You are on page 1of 38

Moment Distribution Method (Cross

)
• Moment Distribution Method (MDM) diperkenalkan
oleh Prof. Hardy Cross pada tahun 1930. Karena itu
metode ini sering disebut Metode Cross
• Metode ini memberi kontribusi yang sangat penting
bagi penyelesaian struktur balok dan portal statis tak
tentu
• Prinsip dari metode ini adalah menyelesaikan
persamaan-persamaan simultan pada Slope Deflection
dengan cara “successive approximations”
• Metode ini sangat efektif untuk preliminary analysis
(analisis awal) dan design dari struktur yang sedehana
atau bagian dari struktur yang besar.

8.00 m
Q = 24 kN/m

A

C

2 EI

3.00 m

DOF =1 (Θc)

P =96 kN

EI

3.00 m

B
Pada tahap awal semua joints dikunci sehingga besarnya momen yang terjadi
-FEMac = FEMca = 1/12 q L2 = 128 kNm
-FEMcb = FEMbc = 1/8 PL = 72 kNm

Proses Distribusi momen
Titik C direlease maka terjadi ketidak seimbangan karena Mca = 128 kNm;
sedangkan Mcb = -72 kNm.
Besarnya ketidak seimbangan momen sebesar 128 – 72 = 56 kNm.
Momen ini harus didistribusikan sedemikian rupa sehingga terjadi keseimbangan
Pada titik C.
Kekakuan member (Stiffness factor) AC = 4(2EI)/8 = EI
Kekakuan member (Stiffness factor) BC = 4EI/6 = 2EI/3

Distribution factor: μca: μcb = EI : 2EI/3 = 3 : 2 Atau
μca = 0,6
μcb = 0,4
Catatan: Kekakuan member = 4EI/L; mengingat pada waktu C dilepas maka
kondisi titik C mirip dengan perletakan sendi/rol, sedangkan posisi diujung
lainnya (A dan B) adalah jepit. (Lihat penurunan rumus pada Slope deflection).
Besaran 4EI/L pada balok AB disebut juga sebagai besaran momen yang
diperlukan untuk memutar sudut A (sendi) sebesar 1 radial, dengan
kondisi titik B terjepit.

Dengan demikian terjadi keseimbangan pada titik C.4) = -94.6 kNm CB = 0.4 kNm.22.6 = 94. .4 x (-56) = .4 kNm Mcb = -72 + (-22.4 kNm Akhirnya momen yang terjadi pada masing2 member: Mca = 128 – 33.6 x (-56) = .Besarnya momen yang harus didistribusikan ke masing-masing member akan proporsional dengan faktor distribusi.33. sedemikian rupa sehingga putaran sudut di titik C kiri (CA) = putaran sudut di titik C kanan (CB) Maka besarnya momen yang didistribusikan ke CA = 0.

8 kNm .128 + (-16.8) = .8 kNm .2) = 60.Proses carry over moment .144.6 kNm maka ½ dari momen ini akan dicarry over ke Mac yaitu sebesar -16. sehingga besarnya momen yang dicarry over ke BC (Mbc) adalah sebesar – 11.2 kNm .Maka akhirnya besarnya momen yang terjadi pada: Mac = .4 kNm. momen tambahan yang diterima Mcb sebesar -22.Karena pada Mca terjadi momen tambahan sebesar – 33.8 kNm Mbc = 72 + (-11.Demikian juga terjadi pada member CB.

8 B .144.6 -72 -22.8 128 .4 -94.PROSES DISTRIBUSI MOMEN C A 0 0.6 0.33.8 94.4 -128 .4 .16.2 60.4 72 -11.

Analogi P k1 k2 Berapa besar gaya yang bekerja pada pegas 1 dan pegas 2. Maka: P1 = k1 X P2 = k2 X. Sedemikian rupa sehingga keduanya turun sama besar? Asumsikan besarnya gaya yang bekerja adalah P1 dan P2. Bila k1 = 2 k2. maka besarnya P1 = ½ P2 atau P2 = 2 P1 Atau P1 = 1/3 P P2 = 2/3 P .

• DOF = 3. Rotasi yang terjadi pada joint ini tidak hanya merubah besaran momen pada titik/joint tersebut tetapi juga mempengaruhi besaran momen pada joints/titik-titik yang berada pada seberang member tersebut.1. C dan D dijadikan nol (lihat gambar 8. yaitu θb. θc dan θd.a.2. • Pada tahap awal semua joint dikondisikan agar tidak terjadi putaran sudut (dalam hal ini putaran sudut di titik B. Misalkan jika titik B yang dilepas maka titik-titik yang terpengaruhi adalah titik A dan C.Konsep • Sebagai ilustrasi diambil struktur balok di atas banyak perletakan seperti gambar 8.2. .1b) • Untuk kondisi di atas kita akan mendapatkan besaran momen pada tiap joint yaitu sama dengan besarnya Fixed-end moment (FEM) pada masing-masing titik atau juga disebut sebagai Locking moment • Jika salah satu joint dilepas (release) maka joint tersebut akan berrotasi.

.

Karena itu metode ini disebut momen distribusi . Maka FEM akan terdistribusi ke semua bagian dari struktur.Konsep • Jika tiap titik/joint secara berurutan dilepas dan dikunci (locked) kembali maka akan tiba saatnya tiap joint akan mendapatkan besaran momen yang dibutuhkan dalam meresponse besarnya deformasi.

Dan besaran Ma= 4EI/L θa. jika pada perletakan A bekerja Ma maka pada titik B akan terjadi Mb yang besarannya sama dengan ½ Ma. Ma Mb = 1/2Ma • 4EI/L disebut stiffness factor (faktor kekakuan) yaitu besarnya momen yang diperlukan untuk memutar sudut pada titik A (sendi) sebesar 1 radial dengan kondisi titik diseberangnya yaitu B terjepit. • Besaran momen dan putaran sudut adalah positif jika berputar searah jarum jam (seperti perjanjian tanda pada Slope Deflection) .Stiffness dan Carry-Over Factors • Pada sebuah balok di atas 2 perletakan dengan perletakan A sendi dan perletakan B jepit (EI konstan). • ½ disebut carry-over factor yaitu rasio atau proporsi momen pada titik jepit B terhadap momen yang terjadi pada titik A.

Distribution Factors • • • • • • Pada gambar 8.4 x 80 kN-m = 32 kN-m.333EI/(2EI+1.4.333EI)x80 kN-m = 0. Besarnya stiffness factor BA = 4E(5I)/10 = 2EI.3333EI seperti dapat dilihat pada tabel 8. sedangkan pada BC = 4E(4I)/12 = 1.333EI) x 80 kN-m = 0. Bilangan 0. sedangkan yang bekerja pada BC sebesar = 1. .6 dan 0. Rotasi ini akan mengakibatkan terjadinya momen yang berlawanan arah jarum jam di titik B yang bekerja pada member BA dan BC dengan besaran proporsional dengan kekakuan masing-masing member. Pada titik B besarnya locking momen adalah sama dengan 80kN-m (yaitu selisih momen yang bekerja pada BA dan BC (200-120=80kN-m) seperti pada gambar 8.6 x 80 kN-m = 48 kN-m.1 Maka besarnya momen yang bekerja pada BA = 2EI/(2EI+1.1b.1c Jika titik B dibebaskan (release) maka titik tersebut akan ber-rotasi berlawanan arah jarum.4 disebut distribution factors yaitu perbandingan besaran momen yang harus didistribusikan kepada member-member yang bertemu pada suatu titik.4.4.4.1a diketahui balok diatas 3 perletakan dengan besaran FEM diperlihatkan pada gambar 8.

sedangkan pada titik C akan terjadi perubahan besaran locking momen yaitu = 120-16 = 104 kN-m (searah jarum jam). • Karena titik A adalah jepit maka momen yang terinduksi pada titik A langsung diterima sebagai tambahan/pengurangan momen reaksi pada titik tersebut.Proses distribusi momen • Besaran momen (yang berlawanan arah jarum jam) pada titik B yang telah didistribusikan kepada BA (48 kN-m) dan BC (32 kN-m) akan diinduksikan sebesar ½ x 48 = 24 kN-m kepada titik A dan ½ x 32 = 16 kN-m pada titik C. besaran momen induksi 16 kNm tidak dulu diikutkan pada proses pembebasan titik C tetapi hanya FEM awal sebesar 120 kN-m yang diperhitungkan pada proses pembebasan titik C. . • Untuk memudahkan proses.

.

.

-60. -16. 0. • Besaran momen akhir didapat dengan menjumlahkan bilangan-bilangan yang terdapat pada masing-masing kolom (dimulai dari FEM). • Banyaknya siklus tergantung dari tingkat keakuratan yang diinginkan. semakin sedikit siklus maka tingkat keakuratan akan semakin rendah dan sebaliknya. Maka putaran pertama dari distribusi momen telah selesai.Proses distribusi momen • Distribution factor CB pada titik C adalah 100% atau 1 atau momen balance titik C sama dengan -120 kN-m. • Bila proses yang sama ini dilakukan beberapa siklus maka momen balance akan semakin kecil. • Pada putaran ke dua besaran unbalance moment pada tiap joints sama dengan besaran momen yang didapat dari induksi (carry-over moment) yaitu masing-masing sebesar -24. . Proses selanjutnya dilakukan seperti pada tahap pertama yaitu dengan membebaskan titik B kemudian titik C.

dan besarnya putaran sudut kiri harus sama dengan putaran sudut kanan .Pengecekan • Pengecekan dapat dilakukan dengan menggunakan persamaan Slope Deflection sbb: Mab = 2EI/L (2θa+ θb)+FEMab Mba = 2EI/L (2θb+ θa)+FEMba • Dari 2 persamaan di atas akan didapatkan θa={(Mab-FEMab)-1/2(Mba-FEMba)}/3EI/L θb={(Mba-FEMba)-1/2(Mab-FEMab)}/3EI/L • Persamaan di atas dapat juga ditulis sbb: θa={(Change )+(-1/2)(Change )}/3EI/L near end far end • Dengan demikian besarnya putaran sudut di tiap titik dapat dicari.

.

.

FEM untuk perletakan ujung sendi • Pada balok di atas 2 perletakan dengan perletakan A dan B adalah sendi. • Dengan kata lain jika pada perletakan ujung berupa sendi maka besarnya stiffness factors dapat diubah menjadi ¾ kali stiffness factors untuk perletakan ujung berupa jepit (4EI/L) .Modifikasi Stiffness Factors. pada titik A bekerja momen Ma. maka besarnya putaran sudut di titik A adalah θa=MaL/3EI atau Ma = 3EI/L θa atau besarnya stiffness factor adalah 3EI/L atau =(3/4)x4EI/L.

.

.Struktur dengan Goyangan (sideway/sway) • Sideway=2j-(2f+2h+r+m) • Penyelesai struktur dengan goyangan dapat diselesaikan dengan cara superposisi yaitu akibat tidak bergoyang ditambah dengan akibat goyangan.. • Pada tahap awal semua kemungkinan sideway dicegah dengan memberikan pendel pada titik-titik tersebut sehingga tidak terjadi goyangan. • Pada tahap selanjutnya secara bergantian (satu persatu) pendel tersebut dilepaskan dan dihitung besarnya momen akibat goyangan • Maka besarnya momen akhir adalah sama dengan momen akibat tidak bergoyang + k1 momen akibat goyangan pertama + k2 momen akibat goyangan ke dua +…….