cera flava 550 mg.

campuran tersebut dituangkan ke dalam cetakan. sampai halus di dalam mortir. pemanasan oleum cacao pada suhu di atas 34-36°C selama preparasi akan menghasilkan sediaan supositoria yang kurang stabil (Rowe. dibersihkan dan diberi pelumas yaitu parafin dengan tujuan agar suppositoria yang terbentuk mudah dilepaskan dari cetakan. Penggunaan parafin tidak boleh terlalu banyak karena akan menyebabkan parafin akan berkumpul pada ujung cetakan dan membuat bentuk suppositoria tidak sama dengan cetakan (ujung suppositoria akan tumpul). Pada saat peleburan oleum cacao. akan mengakibatkan oleum cacao tidak dapat membeku pada suhu kamar.. agar tidak terbentuk lubanglubang akibat adanya udara pada cetakan. Untuk obat dalam suppositoria yang tidak larut maka ukuran partikelnya akan mempengaruhi jumlah obat yang dilepas dan melarut untuk absorbsi. diaduk dengan cepat agar tidak segera membeku sebelum dimasukkan ke dalam pencetak.cera flava dilebur di atas tangas air sampai meleleh. Sementara itu Paracetamol digerus dengan 10 % oleum cacao. Setelah parasetamol tercampur sempurna dalam basisnya. Parasetamol digerus terlebih dahulu hingga benar-benar halus agar tiak ada lagi bongkahan-bongkahan kecil serbuk yang dapat menghambat homogenitas parasetamol dengan basis. 2008). kira-kira 12o di bawah keadaan aslinya (Lachman. Lemak coklat yang dilebur adalah sebanyak 90% dari jumlah keselururuhan bersama dengan cera vlava. Campuran juga harus dituangkan sedikit berlebih . Setelah parasetamol benar-benar halus ditambahkan degan sisa lemak coklat sebanyak 10% tadi agar memudahkan dalam pencampuran dengan yang telah dilebur.al. Setelah campuran oleum cacao dan cera flava meleleh dimasukkan gerusan Paracetamol dan 10% oleum cacao yang tidak ikut dilelehkan ke dalam cawan porselen tersebut. et. lalu disisihkan. Pemanasan yang berlebihan di atas temperatur kritis dapat menyebabkan pembentukan kristal yang tidak stabil dengan titik leleh yang lebih rendah. Dengan demikian. agar tidak terjadi penguapan yang terlalu banyak. Cetakan suppositoria yang akan digunakan. Proses penuangan diusahakan tidak terputus. Peleburann hanya dilakukan sebentar saja. Sebagaimana sering terlihat bahwa semakin kecil ukuran partikel semakin mudah melarut dan lebih besar kemungkinannya untuk dapat lebih cepat diabsorbsi. Peleburan diatas penangas air dihentikan ketika oleum cacao yg tersisa tinggal sepertiga. 2009). Campuran ini diaduk hingga tercampur dan meleleh merata. suhu dijaga agar tidak lebih dari 36 o C karena. oleum cacao kemudian dibiarkan meleleh tanpa pemanasan.

Dari penimbangan untuk pembuatan 10 suppositoria jumlah sediaan yang diperoleh pada akhir praktikum adalah 7 suppositoria. Lemak coklat cepat membeku dan pada pendinginan terjadi susut volume sehingga terjadi lubang di atas masa. Cetakan yang sudah diisi lalu didiamkan sebentar pada suhu kamar lalu disimpan pada lemari es pada suhu 150C bila disimpan di bawah suhu 150C maka akan terbentuk kristal α yang meleleh pada 240C yang mendekati suhu kamar yaitu 25 0C selain itu pendinginan yang tiba-tiba akan membuat suppositoria mudah rapuh (Anief. Oleh karena itu. dikeluarkan dari cetakan lalu ditimbang seberat 3 gram kemudian dibungkus dengan aluminium foil. Sebaiknya pencetak dipanaskan terlebih dahulu. Setelah sediaan dingin.dari cetakan karena pada saat didinginkan oleum cacao akan mengalami penyusutan volume (Anief. Cetakan tersebut harus diketuk-ketukkan agar tidak ada lubang yang terbentuk di tengah sediaan karena pengkerutan ketika terjadi pemadatan. 1994). Suppositoria yang telah memadat kemudian dikeluarkan dari cetakan untuk selanjutnya dibungkus dengan aluminium foil. Jika terdapat lubang di tengah sediaan pada saat pemadatan. Penuangan campuran yang sudah leleh ini harus segera dilakukan karena lelehan ini akan cepat membeku jika dibiarkan dalam cawan. Sediaan dikemas dan diberi etiket serta pada brosur sebaiknya diberi petunjuk penggunaan suppositoria yang disetai gambar. maka segera ditambahkan campuran lagi agar sediaan menjadi padat. pada saat pengisisan masa suppositoria ke dalam cetakan harus dilebihkan terlebih dahulu baru setelah dingin kemudian kelebihannya dipotong. EVALUASI . kering dan terlindung dari cahaya (Lachman. Untuk menghindari massa yang hilang maka selalu dibuat berlebih dan untuk menghindari massa yang melekat pada cetakan maka cetakan sebelumnya dibasahi dengan parafin. dimasukkan ke dalam lemari pendingin untuk beberapa waktu. Pembungkusan dengan aluminium foil diusahakan sesuai dengan bentuk suppositoria karena bila selama penyimpanan suppositoria sedikit meleleh maka bentuknya akan menyesuaikan dengan bentuk wadahnya. 2006). Setelah suppositoria memadat. 2006). Suppositoria disimpan dalam tempat dingin.

0535 gram. Dari hasil perhitungan data diperoleh nilai standar deviasi yaitu 2.638. Keseksamaan dapat dinyatakan sebagai keterulangan (repeatability) atau ketertiruan (reproducibility). Namun saat penimbangan dilakukan. 1995). jumlah sampel.579 ±0. Keterulangan adalah keseksamaan metode jika dilakukan berulang kali oleh analis yang sama pada kondisi sama dan dalam interval waktu yang pendek. 2.567. dan selanjutnya dihitung standar deviasi (SD) serta koefisien variasi (CV). dan kondisi laboratorium (Harmita. jadi memberikan ukuran keseksamaan pada kondisi yang normal. Keterulangan dinilai melalui pelaksanaan penetapan terpisah lengkap terhadap sampel-sampel identik yang terpisah dari batch yang sama.537. diperoleh massa yang berbeda. 2. Pada praktikum kali ini. Uji evalusi supositoria yang dilakukan selanjutnya adalah uji waktu leleh supositoria. Dari hasil pengujian dua buah supositoria diperoleh waktu pelelehan supositoria adalah 3 menit 30 detik dan 4 menit 5 detik. Keseksamaan adalah ukuran yang menunjukkan derajat kesesuaian antara hasil uji individual.516. Bobot masing-masing supositoria yang direncanakan pada praktikum adalah 2 gram. Kriteria seksama diberikan jika metode memberikan simpangan baku relatif atau koefisien variasi 2% atau kurang.549. Ketertiruan adalah keseksamaan metode jika dikerjakan pada kondisi yang berbeda. 2. Waktu pelelehan supositoria dicatat pada saat waktu supositoria mulai menyentuh air samapai supositoria habis.581.662 . 2004). 2. Diperolehnya sopositoria dengan bobot lebih dari 2 gram karena supositoria yang belum dipotong dengan cutter. diukur melalui penyebaran hasil individual dari rata-rata jika prosedur diterapkan secara berulang pada sampel-sampel yang diambil dari campuran yang homogen. Simpangan baku atau simpangan baku relatif (koefisien variasi) digunakan untuk mengukur keseksamaan. . Uji ini dilakukan dengan mengukur waktu yang diperlukan suppositoria untuk meleleh sempurna bila dicelupkan dalam penangas air dengan temperatur tetap 370C. Akan tetapi kriteria ini sangat fleksibel tergantung pada konsentrasi analit yang diperiksa. Bobot masing-masing supositoria yang diperoleh setelah penimbangan secara berturut-turut yaitu 2.Uji keseragaman bobot dilakukan dengan menimbang tiap-tiap supositoria. Berdasarkan literatur uji waktu leleh supositoria yang baik adalah tidak lebih dari 30 menit untuk supositoria dengan dasar lemak dan tidak lebih dari 60 menit untuk supositoria dengan dasar yang larut dalam air (Depkes RI. 2. 2. telah dipenuhi syarat keseragaman bobot yang baik karena koefesien variansi (CV) yang diperoleh kurang dari 5%.

bentuk juga sangat mendukung karena akan memberika n keyakinan pada pasien bahwa sediaa tersebut adalah suppositoria. D ari hasil penetapan kadar. maka seseorang yang tidak tahu akan mengira bahwa sedia an tersebut bukanlah obat.sedangkan secara organoleptis supositoria tidak berlubang dan mengalami pembengkakan ini disebabkan pembuatan yg baik dan penyimpanan yang sesuai. suppositoria m erupakan sediaan padat yang mempunyai bentuk torpedo. Selain itu. Obat yang terlepas akan memberikan terapi yang berbeda. Uji Homogenitas Uji homogenitas ini bertujuan untuk mengetahui apakah bahan aktif dapat tercampur ra ta dengan bahan dasar suppo atau tidak. Bentuk Bentuk suppositoria juga perlu diperhatikan karena jika dari bentuknya tidak seperti s ediaan suppositoria pada umunya. sedangkan untuk PEG 100 0 adalah 15 menit. Cara menguji homogenitas yaitu dengan cara mengambil 3 titik bagian suppo (atas-tengahbawah atau kanan-tengah-kiri) masing-masing bagian diletakkan pada kaca objek kemudian d iamati dibawah mikroskop. Untuk itu. Jika melebihi syarat diatas maka sediaan tersebut belum memenuhi syarat untuk digunakan dalam tubuh. Caranya den gan ditimbang saksama 10 suppositoria. cara selanjutnya dengan menguji kadarnya dapat dilakukan denga n cara titrasi. satu persatu kemudian dihitung berat rata-ratanya.Evaluasi Sediaan 1. Kerapuhan . 3. Hom ogenisitasnya relatif baik karena pencampuran serta pengadukan yang baik sehingga zat aktifnya relatif menyebar dengan baik. Kemudian dimasukkan supositoria ke dalam air dan diamati waktu leburnya. Un tuk basis oleum cacao dingin persyaratan leburnya adalah 3 menit. Uji titik lebur Uji ini dilakukan sebagai simulasi untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan sediaan supositoria yang dibuat melebur dalam tubuh. Karena keseragaman bobot dilakukan untuk mengetahu i kandungan yang terdapat dalam masing-masing suppositoria tersebut sama dan dapat memb erikan efek terapi yang sama pula. Ji ka terdapat sediaan yang beratnya melebihi rata-rata maka suppositoria tersebut tidak memen uhi syarat dalam keseragaman bobot. 4. kemudian pada sediaan yang berbahan dasar PEG 1000 waktu han curnya ±15 menit. Keseragaman Bobot Keseragaman bobot dilakukan untuk mengetahui apakah bobot tiap sediaan sudah sa ma atau belum. 6. yang diperoleh dalam masing-masing monografi. Uji Waktu Hancur Uji waktu hancur ini dilakukan untuk mengetahui berapa lama sediaan tersebut dapat hancur dalam tubuh. 2. Cara uji waktu hancur dengan dimasukkan dalam air yang di set sama de ngan suhu tubuh manusia. Menggunakan media air dikarenakan sebagian besar tubuh manusia mengandung cairan. jika belum maka perlu dicatat. sedangkan untuk oleum cacao dingin 3 menit. 5. hitung jumlah zat aktif dari masing-masing 10 suppositoria dengan anggapan zat aktif terdistribusi homogen. Keseragaman bobot akan mempengaruhi terha dap kemurnian suatu sediaan karena dikhawatirkan zat lain yang ikut tercampur. jika tidak dapat tercampur maka akan mempengaruhi proses absorbsi dalam tubuh. Dilakukan dengan cara menyiapkan air dengan suhu ±37°C.

2006).3. Untuk meningkatkan titik lebur lemak coklat dapat digunakan tambahan cetaceum tidak lebih dari 6% dan tidak kurang dari 4% (Anief. Cetakan dilapisi dengan gliseryn. Harus dilebur perlahan-lahan di atas penangas air berisi air hangat untuk menghindari terjadinya bentuk kristal yang tidak stabil dan untuk menjamin retensi dalam cairan dari bentuk kristal β yang lebih stabil sehingga akan membentuk inti dimana pengentalan mungkin terjadi sewaktu pengentalan cairan tersebut (Ansel. Pemanasan oleum cacao tidak boleh melebihi suhu minimumnya. Pencegahan Masalah 1. Oleum cacao mudah meleleh dimana titik leburnya 30oC – 35oC 4.6% 2. 4. 3. Suppositoria melekat pada cetakan. kemudian diberi beban seberat 20N (le bih kurang 2kg) dengan cara menggerakkan jari atau batang yang dimasukkan ke dalam tabu ng. Sifat karakteristik dari oleum cacao dimana jika pemanasannya tinggi akan mencair sempurna seperti minyak dan kehilangan semua inti kristal yang stabil yang berguna untuk memadat. Oleum cacao mudah mencair dan menjadi tengik saat penyimpanan (Lachman. 6. baru setelah dingin kelebihannya dipotong (Anief. Supositoria dipotong h orizontal. 5. 3. 4. Pada pengisian cetakan harus diisi lebih. Kemudian ditandai kedua titik pengukuran melalui bagian yang melebar. bila didinginkan di bawah 15o akan mengkristal dalam bentuk kristal metastabil (Anief. 2008). Untuk meningkatkan daya serap oleum cacao ditambahkan cetaceum dengan rentang konsentrasi 4 . . Pada pengisian masa supositoria ke dalam cetakan. 2006). 2006).Supositoria sebaiknya jangan terlalu lembek maupun terlalu keras yang menjadikann ya sukar meleleh. dengan ja rak tidak kurang dari 50% dari lebar bahan yang datar.4. Permasalahan 1. 4. 1989). Daya serap oleum cacao rendah 2. Untuk uji kerapuhan dapat digunakan uji elastisitas. 2006). oleum cacao cepat membeku dan pada pendinginan terjadi susut volume hingga terjadi lubang di atas masa (Anief.

5. 6. 1995. Alex Media Computindo: Jakarta . Universitas Indonesia Press: Jakarta Syamsuni. 1995. 2006. 98. 2005. H. kering dan terlindung dari cahaya (Lachman. Universitas Indonesia: Jakarta Anonim. Ilmu Meracik Obat. 2002. L.1 Kesimpulan 1. 1954). Gadjah Mada University Press: Jakarta Ansel. dan 5% cetaceum. Tahapan-tahapan yang dilakukan pada pembuatan suppositoria ini adalah melelehkan cetaceum terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan melelehkan oleum cacao sebagai basis. Penerbit Buku Kedokteran: Jakrta Tjay.C. 2005.5% oleum cacao. maka dilakukan penambahan sebanyak 5 % bagian lilin atau cetaceum dari basis yang digunakan (Uffelie. Depkes RI: Jakarta Anonim. 2008. Oleum cacao harus disimpan dalam tempat dingin. Jumlah suppositoria yang dihasilkan pada praktikum ini adalah sebanyak 7 buah suppositoria. Obat-obat Penting. Formulasi sediaan suppositoria parasetamol yang digunakan kali ini dengan formula yang terdiri dari 125 mg parasetamol. Depkes RI: Jakarta Kibbe. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Untuk meningkatkan kekentalan. M. Handbook of Pharmaceutical Excipiet. H. 2008). DAFTAR PUSTAKA Anief. 2.0535 gram. dengan bobot rata-rata adalah sebesar 2.579 ± 0. 3. Farmakope Indonesia III. dan terakhir ditambahkan parasetamol sebagai zat aktif. 9. Amerika Pharmaceutical Press: amerika Lachman. H. Pengantar Buku sediaan Farmasi edisi IV. A. T. Farmakope Indonesia IV. 2000. Teori dan Praktek Farmasi Industri Jilid 2.