You are on page 1of 20

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN PENYAKIT


HIRSCHSPRUNG
Di Ajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Keperawatan Anak I
Dosen pembimbing : Suhartini, SKM., M.Kes

Disusun Oleh : Kelompok 7


1.
2.
3.
4.

Bili Fajar Gustiana


Himawan Rusellah
Melysa Fauziyyah
Zaenal Ilyaas

P2.06.20.2.13.008
P2.06.20.2.13.020
P2.06.20.2.13.032
P2.06.20.2.13.043

TINGKAT II A Keperawatan

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN TASIKMALAYA
PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN CIREBON
Jalan Pemuda No. 38 Cirebon

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit Hirschprung yang juga dikenal sebagai megakolon aganglionik,
adalah penyakit kongenital yang ditandai tidak adanya sel-sel ganglion
parasimpatik pada sebagian kolon (dan kadang-kadang pada ileum). Keadaan
aganglionosis ini mengakibatkan kurangnya peristaltis pada segmen usus yang
terkena,

yang

biasanya

menyebabkan

obstruksi

dan

kesulitan

atau

ketidakmampuan untuk mengeluarkan feses.


Penyakit Hirschsprung empat kali lebih sering mengenai bayi atau anak
laki-laki daripada perempuan, mengikuti pola familial pada sejumlah kecil kasus
dan cukup sering dijumpai di antara anak-anak yang menderita sindrom Down.
Insidensi penyakit Hirschsprung tidak diketahui secara pasti tetapi berkisar
1 diantara 5000 kelahiran hidup. Dengan jumlah penduduk Indonesia 200 juta dan
tingkat kelahiran 35 per mil, maka diprediksikan setiap tahun akan lahir 1400 bayi
dengan penyakit Hirschsprung. Kartono mencatat 20-40 pasien penyakit
Hirschsprung yang dirujuk setiap tahunnya ke RSUP Cipto Mangun Kusumo
Jakarta. (Kartono, 2004).
Insidensi penyakit Hirschsprung bervariasi sesuai dengan kelompokkelompok suku, seperti pada Hispanic 1:10000, Amerika-Kaukasian 1,5:10000,
Afro-Amerika 2,1:10000, dan Asia 2,8:10000. Laki-laki lebih sering terkena
dibandingkan perempuan dengan rasio 4:1 (Amiel et al, 2008). Di Indonesia
diperkirakan lahir 1200 bayi dengan Hirschsprung diseases setiap tahun. Selain
itu, jumlah pasien Hirschsprung disease di Banda Aceh pada tahun 2011
didapatkan pasien sebanyak 76 orang dengan persentase laki-laki sekitar 73,08%
dan perempuan 26,92% (Nasrizani dan Muntadhar, 2012). Di RSUP Prof. Dr. R.
D. Kandou Manado periode Januari 2010-September 2014 ada sekitar 45 kasus
pasien dengan diagnosis Hirschsprung (Elfianto et al, 2014).

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Bagaimana asuhan keperawatan pada anak dengan penyakit


Hirschsprung?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk mengetahui dan memahami asuhan keperawatan pada anak
dengan penyakit Hirschsprung.

BAB II

TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi Penyakit Hirschsprung
Penyakit Hirschsprung (megakolon aganglionik konginetal) merupakan
obstruksi mekanis yang disebabkan oleh ketidakadekuatan motilitas bagian usus
(Wong, 1997).
Penyakit hirschprung yang juga dikenal sebagai megakolon aganglionik,
adalah penyakit kongenital yang ditandai tidak adanya sel-sel ganglion
parasimpatik pada sebagian kolon (dan kadang-kadang pada ileum). Keadaan
aganglionosis ini mengakibatkan kurangnya peristaltis pada segmen usus yang
terkena,

yang

biasanya

menyebabkan

obstruksi

dan

kesulitan

atau

ketidakmampuan untuk mengeluarkan feses. (Speer, Kathleen Morgan. 2008)


Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa penyakit
Hirschsprung adalah obstruksi mekanis yang disebabkan oleh ketidakadekuatan
motilitas bagian usus yang ditandai tidak adanya sel-sel ganglion parasimpatik
pada sebagian kolon.
2.2 Klasifikasi
Berdasarkan panjang segmen yang terkena, dapat dibedakan menjadi 2
tipe yaitu:
1. Penyakit Hirschsprung segmen pendek
Segmen aganglionosis mulai dari anus sampai sigmoid; ini merupakan
70% dari kasus penyakit Hirschsprung dan lebih sering ditemukan
pada anak laki-laki dibanding anak perempuan.
2. Penyakit Hirschsprung segmen panjang
Kelainan dapat melebihi sigmoid, bahkan dapat mengenai seluruh
kolon atau usus halus. Ditemukan sama banyak pada anak laki-laki
maupun perempuan. (Ngastiyah, 2005)

2.3 Etiologi
Etiologi penyakit Hirschsprung belum dipahami sepenuhnya, namun ada
beberapa penyebab yang biasanya terjadi, antara lain:

1. Sering terjadi pada anak dengan Down Syndrome.


2. Kegagalan sel neural pada masa embrio dalam dinding usus, gagal
ekstensi kraniokaudal pada myentrik dan submukosa dinding pleksus.
Penyebab Hirschsprung masih belum jelas namun diduga Hirschsprung
terjadi karena kegagalan sel-sel krista neuralis untuk bermigrasi ke dalam dinding
suatu bagian saluran cerna bagian bawah termasuk kolon dan rektum. Akibatnya
tidak ada ganglion parasimpatis (aganglion) di daerah tersebut, sehingga
menyebabkan peristaltik usus menghilang sehingga profulsi feses dalam lumen
terlambat serta dapat menimbulkan terjadinya distensi dan penebalan dinding
kolon di bagian proksimal sehingga timbul gejala obstruktif usus akut, atau kronik
tergantung panjang usus yang mengalami aganglion.
2.4 Manifestasi Klinik
2.4.1 Periode BBL :
a. Kegagalan untuk mengeluarkan mekonium dalam waktu 24 jam
hingga 48 jam sejak lahir.
b. Keengganan untuk mengkonsumsi cairan.
c. Muntah yang bernoda empedu.
d. Distensi abdomen.
2.4.2 Bayi
a. Kegagalan tumbuh kembang
b. Konstipasi
c. Distensi abdomen
d. Episode diare dan vomitus
e. Tanda-tanda yang mengancam (yang sering menandai adanya
enterokolitis)
a. Diare yang menyerupai air dan menyemprot.
b. Demam.
c. Keadaan umum yang buruk.
2.4.3 Anak-anak
a. Konstipasi.
b. Feses mirip tambang dan berbau busuk.
c. Distensi abdomen.
d. Terkadang, terdapat gerakan peristaltis usus yang terlihat.
e. Massa feses yang mudah teraba.
f. Anak biasanya tampak malnutrisi yang anemik.
(gejala pada anak biasanya lebih kronis)

2.5 Patofisiologi
Dalam keadaan normal, bahan makanan yang dapat dicerna dapat
berjalan di sepanjang usus karena adanya kondisi ritmis dari otot-otot yang
melapisi usus (kontraksi ritmis ini disebut gerakkan peristaltik). Kontraksi
otot-otot tersebut dirangsang oleh sekumpulan sarafyang disebut ganglion,
yang terletak dibawah lapisan otot. Pada penyakit hirschprung ganglion atau
pleksus yang memerintah gerakkan peristaltik tidak ada, biasanya hanya
sepanjang beberapa sentimeter. Segmen usus yang tidak memiliki gerakan
peristaltik tidak dapat mendorong bahan-bahan yang dicerna sehingga
terjadi penyumbatan. (Dasgupta dalam Arief, 2004)
Dengan kondisi tidak adanya ganglion, maka akan memberikan
manifestasi gangguan atau tidak adanya peristaltik sehingga akan terjadi

tidak adanya evakuasi usus spontan. Selain itu, sfingter rektum tidak dapat
berelaksasi secara optimal, kondisi ini dapat mencegah keluarnya feses
secara normal. Isi usus kemudian terdorong ke segmen aganglionik dan
terjadi akumulasifeses di daerah tersebut sehingga memberikan manifestasi
dilatasi usus pada bagian proksimal.
Kondisi

penyakit hirschprung memberikan berbagai masalah

keperawatan pada pasien dan memberikan implikasi pada pemberian asuhan


keperawatan.

Absensi ganglion Meissner dan Auerbach

Pathway penyakit Hirschsprung


Gangguan motilitas usus
Mual, muntah, diare

Intake makanan tidak adekuat

Obstipasi
Tidak ada mekonium

Distensi abdomen
Gangguan pola BAB
(konstipasi)

Resiko volume cairan tubuh berkurang


Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Gangguan rasa nyaman: nyeri


Perubahan status kesehatan

Pembedahan
Koping keluarga tidak efektif
7
Resiko gangguan integritas kulit
Resiko infeksi

Sumber : Ngastiyah, 2005.

2.6 Komplikasi
Adapun komplikasi penyakit Hirschsprung, antara lain :
a.
b.
c.
d.

Gawat pernapasan (akut)


Enterokolitis (akut)
Striktura ani (pascabedah)
Inkontinensia (jangka panjang)

2.7 Pemeriksaan Diagnostik


a. Foto abdomen (terlentang, tegak, telungkup, dekubitus lateral)diagnostik akan memperlihatkan usus-usus melebar atau terdapat
gambaran obstruksi usus rendah.
b. Enema barium- diagnostik.
c. Biopsi rektal- untuk mendeteksi ada tidaknya sel ganglion
d. Manometri anorektal- untuk mencatat respon refluks sfingter interna dan
eksterna.
8

Manifestasi klinis bervariasi menurut usia ketika gejala penyakit ini dikenali
dan keberadaan komplikasi seperti enterokolitis. Pada neonatus, biasanya
diagnosis ditegakkan berdasarkan tanda-tanda klinis obstruksi intestinal dan
ketidakmampuan usus untuk mengeluarkan mekonium. Pembuatan foto sinar-x,
barium enema dan pemeriksaan dengan manometer anorektal dapat membantu
dalam menyusun diagnosis banding; diagnosis ini dikonfirmasikan oleh
pemeriksaan histologik terhadap hasil biopsi rektum full-thickness (ketebalan
penuh) yang memperlihatkan tidak adanya sel-sel ganglion dalam pleksus
mienterika dan submukosa.
2.8 Penatalaksanaan Medis
Terapi

utama

penyakit

Hirschsprung

adalah

pembedahan

untuk

mengangkat bagian usus yang aganglionik agar obstruksi usus dapat dihilangkan
dan motilitas usus serta fungsi sfingter ani interna dapat dipulihkan kembali. Pada
sebagian besar kasus, pembedahan dilakukan dalam dua tahap.
Pertama, pembedahan membuat ostomi temporer di sebelah proksimal segmen
yang aganglionik untuk menghilangkan obstruksi dan memungkinkan pemulihan
usus yang enervasinya normal serta mengalami dilatasi itu kembali kepada
ukurannya yang normal.
Kedua, pembedahan korektif total biasanya dilakukan ketika berat badan
ketika berat badan anak mencapai kurang lebih 9 kg. Ada beberapa prosedur
pembedahan yang dapat dikerjakan dan prosedur tersebut meliputi prosedur
Swenson, Duhamel, Boley serta Soave. Prosedur pull-through endorektal Soave,
yang merupakan salah satu prosedur yang paling sering dilakukan, terdiri atas
tindakan menarik ujung usus yang normal lewat sleeve muskuler rektum dan dari
situ bagian mukosa aganglionik dibuang. Ostomi biasanya ditutup pada saat
dilakukan prosedur pull-through.
Prognosis. Sebagian besar anak yang menderita penyakit Hirschsprung
memerlukan tindakan pembedahan dan bukan terapi medis. Setelah keadaan
umum pasien dibuat stabil dengan pemberian infus cairan dan elektrolit jika
diperlukan, operasi kolostomi temporer dikerjakan dan operasi ini memiliki angka
keberhasilan yang tinggi. Sesudah pelaksanaan operasi pull-through yang
dilakukan kemudian, striktur ani dan inkontinensia merupakan komplikasi yang
9

potensial terjadi dan memerlukan tindakan lebih lanjut, meliputi terapi dilatasi
atau bowel-retraining.
Penelitian yang dilakukan di Irlandia, mayoritas pasien mengalami
komplikasi enterokolitis berlanjut pada gangguan fungsi usus beberapa tahun
kemudian (Menezes dan Puri, 2006). Selain itu, pada tahun 2010 di kota yang
sama, pasien memiliki fungsi usus normal pasca tindakan operasi pull-through
(Doodnath dan Puri, 2010). Penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Universitas
Zagazig, outcome jangka pendek dan panjang pasca operasi transanal pullthrough terbilang baik. Namun, follow-up jangka panjang dibutuhkan untuk
mengetahui dan mengobati komplikasi dan disfungsi usus. Enterokolitis yang
didapatkan sebelum operasi mennigkatkan insiden pasca operasi seperti diare,
enterokolitis dan ekskoriasi perineum (Saleh et al, 2009).

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN PENYAKIT
HIRSCHSPRUNG
3.1 Pengkajian Keperawatan
A. Identitas pasien
Nama
Umur
Jenis kelamin
Suku/bangsa
Agama
Status perkawaninan
Pendidikan/pekerjaan
Alamat
Tanggal MRS
No. Register

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

B. Keluhan utama
Masalah yang dirasakan klien yang sangat mengganggu pada saat
dilakukan pengkajian pada klien Hirschsprung misalnya, sulit BAB,
distensi abdomen, kembung, mual dan muntah.
10

C. Riwayat penyakit sekarang


Kaji adanya keluhan mekonium keluar setelah 24 jam setelah lahir,
distensi abdomen dan muntah hijau atau fekal. Tanyakan sudah berapa
lama gejala dirasakan klien dan tanyakan bagaimana upaya klien
mengatasi masalah tersebut. Gejala ringan berupa konstipasi selama
beberapa minggu atau bulan yang diikuti dengan obstruksi usus akut.
Namun ada juga yang konstipasi ringan, enterokolitis dengan diare,
distensi abdomen, dan demam. Diare berbau busuk dapat terjadi.
D. Riwayat penyakit dahulu
Kaji apakah klien sebelumnya pernah melakukan operasi, riwayat
kehamilan, persalinan dan kelahiran, riwayat alergi dan imunisasi.
E. Riwayat kesehatan keluarga
Kaji dan tanyakan pada orang tua apakah ada anggota keluarga yang lain
yang menderita Hirschsprung.
F. Riwayat nutrisi
Kaji meliputi masukan diet pada anak dan pola makan anak
G. Riwayat psikologis
Kaji bagaimana perasaan klien terhadap kelainan yang diderita apakah ada
perasaan rendah diri.
H. Riwayat tumbuh kembang
Kaji dan tanyakan sejak kapan, berapa lama klien merasakan udah BAB.
3.2 Pengkajian Berdasarkan Usia
A. Neonatus
Gastrointestinal

Distensi abdomen.
Muntah empedu.
Tidak ada meconium keluar selama 48 jam pertama kehidupan,

khususnya jika disertai dengan diare.


Tidak tertarik untuk makan.

Respirasi

Kegawatan pernapasan

Kardiovaskular

Syok

Integument
Demam yang tidak dapat dijelaskan
B. Anak yang berusia lebih tua
Gastrointestinal
11

Konstipasi atau feses seperti pita.


Muntah
Distensi abdomen
Tanda-tanda malnutrisi (penurunan berat badan, perkembangan fisik
terlambat.

3.3 Pemeriksaan Fisik


A. Inspeksi
Lihat adanya distensi abdomen dan/atau spasme anus.
Abdomen terlihat perut cembung atau membuncit seluruhnya.
Adanya perubahan feses seperti pita dan berbau busuk.
B. Palpasi
Teraba perut lunak hingga tegang.
Teraba dilatasi kolon abdominal.
C. Perkusi
Terdapat timpani akibat abdominal mengalami kembung.
D. Auskultasi
Bising usus melemah atau jarang.
3.4 Pemeriksaan Fisik Persistem
a. Sistem kardiovaskuler
Takikardi
b. Sistem pernapasan
Sesak napas, distress pernapasan
c. Sistem pencernaan
Umumnya obstipasi. Perut kembung/perut tegang, muntah berwarna hijau.
Pada anak yang lebih besar terdapat diare kronik.pada colok anus akan
merasakan jepitan dan pada waktu ditarik akan diikuti dengan keluarnya
udara dan mekonium atau tinja yang menyemprot.
d. Sistem genitourinarius
Tidak ada kelainan
e. Sistem saraf
Pada pemeriksaan patologi anatomi, tidak

ditemukan

ganglion

parasimpatis (sel ganglion Auerbach dan Meissner), serabut sarafnya


menebal dan serabut ototnya hipertrofik.
f. Sistem muskuloskeletal
Gangguan rasa nyaman
g. Sistem endokrin
Tidak ada kelainan
h. Sistem integumen
Akral hangat, hipertermi
i. Sistem pendengaran
12

Tidak ada kelainan


3.5 Pengkajian Keperawatan Prabedah dan Pascabedah
Prabedah
a.
b.
c.
d.

Kaji status klinis anak (tanda-tanda vital, asupan dan keluaran).


Kaji adanya tanda-tanda perforasi usus.
Kaji adanya tanda-tanda enterokolotis.
Kaji kemampuan anak dan keluarga untuk melakukan koping terhadap

pembedahan yang akan datang.


e. Kaji tingkat nyeri yang dialami anak.
Pascabedah
a. Kaji status pascabedah anak (tanda-tanda vital, bisisng usus, distensi
b.
c.
d.
e.
f.

abdomen).
Kaji tanda-tanda adanya dehidrasi atau kelebihan cairan.
Kaji adanya komplikasi.
Kaji tanda-tanda adanya infeksi.
Kaji tingkat nyeri yang dialami anak
Kaji kemampuan anaka dan keluarga untuk melakukan koping

terhadap pengalamannya di rumah sakit dan pembedahan.


g. Kaji kemampuan orang tua dalam menatalaksanakan pengobatan dan
perawatan yang berkelanjutan.
3.6 Diagnosa Keperawatan
a. Konstipasi berhubungan dengan aganglionosis.
b. Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.
c. Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan penurunan
asupan, mual, muntah, atau peningkatan permukaan absorptif usus
yang distensi.
d. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kurangnya intake makanan yang adekuat.
e. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan terpajan dari feses
sekunder akibat kolostomi atau ileostomy.
f. Risiko infeksi area insisi berhubungan dengan dengan kontaminasi
feses.
3.7 Intervensi Keperawatan
Diagnosa 1

Konstipasi berhubungan dengan aganglionosis.


Hasil yang diharapkan

:
13

Anak akan mengalami defekasi teratur yang ditandai oleh berkurangnya


distensi abdomen, rasa tidak nyaman berkurang, aliran balik enema atau
irigasi rectum yang jernih.
Intervensi
Rasional
Lakukan enema atau irigasi rectum, sesuai Evakuasi usus meningkatkan tingkat rasa
program.

nyaman anak dan mengurangi risiko perforasi

usus akibat obstruksi


Kaji bisisng usus dan abdomen anak setiap 4 Pengkajian yang demikian diperlukan untuk
jam. Laporkan penurunan atau tidak adanya memastikan fungsi usus dengan benar dan
bisisng usus.
terapi yang diberikan tepat.
Ukur lingkar abdomen anak, sesuai program, Pengukuran lingkar abdomen mendeteksi
dengan menggunakan titik referensi yang distensi.
konsisten, dan pita pengukur yang sama
setiap waktu.
Diagnosa 2

Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.


Hasil yang diharapkan

Nyeri akan berkurang ditandai dengan penurunan intensitas kolik abdomen,


skala nyeri 0-1 dari (0-5), dapat mengidentifikasikan aktivitas yang
meningkatkan atau menurunkan nyeri, anak tidak rewel.
Intervensi
Kaji respon nyeri dengan melakukan PQRST

Rasional
Pendekatan komprehensif untuk menentukan

Lakukan manajemen nyeri keperawatan:

rencana intervensi
Istirahat secara fisiologis akan menunjukan

Istirahatkan pasien pada saat nyeri muncul.

kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk

Atur posisi fisiologis.

memenuhi kebutuhan metabolisme basal.


Posisi semifowler dengan fleksi pada
ektremitas bwah dapat mengurangi tegangan
otot abdomen dan juga pada kondisi pasca
bedah dengan adanya insisi sehingga dapat
menurunkan stimulus nyeri.
Pada fase nyeri hebat skala nyeri 3 (0-5),

Beri oksigen nasal

pemberian oksigen nasal 3 liter/menit dapat


meningkatkan oksigen sehingga akan
14

menurunkan nyeri sekunder dari iskemia pada


Lakukan pemasangan selang nasogastrik

intestinal.
Tujuan pemasangan selang nasogastrik pada
obstruksi usus halus adalah intervensi
dekompresi akibat respons peningkatkan
sekresi saluran gastrointestinal. Apabila
tindakan dekompresi ini optimal, maka akan
menurunkan distensi abdominal pada pasien

Lakukan teknik distraksi pada saat nyeri.

obstruksi usus halus.


Distraksi (pengalihan perhatian) dapat
menurunkan stimulus internal.pada anak
anak, mungkin memerlukan media alat
permainan atau yang sering disenangi atau

Manajemen lingkungan tenang, batasi

yang biasa digunakan untuk bermain.


Lingkungan tenang akan menurunkan

pengunjung, dan istirahatkanlah pasien

stimulus nyeri eksternal dan pembatasan


pengunjung akan membantu meningkatkan
kondisi

oksigen

ruangan

yang

akan

bertkurang apabila banyak pengunjung yang


berada di ruangan. Istirahat akan menurunkan
Kolaborasi dengan tim medis pemberian

kebutuhan oksigen jaringan perifer.


Analgetik memblok lintasan nyeri sehingga

analgetik.

nyeri akan berkurang.

Diagnosa 3

Risiko kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan penurunan


asupan, mual muntah, atau peningkatan permukaan absorptif usus yang
distensi.
Hasil yang diharapkan

Anak akan mempertahankan keseimbangan cairan yang ditandai oleh haluaran


urine sebesar 1-2 ml/kg/jam, waktu pengisian kembali kapiler tiga hingga lima
detik, turgor kulit baik, dan membrane mukosa lembab.
Intervensi
Rasional
Timbang berat badan anak setiap hari, dan Menimbang berat badan setiap hari dan

15

dengan cermat pantau asupan dan haluaran pemantauan cermat terhadap asupan dan
cairan.

haluaran cairan mengindikasikan status cairan

Beri cairan intravena, sesuai program.

anak.
Anak mungkin membutuhkan cairan intravena
jika ia mengalami dehidrasi atau berisiko

mengalami dehidrasi.
Gunakan larutan salin atau antibiotic, bukan Air biasa dapat menyebabkan intoksikasi air
air biasa, ketika memberi enema atau irigasi akibat peningktan permukaan absorptive bila
rectum.
Diagnosa 4

terjadi distensi abdomen.


:

Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kurangnya


intake makanan yang adekuat.
Hasil yang diharapkan

Asupan nutrisi dapat optimal dilaksanakan, ditandai dengan bisisng usus


kembali normal dengan frekuensi 5-25 x/menit, terjadi penurunan gejala
kembung dan distensi abdomen, berat badan pada hari ke 7 pasca bedah
meningkat minimal 0,5 kg.
Intervensi
Rasional
Evaluasi secara berkala kondisi motalitas Sebagai data dasar teknik pemberian asupan
usus.

nutrisi

16

Hindari intake apapun secara oral.

Umumnya menunda intake makan oral


sampai tanda klinis ileus berakhir. Namun,
kondisi ileus tidak menghalangi pemberian
nutrisi enteral.
Pemberian enteral diberikan secara hati-hati

Berikan nutrisi parenteral

dan dilakukan secara bertahap sesuai tingkat


Pantau intake dan output, anjuran timbang

toleransi dan pasien.


Berguna dalam mengukur keefektifan nutrisi

berat

dan dukungan cairan.

badan

secara

periodic

(sekali

seminggu).
Lakukan perawatan mulut.

Intervensi ini untuk menurunkan risiko

Kolaborasi dengan ahli gizi mengenal jenis

infeksi oral.
Ahli gizi harus terlibat dalam penentuan

nutrisi yang akan digunakan pasien.

komposisi dan jenis makanan yang akan


diberikan sesuai dengan kebutuhan individu.

Diagnosa 5

Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan terpajan dari feses


sekunder akibat kolostomi atau ileostomy
Hasil yang diharapkan

Anak tidak akan memperlihatkan tanda-tanda kerusakan kulit yang ditandai


oleh kulit tetap utuh sekitar tempat kolostomi, atau are ileostomy yang bebas
dari kemerahan atau iritasi
Intervensi
Rasional
Gunakan kantong ostomi berukuran pas Pemasangan yang tepat dan penggunaan
dengan barrier kulit yang efektif (misalnya, barrier kulit melindungi rasa periostoma dari
Hollihesive,

Stomahesive,

atau

Comfed) efek korosif dari feses. Memeberi bahan

untuk melindungi kulit dari kontak langsung pelindung tanpa sebuah kantong biasanya
dengan feses
mengakibatkna kerusakan kulit
Ganti kantong ostomi kapan pun kantong Kebocoran
menyebabkan
feses
bocor atau diduga bocor. Periksa kantong bersentuhan
setiap 2 jam
Kosongkan kantong

ostomi

kapan

dengan

kulit,

risiko kerusakan kulit


pun Membiarkan
kantong

dapat

meningkatkan

terisisi

penuh

kantong penuh misalnya telah terisi sebanyak meningkatkan risiko kebocoran, karena berat
seperempat hingga sepertiga bagian

feses dapat menarik perekat dari kulit


17

Ganti kantong ostomi sekurang-kurangnya Penggantian

kantong

setiap

hari

sekali setiap 24 jam sampai area periostoma memungkinkan pemantauan area periostoma
sembuh

lebih sering, dan memastikan terapi yang tepat


pada kasus pemulihan yang tidak sempurna
(daerah periostoma biasanya memulih dalam

1-3 hari)
Apabila kerusakan kulit terjadi, lakukan Bergantung pada derajat kerusakan kulit, anak
terapi luka sesuai yang diprogramkan dokter, mungkin
ahli terapis enterostoma, atau perawat ostomi

memerlukan

berbagai

terapi

(misalnya, penggunaan matras busa, bantalan


donat, preparat kulit, atau cincin karaya)

Diagnosa 6

Risiko infeksi area insisi yang berhubungan dengan kontaminasi feses.


Hasil yang diharapkan

Insisi pada anak akan memulih dengan normal yang ditandai oleh tidak ada
tanda atau gejala eritema, indurasi, atau drainase dan suhu tubuh kurang dari
37,8C.
Intervensi
Rasional
Ganti kantong ostomi segera jika bocor atau Mengganti kantong ostomi mencegah kontak
diduga

bocor. Penggantian

ini

penting, yang lama anatara insisi dan feses sehingga

khususnya jika barrier kulit atau kantong membantu mencegah kerusakan kulit.
ostomi menutupi area insisi.
Apabila kantong ostomi menutup insisi, ganti Mengganti

kantong

ostomi

kantong ostomi setiap hari sampai insisi memungkinkan deteksi dini

setiap

hari

terjadinya

menjadi pulih. Perhatikan setiap tanda infeksi, kontaminasi, dan tanda-tanda infeksi serta
termasuk kemerahan, drainase purulent, dan mendukung terapi yang telah diprogramkan.
pembengkakan.

18

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Penyakit hirschprung yang juga dikenal sebagai megakolon aganglionik,
adalah penyakit kongenital yang ditandai tidak adanya sel-sel ganglion
parasimpatik pada sebagian kolon (dan kadang-kadang pada ileum). Penyakit ini
belum dipahami sepenuhnya, namun penyebab terjadinya penyakit ini biasanya
sering terjadi pada anak dengan Down Syndrome atau bisa disebabkan karena
kegagalan sel neural pada masa embrion dalam dinding usus.
Manifestasi klinis Hirschsprung berupa konstipasi, diare berulang, tinja
seperti pita, berbau busuk, distensi abdomen dan gagal tumbuh. Komplikasi
berupa gawat pernapasan (akut), enterokolitis (akut), striktura ani (pascabedah),
dan inkontinensia (jangka panjang).
4.2 Saran
Penyakit Hirschsprung merupakan penyakit yang sering menimbulkan
masalah,

baik

masalah

fisik,

psikologis

maupun

psikososial.

Masalah

pertumbuhan dan perkembangan anak dengan penyakit Hirschsprung yaitu


terletak pada kebiasaan buang air besar. Orang tua yang mengusahakan agar
anaknya bisa buang besar dengan cara yang awam akan menimbulkan masalah
baru bagi bayi/anak. Penatalaksanaan yang benar seperti tindakan pembedahan
pada kasus penyakit Hirschsprung harus dipahami dengan benar oleh seluruh
pihak, baik tenaga medis maupun keluarga. Untuk tercapainya tujuan yang

19

diharapkan perlu terjalin hubungan kerjasama yang baik antara pasien, keluarga,
dokter, perawat maupun tenaga medis lainnya dalam mengantisipasi kemungkinan
yang terjadi.

DAFTAR PUSTAKA
Wong, Donna. L. 1997. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik, edisi 6. Jakarta: EGC.
Speer, Kathleen Morgan. 2008. Rencana Asuhan Keperawatan Pediatrik dengan
Clinical Pathways, Ed. 3. Jakarta: EGC.
Kartono, Darmawan. 2004. Penyakit Hirschsprung. Jakarta: Sagung Seto.
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC
Betz, Cecily & Linda A.Sowden. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatrik edisi
ke-3. Jakarta: EGC
https://www.scribd.com/doc/246418747/Laporan-Hysprung
(di akses pada tanggal 16 Maret 2015)
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/eclinic/article/viewFile/6822/6346
(di akses pada tanggal 26 Maret 2015)
https://www.scribd.com/doc/230777585/referat-hirschsprung
(di akses pada tanggal 26 Maret 2015)

20