6

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Manajemen 2.1.1. Pengertian Manajemen Menurut Hasibuan (2000), manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber daya lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Selanjutnya menurut Handoko (1984), bahwa manajemen didefinisikan sebagai bekerja dengan orang-orang untuk menentukan dan menginterpretasikan dan mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, penyusunan personalia, pengarahan dan

kepemimpinan dan pengawasan. Sedangkan menurut Manullang (2001), manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan, dan pengawasan sumber daya untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Berdasarkan ketiga pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa tugas manajemen adalah mengadakan koordinasi dengan sejumlah aktivitas atau kegiatan orang lain yang meliputi Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling (POAC).

7

2.1.2. Fungsi Manajemen Pelaksanaan kegiatan akan berjalan lancar apabila pihak manajemen perusahaan mampu mengaplikasikan unsur/fungsi manajemen. Menurut Terry (1994), manajemen terdiri dari beberapa fungsi, antara lain: 1) Perencanaan (Planning) Menurut Siswanto (2005), perencanaan adalah proses dasar yang digunakan untuk memilih tujuan dan menentukan cakupan pencapaiannya. Selanjutnya dikatakan bahwa merencanakan berarti mengupayakan penggunaan sumber daya manusia (human resources), sumber daya alam (natural sources), dan sumber daya lainnya (other resources) untuk mencapai tujuan. Suatu perencanaan adalah suatu aktivitas integratif yang berusaha memaksimumkan efektifitas seluruhnya dari suatu organisasi sebagai suatu system, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai (Siswanto, 2005). Berdasarkan definisi tersebut, perencanaan minimum memiliki tiga karakteristik berikut: 1) Perencanaan tersebut harus menyangkut masa yang akan datang. 2) Terdapat suatu elemen identifikasi pribadi atau

organisasi, yaitu serangkaian tindakan di masa yang akan datang dan akan diambil oleh perencana. 3) Masa yang akan datang, tindakan dan identifikasi pribadi, serta organisasi merupakan unsur yang amat penting dalam setiap perencanaan.

7

Perencanaan dapat dianggap sebagai suatu kumpulan keputusan-keputusan dimana perencanaan tersebut dianggap sebagai langkah mempersiapkan tindakantindakan untuk masa yang akan datang dengan jalan membuat keputusan sekarang/saat ini (Winardi, 1979). Selanjutnya dikatakan bahwa dalam perencanaan diklasifikasikan dalam tiga waktu antara lain:
1) Perencanaan jangka pendek (Short range), yang mencakup waktu kurang dari

satu tahun.
2) Perencanaan jangka menengah (Intermediate range), yang meliputi waktu

lebih dari satu tahun tapi kurang dari lima tahun.
3) Perencanaan jangka panjang (Long range), meliputi waktu lebih dari lima

tahun. 2) Pengorganisasian (Organizing) Organisasi dapat didefinisikan sebagai sekelompok orang yang saling berinteraksi dan bekerja sama untuk merealisasikan tujuan bersama. Berdasarkan definisi di atas, dapat dikatakan bahwa dalam suatu organisasi minimum mengandung tiga elemen yang saling berhubungan. Ketiga elemen tersebut adalah sekelompok orang, interaksi dan kerja sama, serta tujuan bersama (Siswanto, 2005). Oleh karena itu, organisasi dikatakan sebagai wadah berarti suatu tempat orang berinteraksi dan bekerja sama. Sedangkan organisasi dikatakan sebagai alat berarti sebagai alat untuk merealisasikan tujuan bersama di antara orang yang berinteraksi dan bekerja sama tersebut.

7

Selanjutnya menurut (Siswanto, 2005), bahwa organisasi dapat diartikan dalam arti dinamis maupun dalam arti statis. Organisasi dalam arti dinamis adalah suatu proses penetapan dan pembagian kerja yang akan dilakukan, pembatasan tugas dan kewajiban, otoritas dan tanggung jawab, serta penetapan hubungan di antara elemen organisasi. Dengan demikian, orang yang bergabung dalam organisasi tersebut dapat bekerja sama untuk merealisasikan tujuan bersama secara efisien dan efektif. Organisasi dalam arti statis adalah suatu bagan atau struktur yang berwujud dan bergerak demi tercapainya tujuan bersama, dalam istilah lain sering disebut sebagai struktur atau tata raga organisasi. Jadi, struktur organisasi adalah suatu manifestasi atau perwujudan organisasi yang menunjukkan hubungan antara fungsi otoritas dan tanggung jawab atas setiap aktivitas. Struktur organisasi dapat dipandang sebagai desain yang terpadu dan utuh yang menunjukkan hubungan fungsi dari masing-masing orang yang terikat di dalamnya (Siswanto, 2005). 3) Penggerakan (Actuating) Menurut Terry (1994), actuating adalah menempatkan semua anggota daripada golongan untuk mengingini, mencapai dan berjuang untuk mencapai sesuatu objektif secara sukarela dan sejalan dengan manajerial planning dan usaha organizing. Sedangkan menurut Winardi (1979), hal dasar dalam tindakan actuating adalah manajemen yang berpandangan progresif, maksudnya para manajer harus menunjukkan melalui perlakuan dan keputusan-keputusan bahwa mereka mempunyai perhatian yang lebih untuk anggota-anggota organisasi mereka. Lebih

8

lanjut dikatakan bahwa hal yang fundamental bagi suksesnya manajemen adalah berusaha agar para anggota mau melaksanakan pekerjaannya, kepercayaan dan keyakinan terhadap masing-masing pegawai, usaha untuk memelihara lingkungan kerja yang memuaskan semua pihak dan diterimanya fakta bahwa kesediaan serta kapasitas setiap orang untuk melaksanakan pekerjaan secara antusias membantu suksesnya usaha (Winardi, 1979). 4) Pengendalian (Controlling) Controlling dapat didefinisikan sebagai proses penentuan apa yang akan dicapai yaitu standar, apa yang sedang dihasilkan yaitu pelaksanaan, menilai pelaksanaan dan bilamana perlu mengambil tindakan korektif sehingga pelaksanaan dapat berjalan menurut rencana. (Terry, 1994). Sedangkan Menurut Anoraga (1997), pengendalian adalah suatu proses untuk memastikan bahwa aktifitas aktual perusahaan sesuai dengan yang telah direncanakan. Selanjutnya menurut Winardi (1979), controlling atau pengawasan dapat dianggap sebagai aktivitas untuk menemukan, mengoreksi penyimpanganpenyimpangan penting dalam hasil yang dicapai dari aktivitas-aktivitas yang direncanakan. Berdasarkan kedua pendapat tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pengawasan harus dilaksanakan dengan optimal untuk mengusahakan agar komitmen-komitmen yang sudah ditentukan dilaksanakan. Kegagalan

pengawasan berarti cepat atau lambat adanya kegagalan perencanaan dan suksesnya perencanaan berarti suksesnya pengawasan. Apabila pengawasan jelas

9

menunjukkan bahwa perencanaan tersebut tidak diimplementasi maka harus dilakukan usaha baru. 2.1.3. Tujuan Manajemen Menurut Anoraga (1997), tujuan dari manajemen adalah mengubah sumber daya yang ada agar menjadi suatu hasil yang memiliki nilai untuk mencapai sasaran perusahaan 2.1.4. Peranan Manajemen Menurut Anoraga (1997), di dalam menyelesaikan fungsi manajemen seorang manajer mempunyai tiga peran utama untuk dilaksanakan, yaitu: 1) Peranan Interpersonal Manajer melakukan beberapa kegiatan atas dasar posisi mereka dalam hierarki manajerial. Bagian dari aktivitas ini adalah mengharuskan manajer memimpin para bawahan. Kepemimpinan diperlukan untuk mempengaruhi karyawan agar bekerja lebih keras, memiliki keyakinan terhadap organisasi, atau melaporkan masalah-masalah kecil sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar. 2) Peranan Informasi Komunikasi yang mengalir ke dan dari manajer membuat manajer perlu memproses informasi. Manajer merupakan pusat syaraf, atau titik pusat dari suatu kelompok. Ia harus memiliki gambaran secara menyeluruh dari kelompok itu. Baik kekuatannya, kelemahannya, maupun kebutuhannya. Dengan pengetahuhan

7

ini, proses informasi yang mengalir ke dan dari kelompok merupakan informasi yang relevan bagi mereka. 3) Peranan Pengambil Keputusan Manajer merupakan kunci pembuat keputusan dalam organisasi. Manajer harus menerima tanggung jawab dalam membuat keputusan. Manajer harus bertindak sendiri terhadap informasi-informasi dari berbagai sumber, menyisipkan opini pribadi. Mempertimbangkan situasi saat ini, menganalisis sumber dayasumber daya yang ada, dan kemudian menghubungkan semuanya ini bersamasama sebelum mencapai suatu keputusan. 2.1.5.. Sarana Manajemen Sarana atau alat manajemen untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan adalah men, money, materials, methods, machine dan markets. (Manullang, 2001). Selanjutnya dikatakan sarana utama dari setiap manajer untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan terlebih dahulu adalah manusia. Untuk melakukan berbagai aktivitas diperlukan manusia. Tanpa adanya manusia, manajer tidak akan mungkin mencapai tujuannya. Sarana manajemen yang kedua adalah uang. Untuk melakukan berbagai aktivitas diperlukan uang. Kegagalan proses manajemen sedikit banyak dipengaruhi oleh ketelitian dalam menggunakan uang. Dalam proses pelaksanaan kegiatan, manusia menggunakan bahan-bahan, karenanya dianggap pula sebagai sarana manajemen untuk mencapai tujuan. Untuk melakukan kegiatan secara berdaya guna dan berhasil guna, manusia dihadapkan dengan berbagai alternatif atau cara melakukan pekerjaan. Bagi badan yang bergerak di bidang industri, maka sarana manajemen penting lainnya adalah pasar.

7

2.1.6. Manajemen Operasi 2.1.6.1. Pengertian Manajemen Operasi Manajemen operasi merupakan proses pencapaian dan pengutilisasian sumber-sumber daya untuk memproduksi atau menghasilkan barang-barang atau jasa yang berguna dalam usaha untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi (Assauri, 1999). Selanjutnya Umar (2003), mengatakan bahwa manajemen operasi adalah suatu fungsi atau kegiatan manajemen yang meliputi perencanaan, organisasi, staffing, koordinasi, pengarahan dan pengawasan staffing, koordinasi, pengarahan dan pengawasan terhadap operasi perusahaan. 2.1.6.2. Fungsi Manajemen Operasi Menurut Assauri (1999), ada empat fungsi terpenting dalam fungsi produksi dan operasi, yaitu: 1) Proses pengolahan (operasi) Proses produksi dan operasi merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan menggunakan peralatan, sehingga masukan atau input dapat diolah menjadi keluaran berupa barang atau jasa yang akhirnya dapat dijual kepada pelanggan dengan harapan perusahaan akan mendapatkan keuntungan.

2) Jasa-jasa penunjang

6

Jasa-jasa penunjang produksi dan operasi ini meliputi pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan untuk diorganisir serta dikomunikasikan agar proses produksi dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. 3) Perencanaan Perencanaan berfungsi agar kegiatan produksi dan operasi yang akan dilakukan dapat terarah bagi pencapaian tujuan produksi dan operasi, serta fungsi produksi dapat terlaksana secara efektif dan efisien. 4) Pengendalian dan pengawasan Pengendalian dan pengawasan merupakan kegiatan yang telah dilakukan untuk menjamin agar kegiatan operasi dan produksi yang dilaksanakan sesuai dengan apa yang telah direncanakan, dan apabila terjadi penyimpangan, maka penyimpangan tersebut dapat dikoreksi sehingga apa yang diinginkan dapat tercapai. 2.2. Sarana dan Prasarana Penangkapan 2.2.1. Kapal Huhate (Skipjack Pole and Liner) Skipjack pole and line adalah jenis kapal yang digunakan untuk menangkap ikan cakalang (Katsuwonus pelamis).. Tipe kapal jenis ini memerlukan palka ikan, tangki untuk menyimpan umpan hidup serta system sirkulasi airnya, pipa-pipa dan pompa untuk memercikan air, tempat duduk untuk pemancing serta geladak kapal untuk tempat menjatuhkan ikan hasil pancingan. Jenis kapal yang digunakan dalam operasi penangkapan ikan cakalang adalah pole and line tipe skipjack fishing boat. Kapal ini memiliki persyaratan

7

tertentu yaitu pada haluan kapal dibuat anjungan yang mencuat kedepan untuk tempat pemancingan (tempat duduk pemancing), memiliki bak tempat umpan hidup (live bait tank), tempat penyimpanan hasil tangkapan, mempunyai system penyemburan air/spoit (water pump) dan palka yang dapat menampung ikan hasil tangkapan. Huhate (Skipjack Pole and Line) atau umumnya lebih dikenal dengan “pole and line” adalah cara pemancingan dengan menggunakan pancing yang dikhususkan untuk menangkap ikan cakalang yang banyak digunakan di perairan Indonesia. Menurut Uktolseja et al (1989), penyebaran cakalang di perairan Indonesia meliputi Samudra Hindia (perairan Barat Sumatra, selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara), Perairan Indonesia bagian Timur (Laut Sulawesi, Maluku, Arafuru, Banda, Flores dan Selat Makassar) dan Samudra Fasifik (perairan Utara Irian Jaya). Penangkapan dengan pole and line dapat menggunakan kapal motor (kapal motor khusus cakalang, tuna clipper), tetapi untuk nelayan-nelayan kecil biasanya menggunakan perahu dayung (rowing boat) yang biasanya disebut “Funai” dan atau “Rurehe”. Ada keistimewaan-keistimewaan dalam penangkapan cakalang dengan huhate ini, yaitu pertama harus adanya umpan hidup (life bait fish), dan kedua ialah adanya bentuk kapal khusus (Subani dan Barus, 1989). Huhate adalah jenis alat pancing penangkap ikan yang terdiri dari bambu sebagai joran/tongkat dan tali sebagai tali pancing. Pada tali pancing ini dikaitkan mata pancing yang tidak berkait. Penggunaan mata pancing yang tidak berkait

8

dimaksudkan agar ikan yang ditangkap dapat mudah lepas (Direktorat Sarana Perikanan Tangkap, 2003). Menurut Ayodhoya (1981), pole and line umum digunakan untuk menangkap ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) sehingga dengan kata perikanan pole and line sering pengertian kita ke arah perikanan cakalang, sungguhpun dengan cara pole and line juga dilakukan penangkapan albacore, mackerel dan lain sebagainya. 2.2.2. Bentuk Kapal Menurut Subani dan Barus (1989), bentuk kapal cakalang mempunyai beberapa pengkhususan, antara lain: 1) Di bagian atas dek kapal bagian depan terdapat plataran (plat form) dimana pada tempat tersebut para pemancing melakukan pemancingan. 2) Dalam kapal harus tersedia bak-bak untuk menyimpan ikan umpan hidup. 3) Kapal cakalang perlu dilengkapi dengan sistem semprotan air (water splinker system) yang dihubungkan dengan suatu pompa. Kapal cakalang yang umumnya digunakan mempunyai ukuran 20 GT dengan kekuatan 40 – 60 HP. Kapal pole and line adalah kapal dengan bentuk yang stream line dan mempunyai olah gerak kapal yang lincah dan tergolong kapal yang mempunyai kecepatan service sedang yaitu diatas 10 knot dan gerakan stabilitas yang baik untuk mengejar segerombolan ikan, yakni kapal tersebut sambil olah gerak menangkap ikan (Direktorat Sarana Perikanan Tangkap, 2003).

7

Gambar 1. Sketsa kapal Pole and Line

Gambar 1 : Konstruksi kapal huhate (Pole and Line) (Sumber: Direktorat Jenderal Perikanan,1994) 2.2.3. Alat Tangkap Berdasarkan sumber yang diperoleh dari Balai Ketrampilan Penangkapan Ikan Ambon (1981), huhate terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut: a) Joran/galah yang terbuat dari bamboo atau plastik dengan panjang yang berkisar antara 2 – 3,25 meter. b) Tali dari bahan sintetis, monofilament atau multi filament dengan panjang 1,5 – 2,5 meter dan diameter tali 0,2 – 0,3 meter.
c)

Kawat baja (wire leader) yang panjangnya 5 – 10 cm, terdiri dari 2 – 3 urat yang disatukan/dipintal dengan diameter 1,2 mm.

d)

Mata kail (hook) yang khusus, karena ujungnya tidak memiliki kait.

7

Gambar 2. Kontruksi Pancing Huhate (Sumber: Badan Riset Kelautan Perikanan, 2006) 2.2.4. Alat Bantu Penangkapan Menurut Subani dan Barus (1989), berhasil tidaknya tiap usaha penangkapan ikan di laut pada dasarnya adalah bagaimana mendapatkan daerah penangkapan (fishing ground), gerombolan ikan dan keadaan potensinya, untuk kemudian dilakukan operasi penangkapannya. Adapun alat-alat bantu

penangkapan yang digunakan dalam menunjang kegiatan penangkapan adalah sebagai berikut: 2.2.4.1. Rumpon Menurut (Sudirman dan Mallawa, 2004) Rumpon biasanya juga disebut dengan Fish Agregation Device (FAD) yaitu suatu alat bantú penangkapan yang berfungsi untuk memikat ikan agar berkumpul dalam suatu catchbie area. Ada beberapa prediksi mengapa ikan senang berada di sekitar rumpon : 1). Rumpon merupakan tempat berkumpulnya plankton dan ikan – ikan kecil lainnya, sehingga mengundang ikan – ikan yang lebih besar untuk tujuan feedingi,

6

2). Merupakan suatu tingkah laku dari berbagai jenis ikan untuk berkelompok di sekitar kayu terapung (seperti jenis – jenis tuna dan cakalang). Dengan demikian, tingkah laku ikan ini dimanfaatkan untuk tujuan penangkapan. Kepadatan gerombolan ikan pada rumpon diketahui oleh nelayan berdasarkan buih atau gelembung – gelembung udara yang timbul di permukaan air, warna air yang gelap kerena pengaruh gerombolan ikan atau banyaknya ikan – ikan yang bergerak di sekitar rumpon. Pengunaan rumpon secara tradicional di indonesia telah lama dilakukan terutama para nelayan dari Mamuju, Sulawesi Selatan dan Jawa Timur, sedangkan penggunaan rumpon secara medern baru dimulai pada tahun 1980 oleh Lembaga Penelitian Perikanan Laut (Monintja, 1993). Menurut Subani dan Barus (1989), dilihat dari kedalaman air dimana rumpon ditanam (dipasang) dibedakan antara rumpon laut dangkal dan rumpon laut dalam atau yang dikenal dengan payaos. Selanjutnya dikatakan rumpon ini umumnya dipasang pada kedalaman antara 30-75 m. Setelah dipasang kedudukan rumpon yang ada mudah diangkatangkat, tetapi ada juga yang bersifat tetap tergantung dari pemberat yang digunakan. Rumpon yang beratnya antara 25-35 kg biasanya berupa jangkar, sedangkan rumpon yang beratnya antara 75-100 kg bahkan lebih terdiri dari batubatu yang diikat satu sama lain atau dimasukkan di dalam suatu keranjang dari rotan, atau dapat juga terdiri dari cor-coran semen. Rumpon laut dalam (payaos) pelampungnya agak istimewa.

Pelampungnya bisa terdiri dari 60-100 batang bambu yang disusun dan diikat menjadi satu sehingga membentuk rakit. Tali pemberat (tali yang menghubungkan

7

antara pelampung dengan pemberat) dapat mencapai 1000 – 1500 m. Pemberatnya berkisar 1000-3500 kg terdiri dari batu-batu yang dimasukkan dalam keranjang rotan atau berupa rangkaian ikatan batu gunung. 2.2.4.2. Pila-pila Pila-pila digunakan sebagai tempat duduk atau berdiri tempat pemancing, yang letaknya bisa pada bagian haluan dan buritan antara sepanjang lambung kiri dan kanan (Ditjenkan, 1994). 2.2.4.3. Pipa Penyemprot Pipa penymprot digunakan untuk menyemprot air secara percikan ke permukaan laut. Tujuannya adalah untuk mengelabui ikan-ikan seolah-olah pada permukaan laut terdapat banyak ikan terutama cakalang (Ditjenkan, 1994). Pipa penyemprot ditempatkan disepanjang pila-pila. Pipa tersebut bisa terbuat dari paralon atau dari besi dan pada bagian ujungnya dipasang kran untuk dipergunakan untuk menyemprot air. Penyemprot kran air terjadi karena dilengkapi dengan water pump (pompa air) (Direktorat Sarana Perikanan Tangkap, 2003).

2.2.4.4. Palkah Ikan Palkah ini fungsinya untuk menempatkan ikan hasil tangkapan (Ditjenkan, 1994). 2.2.4.5. Bak Umpan

8

Bak umpan digunakan sebagai tempat umpan. Pada bak umpan tersebut sebaiknya diberi warna putih supaya lebih muda dan dengan lampu penerang di beberapa tempat masing-masing berkekuatan 50 watt. Fungsi dari lampu tersebut agar dapat memberikan fototaksis positif dari ikan, sehingga ikan-ikan tersebut dapat membentuk schooling yang baik. Apabila dalam bak umpan tidak dipasang lampu, maka dapat menyebabkan umpan banyak bergerak secara tidak menentu, antara umpan yang satu dengan lainnya saling bertubrukan dan membuat umpan tersebut rusak tidak dapat dipergunakan (Ditjenkan, 1994). 2.2.4.6. Sibu-sibu Sibu-sibu digunakan untuk menaikkan umpan hidup dari palka umpan ke dalam bak penebar umpan dan juga untuk menebarkan umpan hidup ke laut. Sibusibu yang berukuran kecil dipakai untuk menebar umpan dari bak penebar ke laut, sedangkan sibu-sibu besar digunakan untuk memindahkan umpan dari palka ke dalam bak penebar umpan. 2.2.4.7. Ember Ember digunakan untuk mengangkat umpan hidup dari bagan nelayan ke dalam palka umpan, dan juga untuk berbagai keperluan. Ember ini juga menjadi ukuran dalam menentukan banyaknya umpan yang dimasukkan ke dalam palka umpan. 2.3. Jenis-jenis Umpan Penangkapan ikan cakalang dengan huhate atau pole and line biasanya menggunakan beberapa jenis umpan untuk mengumpulkan ikan cakalang yaitu: a) Umpan tiruan

7

Umpan tiruan biasanya dibuat dari bulu ayam dan dipasang pada mata kail. Umpan tiruan untuk huhate dirancang dengan memperhatikan bentuk dan warna dengan maksud untuk menarik perhatian ikan. Pengaturan warna yang serasi dan lebih cerah serta bentuk yang menyerupai ikan akan lebih merangsang ikan untuk menyambar mata pancing. Umpan tiruan ini dibuat untuk menutupi mata pancing sehingga dapat mengelabui ikan sasaran, bahan umpan tiruan terdiri dari bulu ayam, tali rapiah, dan juga dapat diberi bahan kelopak insang atau kulit ijing/kerang yang warnanya mengkilap (Badan Riset Perikanan Tangkap, 2006). b) Umpan hidup Jenis umpan hidup yang paling baik digunakan dalam perikanan Pole and line adalah ikan teri (Subani, 1973; Murdianto, Rosana dan Penturi, 1995 dalam Simbolon D, 2003). Jenis ikan umpan tersebut sangat disenangi oleh cakalang karena memiliki sifat – sifat sebagai berikut : 1). Berwarna terang dan memikat atau keputih – putihan sehingga mudah menarik perhatian ikan cakalang, 2). Tahan terhadap lama di dalam bak penyimpanan pada saat pelayaran dari daerah penangkapan ikan umpan menuju daerah penangkapan cakalang, 3). Umpan yang disebarkan di antara schooling cakalang memiliki sifat yang cenderung bergerak mendekati kapal untuk berlindung. 4). Sisi umpan tidak mudah terkelupas, sehingga tingkat kecerahan warna dapat dipertahankan, 5). Panjang (size) umpan hidup sesuai dengan ukuran yang disenangi oleh cakalang yang menjadi target penangkapan.

7

Sesuai dengan sifat – sifat tersebut di atas, pemilihan jenis dan ukuran umpan yang sesuai perlu dilakukan secara seksama. (Subani, 1973 dalam Sumbolon D, 2003) menyatakan bahwa ukuran umpan yang ideal dengan tipe badan memanjang (streem line) berkisar antara 7,5 – 10,0 cm. Selanjutnya disebutkan bahwa ukuran panjang umpan dengan tipe badan melebar sebaiknya berkisar antara 5,0 – 7,5 cm. Masalah utama yang sering dialami dalam perikanan pole and line adalah ketersediaan umpan hidup pada waktu – waktu tertentu dan tingginya tingkat kematian umpan dalam bak penyimpanan di atas kapal. Di lain pihak, kegiatan operasi penangkapan cakalang dengan pole and line tidak akan berhasil apabila umpan hidup tidak tersedia dalam jumlah yang memadai. Dengan demikian, umpan hidup merupakan salah satu faktor pembatas (limiting factor) paling penting dalam perikanan pole and line (Gafa dan Merta, 1987 dalam Simbolon D, 2003).

2.3.1. Penangkapan Umpan Hidup Alat tangkap yang sangat umum digunakan untuk menangkap ikan umpan hidup adalah jaring yang dioperasikan dari pantai atau kapal, jaring lampara, purse seine, dan ring net, jaring yang digerakkan (drive in net) dan lift net, termasuk stickheld dipnet dan jaring kantong (FAO, 1980). 2.3.2. Pemeliharaan Umpan Hidup Di Dalam Tangki Kapal Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan umpan di dalam palka umpan dikapal antara lain kandungan oksigen didalam air

8

dan konsumsi oksigen, penyinaran, suhu air dan kualitas air beserta perubahannya. Sebagai awal pertimbangan tentunya bagaimana memindahkan umpan secara aman kedalam tangki umpan bahwa alat yang sebaiknya digunakan adalah keranjang. Dalam tahap ini diperlukan seorang pembantu yang cermat dalam menjaga ikan umpan karena memerlukan beberapa perlakuan yang cukup penting dalam hal pengawasan dan mengarahkan agar pencemaran yang timbul sekecil mungkin yang diakibatkan kotoran ikan dan sisik ikan yang terlepas. Selain itu kondisi lingkungan dapat dibuat lebih mendukung dengan cara meningkatkan sejumlah oksigen kedalam tangki umpan, menurunkan temperatur, menurunkan salinitas dan pada saat yang sama menghindari kepadatan ikan dan menghindari rangsangan untuk membantu agar mereka menjadi tenang (FAO, 1980).

2.3.3. Pemberian Pakan Di Kapal Ikan umpan tentu saja perlu diberi pakan selama ke daerah penangkapan apabila trip pelayarannya memerlukan beberapa jam. Disarankan agar ikan diberi makan 3 kali sehari, jumlahnya ditentukan oleh ukuran ikan dan temperatur air. 2.3.4. Pemberian Cahaya Suatu bukti telah menunjukkan bahwa lampu bawah air (under water lamp) didalam tangki umpan akan lebih baik karena mortalitas ikan umpan bisa melebihi 50% apabila keadaan tangki umpan gelap sepanjang waktu. Kegunaan

7

cahaya alam atau buatan bisa mengurangi mortalitas ikan umpan kurang dari 10 %. Tetapi pemberian cahaya yang optimum belum diketahui dengan pasti. 2.3.5. Temperatur Perlu diingat bahwa sewaktu kapal memancing disuatu daerah dengan temperatur air yang berbeda, maka sirkulasi air didalam tangki secara perlahanlahan perlu diturunkan, untuk mengurangi masuknya air laut dan mempertahankan derajat perubahan temperatur air. Saran lain ialah ikan yang dimasukkan kedalam bak dikurangi sehingga lebih banyak oksigen yang tersedia bagi semua ikan, juga akan lebih praktis apabila caranya dikombinasikan dengan sistem sirkulasi air. 2.2. Deskripsi Cakalang Deskripsi morfologi dan meristik ikan cakalang dari berbagai samudera menunjukan bahwa hanya ada satu species cakalang yang terbesar di seluruh dunia, yaitu Katsuwonus pelamis (Jones and Silas, 1963; Waldron and King, 1963 dalam Simbolon, 2003). Bentuk tubuh cakalang memanjang seperti torpedo dan padat dengan penampang melintang yang membulat. Bagian bawah gurat sisi memiliki 4-6 garis-garis hitam tebal yang membujur seperti pita. Bagian bawah punggung dan perut berwarna keperak – perakan. Punggung berwarna biru keungu – unguan. Tubuh tidak bersisik kecuali pada bagian gurat sisi dan depan sirip punggung pertama. Cakalang mempunyai 7 – 9 sirip dubur tambahan dan terdapat tiga tonjolan pada batang ekor (Puslitbangkan, 1993 dalam Simbolon, 2003). Ukuran panjang cakalang umumnya bervariasi menurut wilayah perairan. Collette and Nauen, 1983 dalam Simbolon, 2003) melaporkan bahwa ukuran fork length maksimum ikan umum tertangkap 40 – 80 cm dengan berat 8 – 10 kg.

7

Selanjutnya dikatakan berdasarkan pengamatan (Radju, 1964 dalam Simbolon, 2003) ukuran ikan cakalang yang sudah matang gonad berkisar 40 – 50 cm. Ikan cakalang betina yang matang gonad memijah untuk pertama kalinya pada ukuran 41 cm. Di lain pihak, ikan cakalang jantan biasanya mengalami matang gonad pada ukuran 40 – 45 cm. Setelah melakukan pemijahan, sisa – sisa telur matang masih dapat ditemukan pada ikan – ikan yang berukuran lebih besar dari 40 cm, akan tetapi sisa telur tersebut tidak ditemukan pada ikan – ikan yang berukuran lebih pendek dari 40 cm. Kebiasaan makan ikan cakalang adalah aktif pada pagi hari dan kurang aktif pada siang hari, selanjutnya mulai aktif lagi pada sore hari dan hampir tidak makan sama sekali pada malam hari. Pada saat mencari makan, ikan cakalang biasanya membentuk schooling bergerak dengan cepat sambil meloncat – loncat di permukaan perairan. Puncak kegiatan makan bagi ikan cakalang terjadi sekitar jam 08.00 hingga 12.00 dan berkurang antara jam 13.00 – 16.00, kemudian memuncak lagi hingga matahari terbenam (Aprieto, 1994 dalam Simbolon, 2003).
2.4.1. Aspek biologi cakalang (Katsuwonus Pelamis)

Cakalang sering disebut skipjack tuna dengan nama lokal cakalang, adapun klasifikasi cakalang menurut matsumoto, et al (1984) adalah sebagai berikut : Phylum Sub phylum Superclass Series : Vertebrata : Craniati : Gnathostomata : Pisces

7

Class Subclass Ordo Subordo Family Subfamily Tribe Genus Spesies

: Telestoid : Actinopterygii : Perciformes : Scombridei : Scombridae : Scombrinae :Thunini : Katsuwonus : Katsuwonus pelamis

Gambar 3 : Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) (Sumber: http//www.fishbase.org)
2.5. Daerah dan Musim Penangkapan Cakalang

Potensi cakalang di indonesia sebagian besar terdapat di perairan kawasan timur indonesia. Daerah penangkapan yang potensial bagi ikan tersebut di KTI terdapat di perairan Sulawesi Utara, Halmahera, Maluku dan Irian Jaya dengan

7

basis penangkapan masing – masing di Bitung, Ternate, Ambon dan Sorong. Wilayah yang memiliki potensi cakalang di kawasan barat indonesia terdapat di perairan selatan Jawa Barat (Pelabuhan Ratu), Sumatera Barat dan Aceh (Monintja et al, 2001 dalam Simbolon, 2003). Musim penangkapan ikan cakalang di perairan indonesia pada umumnya dapat dilakukan sepanjang tahun, namun puncak musim penangkapan sering kali bervariasi menurut wilayah perairan, sebagai mana disajikan pada Table 1. Table 1. Puncak Musim Penangkapan Cakalang Menurut Wilayah Perairan Puncak Musim Maret s/d Mei; Agustus s/d Nopember; April 1 Sulawesi Utara - Tengah s/d Juni 2 Halmahera September s/d Oktober; Pebruari s/d April 3 Maluku September s/d Desember 5 Irian Jaya Pebruari s/d Juni; Agustus s/d Desember 6 Pelabuhan ratu Agustus s/d September 7 Padang Maret s/d Mei 8 Aceh Belum diperoleh informasi Sumber : (Monintja et al, 2001 dalam Simbolon, 2003) Huhate hanya diijinkan pengoperasiannya di wilayah perairan tertentu dan ZEEI Laut Sulawesi dan ZEEI Samudera Pasifik (Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, 2005). Secara garis besarnya, cakalang mempunyai daerah penyebaran dan migrasi yang luas, yaitu meliputi daerah tropis dan sub tropis dengan daerah penyebaran terbesar terdapat disekitar perairan khatulistiwa. Daerah penangkapan merupakan salah satu faktor penting yang dapat menentukan berhasil atau tidaknya suatu operasi penangkapan. Dalam hubungannya dengan alat tangkap, maka daerah penangkapan tersebut haruslah baik dan dapat menguntungkan, No. Wilayah Perairan

7

Dalam arti ikan berlimpah, bergerombol, daerah aman, tidak jauh dari pelabuhan dan alat tangkap mudah dioperasikan (Waluyo, 1987). Lebih lanjut Paulus (1986), menyatakan bahwa dalam memilih dan menentukan daerah penangkapan, harus memenuhi syarat-syarat antara lain : 1) Kondisi daerah tersebut harus sedemikian rupa sehingga ikan dengan mudah datang dan berkumpul. 2) Daerahnya aman dan alat tangkap mudah dioperasikan. 3) Daerah tersebut harus daerah yang secara ekonomis menguntungkan. Hal ini tentu saja erat hubungannya dengan kondisi oseanografi dan meteorologist suatu perairan dan faktor biologi dari ikan cakalang itu sendiri. 2.6. Faktor Oseanografi yang Mempengaruhi Penyebaran Cakalang Penyebaran ikan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu penyebaran horizontal atau penyebaran menurut letak geografis perairan dan penyebaran vertikal atau penyebaran menurut kedalaman perairan (Nakamura, 1969 dalam Simbolon, 2003). Ikan cakalang menyebar luas di perairan tropis dan sub tropis seperti di lautan Atlantik, Samudera Hindia dan Pasifik. Penyebaran ikan tersebut di perairan Indonesia sebagian besar terdapat di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Stok yang terdapat di perairan KTI ini diduga berasal dari Samudera Pasifik bagian barat yang beruaya dari sebelah timur Philipina dan sebelum utara Papua Nugini. Ikan tersebut selanjutnya beruaya dari perairan KTI ke Samudra Pasafik bagian barat, yaitu ke perairan Zamboanga dan sebelum utara Papua Nugini (Suhendrata, 1987 dalam Simbolon, 2003).

7

Ikan cakalang secara vertikal dapat menyebar sampai dengan ratusan meter di bawah permukaan air, bahkan banyak terdapat pada kedalaman renang 20 – 200 meter (Nishimura, 1964 dalam Simbolon, 2003). Penyebaran ikan di perairan tropis sangat dipengaruhi oleh lapisan termoklim. Ikan cakalang umumnya ditemukan di atas lapisan termoklim (Laevastu and Hela, 1970 dalam Simbolon, 2003). Ikan cakalang merupakan ikan pelagis yang membentuk kelompok (schooling). Menurut (Nikolsky, 1963 dalam Simbolon, 2003) individu cakalang dalam suatu schooling mempunyai ukuran (size) yang relatif sama. Ikan – ikan yang berukuran lebih besar biasanya berada pada lapisan yang lebih dalam dengan schooling yang lebih kecil. Ikan – ikan yang lebih kecil biasanya berada dekat permukaan perairan dengan schooling yang lebih besar. Tingkah laku tersebut umumnya dimanfaatkan oleh para nelayan untuk memudahkan penangkapan. Ikan cakalang melakukan migrasi karena (1) adanya perubahan beberapa faktor lingkungan seperti suhu, salinitas dan arus, (2) usaha mencari daerah perairan yang mengandung bahan makanan yang cukup dan (3) usaha mencari daerah pemijahan (Nikolsky, 1963 dalam Simbolon, 2003). Hal ini sesuai dengan pendapatan Laevastu and Hayes, 1981 dalam Simbolon, 2003) yang menyatakan bahwa pola kehidupan ikan, termasuk cakalang tidak bisa dipisahkan dari pengaruh faktor – faktor oseanografi. Fluktuasi faktor – faktor oseanografi seperti suhu, salinitas, arus permukaan, oksigen terlarut mempunyai pengaruh yang besar terhadap periode migrasi musiman serta terdapatnya ikan di suatu lokasi perairan. 2.6.1. Suhu Perairan

8

Suhu perairan secara langsung berpengaruh terhadap derajat metabolisme dan siklus reproduksi ikan. Suhu perairan secara tidak langsung berpengaruh terhadap daya larut oksigen yang digunakan untuk respirasi biota laut. Perubahan suhu perairan akan berpengaruh terhadap rangsangan syaraf, perubahan proses metabolisme dan aktivitas tubuh ikan (Laevastus and Hela, 1970 dalam Simbolon, 2003). Kedalaman renang dari kelompok ikan pelagis, termasuk cakalang banyak ditentukan oleh distribusi suhu perairan secara vertikal. Cakalang akan berenang menghindari suhu perairan yang lebih tinggi atau yang lebih rendah dari biasanya dan menuju ke lapisan perairan tertentu di mana ikan tersebut lebih mudah beradaptasi. Distribusi vertikal ikan cakalang di perairan tropis sangat dipengaruhi oleh lapisan termoklin. Adapun kisaran suhu penyebaran dan penangkapan serta lapisan renang dari cakalang dan beberapa jenis tuna disajikan pada Table 2 (Laevastu and Hela, 1970 dalam Simbolon, 2003). Table 2. Kisaran Suhu Penyebaran dan Penangkapan Serta Lapisan Renang Ikan Cakalang dan Beberapa Jenis Tuna Kisaran Suhu ( C) Lapisan Renang Penyebaran Penangkapan (meter) Cakalang 17 - 28 19 - 23 0 - 40 Bluefin 12 - 25 15 - 22 50 - 300 Mata besar 11 - 28 18 - 22 50 - 400 Madidihang 18 - 31 20 - 28 0 - 200 Albacore 14 - 23 15 - 21 20 - 300 Sumber : (Laevastu and Hela, 1970 dalam Simbolon, 2003) Jenis Ikan Kisaran suhu penyebaran dan penangkapan cakalang umumnya bervariasi sesuai dengan wilayah perairan. Ikan cakalang di Samudera Pasifik bagian timur

6

ditemukan pada kisaran suhu permukaan laut (SPL) 17 C – 30 C dengan suhu optimum 20 C – 28 C (Blackburn, 1965 dalam Simbolon, 2003). (Gunarso, 1985 dalam Simbolon, 2003) menyatakan bahwa suhu perairan optimum untuk penangkapan cakalang di perairan Indonesia adalah 28 C – 29 C. Adapun kisaran suhu yang optimum untuk penangkapan cakalang dan tuna pada berbagai perairan disajikan pada Table 3. Table 3. Kisaran Suhu Perairan Untuk Penangkapan Cakalang dan Tuna Menurut Wilayah Perairan
No. 1 2 3 4 5 6 Wilayah Perairan Pasifik Timur Laut Pasifik Tenggara Pasifik Barat Laut New Zeland Papua New Guinea Indonesia Suhu Optimum ( C) 20 - 26 20 - 28 20 - 28 17 - 23 28 - 30 28 - 29 Sumber Blackburn, 1965 Blackburn, 1965 Blackburn, 1965 Blackburn, 1965 Blackburn, 1965 Blackburn, 1965 Keterangan Cakalang & Tuna Cakalang & Tuna Cakalang & Tuna Cakalang & Tuna Cakalang & Tuna Cakalang

2.6.2. Salinitas Perairan Salinitas perairan merupakan parameter oseanografi yang dapat digunakan untuk memperkirakan daerah penyebaran ikan cakalang di suatu perairan. Kisaran salinitas yang menjadikan daerah penyebaran cakalang umumnya bervariasi menurut wilayah perairan. Cakalang sering terkonsentrasi pada permukaan perairan dengan kisaran salinitas 23% - 35% (Blackburn, 1965 dalam Simbolon, 2003). Ikan cakalang mempunyai sifat sensitif terhadap perubahan salinitas. Hal ini terbukti dengan banyaknya ikan cakalang yang ditemukan di perairan ujung

7

timur Selat Sunda ketika salinitas perairannya tinggi. Di lain pihak, ikan cakalang tidak ditemukan sama sekali ketika salinitas rendah (Burhanuddin et al, 1984 dalam Simbolon, 2003).

2.6.3. Arus Perairan Manurung dan Simbolon (1997), menyatakan bahwa penyebaran ikan pelagis sering mengikuti sirkulasi arus dan kepadatannya sangat berhubungan dengan kondisi arus. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di Selat Makassar, terdapat indikasi bahwa penyebaran berbagi jenis tuna terdapat di sepanjang poros arus. Sepanjang daerah penyebaran tersebut, kelimpahan ikan cenderung lebih banyak pada lapisan renang yang lebih dalam. Ikan cakalang sangat menyenangi daerah pertemuan arus (konvergensi) yang umumnya dijumpai pada wilayah yang memiliki banyak pulau. Turbulansi yang terjadi di perairan sekeliling pulau – pulau atau benua berperan merangsang pertumbuhan plankton. Sebagai konsekuensi logisnya, perairan tersebut relatif lebih subur dan menjadi daerah penyebaran yang baik bagi cakalang untuk mencari makan, seperti halnya di daerah upwelling. Ikan cakalang sering ditemukan pada perbatasan dua massa air yang berbeda dimana terjadi pertemuan antara massa air panas dan dingin. Daerah ini diduga memiliki berbagai macam organisme dan merupakan daerah penangkapan cakalang yang baik (Laevastu and Hela, 1970 dalam Simbolon, 2003). 2.6.4. Respon Ikan Terhadap Cahaya

8

Ikan tertarik pada cahaya melalui penglihatan (mata) dan rangsangan melalui otak (pineal region pada otak). Peristiwa tertariknya ikan pada cahaya disebut phototaksis (Ayodhoya, 1976;1981 dalam Malawa dan Sudirman 2004). Ada beberapa alasan mengapa ikan tertarik oleh cahaya, antara lain adalah penyesuaian intensitas cahaya dengan kemampuan mata ikan untuk penerimaan cahaya. Dengan demikian, kemampuan ikan untuk tertarik pada suatu sumber cahaya sangat berbeda-beda. Ada ikan yang senang dengan pada intensitas cahaya yang rendah, tetapi ada pula ikan yang senang terhadap intensitas cahaya yang tinggi. Namun ada ikan yang mempunyai kemampuan untuk tertarik oleh cahaya mulai dari intensitas yang rendah sampai yang tinggi (Sudirman dan Malawa, 2004). Rangsangan cahaya terhadap ikan diketahui antara 0,01 – 0,001 lux, sudah memberikan reaksi. Ambang cahaya tertinggi untuk mata ikan belum banyak diteliti, walau banyak diketahui bahwa berbagai jenis ikan laut pada umumnya selalu berusaha untuk meningkatkan sensitifitasnya. Ikan mempunyai

suatu kemampuan yang mengagumkan untuk dapat melihat pada waktu siang hari dengan kekuatan penerangan ratusan ribu lux dan dalam keadaan gelap sama sekali (Gunarso, 1985 dalam Sudirman dan Malawa, 2004). Namun demikian, sensitifitas mata ikan laut pada umumnya tinggi. Kalau cahaya biru-hijau yang mampu diterima mata manusia hanya sebesar 30% saja, tetapi mata ikan mampu menerimanya sebesar 75% sedangkan retina dari beberapa jenis ikan laut dalam menerimanya sampai 90%. Ambang cahaya yang mampu dideteksi oleh mata ikan jauh lebih rendah daripada ambang cahaya yang dapat dideteksi manusia, sehingga pada umumnya mata ikan mempunyai tingkat

9

sensitifitas 100 kali mata manusia. Oleh sebab itu, pada beberapa jenis ikan yang hidup di perairan pantai dapat mengindera mangsanya dari kejauhan 100 meter sejak pagi sampai sore hari (Gunarso, 1985 dalam Sudirman dan Malawa 2004). Cahaya yang masuk ke mata ikan akan diteruskan ke otak pada bagian Cone dan Rod, yang sangat peka terhadap cahaya. Alasan lainnya, adanya cahaya merupakan suatu indikasi adanya makanan.
2.7. Pengelolaan Sumberdaya Perikanan

Menurut Ditjen Perikanan (1999) pengelolaan sumberdaya perikanan merupakan suatu sistem yang terdiri dari 3 subsistem, yaitu : 1. Subsistem eksplorasi sumberdaya perikanan. Diharapkan akan dapat menjawab keterbatasan informasi, yang terkait dengan besarnya potensi sumberdaya perikanan yang tersedia menurut jenis dan penyebarannya yang dapat dituangkan dalam bentuk peta penyebaran, tata ruang wilayah, kawasan konservasi dan besarnya alokasi sumberdaya yang dapat dimanfaatkan pada periode waktu dan lokasi tertentu, Penyediaan sarana yang tercakup dalam subsistem eksplorasi diharapkan akan dapat mendukung rencana lokasi pemanfaatan sumberdaya, sejalan dengan penyebaran sumberdaya dan tata ruang wilayah, sehingga diperoleh suatu sistem jaringan prasarana yang memadai dan efisisen. 2. Subsistem pemanfaatan sumberdaya dan pembinaan usaha. Penanganan subsistem pemanfaatan sumberdaya perikanan diharapkan dapat mengembangkan usaha pemanfaatan sumberdaya yang produktif, mempunyai nilai tambah yang tinggi dan dapat memberikan jaminan pendapatan bagi para pelakunya, dalam rangka peningkatan kesejahteraan. Pemanfaatan sumberdaya dan pembinaan

7

usaha dilakukan berdasarkan potensi sumberdaya wilayah yang tersedia dan didasarkan pada partisispasi dan keinginan masyarakat setempat sesuai dengan permintaan pasar. 3. Subsistem pengawasan dan pengendalian pemanfaatan sumberdaya.

Penanganan subsistem pengawasan dan pengendalian pemanfaatan sumberdaya, diharapkan dapat memberikan jaminan bahwa pemanfaatan sumberdaya dilakukan secara efisien dan sesuai dengan ketentuan yang ada. Berjalannya subsistem ini akan dapat menekan pemborosan dan kehilangan akan sumberdaya perikanan, serta diharapkan akan dapat memberikan jaminan terhadap keberlanjutan usaha yang dilakukan oleh pelaku usaha, untuk itu diperlukan keterpaduan antara lembaga pengawasan dan peningkatan koordinasi antara penegak hukum. 2.8. Usaha Perikanan yang Berkelanjutan Menurut (Kesteven, 1973 dalam Simbolon, 2003), pengembangan usaha perikanan harus mempertimbangkan aspek-aspek bio-technico-sosio-economicapproach. Oleh karena itu ada empat aspek yang harus diperhatikan dalam pengembangan suatu jenis alat tangkap ikan, yaitu : 1. Aspek biologi, alat tangkap tersebut tidak merusak atau mengganggu kelestarian sumberdaya. 2. Aspek teknis, alat tangkap yang digunakan efektif untuk dioperasikan. 3. Aspek sosial, alat tangkap dapat diterima oleh masyarakat nelayan. 4. Aspek ekonomi, usaha tersebut bersifat menguntungkan.

7

Menurut (Monintja, 2000 dalam Simbolon, 2003), perlu adanya pertimbangan dalam pemilihan suatu teknologi yang tepat untuk diterapkan di dalam pengembangan perikanan. Pertimbangan-pertimbangan yang akan

digunakan dalam pemilihan teknologi dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok yaitu teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan (TPIRL), teknologi penangkapan ikan secara teknis, ekonomis, mutu dan pemasaran menguntungkan serta kegiatan penangkapan ikan yang berkelanjutan. Suatu kegiatan penangkapan ikan yang ramah lingkungan memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1. Selektivitas tinggi, artinya teknologi yang digunakan mampu meminimalkan hasil tangkapan yang bukan merupakan target. 2. Tidak destruktif terhadap habitat yang akan membahayakan kelestarian produksi ikan. 3. Tidak membahayakan nelayan yang mengoperasikan /menggunakan teknologi tersebut. 4. Produk yang dihasilkan tidak membahayakan terhadap kesehatan konsumen. 5. Hasil tangkapan yang diperoleh bermutu baik. 6. Hasil tangkapan sampingan (by-catch) dan yang terbuang (discard) minimum. 7. Diterima secara sosial, artinya dimasyarakat nelayan tidak menimbulkan konflik.

Kriteria yang digunakan untuk teknologi penangkapan yang secara teknis, ekonomis, mutu, dan pemasaran menguntungkan adalah :

6

1. Hemat biaya dan energi.

2. Meningkatkan produksi dan produktivitas. 3. Memperhatikan mutu produk. 4. Produk yang dihasilkan sesuai dengan permintaan pasar. 5. Meningkatkan wirausaha dan investor. 6. Meningkatkan devisa dan pengembangan daerah. 7. Meningkatkan kesejahteraan nelayan. 2.9. Teknik Penangkapan Ikan Menurut Subani dan Barus (1989), penangkapan dengan pole and line dilakukan dengan terlebih dahulu mencari gerombolan cakalang. Untuk mendapatkan kawanan cakalang dapat dilakukan dengan cara berlayar kesanakemari (manouvre), memperhatikan kawanan burung laut atau dapat diperoleh disekitar rumpon (payaos) yang telah dipasang (ditanam) lebih dulu. Pemancingan dilakukan dengan setiap kali melemparkan ikan umpan hidup sebagai perangsang agar cakalang lebih mendekat ke kapal sehingga mudah terjangkau oleh pancing-pancing. Pemancing-pemancing cakalang umumnya mempunyai ketrampilan khusus. Kegiatan pemancingan dilakukan begitu rupa yaitu dengan menjatuhkan pancing ke atas permukaan air dan bila disambar oleh cakalang dengan cepat diangkat melalui atas kepala dan secara otomatis terlempar ke dalam dek kapal. Kegiatan pemancingan dilakukan berulang-ulang dalam tempo yang sangat singkat. Pemancingan dengan cara ini lebih dikenal dengan “cara banting”. Disamping itu ada cara memancing yang disebut dengan “cara gepe”, yaitu cara

7

pemancingan dengan pole and line dimana setelah ikan terkena pancing dan diangkat dari dalam air kemudian pengambilannya dari mata pancing dilakukan dengan cara menjepit ikan diantara tangan dan badan si pemancing. 2.9.1. Persiapan dan Pelaksanaan Operasi Penangkapan Operasi penangkapan tentunya dimulai dari persiapan-persiapan terutama perbekalan dan perlengkapan, persiapan itu meliputi : bahan makanan, es, lampu, dan bahan bakar minyak, alat navigasi, persiapan mesin, persiapan pengaturan alat tangkap dan bahan lainnya (Sadhori 1985). Selanjutnya mempersiapkan persiapan yang harus dilakukan di laut adalah

peralatan

penangkapan

yang

menunjang

keberhasilan

penangkapan ikan cakalang serta penyediaan umpan hidup. Adanya faktor umpan hidup membuat cara penangkapan ini menjadi agak rumit. Hal ini disebabkan karena umpan hidup tersebut harus sesuai dalam ukuran dan jenis tertentu, disimpan, dipindahkan, dan dibawa dalam keadaan hidup (Malawa dan Sudirman, 2004). 2.9.2. Operasi Penangkapan Operasi penangkapan dengan huhate dilakukan dengan cara mencari dan memburu kelompok ikan cakalang. Pencarian gerombolan ikan dilakukan oleh seorang pengintai yang tempatnya biasa berada di anjungan kapal dan menggunakan teropong (Mallawa dan Sudirman, 2004). Keberadaan ikan cakalang dapat dilihat melaui tanda-tanda antara lain: adanya buih atau cipratan air, loncatan ikan cakalang ataupun gerombolan burungburung yang terbang menukik ke permukaan laut dimana gerombolan ikan berada.

7

Setelah menemukan gerombolan ikan, yang harus diketahui adalah arah renang kemudian mendekati gerombolan ikan tersebut. Sementara pemancing sudah bersiap masing-masing pada sudut kiri, kanan, dan haluan kapal. Pelemparan umpan dilakukan oleh boi-boi setelah diperkirakan ikan telah berada dalam jarak jangkauan lemparan, kemudian ikan dituntun ke arah haluan kapal. Pelemparan umpan ini diusahakan secepat mungkin sehingga gerakan ikan dapat mengikuti gerakan umpan menuju haluan kapal. Pada saat pelemparan umpan tersebut, mesin penyemprot sudah dihidupkan agar ikan tetap berada di dekat kapal. Pada saat gerombolan ikan berada dekat haluan kapal, maka mesin kapal dimatikan. Sementara jumlah umpan yang dilemparkan ke laut dikurangi, mengingat terbatasnya umpan hidup. Selanjutnya, pemancingan dilakukan dan diupayakan secepat mungkin mengingat kadang-kadang gerombolan ikan tiba-tiba menghilang terutama jika ada ikan yang berdarah atau ada ikan yang lepas dari mata pancing dan jumlah umpan yang sangat terbatas. Hal lain yang perlu diperhatikan pada saat pemancingan adalah menghindari ikan yang telah terpancing jatuh kembali ke laut. Hal ini akan mengakibatkan gerombolan ikan yang ada akan melarikan diri ke kedalaman yang lebih dalam dan meninggalkan kapal, sehingga mencari lagi gerombolan ikan yang baru tentu akan mengambil waktu. (Mallawa dan Sudirman, 2004). 2.10. Jenis Ikan Hasil Tangkapan Usaha penangkapan dengan pole and line biasanya ditujukan untuk menangkap ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) tetapi dalam kenyataannya sering tertangkap juga beberapa jenis ikan yang lain, diantaranya: yellow fin tuna

8

(Thunnus albacares), little tuna (Auxis thazard), dan lain-lain (Balai Ketrampilan Penangkapan Ikan Ambon, 1981). Selanjutnya dalam FAO (1980) mengatakan bahwa para nelayan pole and line terutama menangkap ikan skipjack (Katsuwonus pelamis), albacore (Thunnus alalunga), tuna kecil seperti frigate mackerel (Auxis spp), dan ikan dolphin

(Coryphaena spp), juga yellow fin (Thunnus albacares), ikan-ikan muda spesies ikan tuna yang besar yang lain, bonito (Sarda spp), dan tuna kecil (Euthynnus spp). Semua jenis tadi tersebar secara luas di lautan dan Samudera di dunia. 2.11. Penanganan Ikan Hasil Tangkapan Cara penanganan yang dipilh umumnya sesuai kondisi yang dikehendaki pasar dengan prinsip yang sama yaitu menjaga mutu ikan agar tetap segar, sehat, aman dan menarik saat disajikan sehingga harganya mampu bersaing saat dipasarkan dan dapat menguntungkan bagi produsennya. Selain itu prinsip penanganan ikan lainnya yang harus dilakukan, antara lain menjaganya dari benturan atau tekanan fisik yang dapat melukai tubuh ikan atau membuat dagingnya memar, melindungi dari sinar panas matahari langsung dan mencegahnya dari kontaminasi bahan-bahan yang kotor dan berbahaya. (Prayitno, 2004-website: www.cofish.net). Keberhasilan penanganan ikan di atas kapal untuk menjaga mutunya

sangat ditentukan oleh : 1) Kesadaran dan pengetahuan semua ABK untuk melaksanakan cara penanganan ikan dengan es secara benar. 2) Kelengkapan sarana penyimpana di atas kapal yang memadai, seperti:

6

palkah yang berisi es atau peti wadah ikan yang berisolasi dengan kapasitas yang cukup sesuai dengan ukuran kapal. 3) Kecukupan jumlah es yang dibawa saat berangkat menangkap ikan di laut. Prinsip penanganan ikan di atas kapal untuk ikan ukuran besar (kurang dari 10 kg) menurut Prayitno (2004), adalah sebagai berikut: 1) Ikan-ikan berukuran besar umumnya ditangkap dengan alat tangkap pancing dan biasanya masih dalam keadaan hidup saat diangkat dari air, untuk ini ikan harus segera dibunuh dengan memukul kepalanya atau dengan cara lain yang tidak merusak fisik ikan. 2) Segera mendinginkannya dengan mencelupkan ikan di bak chiling yang telah diisi air es sambil menunggu saat penyiangannya. Suhu air akan selalu terjaga pada suhu 0°C. 3) Melakukan penyiangan (buang insang dan isi perut, dan untuk ikan-ikan besar juga mengiris sebagian operculum dan membuang sirip) dan membuang darahnya. Pembersihan dilakukan dengan mencucinya memakai air dingin yang telah didinginkan dengan es. 4) Selanjutnya ikan disusun secara bercampur dan berselang-seling dengan es curah. 2.12. Analisis Finansial 2.12.1. Perhitungan Laba - Rugi Pada umumnya laba-rugi usaha digunakan untuk mengukur apakah kegiatan usaha yang dilakukan pada saat ini berhasil atau tidak. Analisa rugi –

7

laba usaha bertujuan untuk mengetahui besarnya keuntungan yang diperoleh dari usaha yang dilakukan. Untuk menentukan apakah usaha tersebut untung atau rugi dapat mengunakan rumus : П = TR – TC Keterangan : П = Keuntungan TR = Total penerimaan TC = Total Biaya Dengan krikteria : 1. Apabila total penerimaan (TR) > total biaya (TC), maka usaha tersebut mengalami keuntungan, sehingga usaha dapat dilanjutkan. 2. Apabila total penerimaan (TR) < total biaya (TC), maka usaha tersebut mengalami kerugian, sehingga usaha tidak layak untuk dilanjutkan. 3. Apabila total penerimaan (TR) = total biaya (TC), maka usaha tersebut tidak mengalami keuntungan maupun kerugian, dengan kata lain usaha tersebut berada pada titik impas. 2.12.2. Jenis-Jenis Biaya Analisis laba atau profitbility analisis bermaksud mengetahui besarnya perubahan laba bila faktor-faktor seperti biaya produksi, volume, dan harga penjualan berubah. Untuk analisis laba dan titik impas, biaya operasi produksi dikelompokkan menjadi biaya tetap dan biaya tidak tetap.

7

1. Biaya Tetap ( Fixed Cost) Biaya tetap merupakan biaya yang besar kecilnya tidak mempengaruhi produksi. Misalnya biaya pajak gedung, gaji karyawan, dan lain-lain. Jadi meskipun jumlah produksi yang dihasilkan mengalami peningkatan atau penurunan, pengeluaran ini jumlahnya tetap. 2. Biaya Variabel (Variable Cost) Berbeda dengan biaya tetap, biaya veriabel mempunyai hubungan erat dengan tingkat produksi, atau tergantung dari besar kecilnya volume produksi. Artinya, bila produksi naik maka biaya variabel juga naik. Biaya variabel merupakan biaya operasional dalam suatu usaha termasuk biaya teknis perusahaan. Contoh biaya operasional ini adalah biaya sarana produksi, biaya panen, biaya angkut dan sebagainya (Soeharto, 1995).

2.12.3. Analisis Titik Impas Titik pulang pokok adalah volume penjualan di mana penghasilannya (revenue) tepat sama besar dengan biaya total, sehingga perusahaan tidak mendapat keuntungan atau kerugian, sedangkan menurut Riyanto (1991), analisa break-even adalah suatu tehnik analisa untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan volume kegiatan. Menurut Arifin dan Fauzi (1999), analisis impas (break-even) dapat diterapkan dalam perusahaan secara efektif, jika :

8

1. Biaya dapat dipisah menjadi biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost). 2. Unit yang terjual sama dengan unit yang diproduksi atau yang dihasilkan. 3. Produk yang dijual terdiri dari satu jenis, atau jika lebih dari satu jenis komposisi dari masing-masing jenis dianggap tetap. Titik impas (Break Even Point) dengan pendekatan matematis didapatkan dalam satuan unit dan satuan mata uang. Untuk titik impas dalam satuan unit diperoleh dari hasil pembagian antara biaya tetap dengan selisih antara harga jual terhadap biaya variabel dari setiap unit produk yang dihasilkan. Untuk hasil titik impas dalam satuan mata uang diperoleh dari pembagian antara biaya tetap dengan selisih antara satu dengan perbandingan biaya variabel terhadap harga jual untuk masing-masing unitnya. Riyanto (1991), mengatakan bahwa perhitungan break-even point dengan menggunakan rumus aljabar dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu : 1. Atas dasar unit 2. Atas dasar sales dalam rupiah a) Perhitungan break-even point atas dasar unit (Kg) dapat dilakukan dengan menggunakan rumus. BEP (Dalam Kg) = FC P -V Di mana :

6

P V

= harga jual per Kg = biaya variabel per Kg

FC = biaya tetap b) Perhitungan break-even point atas dasar penjualan dalam rupiah dapat dilakukan dengan menggunakan rumus aljabar sebagai berikut : BEP (dalam Rp) = FC V 1P Di mana : FC = biaya tetap V P = biaya variabel per Kg = harga jual per Kg. Salah satu cara untuk menentukan break-even point adalah dengan membuat gambar break-even. Dalam gambar tersebut akan nampak garis-garis biaya tetap, biaya total yang menggambarkan jumlah biaya tetap dan biaya variabel, dan garis penghasilan penjualan.

8

Rp (Kg,Rp)

Kg

Gambar 4 .Grafik titik impas (Break even point)
Sumber : http://www.12manage.com/methods_break-even_point.html

Besar volume produksi/penjualan dalam unit nampak pada sumbu horizontal (sumbu X) dan besarnya biaya dan penghasilan penjualan akan nampak pada sumbu vertikal (sumbu Y). Break-even dalam Gambar 2 dapat ditentukan pada titik di mana terjadi persilangan antara garis penghasilan penjualan dengan garis biaya total. Apabila dari titik tersebut kita tarik garis lurus vertikal ke bawah sampai sumbu X, akan nampak besarnya break-even dalam unit. Kalau dari titik itu ditarik garis lurus horizontal ke samping sampai sumbu Y, akan nampak besarnya break-even dalam Rupiah (Riyanto, 1991). Analisa titik impas diperlukan dalam mengukur keuntungan dan efisiensi produksi, menurut Arifin dan Fauzi (1999), perencanaan untuk mendapatkan laba yang diinginkan dapat dilakukan dalam beberapa cara diantaranya :

6

1. Meminimumkan biaya produksi dan biaya operasional dengan tujuan mempertahankan tingkat harga jual dan volume penjualan. 2. Menentukan harga jual dengan laba yang direncanakan dan meningkatkan penjualan secara maksimal. 2.12.4. Margine Of Safety Tingkat keamanan (Margine of safety) erat hubungannya dengan analisis break even point, yaitu untuk menentukan seberapa besar berkurangnya volume penjualan yang boleh turun agar tidak menimbulkan kerugian. Informasi margin of safety dapat dinyatakan dalam rasio (persentase) antara penjualan yang

dianggarkan dengan penjualan pada tingkat break even point (Arifin dan Fauzi, 1999). Menurut Arifin dan Fauzi (1999), rumus untuk menghitung margin of safety (M/S) adalah seperti berikut :
penjualan per budget − penjualanper break even Penjualan per budget

M /S =

Atau

M /S =

Penjualan per budget x100% Penjualan per break even

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful