You are on page 1of 11

REFERAT

MYELITIS

DISUSUN OLEH:
Shinta Mariana
1102010268
PEMBIMBING:
dr. Perwitasari, Sp. S
dr. Eny Waeningsih, Sp.S

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF
RSUD SERANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
NOVEMBER 2014
A. DEFINISI

Akut : Simtom berkembang dengan cepat dan mencapai puncaknya dalam tempo beberapa hari saja. distribusi proses radang tersebut. tetapi Adams dan Victor (1985) menulis bahwa mielitis adalah proses radang infektif maupun non-infektif yang menyebabkan kerusakan pada nekrosis pada substansia grisea dan alba. Herpes zoster c. Beberapa istilah lain digunakan untuk dapat menunjukkan dengan tepat. 3. KLASIFIKASI 1. yang artinya tidak lebih dari radang medula spinalis. Kronik : Perjalanan klinis penyakit berkembang dalam waktu lebih dari 6 minggu. 2. Bila mengenai substansia grisea disebut poliomielitis. Bila lesinya multipleks dan tersebar sepanjang sumbu vertikel disebut mielitis diseminata atau difusa. Dan bila seluruh potongan melintang medula spinalis terserang proses radang maka disebut mielitis transversa. bila mengenai substansia alba disebut leukomielitis. Poliomielitis. group A dan B Coxsackie virus. demikian pula dengan meningoradikulitis (meningens dan radiks). echovirus b. a. Proses radang yang hanya terbatas pada durameter spinalis disebut pakimeningitis dan bahan infeksi yang terkumpul dalam ruang epidural disebut abses epidural atau granuloma. Sedang istilah meningomielitis menunjukkan adanya proses radang baik pada meninges maupun medula spinalis. Virus B 1 . Mielitis yang disebabkan oleh virus.Menurut Plum dan Olsen (1981) serta Banister (1978) mielitis adalah terminologi nonspesifik. B. Sub Akut : Perjalanan klinis penyakit berkembang dalam waktu 2-6 minggu. Menurut perjalanan klinis antar awitan hingga munculnya gejala klinis mielitis dibedakan atas : 1. Rabies d.

sereblum. Definisi Poliomielitis anterior akuta (paralisis infantil. penyakit Heinemedin) adalah suatu penyakit sistemik akut yang disebabkan oleh infeksi virus polio dan mengakibatkan kerusakan pada sel motorik di kornu anterior medula spinalis. meningitis lokalisata atau meningomielitis dan abses. Oleh karena itu dulu penyakit ini dikenal sebagai penyakit Heine-Medin. a. Kekambuhan sklerosis multipleks akut dan kronik c. Mielitis tuberkulosa  Penyakit pott dengan kompresi medula spinalis  Meningomielitis tuberkulosa  Tuberkuloma medula spinalis Infeksi parasit dan fungus yang menimbulkan granuloma epidural. a. Pasca infeksiosa dan pasca vaksinasi b. C. Mielitis (mielopati) yang penyebabnya tidak diketahui.1. d. 2 . ganglia basal dan motorik korteks serebri. POLIOMIELITIS C. Mielitis piogenik atau supurativa  Meningomielitis subakut  Abses epidural akut dan granuloma  Abses medula spinalis c. Penyakit ini dilaporkan pada tahun 1840 oleh Jacob Heine lalu kemudian Medin pada tahun 1890 memberikan dasar epidemiologi penyakit ini. batang otak dan dapat pula mengenai mesensefalon.2. Mielitis yang merupakan akibat sekunder akibat sekunder dari penyakit pada meningens dan medula spinals. Degeneratif atau nekrotik. Mielitis sifilitika  Meningoradikulitis kronik (tabes dorsalis)  Meningomielitis kronik  Sifilis meningovaskular  Meningitis gumatosa termasuk pakimeningitis spinal kronik b. 3.

Terdapat 3 tipe virus polio yaitu: 1. 3 . Tipe 1 yaitu Brunhilde. Menurut Adams dan Victor (1985) dan Gilroy Dan Meyer (1979). Setelah masuk kedalam tubuh. kehamilan. jadi ia termasuk virus yang filtrabel. 3% mengalami infeksi sistemik.C. yang sering menyebakan paralisis. kerja fisik yang berat atau keletihan. 2. Masa inkubasi biasanya antara 4-17 hari. virus mencapai sistem saraf secara langsung melalui darah atau secara retrograd melalui saraf tepi atau saraf simpatetik atau ganglion sensorik pada tempat ia bermultiplikasi yaitu pada traktus gastrointestinalis atau jaringan ekstraneural yang lain. C. tapi bisa sampai 5 minggu. tetapi tidak terdapat kekebalan silang. Viremia ini tidak menimbulkan gejala (asimtomatik) atau hanya sakit ringan saja. Etiologi Virus polio adalah virus RNA yang termasuk kelompok enterovirus dan famili pikorna virus.2. virus masuk ke dalam tubuh melalui saluran orofarings setelah ditularakan melalui cara oral-fekal.3. atau kalium permanganat. Virus ini juga termasuk salah satu virus yang terkecil. Tipe 2 yaitu Lanshing 3. Tipe 3 yaitu Leon Virus ini akan menimbulkan 3 macam antibodi. Diduga pada kasus-kasus yang menimbulkan paralisis. virus akan berkembang biak (multiplikasi) di jaringan limfoid tonsil atau pada plak peyer di traktus intestinalis kemudian ia akan menembus dinding usus dan melalui darah akan tersebar ke seluruh tubuh (viremia). 1% yang mengalami meningitis aseptik dan hanya 1% yang mengalami poliomielitis paralitik. 95-99% pasien yng terinfeksi virus polio mengalami infeksi subkliik (asimtomatik). Patogenesis Poliomielitis merupakan penyakit yang sangat menular. Bila virus banyak didapat pada suatu daerah. maka timbulnya penyakit polio dapat dicetuskan dengan adanya tindakan operasi pada daerah tenggorokan dan mulut seperti misalnya tonsilektomi dan ekstraksi gigi atau tindakan penyuntikan atau vaksinasi DPT. Virus ini hanya dapat dimusnahkan dengan cara pengeringan atau pemberian zat oksidator yang kuat seperti peroksida.

Pada fase kedua ini di jumpai gejala seperti fase pertama (prodromal) disertai dengan gejala neurologik ringan sakit kepala hebat. nyeri dan kaku pada otot kuduk dan punggung. pilek. Disamping itu tanda tripod dapat pula dijumpai tanda kepala terkulai (Head Drop) yaitu bila penderita yang dalam sikap berbaring hendak kita tegakkan dengan cara menarik kedua ketiak atau lengan maka kepala penderita akan terkulai kebelakang (retrofleksi). mialgia bertambah hebat. mialgia atau faringitis )  Gastroenteritis ( mual. timbullah gejala fase kedua.4. dalam hal ini timbul gejala infeksi sistemik ringan karena terjadi viremia. bila dari sikap berbaring ia hendak duduk maka kedua lutut akan fleksi sedang kedua lengan dalam sikap ekstensi pada sendi siku untuk dipakai menunjang kebelakang pada tempat tidur (tanda tripod). malaise. demam. dan setelah -10 hari penderita merasa lebih enak. Diagnosis pasti hanya dapat dibuat bila virus ditemukan pada usapan tenggorokan atau fese. Tanda ini timbul karena adanya spasme pada otot-otot paravertebral. muntah. POLIOMIELITIS PREPARALITIK ATAU NONPARALITIK Setelah gejala prodormal seperti di atas dialami selama 3-4 hari lalu gejala tadi akan merada. spasme otot fleksor paha. Gejala infeksi sistemik ringan ini seperti:  Flu ( sakit kepala. namun infeksi ini telah mampu menimbulkan kekebalan alami.C. Kemudian dapat dijumpai pula yang disebut poliomielitis abortif. Bentuk gejala seperti ini disebut difasik. konstipasi diare. erektor trunsi sehingga anak tidak dapat melakukan gerak antefleksi kolumna vertebralis waktu hendak melakukan gerak dari berbaring ke sikap duduk. batuk. Bentuk ini sering dijumpai pada anakanak tapi pada penderita yang berusia lebih dari 15 tahun jarang dijumpai. Gambaran Klinis Seperti telah disebutkan di atas sebagian besar (95-99%) kasus poliomielitis merupakan infeksi subklinis atau asimtomatik. anoreksia ) Semua gejala di atas tidak khas. 4 . Pada anak-anak.

likuor dan fese. D. Empat puluh delapan jam setelah suhu kembali normal. Ini menyebabkan kerusakan sistem saraf 5 .POLIOMIELITIS PARALITIK Secara klasik poliomielitis paralitik dibedahkan atas bentuk spinal. Laboratorium Virus polio dapat diisolasi dan dibiakkan dalam jaringan. Serangan peradangan bisa merusak atau menghancurkan myelin. Kelumpuhan otot wajah sering pula dijumpai. atau segmen.1. jumlah sel berkisar antara 10-3000/ mm3 sedangkan tekanan tidak meningkat. Pada stadium prepalitik atau paralitik dini lebih banyak ditemukan leukosit PMN tapi setelah 72 jam lebih banyak ditemukan limfosit. yaitu.5. Yang paling berbahaya pada bentuk bulbar ini adalah pernafasan. C. Pemeriksaan likuor serebrospinalis menunjukkan adanya pleositosis. kadar protein yang meninggi ini bertahan selama 3-4 minggu. bulbar (bulbospinal) dan ensefalitik. darah. Istilah myelitis mengacu pada radang sumsum tulang belakang. kadar protein sedikit meninggi dan kadar glukosa serta elektrolit normal. transversal hanya menggambarkan posisi peradangan. dari hapusan tenggorokan. Peningkatan jumlah sel mencapai puncaknya pada minggu pertama kemudian akan kembali normal setelah 2 atau 3 minggu. Kadar protein berkisar antara 30-120 mg/100 ml pada minggu pertama tapi jarang melampaui 150 mg/100 ml. Definisi Myelitis Transversa adalah kelainan neurologis yang disebabkan oleh peradangan di kedua sisi dari satu tingkat. di seberang lebar dari sumsum tulang belakang. MIELITIS TRANSVERSA AKUT D. Ekstremitas inferior lebih sering terkena poliomielitis menimbulkan lebih berat pada otot-otot proksimal. substansi lemak yang meliputi isolasi sel serabut saraf. Bentuk Bulbar sering menyebabkan kelumpuhan otot pada N. dari sumsum tulang belakang.IX dan X sehingga menimbulkan gangguan menelan dan disfonia. biasanya tidak terdapat lagi progresivitas kelumpuhan. Paralisis timbul dalam waktu yang sangat cepat (beberapa jam-48 jam atau lebih lambat (10-12hari). Pola kelumpuhan bervariasi tapi hampir pasti tidak simetris. tapi kelumpuhan otot okuler jarang ditemukan.

D. yang biasanya melindungi tubuh dari organisme asing. keliru menyerang jaringan tubuh sendiri. 6 . sistem kekebalan tubuh.yang mengganggu inpuls antara saraf-saraf di sumsum tulang belakang dan seluruh tubuh. Myelitis transversa sering berkembang akibat infeksi virus. penyakit Lyme. termasuk untuk cacar dan rabies serta idiopatik. mungkin rangsangan sistem kekebalan sebagai respon terhadap infeksi menunjukkan bahwa reaksi kekebalan tubuh mungkin bertanggung jawab. Etiologi Para peneliti tidak yakin mengenai penyebab pasti transversa myelitis. Iskemia dapat terjadi di dalam sumsum tulang belakang akibat penyumbatan pembuluh darah atau mempersempit.3. Ketika arterivenosus menjadi menyempit atau diblokir. Bakteri infeksi kulit. Agen infeksi yang dicurigai menyebabkan myelitis transversa termasuk varicella zoster. influenza. Pada penyakit autoimun. menyebabkan inflamasi dan. dalam beberapa kasus.menyebabkan kerusakan myelin dalam sumsum tulang belakang Beberapa kasus myelitis transversa akibat dari malformasi arteriovenosa spinal (kelainan yang mengubah pola-pola normal aliran darah) atau penyakit pembuluh darah seperti aterosklerosis yang menyebabkan iskemia. tampaknya memainkan peran penting dalam menyebabkan kerusakan pada saraf tulang belakang. Peradangan yang menyebabkan kerusakan yang luas pada medulla spinalis dapat diakibatkan oleh infeksi virus.2. atau faktor-faktor lain yang kurang umum. Meskipun peneliti belum mengidentifikasi mekanisme yang tepat bagaimana terjadinya cedera tulang belakang dalam kasus ini. reaksi kekebalan yang abnormal. Pembuluh darah membawa oksigen dan nutrisi ke jaringan saraf tulang belakang dan membawa sisa metabolik. infeksi telinga tengah (otitis media). penurunan tingkat normal oksigen dalam jaringan sumsum tulang belakang. Patogenesis Pasca-kasus infeksi mekanisme sistem kekebalan tubuh yang aktif akibat virus atau bakteri. dan rubella. campak. D. echovirus. atau tidak cukup aliran darah melalui pembuluh darah yang terletak di sumsum tulang belakang. human immunodeficiency virus (HIV). sitomegalovirus. herpes simpleks. Epstein-Barr. dan beberapa vaksinasi. dan Mycoplasma pneumonia. Myelitis Transversa juga dapat terjadi sebagai komplikasi sifilis. mereka tidak dapat memberikan jumlah yang cukup sarat oksigen darah ke jaringan saraf tulang belakang. hepatitis A.

7 . Awalnya. sakit kepala. Tergantung pada segmen tulang belakang yang terlibat. Nyeri adalah gejala utama dari myelitis transversa pada sepertiga sampai setengah dari semua pasien. dingin. orang-orang dengan myelitis transversal mungkin menyadari bahwa kaki mereka tampak lebih berat dari biasanya.4. menggelitik. Gejala awal biasanya mencakup lokal nyeri punggung bawah. perasaan umum tidak nyaman. Rasa sakit dapat dilokalisasi di punggung bawah atau dapat terdiri dari tajam. sensasi yang memancarkan bawah kaki atau lengan atau di sekitar dada. Dari berbagai macam gejala. dan (4) disfungsi pencernaan dan kandung kemih. (2) nyeri. empat ciri-ciri klasik myelitis transversa yang muncul: (1) kelemahan kaki dan tangan. Sampai 80 persen dari mereka yang myelitis transversa memiliki kepekaan yang meningkat. atau pembakaran untuk menggambarkan gejala mereka. Gambaran klinis Myelitis transversa dapat bersifat akut (berkembang selama jam sampai beberapa hari) atau subakut (berkembang lebih dari 2 minggu hingga 6 minggu). (3) perubahan sensorik. Kebanyakan pasien akan mengalami berbagai tingkat kelemahan di kaki mereka. beberapa juga mengalaminya di lengan mereka. atau kesemutan) di kaki. Dan mengakibatkan gangguan genitourinary dan defekasi. beberapa pasien mungkin juga akan mengalami masalah pernapasan. dan kehilangan nafsu makan. Banyak pasien juga melaporkan mengalami kejang otot. yang mengharuskan pasien untuk menggunakan kursi roda. Perkembangan penyakit selama beberapa minggu sering mengarah pada kelumpuhan penuh dari kaki. menusuk. Pasien yang mengalami gangguan sensoris sering menggunakan istilah-istilah seperti mati rasa. kesemutan.D. dan paraparesis (kelumpuhan parsial kaki). demam. Paraparesis sering berkembang menjadi paraplegia. sehingga pakaian atau sentuhan ringan dengan jari signifikan menyebabkan rasa tidak nyaman atau sakit (suatu keadaan yang disebut allodynia). tiba-tiba paresthesias (sensasi abnormal seperti membakar. hilangnya sensorik.

Pungsi lumbal dapat dilakukan pada mielitis transversa biasanya tidak didapati blokade aliran likuor.6. Lokasi terhambatnya impuls saraf pada medula spinalis menentukan beratnya gejala yang timbul. mielogram serta pemeriksaan darah. Lesi kompresi medula spinalis dapat dibedakan dari mielitis karena perjalanan penyakitnya tidak akut sering didahului dengan nyeri segmental sebelum timbulnya lesi parenkim medula spinalis. Selain itu pada pungsi lumbal dijumpai blokade aliran likuor dengan kadar protein yang meningkat tanpa disertai adanya sel. Berbeda dengan sindrom Guillain Barre di mana dijumpai peningkatan kadar protein tanpa disertai pleositosis. D. biasanya diberikan pada penderita yang datang dengan gejala awitanya sedang berlangsung dalam waktu 10 hari pertama atau bila terjadi progresivitas defesit neurologik. jenis kelumpuhannya adalah flaksid serta pola gangguan sensibilitasnya di samping mengenai kedua tungkai juga terdapat pada kedua lengan. pleositosis moderat (antara 20-200 sel/mm3) terutama jenis limfosit.5.Banyak juga mengalami peningkatan sensitivitas terhadap perubahan suhu yang ekstrem atau panas atau dingin. infeksi epidural dan polineuritis pasca infeksi akut (Sindrom Guillain Barre). Dan pada sindrom Guillain Barre. Penatalaksanaan Pemberian glukokortikoid atau ACTH.7. CT scan atau MRI. Diagnosa Mielitis transversa harus dibedakan dari mielopati komprensi medula spinalis baik karena proses neoplasma medula spinalis intrinsik maupun ekstrensik. ruptur diskus intervertebralis akut. Gejala tersebut bisa semakin memburuk dan jika menjadi berat akan terjadi kelumpuhan serta hilangnya rasa disertai dengan hilangnya pengendalian pencernaan dan kandung kemih. protein sedikit meninggi (50-120 mg/100 ml) dan kadar glukosa normal. D. Perjalanan penyakit Gejala biasanya dimulai dengan nyeri punggung yang timbul secara tiba-tiba. Dilakukan pungsi lumbal . Glukokortikoid dapat diberikan dalam bentuk prednison oral 1 mg/kg berat badan/hari sebagai dosis tunggal selama 2 8 . D. diikuti oleh mati rasa dan kelemahan otot kaki yang akan menjalar ke atas.

atau diazepam 3-4 kali 5 mg/hari. lalu 20 unit dua kali per hari (selama 4hari) dan 20 unit dua kali per hari (selama 3 hari).8 mg/kg/hari dalam waktu 30 menit. Bila terjadi hiperhidrosis dapat diberikan propantilinbromid 15 mg sebelum tidur. dan untuk mencegah terjadinya infeksi traktus urinarius dilakukan irigasi dengan antiseptik dan pemberian antibiotik sebagai prolifilaksis (trimetroprim-sulfametoksasol. Pemasangan kateter diperlukan karena adanya retensi urin. Selain itu ACTH dapat diberikan secara intramuskular denagn dosis 40 unit dua kali per hari (selama 7 hari). 1 gram tiap malam). Rehabilitas harus dimulai sedini mungkin untuk mengurangi kontraktur dan mencegah komplikasi tromboemboli. Disamping terapi medikamentosa maka diet nutrisi juga harus diperhatikan. 9 . penderita diberi diet rendah garam dan simetidin 300 mg 4 kali/hari atau ranitidin 150 mg 2kali/hari. hal ini dapat diatasi dengan pemberian Baclofen 15-80 mg/hari. Pencegahan dekubitus dilakukan dengan alih baring tiap 2 jam. vitamin dosis tinggi dan cairan sebanyak 3 liter per hari diperlukan. Konstipasi dengan pemberian laksan. Bila tidak dapat diberikan per oral dapat pula diberikan metil prednisolon intravena dengan dosis 0. Selain itu sebagai alternatif dapat diberikan antasid per oral.minggu lalu secara bertahap dan dihentikan setelah 7 hari. Untuk mencegah efek samping kortikosteroid. Setelah masa akut berlalu maka tonus otot mulai meninggi sehingga sering menimbulkan spasme kedua tungkai. 125 gram protein.

Jakarta.html Sidharta.gov/disorders/transverse myelitis/detail_transversemyelitis. Victor and Adam.ninds.com/doc/2581918/KerrCurrent-therapy-chapter-withfigures?secret_password=&autodown=pdf National Institute of Neurological disorder and stroke.htm. Priguna. 2008. 2009. 2000. Transverse Myelitis.DAFTAR PUSTAKA Christine Weile. Acute transverse myelitis. 1985.com/pmr/topic6.Available http://www. Adam and Victor`s Principals of Neurology 7th Edition.nih. Transverse Myelitis Fact Sheet Available from : http://www.com/mmpe/sec16/ch224/ch224b. McGraw-Hill. 10 . 2009. Johnson et all.emedicine. Neurologi Klinis Dalam Praktek Umum. Available from : http://www. 2001. Available from : from : http://www.merck. Acute Poliomyelitis.htm The Merck Manuals Online Medical Library: The Merck Manual for Healthcare Professionals.Cetakan ke 2 .scribd.